PUTRA SANG FADJAR BAB 15

Pendudukan Djepang

SEMENTARA itu Djendral Imamura, Panglima Tertinggi tentara pendudukan jang bermarkas-besar di Djakarta, memerintahkan agar para pemimpin bangsa Indonesia membentuk suatu badan pernerintahan sipil, akan tetapi mereka keberatan dengan alasan, ,,Kami tidak akan duduk dalam badan apapun tanpa Bung Karno.”

Imamura lalu mengirim surat kepada Kolonel Fujiyama. dan. menjatakan, ,Sebagian besar daripada tentara pendudukan beserta pimpinan. Jang mengendalikan tentara ini berada di Djawa. Tugas pemerintahan jang sesungguhnja ada disini dan ternjata urusan sipil tidak berdjalan dengan baik. Kami sangat memerlukan bantuan dari orang jang paling berpengaruh.” Surat itu achirnja menjimpulkan, ,,Ini adalah perintah militer supaja memberangkatkan Sukarno.”

Ketika Fujiyama memerintahkanku segera, berangkat ke Palembang dimana sebuah kapal akan membawaku ke Djakarta, hatiku menari-nari gembira. Semendjak pendaratan Djepang di Padang empat bulan jang lalu aku mendo’a agar dapat kembali kepulau Djawa jang tertiinta, akan tetapi aku tidak tahu bagaimana tjaranja memenuhi keinginan hati ini. Sekaranglah Tuhan mendengarkan do’aku dan memerintahkanku kembali.

Dekat Palembang kami terlibat dalam suatu ketjelakaan. Dua buah kendaraan. Djepang dengan ketjepatan jang penuh bertabrakan dihadapan kami. Satu dari kendaraan itu adalah sebuah djip. Itulah pertamakali dalam hidupku aku melihat djip. Kendaraan jang satu lagi sebuah truk besar. Kedua perwira. didalam truk itu tergontjang, akan tetapi tidak apa-apa selain dari babak-belur sedikit. Dengan memberanikan diri mereka tjepat-tjepat lari meneruskan perdjalanan. Djip itu hantjur samasekali. Penumpangnja, seorang kapten, mendapat luka parah. Adjudannja terpelanting kepinggir djalan dan hanja pusing dan terbaring dibawah sebatang kaju. Sewaktu dia sadar lagi dia menjatakan kepada kami, ,,Kami perlu segera sampai di Palembang. Saja bawa Buick ini.”

Tapi,” protesku, ,,Ini milik saja. Komandan daerah ini memberikan izin istimewa kepada saja.” Kutundjukkan sekilas surat tanda milikku. Ini buktinja.”

Sebagian dari ,,pertjakapan” ini kami lakukan dengan gerak. Sekalipun melihat surat itu, adjudan itu menghormat dengan kaku, mengutjapkan sesuatu seakan dia berkata, ,Ini urusan penting. Ma’af sadja.” Lalu dia pergi membawa kendaraan kami dengan meninggalkan kami terdampar didjalanan itu. Polisi Militer jang segera datang ketempat ketjelakaan ini mengerti tanda-tanda pengenalku. Kendaraan selandjutnja jang kebetulan lewat adalah sebuah truk. Sertamerta kendaraan itu disita dan kami meneruskan perdjalanan dengan meninggalkan pemiliknja dipinggir djalan itu.

Kami menambah dua orang penumpang lagi. Seorang Indonesia jang terbanting dari atas truk besar tadi menggeletak disemak-semak, mukanja tertelungkup ketanah bermandi darah jang menggenang. Ia sudah tidak bernjawa lagi. Aku tidak dapat meninggalkan orang jang malang itu ditengah hutan, dikelilingi oleh muka-muka masam. Dengan mengangkat majat jang berlumuran darah keatas truk, aku membawanja untuk dikuburkan sebagaimana mestinja. Jang seorang lagi adalah pradjurit Djepang, ditugaskan untuk membawa kami. Inggit disuruh duduk disebelahnja. Penumpang lain dibelakang, Satu-satunja kesukaran jang kuhadapi ialah mengenai Inggit jang tidak mau duduk disebelah Djepang. Achirnja aku menjelesaikannja dengan meletakkan si Ketuk Satu dan Ketuk Dua diantara Inggit dan pradjurit itu.

Sesampai di Palembang aku menghadapi kesukaran jang lebib banjak. Para pembesar disana tidak mengizinkan kami meneruskan perdjalanan ke Djakarta sebagaimana instruksi jang telah kuterima. Orang jang bertugas menolakku dengan utjapan singkat, ,Dilarang bepergian antara Sumatra dan Djawa.”

,,Tentu ada kekeliruan pengertian dalam hal ini,” aku memberi alasan. ,,Perintah ini saja terima dari komandan atasan saudara sendiri.”

Sekarang, ini tidak ada perdjalanan orang preman antara Sumatra dan Djawa,” dia mengulangi lagi, sambil berdiri menjuruhku pergi.

Ketika aku bertahan terus dia menekan knop dan aku dihadapkan kemarkas Kenpetai jang menjeramkan.

Kenpeitai memutuskan untuk mengadakan pemeriksaan terhadap diriku. ,,Kami memerlukan lebih banjak keterangan tentang diri tuan, tuan Sukarno,” kata seorang perwira berperut buntjit melengking, sambil mempermainkan pedang Samurai ditangannja. ,,Kami mendapat keterangan dari saluran-saluran kami, bahwa tuan orang jang tidak baik, hatinja tidak bersih terhadap kepentingan kami.”

Tidak benar,” aku mendengus tidak sabar. ,,Saja dapat membuktikan , ketidak-benaran keterangan  itu.” Aku mengeluarkan kartu tanda berkelakuan baik jang diberikan oleh Kolonel Fujiyama kepadaku dan dapat digunakan dalam keadaan-keadaan seperti ini. Dia membatja pelahan-lahan. Kemudian diulangnja membatja sekali lagi. Dan setjarik karton berwama putih inilah jang menjelamatkan djiwaku. Namun persoalan pengangkutan tidaklah dipertjepat. Sekarang dia minta bantuanku lagi untuk menjelesaikan persoalan setempat sebelum menandatangani surat izin keluar.

Sibuntjit telah menjarungkan kembali pedang Samurainja. Sambil tersenjum dia berkata, ,,Kalau betul tuan orang baik dan dengan maksud-maksud baik, saja minta tuan mengundurkan keberangkatan dan membantu kami mengatasi kesukaran-kesukaran disini jang disebabkan oleh rakjat tuan jang pandir.”

Dia duduk dipinggir medja. Aku dikorsi. Kami berhadap-hadapan dan pada djarak jang dekat mukanja itu menarik sekali untuk dipeladjari. Mulutnja tersenjum, akan tetapi matanja tidak. ,,Lebih baik kami tidak menahan tuan dengan paksa, tuan Sukarno,” dia mendesis. ,,Akan saja bantu dengan apa jang dapat saja berikan,” djawabku setelah mempertimbangkan, bahwa tidak ada lain jang dapat diutjapkan dalam suasana demikian itu.

Orang Djepang di Palembang dan aku tidak dapat memperoleh saling pengertian dengan baik. Aku melakukan satu hal jang tidak mereka senangi samasekali. Akan tetapi sebaliknja mereka lalu melakukan banjak hal jang tidak kusukai djuga. Aku telah menjaksikan perbuatan-perbuatan kurang-adjar dan memuakkan dan menjampaikan hal ini kepada mereka. Kukatakan kepada Sibuntjit, Seringkali saja Iihat anak-buah tuan terlalu mudah melajangkan tangan. Dengan mata kepala saja sendiri saja menjaksikan mereka berkalikali menampar orang Indonesia.”

Aku menahan napas dan berhenti, akan tetapi Sibuntjit hanja memandang kepadaku, dengan sombong mengajun-ajunkan kakinja – setiap kali hampir-hampir mengenai kakiku – dan menantikan utjapanku untuk memberikan kesimpulan. ,,Pukulan-pukulan terhadap rakjat kami ini harus dihentikan. Ini bukanlah djalan untuk mentiiptakan persahabatan dan membangkitkan kepertjajaan rakjat,” aku menegaskan. ,,Kalau tuan menghendaki kerdjasama dari saja jang baik, tuan hendaknja memperlihatkan kerdjasama pada saja.”

Itu keliru,” katanja memberungut. ,,Kelakuan buruk ini dilakukan oleh pradjurit-pradjurit Korea. Orang Korea terkenal dengan sifatnja jang gatal tangan. Pradjurit-pradjurit Djepang sikapnja djauh lebih baik. Mereka tidak pernah bertindak seperti itu.”

Komandan,”‘ kataku. ,Orang Indonesia jang kena pukul tidak membedakan siapa jang bertindak itu. Soalnja ialah, apakah tindakan ini tidak bisa dihentikan ? Dan tidak dilakukan oleh siapapun ?”

Baik, tuan Sukarno, tuan dapat memegang perkataan saja. Para Komandan Bataljon akan diperintahkan supaja segera menghentikan perbuatan lantjang tangan ini.” Sedjak itu sikap mereka berobah.

Sebulan kemudian mereka membebaskanku untuk berangkat, akan tetapi tentara Djepang di Palembang hanja mempunjai sebuah kapal, jaitu sebuah perahu-motor dengan mesin caterpillar. Perahu jang akan mengarungi lautan ini pandjangnja delapan meter, sedangkan penumpangnja terdiri dari seorang kapten, dua pradjurit, Inggit dan aku sendiri, Sukarti, Riwu dan barang-barang kami, dan sudah tentu Ketuk Satu dan Ketuk Dua. Aku mentjoba untuk mengusahakan kapal jang lebih besar, akan tetapi kepadaku disampaikan supaja kami menunggu. Jah, menunggu. Aku sudah lima setengah bulan lamanja menunggu di Sumatra. Tjukuplah itu. Sekalipun kapal itu sama-sekali tidak memenuhi sjarat sebagai kapal laut, akan tetapi ini adalah kesempatan pertama jang diberikan kepadaku dan kesempatan ini harus kupergunakan.

Empat hari empat malam lamanja kami terkatung-katung ditengah lautan. Kami tidur sambil duduk, setiap detik dan setiap menit angin laut dan kabut-air menjapu muka bumi selama duapuluh empat djam dalam sehari. Pelajaran ini djauh daripada menjenangkan. Ketika kami melalui Selat Bangka membadailah topan jang keras dan kami harus menahankannja diatas perahu jang terbuka, tanpa setjarikpun alat pelindung. Kemudian perahu-motor kami hampir terbalik karena menubruk pulau-karang jang rendah. Lagi pula aku gelisah menghadapi tantangan-tantangan ini, oleh karena aku tak pernah beladjar berenang. Dimasa mudaku sportku dalam air hanja memakai ban dalam jang dipompa, lalu duduk didalamnja dan mentjebur-tjebur.

Kami membawa sajuran jang telah dimasak, ikan kering dan persediaan lainnja dalam stoples dan nasi seperiuk, akan tetapi aku tidak dapat makan. Jang masuk kedalam perutku hanjalah air djeruk sedikit. Aku terlalu mabuk, sehingga kukira aku akan mati. Kapal ketjil kami melambung keatas dan dihempaskan lagi oleh gelombang kebawah, tergontjang, mengoleng-oleng dan berpusing-pusing. Dan aku putjat seperti majat selama empat hari itu.

Aku sakit, perutku terasa mual, aku pusing, kepala mengentak-ngentak, matahari membakarku angus, kabut air-laut membikin bibirku petjah-petjah, perutku lapar dan badan lemah – ach, peduli amat ! Bukankah sekarang aku pulang ? Aku sekarang kembali ke Djawa. Karena sangat bersjukur dapat kembali dalam keadaan hidup dan selamat, kusumbangkan seluruh milikku kepada kapten itu semuanja! Ini adalah permulaan baru bagiku. Kehidupan baru bagi negeriku. Dan aku ingin memulainja dengan kesegaran baru.

Lintasan pertama dari tanahku jang tertjinta ini terlihat ketika hendak masuk meninggalkan Laut Djawa. Hari sudah sore dan panas ketika kami menderum-derum melalui iring-iringan perahu-lajar penangkap-ikan dan sampan-sampan nelajan jang berbau hanjir. Melewati perairan diluar aquarium jang dibuat didok dan memasuki pelabuhan Pasar Ikan jang sempit, dimana hampir tidak mungkin dua buah perahu berpapasan. Pasar ikan penuh sesak dengan tempat pendjualan hasil dari laut. Airnja kotor. Daun-daunan, kepala ikan dan sampah kelihatan mengapung dalam air. Bau hanjir dari ikan mati memenuhi udara, sekitar itu. Akan tetapi, ketika aku dibantu melangkahkan kaki ketangga batu jang membawaku keatas daratan, aku berbitjara dalam hatiku, ,,Alangkah indah pemandangan ini. Seperti tak pernah aku melihat jang lebih indah seumur hidupku.”

Didarat tak seorangpun jang datang mendjemput kami dari kapal. Kuminta pertolongan salah seorang nelajan untuk menghubungi bekas iparku, Anwar Tjokroaminoto, dan pengatjara jang membelaku dulu di Bandung, jaitu Sartono, dan Hatta jang djuga berada di Djakarta. Diudjung darmaga tampak sebuah kantor-emperan. Pradjurit pendjaganja mempersilakanku masuk dan menjuruhku duduk. Dan kududuklah disitu. Aku menunggu.

Anwar jang pertama datang. Tuhan melindunginja. Dia datang berlari dengan mata berlinang-linang. Kami berpelukan dan mentjium satu sama lain tanpa mempedulikan sekitar kami. Pertemuan ini tidak diiringi dengan pukulan punggung jang keras. Suasananja menggambarkan perasaan sjukur jang diutjapkan dengan tidak bersuara. Hanja airmata mengalir kepipi kami. Seperti kukatakan, kami tidak banjak mengutjapkan kata-kata. Kami tidak sanggup mengeluarkannja. la tidak bisa lewat dari kerongkongan. Sebaliknja ia mentjutjur dari mata kami.

,,Bagaimana kabamja Harsono ?” tanjaku, suaraku berobah karena terharu.

,,Baik.

,,Utari ?”

,,Semua baik. Jang lebih penting lagi saja menanjakan bagaimana keadaan Bung Karno.”

,,Akupun baik.”

Kami berdiri merenggang dan saling memperhatikan satu sama lain pada djarak satu lengan. Didepannja ia lihat sekarang seorang laki-laki jang letih dan kurus, pakai djas putih jang lapang dan tjelana tidak berbentuk. Pakaianku sangat ketinggalan djaman. la adalah buatan Darham, pendjahit dari Pulau Bunga jang tinggal denganku, atau hasil sebelum pengasingan.

Anwar memakai djas kuning-gading dengan potongan ,,doublebreast”. Setelah aku menjeka pipi dan mentjium tanah dibawahku, lalu menggosok mataku untuk mejakinkan apakah jang berdiri didepanku betul-betul Anwar, bukan-pajangan, aku kemudian kembali pada kenjataan. Kuraba-raba djasnja. ,Djasmu bagus sekali potongannja,” aku memudji.

,,Bikinan De Koning,” ia melagak.

Pendjahit paling terkenal di Djakarta diwaktu Belanda. Bagaimana kau membajarnja ?”

Dia mengangkat kedua belah tangan seperti tjorong kemulutnja dan berbitjara langsung ketelingaku. ,,Saja masuk dari pintu belakang. Ongkosnja terlalu tinggi, akan tetapi ada seorang kawan jang bekerdja sebagai pendjahit-pembantu ditoko De Koning.”

,,Apa dia mau kira-kira membikinkan untukku ?”

,,Tentu mau. Kalau Bung Karno suclah senggang sedikit, saja bawa kesana.”

Seringkali generasi muda menukil kembali utjapan-utjapan jang abadi dan jang akan hidup terus. Utjapan jang keluar dalam detik-detik jang besar didalam sedjarah. Utjapan jang akan menggeletarkan tulang sumsum, utjapan jang membangkitkan semangat, utjapan jang dituliskan dengan kata-kata indah seperti ini disaat pertemuan kami. Akan tetapi sajang, ketika kami bertemu dan setelah aku menanjakan tentang keadaan Anwar beserta keluarganja, pokok persoalan selandjutnja jang kutanjakan kepadanja hanjalah mengenai tukang djahitnja. Diminggu itu djuga aku pergi mendjahitkan pakaian jang pertama selama bertahun-tahun.

Setengah djam kemudian Sartono, dan Hatta datang berlarian. Hatta dan aku tidak berkiriman surat selama bertahun-tahun. Dan sekalipun banjak jang hendak dikatakan dan banjak jang hendak ditanjakan, namun masing-masing kami hanja punja satu pertanjaan untuk jang lain. Hatta membisik, ,,Bagaimana pendapat Bung Karno mengenai pendudukan ini ?”

Aku membisikkankembali, ,,Djepang tidak akan lama disini. Mereka akan kalah dan kita akan hantjurkan mereka. Inipun asal kita tidak menentang mereka setjara terang-terangan.”

Kemudian aku bertanja, ,,Bagaimana, Bung Hatta, bagaimana semangat nasionalisme dari rakjat kita ?”

,,Semangat rakjat tidak dibinasakan oleh peperangan. Rakjat sudah mulai tjuriga kepada Djepang jang mendjadi ,,pembebas” itu dan rakjat sangat menantikan kedatangan Bung Karno.”

Djepang telah menjediakan sebuah rumah bertingkat-dua dan manis potongannja, terletak disebuah djalan-raja Djakarta. Rumah itu mempunjai lapangan rumput, beranda, garasi dan perabot lengkap, ketjuali piring-piring barang petjah-belah lainnja jang sudah dibanting-bantingkan oleh Belanda sebelum berangkat. Tentunja tidak ada penjambutan kedatanganku kembali pulang, karena tak seorangpun

Jang tahu kapan Sukarno, akan sampai. Dan lagi adanja larangan jang keras untuk mengadakan pertemuan. Sekalipun demikian didalam rumah kudapati telah ada beberapa anggota dari ,,Paiiitia Penjambutan Bung Karno”. Wadjah mereka bersinar dengan kegembiraan jang tenang dan mereka berlutut, lalu mentjium tanganku. Kupegang tangan mereka dengan kuat dalam genggamanku. Aku sangat terharu. Orang-orang jang kutjintai ini telah ditundjuk untuk mentjarikanku rumah tinggal jang tjotjok.

Orang Belanda sudah diringkus masuk kamp-tawanan,” kata Ahmad Subardjo. ,,Kalau Bung Karno berdjalan-djalan, akan melihat banjak rumah-rumah bagus jang kosong. Isteri saja meneliti sebelah satu djalan. Isteri Sartono disoberangnja. Dalam beberapa hari sadja mereka menemukan rumah ini.”

,,Rumah ini besar sekali,” kataku sambil memeriksa bagian dalam

,,Kami berpendapat, bahwa pemimpin kita tentu memerlukan ruangan banjak untuk tetamu. Semendjak tersebar berita bahwa Bung Kamo akan datang dalam waktu tidak lama lagi, rakjat dari desa-desa, dari gunung, dari tepi pantai dan dari daerah jang djauh semakin meluapluap. Sekalipun dalam keadaan kekurangan, mereka toch sanggup untuk datang dan melihat sendiri wadjah Bung Karno, Mereka tidak pertiaja bahwa Bung Karno betul-betul ada disini dan bebas dan sudah siap lagi untuk menduduki tempat sebagai pahlawan mereka.” Malam itu Inggit dan aku berdialan-djalan disekitar rumah kami jang baru itu. Didjalanan jang lebar dengan dikiri-kanannja barisan pohon-pohon, jang merupakan daerah elite di Djakarta. Telah pandjang waktu berlalu dibelakangku. Hampir tigabelas tahun. Masa tahanan dan pembuangan telah berlalu. Dan perang telah terdjadi.

Tapi sjukur, Aku sudah pulang ketempatku semula. Aku kembali mendjadi pemimpin dari rakjatku. Aku sudah kembali ……

Komentar ditutup.