PUTRA SANG FADJAR BAB 19

Puteraku Jang Pertama

SEBENARNJA keadaanku tidak dapat dikatakan sehat ditahun 1943, baik djasmani maupun rohani. Ketegangan-ketegangan jang timbul telah mengorek-ngorek djiwa dan ragaku dengan hebat. Sebagai penderita malaria jang melarut aku dimasukkan kerumah-sakit selama berminggu-minggu terus- menerus. Pada suatu kali, oleh karena tidak ada tempat-tidur jang kosong, aku dimasukkan ke Kamar Bersalin. Perempuan tjantik-tjantik dibawa masuk disebelahku, akan tetapi keadaanku terlalu pajah untuk dapat memperhatikan mereka.

Tambahan lagi aku menderita penjakit gindjal. Kadang-kadang aku meringkuk dengan kaki rapat kebadan, oleh karena serangan-serangan jang tidak tertahankan sakitnja. Adakalanja keluar keringat dingin, bahkan kadang-kadang aku tidak dapat berdiri tenang diatas podium. Bukan sekali dua kali terdjadi, bahwa setelah selesai berpidato aku harus merangkak dengan kaki dan tangan masuk kendaraan.

Kehidupan pribadipun tidaklah seperti jang diharapkan. Aku menghadapi persoalan-persoalan jang sungguh-sungguh berat. Kehidupanku diselubungi oleh gontjangan-gontjangan urat sjaraf. Hubungan Inggit denganku tidak baik. Disuatu malam, karena ingin mendapat kata-kata jang menghibur hati dan ketenangan pikiran, aku menemani seorang kawan kesebuah Rumah Geisha. Sekembali dirumah, Inggit mengamuk seperti orang gila. Dia berteriak-teriak kepadaku. Barang-barang beterbangan dan sebuah tjangkir mengenai pinggir kepalaku.

Rupanja persoalan Fatmawati masih mengapung-apung diantara kami, sekalipun tidak ada kontak antara Fatmawati denganku. Hubungan pos terputus dan memang ada aku mengirim surat sekali untuk mengabarkan bahwa kami sudah selamat sampai di Djakarta. Hanja itu. Surat ini kupertjajakan kepada seorang suruhan jang dipertjaja jang menitipkannja pula kepada tukang-mas dalam perdjalanan menudju Sumatra.

Pada waktu itu kami sudah pindah, karena aku tidak senang tinggal dirumah bertingkat. Dirumah baru ini anak kami dengan suaminja Asmara Hadi tinggal bersama-sama dengan kami. Pada achimja merekapun mengaku, bahwa perhubungan antara Inggit denganku tidak mungkin diteruskan lebih lama lagi. ,,Bu,” Ratna Djuami menangis dihadapan Inggit pada suatu malam. ,,Bapak kelihatan sekarang sangat pentjemas dan penggugup. Pikirannja nampaknja katjau. Dan kesehatannja selalu terganggu.”

,,Kami kira ini disebabkan kehidupan pribadinja,” sambung Asmara

Hadi terus-terang. ,,Kalau sekiranja dia tidak dibinasakan dalam bidang kehidupan lain, tentu akan lain halnja. Akan tetapi perasaan tidak bahagia ini jang ditumpukkan keatas bebannja jang sudah tjukup berat itu sangat melemahkan kekuatannja.”

Aku meminta pengertian Inggit. ,Aku sendiri,akan mentjarikanmu rumah. Dan aku akan selalu mengusahakan segala sesuatu jang kauperlukan. Kaupun tahu, diantara kita semakin sering terdjadi pertengkaran dan ini tentu tidak baik untukmu.”

,,Ini djalan satu-satunja, Bu,” Asmara Hadi mengeluh. ,,Negeri kita memerlukan bapak. Tidak hanja ibu, ataupun saja maupun Ratna Djuami jang memerlukannja. Dia kepunjaan kita semua. Rakjat memerlukan bapak sebagai pemimpinnja, tidak jang lain. Dan apa jang akan terdjadi terhadap Indonesia, kalau dia hantjur ?”

Setelah pertjeraian telah disepakati bahwa Inggit kembali kekota kelahirannja. Dipagi itu ia harus pergi kedokter-gigi dulu. Hatiku senantiasa dekat pada isteriku dan aku tidak akan membiarkannja

pergi seorang diri. Karena itu Inggit kutemani. Hari sudah tinggi ketika kami kembali dalam keadaan letih, merasa badan kami tidak enak, dan sesampai dirumah kami mendapati serombongan wanita jang akan bertamu kepada Inggit. Sedjam lamanja mereka berkundjung, sekalipun tidak banjak jang dipertjakapkan. Kuingat diwaktu itu aku merasakan kegelisahan jang amat sangat. Saat jang melelahkan sekali.

Kemudian aku mengiringkan Inggit ke Bandung, membongkar barang-barangnja, mejakinkan diri kalau-kalau ada sesuatu jang kurang, lalu aku mengutjapkan selamat tinggal kepadanja …………….

Bulan Djuni 1943 Fatma dan aku kawin setjara nikah wakil. Untuk dapat mengangkutnja beserta orangtuanja ke Djawa urusannja terlalu berbelit-belit dan pandjang, pun aku tidak bisa segera mendjemputnja ke Sumatra, sedang aku tak mungkin rasanja menunggu leliih lama lagi. Mendadak timbul keinginanku jang keras untuk kawin. Menurut hukum Islam perkawinan dapat dilangsungkan, asal ada pengantin perempuan dan sesuatu jang mewakili mempelai laki-laki. Aku mempunjai lebih daripada sesuatu itu. Aku mempunjai seseorang. Kukirimlah telegram kepada seorang kawan jang akrab dan memintanja untuk mewakiliku. la memperlihatkan telegram itu kepada orangtua Fatma dan usul ini mendapat persetudjuan. Pengantin dan wakilku pergi menghadap’kadi dan sekalipun dia masih di Bengkulu dan aku di Djakarta, dengan demikian kami sudah mengikat tali perkawinan.

Ditahun berikutnja Fatmawati melahirkan seorang putera. Aku tidak sanggup menggambarkan kegembiraan jang diberikannja kepadaku. Umurku sudah 43 tahun dan achirnja Tuhan Jang Maha Pengasih mengaruniai kami seorang anak.

Disaat mendengar bahwa Fatma dalam keadaan hamil, maka ibu, bapak dan kakakku perempuan datang dengan segera dari Blitar. Mereka sangat gembira. Orangtua kami dari keduabelah pihak tinggal dengan kami dipaviljun dekat rumah hingga sang baji lahir. Bapaklah jang mengawasi segala pekerdjaan. Dialah jang duduk setiap djam memberi petundjuk kepada Fatma, bagaimana ia harus mempersiapkan dirinja. Selalu aku melihat mereka duduk bersama-sama dan selalu aku dapat mendengar bapak mengatakan sesuatu seperti, ,,Nah, djangan lupa mentjatat bedak baji, pisau ketjil untuk pemotong talipusatnja dan emban untuk menahan perutmu sendiri.”

Dimalam Fatma akan melahirkan kanii mendjamu tamu-tamu penting – orang Djepang dan orang Indonesia. Fatmawati sibuk melajani sebagai njonja-rumah, akan tetapi kemudian dia mulai merasa sakit. Aku sendiri membimbingnja kekamar dan memanggil dokter. Mulai dari saat itu aku tetap berada disisinja, pun tidak tidur barang satu kedjap sampai ia memberikan kepadaku seorang putera jang tidak ternilai itu. Kududuk diatas tempat-tidur mendampinginja, memegang tangannja sementara ia melahirkan. Aku bukanlah orang jang bisa tahan melihat darah, akan tetapi disaat didjadikannja seorang manusia idamanku ini adalah saat jang paling nikmat dari seluruh hidupku. Djam lima waktu subuh, ketika terdengar azan dari mesdjid memanggil ummat untuk menjembah Tuhannja, anakku jang pertama, Guntur Sukamoputra, lahirlah.

Tuhan Jang Maha-Penjajang dan Maha-Bidjaksana telah memandjangkan umur bapakku untuk dapat melihat darah-dagingku mengindjak dunia ini. Setelah itu ia djatuh sakit. Fatma merawatnya berbulan-bulan dengan tekun dan setia hingga ia menghembuskan napas jang penghabisan.

Aku teringat akan ,,Si Tukang Kebun”, sebuah buku tjerita jang kubatja pada waktu masib berumur 13 tahun. Waktu itu aku tidak mengerti maknanja jang lebih dalam. la mentjeritakan tentang bagaimana daun-daun kaju jang sudah tjoklat dan kering harus djatuh dan memberikan tempatnja kepada putjuk jang hidjau dan baru.

Duapuluh tahun kemudian barulah aku mengerti.

Komentar ditutup.