Sukarno: Seorang Bima, Seorang Hamlet

Sukarno: Seorang Bima, Seorang Hamlet

“Tidak seorang pun dalam peradaban modern ini yang menimbulkan
demikian banyak perasaan pro-kontra seperti Sukarno. Aku dikutuk
seperti bandit dan dipuja bagai dewa.” (Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat)

SUKARNO tidak dimakamkan “di antara bukit yang berombak, di bawah pohon
rindang, di samping sebuah sungai dengan udara segar.” Tidak seperti
diinginkannya. Permintaan terakhirnya untuk dikuburkan di halaman rumahnya di
Batutulis, Bogor, ditolak. Prospek bahwa makamnya akan menjadi tempat ziarah
populer yang terlalu dekat dari Jakarta jelas merisaukan pemerintahan baru.
Soeharto hanya mengizinkan Sukarno dimakamkan di Blitar, Jawa Timur, di
samping makam ibunya.

Bahkan jasad matinya membuat gentar.

Dan kini, 30 tahun sejak meninggalnya, nama serta wajah Sukarno tidak pernah
benar-benar lumat terkubur. Kampanye puluhan tahun Orde Baru untuk
membenamkannya justru hanya memperkuat kenangan orang akan
kebesarannya, simpati pada epilog hidupnya yang tragis, serta maaf atas
kekeliruannya di masa silam.

Sukarno tak pernah berhenti menjadi ikon revolusi nasional Indonesia yang paling
menonjol—mungkin seperti Che Guevara bagi Kuba. Di banyak rumah,
foto-fotonya, kendati dalam kertas yang sudah menguning di balik kaca pigura
yang buram, tidak pernah diturunkan dari dinding meski pemerintahan
berganti-ganti. Di kaki lima, posternya masih tampak dipajang bersebelahan
dengan gambar Madonna, Iwan Fals, dan Bob Marley—simbol dari zaman yang
sama sekali lain.

Pada Pemilihan Umum 1999, dia hadir sebagai juru kampanye “in absentia” bagi
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang dipimpin putrinya, Megawati
Sukarnoputri. Gambar besarnya diusung dalam arak-arakan. Posternya dipajang
di mulut-mulut gang. Dan Sukarno memenanginya. PDI Perjuangan meraih suara
terbanyak, mengantarkan Megawati menjadi wakil presiden sekaligus
melempangkan jalan bagi pemulihan nama Sukarno sendiri.

“Sejarahlah yang akan membersihkan namaku!”

Sumpah itu jadi kenyataan. Sejarah—dan waktu—kini berpihak padanya.
Hari-hari ini, peringatan 100 tahun kelahirannya dirayakan dengan pesta akbar.
Tidak hanya dalam kenangan penghuni gubuk reyot pedesaan dan kampung
kumuh perkotaan—orang-orang Marhaen yang menjadi sumber ilham dan
curahan simpati besarnya—tapi juga dalam konser musik klasik tempat
orang-orang berdasi dan bermobil Baby Benz mendengarkan Aida gubahan
komponis besar Italia, Giuseppe Verdi.

Untuk pertama kalinya sejak tragedi berdarah 1965, yang sebagian dosanya
dibebankan padanya, dia memperoleh kembali secara lebih proporsional
kehormatan yang menjadi haknya.

Seperti Verdi mengilhami pembebasan Italia lewat opera dan musik indahnya,
Sukarno—lebih dari siapa pun—memang berjasa besar menyatukan bangsa
Indonesia dalam kesadaran bersama meraih kemerdekaan, lewat orasi-orasinya
yang berani dan menggemuruh pada 1920-an.

“Beri aku seribu orang, dan dengan mereka aku akan menggerakkan Gunung
Semeru! Beri aku sepuluh pemuda yang membara cintanya kepada Tanah Air,
dan aku akan mengguncang dunia!”

Tak hanya mengantarkan kemerdekaan Indonesia, dia kelak memang
mengguncang dunia pula. Dari lembah Sungai Nil hingga Semenanjung Balkan,
dari Aljazair hingga India, namanya dikenang sebagai salah satu juru bicara
Asia-Afrika paling lantang dalam melawan “imperialisme dan kolonialisme Barat”.

Sebagai orator, dia mampu menghipnotis dan menggenggam massa dalam
tangannya. Dan dengan itu dia mendesakkan “revolusi psikologis”, menjebol
keyakinan umum pribumi Indonesia, yang kala itu hampir sekuat mitos dan
takhayul, bahwa kolonial Belanda berkulit putih tidak bisa dikalahkan.

Aktivisme politik Sukarno diilhami dari sumber-sumber yang beragam, dari buku
yang dibaca dan tokoh senior yang ditemuinya. Dia menyerap semuanya, lalu
menggumpalkan dalam dirinya, hampir sepenuhnya eklektis dan
sinkretis—kemampuan khas Jawa.

Mengenyam pendidikan sekolah menengah (Hogere Burger School) di Surabaya,
Sukarno tinggal di rumah Haji Oemar Said Tjokroaminoto, pemimpin Sarekat
Islam, gerakan politik prakemerdekaan yang memiliki basis penerimaan paling
luas. Dan Tjokro menjadi mentor politiknya yang pertama (bahkan kelak menjadi
mertuanya)—tapi bukan satu-satunya.

Sukarno menyebut lingkungan rumah Tjokro sebagai “dapur revolusi Indonesia”.
Tidak berlebihan. Berbagai tokoh pergerakan, meski dengan aliran yang berbeda,
sering bertemu di situ. Sukarno bisa menemukan Ki Hadjar Dewantoro,
penggagas gerakan pendidikan Taman Siswa dan satu dari “Tiga Serangkai”
pendiri Indische Partij—partai radikal pertama yang menyerukan kemerdekaan
Indonesia secara tuntas dari Belanda. Dari Ki Hadjar, Sukarno menyerap
bagaimana menyatukan pandangan Barat dengan pandangan tradisional Jawa. Di
rumah itu pula Sukarno berkenalan dengan Hendrik Sneevliet (pendiri Indische
Sociaal Democraticshe Vereeniging, leluhur Partai Komunis Indonesia) dan
Alimin (“orang yang memperkenalkan saya pada Marxisme”).

Islam dan Marxisme menjadi dua arus ideologi yang dominan dalam perlawanan
terhadap penjajah kala itu. Tak jarang seorang tokoh pergerakan waktu itu
menjadi pengurus Sarekat Islam dan ISDV sekaligus, seperti Semaun, misalnya.
Namun, kendati kedua aliran memandang kolonial Belanda sebagai musuh
bersama (“Kristen bagi Islam” dan “kapitalis-imperialistis bagi Marxis”),
dua-duanya sendiri kelak akan terbukti + tak terjembatani.

Sukarno berkenalan dengan arus ketiga yang lebih memukaunya,
“nasionalisme”. Ketika kuliah di Technische Hoogeschool (kini Institut Teknologi
Bandung) beberapa tahun kemudian, dia bertemu dengan Ernest F.E. Douwes
Dekker dan Tjipto Mangunkusumo—dua keping lain dari “Tiga Serangkai”.
Khususnya dari Douwes Dekker, Sukarno menyerap gagasan nasionalisme
sekuler, yang menolak dasar Islam dan realisme-sosial komunis sekaligus, serta
memimpikan sebuah negara merdeka tempat manusia dengan ras berbeda,
aliran berbeda, terikat kesetiaan pada satu tanah air.

Debut politik pertama Sukarno adalah ikut mendirikan Klub Studi Umum di
Bandung pada 1926, sebuah klub diskusi yang berubah jadi gerakan politik
radikal belakangan. Namanya kian menjulang ketika setahun kemudian dia
menulis rangkaian artikel berjudul Nasionalisme, Islam, dan Marxisme dalam
Indonesia Moeda—penerbitan milik Klub. Di situ, Sukarno mendesakkan
pentingnya sebuah persatuan nasional, satu front bersama kaum nasionalis,
Islamis, dan Marxis, dalam perlawanan tanpa-kompromi (non-kooperatif) terhadap
Belanda.

Gagasan Sukarno di situ bukan yang pertama dan tidak sepenuhnya orisinal.
Tokoh Perhimpunan Indonesia di Negeri Belanda, Mohammad Hatta, telah sejak
1923 mengumandangkan pentingnya persatuan dan muskilnya kerja sama
dengan pemerintah kolonial.

Namun, peran Sukarno tak bisa dikecilkan. Jasa terbesarnya adalah menyerap
apa yang dikemukakan Hatta, membuat sintesis darinya dan menerjemahkan ke
dalam bahasa yang lebih mudah diserap massa. Ditambah daya magis orasinya,
Sukarno memperoleh audiens serta dampak yang lebih luas—lebih dari yang
bisa diharapkan Hatta, tapi sekaligus membuatnya miris.

Dengan kata-katanya, Sukarno menjembatani dan menyatukan berbagai elemen
yang berbeda serta memberi mereka sebuah kebersamaan identitas. Dengan itu,
Sukarno berjasa mengilhami Sumpah Pemuda 1928 dan secara brilian
merumuskan dasar negara Pancasila.

Sukarno menjadi personifikasi “satu Indonesia” secara tak terbantah kala itu. Dia
menjadi pusat perhatian dalam rapat-rapat umum—di atas podium, di tengah
massa yang riuh. Di atas panggung, dia memukau audiens, dan audiens
sebaliknya memukau dia dengan tepuk tangan yang kian lama kian memabukkan.

Dia memang pada dasarnya terpesona oleh elemen drama dalam sejarah—oleh
unsur romantis dalam biografi George Washington, Garibaldi, dan Abraham
Lincoln. Romantisme Sukarno diperkuat oleh cerita-cerita perwayangan—epik
Mahabharata dan Ramayana—yang dia kenal sejak kecil dan menjadi medium
komunikasinya yang pa-ling efektif dengan khalayak. Dia menyamakan dirinya
dengan ksatria Pandawa dalam Perang Bharata Yudha-nya melawan kolonialis
Belanda.

Namanya sendiri dipetik dari dunia wayang. Dalam autobiografi yang dituturkan
kepada Cindy Adams, dengan antusias Sukarno bercerita tentang asal-muasal
namanya. Dia terlahir sebagai Kusno, yang sakit-sakitan. Sesuai dengan
kepercayaan Jawa, ayahnya harus memberinya nama baru untuk mengusir
penyakitnya. Kusno menjadi Karno, nama ksatria Pandawa—seorang “pejuang
bagi negaranya” dan “patriot yang saleh”.

Menyusupkan unsur dramatik dan magis, Sukarno tak lupa menambahkan
bahwa Karno juga berarti “telinga”. Syahdan, Dewi Kunti, ibunya, mengandung
Karno dalam keadaan perawan. “Awan berahi” Batara Surya-lah, dewa matahari,
yang membuatnya hamil. Musyawarah para dewa memutuskan Karno dilahirkan
melalui telinga agar tidak merusak keperawanan Kunti.

Namun, tokoh favorit Sukarno dari dunia perwayangan adalah Bima—nama
samaran yang sering dia pakai dalam tulisan-tulisannya. Bima adalah anomali di
antara para ksatria Pandawa yang bertutur kata halus. Dengan suara baritonnya
yang berat, Bima selalu memakai bahasa kasar, Jawa ngoko, bahkan jika bicara
dengan para dewa—sebuah isyarat ketidaksopanan, tapi juga keberanian,
pemberontakan pada feodalisme, dan ajakan pada egalitarianisme.

Di atas panggung, “Bima” membuat panas kuping pemerintah Hindia Belanda
dengan agitasinya, dengan teriakan “Indonesia”-nya, dan dengan lagu Indonesia
Raya yang diperdengarkan mengawali rapat-rapat akbarnya.

Sukarno ditangkap 1930. Namun, persidangannya menjadi pentas lain yang tak
kalah dramatisnya. Dia tampil dengan pidato pembelaan yang gemilang,
“Indonesia Menggugat”, yang dibacakannya selama dua hari berturut-turut.
Seperti Hatta di Den Haag pada 1928, pleidoi Sukarno di pengadilan Bandung itu
adalah manifesto politiknya, yang ditujukan terutama kepada pendengar di luar
sidang.

Belanda menghukumnya secara keras: Sukarno dijatuhi hukuman empat tahun,
meski akhirnya diperingan menjadi satu tahun. Keluar dari Penjara Sukamiskin,
Bandung, dia dihormati lebih dari sebelumnya—sebagai seorang ksatria yang
keluar dari pertapaan dan memperoleh kesaktian lebih besar.

Namun, pamornya justru segera redup seiring mengerasnya tekanan pemerintah
Hindia Belanda dan kesulitannya untuk kembali menyatukan berbagai kelompok
pergerakan. Bahkan hubungannya dengan Hatta tak terjembatani, meski hanya
karena perbedaan taktik. Hatta lebih ingin menggugah kesadaran nasional lewat
pendidikan politik secara radikal, lewat partai kader, dengan anggota yang
militan, untuk menciptakan “beribu-ribu, bahkan berjuta-juta Sukarno”. Dia
mengkritik Sukarno, yang cenderung hanya mengumpulkan kerumunan dengan
satu Sukarno di tengahnya.

Bagi Sukarno, sebaliknya, kata-kata diperlukan untuk mengilhami tindakan,
energi besar meraih kemerdekaan. Sukarno bukan pengagum Hitler, bahkan
membencinya, tapi dia mengingat kata-kata Hitler dengan baik: “Gross sein
heissat Massen bewegen kõnnen.” (Besarlah seseorang yang mampu
menggerakkan massa untuk bertindak.)

Hatta terbukti terlalu meremehkan betapa luas dan mendalam pengaruh Sukarno,
dan betapa kuat personifikasi Sukarno atas rakyat jajahan. Pada 1940-an,
Sukarno menjadi wakil Indonesia secara tak terelakkan ketika Jepang harus
melakukan tawar-menawar dengan tanah jajahan baru. Dan selebihnya tak
terhindarkan: sejarah memilihnya menjadi proklamator kemerdekaan Indonesia.

Bagi Sukarno, sejarah tidak memilihnya secara kebetulan. Mengenang ke
belakang, lewat autobiografinya, ia bercerita bagaimana ibunya memangku bayi
Sukarno yang berumur dua tahun, menghadap ke timur, dan ketika fajar merekah
meramalkannya kelak menjadi pemimpin besar. “Sukarno, Putra Sang Fajar”.

Sukarno memang merasa terlahir sebagai pemimpin, dan bertindak secara sadar
untuk meraih takdirnya. Namun, pada 1933, dia barangkali tidak bisa seyakin
seperti itu. Ditangkap untuk kedua kali, Sukarno mengirim surat kepada
Gubernur Jenderal Belanda: dia meminta maaf dan berjanji akan menghentikan
aktivitas politiknya sama sekali. Kesendiriannya dalam Penjara Sukamiskin
tampaknya menjadi pengalaman traumatis.

Keaslian surat maaf itu masih menjadi perdebatan para sejarawan hingga kini.
Tapi, dalam pengasingan di Ende (1934-1938), Sukarno tampak benar-benar
sudah memutuskan sebuah karir baru. Tidak politik, tapi tetap berbau panggung.
Dia menulis 12 cerita sandiwara, salah satunya berjudul Dr. Setan, yang diilhami
oleh Frankenstein. Dia juga mendirikan Perkumpulan Sandiwara Kalimutu—dari
nama danau terkenal di pulau itu—membuat reklame sendiri untuk
pertunjukannya, merancang kostum, dan menggambar dekor.

Karir politik Sukarno sepertinya akan habis di situ. Tapi sejarah ternyata
menikung ke arah lain. Kekalahan Belanda dari Jepang mengembalikan impian
besarnya. Dia kembali tampil ke panggung, tapi dengan sejumlah pandangan
yang sudah direvisi. Berkeyakinan besar bahwa Jepang akhirnya akan
memberikan kemerdekaan bagi Indonesia, Sukarno menanggalkan sikap
nonkooperasi serta mendukung rezim fasistik itu dengan sikap pragmatis yang
mencengangkan, bahkan menggetirkan.

Mengerahkan keterampilan klasiknya berpidato, Sukarno membujuk puluhan ribu
pemuda untuk bergabung dalam barisan romusha, yang dikirim ke kamp-kamp
kerja paksa. Banyak dari mereka tidak pernah pulang.

Dia memang mengaku remuk hati mengenang itu. “Akulah orangnya. Akulah
yang menyuruh mereka berlayar menuju kematian.” Tapi, setelah tarikan nafas
lainnya, dia mengatakan: “Dalam setiap peperangan ada korban. Tugas seorang
panglima adalah memenangi perang. Andaikata saya terpaksa mengorbankan
ribuan jiwa demi menyelamatkan jutaan orang, saya akan lakukan.”

Episode itu bisa menjadi bahan perdebatan moral tiada habis. Namun, Sukarno
tidak sendirian. Apa gerangan yang dipikirkan Harry Truman setelah menjatuhkan
bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, membunuh ratusan ribu orang tapi pada
saat yang sama menghentikan Perang Asia Pasifik?

Para pemuda romusha pastilah pahlawan sejati kemerdekaan Indonesia, yang
pada akhirnya mempersembahkan panggung lebih besar bagi Sukarno.

Bersama Hatta di sampingnya, Sukarno menghadapi masa-masa awal
kemerdekaan yang sulit. Namun, keduanya sukses menangkis tantangan serius
dari dalam negeri—keresahan, bahkan pemberontakan, di berbagai daerah. Juga
dari luar—agresi ataupun ketatnya diplomasi dengan Belanda. Keduanya
memang bisa berbuat banyak jika bekerja sama. Hatta memerlukan kehangatan
dan kemampuan Sukarno untuk berkomunikasi dengan massa orang Jawa.
Sukarno mengambil keuntungan dari disiplin, integritas, dan keterampilan Hatta
di bidang ekonomi. Tapi semua tak berlangsung terlalu lama.

Tahun 1959 menandai awal kejatuhan Sukarno—tahun yang secara ironis
disebutnya sebagai “Tahun Penemuan Kembali Revolusi Kita”.

“Saya merasa seperti Dante dalam Divine Commedia,” katanya dalam pidato
kemerdekaan 17 Agustus tahun itu. “Saya merasa bahwa revolusi kita telah
menderita semua jenis penderitaan inferno! Dan kini, dengan kembalinya kita ke
Konstitusi 1945, kita menjalani pemurnian (untuk) masuk surga!”

Pada 5 Juli, Sukarno mengeluarkan dekrit presiden yang terkenal. Tak sabar
menyaksikan eksperimen demokrasi parlementer yang penuh kisruh, Sukarno
membubarkan Konstituante—dewan perwakilan rakyat hasil pemilu demokratis
1955. Dia mengubur tuntas “setan sistem multipartai yang menjerumuskan kita
ke neraka” dengan meniadakan partai sama sekali. Dia mempro-klamasikan
Demokrasi Terpimpin.

Jika yang diinginkannya adalah suasana harmoni tanpa konflik, Demokrasi
Terpimpin jelas memenuhi obsesi besar Sukarno akan “persatuan dan kesatuan”.
Tapi itu jelas pula bukan demokrasi. Sukarno menyusun kabinet sendiri,
menunjuk perdana menteri, dan mengangkat semua anggota parlemen.

Dengan kekuasaannya yang tiada terbatas, dia kini leluasa mengayuh roda
revolusi. “Revolusi belum usai.” Pidatonya tetap menggelegar. Panggung kian
gemerlap. Tapi kampanyenya untuk merebut Irian Barat, konfrontasinya dengan
Malaysia, dan pemberontakannya di Perserikatan Bangsa-Bangsa makin
menjauhkannya dari bisa memahami masalah sebenarnya yang dihadapi
negerinya. Sukarno “Singa Podium” berubah menjadi demagog dengan
slogan-slogan kosong.

Dalam situasi normal, obsesinya terhadap monumen, gedung, dan patung-patung
raksasa—yang kini menghiasi sudut-sudut kota Jakarta—harus diakui
merupakan wujud selera tingginya terhadap seni. Tapi itu merupakan ironi besar
di tengah kesulitan ekonomi yang menggigit kala itu, kelaparan di berbagai
tempat, inflasi yang meroket ratusan persen.

Dia juga makin agresif terhadap lawan-lawan politiknya, menanggalkan citranya
sendiri sebagai Sukarno sang penyatu. Dia memberangus pers dan
memenjarakan para pengkritiknya—termasuk Sutan Sjahrir, Perdana Menteri
Indonesia pertama, yang kemudian meninggal secara tragis dalam status
sebagai tahanan.

Watak pemerintahannya yang monolitik menjatuhkannya ke dalam simbol
feodalisme Jawa, yang dulu ia kecam. Seperti raja-raja Jawa di masa silam, dan
Soeharto yang menggantikannya kelak, dia memanipulasi simbol-simbol tradisi,
mencitrakan diri memiliki aura kekuasaan supranatural, menikmati diri dikelilingi
para adipati yang terlibat intrik politik istana, serta memanfaatkan konflik itu
untuk menunjukkan diri sebagai kekuatan yang tak terhindarkan, satu-satunya
dan selama-lamanya. Jika bisa.

Setelah partai-partai Islam praktis tersingkir, Sukarno mencoba berdiri di tengah
menjaga kesimbangan yang rawan antara tentara (yang sejak 1950-an menjadi
haus politik) di satu sisi dan Partai Komunis Indonesia di sisi yang lain. Dia gagal
kali ini. Di bawah bayang-bayang ketegangan Perang Dingin global dan tekanan
krisis ekonomi domestik, Sukarno terbakar di tengah-tengah persaingan dua
kubu, dalam sebuah drama paling berdarah 1965.

Sukarno barangkali adalah contoh klasik yang tragis: seorang pemimpin
idealistis yang dirusak oleh kekuasaan dan dikhianati oleh kebanggaan dirinya
yang terlalu besar.

Lahir di bawah rasi bintang Gemini, Sukarno memang manusia penuh paradoks,
seperti dikatakannya sendiri. “Gemini adalah lambang kekembaran; dua sifat
yang berlawanan.” Dia idealistis sekaligus pragmatis. Pemberang sekaligus
pemaaf. Ekspresi kata-katanya kasar, tapi dia menyukai seni dan keindahan
yang halus. Dan di balik penampilannya yang sangat percaya diri, langkahnya
yang tegap, suaranya yang mengguntur, Sukarno adalah pribadi yang rapuh.

Sukarno bermimpi menjadi Hercules seperti yang digambarkan dalam sebuah
plakat pada dinding Istana Bogor: bayi Hercules dalam pangkuan ibunya,
dikelilingi empat belas bidadari cantik—semuanya telanjang. “Cobalah
bayangkan betapa bahagianya dilahirkan di tengah empat belas orang cantik
seperti ini.” Keperkasaan Hercules menuntut kasih sayang, haus kelembutan.

Sebagai orang yang percaya bisa memindahkan gunung dengan kata-kata,
Sukarno membutuhkan dukungan total dari lingkungannya: cinta, pujian, dan
penerimaan, jika bukan tepuk tangan. Di masa kecil, dia memperolehnya dari
Sarinah, pembantu rumah tangga yang namanya kemudian dia abadikan dalam
judul sebuah bukunya dan pada sebuah toko serba ada di Jalan Thamrin,
Jakarta.

Dan ketika dewasa, Sukarno memperoleh tenaga Hercules-nya dari Inggit
Garnasih, janda dengan usia selosin tahun lebih tua yang dikawininya di
Bandung pada 1923. Inggit menjadi sumber semangat yang menyala dan ia
menemaninya di masa-masa sulit. Tanpa Inggit, Sukarno barangkali benar-benar
habis setelah ditahan di Penjara Sukamiskin dan diasingkan ke Ende.
Kesendirian akan mudah membunuhnya. Ketika mengantarkan buku biografi
Inggit, Kuantar ke Gerbang, sejarawan S.I. Poeradisastra melukiskan paradoks
Sukarno yang lain: dia bisa tampak seperkasa Herakles, tapi juga serapuh
“Hamlet yang tercabik-cabik dalam kebimbangan”.

Sayang, Inggit tak bisa memberinya anak. Banyak orang masih mafhum ketika
Sukarno kemudian berpaling pada Fatmawati. Namun, ketika atletisme
seksualnya justru kian menjadi-jadi setelah perkawinannya dengan
Hartini—wanita keempat dalam hidup pribadinya—orang melihatnya secara lain.
Gelar internasionalnya sebagai “Le Grand Seducteur” mengundang kekaguman,
tapi sekaligus membenamkannya lebih jauh. Alih-alih menunjukkan kejantanan,
obsesi itu membuka kedok dari ketakutannya, dari perasaan tidak amannya.
Sukarno seperti ingin memaksakan diri menunjukkan potensinya di tengah
kemampuan politiknya yang kian merosot.

Tragis. Namun, fakta bahwa banyak wanita memang ingin dijamahnya, seperti
juga banyak politisi menghamba dalam Demokrasi Terpimpin-nya, bahkan
kemudian membolehkannya menjadi presiden seumur hidup, menunjukkan
Sukarno tidak sendiri dalam cacatnya—dia manusia tak sempurna dalam dunia
tak sempurna.

Hatta, seorang pengkritiknya yang paling keras, punya penilaian yang lebih adil
terhadapnya. Sukarno, tulis Hatta suatu ketika, adalah kebalikan dari tokoh
Memphistopheles dalam Faust-nya Goethe. “Tujuan Sukarno selalu baik, tapi
langkah-langkah yang diambilnya sering menjauhkannya dari tujuan itu.”

Tapi, Sukarno punya ungkapan sendiri untuk meringkaskan hidupnya. “Dia
mencintai negerinya, dia mencintai rakyatnya, dia mencintai wanita, dia
mencintai seni, dan—melebihi segalanya—dia cinta kepada dirinya sendiri.”

Jejak Langkah Putra Sang Fajar

6 Juni 1901
Sukarno dilahirkan di Surabaya, dari pasangan Ida Ayu Rai Srimben (asal
Singaraja, Bali) dan Raden Soekemi Sosrodihardjo (Probolinggo, Jawa Timur).
Setelah pindah sebentar ke Sidoarjo, keluarga Soekemi menetap di Mojokerto,
Jawa Timur, dan Sukarno mulai bersekolah di sekolah dasar zaman Belanda
hingga kelas lima. Lalu, ia melanjutkan pendidikan ke Europeesche Lagere
School (ELS), sekolah Eropa berbahasa Belanda, di Surabaya.

1915
Masuk Hoogere Burger School (HBS), sekolah menengah Belanda, dan ikut di
rumah Tjokroaminoto, Ketua Sarekat Islam. Di situ, dia berkenalan dengan
tokoh-tokoh senior pergerakan dan memulai proses magang politik.

21 Januari 1921
Artikel Sukarno yang pertama terbit di halaman depan koran Oetoesan Hindia
milik Sarekat Islam. Sukarno mengawini Oetari Tjokroaminoto–yang menjadi
perkawinan pertama Soekarno.

Pertengahan 1921
Kuliah di (Technische Hooge School—Institut Teknologi Bandung).

1923
Menikahi Inggit Garnasih, janda berusia 12 tahun lebih tua dan induk semangnya
selama ia kuliah di Bandung.

25 Mei 1926
Mendapatkan gelar insinyur dari THS. Hotel Preanger adalah salah satu
karyanya.
Pertengahan 1926:
Ikut mendirikan Klub Studi Umum, Bandung, klub diskusi yang berubah menjadi
gerakan politik radikal. Terbit artikelnya yang terkenal: “Nasionalisme, Islam, dan
Marxisme”.

4 Juni 1927
Mendirikan Perserikatan Nasional Indonesia (PNI) di Bandung. Pada kongres
1928, gerakan itu memproklamasikan diri sebagai partai, dengan nama baru:
Partai Nasional Indonesia.

28 Oktober 1928
Sumpah Pemuda. Berbagai kelompok pemuda menyatakan “memiliki bangsa,
bahasa, dan tanah air yang sama: Indonesia.” Lagu kebangsaan Indonesia Raya
pertama kali diperdengarkan.

29 Desember 1929
Sukarno ditangkap bersama tokoh PNI lain dan dijebloskan ke tahanan Penjara
Banceuy. Tuduhannya: merencanakan pemberontakan kepada Belanda.

Agustus 1930
Pengadilan Sukarno. Dalam pembelaannya yang amat terkenal, “Indonesia
Menggugat”, ia mengecam penjajahan dan menyerukan perlawanan. Untuk
pertama kalinya dia memakai istilah “Marhaen” sebagai ganti kaum buruh
(proletar).

31 Desember 1931
Hukuman Sukarno dipotong dua tahun dan ia dibebaskan. PNI pecah, Sukarno
belakangan memilih masuk Partindo.

1 Agustus 1933
Sukarno ditangkap untuk kedua kalinya.

21 November 1933
Sukarno menyatakan diri keluar dari Partindo.

17 Februari 1934
Sukarno dibuang ke Ende, Flores.

Februari 1938
Pengasingan Sukarno dipindahkan ke Bengkulu.

9 Juli 1942
Sukarno kembali ke Pulau Jawa dan merebut simpati sebagai pemimpin
pergerakan Indonesia di zaman Jepang

16 April 1943
Bersama Jepang, Sukarno membentuk Pusat Tenaga Rakyat (Putera), yang
ternyata dipakai Jepang sebagai pekerja paksa (romusha) dan menjadi
propagandis Jepang.

7 September 1943
Penguasa Jepang menjanjikan kemerdekaan untuk Indonesia kelak di kemudian
hari (tidak ada batas waktu spesifik).

1 Juni 1945
Dalam rapat Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia
(BPUPKI), Sukarno melahirkan istilah Pancasila, yang menjadi dasar negara
Indonesia. Rapat itu juga menyekapati Undang-Undang Dasar 1945 sebagai
konstituti negara Indonesia.

16 Agustus 1945
Sukarno menolak tuntutan pemuda untuk memproklamasikan Indonesia dengan
alasan belum mendapat kepastian menyerahnya Jepang dalam perang. Mereka
menculik Sukarno dan Hatta dan membawanya ke Rengasdengklok.

17 Agustus 1945
Proklamasi Indonesia dibacakan Sukarno dan Hatta, atas nama bangsa
Indonesia.

18 Agustus 1945
Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) bersidang dan menetapkan
Sukarno sebagai presiden dan Mohammad Hatta sebagai wakilnya. Kelak
mereka dikenal dengan Dwi-Tunggal.

3 November 1945
Pemerintah mengeluarkan maklumat yang isinya menyukai terbentuknya partai
politik dan mengadopsi sistem parlementer.

14 November 1945
Kabinet pertama yang baru berusia tiga bulan jatuh, digantikan kabinet kedua
dengan bentuk parlementer di bawah Perdana Menteri Sjahrir. Sejak saat itu,
kabinet selalu jatuh-bangun.

18 September 1948
Pecah pemberontakan PKI Madiun yang dipimpin Muso, tokoh PKI yang sejak
1920-an mengungsi di Moskow.

27 Desember 1949
Lewat Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda resmi menyerahkan
kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat. Pada Agustus 1950, ia berhasil
menyatukan negara dalam negara itu menjadi Negara Kesatuan Republik
Indonesia.

17 Oktober 1952
Dikenal sebagai Peristiwa 17 Oktober, ketika sebagian tentara angkatan darat
mengarahkan moncong meriamnya ke Istana dan menuntut Sukarno
membubarkan parlemen.

18 April 1955
Berlangsung Konferensi Asia Afrika atas prakarsa Bung Karno.

31 Desember 1956
Muhammad Hatta mengundurkan diri dari jabatan Wakil Presiden RI.

21 Februari 1957
Sukarno membekukan sistem demokrasi parlementer yang berlangsung sejak
1950 dan menggantinya dengan demokrasi terpimpin.

14 Maret 1957
Sukarno memberlakukan keadaan perang dan darurat perang (SOB) akibat
banyaknya pemberontakan militer di daerah.

30 November 1957
Terjadi percobaan pembunuhan terhadap Sukarno. Semua pelaku dihukum mati.
Para pelaku diidentifikasi sebagai kelompok antikomunis.

5 Juli 1959
Sukarno mengeluarkan Dekrit Presiden yang isinya membubarkan konstituante
(DPR Sementara) dan kembali ke Undang-Undang Dasar 1945.

17 Agustus 1959
Sukarno memperkenalkan Manifesto Politik yang oleh MPRS dikukuhkan
menjadi Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Manipol memuat lima pokok:
UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan
Kepribadian Indonesia (USDEK).

30 September 1960
Di depan Majelis Umum PBB, Sukarno menguraikan Pancasila dan perjuangan
membebaskan Irian Barat dalam pidato berjudul To Build the World Anew.

1963
Untuk menandingi Olimpiade yang digelar negara-negara Barat, Sukarno
menggelar pertandingan olahraga internasional Ganefo (Games of New Emerging
Forces) di Senayan, Jakarta, 10-22 November 1963, yang diikuti 48 negara.

3 Mei 1964
Karena kebenciannya kepada kolonialisme Inggris di Asia, Sukarno menyerukan
“Ganyang Malaysia”. Indonesia keluar dari PBB dan membentuk Poros
Jakarta-Peking.

14 Januari 1965
Partai Komunis Indonesia mulai melancarkan provo-kasi dengan tuntutan untuk
mempersenjatai buruh dan tani (angkat-an kelima). Sukarno belum
menanggapinya.

26 Mei 1965
Beredar isu “Dokumen Gilchrist” yang menyebutkan adanya dewan jenderal
dalam tubuh angkatan bersen-jata untuk mengambil kekuasaan dari Sukarno.

Juli 1965
Sukarno mulai sakit-sakitan dan D.N. Aidit memerintahkan agar biro khusus PKI
menyiapkan gerakan mengantisipasi dampak sakitnya Sukarno.

30 September 1965
Penculikan dan pembunuhan tujuh jenderal AD di Jakarta. PKI, yang memperoleh
perlindungan Sukarno, dituding sebagai biang keladinya.

14 Oktober 1965
Mayor Jenderal Soeharto dilantik sebagai Menteri Panglima Angkatan Darat dan
segara embekukan kegiatan PKI dan ormas-ormasnya. Sukarno menolak untuk
bertindak tegas terhadap PKI.

11 Maret 1966
Dengan helikopter, Sukarno terbang ke Istana Bogor, setelah mendengar Istana
dikepung pasukan tak dikenal. Di sanalah dia menandatangani Supersemar.

20 Juni 1966
Sidang Umum Ke-4 MPRS di Jakarta antara lain menetapkan, jika Presiden
berhalangan tetap, pengemban Supersemar, yakni Soeharto, menjadi presiden.

21 Januari 1967
Pidato pertanggungjawaban Sukarno pada 10 Januari, Nawaksara, ditolak MPRS
dan DPRGR menyimpulkan ada petunjuk Sukarno terlibat dalam peristiwa 30
September.

22 Februari 1967:
Sukarno diberhentikan dari jabatan presiden dan digantikan Jenderal Soeharto.

21 Juni 1970:
Sukarno wafat di Istana Bogor setelah menderita sakit yang lama di Wisma
Yasa, Jakarta. Jenazah Sukarno dimakamkan di Blitar. Hingga akhir hayatnya,
Sukarno tak pernah diadili karena tuduhan

Komentar ditutup.