PERANG CINA DAN RUNTUHNYA NEGARA JAWA BAB 3

Bab III

Kejayaan dan Kejatuhan Arya Purbaya

Kabar ditahannya Danureja diterima orang-orang Jawa seperti guntur di siang bolong. Coyett bertindak setelah sang patih delapan hari berada di Semarang. Dengan mengenakan pakaian paginya yang terdiri dari pakaian dalam, camisole putih dan sepatu supaya tidak menimbulkan kecurigaan, dia dari anak tangga di depan rumahnya di dalam benteng menyambut sang patih, ke dua gubernur pesisir dan bupati Kudus yang datang untuk sebuah percakapan informal. Begitu masuk dia menempelkan pedangnya ke pakaian dalamnya, memerintahkan pengiring keluar, menutup pintu di depan tamu-tamunya, memanggil penjaga dan mengeluarkan surat dari Sunan yang meminta Danureja ditangkap. Ini semua terjadi sebelum orang-orang menyadari apa yang terjadi. Tidak terjadi perlawanan sama sekali. Para pengiring patih dan ketiga bupati cepat-cepat kabur dari benteng seperti maling ayam atas perintah Coyett dan ke dua gubernur pesisir. Saking kagetnya, ke dua gubernur ini melepaskan keris mereka tanpa disuruh ketika mengunjungi Coyett keesokan harinya.[1]

Di Kartasura Sunan langsung menyita semua milik Danureja, termasuk istri, anak dan pembantunya. Hanya istri pertamanya yang sudah tua yang ditempatkan di luar kraton, dalam kondisi setengah telanjang (maksudnya, tanpa harta benda apa-apa) bersama Tirtajaya, cucunya. Menurut Coyett, Sunan ingin mencegah kemungkinan terjadinya oposisi, tapi bertindak terlalu terburu-buru. Sebab ketika Danureja bahkan belum ditahan Sunan sudah menguji kesetiaan para pendukung Danureja yang paling setia: Tumenggung Yudanagara dari Banyumas, Tumenggung Mataun dari Jipang dan Tumenggung Surabrata dari Panaraga. Tumenggung Surabrata bahkan harus meneguhkan kembali kesetiaannya dengan sumpah resmi. Tapi gosip yang beredar mengatakan bahwa Coyett menangkap Danureja dengan tujuan hendak menggulingkan Sunan dan meletakkan Arya Mangkunagara di atas tahta. Keributan berhenti baru setelah Sunan mengumumkan bahwa penahanan itu dilakukan atas perintahnya. Ketika nampak bahwa Danureja adalah satu-satunya korban dan bahwa tidak ada pendukungnya yang dicopot dari jabatannya, kekagetan itu dengan cepat sirna.[2] Kaleidoskop ini telah membuat putaran yang dramatis dan semua potongan yang ada di dalamnya berjuang untuk menyesuaikan diri ke dalam pola yang baru. Tapi untuk sementara seluruh masalahnya masih terkatung-katung dalam ketegangan. Kontrak baru harus dibuat dengan Kumpeni sebelum para pemegang kekuasaan yang baru dapat mengatur situasi sesuai dengan kehendak mereka.

Jika Coyett memiliki harapan bahwa negosiasi-negosiasi akan berlangsung selancar proses penahanan Danureja, dia jelas sekali kecewa. Meskipun dia diterima dengan sangat baik dan dia sendiri mencoba keras untuk menyenangkan tuan rumahnya, ternyata betapapun banyaknya kembang api Cina dan roti ikan salmon asap yang menjadi sangat disukai para pembesar Jawa, serta pertunjukan oleh dua pelempar bola[1] yang dibawanya[3], tetap tidak mampu menyelesaikan negosiasi dengan cepat. Batu sandungan utamanya adalah uang, sebuah komoditi yang sangat berat untuk dilepaskan oleh Sunan, padahal – seperti yang dikatakan Coyett dalam kesempatan pribadi – tuntutan-tuntutan Kumpeni mungkin sekali bisa dipenuhi dengan aset yang disita dari Danureja.

Tawaran pembukaan Pakubuwana pada dasarnya sama dengan tawaran Amangkurat: beras sebanyak delapan ratus koyan setiap tahunnya selama lima puluh tahun dan 15.600 reyal Spanyol setiap tahunnya untuk membiayai garisun Kartasura yang terdiri dari dua ratus orang selama garisun itu dianggapnya perlu. Tawaran ini persis seperti kontrak 1705, dengan perkecualian bahwa setoran beras akan berlangsung selama 50 dan bukan 25 tahun dan dianggap sebagai pembayaran atas bantuan Kumpeni selama Perang Surabaya dan selama perjuangan suksesi yang terjadi setelahnya. Kumpeni merasa tawaran itu cukup baik, hanya saja kontrak lama tahun 1705 itu ternyata masih belum dipenuhi. Sunan masih berhutang 6.537 koyan beras dan 145.487 reyal Spanyol. Tugas Coyett adalah mencoba menyelesaikan hutang ini dengan Sunan entah itu dengan pembayaran langsung atau cicilan tahunan. Tapi rencana Commissaris J.W. Dubbeldekop pada tahun 1723, yaitu menarik pajak dari pelabuhan Semarang dan tanah di Lembahrawa harus dilupakan. Menyebutkannya saja sudah bisa menghentikan jalannya negosiasi.

Sunan setuju untuk menambah setoran beras tahunan menjadi seribu koyan, tapi setelah tiga bulan berlalu barulah bisa disetujui tambahan sebesar 10.000 reyal Spanyol per tahun selama dua puluh dua tahun untuk melunasi hutang Sunan tadi. Coyett mencoba untuk mendapatkan 20.000 reyal per tahun selama sebelas tahun dengan janji untuk menarik seluruh pasukan dari Sitinggil begitu kontrak habis dan memindahkan Arya Mangkunagara ke Srilanka, tapi pihak Jawa sudah menetapkan tawarannya. Ketika Coyett bersikeras, dia disuruh memilih antara pembayaran cicilan sepuluh ribu reyal selama 22 tahun atau membayar langsung sebesar 145.487 reyal dari kantong Sunan sendiri. Tapi Sunan berharap Kumpeni tidak membuatnya harus melakukan pilihan kedua tadi. Coyett menyerahkan keputusan kepada Batavia dan pindah ke masalah lain.

Masalah-masalah lain ini bukan masalah besar. Sunan langsung setuju untuk mencabuti semua pohon kopi – tapi pembesar-pembesar Jawa diperbolehkan menanam di kebunnya di kediaman mereka sendiri untuk konsumsi pribadi – dan sebagai gantinya menanam lada. Suplai kayu adalah masalah lama. Penebangan, transportasi dan pembayaran seringkali menjadi ajang penyalahgunaan, tapi selama Kumpeni berjanji untuk tidak menaikkan permintaan yang ada sekarang, tidak menolak terlalu banyak kayu dan mengatur pembayaran dengan lebih baik, Sunan tidak keberatan jika Kumpeni kadang-kadang menaikkan permintaan asalkan dia diberitahu di muka. Kumpeni sendiri berjanji untuk membayar kayu sawo dengan harga yang pantas, sebab selama ini Kumpeni mendapatkannya gratis dari wilayah Sidayu karena bupatinya tidak pernah minta dibayar. Kayu ini digunakan Kumpeni untuk cogwheel dalam kincir angin[5] dan diperlukan dalam jumlah yang tidak banyak. Tentang katun, harganya diatur berdasarkan dua sampel standar dan Sunan berjanji untuk menggalakkan perdagangan dan produksi dari komoditas lain. Sejumlah masalah kecil juga dibicarakan: suplai makanan untuk garisun Kartasura, harga hewan sembelihan, jumlah kuli untuk garisun, dan suplai bahan bangunan untuk renovasi benteng-benteng Semarang dan bukit Danaraja di atas Jepara. Coyett merasa puas. Dia dapat dikatakan berhasil mendapatkan apa yang menjadi tujuannya.

Kontrak yang ditandatangani pada 8 November 1733 ini tidak membawa era baru dalam kehidupan Jawa, tapi justru meneguhkan kembali status quo dan menyelesaikan sejumlah hutang lama dan masalah-masalah kecil yang menjadi sumber kejengkelan. Kejengkelan-kejengkelan besar dan masalah prinsip dibenamkan atau dibiarkan tanpa jawaban. Coyett datang ke Kartasura bukan untuk menciptakan tatanan baru dalam hubungan Kumpeni-Mataram. Setiap kali pihak Jawa mengangkat masalah prinsip, Coyett cepat-cepat menyingkir dari masalah yang sebenarnya dan mengenyampingkannya dengan cara berjanji untuk membereskan semua contoh konkrit yang diajukan sebagai sebab dari masalah. Jelas dia tidak menganggapnya sebagai masalah tapi sebagai taktik negosiasi Jawa untuk mendapatkan yang lebih baik. Uang dan produk adalah kepentingan utama baginya dan bagi Kumpeni. Tapi ia merasa bahwa kalau dipikir-pikir lagi dua hal itu tentunya juga merupakan masalah utama bagi orang Jawa.

Sebagai contoh, Coyett menyimpulkan dari ketergesaan Sunan dalam menyita harta Danureja bahwa motif utama dari kejatuhan Danureja adalah keserakahan, sama seperti yang  dimiliki para pendahulunya. Karena alasan yang sama diperkirakan pula bahwa Sunan bersedia melepaskan Madura sebab Sunan tidak mendapatkan produk ataupun pajak apapun dari Madura yang pantas untuk dipermasalahkan seperti itu.[7] Dengan pemikiran yang sama pula, Batavia berharap Coyett bisa membuat Sunan melepaskan Japara dan Surabaya, tapi hanya tanahnya, bukan penduduk ataupun pajaknya. Permintaan ini bagi Kumpeni merupakan masalah prinsip – dan kebetulan prinsip ini jugalah yang membuat Kumpeni membuat kontrak serumit itu, lengkap dengan dokumen ratifikasi dan terjemahan Jawanya yang tidak akurat. Isi dari kontrak-kontrak ini dapat dilaksanakan tanpa bentuk kontrak seperti itu. Bentuk seperti itu diperlukan supaya kontrak-kontrak itu menjadi legal di mata hukum internasional[8] dan menetapkan hak Kumpeni di hadapan pihak ketiga. Keinginan untuk mendapatkan keabsahan dalam hukum internasional jugalah yang menjadi motivasi dalam meminta Japara dan Surabaya. Menurut Batavia, selama orang Jawa tidak merasa rugi, mereka tidak akan keberatan.

bagi orang Jawa itu tidak ada bedanya sebab berdasarkan kontrak itu Kumpeni bebas untuk mendirikan loji dan benteng di mana saja di dalam wilayah Susuhunan, tapi bagi bangsa-bangsa lain ada bedanya antara apakah tempat-tempat ini dimiliki secara tidak mutlak, maksudnya dengan ijin, ataukah secara mutlak atau dimiliki.[9]

Ketika Coyett dengan halus (met een lange tronie) menyebutkan masalah ini, Sunan merasa bahwa itu tidak perlu sebab tidak akan ada bedanya. Kumpeni dan Jawa sudah seperti satu bangsa (atunggil kadi bangsa sawiji) dan sudah menjadi sekutu sejati (pawong sanak sabiyantu). Kontrak-kontrak lama sudah memberi Kumpeni hak untuk mendirikan loji dan benteng dimanapun Kumpeni menginginkannya dan Sunan pasti akan menyediakan tanah untuk keperluan itu. Coyett memutuskan bahwa dia lebih baik tidak menjelaskan perbedaannya dan membiarkan masalah itu berlalu. Dia bahkan tidak menggunakan peneguhan kembali Sunan atas hak itu untuk mengangkat masalah keinginan Batavia untuk membuat benteng di muara Bengawan Solo di dekat Sidayu untuk melawan penyelundup dan di jembatan di Tuntang yang penting secara strategis di jalan Kartasura-Semarang sebab bisa-bisa orang Jawa salah paham dan lagi orang Jawa tidak pernah kekurangan kesalahpahaman.

Coyett tidak mau membiarkan masalah itu merusak urusan yang sebenarnya. Semua hal yang bisa terangkat menjadi masalah prinsip cepat-cepat dikuranginya menjadi fakta-fakta konkrit yang ia berjanji akan dibereskan seecpatnya. Kumpeni tidak boleh sampai disalahkan karena kesalahan dan penyalahgunaan yang dilakukan pegawai-pegawai rendahannya. Maka ketika Sunan mengeluh bahwa residen-residen Kumpeni terlalu banyak campur tangan dalam urusan Jawa dan mengusulkan bahwa tidak hanya harus ada larangan secara formal dari Batavia tapi juga dia sendiri juga akan mengeluarkan keputusan kepada menteri-menterinya bahwa Kumpeni bukanlah rekan penguasa di Jawa,[10] Coyett langsung menghadangnya dengan janji bahwa dia akan mengawasi para residen dengan lebih ketat dan akan menarik Kapten Frederik Smit, residen Pasuruan, yang paling banyak melakukan kesalahan seperti itu. Sunan tidak perlu mengeluarkan keputusan semacam itu sebab akan muncul kesan yang tidak baik bahwa Kumpeni sedang berselisih dengan Sunan.

Menurut Coyett, Sunan tampaknya cenderung untuk mengikuti contoh-contoh buruk dari para pendahulunya, yaitu suka memutuskan segala sesuatunya sendiri tanpa berkonsultasi dengan Batavia. Raja yang masih muda itu tampaknya perlu dinasehati bahwa sekalipun mereka adalah sudah seperti satu bangsa dan sekutu sejati, Gubernur Jendral masih merupakan sang Kanjeng Eyang, yang tahu apa yang terbaik bagi kedua belah pihak. Figur Gubernur Jendral yang sudah setengah mistis itu (yang dihormati dan ditakuti oleh raja manapun) sangat berguna dalam negosiasi-negosiasi untuk menjadi penentu akhir yang bisa menampung perbedaan-perbedaan yang tak dapat diselesaikan untuk dibahas di masa depan. Semua urusan lain di luar itu diselesaikan dengan pesona pribadi Coyett. Dia menemukan banyak cara untuk menyenangkan tuan rumahnya dan bahkan merancang sendiri panji baru untuk Sunan. Ketika Sunan membawa putranya yang hampir berumur tiga tahun – “seorang bocah yang menyenangkan yang tidak memiliki kebencian dari lahir terhadap orang Eropa seperti kebanyakan anak-anak Jawa” – Coyett tampil sebagai sosok seorang oom Belanda dan bahkan mengambil dua pistol berlapis perak dan camera obscura[2] dari kediamannya untuk dihadiahkan. Sunan senang sekali dan beberapa hari kemudian perwakilannya memberitahu Coyett bahwa meskipun seluruh pemerintahan Jawa dan segala yang dihasilkannya adalah milik Sunan – sebuah pokok masalah yang sudah disepakati oleh Coyett – Sunan telah mempercayakan pengaturan praktisnya kepada Coyett.

Dengan deklarasi ini, masalah-masalah yang masih tersisa dengan mudah diselesaikan. Coyett bahkan berjanji untuk melarang residen Tegal menawarkan uang kepada produsen Jawa untuk membeli beras – yang sudah dikeluhkan sejak lama – dan keharusan bagi kapal-kapal pribumi yang berlayar ke Borneo untuk melewati Batavia, yang ditetapkan untuk menumpas penyelundupan, akan dipertimbangkan dengan sangat lunak untuk kapal-kapal Jawa. Lagipula peraturan itu ditujukan terutama pada kapal-kapal Cina; pelaut-pelaut Jawa kurang trampil sehingga dengan angin yang ada, hampir tidak mungkin bagi mereka untuk mampir di Batavia. Tapi satu-satunya masalah yang bisa dijadikan tolok ukur sejauh mana Kumpeni mau membiarkan Sunan menjadi raja di tanahnya sendiri diserahkan kepada Batavia dan disimpan sampai pengiriman duta berikutnya, yaitu masalah tentang permintaan Sunan agar orang-orang Urut Dalan, penduduk desa sepanjang jalan Kartasura-Semarang, dikembalikan kepada kekuasaannya.

Pada 1705 Pakubuwana I memberikan desa-desa itu, yang juga melayani kendaraan-kendaraan yang lewat dan orang-orangnya, kepada Adipati Suradimenggala dari Semarang, yang secara formal adalah bawahan Kumpeni. Amangkurat menginginkannya kembali tapi dia membiarkannya di bawah pimpinan Semarang untuk ditukar dengan pengasingan penerus Suradimenggala. Bupati Semarang yang sekarang, Adipati Astrawijaya, seorang Cina peranakan, dekat dengan Danureja dan masalah ini didiamkan untuk sementara. Setelah Danureja jatuh, masalah ini diangkat kembali. Ini membuat Kumpeni sangat jengkel sebab Kumpeni lebih suka menganggap pemberian Pakubuwana I itu sebagai sesuatu yang final.

Pemberian itu sangatlah menguntungkan Kumpeni, sebab membuat transportasi antara Semarang dan Kartasura menjadi gratis. Yang untung bukan hanya Kumpeni tapi juga pegawai-pegawainya, yang menyalahgunakan jasa-jasa ini untuk perdagangan pribadi mereka. Meskipun Sunan berjanji bahwa jasa-jasa itu akan tetap berjalan lancar, atau bahkan akan lebih ditingkatkan, karena ia sungguh-sungguh ingin menjadi sahabat dan sekutu Kumpeni,[12] Kumpeni tidak mau sebab penyalahgunaan yang dilakukan para pegawai Kumpeni nantinya akan menimbulkan keluhan tiada henti dan rencana Sunan untuk menempatkan orang Urut Dalan di bawah pimpinan tersendiri yang berkedudukan di Semarang akan menggoyahkan status Semarang sebagai teritori Kumpeni. Apalagi jika Kumpeni mengalah dalam masalah ini, masalah prinsip lainnya akan ikut terbuka padahal sudah ditutup-tutupi dengan sedemikian rapi selama ini.

Pembelaan Kumpeni sendiri sebenarnya sangat lemah. Pemberian itu ditujukan kepada Suradimenggala dan keturunannya, sementara bupati Semarang yang sekarang bukan keturunan Suradimenggala. Terlebih lagi, dalam pandangan Jawa penganugrahan seperti itu sifatnya tidak pernah abadi. Semua piagem dari Sunan, baik itu yang berkenaan dengan penunjukan bupati, pembagian bawahan dan hak-hak lain, atau penyewaan gerbang pajak, bisa ditarik kapan saja sama seperti pemberian-pemberian lain. Dalam pandangan Jawa, kontrak dengan Kumpeni tidak seabadi yang ada dalam anggapan Kumpeni dan harus diperbaharui oleh raja yang baru. Sekalipun Kumpeni merasa bahwa itu tidak perlu,[13] Kumpeni selalu memastikan agar semua kontrak meneguhkan kembali semua kontrak yang pernah dibuat sebelumnya selama ketentuan-ketentuannya tidak diubah.[14] Permintaan dikembalikannya orang Urut Dalan menyentuh inti permasalahan dan bukan sesuatu yang bisa dikesampingkan begitu saja dengan janji-janji samar. Coyett hanya bisa menyatakan kekagetannya dan menyerahkan masalah itu kepada Batavia, dan Batavia berkata bahwa pemberian yang dulu itu masih tetap berlaku. Sunan tidak setuju dengan itu, tapi supaya tidak merusak negosiasi dia bersedia menyimpan masalah ini sampai pengiriman duta berikutnya.

Coyett pun akhirnya mendapatkan kontrak dan sebagai keberhasilan terakhirnya dia membuat kompromi soal Madura. Sunan mengijinkan Cakraningrat tidak hadir pada Mulud asal diwakili putra tertuanya – dengan mengutip kasus terdahulu dari Tumenggung Puspanagara dari Batang – dan untuk menyenangkan Kumpeni, Sunan berjanji bahwa dia tidak akan pernah memberi komando di Jawa kepada Cakraningrat. Coyett bisa membanggakan tiga bulan yang menyenangkan di Kartasura itu. Sebagai keturunan dari keluarga pegawai Kumpeni dia punya kecintaan terhadap tanah ini dan situasinya. Ketika tinggal selama dua tahun di Semarang dia turun tangan sendiri untuk mengembangkan kota itu.[15] Di Kartasura dia menggunakan semua waktu luangnya untuk mengelilingi wilayah itu dengan naik kuda. Dia bahkan mengirim misi ke Mataram, yang diikuti oleh misi kedua yang membawa seorang surveyor dan penggambar peta untuk membuat peta dan menggambar semua pemandangan indah dan patung-patung berhala kuno di sana untuk generasi masa depan dan para penggemar.[16] Sayangnya peta-peta dan gambar-gambar ini tampaknya tidak ada lagi sekarang. Satu-satunya yang peninggalan dari minat Coyett ini adalah patung-patung Jawa yang masih ada di bekas rumahnya di Gunung Sari di Batavia, yang kemudian menjadi kuil Cina dan patung-patung itu masih dipuja di sana.[17]

Bagi Sunan hasil-hasil negosiasi ini jelas mengecewakan. Setelah lepas dari Danureja dia bersiap-siap untuk menjadi tuan di rumahnya sendiri.[18] Sebenarnya niat Sunan ini bisa menguntungkan Kumpeni sebab dengan demikian raja akan mengambil alih tanggung jawab dan bisa diminta untuk mempertanggungjawabkan, tapi Kumpeni sudah puas dengan status quo dan tidak tertarik untuk melakukan perubahan apapun. Coyett berhasil menghindar dari kesulitan-kesulitan ini tapi tidak berhasil memecahkannya. Untuk sementara waktu Sunan berhasil menyembunyikan kekecewaannya. Coyett diberangkatkan dengan megah dan atas permintaan Sunan dia bahkan menunda keberangkatannya untuk menghadiri pesta perpisahan yang diadakan Sunan dan sang patih. Coyett mengamati bahwa selama pertunjukan bedhaya oleh penari-penari Sunan, semua pengiring raja harus membalik tubuh dan tidak diperbolehkan melihat. Rupanya kasus Arya Mangkunagara telah memberikan pelajaran. Satu-satunya yang menyolok adalah ketidakhadiran orang kuat baru, Demang Urawan, pada pesta perpisahan itu. Alasannya adalah karena dia harus tugas jaga di kraton.

Coyett dan Batavia tidak pernah menyadari betapa besarnya kebencian akibat rongrongan yang dilakukan Kumpeni. Pihak Jawa mengungkit semua pokok masalah dalam negosiasi itu, biarpun dengan posisi mengalah, mulai dari pokok-pokok yang sudah disebutkan tadi sampai pada penolakan untuk mensuplai batu dan mortar untuk renovasi benteng-benteng di Semarang dan Danaraja. Sunan memutuskan untuk mensuplai kayu saja, sebagaimana biasanya, padahal jika mau mensuplai batu dan mortar, pihak Jawa akan lepas dari keharusan untuk mensuplai kayu setiap sepuluh tahun sekali karena benteng-benteng ini selalu membusuk begitu selesai dibangun. Pihak Jawa tampaknya tidak keberatan dengan situasi semacam itu. Sunan juga tidak mau memperbesar benteng Danaraja di atas Jepara yang berukuran kecil. Benteng itu harus tetap seperti itu ukurannya. Dengan menyebutkan benteng ini dalam konteks yang sama dengan benteng di Semarang, Kumpeni berhasil mengaburkan soal yang satu ini dan secara diam-diam memperbesar sendiri benteng itu. Ada sebuah soal dalam kontrak yang terdeteksi dan diubah pada saat-saat terakhir, yaitu bahwa semua kopi yang ditemukan enam bulan setelah perintah pemusnahan berlaku harus disita oleh Sunan dan bukan oleh Kumpeni. Ini jelas merupakan masalah prinsip juga: Sunan tidak mau kehilangan haknya untuk menyita.

Satu alasan mengapa pihak Jawa dapat melancarkan tentangan mereka dengan konsisten adalah karena negosiasi dilaksanakan dengan “benar”. Berbeda dengan negosiasi-negosiasi lainnya, dimana kontrak seringkali dipaksakan kepada pihak Jawa dalam negosiasi langsung dengan Sunan, kontrak 1733 ini hampir seluruhnya dinegosiasikan lewat tulisan. Semua sudut pandang dinyatakan lewat memo atau serat pemut yang diantarkan oleh perwakilan Sunan yaitu Adipati Natakusuma, Demang Urawan dan Tumenggung Tirtawiguna. Ketika kurang lebih telah dicapai persetujuan, barulah masalahnya difinalkan lewat pertemuan antara Coyett dan Sunan. Prosedur ini memakan waktu, tapi setidaknya Sunan terlindung sehingga tidak membuat janji-janji yang tidak dapat dipenuhinya di bawah tekanan. Hasilnya adalah sebuah kontrak yang dapat dijalankan dan pihak Jawa dengan setia melaksanakan isinya sampai pecahnya Perang Cina pada 1741. Konflik yang makin meningkat dengan Kumpeni sejak 1733 seterusnya lebih banyak berasal dari masalah-masalah yang tidak diselesaikan atau ditutupi daripada dari isi kontrak ini.

Kalau benar bahwa masalah utamanya adalah ketidaksenangan atas campur tangannya Kumpeni dalam urusan Jawa, maka Kumpeni sudah melanggarnya bahkan sebelum negosiasi dimulai. Ketika meminta bantuan Kumpeni untuk menyingkirkan Danureja, Sunan juga menyatakan kehendaknya untuk menunjuk sepupunya dan sekaligus saudara iparnya, Demang Urawan, menjadi patih.[20] Kumpeni menyatakan keberatannya bahwa Demang Urawan masih muda dan belum berpengalaman, tapi yang terutama karena dia terlalu dekat dengan tahta. Dia adalah putra dari Pangeran Purbaya yang memberontak, saudarinya menjadi permaisuri, sementara dia sendiri menikah dengan adik tiri Sunan. Ketika Coyett tiba di Kartasura, dia diberitahu bahwa Demang Urawan telah menarik diri dari posisi calon dan sebagai gantinya Raden Tumenggung Natawijaya, wakil Danureja, diangkat dengan gelar Adipati Natakusuma.[21] Tapi semua orang tahu siapa sebenarnya yang memegang kekuasaan. Natakusuma terkenal tidak memiliki kemampuan dan menurut Coyett kekuasaan yang sesungguhnya terletak pada Demang Urawan dan Tumenggung Tirtawiguna.[22] Tirtawiguna di mata Kumpeni memiliki peran yang lebih penting daripada yang sebenarnya ia miliki sebab sebagai sekretaris Sunan dia menjadi penghubung utama antara Kumpeni dengan Sunan dan belum lama ini dia memainkan peran besar dalam kejatuhan Danureja. Tapi sebagai juru tulis kelas atas yang berasal dari kalangan bawah, landasan kekuasaannya lemah dan pengaruhnya terhadap Sunan tidak berarti bila dibandingkan dengan pengaruh Demang Urawan.

Coyett tidak terlalu khawatir tentang itu sebab dia melihat bahwa Sunan telah berkembang pesat sejak kunjungannya pada tahun 1730 – “dia telah menjadi sangat berwibawa dan pintar” – dan menurutnya Sunan tak akan mudah goyah. Kalau dilihat ke belakang, oposisi Kumpeni terhadap Demang Urawan kurang tepat. Demang Urawan tidak memiliki anak-anak yang bisa dinikahkan, sehingga sumber dayanya untuk membangun jaringan di kalangan elit sangat terbatas. Tiga saudarinya sudah menikah semuanya dengan posisi yang sangat strategis: pertama dengan Sunan, kedua dengan Pangeran Ngabehi Loringpasar, ketiga dengan Natakusuma. Yang ketiga ini pada mulanya menikah dengan Pangeran Martasana, tapi kemudian diceraikan dan menikah dengan Natakusuma pada 1731. Hanya pernikahan dari saudari kedua tadi yang tidak menolong Demang Urawan sebab dia dan Pangeran Ngabehi Loringpasar tetap bermusuhan. Seandainya Demang Urawan ditunjuk menjadi patih, Kumpeni justru bisa mengontrol dia dengan perjalanan tahunan ke Semarang dan kunjungan ke Batavia dimana dia harus berurusan dengan Kumpeni dan menyingkirkannya dari Kartasura. Sekarang gerak Demang Urawan tersembunyi di balik tembok-tembok kraton dimana saudarinya punya akses yang tak terbatas kepada Sunan. Di luar kraton dia bisa bertindak lewat Natakusuma dan keduanya memastikan agar tidak ada orang lain yang punya akses ke Sunan. Demang Urawan dengan cepat mengamankan pusat kekuasaan dan kemudian bisa mulai memperkuat posisinya di antara bupati-bupati.

Siapa yang menjadi korban pertamanya mudah ditebak. Bahkan sebelum Coyett meninggalkan Kartasura, saudara tiri Danureja, Demang Ranuita, sudah dicopot dari jabatannya sebagai bupati Kediri dan Blitar/Sarengat. Di Kediri dia digantikan oleh Ngabehi Singayuda, mantu dari bekas bupati Kediri, yang diberi gelar lama Ngabehi Katawengan.[24] Untuk sementara posisi bupati Blitar/Sarengat dibiarkan kosong dan pengawasannya diserahkan kepada Tumenggung Mataun dari Jipang. Yang berikutnya adalah saudara ipar Danureja, Ngabehi Suradirana, bupati pertama Surabaya, yang digantikan oleh Raden Surengrana, sepupu dari Natakusuma, patih yang baru. Kemudian dilanjutkan dengan Arya Tuban, bupati Tuban, yang digantikan oleh Tumenggung Suradiningrat, bupati Lembahrawa, saudara dari Jayaningrat dari Pekalongan dan yang dulunya dikenal sebagai Demang Tirtanata dari Tegal. Maka dengan pengangkatan ini sebuah masalah yang sangat lama bisa diselesaikan. Kedudukan bupati Lembahrawa diisi oleh putra Puspanagara dari Batang, yaitu Ngabehi Tirtanagara. Maka Lembahrawa tetap berada di tangan klan Jayaningrat. Putra Jayaningrat, cucu Danureja, Ngabehi Tirtawijaya, diletakkan sebagai ajudan ayahnya di Pekalongan.

Tapi klan Jayaningrat kehilangan satu anggotanya dalam pertukuran-pertukuran ini yaitu Ngabehi Jayengrana dari Pasuruan. Dia digantikan oleh Tumenggung Sasrawinata, orang Madura, sepupu Cakraningrat dan bekas bupati Surabaya. Penunjukkan ini pun sebenarnya sudah dibicarakan sejak lama. Ter Smitten sudah mengusulkannya sejak 1730 untuk mengimbangi Cakraningrat.[25] Sasrawinata mendapat sejumlah rumah tangga, yang sejak Perang Surabaya menjadi milik Probolinggo, sehingga menimbulkan konflik dengan Ngabehi Jayalalana dari Probolinggo. Meskipun jumlah yang dipermasalahkan cuma enam puluh rumah tangga, tapi bagi sebuah wilayah yang kekurangan, satu rumah tangga saja sangat penting. Menurut Ngabehi Jayalalana, seluruh wilayah Pajarakan dari perbatasan timur Probolinggo sampai Panarukan tidak ditanami maupun didiami dan bahkan Sunan sendiri menyadari situasi wilayah ini dan kemudian memerintahkan bahwa sebelum wilayah ini pulih, Probolinggo, Pasuruan dan Bangil hanya wajib menyetor beras dan uang yang setara dengan lima ratus rumah tangga sebagai bagian dari tugas mereka untuk memenuhi isi kontrak. Bahkan Tengger mendapatkan bupati sendiri, Ngabehi Sutajaya, yang disebut sebagai cucu atau patih dari seorang pemberontak dan bekas bupati, Demang Jayuda, yang masih berada di Malang bersama Mas Brahim. Dengan optimis, Sutajaya dijanjikan akan mendapatkan Malang setelah dapat direbut dari tangan pemberontak.[26]

Ngabehi Sutawijaya dari Kamagetan dipanggil kembali ke kraton, dimana dia diberi komando atas seribu rumah tangga. Ini bisa jadi berarti penurunan pangkat. Dia adalah putra dari Demang Urawan yang terdahulu dan pada 1730 dia sempat memprotes pengangkatan Demang Urawan yang sekarang. Posisinya di Kamagetan diisi oleh seorang pengikut dari Demang Urawan yang sekarang, Arya Sumaningrat. Tumenggung Gajah, pendukung lama Danureja, kepala dari orang Kalang, diletakkan di bawah komando Demang Urawan, yang akhirnya mengontrol sepenuhnya orang-orang ini pada Desember 1733 ketika Tumenggung Gajah meninggal. Seorang pendukung Danureja lainnya, Tumenggung Yudanagara dari Banyumas, juga diletakkan di bawah Demang Urawan, meskipun tidak jelas kapan ini terjadinya.

Landasan dari kekuasaan yang baru dengan cepat diletakkan, dengan cara mengganti teman-teman dekat dan kerabat Danureja. Lebih dari itu mereka belum dapat berbuat apa-apa, kecuali menambah jumlah rumah tangga dari beberapa pangeran untuk memperkuat kesetiaan mereka dan mengeksekusi tiga bekas tukang pukul Danureja, apalagi musim hujan telah tiba dan itu berarti surutnya aktifitas politik Jawa. Tahun ini musim hujan itu diganggu oleh meletusnya Gunung Kelud.[27] Kegiatan dimulai lagi pada musim kering, ketika panen tiba, saat pajak harus dibayar dan setoran harus diserahkan kepada Kumpeni. Kebanyakan perubahan dan masalah politik cenderung untuk bermunculan di sekitar perjalanan tahunan sang patih pada bulan Juni/Juli ke Semarang untuk menyetor dan mendengarkan keluhan-keluhan Kumpeni dan di sekitar perayaan Mulud ketika semua bupati harus datang ke kraton (tahun itu jatuhnya pada Agustus).

Kali ini masalahnya sudah muncul bahkan sebelum keberangkatan Natakusuma ke Semarang, sebab sekalipun Coyett sudah menjanjikannya, Kumpeni tetap tidak bisa menerima jika orang Eropa disingkirkan dari jalur pengumpulan beras di Tegal. Rupanya sang bupati tidak dapat memenuhi permintaan beras, para petani ditekan tanpa ditawari uang, dan kabar bahwa akan terjadi pemberontakan yang disebarkan seorang Nyonya Leentje membuat residen panik. Rijckloff Duyvens, pengganti Coyett di Semarang, memerintahkan residen untuk mengembargo ekspor beras sampai persediaan Kumpeni terpenuhi. Sementara itu dia mencoba untuk membuat Sunan menarik kembali keputusannya tentang pengiriman beras di Tegal untuk ditukar dengan harga yang lebih tinggi bagi katun kualitas menengah, yang tidak tercakup oleh dua sampel standar dalam kontrak. Sunan keberatan, tapi ketika Natakusuma ada di Semarang, dia diberitahu bahwa cara-cara yang baru itu tidak berhasil, seperti yang diakui oleh bupati-bupati Tegal sendiri. Natakusuma dipaksa untuk memulihkan sistem lama seperti yang masih dipraktekkan di Pamalang dan Pekalongan. Dengan sangat terpaksa Sunan menarik keputusannya.[28] Hasil dari negosiasi dengan Coyett ternyata lebih kecil daripada yang diperkirakan.

Mulud tidak membawa perubahan besar. Bupati kedua Gresik, Ngabehi Surawikrama, dicopot dan Demang Alad-Alad dari Japan (Mojokerto) diganti oleh bupati Kertasana, Ngabehi Kramawijaya, putra dari Tumenggung Mataun dari Jipang. Posisinya di Kertasana diisi oleh Raden Wangsakusuma, saudara ipar Tumenggung Surabrata dari Panaraga. Di Rawa, Ngabehi Malangjiwa diganti oleh Raden Subajaya. Kecuali untuk kasus Gresik, dimana Ngabehi Surawikrama dikenal berperilaku buruk, semua perubahan ini tampaknya merupakan upaya penggeseran yang dilancarkan terhadap pendukung Danureja dan dirancang untuk menyenangkan bupati-bupati dari wilayah-wilayah penting Jipang dan Panaraga. Pada Mulud ini juga diputuskan untuk mengirim rombongan duta ke Batavia tahun itu yang terdiri dari Patih Natakusuma, Tumenggung Tirtawiguna, Arya Jayasentika dari Kudus dan Arya Suralaya dari Brebes.[29]

Rombongan ini berangkat pada bulan September dengan membawa masalah-masalah yang belum bisa dipecahkan Coyett. Permintaan dikembalikannya rakyat Urut Dalan merupakan masalah nomor satu. Yang baru adalah permintaan agar hukuman terhadap orang-orang Jawa di Semarang dilaksanakan berdasarkan adat lama di Paseban kabupaten Semarang. Permintaan ini mungkin disebabkan oleh insiden pada September/Oktober 1733. Seorang “pendeta”, Modin Samat, menjadi yakin bahwa dirinya suci dan dipanggil untuk menjadi penguasa Jawa. Dia dan pengikutnya yang terdiri dari sekitar dua puluh murid dan teman dekat tidak melihat cara lain untuk mencapai maksud itu selain dengan menyerang dan membunuh orang Eropa. Pada Februari 1734 hampir semuanya sudah tertangkap dan enam orang dari antaranya, termasuk sang pemimpin, telah dieksekusi. Jenazah mereka dibakar dan abunya dibuang ke laut.[30] Sayangnya, sumber-sumber Kumpeni tidak memberikan rincian lebih lanjut tentang gerakan-gerakan awal Ratu Adil ini.[31] Di mata Kumpeni mereka adalah orang-orang fanatik gila yang motifnya terlalu fantastis untuk diselidiki lebih lanjut.

Tapi eksekusi itu membuka luka lama: siapa yang berhak menghukum siapa? Dalam instruksinya kepada Coyett, Gubernur Jendral dan Dewan Hindia telah menyebutkan masalah ini, tapi mereka menganggap bahwa pengaturan yang dibuat Commissaris Dubbeldekop dan Sunan Amangkurat pada 1723 sudah memadai, dimana ditetapkan bahwa Salatiga adalah titik perbatasan antara yurisdiksi Sunan dan yurisdiksi Kumpeni.[32] Selama kunjungan Coyett, masalah itu tidak diangkat. Para pemegang kekuasaan yang baru di Kartasura mungkin tidak sadar akan situasi sebenarnya dan bahkan sekarang pun mereka hanya meminta agar adat yang lama dipulihkan kembali, tanpa menjelaskan apa yang dimaksud dengan adat lama ini. Yurisdiksi, tentu saja, adalah satu dari alat pengukur kekuasaan yang terpenting. Kumpeni merasa pengaturan itu sudah jelas tapi tidak pernah benar-benar melaksanakannya, bahkan pernah membiarkan hukuman dijatuhkan oleh pihak Jawa, sekalipun menurut Kumpeni, Kumpeni-lah yang seharusnya menjatuhkan hukuman itu. Masalahnya keruh. Pada prinsipnya bawahan Kumpeni, baik itu orang Eropa, Cina atau bangsa lain hanya boleh dihukum oleh Kumpeni, dan rakyat Jawa hanya boleh dihukum oleh Sunan. Masalahnya sekarang siapa yang berhak mengadili dalam konflik antara bawahan Kumpeni dan rakyat Jawa, dan yang membuat masalahnya lebih rumit lagi, antara orang Jawa dan orang Jawa dimana salah satu atau keduanya berasal dari Semarang, sehingga oleh Kumpeni dianggap sebagai bawahannya. Untuk sementara waktu pihak Jawa hanya meminta dipulihkannya adat lama, tapi dalam waktu beberapa tahun konflik-konflik yang makin memanas memerlukan adanya perjanjian khusus dalam hal ini.

Seberapa pentingnya masalah kedaulatan bagi pihak Jawa terlihat dari permintaan mereka agar para bupati-bupati pesisir termasuk Cakraningrat dari Madura dilarang menyampaikan surat secara langsung kepada Gubernur Jendral dan Dewan Hindia. Sunan tidak melarang bawahannya menunjukkan rasa hormat kepada Kumpeni tapi surat itu seharusnya dikirim lewat Sunan dan mendapat segel Sunan. Saat ini tampaknya Kumpeni-lah yang menjadi penguasa Jawa. Sementara itu permintaan-permintaan lainnya juga berhubungan dengan masalah kedaulatan, yaitu bahwa orang Jawa harus diperbolehkan berdagang langsung ke luar pulau, misalnya ke Borneo, termasuk yang membawa kargo beras. Lalu jumlah total dari beras yang dibeli oleh Kumpeni dari wilayah-wilayah pesisir harus ditetapkan. Sebagai seorang penguasa patrimonial sejati, Sunan tampaknya ingin mendapatkan kontrol ekonomi, bahkan kalau perlu monopoli. Sejauh mana para pedagang Cina ikut memberi inisiatif dalam permintaan-permintaan ini tidak bisa ditentukan. Dan yang terakhir, Sunan meminta seekor kuda Persia dan para duta sendiri meminta ijin untuk membeli dua ratus bedil di Batavia.[33]

Kumpeni agak segan menyelesaikan masalah-masalah ini. Satu-satunya permintaan yang bisa segera dipenuhinya adalah permintaan untuk mengembalikan jenazah Pangeran Adipati Anom, yang meninggal di Srilanka, ke Jawa bersama dengan putra-putra dan kerabatnya yang masih hidup. Untungnya pada saat itu Gubernur Jendral Van Cloon dan salah seorang duta yaitu Arya Jayasentika dari Kudus meninggal dan itu menjadi alasan untuk memulangkan para duta ke Kartasura tanpa menyelesaikan masalah apapun.

Selama ketidakhadiran Natakusuma, Demang Urawan ditunjuk menjadi patih sementara dan dia mulai menunjukkan pengaruhnya. Sasaran pertamanya adalah Ratu Amangkurat, yang masih memiliki pengaruh besar terhadap putranya. Cara yang digunakan Demang Urawan tidak terlalu halus. Pada Mulud dia melarang istri-istri para bupati pesisir untuk menghadap Ratu seperti biasanya. Ini adalah larangan yang beralasan sebab kunjungan-kunjungan itu merupakan saluran untuk menyampaikan segala macam keluhan kepada Sunan lewat pintu belakang. Ratu Amangkurat marah dan berkata kepada Sunan bahwa situasinya sekarang lebih parah daripada ketika Danureja masih ada, bahwa pada kenyataannya sekarang ada tiga raja yaitu Sunan sendiri, Demang Urawan, yang setelah menerima semua kehormatan itu menjadi makin sombong melebihi kemampuannya yang sebenarnya, dan Natakusuma, yang tidak berbuat salah maupun benar tapi dimanfaatkan oleh para pengikutnya karena kebebalannya. Ratu Amangkurat mengusulkan agar Sunan memanggil Cakraningrat ke kraton sebab Cakraningrat adalah orang yang pintar dan berpengalaman dan bisa memberikan nasehat yang baik. Baik Sunan maupun Cakraningrat tidak terlalu suka dengan usulan itu tapi karena ada tekanan dari Ratu Amangkurat dan Bengkring putrinya, istri Cakraningrat, yang lebih suka tinggal di Kartasura, usulan itu mau tidak mau dipertimbangkan juga. Cakraningrat menyatakan bahwa dia siap untuk datang asalkan Madura diberikan kepada putra tertuanya dan asalkan dia disambut dengan semestinya dan mendapat rumah tangga dalam jumlah yang sesuai dengan statusnya sebagai pangeran dan saudara ipar Sunan.[34] Cakraningrat sudah tahu bahwa permintaan tidak mungkin bisa dipenuhi. Sekedar memberikan rumah tangga dalam jumlah yang sesuai akan merusak keseimbangan di kraton. Semua menteri pasti akan menentang rencana itu dan Demang Urawan bersama dengan Tumenggung Kartanagara, Arya Pringgalaya dan Raden Malayakusuma datang kepada Hendrik Duirvelt, komandan garisun, untuk memberitahukan secara diam-diam bahwa Sunan hanya menawarkan kepada Cakraningrat pilihan untuk tinggal di Kartasura tanpa status yang tinggi seperti yang diminta.[35] Ratu Amangkurat tidak hanya kalah dalam pertaruhan ini tapi juga kehilangan pengaruh dan aksesnya kepada Sunan.

Sukses ini memberi keberanian kepada Demang Urawan untuk meneruskan usahanya menjegal para mantan pendukung Danureja, terutama mereka yang dulu menentang ayahnya, Pangeran Purbaya yang memberontak itu. Korban pertamanya adalah Kandhuruan Wilatikta yang sudah tua, bupati Sewu (Bagelen). Alasan yang digunakannya adalah konflik yang katanya terjadi antara bawahan Kandhuruan Wilatikta dan Ngabehi Rajaniti, kepala Gadhing Mataram yang merupakan bekas pendukung Purbaya. Pada tanggal 13 Januari 1735, Demang Urawan dengan marah menyuruh agar kuda Kandhuruan Wilatikta ditusuk sampai mati di Paseban tanpa sepengetahuan Sunan dan ini dilakukan bertentangan dengan  keinginan dari para menteri yang hadir. Ini adalah sebuah penghinaan besar tapi Demang Urawan ternyata tidak diapa-apakan, sekalipun Kandhuruan Wilatikta ternyata terbukti tidak bersalah.[36] Jika Demang Urawan ingin dibenci banyak orang dan ditakuti semua orang, maka tujuannya itu sekarang berhasil dicapainya.

Masa-masa sulit tiba dan tanda-tandanya terlihat dimana-mana. Ketika putra dari salah seorang pejabat masjid yang terkemuka tertangkap basah mencuri di kraton dan kemudian dipenggal kepalanya di pasar dan tubuhnya digantung di jembatan utama, Kumpeni pun ikut terperangah, meskipun keterperangahan itu lebih disebabkan oleh fakta bahwa sepuluh pemotong uang hanya dihukum berjalan mengitari pasar yang sama dengan kepala gundul.[37] Kemerosotan moral juga menjangkiti kraton. Raden Anggakusuma, pengurus rumah tangga Pangeran Buminata, ternyata berselingkuh dengan Ratu Mas, ibu Buminata. Ratu Mas hamil dan masalahnya tidak dapat ditutup-tutupi. Pada 17 Maret Anggakusuma dicekik di kediaman Demang Urawan atas perintah Sunan. Berita resminya adalah bahwa Anggakusuma ketahuan mencuri uang pajak.[38]

Sebuah plot di Surabaya terbongkar. Pada tanggal 3 Juli Ngabehi Secadirana, bupati kedua Surabaya, datang kepada residen bersama Sumadireja, putra dari bupati pertama yang saat itu sedang berada di Kartasura. Seorang “pendeta” Jawa bernama Mangunwijaya, yang tinggal di Gunung Sari di sebelah barat Surabaya, berkomplot untuk merebut tahta dan membunuh semua orang Eropa. Otak dari plot ini adalah seorang “pendeta” Muslim yang tinggal di Gunung Mahameru dekat Blambangan. Orang ini menyebut dirinya Susuhunan Ratu dan dianggap suci oleh banyak orang Jawa.[39] Setelah mengunjunginya beberapa kali, Mangunwijaya menerima surat dalam bahasa Jawa yang ditulis dengan huruf Arab yang menyatakan bahwa Mangunwijaya diangkat menjadi raja Gunung Sari dengan gelar-gelar yang megah seperti Prabu Ratu Panatagama. Semua menteri Jawa diperintahkan untuk melepaskan ikatan dengan orang Belanda dan tunduk hanya kepada perintah dari orang suci dari Gunung Mahameru, saudaranya di Gunung Jaran dan raja yang baru di Gunung Sari. Mangunwijaya menganggap dirinya sebagai raja Surabaya dan dia telah melengkapi dirinya dengan ornamen-ornamen upacara seperti bendera dan payung kebesaran. Dia kemudian mengirim utusan kepada Sumadireja untuk meminta dia menyerah dan membicarakan bagaimana cara membereskan semua orang Eropa di Surabaya, yang dianggap tidak sulit karena dia sudah menerima wangsit bahwa mereka akan dibantu oleh enam puluh arwah yang menyamar sebagai manusia pada tanggal 19 Juli.

Sumadireja menjawab bahwa dia memerlukan waktu dua tiga hari untuk memikirkannya, tapi atas nasehat salah seorang bawahannya dia melaporkan semua rencana itu lewat surat kepada Secadirana.  Secadirana kemudian melaporkannya kepada residen, yang menyarankan agar semua anggota komplotan itu ditangkap hidup atau mati. Dengan kekuatan sebanyak sembilan ratus orang, Secadirana menyerang Gunung Sari. “Raja” itu bersama enam pengikutnya mati terbunuh dan untuk memastikan kematiannya, jenazahnya ditusuk seratus kali lagi dan digantung di tiang gantungan yang kebetulan masih tegak berdiri di Surabaya sebagai peringatan dari perang yang terjadi sebelumnya. “Kuil” dan semua tempat tinggal di Gunung Sari dibakar dan Secadirana memerintahkan bahwa di Gunung Sari tidak boleh lagi didirikan “kuil”.[40] Gunung Merapi seolah bereaksi dengan meletus hebat – meskipun tidak kedengaran di Surabaya – pada malam 21 Juli.

Pada Mulud, pola dari tahun-tahun sebelumnya masih tetap berjalan. Di Rawa, Raden Subajaya meninggal dan digantikan oleh Raden Wirakusuma, sepupu dari Natakusuma. Blitar/Sarengat mendapat bupati baru, yaitu Raden Suradilaga, yang mendapat gelar Ngabehi Suradadaha, yang kabarnya adalah putra dari Surapati sang pemberontak yang menyerah pada 1723, tapi ini dibantah oleh kraton. Demikian juga halnya dengan sepupunya, Surawijaya, yang diangkat di Pace. Ke duanya adalah pengikut Demang Urawan. Bupati Cengkalsewu pensiun tapi diperbolehkan tinggal di bekas wilayah kekuasaannya itu sebagai orang bebas. Dia digantikan oleh Ngabehi Wiramenggala, adik Arya Sumaningrat dari Kamagetan. Sang residen terlambat menemukan bahwa keduanya terlibat aktif dalam keributan selama suksesi. Pada 1718 mereka bahkan pernah memimpin serangan terhadap pasukan Kumpeni di belakang Sepanjang dekat Surabaya. Pada masa Danureja mereka sering meminta jabatan, tapi Danureja selalu menolak karena latar belakang mereka itu. Wiramenggala diberi gelar Ngabehi Mangunrana – yang menurut residen dilakukan untuk menyembunyikan latar belakangnya, tapi itu tampaknya tidak mungkin sebab itu adalah gelar ayahnya dulu. Sementara itu perubahan lain tidak terlalu mencemaskan. Sasrawinata dari Pasuruan dilepaskan dari kekuasaan gubernur pesisir. Bangil dan Probolinggo juga diletakkan di bawah komandonya. Beberapa bulan sebelum itu, bupati Kudus yang meninggal ketika menjadi duta di Batavia digantikan oleh putra tertuanya, bupati Juwana dan posisi di Juwana diisi oleh putra tertua dari bupati Kudus yang baru itu. Dan yang terakhir, Ngabehi Surawikrama diangkat kembali menjadi bupati ketiga Gresik, tapi untuk itu dia harus mengeluarkan dua ribu reyal Spanyol.

Meminta uang dan hadiah dari para bupati adalah praktek yang demikian jamaknya sehingga Kumpeni jarang memperhatikannya. Tapi tahun ini, jumlahnya agak menyolok. Adipati Jayaningrat, yang dibuat percaya oleh Demang Urawan bahwa dirinya akan digeser, harus mengeluarkan tidak kurang dari lima ribu reyal; Adipati Citrasoma seribu reyal, yang menurut sumber lain bukan seribu tapi dua ribu. Semua orang Cina yang menjadi pemungut gerbang pajak, yang biasanya mendapatkan piagem untuk tiga tahun, sekarang harus membayar setelah lewat satu tahun untuk bisa mempertahankan haknya itu.

Yang diminta bukan hanya uang. Seorang residen dengan ngeri melaporkan bahwa Demang Urawan mencoba untuk memaksa Tumenggung Yudanagara dari Banyumas untuk menyerahkan putranya untuk kesenangan Demang Urawan yang homoseks itu. Yudanagara menolak dan atas nasehat Tirtawiguna dia mengirimkan putranya ke Batavia. Bagi Kumpeni homoseksualitas adalah dosa dan kejahatan berat. Mereka yang mempraktekkannya langsung dikirim ke Batavia dan dihukum berat.[42] Dalam pandangan Kumpeni, Demang Urawan sudah agak tidak beres otaknya dan setelah terjadi insiden dengan anak Yudanagara itu Kumpeni mulai menganggapnya tidak beres dalam aspek lainnya. Dalam pandangan Jawa, homoseksualitas tidak sehitam itu dan mungkin orang Jawa tidak menghubungkan kecenderungan seksualnya dengan kebijakan-kebijakan yang diambilnya seperti yang dilakukan Kumpeni. Masalah ini menjadi penting karena keberadaan Sunan, yang dengan segala kelemahannya memiliki pandangan yang agak keras soal agama dan moralitas. Beberapa contohnya sudah disebutkan di muka dan kita tahu bahwa dia sama sekali tidak mentolerir homoseksualitas. Adik tirinya, Pangeran Blitar terkenal homoseksualitasnya dan terus menerus dihukum karena kondisinya itu dan bahkan sampai diasingkan ke Imogiri di Mataram dan ditahan dalam rumah yang dijaga istri-istrinya dan pembantu-pembantu wanita. Ketika tertangkap lagi, teman prianya langsung dieksekusi.[43] Rupanya Demang Urawan berhasil menyembunyikan kondisinya dari Sunan – yang bukan pekerjaan mudah dalam kraton yang penuh dengan penyebar gosip dan mata-mata – atau mungkin dia dibiarkan saja. Tapi kemungkinan bahwa dia dibiarkan saja menimbulkan lebih banyak pertanyaan tentang pengaruhnya yang luar biasa terhadap Sunan daripada yang pernah dicoba dijawab oleh sumber-sumber dari Kumpeni. Bagi Kumpeni, kuncinya terletak pada sang permaisuri, saudari Demang Urawan. Beberapa tahun setelahnya pandangan ini tampaknya dibuktikan oleh apa yang terjadi.

Sementara itu Mulud 1735 mulai mendekati klimaks. Tindakan pertama yang dilakukan sangat menyenangkan sang residen sebab untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun Sunan menghormati bupati-bupatinya dengan mengadakan jamuan makan malam sebagai acara perpisahan. Semua orang, termasuk residen dan komandan dari penjaga kraton, diundang ikut dalam acara bersenang-senang yang berlangsung sampai menjelangnya fajar. Sunan yang tidak terbiasa dengan minuman keras Belanda dan agak mabuk setelah bersulang berkali-kali sesumbar bahwa semua bawahannya tahu bahwa dia-lah yang menjadi boss di sini dan mereka harus mematuhinya dan jika ada yang berkata bahwa mereka sedang diawasi oleh monster menjijikkan maka dia akan menghukum mati orang itu dengan cara yang mengerikan. Dia kemudian meminta[3] sumpah setia dari beberapa menteri tingkat atas. Itu adalah tantangan terbuka dan dengan senang residen melihat bahwa Demang Urawan duduk ketakutan di bawah meja dekat kaki Sunan, tapi tak seorang pun berani buka mulut. Semuanya lebih suka melalaikan kewajiban mereka daripada merusak hubungannya dengan Demang Urawan atau Natakusuma dan sang residen menyadari itu.

Drama itu berlanjut pada pesta perpisahan yang diadakan oleh sang patih. Karena Natakusuma berhalangan maka Demang Urawan yang memimpin acara. Sunan juga hadir di sana. Tiba-tiba tanpa alasan Demang Urawan memerintahkan agar seorang pengiring Pangeran Ngabehi Loringpasar, yang sedang melayani sang pangeran bersama dengan seorang pembantu lain, dibunuh. Tapi masih ada kejutan lain menunggu sang pangeran yang gugup itu. Ketika Sunan hendak meninggalkan tempat, Demang Urawan menghunus pedang dan mendekati sang pangeran, yang sedang menunggu Sunan bersama pangeran-pangeran lain untuk mohon diri. Pangeran Ngabehi berhasil menghindarkan serangan itu dan menghunus kerisnya untuk mempertahankan diri. Pangeran-pangeran lain dengan panik lari, tapi setelah dipanggil oleh Pangeran Ngabehi mereka bertahan di tempat sehingga Demang Urawan yang sedang mengamuk itu bisa dihentikan. Alasan mengapa dia mengamuk masih tetap menjadi misteri. Ada yang kemudian berkata bahwa pembantu Pangeran Ngabehi itu terlalu dekat hubungannya dengan Sunan, tetapi mengenai serangan terhadap Pangeran Ngabehi sendiri tidak ada penjelasan. Pangeran Ngabehi jelas menginginkan jaminan keselamatan dan dua hari kemudian dia mengirimkan utusan kepada residen untuk mengeluhkan insiden itu dan meminta perlindungan Kumpeni, tidak hanya bagi dirinya sendiri tapi juga bagi pangeran-pangeran lain.[45] Kaum elit Jawa mulai memilih pihak dan sejak saat itu Pangeran Ngabehi menjadi setia kepada Kumpeni dan terlupakan sudah pendapat Ter Smitten bahwa dia adalah orang yang sangat licik, sombong dan tidak menghormati orang Eropa.[46]

Perilaku Demang Urawan yang tidak menentu ini mulai menimbulkan kutub-kutub dalam elit Jawa dan membuat Kumpeni risau. Tidak ada yang bisa dilakukan untuk menghadapinya. Duyvens berpikir bahwa mungkin Tumenggung Tirtawiguna – “satu-satunya yang bisa dipercaya dalam masalah seperti ini” – bisa dibujuk untuk melaporkan perilaku buruk Demang Urawan kepada Sunan,[47] tapi dia sendiri menyadari bahwa diperlukan kasus yang lebih kuat dari itu sebelum Tumenggung Tirtawiguna yang selalu berhati-hati itu mau keluar dari tempurung.

Masalahnya tinggal waktu saja dan elemen-elemen untuk menyusun kasus yang kuat mulai bermunculan. Tapi sementara ini elemen-elemen itu tampaknya masih belum bisa menggoyahkan Sunan, tapi yang jelas makin menambah kebencian Kumpeni kepada Demang Urawan, seperti penolakan untuk mensuplai batu untuk renovasi benteng Danaraja, penolakan untuk menerima nilai tukar baru yang diumumkan Kumpeni, dukungan terhadap bupati-bupati yang melalaikan pelayanan terhadap Kumpeni, permintaan terus-menerus agar orang Jawa dibebaskan berdagang.

Kumpeni makin lama makin jengkel. Penentuan nilai tukar itu sudah menjadi hak Kumpeni sebagaimana yang diatur dalam kontrak dan persetujuan Sunan masih diminta lagi hanya untuk memberi muka. Apalagi orang Jawa tampaknya tidak mengerti masalahnya. Kekurangan uang receh yang terus menerus membuat Kumpeni merevaluasi dubbele  stuiver, dimana satu reyal Spanyol dulunya dua puluh delapan dan sekarang menjadi dua puluh empat dubbele stuiver. Orang Jawa mengira pembayarannya dikurangi. Yang paling keberatan adalah Natakusuma dan Demang Urawan karena dengan begitu pendapatan mereka akan berkurang. Yang mereka hitung adalah uang tunai, bukan nilainya dan uang tunai mereka dapatkan dari bisnis penjualan piagem kepada orang Cina. Ketika Sunan akhirnya dapat ditekan untuk mengumumkan nilai tukar yang baru, dia seperti biasa tidak menyertakan perdagangan yang dilakukan para pemungut gerbang pajak dan orang Jawa di kalangan mereka sendiri, yang tetap menggunakan nilai tukar lama.[48]

Para bupati, dengan sendirinya, selalu lalai dalam pelayanan terhadap Kumpeni. Kadang tekanan terhadap kraton menghasilkan peningkatan. Tapi sekarang kraton cenderung untuk lebih mendengarkan alasan-alasan para bupati. Tumenggung Padmanagara dari Demak menyatakan bahwa dia tidak bisa menyediakan sapi untuk transportasi kayu sebab kayunya dipotong di tempat yang terlalu jauh dari Demak. Kraton tampaknya menerima alasan itu. Kumpeni datang membawa penjelasan lain: Padmanagara menyewakan terlalu banyak desa kepada orang Cina. Orang-orang desa tidak mampu menyediakan sapi karena ditindas orang-orang Cina ini,[49] tapi yang dilakukan Sunan cuma mengirim seorang mantri anom ke Demak untuk memeriksa perkaranya.[50]

Perdagangan bebas, apalagi ekspor beras ke Borneo, adalah tabu bagi Kumpeni dan dalam masa-masa paceklik Kumpeni masih tetap menggunakan tekanan dengan menutup sementara pelabuhan dan sungai. Ketika Duyvens diberitahu oleh sejumlah bupati pesisir bahwa permintaan itu asalnya dari beberapa pedagang Cina tertentu, dia mengancam bahwa Kumpeni akan meminta pengiriman seribu koyan beras ke Batavia, yang ada di dalam kontrak-kontrak tapi tidak pernah dilaksanakan dan jika dilaksanakan pasti akan menimbulkan kesulitan besar bagi bupati-bupati pesisir sebab mereka harus menyediakan pengapalannya. Satu lagi segmen dari elit Jawa yang terbawa ke dalam oposisi terhadap kebijakan-kebijakan Demang Urawan.[51]

Gubernur Jendral akhirnya setuju bahwa eksekusi terhadap orang Jawa untuk selanjutnya akan dilakukan di Paseban di Semarang. Konsesi ini tidak menyelesaikan masalah yurisdiksi dan tidak dijawab dengan konsesi dari pihak Jawa. Sunan tidak menawarkan apapun, dia cuma minta. Kali ini dia meinta tiga gajah karena dua gajahnya mati. Sementara itu kuda hitam legam dan putih bersih yang diminta Kumpeni untuk dihadiahkan kepada raja Kandy tidak dapat ditemukan. Duyvens dengan setengah tidak percaya mendapati bahwa orang-orang Jawa makin lama makin keras kepala.[52]

Pada 1736 terjadi situasi baru. Orang-orang Cina, baik itu pedagang, pemungut gerbang pajak, penyewa pasar, penyewa desa atau agen-agen pembeli beras bagi Kumpeni – mereka biasanya melakukan semua kegiatan-kegiatan itu secara bersamaan – makin sering menjadi sasaran. Mereka tidak hanya diperas uangnya, tapi juga makin sering diserang, dirampok dan dibunuh. Mereka bukan sasaran baru sebab kekayaan mereka menarik perhatian elemen-elemen kriminal, sementara posisi mereka sebagai penjaga gerbang pajak dan pemungut di pasar dan desa membuat mereka dibenci masyarakat. Tapi serangan yang terjadi terhadap orang Cina kali ini jarang dapat dijelaskan dengan alasan itu. Kadang orang Cina dapat menjadi sasaran maling kelas teri, atau menjadi korban dari seseorang atau sekelompok orang yang merasa dirugikan, tapi jika serangan itu dilakukan secara sistematik oleh gerombolan yang bersenjatakan pedang, tombak dan bahkan bedil maka masalahnya berbeda. Kumpeni menganggap serangan-serangan semacam itu dilakukan bandit dan tampak sekali bahwa Kumpeni secara tidak sadar menghubungkan gerombolan-gerombolan semacam ini dengan bandit-bandit yang sedang merambah Eropa saat itu. Di Timur maupun di Barat, masyarakat tradisional telah melahirkan gerombolan-gerombolan semacam itu dan bahkan menutupinya dengan cerita rakyat yang serupa. Tapi di Jawa, bandit bukanlah sekedar segerombol penjahat atau tipe romantis seperti Robin Hood yang mengambil dari yang kaya untuk diberikan kepada si miskin.

Dalam studinya tentang priyayi dan petani di abad sembilan belas, Onghokam menunjuk pada figur jago sebagai pemimpin alami di pedesaan. Dalam alam pikiran populer, figur jago merupakan perwujudan dari semua kualitas kepemimpinan yang penting, yang ada tidak hanya pada tingkatan desa tapi juga pada semua level, termasuk level raja. Jago desa adalah kecil bila dibandingkan dengan jenis jago yang lebih tinggi yaitu priyayi, bupati dan akhirnya raja, sang jago super.[53] Masing-masing pada levelnya sendiri memiliki kekuasaan, yang diwujudkan lewat kekuatan magis yang berasal dari sekti (kesaktian) yang terakumulasi, yang didapatkan lewat meditasi, tirakat, dari seorang guru yang tepat atau bahkan bisa didapatkan secara turun temurun. Khusus untuk raja, atau calon raja, kekuasan juga terwujud lewat pemilikan wahyu, cahaya ilahi, yang memancar dari raja dan menyelimuti seluruh wilayahnya. Pada level yang lebih rendah diperlukan bukti yang nyata dari kesaktian sang jago, seperti kekebalan, baik itu kebal terhadap senjata tajam, peluru ataupun kebal terhadap hukum. Jago yang sejati bisa melanggar hukum tanpa kena akibatnya.

Onghokam menggambarkan bahwa fungsi esensial jago adalah sebagai perantara kekuasaan, penghubung antara berbagai level dalam masyarakat Jawa. Pada level yang paling rendah, jago menghubungkan penduduk desa dengan kepala desa. Kepala desa, yang juga seorang jago, menghubungkan desa ke atasannya. Atasannya ini kemudian menghubungkannya kepada bupati dan terus ke atas sampai akhirnya kepada raja. Ini sesuai dengan gambaran yang lebih teoritis tentang masyarakat Jawa dan semua jago ini terletak persis pada simpul-simpul dari jaringan patron-klien dalam anyaman struktur masyarakat Jawa.

Figur jago sangat berlawanan dengan gambaran populer tentang figur orang Jawa yang lembut dan penurut, yang puas dengan tradisinya, yang dia bela dengan keteguhan yang tidak masuk akal. Tapi kontras ini masuk akal sebab tradisi, atau adat yang tak dapat diubah-ubah itu, adalah satu-satunya benteng formal yang tersedia bagi orang biasa. Untuk memaksakan kehendaknya, raja dan bahkan pejabat manapun harus melanggar dan merusak perisai adat ini. Untuk melakukannya dia memerlukan kualitas-kualitas luar biasa yang bisa meletakkannya di atas adat. Demikian juga halnya dengan orang-orang yang menentang tuntutan para pejabat: mereka memerlukan kualitas luar biasa yang sama pula. Pejabat yang kuat dan lawannya sama-sama bermain di luar adat. Mereka adalah pelanggar dalam artian harafiah dan hampir tidak bisa dibedakan dari penjahat dalam artian kriminal. Siapa diri mereka ditentukan oleh apa yang berhasil mereka lakukan tanpa menanggung akibatnya dan itulah ukuran dari sampai mana tingkat ke-jago-an mereka. Ketika negara kolonial memformalisasi birokrasi dan menarik garis yang jelas antara legal dan ilegal, hampir semua ciri-ciri seorang jago dan juga sebagian besar ciri-ciri dari jaringan patron-klien masuk ke dalam katagori ilegal. Sang jago, demikian kata Onghokam, mendapatkan konotasi jelek sebagai bajingan setempat, yang hidup di antara legalitas dan ilegalitas.

Tapi pada masa pre-kolonial, bandit lokal sulit dibedakan dari pejabat setempat. Atau setidaknya mereka berdua memiliki hubungan simbiosis. Ketika pada 1728 seorang perampok dan pembunuh terkenal, Wirantaka, dikejar Kumpeni karena membunuh empat orang Cina di sebuah desa di sebelah utara Juwana, tersingkap bahwa pembunuh ini adalah tukang pukul dari bupati Pati, Tumenggung Mangunoneng. Wirantaka akhirnya tertangkap bersama beberapa anggota gerombolannya oleh residen Rembang. Di hadapan komisi penyelidik yang beranggotakan seorang wakil khusus yang dikirim Sunan setelah mendapat keluhan dari Kumpeni, Wirantaka mengakui hubungannya dengan Mangunoneng. Dia tidak hanya bekerja pada Mangunoneng sebagai penyuling opium, mata-mata, tukang pukul, tapi juga sebagai perampok dan penjarah di distrik-distrik sekitarnya. Ngabehi Suramenggala, bupati kedua Pati dan bupati Juwana, Ngabehi Jayawikrama, adalah sasaran khususnya. Atas tekanan Kumpeni dan bupati-bupati sekitarnya, Mangunoneng dicopot dan dipulangkan ke kraton untuk menjadi orang biasa di bawah Tumenggung Wiraguna. Tapi kekalahannya ini tidak berlangsung lama sebab pada Januari 1730 dia mendapatkan dua ratus rumah tangga di bawah kontrol Raden Tumenggung Natawijaya yang kemudian menjadi Patih Natakusuma.[55]

Contoh yang baru saja dipaparkan ini dan pembahasan selintas tentang figur jago tadi[56] bisa memberikan sedikit pertimbangan dalam melihat serangan-serangan terhadap orang Cina yang mulai terjadi pada 1736 dan juga dalam melihat sosok Demang Urawan. Demang Urawan jelas-jelas bertindak sebagai jago-nya kraton, yang bertindak kasar dan tampaknya tidak masuk akal. Bahkan homoseksualitasnya pun cocok dengan salah satu tipe jago yang terkenal, yaitu warok Ponorogo. Jika bagi orang Jawa, sosok Demang Urawan setidaknya bisa dikenali jenisnya, yang mungkin pada suatu hari nanti akan gagal mempertahankan kekebalannya, bagi Kumpeni dia adalah sebuah misteri, yang sama sekali tidak sesuai dengan nada normal, paternalistik dan berbudaya yang digunakan Kumpeni dalam berurusan dengan kraton.

Dalam kasus Mangunoneng, sedikit tekanan dan dukungan aktif dari bupati-bupati sekitar memberikan hasil yang memuaskan, tapi di hadapan Demang Urawan semua pejabat Jawa bertekuk lutut, sementara keluhan-keluhan Kumpeni diabaikan begitu saja, dan seandainya diambil tindakan sekalipun, hasilnya tidak pernah memuaskan. Kasus yang paling pertama adalah kasus tipikal. Korbannya adalah seorang pedagang Cina yang sedang dalam perjalanan ke Kartasura dari Ngawi. Dia dibunuh dan uangnya sebesar enam ratus reyal Spanyol diambil. Pembunuhnya sudah tertangkap dan atas perintah Sunan dibawa ke Kartasura dan ditahan oleh jaksa Jawa. Karena korbannya adalah bawahan Kumpeni, seharusnya dia diserahkan kepada Kumpeni, tapi Sunan menyatakan bahwa karena pembunuhan itu terjadi di wilayah yurisdiksinya, dia juga harus ikut memprosekusi kasus ini. Rijckloff Duyvens memutuskan untuk membiarkan dan melihat apa yang akan dilakukan oleh peradilan Jawa. Tapi dia tetap meminta instruksi Batavia tentang apa yang harus ia lakukan selanjutnya, sebab sudah ada kasus baru lagi, yang melibatkan seorang Cina yang menjadi pemungut di beberapa gerbang pajak dan desa di Bagelen dan Banyumas.[57]

Peradilan Jawa tidak mendapat kesempatan untuk unjuk gigi. Pembunuhnya ternyata adalah seseorang bernama Demang Perkul, penduduk dari sebuah desa milik Demang Urawan. Dia hadir di hadapan jaksa dengan tetap mengenakan kerisnya karena menurut Demang Urawan dia sebagai seorang priyayi berhak mengenakannya. Tapi Patih Natakusuma sudah menjelaskan bahwa Demang Perkul sebenarnya bukanlah seorang demang, melainkan seorang lurah biasa, maka dia tidak berhak mengenakan keris itu. Ketika dihadapkan pada bukti ini Demang Perkul membantah segala sesuatunya. Keesokan harinya diputuskan untuk memasukkan dia ke penjara di Paseban. Peradilan tampaknya akan berjalan sebagaimana mestinya, tapi beberapa hari kemudian Kumpeni diberitahu bahwa Demang Perkul telah meloloskan diri. Kesempatan lari didapatkannya dengan pura-pura hendak ke belakang. Tapi lainnya mengatakan bahwa pembantu-pembantu Demang Urawan mengeluarkannya begitu saja dari penjara dan membawanya pergi.[58]

Demikian juga halnya dengan kasus Sie Sauko, penjaga gerbang pajak di Banyumas, yang tidak diselesaikan dengan baik. Dia kehilangan dua ribu reyal dan beberapa picul sarang burung ketika rumahnya dijarah oleh penduduk dari desa tertentu yang disewanya. Menurut pihak Jawa, Sie Sauko tidak membayar sarang burung itu, apalagi yang diambil bukan uang, opium atau barang lain, tapi hanya sarang burung itu saja. Tapi Sie Sauko bersikeras bahwa dia selalu memperlakukan penduduk desa dengan baik, tidak pernah ada keluhan dan orang-orang yang merampok rumahnya bukan penduduk desa itu, tapi bawahan Tumenggung Yudanagara dari Banyumas, yang ada di bawah komando Demang Urawan. Keluar janji untuk menyelidiki masalah ini lebih lanjut tapi akhirnya Sie Sauko tampaknya memilih yang terbaik dari sebuah situasi yang tidak menguntungkan: dia melepaskan klaimnya untuk diganti dengan perpanjangan hak-haknya. Demang Urawan mendapat keuntungan dengan mudah sebab sementara itu dia mengambil gerbang-gerbang pajak dan desa-desa Sie Sauko dari Tumenggung Yudanagara. Kemudian, masih pada tahun itu juga, pada Mulud, Sie Sauko mencoba mengajukan kembali klaimnya, tapi ditolak mentah-mentah dan hak-haknya dialihkan kepada letnan Cina Semarang, Que Yonko.[59]

Kumpeni memerlukan lebih banyak bukti lagi sebab serangan terhadap orang Cina bukanlah hal yang aneh dan kasus Demang Perkul serta Sie Sauko tidak melibatkan Demang Urawan secara langsung. Duyvens memutuskan untuk meminta kraton untuk mengekstradisi seseorang bernama Bapak Mabal. Orang ini, yang sebenarnya adalah Cina peranakan yang nama aslinya adalah Tsoean, selama beberapa tahun melakukan perampokan dan pembunuhan terhadap agen-agen Cina yang membeli beras bagi Kumpeni. Tapi itu rupanya tidak merusak catatan tentang dirinya sebab dia menjadi petinggi (semacam kepala perantara) di desa Kayumas dekat Wirasari, dengan nama resminya yang baru yaitu Gunawangsa. Surat-surat yang dikirimkan Duyvens sebelum itu kepada bupati Demak (Tumenggung Padmanagara) hanya dibalas dengan janji-janji kosong dan suratnya kepada bupati Warung (Ngabehi Kartayuda) tidak dibalas.[60]

Sunan berjanji untuk memanggil Gunawangsa ke Kartasura untuk diperiksa. Sementar itu Duyvens memerintahkan residen Kartasura untuk berpura-pura tidak tahu tentang apa isi tuduhan terhadap Gunawangsa dan meminta dia diekstradisi ke Semarang, dimana dakwaan kepadanya akan diajukan. Sunan menolak sebab pengadilan terhadap Gunawangsa, kalau diperlukan, adalah haknya dan bukan hak Kumpeni dan menambahkan bahwa untuk selanjutnya semua orang Jawa yang bermasalah dengan bawahan Kumpeni, kecuali bawahan Kumpeni yang orang Eropa, harus diadili pihak Jawa di Kartasura. Sekarang masalah yurisdiksi ini mulai merebak dan justru ini yang tidak diharapkan Duyvens. Dia mengajukan alasan yang lemah kepada Sunan, yaitu dengan mengutip preseden-preseden yang berasal dari masa Sunan Amangkurat dan Gezaghebber Jacobus Couper (1680), tapi masalah ini sudah melampaui kompetensinya. Keputusan tentang apa yang harus dilakukan dalam masalah Gunawangsa dan sarang burung yang mulai memanas karena permintaan ekstradisi itu diserahkan kepada Batavia oleh Duyvens.[61]

Gunawangsa tidak diekstradisi, tapi Kumpeni berhasil menahannya secara kebetulan. Ketika pada bulan Oktober Patih Natakusuma tiba di Semarang dalam perjalanan ke Batavia, Gunawangsa ditahan di Kaligawe. Rupanya dia telah menjadi semacam penasehat spiritual bagi Natakusuma, yang ingin membawanya ke Batavia. Natakusuma meminta agar pengadilan ditunda sampai dia kembali dari Batavia, tapi Duyvens yang sudah senang itu hanya mau menunda eksekusi, bukan pengadilannya.[62]

Gunawangsa adalah tangkapan besar. Johan Gideon Loten, fiscaal (semacam jaksa) Kumpeni yang cerdik, menaruh mata-mata di penjara untuk melaporkan apa saja yang dikatakan Gunawangsa.[63] Dan memang benar, Gunawangsa sesumbar bahwa sang “pendeta” Jawa yang agung telah membuat Natakusuma, Demang Urawan, dan dirinya menjadi kebal dan bahwa Natakusuma telah berkata kepadanya bahwa setelah dia kembali dari Batavia, Jawa akan menolak untuk memberikan setoran beras dan uang tahunan dan akan menyerang Kumpeni. Sementara itu Demang Urawan membeli semua timbal[4] yang bisa didapatkannya untuk dibuat peluru dan tembok kediamannya diperkuat dengan tanah dari sebelah dalam. Meskipun Gunawangsa bukanlah orang yang bisa terlalu dipercaya, cerita itu didapatkan tanpa paksaan dan tampaknya sesuai dengan kejadian-kejadian selama beberapa bulan terakhir, termasuk dengan beberapa informasi yang didapatkan residen Kartasura.

Serangan-serangan terhadap orang Cina, terutama di wilayah-wilayah penghasil beras seperti Demak, Tanjung, Grobogan, Pati, Kudus dan Juwana, terus terjadi, sekalipun sudah ada keputusan dari Sunan bahwa jika terjadi penyerangan, maka tanggung jawab akan ditimpakan pada seisi desa dimana penyerangan itu terjadi. Pihak Jawa tidak sungguh-sungguh mencegah terjadinya penyerangan-penyerangan itu. Natakusuma bahkan mencoba menyalahkan pihak lain dengan berkata bahwa mungkin ada sejumlah orang Cina yang bersembunyi dalam gerombolan bandit itu. Untuk mementahkan argumen itu Kumpeni mengirimkan komisi ke wilayah-wilayah ini untuk memeriksa orang-orang Cina dan menyingkirkan semua yang tidak memiliki surat jalan. Tapi ini tidak membawa hasil. Serangan-serangan terus terjadi dan Kumpeni mulai merasakan akibatnya. Harga beras naik dan beras sulit didapatkan, bukan hanya karena cuaca buruk mempengaruhi panenan tapi juga karena agen-agen Cina pembeli beras tidak berani bepergian ke pedalaman sambil membawa uang banyak.[65] Pihak Jawa telah menemukan cara yang sempurna untuk menekan Kumpeni, apalagi selama masalah yurisdiksi belum diselesaikan, serangan-serangan bisa dilakukan dengan seenaknya. Demang Urawan berhasil melakukannya tanpa terkena akibatnya dan menjadi semakin jago.

Pada bulan April Kumpeni berhasil meyakinkan Pangeran Ngabehi Loringpasar dan pangeran-pangeran lain bahwa Gubernur Jendral tahu apa yang sedang terjadi, dan bahwa mereka harus sabar dan melihat apa yang akan terjadi selanjutnya karena ekses-ekses seperti itu tidak akan pernah berlangsung lama.[66] Tapi ini jelas tidak banyak menghibur mereka yang telah direndahkan sebagai bukti dari kekebalan Demang Urawan. Semua orang berlutut demikian rendah sehingga rumah tangga Jawa menjadi seperti mayat, tak bernyawa,[67] dan tidak mudah untuk mencarikan korban bagi Demang Urawan. Tapi masih ada beberapa orang yang masih bisa direndahkan lebih rendah lagi, seperti misalnya bupati-bupati utama dari Mataram dan Sewu (Bagelen), bekas pendukung Danureja dan musuh ayah Demang Urawan. Tumenggung Jayawinata, yang menggantikan ayahnya pamannya pada tahun 1730 dan saudara tirinya Demang Jayasamudra, sudah kehilangan empat ribu rumah tangga pada bulan November 1728. Sekarang mereka kehilangan lagi seribu rumah tangga, yang diberikan kepada Ngabehi Rajaniti, bupati Gadhing Mataram yang merupakan kesayangan Demang Urawan, sehingga mereka masing-masing hanya memiliki seratus rumah tangga. Selain itu mereka juga diletakkan di bawah komando Rajaniti. Kandhuruan Wilatikta dari Bagelen, yang pada tahun sebelumnya kehilangan kudanya, sekarang diturunkan pangkatnya, dengan alasan dia sudah tua, tapi dia tidak digantikan oleh anaknya, melainkan oleh cucu dari Tumenggung Wiraguna yang sudah terlalu tua untuk bertugas dengan gelar Tumenggung Gruwakandha. Ini adalah sebuah langkah politik, yang dirancang untuk menarik Tumenggung Wiraguna, bupati Panumping, ke pihak Demang Urawan. Kandhuruan Wilatikta dipensiunkan dengan diberi seratus rumah tangga, sementara seratus rumah tangga lagi yang dulu ada di bawah kekuasaannya diberikan kepada Kyai Haji Mataram. Pada 1735 Kyai Haji Mataram ini dibawa pulang oleh Natakusuma dari Batavia dan setelah itu menjadi penasehat spiritual utama dari Natakusuma dan Demang Urawan. Pada mulanya dia disembunyikan di kediaman Natakusuma, tapi dia kemudian diberi kediaman sendiri di belakang pemukiman Cina di Kartasura. Tanpa sepengetahuan Sunan, dua ratus rumah tangga diambil untuk diberikan kepada orang ini, yang mungkin – sumber-sumber Kumpeni tidak pernah jelas tentang apa yang selalu mereka sebut dengan salah kaprah sebagai “pendeta” ini – berniat untuk mendirikan semacam pesantren. Dia sudah memiliki empat belas pengikut dan diperkirakan masih ada yang akan datang. Atas bujukan Demang Urawan, Sunan akhirnya memperbolehkan Kyai Haji Mataram menempati kediamannya yang baru itu dan bahkan menunjuknya menjadi “pendeta” utama dari masjid di dalam kraton.[68]

Perubahan lain yang hendak dilakukan terhadap posisi-posisi bupati masih belum dapat dilakukan. Ada banyak cara lain yang dapat digunakan Demang Urawan untuk membuktikan statusnya. Kegiatan pembangunan di dalam kraton merupakan jalan yang tepat untuk itu. Sunan memutuskan untuk memindahkan kediaman pribadinya ke kediaman lama ayahnya, yang masih ditempati ibunya, sang Ratu Amangkurat. Supaya tetap siap sedia, semua pejabat utama dan pangeran-pangeran saudara Sunan ditempatkan dalam pemukiman sementara di Paseban. Situasi ini diciptakan untuk mengukur. Sesuai dengan adat Jawa, Sunan menyediakan makanan, tapi atas perintah khusus dari Demang Urawan, hanya Natakusuma, Demang Urawan sendiri, Tumenggung Kartanagara, Raden Malayakusuma dan Raden Pringgalaya yang diperbolehkan makan bersama raja sementara semua pejabat dan pangeran lain tidak boleh. Ketika ibu Sunan kasihan dan mengundang para pangeran untuk ikut makan malam, mereka dihadang Demang Urawan dan para pengawalnya dengan pedang terhunus dan disuruh kembali  bekerja dan makan di tempat kerja. Ratu Amangkurat yang marah itu hanya bisa memberikan sepuluh reyal Spanyol kepada pangeran-pangeran senior dan lima reyal kepada pangeran-pangeran muda sebagai tanda kasih sayangnya, dengan sebuah peringatan supaya tidak berhubungan dengan residen, sebab Demang Urawan sedang berbuat sebisanya untuk menodai reputasi mereka di hadapan Sunan.

Tapi peringatan itu tidak mencegah Pangeran Ngabehi Loringpasar untuk terus melaporkan kisah-kisah dan gosip tentang kebejatan Demang Urawan kepada residen. Beberapa di antaranya faktual, seperti misalnya bagaimana Demang Urawan menusuk seorang pekerja yang mengambil air dari dalam kraton untuk memuaskan dahaganya dengan belati beracun yang tersimpan dalam tongkatnya, yang selalu ia bawa kemana-mana, dan kemudian memerintahkan agar pekerja itu dikubur hidup-hidup. Seorang wanita dituduh menipu orang di pasar dan tangan kanan serta telinga kirinya dipotong. Kisah-kisah lainnya agak meragukan kebenarannya, atau sekedar gosip untuk membuat Kumpeni was-was, seperti misalnya kisah bahwa Demang Urawan membujuk Sunan untuk tidak mengirim duta ke Batavia tahun itu. Meskipun jika benar terjadi ini akan menjadi pelanggaran berat terhadap etiket, saran itu sebenarnya masuk akal, sebab situasi yang tidak menentu akan lebih memudahkan terjadinya kesalahpahaman daripada memudahkan terwujudnya kesepakatan, dan nantinya entah dengan cara apa akhirnya kesepakatan akhirnya akan dipaksakan sedemikian rupa sehingga menguntungkan Kumpeni. Gosip-gosip lainnya lebih fantastis lagi. Katanya Demang Urawan hendak membuka kandang macan di Paseban pada jam sembilan malam dengan harapan bahwa dua macan raja itu akan menyerang para pangeran dan pejabat tinggi yang sedang tidur di pemukiman sementara yang mereka tempati. Katanya Demang Urawan telah mengirim utusan untuk menghubungi Mas Brahim. Pangeran Ngabehi tidak puas dengan janji-janji kosong. Dia minta agar Kumpeni memberitahu Sunan tentang apa yang terjadi, sebab tidak ada pihak lain yang berani melakukannya dan tidak seorang pun punya akses kepada raja.

Pola lama mulai terlihat kembali. Kumpeni secara perlahan mulai terseret ke dalam perselisihan politik dalam kraton. Sekali lagi persatuan Jawa terpecah-belah oleh usaha untuk menyatukannya. Tidak ada mekanisme yang bisa menciptakan konsensus. Sejarah Jawa hanya mengenal konsensus yang dipaksakan lewat kekuatan fisik yang tak terkalahkan dan teror. Dengan adanya Kumpeni, pemaksaan seperti itu tidak bisa dilaksanakan sebab semua musuh pasti akan berlari ke pihak Kumpeni. Negara Jawa adalah sebuah kapal yang tidak seimbang. Sedikit saja cuaca buruk atau perubahan posisi muatan akan membuat seluruh isinya tergelincir dan kapal bisa-bisa akan terbalik. Pangeran Ngabehi dan teman-temannya adalah yang pertama kalinya melintasi garis secara diam-diam, tapi lainnya sedang menunggu untuk berbuat yang sama.

Pangeran Ngabehi menyadari bahwa Kumpeni memerlukan bukti yang lebih kuat sebelum mau bertindak. Maka dia pun mencarinya dengan rajin. Kisah pertama yang dilaporkannya adalah jenis kisah yang akan lebih mudah diterima oleh kalangan kraton daripada oleh Kumpeni. Menurut Pangeran Ngabehi, Demang Urawan mendatangi saudarinya, sang permaisuri, dan mencurahkan isi hatinya. Dia takut Sunan akan mendengar segala perbuatannya dan ingin menyingkirkannya maka dia meminta saudarinya untuk menyingkirkan Sunan. Dia dan Natakusuma akan menjadi wali bagi putra mahkota yang masih bayi, tapi setelah beberapa waktu Demang Urawan sendiri yang akan naik tahta. Duyvens merasa cerita itu agak khayal sebab sang ratu tidak akan mendapat keuntungan apapun dari tindakan seperti itu dan bahkan setelah itu dia tidak akan diperlukan lagi. Apalagi hubungannya dengan Sunan sangat baik. Duyvens tetap ingin mendapatkan sesuatu untuk menyerang Demang Urawan dan meminta residen untuk mengecek sumber-sumber Pangeran Ngabehi, tapi tidak ada bukti nyata yang dapat ditemukan. Banyak kisah beredar, seperti kisah yang menjelaskan mengapa ratu mampu menguasai Sunan. Katanya sang ratu menggunakan ilmu hitam untuk menguasai kejantanan Sunan dan tanpa ijin dari dia Sunan tidak akan mampu memuaskan istrinya yang lain. Gosip terus berputar dan memang hanya gosip yang bisa digunakan musuh-musuh Demang Urawan sebagai senjata. Demang Urawan tampaknya sempat terusik. Dia meminta Sunan untuk menetapkan hukuman berat bagi para penyebar gosip dan pada tanggal 21 Juni dia menghukum seorang priyayi dengan memotong telinga kanan dan bibir atasnya karena telah menyebarkan gosip bahwa Sunan akan menahan Demang Urawan. Sementara itu sang residen, yang sedang mencari-cari adanya pesekongkolan, hanya bisa mendapatkan bukti-bukti tidak langsung dan teori-teori tentang eratnya hubungan antara anak-anak Purbaya (yaitu Demang Urawan dan dua saudarinya, dimana yang satu menikah dengan Sunan dan yang satunya menikah dengan sang patih). Dengan kondisi yang macet ini, Kumpeni hanya bisa menunggu dan berharap. Tampaknya bahkan teman-teman Demang Urawan sendiri berpikir dua kali tentang Demang Urawan, sebab orang kesayangannya, yaitu Tumenggung Kartanagara, meminta Pangeran Ngabehi untuk melaporkan kepada residen tentang intrik-intrik Demang Urawan. Sekali lagi sumbernya adalah Pangeran Ngabehi, yang mungkin menyadari bahwa jika para pembesar lain tidak mau membelanya, Kumpeni pun tidak akan mau mengangkat satu jari pun.

Mulud jatuh pada bulan Juli dan membawa sedikit kelegaan. Kediaman Sunan yang baru telah selesai dibangun dan para pangeran, pembesar dan menteri-menteri di bawahnya diperbolehkan kembali ke rumah masing-masing. Tidak ada perubahan besar yang terjadi. Pada bulan Mei, Tumenggung Puspanagara dari Batang yang sudah tua meninggal dan putranya diperbolehkan menggantikan ayahnya dengan gelar yang sama, hanya saja Wiradesa diambil dan diberikan kepada Arya Suralaya dari Brebes. Tapi adiknya, Jayakusuma, dicopot dari posisinya sebagai bupati Lembahrawa dan digantikan oleh Raden Martakusuma, kroni Demang Urawan. Perlahan-lahan kekuatan klan Jayaningrat yang peranakan itu digerogoti. Selain itu perubahan yang terjadi hanya di Demak, dimana bupati ketiga Demak, Ngabehi Martadipura, dijadikan bupati pertama dengan kewenangan atas tiga ribu rumah tangga dan diberi gelar Tumenggung Suranata dan dinikahkan dengan R.A. Umi, saudari tiri Sunan. Bekas bupati pertama, Tumenggung Padmanagara dan bupati kedua Tumenggung Suranata, dikurangi kewenangannya menjadi seribu lima ratus rumah tangga. Tumenggung Suranata juga dipaksa untuk menggunakan gelar Martadipura. Alasan mengapa ini dilakukan tidak dinyatakan tapi mungkin karena jasa-jasanya dalam melakukan serangan-serangan terhadap orang Cina, yang memang sangat sering terjadi di Demak.[71]

Uang masih dicari, tapi tidak segalak tahun sebelumnya. Semua bupati dilarang menyewakan gerbang pajak, pasar dan desa kepada orang Cina tanpa sepengetahuan patih. Semua surat pajak pertanian harus disegel oleh patih, dan ini jelas ada pungutannya. Tahun ini para bupati tidak dijamu makan malam, tapi supaya mereka bisa pulang cepat, semua tumenggung harus membayar seribu reyal Spanyol, semua ngabehi lima puluh dan semua mantri dua puluh lima reyal Spanyol. Uang itu katanya untuk bekal (sangu) keberangkatan patih ke Batavia.[72]

Pada bulan Oktober sang residen akhirnya berhasil mendapatkan informasi yang lebih konkrit tentang rencana Demang Urawan. Kisah dari Gunawangsa tampaknya mendukung informasi itu dan Duyvens memerintahkan sang residen untuk mengeceknya. Demang Urawan ternyata sedang memperkuat pertahanan dari tempat kediamannya dan mempersenjatai dirinya sendiri. Tembok dari kediamannya, yang kira-kira seluas sebuah benteng Kumpeni, diperkuat. Mesiu diproduksi, gudang mesiu dibangun dan bedil dikumpulkan. Sekitar empat ratus bedil diambil secara paksa dari beberapa bupati selama Mulud. Sebuah gudang yang mirip dengan yang dibangun di kediaman Demang Urawan juga dibangun di kediaman patih dan dua kediaman itu dihubungkan dengan sebuah gerbang belakang. Kegiatan-kegiatan ini menghambat pengiriman kayu untuk perbaikan benteng Kumpeni yang sudah lama dijanjikan. Demang Urawan jelas memiliki modal untuk membiayai semua kegiatan itu. Jumlah rumah tangga di bawah kewenangannya telah membengkak menjadi 20.500 dan sebagai wedana keparak tengen, Demang Urawan mengontrol lima ribu rumah tangga lagi. Jumlah itu ditambah lagi dengan seribu orang Kalang dan seribu orang Gowong. Dia juga mengontrol enam ribu rumah tangga di Banyumas, seribu di Mataram dan seribu lima ratus rumah tangga di berbagai tempat lain.[73]

Residen tahu bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi tapi dengan segala usahanya dia tetap tidak bisa mengintip ke dalam dan harus mengandalkan informasi dari Pangeran Ngabehi Loringpasar. Pangeran Ngabehi mengulang ceritanya bahwa Demang Urawan berniat menyingkirkan Sunan dan merebut tahta. Tapi rencana itu tidak akan pernah berhasil selama Kumpeni menjaga dan mempertahankan Sunan. Karena itulah Demang Urawan mencoba memisahkan Sunan dengan Kumpeni, supaya Sunan lepas dari kekang yang dimiliki Kumpeni terhadap pendapatan-pendapatan Jawa. Bahwa Demang Urawan merasa dirinya berjuang demi kebebasan Jawa bukan sekedar fantasi Pangeran Ngabehi. Tumenggung Mangkuyuda dan Ngabehi Wirajaya telah mengkonfirmasikan bahwa Demang Urawan pernah sesumbar dalam pengarahannya kepada rombongan duta Natakusuma, bahwa jika ada yang takut kepada kekuatan Kumpeni, dia sendiri siap untuk menjadi pahlawan yang akan membebaskan mereka dan membebaskan Jawa dengan kekuatan senjata. Pada saat yang sama dia melarang anggota-anggota rombongan untuk mengadakan kontak pribadi tanpa sepengetahuan Natakusuma ataupun membocorkan apapun tentang situasi di kraton. Kata-kata itu tidak main-main dan residen langsung meminta bantuan sebanyak seratus prajurit. Garisun yang sekarang hanya memiliki 177 orang dan kebanyakan dari mereka sudah tua atau cacat. Sebenarnya Demang Urawan tidak memiliki banyak untuk bisa membuktikan kata-katanya. Pangeran Ngabehi melaporkan kepada residen bahwa Demang Urawan mencoba memberikan hadiah-hadiah untuk mencari dukungan para bupati, tapi daftar yang ia tunjukkan sangat tidak mengesankan, seperti Suradadaha dari Blitar/Sarengat, Sutajaya dari Tengger, Arya Sumaningrat dari Kamagetan, Martakusuma dari Lembahrawa, Wiramenggala dari Cengkalsewu, Surawijaya dari Pace dan lainnya. Tapi jika “lainnya” ini sama kualitasnya dengan yang sudah disebutkan tadi maka tidak banyak gunanya. Semuanya adalah bupati kecil, yang baru saja ditunjuk oleh Demang Urawan. Mereka tidak punya banyak sumber daya dan karena mereka belum lama ditunjuk maka mereka tidak memiliki dukungan kuat dalam kabupaten mereka sendiri. Tanpa dukungan aktif dari pemimpin-pemimpin Panaraga, Jipang, Pekalongan atau Japara atau pembesar-pembesar di wilayah inti, kekuatan Demang Urawan tidak banyak berarti. Sumber daya yang dimilikinya tampaknya besar, tapi orang Kalang tersebar di seluruh kabupaten-kabupaten, sementara fakta bahwa Demang Urawan harus mempertahankan Tumenggung Yudanagara sebagai wakil bupatinya[5] di Banyumas menunjukkan bahwa Demang Urawan sendiri dalam banyak hal masih merupakan macan kertas. Dia bahkan membuat permusuhan dengan satu-satunya bupati yang punya semangat perang yaitu Cakraningrat dari Madura. Utusan Cakraningrat diperlakukan dengan sangat buruk pada Mulud sehingga dia memperbaharui permintaannya untuk menjadi bawahan Kumpeni.[74]

Demang Urawan tampaknya menyadari kelemahan posisinya. Karena tidak ada kabupaten yang bisa dirampas dan tidak ada alasan jelas untuk menyingkirkan bupati manapn, dia mencoba trik lama: menggulingkan bupati dengan bantuan orang setempat yang ingin menjadi bupati. Pilihannya jelas dan tampaknya Demang Urawan kali ini pun bisa lolos sekali lagi. Tumenggung Suradiningrat (mantan bupati Tegal) ditunjuk menjadi bupati Tuban pada 1733, yang tidak terlalu disetujui Kumpeni. Sementara itu pada perubahan-perubahan yang terjadi belum lama sebelumnya pada Mulud, klan Jayaningrat, yang juga merupakan keluarga Suradiningrat, terbukti tidak mampu mempertahankan Wiradesa dan Lembahrawa. Jika Kumpeni dan bupati-bupati sekitarnya tidak mendukung Suradiningrat, maka kup itu mungkin sekali akan berhasil.

Tapi kup itu gagal. Ketika Dipasana, orang Tuban asli, datang bersama gerombolannya dari Kartasura dan menduduki masjid, Suradiningrat menolak untuk menerima perintah Dipasana bahwa dia telah dicopot atas perintah Demang Urawan dan meminta bukti bahwa Sunan benar-benar telah memberikan perintah untuk itu. Pada saat yang sama Suradiningrat meminta bantuan dari bupati-bupati Surabaya dan memberitahu Kumpeni. Bupati-bupati Surabaya setelah berkonsultasi dengan residen memerintahkan para pihak yang berselisih untuk menghentikan permusuhan dan menunggu perintah selanjutnya dari Adipati Citrasoma, gubernur besar dari kabupaten-kabupaten pesisir timur. Sementara itu bupati-bupati Surabaya mengirim empat puluh bedil dan empat puluh penumbak[6] ke Tuban untuk menjaga gencatan senjata itu. Duyvens dari Semarang langsung memberitahu Sunan. Ini adalah satu-satunya jalur langsung kepada Sunan yang tidak dikontrol Demang Urawan. Akhirnya Kumpeni punya sesuatu yang konkrit untuk dilaporkan dan residen melaporkan dengan senang bahwa Demang Urawan harus mendengarkan pembacaan surat itu di hadapan Sunan. Setelah mengutarakan banyak alasan akhirnya dia harus mundur dan memanggil Dipasana dari Tuban, kalau perlu dengan kekerasan. Penyelesaian masalahnya ditunda sampai patih kembali dari Batavia, dan sementara itu seorang mantri dari Adipati Citrasoma ditunjuk sebagai bupati sementara. Dipasana masih mencoba menarik perhatian Cakraningrat tapi Cakraningrat diperingatkan Kumpeni untuk menjauhi masalah ini. Maka Dipasana tidak punya pilihan selain membiarkan dirinya dibawa kembali ke Kartasura dan menunggu kembalinya sang patih.[75] Ini adalah kegagalan besar pertama Demang Urawan dan membuktikan bahwa dia sebenarnya tidak terlalu kuat. Tapi banyak hal sangat tergantung pada penyelesaian masalahnya nanti dan pada usaha patih di Batavia.

Hasil dari kunjungan Natakusuma ke Batavia semakin mengecewakan.  Rombongan itu, yang terdiri dari Natakusuma, Tumenggung Tirtawiguna, Arya Kudus dan Arya Suralaya dari Brebes, pergi ke Batavia membawa sejumlah permintaan yang sifatnya fundamental. Urutan pertama ditempati oleh permintaan dikembalikannya rakyat Urut Dalan, kemudian diikuti oleh permintaan yang tujuannya adalah untuk mengorganisasikan pembelian beras: bahwa beras harus dibeli lewat Natakusuma atau para bupati dan tidak melibatkan pegawai-pegawai Kumpeni atau bahkan orang Cina. Jika orang Jawa yang digunakan maka Sunan dapat menjamin pengiriman dan uang yang dipercayakan kepada mereka – ini membuat serangan-serangan yang terjadi pada orang Cina terlihat agak mencurigakan. Permintaan yang paling lunak adalah usulan untuk memindahkan tempat pertemuan Sunan dengan duta Kumpeni dari Banyudana ke Babareng, yang lebih dekat dengan Kartasura. Permintaan ini adalah permintaan lama yang selalu ditolak oleh Kumpeni sebab Kumpeni menyadari itu akan menurunkan martabatnya. Permintaan yang paling penting melibatkan masalah yurisdiksi. Para duta Jawa ini meminta begitu saja agar semua kasus perdata maupun pidana antara orang Jawa dan pegawai Kumpeni, baik itu orang Cina, Bugis, Makasar, Bali atau lainnya (tapi rupanya orang Eropa tidak termasuk) diadili oleh hakim-hakim di Kartasura. Selama masih ada Sunan, yurisdiksi adalah warisan dari tanah ini. Commandeur Semarang bisa saja berkata bahwa Kumpeni berhak mengadili kasus-kasus semacam itu, tapi Sunan tidak mau terima sebab tidak satu pun dari kontrak menetapkan demikian dan tidak pernah ada keputusan dari para pendahulunya untuk menganugrahkan hak itu kepada Kumpeni. Masalah ini harus segera diselesaikan sebab telah timbul masalah antara Sunan dan sang commandeur tentang seorang Jawa bernama Mabal (Gunawangsa). Sang commandeur meminta orang ini diekstradisi, karena dia dituduh membunuh seorang Cina. Sunan tidak setuju. Lalu diputuskan bahwa masalahnya akan diserahkan kepada Gubernur Jendral. Tapi sang commandeur tidak menepati janji dan menahan orang ini di Semarang. Pengadilan terhadap Mabal harus ditunda, setidaknya sampai kembalinya rombongan duta ke Semarang.[76]

Permintaan-permintaan ini mengangkat masalah yang fundamental, tapi, seperti biasa, Kumpeni tidak mau terlibat dalam masalah prinsip. Penyelesaiannya haruslah praktis dan jika tidak ada maka masalah itu akan ditolak. Usulan untuk mengubah metode pembelian beras ditolak mentah-mentah. Permintaan terhadap rakyat Urut Dalan juga diabaikan. Pihak Jawa menggunakan argumen-argumen lama tapi jalan buntu itu tidak dapat didobrak. Supaya rombongan ini tidak kembali dengan tangan kosong, Kumpeni bersedia mengalah dalam masalah tempat pertemuan, tapi jika utusan yang datang lebih tinggi pangkatnya daripada commandeur maka ia harus diterima di Banyudana seperti biasanya. Masalah yurisdiksi akhirnya diselesaikan dalam kontrak tersendiri, tapi apa yang disepakati adalah jauh dari apa yang diharapkan Jawa. Klausa pertama mengingatkan kita pada masalah yang diangkat pada negosiasi 1733, dimana pegawai atau bawahan Kumpeni dilarang ikut campur dengan cara apapun ke dalam konflik antar orang Jawa. Permintaan Jawa untuk membedakan antara orang Eropa dan bawahan Kumpeni lainnya memberi ide kepada Kumpeni. Kumpeni tetap tidak mau bawahannya, baik yang Eropa, Cina atau lainnya, diadili orang Jawa (pasal 11) tapi sebagian masalah tampaknya bisa diselesaikan dengan membedakan antara orang Jawa biasa dan orang Jawa berpangkat. Semua pejabat Jawa untuk selanjutnya hanya boleh diadili di Kartasura oleh pihak Jawa (pasal 10). Klausa ini memberikan solusi bagi kasus Bapak Mabal, alias Gunawangsa. Karena pihak Jawa mengklaim bahwa dia adalah seorang petinggi, maka dia bisa diadili di Kartasura tanpa mencoreng muka Kumpeni. Orang Jawa biasa dibagi menjadi dua: yang pertama adalah orang Jawa pesisir atau dataran rendah, maksudnya bawahan dari para gubernur pesisir,  dan  yang  kedua  adalah  orang  Jawa  dataran tinggi. Jika terjadi konflik dengan bawahan Kumpeni, maka orang Jawa pesisir akan diadili di Semarang dan orang Jawa dataran tinggi akan diadili di Kartasura. Tapi jika kejahatannya dilakukan di luar daerah asal pelakunya, maka tempat terjadinya kejahatan itulah yang menentukan dimana pengadilannya dilakukan (pasal 7 dan 8). Wakil Sunan boleh hadir pada pemeriksaan yang dilakukan di Semarang dan Kumpeni boleh mengirim wakilnya untuk hadir pada pemeriksaan yang dilakukan di Kartasura. Klausa-klausa lainnya mengatur masalah orang buron dan kerjasama antar bupati dalam menangkap tersangka. Kontrak ini aneh, sebab tidak hanya memberikan ekstrateritorialitas kepada Kumpeni dan bawahannya, tapi juga memberi hak kepada Kumpeni untuk mengadili orang Jawa tertentu. Tapi Sunan menerimanya. Setidaknya dia masih memiliki yurisdiksi eksklusif terhadap pejabat-pejabatnya dan dia masih punya kekuasaan dalam masalah konflik antara pejabatnya dengan bawahan Kumpeni yang non-Eropa (pasal 10 dan 11).

Negosiasi dengan Kumpeni adalah urusan yang memusingkan bagi orang Jawa. Berkali-kali mereka mendapati bahwa Kumpeni memiliki lebih banyak hak daripada yang pernah diberikan oleh kontrak. Apa yang seringkali dengan tidak sadar diberikan dalam praktek, pada prinsipnya tidak pernah dapat ditarik kembali. Kontrak tentang yurisdiksi ini pada intinya sekedar meresmikan apa yang telah menjadi praktek selama dua atau tiga puluh tahun terakhir. Praktek pembelian beras adalah hak lain yang tak akan mau dilepaskan Kumpeni. Sunan harus mengalah dalam masalah ini dan hanya bisa memprotes lemah bahwa dia setidaknya harus diberitahu berapa persisnya jumlah yang diperlukan setiap tahunnya, tapi Sunan tidak mau menyerah dalam masalah rakyat Urut Dalan dan membuat jengkel Kumpeni dengan pernyataan bahwa dia akan terus memintanya sampai dia bisa mendapatkannya kembali.[77]

Hasil dari rombongan duta itu dan kegagalan kup Dipasana di Tuban merupakan kemunduran besar bagi Demang Urawan. Dalam kasus Dipasana, dia mula-mula mencoba untuk mengambil sikap menantang. Dipasana dan pengikutnya yang tidak banyak itu diletakkan di antara para pengiringnya dan tidak diapa-apakan. Tapi cara ini gagal. Dipasana memaksa Demang Urawan untuk melaksanakan rencana mengganti Suradiningrat di Tuban dengan Martakusuma, yang sedang menjadi bupati Lembahrawa. Dengan sendirinya para pejabat lain menjadi cemas, sebab jika Demang Urawan lolos lagi kali ini mereka semua tak akan selamat. Meskipun tindakan subversif semacam itu bukanlah hal yang langka – lihat kasus Tegal dan Banyumas pada Bab II – tapi tetap harus dibuat serapi mungkin. Jika ingin berhasil kup seperti itu harus tampak mendapat dukungan lokal yang besar; bupati yang tersingkir juga harus diberi kemungkinan pekerjaan baru supaya perlawanannya tidak terlalu besar, dan yang paling penting, otak kup di Kartasura harus membuat kup itu dapat diterima oleh pejabat-pejabat lain. Sekedar berani saja tidak cukup. Demang Urawan mendapat tekanan berat, bahkan dari pendukungnya seperti Tumenggung Kartanagara, Raden Pringgalaya dan Raden Malayakusuma, yang kesemuanya bersikeras bahwa Dipasana harus dijadikan contoh dan dijatuhi hukuman berat. Pada Februari Dipasana dan pengikut-pengikutnya dijebloskan ke penjara, tapi keputusan terakhir ditunda sampai kembalinya Natakusuma dari Batavia. Untuk sementara Suradiningrat dikembalikan pada posisinya yang semula di Tuban.[78]

Bahkan Natakusuma tidak dapat menolong Demang Urawan dalam situasi ini. Dipasana mau tidak mau harus dihukum, sekalipun itu hanya untuk membuktikan kebersihan Demang Urawan. Pemecahannya adalah dengan pertarungan hidup dan mati. Dengan pakaian dihiasi bunga dan sambil menyatakan dengan keras bahwa dirinya tidak bersalah dan siap mati untuk Demang Urawan, Dipasana memasuki arena untuk melawan seekor macan sampai mati. Dia hanya bersenjatakan keris dan sebuah tongkat kecil. Macan itu disogok keluar dari kandangnya dengan api dan menerkam Dipasana, yang sedang memberi hormat kepada Sunan. Keduanya terjatuh tapi Dipasana berhasil menangkis serangan macan itu tanpa mengalami luka berat. Sunan memerintahkan kepada Demang Urawan agar pertarungan itu diteruskan sampai mati. Pada serangan kedua macan itu terbunuh, tapi Dipasana terluka berat. Dia dibawa ke kediaman Demang Urawan dan kemudian dikabarkan meninggal.  Itu cuma sandiwara. Beberapa minggu kemudian residen dengan marah melaporkan bahwa Dipasana sudah sembuh sekalipun Sunan sudah memerintahkan agar pertarungan dilakukan sampai mati dan kalau perlu diadakan eksekusi. Kabarnya Dipasana atas perintah Demang Urawan berpura-pura mati begitu pertarungan usai. Demang Urawan bahkan menikahi putri Dipasana. Tapi pengikut-pengikut Dipasana tidak seberuntung itu: mereka dieksekusi. Tiga dari mereka ditusuk mati dengan tombak kerajaan sementara sepuluh sisanya ditusuk keris.[79]

Bapak Mabal, alias Gunawangsa, malah lebih beruntung lagi. Dia dan semua bukti diserahkan kepada Natakusuma ketika Natakusuma tiba dari Batavia. Para jaksa di Kartasura memeriksanya, tapi seperti yang dikatakan Jaksa Kepala Tumenggung Natayuda kepada residen, Bapak Mabal membantah semua tuduhan. Sekali lagi keadilan ilahi dimintai pertolongan. Bapak Mabal diharuskan bersumpah di masjid bahwa dia tidak bersalah dan karena tampaknya Yang Maha Kuasa tidak menengahi , maka dia pun dibebaskan. Kumpeni, yang selalu berkata bahwa orang Jawa selalu gampang membuat sumpah, sama sekali tidak terkesan oleh peradilan semacam ini.[80]

Masalah ini merugikan Demang Urawan, tapi Sunan masih percaya kepadanya dan ini dinyatakan Sunan dengan memberinya gelar megah, Pangeran Arya Purbaya.[81] Purbaya adalah nama ayahnya, tapi juga merupakan gelar tradisional bagi penasehat yang paling dekat dan dipercaya raja, yang biasanya disandang oleh salah seorang saudaranya, tapi kali ini disandang oleh sepupu dan saudara iparnya ini.

Tapi kejadian-kejadian tampaknya agak menyadarkan Pangeran Arya Purbaya. Apalagi ada sejumlah kartu tertutup yang ditaruh di atas meja. Pada bulan Desember 1736 Rijckloff meninggal dan digantikan oleh Nicolaas Crul. Duyvens sudah dikenal baik oleh orang Jawa. Sebelum menggantikan Coyett, Duyvens pernah menjadi opperhoofd di Surabaya dan pada umumnya dia mencoba untuk tidak terlalu mencampuri urusan Jawa. Dan dia tidak pernah bertindak sembarangan hanya karena gosip. Sementara Crul tidak dikenal orang Jawa. Sebelumnya dia menjabat sebagai commissaris tot en over de zaken van den inlander, semacam menteri urusan pribumi di Batavia dan dia ditunjuk di Semarang dengan alasan dia tahu bagaimana berhadapan dengan orang pribumi. Tapi berurusan dengan orang Jawa memerlukan lebih banyak kecerdikan dan diplomasi daripada yang biasanya diperlukan untuk menghadapi para pribumi di sekitar Batavia. Ketika dia tiba, Sunan seperti biasa mengundangnya untuk menghadiri perayaan Mulud (11 Juli), tapi baru pada bulan September Crul dapat datang dan memberi kesempatan kepada orang Jawa untuk melihatnya. Ketidakpastian tentang sang gezaghebber baru di Semarang diperkuat oleh fakta bahwa Gubernur Jendral Abraham Patras meninggal pada bulan Mei. Patras, sama seperti Duyvens, mengambil pendekatan yang lunak terhadap Jawa dan berpendapat bahwa desa-desa Urut Dalan harus dikembalikan kepada Sunan.[82] Tapi sebelum itu, Coyett sudah terlebih dahulu meninggal pada September 1736 dan Dewan Hindia kehilangan seseorang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman pribadi tentang Jawa. Meskipun orang Jawa sudah terbiasa dengan seringnya pergantian personel Kumpeni dan biasanya tidak memperhitungkan perubahan-perubahan ini, dalam situasi seperti ini Arya Purbaya lebih baik untuk sementara waktu menunggu dan melihat apa yang terjadi.

Apalagi di Kartasura muncul beberapa wajah baru yang perlu diawasi. Natakusuma dari Batavia membawa pulang keturunan Pangeran Adipati Anom, yang meninggal di pengasingan di Srilanka, bersama seorang “pendeta” Arab bernama Sayid Aluwi.[83] Sayid Aluwi diterima dengan kehormatan besar, diberi rumah di dalam lingkungan kediaman patih dan diberi selir oleh Sunan dan diangkat menjadi pejabat masjid kraton bersama-sama dengan Haji Mataram. Orang yang gengsi religiusnya begitu besar sangat penting bagi Arya Purbaya. Keturunan Pangeran Adipati Anom yang baru pulang juga membawa kekuatan spiritual dalam bentuk lain: beberapa pusaka yang dulu dibawa ke Srilanka. Pusaka-pusaka ini terdiri dari beberapa keris dan tombak dan dianggap memiliki kekuatan besar dan Sunan sangat ingin mendapatkannya kembali. Itu jugalah yang menjadi alasan dari permintaannya agar setelah kematian Pangeran Adipati Anom keturunannya dipulangkan ke Jawa. Tapi mereka ini perlu diawasi sebab mereka memiliki hak yang lebih besar untuk naik tahta daripada Sunan sendiri: ayah mereka pernah menjadi penguasa yang sah, sementara kakek Sunan adalah perebut tahta. Masalahnya bagaimana para pangeran ini akan menyesuaikan diri dalam intrik-intrik kraton setelah dua puluh tahun pengasingan di Srilanka. Pertama-tama gelar mereka harus diubah sebab gelar-gelar itu menunjukkan dekatnya posisi mereka dengan tahta atau sama dengan gelar-gelar pangeran lain yang sudah ada. Putra tertua, Pangeran Mangkunagara, diganti gelarnya menjadi Pangeran Wiramanggala, diberi seratus rumah tangga tapi diijinkan untuk tidak bertugas dengan alasan cacat. Putra kedua, Pangeran Mangkuningrat diganti gelarnya menjadi Pangeran Tepasana dan menerima empat ratus rumah tangga dan putra ketiga, Raden Pangeran Buminata diganti gelarnya menjadi Raden Jayakusuma dengan diberi seratus rumah tangga.[85]

Hilangnya sejumlah kekuatan Arya Purbaya terlihat jelas pada Mulud. Tumenggung Wiraguna, yang berumur lebih dari sembilan puluh tahun, masih menjadi bupati Panumping dan sudah lama hendak diganti. Rupanya jabatan itu dapat dipertahankannya karena dekatnya hubungannya dengan ibu raja. Tahun ini Arya Purbaya dan Natakusuma hendak menggantinya dengan putra Rajaniti, yang juga sekaligus menantu Natakusuma. Ratu Amangkurat berhasil mencegahnya. Meski Wiraguna berhasil digeser dengan alasan umur, dia digantikan oleh putranya sendiri Ngabehi Arung Binang, yang juga mewarisi gelar Wiraguna. Perubahan-perubahan lain tidak sekontroversial itu. Pada bulan Maret Tumenggung Suranata dari Demak meninggal. Arya Purbaya meihat kesempatan untuk menggantikannya dengan kroninya, Martakusuma dari Lembahrawa, yang diangkat menjadi bupati Demak dengan gelar Raden Arya Secanapura dan menikah dengan janda Suranata, R.A. Umi, saudari tiri Sunan. Posisinya di Lembahrawa diisi oleh Ngabehi Wirasastra, kepala rumah tangga Sunan[7]atau saudara ipar dari Tumenggung Tirtawiguna dan penunjukkannya mungkin merupakan sebuah tebusan bagi Tirtawiguna, karena Arya Purbaya mencoba menggulingkan orang yang pernah dilindungi Tirtawiguna, yaitu Suradiningrat dari Tuban. Gubernur besar dari kabupaten-kabupaten pesisir timur, Adipati Citrasoma, mengajukan permohonan pensiun. Dia digantikan oleh putra tertuanya, yang menikah yang putri Natakusuma. Raden Arya Cakranagara dari Pamalang meninggal, dan digantikan oleh putra tertuanya dengan gelar yang sama. Keluarga ini berhubungan dekat dengan Pangeran Ngabehi Loringpasar, musuh terbesar Arya Purbaya. Arya Purbaya merasa dirinya kurang kuat untuk memprotes suksesi itu. Almarhum bupati kedua Grobogan, Ngabehi Martawijaya, digantikan putranya dengan gelar yang sama. Ngabehi Surawikrama, bupati kedua Gresik mendapat tambahan kewenangan sebanyak dua ratus rumah tangga.

Mulud tahun ini dinodai oleh penolakan Cakraningrat dari Madura untuk mengirim perwakilan dan untuk mengirimkan istrinya, saudari tercinta Sunan. Dua kali Sunan mengirimkan pejabat tinggi ke Madura dan atas permintaannya rombongan kedua yang dipimpin oleh Tumenggung Suradipura bahkan mendapat pengawal Eropa dari Crul, yang ingin membina hubungan baik dengan Sunan dalam rangka kunjungan yang akan dilakukannya. Tapi Cakraningrat menolak sebab dia masih marah atas apa yang dia anggap sebagai perlakuan kurang hormat terhadap putranya, Raden Tumenggung Suradiningrat pada Mulud tahun sebelumnya. Sebagai tanda kemarahannya dia mengirim jatah berasnya langsung kepada Kumpeni, dan tidak kepada perwakilan Sunan. Sekarang dia menolak untuk mengirim perwakilan ke Mulud. Masalah lainnya adalah dia sedang marah besar kepada putranya, yang hak warisnya sudah ia cabut dan ia alihkan kepada putra keduanya, Raden Tumenggung Sasradiningrat, yang katanya mengikuti saran ayahnya dan telah sangat maju dalam belajar menulis dan membaca huruf Jawa. Suradiningrat, di pihak lain, menghabiskan waktunya dengan judi dan permainan di Gresik bersama orang Cina dan orang asing lain. Petualangannya terakhirnya bahkan membuat hamil istri Sersan Willem Raaf yang bukan orang kulit putih dan kabarnya anaknya sudah lahir.[86] Dengan adanya masalah-masalah di Kartasura, Kumpeni tidak mau membiarkan api Madura menyala lagi. Sersan itu dan istrinya, Anna Maria Menut, langsung ditransfer ke Semarang, dimana keduanya membantah kebenaran kabar itu. Cakraningrat juga memutuskan untuk menutupi skandal itu. Kepada sebuah komisi yang dikirim ke Madura dia berkata bahwa ke dua putranya berwatak tenang dan santun dan dia tidak merasa pernah bertindak berat sebelah kepada mereka. Sementara itu Raden Tumenggung Suradiningrat berkata dirinya telah ditipu. Dalam keadaan mabuk dia mengira wanita itu selir si sersan, apalagi dia sudah membayar wanita itu tiga belas reyal. Kumpeni merasa masalah ini sebaiknya disudahi sampai di situ saja.[87]

Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, gejolak pada Mulud tahun ini agak mereda. Bahkan gosip-gosip yang biasanya beredar tentang pungli terhadap para bupati dan orang Cina tak terdengar. Pada bulan Agustus Natakusuma berangkat ke Semarang untuk membayarkan cicilan Sunan kepada Kumpeni. Dia rupanya masih dipercaya Sunan sebab di Semarang dia menerima kabar bahwa Sunan telah menganugrahinya wewenang terhadap rakyat Jagasura. Pada bulan September Crul datang berkunjung. Dia disambut dengan pantas tapi tidak dengan antusias. Meskipun Sunan menulis kepada Gubernur Jendral bahwa dia senang karena Crul tampaknya jujur dan lembut,[88] pembicaraan yang terjadi berjalan agak kaku. Crul datang ke Kartasura dengan membawa dua tema. Yang pertama adalah mencoba untuk mengalihkan perhatian Sunan dari masalah rakyat Urut Dalan. Dia mencoba meyakinkan orang Jawa bahwa masalah itu sebaiknya dianggap selesai dan bahwa pihak Jawa seharusnya memintanya sejak dulu ketika bekas Adipati Semarang, Martayuda dicopot pada 1723 dan bukannya sekarang setelah lewat bertahun-tahun. Natakusuma menjawab bahwa masalah itu diatur Danureja tanpa sepengetahuan Sunan. Crul menjawab balik bahwa itu omong kosong, sebab jika dia atau Arya Purbaya misalnya mengatur sesuatu atas nama raja maka sangatlah tidak sopan jika dia meminta raja untuk menegaskan kembali apa yang telah diatur atas namanya. Ketika pernyataan ini diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa, Sunan, Natakusuma dan Arya Purbaya terdiam. Crul kemudian meminta agar Sunan menganggap masalah ini selesai dan Sunan tampaknya setuju. Tapi pada hari dimana Crul hendak pulang, sang patih mengangkat masalah ini lagi dan meminta bantuan Crul agar rakyat Urut Dalan dikembalikan. Masalahnya macet di situ.

Tema kedua yang dibawa Crul juga bukan barang baru. Pada 1733 Coyett sudah menyarankan agar atap rumah-rumah Kumpeni dan terutama gudang mesiu yang terdiri dari sirap diganti dengan genteng, yang lebih aman dan lebih murah. Crul mengusulkan supaya Kumpeni diperbolehkan mengirim pembuat genteng ke Kartasura untuk mengajari orang Jawa. Crul sekali lagi mengira Sunan sudah setuju, tapi seperti yang terbukti kemudian, reaksi Sunan itu seharusnya ditafsirkan dengan cara yang lebih timur: bahwa Sunan sudah menerima permintaan itu tapi belum memberikan persetujuannya.

Adanya kesalahpahaman seperti ini tidak berarti bahwa Crul belum berusaha menjelaskan masalahnya dengan terang-terangan. Usahanya itu bahkan sempat menimbulkan sedikit cekcok dengan Arya Purbaya, yang mengeluh bahwa penterjemah Kumpeni, Adriaan van Woensel, tidak bisa berbahasa Jawa dengan baik dan meminta agar Van Woensel tidak digunakan lagi dalam pertemuan selanjutnya dengan Sunan. Sebelum memulai pembicaraan tentang rakyat Urut Dalan, Crul meminta Van Woensel mendengarkan dengan seksama apakah apa yang dikatakan Crul dalam bahasa Melayu sudah diterjemahkan dengan baik dalam bahasa Jawa. Ketika pada saat kata-katanya diterjemahkan Natakusuma dan Arya Purbaya berbisik-bisik, Crul menjadi curiga akan kebenaran penterjemahan itu dan meminta Van Woensel menterjemahkan lagi kata-katanya.[89] Kasarnya interupsi yang dilakukan Woensel jelas tidak bisa dilunakkan oleh kekasaran bahasa Jawa sang bekas sersan ini, yang bahasa Jawa kasarnya kebanyakan didapatkannya di Surabaya.

Seperti yang dikatakan dalam suratnya kepada Gubernur Jendral, Crul ingin memberi kesan bahwa dia bukan orang yang bisa didorong kesana kemari oleh orang Jawa. Hampir setahun kemudian, dia masih mengungkit-ungkit fakta bahwa ketika dia meninggalkan Kartasura sang patih maupun para pangeran tidak mengantarnya ke Banyudana. Para pangeran bahkan tidak muncul sama sekali karena dilarang oleh Natakusuma dan Arya Purbaya, seperti yang kemudian terdengar oleh Crul. Sang patih cuma datang ke taman Kumpeni untuk menyampaikan hormatnya. Menurut Natakusuma, bukan kebiasaan bagi seorang patih untuk mengantarkan seorang duta sampai ke Banyudana. Ketika Crul memeriksa catatan dari para duta sebelumnya, Crul menyadari bahwa dirinya telah dibodohi.[90] Dia rupanya tidak sadar bahwa protokolnya telah berubah sejak setahun sebelumnya. Perasaan Crul yang “jujur dan lembut” itu terluka dan dia bertekad untuk menunjukkan bahwa dia tahu cara menghadapi orang pribumi.

Crul tidak perlu menunggu lama untuk unjuk gigi. Mungkin Arya Purbaya dan Natakusuma memang sengaja mempermainkannya atau mungkin sikapnya telah membuat mereka seperti itu. Apapun yang telah terjadi – dan tidak heran jika pada saat itu penasehat spiritual mereka, Sayid Aluwi, telah menghitung-hitung dan bahwa akan terjadi perubahan yang menguntungkan – masalah-masalah lama mulai terangkat kembali. Ada dua kejadian yang sebenarnya tidak lebih serius dari konflik-konflik tahun sebelumnya dimana Crul memutuskan untuk menentukan sikap.

Yang pertama adalah sebuah serangan yang jelas sekali sudah direncanakan terhadap orang Cina penjaga gerbang pajak di Kediri, Tsie Tswatko. Pelakunya adalah Demang Perkul lagi. Dia menggiring lima belas kerbau melewati gerbang pajak Tsie Tswatko. Ketika ditarik bea sebesar tiga puluh enam pices untuk tiap kerbaunya, Demang Perkul menolak. Dalam pertengkaran yang kemudian terjadi, Tsie Tswatko ditahan, dibawa ke Paseban dan atas persetujuan sang bupati, Ngabehi Katawengan, dia dibawa ke Kartasura. Sementara itu rumah Tsie Tswatko dan beberapa kerabatnya dijarah.[91]

Pihak Jawa hendak menutupi masalah ini, tapi keluarga Tsie Tswatko memberitahu Kumpeni. Residen Kartasura diperintahkan untuk melakukan penyelidikan dan dia tidak hanya menegaskan kebenaran laporan itu, tapi bahkan melaporkan bahwa Natakusuma dan Arya Purbaya mengirimkan orang untuk memeriksa semua surat ijin pemungutan pajak milik orang Cina. Para pemungut pajak diharuskan melayani para pemeriksa ini dengan mewah dan membekali mereka dengan uang dalam jumlah yang tidak ditentukan. Mereka yang menolak berbuat demikian akan dirampok. Crul memandangnya sebagai pengulangan dari kejadian-kejadian tahun sebelumnya dan dia tidak akan membiarkannya. Ketika residen Kuala Demak melaporkan keluhan yang lebih serius tentang bupati Demak yang baru, Raden Arya Secanapura, Crul akhirnya mendapatkan apa yang ia inginkan: sebuah kasus yang bisa digunakan untuk menumbangkan Arya Purbaya, karena Raden Arya Secanapura dikenal sebagai orang kesayangan Arya Purbaya.

Raden Arya Secanapura tidak hanya terlambat mengirimkan kayu kepada Kumpeni, tapi juga sesumbar bahwa dia punya kewenangan untuk mengusir semua agen pembeli beras Eropa dari Demak. Pada saat yang sama dia memperingatkan agar semua orang Cina meninggalkan Demak, dengan alasan bahwa dia tidak dapat menjamin keselamatan mereka. Dua kali seminggu dia mengumpulkan empat ratus pasukan untuk dilatih dengan tombak dan bedil, sementara pada malam hari dia berpatroli di wilayahnya sambil menyamar. Dia menimbun bedil dan bersedia membayar tujuh reyal untuk tiap bedil dan katanya dia hendak memproduksi mesiu. Crul tidak percaya bahwa orang Jawa berani menyerang Kumpeni, tapi kegelisahan yang timbul akan menganggu pengiriman beras dan kayu. Untuk menggertak orang Jawa, Crul mengusulkan agar garisun-garisun diperkuat dengan milisi Eropa atau Bali.[92]

Batavia memiliki kekhawatiran yang sama dengan Crul dan memberinya kewenangan untuk memberitahukan situasi itu kepada Sunan dengan cara yang lembut tapi tegas. Crul menulis suratnya dengan perasaan puas. Dia mula-mula memberitahukan kepada Sunan tentang kehendak Gubernur Jendral yang telah disetujui Sunan selama kunjungannya ke Kartasura – yang sebenarnya belum – bahwa status rakyat Urut Dalan yang sekarang tidak akan dipermasalahkan lagi. Gubernur Jendral telah memerintahkan untuk mencarikan gajah seperti yang diminta Sunan, tapi Sunan harus ingat bahwa permintaannya itu sangat sulit dan mahal. Setelah menetapkan nada seperti itu, Crul memberitahukan kepada Sunan segala ketidakberesan yang sedang terjadi di negaranya, bahwa dia harus mengambil alih pemerintahan ke tangannya sendiri, mengawasi administrasi dan pelaksanaan semua kontrak. Kekurangajaran bupati Demak dan keberanian menteri-menterinya yaitu Natakusuma dan Arya Purbaya dalam merampok para pedagang Cina – seperti dalam kasus Tsie Tswatko – adalah bertentangan dengan kebaikhatian Yang Mulia dan dengan kepentingan Kumpeni. Atas nama Gubernur Jendral, Crul memprotes keras dan mengklaim hak untuk mendapatkan ganti rugi dan yang terakhir, Crul meminta jawaban secepatnya, supaya dia dapat melapor kepada Gubernur Jendral dan Dewan Hindia, yang sekarang sedang mempersiapkan tindakan-tindakan yang diperlukan.[93]

Crul sebelumnya telah memerintahkan sang residen untuk mengawasi dari dekat reaksi apa yang ditimbulkan oleh suratnya itu dan dia tidak kecewa sebab ketika Tirtawiguna membacakan surat itu keras-keras sang Sunan tampaknya agak tertegun sementara Arya Purbaya dan Natakusuma tampak sangat kaget. Mereka mencucurkan keringat dingin, demikian sang residen melapor dengan gembira. Arya Purbaya masih berani-beraninya meminta Tirtawiguna untuk menyembunyikan addenda tentang kasus Arya Secanapura dan Tsie Tswatko, tapi sang residen bersikeras bahwa addenda itu harus dibacakan juga. Sunan cuma bertanya orang Cina macam apa Tsie Tswatko ini dan para menterinya membantah bahwa dia adalah orang Cina, tapi sebenarnya orang Jawa bernama Reksayuda. Sunan tidak meminta keterangan lebih lanjut dan berjanji akan membalas surat itu secepatnya.

Untuk memastikan supaya jawaban yang diberikan tidak sekedar berisi pembelaan yang main-main, Crul juga menulis surat kepada Pangeran Ngabehi Loringpasar dan Tumenggung Tirtawiguna bahwa mereka pun sebaiknya memberitahukan situasi yang sebenarnya kepada raja, tapi tidak seorang pun dari keduanya berani mengambil resiko itu. Sunan hanya berkonsultasi dengan Natakusuma dan Arya Purbaya tentang apa yang akan dikatakan dan Tirtawiguna bahkan dipaksa mengubah isi rancangan suratnya sesuai dengan kehendak mereka. Jawaban itu jelas tidak akan bisa memuaskan Crul sebab Sunan hanya menyatakan keheranannya tentang keluhan-keluhan itu. Tsie Tswatko akan diberi ganti rugi dan Arya Secanapura akan ditarik ke Kartasura untuk diperiksa. Sunan berjanji tidak akan mengulangi lagi permintaan akan gajah itu.[94]

Serangan diplomatik Crul meleset entah kemana. Kata-kata besarnya diperlakukan sebagai fakta-fakta kecil dan dari pihak Jawa tak seorang pun mau mendukungnya. Dia telah menggunakan satu-satunya jalur langsung dimiliki Kumpeni kepada Sunan, tapi kata-katanya yang “lembut tapi tegas” justru bisa-bisa membuat dia dan Kumpeni tampak seperti orang tolol yang berlagak tegas. Batavia menjadi sangat tidak senang karenanya dan meminta dia lebih berhati-hati dan diplomatis lagi. Crul mencoba mengumpulkan bukti untuk serangan berikutnya, tapi hasilnya tidak memadai. Adipati Citrasoma mempersulit pengiriman kayu. Arya Purbaya memeras pedagang-pedagang kecil Jawa dan merugikan para pedagang Cina, yang biasanya menitipkan barang-barangnya kepada wanita-wanita penjaja ini. Arya Purbaya bahkan pada suatu hari berani menghadap Sunan dengan membawa senjata. Meskipun dia langsung melepas senjatanya ketika diperintahkan oleh Sunan, menurut Crul insiden ini seharusnya membuat orang berpikir dua kali tentang apa yang sebenarnya menjadi niatan Arya Purbaya. Tapi tuduhan-tuduhan dan insiden-insiden seperti itu tidak cukup ampuh untuk melancarkan serangan. Tampaknya Crul harus mundur, tapi keberuntungan menyelamatkannya. Dengan percaya diri dia menjawab ke Batavia bahwa sekalipun dia akan tetap bertindak selembut dan setegas ketika dia masih menjadi komisioner urusan pribumi, dia merasa bahwa untuk menghadapi orang Jawa diperlukan sikap yang lebih memaksa, sebab selama Arya Purbaya dan Natakusuma masih berkuasa, kelembutan hanya akan mengurangi rasa hormat terhadap Kumpeni. Tapi ternyata bukan diplomasi Crul melainkan nasib yang membawa angin baik bagi Kumpeni.

Pada tanggal 1 Maret 1738 permaisuri keguguran dan kondisinya memburuk. Menurut Pangeran Ngabehi yang tidak percaya pada kebenaran berita itu, permaisuri hanya pura-pura untuk memanipulasi Sunan dan menyelamatkan saudaranya. Setiap malam Sunan menyuruh para pengawalnya menembakkan bedil mereka untuk mengusir roh-roh jahat. Katanya beberapa dari roh-roh jahat ini datang dari para pedagang Jawa yang kaya dan dijadikan alasan oleh Arya Purbaya untuk menyita harta mereka. Siang dan malam Arya Purbaya, Natakusuma dan penasehat-penasehat spiritual mereka, Kyai Haji Mataram dan Sayid Aluwi tinggal di kraton, dimana akhirnya Kyai Haji Mataram dan Sayid Aluwi mendapatkan imbalan besar atas bakti mereka. Tapi itu tidak ada gunanya. Pada tanggal 14 April jam setengah empat sore sang permaisuri meninggal. Dia ternyata tidak berpura-pura sakit. Pangeran Ngabehi membuat penafsiran baru bahwa sang permaisuri terlalu giat berpura-pura sehingga meninggal.[95]

Kematian permaisuri menimbulkan celah pada tembok yang dibangun Arya Purbaya dan Natakusuma di sekeliling Sunan. Tapi masih belum ada linggis yang cukup kuat untuk mendobrak tembok itu sepenuhnya. Keluhan-keluhan yang disampaikan Crul pada bulan Januari diselesaikan sedemikian rupa sehingga tidak dapat menjadi linggis yang dapat mendobrak tembok ini. Tsie Tswatko pada prinsipnya sudah mendapat ganti rugi dan barang-barangnya dikembalikan. Arya Secanapura membantah segala tuduhan, dan berkata bahwa dia hanya menangkap orang Cina yang tidak punya surat jalan, sementara pengiriman kayu itu terlambat karena sang residen sendiri terlambat membayar. Meskipun sang residen dapat menunjukkan bukti bahwa faktanya tidak demikian, Kumpeni sebenarnya juga tidak bisa dikatakan tidak memiliki kesalahan dalam hal ini, sebab selama beberapa tahun Kumpeni sudah menebang di wilayah-wilayah di luar kabupaten Demak di wilayah Kartasura, karena hutan-hutan Demak menipis. Sang bupati tahu itu, tapi Sunan tidak. Sang bupati ingin para penebang Kumpeni hengkang dari wilayahnya: tanpa ijinnya selembar daun pun tidak boleh diambil dari hutannya.[96] Tapi akhirnya penyelesaian masalah ini pun menguntungkan Kumpeni. Kasus Tumenggung Tirtawijaya dari Sidayu juga tidak memadai untuk memulai serangan. Pada bulan Juli 1737 dia memotong tangan kanan seorang Bugis yang tertangkap mencuri di kediamannya. Menurut pihak Jawa, itu sudah hak Tumenggung Tirtawijaya sebab orang Bugis itu adalah budaknya, tapi menurut Kumpeni karena orang itu orang Bugis maka dia adalah bawahan Kumpeni. Pihak Jawa tidak bersikeras dalam masalah ini. Nasib Tumenggung Tirtawijaya ditentukan oleh kesempatan untuk bisa memuaskan Kumpeni ditambah lagi dengan keuntungan sampingan, yaitu kesempatan untuk menyelesaikan jalan buntu dalam masalah Cakraningrat dari Madura, yang sudah lama menginginkan Sidayu dan membenci bupatinya. Dia dicopot, hartanya disita dan diasingkan ke Ayah di Banyumas.

Musuh-musuh Arya Purbaya menyadari bahwa Kumpeni sedang mencari-cari masalah. Begitu Kumpeni menyatakan niatnya lewat surat Crul pada bulan Januari, dan terlebih lagi setelah kematian permaisuri memperkecil kemungkinan untuk sukses, mereka siap untuk mencarikan masalah itu. Masalah itu haruslah spektakuler, supaya Kumpeni mendapat kesempatan untuk marah besar, tapi juga harus sulit untuk dibuktikan dan kesalahannya harus jatuh sepenuhnya kepada Arya Purbaya. Kumpeni pun mendapatkan pelayanan yang sangat memuaskan. Pada tanggal 2 Juli Crul menulis kepada Gubernur Jendral bahwa residen Kartasura telah mendapat informasi tentang sebuah plot keji. Tumenggung Puspanagara dari Batang memberitahukan kepada sang residen bahwa Natakusuma dan Arya Purbaya bukan hanya sumber dari kekacauan di kraton – itu memang bukan berita baru – tapi juga berniat memisahkan negara Mataram dengan Kumpeni. Natakusuma dan Arya Purbaya telah membujuk raja untuk berhubungan dengan salah seorang pangeran-pangeran Makasar yang memberontak, yaitu Kraeng Bontolangkasa. Selain itu mereka juga berniat mencopot Tumenggung Suradiningrat dari Tuban dan kemudian memerangi Cakraningrat dari Madura, yang sekali lagi menolak untuk mengirimkan perwakilan pada perayaan Mulud. Kecurigaan Crul semakin diperkuat oleh fakta bahwa Natakusuma tidak menjadi pemimpin rombongan duta ke Batavia untuk memberi selamat pada Gubernur Jendral yang baru, Adriaan Valckenier.[98]

Tumenggung Puspanagara bukanlah pelapor yang tidak mengharapkan pamrih. Keluarganya, klan Jayaningrat, telah menderita kerugian selama Arya Purbaya berkuasa. Dia sendiri menggantikan ayahnya pada 1736, tapi kehilangan Wiradesa. Saudaranya yang menjadi bupati Lembahrawa dicopot. Sepupunya, Suradiningrat dari Tuban, hampir saja digulingkan dalam masalah Dipasana dan sekali lagi menjadi sasaran, sementara salah seorang kerabatnya, bupati Sidayu, belum lama berselang dicopot dan diasingkan. Tapi Crul tidak mempertanyakan motif Tumenggung Puspanagara. Dia mencoba memeriksa kebenaran dari tuduhan-tuduhan ini, terutama kisah bahwa salah seorang pangeran Makasar pemberontak akan mendarat bersama pengikutnya di Demak, wilayah yang tampaknya penuh dengan oposisi di bawah pimpinan bupatinya, Arya Secanapura. Dia meminta Gubernur Makasar untuk memeriksa masalah ini dan pada saat yang sama dia meminta residen Kartasura untuk mencari informasi lebih lanjut.[99]

Di Makasar tidak ditemukan apapun, tapi itu bukan masalah sebab pada saat jawaban dari Makasar sampai pada Crul, Kumpeni sudah mengambil tindakan.[100] Gubernur Jendral Valckenier menyadari kegunaan dari informasi Puspanagara, entah informasi itu benar ataupun salah. Pada tanggal 20 Juli Crul menerima surat rahasia dari Gubernur Jendral bersama sebuah surat yang ditujukan kepada Sunan dan bantuan sebanyak 200 pasukan. Kumpeni memutuskan untuk menyampaikan tuduhan itu kepada Sunan dan biar Natakusuma dan Arya Purbaya yang mencoba membuktikan kebersihan diri mereka. Kumpeni jelas tidak punya bukti, sebab residen juga tidak mendapatkan banyak. Utusan yang katanya digunakan untuk menghubungi Kraeng Bontolangkasa itu sedang dalam perjalanan ke Lembahrawa dan tidak dapat diperiksa. Ketika dia sampai di Kartasura dia langsung mendapat tugas lagi dan sehingga akhirnya tidak pernah diperiksa. Satu-satunya bukti tidak langsung didapati residen datang dari sumber yang meragukan. Pada sebuah malam yang gelap gulita, Pangeran Tepasana, yang baru pulang dari pengasingan di Srilanka, datang kepadanya. Dia menyatakan kesetiaannya kepada Kumpeni dan menceritakan betapa tidak bahagianya hidupnya di Kartasura. Semua janji Sunan dihalangi oleh Natakusuma dan Arya Purbaya sehingga dia dan saudara-saudara dan anak-anaknya hidup dalam kemiskinan dan penderitaan. Ketika ditanya oleh residen tentang masalah Makasar, dia punya tambahan informasi. Ketika Crul datang berkunjung pada tahun sebelumnya, seseorang asing yang tidak dikenal datang kepadanya membawa cerita bahwa dia punya banyak teman di Makasar, tapi siapa teman-teman ini tidak disebutkan kepada Pangeran Tepasana. Orang ini menawarkan pasukan, yang bisa dibawa dengan kapal ke Demak. Pangeran Tepasana tidak tertarik dan melupakan masalah itu. Sekarang dia menyadari apa yang tersembunyi di balik tawaran itu.[101]

Bagi Crul, kisah Pangeran Tepasana membuktikan kebenaran tuduhan Puspanagara. “Kisah tentang jalinan hubungan dengan Makasar, yang sekarang lebih kurang telah dikonfirmasikan oleh Tepasana, sudah dapat dianggap benar sepenuhnya (volkomen waar).”[102] Kita telah melihat sebelumnya bagaimana kebenaran dari gosip-gosip tentang Danureja sangat tergantung pada bagaimana Kumpeni hendak memanfaatkan gosip-gosip itu. Kali ini Kumpeni ingin menyingkirkan Natakusuma dan Arya Purbaya dengan cara apapun. Masalahnya menjadi genting sebab Arya Purbaya baru saja memberitahu residen bahwa Sunan mungkin terkena cacar air. Bagi Crul ini sangat mencurigakan. Pada November 1736 Pangeran Buminata meninggal karena cacar air, tapi ibu sang pangeran bersikeras bahwa anaknya mati diracun.[103] Apalagi sudah beredar gosip bahwa Arya Purbaya hendak meracuni Sunan. Sunan ternyata hanya menderita gabag dan sembuh dengan cepat.[105] Jika Sunan sampai meninggal, tidak hanya Arya Purbaya dan Natakusuma tidak bisa disingkirkan dengan tenang tapi bahkan akan terjadi kekacauan. Arya Purbaya dan Natakusuma sangat tergantung kepada Sunan dan tidak memiliki banyak dukungan dari para bupati sehingga jika Sunan meninggal pilihan mereka hanya satu: memberontak. Mereka juga tidak bisa dijadikan bupati, sebab Kumpeni tidak akan terima. Satu-satunya putra Sunan baru berumur enam tahun dan belum diangkat menjadi putra mahkota dan Kumpeni akan cenderung untuk melaksanakan wasiat Sunan dimana urutan kedua suksesi ditempati Pangeran Buminata dan urutan ketiga ditempati Pangeran Loringpasar. Buminata telah meninggal tapi posisinya telah diisi oleh adiknya, yang juga masih di bawah umur. Maka Kumpeni mungkin akan mendukung Pangeran Loringpasar, musuh besar Arya Purbaya. Tapi jika demikian, Pangeran Loringpasar hanya bisa naik tahta dengan kekuatan senjata, dan itu juga tidak diinginkan Kumpeni.

Sunan sembuh dan membuat lega semua pihak yang berkepentingan. Penyakitnya ternyata justru membawa keuntungan terselubung bagi Kumpeni sebab Sunan kembali dekat dengan ibunya. Tapi ini masih belum diketahui Kumpeni pada saat pedagang yunior dan administrator kedua Semarang, Steven Marcus van der Heyden dikirim sebagai utusan khusus Kumpeni ke Kartasura. Dia dan sang residen Hendrik Duirvelt menyerahkan surat Gubernur Jendral kepada Sunan. Kali ini Kumpeni mempersiapkan strateginya dengan lebih baik dan bahkan meminta saran tentang bagaimana langkah selanjutnya jika tuduhan-tuduhan itu dibantah. Sebelum surat itu diserahkan, Duirvelt dan Van der Heyden mengadakan pertemuan rahasia dengan Tumenggung Tirtawiguna. Sang ahli intrik kraton ini menyadari kemungkinan-kemungkinan yang mungkin timbul dari surat Gubernur Jendral ini dan yang paling penting apa langkah selanjutnya. Duirvelt dan Van der Heyden harus meminta ijin Sunan untuk mengunjungi Ratu Amangkurat. Lewat Ratu Amangkurat, yang sekarang sudah mendapatkan lagi kepercayaan Sunan, mereka bisa bertemu secara pribadi dengan Sunan dan dengan demikian Sunan mungkin akan tunduk pada tekanan Kumpeni.

Pada tanggal 26 Juli surat itu diserahkan kepada Sunan dengan upacara sebagaimana mestinya. Di hadapan Natakusuma dan Arya Purbaya, Tirtawiguna membacakan surat itu dengan lantang. Efeknya luar biasa. Sunan tampak sangat kaget dan menghela nafas. Natakusuma dan Arya Purbaya seperti disambar geledak. Keringat Arya Purbaya mengucur deras dan dia tidak mampu bicara sama sekali. Akhirnya Natakusuma angkat bicara. Dia berkata bahwa Sunan sama sekali tidak tahu menahu soal adanya hubungan dengan musuh Kumpeni, Kraeng Bontolangkasa. Pasukan Kraeng Bontolangkasa tidak pernah diundang dan sama sekali tidak ada rencana untuk menyerang Cakraningrat. Dia berani mempertaruhkan nyawanya untuk kebenaran kata-katanya ini. Maka Sunan sama sekali tidak tahu menahu tentang rencana jahat apapun terhadap Kumpeni. Dia sendiri juga tidak bersalah dan sebagai bukti dari kebersihan dirinya dia tidak menolak untuk datang ke Semarang ataupun ke Batavia jika diminta oleh Gubernur Jendral.

Duirvelt dan Van der Heyden sama sekali tidak mendebatnya. Mereka hanya minta agar Sunan memikirkan isi surat itu karena gosip-gosip itu merupakan ancaman bagi perdamaian dan ketertiban. Sunan harus tahu bahwa Gubernur Jendral percaya akan niat baik Sunan dan bahwa segalanya ini mungkin semata diakibatkan oleh perilaku beberapa menterinya yang mencoba menipu dirinya. Mereka kemudian minta ijin dari Sunan untuk mengunjungi Ratu Amangkurat untuk menyampaikan salam hormat dari Gubernur Jendral dan Crul. Sunan memberikan ijinnya, dan mungkin dia malah senang bisa menyelesaikan acara itu cepat-cepat. Ratu Amangkurat, setelah bertahun-tahun dalam keadaan tertutup, senang sekali menerima kehormatan yang tak terduga itu. Tirtawiguna menyimpulkan bahwa Ratu akan mudah diajak bekerja sama dan berjanji akan memberitahukan segalanya kepada sang Ratu lewat orang kepercayaan Ratu.[106]

Van der Heyden tinggal selama beberapa hari di Kartasura untuk menunggu jawaban dari Sunan dan untuk melihat apakah dia dan Duirvelt dapat bertemu dengan Sunan secara pribadi. Jawaban Sunan mudah ditebak: dia membantah semua tuduhan itu. Ketika jawaban itu diberikan, Arya Purbaya berhasil menemukan suaranya lagi dan menyatakan bahwa dirinya sama sekali tidak tahu menahu tentang gosip-gosip itu. Seandainya dia tahu dia pasti sudah akan memberitahukannya kepada residen. Sang residen menjawab dengan ketus bahwa memang itu yang seharusnya dilakukan. Tapi mereka ternyata tidak dapat menemui raja secara pribadi. Tapi Tirtawiguna sudah menemukan cara lain untuk menyampaikan pesan itu.

Surat Gubernur Jendral membuat Kumpeni tercebur sedemikian jauh dalam masalah ini sehingga tidak mungkin lagi mundur. Begitu Kumpeni masuk arena, Tirtawiguna siap menyumbangkan bakatnya untuk mencarikan jalan tembus. Pangeran Ngabehi Loringpasar, yang baru saja sembuh dari penyakit berat, juga ikut serta. Arya Purbaya dan Natakusuma telah meyakinkan Sunan bahwa surat Gubernur Jendral adalah hasil dari fitnah Cakraningrat dari Madura. Tirtawiguna dan Loringpasar menyarankan bahwa untuk meyakinkan Sunan bahwa pendapat Arya Purbaya dan Natakusuma itu tidak benar, Crul harus menulis surat atas nama Gubernur Jendral kepada Ratu Amangkurat dan Ratu Amangkurat pada saat yang tepat akan menunjukkan surat itu kepada Sunan. Tirtawiguna bahkan bersedia membuat rancangan surat yang akan memberikan efek yang besar. Crul berpendapat bahwa rancangan surat yang dipersiapkan itu elegan dan mengesankan (in sierlijke en bewegende termen gesteld). Ini menunjukkan bahwa Tirtawiguna, yang selama bertahun-tahun telah menjadi sekretaris Sunan, tahu persis apa yang sedang terjadi. Dengan bersemangat dia meminta ijin dari Batavia untuk melanjutkan rencananya.[107]

Surat buatan Tirtawiguna itu diubah sedikit supaya lebih lunak, demikian kata Crul, dan ditambahi sejumlah komentar tentang kemungkinan kosongnya tahta dan masalah perwalian bagi putra raja yang masih di bawah umur dan dikirimkan oleh Crul pada tanggal 6 September. Tapi Crul mempertahankan esensi dari kerangka karangan Tirtawiguna. Atas permintaan khusus dari Tirtawiguna, Crul juga mengembalikan rancangan aslinya kepada Tirtawiguna. Jelas Tirtawiguna yang cerdik ini tidak mau meninggalkan jejak. Tapi yang jelas pihak Jawa mestinya heran ketika Kumpeni tiba-tiba begitu menguasai gaya bahasa Jawa. Arya Purbaya digambarkan sebagai macan yang lepas di tengah-tengah taman dan Kyahi Surajaya (pepati Natakusuma) dan Ki Mas Sumawicitra (pepati Arya Purbaya) sebagai kambing jantan yang berkeliaran di taman dan merusak orang Cina. Crul dibuat terkesan olehnya. Dan Sunan jelas tidak akan salah menangkap pesan yang ada di balik gambaran itu, bahwa Arya Purbaya adalah raja yang sebenarnya (macan) di negara ini (taman). Gambaran itu adalah analogi kuno yang populer yang berasal dari literatur India.[108] Tirtawiguna memastikan agar surat itu sampai ke tangan Ratu Amangkurat. Pada saat yang sama koalisi anti-Purbaya mendapat tambahan kekuatan dengan kedatangan R.A. Bengkring, istri Cakraningrat dan saudari tercinta Sunan. Ketika mendengar kabar bahwa saudaranya sakit, R.A. Bengkring langsung berangkat ke Kartasura bersama tiga putrinya, ibu Cakraningrat dan dua putranya.[109]

Ratu Amangkurat tidak butuh waktu lama untuk membuat keputusan. Pada tanggal 24 September Tirtawiguna memberitahu residen bahwa Ratu Amangkurat tidak hanya menunjukkan surat itu kepada Sunan tapi juga menguliahinya tentang isi surat itu. Keesokan harinya Sunan memanggil Tirtawiguna dan meminta pendapatnya tentang situasi yang ada. Tirtawiguna membenarkan kisah Ratu Amangkurat sambil menambahkan bahwa semua orang tidak berani melaporkannya kepada raja karena takut pada Arya Purbaya. Sunan bertanya mengapa orang yang sudah setua dan banyak pengalaman seperti Tirtawiguna tidak berusaha meluruskan jalan Arya Purbaya. Tirtawiguna berkata bahwa dirinya pun juga takut. Sunan bertanya apakah sebaiknya status Arya Purbaya diturunkan. Tirtawiguna memberanikan diri untuk menyarankan agar diambil tindakan yang lebih jauh lagi, tapi Sunan tidak berkomentar. Jelas bahwa Sunan akan menyerah saja. Masalahnya sekarang sejauh mana Sunan dapat didorong. Tirtawiguna cepat-cepat meminta instruksi dari Batavia. Apakah dia sebaiknya hanya meminta dicopotnya Natakusuma dan Arya Purbaya ataukah meminta agar keduanya diasingkan di dalam Jawa atau malah di luar Jawa?[110]

Kumpeni jelas lebih suka keduanya diasingkan keluar Jawa, tapi ternyata sangat sulit mendorong Sunan sampai sebegitu jauh. Pada awal Oktober, Sunan tiba-tiba menyerah. Tanpa berkonsultasi sebelumnya dia mencabut gelar Arya Purbaya dan mengembalikan gelarnya yang sebelumnya, yaitu Raden Purwakusuma dan mengasingkannya ke Kembangarum, sebuah desa di sebelah barat daya Merapi. Beberapa hari kemudian dia dipindahkan ke Kademen, sebuah desa yang lebih kecil lagi di kaki Merapi. Kumpeni mendesak lagi sebab khawatir bahwa ini adalah sekedar cara sementara untuk menghindari tekanan. Akhirnya pada tanggal 17 November, setelah pertemuan sangat rahasia antara Van der Heyden dengan Sunan – tapi surat dari Kumpeni disambut dengan tembakan meriam seperti biasanya, sampai seperti itu kerahasiaannya – dicapai sebuah kesepakatan. Sunan bisa mempertahankan Natakusuma sebagai patih tapi sebagai gantinya dia dengan tidak rela menyerahkan Raden Purwakusuma kepada Kumpeni untuk diasingkan keluar Jawa.[111] Di bawah pengawalan Ensign Joan Andries Baron von Hohendorff, yang selanjutnya akan memainkan peran penting dalam sejarah Jawa, mantan Arya Purbaya, yang selama beberapa tahun tampil begitu gagah di panggung Jawa, berlayar ke Batavia.[112] Kepada Gubernur Jendral, Sunan menjelaskan bahwa dia sempat dibutakan oleh cintanya kepada almarhumah permaisurinya.[113]


[1] “jugglers”

[2] Alat potret.

[3] “administer”

[4] “lead”

[5] “under regent”

[6] “pikemen”

[7] “constable”

Komentar ditutup.