Rusia masuki era demokrasi terpimpin ála Putin

Rusia masuki era demokrasi terpimpin ála Putin

Partai Presiden Vladimir Putin, Yedinaya Rasia artinya partai Rusia bersatu meraih kemenangan gemilang dalam pemilu parlemen Ahad lalu. Dengan demikian partai ini berhasil mengokohkan cengkeramannya dalam parlemen baru. Rentang politik Rusia sekarang bergerak ke kanan. Peran komunis tampaknya telah habis dan oposisi demokrat terkesampingkan sepenuhnya. Dampaknya bagi masa depan Rusia sangatlah dramatis.

Demokrasi terpimpin
Peta politik Rusia sesudah pemilu parlemen Ahad lalu berubah drastis, dan untuk waktu lama. Kemenangan Yedinaya Rasia, Partai Rusia Bersatu memang sudah dipastikan sebelumnya. Tapi kemenangan mutlak yang diraihnya mengejutkan baik kawan maupun lawan. Apabila semua suara dihitung, maka Rusia Bersatu mengantongi 450 kursi dalam parlemen Duma. Lebih dari dulu-dulu, maka parlemen akan semakin dikerutkan menjadi mesin stempel, dengan tugas utama menyetujui undang-undang yang diajukan Kremlin. Inilah ‘demokrasi terpimpin’ à la Presiden Vladimir Putin dalam praktek.

Partai Komunis makin hilang
Proses politik Rusia mandeg. Partai Komunis yang sejak bubarnya Uni Soviet tahun 1991 tidak lagi menjadi partai terbesar, semakin tenggelam akibat kampanye propaganda masal yang dilancarkan Kremlin dengan segala daya dan upaya. Kubu komunis mulai sekarang hanya akan memainkan peran kecil di pinggiran. Partai-partai kecil liberal Yabloko dan SPS terhempas dari Duma. ‘Mereka harus menyadari bahwa peran mereka telah habis’. Demikian seorang karyawan Kremlin. Tidak bisa dipastikan mereka bisa masuk lagi ke dalam Duma di masa mendatang.

Pihak kanan dan ekstrim kanan berteriak menang. Pemenang utama, di samping partai Putin, adalah Partai Nasionalis Radikal pimpinan Vladimir Zhirinovski dan blok nasionalis baru Rodina. Di dalam pekan-pekan sebelum pemilu, Zhirinovski berada di tengah-tengah skandal dan baku hantam. Di samping itu, ia juga menggunakan bahasa anti semit. Sedangkan para pemimpin Rodina mampu menarik suara dengan menggunakan slogan-slogan populis seperti ‘kembalikan kekayaan negara kepada rakyat’. Tidak ada oposisi serius terhadap partai-partai tersebut.

Putin makin popular
Nasib Rusia sekarang berada di tangan Putin. Popularitasnya tetap tinggi, walaupun berlangsung krisis ekonomi dan sosial yang berkepanjangan di sejumlah daerah serta perang Chechnya yang meminta korban jiwa setiap hari. Namun itu semua tidak tampak lagi dalam berita sehari-hari. Kepercayaan terhadap Putin justru semakin meningkat sejak ditahannya orang terkaya Rusia, konglomerat Mikhail Khodorkovski. Tidak disangsikan lagi, Vladimir Putin pasti akan kembali terpilih dalam pemilu presiden Maret mendatang. Pemilih Rusia telah memberi mandat penuh dan terserah Putin bagaimana memanfaatkannya.

Cengkeraman Kremlin
Kalangan usaha Rusia dan Barat berharap Putin akan meneruskan reformasi ekonomi serta mengambil tindakan keras terhadap birokrasi dan korupsi. Memang mungkin. Tetapi tidak ada jaminan bahwa Moskou tidak akan berubah haluan. Bagi penguasa sekarang, perubahan undang-undang dasar sudah dalam jangkauan. Mulai saat ini, lebih dari dulu-dulu, Rusia semakin berada di bawah cengkraman Kremlin. (Wa/Wi)

Komentar ditutup.