PUTRA SANG FADJAR BAB 4

Surabaja: Dapur Nasionalisme

DARI djenis binatang prasedjarah jang digali dikepulauan kami, ahli-ahli purbakala membuktikan bahwa setengah djuta tahun jang lalu pulau Djawa sudah didiami orang. Kebudajaan kami adalah kebudajaan purba. Bukalah buku Ramayana. Didalamnja orang akan membatja keterangan mengenai ,,Negeri Suarna Dwipa jang mempunjai tudjuh buah keradjaan besar”. Suarna Dwipa, jang berarti pulau-pulau emas, adalah nama negeri kami pada waktu ia diabadikan dalam tjerita-tjerita klasik Hindu duaribu limaratus tahun jang lalu.Dari abad kesembilan ketika negeri kami bernama Keradjaan Sriwidjaja sampai abad keempatbeias waktu negeri kami bernama Madjapahit, kami punja ,,negeri jang terkenal makmur telah mentjapai tingkatan ilmu jang demikian tinggi sehingga mendjadi pusat ilmu pengetahuan bagi seluruh dunia-beradab”. Demikianlah keterangan jang terdapat dalam surat-surat-gulung-perkamen jang berharga dari negeri Tiongkok dan menurut dugaan adalah bibit dari kebudajaan seluruh Asia. Negeri kami masih tersohor dalam lingkungan internasional ketika Christopher Columbus mentjari kepulauan. Rempah-rempah gugusan pulau-pulau jang sekarang kita namakan Kepulauan Maluku. Seumpama Columbus tidak berlajar mentjari djahe, buah-pala, lada dan tjengkeh kami dan tidak sesat pula didjalan, tentu dia tidak akan menemukan benua Amerika. Ketika djalan laut menudju Hindia achirnja ditemukan orang, modal asing mengerumuni pantai kami, seperti semut mengerumuni tempat gula. Dari Lisboa datanglah Vasco’da Gama. Dari negeri Belanda Cornelis de Houtman: Ini merupakan titik-tanda dimulainja ,,Revolusi Perdagangan” di Eropa.

Kapitalisme ini tumbuh hingga ia mengenjangkan lapangan eksploitasi dalam masjarakat mereka sendiri. Barang-barang jang sebelumnja diimpor dari Timur, sekarang sudah diekspor ke Timur; djadi Timur mendjadi pasar-pasar tambahan untuk barang-barang berlebih. Daerah Timur mendjadi suatu pasar untuk modal berlebih jang tidak lagi bisa memperoleh djalan keluar. Liberalisme dalam ekonomi lalu membawa Liberalisme dalam politik. Untuk mengendalikan ekonomi dari negara lain, terlebih dulu negara itu harus ditaklukkan. Pedagang pedagang mendjadi penakluk; bangsa-bangsa Asia-Afrika didjadjah dan kelobaan ini membuka pintu kepada djaman Imperialisme. Djawa diduduki diabad ke 16; Maluku diabad ke 17 dan lambatlaun Negeri Belanda menguasai kepulauan kami setjara berturut-turut hingga ke Bali jang baru dikuasai ditahun 1906. Dengan tjepat kekuasaan asing menanamkan akar-akarnja. Mereka mengambil kekajaan kami, mengikis kepribadian kami dan musnalah Putera-puteri harapan bangsa dari suatu Bangsa jang Besar jang pandai melukis, mengukir, membuat lagu, mentjiptakan tari. Kami tidak lagi dikenal oleh dunia luar, ketjuali oleh penghisap-penghisap dari Barat jang mentjari kemewahan di Hindia. Akibat daripada Imperialisme sungguh djahat sekali. Orang laki-laki diambil dari rumahnja dan dipaksa mendjadi budak dipulau-pulau jang djauh, dimana terdapat kekurangan tenaga manusia. Perempuan-perempuan dipaksa bekerdja dikebun tarum dan mereka tidak boleh menghentikan pekerdjaannja, sekalipun melahirkan pada waktu menanam. Tempe adalah bungkah jang lunak dan murah terbuat dari katjang kedele jang diberi ragi. Negeri tempe berarti negeri jang lemah. Itulah kami djadinja. Kami terus-menerus dikatakan sebagai bangsa jang mempunjai otak seperti kapas. Kami mendjadi pengetjut; takut duduk, takut berdiri, karena apapun jang kami lakukan selalu salah. Kaml mendiadi rakjat seperti dodol dengan hati jang ketjil. Kami lemah seperti katak dan lembut seperti kapok. Kami mendjadi suatu bangsa jang hanja dapat membisikkan, ,,Ja tuan”Sampai sekarang orang Indonesia masih terbawa-bawa oleh sifat rendah diri, jang masih sadja mereka pegang teguh setjara tidak sadar. Hal itu menjebabkan kemarahanku baru-baru ini. Wanita-wanita dari kabinetku selalu menjediakan djuadah makanan Eropa. ,,Kita mempunjai penganan enak kepunjaan kita sendiri,” kataku dengan marah.

Mengapa tidak itu sadja dihidangkan ?” ,,Ma’af, Pak,” kata mereka dengan penjesalan ,,Tentu bikin maIu kita sadja. Kami rasa orang Barat memandang rendah pada makanan kita jang melarat.” Ini adalah suatu pemantulan kembali dan pada djaman dimana Belanda masih berkuasa. Itulah perasaan rendah-diri kami jang telah berabad-abad umurnja kembali memperlihatkan diri. Edjekan jang terus-menerus dipompakan oleh pemerintah Hindia Belanda tentang ketidak-mampuan kami, menjebabkan kami jakin akan hal tersebut. Dan kejakinan bahwa engkau bangsa jang hina, lagi bodoh adalah suatu sendjata jang ada dalam tangan pendjadjah. lmperialisme adaIah kumpulan kekuatan djahat jang nampak dan jang tidak nampak. Penindasan jang sudah demikian lama dirasakan menjebabkan bangkitnja suatu masa para pelopor. Sun Yat Sen mendirikan Gerakan Nasional Tiongkok ditahun 1885. Kongres Nasional India: ditahun 1887. Aguinaldo dan Rizal membangkitkan Filipina. ditahun-tahun permulaan abad ke-20. Seluruh Asia bangkit dan diabad keduapulah jang megah ini, dalam mana isolasi tidak akan terdjadi lagi, maka bangsa Indonesia jang lemah dan pemalu itupun dapat merasakan gelora daripada kebangkitan ini. Dalam bulan Mei 1908 para pemimpin di Djawa menjusun partai nasional jang pertama dengan nama ,,Budi Utomo”, jang artinja ,,Usaha jang Sutji”. Ditahun 1912 organisasi ini memberi djalan kepada Sarekat Islam jang mempunjai anggota sebanjak dua-setengah djuta orang dibawah pimpinan H.O.S. Tjokro Aminoto. Bangsa Indonesia jang menderita setjara perseorangan sekarang mulai menjatukan diri dan persatuan nasional mulai tersebar. Ia lahir di Djakarta,.akan tetapi sang baji baru pertamakali melangkahkan kakinja di Surabaja. Ditahun 1916 maka Surabaja merupakan kota pelabuhan jang sangat sibuk dan ribut, lebih menjerupai kota New York. PeIabuhannja baik dan mendjadi pusat perdagangan jang aktif. Ia mendjadi suatu kota industri jang penting dengan pertukaran jang tjepat dalam perdagangan gula, teh, tembakau, kopi. Ia mendjadi kota tempat perlombaan dagang jang kuat dan orang-orang Tionghoa jang tjerdas ditambah dengan arus jang besar dan para pelaut dan pedagang jang membawa berita-berita dari segala pendjuru dunia. Penduduknja semakin bertambah, terdiri dari pekerdja pelabuhan dan peketdja bengkel jang masih muda-muda dan jang bersemangat menjala-njala.la mendjadi kota dimana bergolak persaingan, pemboikotan, per         kelahian didjalan-djalan. Kota itu bergolak dengan ketidak-puasan  dari orang-orang revolusioner. Ketengah-tengah kantjah jang mendidih  demikian itulah seorang anak-ibu berumur 15 tahun masuk dengan mendjindjing sebuah tas ketjil. Keluarga Tjokroaminoto terdiri dari enam orang. Jaitu Pak dan  Bu Tjokro, anak-anaknia Harsono jang 12:tahun lebih muda daripadaku, Anwar 10 tahun lebih muda, puteri mereka Utari lima tahun  lebih muda dan seorang baji , Pak Tjokro semata-mata bekerdja sebagai Ketua Sarekat Islam dan penghasilannja tidak banjak. Dia tinggal dikampung jang penuh sesak tidak djauh dari sebuah kali. Menjimpang dari djalanan jang sedjadjar dengan kali itu ada sebuah gang dengan deretan rumah dikiri-kanannja dan ia terlalu sempit untuk djalan mobil. Gang kami namanja Gang 7 Peneleh. Pada seperempat djalan djauhnja masuk kegang itu ber-         dirilah sebuah rumah buruk dengan paviljun setengah melekat. Rumah itu dibagi mendjadi sepuluh kamar-kamar ketjil, termasuk ruang  loteng. Keluarga Pak Tjokro tinggal didepan; kami jang bajar-makan dibelakang. Sungguhpun semua kamar sama melaratnja, akan tetapi anak-anak jang sudah bertahun-tahun bajar-makan mendapat kamar jang namanja sadja lebih baik. Kamarku tidak pakai djendela samasekali. Dan tidak berpintu. Didalam sangat gelap, sehingga aku terpaksa menghidupkan lampu terus-menerus sekalipun disiang hari. Duniaku jang gelap ini mempunjai sebuah medja gojah tempatku menjimpan buku, sebuah korsi kaju, sangkutan badju dan sehelai tikar rumput. Tidak ada kasur. Dan tidak ada bantal. Surabaja diwaktu itu sudah menikmati kemegahan lampu listrik. Setiap kamar mempunjai fitting dan setiap pembajar-makan membajar ekstra untuk lampu. Hanja kamarku jang tidak punja. Aku tidak punja uang untuk membeli bolanja. Aku beladjar sampai djauh malam  dengan memakai pelita. Bahkan akupun tidak mampu membeli kelambu untuk menutupi balai-balai dan supaja terhindar dari njamuk. Kamar  itu ketjil seperti kandang-ajam. Tidak ada udara segar dan mendjadi sarang serangga. Akan tetapi karena tak ada orang lain jang mau tinggal denganku dikamar jang gelapi itu, maka setidak-tidaknja aku dapat memilikinja untuk diriku sendiri.

Sewanja 11 rupiah, termasuk makan. Atau setjara perhitungan kasarnja empat dollar sebulan. Bapak mengirimiku uang duabelas rupiah setengah, dengan sisanja limapuluh sen untuk uang-saku. Ditahun 1917 bapak dipindahkan ke Blitar. Karena pemindahan ini merupakan kenaikan djabatan, nasib bapak berobah sedikit. Oleh sebab itu ia dapat mengirimiku f 1,50 untuk uang-saku setiap bulannja. Memang sukar bagi seorang inlander untuk memasuki H.B.S. Disamping f 15,00 sebulan untuk uang-sekolah dan pet seragam bertuliskan H.B.S., kami harus membajar lagi f 75,00 setiap tahun untuk uang buku. Aku ingat betul djumlah ini, karena aku menghitung setiap rupiahnja. Kudjaga agar djangan ada jang terpakai setjara tidak disengadja. Walaupun aku anak jang patuh, harus kuakui, bahwa aku menulis surat pulang hanja kalau dalam kesempitan sadja. Kukira ini sama sadja dengan setiap anak muda, bukan ? Dengan tidak usah membuka-surat-suratku terlebih dulu bapakpun sudah tahu isinja, bahwa si Karno minta uang. Suratku kepada orangtuaku selalu dimulai dengan kalimat manis jang itu-itu djuga dan tidak pernah berobah-robah: ,,Bapak dan lbu jang tertjinta’ saja berada dalam keadaan sehat-sehat sadja dan harapan saja tentu agar Bapak dan Ibu keduanja demikian pula hendaknja.” Kemudian setelah salam itu, dibaris jang ketiga aku langsung menjampaikan maksud jang terpenting. Aku menulis, ,,Sekarang saja sedang kekurangan uang. Apakah Bapak dan lbu dapat mengirimi barang sedikit ?”Disamping ibuku jang penjajang itu selalu mengirimiku setjara diam-diam satu atau dua rupiah bila ia punja uang, akupun mengusahakan sumber lain. Pak Poegoeh, suami kakakku. Mereka tinggal sekira 50 kilometer dari Surabaja dan Pak Poegoeh selalu memberiku uang lima rupiah untuk ongkos pulang. Karena uang itu tidak habis semua untuk ongkos perdjalanan, maka aku sering menemui mereka. Pak Poegoeh enam tahun lebih tua daripadaku dan bekerdja dikantor irigasi dari Departemen Pekerdjaan Umum. Sekalipun kami seperti kakak beradik, aku tak pernah minta bantuan uang kepadanja setjara terang-terangan. Tjara orang Djawa kebanjakan tidak langsung. Kuminta kepada kakakku jang menjampaikannja pula kepadanja. Dan permintaan ini kupikirkan lebih dulu semasak-masaknja. Aku tak pernah meminta diluar batas jang kuperkirakan dapat diperoleh dengan mudah. Sebagai hasil dari kebidjaksanaan sematjam ini aku kadang-kadang mendapat lebih dari pada jang kuminta. Terasa hari Iibur sangat menjenangkan apabila hadiah itu datang karena aku lalu bisa mendjamu kawan-kawanku dengan kopi atau djadjan. H.B.S. terletak satu kilometer dari Gang Paneleh Setiap anak mempunjai sepeda. Aku sendiri jang tidak. Biasanja aku membontjeng dengan salah seorang kawan atau berdjalan kaki. Aku mulai menabung dan menabung terus dan ketika uangku terkumpul delapan rupiah, kubeli Fongers jang hitam mengkilat, sepeda keluaran Negeri Belanda. Aku merawatnja bagai seorang ibu. Ia kugosok-gosok. Kupegang-pegang. Kubelai-belai. Pada suatu kali Harsono jang berumur tudjuh tahun setjara diam-diam memakai sepedaku itu dan menabrakkannja kepohon kaju. Seluruh bagian mukanja patah. Harsono ketakutan. Ia tidak berani mengatakan padaku, dan ketika aku mendengar berita itu, kusepak pantatnja dengan keras. Kasihan Harsono. Ia menangis. Ia berteriak. Berminggu-minggu lamanja aku tergontjang oleh Fongersku jang hitam mengkilat itu jang sekarang sudah bengkok-bengkok. Achirnja aku dapat mengumpulkan delapan rupiah lagi dan membeli lagi sepeda jang lain tapi untuk Harsono. Sekali dalam seminggu aku menikmati satu-satunja kesenanganku Film, Aku sangat menjukainja. Betapapun, tjaraku menonton sangat berbeda dengan anak-anak Belanda. Aku duduk ditempat jang paling murah. Tjoba pikir, keadaanku begitu melarat, sehingga aku hanja dapat menjewa tempat dibelakang lajar. Kaudengar ? Dibelakang lajar ! ! Diwaktu itu belum ada film bitjara, djadi aku harus membatja teksnja dan terbalik dan masih dalam bahasa Belanda ! lama-kelamaan aku mendjadi biasa dengan keadaan itu sehingga aku dapat dengan tjepat membatja teks itu dari kanan kekiri. Aku tidak peduli, karena tak ada tjara lain lagi. Bahkan aku bersjukur karena masih bisa menjaksikannja. Saat satu-satunja jang menjebabkan aku ketjewa ialah, bila dipertundjukkan film adu-tindju. Aku samasekali tak dapat menaksir, tangan siapa jang melakokan pukulan.

Dimasa itu ,,Yankee Doodle” jang mendjadi lagu kegemaranku. Mereka memutarnja pada tiap istirahat dan sambil duduk seorang diri dalam gelap dibelakang lajar aku menjanjikannja dengan lunak untuk diriku sendiri. Sampai sekarang aku masih menjanjikan lagu itu. Pada suatu kali sebuah sirkus datang kekota kami. Dalam pertundjukan itu mereka melepaskan merpati-merpati dan kalau ada jang hinggap dibahu seseorang, itulah jang memenangkan hadiah. Kami segera mengetahui bahwa, ketika burung itu hinggap pada teman kami, jang sama-sama bajar-makan, hadiahna seekor kuda. Djadi berkupullah kami Suarli pemenang jang beruntung itu, kami pemuda lainnja sebanjak setengah lusin dan seekor kuda tua jang sudah letih. Kami tidak dapat akal akan diapakan kuda itu. Tapi kami harus membawanja keluar, karena itu kami bawa ia pulang. Dibagian belakang rumah ada pekarangan, akan tetapi tidak ada djalan untuk bisa sampai ketempat itu ketjuali melalui tengah rumah. Dengan tenang kami buka pintu serambi muka dan rumah Pemimpin Besar Rakjat Djawa dan mempawaikan kuda kami melalui kamar-duduk, terus kehalaman belakang dimana ia ditambatkan kebatang sawo. Tak seorangpun diantara kami jang punja uang untuk membeli makan mulut orang lain, sekalipun mulut itu kepunjaan seekor kuda. Begitulah, dua hari kemudian Suarli mendjualnja. Ketjuali satu sirkus dan film, masa itu bukanlah masa jang menggembirakan bagiku. Aku tidak mempunjai kesenangan semasa mudaku. Aku terlalu serius. Aku tidak mengikuti kesenangan seperti iang dialami oleh anak-anak sekolah iang lain. Mungkin apa jang dinamakan tindakan kegila-gilaan sebagaimana jang dituduhkan kepadaku· sekarang, adalah sematjam imbangan untuk mengedjar kerugian dimasa muda. Tidak ada kesenangan-kesenangan jang menjegarkandalam kehidupanku hingga aku berumur 50 tahun. Kegembiraan jang kutjari sekarang mungkin sebagai usahaku untuk-menutupi segala sesuatu jang tidak pernah kunikmati dimasa muda, sebelum waktunja terlambat. Aku tidak tahu dengan pasti. Aku- tak pernah memikirkannja hingga datang waktunja bagiku untuk mendjalankan pembedahan diri dengan djalan otobiografi ini. Bagaimanapun-djuga, ini adalah pertjakapan antara kita antara engkau, pembatja, denganku. Dan karena aku-berbitjara dan gelora hati jang meluap-luap, kemudian merenungkan semua ini sebagai kesedihanku dimasa jang silam, aku merasa mungkin djuga benar bahwa aku sedang berusaha mengimbangi kekurangan diriku sendiri sekarang. Pendeknja, aku tidak mengalami masa senang di Surabaja. Pada waktu aku mula datang, aku menangis setiap hari. Ah, aku sangat kehilangan ibu tak dapat kutjeritakan-kepadamu betapa Wanita senantiasa memberikan pengaruh jang besar dalam hidupku. Sekarang, aku tidak punja ibu, tidak ada nenek untuk membudjukku jang selamanja mengagumiku — tidak ada Sarinah jang dengan tekun    mendjagaku. Aku merasa sebatang kara. Bu Tjokro adalah seorang wanita jang manis dengan perawakan ketjil bagus. Dia sendirilah jang mengumpulkan uang makan kami saban minggu. Dialah jang membuat peraturan seperti: (l) Makan malam djam sembilan dan barangsiapa jang datang terlambat tidak dapat makan. (2) Anak sekolah sudah harus ada dikamarnja djam 10 malam. (3) Anak sekolah harus bangun djam empat pagi untuk beladjar. (4) Main-main dengan anak gadis dilarang. Aku memelihara hubungan rapat dengan Bu Tjokro, akan tetapi dia terlalu sibuk untuk dapat memperhatikanku sebagai seorang ibu. Karena memerlukan hati seorang perempuan, aku menoleh pada Mbok Tambeng, perempuan pembantu rumahtangga, untuk menghiburku. Dia mendjadi pengganti ibuku. Dia menambal tjelanaku. Dia tahu bahwa gado-gado adalah kegemaranku, karena itu dia suka menjusupkan ekstra untukku. Mbok sajang kepadaku, tapi ah ! aku sangat merindukan kasih-sajang itu. Masih sadja si Mbok tidak bisa mendjadi penghibur jang tjukup bagi seorang anak jang halus perasaannja. Djiwaku mendjerit-djerit mentjari kepertjajaan hati, bahkan hati seorang bapak kemana aku dapat menoleh. Pak Tjokro bukanlah orangnja. Seorang pemimpin hanja tertarik pada soal-soal politik. Bahunja bukanlah tempat bersandar untuk menangis. Atau tangannja bukanlah tempat merebahkan diri dengan enak.Sekalipun demikian Pak Tjokro sangat senang kepadaku. Kasih sajangnja ini dinjatakannja terutama dimusim kemarau tahun 1918. Biasanja aku pulang mengundjungi orangtuaku dalam waktu libur. Dalam dua bulan libur tinggal di Blitar aku merentjanakan pergi ketempat kawan-kawan untuk sehari di Wlingi, jang djaraknja 20 kilometer dari Blitar. Semua rentjana telah disiapkan dan dengan keinginan jang besar menghadapi tudjuan aku melambai kepada bapak, mentjium ibu dan memulai perdjalananku. Aku baru sadja sampai dirumah kawan kawanku ketika bahana menggemuruh jang menakutkan memenuhi angkasa dan tanah bergontjang-gontjang dibawah kakiku. Perempuan-perempuan tua jang ketakutan, anak-anak jang mendjerit dan para pekerdja jang letih oleh membanting-tulang terpentjar keluar dari pondok-pondok mereka menudju kampung jang penuh sesak. Ketakutan, kebingungan dan kekatjauan menghinggapi rakjat kampung.

Raksasa Gunung Kelud, gunung berapi di Blitar, mentjari saat itu untuk menundjukkan kemurkaan dari Dewa-dewa. Langit mendjadi hitam oleh arang dan abu bermil-mil djauhnja. Dimana-mana ledakan lahar. Daerah itu diselubungi oleh asap, api dan ratjun. Dengan kekuatan jang hebat lahar jang mendidih-didih mentjurah menuruni lereng gunung ketempat jang lebih rendah dan menggenang disana antara Blitar dan Wlingi. Banjak orang jang mati.Aku sangat kuatir karena kutahu orangtuaku tentu sangat susah  memikirkan diriku …….Hidupkah dia ……..Matikah dia. Mereka sadar, bahwa anaknja berada tepat didjalan dimana gunung itu memuntahkan isinja dan mereka tidak dapat memperoleh berita. Sementara itu aku mendengar, bahwa separo negeri kami telah kena landa, karena itu pikiranku dilumpulkan oleh kekuatiran tentang apakah jang mungkin terdjadi terhadap orangtuaku. Aku harus kembali setjepat mungkin, akan tetapi tidak ada kendaraan jang bagaimanapun bentuknja jang dapat menjeberangi lautan lahar jang menggelora itu. Achirnja, satu-satunja djalan jang harus ditempuh ialah dengan mengarunginja berdjalan kaki. Selagi lahar masih agak panas, aku mulai melangkahkan kaki menudju djalan pulang. Aku masih djauh ketika mereka menampakku, lalu datang berlari-lari menjongsongku ditengah djalan. Mereka memelukku. Mereka mentjiumku. Mereka mengelus pipiku. ,,0, engkau masih hidup,” teriak bapak.  ,,Engkau masih hidup   engkau masih hidup.” Ibu menangis. Aku merangkul orangtuaku dengan kedua belah tanganku. Aduh, kami gembira, gembira sekali bertemu satu sama lain. Di Surabaja, Pak Tjokropun rupanja merasa tjemas memikirkan keadaanku. Ia menaiki mobilnja dan melakukan perdjalanan sehari penuh hanja karena hendak mengetahui bagaimana keadaanku. Mula-mula ia tidak dapat menemuiku atau orangtuaku. Rumah kami selamat, akan tetapi rumah itu sudah mendjadi tumpukan lahar dan lumpur. Sampai di Djalan Sultan Agung 53 ia hanja mendapati rumah kosong samasekali. Ketjuali beberapa ekor burung-burung ketjil. Ia djadi sangat bingung sebelum bertemu dengan kami. Djadi aku menjadari bahwa Pak Tjokro mentjintaiku dengan tjaranja sendiri. Hanja tjaranja itu tidak tjukup bagi seorang anak jang kesepian. Ia djarang berbitjara denganku. Bahkan aku djarang melihatnja. Ia tidak mempunjai waktu jang senggang. Kalau ia dirumah tentu ada tamu atau ia bersamadi dalam kesunjian.

Oemar Said Tjokroaminoto berumur 33 tahun ketika aku datang ke Surabaja. Pak Tjokro mengadjarku tentang apa dan siapa dia, bukan tentang apa jang ia ketahui ataupun tentang apa djadiku kelak. Seorang tokoh jang mempunjai daja-tjipta dan tjita-tjita tinggi, seorang pedjoang jang mentjintai tanah tumpah darahnja. Pak Tjokro adalah pudjaanku. Aku muridnja. Setjara sadar atau tidak sadar ia menggemblengku. Aku duduk dekat kakinja dan diberikannja kepadaku buku-bukunja, diberikannja padaku miliknja jang berharga Ia hanja tidak sanggup memberikan kehangatan langsung dari pribadinja kepada pribadiku jang sangat kuharapkan. Karena tak seorangpun jang mentjintaiku seperti jang kuidamkan, aku mulai mundur. Kenjataan-kenjataan jang kulihat dalam duniaku jang gelap hanjalah kehampaan dan kemelaratan. Karena itu aku mengundurkan diri kedalam apa jang dinamakan orang Inggris ,,Dunia Pemikiran”. Buku-buku mendjadi temanku. Dengan dikelilingi oleh kesadaranku sendiri aku memperoleh kompensasi untuk mengimbangi diskriminasi dan keputus-asaan jang terdapat diluar. Dalam dunia kerohanian dan dunia jang lebih kekal inilah aku mentjari kesenanganku. Dan didalam itulah aku dapat hidup dan sedikit bergembira. Selurah waktu kupergunakan untuk membatja. Sementara jang lain bermain-main, aku beladjar. Aku mengedjar ilmu pengetahuan disamping peladjaran sekolah. Kami mempunjai sebuah perpustakaan jang besar dikota-ini jang diselenggarakan oleh Perkumpulan Theosofi. Bapakku seorang Theosof, karena itu aku boleh memasuki peti harta ini, dimana tidak ada batasnja buat seorang anak jang miskin. Aku menjelam samasekali kedalam dunia kebatinan ini. Dan disana aku bertemu dengan orang-orang besar. Buah pikiran mereka mendjadi buah pikiranku. Tjita-tjita mereka adalah-pendirian dasarku. Setjara mental aku berbitjara dengan Thomas Jefferson. Aku merasa dekat dan bersahabat dengan dia. karena dia bertjeritera kepadaku tentang Declaration of Independence jang ditulisnja ditahun 1776. Aku memperbintjangkan persoalan George Washington dengan dia. Aku mendalami lagi perdjalanan Paul Revere. Aku dengan sengadja mentjari kesalahan-kesalahan dalam kehidupan Abraham Lincoln, sehingga aku dapat mempersoalkan hal ini dengan dia.Pada waktu sekarang, apabila ada orang menegur, ,,Hai Sukarno, mengapa engkau tidak suka kepada Amerika ?” maka aku akan mendjawab, ,,Apabila engkau mengenal Sukarno, engkau tidak akan -mengadjukan pertanjaan itu.? Masa mudaku kupergunakan untuk memudja bapak-bapak perintis dari Amerika Aku ingin berlomba dengan pahlawan-pahlawannja. Aku mentjintai rakjatnja. Dan aku masih mentiintainja. Bahkan sekarangpun aku masih membatja madjalah Amerika dari ,,Vogue” sampai ke ,,Nugget’..Aku akan selalu merasa berkawan dengan Amerika. Ja, berkawan. Aku mengatakannja setjara terbuka Aku menuliskan tentang diriku sendiri. Kunjatakan ini dengan tertjetak. Suatu pendirian dasar seperti jang kumiliki takkan dapat membiarkanku tidak berkawan dengan Amerika. Didalam dunia pemikiranku akupun berbitjara dengan Gladstone dari Britannia ditambah dengan Sidney dan Beatrice Webb jang mendirikan Gerakan Buruh Inggris aku berhadapan muka dengan Mazzini, Cavour dan Garibaldi dari Italia. Aku berhadapan dengan Otto Bauer dan Adler dari Austria. Aku berhadapan dengan Karl Marx, Friedrich Engels dan Lenin dari Rusia dan aku mengobrol dengan Jean Jacques Rousseau’ Aristide Briand’ dan Jean Jaures ahli pidato terbesar dalam sedjarah Perantjis. Aku meneguk~semua tjerita ini. Kualami kehidupan mereka. Aku sebenarnja adalah Voltaire. Aku adalah Danton pedjoang besar dari Revolusi Perantjis. Seribu kali aku menjelamatkan Perantjis seorang diri dalam kamarku iang gelap. Aku mendjadi tersangkut setjara emosionil dengan negarawan-negarawan ini. Disekolah kami mendengarkan peIadjaran tetntang pengadilan rakiat dari bangsa Junani kuno. Ia melekat dalam pikiranku. Aku membajangkan pemikir-pemikir jang sedang marah selagi berpidato dan meneriakkan sembojan-sembojan seperti ,,Persetan dengan Penindasan” dan ,,Hidup’ Kemerdekasn”. Hatiku terbakar menjaIa-njala. Macam itu, ketika semua orang sudah menguntji pintu, kamar kandang-ajamku mendiadi ruang-pengadilan aku sebagai seorang pemuda Junani jang terbakar oleh enthusiasme. Sambil berdiri diatas medjaku jang gojah aku ikut terbawa-oleh perasaan. Aku mulai berteriak Selagi aku berpidato dengan sangat keras kepada tak seorangpun, kepala-kepala berdjuluran keluar pintu, mata bertondjolan dari kepala dan terdengar suara anak-anak muda berteriak dalam gelap’ ,,Hei, No,’ kau gila ?    Ada apa….Hei, apa kau sakit ?” dan kemudian tukang-tukang sorak itu kembali pada djawabannja

sendiri, ,,Ah, tidak ada apa-apa. Tjuma si No mau menjelamatkan dunia lagi” dan satu demi satu pintu-pintu menutup lagi dan membiarkan aku sendiri dalam kegelapan. Pada waktu aku semakin mendekati kedewasaan, duniaku didalam semakin lebar dan mentjakup pula kawan-kawan dari Tjokroaminoto. Setiap hari para pemimpin dari partai lain atau pemimpin tjabang Sarekat Islam datang bertamu. Dan setiap kali mereka tinggal selama beberapa hari. Sementara kawan-kawanku serumah keluar menjaksikan pertandingan bola, aku duduk dekat kaki orang-orang ini dan mendengarkan. Kadang-kadang kubagi tempat-tidurku dengan salahseorang pemimpin itu dan minum dari mata-air keahlian mereka hingga waktu fadjar. Aku menjukai waktu makan, Kami makan setjara satu keluarga, djadi aku dapat mengikuti dan meresapkan pertjakapan politik. Pada waktu mereka melepaskan lelah disekeliling medja, aku bahkan kadangkadang berani mengadjukan pertanjaan. Mahaputera-mahaputera ini putera-putera jang besar dari rakjat Indonesia—tidak mengatjuhkanku karena aku masih anak-anak. Sekali pada waktu makan malam mereka mempersoalkan tentang kapitalisme dan tentang barang-barang jang diangkut dari kepulauan kami untuk memperkaja Negeri Belanda. Disaat inilah aku bertanja pelahan, ,,Berapa banjak jang diambil Belanda dari Indonesia ?”,,Anak ini sangat ingin tahu,” senjum Pak Tjok, kemudian menambahkan, ,,De Vereenigde Oost Indische Compagnie menjedot— atau mentjuri—kira-kira 1800 djuta gulden dari tanah kita setiap tahun untuk memberi makan Den Haag.”,,Apa jang tinggal dinegeri kita ?” kali ini aku bertanja lebih keras sedikit.,,Rakjat tani kita jang mentjutjurkan keringat mati kelaparan dengan makanan segobang sehari,” kata Alimin, jaitu orang jang memperkenalkanku kepada Marxisme.,,Kita mendjadi bangsa kuli dan mendjadi kuli diantara bangsabangsa,” sela kawannja jang bernama Muso.,,Sarekat Islam bekerdja untuk memperbaiki keadaan dengan mengadjukan mosi-mosi kepada Pemerintah,” kata Pak Tjok menerangkan dan kelihatan senang karena mempunjai murid jang begitu bersemangat. ,,Pengurangan padjak dan serikat-serikat sekerdja hanja dapat digerakkan dengan kooperasi dengan Belanda—sekalipun kita membentji kerdja-sama ini.”,,Tapi apakah baik untuk membentji seseorang sekalipun ia orang Belanda ?” ,,Kita tidak membentji rakjatnja,” dia memperbaiki, ,,Kita membentji sistim pemerintahan Kolonial.”,,Mengapa nasib kita tidak berobah djika rakjat kita telah berdjoang melawan sistim ini sedjak berabad-abad ?’,,,Karena pahlawan-pahlawan kita selalu berdjoang sendiri-sendiri. Masing-masing berperang dengan pengikut jang ketjil didaerah jang terbatas,” Alimin mendjawab.,,0, mereka kalah karena tidak bersatu,” kataku. Ahli pikir India, Swami Vivekananda, menulis, ,,Djangan bikin kepalamu mendjadi perpustakaan. Pakailah pengetahuanmu untukdiamalkan.” Aku mulai menerapkan apa-apa jang telah kubatja kepada apa jang telah kudengar. Aku memperbandingkan antaraperadaban jang megah dari pikiranku dengan tanah-airku sendiri jang sudah bobrok.Setapak demi setapak aku mendjadi seorang pentjinta tanah-air jang menjala-njala dan menjadari bahwa tidak ada alasan bagi pemuda Indonesia untuk menikmati kesenangan dengan melarikan diri kedalam dunia chajal. Aku menghadapi kenjataan bahwa negeriku miskin, malang dan dihinakan. Aku berdjalan-djalan seorang diri dan merenungkan tentang apa jang sedang berputar dalam otakku. Satu djam lamanja aku berdiri tak bergerak diatas diambatan ketjil jang melintasi sungai ketjil dan memandangi iring-iringan manusia jang tak henti-hentinja. Aku melihat rakjat tani dengan kaki-ajam berdjalan lesu menudju pondoknja jang buruk. Aku melihat Kolonialis Belanda duduk mentjekam diatas kereta terbuka jang ditarik oleh dua ekor kuda jang mengkilat. Aku melihat keluarga orang kulitputih kelihatan bersih-bersih, sedang saudara-saudaranja jang belkulit sawomatang begitu kotor, badannja berbau, badjunja tjompang-tjamping, anak-anak mereka djorok-djorok. Aku bertanja dalam hati, apakah orang bisa tetap bersih apabila mereka tidak – punja pakaian lain untuk penggantinja. Kuisap masuk tubulrku bau daripada sisa makanan jang sudah busuk dan bau selokan-selokan jang melemaskan, dan kulekatkan dengan kuat didalam lobang hidungku bau busuk daripada kemelaratan rakjatku, sehingga sekalipun aku pergi 10.000 mil dari disungai aku masih tetap mentjiumnja. Aku memandang kedalam keputus asaan dari setiap laki-laki dan perempuan jang kulihat. Aku terhanjut bersama rakjatku. Rakjatku jang miskin lagi papa. Dari djembatan aku menoleh kearah massa jang seperti semut banjaknja dan aku mengerti sedjelas-djelasnja, bahwa inilah kekuatan kami. Dan aku-menjadari sesadar-sadarnja akan penderitaan mereka. Sekalipun anak ketjil tak-akan dapat menahan rawan hatinja pada waktu pertamakali melihat kata-kata peringatan dikolam-renang jang berbunji, ,,Terlarang bagi andjing dan bumiputera.” Andjing didahulukan. Dapatkah seorang manusia tidak tersinggung perasaannja, apabila seorang kondektur Bumiputera harus menundukkan kepala kepada setiap Belanda jang menaiki tremnja ? Aku seorang anak berumur 14 tahun ketika mukaku ditampar oleh seorang anak berhidung pandjang, tak lain hanja disebabkan karena aku seorang inlander. Apakah menurut pendapatmu tindakan-tindakan jang demikian itu tidak meninggalkan gores luka dalam hati ? Ja, aku mempunjai kesadaran sebagai seorang anak. Aku memulai persembahan hidupku ini pada umur 16 tahun. Perkumpulan politik jang pertama kudirikan adalah Tri Koro Darmo jang berarti ,,Tiga Tudjuan Sutji” dan melambangkan kemerdekaan politik, ekonomi dan sosial jang kami tjari. Ini pada dasarnja adalah suatu organisasi sosial dari para peladjar seumurku. Jong Java’, sebagai langkah kedua, mempunjai dasar jang Iebih luas. Begitupun pergaulan sosial kami berlandaskan kebangsaan. Kami membaktikan diri untuk memperkembangkan kebudajaan asli seperti mengadjarkan tari Djawa atau mengadjar main gamelan. Jong Java pun banjak melakukan pekerdjaan-pekerdjaan sosial. Kami pergi kekampung-kampung jang berdekatan untuk mengumpulkan dan bagi sekolah atau untuk membantu korban bentjana letusan gunung. Kami mengadakan pertunjukan ditempat-terapat jang memerlukan pertolongan dan mengeluarkan biaja-biaja itu dari hasil uang masuk. ,, Harus kuakui sekarang, bahwa tampangku dimasa muda sangat tampan sehingga kelihatan seperti anak gadis. Karena hanja sedikit wanita terpeladjar pada waktu itu, tidak banjak anak gadis jang mendjadi anggota kami. Dan potonganku lebih banjak menjerupai seorang perawan tjantik sehingga kalau Jong Java mengadakan pertundjukan. Manaakalau diserahi memainkan peran wanita jang naif itu. Aku betulbetul membedaki pipi dan memerahkan bibirku. Akan kutjeritakan sesuatu kepadamu. Aku tidak tahu, bagaimana pendapat orang-asing tentang seorang Presiden jang mau mentjeritakan hal jang demikian itu  Tetapi sungguhpun demikian aku akan mentjeritakannja djuga. Aku membeli dua potong -roti manis. Roti bulat. Seperti roti-gulung. Dan kuisikan kedalam badjuku. Ditambah dengan bentuk-badanku jang langsing setiap orang menjatakan, bahwa aku kelihatan sangat tjantik. Untunglah dalam peranku itu tidak termasuk adegan mentjium laki-laki. Selesai pertundiukan kupikir, tentu aku tak dapat menghamburkan uangku begitu sadja Karena itu kukeluarkan roti itu dari dalam badju dan kumakan. Sambil memandangku diatas panggungpara penontonpun memberikan komentaraja, bahwa aku memperlihat-kan bakat jang besar untuk tampil dimoka umum. Akupun sangat setudju dengan pendapat mereka, tidak lama kemudian aku mendapat kesempatan lain. Ketika itu diadakan pertemuan dari Studieclub, jaitu suatu kelompok sebagai pengadjaran tambahan dan bertudjuan untuk membahas buah-buah pikiran dan tjita-tjita. Disinilah aku mengadakan pidato jang pertama. Aku berumur 16 tahun. Ketua Studieclub mendapat giliran untuk berbitiara dan mendadak aku dikuasai oleh suatu dorongan jang kuat untuk berbitjara. Aku tidak dapat mengendalikan diriku selandjutnja. Selagi duduk dalam pertemuan itu aku melompat dan berdiri diatas medja. Suatu gerak perbuatan chas seperti kanak-kanak. Kukira ini disebabkan karena aku bersifat emosionil. Sekarangpun aku masih demikian. Ketua menjatakan, ,,Adalah mendjadi suatu keharusan bagi generasi kita untuk menguasai betul bahasa Belanda.”Setiap orang setudju. Setiap orang, ketjuali aku sendiri. Aku gugup tentunja, akan tetapi ketika aku memperoleh perhatian mereka, aku berbitjara dengan suara jang tenang sekali, ,,Tidak. Saja-tidak setudju, ,,Tanah kebanggaan kita ini dulu pernah bernama Nusantara. Nusa berarti pulau. Antara berarti diantara. Nusantara berarti ribuan pulau-pulau ini, dan banjak diantara pulau-pulau ini lebih besar daripada seluruh negeri Belanda Djumlah penduduk Negeri Belanda hanja segelintir djika dibandingkan dengan penduduk kita. Bahasa Belanda hanja dipergunankan oleh enam djuta orang.,,Mengapa suatu negeri ketjil jang terletak disebelah sana dari dunia ini menguasai suatu bangsa jang dulu pernah begitu perkasa, sehinngga dapat mengalahkan Kublai Khan jang kuat itu?” Dengan suara tenang dan tidak terburu-buru atau tegang aku selandjutja mengemukakan alasan-alasan ditambah dengan kenjataan-kenjataan. Aku mengachiri pidato itu dengan kata-kata, ,,Saja berpendapat, bahwa jang harus kita kuasai pertama-tama lebih dulu adalah bahasa kita sendiri. Marilah kita bersatu sekarang untuk mengembangkan bahasa Melaju. Kemudian baru menguasai bahasa asing. Dan sebaiknja kita mengambil bahasa Inggris, oleh karena bahasa itu sekarang mendjadi bahasa diplomatik. ,,Belanda berkulit putih. Kita sawomatang. Rambut mereka pirang dan keriting. Kita punja lurus dan hitam. Mereka tinggal riboan kilomerer darisini. Mengapa kita harus berbitjara bahasa Belanda?!” Maka terdjadilah keributan karena sangat kagum. Mereka tak pernah mendengar hal sematjam ini sebelumnja. Kuingat Direktur H.B.S., Tuan Bot, berdiri disana. Dia tidak berbuat apa-apa melainkan memandang kepadaku dengan muka tidak senang samasekali, seakan dia berkata, ,,Oooh—Oooh, Sukarno mau bikin susah !” Sekalipun aku tidak membikin susah, aku sudah tjukup dibikin susah. Aku adalah anak baru disekolah Belanda ini dan tambahan lagi seorang anak Bumiputera. H.B.S. mempunjai 300 orang murid. Hanja 2 diantaranja orang Indonesia. Aku dikeliiingi dari segala djurusan oleh anak laki-laki dan anak-anak gadis Belanda. Sudah tentu mereka tidak senang padaku. Terketjuali barangkali beberapa anak gadis, maka aku dianggap sepi. Sekolah mulai djam tudjuh pagi sampai djam satu siang, enam hari dalam seminggu. Diantara djam-djam peladjaran ada waktu istirahat, pada waktu mana setiap anak bermain atau djadjan. Akan tetapi anak-anak Belanda tentu memisah dari kami. Mereka berusaha supaja kami tidak ada kawan. Merekapun berusaha supaja hidung kami selalu berlumuran darah. Sewaktu kami masih sebagai siswa baru, seorang anak jang rapi pakai tjelana baru dan kaku berwarna putih jang mendjadi ketentuan untuk tahun pertama berdiri mengangkang menghalangi djalanku dan mengedjek, ,,Menjingkir dari djalanku, anak inlander.” Ketika aku berdiri disana dia melepaskan tangannja PANGGGG !’ Tepat dihidungku ! Djadi, kupukul dia kembali. Setiap hari aku pulang babak-belur. Aku tak pernah mendjadi tukang berkelahi, tapi sekalipun aku dapat menahan penghinaan aku tak dapat menghindari perkelahian tangan. Kadang-kadang kukalahkan mereka, akan tetapi terkadangpun mereka mengalahkanku. Kamipun mengalami diskriminasi didalam sekolah. Sekolah begitu keterlaluan terhadap kami, sehingga kalau seorang anak Bumiputera membuat suatu kesalahan maka Direktur menghukumnja dengan larangan masuk kelas selama dua hari. Kami mentjurahkan tenaga dengan sungguh-sungguh kepada peladjaran. Akan tetapi sekalipun kami bertekun siang dan malam, nilai jang didapat oleh anak-anak Belanda pasti lebih tinggi daripada jang diterima oleh anak Indonesia. Nilai ketjakapan diukur dengan angka. Angka 10 jang tertinggi dan angka enam adalah batas nilai tjukup dan inilah kebanjakan jang diterima oleh inlander. Kami mempunjai suatu pameo mengenai angka-angka ini: angka sepuluh adalah untuk Tuhan, sembilan untuk professor, angka delapan untuk anak jang luarbiasa, tudjuh untuk Belanda dan enam untuk kami. Angka sepuluh tidak pernah diterima oleh anak Bumiputera. Aku adalah penggambar tjat-air jang luarbiasa. Ditahun kedua kami disuruh menggambar kandang-andjing. Sementara jang lain masih mengukur-ukur dan menaksir-naksir dengan potlot aku sudah selesai menggambar kandang jang lengkap, didalamnja seekor andjing jang dirantai dan sepotong tulang. Guru perempuan kami memperlihatkan gambarku kepada seluruh kelas. Ia mengatakan, ,,Gambar ini begitu hidup dan penuh perasaan, karena itu patut mendapat nilai jang setinggi mungkin.” Tapi apakah aku memperoleh angka jang paling tinggi itu ? Tidak. Selalu orang kulitputih lebih pandai. Lebih tjerdas. Orang kulitputih lebih banjak tahu. Alat kolonial tidak akan berhasil, ketjuali djika ia memupuk keunggulan kulitputih terhadap sawomatang. Guru-guru sangat sajang kepadaku. Aku anak jang patuh, sungguhsungguh dan hormat. Hanja sesekali aku bertindak diluar garis. Aku tidak pernah betul betul kurang-adjar, akan tetapi pada suatu kali setelah pidatoku jang pertama aku berdjalan melalui ruangan ketika professor Egberts melihatku dan meneriakkan, ,,Hai, Sukarno, bagaimana dengan kau punja ‘Jong Java’?” dan aku mengedjek, Ja, Professor, bagaimana pula dengan tuan punja ‘Oud Holland’ ?”Aku mendjadi favorit dari guru bahasa Djerman jang djuga memimpin Kelompok Perdebatan kami. Dalam memperdebatkan persoalan kehilir-kemudik dan mengadjukan pendapat-pendapat jang berlawanan, aku memperbaiki ketjakapan berbitjara. Professor Hartagh melihat, bahwa aku dapat memimpin kawan-kawanku. Pada suatu pertemuan Hartagh menjampaikan kepada ke 20 orang murid setjara bersamasama dan kepadaku setjara pribadi, bahwa aku akan mendjadi pemimpin jang besar kelak. Professor mungkin punja bola-kristal’ untul meramal. Iapun pernah mentjeritakan kepada orang lain, bahwa dia akan mendjadi guru dan memang itu dia djadinja.Seorang guru perempuan betul-betul sangat sajang kepadaku, sehingga ia memberiku nama Belanda. Aku, tjalon pemimpin dari suatu revolusi dimasa jang akan datang, dengan nama Belanda ? Dia menamaiku Kerel. Dia bahkan memanggilku ,,Schat”, perkataan Belanda untuk kesajangan. Kalau dia kelupaan kuntji atau sesuatu barang, dia lalu menundjukku dan berkata dengan manis, ,,Schat, maukah engkau pergi kekamarku dan mengambil kuntji ?” Ach, ini adalah hak istimewa iang sangat besar. Pada suatu hari dia mengandjakku kerumahnja untuk menerima peladjaran tambahan bahasa Perantjis. Aku gemetar karena anugerah jang istimewa itu. Pada waktu umurku semakin mendekati kedewasaan aku masih gemetar dengan anugerah istimewa sematjam ini. Akan tetapi karena alasan-lain. Aku sangat tertarik kepada anak-anak gadis Belanda. Aku ingin sekali mengadakan hubungan pertjintaan dengan mereka. Hanja inilah satu-satunja djalan jang kuketahui untuk memperoleh keunggulan terhadap beagsa kulitputih dan membikin mereka tunduk pada kemauanku. Bukankah ini selalu mendjadi idaman ? Apakah seorang djantan berkulit sawomatang dapat menaklukkan seorang lakilaki kulitputih ? Ini adalah suatu tudjuan jang hendak diperdjoangkan. Menguasai seorang gadig kulitputih dan membikinnja supaja menginginiku adalah suatu kebanggaan. Seorang pemuda tampan senantiasa mempunjai kawan gadis-gadis jang tetap. Aku punja banjak. Mereka bahkan memudja gigiku jang tidak rata. Dan aku-mengakui bahwa aku sengadja mengedjar gadis gadis kulitputih. Tjintaku jang pertama adalah PauIine Gobee, anak- salah-seorang guruku. Dia memang tjantik dan aku tergila-gila kepadanja. Kemudian menjusul Laura. Oo, betapa aku memudjanja. Dan ada lagi keluarga Raat. Mereka ini keluarga Indo dan mempunjai beberapa orang puteri   aju. H.B.S. letaknja diarah jang berlawanan dengan rumah keluarga Raat, tapi sekalipun demikian setiap hari selama berbulan-bulan aku mengambil djalan keliling, hanja untuk lewat dimuka rumahnja dan untuk menangkap selintas pandangannja. Dekat itu terdapat Depot Tiga, warung tempat minum. Aku kadang-kadang diadjak oleh salahseorang kawan kesana dan disanalah kami dapat duduk dengan gembira dan memandangi gadis-gadis Belanda lalu. Kemudian bagai suatu tjahaja jang bersinar dalam gelap, muntjullah Mien Hessels dalam kehidupanku. Hilanglah Laura, lenjaplah keluarga Raat dari ingatan dan lenjap pulalah kegembiraan Depot Tiga. Sekarang aku punja Mien Hessels. Dia samasekali milikku dan aku sangat tergila-gila kepada kembang tulip berambut kuning dan pipinja jang merah mawar itu. Aku rela mati untuknja kalau dia menghendakinja. Umurku baru 18 tahun dan tidak ada jang lebih kuinginkan dari kehidupanku ini selain daripada memiliki djiwa dan raga Mien Hessels. Aku mengharapnja dengan perasasn berahi dan sampailah aku pada suatu kesungguhan hati, aku harus mengawininja. Tak satupun jang dapat memadamkan api jang sedang menggolak dalam diriku. Ia adalah bagai kembang-gula diatas kue jang takkan dapat kubeli. Kulitnja lembut bagai kapas, rambutnja ikal dan pribadinja memenuhi segala-galanja jang kuidamkan. Untuk dapat merangkulkan tanganku memeluk Mien Hessels nilainja lebih dari segala harta bagiku. Achirnja aku memberanikan diri untuk berbitjara kepada bapaknja. Aku mengenakan pakaian jang terbaik, dan memakai sepatu. Sambil duduk dikamarku jang gelap aku melatih kata-kata jang akan kuutjapkan dihadapannja. Akan tetapi pada waktu aku mendekati rumah jang bagus itu aku menggigil oleh perasaan takut. Aku tak pernah sebelumnja bertamu kerumah seperti ini. Pekarangannja menghidjau seperti beludru. Kembang-kembang berseri tegak baris demi baris, lurus dan tinggi bagai pradjurit. Aku tidak punja topi untuk dipegang, karena itu sebagai gantinja aku memegang hatiku.Dan disanaIah aku berdiri, gemetar, dihadapan bapak dari puteri gadingku, seorang jang tinggi seperti menara jang memandang kebawah langsung kepadaku seperti aku ini dipandang sebagai kutu diatas tanah. ,,Tuan,” kataku. ,,Kalau tuan tidak berkeberatan, saja    ingin minta anak tuan.” ,,Kamu? Inlander kotor, seperti kamu ? sembur tuan Hessels, ,,Kenapa kamu berani-beranian mendekati anakku ? Keluar, kamu binatang kotor. Keluar !” Dapatkah orang membajangkan betapa aku merasa seperti didera dengan tjambuk ? Dapatkah kiranja orang pertjaja, bahwa noda jang ditjorengkan dimukaku ini pada satu saat akan pupus samasekali ? Sakitnja adalah sedemikian, sehingga disaat itu aku berpikir, ,,Ja Tuhan, aku tak akan dapat melupakan ini.” Dan djauh dalam lubukhatiku aku merasa pasti, bahwa aku tidak akan dapat melupakan dewiku jang berparas bidadari itu, Mien Hessels.

23 tahun kemudian, jaitu tahun 1942. Djaman perang. Aku sedang melihat-lihat etalase pada salahsatu toko pakaian laki-laki disuatu djalanan Djakarta, ketika aku mendengar suara dibelakangku, ,,Sukarno ?”Aku berpaling memandangi seorang wanita asing, ,,Ja, saja Sukarno.”Dia tertawa terkikik-kikik, ,,Dapat kau menerka siapa saja ini ?”Kuperhatikan dia dengan saksama. Dia seorang njonja tua dan gemuk. Djelek, badannja tidak terpelihara. Dan aku mendjawab, ,,Tidak, njonja. Saja tidak dapat menerka. Siapakah Njonja ?”,,Mien Hessels,” dia terkikik lagi. Huhhhh ! Mien Hessels ! Puteriku jang tiantik seperti bidadari sudah berobah mendjadi perempuan seperti tukang sihir. Tak pernah aku melihat perempuan jang buruk dan kotor seperti ini. Mengapa dia membiarkan dirinja sampai begitu. Dengan tjepat aku memberi salam kepadanja, lalu meneruskan perdjalananku. Aku bersjukur dan memudji kepada Tuhan Jang Maha-Penjajang karena telah melindungiku. Tjatji-maki jang telah dilontarkan bapaknja kepadaku sesungguhnja adalah suatu rahmat jang tersembunji. Kalau dipikir-pikir, tentu aku takkan bisa lepas dari perempuan ini. Aku bersjukur kepada Tuhan atas perlindungan jang telah-diberikanNja. Huhhh, orang apa itu ! Djalan hidupku sebagai seorang pentjinta dimasa belia berachir ketika Bu Tjokroaminoto meninggal. Keluarga Pak Tjokro dengan anak-anak jang bajar-makan pindah kerumah lain. Dan pemimpin jang kumuliakan itu keadaannja begitu tertekan, sehingga aku merasa kasihan melihatnja. Anaknja masih ketjil-ketjil, dia seorang diri dan rumah itu asing suasananja. Seluruh keluarga nampaknja tidak berbahagia samasekali. Aku tidak dapat memandangi keadaan jang demikian itu.Kami belum lama menempati rumah jang baru itu ketika saudara Pak Tjok datang menemuiku dan berkata, ,,Sukarno, kaulihat bagai mana sedihnja hati Tjokroaminoto. Apakah tidak dapat kau berbuat sesuatu supaja hatinja gembira sedikit ?” Hatiku sangat berat dan mendjawab, ,,Saja dengan segala senang hati mau mengerdjakan sesuatu, supaja dia dapat tersenjum lagi. Tapi apa jang dapat saja lakukan ? Saja tidak bisa mendjadi isteri Pak Tjokro.”,,Bukan begitu, tapi engkau dapat menggembirakan hatinja dengan tjara lain.”

,,Tjara lain ?

” Ja ?

,,Bagaimana ?”

,,Djadi menantunja. Puterinja Utari sekarang tidak punja ibu lagi. Tjokro sangat kuatir terhadap haridepan anaknja itu dan siapa jang akan mendjaganja dan mengasihinja. Inilah jang memberatkan pikirannja. Saja kira, kalau engkau minta kawin dengan anak saudaraku itu, mungkin ini akan mengurangi sedikit tekanan perasaan dari Pak Tjokro.” ,,Tapi umurnja baru 16,” kataku memprotes.,, Ja memang, can engkau belum 21.

Perbedaan umur tidak begitu djauh. Katakanlah pada saja, Sukarno, apakah ada perhatianmu sedikit terhadap anak kakakku ?”

,,Jah,” aku menerangkan pelahan-lahan. ,,Saja sangat berterima  kasih kepada Pak Tjokro…….      Saja mentjintai Urari Tapi tidak terlalu sangat. Sungguhpun begitu, sekiranja saja perlu memintanja untuk meringankan beban dari djundjunganku, jah, saja bersedia. “Aku mendatangi Pak Tjokro dan mengadjukan lamaranku. Dia sangat gembira dan oleh karena akan mendjadi menantu aku segera dipindahkan kekamar jang lebih besar dengan perabot jang lebih banjak. Sampai dihari ia menutup mata, ia tak pernah mengetahui, bahwa aku mengusulkan perkawinan ini hanja karena aku sangat menghormatinja dan menaruh kasihan kepadanja. Kami kawin dengan tjara jang kita namakan ,,kawin gantung” Ini adalah perkawinan biasa jang dibenarkan dalam hukum dan agama. Orang Indonesia mendjalankan tjara ini karena beberapa alasan. Kadang-kadang dilangsungkan kawin gantung terlebih dulu, karena kedua-duanja belum mentjapai umur untuk dapat menunaikan kewadjiban mereka setjara djasmaniah. Atau adakalanja sianak dara tinggal dirumah orangtuanja sampai pengantin laki-laki sanggup membelandjai rumahtangga sendiri.Dalam hal kami, aku dapat tidur dengan isteriku kalau aku menghendakinja. Akan tetapi aku tidak melakukannja karena dia masih kanak-kanak. Boleh djadi aku seorang jang pentjinta, akan tetapi aku bukanlah seorang pembunuh anak gadis remadja Itulah sebabnja, mengapa kami melakukan kawin gantung. Pesta kawinnjapun digantung.Disaat-saat aku mengawini Utari terdjadi dua buah peristiwa, lain tidak karena pendirian jang kolot. Penghulu setjara serampangan menolak untuk menikahkan kami karena aku memakai dasi. Dia berkata, ,,Anak muda, dasi adalah pakaian orang-jang beragama Kristen. Dan tidak sesuai dengan kebiasaan kita dalam agama Islam.”,,Tuan Kadi” aku membalas, ,,Saja menjadari, bahwa – dulunja mempelai hanja memakai pakaian Bumiputera, jaitu sarung. Tapi ini adalah tjara lama. Aturannja sekarang sudah diperbarui.”,,Ja,” katanja membentak, ,,Akan tetapi pembaruan itu hanja untuk memakai pantalon dan djas buka.” ,,Adalah kegemaran saja untuk berpakaian rapi dan memakai dasi,” aku menerangkan dengan tadjam.,,Dalam hal ini, kalau masih terus berkeras kepala untuk berpakaian rapi itu, saja menolak untuk melakukan pernikahan.” Apabila aku ditegur dengan keras dimuka umum, atau disuruh harus begini-begitu atau lain-lain, aku mendjadi keras. Dalam hal ini biarpun Nabi sendiri sekalipun, takkan sanggup menjuruhku untuk menanggalkan dasi. Aku menjentak bangkit dari korsiku dan mendjawab dengar tandas, Barangkali lebih baik tidak kita landjutkan hal ini sekarang.” Timbul protes keras dari imam mesdjid, akan tetapi aku menggeledek, ,,Persetan, tuan-tuan semua. Saja pemberontak dan saja akan selalu memberontak, saja tidak mau didikte orang dihari perkawinan saja.” Kalau sekiranja tidak dihadapan salah seorang tamu kami jang djuga seorang alim dan sanggup menikahkan kami, mungkinlah Sukarno tidak akan bersatu dengan Utari Tjokroaminoto dalam pernikahan menurut agama.

Ketika lima menit lagi aku akan menghabisi masa djedjakaku, terdjadilah peristiwa aneh jang kedua. Tepat sebelum aku mengindjak ambang-pintu aku mengambil rokok untuk melakukan hembusan jang terachir. Aku mengeluarkan korek-api dari kantong, menggoreskan sebuah disisi kotaknja untuk menjelakannja dan  ……. Sisst …….seluruh kotak itu menjala oleh djilatan api. Anak-korek-api jang ada dalam kotak itu menjala semua sampai jang terachir. Karena djilatan api ini djariku terbakar. Kuanggap kedjadian ini sebagai pertandaburuk dan memberikan kepadaku suatu perasaan ramalan jang gelap. Aku tidak mentjeritakan hal ini kepada siapapun, akan tetapi aku tidak dapat menghindarkan diri dari perasaan jang menakutkan …….. Ehhh….. Apa maksudnja ini ?

Sekalipun kedudukanku sebagai orang jang baru kawin, waktuku dimalam hari kupergunakan untuk mempeladjari Pak Tjokro. Aku mendjadi buntut dari Tjokroaminoto. Kemana dia pergi aku turut. Sukarnolah jang selalu menemaninja kepertemuan-pertemuan untuk berpidato, tak pernah anaknja. Dan aku hanja duduk dan memperhatikannja. Dia mempunjai pengaruh jang besar terhadap rakjat Sekalipun demikian, setelah berkali-kali aku mengikutinja aku menjadari, bahwa dia tak pernah meninggikan atau merendahkan suaranja dalam berpidato. Tak pernah membuat lelutjon. Pidato-pidatonja tidak bergaram. Aku tidak pernah membatja salah-satu buku jang murah tentang bagaimana tjara mendjadi pembitjara dimuka umum. Pun tidak pernah berlatih dimuka katja. Bukanlah karena aku sudah tjukup berhasil, akan tetapi karena aku tidak mempunjai apa-apa. Tjerminku adalah Tjokroaminoto. Aku memperhatikannja mendjatuhkan suaranja. Aku melihat gerak tangannja dan kupergunakan penglihatanku ini pada pidatoku sendiri. Mula-mula sekali aku beladjar menarik perhatian pendengarku. Aku tidak hanja menarik, bahkan kupegang perhatian mereka Mereka terpaksa mendengarkan. Suatu getaran mengalir kesekudjur tubuhku ketika mengetahui, bahwa aku memiliki suatu kekuatan jang dapat menggerakkan massa. Aku menguraikan pokok pembitjaraanku dengan sederhana. Pendengarku menganggap tjara ini mudah untuk dimengerti, karena aku lebih banjak mendasarkan pembitjaraanku kepada tjara bertjerita, djadi tidak semata-mata memberikan fakta dan angka. Aku berbuat menurut getaran perasaanku. Pada suatu malam Pak Tjokro tidak dapat memenuhi undangan kesuatu rapat dan kepadaku dimintanja untuk menggantikannja. Kali ini adalah suatu pertemuan ketjil, akan tetapi aku menggunakan ke

sempatan ini dengan sebaik-baiknja. Aku mulai dengan suara lunak. ,,Negeri kita, saudara, adalah tanah jang subur, sehingga kalau orang menanamkan sebuah tongkat kedalam tanah, maka tongkat itu akan tumbuh dan mendjadi sebatang pohon. Sekalipun demikian rakjat menderita kekurangan dan kemelaratan adalah beban jang harus dipikul sehari-hari. Puntjak gunung menghisap awan dilangit, turun kebumi dan negeri kita diberi rahmat dengan hudjan jang melimpah-limpah. Akan tetapi kita kekurangan makan dan perut kita mendjerit-djerit kelaparan.”,,Ja, betul,” mereka berteriak dari tempat duduknja. Suaraku mulai naik. ,,Saudara tahu apa sebabnja, saudara-saudara ? Sebabnja ialah, oleh karena orang jang mendjadjah kita tidak mau menanamian uang kembali untuk memperkaja bumi jang mereka peras. Pendjadjah hanja mau memetik hasilnja. Ja, mereka menjuburkan bumi kita ini. Betul ! Akan tetapi tahukah saudara dengan apa mereka menjuburkan bumi kita ini ? Tahukah saudara apa jang dikembalikan kebumi kita ini setelah 350 tahun mendjadjah ? Saja akan tjeritakan kepada saudara-saudara. Bumi kita ini mereka suburkan dengan majat-majat jang bergelimpangan dari rakjat kita jang mati karena kelaparan, kerdja keras dan hanja tinggal tulang-belulang !,,Maka dari itu saja bertanja, apakah saudara tidak setudju dengan saja ? Seperti saja sendiri, apakah hati saudara tidak digontjang-gontjang oleh keinginan untuk merdeka ? Saja pergi tidur dengan pikiran untuk merdeka. Saja bangun dengan pikiran untuk merdeka. Dan saja akan mati dengan tjita-tjita untuk merdeka didalam dadaku.

Apakah saudara tidak setudju dengan saja ?”     ,,Setudjuuuuuu !” mereka berteriak, ,,Ja……..kami setudju !” Mereka melihat kepadaku kalau aku berbitjara. Mereka memandang kepadaku seperti memudja, mata-mata terbuka lebar, muka-muka-terangkat keatas, meneguk semua kata-kataku dengan penuh kepertjajaan dan harapan. Nampak djelas, bahwa aku mendjadi pembitjara jang ulung. Ia berada dalam urat nadiku.

Aku menghirup lebih banjak lagi persoalan politik dirumah Pak Tjokro, dapur daripada nasionalisme. Dan setelah mengikuti setiap pidatoku maka kawan-kawan seperdjoangan mulai mengerti lebih banjak tentang pendirianku. Kemudian mulai setudju. Lalu mengikuti pendirianku. Dan mentjintaiku. Mereka memilihku sebagai sekretatis dari Jong Java dan beberapa waktu kemudian aku mendjadi ketua.

Akupun menulis untuk madjalah Pak Tjok, ,,Oetoesan Hindia”, akan tetapi dengan nama-samaran, karena memang susah untuk memasuki sekolah Belanda sambil menulis dalam madjalah jang menbela tindakan untuk merobohkan Pemerintah Belanda. Aku kembali kepada Mahabharata untuk memperoleh nama-samaranku. Aku memilih nama ,,Bima” jang berarti ,,Pradjurit Besar” dan djuga berarti keberanian dan kepahlawanan. Aku menulis lebih dari 500 karangan. Seluruh Indonesia membitjarakannja. Ibu, jang tidak tahu tulis-batja, dan bapakku tidak pernah tahu bahwa ini adalah anak mereka jang menulisnja. Memang benar, bahwa keinginan mereka jang paling besar adalah, agar aku mendjadi pemimpin dari rakjat, akan tetapi tidak dalam usia semuda itu ! Tidak dalam usia jang begitu muda, jang akan membahajakan pendidikanku dimasa jang akan datang. Bapak tentu akan marah sekali dan akan berusaha dengan berbagai djalan untak mentjegahku menulis. Aku tidak akan memberanikan diri menjampaikan kepada mereka, bahwa Karno ketjil dan Bima jang gagah berani adalah satu. Ramalan-emas jang pertamakali diutjapkan oleh ibu diwaktu aku lahir—jang didengungkan kembali oleh nenekku pada waktu aku masih botjah ketjil dan jang didengungkan lagi dimasa mudaku oleh Professor Hartagh—kemudian diutjapkan pula ketika aku berada diambang-pintu usiaku jang keduapuluh. Dan oleh dua orang jang berlainan.

Dr. Douwes Dekker Setiabudi adalah seorang patriot jang telah menderita selama bertahun-tahun dalam pembuangan. Ketika umurnja sudah lebih dari 50 tahun ia menjampaikan kepada partainja, jaitu Nationaal Indische Partij, ,,Tuan-tuan, saja tidak menghendaki untuk digelari seorang veteran. Sampai saja masuk keliang-kubur saja ingin mendjadi pedjoang untuk Republik Indonesia. Saja telah berdjumpa dengan pemuda Sukarno. Umur saja semakin landjut dan bilamana datang saatnja saja akan mati, saja sampaikan kepada tuan-tuan, bahwa adalah kehendak saja supaja Sukarno jang mendjadi pengganti saja.” ,,Anak muda ini,” ia menambahkan, ,,akan mendjadi ‘Djuru-selamat’ dari rakjat Indonesia dimasa jang akan datang.”Ramalan-jang kedua keluar dari Pak Tjokro, seorang penganut Islam jang saleh. Dia banjak mempergunakan waktunja untuk sembahjang dan mendo’a. Setelah beberapa lama melakukan samadi, ia kembali kepada seluruh keluarganja pada suatu malam jang berhudjan dan ia berbitjara dengan kesungguhan hati? ,,Ikutilah anak ini. Dia diutus oleh Tuhan untuk mendjadi Pemimpin Besar kita. Aku bangga karena telah memberinja tempat berteduh dirumahku.” Sepuluh Djuni 1921 aku lulus. Sebelas Djuni rentjana jang telah kuperbuat untuk diriku sendiri ditolak mentah-mentah. Kawan-kawanku dan aku bermaksud akan meneruskan peladjaran kesekolah tinggi di Negeri Belanda. Ibu tidak mau tahu samasekali dengan itu. Aku bersoal dengan dia. ,,Ibu, semua anak-anak.jang lulus dari H.B.S. dengan sendirinja pergi ke Negeri Belanda. Itulah djalan jang biasa. Kalau orang mau-memasuki sekolah tinggi dia pergi ke Negeri Belanda.”,,Tidak. Tidak bisa. Anakku tidak akan pergi ke Negeri Belanda,” ia memprotes.,,Apa salahnja keluar negeri ?”,,Tidak ada salahnja,” katanja. ,,Tapi banjak djeleknja untuk pergi kenegeri Belanda. Apakah jang menjebabkan kau tertarik?:Pikiran untuk mentjapai gelar universitas ataukah pengharapan akan mendapat seorang perempuan kulitputih ?”,,Saja ingin masuk universitas, Bu.” ,,Kalau itu jang kauingini, kau memasuki jang disini. Pertama kita harus mengingat kenjataan pokok jang mengendalikan sesuatu dalam hidup kita, Uang. Pergi keluar negeri memerlukan biaja jang sangat besar. Disamping itu, engkau adalah anak jang dilahirkan dengan darah Hindia. Aku ingin supaja engkau tinggal disini diantara bangsa kita sendiri. Djangan lupa sekali-kali, ‘nak, bahwa tempatmu, nasibmu, pusakamu adalah dikepulanan ini.” Dan begitulah aku mendaftarkan diri keuniversitas di Bandung. Mungkin suara ibu jang kudengar. Akan tetapi sesungguhnja tangan Tuhanlah jang telah-menggerakkan hatiku.

Komentar ditutup.