PUTRA SANG FADJAR BAB 5

Masuk Tahanan

SEPANDJANG hari dan malam senantiasa melekat dikepala kami antjaman masuk pendjara. Didalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana telah dinjatakan, bahwa: ,,Seseorang jang kedapatan mengeluarkan perasaan-peraeaan kebentjian atau permusuhan   setjara tertulis maupun lisan—atau seseorang jang berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan kegiatan-kegiatan jang menghasut untuk mengadakan pengatjauan atau pemberontakan terhadap pemerintah Belanda, dapat dikenakan hukuman setinggi-tingginja tudjuh tahun pendjara.” Dengan semakin pesatnja pertumbuhan dari P.P.P.K.I., maka pengawasan terhadap Sukarno semakin diperkeras pula. Aku sudah mendapat peringatan dan aku menjadari sungguh-sungguh akibat dan peringatan ini. Semua orang revolusioner bertindak demikian. Ini adalah bagian dari peperangan hebat jang kami djalankan. Dalam perdjalanan ke Solo dengan salah seorang wakil dari P.N.I., Gatot Mangkupradja, aku menjinggung soal ini. ,,Bung, setiap agitator dalam setiap revolusi tentu mengalami nasib masuk pendjara,” aku menegaskan. ,,Disuatu tempat, entah dengan tjara bagaimana, suatu waktu tangan besi dari hukum tentu akan djatuh pula diatas pundakku. Aku mempersiapkanmu sebelumnja.”,,Apakah Bung Karno takut ?” tanja Gatot. ,,Tidak, aku tidak takut,” djawabku dengan djudjur. ,,Aku sudah tahu akibatnja pada waktu memulai pekerdjaan ini. Akupun tahu, bahwa pada satu saat aku akan ditangkap. Hanja soal waktu sadja lagi. Kita harus siap setjara mental.” ,,Kalau Bung, sebagai pemimpin kami, sudah siap, kamipun siap.” katanja. ,,Seseorang hendaknja djangan melibatkan dirinja kedalam perdjuangan mati-matian, djika ia sebelumnja tidak insjaf akan akibatnja. Musuh akan mengerahkan segala alat-alatnja berulang-ulang kali supaja dapat terus-menerus memegang tjengkeramannja jang mematikan. Tapi, sekalipun berabad-abad mereka mendjerumuskan puluhan ribu rakjat masuk bui dan masih sadja melemparkan kita kedalam pembuangan ditempat-tempat jang tidak berpenduduk, djauh dari masjarakat manusia, saatnja akan tiba pada waktu mana mereka akan musnah dan kita memperoleh kemenangan. Kemenangan kita adalah suatu keharusan sedjarah—tidak bisa dielakkan.”,,Kata-kata itu memberikan keberanian padaku, Bung Karno.” kata Gatot. ,,Dalam perdjalanan diatas gerobak-sampah menudju ketiang-gantungan, Pemimpin Revolusi Perantjis berkata kepada dirinja sendiri: ‘Aurlace, Danton Toujours de l’audace’. Ia terus-menerus mengulangi kata-kata itu: ‘Beranikan dirimu, Danton. Djangan kau takut !’ Karena ia jakin, bahwa perbuatan-perbuatannja akan dilukis dalam sedjarah dan tantangan terhadapnjapun merupakan saat jang bersedjarah. Dia tidak pernah meragukan akan datangnja kemenangan jang terachir dan gilang-gemilang. Djadi, akupun begitu.”,,Ada diantara pedjuang kita jang selalu keluar masuk bui setjara tetap,” kata Gatot menerangkan. ,,Seorang pemimpin jang di Garut. Dia sudah masuk 14 kali. Pembesar disana menamakannja sebagai pengatjau. Dalam djangka waktu enam tahun dia meringkuk selama enam bulan didalam pendjara, setelah itu bebas selama dua bulan, lalu masuk selama enam bulan dan keluar lagi tiga bulan, kemudian delapan bulan dibelakang djeradjak besi. Setelah itu dia bebas lagi selama satu setengah tahun dan hukumannja jang terachir adalah dua tahun.”Kami berangkat dengan taksi. Supir kami, Suhada, tergolong sebagai simpatisan. Dia sudah terlalu tua untuk dapat mengikuti kegiatan kami. Dia turut dengan kami tjuma untuk mendengarkan dan menjaksikan sadja. Sedjak permulaan perdjalanan Suhada tidak membuka mulutnja, tapi kini dia bertanja dengan ramah, ,,Berapa banjak saudara-saudara kita jang meringkuk dalam pembuangan ?”Aku tidak perlu berpikir mendjawabnja. Aku tahu djumlahnja diluar kepala. ,,Lebih dari duaribu dibuang di Tanah Merah, ditengah-tengah hutan Boven Digul di Nieuw Guinea jang keadaannja masih seperti di Djaman Batu. Dan pada waktu pembawa-pembawa obor kemerdekaan ini diusir masuk kedalam hutan lebat, mereka pergi dengan tersenjum. Ketika mereka tidak mau mundur setapakpun dari kejakinannja, maka 300 orang diantaranja dibawa ketempat jang lebih menjedihkan, jaitu kamp konsentrasi di Tanah Tinggi. Disitu bertaburanlah kuburan mereka. Dari jang 300 orang itu hanja 04 orang jang masih hidup.”,,Pengorbanan seperti itu telah pula terdjadi dipulau Muting dan pulau Banda,” kataku melandjutkan. ,,Tapi ingatlah, tidak ada pengorbanan jang sia-sia. Ingatkah engkau tentang keempat pemimpin jang digantung di Tjiamis ?”Mereka menganggukkan kepala.,,Salah seorang dari mereka berhasil menjusupkan surat kepadaku dimalam sebelum mendjalani hukumannja. Surat itu berbunji: ‘Bung Karno, besok saja akan mendjalani hukuman gantung. Saja meninggalkan dunia jang fana ini dengan hati gembira, menudju tiang-gantungan dengan kejakinan dan kekuatan batin, oleh karena saja tahu bahwa Bung Karno akan melandjutkan peperangan ini jang djuga merupakan peperangan kami. Teruslah berdjuang, Bung Karno, putarkan djalannja sedjarah untuk semua kami jang sudah mendahului sebelum perdjuangan itu selesai.'”Keadaan dalam mobil mendjadi sunji. Tak seorangpun jang hendak mengutjapkan sesuatu. Suhada terus mengemudikan kendaraan dengan air mata berlinang. Satu-satunja suara ialah denjutan djantung kami jang menderap-derap serentak dalam satu pukulan irama. Di Solo dan dekat Djogjakarta kami mengadakan beberapa rapat umum. Malam itu aku berbitjara untuk pertamakali tentang ,,Perang Pasifik” jang akan berkobar. Tahun ini adalah 1929. Setiap orang mengira aku ini gila. Dengan darahku jang mengalir tjepat karena golakan perasaan jang gembira dan hampir tak tertahankan, keluarlah dari mulutku utjapan jang sekarang sudah terkenal: ,,Imperialis, perhatikanlah ! Apabila dalam waktu jang tidak lama lagi Perang Pasifik menggeledek dan menjambar-njambar membelah angkasa, apabila dalam waktu jang tidak lama lagi Samudra Pasifik mendjadi merah oleh darah dan bumi disekelilingnja menggelegar oleh ledakan-ledakan bom dan dinamit, maka disaat itulah rakjat Indonesia melepaskan dirinja dari belenggu pendjadjahan dan mendjadi bangsa jang merdeka.”

Utjapan ini bukanlah ramalan tukang-tenung, iapun bukan pantulan daripada harapan berdasarkan keinginan belaka. Aku melihat Djepang terlalu agressif. Bagiku, apa jang dinamakan ramalan ini adalah hasil daripada perhitungan berdasarkan situasi revolusioner jang akan datang. Rapat ini bubar pada waktu tengah malam. Kami bermalam dirumah Sujudi, seorang pengatjara dan anggota kami di Djogja jang tinggal pada djarak kurang dari dua kilometer dari situ. Kami memasuki tempat-tidur pada djam satu.Djam lima pagi, ketika dunia masih gelap dan sunji, kami terbangun oleh suara jang keras. Ada orang menggedor pintu. Aku terbangun begitu tiba-tiba, sehingga pada detik itu aku mengira ada tetangga jang berkelahi. Gedoran itu masih terus terdengar. Ia semakin lama semakin keras, semakin lama semakin mendesak Gedoran ini diiringi oleh suara jang kasar disekitar rumah Sujudi. ,,Inikah rumah tempat pemimpin revolusioner menginap ?” satu suara bertanja. ,,Jah, inilah tempatnja,” suara garang jang lain mendjawab. Kemudian lebih banjak suara terdengar meneriakkan perintah-perintah. ,,Kepung rumah ini—halangi pintu—.” Sementara itu bunji jang meremukkan dari pukulan gada dipintu …………… semakin lama semakin keras, kian lama kian tjepat. Dengan gemetar aku menjadari, bahwa inilah saatnja. Nasibku sudah pasti. Gatot Mangkupradja jang pertama pergi kepintu. Ia membukanja dan masuklah seorang inspektur Belanda dengan setengah lusin polisi bangsa Indonesia. Kami menamakannja ,,reserse”. Semua berpakaian seragam. Semua memegang pistol ditangan. Mereka ini adalah pemburu. Kami binatang buruan. Rentak sepatu jang menundjukkan kekuasaan terdengar menggema keseluruh daerah sebelah-menjebelah, rentak sepatu pada waktu mereka menderap sepandjang rumah. Orang kulitputih jang bertugas itu berteriak, ,,Dimana kamar tempat Sukarno tidur ?”Kamarku sebelah-menjebelah dengan kamar Sujudi. Ketudjuh orang itu berbaris melalui kamar Sujudi dan terus kekamarku. Aku keluar dari tempat-tidur dan berdiri disana dengan pakaian pijama. Aku tenang. Sangat tenang. Aku tahu, inilah saatnja. Inspektur itu berhadap-hadapan denganku dan berkata, ,,Atas nama Sri Ratu saja menahan tuan.”

Aku telah mempersiapkan diri selalu untuk menghadapi kesulitan. Betapapun, pada waktu tiba saatnja timbul djuga perasaan jang tidak enak.,,Kenakan pakaian tuan,” ia memerintahkan. ,,Dan ikut dengan saja.” Ia berdiri dalam kamar itu dan menungguku berpakaian. Aku tidak diizinkan membawa barang-barangku. Bahkan tas dengan pakaian penggantipun tidak boleh. Hanja jang lekat dibadanku.Diluar, dengan senapan dalam sikap sedia, berdiri 50 orang polisi mengepung rumah dengan sekitarnja dan djalan jang menudju kesana. Tiga buah mobil telah siap. Jang tengah adalah kendaraan chusus dimana kami, pendjahat-pendjahat jang berbahaja, dimasukkan dan diiringkan kekantor polisi. Kedalam mobil itu dimasukkan pula Gatot dan supir taksi itu, jang samasekali tidak bersalah dalam menghasut rakjat. Kesalahannja hanjalah karena ia terlalu mentjintai. Ia mentjintai negerinja, dan ia mentjintai pemimpinnja. Suhada dibebaskan segera, akan tetapi sementara itu mereka mentjatat namanja, karena orang inipun kelihatan seperti pendjahat besar dimata mereka. Beberapa tahun kemudian ia meninggal. Permintaannja jang terachir ialah, ,,Tolonglah, saja ingin mempunjai potret Bung Karno didada saja.” Permintaannja itu dipenuhi. Ia lalu melipatkan tangannja jang kerisut memeluk potretku dan kemudian berlalu dengan tenang. Dengan pendjagaan jang kuat, diiringkan dikiri-kanan oleh sepeda motor dan dengan sirene meraung-raung dan lontjeng berdentang-dentang, Sukarno, Gatot dan sopir tua itu dibawa ke Margangsan, pendjara untuk orang gila.Kami diperiksa satu demi satu dan dimasukkan kedalam sel. Ketika pintu besi terkuntji rapat dimuka kami, seluruh dunia kami tertutup. Kami berada dalam kesunjian. Segala sesuatu terdjadi begitu tjepat, sehingga kami tidak punja kesempatan untuk menjelundupkan sepatah kata kepada pengikut kami. Tidak seorangpun jang mengetahui dimana kami berada. Mereka bahkan tidak memberi kesempatan kepadaku untuk mengadakan kontak dengan Inggit. Tidak ada pertjakapan. Kami tidak diperbolehkan apa-apa. Sekalipun demikian, apa hendak dikata. Kami tahu apa artinja ini dan masing-masing tenggelam dengan pikirannja sendiri. Apa jang terlintas dalam pikiranku ialah, bahwa aku tidak memperoleh firasat. Tidak ada tanda-tanda bahaja. Aku dengan mudah tertidur malam itu tanpa mengalami sesuatu sensasi, bahwa pada tanggal 9 Desember 1929 bagi kami akan mendjadi hari nahas. Semua ini mengedjutkanku. Seluruh gerakan telah mereka rentjanakan dengan baik. Djam dua siang kami diberi nasi. Sebelum dan sesudah itu tidak ada hubungan dengan seorangpun. Setelah satu hari satu malam penuh esok paginja seperti dipagi sebelumnja tepat djam lima polisi datang. Mereka tidak berkata apa-apa. Pun tidak menjampaikan kemana kami akan dibawa. Begitupun tentang apa jang akan diperbuat terhadap kami. Dua buah kendaraan membawa kami kestasiun. Empat orang polisi dengan uniform dan pistol duduk ditiap kendaraan itu. Pengangkutan ini direntjanakan sampai kepada menit dan detiknja. Begitu kami sampai, sebuah kereta-api hendak berangkat. Kami diperintahkan naik. Sebuah gerbong istimewa telah tersedia buat kami. Pintu-pintu pada kedua udjungnja dikuntji, setiap djendela ditutup rapat. Kami dilarang berdjalan-djalan atau berdiri untuk maksud apapun djuga. Kalau kami akan pergi kebelakang seorang sersan mengiringkan kami. Dengan diapit oleh polisi duduklah kami ditempat jang berhadap-hadapan. Selama 12 djam tidak boleh buka mulut. Satu-satunja jang dapat kukerdjakan sehari penah ialah memandangi Belanda jang pandir itu. Djam tudjuh malam kami diperintahkan turun di Tjitjalengka jang letaknja 30 kilometer dari Bandung. Mereka dengan sengadja menurunkan kami disitu untuk menghindarkan ketegangan jang mungkin timbul. Disana satu pasukan barisan pengawal telah menantikan kami. Lima Komisaris, dua pengendara sepedamotor, setengah lusin inspektur beserta arak-arakan kami jang terdiri dari sedan-sedan hitam meluntjur ke Bandung.Perdjalanan itu tidak lama. Kami hanja sempat menggetar gugup sesaat ketika sampai dirumah kami jang baru. Di-depannja tertulis: Rumah Pendjara Bantjeuj.

Komentar ditutup.