PUTRA SANG FADJAR BAB 13

Masuk Kurungan

Tepat delapan bulan sampai kepada hari-harinja aku sudah berada lagi dalam tahanan. Penahanan kembali ini tidak disebabkan oleh satu kedjadian jang chusus. Kesalahanku tjuma oleh karena aku tidak menutup mulutku jang besar sebagaimana mereka harapkan setelah aku keluar dari pendjara.

Komisaris itu membelebab kepadaku. ,,Tuan Sukarno, tuan tidak bisa berobah. Tidak ada harapan tingkah-laku tuan bisa baik lagi. Menurut tjatatan kami, tuan hanja beberapa djam sadja sebagai orang bebas ketika tuan naik kereta-api menudju Surabaja, lalu tuan kembali bikin katjau lagi dan sedjak waktu itu tidak berhenti-henti bikin ribut. Djadi djelas sekarang bagi Pemerintah Sri Ratu bahwa tuan senantiasa mendjadi pengatjau.”

,,Kemana tuan bawa saja ?” tanjaku.

,,Masuk tahanan.”

,,Di Bandung lagi?”

,,Sekarang tidak. Sekarang ini tuan kami tahan di Hopbiro Polisi drsini.”

Dikantor Polisi mereka tidak mengurungku. Kepadaku hanja ditundjukkan sebuah bangku pandjang dan membiarkanku disana. Aku bertanja hepada perwira pengawas, ,Tuan, apakah bisa saja memanggil isteri saja ?” Dia tidak mendjawab.

,,Dapatkah saja menjampaikan `pesan kepada pembela saja?” Ia masih tidak mendjawab.

,Bolehkah saja bertemu dengan salah seorang anggota Volksraad atau salah seorang pemimpin dari partai saja ?” Tidak ada djawaban.Dia hanja menarik korsi kemedjanja dan menulis, terus menulis suatu dokumen jang berisi tidak kurang dari seribu halaman dakwaan kepadaku. Karena aku seorang djahat jang begitu berbahaja, mereka tidak membiarkanku seorang diri. Polisi jang bersendjata lengkap mengawalku dibangku itu.

Aku nongkrong disana berdjam-djam lamanja. Dan aku mulai memikir. Selama saat-saat jang tegang dalam kehidupan orang, seringkali pikiran manusia memusatkan diri kepada soal-soal jang paling tidak berarti atau matjam soal-soal jang kelihatannja tidak ada sangkutpautnja. Ia seakan-akan mendjadi pintu pengaman daripada tabi’at manusia untuk mengeluarkan tekanan ketakutan jang bertjokol dalam airinja. Disini aku mendjadi seorang jang kalah dua kali. Apakah jarg akan terdjadi terhadap diriku ? Apakah aku hanja akan didjebloskan kedalam pendjara ? Apakah mereka melemparkanku ketempat pengasingan ? Atau menggantungku ? Apakah sesungguhnja ? Apa ? Dalam usia 32 tahun maka seluruh kehidupanku ini sudah menjelesaikan lingkarannja.

Satu-satunja jang dapat kulihat dalam pikiranku hanjalah permainan bulutangkis dan bolanja jang terbang kian kemari menurut kemauan dari para pemainnja. Nehru jang telah sebelas kali keluar-masuk pendjara pada suatu waktu menjamakan dirinja dengan bola bulutangkis. Sambil duduk disana aku berkata pada diriku sendiri. ,,Tidak karno, engkau lebih menjerupai sebuah ranting dalam unggun kajubakar jang sedang menjala.” ,,Kenapa begitu ?” Aku bertanja pada diriku sendiri.

,,Karena,” datang djawabnja, ,,ranting itu turut mengambil bagian dalam menjalakan api jang berkobar-kobar, akan tetapi dibalik itu iapun dimakan oleh apa jang hebat itu. Keadaan ini sama dengan keadaanmu. Engkau turut mengambil bagian dalam mengobarkan apinja revolusi, akan tetapi……….

“Pertjakapan dengan diriku sendiri terputus dengan tiba-tiba. Djelas bahwa aku sesungguhnja dapat disamakan dengan sepotong kajubakar, karena tiba-tiba—achirnja—nampaknja akupun dimakan oleh djilatan api jang menggelora itu dalam mana aku turut mengambil bagian sebagai kaju pembakarnja.

Aku menghilangkan pikiran ini dari ingatanku dan mentjoba memikirkan soal jang lain. Tidak lama kemudian aku dikuasai oleh kelelahan, lalu tertidur diatas bangku kaju jang keras itu. Ketika tjahaja diluar masih keabu-abuan, mereka memasukkanku kedalam kereta-api. Tempat selandjutnja adalah Sukamiskin. Tetapi mereka tidak perasa. Aku tidak dimasukkan kedalam selku jang lama.

Mereka mengurungku dalam sebuah sel chusus, dibuat ditengah-tengah ruangan besar jang telah dikosongkan. Disitulah aku terkurung disebuah sel sempit dalam ruangan jang besar. Dan seorang diri. Delapan bulan lamanja aku hidup seperti seorang pertapa jang bisu.

Kemudian mulai lagi pemeriksaan. Tjara bekerdjanja adalah demikian, mula-mula orang ditahan, dihudjani dengan ribuan pertanjaan. lalu dikirim djauh-djauh—untuk tidak kembali lagi. Sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam undang-undang luarbiasa, maka tidak perlu lagi d adakan pemeriksaan menurut hukum atau pengesahan hukuman. Dengan hanja membuat keputusan sendiri untuk pembuangan, maka Gubernur Djendral memerintahkan ribuan manusia untuk dibuang djauh-djauh untuk hilang begitu sadja tak tentu rimbanja. Nampaknja Sukarno akan mengalami nasib jang demikian itu. Dengan tidak diadili terlebih dulu hukuman sudah didjatuhkan kepadaku. Aku akan dibuang kesalahsatu pulau jang paling djauh. Berapa lamakah ? Hingga semangatku dan djasadku mendjadi busuk.

Aku akan menghadapi pembuangan ini. Setelah pendjara, maka langkah selandjutnja akan menjusul setjara otomatis. Sikapnja seakan-akan mereka sudah tjukup baik hati terhadapku dengan membebaskanku boberapa bulan jang lalu. Dan aku membalas kebaikan mereka dengan berbuat hal-hal jang tidak baik seperti dahulu. Nampaknja mirip seperti aku tak tahu berterimakasih.

Djam lima-tigapuluh disuatu pagi aku dimasukkan tjepat-tjepat kedalam kereta akspres dan dikurung dalam kamar jang ketjil dari salahsatu gerbong jang sengadja dikosongkan. Dua orang berpakaian seragam mengawalku. Seorang didalam. Seorang lagi diluar pintu. Sungguhpun aku tidak melihat tanda-tanda kehadiran orang lain, kepadaku disampaikan bahwa keluargakupun ada dalam kereta-api itu. Keluargaku jang baru bertambah terdiri djuga dari Ibu Amsi, mertuaku, dan Ratna Djuami, jaitu kemenakan Inggit jang masih ketjiil dan mendjadi anak angkat kami. Menurut kebiasaan kami pengambilan anak angkat tidak memerlukan pengesahan. Ia berarti bahwa seseorang tinggal denganmu dan engkau mentjintainja.

Sesampai di Surabaja keluargaku dipisahkan kehotel sedangkan aku disimpan lagi diantara empat dinding tembok selama dua hari dua malam berada disana. Disinilah bapak dan ibu bertemu dengan si anak tersajang, untuk mana mereka telah membina harapan-harapan jang begitu besar. Inilah pertamakali mereka melihatku dibelakang djeradjak-besi dan aku kelihatan tidak banjak menjerupai Karno, pradjurit-pahlawan besar dari Mahabharata itu. Pengalaman ini sangat menjajat hati mereka, hingga mereka hampir tak sanggup memandangi keadaanku. Kedjadian ini sudah lebih dari tigapuluh tahun jang lalu, akan tetapi rasa pedih jang meremukkan dari pertemuan kami itu masih tetap melekat dalam djiwaku sampai sekarang.

,,O, Karno……..anakku Karno,” bapakku tersedu-sedu, mentjurahkan seluruh kepiluan hatinja, ,,Apa jang dapat kulakukanmengenai dirimu? Apa jang dapat kami kerdjakan untukmu ? Pertama, engkau meringkuk beberapa tahun dalam tahanan, jang menjebabkan kesedihan hati kami jang amat sangat. Dan sekarang lagi engkau dibuang djauh-djauh keluar Djawa.

“Pipikupun basah dengan airmata, akan tetapi aku berusaha untuk tersenjum sedikit. ,,Akan kuberikan segala sesuatu, Pak, sekiranja saja mendapat kedudukan jang baik, jang akan memberikan kegembiraan kepada orangtuaku sebagaimana sepantasnja dengan pendidikan jang diberikan kepada saja. Akan tetapi, rupanja Tuhan tidak menghendakinja.”

Sementara airmata mengalir diwadjahnja jang manis ibuku jang lembut hati itu membisikkan, ,,Sudah suratan takdir bahwa Sukarno menjusun pergerakan jang menjebabkan dia dipendjarakan, lalu dibuang dan kemudian dia akan membebaskan kita semua. Sukarno tidak lagi kepunjaan orangtuanja. Karno sudah mendjadi kepunjaan rakjat Indonesia. Kami mau tidak mau menjesuaikan diri dengan kenjataan ini.”

Kami hanja diizinkan bertemu selama tiga menit. Aku tjukup lama dibawa keluar sel untuk mendjabat tangan bapak dan mentjium ibu. Kami merasa takut kalau pertemuan ini akan memisahkan kami untuk selama-lamanja, kami takut kalau perpisahan jang tergesa-gesa ini adalah detik jang terachir kami dapat saling memandangi wadjah satu sama lain.

Hari berikutnja, dengan roda-roda jang mentjiut melalui tikungan, aku dilarikan kepelabuhan dimana orang telah berdjedjal-djedjal dipinggiran djalan untuk melambaikan utjapan selamat djalan dengan bendera-bendera Merah-Putih dari kertas jang mereka buat sendiri. Dengan didampingi dikiri-kanan oleh dua orang reserse, aku dibawa naik keatas kapal barang dan ditahan dikamar kelas dua disebelah kandang ternak.

Delapan hari kemudian kami sampai ketempat tudjuan: Pulau Bunga, pulau jang terpentjil.

Komentar ditutup.