Sambal Harus Selalu di Atas Cobek

Potret Keseharian Bung Karno; Kesaksian Mangil (1)
Sumber Jawa Pos

Sambal Harus Selalu di Atas Cobek

Selama ini, sosok Bung Karno lebih dikenal sebagai seorang politikus yang brilian. Dia memang seorang orator ulung, retorikanya sangat terkenal. Tetapi, bagaimana sebenarnya keseharian Bung Karno? Bagaimana ayah kandung Ketua DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri ini mengisi waktu luang di antara kesibukan menjalankan tugas-tugas kepresidenan? Inilah kisah tentang keseharian Bung Karno, yang ditulis Mangil Martowidjojo, bekas komandan Datasemen Kawal Pribadi Presiden Soekarno, dalam bukunya.

Bung Karno ternyata cuma rakyat biasa. Terutama dalam soal makan. Tak ada yang mewah atau luar biasa dalam menunya. Seperti yang ditulis Mangil dalam buku Kesaksian tentang Bung Karno 1945–1967 ini. Mangil, anak petani dari Desa Koripan, Wuryantoro, Wonogiri, Jateng, ini menulis, kebiasaan makan Bung Karno sangat sederhana. Bila makan di Istana Merdeka –tempat tinggal Bung Karno dan keluarga–, Bung Karno sangat jarang menggunakan sendok dan garpu. Tokoh proklamator kemerdekaan ini lebih suka menggunakan tangan. ’’Ini memang sudah menjadi kebiasaan Bung Karno sejak dulu,’’ tulis Mangil yang tak bisa menyaksikan tulisannya ini karena telah menghadap sang pencipta pada Januari 1993.

Kalau makan, biasanya Bung Karno bersama keluarga. Nasi yang dimakan hanya satu mangkuk kecil. Sayuran yang paling digemari adalah sayur lodeh, sayur asem, juga telur mata sapi. Masih ada lagi menu favorit lain. Yaitu, ikan asin dan sambal. ’’Sambal ini tak boleh dipindah dari cowek atau ditaruh di piring,’’ kata Mangil.

Menu makanan Bung Karno bisa dikatakan tak mewah. Makanan rakyat biasa saja. Minumnya juga hanya teh. Kalau pagi, Bung Karno biasa mimun kopi tubruk. Cara membuat kopi jenis ini ada resepnya. Satu cangkir diisi dengan satu sendok kopi dan satu setengah sendok gula. Kalau pagi, penggali Pancasila itu selalu sarapan tempe goreng atau roti bakar dan dua sendok madu tawon ditambah dengan telur mata sapi. Setelah makan, biasanya Bung Karno mengisap sebatang rokok merek States Ekspress (rokok 555).

Selain menu di atas, sarapan pagi Bung Karno bisa juga berupa satu mangkuk kecil nasi, sayur daun singkong, sambal, dan ikan asin. Tak ketinggalan sawo dan pisang. Minumnya? Hanya teh. Bahkan, Bung Karno sering meminta para pengawal atau ajudannya untuk makan pagi bersama.

Terkadang, Bung Karno juga makan di luar. Kalau pergi ke rumah makan, Bung Karno senang ke Rumah Makan Tungkong yang terletak di kawasan Menteng. Kalau sekarang, letaknya persis di lokasi Patung Pak Tani. Di rumah makan ini, biasanya Bung Karno memesan mi goreng, nasi goreng, ayam goreng, atau sate ayam.

Bagaimana soal pakaian? Bung Karno paling teliti soal pakaian. Kalau ada wartawan atau kawan berpakaian kurang rapi, misalnya memakai dasi miring, Bung Karno langsung membetulkan. Hal yang sama ia lakukan terhadap duta besar yang cukup akrab dengan Bung Karno.

Pria yang senang memakai peci ini kalau berpakaian sangat rapi dan teratur. Ia juga mempunyai tukang jahit langganan. Namanya The, seorang Tionghoa warga negara Indonesia. The ini mempunyai usaha jahit bernama Smart di Jalan Sawah Besar.

Untuk pakaian sehari-hari, Bung Karno juga sangat sederhana. Kalau robek, Bung Karno biasanya meminta untuk dijahit kembali. Setelah itu, ia pakai lagi. Apalagi, kalau pakaian tersebut termasuk favorit Bung Karno. Meski dijahit di sana-sini, pakaian ini tetap dipakai. Demikian pula alas kaki. Bung Karno lebih suka mengenakan sandal lama, bahkan yang hampir rusak.

Kursi rotan yang paling digemari Bung Karno juga kursi rotan yang sudah lama dipakai. Menurut pria yang lahir pada 6 Juni 1901 ini, kursi rotan lama akan mengikuti bentuk tubuh pemakainya. Jadi, lebih enak diduduki.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Bung Karno seorang kutu buku. Tak mengherankan, waktu luang yang ada ia gunakan untuk membaca. Bila Bung Karno sedang duduk sendirian di kursi, di atas meja dekat kursi itu harus ada tumpukan koran atau buku bacaan. Pada 1950-an, sewaktu baru pindah ke Yogyakarta, anggota DKP bertugas mengambil koran pagi-pagi sekali supaya tidak terlambat dibaca Bung Karno. Di kemudian hari pengiriman koran-koran cukup baik sehingga anggota DKP cukup memeriksa jumlah koran supaya tidak kurang.

Kalau kurang, Bung Karno pasti menanyakan. Juga buletin dari kantor berita. Seperti Antara. Koran yang dibaca Bung Karno, antara lain, Merdeka, Suluh Indonesia, Duta Masyarakat, Pedoman, Indonesia Raya, Sinpo. Pagi-pagi sekali, surat kabar tersebut harus sudah ada di atas meja Bung Karno. Orator ulung ini juga membaca Kompas dan Sinar Harapan. Bila Bung Karno sedang pergi ke kamar kecil dan waktu sebelum ke kamar kecil sedang membaca surat kabar atau buku, bacaan ini dibawa juga ke kamar kecil tersebut.

Terkadang, Bung Karno tinggal di Bandung. Biasanya, Bung Karno menginap di Gubernuran Bandung. Suatu pagi, ketika habis sarapan, Bung Karno bercerita dan bertanya. ’’Mengapa istri para polisi selalu cantik-cantik?’’ tanya Bung Karno tiba-tiba. Semua yang mendengarkan tidak ada yang menjawab. Termasuk Mangil. Sejurus kemudian, Bung Karno bercerita. ’’Sebabnya, polisi itu sering keluyuran keluar masuk kampung dan desa. Dia bisa melihat wanita-wanita cantik dan bisa memilih yang paling cantik. Lalu dia lamar,’’ kata Bung Karno.

Ia juga bertanya, ’’Mengapa polisi dibenci anjing?’’ Lagi-lagi, tak ada yang bisa menjawab. Bung Karno kemudian bercerita. Yang dibenci anjing sebetulnya bukan polisi Indonesia, tetapi polisi di zaman Belanda. Dulu, di zaman penjajahan, kalau polisi melihat anjing berkeliaran di jalan-jalan, dan anjing ini tidak diberangus mulutnya, polisi ini akan menembak anjing tersebut. Ekor anjing ini kemudian dipotong sebagai bukti.

Untuk setiap ekor anjing yang ditangkap, ada uang preminya. Semakin banyak membawa ekor anjing, semakin besar uang premi yang akan diterima. ’’Maka dari itu, di zaman Belanda, kalau ada anjing melihat polisi, ia akan menggonggong keras-keras. Maksudnya, memberi tahu rekan-rekannya kalau ada bahaya,’’ cerita Bung Karno. Hadirin pun tersenyum. (moh. susilo)

Komentar ditutup.