PUTRA SANG FADJAR BAB 14

Pembuangan

ENDEH, sebuah kampung nelajan telah dipilih sebagai pendjara terbuka untukku jang ditentukan oleh Gubernur Djendral sebagai tempat dimana aku akan menghabiskan sisa umurku. Kampung ini mempunjai penduduk sebanjak 5.000 kepala. Keadaannja masih terbelakang. Mereka djadi nelajan. Petani kelapa. Petani biasa.

Hingga sekarangpun kota itu masih ketinggalan, ia baru dapat ditjapai dengan djip selama delapan djam perdjalanan dari kota jang terdekat. Djalan rajanja adalah sebuah djalanan jang tidak diaspal jang ditebas melalui hutan. Dimusim hudjan lumpurnja mendjadi bungkah-bungkah. Dan apabila matahari jang menghanguskan memantjar dengan terik, maka bungkah-bungkah itu mendjadi keras dan terdjadilah lobang dan aluran baru. Endeh dapat didjalani dari udjung keudjung dalam beberapa djam sadja. Ia tidak mempunjai telpon, tidak punja telegrap. Satu-satunja hubungan jang ada dengan dunia luar dilakukan dengan dua buah kapal pos jang keluar-masuk sekali sebulan. Djadi, dua kali dalam sebulan kami menerima surat-surat dan surat kabar dari luar.

Didalam kota Endeh terdapat sebuah kampung jang lebih ketjil lagi, terdiri dari pondok-pondok beratap ilalang, bernama Ambugaga. Djalanan Ambugaga itu sangat sederhana, sehingga daerah rambahan dimana terletak rumahku tidak bernama. Tidak ada listrik, tidak ada air-leding. Kalau hendak mandi aku membawa sabun ke Wola Wona, sebuah sungai dengan airnja jang dingin dan ditengah-tengahnja berbingkah – bingkah batu. Disekeliling dan sebelah-menjebelah rumah ini hanja terdapat kebun pisang, kelapa dan djagung. Diseluruh pulau itu tidak ada bioskop, tidak ada perpustakaan ataupun matjam hiburan lain.

Dalam segala hal maka Endeh, di Pulau Bunga jang terpentjil itu, bagiku mendjadi udjung dunia.

,,Kenapa, ja ? Kenapa disini ?” Inggit bertanja.

,,Pulau Muting, Banda atau tempat jang djelek seperti itu, ketempat-tempat mana rakjat kita diasingkan, tidak akan lebih baik daripada ini,” keluhku dengan berat ketika kami memeriksa rumah jang gelap dan kosong dimalam hari kami sampai disana. ,,Diwaktu Belanda mendapat akal untuk mengadakan pembuangan, mula-mula orang kita dibuang keluar Indonesia. Tapi, kemudian mereka menjadari, biar kemanapun kita dieksternir, kita dapat menjusun kekuatan untuk melawan mereka. Belanda achirnja memutuskan untuk mengasingkan para pemberontak didalam negeri sadja, dimana mereka langsung dapat mengawasi kita.

Kenapa dipilih Flores ?” Inggit mengulangi ketika membuka kerandjang buku, satu-satunja kekajaan pribadiku jang kami bawa. ,,Kebanjakan para pemimpin diasingkan ke Digul.”

,,Itu makanja,” kuterangkan sambil mengeluarkan buku-buku sekolah jang kubawa, sehingga setiap pagi dan malam aku dapat mengadjar Ratna Djuami dirumah. ,,Di Digul ada 2.600 orang jang dibuang. Tentu aku akan memperoleh kehidupan jang enak disana. Dapatkah kaubajangkan, apa jang akan diperbuat Sukarno dengan 2.600 pradjurit jang sudah disiapkan itu ? Aku akan merobah muka Negeri Belanda dari New Guinea jang terpentjil itu.”

Inggit tidak pernah mengeluh. Sudah mendjadi nasibnja dalam kehidupan ini untuk memberiku ketenangan pikiran dan memberikan bantuan dengan kasih mesra, bukan menambah persoalan. Akan tetapi aku djuga dapat merasakan, bahwa dia susah. Bukan mengenai dirinja sendiri. Dia susah mengenai diriku. Memang terasa lebih berat untuk memandang seseorang jang ditjintai kena siksa daripada mengalami sendiri siksaan itu. Sungguh pedih bagi seorang isteri untuk menjaksikan suaminja direnggutkan dari kekuatan hidupnja, dari tjita-tjitanja, dari kegembiraan hidupnja, bahkan direnggutkan sedikit dari kelaki-lakiannja. Aku mendjadi seekor burung elang jang telah dipotong sajapnja. Setiap kali Inggit memandangiku, setiap kali itu pula setetes darah menitik dari uratnja.

Aku tidak pernah mengeluh tentang kesedihanku kepada Inggit. Kalau ada, kami djarang membitjarakan soal jang rumit dari hati kehati. Sekalipun hatiku sendiri gelap dengan keputus-asaan, namun aku mentjoba menggembirakan hatinja. Aku selalu memperlihatkan wadjah jang baik, sehingga wadjah itu tidak menundjukkan apa jang sesungguhnja tergurat dalam hatiku.

Ach,  saat jang sangat tidak menjenangkan bagiku. Kedua reserse jang mengantarku menjerahkanku dari kapal seperti menjerahkan muatan ternak jang lain. Pada waktu kapal mereka mengangkat sauh, kedua orang dengan siapa aku hanja boleh berbitjara, diluar keluargaku, sudah pergi. Setiap orang menjingkir daripadaku. Endeh kembali mendjadi pendjaraku, hanja lebih besar dari jang sudah-sudah. Disini bukan sadja aku tidak bisa mendapat kawan, akan tetapi aku malahan kehilangan satu orang jang turut dengan kami. Mertuaku, Ibu Amsi jang baik dan tersajang itu meninggal diatas pangkuanku. Akulah jang membawanja kekuburan. Ia menderita sakit arterio-sclerosis. Pada suatu malam ia pergi tidur. Esok paginja ia tidak bangun-bangun. Keesokan harinja tidak bangun. Dihari berikutnjapun tidak. Aku menggontjang-gontjang badannja dengan keras, akan tetapi dipagi tanggal 12 Oktober 1935, setelah lima hari dalam keadaan tidur, ia pergi dengan tenang dalam keadaan belum sadar.

Aku sangat lekat kepada orang tua ini. Dibulan-bulan pertama jang sangat menjiksa, ditempat pembuangan itu dikala batin kami dirobek-robek tak kenal ampun setiap djam setiap detik, diwaktu itu tidak satupun perkataan jang tidak enak keluar antara mertuaku dan aku sendiri. Bagaimana kami dapat tinggal bersama dengan rukun adalah karena kami orang baik-baik. Aku djuga sedikit, barangkali. Ibu Amsi lebih sederhana lagi daripada anaknja. Ia tidak bisa tulis-batja. Tapi ia seorang wanita besar. Aku mentjintainja setulus hati.

Dengan tanganku sendiri kubuat kuburannja. Aku sendiri membangun dinding kuburan itu dengan batu tembok. Aku seorang diri mentjari batu-kali, memotong dan mengasahnja untuk batu-nisan. Dipekuburan kampung jang sederhana melalui djalanan sempit djauh ditengah hutan berkumpullah beberapa gelintir manusia untuk memberikan penghormatannja jang terachir. Ini adalah kemalanganku jang pertama. Dan, terasa berat.

Satu-satunja manusia jang tinggal, dengan siapa aku dapat berbitjara, adalah Inggit. Disuatu malam ketika kami duduk berdua diberanda ketjil, hanja berdua — seperti biasanja — Inggit mengalihkan pandangannja sebentar dari djahitannja untuk   mengungkapkan,  ,,Tidak mungkin orang-orang disini tidak mengenalmu. Mereka tentu sudah membatja tentang dirimu atau melihat gambarmu disuratkabar. Sudah pasti banjak orang sini jang sudah mengenalmu. Sudah pasti banjak.”

,,Mereka tahu siapa aku, baiklah. Kalau sekiranja mereka tidak pernah mendengar tentang diriku, tentu Belanda tidak mendjalankan tindakan pengamanan untuk merahasiakan kedatangan kita. Rakjat tidak tahu samasekali kedatangan Sukarno. Bahkan pegawai pemerintahanpun tidak tahu kapan kita sampai disini.”

Aku mengerti kemana tudjuan Inggit. Ia ingin memperoleh djawaban, mengapa setiap orang menjingkir, seperti aku ini hama penjakit. ,,Orang-orang jang terkemuka disini, tidak mengatjuhkanku, bukan karena tidak kenal. Akan tetapi djustru karena mereka mengenalku,” kataku. ,,Orang-orang terpandang disini terdiri dari orang Belanda, amtenar-amtenar bangsa kita dan orang-orang jang memerintah seperti Radja. Mereka samasekali tidak mau tahu denganku. Bahkan mereka tidak mau terlihat bersama-sama denganku. Aku tentu akan menjebabkan mereka kehilangan kedudukannja.”

,,Lagi pula, negeri ini terlalu ketjil,” bisiknja.

,,Jah,” aku mengangguk dengan lesu, ,,negeri ini terlalu ketjil.?”

Kami keduanja membisu, akan tetapi bau dari pokok persoalan itu masih sadja mengapung dengan berat dalam ruangan itu, seperti bau wangi-wangian jang murah. Akulah pertama memetjah kesunjian jang pekat itu.

,,Orang tinggi-tinggi ini adalah alat. Boneka Belanda. Mereka tidak mau mendekat, ketjuali untuk memata-mataiku. Bahkan kaum keluarganja dilarang untuk berkenalan denganku. Dan mereka tidak mau melanggarnja, karena takut masuk daftar hitam Belanda. Setiap orang merasa takut.”

Inggit menambahkan, ,,Kudengar adik Radja tertarik pada pergerakan kebangsaan, sampai Belanda mengusirnja dari sekolah di Surabaja. Kemudian dia dipulangkan kemari, sehingga tidak dapa;t lagi mempeladjari politik.”

,,Itulah jang kumaksud,” kataku. ,,Mana mungkin ia djadi kawanku. Dia berada disini karena alasan jang sama denganku — sebagai hukuman.”

,,Tapi rakjat biasapun menjingkir dari kita,” Inggit menegaskan dengan suara ketjil.

,,Aku tahu.”

,,Djadi bukan karena kita tidak mau kenal.”

,,Tidak. Bukan karena kita tidak mau kenal.”

Inggit sedang mendjahit badju kebaja untuk dia sendiri. Sambil meletakkan djahitannja ia memandang kepadaku.

,,Tjoba,” aku merenung dengan keras, ,,di Sukamiskin badanku dikurung. Di Flores semangatku berada dalam kurungan. Disini aku diasingkan dari masjarakat, diasingkan dari orang-orang jang dapat mempersoalkan tugas hidupku. Orang disini jang mengerti, takut untuk berbitjara. Mereka jang mau berbitjara, tidak mengerti. Inilah maksud jang terutama dari pembuangan ini. Baiklah ! Kalau begitu keadaannja, aku akan bekerdja tanpa bantuan orang-orang terpeladjar jang tolol ini. Aku akan mendekati rakjat djelata jang paling rendah. Rakjat-rakjat jang terlalu sederhana untuk bisa memikirkan soal politik. Rakjat-rakjat jang tak dapat menulis dan jang merasa dirinja tidak kehilangan apa-apa. Dengan begini, setidak-tidaknja ada orang dengan siapa aku berbitjara.”

Aku membentuk masjarakatku sendiri dengan pemetik kelapa, supir, budjang jang tidak bekerdja —  inilah kawan-kawanku. Pertama aku berkenalan dengan saudara Kota, seorang nelajan. Kukatakan padanja bahwa tidak ada larangan berkundjung kerumahku.   Dia datang kerumahku. Kemudian dia membawa Darham tukang-djahit. Setelah itu aku datang ketempat mereka. Dan begitulah mulanja.

Aku mendekat kepada rakjat djelata, karena aku melihat diriku sendiri didalam orang-orang jang melarat ini. Seperti dipagi jang berhudjan dalam bulan Mei aku nongkrong seorang diri disudut beranda jang ketjil itu. Ah, aku rnerasa kasihan terhadap diriku ! Aku merindukan pulau Djawa, aku merindukan kawan-kawan untuk mentjintaiku. Merindukan hidup dan segala sesuatu jang dirampas dariku. Selagi duduk disana aku melihat seorang lelaki lewat. Seorang diri. Dan basah-kujup. Tiba-tiba ia menggigil. Kukira belas-kasihku meliputi seluruh bangsa manusia, karena melihat orang itu menggigil akupun menggigil. Sungguhpun badanku kering, aku serta-merta merasa basah-kujup. Tentu, perasaan ini dapat diterangkan dengan pertimbangan akal, akan tetapi ia lebih daripada itu. Aku sangat perasa terhadap orang jang miskin — baik dia miskin harta maupun miskin dalam djiwanja.

Disamping kekosongan kerdja, kesepian dan ketiadaan kawan aku djuga menderita suasana tertekan jang hebat sekali. Flores adalah puntjak penganiajaan pada hari-hari pertama itu. Aku memerlukan suatu pendorong sebelum aku membunuh semangatku sendiri. Itulah sebabnja aku mulai menulis tjerita sandiwara. Dari 1934 sampai 1938 dapat kuselesaikan 12 buah.

Karjaku jang pertama didjiwai oleh Frankenstein, bernama ,,Dr. Setan”. Peran utama adalah seorang tokoh Boris Karloff Indonesia jang menghidupkan majat dengan memindahkan hati dari orang jang hidup. Seperti semua karjaku jang lain, tjerita ini membawakan suatu moral. Pesan jang tersembunji didalamnja adalah, bahwa tubuh Indonesia jang sudah tidak bernjawa dapat bangkit dan hidup lagi.

Aku menjusun suatu perkumpulan Sandiwara Kelimutu, dinamai menurut danau jang mempunjai air tiga warna di Pulau Bunga. Aku mendjadi direkturnja. Setiap tjerita dilatih malam hari selama dua minggu dibawah pohon kaju, diterangi oleh sinar bulan. Kami hanja mempunjai satu naskah, karena itu aku membatjakan setiap peran dan para pemainku jang bermain setjara sukarela mengingatnja dengan mengulang-ulang. Kalau orang dalam keadaan ketjewa, betapapun besarnja rintangan akan dapat disingkirkannja. Inilah satu-satunja napas kehidupanku. Aku harus mendjaganja supaja ia hidup terus. Kalau salah seorang tidak dapat memainkan perannja dengan baik, aku melatihnja sampai djauh malam. Aku malahan berbaring berkalikali dilantai untuk memberi tjontoh kepada Ali Pambe, seorang montir mobil, bagaimana memerankan dengan baik seseorang jang mati.

Untuk melatih anggota-anggota sehingga mentjapai hasil baik sungguh banjak kesukaran jang harus ditempuh. Pada suatu kali, Ali Pambe memerankan djurubahasa dari bahasa Endeh kebahasa Indonesia. Tetapi Ali butahuruf. lidah Indonesianja masih kaku. Karena itu aku harus mengadjarnja dulu berbahasa Indonesia sebelum aku dapat mengadjarkan perannja.

Perkumpulan semua terdiri dari laki-laki oleh karena kaum wanita takut dituduh terlalu berani. Tjukup aneh, di Pulau Bunga jang terbelakang dan masih kuno itu ada suatu daerah — bernama Keo — dimana sampai sekarang anak-anak gadis diizinkan mengadakan hubungan djasmaniah dengan laki-laki. Dan jang paling baik diantara mereka — paling pandai dalam memuaskan laki-laki — itulah jang paling diidamkan untuk perkawinan. Dalam umur dua-puluhan gadis-gadis ini adalah jang kuberi istilah ,,djenis Afrika-jang-belum-beradab, liar dan tidak dapat didjinakkan”. Bagiku perempuan dapat disamakan dengan benua. Dalam umur tigapuluh dia seperti Asia — berdarah panas dan menangkap. Dalam usia empatpuluh ia adalah Amerika — unggul dan djagoan. Sampai pada umur limapuluh tabun ia menjamai Eropa — laju dan berdjatuhan.

Lepas dari persamaan setjara ilmu bumi jang demikian, tak seorangpun wanita Pulau Bunga mau memegang peranan diatas panggung. bahkan djuga tidak nenek-nenek jang sudah berumur enampuluh tahun jang mengingatkanku pada benua Australia — djustru terlalu djauh dari djalan jang ditempuh !  Alasan jang pertama, kebiasaan wanita Islam selalu berada dalam bajangan. Jang kedua, wanita ini takut kepadaku. Dari itu, aku memetjahkan persoalan ini dengan hampir tidak menulis peran wanita. Dan kalaupun ada, ia dimainkan oleh laki-laki.

Aku sendiri menjewa sebuah gudang dari geredja dan menjulapnja mendjadi gedung kesenian. Aku sendiri jang mendjual kartjisnja. Setiap pertundjukan berlangsung selama tiga hari dan kami bermain dihadapan 500 penonton. Ini adalah suatu kedjadian besar dalam masjarakat disana. Orang-orang Belanda djuga membeli kartjis. Hasilnja dipergunakan untuk menutupi pengeluaran kami.

Aku rnembuat pakaian untuk keperluan ini. Aku menggambar dinding belakang panggung darurat, sehingga ia terlihat seperti hutan atau istana atau apa sadja jang hendak kami lukiskan. Aku membuat pita-pita reklame dari kertas dan menggantungkannja ditempat-tempat umum seperti pasarmalam.   Aku membuat alat dan perabot kami. Aku melatih dua orang laki-laki dan dua wanita untuk menjanjikan kerontjong — lagu-lagu gembira — jang diperdengarkan didalam waktu istirahat. Dan aku bersjukur atas usaha ini semua. Ia memberikan keasjikan padaku. Ia mengisi detik-detik jang suram ini.

Setelah tiap kali pertundjukan, kubawa para pemainku makan kerumah. Ja, aku bekerdja keras sekali untuk menjelenggarakan sandiwara ini, dan untuk menjenangkan hati pemain-pemainnja. Ini besar artinja bagiku.

Tidak ada jang dapat menghalang-halangiku bertindak. Aku mendjadi seorang penjelundup terkenal dan berpengalaman dan aku djuga berhasil memperoleh kelambu untuk kami. Dalam perusahaan pelajaran antar-pulau awak kapalnja adalah orang-orang Indonesia dan semua mereka mendjadi simpatisan. Ketika terdengar bahwa Bung Karno memerlukan kelambu, seorang kelasi setjara pribadi menjelundupkan satu untukku dalam pelajaran selandjutnja. Tidak ada kesukaran dalam hal ini.

Disuatu pagi jang saju turunlah dari sebuah kapal jang akan menudju Surabaja seorang stokar berbadan tegap lagi kekar. Ia datang kepadaku didermaga jang penuh-sesak, seperti biasanja kalau kapal datang. Dengan diam-diam dia membisikkan kepadaku, ,,Bung, katakanlah kepada kami, kami akan menjelundupkan Bung Karno. Tidak ada orang jang akan tahu.”

,,Terimakasih, saudara. Lebih baik djangan,” aku memandang kepadanja dengan perasaan terirnakasih. ,,Memang seringkali terbuka djalan seperti jang saudara sarankan itu. Dan sering datang pikiran menggoda, untak lari setjara diam-diam dan kembaili bekerdja bagi rakjat kita.”

,,Kalau begitu mengapa tidak ditjoba sadja ?” ia mendesak. ,,Kami akan    sembunjikan Bung Karno dan memb awa Bung ke tempat kawan-kawan. Kami djamin selamat.”

,,Kalau saja lari, ini hanja saja lakukan untuk memperdjoangkan kemerdekaan. Begitu saja mulai bekerdja, saja akan ditangkap lagi dan dibuang kembali. Djadi tidak ada gunanja.”

,,Apakah Bung Karno tidak bisa bekerdja setjara rahasia ?”

,,Itu bukan tjaranja Bung Karno. Nilaiku adalah sebagai lambang diatas. Dengan tetap tinggal disini rakjat Marhaen melihat, bagaimana pemimpinnja djuga menderita untuk tjita-tjita. Saja telah memikirkan budjukan hatiku untuk lari dan mempertimbangkan buruk-baiknja. Nampaknja lebih baik bagi Sukarno untuk tetap mendjadi lambang daripada pengorbanan menudju tjita-tjita.”

,,Sekiranja disuatu saat berobah pendirian Bung Karno, tak usah ragu. Sampaikanlah kepada kami.”

Aku merangkul kawanku itu kedadaku dan tanpa ragu-ragu mentjiumnja pada kedua belah pipinja. ,,Terimakasih, disatu masa kita semua akan merdeka, begitupun saja.”

,,Bung betul-betul jakin ?” stokar itu bertanja.

Djawabanku chas menurut tjara Djawa. Aku mendjawab dengan kiasan. ,,Kalau ada asap dibelakang kapal ini, tentu ada apinja. Kejakinan ini didasarkan pada pertimbangan akal. ‘llmu’ljakin. Kalau saja berdjalan dibelakang kapal ini dan melihat api itu dengan mata kepala sendiri, maka kejakinanku berdasarkan penglihatan. ‘Ainu’Ijakin. Akan tetapi mungkin penglihatan saja salah. Kalau saja memasukkan tangan saja kedalam api itu dan tangan saja hangus, maka ini adalah kejakinan jang sungguh-sungguh berdasarkan kebenaran jang tak dapat dibantah lagi. Maka dengan Hakku’ljakin inilah saja memahami, bahwa kita akan merdeka.

Belanda berbaris berdampingan dengan kedju dan mentega, sedang kita berbaris bersama-sama dengan mataharinja sedjarah. Disatu hari, betapapun djuga, kita akan menang. Dalam fadjar itu, saudara, saja tidak akan lari dengan diam-diam, akan tetapi saja akan berpawai keluar dari sini dengan kepala jang tegak.”

Dikurangi dengan padjak, maka hasilku dalam pembuangan ini dari pemerintah kurang dari sepuluh dollar seminggu. Kemari kami karenanja sering kosong. Karena itu aku mentjari uang tambahan dengan mendjualkan bahan pakaian dari sebuah toko tekstil di Bandung. Mereka memberikan komisi 10% pada setiap barang jang kudjualkan. Dengan mendjadjakannja dari rumah kerumah membawa tjontoh, aku berkata, ,,Njonja, harga saja lebih murah dari toko-toko disini. Apa njonja mau memesan sama saja ?”

Kemudian kukirim poswisel ketoko ini dan setelah selang boberapa kapal kain itu datang. Lamanja sampai berbulan-bulan, akan tetapi satu hal jang ada padaku, jaitu waktu. Apa perlunja aku tjepat-tiepat ? Aku malahan mendapat bagian jang ketjil dengan seorang pedagang sekutuku. Kami membuat harga rahasia antara kami berdua. Berapa lebih jang dia peroleh itu mendjadi bagiannja. Dengan djalan begini dia mendapat keuntungan sedikit dan akupun memperoleh bagianku sedikit.

Hendaknja djangan ada diantara kawan-kawanku di Djawa jang membanggakan diri, bahwa dia terus-menerus membantu kami dengan kiriman makanan dan pakaian selama masa ini. Ja, mungkin ada satudua, akan tetapi djarang sekali. Kalaupun ada kiriman jang datang, aku segera meneruskan sebagian besar dari isinja kepada kawan-kawan jang tidak beruntung di Digul. Ini kulakukan djuga kalau aku memperoleh sisa uang boberapa rupiah.

Sekalipun kami hanja punja uang sedikit, kami berhasil mentjukupi diri sendiri. Aku orang jang sederhana. Kebutuhanku sederhana. Misalnja, aku tidak minum susu atau minuman lain jang datang dari luarnegeri, pun tidak makan daging dari binatang berkaki empat. Makananku terdiri dari nasi, sajur, buah-buahan, terkadang ajam atau telor dan ikan asin kering sedikit. Sajuran diambil dari jang kutanam dipekarangan samping rumah. Ikan kudapat dari kawan-kawanku para nelajan.

Di Endeh aku dibatasi bergerak, djuga untuk menikmati kesenangan jang ketjil-ketjil. Aku dibolehkan pergi ketepi pantai untuk menjaksikan kawan-kawanku para nelajan, akan tetapi tidak boleh naik perahu untuk berbitjara dengan mereka. Naik perahu dapat berarti melarikan diri. Aku djuga boleh berkeliaran dalam batas lima kilometer dari  rumah. Akan tetapi lewat satu langkap sadja, aku djadi sasaran hakuman.

Dikota ini ada delapan orang polisi, djadi sungguhpun berpakaian preman aku mengenal mereka itu. Disamping itu, hanja mereka jang memakai sepeda hitam dengan merek ,,Hima”. Jang terlalu djelas adalah bahwa mereka berada pada djarak jang tetap waktu mengiringkanku. Kalau seorang Belanda jang misterius selalu berada pada djarak 60 meter dibelakangku, maka tahulah aku.

Aku teringat disuatu sore ketika seorang ,,preman” membuntutiku didjalan-raja jang djuga didjalani oleh angsa, kambing, kerbau dan sapi. Aku bersepeda melalui rumah-rumah panggung dan menudju kesungai. Djalan menudju kesitu pendek, djadi dia  lalu mendajung mengembus-ngembus hampir bahu-membahu denganku. Pada waktu dia berhenti disana untuk mendjalankan mata-mata, dua ekor andjing melompat padanja sambil menjalak dan menggeram-geram. Pemaksa hukum jang tinggi kedjam ini karena kagetnja memandjat keatas sepedanja dan berdiri diatas tempat duduk dengan kedua belah tangannja berpegang erat kepohon. Sungguhpun aku kepanasan dan dalam keadaan kotor diwaktu itu, namun pemandangan ini lebih menjegarkan badanku daripada air sungai jang sedjuk.

Setelah itu aku memprotes kepada kepalanja, ,,Saja tidak peduli apakah anak-buah tuan ‘setjara rahasia’ membajangi saja, akan tetapi saja tidak ingin dia terlalu dekat.”

Orang itu menjampaikan penjesalannja. ,,Ma’af, tuan Sukarno. Kami menginstruksikan kepadanja untuk tetap berada dalam djarak 60 meter.”

Aku berada dalam pengawasan tetap. Disuatu sore aku mengadjar sekelompok pemuda menjanjikan lagu kebangsaan ,,Indonesia Raya”. Karena ia terlarang, untuk keamanan aku memilih suatu tempat diluar rumahku. Bukan karena aku akan kehilangan sesuatu, tidak, aku ingin melindungi anak-anak ini. Masih sadja ada orang jang melaporkan kedjahatan jang sungguh-sungguh ini.

Saudara dari Radja lalu diperintahkan untuk memperoleh kepastian, kedjahatan apa jang telah dilakukan oleh Sukarno dengan tindakan pengkhianatannja merusak anak-anak dibawah umur. Dengan patuh dia menjuarakan akibat psychologis terhadap penduduk preman. Djawabnja adalah, ,,Tidak ada samasekali. Mereka tidak dibakar dengan semangat. Mereka bahkan tidak tahu apa arti ‘Indonesia Raya’.”

Sekalipun demikian, aku dipanggil kekantor polisi, diperiksa dengan keras dan didenda F5,-—jaitu dua dollar.

Pulau Bunga akan tetap kekal melekat dalam kenanganku, karena berbagai alasan. Disinilah aku mendengar, bahwa Pak Tjokro telah pergi mendahului kami. Sebelum ia pergi, ketika masih dalam sakit keras, aku menulis surat kepadanja, ,,Bapak, sebagai patriot besar jang menghimpun rakjat kita dalam perdjoangan untuk kemerdekaan, tidak akan kami lupakan untuk selama-lamanja. Saja mendo’akan agar bapak segera sembuh kembali.” Berminggu-minggu kemudian, ketika kapal datang membawa suratkabar kami, disampaikanlah suatu kisah tentang bagaimana Pak Tjokro sebelum menghembuskan napas memperlihatkan surat Sukarno kepada setiap orang. Aku menangis mengenang kawanku jang tertjinta itu.

Djuga terdjadi di Pulau Bunga, aku membersihkan diri dari segala tahjul. Selamanja aku pertjaja pada hari baik dan hari nahas, aku pertjaja pada djimat jang membawa rahmat dan djimat jang mempunjai pengaruh djahat. Di Bandung ada orang jang memberiku sebentuk tjintjin pakai batu. Dalam batu itu terlihat lobang berisi tjairan hitarn jang tidak pernah tenggelam. Seperti bidji ketjil jang mengapung dan selalu berada diatas. Seorang pengagum memberikan benda jang aneh ini kepadaku dengan utjapan, ,,Sukarno, semoga engkau tetap berada diatas seperti bidji jang mengapung ini.” Ia dinodai oleh kekuatan guna-guna, tapi aku mempertjajainja. Diwaktu itu aku mempertjajai apa sadja, karena aku memerlukan segala kekuatan jang bisa kuperoleh.

,,Djangan lupa, Sukarno,” katanja, ,,Batu ini bukan sembarang batu. Dia membawa untung.”

Baiklah, aku pertjaja. Tidak lama setelah itu aku dibuang ke Pulau Bunga. Aku tidak begitu pertjaja lagi kepadanja. Demikianlah, ketika kujakinkan pada diriku sendiri, kepertjajaan jang kegila-gilaan ini harus dihentikan. Dan kukatakan pada diriku, ,,Engkau sudah melihat, penjakit tahjul jang djahat, akan tetapi mengapa engkau tidak pernah makan dipiring retak, oleh karena engkau pertjaja bahwa bentjana akan menimpamu kalau engkau melakukannja ?”

Harus kuakui bahwa ini benar. Suatu hari aku sengadja minta piring retak. Aku gemetar sedikit karena pikiran sudah tjukup ruwet tanpa menambah keruwetan itu dengan pelanggaran kepertjajaan jang kuat ini.

Akan tetapi kuletakkan djuga piring itu diatas medja dan memandangnja. Kemudian aku berpidato kepada piring jang gandjil ini jang begitu berkuasa terhadap djiwaku. Kataku, ,,Hei engkau …………… engkau barang jang mati, tidak bernjawa dan dungu. Engkau tidak punja kuasa untuk menentukan nasibku. Kutantang kau. Aku bebas darimu. Sekarang aku makan dari dalammu.”

Beginilah tjaranja aku mengatasi tiap-tiap rasa takut jang mengganggu pikiranku. Aku hadapi rasa takut ini dengan tenang dan sedjak itu tidak takut lagi.

Aaaah, masih sadja batu itu ada padaku. Aku sangat ingin mempunjai keberanian untuk melepaskan pembawa untung besar ini. Selagi berpikir keras tentang batu ini, kebetulan uang sedang tidak ada. Sudah mendjadi sedjarah dari Sukarno bahwa ia tak pernah punja uang, sedangkan ini adalah harta jang senantiasa diperlukannja. Sampai kini keadaannja sama sadja. Keadaanku sangat melarat ketika aku berkenalan dengan seorang saudagar kopra jang makmur dikota itu. Aku memutuskan untuk mendjual pembawa untung jang besar ini kepadanja.

Dan sebagai pendjual jang pandai kutawarkan batu itu dengan perkataan jang muluk-muluk.

,,Tjoba lihat,” kataku mengadu untung, ,,Saja punja barang jang susah didapat. Orang akan selalu beruntung besar dengan batu seperti ini, karena batu begini hanja ada satu-satunja. Tidak ada duanja didunia.” Kebetulan utjapanku ini memang benar dan aku tidak rnembohong dan kebetulan pula aku sangat memerlukan uang dan ingin memperoleh sebanjak mungkin dari dia.

Kemudian aku menekan gas jang terachir, ,,Dengarlah, begini. Saudara saja lihat adalah orang jang mempunjai sifat-sifat baik, maka dari itu saja menawarkan suatu kesempatan jang sangat istimewa. Kalau saudara menjerahkan seratus limapuluh rupiah, jang tidak berarti bagi saudara, saja akan berikan batu ini.”

,,Setudju,” teriaknja dan segera mengadakan pertukaran. Tjaraku melakukan djual-beli begitu berhasil, sehingga ia betul-betul takut aku akan merobah pendirian lagi.

Dan dengan begitu berpindah tanganlah hartaku jang terachir itu, benda pembawa untung dan terdjamin kekuatannja. Tidakkah aku harus berienma-kasih kepada Puilau Bunga, karena aku dibebaskan dari belenggu tahjul ?

Di Endeh jang terpentjil dan membosankan itu banjak waktuku teriuang untuk berpikir. Didepan rumahku tumbuh sebatang pohon keluih. Djam demi djam aku lalu duduk bersandar disitu, berharap dan berkehendak. Dibawah dahan-dahannja aku mendo’a dan memikirkan akan suatu hari …………… suatu hari …………… Ia adalah perasaan jang sama seperti jang menguasai Mac Arthur dikemudian hari. Dengan menggetarnja setiap djaringan otot dalam seluruh tubuhku, aku menggetarkan kejakinanku, bahwa bagaimanapun djuga — disuatu tempat — disuatu hari — aku akan kembali. Hanja patriotisme jang berkobar-kobarlah dan jang masih tetap membakar panas dadaku didalam, jang menjebabkan aku terus hidup.

Inggit selamanja menjakinkan padaku, bahwa dia merasakan didalam tuiang-tuiangnja aku disatu hari akan mendjadi orang jang memegang peranan. Akan tetapi aku tidak pernah mempersoalkannja. Aku tidak pernah berbitjara tentang masa depan, aku hanja memikirkannja. Pada setiap djam aku dalam keadaan bangun aku memikirkannja.

Kukira, selama tiga setengah abad dibawah pendjadjahan Belanda dunia-iuar hanja satu kali mendengar tentang negeri kami. Ditahun 1883 Rakata, gunung kami jang terkenal itu, meletus. Ia memuntahkan batu, kerikil dan abu menempuh orbit jang mengelilingi bumi selama bertahun-tahun. Lama setelah itu, ketika langit di Eropah mendjadi merah, orang menundjuk kepada gunung Rakata. Ini sama halnja denganku. Aku telah membikin ribut-ribut dan sekarang aku disuruh diam.

Ketika sekawanan kutjing berkandang dekat pohon keluih itu dan karena .empat itu tidak lagi tenang, aku lalu berdjalan-djalan kedalam hutan. Aku mentjari tempat jang tenang dimana angin mendesirkan daun-daunan bagai bisikan, karena bisikan Tuhan ini terdengar seperti njanjian nina-bobok ditelingaku. Ialah njanjian dari pulau Djawaku jang tertjinta.

Tempat pelarian menjendiri jang kugemari adalah dibawah pohon sukun jang menghadap kelaut. Sukun, sedjenis buah-buahan seperti avocado, adalah sematjam buah jang kalau dikupas, diiris pandjang-pandjang seperti ketimun, rasanja menjerupai ubi. Aku lalu duduk dan memandang pohon itu. Dan aku melihat pekerdjaan daripada Trimurti dalam agama Hindu. Aku melihat Brahma Jang Maha Pentjipta dalam tunas jang berketjambah dikulit kaju jang keabu-abuan itu. Aku melihat Wishnu Jang Maha Pelindung dalam buah jang londjong berwarna hidjau. Aku melihat Shiwa Jang Maha Perusak dalam dahan-dahan mati jang gugur dari batangnja jang besar. Dan aku merasakan djaringan-djaringan jang sudah tua dalam badanku mendjadi rontok dan mati didalam.

Kemudian aku dihinggapi oleh penjakit kepala dan merasa tidak sehat samasekali. Tapi setiap pagi aku masih merangkak keluar tempattidur untuk duduk-duduk dibawah pohon sukun djauh dari rumah. Pohon sukun itu berdiri diatas sebuah bukit ketjil menghadapi teluk. Disana, dengan pemandangan kelaut lepas tiada jang menghalangi, dengan langit biru jang tak ada batasnja dan mega putih jang menggelembung dan dimana sesekali seekor kambing jang sedang bertualang lewat sendirian, disana itulah aku duduk melamun djam demi djam.

Terkadang terasa udara jang dingin ditepi pantai laut itu dan aku kedinginan. Seringkali aku merasa dingin, sedang keadaan udara tidak dingin samasekali. Tapi masih sadja aku duduk disana. Suatu kekuatan gaib menjeretku ketempat itu hari demi hari.

Aku memandangi samudra bergolak dengan hempasan gelombangnja jang besar memukul pantai dengan pukulan berirama. Dan kupikir-pikir bagaimana laut bisa bergerak tak henti-hentinja. Pasang naik dan pasang surut, namun ia terus menggelora setjara abadi. Keadaan ini sama dengan revolusi kami, kupikir. Revolusi kami tidak mempunjai titik batasnja. Revolusi kami, seperti djuga samudra luas, adalah hasil tjiptaan Tuhan, satu-satunja Maha-Penjebab dan Maha Pentjipta. Dan aku tahu diwaktu itu …………… aku harus tahu sekarang …………… bahwa semua tjiptaan dari Jang Maha Esa, termasuk diriku sendiri dan tanah-airku, berada dibawah aturan hukum dari Jang Maha Ada.

Disuatu hari aku tidak mempunjai kekuatan untuk duduk dibawah pohon itu seperti biasanja. Aku tak dapat bangun dari tempat-tidur.

Jaitu dihari dokter menjampaikan, bahwa aku mendekati kematianku karena menderita malaria.

Komentar ditutup.