PROPOSAL BUAH NAGA

PROPOSAL KEGIATAN

BUDIDAYA DAN ANALISA USAHA TANI

SUPER RED DRAGON FRUIT

OLEH :

MAHASISWA FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS YUDHARTA PASURUAN

2009

LEMBAR PENGESAHAN

PROPOSAL KEGIATAN

BUDIDAYA DAN ANALISA USAHA TANI

SUPER RED DRAGON FRUIT

Pelaksana Kegiatan

A. FARID F. I

SURIAJI CHRW

Ketua

sekretaris

Mengetahui,

KAPRODI

MAHASISWA FAKULTAS PERTANIAN

M. ANIAR HARI S, SP. MP.

Mengetahui,

DEKAN

FAKULTAS PERTANIAN

TEGUH SARWO AJI SP. MMA.

  1. PENDAHULUAN

Buah naga atau dragon fruit memang belum lama dikenal, dibudidayakan, dan diusahakan di Indonesia. Tanaman dengan buahnya berwarna merah dan bersisik hijau ini merupakan pendatang baru bagi dunia pertanian di Indonesia. Buah naga mulai dikembangkan di tanah air serta memiliki peluang besar untuk disebarluaskan. Buah naga termasuk dalam keluarga tanaman kaktus dengan karakteristik memiliki duri pada setiap ruas batangnya. Sebagian besar sumber menyatakan bahwa buah ini berasal dari Meksiko, Amerika Selatan. Konon disebut buah naga, karena seluruh batangnya yang menjulur panjang seperti layaknya naga. Dalam perkembangannya, tanaman ini kemudian dikembangkan di Israel, Thailand dan Australia.

Nama buahnya yang unik, mudah diingat, mengingatkan kita pada nama binatang yang sangat melegenda yaitu (Naga), sayangnya kendati nama buahnya sering kita dengar, namun masih sebagian masyarakat Indonesia belum mengetahui secara jelas bagaimana bentuk buahnya, rasanya dan cara mengkonsumsinya.

Fenomena diatas masih dikatakan wajar, melihat jarangnya buah ini ditemui disembarang tempat. Hanya di supermarket atau pasar tertentu kita dapat menjumpai buah ini. Dan buah  jenis ini tergolong tidak mengenal musim ( sepanjang tahun berbuah).

v     Karakteristik

Buahnya agak besar, beratnya sekitar 200 – 800 gram, dan berwarna merah hitam. Buah yang matang seperti kubis kohlrabi dan berbentuk oval, Saat matang. Daging  buahnya berwarna merah kehitaman dan berlendir. Daging buahnya terdiri atas banyak biji yang tidak dapat diekstrak. Biji ini terlihat seperti wijen dan menjadikan buah ini terasa manis, segar dan sedikit asam. Beberapa variatas yang ada saat ini ada putih, kuning, merah. Dan super red (hitam).

Bunga tanamam buah naga diserbuki oleh lebah yang mengambil sari bunganya dipagi hari. Di malam hari bunga yang mekar bisa bertahan hingga siang di cuaca mendung, tapi biasanya layu pada pukul 9 pagi. Pada produksi penuh, tanaman buah naga ini sirkulasinya mencapai 5-7 kali pembuahan pertahun. Penyebaranya melalui biji atau stek batang.

v     Budidaya

Tanaman buah naga tergolong dalam jenis tanaman merambat. Selain itu, masuk tergolong dalam kategori tanamam tanah atau kaktus epiphytic. Yang berarti sebagian panjang tanaman tertanam atau terpendam dalam tanah. Kedalaman batang tanaman yang tertimbun bisa mencapai 15 cm. Sebagian batang tanaman tumbuh keluar dan merambat pada pilar beton menggunakan akar yang menjulur keatas. Sangat cocok tumbuh di daerah yang kering, tropis, subtropics dengan curah hujan 20-50” pertahun.

v     Ada Dua Macam Budidaya Buah Naga Antaralain:

1. System   Tunggal

Dengan cara 1 Pilar beton dengan ketinggian 2 meter   ditanam sedalam 30 cm. dan lebar sisi beton 10-15 cm. 1 sisi ditanam 1 bibit , sehingga 1 pilar tertanam 4 batang bibit. Dan diatas pilar diberi ban yang disilang dengan besi cor 6.

2. System Jemuran (ganda).

Sesuai gambar diatas, model penanaman dengan menggunakan system jemuran (ganda) dimana jarak tanam 2 meter antar pilar, dan tanahnya dibuat bedengan dengan lebar 1,5 meter dengan ketinggian bedengangan 40 cm. Jarak antara tanaman 30 cm, dengan berhadapan. Panjang bedengan 4 meter. System ini lebih irit dan bisa menampung bibit lebih banyak.

v     Nutrisi Buah Naga

NO

NUTRISI BUAH NAGA

KETERANGAN

1.

Protein

Penting untuk pertumbuhan sel tubuh, mempercepat proses penyembuhan luka  dan tumbuh kembang balita.

2.

Fat

Dalam jumlah kecil merupakan komponen pendukung bagi perkembangan sel syaraf terutama sel otak

3.

Crude fiber/serat

Kandungan serat yang tinggi akan memudahkan buang air besar, dan mencegah sembelit, sehingga fungsi pencernaan terjaga dengan  baik. Kanker usus dapat dicegah secara dini.

4.

Beta Carotene

Penting untuk fungsi retina mata, mencegah rabun senja, berperan penting untuk mencaga kondisi struktur sel epithel, pertumbuhan tulang.

5.

Calsium Berperan penting dalam pembentukan dan pertumbuhan tulang.

6.

Iron(zat besi) Penting dalam peredaran sel darah merah sehingga mencegah anemia (kurang darah).

7.

Vitamin B1 Berfungsi sebagai koenzim dalam metabolisme karbohidrat.

8.

Vitamin C Memegang peranan dalam menjaga elastisitas dan kehalusan Kulit

9.

Ribofvlavin

Berperan dalam sintesa asam nukleat dan berpengaruh pada pematangan sel dan memelihara integritas jaringan syaraf

v     Manfaat Atau Kasiat Buah Naga

Banyak maanfaat dapat diambil dari tanaman yang dikenal dengan nama pitahaya ini. Varietas Yang Berdaging Merah berisi lycopone yang mengandung antioksidan alami yang dipercaya bias melawan kanker, penyakit hati, dan tekanan darah rendah .

Dibalik rasa buah naga yang manis sedikit asam tersembul beberapa khasiat yang dapat mengobati berbagai macam penyakit berdasarkan penelitian, buah naga berkhasiat sebagai obat untuk mengurangi kadar kolesterol dalam darah, menguatkan fungsi ginjal dan tulang, mencegah kanker usus, penyeimbang gula darah, menyembuhkan panas dalam serta sariawan, memperhalus kulit, meningkatkan ketajaman mata, menguatkan daya kerja otak, tumbuh kembang balita dan mengurangi keputihan pada ”(wanita Sumber: Majalah Selera edisi Juli 2005)”

Sumber lain mengatakan buah naga berkhasiat untuk meningkatkan daya tahan tubuh, mengurangi tekanan emosi, menetralkan toksin(racun)dalam darah, turunkan kadar lemak. Banyak orang yang mengakui khasiat buah naga. Setelah beberapa kali makan buah itu ada yang asam uratnya sembuh. Ada pula yang bilang setelah rutin mengkonsumsi, kolesterol di tubuhnya berkurang dratis, “(Harian umum suara merdeka, 29 des 2003)”

v     Analisis Usaha Tani

Penanaman 1000 Bibit:

Lahan                           : sendiri

Luas lahan                    : 1000 m2

Jarak Tanam                 : 2 x 2 m2 (Masing-masing tiang 4 bibit)

Bibit                             : @ Rp 10.000,-  jadi 1000 bibit X 10.000,- = Rp 10.000.000.-

Tiang Penyangga:

Beton cor                     : @ Rp 40.000,- Tinggi tiang cor 2m diameter 10 cm, masuk tanah 50 cm dengan menyisakan besi cor sepanjang 10 cm

Total                            : 250 cor X 40.000,-  = Rp 10.000.000,-

Persiapan Perlengkapan:

Persiapan lahan : Rp 2.000.000,-

Pupuk Perangsang        : Rp 1.000.000,-

Teknisi (1 tahun)           : Rp 1.000.000,-

Transportasi                 : Rp 2.000.000,-

Besi + ban                    : Rp 2.000.000,-

Total                            : Rp 8.000.000,-

Pengeluaran Rutin Perbulan Untuk Petani Sendiri:

Pupuk kandang : 2 truk  = Rp 500.000,-

1 orang             : Rp 300.000,-

Alat                              : Rp 200,000,-

Total                            : Rp 1.000.000,-

Pendapatan Asumsi Nilai:

Jual tertinggi                  : Rp 25.000,-

Jual saat booming         : Rp 10.000,-

Harga rata-rata jual       : Rp 15.000,- (petik kebun)

Panen tahun I

Jumlah Bibit 1000

Jumlah buah 12. berat  tiap buah ½ kg

Total                            : 12X1000X1/2kg

: 6000 Kg

Jadi Total  tahun 1        : 6000 Kg X 15.000,- X 50 % = Rp 45.000.000,-

Pendapatan Bersih Tahun Pertama:

Pendapatan per tahun/12          : Rp 45.000.000/ 12 (tiap bulan)

: Rp 3.750.000 (biaya rutin tiap bulan)

Jadi Pendapatan / bulan            : Rp 3.750.000 – 500.000

: Rp 3.250.000,-

Pendapatan Tahun Ke Kedua

Kelipatan 2X dari tahun pertama.

Jadi pendapatan per bulan         : Rp 45.000.000. X 2 = Rp 90.000.000,-

Pendapatan perbulan                : Rp 90.000.000/12

: Rp 7.500.000 – 500.000

Pendapatan bersih per bulan : Rp 7.000.000.,-

“Dan seterusnya akan berkelipatan sampai 10 tahun karena jumlah sulur semakin banyak” Pada tahun ke 3 Perbanyakan bibit bisa dilakukan sendiri.

  1. NAMA KEGIATAN

“Budidaya Dan Analisa Usaha Tani Super Red Dragon Fruit”

  1. WAKTU PELAKSANAAN

Kegiatan ini di laksanakan pada:

Hari                  :

Tanggal            :

  1. MAKSUD DAN TUJUAN

v     Mengenalkan kepada mahasiswa tentang dunia pertanian, mulai dari yang paling dasar sampai pada yang khusus atau spesifik.

v     Memberi wawasan kepada mahasiswa pertanian secara luas dan banyak hal yang dapat dipelajari serta banyak peluang yang dapat diambil dan dimanfaatkan olehnya sebagai bekal dikemudian hari.

v     Menjadikan kegiatan tersebut sebagai sarana pendidikan, penggemblengan mental spiritual mahasiswa, serta memantapkan kegiatan tersebut sebagai sarana atau media dalam membina hubungan antara mahasiswa dengan para petani.

  1. SUMBER DANA

Iuran mahasiswa fakultas pertanian.

Bantuan dana atau sumbangan.

  1. SUSUNAN PANITIA

Sebagaimana terlampir:

  1. ANGGARAN DANA

Sebagaimana terlampir:

  1. JADWAL KEGIATAN

Sebagaimana terlampir:

  1. PENUTUP

Demikian proposal ini kami susun sebagai acuan untuk mendapatkan tanggapan dan menjadi pertimbangan dari semua pihak, semoga niat yang baik dan tulus ini mendapat dukungan dari semua pihak, serta atas perhatian dan kebijakannya kami sampaikan banyak terima kasih.

Mengenai hal-hal vital yang mendasar yang berkenaan secara kusus dengan kegiatan ini dan belum tercantum disini, maka akan ditambah serta dijelaskan kemudian.

Pasuruan 12 Juli 2009

PANITIA PELAKSANA

BUDIDAYA DAN ANALISA USAHA TANI

SUPER RED DRAGON FRUIT

MAHASISWA FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS YUDHARTA PASURUAN

A. FARID. F. I

SURIAJI CHRW

Ketua

Sekretaris

SUSUNAN PANITIA

BUDIDAYA DAN ANALISA USAHA TANI

SUPER RED DRAGON FRUIT

Ketua                          : A. Farid F. I

Sekretaris                   : Suriaji Chrw

Bendahara                  : A. Mashudi

Seksi-seksi:

v     Kegiatan :

  1. Adi Puspito
  2. M. Muhlisun
  3. Arifah Oscar Rina

v     Bublikasi & Dokumentasi:

  1. Aidatun Nafisah
  2. Abdul Malik
  3. M. Sakhullah

v     Humas:

  1. Adib Yusron
  2. Novan Susanto
  3. Nikmatul Magfiro

v     Konsumsi:

  1. Rr. Shinta dewi eka y
  2. Eva Kusdeni
  3. Akhmad Syaicku

JADWAL KEGIATAN

BUDIDAYA DAN ANALISA USAHA TANI

SUPER RED DRAGON FRUIT

NAMA MAHASISWA  DAN JENIS KEGIATAN

NO

NIM

NAMA

JENIS PEKERJAAN

1

2008.69.05.0001

Sidik

A

2

2008.69.05.0002

M. Muhlisun

A

3

2008.69.05.0003

Supriani

A

4

2008.69.05.0005

M. Saihullah

B

5

2008.69.05.0006

Eva Kusdeni

B

6

2007.69.05.0001

Akhmad Syaicku

B

7

2007.69.05.0002

Kodrat Puspito Adi

A

8

2007.69.05.0003

Nikmatul Magfiro

B

9

2007.69.05.0004

Ahmad Fathoni

B

10

2006.69.05.0001

M. Imron Rosyadi

A

11

2008.69.07.0001

Adib Yusroni

A

12

2008.69.07.0002

Arifah Oscar Rina

B

13

2008.69.07.0003

Rr. Shinta dewi eka Y.

B

14

2008.69.07.0004

Ahmad Mashudi

A

15

2008.69.07.0068

Abdul Malik

B

16

2007.69.07.0002

Aidatun Nafisah

A

17

2007.69.07.0005

Suryaji Chrw

A

18

2007.69.07.0006

Ach. Farid fadillah i.

B

19

2007.69.07.0003

Novan Susanto

B

KETERANGAN

A

Pengecoran Tiang

B

Penanaman Buah Naga

JADWAL KEGIATAN

A. Pengecoran Tiang Buah Naga

1

Potong bambu dengan panjang 1.75 m

2

Belah bambu dengan diameter kurang lebih sebesar ibu jari

3

Buat segitiga besi dengan jarak +/- 10 cm

4

Buat kerangka bambu cor dengan kawat bendrat

5

Buat kotak cor dengan kayu randu sesuai ukuran panjang 2 m

6

Buat adukan semen : pasir : koral

7

Pasang rangka bambu di kotak cor

8

Pengecoran

9

Pembongkaran

10

Pengangkutan

B. Penanaman Buah Naga

1

Pengukuran lahan dan penentuan jarak tanam

2

Penentuan tempat tiang cor

3

Penggalian Lubang tiang cor dgn ukuran 20 x 20 x 50

4

Penanaman tiang cor ditambah pemberian ban sepeda/ kayu diatas tiang cor

5

Pembuatan lubang tanam masing-masing 4 lubang disisi tiang cor

6

Pemberian pupuk kandang/kompos/pupuk organik

7

Penanaman bibit buah naga

8

Pemeliharaan

ANGGARAN DANA

BUDIDAYA DAN ANALISA USAHA TANI

SUPER RED DRAGON FRUIT

  1. Penanaman 1000 Bibit

Lahan                           : sendiri

Luas lahan                    : 1000 m2

Jarak Tanam                 : 2 x 2 m2 (Masing-masing tiang 4 bibit)

Bibit                            : @ Rp 10.000,-  jadi 1000 bibit X 10.000,- = Rp 10.000.000,-

  1. Tiang Penyangga:

Beton cor                     : @ Rp 40.000,- Tinggi tiang cor 2m diameter 10 cm, masuk tanah 50 cm dengan menyisakan besi cor sepanjang 10 cm

Total                           : 250 cor X 40.000,-  = Rp 10.000.000,-

  1. Persiapan Perlengkapan

Persiapan lahan : Rp 2.000.000,-

Pupuk Perangsang        : Rp 1.000.000,-

Teknisi (1 tahun)           : Rp 1.000.000,-

Transportasi                 : Rp 2.000.000,-

Besi + ban                    : Rp 2.000.000,-

Total                           : Rp 8.000.000,-

  1. Pengeluaran Rutin Per Bulan

Pupuk kandang : 2 truk  = Rp 500.000,-

1 orang             : Rp 300.000,-

Alat                              : Rp 200,000,-

Total                           : Rp 1.000.000,-

  1. Grand Total

1

Penanaman 1000 Bibit Rp. 10.000.000,-

2

Tiang Penyangga Rp. 10.000.000,-

3

Persiapan Perlengkapan Rp. 8.000.000,-

4

Pengeluaran Rutin Perbulan Rp. 1.000.000,-

Total

Rp. 29.000.000,-

STRATEGI PENGEMBANGAN AGROBISNIS BAKPAO TELO DI PURWODADI

Kata Pengantar

Sesuai dengan namanya Sentra Pengembangan Agribisnis Terpadu (SPAT) merupakan puncak aktivitas bisnis pertanian, media untuk memposisikan para petani dan kelompok uasaha kecil untuk langsung bereinteraksi pasar. Pengembangan agrobisnis terpadu (SPAT) tidak lepas dari adanya surat keputusan Departemen Pertanian No. K/LP.610/V/2001 tentang pengakuan SPAT sebagai salah satu P4S (pusat pelatian pelatihan dan perdesaan swadaya). SPAT ditunjuk sebagai salah satu lembaga pelatihan pertanian dan perdesaan dangan konsep keterpanduan mulai dari hulu hingga hilir.

Pada tahun 1996, unggul abinowo ditunjuk sebagai salah satu pemuda pelopor tingkat nasianal. Kenudian tahun 2004, SPAT mendapatkan sertifikat mutu yakni HSCCP (hazard analysis and critical control point) dari PT Mutu Agung Lestari dan setifikat halal dari MUI. pada tahun 2006 SPAT juga mendapatkan penghargaan sebagai pelaku usaha (UKM) yang menerapkan sistam jaminan mutu dari mentri pertanian. Untuk produk, salah satu produk olahan dari ubi jalar (bakpao telo) mendapatkan penghargaan sebagai produk inovasi makanan terbaik dalam pemeran SMEsCO tahun 2006.

Di mata petani metode pendidikan ataupun pelatihan yang diberikan oleh unggul adalah sosok petani modern, kaya, dan dermawan. Ia juga terjun ke lapangan memberikan contoh. “Ia tak segan-segan menunjukkan cara memupuk yang benar,” ujar Suwari, salah seorang petani binaan SPAT. Suwari mengaku banyak mencatat kemajuan setelah mengikuti saran Unggul untuk menanam ubi. Selain mendapat bantuan berupa bibit dan pupuk, saat panen ia tak perlu susah payah mencari pembeli. “Saya langsung setor ke Pak Unggul,” ujarnya. Yang lebih penting, unggul adalah orang yang bisa dipercaya. “Saya tak pernah dibohongi, terutama soal harga jual,” kata ayah empat anak ini.

BAB.I

Pedahuluan

Sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, otonomi daerah perlu ditingkatkan dengan lebih memperhatikan aspek-aspek hubungan antar susunan pemerintahan dan antar pemerintah daerah, potensi dan keanekaragaman daerah, peluang dan persaingan global, dengan memberikan peluang yang seluas-luasnya kepada daerah disertai dengan pemberian hak dan kewajiban menyelenggarakan otonomi daerah dalam kesatuan system penyelenggaraan pemerintah. Di mana pemerintah menurut asas otonomi khusus diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat.

Pembangunan pertanian merupakan bagian dari pembangunan ekonomi nasional yang bertumpu pada upaya mewujudkan masyarakat Indonesia yang sejahtera, adil dan dan makmur seperti yang diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945. Karena itu pembangunan pertanian sebagaimana pembangunan perekonomian nasional harus dilakukan dengan memberdayakan potensi sumberdaya ekonomi dalam negeri yang dimiliki, serta memperhatikan perkembangan ekonomi dunia yang terus berkembang secara dinamis.

Basis kekuatan ekonomi nasional berada dipedesaan. kekayaan agraris di Indonesia berupa pertanian harus tetap dijaga. Sesuai dengan namanya Sentra Pengembangan Agrobisnis Terpadu (SPAT) merupakan puncak aktivitas bisnis pertanian, media untuk memposisikan para petani dan kelompok uasaha kecil untuk langsung bereinteraksi pasar.

Dispat ini menyajikan Bakpao Telo sebagai produk unggulan untuk menarik minat beli konsumen. Bakpao Telo adalah bakpao yang berbahan dasar ubi jalar yang kemudian dihancurkan menjadi tepung ubi jalar. Untuk tetap mempertahankan minat beli terhadap Bakpao Telo, manajemen harus mengantisipasi strategi pemasaran dengan mempertahankan kepuasan konsumen. Kunci utama untuk memenangkan persaingan adalah memberi nilai dan kepuasan kepada konsumen melalui penyampaian produk dan jasa yang berkualitas dengan harga bersaing. Atribut Bakpao Telo adalah unsur-unsur Bakpao Telo yang dipandang penting oleh konsumen dan dijadikan dasar pengembangan keputusan pembelian.

Sejarah Berdirianya Perusahan

Bakpao telo

Berbicara tentang nasib petani Indonesia sama artinya dengan membicarakan penderitaan yang tidak berujung pangkal dan tidak pernah berakhir. Tidak heran kegelisahan serta keprihatinan itu terus-menerus terekspresikan dalam nada bicara Ir Unggul Abinowo alumnus Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang tahun 1984 yang sekaligus perintis penerapan sistem terminal agrobisnis di Kabupaten Pasuruan Jawa Timur (Jatim). Ayah berputra dua ini mengaku telanjur mencintai dan mendedikasikan dirinya pada dunia pertanian serta kehidupan petani. Bahkan sejak kelas dua sekolah menengah atas Unggul sudah mencoba terjun menjadi petani yang sebenarnya. Ia menyewa sebidang lahan yang ia tanami beberapa jenis tanaman pangan dan perkebunan, modalnya hanya uang saku serta sedikit dana pinjaman.  Usahanya bertani terus berkembang hingga saat ia kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. “Waktu di tingkat dua saya malah sudah punya kendaraan dan sopir sendiri. Saat itu saya sudah mengelola sekitar 22 hektar lahan yang masih saya sewa” jelas Unggul bangga. Terlahir sebagai putra keempat dari pasangan Prof Dr Ir Moeljadi Banoewidjojo dan Hajjah Soemarni Kartamihardja pada 6 Mei 1960, Unggul sejak kecil dekat dengan dunia pertanian. Hal ini lantaran almarhum ayahnya juga Professor di bidang pertanian.

Tahun 1984, mantan Sekjen Kontak Tani dan Nelayan (KTNA) Nasional tahun 2000 ini mendirikan Sentra Pengembangan Agrobisnis Terpadu (SPAT). Sentra ini rutin melakukan enam kegiatan, mulai dari pusat pendidikan dan pelatihan terpadu, pusat data dan informasi, pusat kajian dan strategi gerakan pembangunan desa, pusat pengembangan teknologi tepat guna, pusat kajian investasi dan pembiayaan, hingga terminal agrobisnis.  Kemudian di atas lahan seluas 8.000 meter persegi di perbatasan Kabupaten Pasuruan dan Malang itu dia bangun terminal agrobisnis yang terdiri atas Kantor Sekretariat SPAT, ruang pamer produk tanaman hias, hidroponik, dan pupuk. Sementara bangunan terakhir yang menjadi inti terminal agrobisnis adalah ruang pamer produk agro hasil olahan dan hasil kerajinan dari Kabupaten Pasuruan dan beberapa daerah lain.  Terminal agrobisnis ini juga memiliki fungsi untuk media berpromosi, pusat data, sekaligus tempat pengolahan produk pertanian untuk mendapatkan nilai tambah yang tinggi. Kegagalan produksi masih bisa disiasati, namun kegagalan dalam pemasaran membuat kita tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Dengan mengolah, mengemas, serta memasarkan produk pertanian sedemikian rupa hingga meningkatkan nilai jual, kegagalan produksi bisa dikompensasi,” ujarnya.

Sampai kini ada sekitar 350 petani dari berbagai daerah yang memasarkan produk mentah sampai olahan di terminal agrobisnis ini. Mereka tidak hanya berasal dari Jatim bahkan juga dari Jawa Tengah dan Jawa Barat. Sedikitnya ada 300 jenis produk dijual di lokasi ini. Sementara, menurut Unggul, omzet rata-rata setiap bulan terminal agrobisnis ini mencapai Rp 300 juta-Rp 400 juta.  Di terminal ini, petani menetapkan harga jual produknya, kemudian produk itu dicobajualkan yang sepenuhnya diserahkan pada mekanisme pasar. Namun sebelumnya, harga terlebih dulu dinaikkan 20 persen. Sepuluh persen untuk pajak dan sisanya untuk SPAT. Setelah tiga bulan produk itu akan dievaluasi kelebihan serta kekurangannya. Jika terbukti laris dan si petani berniat mengembangkannya, namun terbentur modal, SPAT melalui divisi investasi dan pembiayaan akan memberi pinjaman dengan pengembalian diambil langsung dari hasil penjualan nanti. Namun, jika hasil evaluasi menunjukkan masih terdapat kekurangan, SPAT akan memberikan masukan untuk upaya perbaikan serta kemungkinan pengembangannya lebih lanjut. “Selama ini memang ada yang salah dengan kebijakan kita di bidang pertanian. Dari dulu sampai sekarang petani cuma dijadikan alat untuk melegalkan kepentingan di luar mereka. Sejak masa pemerintahan yang lalu dan berlanjut sampai sekarang. Tidak satu pun kebijakan yang dihasilkan mampu menyentuh apa yang dibutuhkan petani. Bahkan, partai-partai politik sekalipun memanfaatkan petani untuk keuntungan sendiri,” ujar pria yang pernah memperoleh penghargaan Pemuda Pelopor Tingkat Nasional tahun 1996 ini.  Kalaupun ada yang berubah menurut Unggul, itu pun baru sebatas terjadi pada pelaku pemerintahan. Tetapi, hal itu tidak berpengaruh sedikit pun pada peningkatan harkat dan martabat petani.  “Selama ini petani cuma disuruh memenuhi target produksi seperti, misalnya, program swasembada beras. Bibit serta jenis varietas yang harus ditanam pun sudah ditentukan. Setelah target terpenuhi, tak satu pun penentu kebijakan bertanggung jawab ketika harga jual kemudian jatuh. Jika terus begini keadaannya, petani kita benar-benar tidak punya harapan lagi,” tambah laki-laki yang oleh pemerintah diberi kesempatan mewakili petani Jatim berkunjung ke beberapa negara ASEAN dan Australia pada tahun 1991.

Sebelum menerapkan sistem perdagangan di terminal agrobisnisnya, Unggul mempraktikkan sistem pengolahan dan pemasaran yang sama pada produknya sendiri. Unggul, misalnya, mengolah ubi jalar produksinya menjadi bakpau yang dinamai bakpao telo.  Awalnya saya mencoba membangun brand image lewat produksi bakpao telo. Saya coba buktikan bahwa dari ketela yang harga jualnya sekitar Rp 200 per kg, bisa ditingkatkan menjadi Rp 750 hingga Rp 1.000 per kg, bahkan lebih dari Rp 2.000 setelah dijadikan bakpao telo,” ujarnya.  Dari empat hektar lahan tanaman ubi yang hasilnya diolah menjadi bakpao, saat ini berkembang menjadi 23 hektar dengan 12 petani plasma. Kebutuhan ubi yang dipakai untuk membuat bakpao saat ini saja mencapai tiga sampai empat ton setiap minggu untuk memproduksi 2.000-7.000 bakpao setiap minggunya.  “Jadi saya berharap, dengan melihat contoh bakpao saja orang lain juga mau mencari potensi produk pertanian mereka. Terminal agrobisnis ini bertujuan menampung semua produk pertanian yang kemudian diolah dan dikemas sedemikian rupa sehingga mampu meningkatkan nilai jual serta nilai tambah produk itu,” ujarnya.  Semua kegiatan SPAT semuanya bermuara pada pembentukan pasar. Setelah mengetahui apa yang diinginkan konsumen barulah para petani mulai berproduksi dengan berpegang pada informasi pasar. Unggul menuntut, kondisi yang berlaku selama ini sudah harus diperbaiki mulai sekarang. “Pemerintahlah yang harusnya menyediakan informasi pasar itu. Selama ini, mereka hanya menghasilkan konsep ataupun teori berdasarkan penelitian para ahli yang seharusnya terlebih dulu mendapat masukan dari para pelaku lapangan,” tambah Unggul.
Unggul mempertanyakan bagaimana mungkin para petani bisa mengangkat harkat dan martabat mereka sendiri jika kebijakan yang berlaku tidak pernah benar-benar berpihak pada petani. “Padahal, kita negara agraris, 70 persen masyarakat Indonesia petani. Kok, sampai sekarang kondisi mereka masih begini terus,” ujarnya.

Struktur Organisasi Dan Manajemen

Struktur orgabisasi secara formal ditepatkan berdasarkan kegiatan-kegiatan yang langsung menyentuh kegiatan bisnis inti kususnya di aspek budidaya, pengolahan dan pemasaran. Keberadaan devisi-devisi yang ada diibternalperusahaan secara tidak langsung tercakup seutuhnya dalam struktur organisasi inti. Dalam struktur organisasi, tiap personil yang menduduki jabatan structural diikuti dengan adanya tugas dan tanggung jawab masing-masing telah ditetapkan dengan jelas dan tegas sehingga dapat didapatkab system manajemen dan pelimpahan tugas dan wewenang yang baik, efektif dan efisiean.

Dalam penyusunan struktur orgabisasi diatur pula jenis kegiatan bisnis inti dan pedukung, kualifikasi jabatan, kerjasama team work dan struktur yang efisien serta efektif.

Struktur organisasi SPAT

Direktur

General manager

General affair

Finance & acc

Marketing

Produksi

Qc

Diklat

Personali

Foo &beverages

Saprodi

WEWENANG DAN TANGGUNG JAWAB

JOB DESKRIPSI DEPARTEMEN MAKETING

Tugas dan tanggung jawab

  1. merancang strategi pemasaran untuk mencapai tujuan/target perusahan sekarang dan akan dating dengan memperhatikan pengembangan marketing &customer serta teknologi.
  2. memaksimalkan selling out produk sesuwai target.
  3. menghitung harga pokok untuk penjualan produk, baik ekspor maupun local berdasarkan fluktuasi harga raw material dan biaya lain-lain.
  4. mengawasi dan mengontrol pembelian raw material sesuai order dan kebutuan untuk safety stock terutama yang berkaitan dengan harga dan kuantitas.
  5. mengawasi dan mengontrol penagihan.
  6. mencari, menyaring customer baru/lama dan melakukan kunjungan secara berkala.
  7. memeriksa dan menandatangani surat yang berkaitan dengan marketing.
  8. sebagai perantara sebagai pihak interm (produksi, QCdan distribusi)dan ekstrem.
  9. membuat laporan rutin (mingguan, bulanan dan tahunan)kepada atasan.

Wewenag

  1. melakukan negosiasi dengan customer & menentukan harga penjualan sampai batas tertentu.
  2. menentukan customer baik/tidak untuk bisa dilakukan pengiriman/tidak memutuskan dan menentukan harga jual dan harga pembelian raw material.
  3. menandatangani comersial invoice, packing list dan dokumen lain untuk pembayaran ekspor dan penjualan local.
  4. menandatangani surat jalan dan nota pembelian.
  5. merencanakan perecanaan dan pembelian raw material.
  6. memberikan usulan kepada departemen general affair untuk memberikan sangsi atau penghargaan atas pelanggaran atau prestasi bawahan langsung.
  7. meminta segala fasilitas yang bias mendukung tercapainya tugas-tugas.

JOB DEKRIPSI DEPARTEMEN FINANCE & ACCOUTING

Tugas dan tanggung jawab

  1. membuat laporan cosh flow bulanan, laporan dan analisa keuangan (pengelolahan dana).
  2. memonitor sirkulasi hutang dan piutang.
  3. melakukan control/ cek jurnal-jurnal yang telah diimput di computer, nota-nota penjualan dan tagihan hutang dari supplir.
  4. mengeloleh kinerja bawahan, melakukan evaluasi dan memeriksa ualang hasil kerjanya.
  5. bertanggung jawab keluar masuknya dana perusahaan.
  6. bertanggung jawab terhadap kalengkapan dan kebenaran berkas-berkas yang ditandatangani.
  7. bertanggung jawap terhadap pengarsipan berkas-berkas.
  8. memotivasi, meningkatkan sekil dan disiplin bawahan scara oktimal.
  9. mengendalikan pemakaian bahan/biaya yang dikeluarkan dalam setiap tugasnya.

Wewenag

  1. meminta kepada marketing untuk menagguhkan pengiriman barang ke customer jika ternyata penagihan peutangnya sulit.
  2. menclaim customir dalam hal penagihan piutang yang berlarut-larut.
  3. meminta segala falsilitas yang diperlukan guna menunjang kelancara proses pekerjaan.
  4. melkukan upaya yang mendukung tarcapainya sasaran jabatan dengan koodinasi atasan.
  5. membuat laporan cash flow bulanan, laporan dan analisa keuangan (pengolahan dana).
  6. memonitor sirkulasi hutang dan piutang.
  7. melakukan control/cek jurnal-jurnal yang telah diimput di computer, nota-nota penjualan dan tagihan hutang dari supplier.
  8. mengolah kinerja bawahan, melakukan evaluasi dan memeriksa ualang hasil kerjanya.

JOB DEKRIPSI DEPARTEMEN PRODUKSI

Tugas dan tanggung jawab

  1. mengatur dan melaksanakan system kerja dibagianya mulai dari penaganan raw material proses produksi, packing, penyimpanan dan barang keluar dari gudang yang berkaitan dengan proses produksi makanan dan menuman.
  2. bertanggung jawab terhadap kelancaran produksi yang meliputi keryawan, peralatan, dan operasional mesin.
  3. betanggung jawap terhadap hasil produksi dan segala hal yang berubungan dengan hasil produksi misalnya kualitas produk dan kemungkinan klaim dari konsumen.
  4. melaksanakan pengaturan jumlah bahan baku yang disesuwaikan dengan kapasitas dan kondisi saat produksi.
  5. membuat rencana kerja yang disesuwaikan dengan target dan sasaran produksi.
  6. menjamian kesediaan produksi sesui dengan order.
  7. meminimalisasi pemakaian bahan/biaya yang dikeluarkan dalam pelakdanaan tugasnya.
  8. meningkatkan sumberdaya manusia serta oktimalisasi kerja bawahan.
  9. membuat laporan rutin (mingguan dan bulanan) kepada atasan.

Wewenang

  1. mengatur dan menepatkan peralatan atau kariawan proses demi kelancaran proses produksi.
  2. menolak bahan baku bila tidak sesuai dengan setandat dan jumlahnya melebihi kapasitas.
  3. meminta dan menggunakan saran pendukung yang dimiliki olah perusahaan guna kelancaran produksi.
  4. meminta kepada bagian terkait (personalia) untuk memberi sasansi kepada bawahan dalam hal kesalahan ataupu pelanggaran yang dilakukan bawahan yang dapat mengganguh kelancaran produksi.
  5. memberikan penilaian prestasi kerja karyawan.

JOP DESKRIPSI DEPARTEMEN GENERAL AFFAIR

Tugas dan tanggung jawab

  1. mengelolah dan bertanggung jawab terhadap perijinan SPAT, termasuk surat-surat kendaraan.
  2. membuat rencana kerja bawahan berserta target dan evaluasi aplikasinya.
  3. betanggung jawab mengolah secara keseluruhan hal-hal yang berkaitan dengan masalah kepersonaliaan, umum dan kerumahtanggaan, satpam, termasuk oprasional kendaraan.
  4. mengalolah sumberdaya manusia dan merencanakan pengembanganya.
  5. menjali hubungan baik dengan perusahaan lain dan instansi pemerintah secara professional dan menguntungkan.
  6. bertanggung jawab terhadap keseimbangan hak dan kewajiban karyawan dengan SPAT.
  7. melakukan evaluasi dan perancanaan training karyawan.
  8. bertanggung jawab terhadap pengelolaan seluruh fasilitas umum di SPAT.
  9. bertanggung jawab terhadap pembaharuan perijinan SPAT.
  10. melakukan rekrutmen karyawan atas permintaan dari departemen atas persetujuan derektur dan general manager.
  11. melakukan filling data karyawan perusahaan.
  12. melakukan penilain prestasi kerja karyawan di bawahnya, serta mengarsip penilaian prestasi kerja dari departemen lain.
  13. menjaga penggunaan kendaraan perusahaan agar digunakan dengan baik dan tepat waktu.
  14. pembuatan kontrak kerja dengan karyawan baru maupun perjanjian kerja dengan instalasi lain.
  15. mengalolah dan bertanggung jawab terhadap informasi dan pembayaran telepon, listrik, asuransi.
  16. membuat serat peringatan bagi karyawan yang melanggar peraturan SPAT.
  17. betanggung jawab dalam pembuatan kartu absensi karyawan.

Wewenang

  1. menkonfirmasi kartu apsensi karyawan yang berkaitan dengan izin, cuti, sakit dan alfa.
  2. membuat surat peringatan dan menyerahkan kepada direksi.
  3. memberi penilaian kepada bawahanya secara langsung.
  4. melakukan upaya yang mendukung tercapainya sasaran jabatan dengan koordinasi atasan.

JOP DEKRISI DEPARTEMEN QUALITY CONTROL

Tugas dan tanggung jawap

  1. melaksanakan tugas-tugas sesuai instruksi atasan dalam lingkup kerja kualiti control.
  2. menyusun rencana kerja dan membuat laporan mingguan, bulan dan tahun QC.
  3. mengatur dan mengawasi pelaksanaan tugas bawahan dan memberi seran guna pengembangan serta paningkatan produktifitas kerja.
  4. memotivasi, meningkatkan sekill dan disiplin bawahan secara optimal.
  5. bertanggung jawap terhadap kualitas secara keseluruhan mulai dari bahan baku, bahan pembantu, bahan packing, proses produksi sampai produksi jadi.
  6. melakukan koordinasi dengan seluruh bagian dalam hal konsistensi kualitas produk.
  7. melakukan pengurusan perijinan yang berkaitan dengan control kualitas.
  8. bertanggung jawap terhadap hasil analisa dan ibspensi kualitas produk.
  9. melakukan control plain dari pihak luar dan melakukan tindakan kerektif.
  10. mengikuti pengembangan teknologi dan pasar menyusun pengembangan produk baru dan peningkatan kualitas produk yang suda ada (survey pasar).

Wewenag

  1. menentukan penolakan bahan yang tidak sesuai dengan speksifikasi.
  2. mendistribusikan informasi kualitas produk kebagian lain yang membutuhkan.
  3. memberi jawaban pada batas penyedian data atas klaim dari luar.
  4. membuat standart atau peramenter proses produksi produk baru.
  5. menentukan speksifiksi produk, bahan baku, bahan pembantu dan barang packing untuk produk baru.

BAB. II

Tinjauan Pustaka

Bagaimanapun juga basis kekuatan ekonomi nasional berada di pedesaan. Kekayaan agraris di Indonesia berupa pertanian, peternakan, perikanan dan kehutanan harus tetap dijaga kesinambungannya. Dalam masa jangka panjang ke depan (2000-2025) sektor pertanian masih merupakan sektor utama terpenting dalam perekonomian Indonesia baik sebagai penghasil barang (PDB), penghasil devisa dan pemberi kerja (employment). Dalam pengertian konsep agribisnis, pertanian mencakup sub sistem agroindustri hulu (agroinput), agroindustri hilir (pengolah hasil-hasil pertanian), kegiatan pemasaran (termasuk angkutan dan pergudangan), dan kegiatan-kegiatan penunjang (keuangan/perbankan, penelitian. pendidikan/penyuluhan, dan lain-lain). Agribisnis Indonesia diperkirakan akan memberikan kontribusi yang cukup besar pada PBD nasional. Berkembangnya sektor agribisnis ini akan membutuhkan sumberdaya manusia yang memiliki kemampuan yang handal dibidang agribisnis.

Direktur Sentra Pengembangan Agribisnis Terpadu – SPAT (Ir. Unggul Abinowo, MS) menyatakan bahwa SPAT merupakan kegiatan pengembangan agribisnis yang memanfaatkan potensi sumber daya lokal secara optimal untuk peningkatan pendapatan. Visi SPAT ialah mewujudkan model pertanian terpadu yang efisien, tangguh, modern berkelanjutan dan berdimensi kerakyatan. Komoditas utama yang dikembangkan SPAT adalah ubi jalar, selain itu juga dikembangkan komoditas lainnya, dengan sistem pengembangan diversifikasi produk olahan.

Pengembangan kerja sama dengan kelompok tani perlu dilaksanakan agar petani mampu memproduksi ubi jalar sesuai dengan permintaan pasar. Bentuk kerja sama dengan petani plasma penghasil ubi jalar adalah dalam bentuk membeli ubi jalar (produk) yang diusahakan petani dengan harga yang layak (adanya jaminan pasar) dan sarana yang diberikan ke petani di antaranya adalah kemudahan dalam meningkatkan permodalan (jaminan dalam meminjam uang ke bank).

Terbentuknya sentral pembangunan agrobisnis terpadu (SPAT)

Terbentuknya sentral pembangunan agrobisnis terpadu (SPAT) sebagai perwujutan amplikasi konsep pertanian terpadu (intergral farming) melalui proses perkumpulan yang cukup panjang dalam dunia pertanian. Berangkat dari keprihatinan yang dirasakan seorang unggul abinowa, sarjana lulusan unibra 1985 yang telah mengeluti aktivitas bercocok tanam sejak semasa kuliah dan mengamati ketidakadilan yang di terima para petani. Sehingga mengantarkan tekatnya menerapkan konsep pertanian di desa parelegi, kecamatan purwodadi, kabupaten pasuruan.

Kebun terpadu yang telah dikembangkan oleh pak. Unggul Abinowo sejak 17 tahu lebih dinyatakan tempat pertama sebagai sentra pengembangan agrobisnis terpadu (SPAT-Purwodadi). Ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Menpora Agung Laksono pada prasasti batu onyx pada tanggal 16 april 1999.

Dalam kiprah awalnya (SPAT-Purwodadi) mengadakan kegiatan bersama dengan beberapa lembaga mengadakan seminar nasional agrobisnia, dilasanakan pada tanggal 27 aktomber 1997 di Pondok Pesantren Ab-Nur Bululawang Malang. Acara ini  di buka mempora Hayono Ismam. Dilanjutkan dengan sarasehan pemuda pelopor tingkat nasional dilaksanakan pada tanggal 29 oktomber 1997 dengan hasil terbentunya satuan pelaksana tugas pusat (BP3D)/Brigade Pemuda Pelopor Pembangunan Desa. (SPAT-Purwodadi) mencoba untuk memfasilitasi kegiatan kepemudaan pada tanggal 16 april 1998 dalam acara temu wicara pondok pesantren sejawa timur. Hasilnyapun cukup menggembirakan, di antaranyan diterapkan beberapa teknologi tepat guna karya nyata pemuda pelopor.

Diluar aktivitas formal tersebut (SPAT- Purwodadi) kerap mejadi tempat kegiatan yang besifat masal. Banyak lembaga social atau lembaga profesi seperti aspeni-flora, penyuluan terhadap para petani sejawa timur atau ibu-ibu yang dipandu oleh Ibu Pangdam V Brawijaya, mengadakan pertemuan di (SPAT-Purwodadi).juga kunjungan mahasiswa dari bebagai peguruan tinggi. Sedangkan kunjungan yang sangat berarti bagi (SPAT-Puwodadi) yaitu pada tanggal 4 juni 1998. dimana mentri pertanian ketika mengadakan kunjungan diknas ke malang iapun menyempatkan diri berkunjung ke   SPAT. Setelah kunjungan, SPAT mendapatkan SK sebagai pusat pelatihan pertanian dan swadaya perdesaan (P4S) dari Badan Diklat Pertanian.

Pemuda pelopor tingkat nasional tahun 1996 ini banyak mengetahui ketidak adilan yang diterima masyarakat kususnya kalangan petani. Pola-pola sentralisasi produk pertanian tertentu, akibat kebijakan pemerintah yang menyababkan produk-produk hasil pertanian yang lainya tidak berkembang dengan oktimal seperti program perberasan yang ahirnya memicu kerawanan pangan pada saat harga pupuk melambung sementara harga jual tidak sepadan dengan hasil yang diharapkan. Padahal potensi tanaman pangan selain beras di Indonesia sangatlah beragam, namun akibat kebijakan tersebut potensi-potensi yang ada di wilayah atau daerah menjadi terabaikan. Pak unggul abinowo yang juga seorang petani merasakan betul saat itu susahnya menjadi petani di tengah-tangah keterpaksaan menanam komoditi tertentu yang tidak didukung aspek penanganan paska panan serta pemanaran yang memadai.

Setra adalah sebagai pusat pemanduan potensi, aksi dan gerakan pemberdayaan masyarakat. SPAT menjadi mediator masiarakat dengan menyediakan berbagai macam program. Program ini merupakan komitmen dan didasarkan pada visi parapemuda pelopor tingkat nasianal. Dalam visi tersebut disepakati bahwah kegiatan yang dilaksanakan akan senantiasa mengapdikan diri dengan cara begerak di perdesaan dan bewawasan agrobisnis.

SPAT berdiri dengan mengembangkan usaha yang begerak dari hulu hingga hilir, dengan mengambil produk tanaman ubi jalar/bakpao telo sebagai bahan baku utama. Pak unggul abinowo mengangap ubi jalar adalah tanaman propektif karena telah banyak di kembangkan dan digunakan sebagai produk olahan di Negara-negara maju. Disamping itu ubi jalar memiliki keunggulan nutrisi yang tidak kalah dngan produk-produk pertanian lainyan. Pada saat itu ubi jalar sebagai komoditi yang terpinggirkan juga memiliki nilai ekonomis yang rendah serta harga yang murah.

Pengembangan Produk, kariawan dan harga bakpao telo

Berbekal kemampuan menyerap potensi bahan baku dan kemampuan melihat pasar, produk yang petama diluncurkan adalah pakpao telo. Dengan intensitas dan kemampuan aksepbilitas teknologi, produk-produk ubi jalar berkembang hingga tahun 2008 menjadi sekitar 40 item produk. Diantara produk tersebut adalah mie telo, French fries telo, kue-kue telo, es krim telo, tepung telo dan sebagainya.

Bakpao telo merupakan hasil eksperimen Unggul yang pertama. Ia kemudian memasarkan sendiri bakpaonya. Sejak awal, tanda-tanda sukses sudah tampak. Hasil panen empat hektare tanaman telo yang diolah menjadi bakpao ludes hanya dalam seminggu. Di tangan Unggul, gengsi telo segera melesat. Makanan yang dianggap tak bergizi ini naik pangkat menjadi primadona. Saya berhasil membuktikan, ubi jalar yang biasanya hanya dijual dengan harga sekitar Rp 400 per kilogram bisa ditingkatkan menjadi Rp 1.000-Rp 1.500 per kilogram, bahkan bisa lebih dari Rp 4.000 sekilo setelah dijadikan bakpao telo,” kata Unggul dengan bangga. Sampai sekarang, ia telah mengembangkan 20 jenis kue yang terbuat dari telo.

Harga kue-kue telo itu bervariasi dari Rp 1.000 hingga Rp 10.000. Harga bakpao rasa keju hanya Rp 1.500, sedangkan roti telo rasa sosis dijual Rp 3.500. Roti mangkuk lebih mahal, yakni Rp 5.000, sedangkan hot dog telo Rp 5.000. Harga mi telo Rp 3.000, sementara telo oven Cilembu dijual Rp 10.000.  Kini Unggul mesti menyediakan telo sebanyak lima hingga enam ton untuk bahan pembuat aneka kue dalam waktu seminggu. Padahal pemasarannya masih terpusat di Terminal Agrobisnis saja. “Saya sedang merintis pasar di Jakarta dan Surabaya,” ujar pria yang meraih penghargaan sebagai Pemuda Pelopor Tingkat Nasional Bidang Pembangunan Pertanian pada 1996 itu.  Sukses bakpao telo mendorong Unggul mendirikan Sentra Pengembangan Agrobisnis Terpadu (SPAT) pada 1984. Lembaga ini memiliki kebun percontohan seluas 2,5 hektare di Desa Parelegi, Kecamatan Purwodadi, Pasuruan.

Di lahan tersebut, ia mendidik dan melatih para petani menanam berbagai jenis sayur-mayur, tanaman hias, dan aneka tumbuhan lain serta berwirausaha. Petani, misalnya, bisa memasarkan hasil pertaniannya melalui Terminal Agrobisnis.  Terminal yang dibangun di atas lahan 800 meter persegi ini selain sebagai pasar, juga menjadi tempat promosi, pusat data, sekaligus tempat pengolahan produk pertanian untuk mendapatkan nilai tambah yang tinggi. Omzet perdagangan di Terminal Agrobisnis ini rata-rata mencapai Rp 300 juta-Rp 400 juta setiap bulan.  Di mata petani binaannya, Unggul adalah sosok petani modern, kaya, dan dermawan. Ia juga terjun ke lapangan memberikan contoh. “Ia tak segan-segan menunjukkan cara memupuk yang benar,” ujar Suwari, salah seorang petani binaan SPAT. Suwari mengaku banyak mencatat kemajuan setelah mengikuti saran Unggul untuk menanam ubi. Selain mendapat bantuan berupa bibit dan pupuk, saat panen ia tak perlu susah payah mencari pembeli. “Saya langsung setor ke Pak Unggul,” ujarnya. Yang lebih penting, Unggul adalah orang yang bisa dipercaya. “Saya tak pernah dibohongi, terutama soal harga jual,” kata ayah empat anak ini.

Untuk menunjang aksistesi dan kemajuan perusahaan’ SPAT mejalin kerjasama dengan beberapa pihak diantaranya:

  • MOU dengan lembaga ilmu dan pengetahuan Indonesia (LIPI) tahun 2001.
  • MOU dengan kementrian reset dan teknologi tahun 2001.
  • MOU dengan Universitas Vetera surabaya tahun 2003.

Pada awal berdirinya perusahaan bakpao telo ini, jumlah karyawan hanya 12 orang, sekarang meningkat menjadi 94 orang dengan klasifikasi karyawan  pada tanggal 30 juni 2008 kemarin.

Klasifikasi karyawan

No

Klasifikasi

Jumlah orang

Tkt. pendidikan

s/d SMP

SLTA

D3

S1/D2

1.

Tenaga tetap

71

19

45

7

2.

Tidak tetap

23

11

12

3.

Jumlah total

94

30

57

7

Dengan melihat klasifikasi tingkat pendidikan keryawan di atas memang dikombinasi lulusan SLTA (60%) kemudian di bawah AMP (32%) dan sisanya adalah lulusan S-1 (8%). Penepatan karyawan lulusan S-1 lebih banyak dijajaran manajemen menengah sebagai manajer dan supervisor, sedangkan lulusan SLTA dan SMP kebawah dibagian teknis operasional perusahaan.

SPAT tidak lepas tangan dari aspek social untuk berkembang

Walaupun SPAT sebasai perusahaan profit oriented, tidaklah lepas tangan dalam melihat aspek social kemasyarakatan terutama dengan keberadaan para petani dan UKM yang belum terlaksanadengan maksimal. Dari aspek social inilah SPAT berkembang atau terbagi dalam devisi- devisi kerja. Ada enam devisi yakni:

  1. Pusat Pendidikan dan Pelatia Terpadu

Devisi ini bergerak dibidang pemberdayaan petani dan UKM termaksuk kalangan umum (ibu rumah tangga, pelajar, mahasiswa purna tugas dsb) kususnya di kegiatan-kegiata sosilisasi teknologi dan inovasi di dunia pertanian. Apdopsi teknologi dan elmu pengetahuan yang didapatkan SPAT dari berbagai hasil pertanian, diusahakan semaksimal mungkin untuk selalu dapat diterima dan digunakan dikalangan pelaku atau masyarakat.

Materi-materi yang disampaikan devisi pendidikan dan pelatihan sbagaimana dalam gambar berikut:

Materi

Sarana prodoksi

Produksi pertanian

Penaganan

Pengolahan

Distribusi

Pasar

Konsumen

GFS

SHP

GMP

GDP

GRP

GCP

Pra panen

Pasca panen

GFP = good farming practises
GHP = good handling practises
Gmp = good manufacturing practises
Gdp = good distribution practises
Grp = goodretailer practices
Gcp = good consumer pratises
  1. Pusat Data dan Informasi

Davisi ini menginventarisir berbagai data tentang potensi daerah (serta produksi), data kebutuhan akan produk pertanian yang berkembang dan yang akan dating, kualifikasi produk yang sesuwai dengan permintaan pasar, informasi pasar dan data serta informasi yang berkaitan dengan aktifitas skala local, regional dan internasional.

  1. Pusat Kajian dan Strategi Gerakan Pembangunan Desa.

Mengkaji dan mengkonsep strategi program-program pembangunan perdesaan yang berkaitan dengan pengembangan pertanian di pedesaan. Aktivitas yang dilakukan berupa kegiatan seminar, diskusi tingkat sektoral, audiensi, bedah buku dan kegiatan lainya. Devisi ini lebih banyak bergerak secara konseptual untuk mensosialisasikan kemampuan daerah untuk mengembangkan potensi masing-masing, sehingga mampu meningkatkan pendapatan pelaku usaha dan adanya nilai tambah produk-produk pertanian secara luas.

  1. Pusat Pengembanga Teknologi Tepat Guna

Salah satu kendala dari pelaku UKM adalah keterbatasan dalam adaptasi terhadap teknologi baru yang lebih maju, otomatis dan efesien. Kendala pemanfaatan yang tidak oktimal dan didukumg ketiadaan angaran yang memadai untuk melaksanakan envestasi, menyababkan usaha yang dikembangkan tidak berkembang dan tumbuh menjadi besar. Devisi pengembangan teknologi tepat guna berusaha menyinkronkan/membantu  kebutuhan pelaku usaha terdapat efisiensi dan pengembangan usaha dengan membuat mesin-mesin dan peralatan sederhana dengan harga mudah dijangkau.

  1. Pusat Kajian Pembiayaan dan Investasi

SPAT berperan sebagai mediator penyaluran kredit dari berbagai lembaga pendanaan seperti bank, Pemda Kabupaten Pasuruan dan Perorangan. SPAT mendapat wewenag penuh dari lembaga-lembanga penyediaan dana tersebut untuk menyalurkan kredit kepeda mesyarakat yang membutuhkan. Calon permohon kredit diharuskan mempunyai usaha sediri, lebih diutamakan dibidng pertanian. Permohonan kredit diminta membuat proposal pengajuan kredi, kemudian tim dari SPAT akan melakukam survey kelayakan kredit. Apabilah permohonan kredit dinilai layak, dana segerah diluncurkan dengan bunga yang cukup ringan dengan jangka waktu pengembalian sesuai dengan krtrntuan yang telah ditentukan oleh kruh SPAT.

  1. Teminal Agrobisnis

Terminal agrobisnisterbagi dalam dua kegiatan yakni kegiatan produksi makanan dan minuman serta kegiatan pemasaran produk-produk internal perusahan maupun produk-produk UKMyang menjadi mitra SPAT.

BAB.III

Analisis Masalah Dan Pembahasan

Aspek penting yang perlu diperhatikan dalam pengembangan agribisnis adalah keberpihakan  kepada petani kecil sehingga petani memperoleh keuntungan dan bersedia memenuhi bahan baku yang diperlukan.

Sentra pengembangan agribisnis terpadu (SPAT) adalah pusat pemaduan potensi, aksi dan gerakan pemberdayaan masyarakat untuk berperan serta aktif dalam pembangunan masyarakat pertanian Indonesia. Sentra ini didirikan pada tahun 1984, yang dilatarbelakangi oleh keinginan untuk berperan serta membangun pertanian di Indonesia. Dengan konsep pertanian terpadu, keanekaragaman potensi sumber daya hayati pertanian Indonesia dapat dioptimalkan pengembangannya sebagai suatu keterkaitan dari hulu sampai hilir. Dari waktu ke waktu SPAT selalu berkembang dengan berbagai program baru. Mulai sebagai Pusat Pendidikan dan Pelatihan Terpadu, Pusat Data dan Terpadu, Pusat Data dan Informasi, Pusat Kajian dan Strategi Gerakan Pembangunan Desa, Pusat Pengembangan Teknologi Tepat Guna (TTG) sampai dengan pembentukan Pusat Kajian Pembiayaan dan Investasi, serta pembentukan Terminal Agribisnis.

Dalam menjalankan kegiatan agribisnisnya, SPAT memiliki 6 divisi utama, yaitu: terminal Di agribisnis, pendidikan dan pelatihan, data dan informasi, pusat kajian pembangunan desa, teknologi tepat guna, dan investasi dan pembiayaan. Dalam divisi data dan informasi, SPAT juga melaksanakan kegiatan pengembangan situs dan komunikasi dengan situs di Negara lain dalam akses informasi harga dan pemasaran produk untuk menjangkau pasar internasional. Hal ini telah berdampak pada telah diekspornya produk olahan hasil pertanian dari SPAT ke manca negara (Malaysia dan Jepang).

Strategi bisnis yang dilakukan oleh SPAT adalah: kompetisi (meningkatkan daya saing dengan pemahaman kebutuhan pasar, peluang bisnis, dan kompetitor); koneksi (membentuk hubungan jaringan pengembangan brand dan persepsi/image perusahaan); dan kolaborasi (menjalin kolaborasi dengan relasi yang seimbang untuk memenangkan kompetisi).

  • Visi Strategi  Pengembangan

Mewujudkan model pertanian terpadu yang efisien, tangguh, modern, berkelanjutan dan berdimensi kerakyatan.

  • Misi Strategi  Pengembangan

Pemberdayaan segenap potensi sumber daya alam dan manusia untuk membangun pertanian Indonesia.

  • Tujuan Strategi  Pengembangan
  1. Menghasilkan produk agribisnis yang mempunyai daya saing.
  2. Melatih dan mencetak petani yang handal dengan tujuan untuk mensejahterakan petani dan UKM.
  3. Rebuilding Image produk Lokal.
  4. Berperan serta dalam pengembangan ekonomi daerah.
  5. Mensinergikan tujuan tersebut dan membangun Sentra Agritourism.

Untuk mengaplikasikan Model Pertanian Terpadu dan menjaga keberlanjutannya maka kebutuhan akan peran-peran strategis (Pendidikan & Pelatihan, Data & Informasi, Kajian Strategi Gerakan Pembangunan Desa, Pengembangan Tekhnologi Tepat Guna, Kajian Investasi dan Pembiayaan, Terminal Agribisnis) dalam pembangunan pertanian menjadi suatu bagian yang tidak bisa dipisahkan. Tujuan utama dari bidang ini adalah melatih SDM pertanian dengan transfer skill usaha tani secara utuh, dan menstimulus individu-individu untuk berwirausaha yang mampu menghadapi tantangan pertanian di masa mendatang.

  • Metode Pendidikan Dan Pelatihan

Metode Pelatihan interaktif yang di  tawarkan adalah 80% praktek dilapangan dan 20% materi, dengan kurikulum yang disusun bersama BLPP (Balai Latihan Pengembangan Pertanian), APP-Malang (Akademi Penyuluh Pertanian), Fakultas Pertanian & Lembaga Penelitian Pertanian Univ. Brawijaya, Balai Teknologi Pertanian Lawang, Balai Benih Ikan- Umbulan dan instansi lainnya yang terkait.

  • Produk Bakpao Telo

Bakpao ini memiliki perbedaan dengan bakpao-bakpao biasa, yaitu menggunakan bahan dasar telo (ubi jalar) dimana kandungan ubi jalar sangat bermanfaat seperti mengandung vit.A sebanyak 4 (empat) kali dari wortel, sehingga sangat bagus untuk mata. Selain itu juga mengandung betakaroten yang bagus untuk anti kanker.

  • Produk bakpao telo (bakmi)

Produk olahan berbasis ubi jalar, misalnya akpao, bakmi, dan bakpia serta tepung ubi angat rospektif. Saat ini produksi bakpao ubi alar telah mencapai sekitar 8 ribu bakpao/hari.

  • Produk Bakpao Telo Yang Baru

Bakpia Telo ini adalah produk terbaru dan inovatif dari SPAT. Pada tahun 2006 mendapatkan penghargaan dari negara Indonesia dengan nominasi “Produk Inovatif Terbaik Seluruh Indonesia”.

Kesimpulan

Sentra pengembangan agribisnis terpadu (SPAT) adalah pusat pemaduan potensi, aksi dan gerakan pemberdayaan masyarakat untuk berperan aktif dalam pembangunan masyarakat pertanian Indonesia. strategi pengembanga yang digunakan oleh Perusahaan Bakpao Telo melalui (SPAT) adalah konsep pertanian terpadu dalam  mengembangkan usaha yang bergerak dari hulu hingga hilir. Walaupun SPAT sebagai perusahan profit oriented, tidaklah lepas dari aspek sosial, maka dari itu SPAT berkambang atau terbagi dalan devisi-devisi kerjanya.

Kegiatan-kegiatan perusahan di tetapkan sesui dengan devisi masing-masing untuk bisa memaksimalkan ataupun mengembangkan perusahaan bakpao telo dengan baik, efektif dan efisien kususnya di aspek budidaya, pengolahan dan pemasaran. Struktur yang digunakan oleh perusahab bakpao telo ini adalah secara formal jadi perusahaan tercakup seutuhnya dalam struktur organisasi inti.

Berbekal kemampuan menyerap potensi bahan baku serta kemampuan melihat pasar, pak unggul jugak Berangkat dari kecintaanya yang lantas membuahkan keprihatinan mendalam pada nasib para petani itulah Unggul mencoba mewujudkan tekadnya membantu pertanian serta kehidupan petani. Bahkan sejak kelas dua sekolah menengah ke atas Unggul sudah mencoba terjun menjadi petani yang sebenarnya. Ia menyewa sebidang lahan yang ia tanami beberapa jenis tanaman pangan dan perkebunan, modalnya hanya uang saku serta sedikit dana pinjaman.

Unggul  coba buktikan bahwa dari ketela yang harga jualnya sekitar Rp 200 per kg, bisa ditingkatkan menjadi Rp 750 hingga Rp 1.000 per kg, bahkan lebih dari Rp 2.000 setelah dijadikan bakpao telo. Dari empat hektar lahan tanaman ubi yang hasilnya diolah menjadi bakpao, saat ini berkembang menjadi 23 hektar dengan 12 petani plasma. Kebutuhan ubi yang dipakai untuk membuat bakpao saat ini saja mencapai tiga sampai empat ton setiap minggu untuk memproduksi 2.000/7.000 bakpao setiap minggunya. Unggul berharap, dengan melihat contoh bakpao saja orang lain juga mau mencari potensi produk pertanian mereka. Terminal agrobisnis ini bertujuan menampung semua produk pertanian yang kemudian diolah dan dikemas sedemikian rupa sehingga mampu meningkatkan nilai jual serta nilai tambah produkyang di jual kepasar.

Daftar Pustaka

Artikel Sejarah Perusahan Bakpao Telo / Hasil Wawancara Kami Dengan Personalia Perusahan Bakpao Telo.

Http://Www. Google. SPAT. Indonesia. Or. Id / Wednesday, February 21, 2007.

Http://Www. Google. SPAT. Bakpau telo. Com / Wednesday, February 21, 2007.

Http://Www. Google. SPAT. Sejarah bakpao telo. Com / Wednesday, Mei 30, 2002.

Http://Www. Kompas.Com / Kompas-Cetak / 0205 / 30 / Naper / Memb12.Htm

Http://Www. Google. Spat. Bakpao Telo Pak Unggul.Com / Nugroho Dewanto, Bibin Bintariadi (Pasuruan).Majalah Berita Mingguan TEMPO. 23/xxx/II. 04 Agustus 2003.

Http://Www. Google. Spat. Analisia Bakpao Telo.Com / Niken Amanda Damayanti (97720029). Created: 2004-12-30 , With 3 File(S).

Http://Www. Google. Unifersitas Sumatra utara Com./ast Updated on Monday, 22 September 2008 11:54

Http.//Www. Google. Strategi pengembangan Com/4mi 2008/Surabaya, 24 – 26 Maret 2008

KOMUNIKASI BISNIS DAN MANAJEMEN PRODUKSI PERTANIAN

LATAR BELAKANG

Pada berbagai program pemberdayaan yang bersifat parsial, sektoral dan charity yang pernah dilakukan, sering menghadapi berbagai kondisi yang kurang menguntungkan, misalnya salah sasaran, menumbuhkan ketergantungan masyarakat pada bantuan luar, terciptanya benih-benih fragmentasi sosial, dan melemahkan kapital sosial yang ada di masyarakat (gotong royong, musyawarah, keswadayaan, dll). Lemahnya kapital sosial pada gilirannya juga mendorong pergeseran perubahan perilaku masyarakat yang semakin jauh dari semangat kemandirian, kebersamaan dan kepedulian untuk mengatasi persoalannya secara bersama.

Kondisi kapital sosial dan perilaku masyarakat yang melemah serta memudar tersebut salah satunya disebabkan oleh keputusan, kebijakan dan tindakan dari pengelola program pemberdayaan dan pemimpin-pemimpin masyarakat yang selama ini cenderung tidak berorientasi kepada masyarakat golongan ekonomi lemah, tidak adil, tidak transparan dan tidak tanggung gugat. Hal yang demikian akan menimbulkan kecurigaan, kebocoran, stereotype dan skeptisme di masyarakat, akibat ketidakadilan tersebut. Keputusan, kebijakan dan tindakan yang tidak adil ini dapat terjadi pada situasi tatanan masyarakat yang belum madani, yang salah satu indikasinya dapat dilihat dari kondisi kelembagaan masyarakat yang belum berdaya, yang tidak berorientasi pada keadilan, tidak dikelola dengan jujur serta terbuka dan tidak berpihak serta memperjuangkan kepentingan masyarakat lemah.

Kelembagaan masyarakat yang belum berdaya tersebut pada dasarnya disebabkan oleh karakteristik lembaga masyarakat yang ada di masyarakat cenderung tidak mengakar dan tidak representatif. Di samping itu, ditengarai pula bahwa berbagai lembaga masyarakat yang ada saat ini dalam beberapa hal lebih berorientasi pada kepentingan pihak luar masyarakat atau bahkan untuk kepentingan pribadi dan kelompok tertentu, sehingga mereka kurang memiliki komitmen dan kepedulian pada masyarakat di wilayahnya. Dalam kondisi ini akan semakin mendalam krisis kepercayaan masyarakat terhadap berbagai lembaga masyarakat yang

KOMUNIKASI BISNIS

Komunikasi bisnis adalah setiap komunikasi yang digunakan untuk membangun partnerships, sumber daya intelektual, untuk mempromosikan satu gagasan; suatu produk; servis; atau suatu organisasi, dengan sasaran untuk menciptakan nilai bagi bisnis yang dijalankan. Komunikasi Bisnis meliputi pengetahuan yang menyeluruh dari sisi internal dan eksternal bisnis tersebut. Komunikasi yang internal termasuk komunikasi visi (perseroan/perusahaan), strategi, rencana-rencana, kultur/budaya perusahaan, nilai-nilai dan prinsip dasar yang terdapat di perusahaan, motivasi karyawan, serta gagasan-gagasan, dll. Komunikasi eksternal termasuk merek, pemasaran, iklan, hubungan pelanggan, humas, hubungan-hubungan media, negosiasi-negosiasi bisnis, dll. Bagaimanapun bentuknya, semua hal tersebut memiliki tujuan yang sama, yaitu menciptakan suatu nilai bisnis (create business value).

Komunikasi bisnis berbeda dengan komunikasi antar pribadi maupun komunikasi lintas budaya. Komunikasi antar pribadi ( interpersonal communications ) merupakan bentuk komunikasi yang lazim dijumpai dalam kehidupan sehari-hariantara dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan komunikasi lintas budaya ( intercultural / communication ) merupakan bentuk komunikasi yang dilakukan antara dua orang atau lebih, yang masing-masing memiliki budaya yang berbeda.

Mengapa Penting??? (Komunikasi Bisnis)

Fakta : Lebih dari 70% hari kerja para eksekutif dan staf organisasi dilakukan untuk melakukan kegiatan komunikasi bisnis. Misal: Memberikan instruksi kerja, melakukan presentasi bisnis, memimpin dan menghadiri rapat kerja, wawancara, menulis surat dan memorandum serta menyusun laporan bisnis. Sayangnya, banyak manajer kurang mampu untuk berkomunikasi secara efektif.

Manfaat Komunikasi Bisnis

Eksternal : Komunikasi bisnis dgn pihak ketiga yang efektif membawa dampak positif dalam keberhasilan usaha bisnis dan upaya membangun citra perusahaan di mata masyarakat. Mis: Laporan , brosur, brosur dan presentasi bisnis yang disusun secara profesional dpt meningkatkan citra perusahaan. Komunikasi bisnis yang tidak efektif: sangat mahal ”biayanya”. Menurunkan citra perusahaan, memboroskan jam kerja dan menjauhkan pelanggan. Internal : Kemampuan berkomunikasi secara efektif menunjang karir eksekutif perusahaan

Ada 8 hal yang menjadi pertimbangan mempromosikan jenjang karir eksekutif:

  1. Kemampuan bekerja keras (hard worker)
  2. Kemampuan manajemen (manajerial ability)
  3. Kepercayaan diri ( self confidence)
  4. Kemampuan mengambil keputusan yang sehat (making sound decisions)
  5. Latar belakang akademis (college education)
  6. Mempunyai ambisi untuk maju (ambition drive)
  7. Kemampuan berkomunikasi secara efektif (ability to communicate effectively)
  8. Berpenampilan menarik (good appearance)

Pesan Komunikasi Disampaikan Oleh Lingkungan Perusahaan?

Beberapa pernyataan lingkungan perusahaan diwujudkan dalam bentuk tulisan. Sebagaian besar pernyataan komunikasi lingkungan adalah nonverbal, dan dikelompokkan dalam 2 kategori :

  1. Lokasi : di berbagai tempat seperti Jakarta – MH Thamrin, Sudirman, pesan yang disampaikan sangat jelas : kami adalah perusahan penting dan bergenngsi .Secara implisit ada pesan yang ingin disampaikan melalui lingkungannya : kami adalah perusahaan penting, karena kantor kami terletak dikawasan yang sama dgn lokasi yang sama dgn lokasi bisnis dan profesi lain.
  2. Penataan lingkungan : cara mengatur tempat kerja lingkungan fisik memiliki peranan penting dalam komunikasi bisnis :
  • Pengaturan parkir mobil : tersedia tempat parkir yang memadai dan papan penunjuk yang jelas.
  • Seragam : model, warna
  • Ruang terima tamu dijaga kerapiannya
  • Toilet selalu bersih dan terawat
  • Ø Tersedia literatur perush utk para tamu

DASAR – DASAR KOMUNIKASI BISNI

Fungsi komunikasi organisasi:

  • Membantu anggota organisasi mencapai tujuan organisasi
  • Membantu mempererat anggota organisasi menjadi unit yang kohesive/solid)
  • menetapkan tujuan dan sasaran Tujuan organisasi sangat beragam dan ditetapkan dengan adanya komunikasi

Sasaran organisasi (objective):

  • Sasaran keuangan (financial results)
  • Kualitas produk (product quality)
  • Dominasi pasar
  • Kepuasan karyawan (employee satisfaction)
  • Pelayanan kepada pelanggan (services to customer)

Membuat dan menerapkan keputusan:

  • Manajer mengumpulkan fakta dan mengevaluasi alternatif (reading, asking questions. Etc)
  • Manajer perlu mengukur hasil (output) keluaran organisasi. Dapat melalui : costs, sales, market share, productivity, employee turnover, inventory levels (tingkat persediaan)
  • Organisasi mempekerjakan, melakukan training memotivasi dan mengevaluasi karyawan dengan berkomunikasi
  • bernegosiasi dengan customer melalui brosur, periklanan, personal sales
  • Bernegosiasi dengan pemasok dan lembaga pendanaan
  • Producing the product.
  • Interaction

Komunikasi bisnis yang terjadi di dunia bisnis: external dan internal terdiri melalui  pemrbicara,mendengarkan, menulis dan membaca Para pelaku bisnis mengalokasikan waktunya untuk masing-masing jenis komunikasi verbal spt di bawah ini:

Jenis Komunikasi Verbal Alokasi waktu:

  • Berbicara 30%
  • Mendengarkan 45%
  • Menulis 9%
  • Membaca 16%
  • Total 100%

Komunikasi bisnis baik secara lisan maupun tulisan mempunyai beberapa karakteristik sbb:

  1. Pesan yang terkandung dalam komunikasi bisnis disusun untuk audience atau penerima yang membutuhkan informasi
  2. Pesan bisnis disusun dengan mempertimbangkan batasan waktu dan biaya
  3. Pesan bisnis biasanya disusun untuk lebih dari satu tujuan
  4. Pesan bisnis harus memperhatikan nada dan pengaruhnya terhadap audience.

ada di wilayahnya.

SISTEM MANAJEMEN PRODUKSI PERTANIAN

Pertanian organik adalah keseluruhan sistem manajemen produksi pertanian yang menghindari penggunaan pupuk, pestisida sintetis dan organisme rekayasa genetik (GMO atau transgenik), meminimalkan polusi udara, tanah, dan air serta mengutamakan kesehatan dan produktivitas tanaman, binatang dan manusia. Dalam pelaksanaannya, pertanian organik mengurangi pemakaian masukan dari luar (external input) dengan jalan meniadakan penggunaan pupuk dan pestisida kimia sintetis.  Sebagai gantinya, sistem pertanian organik, memanfaatkan sumber daya alami berupa pupuk organik, pestisida botani dan penggunaan bibit lokal atau yang bukan hasil rekayasa genetik. Dengan demikian pertanian organik dapat didefinisikan sebagai “ sistem pengelolaan produksi pertanian yang holistik yang mendorong dan meningkatkan kesehatan agro-ekosistem, termasuk biodiversitas, siklus biologi dan aktivitas biologis tanah; dengan menekankan pada penggunaan input dari dalam dan menggunakan cara-cara mekanis, biologis dan kultural”.

Sistem manajemen produksi pertanian organik dirancang untuk:

  • menghasilkan pangan berkualitas tinggi yang bebas residu pestisida, residu pupuk kimia sistetik, dan bahan kimia lainnya untuk membantu meningkatkan kesehatan masyarakat,
  • melindungi dan melestarikan keanekaragaman hayati dalam sistem secara keseluruhan, agar dapat berfungsi dalam mempertahankan interaksi di dalam ekosistem pertanian secara alami,
  • mempertahankan dan meningkatkan kesehatan, kesuburan dan produktivitas lahan guna menunjang sistem usahatani yang berkelanjutan,
  • mengurangi ketergantungan petani terhadap masukan sarana produksi dari luar yang harganya mahal dan berpotensi menyebabkan pencemaran lingkungan,
  • mendaur ulang limbah yang berasal dari tumbuhan dan hewan untuk mengembalikan nutrisi ke lahan sehingga meminimalkan penggunaan sumberdaya yang tidak dapat diperbaharui,
  • mempromosikan penggunaan tanah, air dan udara secara sehat, serta meminimalkan semua bentuk polusi yang dihasilkan oleh praktek-praktek pertanian,
  • menangani produk pertanian dengan penekanan pada cara pengolahan yang hati-hati untuk menjaga integritas organik dan mutu produk pada seluruh tahapan; dan
  • bisa diterapkan pada seluruh lahan pertanian yang ada melalui suatu periode konversi, dimana lama waktunya ditentukan oleh faktor spesifik lokasi seperti sejarah lahan serta jenis tanaman dan hewan yang akan diproduksi.

Manajemen Kualitas Produk

Ada kalanya OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) mampu beradaptasi bahkan mutasi sehingga kebal (resisten) terhadap pestisida (organik atau an-organik), sehingga produk pestisida juga perlu ditingkatkan kualitasnya. Apalagi mengingat pertanian di lapangan (on-farm) sangat dipengaruhi oleh faktor iklim, lingkungan dan manusia. Hal ini menjadi tantangan bagi litbang untuk meningkatkan kualitas produk agar LPS memiliki produk-produk dengan kualitas yang terjamin.

Lima produk unggulan LPS yang memerlukan manajemen kualitas produk secara berkala, diantaranya adalah : beras SAE (non residu pestisida), Bio-pestisida/agen pengendali hayati (Virexi/VIR-X dan Vitura/VIR-L), OFER (kompos), dan PASTI (insektisida hayati).

Program Peningkatan Kualitas Produk:

  1. Pengujian dan Peningkatan kualitas produk (menurunkan kontaminasi bakteri & uji jumlah virus)
  2. Pengembangan demplot (uji lapang produk LPS)
  3. Melakukan QC (Quality Control)

Manajemen Laboratorium

Dalam melakukan inovasi dan rancang bangun teknologi, Divisi Litbang LPS-DD menggunakan laboratorium dan fasilitas penunjang kegiatannya. Laboratorium didalam ruangan (indoor) dan laboratorium lapang (outdoor). Pengelolaan manajemen Laboratorium ini disesuaikan dengan kebutuhan dan jadwal yang disusun berdasarkan perencanaan dan prosedur yang telah dituangkan dalam rencana kerja lembaga. Prinsip yang dipergunakan adalah Teliti, Objektif dan Prestatif.

Kegiatan dalam pengelolaan manajemen laboratorium ini diantaranya adalah; scheduling, action plan, inventarisir, dan lain-lain. Sedangkan output yang dihasilkan antara lain; data-data ilmiah, publikasi ilmiah, dan rekomendasi hasil penelitian.

Program Penelitian dan Pengembangan di Laboratorium:

  1. 1. Pengembangan & Penelitian produk terbaru (Pengendali penyakit, NPS, pupuk cair)
  2. 2. Pengembangan publikasi ilmiah (Buku, Buletin, Newsletter)
  3. 3. Pengembangan Jaringan Penelitian & atau Proyek Penelitian

Manajemen Pelatihan

Perlunya sarana penyampaian teknologi yang dikembangkan LPS-DD membuka peluang kegiatan transfer teknologi dan informasi melalui Pelatihan dan Workshop. Kendala penyampaian informasi ke petani dan masyarakat yang tidak lengkap menjadi salah satu sebab gagalnya program. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Divisi Litbang LPS-DD menyusun kegiatan Pelatihan untuk petani dan masyarakat dengan beberapa model pelatihan (Training). Selain mensosialisasikan ke pihak luar, secara internalpun dilakukan dengan model workshop dan kuliah/praktek umum.

Sejauh ini beberapa pelatihan–pelatihan sudah rutin dilakukan oleh LPS-DD. Selain dari tujuan khusus tersebut, ada pula tujuan umum dari pelatihan tersebut agar dapat mendukung program–program LPS dan produk–produk LPS lebih cepat tersosialisasi. Optimalisasi dari manajemen pelatihan ini akan mampu membuka jejaring (network) seluas-luasnya dengan pihak-pihak lain serta membuka kemitraan yang saling menguntungkan.

Program utama yang ada dalam manajemen pelatihan:

  1. Menyelenggarakan Pendidikan & Pelatihan Keterampilan Petani Ramah Lingkungan
  2. Membangun Network dengan pihak luar dan sosialisasi program atau produk-produk yang dikembangkan LPS-DD

KESIMPULAN

Gambaran sarana kebutuhan masyarakat seperti yang di atas hanya akan dicapai apabila orang-orang yang diberi amanat sebagai pemimpin masyarakat tersebut merupakan kumpulan dari orang-orang yang peduli, memiliki komitmen kuat, ikhlas, relawan dan jujur serta mau berkorban untuk kepentingan masyarakat, bukan untuk mengambil keuntungan bagi kepentingan pribadi maupun kelompoknya. Tentu saja hal ini bukan merupakan suatu pekerjaan yang mudah, karena upaya-upaya membangun kepedulian, kerelawanan, komitmen tersebut pada dasarnya terkait erat dengan proses perubahan perilaku masyarakat.

Kemandirian lembaga masyarakat ini dibutuhkan dalam rangka membangun sarana masyarakat yang benar-benar mampu menjadi wadah perjuangan kaum ekonomi lemah, yang mandiri dan berkelanjutan dalam menyuarakan aspirasi serta kebutuhan mereka dan mampu mempengaruhi proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kebijakan publik di tingkat lokal agar lebih berorientasi ke masyarakat miskin (pro poor) dan mewujudkan tata kepemerintahan yang baik (good governance), baik ditinjau dari aspek sosial, ekonomi, pendidikan, ddl, maupun lingkungan, termasuk perumahan dan permukiman.

Kondisi sarana kelembagaan masyarakat yang tidak mengakar, tidak representatif dan tidak dapat dipercaya tersebut pada umumnya tumbuh subur dalam situasi perilaku/sikap masyarakat yang belum berdaya. Ketidakberdayaan masyarakat dalam menyikapi dan menghadapi situasi yang ada di lingkungannya, yang pada akhirnya mendorong sikap skeptisme, masa bodoh, tidak peduli, tidak percaya diri, mengandalkan bantuan pihak luar untuk mengatasi masalahnya, tidak mandiri, serta memudarnya orientasi moral dan nilai-nilai luhur dalam kehidupan bermasyarakat, yaitu terutama keikhlasan, keadilan dan kejujuran.

MAJLIS PEMBANGUNAN SOSIAL DAN URBANISASI

PENDAHULUAN

Pembangunan Sosial telah dibubuhkan pada 6 Disember 1984 dengan tujuan untuk memberi input sosial dalam perancangan pembangunan negeri untuk memastikan berlaku keseimbangan dalam aspek pembangunan ekonomi / fizikal dan pembangunan sosial / rohaniah. Pada dasarnya, ia menyediakan satu forum bagi ahli-ahlinya membincangkan isu-isu yang sedang terjadi dalam masyrakat.

Salah satu isu kependudukan yang penting dan mendesak untuk segera ditangani secara menyeluruh adalah urbanisasi. Meski harus diakui bahwa tidak ada negara di era industrialisasi dapat mencapai pertumbuhan ekonomi berarti tanpa urbanisasi. Namun tidak dapat dipungkiri pula, dampak urbanisasi menciptakan masalah kemiskinan beragam, antara lain akibat tidak tersedianya lapangan pekerjaan, ketidaksiapan infrastruktur, perumahan dan layanan publik.

Untuk itu kita harus tau bagaimana Mengumpulkan dan mengintegrasikan maklumat dan data dengan sistematik untuk perancangan dan pemantauan keadaan sosial di negeri Indonesia ini.

Majlis Pembangunan Sosial dan Urbanisasi

Majlis Pembangunan Sosial telah dibubuhkan pada 6 Disember 1984 dengan tujuan untuk memberi input sosial dalam perancangan pembangunan negeri untuk memastikan berlaku keseimbangan dalam aspek pembangunan ekonomi / fizikal dan pembangunan sosial / rohaniah. Pada dasarnya, ia menyediakan satu forum bagi ahli-ahlinya membincangkan isu-isu yang berkaitan dengan pembangunan masyarakat Sarawak dan mengenal pasti jawapan kepada persoalan-persoalan  ekonomi yang  membantu usaha-usaha pembangunan.

Pada tahun 2000, MPS telah diberi peranan dan fungsi tambahan yaitu Urbanisasi dan serentak dengan itu, nama MPS ditukar kepada Majlsi Pembangunan Sosial dan Urbanisasi Sarawak. Pada dasarnya, peranan MPSU dalam aspek urbanisasi adalah penyelidikan dan pengumpulan maklumat sejajar dengan perkembangan urbanisasi yang pesat di negeri Sarawak.

Fokus dan Tumpuan

  • Mengumpul dan mengintegrasikan maklumat dan data dengan sistematik bagi menghasilkan petunjuk yang boleh diguna untuk perancangan dan pemantauan keadaan sosial di negeri.
  • Merancang dan menjalankan kaiian dan penyelidikan mengenai isu-isu sosial dan urbanisasi bagi tujuan penggubalan dasar serta penilaian program (untuk mempertingkatkan kualiti dan keberkesanan program) bagi mencapai objektif utama Kementerian.
  • Menganjur forum perbincangan berkaitan dengan pembangunan sosial dan urbanisasi melalui seminar, dialog dan bengkel.
  • Menyediakan ruang/tempat untuk perbincangan mengenai isu berkaitan dengan pembangunan sosial dan urbanisasi melalui seminar, dialog dan bengkel.
  • Bekerjasama dengan agensi-agensi kerajaan dan bukan kerajaan dalam menjalankan aktiviti ke arah keharmonian dan kesejahteraan sosial.
  • Memantau pelaksanaan dan mengkaji semula program yang dijalankan oleh agensi-agensi yang berkaitan dengan pembangunan sosial dan urbanisasi.
  • Mengawasi aliran pembangunan sosial dan urbanisasi selaras dengan pembangunan ekonomi dan fizikal.
  • Mencadang dan memberi nasihat mengenai dasar serta program sosial dan urbanisasi yang berbentuk kuratif dan preventif.
  • Menyumbang ke arah pembangunan individu dan masyarakat demi meningkatkan keharmonian hubungan sosial dan kejiranan pelbagai kaum di Sarawak.
  • Menyumbang ke arah pembangunan masyarakat bandar dan luar bandar yang sejahtera dan progresif.

Misi

Menjadi Focal Point bagi rujukan maklumat dan data sosial dalam bidang pembangunan sosial dan urbanisasi untuk tujuan penggubalan dasar sosial, serta perancangan dan pengurusan pembangunan sosial yang berkesan.

Strategi

  • Meningkatkan ilmu, kemahiran dan profesionalisme di kalangan pegawai dalam penyelidikan dan analisis sosial.
  • Meningkatkan jalinan kerjasama bestari dengan IPTA, jabatan / agensi kerajaan yang berkaitan.

Dampak Positif dan Negatifny

Salah satu isu kependudukan yang penting dan mendesak untuk segera ditangani secara menyeluruh adalah urbanisasi. Meski harus diakui bahwa tidak ada negara di era industrialisasi dapat mencapai pertumbuhan ekonomi berarti tanpa urbanisasi. Namun tidak dapat dipungkiri pula, dampak urbanisasi menciptakan masalah kemiskinan beragam, antara lain akibat tidak tersedianya lapangan pekerjaan, ketidaksiapan infrastruktur, perumahan dan layanan publik.

MENURUT Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Iman Suparno, pertumbuhan urbanisasi harus disiasati dengan perbaikan fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat perkotaan. Dalam hal ini, Depnakertrans telah melakukan pelatihan, sertivikasi dan penempatan tenaga kerja atau lebih dikenal dengan program three in-one, Program Revitalisasi Balai Latihan Kerja, Pembukaan Kesempatan Kerja Baru di Luar Negeri dan Program Kota Mandiri (KTM) di kawasan transmigrasi. Paparan ini disampaikan Menakertrans saat menjadi keynot speech dalam Seminar Nasional Pertumbuhan Penduduk Perkotaan di Gedung Bidakara, Jakarta, beberapa waktu lalu yang diikuti dengan peluncuran Buku State of World Population Report 2007 yang merupkan kerja sama antara Ikatan Peminat Ahli Demografi (IPADI) dengan Lembaga PBB yang menangani kependudukan (UNFPA) dan Depnakertrans.

Launching buku pada tanggal 27 Juni ini secara serentak juga dilakukan seluruh dunia dalam rangka memperingati Hari Kependudukan Internasional pada 11 Juli 2007. Laporan State of World Population 2007 ini juga memberikan gambaran urbanisasi dunia, bahwa pada tahun 2008, lebih dari separuh penduduk dunia yaitu 3,3 milyar jiwa akan tinggal di daerah urban. “Angka ini akan naik tajam menjadi 5 milyar pada tahun 2030,” kata Martha Santoso Ismail, Representative United Nations Population Fund (UNFPA). Diakui Martha, urbanisasi mempunyai dampak positif dan negatif. Tidak ada negara di era industrialisasi dapat mencapai pertumbuhan ekonomi yang berarti tanpa urbanisasi. “Tantangannya adalah belajar bagaimana memanfaatkan kemungkinan-kemung–kinannya,” tukasnya. Hal senada juga diungkap Ketua Umum IPADI Rozi Munirbahwa pertambahan penduduk perkotaan telah menjadi bagian dalam globalisasi yang kehadirannya tidak dapat disekat-sekat lagi. Oleh karena itu,hal yang terpenting dalam menangani masalah urbanisasi adalah bagaimana membuat kebijakan perkotaan agar dapat mengadaptasi potensi-potensi menguntungkan bagi perkembangan perkotaan yang sebagian memang masih miskin.

Tak kalah pentingnya, seminar ini menghadirkan sejumlah narasumber yang membahastopik-topik menarik, dipandu oleh Meutia Hafidh reporter dan presenter televisi news kondang. Narasumber  tersebut adalah Dr EffendiGozali, pakar Komunikasi, Prof Dr Ahmad Fedyani Saifudin, Dosen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia, Dr Omas Rajagukguk dari Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan Drs Suwito, SH,MM Dirjen pengawasan Ketenagakerjaan. Menurut Prof Ahmad Fedyani Saifudin, kemiskinan massif dan integrative di perkotaan telah mengakibatkan muncul dan berkembangnya kemiskinan kebudayaan dalam berbagai bentuk. Kemiskinan kebudayaan muncul akibat proses adaptasi terus menerus masyarakat perkotaan yang sebagian besar miskin terhadap berbagai tekanan kehidupan. “Pada masa kini dan mendatang, persoalan kemiskinan sudah menjadi kemiskinan kebudayaan. Contohnya, hampir semua kegiatan politik, baik yang terorganisir oleh partai-partai politik maupun bukan, uang selalu menjadi sentral. Bahkan hampir semua demo atau tuntutan berbagai pihak ke alamat pemerintah berpusat pada isu uang saja.

PERAN KOPRASI DALAM PEMBANGUNAN PETANI PERDESAAN

Pendahuluan

Fenomena anjloknya harga gabah di tingkat petani yang berulang setiap tahun bahkan dua kali dalam setahun, sebenarnya dapat dilihat sebagai kejadian biasa dan kejadian luar biasa. Disebut kejadian biasa karena sebagaimana kaidah dasar dalam ekonomi (neoklasik) bahwa setiap musim panen dan suplai berlimpah harga cenderung mendapat tekanan ke bawah, untuk selanjutnya pelaku meresponsnya dengan menambah permintaan atau mengurangi suplai atau keduanya.

Anjloknya harga gabah tersebut adalah mekanisme normal saja untuk mengakomodasi cost of storage (biaya penyimpanan, penjemuran, penggilingan, dan pengolahan) dalam proses produksi beras. Semakin buruk kualitas gabah petani (kadar air, tingkat patahan, dan kotoran), semakin besar pula cost of storage tersebut dan semakin rendahlah harganya. Dalam bahasa ekonomi, pembelian gabah ini adalah untuk “menyebar” cost of storage dalam proses produksi beras agar tidak semata-mata ditanggung petani dengan harga gabah yang anjlok. Namun, “disebar” kepada pelaku lain, paling tidak para pedagang, penggiling, dan Bulog. Benar, bahwa kualitas gabah petani panen kali ini memang buruk sehingga diperlukan suatu “upaya ekstra” untuk mampu menyerap sebanyak mungkin gabah yang ada. Apabila harga beras di tingkat konsumen tidak ikut jatuh, maka implisit di sini hanya petanilah yang harus membayar biaya-biaya tersebut kepada para pelaku ekonomi lain dalam seluruh rangkaian proses produksi beras: tengkulak, pedagang, penggilingan padi, distributor, grosir, pengecer, dan bahkan kepada Badan Urusan Logistik (Bulog) yang baru saja berganti nama menjadi Perusahaan Umum (Perum) Lembaga Pangan Nasional (LPN).

Pembahasan

Koperasi Unit Desa (KUD) yang diproyeksikan untuk mengamankan harga dasar, tidak memiliki modal cukup. Termasuk mesin penggilingan yang standar dan mesin pengering. Lembaga perbankan yang pernah dipercaya mengucurkan kredit pangan lewat KUD, kini tidak mengeluarkan dana satu sen pun. Kondisi ini sangat ironis ketika pada awal berdirinya KUD pada tahun tujuhpuluhan Bapak Koperasi Indonesia Bung Hatta mengkritik pedas koperasi–koperasi Indonesia yang lebih nampak berkembang sebagai koperasi pengurus, bukan koperasi anggota. Organisasi koperasi seperti KUD (Koperasi Unit Desa) dibentuk di semua desa di Indonesia dengan berbagai fasilitas pemberian pemerintah tanpa

anggota, dan sambil berjalan KUD mendaftar anggota petani untuk memanfaatkan gudang dan lantai jemur gabah, mesin penggiling gabah atau dana untuk membeli pupuk melalui kredit yang diberikan KUD. Walhasil anggota bukan merupakan prasyarat berdirinya sebuah koperasi.

Sementara itu kebijakan pemerintah untuk membeli gabah dari petani ketika panen raya tiba melalui dana talangan Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (LUEP) dirasakan tidak efektif. Dari waktu ke waktu yang terjadi KUD selalu terlambat untuk membeli gabah petani dengan alasan dana talangan dari pemerintah belum turun. Kondisi ini akan terus berulang ketika pemerintah baik pusat maupun daerah tidak melakukan terobosan untuk membuat strategi jangka pendek, menengah dan panjang.

Disisi lain untuk mengurangi risiko lebih besar, petani umumnya memilih jalan pintas. Hasil panen mereka langsung dijual ke pedagang gabah atau tengkulak yang lebih sigap dalam melakukan pembelian. Mereka biasanya membuka pangkalan di daerah-daerah yang sedang panen. Transaksi pembelian tidak hanya dalam jumlah besar, tetapi juga melayani pembelian gabah dalam jumlah kecil yang berasal dari buruh tani. Karena bentuk usahanya yang luwes, peran tengkulak dalam perdagangan gabah/beras selama ini tetap dominan meskipun pemerintah sudah mengembangkan aneka lembaga ekonomi pedesaan, seperti koperasi unit desa (KUD). Bahkan, saat ditetapkan disparitas harga tinggi antara pembelian dari KUD dan dari non-KUD (swasta), tengkulak tetap memainkan peran melalui pola “kerja sama” antara pihak KUD dan swasta. Peran tengkulak menjadi penting dan dibutuhkan saat petani mengalami kesulitan memproses gabah hasil panen dan mereka menghadapi kesulitan keuangan yang mendesak, sementara perangkat pemerintah tidak siap melakukan pembelian. Produksi gabah mereka tidak mungkin disimpan lebih lama. Selain karena kesulitan dalam pengeringan, produksi gabah di daerah yang mengalami panen raya akan terus bertambah sejalan makin luasnya areal tanaman padi yang dipanen.

Memotong Jalur Distribusi

Koperasi Unit Desa (KUD) yang diharapkan bisa menyelamatkan petani, dengan jalan menebas (memborong ) gabah petani, belum juga bergerak. Kalaupun ada sejumlah KUD yang telah membeli gabah, itu pun bukan untuk diproses menjadi beras, melainkan digunakan untuk bibit. Setiap kali panen tiba, KUD selalu terlambat membeli gabah petani. Kenapa tidak mampu membeli dengan modal sendiri, padahal KUD sudah 10 tahun lebih menangani pengadaan pangan.

Memotong jalur distribusi beras

Rantai penjualan gabah dari petani hingga ke gudang Dolog terlihat bahwa HPP tidak dinikmati petani. Yang menikmati keuntungan lebih besar justru adalah para kontraktor karena mereka bisa menekan harga dari petani dengan alasan kualitas. Sementara itu, kontraktor sendiri sudah mendapat pasar dan harga penjualan yang jelas, yaitu melalui Dolog setempat. Dari pengamatan di lapangan, rantai penjualan gabah bisa mencapai lima titik, mulai dari petani, tengkulak, pemasok, kontraktor atau pemilik penggilingan padi, hingga

gudang Dolog.

PETANI

TENGKULAK

PEMASOK

KONTRAKTOR

DOLOG

Gambar 1. rantai penjualan gabah petani sampai ke Dolog

Pada rantai yang panjang gambar 1, KUD masuk dalam kategori Kontraktor, itupun peran KUD hanya kecil sekali. Dari salah satu KUD di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah dimana KUD tersebut memiliki mesin penggilingan lengkap beras yang bisa disalurkan ke pasar hanya 15 ton setahun. Ini sungguh menyimpan suatu pertanyaan besar. Ada contoh pembanding bukan penggilingan tapi pengecer sembako dimana toko tersebut mampu menjual rata-rata 1,5 ton per hari. Kerja KUD setahun hanya setara dengan 10 hari kerja warung sembako? Mengapa saya membandingkan dengan warung sembako? Jawabnya adalah ketika dibandingkan dengan penggilingan padi swasta jelas jauh beda volume penjualannya. Yang termasuk dalam kontraktor disini selain KUD adalah para pengusaha penggilingan padi. Peran pengusaha penggilingan pada justru sangat dominan dibandingkan KUD. Disamping itu mereka lebih senang memasok beras ke pasar daripada ke gudang dolog karena banyaknya persyaratan yang harus dipenuhi.

Rantai yang panjang itu harus dipotong agar petani bisa menikmati HPP yang lebih pantas. Peran koperasi unit desa (KUD) harus dikembalikan. Dulu KUD didirikan salah satunya untuk memperpendek rantai penjualan hasil pertanian. Kini saatnya KUD berperan memotong rantai itu. Paling tidak bisa memutus hingga dua titik, menjadi petani, KUD, dan gudang Dolog. KUD diharapkan lebih aktif menjadi perantara bagi penjualan hasil pertanian untuk meningkatkan taraf hidup petani yang menjadi anggotanya dan juga masyarakat sekitarnya.

PETANI

K U D

DOLOG

Gambar 2. rantai penjualan gabah petani sampai ke Dolog

Upaya Pemberdayaan KUD

Bukan pekerjaan mudah untuk menjadikan KUD sebagai ujung tombak peningkatan kesejahteraan petani. Ketersediaan pupuk dan sarana produksi pertanian terjamin dengan harga yang kompetitif. Sementara itu harga gabah yang tinggi pada saat panen gadu dan harga yang layak ketika panen raya.

kondisi yang harus dipenuhi antara lain :

  • Dukungan modal

Untuk dapat meningkatkan kemampuan memotong jalur beras dan pupuk diperlukan modal yang besar. Sementara itu sumber utama permodalan koperasi dari anggota yang meliputi simpanan pokok, simpanan wajib dan simpanan sukarela tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan modal yang besar. UU no. 25 tahun 1992 memungkinkan menggunakan permodalan dari pihak ketiga selama tidak bertentangan dengan hukum.

Misalnya dari modal ventura, pinjaman bank dan pemerintah melalui APBD dan APBN. Langkah yang paling mungkin untuk mendapatkan dana murah adalah adanya dukungan modal dari pemerintah melalui APBD dan APBN. Pemerintah Daerah maupun pusat dapat mengalokasikan dalam bentuk dana bergulir (revolving fund). Model ini sudah dilakukan oleh Pemda Jembrana Bali, yakni memberikan dukungan modal kepada LKM dan Koperasi. Program LUEP bukan sekedar dana talangan lagi namun dijadikan modal penyertaan atau pinjaman lunak pada KUD untuk jangka waktu tertentu.

  • Profesionalisme pengurus dan manajer

Profesionalisme pengelola koperasi sering dipertanyaan. Ada anggapan bahwa SDM koperasi adalah SDM afkiran dari dunia usaha dan PNS. Belum lagi ada guyonan bahwa KUD adalah Ketua Untung Duluan. Anggapan-anggapan diatas harus dipatahkan dengan pengurus tidak harus pintar namun jujur dan bijak serta memiliki jiwa kewirausahaan. Disamping itu juga dimungkinkan pengurus menyewa manajer profesional. Itu bisa dilakukan apabila ada dukungan dana yang kuat.

  • Kemitraan yang berkelanjutan

KUD juga harus menjalin kemitraan untuk keberlanjutan program-programnya. Disini KUD harus menjalin hubungan yang harmonis dengan pihak perbankan sebagai penyedia dana, dengan pabrik / gudang pupuk untuk mendapatkan harga yang lebih murah, menjalin hubungan dengan Dolog/Bulog untuk pembelian beras.

Ada pengalaman menarik yang bisa dijadikan pertimbangan KUD untuk menjalin kemitraan dengan perbankan dan pabrik/gudang pupuk. Pada beberapa tahun yang lalu ada kerjasama antara pupuk gresik dengan produk PONSKA dengan kelompok tani, sementara pendanaan dari BUKOPIN. Kemitraan ini berjalan cukup baik dimana petani lancar dalam pengembalian pinjamannya. Pola kerjasama ini yang semestinya dilakukan oleh KUD.

  • Dukungan dari pemerintah

Pemerintah juga harus memberikan dukungan yang kuat dari sisi permodalan KUD dan kebijakan. Pemerintah bisa mengalokasikan dana murah melalui APBD dan APBN (bukan subsidi). Kebijakan yang dapat diambil pemerintah adalah melakukan kerjasama dengan pabrik pupuk untuk memberikan akses kepada KUD untuk mendapatkan pasokan langsung.

  • Dukungan dari anggota

Anggota sudah semestinya mendukung program KUD untuk mewujudkan kesejahteraan mereka sendiri. Dengan kemampuan KUD membeli gabah petani dengan harga pantas dan penyediaan pupuk dengan harga bersaing, maka anggota dengan sendirinya akan senang bertransaksi dengan KUD.

  • Mengutamakan pelayanan kebutuhan anggota

Pelayanan yang diberikan KUD kepada anggota seharusnya disesuaikan dengan kebutuhan anggota. Misalnya, mayoritas anggota adalah petani maka seharusnya penyediaan pupuk dan pembelian gabah menjadi bisnis utamanya. Berdasarkan data keuangan salah satu KUD bahwa sumbangan utama pendapatan KUD dari jasa penagihan dan pencatatan listrik yakni sebesar 67%. Bukankah tujuan koperasi adalah untuk kesejahteraan anggota dan masyarakat?

Daftar Pustaka

Anonim, Harga Gabah Anjlok – KUD Diam, Harian Kompas, 10 Februari 1999.

Anonim, Bagaimana agar tak Selalu Terpuruk, Harian Kompas 23 Maret 2000.

Anonim, Bantuan Pemerintah untuk Petani dan Perbankan: Perbandingannya Bagai Bumi dan Langit, Harian Kompas 25 Maret 2000.

Anonim, Rantai Penjualan Gabah Tambah Panjang – Petani Makin Tertekan, Harian Kompas, 07 Mei 2003.

Anonim, Menelusuri Anjloknya Harga Gabah, Harian Kompas 12 Mei 2003.

Bambang Ismawan dan Setyo Novianto, Keuangan Mikro: Sebuah Revolusi Tersembunyi dari Bawah, Gema PKM Indonesia, Jakarta, 2005.

Hendar dan Kusnadi, Ekonomi Koperasi, FEUI, Jakarta, 1999.

Hendrojogi, Koperasi ; Azas-azas Teori dan Praktek, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1997.

Her Suganda, Petani Mana yang Menjual Gabah ke Penggilingan?, Harian Kompas 02 April 2005. Laporan Pertanggungjawaban Pengurus KUD Sukodono.

Philip Kotler, Manajemen Pemasaran, Edisi Milenium, Prenhallindo, Jakarta, 2000. Undang-undang Koperasi no. 25 tahun 1992.

SOSIOLOGI

Pendahuluan

Salah satu permasalahan dalam proses pembangunan daerah selama ini adalah adanya disparitas pembangunan antara kawasan perdesaan dan perkotaan. Pembangunan cenderung terpusat pada kawasan perkotaan sehingga masyarakat perkotaan memiliki akses yang lebih baik terhadap sumber daya ekonomi dan cenderung memiliki kesempatan yang lebih besar untuk meningkatkan kesejahteraannya.

Proses pemerataan akses kesempatan bagi masyarakat perdesaan merupakan bagian dari upaya penguatan kemampuan masyarakat untuk memperluas pilihan-pilihan baik dalam proses kegiatan maupun pemanfaatan hasil pembangunan. Pemerataan akses kesempatan merupakan pendekatan agar kemampuan yang dimiliki dapat didayagunakan secara optimal bagi pengembangan kehidupan masyarakat pedesaan.

Pendekatan pemerataan kesempatan itu merupakan upaya untuk meningkatkan kapasitas produksi dan produktivitas agar kesenjangan pendapatan makin berkurang antara masyarakat desa dan kota. Masalah utama untuk menjalankan upaya ini adalah perlunya pemihakan (affirmative action) kepada proses intervensi pembangunan bagi masyarakat pedesaan. Hal ini sejalan dengan amanat UU No 17 tahun 2007 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005–2025 dimana salah satu agendanya adalah industrialisasi dan modernisasi ekonomi perdesaan.

Dalam jangka pendek peluang implementasi industrialisasi dan modernisasi ekonomi perdesaan lebih besar bisa dilakukan di desa-desa tertentu yang memiliki kriteria sebagai desa pusat pertumbuhan (DPP). Kriteria utama DPP adalah daerah yang memiliki kecenderungan pertumbuhan pembangunan dalam aspek sosial dan ekonomi tinggi yang dicirikan dengan adanya kegiatan perdagangan dan jasa, seperti: pasar, industri kecil/rumah dan pusat-pusat pelayanan jasa lainnya. Perkembangan aktivitas ekonomi di DPP diharapkan dapat menimbulkan trickle down effect terhadap desa sedang dan tertinggal di sekitarnya.

Pembahasan

Sosiologi pembangunan berkembang pesat sejak awal 1960-an. Sebagai bagian dari ilmu sosiologi, sosiologi pembangunan sangat dipengaruhi oleh pokok-pokok pikiran ahli sosiologi klasik seperti Marx, Weber dan Durkheim. Perkembangan sosiologi pembangunan semakin pesat seiring dengan gagalnya program pembangunan yang disponsori oleh Amerika Serikat pada negara-negara dunia ketiga. Kegagalan pembangunan dunia ketiga tersebut memicu sebuah tanda tanya besar bagi peneliti sosial untuk mengungkap faktor-faktor penyebabnya. Kelima penulis walaupun menggunakan teori yang berbeda memiliki satu kesepahaman tentang kegagalan pembangunan pada negara dunia ketiga.

Sosiologi pembangunan membawa dampak pada lahirnya dimensi-dimensi baru dalam konsep pembangunan. Menurut Webster (1984), terdapat lima dimensi yang perlu untuk diungkap, antara lain :

  • Posisi negara miskin dalam hubungan sosial dan ekonominya dengan negara-negara lain.
  • Ciri khas atau karakter dari suatu masyarakat yang mempengaruhi pembangunan.
  • Hubungan antara proses budaya dan ekonomi yang mempengaruhi pembangunan.
  • Aspek sejarah dalam proses pembangunan atau perubahan sosial yang terjadi.
  • Penerapan berbagai teori perubahan sosial yang mempengaruhi kebijakan pembangunan nasional pada negara-negara berkembang.

Sosiologi pembangunan mencoba melengkapi kajian ekonomi yang selama ini hanya didasarkan pada produktivitas dan efisiensi dalam mengukur keberhasilan pembangunan. Pembangunan sebagai sebuah perubahan sosial yang terencana tidak bisa hanya dijelaskan secara kuantitatif dengan pendekatan ekonomi semata, terdapat aspek tersembunyi jauh pada diri masyarakat seperti persepsi, gaya hidup, motivasi dan budaya yang mempengaruhi pemahaman masyarakat dalam memanfaatkan peluang-peluang yang ada. Sosiologi pembangunan juga berusaha untuk menjelaskan berbagai dampak baik positif maupun negatif dari pembangunan terhadap sosial budaya masyarakat. Berbagai introduksi baik yang berupa teknologi dan nilai-nilai baru dalam proses pembangunan tentu akan membawa dampak pada bangunan sosial yang sudah ada sejak lama.

Sejarah Pembangunan Sosiologi Di Belanda

Sejarah perkembangan sosiologi pembangunan di Belanda diawali dengan menggunakan pendekatan sosiologi historis. Sosiologi historis menggunakan perspektif pertumbuhan dalam mengungkap permasalahan dengan teori dan konsep sosiologi. Berbagai penelitian yang menggunakan pendekatan historis pada awal perkembangannya menjadikan daerah kolonial sebagai objek kajian. Berberapa penelitian yang mengambil objek kajian di Indonesia menjelaskan tentang berbagai dampak pembangunan seperti lahirnya konsep shared proverty oleh Geertz.

Pendekatan kedua yang muncul setelah pendekatan sosiologi historis adalah ekonomi politik. Aliran ini berangkat dari keterbelakangan yang dialami oleh negara dunia ketiga. Pendekatan ekonomi politik memberikan gambaran tentang secara ekonomi antara negara maju dan negara miskin. Objek penelitian pendekatan ekonomi politik adalah negara dunia ketiga di Amerika Latin. Kelompok yang menggunakan aliran ini kemudian mengembangkan teori dependensi. Sedangkan endekatan yang ketiga adalah sosiologi modernisasi. Aliran ini kemudian berkembang menjadi teori modernisasi.

Pendekatan yang keempat adalah tradisi antropologi marxis. Pokok kajian pendekatan ini adalah cara produksi yang dominan di Amerika Latin. Perspektif cara berproduksi tidak dapat menghasilkan pemecahan pada masalah-masalah pembangunan dan kebijaksanaan pembangunan.

Pendekatan terakhir adalah sosiologi terapan. Pendekatan sosiologi terapan adalah pada kajian pembangunan secara mikro. Para ahli sosiologi terapan berusaha memberikan data praktis tingkat lokal kepada pengambil kebijakan atau pengambil kebijakan. Kelemahan pendekatan ini adalah miskin akan teori serta hasil penelitian yang didapat kurang bisa ditarik menjadi sebuah model yang general.

Tentang Teori-Teori Ekonomi Negara Miskin

Penjelasan tentang dunia ketiga disampaikan oleh Webster (1984), yang mencoba mengulas tentang negara dunia ketiga yang dicirikan sebagai negara miskin yang masih terbelakang dan secara ekonomi masih bertumpu pada pertanian. Tekanan utama dalam membedakan negara-negara di dunia didasarkan pada konsep kesejahteraan yang pada akhirnya terdapat dua kutub yaitu negara kaya dan negara miskin. Tingkat kesejahteraan suatu negara yang hanya didasarkan pada GNP ternyata memiliki beberapa kelemahan antara lain GNP hanya mencerminkan akumulasi pada tingkatan suatu negara dan tidak mencerminkan distribusi sumberdaya antar penduduknya, GNP telah menghilangkan beberapa kegiatan yang memiliki potensi nilai ekonomi, GNP lebih mengutamakan pengukuran secara kuantitatif saja.

Teori pembangunan mengerucut pada dua buah teori besar, yaitu teori modernisasi dan teori dependensi. Dua teori ini saling bertolak belakang dan merupakan sebuah pertarungan paradigma hingga saat ini. Teori modernisasi merupakan hasil dari keberhasilan Amerika Serikat dalam membawa pembangunan ekonomi di negara-negara eropa. Sedangkan kegagalan pembangunan di Afrika, Amerika Latin dan Asia menjadi awal lahirnya teori dependensi.

Teori Modernisasi berasal dari dua teori dasar yaitu teori pendekatan psikologis dan teori pendekatan budaya. Teori pendekatan psikologis menekankan bahwa pembangunan ekonomi yang gagal pada negara berkembang disebabkan oleh mentalitas masyarakatnya. Menurut teori ini, keberhasilan pambangunan mensyaratkan adanya perubahan sikap mental penduduk negara berkembang. Sedangkan teori pendekatan kebudayaan lebih melihat kegagalan pembangunan pada negara berkembang disebabkan oleh ketidaksiapan tata nilai yang ada dalam masyarakatnya. Secara garis besar teori modernisasi merupakan perpaduan antara sosiologi, psikologi dan ekonomi. Teori dasar yang menjadi landasan teori modernisasi adalah ide Durkheim dan Weber.

Kritik terhadap teori modernisasi lahir seiring dengan kegagalan pembangunan di negara dunia ketiga dan berkembang menjadi sebuah teori baru yaitu teori dependensi. Frank (1984) mencoba mengembangkan teori dependensi dan mengemukakan pendapat bahwa keterbelakangan pada negara dunia ketiga justru disebabkan oleh kontak dengan negara maju. Teori dependensi menjadi sebuah perlawanan terhadap teori modernisasi yang menyatakan untuk mencapai tahap kemajuan, sebuah negara berkembang harus meniru teknologi dan budaya negara maju. Frank memberikan kritiknya terhadap pendekatan-pendekatan yang menjadi rujukan teori modernisasi, antara lain pendekatan indeks tipe ideal, pendekatan difusionis dan pendekatan psikologis.

Teori dependensi bertitik tolak dari pemikiran Marx tentang kapitalisme dan konflik kelas. Marx mengungkapkan kegagalan kapitalisme dalam membawa kesejahteraan bagi masyarakat namun sebaliknya membawa kesengsaraan. Penyebab kegagalan kapitalisme adalah penguasaan akses terhadap sumberdaya dan faktor produksi menyebabkan eksploitas terhadap kaum buruh yang tidak memiliki akses. Eksploitasi ini harus dihentikan melalui proses kesadaran kelas dan perjuangan merebut akses sumberdaya dan faktor produksi untuk menuju tatanan masyarakat tanpa kelas.

Eksploitas juga dialami oleh negara dunia ketiga. Proses eksploitasi yang dilakukan oleh negara maju dapat dijelaskan dalam tiga bagian, yaitu pedagang kapitalis, kolonialisme dan neo-kolonialisme. Tahap awal yaitu masa pedagang kapitalis. Negara-negara Eropa berusaha berusaha untuk mendapatkan sumberdaya alam yang ada di negara dunia ketiga melalui kegiatan perdagangan. Perdagangan ini berkembang dan pada prakteknya merupakan suatu bentuk eksploitasi terhada sumberdaya negara dunia ketiga. Pemanfaatan tenaga kerja yang murah yaitu sistem perbudakan menjadikan para pedagang kolonial mampu meraup keuntungan yang sangat besar. Eksploitasi terus berlanjut hingga memunculkan ide adanya kolonialisme. Asumsi yang berkembang di negara kapitalis adalah peningkatan keuntungan serta kekuatan kontrol atas sumberdaya yang ada di negara miskin. Seiring berakhirnya era kolonialisme timbul sebuah era baru yang dikenal dengan neo-kolonialisme. Penjajahan yang dilakukan oleh negara maju terhadap negara dunia ketiga pada dasarnya masih tetap berlangsung dengan bermunculannya perusahaan multinasional. Negara dunia ketiga menjadi salah satu sarana penyedia tenaga kerja murah dan sumber daya alam yang melimpah, selain itu jumlah penduduk yang relatif besar menjadi potensi pasar tersendiri. Ketiga tahap inilah yang semakin memperpuruk kondisi negara dunia ketiga.

Tinjauan Ekonomi

Selain dari kalangan ahli sosiologi, kelembagaan juga dipelajari oleh ahli ekonomi berdasarkan sisi pandang mereka. Teori ekonomi seharusnya dilihat dalam kerangka yang lebih luas, karena dalam proses perkembangannya terjadi interaksi yang komplek dengan aspek alam, fisik, dan sosial, serta tatanan sosial. Perkembangan ekonomi kelembagaan diilhami oleh aliran neo Malthusian dan ekonomi teknik yang bersifat radikal. Dalam konsep mereka, cakupan analisis dalam ekonomi kelembagaan meliputi: (1) kemajuan teknologi (technical progress), (2) perusahaan multinasional (multinational enterprise), (3) berkembangnya blok-blok kekuasaan (power blocks); (4) permainan berjumlah nol (zero sum games); (5) perencanaan indikatif (indicative planning); dan (6) pendekatan indikatif untuk ekonomi kebijakan dan ekonomi ekologi (indicative approach to policy economics and ecology).

Perkembangan ekonomi kelembagaan ini sesungguhnya diawali seorang ahli ekonomi berkebangsaan Italia yang bernama Sismodi (1819) yang menolak teori dan metode ekonomi klasik Adam Smith. Bagi Sismodi kekayaan (wealth) berarti kesejahteraan manusia yang tidak hanya arti materiil lahiriah sematamata, tetapi mengandung aspek non materiil. Sismodi tidak yakin akan kebenaran teori klasik dari Adam Smith yang mengatakan bahwa asalkan setiap unit ekonomi melakukan tindakan rasional dan mengusahakan posisi optimalnya, maka mekanisme pasar akan menghasilkan keadaan yang seimbang pada posisi optimal yang sama dengan full employment.

Pada awal abad ke-20, sejumlah ahli ekonomi di Amerika, yang sering disebut kaum intitusionalist antara lain Veblen, Commons, dan Mitchell serta beberapa ahli ekonomi Jerman seperti Muller dan List; mengikuti pendekatan yang sama dengan yang dilakukan oleh Sismondi (Soule, 1994). John R. Commons dalam History of Labor in The United State (1918) menguraikan tentang kelembagaan perburuhan. Commons juga mempelajari lembagalembaga penting lainnya yang berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat, seperti lembaga keuangan dan perbankan dengan efek inflasioner dan deflasionernya (dalam buku Institutional Economics, 1936). Isi buku tersebut adalah pentingnya kerjasama setiap orang sebagai anggota masyarakat untuk mencapai tujuan bersama. Untuk menghindari konflik antara kepentingan individu dan kepentingan bersama dengan apa yang disebut “pengendalian bersama” (colective controls), yang mempunyai tugas dalam mengawasi proses tawar-menawar dan harga serta transaksi yang dijalankan oleh para manajer dan rationing (penjatahan).

System Ekonomi Kelembagaan

Tinjauan kelembagaan dalam sistem ekonomi, menurut Shaffer dan Schmid (1960), merupakan sistem organisasi dan kontrol terhadap sumberdaya. Dipandang dari sudut individu, kelembagaan sebagai gugus kesempatan bagi individu dalam membuat keputusan dan melaksanakan aktivitasnya. Pakpahan (1989) mengemukakan suatu kelembagaan dicirikan oleh 3 hal utama: (1) batas yurisdiksi (yurisdiction of boundary); (2) hak kepemilikan (property right); dan (3) aturan representasi (rule of represen-tation). Batas yurisdiksi berarti hak hukum atas (batas wilayah kekuasaan) atau (batas otoritas) yang dimiliki oleh suatu lembaga, atau mengandung makna keduaduanya.

Penentuan siapa dan apa yang tercakup dalam suatu organisasi atau masyarakat ditentukan oleh batas yurisdiksi. Perubahan batas yurisdiksi akan menghasilkan performance yang diinginkan, ditentukan oleh empat hal, yaitu: perasaan sebagai satu masyarakat (sense of community), eksternalitas, homogenitas, dan skala ekonomi (economic of scale). Konsep property atau pemilikan sendiri muncul dari konsep hak (right) dan kewajiban (obligations) yang diatur oleh hukum, adat, dan tradisi, atau konsensus yang mengatur hubungan antar anggota masyarakat dalam hal kepentingannya terhadap sumberdaya (Pakpahan, 1990). Tidak seorangpun yang dapat menyatakan hak milik tanpa pengesahan dari masyarakat di mana dia berada. Hak kepemilikan juga merupakan sumber kekuatan untuk akses dan kontrol terhadap sumberdaya2 Hak kepemilikan atas lahan (land right) pada kelembagaan adat setempat yang berkaitan dengan lahan dapat dilihat pada hak masyarakat baik secara kelompok (comunal) maupun secara individu (private) dalam pengaturan, penggunaan, dan pemeliharaan sumberdaya lahan. Disamping hak, juga ada kewajiban-kewajiban berupa pembayaran pajak, iuran untuk desa atau adat, serta gotong royong yang dikaitkan dengan kepemilikan atas sumberdaya lahan tersebut.

Aturan representasi (rule of representation) mengatur permasalahan siapa yang berhak berpartisipasi terhadap apa dalam proses pengambilan keputusan. Aturan representasi menentukan alokasi dan distribusi sumberdaya. Dipandang dari segi ekonomi, aturan representasi mempengaruhi ongkos membuat keputusan. Ongkos transaksi yang tinggi dapat menye-babkan output tidak bernilai untuk diproduksi. Oleh karena itu, perlu dicari suatu mekanisme representasi yang efisien sehingga dapat menurunkan ongkos transaksi. Tubbs (1984) dan Hanel (1989) menyatakan bahwa pengambilan keputusan atas dasar group process akan meningkatkan loyalitas, kerja-sama, motivasi, dukungan anggota pada pimpinan dan mengurangi tekanan internal serta biaya transaksi yang pada akhirnya akan meningkatkan performa organisasi.

Daftar pustaka

Andrew, Webster (1984). “Introduction to the Sociology of Development”. Cambridge: Macmillan. (pp 1-14)

Carle C. Zimmerman and Richard E. Du Wors (1970). “Sociology of Underdevelopment”. Vancouver: The Copp Clark Publishing Company. (pp 25-35)

Frank, Andre Gunder. (1984). “Sosiologi Pembangunan dan Keterbelakangan Sosiologi”. Jakarta: Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial. (pp 1-32)

Norman, Long (2001). “Development Sociology A Actor Perspektif”. London & Newyork: Routledge. (pp 1-29)

Philip Quarles van Ufford, Frans Husken, dan Dirk Kruijt (eds) (1989). “Tendensi dan Tradisi dalam Sosiologi Pembangunan”. Jakarta: Penerbit PT. Gramedia. (pp 1-18) Antonius Tarigan. “Rural – Urban Economic Lingkages” Konsep & Urgensinya Dalam Memperkuat Pembangunan Desa.

KAJI ULANG PERAN KOPERASI DALAM MENUNJANG KETAHANAN PANGAN

Pendahuluan

Di sektor pertanian peranserta koperasi di masa lalu cukup efektif untuk mendorong peningkatan produksi khususnya di subsektor pangan. Selama era tahun 1980-an, koperasi terutama KUD mampu memposisikan diri sebagai embaga yang diperhitungkan dalam program pengadaan pangan nasional. Sementara itu, di dalam negeri telah terjadi berbagai perubahan seiring dengan berlangsungnya era globalisasi dan liberalisasi ekonomi dan kondisi tersebut membawa konsekuensi serius dalam hal pengadaan bahan pangan. Secara konseptual liberalisasi ekonomi dengan menyerahkan kendali orda perekonomian kepada mekanisme pasar ternyata dalam prakteknya belum tentu secara otomatis berpihak kepada komunitas ekonomi lemah atau kecil. Di sektor pangan, semula peran Bulog sangat dominan dalam pengadaan pangan dan penyangga harga dasar, tetapi sekarang setelah tiadanya paket skim kredit pengadaan pangan melalui koperasi dan dihapuskannya skim kredit pupuk bersubsidi maka pengadaan pangan hampir sepenuhnya diserahkan kepada mekanisme pasar. Akibatnya peran koperasi dalam pembangunan pertanian dan ketahanan pangan semakin tidak berarti lagi. Bahkan sulit dibantah apabila terdapat pengamat yang menyatakan

bahwa pemerintah tidak lagi memiliki konsep dan program pembangunan koperasi yang secara jelas memposisikan koperasi dalam mendukung ketahanan pangan nasional.

Perubahan kebijakan pemerintah dalam distribusi pupuk dan pengadaan beras memberikan dampak serius bagi ketahanan pangan nasional. Kini, kebijakan dalam ketahanan pangan telah berubah menjadi Kepmen Perindag Nomor : 356/MPP/KEP/5/2004 dimana pemerintah membebaskan penyaluran pupuk dilakukan baik oleh swasta maupun koperasi/KUD. Dampak perubahan kebijakan ini adalah terjadinya kelangkaan persediaan pupuk bagi petani, harga pupuk lebih tinggi di atas Harga Eceran Tertinggi (HET), kecenderungan monopoli penyaluran pupuk oleh swasta, yang dengan sendirinya peran koperasi/KUD dalam penyaluran pupuk menurun. Penurunan peran koperasi terlihat dari hanya 40 % atau 930 unit dari 2.335 KUD (saat koperasi/KUD memiliki kewenangan penuh) terlibat dalam tataniaga pupuk. Dalam kenyataannya jumlah inipun sulit teridentifikasi.

koperasi untuk pembiayaan usaha pembelian dan pemasaran pangan. Juga sesuai Inpres Nomor 9 tahun 2001 dan Inpres Nomor 9 tahun 2002 tentang kebijakan perberasan, maka koperasi tidak berfungsi lagi sebagai pelaksana tunggal pembelian gabah, tidak ada lagi kebijakan harga dasar di tingkat petani, dan harga dasar pembelian gabah/beras petani hanya ditetapkan oleh Bulog. Disini terdapat dua konsekuensi penting yaitu petani harus memasuki mekanisme pasar, dan mereka harus menjamin kualitas gabah/beras yang ditetapkan Perum Bulog. Petani diduga memiliki bargaining position yang lemah dan karena itu akan sangat merugikan mereka dalam hal stabilitas produksinya, tingkat pendapatannya, dan harga yang wajar diterima terutama pada waktu panen raya.

Berdasarkan masalah di atas, penelitian ini bertujuan untuk (1) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi peran koperasi dalam menunjang ketahanan pangan berdasarkan

perubahan kebijakan pemerintah terhadap distribusi pupuk dan beras, (2) Menganalisis efektifitas penyaluran pupuk dan pengadaan gabah/beras sesuai perubahan kebijakan pemerintah dimaksud, (3) Menganalisis dampak perubahan kebijakan tersebut terhadap penyediaan gabah/beras di dalam negeri dan daya dukung koperasi dalam menunjang ketahanan pangan, dan (4) Merumuskan model alternatif yang dapat diimplementasikan oleh koperasi guna mendukung ketahanan pangan nasional.

Peran koprasi dalam menunjang

ketahanan pengan

Koperasi sejak lama telah menjadi badan usaha yang strategis dalammeningkatkan ekonomi anggotanya maupun masyarakat pada umumnya. Namun, kini setelah terjadi perubahan kebijakan-kebijakan tentang pangan, maka koperasi / KUD praktis tidak beperan lagi secara maksimal. Perubahan kebijakan tersebut menyebabkan terjadi kelangkaan pupuk

pada petani, harga pupuk lebih tinggi di atas Harga Eceran Tertinggi (HET), terjadi monopoli penyaluran pupuk oleh swasta yang menyebabkan koperasi/KUD nyaris tidak berperan lagi dalam penyaluran pupuk. Dalam pengadaan pangan, peran koperasi menurun drastis akibat fasilitasfasilitas penunjang seperti gudang, lantai jemur, RMU, dan lain-lain tidak lagi beroperasi maksimal atau menganggur. Semua dampak ini melemahkan kemampuan ketahanan pangan di dalam negeri.

Beberapa faktor yang melemahkan kemampuan tersebut adalah monopoli penyaluran pupuk oleh swasta, pengalihan dan ekspor pupuk ke perusahaan besar dan ke luar negeri, harga jual gabah yang berfluktuasi, produksi dan kapasitas produksi beras koperasi yang menurun akibat peralatan pendukung yang beroperasi di bawah kapasitas normal. Kebijakan yang dapat diterapkan adalah memerankan koperasi secara penuh baik pada penyaluran pupuk maupun pada pengadaan pangan/beras. Perlu peningkatan kredit atau modal kepada koperasi untuk pembelian gabah dan peningkatan kapasitas prasarana dan sarana produksi beras koperasi.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi

distribusi dan Pengadaan pangan

(Beras)

Berdasarkan analisis, ditemukan beberapa faktor yang berpengaruh menurunkan kemampuan penyediaan pupuk pada koperasi adalah (1) kuota penyaluran pupuk koperasi yang hanya sekitar 30 %, (2) monopoli penyaluran pupuk oleh swasta, (3) kelangkaan pupuk yang disebabkan oleh ekspor pupuk illegal ke luar negeri, pengalihan penjulan pupuk ke perusahaan perkebunan besar atau dihilangkan untuk tujuan tertentu sehingga menyulitkan koperasi menyediiakan pupuk dalam jumlah yang memadai bagi petani, (4) jumlah permintaan pupuk petani khususnya di Pulau Jawa yang terus meningkat, (5) harga pupuk yang melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) menciptakan kendala pembiayaan bagi koperasi untuk mensuplai pupuk kepada petani. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan koperasi dalam pengadaan pangan/beras adalah :  (1) jumlah produksi dan penjualan gabah petani yang menurun akibat penggunaan pupuk di bawah kebutuhan normal, (2) harga jual gabah yang berfluktuasi, (3) jumlah pembelian gabah koperasi yangmenurun akibat permodalan yang terbatas, (4) produksi dan kapasitas produksi beras koperasi yang menurun akibat peralatan pendukung yang beroperasi di bawah kapasitas normal (menganggur), dan (5) kapasitas prasarana dan sarana produksi beras koperasi seperti RMU, gudang dan lantai jemur, peralatan penunjang lainnya yang telah mengalami penurunan fisik karena tidak beroperasi secara normal atau tidak terpakai.

A. Evaluasi Efektifitas Kebijakan

(Pupuk)

Hasil simulasi pada masing-masing propinsi sampel dapat dilihat pada Tabel 1. Jika peran swasta dalam kebijakan pupuk ditingkatkan 25 % akan berdampak meningkatkan pengadaan pupuk level  propinsi dan kabupaten pada semua propinsi sampel. Akan tetapi kenaikan peran swasta tersebut memberikan dampak negatif terhadap pengadaan beras koperasi yakni menurunkan jumlah pembelian gabah koperasi, juga menurunkan jumlah produksi beras dan kapasitas produksi beras koperasi pada semua propinsi sampel. Dampak negative juga ditimbulkan pada kinerja koperasi semua propinsi sampel yakni menurunkan volume usaha, SHU dan indikator-indikator produktivitas koperasi Dampak yang ditimbulkan pada petani adalah merugikan para petani anggota koperasi semua propinsi sampel kecuali Jawa Tengah. Kerugian yang dialami petani disini adalah dalam hal penurunan penggunaan pupuk, penurunan jumlah produksi gabah, penurunan jumlah penjualan gabah dan tingkat pendapatan petani. Dampak kerugian yang sama juga terjadi bagi petani non-anggota koperasi khsusnya pada Propinsi Sumatera Barat dan Nusa Tenggara Barat. Berdasarkan hasil simulasi tersebut dapat dilihat bahwa kebijakan distribusi pupuk yang lebih memerankan pihak swasta secara parmanen merugikan para pelaku utama produsen beras yakni petani dan pihak koperasi di dalam pengadaan pangan/beras. Karena itu dapat dikatakan bahwa kebijakan distribusi pupuk yang ada sekarang tidak efektif mencapai tujuannya yakni untuk mendukung ketahanan pangan nasional.

B. Evaluasi Efektifitas Kebijakan

(Beras)

Hasil simulasi skenario kebijakan beras pada masing-masing propinsi sampel dapat dilihat pada Tabel 2. Ketika kebijakan perberasan berubah dimana koperasi tidak lagi diberikan tanggung jawab penuh dalam pengadaan pangan dan tidak ada lagi kredit untuk pengadaan pangan, koperasi mengalami penurunan dalam pembelian gabah. Penurunan ini disebabkan oleh kendala permodalan koperasi yang lemah maupun pengurangan kegiatan pengadaan pangan pada sebagian koperasi. Penurunan pembelian gabah koperasi berdampak menurunkan produksi beras koperasi pada semua propinsi sampel antara 11.82 % hingga 30.72 %. Juga kapasitas produksi beras koperasi pada semua propinsi sample mengalami penurunan antara 5.87 % hingga 45.93 %.

Dampak dia atas menunjukkan bahwa koperasi telah mengalami penurunan signifikan dalam produksi maupun kapasitas produksi berasnya. Secara nasional, kemampuan dalam negeri untuk menciptakan ketahanan pangan sesungguhnya terbangun oleh semua komponen pelaku produksi pangan nasional. Dalam hal ini produksi dan kapasitas produksi pagan/beras koperasi yang sebelumnya telah terbangun adalah bagian dari kapasitas produksi pangan nasional yang telah ada. Karena itu penurunan sebagian kapasitas pangan nasional yang telah ada merupakan suatu penurunan kemampuan ketahanan pangan secara terstruktur di dalam negeri. Pada sisi lain koperasi mewadahi sebagian besar petani dimana koperasi menjadi pasar bagi gabah para petani. Karena itu penurunan pembelian gabah koperasi menciptakan kesulitan pasar bagi para petani. Hasil penelitian lapang menunjukkan sebagian petani menempuh cara tebas dalam menjual gabahnya yaitu gabah dijual kepada tengkulak dalam keadaan masih sebagai tanaman padi di sawah. Cara ini ditempuh untuk menghindari biaya panen yang cukup besar maupun karena alasan-alasan lainnya. Jika harga gabah terus berfluktuasi dan petani tidak menjamin kualitas gabahnya maka posisi tawar mereka tetap lemah yang berarti petani akan tetap mengalami kerugian. Hasil survei lapangan menunjukkan petani tidak menjual gabahnya kepada Perum Bulog setempat. Karena itu petani akan tetap menghadapi para tengkulak dengan posisi tawar yang lemah. Berdasarkan hasil simulasi dan pembahasan di atas dapat dikatakan bahwa kebijakan perberasan yang ada sekarang tidak efektif meningkatkan kapasitas produksi beras nasional. Sebaliknya kebijakan tersebut mengurangi sebagian kapasitas produksi beras yang telah dimiliki koperasi sebelumnya.

Dampak Kebijakan Alternatif Untuk

Mendukung Koperasi Dalam

Menunjang Ketahanan Pangan

Untuk pemecahan masalah penyaluran pupuk dan pengadaan beras secara menyeluruh dilakukan simulasi terhadap lima skenario alternatif. Masingmasing (1) Kenaikan harga pupuk level petani 5 % dan kenaikan harga gabah 10 %; (2) Kenaikan penggunaan pupuk petani sebesar 25 %, kenaikan harga gabah dan jumlah pembelian gabah koperasi masing-masing sebesar 10 %; (3) Penurunan penggunaan pupuk petani dan harga gabah sebesar 10 %; (4) Kenaikan kapasitas prasarana dan sarana produksi beras koperasi : RMU, gudang dan lantai jemur, dan peralatan penunjang sebesar 25 %; dan (5) Kenaikan aset dan

volume usaha koperasi sebesar 10 %. Skenario-skenario di atas disusun berdasarkan peubah-peubah indicator kebijakan yang signifikan mempengaruhi model pada masing-masing propinsi dan memiliki respon kuat. Pada keseluruhan model, peubah-peubah tersebut adalah harga pupuk tingkat petani, harga gabah, penggunaan pupuk petani, jumlah pembelian gabah koperasi, kapasitas RMU, gudang dan lantai jemur koperasi dan peralatan penunjang, serta aset dan volume usaha koperasi. Skenario kapasitas RMU, gudang dan lantai jemur dan peralatan penunjang koperasi dimaksudkan untuk menunjang pengembangan sistem bank padi yang sedang dijalankan koperasi. Hasil simulasi skenario kenaikan harga pupuk dan harga gabah pada Propinsi Sumatera Utara, Jawa Barat dan Jawa Tengah memberikan dampak yang relatif sama. Kenaikan harga pupuk 5 % diikuti kenaikan harga gabah 10 % berdampak meningkatkan peubahpeubah petani dan kinerja koperasi tetapi menurunkan pembelian gabah, produksi beras dan kapasitas produksi beras koperasi. Sementara pada Propinsi Sumatera Barat, Jawa Timur, Bali dan NTB, kenaikan harga pupuk dan kenaikan harga gabah memberikan dampak negative kepada para petani. Pada dasarnya di Propinsi Sumatera Utara, Jawa Barat dan Jawa Tengah harga pupuk dan harga

gabah dapat dinaikan. Sementara pada keempat propinsi lainnya kenaikan harga gabah menguntungkan bagi petani, tetapi kenaikan harga pupuk sebesar 5 % saja sudah merugikan petani. Skenario kenaikan penggunaan pupuk oleh petani sebesar 25 % diikuti harga gabah dan pembelian gabah oleh koperasi sebesar 10 % ketiganya berdampak positif secara umum pada semua peubah model. Karena itu skenario ini potensial untuk diterapkan. Sebaliknya skenarioyang berlawanan yakni penurunan terhadap penggunaan pupuk dan harga gabah memberikan dampak serius menurunkan produksi gabah dan pendapatan para petani serta kinerja koperasi. Skenario ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa berbagai sebab dan alasan bahkan kebijakan yang diambil pemerintah yang menyebabkan penurunan penggunaan pupuk pada petani, pada dasarnya merugikan para petani. Infokop Nomor 28 Tahun XXII, 2006 Skenario peningkatan kapasitas prasarana dan sarana produksi beras koperasi dimaksudkan untuk mengoperasikan kembali prasarana dan sarana koperasi yang telah menganggur akibat kebijakan pupuk dan beras yang telah dijalankan. Skenario tersebut sekaligus meningkatkan kemampuan koperasi dalam penanganan pengadaan pangan. Skenario ini juga dimaksudkan untuk mendukung sistem bank padi yang sedang dijalankan koperasi. Jika kapasitas RMU koperasi yang ada sekarang ditingkatkan, juga gudang dan lantai jemur dan peralatan pendukung lainnya diperluas maka menjamin peningkatan pembelian gabah, produksi dan kapasitas produksi beras koperasi. Juga skenario ini memberikan dampak positif pada kinerja koperasi. Jika kemudian dilanjutkan dengan kebijakan untuk mendorong peningkatan nilai asset dan volume usaha koperasi maka akan memberikan hasil yang cukup besar bagi peningkatan kinerja koperasi. Untuk pengembangan sistem bank padi ke depan maka gabungan beberapa skenario alternatif di atas merupakan kesatuan kebijakan yang penting. Gabungan skenario kebijakan peningkatan penggunaan pupuk petani secara langsung, kebijakan menaikan harga gabah, pemberian kredit atau modal kepada koperasi untuk pembelian gabah dan kenaikan kapasitas prasarana dan sarana produksi beras koperasi serta kebijakan mendorong kenaikan aset dan volume usaha koperasi adalah kesatuan kebijakan yang menunjang pengembangan system bank padi. Lebih dari itu, kebijakan alternatif tersebut secara bersama-sama akan menjamin produksi dan pendapatan para petani maupun produksi beras yang dihasilkan koperasi.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil kaji ulang peran koperasi dalam menunjang ketahanan pangan dengan fokus pada masalah distribusi pupuk dan pengadaan pagan/beras pada tujuh daerah survei masingmasing Propinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Jawa Tengah, diambil kesimpulan sesuai tujuan penelitian seperti di bawah ini. Kesimpulan tentang efektif tidaknya  kebijakan distribusi pupuk dan pengadaan beras yang telah dijalankan pemerintah adalah sebagai berikut : 1. Kebijakan distribusi pupuk saat ini telah memberikan dampak yang positif yakni efektif pada penyaluran pupuk level propinsi hingga ke kabupaten. Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi menunjukkan distribusi pupuk dari level propinsi hingga ke kabupaten pada semua propinsi sampel relatif berlangsung normal. Namun pada level pengecer, muncul berbagai kegagalan antara lain pupuk langka di pasar ketika petani membutuhkannya dan harga riil pupuk di pasar secara umum berada di atas HET. 2. Hasil analisis faktor yang mempengaruhi menunjukkan terdapat kecenderungan para distributor dan pengecer pupuk terutama pengecer swasta menggunakan signal harga sebagai indikator dalam menyalurkan pupuk ke petani. Pada hal pupuk adalah komoditi publik yang disubsidi pemerintah guna meningkatkan produksi pangan petani dalam rangka pengamanan pangan nasional. Secara tegas perilaku seperti ini bertentangan dengan jiwa kebijakan distribusi pupuk pemerintah. 3. Hasil analisis faktor yang mempengaruhi juga menunjukkan unitunit koperasi yang telah menjalankan usaha pengadaan pangan pada waktu lalu mengalami kemundurun signifikan. Unit-unit koperasi pada 4 dari 7 propinsi sampel penelitian mengalami penurunan kapasitas produksi atau mereka beroperasi di bawah kapasitas terpasang. Jika semula unit-unit koperasi yang telah menjalankan usaha-usaha pengadaan pangan/beras adalah bahagian dari total kapasitas terpasang produksi pangan nasional maka penurunan kapasitas koperasi karena perubahan kebijakan sekarang telah berdampak menurunkan kapasitas produksi pangan (gabah/beras) nasional. 4. Hasil-hasil simulasi dua scenario pada Tabel 1 dan 2 menunjukkan, dampak yang ditimbulkan akibat kebijakan pemerintah melepaskan distribusi pupuk dan pengadaan beras ke pasar adalah secara umum menekan penggunaan pupuk petani. Akibatnya produksi gabah dan pendapatan petani menurun, yang selanjutnya menurunkan produksi beras dan juga kapasitas produksi beras koperasi, dan menurunkan kinerja usaha-usaha koperasi. 5. Kebijakan distribusi pupuk dan pengadaan beras yang sedang dijalankan sekarang tidak efektif menciptakan kemampuan produksi pangan (beras) dalam negeri. adalah peningkatan penggunaan pupuk secara langsung pada petani (25 %), peningkatan harga gabah 10 %, peningkatan kredit atau modal kepada koperasi untuk pembelian gabah 10 %, peningkatan kapasitas prasarana dan sarana produksi beras koperasi 25 % serta peningkatan kenaikan aset dan volume usaha koperasi 10 %

Daftar Pustaka

Dewan Ketahanan Pangan. 2002. Kebijakan Umum Pemantapan Pangan Nasional. Dewan Ketahanan Pangan, Jakarta.

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, 2006. Ekspor Ilegal Pupuk Bersubsidi. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Departemen Keuangan Republik Indonesia, Jakart

Donald Ary, L. Ch. Yacobs and Razavich. 1979. Introduction in Research Education 2nd Editon. Hott Rinehart and Winston, Sydney.

Earl R. Babie. Survey Research Methods. 1973. Belmont, Wadsworth Publication Co., California.

Frank Ellis, 1992. Agricultural Policies in Developing Countries. Cambridge University Press. Cambridge.

Intriligator. M, Bodkin. R, Hsiao. C. 1996. Econometric Models, Techniques, and Applications. Second Edition. Prentice-Hall International, Inc. USA.

Just.R.E, Hueth.D.L, and Schmit. A. 1982. Applied Welfare Economics and Public Policy. Prentice-Hall, Inc., USA.

Kariyasa K. dan Yusdja Y. 2005. Evaluasi Kebijakan Sistem Distribusi Pupuk Urea di Indonesia. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Bogor.

Kementerian Koperasi dan UMK, 2005. Konsep Usulan Proposal Penyempurnaan Tataniaga Pupuk Bersubsidi. Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah RI, Jakarta.

Koutsoyiannis, A. 1977. Theory of Econometrics: An Introductory Exposition of Econometic Methods. Second Edition. The MacMillan Press Ltd, London.

Media Industri dan Perdagangan, 2006. Pupuk, Komoditas Strategis yang Harus Diamankan. Media Industri dan Perdagangan, Jakarta.