Tan Malaka: Korban Pemalsuan Sejarah

Nama Tan Malaka tak banyak dikenal orang. Padahal tokoh inilah yang pertama kali tampil dengan gagasan Republik Indonesia. Sebuah republik komunis kiri yang harus dibangun dengan mengusir Belanda. Tan Malaka jelas merupakan bapak Indonesia dan memang tokoh ini adalah pahlawan nasional.

Tapi bagaimana tokoh sepenting Tan Malaka bisa terlupakan dari ingatan umum orang Indonesia? Berikut penjelasan Harry Poeze penulis pelbagai buku tentang Tan Malaka

Kepedihan sejarah
Harry Poeze [HP]: Ini didasarkan atas salah satu brosur yang ditulis Tan Malaka tahun 1924 dalam bahasa Belanda dan namanya Naar de Republiek Indonesia, menuju Republik Indonesia. Dengan resmi ini pertamakali disebut nama Republik dan Indonesia secara bersama. Karena itu Tan Malaka diberi gelar bapak Republik Indonesia. Ini sebelum Hatta dan Soekarno menyebut Republik Indonesia.

Yang ironis sekali bahwa waktu proklamasi Republik Indonesia Tan Malaka di Jakarta, tapi tidak ikut upacara proklamasi itu. Karena tidak tahu bahwa ada proklamasi Republik Indonesia. Dan ini disebut dalam satu brosur yang ditulis Adam Malik seperti kepedihan sejarah. Tan Malaka sendiri juga dalam buku otobiografi Dari Penjara ke Penjara sangat menyesal bahwa ia tidak ikut upacara itu. Ya, ini perwujudan cita-cita yang di dalam hati sanubari Tan Malaka selama 20 tahun.

Panduan aksi perlawanan
Radio Nederland Wereldomroep [RNW]: Menuju Republik Indonesia waktu itu apa yang sebenarnya ditulis oleh Tan Malaka di dalam brosur itu?

HP: Brosur itu seperti panduan aksi melawan kolonialisme melawan Belanda. Dan ini juga harus dipakai oleh Partai Komunis Indonesia dalam melawan kolonialisme Belanda.

RNW: Panduan aksi, tapi bukan aksi militer?

HP: Panduan masa aksi, misalnya pemogokan dan juga aksi bersenjata, pemberontakan. Tapi sebelumnya harus ada masa aksi dalam bentuk demonstrasi dan pemogokan.

Kiri yang ternoda
RNW: Dengan buku “Naar de Republik Indonesia”, menuju Republik Indonesia itu tampaknya gagasan Republik Indonesia yang ada dalam sanubari dan benak Tan Malaka adalah gagasan Republik Indonesia yang komunis, yang kiri ya?

HP: Yang kiri, ya. Yang komunis, waktu itu. Tapi komunis ini kata yang sangat ternoda sekarang. Waktu itu Partai Komunis salah satu partai yang melawan Belanda dan juga salah satunya yang bekerja atas dasar Indonesia. Bukan atas dasar Jawa, atas dasar Sumatera atau dasar agama. Waktu itu ada Budi Oetomo, dasarnya Jawa, ada Sarikat Islam dasarnya islam. Tapi partai Nasionalis belum ada. Ini hanya sesudah Soekarno mendirikan Partai Nasional Indonesia tahun 1927 baru ada partai Nasionalis sejati di Indonesia. Tapi sebelumnya salah satunya partai nasionalis PKI.

RNW: Karena itu kita sekarang sampai pada jaman Orde Baru, ketika Tan Malaka dihujat dan dilupakan. Mengapa Orde Baru menurut Pak Harry Poeze perlu melupakan dan menghujat orang seperti Tan Malaka? Dia kan sudah meninggal dunia, sudah dibunuh sebelum peristiwa G30S?

HP: Ada beberapa sebab saya kira. Tan Malaka walaupun pahlawan nasional juga dianggap seperti seorang kiri, seorang komunis. Dan Orde Baru tidak bisa melihat perbedaan antara kiri dan komunis. Dan tulisan Tan Malaka bagiannya ialah didasarkan atas ideologi komunis. Tapi juga dengan diterapkan untuk situasi Indonesia.

Ini saya kira Orde Baru tidak bisa membedakan antara kiri, komunis, Tan Malaka dan semuanya. Karena tidak tahu persis lebih baik untuk melupakan sama sekali warisan Tan Malaka itu.

Pahlawan nasional
RNW: Padahal beliau adalah pahlawan yang menggagas Republik Indonesia ya?

HP: Betul, dan tidak bisa ditiadakan. Sekali gelar pahlawan nasional diberikan, tidak bisa ditiadakan lagi. Tapi dalam daftar di sekolah waktu itu ada buku sekolah dengan riwayat hidup ringkas semua pahlawan nasional. Tapi selalu Tan Malaka dilupakan, dicoret dari sejarah samasekali.

Karena itu sesudah Soeharto digulingkan tidak ada orang yang tahu Tan Malaka. Ia seorang yang samsekali dicoret dari buku sejarah, buku sekolah tidak disebut. Ini pemalsuan sejarah Indonesia yang dilaksanakan oleh Orde Baru. Dan tidak hanya mengenai Tan Malaka tapi mengenai banyak hal lain.

di 2:33 AM

Label: Harry Poeze, Pidato Tan Malaka, Wawancara

Iklan

Komentar ditutup.