PUTRA SANG FADJAR BAB 20

….,,Apa gunanja kita puluhan ribu banjaknja berkumpul disini djikalau jang kita kerdjakan hanja menghasilkan petisi ? Mengapa kita selalu merendah diri memohon kepada “Pemerintah” untuk meminta kebaikan hatinja supaja mendirikan sebuah sekolah untuk kita ? Bukankah itu suatu Politik Berlutut ? Bukankah itu suatu politik memohon dengan mendatangi Jang Dipertuan Gubernur Djendral Hindia Belanda, jang dengan memakai dasi hitam menerima delegasi jang membungkuk-bungkuk dan menundjukkan penghargaan kepadanja dan menjerahkan kepada pertimbangannja suatu petisi ? Dan merendah diri memohon pengurangan padjak? Kita merendah diri….memohon, merendah diri…. memohon………Inilah kata-kata jang selalu dipakai oleh pemimpin-pemimpin kita.,, Sampai sekarang kita tidak pernah mendjadi penjerang. Gerakan kita bukan gerakan jang mendesak, akan tetapi gerakan kita adalah gerakan jang meminta-minta. Tak satupun jang pernah diberikannja karena kasihan. Marilah kita sekarang mendjalankan politik pertjaja pada diri sendiri dengan tidak mengemis-ngemis. Hajo kita berhenti mengemis. Sebaliknja, hajo kita berteriak, ,,Tuan Imperialis, inilah jang kami TUNTUT !”

( pidato SUKARNO pada rapat umum Radicale Concentratie, Bandung 1922)

Bab 1         Alasan Menulis Bab ini

Bab 2         Putera Sang Fadjar

Bab 3         Modjokerto: Kesedihan Dimasa Muda

Bab 4         Surabaja: Dapur Nasionalisme

Bab 5         Bandung: Gerbang Kedunia Putih

Bab 6         Marhaenisme

Bab 7         Bahasa Indonesia

Bab 8         Mendirikan P.N.l.

Bab 9         Masuk Tahanan

Bab 10       Pendjara Bantjeuj

Bab 11       Pengadilan

Bab 12       Pendjara Sukamiskin

Bab 13       Keluar Dari Pendjara

Bab 14       Masuk Kurungan

Bab 15       Pembuangan

Bab 16       Bengkulu

Bab 17       Pelarian

Bab 18       Djepang Mendarat

Bab 19  Pendudukan Djepang

Bab 20       Kollabolator Atau Pahlawan ?

Bab 21       Puteraku Jang Pertama

Komentar ditutup.