Sejarah Singkat Modernitas sebagai Pembangunan

Dari Descartes sampai Chico Mendes: Sejarah Singkat Modernitas sebagai Pembangunan

Filsafat praktis (hanya) dapat dilakukan dengan cara mengenal kekuatan serta pengaruh api, air, udara, bintang, cakrawala, dan semua wujud lainnya di sekitar kita; bukan melalui filsafat spekulatif yang terdapat pada pelbagai aliran filsafat. Seperti halnya membeda-bedakan beraneka kerajinan yang dikerjakan para perajin, kita dapat membedakan benda-benda alam itu sesuai dengan kegunaannya. Dengan cara demikian, kita menjadikan diri kita sebagai tuan sekaligus pemilik alam.1

— Rene Descartes, Discourse on Method

Kita membahas akibat-akibat fatal dari teknologi seolah-olah hal itu hanya kerusakan teknis yang dapat diperbaiki oleh teknologi itu sendiri. Kita harus mencari jalan keluar yang objektif terhadap krisis objektivitas itu.2

— Vaclav Havel

Pembangunan ekonomi tidak dapat dihentikan, atau meminjam istilah Bank Dunia, “sudah menjadi keinginan yang universal”3. Hal itu tampaknya telah menjadi kebenaran sejati pada abad ke-20 yang kini memasuki bagian terakhir. Perdebatan pun berkutat pada persoalan jenis pembangunan yang diperlukan — apakah pembangunan berkesinambungan yang ramah lingkungan ataupun pembangunan yang cocok secara sosial. Istilah spesifik “pembangunan” (development) merupakan fenomena yang muncul pasca-Perang Dunia II. Namun, istilah pembangunan yang merujuk baik kepada kemajuan, modernisasi, teknologi, maupun pertumbuhan sebenarnya telah berlangsung di Barat sejak abad ke-17.a) Seperti ditulis Walt Rostow, fenomena pembangunan dapat dilihat dalam pengertian yang sederhana dan jelas: “Yang membedakan dunia pascarevolusi industri dari dunia sebelumnya adalah diterapkannya ilmu pengetahuan dan teknologi secara sistematis, regular, dan progresif pada sistem produksi barang dan jasa.”4

Teknologi, dalam pengertian pembuatan pelbagai alat untuk mempermudah pekerjaan dan segala tindakan terhadap alam untuk memuaskan kebutuhan manusia, ternyata selalu eksis. Bahkan, sesungguhnya studi-studi belakangan ini mengindikasikan bahwa “primata-primata” lain juga memiliki kecondongan yang sama. Titik kritis dalam sejarah masyarakat manusia sebenarnya muncul bersamaan dengan datangnya pencerahan, yaitu ketika masyarakat di Eropa Barat mulai mengorganisasi diri mereka dalam sebuah putaran (loop) kilas balik berupa inovasi dan tranformasi teknologi yang berlangsung terus-menerus. Pada saat itulah terjadi sebuah dinamika sosial baru yang menggabungkan sistem produksi ekonomi dengan metode ilmu pengetahuan modern ditambah ekspansi pasar.

Seluruh keruwetan nilai dan tujuan sosial pembangunan, yang oleh Gunnar Myrdal disebut sebagai “cita-cita modernisasi (modernization ideals)”, memasuki tahun 1960-an telah menjadi “iman resmi” atau bisa dikatakan sebuah “agama nasional” di banyak negara berkembang.5 Sebagaimana disimpulkan Myrdal dalam studi monumentalnya mengenai pembangunan di Asia Selatan, Asian Drama, nilai-nilai itu berakar pada masa pencerahan Barat. Nilai-nilai itu mengejawantah dalam bentuk hasrat menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan produksi material. Selain itu, cita-cita modernisasi tersebut berisikan suatu keinginan besar untuk mengembangkan institusi-institusi dan transformasi kultural yang mewujudkan nilai-nilai seperti diutarakan Max Weber: efisiensi, kehematan, kerapian, kerajinan, ketepatan waktu, dan di atas semua itu, sikap rasional dalam pembuatan keputusan yang terbebas dari tradisi, adat, dan kesetiaan kelompok.6

Kesatuan politik negara-bangsa, bibit lain yang tumbuh mulai abad pencerahan terus dipelihara hingga abad ke-20, yang menjadi sarana favorit bagi pencapaian tujuan-tujuan dan nilai-nilai tersebut.b) Era pascakolonial secara paradoks menggembar-gemborkan masa keemasan bangsa Barat, masa cita-cita sosial dan nilai-nilai budaya tercerahkan di sebagian besar belahan non-Barat, atau sekurang-kurangnya sebagai proyek dari para elite pemimpin negara-negara berkembang. Menggerakkan proyek adalah panggilan tugas dari teknologi, bidan yang menyelamatkan kelahiran pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi pada akhirnya menjadi dasar kekuatan dan kebanggaan nasional.c) Nehru menyimpulkan hal itu dengan rapi pada tahun 1961: “Ujian bagi kemajuan sebuah negara adalah seberapa jauh negara itu menggunakan teknologi modern.”7

Yang lebih luar biasa dan merangsang pikiran — sekaligus menandakan arogansi dari zaman kita saat ini — adalah hampir sepanjang sejarah manusia dan sebagian besar masyarakat di bumi ini, konsep dan praktik pembangunan semacam itu tidak berjalan. Contoh yang nyata adalah pemikiran-pemikiran yang berkembang pada Abad Pertengahan Eropa, yakni ketika surplus sosial “dipersembahkan” untuk membangun monumen-monumen keagamaan seperti katedral dan Perang Salib. Contoh lain: peradaban tradisional Asia seperti Cina, yang birokrasinya ruwet dan perdagangan serta teknologinya tergolong maju, ternyata tidak menimbulkan inovasi teknologi dan pertumbuhan ekonomi yang sudah menjadi ciri pembangunan modern.

Bahkan, yang lebih menarik adalah keadaan suku-suku asli sebelum mengalami disintegrasi budaya dan ketergantungan ekonomi. Dalam sebuah esai terkenal yang dipublikasikan lebih dua dekade lalu “The Original Affluent Society“, ahli antropologi Marshall Sahlins menekankan paradoks utama pembangunan modern: masyarakat-masyarakat pemburu dan pengumpul makanan yang paling primitif di bumi, seperti suku Aborigin Australia dan manusia semak Afrika menikmati kecukupan materi dan sosial, yang bekerja rata-rata tiga sampai lima jam per hari dan pada waktu luang menikmati seluruh kebutuhan material mereka. Dengan demikian, waktu sibuk buruh industri modern (yang berserikat kerja) yang menyelesaikan pekerjaannya selama 21 sampai 35 jam per minggu lebih banyak daripada waktu sibuk suku-suku asli tersebut.”8 Waktu senggang yang disediakan mereka (cukup bagi sebagian besar orang Amerika untuk menyelesaikan dua pekerjaan rumah tangga yang menjemukan) dihabiskan untuk bermasyarakat, tidur, dan kegiatan-kegiatan kultural yang mengesankan.

Penggambaran Claude Levi-Strauss tentang kehidupan kebudayaan suku Aborigin Australia terfokus pada kompleksitas sosial dalam kebudayaan Aborigin dan (tiada kata lain) “pembangunan”. Penggambaran yang banyak mendiskusikan klasifikasi totemis (patung-patung dewa) yang baik itu memandang kompleksitas sosial dan “pembangunan” suku Aborigin merupakan hasil dari lamanya suku tersebut mengalami keterpisahanan (isolasi) dari masyarakat lain:

Meski demikian, pembangunan itu tidak berjalan secara pasif. Pembangunan itu dikehendaki dan dikonsepkan, karena beberapa peradaban yang tampak sama dengan orang-orang Australia dalam cita rasanya terhadap pengetahuan dan renungan. Dan sikap intelektual adakalanya dianggap aneh; ini sama halnya ketika standar kehidupan tertentu diterapkan pada orang-orang yang “belum sempurna” itu. Akan tetapi, sekurang-sekurangnya ada beberapa kesalahan penilaian mengenai mereka: orang liar berbulu kasar dan gemuk, yang perawakan fisiknya menakutkan para birokrat… membuat ketelanjangan mereka tampak sangat tidak sopan… Itu semua merupakan sikap snob, suka mengunggulkan modernisasi dan melecehkan peradaban suku asli… Perumusan teori dan diskusi-diskusi mengenai mereka sebenarnya merupakan kemarahan pada dunia yang tertutup ini dan merupakan pengaruh dari gaya berbusana, sering kali yang bersifat adibusana.9

Dalam penilaiannya mengenai masyarakat yang bertahan hidup dengan berburu, mengumpulkan makanan, dan bertani, Sahlins mencapai sebuah kesimpulan yang mengejutkan: dibandingkan dengan budaya dunia saat ini, di dalam budaya paleolitik (zaman batu tua) dan neolitik (zaman batu muda) tidak banyak terjadi kelaparan, baik kelaparan secara proposional maupun secara absolut:

Dalam zaman batu tua, jumlah penduduk dunia yang kelaparan ternyata jauh lebih sedikit. Hal ini merupakan yang pertama kali bagi dunia. Dan, kini, pada saat teknologi menjadi sangat berkuasa, kelaparan justru telah melembaga.10

Bagi Sahlins, tidak hanya kelaparan yang diproduksi secara sosial, tetapi juga terutama kemiskinan. Ironisnya, semua itu diproduksi melalui proses pembangunan ekonomi. Kemiskinan, menurut dia, merupakan keadaan relatif di antara manusia. Meskipun “orang-orang yang paling primitif hanya memiliki sedikit harta… tetapi mereka tidak miskin“. Evolusi struktur sosial dan teknologi, atau biasa kita sebut sebagai pembangunan, adalah “seperti sebuah jalan mistik tempat para pejalan menjejakkan langkah-langkah sosial dan teknologi menuju cita-citanya.”11d)

Bagaimanakah konsepsi tentang organisasi sosial ini, yang kebanyakan umat manusia tidak mengetahuinya namun hidup cukup baik (dan kadang-kadang lebih baik) meski tanpa mengetahuinya? Dan bagimanakah konsepsi itu terjadi, dalam waktu tidak kurang dari empat abad, tidak sekadar keinginan universal tetapi juga kadang-kadang dianggap sebagai sesuatu yang tidak dapat dihentikan oleh hampir semua kekuatan manusia super dari organisasi dan penguasa dunia? Apakah inti dari evolusi ini yang membedakan masyarakat modern dari masyarakat yang lain?

Menurut Rostow, faktor yang menentukan adalah masa keemasan revolusi ilmu pengetahuan pada abad ke-17 dan ke-18, yang mengajari kita bahwa alam dapat diubah secara sistematis dan terus-menerus demi keuntungan umat manusia.12 Sementara tesis Max Weber yang menjelaskan bahwa Protestanisme sangat berperan dalam kapitalisme agaknya kurang dipercaya. Namun dasar pemikirannya yang menjelaskan bahwa alam berubah karena adanya penggunaan akal dan rasionalitas di masyarakat modern memang benar adanya: “rasionalisme Konfusian bermakna penyesuaian diri yang rasional terhadap dunia, sedangkan rasionalisme puritan bermakna keunggulan rasional atas dunia.”13 Antropolog Prancis, Louis Dumont, menggambarkan landasan “ideologi modern” terwujud ketika hubungan antara manusia dan barang mencapai masa kejayaannya, sementara keutamaan hubungan antarmanusia merosot drastis.14

Jawaban pokok terhadap pertanyaan bagaimana kita bisa sampai pada tahapan evolusi seperti sekarang ini ternyata justru membawa kita kembali ke tahun 1619: pada saat pertama kalinya budak-budak dibawa ke Virginia, sementara orang-orang puritan Inggris — yang dibuang ke Belanda — sedang mempersiapkan perjalanan mereka ke Dunia Baru. Pada bulan April tahun 1619, orang-orang buangan asing lainnya tiba di daerah yang berdataran rendah itu. Seorang prajurit upahan Prancis berusia 23 tahun yang digaji oleh Pangeran Nassau sedang berada dalam perjalanan enam bulan melalui Eropa Tengah sebagai anggota pasukan yang dimobilisasikan pada pecahnya “perang selama 30 tahun”. Pada tanggal 10 November 1619, dalam sebuah kamar hotel di kota kecil Bavarian, Ulm, dia mengembangkan sebuah pandangan yang membangkitkan dunia.15

Metafisika Modernitas

Sekarang kita bertanya apakah kita telah sampai pada filosofi tentang dunia modern, dan kita memulainya dengan Descartes… dalam hal ini, mungkin kita mirip seorang pelaut yang nyaris mencapai pantai setelah melewati pelayaran panjang yang penuh badai, dan berteriak: “Daratan!”16

— Hegel

Bagi Rene Descartes muda, mimpi itu terasa sangat mengganggu dan misterius: seseorang memberinya sebuah melon yang bentuknya aneh dan eksotik, yang berasal dari daerah lain; dia sedang dikelilingi kilat dan halilintar; dan sedang mencoba untuk menemukan sebuah syair bagi orang asing (pemberi melon) itu pada sebuah buku yang ada di hadapannya yang hilang dan muncul lagi.17 Prajurit itu ternyata juga ahli matematika dan seorang filsuf, dan dia sedang berjuang dengan suatu program untuk merevisi tidak lain kecuali bagaimana pengetahuan manusia itu dilahirkan dan dipakai. Delapan belas tahun kemudian, dalam Discourse on Method, dia merumuskan objek pokok dari visinya: “Sepanjang hari saya berdiam diri di kamar yang perapiannya cukup menghangatkan kamar.”18 Dia mengenang hari itu di Ulm; tujuannya adalah, “Untuk mencari metode yang benar dalam mencapai pengetahuan mengenai segala sesuatu yang mampu terpahami oleh otak saya.”19

Metode Descartes merupakan esensi dari kesederhanaan: meragukan segala sesuatu kecuali apa yang hadir dengan sendirinya pada pikiran secara langsung dan jelas, merumuskan masalah sebanyak mungkin, merekonstruksikan seluruh masalah itu selangkah demi selangkah, melakukan proses induktif, dan menyebutkan satu demi satu serta mencatat segalanya.20 Manusia dapat menguraikan empat langkah sekaligus: abstraksi, analisa, sintesa, dan kontrol.21

Tujuannya, tulis Descartes, tidak sekadar pengetahuan, tetapi juga kekuasaan dan kemakmuran — “suatu filsafat praktis (sains)” yang akan membuat umat manusia menjadi “peguasa (tuan) dan pemilik alam” melalui “penemuan beraneka alat yang membuat kita dapat menikmati buah-buahan dan berbagai komoditas lain “dengan lebih mudah”, serta “memelihara kesehatan yang memang paling berharga bagi kita.”22

Keakraban pesan-pesannya yang terkenal ini tidak akan mengecilkan keberaniannya: Descartes menjanjikan kita tidak hanya mengenai penemuan dan alat-alat baru untuk menguasai dan memiliki alam, tetapi juga penguasaan sebenar-benarnya terhadap bumi secara keseluruhan — tanpa usaha apa pun.

Pemikirannya mempesona bagi orang-orang pada zamannya, begitu pula para komentator sesudahnya sampai sekarang. Bersama Sir Francis Bacon, Descartes mengusulkan sebuah program baru bagi masyarakat manusia, suatu prinsip pengorganisasian baru dari hubungan sosial, yang disebut Bacon sebagai Kekaisaran Manusia atas Segalanya. Bacon menguraikan implikasi sosial dan politik secara terperinci, sementara Descartes justru menetapkan kerangka epistimologi dan metafisika tentang apa yang kemudian dikenal sebagai proyek modern.23

Langkah awal Descartes menyusun suatu keraguan yang sistematis dan meluas bahkan sampai meragukan tubuhnya sendiri, dan mengakhiri dengan satu “kepastian”, bahwa sesuatu berpikir dan karenanya dia eksis: “Saya berpikir, karena itu saya ada.” Dari kecenderungan ini, dia membuktikan eksistensi Tuhan dan merekontruksi dunia. Dalam Second Meditation dia menyimpulkan bahwa karateristik dunia yang fundamental, pasti, dan tidak dapat dibagi lagi adalah “peluasan”. Dia mencontohkannya dengan gumpalan lilin, yang dapat dicetak, dilelehkan, lalu dibentuk lagi. Dan yang jelas lilin itu selalu menempati tiga dimensi yang membatasi peluasannya dalam ruangan.24 Dalam dunia ini, objek-objek hadir dan hadir kembali pada subjek tertentu yaitu subjek yang berpikir dan aktor yang memainkan aturan-aturan berupa abtraksi, analisa, sintesa, dan kontrol.

Kunci untuk penguasaan peluasan, sesuai dengan metode Descartes, adalah suatu pemikiran matematis. Descartes menciptakan, seperti yang kita ingat, geometri analitis, representasi dari fungsi-fungsi aljabar yang diwujudkan melalui metode-metode geometrik.e) Kebenaran bukan hanya suatu kepastian, ia berakar dalam subjek, dan ia juga cara yang benar: “Seorang anak yang sudah belajar aritmetika, ketika menjumlahkan bilangan sesuai dengan kaidah-kaidahnya, dapat menjadi yakin bahwa dia telah menemukan hasilnya. Dan hasil yang ditemukannya juga bisa dicapai oleh orang lain.”25

Visi Descartes adalah kesatuan, universal, dan kemutlakan: “Saya mungkin tidak akan tampak terlalu sia-sia, jika Anda mempertimbangkan bahwa hanya ada satu kebenaran pada tiap-tiap persoalan. Dan siapa pun yang menemukan kebenarannya berarti ia mengetahui segala sesuatu mengenai persoalan itu.”26 Hanya ada satu jawaban untuk setiap persoalan yang ada.

Pendekatan Cartesian merupakan sesuatu yang hampir-hampir seluruhnya baru: suatu pandangan “asing” mengenai dunia di tahun 1637. Dan janjinya tentang kekuatan yang mengagumkan ternyata mensyaratkan perilaku Faustian — suatu sikap “pengingkaran terhadap alam”, sebuah dunia yang direduksi sekadar sebagai ruang geometrik dan ditempati objek-objek yang diperuntukkan bagi subjek yang mampu berpikir dan berhitung.27 Tidak ada lagi tempat yang dapat lebih ringkas menggambarkan segala kecongkakan terhadap alam itu selain prasasti “Donnez-moi de la matiere et du mouvement, je ferai un monde” (Berilah aku materi dan gerak, maka akan kuciptakan dunia) yang mendahului salah satu dari sumbangan-sumbangan Descartes pada fisika.28 Akan tetapi, rumusan itu sekaligus merupakan suatu formula bagi perusakan bumi, yang sayangnya tetap dilanjutkan.

Menjelang pertengahan abad ke-20, banyak unsur pendekatan Cartesian ditanamkan pada tataran terdalam, hampir pada tataran yang tidak disadari sebagai asumsi-asumsi mendasar yang membentuk suatu budaya global dalam pengambilan keputusan di birokrasi dan institusi-institusi modern. Dalam budaya birokratis global, dunia ini tampak seperti peluasan ruang, sedangkan beragam ekosistem dan masyarakat manusia di bumi hanya diabstraksikan sebagai ruang yang menunggu perencanaan, masukan, dan infrastruktur, untuk disusun kembali sesuka hati sesuai dengan keadaan dan perhitungan. Ini adalah budaya yang cenderung mengasumsikan hanya ada satu jawaban untuk setiap persoalan. Lebih dari itu, zaman kita sekarang ini telah mengubah hampir setiap masyarakat di dunia menjadi sebuah sistem dengan satu tujuan global — pemilikan alam, pendudukan atas bumi dengan ketidakterbatasan penemuan untuk mengubah alam menjadi sumber komoditas.

Pemikiran Descartes menghantui secara khusus birokrasi pembangunan internasional seperti Bank Dunia. Tidak ada penggambaran yang lebih baik mengenai hal itu daripada yang ditampilkan dalam sebuah film televisi Inggris mengenai nasib Amazon, The Decade of Destruction. Pada salah satu adegan film itu, ilmuwan Brasil dan aktivis lingkungan, Jose Lutzenberger, sedang mendiskusikan peta-peta dengan seorang pekerja badan kolonisasi pemerintahan federal Brasil, INCRA. Peta-peta INCRA disiapkan dengan bantuan Bank Dunia di pertengahan tahun 1980-an. Peta-peta itu membagi areal yang sangat luas dari hutan hujan Amazon di negara bagian Rondonia (seluas wilayah negara bagian Oregon atau Inggris Raya) ke dalam empat persegi panjang kecil, berkisi-kisi geometrik dan sempurna yang dihubungkan dengan garis-garis lurus yang paralel. Garis itu berupa jalan penghubung ke jalan nasional yang dibangun dengan bantuan Bank Dunia. Setiap empat persegi panjang kecil mewakili sebidang tanah yang akan dimiliki transmigran.

Lutzenberger marah. Tidakkah mereka melihat itu sebagai sebuah cara gila dalam membagi tanah? Tidakkah pembagian Cartesian yang simetris dan sempurna secara geometrik pada tanah hibah itu mengabaikan topografi, kesuburan, dan akses terhadap air? Dan tampaknya rencana itu dibuat oleh seseorang yang duduk sendirian di sebuah ruangan di Brasiliaf) atau Washington, atau bahkan oleh seorang ahli matematika Prancis di Belanda pada abad ke-17.g) Foto satelit NASA memperlihatkan demikian luas perusakan hutan di Brasil, suatu pola penghancuran lingkungan yang mengerikan. Penghancuran lingkungan itu terus meluas dan meningkat tiap tahun mirip proyeksi geometrik yang dihasilkan komputer.

Ketika Manusia Menjadi Kaisar atas Segalanya

Seperti dinyatakan Francis Bacon dengan sangat jitu, “…dalam drama kehidupan manusia ini, hidup ini dipersembahkan hanya untuk Tuhan dan malaikat-malaikat guna menjadi orang yang baik.” Kami di Bank Dunia ditakdirkan bukan untuk menjadi penonton.29

— Barber Conable, 1988

Dalam sebuah pengertian yang mungkin tidak mencerminkan makna sebenarnya, tampaknya cocok jika Barber Conable mengutip Sir Francis Bacon. Sebab, jika Descartes adalah ahli metafisika modernitas, maka Bacon adalah nabinya teknokrasi. Pada tahun 1620, setahun sesudah Descartes mengemukakan pandangannya di Ulm, Bacon mempublikasikan The Great Instauration. Karya ini tidak lebih dari sebuah program besar untuk mereformasi pengetahuan manusia, “untuk meletakkan dasar bagi kegunaan dan kekuasaan umat manusia”,30 sebuah usaha yang sudah dia mulai pada The Advancement of Learning, yang diterbitkan 15 tahun sebelumnya. Proyek Bacon pada umumnya banyak menunjang proyek Descartes — sebuah keinginan untuk menilai kembali semua pelajaran sebelumnya, sebuah penekanan pada metode dan induksi, dan sebuah pandangan besar mengenai dominasi terhadap alam, serta segala persoalan manusia, dengan menerapkan “filsafat baru” ini.

Di dalam tulisan-tulisan Bacon, orang dapat menemukan banyak implikasi sosiologis modernitas yang menjadi kenyataan beberapa abad kemudian. Bisa dikatakan, dia membayangkan peran kritis daya nalar dalam suatu dunia yang secara rasional diarahkan pada penaklukan dan pemanfaatan alam: “Tidak hanya tangan tetapi juga pemahaman (baca: otak) bisa berpengaruh besar bagi perubahan dunia. Dengan alat bantu tertentu suatu pekerjaan dapat dilakukan, yang sebelumnya selalu dikerjakan dengan tangan telanjang.”31 Akan tetapi, Bacon mengeluh, alat bantu tersebut masih kurang memadai karena kelaziman deduktif, pemikiran Scholastic, yang telah “sedikit sukses” mempelajari alam dan menemukan karya-karya baru.32

Dalam bagian kedua The Great Instauration, Navum Organum, dia meletakkan, “tahapan-tahapan kemajuan yang pasti”,33 suatu doktrin yang memperhatikan penggunaan akal manusia dengan cara yang lebih baik dan lebih sempurna dalam memuaskan rasa ingin tahunya, dan segala pertolongannya dalam memahami sesuatu.34h) Metode baru itu akan menganalisa pengalaman dan memanfaatkannya, serta melalui proses pengecualian dan penolakan mengarahkannya pada suatu kesimpulan yang tidak dapat dibantah.”35 Tujuannya bukan untuk memenangi perdebatan dengan para akademisi, melainkan “untuk mengendalikan alam dengan tindakan tertentu.”36i)

Dia yakin, “hanya dengan pembagian kerja dan spesialisasi, orang akan mengetahui kekuatan dirinya. Ketika sebagian besar orang mengerjakan hal yang sama digantikan dengan satu orang yang mengerjakan satu jenis pekerjaan saja, maka tiap-tiap orang akan mengambil beban (baca: tanggung jawab) atas satu hal.”37 Perumpamaan Bacon yang paling membuka pikiran bagi peran daya nalar yang baru ini dapat ditemukan pada buku ke-2 dari Anvancement of Learning: Dalam buku itu, dia membandingkan ketiadaan pemikiran yang logis dan metode ilmiah pada zamannya dengan ketiadaan “uang tunai”. Menurut dia, “seperti uang yang mampu membeli komoditas, demikian juga pengetahuan inilah yang seharusnya memenuhi kebutuhan lainnya.”38

Jadi, dalam zaman modern, menurut Bacon, “pengetahuan dan kekuasaan bertemu dalam satu wadah”,39 dan karena alam hanya dapat takluk dengan cara ditundukkan, “maka kebenaran sama artinya dengan kegunaan”.40

Beberapa kritik terhadap pembangunan kontemporer, seperti yang dilontarkan Jatinder K. Bajaj, India, telah menekankan bahwa pandangan Bacon tentang modernitas adalah pandangan mengenai dominasi manusia terhadap sesamanya dan alam.41 Menjelang bagian akhir Novum Organum, Bacon menyatakan, “Metodenya mencakup segalanya. Sebab, saya membentuk sebuah sejarah dan tabel penemuan mengenai kemarahan, rasa takut, rasa malu, dan sebagainya; mengenai masalah-masalah politik; dan mengenai operasi memori… kebijakan, dan sebagainya. Tidak ketinggalan juga mengenai panas dan dingin, cahaya, atau tumbuh-tumbuhan, dan sebagainya.”42

Menurut Bajaj, tampak jelas rencana Bacon adalah penaklukan dan dominasi terhadap dunia non-Barat.43 Dan sesungguhnya, kesimpulan paling akhir dari Novum Organum mendesak pembaca untuk “hanya mempertimbangkan bahwa suatu perbedaan terdapat antara kehidupan manusia di Eropa ‘yang beradab’ dan kehidupan yang sangat liar di bagian India baru”. Pembaca akan merasakan kenyataan itu menjadi alasan yang cukup mulia untuk membenarkan ungkapan bahwa “manusia adalah tuhan bagi manusia lainnya”. Ini telah mulai membuat beberapa orang menjadi tuhan bagi orang lainnya. Bacon menyimpulkan, semua itu hanya bisa diwujudkan dengan seni penemuan, yaitu teknologi.44

Akhirnya, dalam pandangan utopian Bacon tentang masa depan, teknologi dan akses penuh untuk memperoleh informasi berada dalam genggaman segelintir orang, yaitu mereka yang hanya bertanggung jawab kepada negara.45

Dalam New Atlantis dia menggambarkan sebuah kerajaan khayalan yang dipimpin dengan penuh kebaikan tetapi oleh raja-raja filsuf yang sewenang-wenang. Hampir semua penduduk kerajaan dilarang mempunyai akses ke dunia luar. Hanya sedikit di antaranya, yaitu elite teknokratik yang suka berahasia, yang disebut “Pengikut Istana Sulaiman”, sebentar-bentar ke luar negeri untuk mendapatkan pengetahuan mengenai masalah dan keadaan negara tersebut… dan khususnya mengenai ilmu pengetahuan, seni, pabrik, dan berbagai penemuan dari seluruh dunia serta membawa kembali bermacam-macam buku, alat atau perkakas, dan sistem kerja.46

Tujuan yang diumumkan oleh Pengikut Istana Sulaiman, di samping pengetahuan, adalah “peluasan batas Kerajaan Manusia, untuk mengefektifkan segala sesuatunya”.47 Yang lebih utama lagi, di sana terdapat hierarki yang ketat dan etos untuk selalu menjaga rahasia, bahkan terhadap sesuatu yang menyangkut negara. Dan semua itu dilakukan demi pengabdian:

Kami mempunyai orang baru dan karyawan magang… di samping sejumlah besar pegawai serta pembantu, laki-laki dan perempuan. Dan kami juga mempunyai konsultan-konsultan, tempat penemuan-penemuan. Selain itu, kami memilah-milah pengalaman-pengalaman yang akan dipublikasikan dan tidak akan dipublikasikan. Tempat mengambil sumpah kerahasian, untuk merahasiakan semua hal tersebut pun kami bangun: meskipun beberapa di antaranya dilakukan dengan sepengetahuan negara, tetapi kadang-kadang tanpa sepengetahuan negara.48

Barangkali penulis-penulis pidato presiden Bank Dunia memang sudah berpikir dua kali sebelum menyebut Bacon sebagai roh pembimbing di dalam pidato tahunan Barber Conable. Dan itu dilakukan, seperti dikutip di atas, untuk kemajuan Bank Dunia. Di tahun 1618, Bacon ditempatkan pada kantor resmi yang tinggi di Inggris, Lord Chancellor. Di kantor itu, dia secara personal mengawasi penyiksaan para narapidana (ketika praktiknya bersifat ilegal, dan selama satu generasi secara umum dianggap salah di Inggris), melakukan monopoli untuk memberikan hadiah kepada pengadilan, menerima suap dan hadiah dari calon penuntut, dan menyogok pengadilan dan hakim.49 Pada tahun 1621, dia didakwa melakukan korupsi oleh Parlemen Inggris. Dia dinyatakan bersalah, dan diusir dari London, serta untuk selamanya dipecat dari pekerjaan dan didenda 40.000 poundsterling, jumlah yang sangat besar pada saat itu.

Jadi, orang perlu melihat sekilas kehidupan Bacon untuk melihat bahwa filsafat barunya, yang menyamakan pengetahuan dengan kegunaan dan kekuasaan, mempunyai potensi yang hebat sekali bagi kejahatan politik, demikian pula pemulihannya.

Menurut ahli sejarah terkemuka abad ke-19, Thomas Macaulay:

Secara intelektual, dia lebih layak daripada cendekiawan Inggris lain untuk bekerja meningkatkan lembaganya. Akan tetapi, sayangnya, kita melihat dia tidak keberatan untuk menggunakan kekuasaan yang besar bagi tujuan memperkenalkan praktik-praktik korupsi terbaru kepada institusi-institusi tersebut.50

Modernitas, Pembangunan, dan Teknologi

Secara kronologi, ilmu fisika modern dimulai sejak abad ke-17. Secara kontras, teknologi mesin berkembang hanya dalam paro kedua abad ke-19. Akan tetapi jika dilihat dari sudut pandang penguasaan hal-hal esensi yang menyokongnya, teknologi modern, yang meskipun hitungan kronologinya lebih akhir, ternyata lahir lebih dulu secara historis.51

— Heidegger, “The Question Concerning Technology

Pandangan umum mengenai asal mula pembangunan ekonomi modern sebenarya telah dirumuskan oleh Walt Rostow dengan sangat meyakinkan dalam How It All Began: Origins of the Modern Economy. Dalam buku itu, diidentifikasikan revolusi ilmu pengetahuan pada abad ke-17 dan ke-18 sebagai awal evolusi perkembangan teknologi dan ekonomi. Tambahan pula, separo terakhir abad ke-17 merupakan sebuah periode penemuan ilmiah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pada saat itulah Isaac Newton menciptakan karya terbaiknya, yang menjadi parameter ilmu pengetahuan Barat selama dua tahun berikutnya. Karena sejumlah sarjana berkepentingan dalam perkembangan ilmu alam, mereka mulai bertemu dan berkorespodensi.

Pada tahun 1660-an baik British Royal Society maupun French Academy of Sciences telah terbentuk. Lembaga-lembaga yang didanai negara untuk meningkatkan pengembangan ekonomi juga tumbuh subur: bank sentral nasional yang pertama, Bank Inggris, pun didirikan pada tahun 1694.

Meskipun demikian, sebuah argumen yang kuat dapat dibuat, bahwa pembangunan teknologi dan ekonomi bukanlah “anak” (adakalanya dianggap sebagai “pesuruh”) ilmu pengetahuan modern, tetapi justru sebaliknyaj) Yang mempercepat kemajuan, dalam kenyataanya, adalah teknologi. Dan teknologi berorientasi ekonomi adalah pendorong langsung evolusi ilmu pengetahuan di Barat. Ilmu pengetahuan adalah hasil sampingan dari teknologi. Di sisi lain dinyatakan, proyek sejarah yang asli dan dominan bukanlah pengetahuan, melainkan penguasaan alam dan umat manusia.

Belanda pada awal abad ke-17, tempat Descartes menghabiskan bertahun-tahun masa pembuangannya, adalah sebuah contoh kasus yang abadi. Pemandangan yang dijumpai Descartes sedang mengalami perubahan, tepat di hadapan matanya, dengan dibangunnya proyek-proyek irigasi dan reklamasi tanah yang ambisius. Di mana-mana orang dapat menemukan tanggul, pintu air, selokan, dan kincir angin. Menjelang tahun 1640, 26 danau periode pertama telah dipompa dan direklamasi di utara semenanjung Amsterdam.52 Bahkan, sekarang pemandangan Belanda — sebuah daratan datar yang diperluas dengan sempurna, dimodifikasi, dan diciptakan melalui campur tangan manusia — adalah inspirasi yang sempurna bagi pendekatan Cartesian dalam memandang alam. Dalam kata-kata Clarence Glacken, k) “Seseorang dapat menulis sebuah esai yang memberikan kejelasan mengenai pengaruh ahli mesin hidraulik Belanda dalam menafsirkan pengubahan tanah oleh tangan-tangan manusia.”53

Bacon menyatakan, inspirasi program itu untuk pengetahuan dan penyelidikan manusia telah menjadi kemajuan praktis dan teknologis yang besar pada saat itu:

Baik kiranya untuk diteliti kekuatan dan kebijakan serta konsekuensi penemuan-penemuan ilmiah. Dan semua itu terlihat lebih mencolok daripada tiga penemuan yang dikenal pada masa kuno… yaitu percetakan, bubuk mesiu, dan magnet… Tidak kerajaan, tidak pula bintang tampak telah menggunakan kekuasaan dan pengaruh yang lebih besar dalam pelbagai persoalan manusia dibandingkan dengan penemuan-penemuan teknologi ini.54

Namun, indikator kritis dari keinginan untuk berkuasa yang mendasari kelahiran modernitas adalah pertumbuhan menarik ilmu-ilmu gaib di abad ke-17 — kimia, sihir, dan guna-guna. C.S. Lewis, dalam sebuah esai yang bagus sekali mengenai risiko sosial dan politik teknologi, The Abolition of Man, mengemukakan tesis bahwa kelahiran ilmu pengetahuan dan era modern sering disalahtafsirkan, khususnya oleh orang-orang yang mengklaim bahwa sihir dan klenik merupakan sisa-sisa abad pertengahan yang disapu bersih oleh Pencerahan:

Orang-orang yang mempelajari periode itu telah memahami dengan lebih baik. Terdapat sedikit sihir di Abad Pertengahan, tetapi abad ke-16 dan ke-17 adalah masa terang-benderang sihir. Usaha sihir yang serius dan usaha ilmiah yang serius sama-sama berkembang: Keduanya lahir dari rangsangan yang sama… Karena sihir dan ilmu pengetahuan yang diterapkan adalah sama, maka masalahnya adalah bagaimana untuk menundukkan kenyataan bagi harapan-harapan manusia. Dan, solusinya adalah teknologi.55

Tidak ada orang yang dapat memadukan antara ilmu pengetahuan, sihir, dan modernitas seperti yang dilakukan Sir Isaac Newton.

“Jangan Disebarluaskan, Sebab Bisa Menghancurkan Dunia”

Hari itu 14 Juli 1936; bertempat di Sotheby, London, sebuah acara lelang tahunan dilangsungkan. Yang dijual adalah ribuan halaman tulisan tangan Sir Isaac Newton yang baru ditemukan kembali, hasil penelitian dan pemikiran Newton pada akhir abad ke-17 yang diselesaikan lebih seperempat abad lamanya. Hanya ada tiga pembeli, dan yang paling antusias adalah John Maynard Keynes.56 Keynes pada akhirnya memperoleh hampir separo naskah-naskah tersebut, yang kemudian diwariskannya kepada Kings College, Cambridge, saat dia meninggal dunia.

Ketika membaca manuskrip tersebut Keynes dan banyak yang lainnya terkejut. Dalam lembaran naskah itu tertulis, pendewaan ilmu pengetahuan masa Pencerahan telah menghabiskan sebagian besar hidup Isaac Newton yang terobsesi pada sihir dan klenik.57 Newton bukan hanya meninggalkan 650.000 kata-kata berkaitan dengan kimia dan hal-hal yang berkait yang lain, melainkan juga mereferensikan risalah rahasia.58

Setelah membaca dengan seksama naskah-naskah tersebut, Keynes mencapai kesimpulan yang mengejutkan: “Newton bukan seorang rasionalis, seorang yang diduga berpikir pada garis pemikiran yang kaku dan tidak larut, tetapi agaknya seorang ahli kimia sekaligus ahli mengenai sihir”. Jadi, menurut Keynes, bohong jika Newton dianggap sebagai ilmuwan modern terbesar, karena Newton telah berpikir mengenai dirinya sendiri sebagai ahli waris suatu “persaudaraan esoterik” yang berkaitan dengan “naskah-naskah dan tradisi-tradisi yang diwariskan oleh orang satu persaudaraan dalam suatu rantai yang tidak putus, yang kembali kepada wahyu yang samar dan asli di Babylonia.” Seperti ratusan halaman manuskrip yang tidak dipublikasikan yang tetap bertahan hidup untuk memberi kesaksian.

Newton sedang mencari batu filsuf, Elixir of Life yaitu semacam obat mujarab untuk mengobati segala macam penyakit, dan untuk mengubah logam dasar menjadi emas. Dia, juga seorang ahli mengenai sihir yang percaya bahwa dengan mengonsentrasikan pikiran kepada tokoh-tokoh pertapa tradisional dan kitab-kitab lama, dapat menemukan rahasia alam dan segala peristiwa di masa datang. Hanya dengan permainan akal pada beberapa fakta yang berasal dari pengamatan, dia telah membuka selubung rahasia surga.59

Namun Newton bukan pengecualian pada zamannya. Dia berkoresponden secara luas mengenai kimia dengan seorang penasihat yang lebih tua, Robert Boyle, yang dikenal sebagai salah seorang perintis kimia modern dan pembuat formulasi hukum-hukum yang berkaitan dengan sifat gas. Boyle mempublikasikan risalah kimiawi dan sihir yang terkenal, memuat 1.676 manteral) yang diklaimnya telah menemukan “batu filsuf” yang sering digembar-gemborkan saat itu, menemukan tujuan dari penyelidikan yang ketat, yang memungkinkan pengubahan timah menjadi emas.60

Newton sangat tertarik pada penemuan nyata Boyle. Dalam sebuah surat kepada kenalannya itu, dia mengingatkan agar pengetahuan magis tersebut “jangan disebarluaskan karena bisa menghancurkan dunia ini.”61 John Locke juga sangat tertarik kepada magis dan kimia, dan sebagian korespodensi Newton dengan Locke selama 14 tahun (1690 sampai 1704) mengungkapkan obsesi mengenai subjek yang mereka teliti. Pada kenyataannya, Boyle menyumbangkan resep dan formula kimia kepada Newton dan Locke, dan menyusul kematian Boyle pada tahun 1691 mereka saling bertukar mantera dan prosedur yang dibuat ahli-ahli kimia tua, dengan sebuah harapan untuk bersama-sama mengumpulkan sepotong demi sepotong rahasia pokok kehidupan.62

Yang paling membuka pikiran dari semuanya adalah kemajuan dari perjalanan panjang Newton ke dalam bidang magis. Jadi, keliru jika kita menduga dia menyelidiki kimia dengan semangat penyelidikan ilmiah, dan melakukanya secara trial and error pada objek yang lebih rasional, yang secara empiris menjadi akar permulaan kimia modern. Akan tetapi lebih benar disimpulkan — seperti dicatat oleh salah seorang penulis biografinya — “dia telah memulai dengan ilmu kimia seadanya, dan menghentikannya agak cepat untuk kemudian melakukan apa yang dia sebut sebagai pendalaman kimia yang besar.”63

Tidak salah jika seseorang setuju pada tesis C.S. Lewis, bahwa apa yang terjadi pada abad ke-17 di Barat sebenarnya adalah kemunculan sebuah kehendak untuk berkuasa yang baru pertama kali terjadi, sebuah kehendak untuk mengontrol dan mendominasi semua aspek kehidupan nyata. Kebangkitan kembali ilmu kimia pada akhir abad ke-17 telah menerangkan jalan budaya dan sosial yang melahirkan kembarannya: ilmu pengetahuan alam modern. Penyelidikan yang ketat meliputi beberapa tingkatan: pencarian kebenaran dan wawasan spiritual pada sifat dasar materi, pencarian jejak kekuatan magis pada alam, investigasi teknik untuk mendapatkan kunci pengubah materi demi kemanusiaan. Sementara itu, pembuatan “batu filsuf”, yang menyatukan spiritual dan teknik, merupakan pencapaian gemilang. Formula yang sukses itu diduga melibatkan sebuah proses penyulingan dan penggabungan antara merkuri dan sulfur — di kemudian hari dipercaya sebagai hukum dasar bagi semua logam. Jika sudah ditemukan, “batu filsuf” akan mampu mengubah logam biasa menjadi emas. Dalam ilmu kimia, pengetahuan tentang alam akan memberi kita kemampuan untuk mengubahnya. Dan, yang paling penting, kita juga menjadi mampu menciptakan sesuatu yang sangat penting bagi kesejahteraan ekonomi, yaitu emas.

Kenyataannya, seseorang dapat mengatakan bahwa kimia dan proses pertumbuhan ekonomi modern begitu banyak memiliki kesamaan tujuan.m) Dengan sudut pandang ini, karier terakhir Newton sungguh menarik perhatian kita. Pada tahun 1696, Newton beralih dari bidang kimia ke bidang keuangan: dia menjadi pengawas pada Lembaga Percetakan Uang. Pengalamannya di bidang kimia sangat membantunya dalam menganalisa dan menguji seberapa besar proporsi emas dan perak untuk membuat uang logam kerajaan yang layak.n) Pada Lembaga Percetakan Uang itu, Newton menulis sejumlah percobaan mengenai uang. Dia bertanggung jawab atas penciptaan standar emas, melebihi siapa pun. Menurut penulis biografi Frank Manuel, “tanggung jawab itu niscaya akan seawet usia sistem ilmu pengetahuan universal yang dikembangkannya.”64

Kesempurnaan “Ide Universal”

Perubahan pada ide universal, yang kini sedang berusaha keras disempurnakan, pada hakikatnya telah dimulai oleh Bacon. Dalam karya-karya Bacon, ide universal sepenuhnya bersifat filosofis. Descartes lalu memberinya bentuk ilmiah. Sementara Lock dan Newton menbangun pengertian-pengertian yang memberinya bentuk ilmiah permanen. Keadaan dan situasinya saat itu memang cocok bagi pengorganisasian sistem yang baru.65

— Claude-Henri Santa-Simon, 1808.

Di sebuah rumah mewah di dekat pusat keramaian Washington, D.C., kurang satu mil dari kantor Bank Dunia, bermarkas salah satu kelab sangat ekslusif: Masyarakat Cincinnati. Masyarakat Cincinnati dibentuk setelah Perang Revolusioner, dan merupakan satu-satunya institusi di Amerika Serikat yang berdasarkan pada primogeniture, semacam hak yang dimiliki oleh generasi pertama yang menetap di kota itu. Anggota-anggotanya (baik yang almarhum maupun yang masih hidup) terbatas pada pejabat-pejabat yang ikut bertempur dalam Perang Kemerdekaan Amerika, dan ditambah anak perempuan tertua dari tiap-tiap generasi.

Para staf Bank Dunia dan lembaga donor internasional lainnya mungkin berpikir bahwa Masyarakat Cincinnati adalah salah satu intitusi di bumi yang paling jarang berhubungan dengan mereka. Apalagi jika mereka melihat isi museum lembaga itu. Museum itu berisikan antara lain bendera peperangan abad ke-18, barang-barang kuno yang sudah lapuk dan langka, koleksi mahal serdadu mainan yang diperoleh dari anggota, beberapa di antaranya tampak lebih berkaitan dengan hobi seorang anak kecil.

Akan tetapi dalam hal tertentu, penilaian itu menjadi keliru. Sebab, salah seorang anggota Masyarakat Cincinnati, seorang yang paling diagungkan di lembaga itu, adalah godfather intelektual dan spiritual pembangunan modern. Dia lebih dikenal dalam kapitalisme-keuangan modern serta sosialisme.66 Sang godfather itu bernama Santa-Simon.

Dalam hidupnya yang penuh petualangan surealistik, bangsawan Prancis Claude-Henri de Saint-Simon, pada usia 19 tahun, turut bertempur dalam Perang Kemerdekaan Amerika. Beberapa tahun sesudahnya, dia “diasingkan” di rumah sakit gila yang dulu disebut the Marquis de Sade.67 Pengalaman Henri Saint-Simon di Amerika pada saat-saat awalnya mengilhami misi hidupnya — untuk bekerja bagi kemajuan umat manusia.68 Bagi dia, bahan baku, sistem produksi industri, dan teknologi menjadi sebagian cara untuk menyempurnakan kemajuan ini. Dan, lagi pula, bagi Santa-Simon semua itu sejalan dengannya. Akan tetapi prasyarat bagi terciptanya kekuatan teknologi dan produksi yang bebas adalah reorganisasi masyarakat secara total.

Santa-Simon melihat dirinya sebagai figur transisi antara pengusung proyek modern Pencerahan abad ke-17, dan apa yang dia harapkan akan menjadi realisasi sosialnya yang konkret pada abad ke-19. Bagi dia, kehendak berkuasa yang melekat dalam diri manusia telah menjadi problem utama bagi masyarakat. Kehendak yang demikian merupakan akar peperangan, kekerasan, kriminal, dan perselisihan. Akan tetapi, kata dia, sejak saat itu hingga masa-masa mendatang… nafsu untuk mendominasi, yang merupakan bawaan pada semua manusia, telah meredam sifat jahatnya. Atau, setidak-tidaknya akan ada suatu zaman ketika nafsu itu tidak lagi menjadi jahat, tetapi sebaliknya, nafsu itu akan menjadi berguna.”69 Maka tatkala Descartes dan Bacon menunjukkan jalan keluarnya, seketika itu pembangunan — yang berwujud tindakan penguasaan terhadap alam — telah berubah arahnya. Pembangunan mulai memanfaatkan perasaan ini (baca: kehendak berkuasa), dan menempatkan alam sekadar sebagai objeknya. Nafsu untuk memerintah manusia pelan-pelan beralih rupa menjadi nafsu untuk mengelola dan menguasai alam semau kita.”70

Santa-Simon dan para pengikutnya berangan-angan tentang sebuah pengorganisasian masyarakat yang dapat menyalurkan sifat agresif manusia ke dalam proyek-proyek pembangunan, dan ke dalam pertumbuhan industri yang tiada putus-putusnya. “Tout pour l’industrie, tout par elle,” begitu kata mereka. Secara bebas, mungkin semboyan itu bisa disepadankan dengan peribahasa yang cukup populer pada tahun 1990-an: “Jika segalanya diabdikan pada pertumbuhan, maka kita pun akan memperoleh segalanya dari pertumbuhan.”

Mereka membayangkan pemerintah sebagai ekonom-ekonom yang dipekerjakan. Politikus-politikus akan digantikan oleh teknokrat, sedangkan pemikiran instrumental digantikan oleh “ilmu pengetahuan tentang produksi.71 Menurut pengikut-pengikutnya,o) kunci untuk transformasi itu berupa pengorganisasian semua aktivitas masyarakat dalam suatu “bank yang terarah dan terpusat”. Bank semacam itu akan membuat perencanaan pokok dan menjadi otorita ekonomi. Bank itu akan “mewakili pemerintah dalam tatanan material,” dan “menjadi penabung dari semua kekayaan, dari keseluruhan dana produksi, dan dari semua instrumen kerja”p) Bank yang bersifat menyatukan itu akan mengatur suatu “sistem perbankan secara keseluruhan”. Selain itu, lembaga-lembaga kredit akan menjadi responsif untuk menata kebutuhan-kebutuhan produksi dalam perekonomian.72 Ahli sejarah Frank Manuel memberi kategori “utopia dari kapital uang”73 pada masyarakat baru itu.

Santa-Simon adalah (meski masih bisa diperdebatkan lagi) perencana pembangunan internasional yang pertama. Setelah Perang Revolusi Amerika berakhir di tahun 1783, bangsawan muda ini pergi ke Meksiko. Di sana dia mencoba, meski akhirnya tidak sukses, membujuk raja muda Spanyol agar menanamkan modalnya pada rencana pembangunan sebuah terusan yang melintasi Isthmus, Panama. Pada tahun 1787 dia muncul di Spanyol, karena tertarik oleh rumor bahwa pemerintah Spanyol siap sedia membangun sebuah terusan yang hebat (pada masa itu) yang akan menghubungkan Madrid ke lautan. Dia mendapat tugas untuk mengonsultasikan proyek itu dengan penasihat keuangan raja Spanyol dan arsitek kepala, serta menyiapkan rencana untuk mengerahkan 6.000 tenaga kerja — di bawah pengarahan Santa-Simon. Akan tetapi Revolusi Prancis bergolak, dan rencana itu pun ditinggalkan.74 Dia mempertahankan Terror, dan cukup berhasil selama menjadi seorang direktorat, mempromosikan proyek untuk kereta api yang melayani perjalanan dari Paris ke Calais, sempat beruntung dalam spekulasi bisnis bisnis real estate, lalu merugi, sesudah itu menikah, bercerai, dan akhirnya menetap di Switzerland pada tahun 1802 dan 1803.

Pada tahun 1803 Santa-Simon mempublikasikan Letters from an Inhabitant of Geneva to His Contemporaries yang sebenarnya ditujukan kepada Napoleon, yang diberi salinan surat itu. (Namun, Napoleon tidak mempedulikan karya itu) Dia meyakinkan bahwa kepausan akan digantikan oleh “Dewan Newton Tertinggi”, beranggotakan 21 ilmuwan dan seniman berbakat. Dewan itulah yang akan memerintah dunia dan mengambil alih otoritas moral yang digenggam gereja. Masyarakat menjadi tak lebih dari “sebuah bengkel kerja” yang kegiatannya dipandu oleh dewan tersebut.75

Dalam karya ini, juga karya-karyanya yang kemudian, Santa-Simon mendukung unifikasi bangsa Eropa. Dia juga menyokong penciptaan sebuah “Masyarakat Baconian” guna lebih jauh memunculkan penyatuan bangsa-bangsa Anglo-Prancis, yang akan menjadi langkah awal dari unifikasi dan sistem industri global.76 Sebagai konsekuensi tesisnya mengenai adanya kehendak berkuasa dalam diri manusia, keseimbangan sosial pada masyarakat baru akan dijamin baik melalui program pembangunan ekonomi internal maupun internasional yang sangat besar:

Tanpa aktivitas eksternal, kesejahteraan internal tidak dapat terwujud. Metode yang paling pasti untuk memelihara perdamaian di konfederasi [Eropa] akan terus-menerus mengarahkan usaha-usahanya ke luar Eropa, dan mengisinya dengan pekerjaan-pekerjaan publik yang besar. Ras Eropa, yang dipandang superior atas ras-ras lainnya, pun ditempatkan di seluruh dunia; lalu dunia dijelajahi dan dijadikan tempat tinggal seperti Eropa. Semua itu dikerjakan oleh perusahaan… yang secara terus-menerus mengikutsertakan aktivitas (orang) Eropa, dan yang selalu memelihara semangat seperti itu.77

“Nasib bangsa-bangsa Afrika dan Asia di bawah agama Newton,” menurut ahli biografi Frank Manuel, “tidak akan pernah menjadi suatu bangsa yang patut ditiru.”78

Kemudian, Santa-Simon mengganti figur Newton dengan Descartes sebagai sang nabi bagi tatanan dunia baru: tatanan dunia industri. Barangkali ini sebuah cerminan patriotisme Gallic yang berkembang selama perang-perang Napoleon dengan Inggris. Dalam karyanya Letters to the Bureau of Longitudes, usaha lain untuk membujuk Napoleon, dia mengusulkan untuk membangun sebuah patung Descartes yang megah di Paris dengan pahatan “Au Fondateur du Systeme du Monde” — Untuk Pembangun Sistem Dunia.79

Santa-Simon meninggal pada tahun 1825. Akan tetapi menjelang awal tahun 1830-an tulisan-tulisannya masih diikuti banyak orang. Dan sebuah jurnal, yaitu Le Globe, yang menjangkau seluruh Eropa pun diterbitkan untuk memaparkan karya-karyanya. Editor Le Globe memuji rencana pembangunan yang sangat besar seperti pembangunan terusan yang melintasi Panama dan Suez, serta penyatuan politik dan ekonomi Eropa dan Timur Dekat, yang dihubungkan dengan sebuah sistem rel kereta api, dan rencana pembangunan terusan yang akan dibiayai oleh bank pembangunan industri yang baru.

Seorang pembaca yang paling keranjingan pada artikel-artikelnya adalah Goethe.80 Meskipun Santa-Simon merupakan penyokong teori-teori ekonomi dari ahli-ahli ekonomi-politik liberal klasik seperti Say dan Adam Smith, sejumlah pengikutnya menyimpulkan bahwa halangan utama untuk mewujudkan utopia teknokratiknya adalah terdapatnya hak milik pribadi dan aturan-aturan warisan. Jadi, pandangannya ini adalah, sebagaimana disebutkan Le Globe pada edisi Februari 1832, suatu neologisme yang paling menentukan bagi zaman modern — sosialisme.81

Pengikut-pengikut Santa-Simon bukan ahli-ahli teori yang bermalas-malasan. Yang paling mengagumkan dari semuanya adalah kisah bagaimana mereka berusaha untuk meletakkan gagasan-gagasan mereka pada tataran praktik — pada beberapa kasus, itu berlangsung sukses. Kasus Barthelemy-Posper Enfantin barangkali yang paling menarik. Dia mengelola Le Globe bersama-sama dengan Santa-Amand Bazrd. Pada tahun 1833, setelah setahun meringkuk di penjara (karena penguasa Prancis takut angin subversif yang ditiupkan para “sosialis” baru ini melalui Le Globe akan sampai pada kalangan buruh urban yang resah), dia pergi ke Mesir.q) Dengan dua orang pengikutnya, keduanya insinyur, dia mencoba membujuk sang sultan, Muhamad Ali, untuk membangun beberapa proyek raksasa — bendungan Sungai Nil, rel kereta api dari Mesir ke Suez, dan (tentu saja) terusan Suez. Sultan menyukai gagasan mengenai bendungan. Lalu Enfantin dan asosiasinya bekerja pada proyek itu sampai tahun 1836. Pendekatan Enfantin lebih mirip pendekatan pekerja Korps Perdamaian yang idealistis daripada pendekatan seorang konsultan Bank Dunia. Dia menolak bekerja demi uang, beserta koleganya memaksa diri untuk tinggal dan makan bersama buruh-buruh pribumi. “Kami tidak seperti insinyur-insinyur Inggris yang meminta jutaan pond,” tulisnya. ”Kita tinggal bersama para buruh. Pembangunan besar ini, sebagai bagian dari alam universal, harus dikerjakan dengan penuh antusiasme dan pengabdian.”82

Namun demam dan penyakit lainnya merebak di kamp pekerja, dan proyek bendungan Sungai Nil harus ditinggalkan. Misi yang bernasib buruk itu meninggalkan bekasnya di sebuah daerah yang saat ini disebut “gedung institusi”. Sebagian penganut Santa-Simonian menetap di Mesir untuk membangun jalan raya, mendirikan sekolah politeknik di Kairo, mengepalai sekolah artileri, dan memimpin sekolah kedokteran.83

Memang, penganut-penganut Santa-Simonian banyak yang insiyur, lulusan Politeknik Ecole di Paris, ahli kimia, ahli geologi, dan ahli keuangan. Dalam sejarah pembangunan Eropa, pengaruh mereka sangat kuat, khususnya yang berkaitan dengan kereta api dan perbankan. Emile dan Isaac Pereire, keduanya penganut Santa-Simonian, membangun jalan kereta api yang pertama di Prancis (dari Paris sampai Santa-Germain pada tahun 1835). Bersama para bankir dan insinyur Simonian lainnya, mereka mendukung dan membiayai pembangunan jalan kereta api selama kekaisaran kedua di Swiss, Italia, Spanyol, Hongaria, Austria, dan Rusia. Pereire bersaudara membangun bank pembangunan industri modern pertama, The Credit Mobilier, pada tahun 1852, yang menurut pakar ekonomi Frederick Hayek merupakan perintis dan model bagi kapitalisme kontinental.

Tujuan Pereire bersaudara, menurut Hayek, adalah membuat sebuah institusi yang sehaluan dengan “bank pemersatu” yang diusulkan kaum Santa-Simonian untuk pertama kalinya pada tahun 1832. Bank itu bukan sekadar sebuah institusi keuangan, melainkan juga pusat perencanaan dan pengawasan pembangunan. Bank itu menjadi “pusat administrasi… yang berfungsi untuk mengarahkan (sesuai dengan program yang koheren) sistem transportasi kereta api, kegiatan perencanan kota, serta berbagai sarana umum dan industri-industri lainnya”, yakni industri-industri yang diusahakan Pereire bersaudara untuk mengatur dan mendominasi perekonomian dengan melakukan merger bank itu.84 Di Jerman, Belanda, Austria, Swiss, Italia, dan Spanyol, bank-bank pembangunan yang sama, dibuat sesudah The Credit Mobilier. Semuanya didirikan baik oleh Pereire dan sekutu keuangan mereka, maupun para bankir yang menjadi pengikut mereka.85

Enfantin telah pergi ke Al-Jazair untuk mendukung bisnis di koloni baru Prancis itu. Dia telah mencoba, namun sayang tidak sukses, untuk menghidupkan kembali gagasan pembangunan terusan Suez. Lalu dia sangat berperan dalam mengadakan dan mengelola sistem transportasi kereta api di Prancis sampai kematiannya pada tahun 1864. Pada akhir hidupnya, dia membayangkan murid-murid Santa-Simon telah “menutupi bumi dengan jaringan kerja di bidang-bidang rel kereta api, emas, perak, dan listrik.”86 Bahkan usulan pembangunan terusan Suez pada akhirnya juga terwujud. Proyek itu diselesaikan pada tahun 1869 oleh Ferdinand de Lesseps, seorang konsul Prancis di Aleksanderia sewaktu Enfantin tinggal di Mesir. Memang telah menjadi impian Enfantin, pada upacara pembukaan terusan itu, sebuah monumen berdiri tegak dengan tulisan: “Untuk Kemanusiaan, dari Anak-anak Santa-Simon”.87

Penganut Santa-Simonian mendahului “penggiat-penggiat pembangunan” tahun 1950-an dan 1960-an, (menggunakan kata-kata Walt Rostow) hampir lebih dari satu abad. Akan tetapi lebih dari seorang ahli sejarah telah mengamati, bahkan dalam separo terakhir abad ke-20, Santa-Simon dan pengikut-pengikutnya telah menjadi nenek moyang spiritual bagi “iman teknokratik” atau lebih suka disebut “gagasan modernisasi”, yang dianut banyak pemimpin dan pemerintah di negara berkembang.88r) Pada abad ke-19 mereka sangat berpengaruh terhadap pemimpin nasionalisme baru — seperti Alexander Herzen, ilmuwan-ilmuwan Russia pada tahun 1860-an dan 1870-an, serta Garibaldi dan gerakan pemuda Italia.89 Meskipun demikian, daya pikat Santa-Simonian bagi banyak politikus dan cendekiawan nasionalis adalah janjinya tentang kekuasaan dan kepercayaan di masa depan. Pada negara-negara yang baru merdeka di Amerika Selatan, kaum Santa-Simonian mendesakkan daya pikat yang sangat kuat dengan memberikan keyakinan rasional mengenai kemajuan ilmiah dan material sebagai alternatif dari keyakinan katolik.

Pengaruhnya di Amerika Latin memang kuat, terutama pada Auguste Comte, sekretaris pribadi Santa-Simon antara tahun 1818 dan 1823. Comte membentuk sayap kanan dalam evolusi Santa-Simonisme, yang menyumbangkan kesakralan hak milik pribadi. Dia menguraikan sebuah filsafat sejarah, sosial, dan politik yang sistematis (dan otoritarian), yang menyusun kemanusiaan dalam tiga fase. Fase yang terakhir, yaitu fase modern di zaman positivisme, yang menempatkan ilmu pengetahuan empiris dan kerja yang diorganisasikan secara rasional sebagai tujuan dan isi keberadaan manusia. Masyarakat baru yang diorganisasi secara ilmiah itu memerlukan agama baru: agama kemanusiaan. Objek penyembahannya adalah “Kenyataan yang Agung”, perwujudan akal yang abstrak dalam sejarah, yang dalam beberapa hal mirip Geist-nya kaum Hegelian versi Galliciz.90 Semboyan agama kemanusiaan, yang sekaligus menjadi semboyan zaman positivisme sejarah adalah “Tatanan dan Kemajuan”.

Di tengah-tengah bendera nasional Brasil terdapat bagian biru dengan bintang-bintang dari belahan bumi selatan. Yang mengelilinginya adalah tulisan putih, dalam bahasa Portugis, Ordem e Progresso — Tatanan dan Kemajuan. Filsafat Comte di tahun 1860-an menjadi ideologi resmi negara Brasil yang baru merdeka.91

Sebelum kita meninggalkan Santa-Simon dan murid-muridnya, kita mungkin merenungkan bahwa mereka menggambarkan — dan secara sadar melihat diri mereka sebagai pelakunya — realisasi modernitas sebagai pembangunan, suatu proyek yang dimulai oleh Descartes dan Bacon, dan terus berlanjut hingga kini. Secara tegas, Santa-Simon, melalui tulisan-tulisannya dan pengikut-pengikutnya, memainkan suatu peran penting sebagai individu pada awal evolusi, baik pada kapitalisme modern maupun sosialisme modern. Meskipun demikian, terdapat sisi yang lebih sulit pada pandangannya, karena selama hidupnya dia menderita paranoia dan megalomania yang sering kali kambuh. Setelah keluar dari Rumah Sakit Jiwa Charenton (tetap di the Marquis de Sade), dia menulis surat untuk keponakan laki-lakinya, “penyakit gila… tidak lebih dari keadaan jiwa yang ekstrem pada seseorang. Dan adakalanya itu diperlukan untuk pencapaian sesuatu yang besar.”92

Paradoks Masa Keemasan Modernitas

Tatanan sekarang ini merupakan loncatan teknologi dan ekonomi dari sistem produksi, yang pada saat ini menentukan kehidupan semua orang. Tatanan ini bukan saja berkaitan dengan perolehan ekonomi, tetapi juga berkaitan dengan kekuatan yang sangat tak dapat dicegah. Loncatan teknologi itu mungkin akan demikian menentukan segalanya hingga batu bara terakhir yang telah memfosil pun terbakar.93

— Max Weber, The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism

Meskipun modernitas sudah dimulai pada abad ke-17, namun secara praktik transformasi sosial dan ekonomi yang mendunia baru berlangsung pada dua abad terakhir.s) Perwujudannya di abad ke-19 bukan hanya bisa dibuktikan dengan menjalarnya jaringan rel kereta api, terusan, dan bank sebagai buah ajaran Santa-Simonian, tetapi juga dengan dilangsungkannya pekan raya dunia global pertama kali, yaitu Eksibisi London Raya pada tahun 1851, yang diselenggarakan di Istana Kristal. Salah seorang penganjur eksibisi itu adalah Pangeran Albert, suami Ratu Victoria. Dalam sebuah pidato yang singkat pada acara pembukaan, dia menerangkan:

Kita sedang hidup pada suatu periode transisi yang sangat mengejutkan, yang cenderung cepat menyelesaikan tujuan yang besar itu pada semua titik sejarah — realisasi penyatuan umat manusia… Di pihak lain, prinsip pembagian kerja yang besar (yang bisa disebut kekuatan gerak peradaban) sedang diperluas di semua cabang ilmu pengetahuan, industri, dan seni… Hadirin, Eksibisi Tahun 1851 ini memberi kita suatu gambaran hidup tentang sebuah titik sejarah: pembangunan. Sebuah titik sejarah yang menempatkan seluruh umat manusia pada tugas yang mahabesar ini. Sebuah titik permulaan tempat seluruh bangsa bertolak dan mengarahkan usaha-usahanya yang lebih lanjut. [Cetak miring/penekanan berasal dari teks aslinya.]94

Evolusi dan sejarah manusia terdiri atas banyak cerita paralel dan asal-usul yang berbeda, serta beraneka jalan dalam mencapai dan menata dunia – dan ada banyak dunia di bumi kita yang (hanya) satu ini. Kemajemukan masyarakat, komunitas dan dunia mencerminkan — dan sebagian didasarkan pada – keanekaragaman dan otonomi dari ekosistem bumi. Di bumi terdapat banyak “alam” dan “masa depan”, dan sebanyak itulah masyarakat manusia menetap di bumi dengan masa lalu yang beragam serta berakar pada konteks ekologi lokal yang beragam pula. Istana Kristal adalah penjelmaan simbolik zaman keemasan global dari satu cerita, satu sejarah, dan satu masa depan. Sejak pertengahan abad ke-19, pelbagai macam versi kapitalisme dan sosialisme terus berlomba mengelola program global untuk mewujudkan proyek modern yang sama.

Paradoks mendasar dari proyek modern sudah tampak dalam kontradiksi antara tujuan mulia pada tulisan-tulisan Bacon dan pengkhianatan serta pembangkangan yang hina terhadap kebebasan yang menandai karir politiknya. Kemaharajaan manusia atas segala hal pada mulanya berakar pada kehendak untuk berkuasa dan mendominasi. Dan dalam fakta sejarah ditunjukkan adanya kemaharajaan sebagian laki-laki atas laki-laki lainnya — dan atas perempuan — juga kemaharajaan masyarakat Barat atas masyarakat yang lain. Sebuah kehendak kolektif untuk berkuasa bukan sesuatu yang baru dalam sejarah. Tetapi masyarakat di masa silam telah dibatasi oleh ketiadaan kehendak dan metode untuk mengubah alam demi kebutuhan hidup mereka.

Pembebasan individu dan masyarakat dari pelbagai penghalang di masa silam malah menjadikan dunia dan masyarakat sebagai bidang kosong bagi bentuk yang baru, bentuk yang lebih total, yang berasal dari kontrol pemikiran instrumental. Sebagaimana kesaksian C.S. Lewis: “Kita mereduksi benda-benda Alam supaya kita bisa menaklukkannya. Kita selalu menaklukkan alam karena “Alam” adalah nama bagi sesuatu yang sudah pernah taklukkan.” [cetak miring sesuai aslinya].95 Jika dunia dan manusia dipandang dan diperlakukan semata-semata sebagai bahan mentah, sebagai sesuatu yang bisa dtransformasikan, ditata dan/atau diubah — semua itu (baik alam maupun manusia) akhirnya benar-benar menjadi bahan mentah.96 Pada pokoknya, tidak hanya kebebasan individu, kelompok, dan seluruh masyarakat yang bisa terancam, tetapi juga daya tahan hidup secara fisik, untuk tidak mengatakan dasar-dasar kehidupan yang bersifat ekologis.

Demikianlah, ketika Dostoyevsky mengunjungi Istana Kristal di tahun 1862t) dia menulis ketakjuban dan ketakutannya terhadap apa yang diramalkan Eksibisi itu:

Anda merasakan kekuatan yang buruk sekali yang berpengaruh pada begitu banyak orang-orang, orang-orang yang berasal dari segenap penjuru bumi ini, yang semuanya bersama-sama dalam satu gerak. Dan ketika Anda sadar betapa besarnya gagasan itu… Anda menjadi panik. Bagaimanapun besarnya kebebasan Anda dalam berpikir, perasaan takut itu juga merayap pelan-pelan dalam diri Anda… Anda merasa, penolakan dan protes terhadap tradisi kuno memang diperlukan. Supaya Anda tidak menyerah kalah… supaya tidak membungkukkan diri dan takluk pada kenyataan, dan supaya tidak memberhalakan Baal… Anda telah melihat sendiri, betapa bangganya jiwa-jiwa yang agung itu (baca: modernitas) tatkala menciptakan dekorasi kolosal tersebut, betapa percaya dirinya dia dalam kemenangan dan kejayaannya. Tak heran, bila Anda merasa ngeri pada kebanggaan, ketegaran, dan kebutaannya. Dan Anda semakin merasa ngeri pada bayangan mengenai pelbagai masalah yang timbul dari jiwa-jiwa yang bersemayam sekaligus menguasai diri penguasa itu.97

Empat puluh tahun setelah Dostoyevsky, Max Weber menganalisa apa yang bekerja dalam jiwa yang bangga dan buta itu. Bagi Weber, kembali kita sebut, rasionalisasi dan birokratisasi yang merembes ke mana-mana menandai evolusi pembangunan modern baik dalam sektor pribadi maupun publik. “Secara fundamental, administrasi birokrasi,” tulis Weber, “adalah dominasi melalui pengetahuan. Itu merupakan corak khas yang membuatnya rasional.”98

Weber melihat bahwa rasionalitas formal pada sebuah organisasi — daya dorongnya terhadap kecermatan, keefektifan dan pengawasan yang lebih besar — menjadi lebih penting daripada penganekaragaman nilai-nilai dan tujuan-tujuan yang subtantif yang bisa diberikan oleh organisasi. Rasionalitas menggantikan etika tradisional dengan perhitungan instrumental, dengan kecakapan teknik dalam melakukan suatu fungsi tertentu pada rantai komando organisasi. Memang, rasionalitas formal cenderung menjadi nilai-nilai itu sendiri – walaupun nilai-nilai yang kosong secara fundamental, karena ia tidak memiliki muatan yang pasti. Langkah terakhir rasionalitas formal adalah penaklukan nilai-nilai subtantif — birokrasi menumbangkan nilai-nilai dan tujuan-tujuan tertentu dan menggantinya dengan “efisiensi fungsional” yang semula jauh dari kebiasaan organisasi itu.99

Dan kita baru berpikir tentang karakteristik klasik (tapi masih sering membuat kita resah) dari tingkah laku birokrasi besar. Orang bisa berseru, misalnya, mendesak Bank Dunia agar pejabat etikanya lebih serius mengurusi akibat-akibat kebocoran dokumen daripada menyuruh mereka supaya bertanggung jawab atas akibat-akibat lingkungan dan sosial yang menghebohkan, yang (sudah pasti) disebabkan oleh proyek-proyek tertentu. Orang juga bisa menyebutkan bahwa selama hampir lima dekade, Bank Dunia semakin melenceng dari cita-cita rekontruksi bangsa Eropa, dan malah secara radikal menerapkan pengertian kata “pembangunan” yang senantiasa dirumuskan ulang sesuai dengan angin politik yang sedang berhembus. Semula di bawah komando McNamara misinya adalah pemberantasan kemiskinan. Lalu, di bawah arahan Clausen, pengganti McNamara, berubah menjadi menekan negara miskin agar membayar utang dalam bentuk pemberian pinjaman penyesuaian struktural. Dan kemudian, pada tahun 1990-an, misinya berubah lagi menjadi manajemen lingkungan global atau “pembangunan berkelanjutan”.

Orang mungkin beralasan, misi pembangunan berkelanjutan merupakan bidang baru yang amat menarik bagi Bank Dunia karena misi itu klop dengan logika formal lembaga keuangan itu. Pengelolaan lingkungan global merupakan tema yang belum diterapkan dalam proyek-proyek baru, dan karena itu dapat membantu Bank Dunia mengurusi kekurangannya dalam hal proyek-proyek yang berkualitas. Pengelolaan lingkungan global juga sebuah arena bagi negara-negarra industri yang ingin memberikan bantuannya, dan karena itu memberikan kesempatan bagi Bank Dunia untuk membantu mengurangi ancaman membengkaknya net negative transfer pada negara-negara berkembang.

Bagi Weber, rasionalisasi dunia yang memungkinkan terwujudnya “suatu kosmos tatanan ekonomi modern yang begitu luas”. Ini juga merupakan “sebuah kandang besi” yang mengekang kebebasan manusia.u) “Barang-barang material,” tulisnya di tahun 1901, “telah memperoleh kekuatan yang makin naik dan akhirnya tak dapat ditawar-tawar terhadap kehidupan manusia. Kekuatan semacam ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah manusia.”100 Kendati demikian, dia juga mengemukakan bahwa ancaman birokrasi terhadap kebebasan mungkin dapat dicegah. Bisa dikatakan, dia percaya bahwa keberadaan birokrasi pesaing, dan perbedaan kepentingan antara organisasi-organisasi sektor swasta dan sektor umum itu akan menciptakan kondisi saling mengawasi dan saling menguji satu sama lain. Kondisi demikianlah yang akhirnya menciptakan ruang kebebasan. Mimpi buruk akan terjadi, tulisnya di tahun 1906, bersamaan “dihapusnya kapitalisme swasta,” yang “dengan sederhana akan bermakna bahwa para top management perusahaan-perusahaan yang dinasionalisasi atau diambil-alih negara juga akan menjadi birokrat… dilebur ke dalam hirarki tunggal.”101

Weber mencatat bahwa karena kekuatan birokrasi berakar pada pengetahuan dan informasi, maka usaha penyelamatan yang paling penting terletak pada kemerdekaan memperoleh informasi. Tanpa kemerdekaan memperoleh informasi, pengawasan dan kontrol terhadap organisasi birokrasi tidak mungkin dapat dilakukan. Ini bisa diwujudkan dalam bentuk pemberian wewenang pada parlemen untuk melakukan investigasi yang mendalam dan sistematis. Dia berharap, “Dengan adanya kekuasaan parlemen seperti itu akan memaksa para pemimpin administratif untuk mempertanggungjawabkan tindakan-tindakan mereka manakala mereka melakukan sesuatu yang tidak berguna.… Hanya komisi-komisi parlemen yang berkuasa penuh yang dapat menjadi sarana bagi penggunaan pengaruh pedagogik yang bermanfaat. Pada pokoknya, birokrasi hanya dapat melakukan pembangunan dengan cara demikian.102

Kekuasaan informasi birokrasi, menurut Weber, mempunyai dua aspek. Pertama, keahlian teknis, atau keahlian khusus dan kemauan untuk selalu ingin tahu. Kedua, pengorganisasian pengetahuan kritis sebagai “informasi resmi” yang dilakukan secara rahasia oleh organisasi tertentu, yaitu “yang hanya tersedia melalui saluran-saluran administrasi dan yang memberinya (birokrat) fakta-fakta sebagai dasar melakukan tindakan-tindakannya.” Cara untuk melawan penyalahgunaan pengetahuan teknik, atau penyalahgunaan kekuasaan administrasi yang berkedok keputusan teknik adalah melalui pemeriksaan-silang yang sistematis (di bawah sumpah). Pemeriksaan-silang itu dilakukan oleh para ahli di hadapan sebuah komisi parlemen yang dihadiri pejabat departemen berwenang.” Weber mencatat bahwa Reichstag Jerman tidak mempunyai kekuasaan ini, dan karena itu terkungkung dalam “kedunguan yang amatiran”103 Yang paling penting, pada pengawasan birokrasi, Weber mencatat, adalah penghapusan “rahasia resmi” atau “informasi rahasia”, pemebasan akses kepada informasi administrasi “yang terbebas dari kebijakan resmi.”104

Yang jelas, implikasi dari analisa Weber meluas ke banyak birokrasi modern. Seseorang mau tak mau harus menerima bahwa dalam praktiknya Dewan Direktur Eksekutif Bank Dunia hampir-hampir tidak memperlihatkan lagi kemampuan dan keinginan untuk mengawasi birokrasi yang seharusnya bertanggung jawab kepada Dewan Direktur Eksekutif. Dewan itu akhirnya menjadi seperti Reichstag Jerman yang dunggu dan impoten pada hampir satu abad yang lalu sebagaimana yang diungkapan Max Weber.

Bagaimanapun, ketika negara-negara berkembang mulai menerima pinjaman dari Bank Dunia bagi proyek-proyek yang besar untuk mewujudkan “cita-cita modernisasi,” pemimpin mereka dan peminjam mereka tentu saja tidak memikirkan peringatan yang suram dari Max Weber. Agaknya, banyak dari mereka telah bermimpi untuk meniru Tennessee Valley Authority, Bonneville Power Administration, jalan raya besar dan pekerjaan umum kota-kota Amerika, dan proyek-proyek besar lain dari negara yang sangat kuat dan yang sukses secara ekonomi di dunia.

Politik Teknokrasi

Jika tujuan tidak dicapai dengan cara-cara yang benar, maka apa yang akan terjadi?105

— Robert Moses

Hari itu 4 Desember 1952, permulaan musim dingin di salah satu kota dari kota-kota besar di dunia. Seribu lima ratus tiga puluh perumahan — mungkin terdiri atas lima atau sepuluh ribu orang — menerima surat yang mengatakan bahwa mereka hanya mempunyai waktu 90 hari untuk pindah sebelum pemerintah meneruskan pembongkaran gedung-gedung apartemen mereka untuk membangun sebuah jalan raya raksasa. Mereka merasa ngeri, mereka berpikir bahwa mereka tidak lagi mempunyai jalan lain, mereka tidak tahu ke mana mereka akan pergi.106

Ketakutan mereka adalah terlalu mudah ditemukan: mereka segera belajar bahwa ada hampir ribuan dari orang yang digusur sudah dikeluarkan dari rumah mereka, jauh sejak dimulainya pembongkaran, bagi jalan raya yang sama. Wakil pemerintah telah menjanjikan kepada mereka bahwa mereka akan direlokasikan ke perumahan yang nyaman dan bernilai sama, bahwa mereka akan menerima kompensasi/ganti rugi tunai bagi harga kehilangan dan kepindahan mereka. Tetapi selama sepuluh tahun tidak ada rumah yang telah dibangun bagi sebagaian besar mereka. Hidup secara kotor di luar rumah mereka, seluruh keluarga sudah dilangsir dari satu permukiman sementara ke yang lainnya, ke apartemen yang juga berada pada jalan kecil dari jalan raya yang besar itu, dan yang pada gilirannya akan dibongkar juga. Beberapa orang sudah secara terpaksa pindah ke tempat baru lima atau sepuluh kali dalam beberapa tahun, dengan tanpa memiliki rumah tetap.

Orang-orang yang sudah direlokasi menggambarkan beberapa apartemen yang disediakan pemerintah sebagai “gubuk,” “tidak sehat untuk istirahat,” dengan tiada pemanas, dan jendela-jendelanya banyak yang pecah, separo di antaranya sudah hengkang dari apartemen itu. Teras apartemen dikelilingi sampah dan kotoran baik kotoran manusia maupun hewan, di luarnya puing-puing, gundukan debu, dan kegaduhan yang terus-menerus dari buldoser, pekerja-pekerja pembongkaran dan tim-tim kontruksi. Kadang-kadang keluarga yang dipindahkan hanya menghabiskan beberapa minggu dalam apartemen tersebut sebelum pemerintah menggusur lagi dan memindahkan mereka ke tempat lain. Yang paling buruk, setiap kali mereka pindah harga sewa naik 15 persen, dan sebagian besar dari mereka telah membayar lebih mahal bagi gubuk kecil yang lebih kumuh dan bobrok daripada rumah yang dulu, yakni sebuah apartemen dua kamar tidur yang layak huni. Orang yang sudah tua menolak untuk pindah dan diusir secara paksa.107

Sia-sia saja mereka yang melawan, yang masih percaya bahwa hukum negara atau polisi setempat akan memperlakukan mereka dengan lebih baik. Keluarga-keluarga yang menolak untuk pindah — tidak berkehendak dicabut hak miliknya, atau berharap mendapat ganti rugi yang lebih sesuai, telah diberi tahu bahwa jika mereka tidak meninggalkan menjelang batas waktu yang diberikan, sejumlah dana untuk biaya pindah akan dibagi dua; jika mereka masih tetap bertahan setelah batas waktu berikutnya, maka ganti rugi pindah itu akan dikurangi lagi.108

Pada suatu hari di musim dingin pada tahun 1952 itu, 5.000 atau 6.000 orang di sana-sini yang diberi tempat baru kekurangan informasi: mereka tidak tahu, dan tidak pernah mendapatkan pemberitahuan dari pemerintah, bahwa pemerintah belum mendapatkan tanah untuk lokasi baru itu, dan belum juga mendapatkan uang untuk membangun sepenggal jalan raya yang sedang dibicarakan itu. Jika segala sesuatu berjalan tanpa suatu halangan, maka semua itu baru dapat diselesaikan sekitar satu tahun setengah sebelum pembongkaran dimulai. Yang dilakukan kemudian adalah dari mengeluarkan gertak sambal, suatu usaha yang tak tahu malu, seperti dijelaskan seorang pejabat, “[untuk] menakut-nakuti mereka dan membuat mereka pindah.”109

Lima atau enam ribu yang diceritakan di atas adalah bagian dari 60.000 orang yang secara paksa dipindah demi pembangunan jalan raya sepanjang tujuh mil itu. Mereka itu diperkirakan berada di antara sekitar sejumlah 320.000 orang yang dipindahkan secara paksa untuk proyek pembangunan raksasa, yang sebagian besar, jika tidak seluruhnya, terjadi tanpa pemberitahuan atau ganti rugi yang layak, antara tahun 1946 dan 1956. Mungkin, jumlahnya sudah mencapai sekitar setengah juta orang sejak tahun 1930-an. Penderitaan mereka sangat parah karena pemindahan ke tempat baru mengambil tempat di dalam kota, dan sebagian besar orang yang dipindah adalah orang miskin atau sangat kurang sejahtera, dan atau anggota dari etnis minoritas di dalam masyarakat nasional yang besar.110

Apakah kota yang dimaksud berada di India utara — Delhi barangkali, dengan hari-hari musim dinginnya yang sangat dingin? Apakah pengembangnya adalah birokrasi suatu negara di Dunia Ketiga dengan pemeritahan yang otoriter dan iklimnya yang non-tropis — mungkin yang dimaksud adalah Buenos Aires? Atau Uni Soviet?

Bukan! Kota itu adalah New York, dan pengembangnya adalah Robert Moses. Sedang jalan raya yang dimaksud adalah Jalan Raya Ekspres Cross-Bronx, yang akhirnya baru selesai tahun 1960-an.

Karier Robert Moses, dan perusahaan pekerjaan umum yang dibentuknya di negara bagian dan kota New York antara tahun 1930-an sampai 1960-an, adalah suatu studi kasus mengenai politik teknokrasi abad ke-20. Robert Moses, sebagaimana ditulis Robert Caro, penulis biografi yang mendapat Hadiah Pulitzer, “adalah tokoh pembangunan terbesar yang dimiliki Amerika. Dia adalah pembentuk kota terbesar di dunia.”111 Sesungguhnya, menurut Lewis Mumford, “di abad ke-20, pengaruh Robert Moses pada kota-kota Amerika adalah paling besar dibandingkan dengan siapapun.”112

Ada beberapa analogi yang aneh antara kekuasaan Moses dan kekuasaan Bank Dunia. Dasar-dasar kekuasaan Moses tidak terletak pada kemampuan politik dan keuangan, serta kontrol dan pengurusan informasi. Pada pokoknya, kekuasaan Moses didasarkan pada kemapanan sejumlah “otorita publik”– agen-agen pembangunan swasta yang melahirkan pajak mereka sendiri. Berkat inovasi-inovasi yang sederhana dan seolah-olah tidak menarik perhatian yang dipompakan oleh Moses, otorita publik itu menjadi, meminjam kata-kata Robert Caro, “cabang keempat” pemerintah, yang tidak bertanggung jawab kepada pejabat-pejabat yang terpilih.”113 Otorita-otorita itu antara lain ialah Otorita Terowongan dan Jembatan Triborough, Otorita Jalan Raya Berumput Henry Hudson, pelbagai komisi taman, dan Otorita Pembangkit Listrik Pemerintah New York, yang mengumpulkan dan mengadministrasikan pajak dari bendungan hidraulik pada sungai Niagara dan Santa Lawrence.

Sebelum Moses, sebuah “otorita publik” mempunyai masa hidup dan kekuasaan yang terbatas: umumnya ia dibentuk dengan menerbitkan tanggungan, membangun proyek khusus seperti jembatan atau terowongan, dan kemudian akan muncul keberadaannya ketika tanggungan itu dibayar lunas dengan pendapatan dari proyek (katakan, perkakas jembatan dan terowongan selama periode tertentu). Inovasi hukum yang dicapai Moses adalah menciptakan agen publik di bawah pengawasannya dengan jangka waktu yang tak terbatas, dan mengizinkan agen itu untuk memakai pendapatan proyeknya, yang terus menerus mengalir, bagi aktivitas-aktivitas lain dan bukannya membayar tanggungan. Dengan begitu, Moses tidak perlu pergi ke kota atau negara bagian untuk meminta sumbangan. Meskipun kekuasaan agen publik dimapankan dalam perjanjian tanggungannya, yang dilegalkan dengan keputusan pengadilan, tapi perjanjian itu adalah kontrak pribadi, yang tidak dapat disentuh dan tidak dapat diubah oleh pemerintah maupun lembaga legislatif manapun di wilayah itu.

Yang lebih penting, Robert Caro melihat, “laporan-laporan resmi mengenai sebagian besar agen publik adalah mengenai laporan-laporan publik, tetapi bukan mengenai otorita-otorita publik tersebut karena pengadilan telah memutuskan bahwa laporan-laporan itu bisa dianggap sebagai laporan-laporan perusahaan swasta, yang telah diteliti dengan seksama oleh warga negara atau pembuat laporan yang berminat.”114 Otorita publik tersebut telah mencapai kekuasaan “seperti suatu negara yang berdaulat,” dengan auturan-aturan dan hukum-hukum mereka sendiri, serta juga memiliki kekuasaan atas wilayah yang besar.115 Pada puncak kekuasaan Moses, di tahun 1960, tanah-tanah yang dikelola otorita publik yang dikuasai Moses seluruhnya berjumlah 161 mil persegi (sama dengan separo wilayah Kota New York), dan menguasai 213 juta dolar AS per tahun, bahkan sampai satu miliar dolar AS pada tahun 1993.116

Orang mau tak mau harus melihat analogi-analogi yang aneh pada peran penting Bank Dunia dalam mendorong penciptaan otorita-otorita proyek yang semi independen di negara-negara berkembang — Otorita Pembangkit Listrik Thailand (EGAT), dan Perusahaan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Nasional (NTPC) di India, sebagai contoh. Selama beberapa dekade, seperti yang kita lihat, penciptaan badan-badan ini telah menjadi salah satu strategi yang sangat penting dari Bank Dunia. Badan-badan ini sering kali tidak menjadi sasaran pemeriksaan lembaga legislatif dan yudikatif negara bersangkutan. Badan-badan itu dioperasikan sesuai dengan perjanjian-perjanjian dan aturan-aturan mereka sendiri (sering kali dirancang sebagai respons atas saran Bank Dunia), dan sering kali diangkat pegawai-pegawai demi menaikkan rasa simpatik para teknokrat pada Bank Dunia.

Di New York, otorita publik yang dikontrol Moses memberinya pendapatan yang independen yang mengalir deras, serta sarana-sarana fisik untuk mengembangkan dan mengubah kota itu tanpa melalui penelitian seksama dan diskusi-diskusi yang demokratis mengenai alternatif penggantinya. Dia sendirilah yang mengangkat para staf otorita publik, memilih anak didik, insinyur dan pengacara yang cerdas yang sering sangat menguntungkan karena dia memberi mereka kesempatan untuk menggunakan kekuasaan dan memajukan karier mereka pada masa muda. Bagi Bank Dunia, makin meluasnya agen-agen proyek dan pembangunan yang independen ke suluruh dunia memberikan tujuan yang sama: ia menciptakan sumber yang kokoh serta dapat diandalkan bagi kebutuhan Bank Dunia — yaitu usulan proyek yang layak dibiayai — maupun basis kekuasaan di negara-negara anggota untuk mengubah dan mempengaruhi arah pembangunan sosial dan ekonomi negara tersebut. Akhirnya, tapi bukan yang paling akhir, setiap 100 dari 100 orang — yang sangat miskin dan tak beruntung – terkena proyek pembangunan jalan (yang dibuat) Moses dan Bank Dunia, dan dipaksa pindah ke tempat yang baru.

Orang tidak akan lupa, bahwa tujuan nyata dari kekuasaan Moses, seperti juga Bank Dunia, adalah kesejahteraan publik, yang direalisasikan melalui proyek-proyek pembangunan dengan cara efisiensi ekonomi, profesionalisasi teknik, dan menghindarkan diri dari pengaruh politik yang merusak. Menurut Robert Caro, publik — termasuk jurnalis dan akademisi—mempercayai mitos mengenai otorita proyek Moses ini selama beberapa dekade,

Bahkan orang-orang yang skeptis yang ditentukan untuk menguji kebenarannya tidak punya fakta yang diperlukannya untuk mempersoalkan masalah itu, karena laporan-laporan dari Triborough [otorita publik yang dipimpin Moses] sangat tertutup. Meskipun demikian, jika mereka dapat melihat laporan itu… mereka akan belajar bahwa mitos itu hanyalah kebohongan besar.

Apakah itu efisien ataupun ekonomis? Pemborosan Moses yang sangat besar adalah pada penggunaan pendapatan tol yang untuk satu jembatan tol dia mendapat 40 juta dolar AS lebih berikut bunga untuk melunasi.. “pinjaman” yang dibuat otorita (publik milik Moses) melalui pemerintah negara bagian — pinjaman yang tidak pernah dirancang untuk dilunasi — yang membengkak menjadi ratusan juta dolar AS…. Pemasukan dari jalan tol yang dipinjamkan untuk fasilitas otorita publik menguap miliaran dolar AS.117

Caro menyatakan bahwa kebohongan besar dari kerajaan teknokratik Moses adalah pemisahannya dari politik sebagaimana yang dimaksudkannya. “Jika laporan mengenai otorita-otorita publik sudah dibuka,” dia menyimpulkan, “maka akan menjadi jelas bahwa otorita-otorita itu merupakan mesin politik yang besar, yang tidak konvensional dan — dibandingkan dengan lembaga-lembaga sebelumnya — tidak lebih berbudi, “yang dilicinkan dengan memberikan ‘pelumas mesin politik’, yaitu uang.”118

Untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dari Robert Moses, politisi-politisi Bronx pada tahun 1950-an mempunyai sangat sedikit sekali akses untuk tawar-menawar dengan Moses dibandingkan dengan banyak politisi, jenderal, dan menteri di negara-negara berkembang. Jika orang mengingat kegagalan ekonomi dan lingkungan yang dibiayai oleh Bank Dunia mulai dari tahun 1980-an, dan juga sifat rezim-rezim yang bernegoisasi dengan Bank Dunia, maka ia hanya dapat membayangkan apakah mungkin sebuah kesepakatan yang bersifat rahasia dan tidak tertulis dapat membantu menemukan alternatif dan pilihan pengganti yang akan dipertimbangkan.

Pendekatan Moses dalam melakukan pembangunan bukan hal aneh pada waktu itu — sebaliknya, pendekatan itu dianggap “bernilai tinggi”. Pada skala nasional, taktik dan mitos yang sama menandai (proyek) hidroelektrik, irigasi, dan bendungan pengendali banjir yang dijalankan Biro Reklamasi Federal dan Korps Tentara Insinyur.v) Biro Reklamasi tersebut diciptakan oleh Undang-undang Reklamasi pada tahun 1902, mandat pokoknya adalah pembangunan bendungan irigasi dan terusan untuk mendukung sistem pertanian di negara-negara bagian Barat yang kering. Tetapi menjelang 1930-an, menurut Michael Robinson, “ahli sejarah yang semi resmi” dari Biro Reklamasi itu,119

“Biaya yang besar untuk proyek-proyek tersebut menyulitkan para insinyur Reklamasi untuk menemukan syarat-syarat yang layak secara ekonomi. Pada awal 1940-an, Biro Reklamasi memikirkan suatu rencana yaitu mempertimbangkan semua lembah sungai sebagai sebuah proyek yang menyatu. Itu memungkinkan agen ini untuk mendapatkan pemasukan dari berbagai pajak untuk membiayai pekerjaan lain yang tidak layak secara ekonomi berdasarkan Undang-Undang Reklamasi.120

Maka peneliti dan penulis lingkungan Marc Reisner mengatakan, “laporan keuangan bendungan sungai” memberikan Biro Reklamasi sebuah surat-izin untuk membangun proyek non-ekonomi. Kenyataannya, hal itu juga memberikan Biro Reklamasi dorongan yang aktual untuk mendapatkan proyek-proyek yang “buruk” dan secara ekonomi terlalu lama untuk mendapatkan laba, karena sebuah tempat untuk bendungan hidroelektrik juga dapat ditemukan pada sungai yang sama.121 Dengan menggunakan perhitungan ekonomi seperti itu, orang dapat melihat “nenek moyang” teknik-teknik penilaian proyek Bank Dunia. Teknik-teknik itu, di tangan staf Bank Dunia yang ditekan untuk selalu mengucurkan pinjaman, dengan ajaib menghasilkan perkiraan tingkat laba ekonomi mencapai dua digit per tahun meskipun telah berulang kali terjadi kegagalan ekonomi. Sesungguhnya, beberapa pendekatan Biro Reklamasi juga dipakai oleh Bank Dunia dalam menilai proyek bendungan Sardar Sarovar India di tahun 1985: bagi pemerintah India, tujuan utama proyek bendungan adalah irigasi dan persediaan air, tetapi Bank Dunia tidak membenarkan program yang secara ekonomi hanya bergantung pada keuntungan irigasi belaka. Lalu Bank Dunia mengusulkan dengan “tingkat laba perkiraan” 12 persen dengan mengandalkan pada pembangkit tenaga listrik dari bendungan.122

Saingan utama Biro Reklamasi adalah Korps Insinyur Tentara, yang bidangnya dalam wilayah pembangunan bendungan adalah proyek-proyek yang dianggap berkaitan dengan pengendalian banjir. Tetapi hal tersebut membuktikan perbedaan artifisial, karena dapat dinyatakan bahwa banyak bendungan irigasi memang meningkatkan pengendalian banjir dan pelbagai hal buruk yang lain. Dalam hal ini, Reisner mencatat, Korps mempunyai keuntungan ekonomi sepenuhnya dalam mengusulkan beberapa proyeknya. “Jika Korps Insiyur membangun bendungan, dan menyebutnya bendungan pengendali banjir, maka airnya (irigasi) adalah bisa dinikmati secara cuma-cuma.”123 Karena itu Korps dapat mengalahkan Biro Reklamasi dengan membangun dua proyek irigasi utama pada sungai King dan Kern di California pada tahun 1940-an, yakni proyek-proyek yang menyediakan air secara cuma-cuma untuk tanah yang dipunyai beberapa petani swasta terkaya. Tidak hanya di Amerika Serikat, tetapi juga di seluruh dunia.124 Tidak mau kalah, Biro Reklamasi berhasil meneruskan proyek Garrison Diversion di hulu sungai Missouri pada pertengahan 1980-an. Sungai itu mengairi 130.000 akre (1 akre = 0,4646 hektare) pada lahan-lahan utama yang disubsidi pemerintah 1,65 juta dolar AS per lahan.125

Dalam banyak kasus, Indian Amerika Utara hampir-hampir tidak berjalan dengan lebih baik di bawah Krops Insinyur daripada ketika di bawah suku-suku Amazon yang terkena dampak buruk pembangunan jalan dan bendungan yang dibiayai oleh Bank Dunia. Bendungan Garrison (yang menyediakan air bagi proyek reklamasi Biro Reklamasi) adalah contoh kasus yang tepat. Sejak masa Lewis dan Clark, Reisner melaporkan, suku-suku Mandan, Hidatsa, dan Arikara hidup di dataran rendah yang subur sepanjang hulu sungai Missouri di Dakota Utara. Mereka mengembangkan peternakan sapi, dan bahkan pada waktu itu Biro Reklamasi merekomendasikan dibangun bendungan agar tidak terjadi lagi banjir di daerah tersebut. Sebab, daerah itu merupakan lokasi terbaik untuk pengembalaan sapi di musim dingin.126 Namun, pada pertengahan 1940-an tiga suku Indian menyampaikan resolusi:

Kami sudah mampu menjaga pihak kami dari semua ancaman. Kami sudah, dan sekarang sedang, mendekati swadaya sama seperti rata-rata komunitas kulit putih…Kami tidak setuju jika kami dihancurkan, ditenggelamkan, dipindahkan, dan dipecah walaupun dengan alasan demi kepentingan umum, sementara semua komunitas kulit putih dilindungi dan dijaga oleh rencana pembangunan sungai yang sama.127

Mereka mencoba berkompromi. Ketika mereka melihat bahwa bendungan tetap akan dibangun, mereka minta kompensasi yang sepadan — jumlah tanah yang sesuai, listrik untuk menjalankan pompa irigasi guna mengolah tanah, hak untuk mengembalakan sapi mereka di tepi bendungan, dan hak memperoleh kayu serta bahan tambang. Permintaan mereka sebenarnya sudah cocok dengan kebijakan relokasi Bank Dunia — mereka secara sederhana menginginkan sumber-sumber yang cukup agar tidak mengalami nasib yang lebih buruk daripada sebelumnya. Tetapi Kongres Amerika Serikat mengikuti rekomendasi-rekomendasi Kolonel Pick dari Korps yang punya dendam tertentu. Kongres menyalahkan tiga suku tersebut karena dianggap menyebabkan disintegrasi sosial dan kemelaratan ekonomi. Mereka tidak diizinkan untuk memperoleh akses ke bendungan untuk menggembalakan ternak atau memancing, mereka tidak diizinkan untuk membeli listrik sesuai harganya untuk mengolah tanah-tanah baru, mereka tidak diizinkan untuk memanen pohon-pohon yang akan ditenggelamkan oleh proyek bendungan itu, dan mereka memperoleh kompensasi uang tunai bagi tanah mereka (33 dolar AS per akre) dengan syarat khusus dari Kongres bahwa tidak sepeser pun uang tersebut boleh dipakai untuk menyewa pengacara guna melakukan banding atas relokasi itu.128

Secara keseluruhan Korps membangun enam bendungan di sepanjang sungai Missouri sejak akhir 1940-an, dengan biaya 1,2 miliar dolar AS, yang mungkin seluruhnya tidak kurang dari 6 miliar dolar AS pada tahun 1993. Pembenaran ekonomi yang utama untuk proyek itu adalah pengendalian dan pengawasan banjir. Menurut Reisner, keuntungan pengawasan banjir ternyata sangat sedikit, dan peningkatan pengendalian yang diproyeksikan oleh Korps tidak pernah terwujud. Pada sisi lain, ada kekeliruan manajemen yang memalukan terhadap tiga suku Indian itu, beberapa tanah penggembalaan di musim dingin yang terbaik dan habitat unggas di Amerika Utara lenyap untuk selamanya.129 Orang dapat bersimpati kepada mantan Menteri Dalam Negeri Harold Ickes, ketika dia mencela Korps Insinyur Tentara pada tahun 1951 sebagai “terlalu ambisius dan mahal… klik yang melayani diri sendiri.. merendahkan kesejahteraan publik” yang “secara ceroboh menghamburkan uang untuk proyek-proyek yang tidak dibutuhkan,” yang memberikan “monopoli tanah”. Pendek kata, Korps itu merupakan “kelompok yang tidak memiliki aturan dan tanggung jawab…Semuai ini benar-benar di luar dugaan.”130

Politik cari muka yang klasik di belakang proyek air ternyata sama di seluruh dunia, apakah itu di Amerika Serikat, Brazil, atau India. Meskipun proyek-proyek tersebut tidak efisien secara ekonomi, serta merusak secara lingkungan dan sosial (karena yang terkena adalah minoritas yang tak berdaya), tetapi beberapa kepentingan lokal mendapatkan rezeki yang sangat besar. Ini termasuk kontraktor yang melaksanakan pembangunan, beberapa petani (sering kali petani yang sudah berkuasa dan makmur) yang menerima air cuma-cuma atau murah, pengusaha dan pedagang lokal yang menikmati booming sementara selama piriode pelaksanaan proyek. Untuk merekatkan itu semua, kepentingan dan pengaruh birokrasi dan politisi lokal dan nasional yang terlibat secara timbal-balik pun ditingkatkan.131

Pada tahun-tahun terakhir, baik Krops Insinyur Tentara maupun Biro Reklamasi telah beralih menjadi ahli membangun bendungan di luar Amerika Serikat. Mereka menjadi penasehat teknik pada United States Agency for International Development (USAID) — sebuah lembaga donor pembangunan internasional milik Amerika Serikat — dan pada Bank Dunia. Kenyataannya, insinyur-insinyur Biro Reklamasi berpartisipasi dalam penilaian proyek Bendungan Narmada Sardar, serta dalam studi dan asistensi teknik bagi proyek-proyek irigasi di Lembah Sungai Sao Francisco Brazil, dan bagi proyek-proyek air yang lain di enam negara lainnya, mulai dari Mesir sampai China.

Sambil terus mendukung proyek-proyek besar di luar Amerika Serikat, Biro Reklamasi mengklaim bahwa perannya telah berubah dari membangun proyek-proyek besar ke “manajemen sumber daya alam.”132 Dan Korps Insinyur menyatakan bahwa mereka telah menganut konsep “pembangunan berkelanjutan” dan “teknologi hijau”133 termasuk mencoba untuk melepaskan, dengan biaya yang besar, beberapa kejahatan ekologi dari praktik pelaksanaan yang dulu.w) Tak perlu dikatakan lagi, semua penegasan yang terlambat tentang nilai-nilai lingkungan ini mungkin berakar pada sesuatu yang lain di samping pendirian, atau bahkan pada politik: hanya sedikit sungai di Amerika Serikat yang menarik untuk dibuat bendungan besar sehingga Biro Reklamasi atau Korps Insinyur tidak lagi beroperasi di negeri itu.

Dari semua model pembangunan yang besar dari Amerika Serikat abad ke-20, tidak ada yang menyamai Otorita Lembah Tennessee (Tennessee Valley Authority, TVA) dalam pengaruhnya kepada negara-negara berkembang. Dibangun pada tahun 1933 sebagai salah satu prioritas utama pemerintahan Roosevelt, TVA tidak lain dari usaha berskala besar yang pertama dan modern di dunia untuk merencanakan dan membiayai pembangunan regional terpadu. Setelah menyaksikan sendiri TVA pada tahun 1946, wartawan John Gunther menyebutnya sebagai “pembangunan terbesar dalam perencanaan sosial berskala luas,” serta “mungkin sekali… penemuan bangsa Amerika satu-satunya yang terbesar pada abad ini. Dengan demikian, sumbangan terbesar Amerika Serikat telah dilakukan bagi masyarakat modern.” 134

TVA merupakan puncak dari berpuluh-puluh tahun usaha yang dilakukan oleh kaum progresif dan konservatif Amerika Serikat.x) Mereka mencoba mendukung pertumbuhan ekonomi dan konservasi sumber daya alam dengan mengambil-alih manajemen air dan tenaga listrik dari tangan swasta yang monopolistik dan meletakkannya di tangan badan-badan pemerintah yang akan melayani kepentingan rakyat. Memang, konservasi dan penghijauan hutan merupakan bagian dari mandat TVA, seperti pula pembangunan pembangkit tenaga listrik, pengawasan dan pengendalian banjir serta peluasaan dan pengembangan pola pertanian. Tapi mandat itu justru membuatnya tampak aneh.

TVA sekilas pandangan terlihat banyak sisi baiknya (dan bahaya) dari otorita-otorita publik yang dipromosikan oleh Moses, meskipun tidak pengaruh patronase politik yang merusak. Daerah pengaruh TVA meliputi lumbung dan kedung Sungai Tennessee — hampir semua di Tennesse, ditambah dengan sebagian lumbung dan kedung sungai di enam negara bagian yang berdampingan. Hampir semua kekuasaan administratif dipusatkan pada tiga direktur yang dijabat oleh presiden Amerika Serikat selama sembilan tahun. Pembentukan kekuasaan ini tidak pernah terjadi sebelumnya: Direktur TVA memilih semua proyek, meletakkan tingkatan listrik, dan membuat semua keputusan lainnya tanpa melalui pemeriksaan anggota Kongres atau pemerintah federal. Kongres, yang setidak-tidaknya secara teori harus berkuasa dan menyediakan dana untuk setiap proyek dari Biro Reklamasi dan Korps Insinyur Tentara, tidak menggunakan kekuasaan ini terhadap TVA. Kontrol Kongress yang tetap, melalui penyediaan anggaran tahunan bagi TVA, sebagian besar dihentikan setahap demi setahap pada tahun 1959 ketika Undang-undang TVA, sehingga dapat membuat sistem pembiayaan-sendiri. Sejak itu TVA memakai pemasukan pajak listrik untuk menutup biaya operasi. Dan pembangkit listrik itu kemudian dikuasakan kepada otorita untuk menambah modal baru dengan mengeluarkan jaminan, yang bagaimanapun tidak akan bisa dijamin bahkan oleh Departemen Keuangan A.S.135 Itu benar-benar hukum yang sewenang-wenang

Dampak fisik dari TVA sangat banyak: ia membangun 21 bendungan, meningkatkan listrik desa, menciptakan sistem pengendalian banjir dan mengenalkan pola pertanian modern yang padat pestisida dan pupuk kimia, serta konservasi dan penghutanan kembali. Semua itu dilakukan di salah satu daerah pedesaan Amerika Serikat yang sangat terbelakang. Pembangkit listrik TVA menyediakan listrik bagi laboratorium-laboratorium rahasia pemerintah di Oak Ridge pada awal tahun 1940-an, yang membantu mengembangkan bom atom. Pada tahun 1950-an dan 1960-an, TVA meneruskan ekspansi pembangkit listrik melalui pembangunan beberapa pembangkit listrik tenaga batu bara, dan memulai sebuah program yang ambisius berupa membangun 17 fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir.

Kebijakan yang dicapai pada TVA tampak tidak dapat dilawan ketika wartawan John Gunther mengunjunginya sekilas sesudah Perang Dunia II. Daerah pembangunan TVA telah tumbuh secara ekonomi lebih cepat daripada tempat-tempat yang lain di Amerika Serikat,y) bahkan penentang-penentang TVA memperkirakan bahwa para pendukungnya melebihi jumlah penentangnya sekitar 21 berbanding 1.136 TVA tampak begitu sukses, sebagaimana dikatakan banyak pendukungnya, karena ia meletakkan pembangunan ekonomi di luar kekuasaan politisi dan membiarkannya dibimbing dan diarahkan oleh teknokrat dan pegawai sipil yang mandiri, sangat terlatih, dan berdidikasi, yang etosnya dapat terlihat pada setiap orang yang bekerja di proyeknya: “Membangun bagi Rakyat Amerika Serikat”.137

Pengaruh internasional TVA juga sangat besar: menjelang tahun 1960-an ribuan insinyur, politisi dan perencana dari seluruh dunia telah mengunjunginya, dan TVA secara langsung telah menjadi inspirasi bagi program pembangunan bendungan sungai yang sangat besar mulai dari Brazil sampai India.z) Tidak sedikit dari proyek-proyek itu dibiayai oleh Bank Dunia dan lembaga donor internasional lainnya.138 David Lilienthal, salah seorang direktur TVA yang paling terampil, telah menyadari sebelumnya. Dalam tulisannya, di tahun 1940-an dia memandang pembangunan ekonomi internasional sebagai “fakta politik yang dominan dari generasi yang suka berbohong” dan “fakta utama mengenai sikap kenegarawanan yang harus ditentang.”139

Namun menjelang akhir tahun 1970-an berkembang pemikiran lain. Kekuatan teknokratik-mandiri yang juga menjadi pengagum TVA semula diduga akan secara otomatis mewujudkan tujuan-tujuan efisiensi ekonomi, konservasi lingkungan, dan peningkatan kesejahteraan publik, namun yang terjadi malah sebaliknya. Mereka menjadi kekuatan yang membuang-buang investasi berskala besar untuk proyek-proyek yang tidak efisien dan tanpa ada kontrol dan disiplin pasar. Mereka merelokasi petani miskin demi proyek yang menguntungkan orang-orang yang sudah makmur. Mereka menjadi pelaku pelanggaran yang terbesar terhadap Undang-undang Udara Bersih. Dan mereka merusak area yang luas dengan mengembangkan penambangan terbuka untuk menyediakan batu bara bagi pembangkit listrik panas bumi yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

Banyak informasi dan statistik singkat yang menyiarkan kesuksesan TVA dibuat oleh manajemen dan departemen urusan publik mereka sendiri.140 Seorang ahli TVA, William Chandler, membongkar mitos itu sepotong demi sepotong. Untuk sementara memang benar bahwa daerah TVA secara ekonomi tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan dengan rata-rata daerah lain di Amerika Serikat, sejak pendirian TVA tahun 1950-an. Namun, daerah tetangga TVA di Selatan dengan rata-rata tingkat ekonomi yang sama di awal tahun 1930-an ternyata tumbuh lebih cepat lagi. Sesungguhnya, peningkatan berbagai indikator kesejahteraan sosial di daerah-daerah tetangga juga melebihi daerah TVA. Tidak hanya pendapatan per kapita, tetapi juga industri manufaktur, pengembangan listrik pedesaan, irigasi, dan instalasi listrik untuk perumahan. Semua mengalami kemajuan hingga tingkat yang superior di luar wilayah TVA.141 Chandler menganalisa 21 bendungan yang dibangun TVA, dan menyimpulkan bahwa 12 di antaranya tidak ekonomis bahkan dibangun tanpa melihat sisi kebutuhan, alternatif konservasi energi — “pembangkit listrik yang efisien dalam memanfaatkan panas bumi atau batu bara akan lebih murah.”142 Hipotesa Chandler bahwa daerah di luar TVA yang mempunyai catatan ekonomi yang lebih baik tampak masuk akal: TVA menyalurkan sejumlah besar dana dan tenaga kerja milik daerah ke dalam investasi yang kurang optimal, dan sebagai akibatnya daerah Lembah Sungai Tennessee mengalami pembengkakan biaya produksi.143aa)

Pada tahun 1950-an dan 1960-an TVA telah menimbulkan kerusakan lingkungan melalui pertambangan terbuka batu bara untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik yang sudah beroperasi. Pada awal 1970-an, TVA bertempur melawan pemerintah federal yang berusaha melakukan pengawasan lingkungan pada pertambangan terbuka, seperti melarang penambangan pada tempat yang kemiringannya lebih dari 20 derajat. Optimisme TVA yang khas Tatanan Baru ternyata merosot seperti terlihat pada pernyataan Aubrey Wagner, Ketua TVA selama hampir 25 tahun: “Pertambangan terbuka tampak seperti iblis. Namun, Anda dapat melihat sendiri, sebelum ada pertambangan terbuka, di pegunungan itu hanya tumbuh pepohonan yang tidak menguntungkan.”144

Akhirnya, meskipun selama Depresi Ekonomi TVA mulai membantu orang miskin di salah satu daerah termiskin di Amerika Serikat, para pengritik tetap beranggapan bahwa manfaat ekonomis TVA lebih banyak dinikmati para petani yang sudah makmur dan kelompok komersialab) daripada untuk petani gurem dan buruh tani.145 Relokasi paksa adalah aspek lain dari kecenderungan proyek bendungan TVA: sejumlah 50.000 orang direlokasi atau kehidupan mereka dirusak akibat proyek TVA, dan kebanyakan dari mereka adalah kaum miskin. Dalam satu daerah saja, misalnya lembah sungai Norris, di hulu Chattanooga, 3.000 keluarga, atau 15.000 orang, diusir. Sembilan puluh enam keluarga tetap bertahan, melawan setiap usaha merelokasi mereka dan akhirnya diusir secara paksa.146

Satu-satunya pembenaran bagi semua proyek bendungan TVA adalah pengendalian banjir. Tetapi bendungan-bendungan itu sendiri secara permanen menenggelamkan areal seluas Rhode Island — lebih luas dibandingkan dengan areal yang mengalami banjir terburuk selama 500 tahun terakhir sebagaimana dicatat oleh Korps Insinyur Tentara.147

Meskipun TVA berusaha mereformasi dirinya di akhir tahun 1970-an dan awal tahun 1980-an, berupa pelembagaan prosedur konservasi lingkungan dan energi, namun Chandler mencatat bahwa proyek-proyek besar yang tidak efisien tetap menimbulkan perusakan lingkungan dan pemborosan energi. Bendungan Tellico, misalnya, yang selesai pada tahun 1980-an, tidak hanya meragukan secara ekonomi, tetapi juga memindahkan ratusan keluarga petani demi sebuah bendungan yang manfaat utamanya adalah untuk rekreasi dan pembangunan rumah peristirahatan.”148 Atau, seperti dinyatakan Chandler, “ketika sumber daya dialokasikan oleh orang-orang yang bertanggung jawab tidak kepada pasar ataupun juga tidak kepada perwakilan-rakyat yang dipilih, maka sumber-sumber itu dialokasikan secara tidak efisien.”149

Sejarah TVA menggambarkan dengan baik cacat fatal dari teknokrasi: tanpa mekanisme demokratik dan eksternal untuk memeriksa keputusan-keputusan dan menjamin diskusi publik tentang alternatif lain, maka logika internal dan mendasar birokrasi tersebut — dalam istilah Weberian, rasionalitas formal mereka — pada akhirnya akan memberontak dan menghancurkan nilai-nilai dan tujuan-tujuan mereka sendiri.

Bahaya

Satu hal yang penting adalah mendapatkan sesuatu untuk dikerjakan.150

— Robert Moses

Wajah pembangunan yang tampak tidak dapat dihentikan dan dielakkan sebagian berakar pada perkembangbiakan birokrasi dan pemikiran instrumental yang mengendalikannya, jika memang pembangunan bukan sasaran dari kekuatan-kekuatan yang tidak berfaedah atau hal-hal lain yang tidak dapat dipertanggung-jawabkan. Secara khusus, pemikiran instrumental birokrasi dicirikan oleh rangkaian panjang tindakan mediasi yang menyimpang dari “difinisi asli”-nya atau hanya dari konsekuensi utamanya.151

Dalam kenyataannya, keputusan birokrasi yang murni bisa terlihat pada nilai-nilai dan tujuan-tujuan subtantif yang salah, jahat, rusak dan irasional dari organisasi tersebut, bukan pada norma etika yang masuk akal. Namun bila serangkaian tindakan sudah dilakukan, maka rasionalitas formal organisasi yang berperan, dan setiap keputusan jadi terlihat rasional ketika menyelesaikan masalah yang baru saja mendahuluinya. Setiap tindakan tambahan dilakukan, keputusan asli disahkan walaupun hanya seorang individu yang terlibat dalam proses tersebut. Seorang ahli sosiologi, Zygmunt Bauman menulis, “pembuat keputusan menjadi budak dari tindakan-tindakan masa lalunya… Proses pembuatan keputusan yang samar akhirnya memerosokkan pembuat keputusan ke dalam jebakan. Pembuat keputusan jadi tidak dapat berhenti untuk merivisi dan menilai perbuatannya sendiri. Dia jadi tidak sempat menentukan jalan mana yang benar atau setidak-tidaknya yang tidak berdosa.”152

Dalam organisasi yang besar, setiap individu dikenakan tindakan-tindakan yang berbeda dalam suatu rangkaian keputusan administrasi dan manajerial yang berurusan dengan persoalan yang sama. Sementara pengertian tanggung jawab individu terhadap keputusan asli atau konsekuensi pokok di luar “jadwal-kerja” individu itu semakin dilemahkan. Jika pada beberapa kesempatan diberikan pertimbangan yang lebih luas terhadap masalah tertentu — misalnya, kerusakan yang tak dapat diperbaiki lagi pada alam dan kelompok sosial, atau keberatan-keberatan yang berakar pada etika dasar atau pemikiran kemanusian yang fundamental — maka rasionalitas formal yang mengacu pada norma institusi diterapkan dengan sungguh-sungguh. Hanya keberatan-keberatan yang tercantum dalam aturan organisasi dan terbatas pada tugas-tugas mendesak atau “jadwal-kerja” yang menjadi perbincangan yang “sah”.

Hasil sosial berupa kesenjangan antara tindakan manusia dan akibat dari tindakan itu adalah sebuah ciri khas modernitas yang terjadi di mana-mana. Hal ini menciptakan sebuah dunia yang makin terorganisir yang membuat “dampak dari tindakan manusia menjangkau jauh di luar “titik terakhir” penglihatan moral.”153 Ini agaknya memberi kita wawasan yang lebih mendalam tentang “mesin yang mengesankan itu”, yang dari dialah proyek-proyek pembangunan Bank Dunia yang menimbulkan melapetaka itu tetap berlanjut dan terus berulang selama beberapa tahun. Daya gerak yang sederhana dari tindakan-tindakan birokratis yang berangkai dan berjalinan itu sangat menyulitkan staf Bank Dunia untuk mempertimbangkan kembali premis-premis dan akibat-akibat dari semua proyek pembangunan.

Dinamika ini menimbulkan paradoks yang lain: sebagian besar institusi birokratis yang berusaha untuk mengatur, menata dan memandang dunia hanya sebagai bahan mentah yang memerlukan penerapan prinsip ilmu pengetahuan dan efisiensi ekonomi. Namun, aktivitas mereka sering kali irasional dari perspektif ekonomi yang luas maupun ilmu pengetahuan. Apa yang berjalan di sini sering kali tidak kompeten atau di luar jangkauan. Sejumlah keputusan birokrasi yang berangkaian dan sejumlah prinsip seperti efisensi ekonomi, jika diterapkan pada seluruh rantai tindakan birokratis, ternyata malah bertentangan dengan rasionalitas formal organisasi, tidak lagi efektif dalam melanjutkan pekerjaan apapun.

Jadi, dalam kasus tertentu, transformasi teknologi terhadap alam dan masyarakat mungkin tampak nihilistik dan irasional, tetapi itu dipandang rasional dalam pengertian organisasi. Memang, dalam suatu tindakan tertentu — katakan, pendanaan Bank Dunia pada bendungan Narmada atau Transmigrasi Tahap II di Indonesia — tujuan atau prinsip asli yang membenarkan proyek itu sering tidak berfungsi pada tindakan berikutnya, sehingga dirumuskan sebuah tujuan atau pembenaran yang baru. Dalam persepsi kelembagaan dan pengambilan kebijakan, peranan “tindakan asli” dan konsekueksi pokok sudah lama ditinggalkan.

Mekanisme, teknologi, dan teknokrasi yang demikian, sebagai prinsip-prinsip pengorganisasian masyarakat, tampaknya mengambil dinamika manusia sendiri. Prinsip-prinsip ilmu pengetahuan dan ekonomi berperan sebagai sarana bagi dinamika ini, tetapi diabaikan atau dibuang ketika prinsip-prinsip itu bertentangan dengan dinamika itu.ac)

Unsur lain dalam dinamika pembangunan modern yang tampaknya tak dapat dihentikan itu adalah apa yang disebut Langdon Winner sebagai “desakan teknologi” — kenyataan menunjukkan bahwa pemakaian teknologi modern sering kali memerlukan perubahan-perubahan yang lebih lanjut menyusun-ulang seluruh lingkungan alam dan sosial yang menjadi sasarannya. “Seseorang harus menyediakan,” Winner menyatakan. “tidak hanya satu cara tetapi juga seluruh cara yang ada.“154 Misalnya, berbagai pilihan untuk memproduksi tenaga listrik yang ada — apakah pembangkit listrik tenaga batu bara, tenaga atom, bendungan hidroelektrik, atau penanaman modal untuk penghematan energi — mempunyai konsekuensi sosial, politik, dan lingkungan yang tidak dapat dielakkan. Banyak konsekuensi lain juga mengundang lebih banyak intervensi teknologi dan rekayasa sosial yang tidak dikehendaki. Ini terutama terjadi pada masyarakat yang kurang maju, yang struktur sosialnya masih tradisional. “Semua kultur harus benar-benar dipisahkan dan disusun ulang sebelum “modernitas” tinggal landas.”155 Modernisasi dalam pengertian ini tidak lain dari aplikasi praktis metode Cartesian (abtraksi, analisa, rekontruksi [atau sintesa] dan kontrol) pada seluruh masyarakat dan ekosistem.

Masalah mendasar modernitas adalah pembangunan yang semula dituntut sebagai tujuan absolut ternyata tidak sesuai harapan. Ini sudah menjadi tema suram beberapa filusuf terkemuka abad ke-20. Dalam pengasingannya di New York tak lama sesudah Perang Dunia II, filsuf Jerman-Yahudi Max Horkheimer menulis tentang modernitas dan pembangunan dari sudut pandang malapetaka dua perang dunia dan ancaman perang nuklir. Nihilisme modernitas, Horkheimer menyatakan, berakar pada kerangka epistimologi Cartesian, karena ia meninggalkan pada satu sisi sebuah “ego abstrak yang kosong dari semua subtansi kecuali percobaan-percobaannya untuk mentranformasikan segala sesuatu di langit dan bumi menjadi alat-alat bagi pemeliharaannya, dan di sisi lain hanya mendominasi benda, tanpa tujuan lain kecuali dominasi itu sendiri.”156

Akal menyerahkan otonominya dan hanya menjadi sebuah instrumen, yang “sepenuhnya dimanfaatkan untuk proses sosial. Nilai operasionalnya, perannya dalam dominasi atas manusia dan alam, telah menciptakan kriteria tunggal.”157 Transformasi semua eksistensi menjadi suatu “bidang alat-alat” telah menciptakan kondisi yang dapat menimbulkan perusakan pada subyek yang mengalami transformasi itu. C. S. Lewis menyebutnya pengingkaran terhadap manusia.158 Hal ini membutuhkan tidak hanya penghilangan gagasan sosial tertentu dari kebebasan dan individualitas manusia, tetapi juga — dalam kasus yang ekstrim — prasyarat bagi perusakan fisik umat manusia. Unjuk kekuatan intelektual diwujudkan dalam totalisasi pemikiran instrumental, demikian Horkheimer menulis, “yang meletakkan dasar bagi peran kekuasaan dalam wilayah politik.”159

Dari perspektif filsafat yang berbeda, Heidegger juga membuat sebuah analisa yang sama. Bahasanya adalah sulit dipahami karena dia sedang berusaha keras untuk menyampaikan sebuah pengertian tentang hubungan kita dengan dunia yang akan melebihi nihilisme dualisme Cartesian. Bahasanya adalah bahasa yang mencoba membuat kita berpikir mengenai dunia sebagai “sesuatu” yang tidak didasarkan pada persepsi-persepsi dan tindakan-tindakan subyektivitas manusia. Teknologi, Heidegger menulis, adalah jalan di mana Wujud (Being) menampakkan dirinya sendiri pada era modern, “sebuah tantangan terhadap kenyataan yang tampak sebagai cadangan tetap (Bestand).”160 Meskipun “manusia mengendalikan teknologi, tetapi dia ambil bagian dalam penataannya sebagai cara penampakan”. “Penampakan itu sendiri tidak pernah tercapai sebagai hasil perbuatan manusia, tetapi lebih merupakan bidang yang dilewati manusia (sebagai subyek) setiap waktu untuk berhubungan dengan obyek.”161 Agaknya, penampakan ini, yang menjadi sasaran penataan, merupakan Wujud (Being), yang disebut Heidegger sebagai “Ge-stell” (Enframing).162 Enfarming itu berupa penetapan, penataan, tranformasi, dan penampakan segala sesuatu di dunia sebagai “cadangan tetap” — sebagai sesuatu yang siap untuk dipakai dan untuk ditransformasikan dan lalu dipakai lagi. Proyek pencerahan dan obyek-obyeknya, memerlukan pembenaran dan reduksi ontologis dari dunia sebagai bahan mentah untuk dikenali, ditata, ditransformasikan, dikontrol, dipakai, dan terus-menerus demikian.

Konsep “Enframing” dari Heidegger mempunyai selubung sejarah dalam penafsiranad) pembangunan ekonomi bangsa Barat yaitu proses pemagaran (enclosure). Definisi enclosure adalah, menurut Oxford English Dictionary, “menyisipkan ke dalam sebuah kerangka atau latar belakang.”163 Sebagai proses sejarah, pemagaran (enclosure) bermakna lebih dari sekadar memagari dan pengambilan alih daerah pengembalaan orang Inggris di abad ke-18. Pemagaran (enclosure) merupakan dinamika sosial dan ekonomi dari modernitas itu sendiri, yang merobek “masyarakat serta tanah, hutan, keterampilan, teknologi dan kosmologi mereka dari kerangka budaya asal,”164 dan kemudian ditata ulang ke dalam kerangka baru bagi penggunaan dan pembangunan yang dirasionalisasikan. Hal itu merupakan proses memisahkan konteks dan pola sosial asal dalam penggunaan sumber-sumber kehidupan dan penyusunan ulang potongan-potongannya dalam satu kerangka baru, yang pada akhirnya semua alam dan umat manusia menjadi arena terbuka bagi penggunaan akal instrumental. Sedangkan “beberapa potongan yang tidak cocok dengan kerangka baru itu disingkirkan.”165 Potongan-potongan yang “tak berguna” itu meliputi hampir semua species di bumi kecuali yang peluasaan eksistensinya dapat dibenarkan bukan sebagai suatu tujuan itu sendiri, melainkan sebagai unsur fungsional dari suatu pemikiran instrumental — seperti cadangan air yang mengandung keanekaragam hayati yang dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi di masa mendatang, misalnya, atau seperti tabung-tabung yang digunakan untuk menyerap karbon dioksida yang diproduksi industri. Pemagaran (enclosure) juga proses marginalisasi terhadap sejumlah besar manusia, yang dipaksa keluar dan terusir dari komunitas dan lingkungan asal.

Ironisnya, Heidegger melihat, di dalam dunia yang demikian, yang dipercaya dan ditata sebagai cadangan tetap, “orang di manapun dan kapanpun ternyata hanya menjumpai dirinya sendiri.”166 Ada sebuah tendensi untuk memandang bahwa segalanya dapat dibuat, dikerjakan, diganti, dan diubah.167 Bahaya yang paling besar, menurut Heidegger, terletak pada sikap umat manusia yang “mengagungkan (dirinya sendiri) seolah-olah menjadi tuhan di muka bumi,” maka kemanusian itu sendiri menjadi “cadangan tetap”, menjadi bahan mentah yang harus diorganisasikan dan ditata untuk digunakan bagi tujuan yang lain.168

Perubahan Alam dan Krisis Modernitas

Bank Dunia didirikan pada puing-puing perang dunia dan Perang Nuklir, keduanya dimungkinkan oleh teknologi dan pengorganisasin birokrasi modern. Sebuah tantangan politik yang mendasar pada akhir abad ke-20 menetapkan ketidakmampuan kita untuk menguasai secara politik aparatur teknologi dan sosial yang sangat besar yang ditempa untuk membangun planet ini. Memang ia secara tepat merupakan kombinasi dari pengorganisasian birokrasi, ekonomi, dan teknologi yang dirasionalisasikan untuk melayani tujuan-tujuan yang tak dapat dihitung secara politik yang hanya menimbulkan kengerian abad ini. Sekarang, alam sendiri tampak dalam pemberontakan melawan kemaharajaan manusia atas segalanya, sebagaimana yang dilakukan oleh komunitas-komunitas lokal dan masyarakat-masyarakat adat yang sumber hidupnya terancam. Pemberontakan alam telah menjadikan krisis politik modern, krisis masyarakat teknologi sebagai masalah global.

Kita telah melihat bahwa Bank Dunia adalah lembaga yang tetap melanjutkan budaya modernitas pada pertengahan abad 20, sebuah pengejawantahan praktis dari proyek historis dan filosofis pada era modren yang dimulai dengan Pencerahan. Pada masa keemesan globalnya, proyek modernitas semakin diserang oleh konsekuensi alam yang tak dapat dikontrol dan tak diharapkan, dan juga oleh penyakit-penyakit sosial. Pengertian kemajuan masa depan terpadu dan universal, yang berbasis pada teknologi, pembangunan, dan transformasi yang terus-menerus terhadap alam dan menyarakat yang dipandang sebagai bahan mentah bagi pertumbuhan dan keuntungan materi tampak problematik — bahkan bagi beberapa orang di dalam Bank Dunia.

Vaclav Havel pernah menulis, “tujuan dari Komunisme… adalah sebuah pesan yang tidak kita telaah dan pahami secara penuh,” karena ia mengisyaratkan sebuah tujuan tidak hanya untuk abad ke 19 atau 20, tetapi juga untuk keseluruhan masa modern.” Era modern, lanjut Havel, sudah didominasi oleh kepercayaan

Bahwa dunia — dan demikian juga Kehidupan — adalah suatu sistem yang seluruhnya dapat diketahui, yang diperintah oleh sejumlah peraturan universal yang dapat ditangkap oleh manusia dan secara rasional mengarahkannya untuk mendapatkan keuntungannya sendiri… (Ia) menimbulkan kepercayaan yang membanggakan bahwa manusia…adalah mampu secara obyektif menggambarkan, menjelaskan dan mengontrol segala sesuatu yang ada, dan mampu memiliki satu-satunya kebenaran mengenai dunia ini. Ini merupakan era di mana terdapat cara pemujaan objek yang dibuat sesuka hati… suatu era kepercayaan terhadap kemajuan yang otomatis yang diperantarai oleh metode ilmu pengetahuan. Ini adalah era sistem, lembaga, mekanisme, dan statistik. Ini adalah era ideologi, doktrin, interpretasi kenyataan, sebuah era yang bertujuan untuk mendapatkan sebuah teori universal mengenai dunia, dan karena itu menjadi sebuah kunci universal untuk membuka kemakmuran dunia.

Komunisme adalah perbedaan besar yang berlawanan dengan kecenderungan ini… suatu usaha, yang mendasarkan pada beberapa proposisi yang menyamar sebagai satu-satunya kebenaran ilmu pengetahuan, untuk mengorganisasikan semua kehidupan sesuai dengan satu model tunggal, dan mengarahkannya pada pengeloaan masyarakat yang terencana dan terpusat yang tidak menghiraukan apa yang dituntut atau tidak dituntut oleh kehidupan.

Kegagalan Komunisme dapat dianggap sebagai tanda bahwa pemikiran modern — yang didasarkan pada premis bahwa dunia secara obyektif dapat diketahui, dan bahwa pengetahuan yang dicapai dapat disamaratakan secara mutlak — telah sampai pada suatu krisis yang final. Era ini telah menciptakan peradaban teknologi global yang pertama, tetapi ia telah mencapai titik yang melebihi kedalaman jurang yang paling dalam.169

Seseorang dapat berspekulasi bahwa usaha-usaha awal untuk merespons krisis ini akan memerlukan tindakan-tindakan pada dua tingkatan. Pertama, adalah perlu menciptakan mekanisme yang efektif dari pertanggungjawaban politik dan transparansi bagi institusi seperti Bank Dunia yang mempunyai peran penting dalam perencanaan dan manajemen sumber daya global. Sesungguhnya, adalah perlu untuk mencipta ulang intitusi-institusi tersebut, dan mengalihkan sumber-sumber yang mereka miliki kepada institusi-intitusi alternatif yang tidak terpusat, yang lebih fleksibel dan peka. Tetapi usaha-usaha yang demikian akan menjadi kurang membantu apabila tidak dilakukan penilaian ulang dan perubahan pada hubungan antara masyarakat manusia dengan alam dan bumi ini. Di samping itu, kita akhirnya akan menjadi “majikan dan pemilik alam” pada saat ketika baik umat manusia maupun alam rusak. Masa depan yang berbeda harus tidak hanya diangankan, tetapi dibebaskan dan diizinkan untuk terjadi.

Manajer-manajer yang memberikan pinjaman jutaan dolar AS, dengan akses yang berbeda pada teknologi dan pengaruh politik dari pinjaman tersebut, menyatakan ketidakmungkinan terwujudnya masa depan yang berbeda. Mereka juga berupaya untuk menghentikan bahkan satu saja dari proyek mereka sendiri, karena adanya banyak kesulitan. Sementara itu beberapa masayarakat yang paling miskin, paling tak berdaya di bumi, mulai dari Chico Mendes dan penyadap karet di Brazil sampai masyarakat adat Lembah Narmada, secara fisik telah mengemukakan diri mereka untuk menandaskan bahwa pembangunan bukan hanya dapat diarahkan, tetapi juga dapat diarahkan dan dipikirkan kembali oleh orang-orang yang terkena dampaknya. Dan, karena pelanggarannya tergolong paling besar, pembangunan dapat dan pasti bisa dihentikan, setidak-tidaknya dari bentuknya yang sedang diterapkan sekarang ini. Pemberontakan yang pengetahuan lokal dan berbagai wacana dan kemungkinan tentang masa depan, yang menentang nafsu raksasa global yang tunggal, telah muncul dari “tradisi yang kaya dan kuno berupa penolakan dan protes”, demikian Dostoyevsky. Dan pemberontakan itu akan meledak pada saat ia sudah sangat dibutuhkan.

****

a) Literatur yang asli pada pokok bahasan tersebut mengenai pembangunan ekonomi di era modern tentu saja sangat banyak; untuk pengantar, lihat H.W. Arndt, Economic Development: The History an Idea (Chicago: University of Chicago Press, 1987); Walt W. Rostow, How it All Began: Origins of the Modern Economy (New York: McGraw-Hill Book Company, 1975); J.B. Bury, The Idea of Progress: An Inquiry into its Origin and Growth (New York: Dover Publication, 1932).

b) Rostow mencatat bahwa melewati abad ke-18, modernisasi secara luas merupakan urusan “dari atas ke bawah” (top down): penelitian teknik dan penciptaan pabrik-pabrik serta pasar dengan penuh ketekunan dan sungguh-sungguh dipromosikan oleh pemerintahan nasional yang secara gradual membentuk suatu perasaan kebangsaan. “Berkenaan dengan masa depan,” dia dengan optimistis menyatakan, “tugas-tugas ekonomi yang dijalankan oleh berbagai pemerintah pada awal Eropa modern memperkirakan bahwa negara-negara itu menjadi bagian yang terindustrialisasi dari dunia yang tengah membangun setidak-tidaknya setelah tahun 1945” (Rostow, How It All Began, 20, 103).

c) Arndt menyimpulkan bahwa kemiskinan, kebutuhan-kebutuhan dasar, dan cita-cita teknologi alternatif yang masuk perbincangan pembangunan internasional pada akhir tahun 1960-an dan 1970-an dipandang secara skeptis oleh sebagian besar elite pemimpin dan pemerintah negara-negara berkembang sebagai pengalihan dari proyek utama, yaitu peningkatan kekuasaan nasional melalui modernisasi ekonomi. Masalah-masalah itu tampak mencerminkan keraguan bangsa Barat yang sedang tumbuh terhadap kebaikan-kebaikan pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan sosial yang terus-menerus melebihi berbagai tuntutan pemerintah negara-negara berkembang (Arndt, Economic Development, 108-111).

d) Meskipun demikian, jelas keliru bila kita berpikiran bahwa seluruh masyarakat tradisional perlu lebih luwes lagi beradaptasi dengan lingkungan mereka, hidup tanpa kekerasan, ataupun “lebih bahagia” daripada kita. Ahli antropologi dari UCLA Robert B. Edgerton, misalnya, mengritik kepercayaan “bahwa masyarakat yang berskala kecil beradaptasi dengan keadaan ekologi mereka secara lebih baik dibandingkan dengan masyarakat kita… sebagian mungkin itu benar, tetapi sebagian lainnya tidak. Dalam sejumlah masyarakat kecil, orang-orang secara kronis lapar dan kecil kepeduliannya dengan kemakmuran orang lain sesamanya” (Robert B. Edgerton, Sick Societies: Challenging the Myth of Primitive Harmony [New York: Free Press, 1992], 12).

e) Dalam Discourse on Method, Descartes menulis: “Rantai panjang pemikiran tersebut, yang sangat sederhana dan mudah, dan sering digunakan para ahli geometri untuk mengajarkan peragaan yang paling sulit, membuat saya membayangkan bahwa segala sesuatu yang dapat diliputi oleh pengetahuan manusia sebenarnya bisa dihubungkan dengan cara seperti itu.” (Discourse on Method and the Meditations [lihat catatatan akhir 1], 41).

f) Sebuah kota yang kreasi dan desain fisiknya tampak sangat Cartesian berupa dominasi ruangan, baik sebagai sebuah pusat kota maupun sebagai ibu kota negara baru yang direncanakan dapat membuka dan mengontrol warga Brasil.

g) Kesannya ialah sebuah karikatur, tetapi nyata. Dan hal itu membuka pola pikir yang memandang sebagian permukaan yang luas dari bumi ini dengan cara yang sedikit lebih diskriminatif dibandingkan dengan pandangan “bola lilin”-nya Descartes. Pandangan “bola lilin” itu, menurut filsuf besar tersebut, “tidak lebih dari sesuatu yang diperluas, fleksibel, dan mudah dibentuk”. Bank Dunia menyatakan mendukung pendekatan tersebut saat ini, yang sebenarnya telah muncul di tahun 1980-an. Pendekatan itu dulu disebut “pembagian zona ekologi-pertanian”, yang dalam teorinya dimulai dengan topografi, kualitas tanah, penggunaan tanah yang ada, dan sebagainya, dalam rencana penggunaan tanah Amazon. Akan tetapi dalam praktik tidak berubah sama sekali, ada banyak hal yang disembunyikan (lihat Bab 6).

h) Para komentator telah mencatat bahwa penggunaan kata inquisition (keingintahuan) di sini sangat penting. Metode Bacon mengandaikan sebuah program eksperimentasi dan manipulasi alam yang aktif sebagai kunci bagi pengetahuan dan kekuasaan: “Rahasia alam akan lebih cepat terkuak bila didekati dengan pengetahuan ketimbang dengan membiarkan rahasia itu ‘terbuka’ sendiri.” (Novum Organum [lihat catatan akhir 31), Aphorisme 98). Lihat Jatinder K. Bajaj, “Francis Bacon, the First Philosopher of Modern Science” di dalam Ashis Nandy, ed., Science Hegemony and Violence: A Requiem for Modernity (Delhi: Oxford University Press, 1990), 47. Shiv Vivanathan menyebut ini “Mandat pembedahan hidup-hidup, yang menjadikan orang lain sebagai objek eksperimen. Cara ini sebenarnya merupakan kekerasan, dan rasa sakitnya dibebankan atas nama ilmu pengetahuan (sains)” (Vivanathan, “On the Annals of the Laboratory State,” dalam Nandy, op. cit., 259).

i) Wienberger mencatat bahwa versi bahasa Latin dari Bacon menggunakan kata “vinvitur“, yang secara literal lebih tepat bermakna “menaklukkan” daripada “memerintah”. (New Atlantis and The Great Instauration [lihat catatan akhir 30], h. 21, cat. 40.)

j) Beberapa studi yang lebih baru (dibanding dengan studi Rostow) yang dilakukan oleh para ahli sejarah ekonomi menekankan peranan penataan (arrangements) baru, yaitu susunan sosial, hukum, dan hak-milik yang lebih efisien secara ekonomi. Semua itu, bersama-sama penemuan teknologi, menciptakan dorongan-dorongan yang menguatkan usaha ekonomi individual dan karenanya menjadi “kunci untuk pertumbuhan” (Douglas C. North dan Robert Paul Thomas, The Rise of the Western World: A New Economic History [Cambridge, England: Cambridge University Press, 1973], 1; lihat juga Nathan Rosenberg dan L.E. Birdzell, Jr., How the West Grew Rich: A New Economic Transformation of The Industrial World [New York: Basic Books, 1986] ). Di Inggris pada paro terakhir abad ke-17, penataan tersebut termasuk: “penciptaan hukum hak cipta yang pertama untuk menjamin penemuan, pembersihan sisa-sisa perbudakaan feodal… perusahaan saham gabungan… rumah kopi, yang merupakan awal dari asuransi terorganisasi; penciptaan keamanan dan pasar komoditas; pengembangan tukang emas menjadi bankir deposit yang menerbitkan nota bank, melakukan pemotongan uang kertas dan mengadakan bunga deposit” (North dan Thomas, 155); dan, tentu saja, pendirian Bank Ingris pada tahun 1694. Demikianlah, itulah yang terjadi. Akan tetapi mengapa itu terjadi dan apa esensi dari semua proses tersebut? Dilihat dari esensinya, itu semua merupakan persoalan filosofis, yang jawabannya tergantung pada apa yang dicari dari proses tersebut. Lihat esai Martin Heidegger “The Question Concerning Technology” (lihat catatan akhir no. 51).

k) Karyanya, Traces on the Rhodian Shore (lihat catatan akhir no. 52) tetap merupakan studi yang merumuskan konsepsi-konsepsi alam dalam sejarah Barat sampai akhir abad ke18-an.

l) “Of the Incalesence of Quicksliver into Gold” yang terdapat dalam the Philosophical Transactions of the Royal Society.

m) Ini adalah pandangan ahli eknomi ekologi Swiss Hans Binswanger (yang ironisnya merupakan “ahli ekonomi agrokultural” kenamaan di Bank Dunia). Melalui suatu interpretasi yang sangat menarik mengenai bagian kedua dari Faust karya Goethe, dia menggambarkan dasar ekonomi modern sebagai sebuah proses kimia. (Hans Christoph Binswanger, ‘Die Moderne Wirtshaft als alchemistischer Prozess: Eine oekonomische deutung von Goethe’s ‘Faust,” (Ekonomi Modern sebagai Proses Ekonomi: Sebuah Interpretasi Ekonomi atas “Faust” karya Goethe] Neuen Rundschau, Nr. 2, 1982, dicetak kembali dalam Leviathan, Zeitschrift fuer Sozialwissenschaft, 1986, Heft1.)

n) Hal yang paling mengesankan dari Newton ketika memegang jabatan di Lembaga Percetakan Uang adalah energinya dalam memburu para pemalsu uang, menciptakan jaringan informan dan mata-mata di seluruh Inggris, melakukan penyamaran dan mengunjungi bar serta tempat tinggal para penjahat untuk mendapatkan informasi. Dalam satu periode 19 bulan (Juni tahun 1698 sampai Natal tahun 1699), Newton tampak, di dalam 123 hari yang terpisah pada Lembaga Percetakan Uang, menginterogasi 200 informan dan tersangka, banyak di antaranya yang kemudian dieksekusi (Manuel, Potrait of Isac Newton [lihat catatan akhir 58], 230).

o) Orang yang mengemukakan sistem Santa-Simonian pada serangkaian kuliah antara tahun 1828 dan 1830, yang dipublikasikan dengan judul The Doctrine of Saint-Simon: An Exposition (lihat catatan akhir 72).

p) Menurut Manuel, “bank pemersatu” akan disuplai dengan kredit sesuai dengan apa yang Santa-Simon sebut sebagai hasil tahunan keseluruhan dari industri, atau mirip GNP sekarang ini. Lembaga-lembaga kredit lokal yang besar dan bank-bank industri yang dikhususkan akan menentukan sisi debit. “Dalam dunia mimpi para bankir ini”, Manual menyimpulkan, “tuntutan-tuntutan (finansial) dari pengawasan yang disentralkan dan dari lembaga khusus lokal diseimbangkan secara lembut — seperti itu juga agaknya praktik kontemporer, meskipun bukan teori, dari ekonomi-ekonomi yang diorganisasikan secara tinggi” (Manual, The Prophets of Paris [lihat catatan akhir 73], 177).

q) Sisi lainnya dari karier Enfantin akan menjadi pokok bahasan yang menarik bagi suatu sejarah. Dia mencoba menutup gerakan Santa-Simon ke dalam suatu hal yang sedemikian rupa sama dengan apa yang sekarang disebut suatu cara memuja Era Baru (New Age). Dia mempromosikan sejenis utopian, agama pantheistik (berdasarkan pandangan Santa-Simon mengenai zaman baru yang akan sampai ketika ide-idenya diterapkan dalam praktik). Dia membela cinta bebas dan penghapusan perkawinan. Dia memapankan dirinya sebagai “Bapa” (Father) dari pemujaan oleh para pengikutnya yang bertindak sebagai “rasul-rasulnya”, dan bermaksud mempublikasikan kitab Santa-Simonan dari teks-teks yang berasal dari sang guru, serta membangun candi Santa-Simon yang akan dibangun dengan besi. (Markham, kata pengantar untuk Santa-Simon, Selected Writings [lihat catatan akhir 65], xxxvii-xxxix.)

r) Cita rasa Santa-Simonian dalam kepercayaan teknokratik secara khusus adalah tidak terhingga pada generasi pertama. Nassar mengumumkan, setelah pembangunan Bendungan Aswan, Mesir “akan menjadi surga”; bagi Nehru, bendungan terhebat di India merupakan “candi modern”, dan Nkrumah, pemimpin pertama Ghana setelah merdeka pada tahun 1958, mendeklarasikan bahwa Bendungan Sungai Volta yang besar (dan dibiayai oleh Bank Dunia) akan menggembar-gemborkan suatu era baru di mana “orang-orang Ghana akan berhenti menjadi penebang kayu dan menimba air dari sumur” (Vivanathan, “On the Annals of the Laboratory State,” dalam Nandy, ed., Science, Hegemony and Violence [lihat endnote 41], 279).

s) Sebagaimana dinyatakan seorang sosiolog Belanda, pembangunan tidak lain dari Pencerahan yang diterapkan atau modernisasi yang dioperasionalkan” (Jan Nederveen Pieterse, “Emansipation, Modern and Posmodern,” Development and Change, vol. 23, no. 3 [July 1992]

t) Setelah 1851 Istana Kristal disatukan menjadi bagian London, dan eksibisi itu menjadi acara semi-permanen selama beberapa tahun.

u) “Bagaimana demokrasi bahkan dalam pengertian yang terbatas akan benar-benar terwujud? Bagaimana seseorang dapat menyelamatkan sisa-sisa kebebasan individu ini sesuai pengertian yang sebenarnya?” (Weber, Economy and Society [lihat catatan akhir 98], vol 2, 1403).

v) Semua hikayat epik tentang kejangakan (keberandalan) ekonomi dan penyia-nyiaan lingkungan yang dipropagandakan oleh dua agen ini diungkap dalam Cadillac Desert karya Marc Reisner (lihat catatan akhir 119).

w) Dalam kata-kata Letjen. Henri J. Hatch, komandan Korps Insyinyur Tentara, “pembengkokan” yang diusulkan, yang sangat mahal biayanya, dari Sungai Kissimmee di Florida untuk menyelamatkan danau Lake Okeechobee dan seluruh kedung air di Florida Selatan dari ancaman ekologi yang disebabkan oleh Proyek-proyek Korps yang lebih dulu yang telah meluruskan dan membuat saluran pada sungai yang sama adalah “studi kasus yang tepat” dari pendekataan baru Korps. (Letjen. Henry J. Hatch, dalam “Green Technology and National Security” [lihat catatan akhir 133], 43.)

x) Menurut orang Tennesse, William Chandler, pengarang The Myth of TVA (lihat catatan akhir 135), tempat saya dengan berat mempercayakan diskusi ini.

y) Gunther mencatat bahwa pendapatan per kapita naik 75 persen sejak tahun 1933 sampai 1946, sementara sebaliknya 56 persen di daerah lain diluar Tenessee; upah naik 57 persen, sedang di tempat lain 47 persen; dan nilai produk yang dihasilkan naik 68 persen yang sangat kontras dengan 54 persen di tempat lainnya itu. (Gunther, Inside U.S.A. [lihat catatan akhir 134], 738.)

z) Ini termasuk perusahaan-perusahaan Damodar Valley Corporation di India, Sao Francisco Valley Commission di Brazil, dan Cauca Valley Corporation di Kolombia.

aa) Yaitu, munculnya biaya ekonomi akibat pemilihan investasi yang kurang produktif dibandingkan dengan alternatif yang sebenarnya dapat dikerjakan dengan mudah.

ab) Chandler mengamati bahwa kritik-kritik ini akan dilunakkan oleh suatu pengakuan bahwa terdapat kemungkinan kecil TVA dapat melakukannya dalam banyak kasus “untuk mencegah kecendurungan-kecendrungan yang mennasional terhadap pertanian-pertanian yang luas dan pertanian-pertanian yang mekanis” (Chandler, The Myth of the TVA, 98).

ac) Tidak terdapat kontradiksi di sini: Fakta bahwa interfensi teknologi yang masif pada bumi bisa menjadi tak rasional atau tak masuk akal dari prespektif ekonomi dan ilmu pengetahuan yang luas (misalanya, penjajahan pertanian atas hutan hujan tropis, pembangunan bendungan raksasa) tidak berarti bahwa manusia tak dapat melakukankanya. Dan malahan ilmu pengetahuan dan ekonomi memberikan sarana-sarana teknologi dan administrasi untuk melaksanakan proyek-proyek tersebut secara efektif.

ad) Lihat, misalnya, “Development as Enclosure” dan “The Encompassing Web“, dalam Whose Common Future?” edisi khusus Ecologist, vol. 22, no. 4 (Juli/Agust 1992), 131-57; untuk laporan umum, lihat Jeremy Rifkin, Biosphere Politics: A Cultural Odyssey from the Middle Ages to the New Age, bagian 1, “Enclosing the Global Commons” [New York: Harper Collins, 1991), 11-94.

Komentar ditutup.