PERANG CINA DAN RUNTUHNYA NEGARA JAWA BAB 5

BAB V

Perang Kedua

Batavia menyelenggarakan perayaan kemenangan di Semarang dengan syukuran dan doa pada 29 November 1741. Tapi doa hanya merupakan sebagian kecil dari perayaan itu. Semua meriam ditembakkan secara berurutan, dimulai dari kapal-kapal yang berjajar, sampai diakhiri oleh meriam-meriam di benteng dan di tembok kota. Tembakan kemenangan dilanjutkan dengan resepsi, pesta dan mabuk-mabukan sampai jauh malam.[1] Di balik perayaan meriah ini Kumpeni menyadari bahwa perang telah dimenangkan, tapi belum selesai. Orang Cina berhasil dipukul mundur, tapi mereka belum kalah total. Sementara itu pasukan Jawa masih berkemah di Paterongan. Kumpeni tidak hanya harus memulihkan perdamaian, tapi juga meminta kompensasi atas kerugian dan pengeluarannya, belum lagi masalah penghinaan terhadap kehormatannya.

Pemulihan perdamaian adalah tujuan pertama Verijsel. Dia menganggap kekuatan yang dimiliki Kumpeni sekarang tidak memadai untuk melakukan pertempuran di medan terbuka. Untuk itu harus dicoba untuk mengadakan perjanjian yang bersahabat dengan pihak Jawa – Sunan tampaknya bersedia membuka negosiasi – dan Cakraningrat dari Madura harus diikutsertakan ke dalamnya. Jika Cakraningrat keburu bertindak terlalu jauh, itu tidak hanya akan merusak kemungkinan perundingan dengan pihak Jawa, tapi juga akan merusak kepentingan Kumpeni sendiri.[2] Bagi Verijsel, ganti rugi adalah masalah nomor dua. Tapi Batavia punya pandangan yang agak berbeda. Batavia ingin membalas dendam pada Jawa dan tampaknya bertekad untuk mendapatkan sebanyak mungkin dari situasi ini. Begitu pihak Cina bisa dipisahkan dari Jawa – yang menurut Batavia bisa dilakukan semata dengan mengumumkan amnesti – Jawa harus diberi sejumlah syarat perdamaian yang ketat. Syarat-syarat ini terdiri dari empat syarat awal dan sebelas syarat utama, dan syarat-syarat ini harus digunakan oleh Verijsel sebagai materi negosiasi.[3] Dari semua syarat itu, yang di antaranya termasuk masalah penyerahan Madura kepada Kumpeni dan tuntutan agar penunjukan dan pemecatan patih dilakukan atas persetujuan dari Kumpeni, syarat yang paling berat adalah penyerahan semua kabupaten pesisir dengan segala bawahannya kepada Kumpeni. Jika perlu hutang Sunan bisa dipotong sebagai ganti penyerahan itu. Jika ternyata kabupaten-kabupaten  pesisir tidak bisa didapatkan, maka kabupaten-kabupaten itu setidaknya harus dijadikan wilayah kolateral sampai Sunan bisa melunasi hutangnya. Jika Sunan tidak siap untuk memenuhi syarat-syarat ini, maka manifesto Kumpeni yang memberi perlindungan kepada semua bupati dan orang Jawa lainnya yang berpihak kepada Kumpeni akan diumumkan dan perang akan diumumkan untuk mengalahkan Sunan.

Verijsel tidak senang mendapat instruksi-instruksi ini. Dia merasa bahwa mengumumkan amnesti kepada orang Cina tidak ada gunanya sebab jumlah mereka tidak sebanyak yang diperkirakan Batavia. Apalagi orang Jawa akan salah paham, sebab kelihatannya nanti biang keladi masalah diampuni tapi Jawa malahan dijadikan musuh utama. Verijsel dan Letnan Que Yonko, yang telah kembali ke Semarang, merancang sebuah strategi lain: pemberian ampun secara terpilih kepada semua orang Cina yang mau berpihak kepada Kumpeni. Que Yonko memancing orang-orang Cina untuk berbuat demikian lewat surat dan utusan.[4] Tentang masalah Madura, Verijsel punya pandangan yang lebih optimis. Jika Cakraningrat dapat dibujuk untuk mengembalikan wilayah-wilayah di Jawa Timur yang berhasil didudukinya, maka Sunan mungkin akan bersedia menyerahkan Madura kepada Kumpeni. Verijsel ragu tentang praktis tidaknya syarat tentang pengangkatan dan pemecatan patih yang harus dilakukan dengan persetujuan Kumpeni. Dia melihat cara itu hanya akan membawa kesulitan besar, dan kemungkinan terjadinya penyelewengan oleh para pegawai Kumpeni sendiri adalah yang paling kecil jika dibandingkan kemungkinan-kemungkinan masalah lain. Verijsel menentang syarat agar seluruh kabupaten pesisir diserahkan kepada Kumpeni dengan alasan-alasan yang sudah dikemukakan pada tahun 1733 dalam rangka kunjungan Coyett dan pada tahun 1723 dalam rangka kunjungan Dubbeldekop. Syarat itu – jika sampai dilaksanakan – akan membuat Sunan kehilangan wilayah-wilayah terbaik dan sumber pajak terbesarnya. Kerajaan Jawa akan terkurung di daratan, tergantung sepenuhnya pada hasil buminya dan tidak memiliki jalur keluar untuk mendapatkan keuntungan dari penjualannya. Verijsel ragu apakah keuntungan yang diharapkan bisa didapatkan dengan cara itu bisa melampaui harga yang harus dibayar untuk membuat Jawa menyetujui syarat seberat itu, Menurutnya perang tidak bisa diteruskan lagi, kecuali jika Batavia siap untuk mengirimkan pasukan Eropa dalam jumlah yang memadai.

Harapan Batavia ternyata lebih besar daripada kesiapan yang ada dari para bupati Jawa untuk mengganti kedaulatan Sunan dengan kedaulatan Kumpeni. Dari kontak yang diadakannya dengan para bupati, Verijsel mendapat kesan mereka bahkan belum pernah berpikir sampai ke sana.[5] Salah satu syarat yang ditetapkan Batavia adalah bahwa Sunan harus memberi ampun kepada semua bupati yang telah berpihak pada Kumpeni selama konflik ini terjadi. Tapi tidak ada bupati yang telah bertindak demikian. Hanya Ngabehi Secadirana yang meminta perlindungan Kumpeni di Japara, itu pun bukan karena dia suka pada Kumpeni tapi karena dia bermasalah dengan Adipati Citrasoma. Tampaknya, selama Sunan masih dapat mempertahankan kewenangannya, akan sulit memaksa dia untuk menerima syarat-syarat itu. Tapi jika dia kehilangan kewenangannya, Jawa akan tercerai berai dan semua pihak akan berlomba berebut kekuasaan dan perdamaian akan sangat sulit dipulihkan. Verijsel jelas memilih cara yang paling murah: berkompromi dengan Jawa, mendapatkan dukungan mereka dalam menghancurkan pemberontak Cina yang masih tersisa dan memulihkan perdamaian secepat mungkin. Pendeknya dia menyarankan agar Batavia mempertimbangkan syarat-syarat itu dan melunakkannya sedikit.

Pada akhir Januari 1742, ketika Verijsel mengembalikan instruksi-instruksi itu bersama komentarnya ke Batavia, segalanya tampaknya berjalan lancar. Semua pertempuran telah selesai, dengan perkecualian Pasuruan, dimana Mas Brahim masih aktif, dan kegiatan di Semarang sudah mulai hidup kembali. Pada awal Desember garisun Tegal gagal melaksanakan sebuah serangan, yang membuat Verijsel marah besar. Serangan itu dilakukan semata-mata untuk mencari nama besar dan bertentangan dengan perintah dan dilakukan justru pada saat Sunan telah memerintahkan bupati-bupatinya untuk menghentikan pertempuran.[6] Tidak lama kemudian perdamaian berhasil dipulihkan dan bahkan Natakusuma sendiri bersedia memisahkan diri dari pemberontak Cina. Pada tanggal 16 Desember Natakusuma bahkan menyerang pasukan Cina, yang masih berkemah di Gunung Bergota dan mencerai-beraikannya. Meskipun beberapa saksi mata mengatakan itu cuma pertempuran pura-pura dimana pasukan Cina diberi kesempatan untuk lari ke Kudus, Natakusuma tampaknya patuh pada perintah Sunan dan Kumpeni. Pada tanggal 26 November, Natakusuma merasa cukup aman untuk mengunjungi Verijsel bersama semua bupati yang masih ada di Semarang. Kunjungan ini menempatkan Verijsel dalam posisi yang tidak enak sebab Batavia telah mengirim instruksi sangat rahasia kepadanya agar Natakusuma dibunuh dan untuk itu Verijsel mendapat kewenangan untuk menggunakan dana sebesar lima ribu reyal atau lebih.[7] Verijsel memutuskan untuk tidak mengambil kesempatan itu. Jika ada perintah tertulis dari Sunan untuk menahan patih, itu masalah lain. Tapi menahan atau membunuh sang patih dalam situasi seperti itu akan lebih banyak rugi daripada untungnya. Apalagi jika Natakusuma terbunuh kemungkinan besar ia akan digantikan Arya Pringgalaya, yang juga tampaknya tidak terlalu bersahabat dengan Kumpeni. Nantinya Pringgalaya dan Sunan malah akan melimpahkan semua kesalahan kepaada Natakusuma, sehingga akan makin sulit bagi Kumpeni untuk menuntut ganti rugi. Maka Natakusuma dibiarkan kembali ke Kartasura, para bupati dibiarkan kembali ke wilayah mereka masing-masing dan pasukan Jawa diperbolehkan bubar untuk menanami sawah. Sekali lagi Kumpeni dan Jawa bersatu bagaikan kulit dan daging, seperti yang dikatakan Sunan.[8]

Sebagai tanda niat baik Kumpeni, Sunan meminta ijin agar anggota garisun dibiarkan tinggal di Kartasura. Tapi Kumpeni bersikeras menarik mereka kembali. Sekalipun Sunan telah membebaskan para pasukan dari tahanan, mengembalikan senjata mereka dan menyuruh mereka menjaga kraton, Kumpeni tidak mau membiarkan mereka di sana dalam situasi yang masih tidak menentu sebab mereka bisa-bisa dijadikan tahanan. Apalagi Kumpeni ingin tahu dengan jelas bagaimana situasi di Kartasura, tidak hanya siapa-siapa dari pihak Jawa yang bertanggung jawab, tapi juga bagaimana perilaku para perwira garisun sendiri. Maka pada Januari 1742 Sunan dengan terpaksa memulangkan anggota garisun ke Semarang, sambil meminta garisun baru. Tapi Kumpeni tidak ingin cepat-cepat memberikan garisun baru sebab situasinya dianggap masih belum menentu dan sikap baik yang baru-baru ini ditunjukkan Sunan kepada Kumpeni masih belum dapat diandalkan. Penempatan garisun baru haruslah menjadi bagian dari perundingan baru. Setelahnya Verijsel menyesali ketegasan sikapnya ini. Seandainya ada garisun baru di Kartasura, banyak kejadian selanjutnya yang bisa dicegah.[9]

Verijsel, seperti halnya Batavia, memiliki gambaran yang terlalu muluk tentang besarnya kekuasaan Sunan dan persatuan di pihak Jawa. Bahkan ketika realita menunjukkan yang sebaliknya – kita sudah melihat tadi betapa rapuhnya persatuan itu bahkan pada situasi normal sekalipun – Kumpeni merasa bahwa berurusan dengan pejabat di bawah Sunan dan patih adalah pelanggaran terhadap aturan bernegara, seperti yang dikatakan Verijsel.[10] Setelah terjadinya apa yang pada intinya adalah kekalahan ini, kekuasaan Sunan mulai goyah dan pendekatannya kepada Kumpeni tidak berhasil untuk mencegahnya, malah justru menunjukkan kepada Kumpeni siapa yang selama sepuluh tahun menjadi penopang utama dari kekuasaan itu, yaitu Raden Adipati Natakusuma. Meskipun tanda-tanda bahwa Sunan mulai kehilangan kekuasaannya terhadap wilayahnya sudah terlihat, Verijsel tidak menyadarinya. Dia mencurigai bahwa jika adaperintah yang tidak dilaksanakan maka itu adalah akibat kelicikan orang Jawa, bukan oleh ketidakberdayaan Sunan. Apalagi, setelah berlalunya ancaman besar terhadap Kumpeni dia lebih memperhatikan berkurangnya ancaman terhadap dirinya daripada meningkatnya ancaman bahaya terhadap Sunan. Bahkan sampai bulan April 1742, Verijsel masih memandang situasi yang makin memburuk sebagai kesempatan untuk membuat kraton menunjukkan niat aslinya – sebab menurutnya tidak akan timbul banyak masalah seandainya Natakusuma dan Arya Pringgalaya benar-benar setia pada Sunan – dan bukannya sebagai tanda-tanda dari kemungkinan terjadinya disintegrasi negara Jawa.[11]

Dilihat dari Kartasura, situasinya agak lain. Di Pasuruan Mas Brahim masih mengepung benteng dan pihak benteng tidak dapat berbuat banyak karena garisunnya kecil sementara pasukan bantuan dari Sumenep dan Pamekasan tidak mau digerakkan dan benteng itu sudah sedemikian busuknya sehingga kayu-kayu palisadenya tergantung dari atas. Mas Brahim juga menolak untuk kembali ke sarangnya di Malang dan mengembalikan wilayah itu kepada bekas bupatinya, Tumenggung Sasrawinata. Dia justru meluaskan pengaruhnya ke Japan (Mojokerto), Wirasaba (Jombang) dan Kediri. Apalagi dia mungkin juga ikut turun tangan dalam terjadinya pemberontakan di Surabaya, yang pecah pada tanggal 1 Maret 1742. Setidaknya bupati Surengrana dan Secadirana menuduh dia telah membujuk bupati-bupati bawahan [1] Sawunggaling dan Wirasaraya dengan kata-kata:

Kamu kira untuk siapa padi yang kamu tanam itu selain untuk Kumpeni, yang harus kamu laksanakan pekerjaannya, yang harus kamu beri uang. Sekarang ini sudah dimulai. Lihat Pasuruan yang sudah bebas dari segala yang harus kamu lakukan seandainya kamu tetap bersama Surengrana dan Secadirana.[12]

Sawunggaling dan Wirasaraya berkata mereka memberontak karena para bupatinya berniat menyerahkan mereka dan Surabaya kepada Cakraningrat. Sebenarnya alasan terjadinya pemberontakan, yang membuat para bupati lari bersama keluarganya ke benteng Kumpeni, lebih sederhana dari itu. Selain memeras rakyat, mereka juga ditunjuk kraton dan tidak berasal dari wilayah itu, seperti para bupati bawahannya. Pola pemberontakan dimana bupati bawahan setempat atau orang kuat setempat menggulingkan bupati-bupati yang diangkat kraton, akan terulang dalam bulan-bulan selanjutnya di semua wilayah Jawa yang terkena perang. Ini bahkan sudah menjadi elemen perang sejak awalnya. Baru sekarang elemen ini menjadi salah satu elemen utama.

Di Tegal keributan sudah dimulai sejak awal perang, bahkan sebelum pemberontak Cina datang dan Sunan memberi perintah untuk turun ke medan laga. Pemicunya adalah Ngabehi Sutadikara, priyayi lokal, yang memainkan peran utama dalam keributan di Tegal tahun 1726. Meski dia tidak mencoba untuk menggulingkan para bupati, dia masih membuat residen mengeluarkan komentar-komentar tajam sehingga Verijsel sampai merasa perlu menegur bahwa residen “harus punya kesabaran terhadap pejabat-pejabat Jawa dan membuat mereka melaksanakan tugas dengan kata-kata lembut, bukan lewat kekasaran seperti sebelumnya sebab itu akan membuat mereka meraih kesempatan pertama untuk lepas dari beban mereka.”[13] Jarang sekali pegawai Kumpeni mengakui seperti ini bahwa Kumpeni pun bisa berbuat salah.

Di Pekalongan keributannya tidak terlalu besar tapi terjadi tarik menarik antara para penasehat yang dibawa Adipati Jayaningrat, putra Natakusuma – yang diangkat menjadi bupati pada awal perang – dari Kartasura dengan pejabat-pejabat setempat. Batang, Kendal dan Kaliwungu tampaknya tenang-tenang saja tapi sempat menerima campur tangan dari wilayah-wilayah dataran tinggi Tempuran dan Tersana. Dua wilayah ini adalah wilayah khusus kraton yang sedang diperebutkan dan pada akhirnya memerlukan intervensi militer dari Kumpeni. Tapi pada umumnya kabupaten-kabupaten pesisir Barat makin lama makin jauh dari tindakan.

Lain dengan situasi di timur. Pasuruan, Surabaya dan wilayah-wilayah pedalaman sampai Kediri lepas dari kontrol Sunan. Selain itu seluruh wilayah mulai dari Gresik sampai Lasem, termasuk kabupaten-kabupaten Mancanagara Timur seperti Jipang (Bojonegoro) dan Blora telah berada di tangan Cakraningrat dari Madura. Begitu Arya Pringgalaya kembali dari Jipang ke Kartasura bersama pasukannya pada Januari 1742, Cakraningrat menduduki wilayah yang dikosongkan itu tanpa memperdulikan protes dari Sunan dan Kumpeni. Cakraningrat bahkan sempat bergerak sampai Ngawi tapi atas tekanan dari Kumpeni dia mundur sampai perbatasan Jipang dan Blora. Kumpeni meminta agar dia menghentikan pertempuran kecuali jika pasukannya diserang orang Jawa, sebab perundingan dengan Sunan sudah dibuka kembali. Cakraningrat dengan mudah mencari alasan untuk tindakannya dan dia tidak terlalu suka dengan perundingan yang dilakukan dengan Sunan. Alasan Cakraningrat adalah bahwa usaha ini harus dituntaskan. Jika Kumpeni dapat memberinya seribu pasukan dia akan merebut Kartasura dan sekarang adalah saat yang tepat karena di musim hujan orang Jawa tidak berani bertempur dan tidak bisa menggunakan kuda-kuda mereka.[14] Salah seorang komandan Cakraningrat adalah Dipasana, yang pernah melakukan pemberontakan di daerah kelahirannya, Tuban. Setelah pertarungannya dengan macan di Kartasura pada 1737,[15] dia lari ke Madura dan kembali empat tahun kemudian untuk mencapai ambisinya di Tuban dan membalas dendam pada bupatinya.

Mengenai Cakraningrat, Sunan dapat menghibur diri dengan pemikiran bahwa pangeran yang suka perang ini dalam taraf tertentu masih bisa dikontrol Kumpeni. Ancaman yang lebih besar terhadap kewenangannya muncul di Grobogan, Kudus, Pati dan Demak, dimana pertempuran telah pecah karena dipicu oleh gerombolan Cina yang lari setelah kekalahan mereka di Semarang. Jika yang terlibat cuma orang Cina saja, itu bukan masalah besar, sebab kebanyakan gerombolan Cina ini telah terdemoralisasi dan, dengan perkecualian beberapa yang keras kepala, sudah tertarik dengan usaha Que Yonko untuk menarik mereka ke pihak Kumpeni.[16] Tapi di wilayah-wilayah tadi, orang Cina dan semua elemen-elemen perang lainnya telah bersenyawa menjadi campuran yang sangat mudah terbakar.

Area ini dikenal sebagai keranjang beras (broodschuur) Kumpeni. Penetrasi ekonomi yang dilakukan Kumpeni dan segala efek sampingannya telah membawa akibat besar. Komunitas Cina di area ini adalah yang terbesar dan sudah ada bahkan sebelum kedatangan Kumpeni dan makin membesar setelahnya. Semua jenis penyakit sosial dan ekonomi yang ditimbulkan oleh para pembeli beras, pemilik pabrik gula, penyewa desa, penyewa pasar dan penjaga gerbang pajak, sampai para pembuat indigo Kumpeni – yang tidak tahu apapun tentang pembuatan indigo tapi menekan orang Jawa penduduk desa untuk bekerja demi keuntungan pribadi mereka sendiri[17] – ada di area ini. Bandit, yang berkarakter sosial maupun politik, mewabah di area ini. Kita sudah melihat dua jenis kecenderungan ini dalam serangan-serangan terhadap orang Cina, baik yang dibantu oleh bupati maupun tidak, pada tahun-tahun sebelum perang. Sebagian area ini juga menderita akibat penebangan, dengan segala pemanfaatan dan penyalahgunaan yang terjadi terhadap tenaga kerja Jawa. Dan area ini juga merupakan pusat dari aktifitas Islam. Islam di Jawa dapat dikatakan bermula dari sini dan area ini masih ada salah satu pusat kegiatan Islam di Jawa, yaitu masjid besar Demak dan Kudus. Tidak ada tempat lain yang begitu banyak “pendeta”-nya dalam perang atau yang mengibarkan begitu banyak panji religius. Apalagi area ini punya tradisi dinasti sendiri, yaitu Kesultanan Demak, dan bahkan cikal bakal mitologis dari Wangsa Mataram ada di dekat sana yaitu di Sela.

Area ini sangat subur. Sebagian besar areanya terdiri dari endapan muara di antara Jawa dan Gunung Muria[2]. Bahkan pada abad 18 wilayah ini di musim hujan kadang tertutup air sedemikian tingginya sehingga orang dapat berlayar dari Demak ke Kudus, Pati sampai ke Juwana. Dari segi militer ini berarti area ini tidak dapat dimasuki Kumpeni di luar pada musim kemarau. Bukti lebih lanjut dari kekayaan alamnya adalah fakta bahwa satu kabupatennya bisa menyokong lebih dari satu bupati. Demak memiliki tiga bupati, Pati dua, Grobogan dua. Banyaknya jumlah bupati tidak membuat wilayah ini mudah diperintah, tapi sebaliknya justru makin memperbesar penyakit-penyakitnya. Para bupati tidak saling menetapkan batas wilayah kekuasaan yang jelas. Bawahan-bawahan mereka tinggal di desa-desa yang kadang ada di bawah seorang bupati tapi sering ditinggali bawahan dari bupati lain. Area ini juga memiliki sejumlah perdikan desa atau desa yang diikutkan ke dalam lembaga religius sehingga “bebas” dari kontrol bupati setempat. Ini, ditambah lagi dengan praktek penyewaan desa besar-besaran – biasanya disewakan kepada orang Cina, kadang kepada orang Bugis, Bali dan kadang kepada orang Belanda – menjadikan sebuah masalah besar dalam hal kontrol sosial dan politik. Bupati yang satu sering memburu bawahan bupati lain yang masuk wilayahnya. Para bupati tidak hidup harmonis sekalipun memiliki ikatan keluarga.

Arya Jayasentika dari Kudus, misalnya, memiliki putra yang menjadi bupati Juwana, Ngabehi Jayawikrama, yang menikah dengan putr Natakusuma. Saudaranya menjadi bupati Grobogan yaitu Ngabehi Martapura dan saudarinya menikah dengan bupati Blora, Ngabehi Suradigjaya, yang merupakan saudara dari Citrasoma dari Japara. Citrasoma dari Japara menikah dengan putri Natakusuma. Hampir semua bupati di wilayah ini diangkat oleh kraton dan seringkali memiliki hubungan dekat dengan keluarga raja. Bupati Kudus tadi menikah dengan putri Pangeran Arya Mataram, sementara ayah dan leluhurnya sangat dekat dengan Ratu Amangkurat, yang pernah tinggal di rumahnya ketika suami pertamanya, Adipati Setyanapura dari Japara, meninggal dan waktu itu dia belum menikah dengan Sunan Amangkurat. Tumenggung Padmanagara, bupati kedua Demak, juga menikah dengan salah seorang putri Pangeran Arya Mataram. Raden Arya Megatsari, bupati pertama Pati, adalah saudara Ratu Amangkurat. Raden Ngabehi Wiratmeja, bupati kedua Pati, adalah sepupu Ratu Amangkurat dan menikah dengan saudari Sunan Pakubuwana II. Ketika istrinya meninggal dia menikahi lagi salah seorang saudari Sunan. Sebagai pejabat yang sama-sama diangkat kraton, hubungan mereka dengan bawahan mereka sangat rapuh. Karena sering terjadi penggantian bupati, dimana selama lima belas tahun terakhir Demak mengalami lima kali, Japara dua, Kudus dua, Pati tiga, Juwana tiga, Cengkasewu lima dan Grobogan lima, maka area ini tidak pernah kekurangan penggugat posisi bupati, baik dari dalam maupun dari luar keluarga. Kebanyakan dari pergantian bupati yang disebutkan di atas adalah suksesi normal dari ayah ke putra, tapi tidak selalu berjalan mulus tanpa tantangan. Jika tantangan itu datangnya dari luar keluarga, penggugatnya seringkali adalah keturunan atau kerabat dari keluarga bupati sebelumnya. Ngabehi Secadirana, yang disebutkan oleh Verijsel tadi sebagai satu-satunya priyayi yang meminta perlindungan Kumpeni, adalah menantu bekas bupati Japara, Setyanapura dan itulah sebab dari perselisihannya dengan bupati yang sedang menjabat. Pokoknya area ini mengandung cukup banyak bahan yang mudah terbakar untuk memicu terjadinya pemberontakan, bahkan tanpa kehadiran pemberontak Cina sekalipun. Di area inilah Kumpeni dan Sunan berharap bupati-bupatinya bisa memulihkan ketertiban dan menindas pemberontak Cina yang masih tersisa. Tidak heran jika harapan itu tidak terpenuhi.

Sejak Januari gosip sudah sampai di Semarang bahwa Singseh (Tan Sinko), pemimpin orang Cina Jawa[3], dan Ngabehi Martapura dari Grobogan, yang setidaknya dengan ijin diam-diam dari Natakusuma mendukung pemberontak Cina sejak awal, berniat mengangkat Mas Garendi, putra Pangeran Tepasana yang berhasil lolos, menjadi raja.[18] Setelah Pangeran Tepasana dieksekusi, Mas Garendi lari bersama pamannya, Pangeran Wiramanggala, ke Semarang. Di dekat Torbaya para pelarian ini ditangkap orang Cina.[19] Atas perintah Natakusuma, semua yang berumur di atas lima belas tahun dibunuh dan sejak itu Mas Garendi yang masih kecil itu ditahan oleh Singseh.[20] Martapura dan Singseh mendapat sekutu baru yang juga sudah terkenal, Mangunoneng, mantan bupati Pati.[21] Setelah dicopot pada tahun 1728, dia bertugas di Kartasura di bawah komando Patih Natakusuma. Dalam situasi kacau ini dia melihat bahwa kesempatan terbuka lagi baginya di Pati dan dia kembali ke sana, mungkin dengan restu dari Natakusuma. Tapi baru pada awal April 1742 Kumpeni menerima informasi yang pasti bahwa Mas Garendi telah diangkat sebagai Sunan oleh para pemberontak.[22] Dan pada saat itu situasinya sudah tidak dapat dikendalikan lagi.

Pada awal Februari, Mangunoneng dan Singseh berhasil merebut Kudus dan Pati, memukul mundur Citrasoma dari Japara, Arya Jayasentika dari Kudus, Wirasastra dari Demak dan komisaris Sunan, Ngabehi Sutawijaya yang dikirim untuk mengepung dan mengalahkan mereka dengan bantuan pasukan tambahan dari Blora, Warung, Sela dan Grobogan. Pasukan dari Grobogan tidak pernah muncul sebab Martapura dari Grobogan sudah bergabung dengan para pemberontak sementara Blora, Warung dan Sela diserang oleh Dipasana dari Tuban dengan pasukan Maduranya dan penduduknya diceraiberaikan. Citrasoma, Arya Jayasentika dan putranya, Ngabehi Jayawikrama dari Juwana mundur ke Mayong di kabupaten Japara, sementara Wirasastra mundur ke Demak. Pada akhir Februari, Wirasastra melaporkan bahwa para pemberontak telah merebut seluruh area di sebelah timur dan timur laut Demak dan bahwa dia tidak akan mampu bertahan tanpa pertolongan Kumpeni. Kumpeni sudah pernah menolak permintaan Sunan untuk menambah kekuatan dari ekspedisi pertama dan tidak melihat adanya alasan untuk mengubah keputusannya. Verijsel tidak bisa mengerti mengapa beberapa ratus orang Cina saja sudah dapat menguasai begitu banyak desa, sementara Wirasastra memiliki ribuan pasukan Jawa di bawah komandonya. Selain itu Kumpeni enggan sebab seluruh area itu sedang tertutup air karena sedang musim hujan. Kesan Verijsel adalah bahwa para bupati membesar-besarkan ancaman itu. Dan lagi makin banyak orang Cina yang datang ke Semarang untuk menyerahkan diri – dan sebuah pemukiman Cina baru dibangun di seberang pasar garam untuk menampung dua ratus orang pertama. Laporan dari Japara mengatakan bahwa ada orang Cina dengan jumlah sekitar separoh dari jumlah pemberontak Cina yang telah menimbulkan begitu banyak kesulitan bagi para bupati di area Kudus, Pati dan Demak akan menyerahkan diri dan beberapa mata-mata Kumpeni melaporkan bahwa masalah Arya Jayasentika dan Wirasastra dengan Singseh ditimbulkan oleh fakta bahwa keduanya telah gagal mengembalikan uang Singseh yang dipercayakan penjagaannya kepada mereka.[23] Tapi pada awal Maret, para bupati tidak dapat bertahan lagi. Citrasoma dan Arya Jayasentika dalam benteng mereka di Mayong sudah dua kali bertahan dari serangan Singseh, lalu mereka kabur dan mencari perlindungan di Japara. Tapi residen tidak diperbolehkan membiarkan mereka masuk ke dalam benteng sebab mereka masih belum dapat dipercaya. Wirasastra bahkan harus melompat ke laut dan meraih sebuah perahu supaya bisa lepas dari para pengejarnya. Dia tiba di Semarang via Gemulak pada tanggal 11 Maret.[24]

Sementara Verijsel masih ragu-ragu bagaimana menafsirkan situasi baru ini, Sunan tidak punya keraguan lagi. Perang melawan Kumpeni berubah menjadi pemberontakan melawan dirinya.  Dengan adanya ancaman dari orang Madura di Blora dan Jipang, dan sekarang ancaman dari pemberontak Cina dengan sekutu Jawanya di Kudus, Pati, Demak dan Grobogan, belum lagi pemberontak Cina yang ada di Kedu yang tujuannya sama sekali belum jelas, Sunan tidak bisa membiarkan Natakusuma meninggalkan Kartasura untuk bernegosiasi dengan Kumpeni di Semarang. Jika penyokong negara ini sampai pergi, rakyat akan mengungsi dari Kartasura. Maka sebagai gantinya Tumenggung Tirtawiguna dikirim ke Semarang bersama dengan mantan bupati Japara, Adipati Citrasoma, ayah dari bupati Japara yang sekarang dan Tumenggung Suradipura. Tirtawiguna mendapat kekuasaan penuh untuk melaksanakan perundingan.[25] Ketika dia tiba di Semarang pada tanggal 8 Maret, dia mendapati bahwa tidak banyak yang bisa dirundingkan sebab Verijsel belum menerima instruksi dari Batavia. Tapi Tirtawiguna bisa memberikan gambaran yang lebih jelas tentang situasi di kraton dan tentang perasaan Sunan. Meskipun sudah saling bertukar surat, Kumpeni masih belum memiliki informasi tangan pertama dari kraton sejak pecahnya perang. Memang pada bulan Februari, Kyahi Mas Yudanagara, putra dari bupati Semarang, berada di kraton selama beberapa hari atas permintaan Sunan. Kumpeni menetapkan begitu banyak batasan dalam kunjungannya ini – apa yang boleh dibicarakan, hadiah apa yang tidak boleh ia terima, dsb. – sehingga kunjungannya ini tidak membawa banyak  informasi yang berguna.[26] Kyahi Mas sendiri, yang sudah lama diasingkan di Batavia, bukanlah orang yang tepat untuk mencari informasi semacam itu. Sementara itu Tirtawiguna adalah orang yang sangat tahu tentang situasi di kraton, dan juga dipercayai Kumpeni sampai pada taraf tertentu.

Tirtawiguna berusaha memberi kesan kepada Verijsel tentang betapa seriusnya situasi ini dan bahwa ancaman terhadap kedudukan Sunan tidak main-main. Jika tidak mendapat garisun baru, Sunan akan dengan mudah kehilangan kekuasaannya yang masih tersisa dan akan muncul kesan bahwa Kumpeni tidak mau mendukungnya dan itu akan menjadi alasan kuat bagi semua orang Jawa yang belum berpihak pada pemberontak dan sedang menanti-nanti siapa yang menang untuk menarik semua dukungan aktif mereka terhadap Sunan. Tapi tanpa perintah Batavia, Verijsel tidak dapat mengirimkan garisun baru. Tirtawiguna bersikeras, jika tidak dapat mengirimkan garisun, setidaknya sebuah tanda perwakilan Kumpeni kepada kraton. Verijsel merasa dia sebaiknya tidak menolak permintaan ini sebab jika dipenuhi maka semua keraguan yang ada di antara Sunan dan Kumpeni akan lenyap dan mencegah intrik-intrik jahat Singseh dan pasukan Jawanya. Dan yang paling penting, Kumpeni bisa menempatkan mata-mata untuk mencari tahu rahasia-rahasia kraton.

Maka pada tanggal 14 Maret Kapten Joan Andries Baron van Hohendorff, yang sudah sering ke kraton dan katanya dihormati oleh Sunan dan pembesar kraton lainnya, berangkat ke Kartasura. Dia dibantu oleh Ensign Ferdinand Carel Hoogwits, sementara Balthazar Toutlemonde, yang tahu sedikit bahasa Jawa, menjadi penterjemah dan sekretaris. Selain membawa pembantu seperti biasa, mereka juga pergi bersama seorang kopral dan enam prajurit untuk menambah gengsi rombongan. Mereka dilarang keras untuk terlibat dalam negosiasi apapun. Kedatangan mereka hanya untuk menentramkan Sunan dan mencari informasi: tentang orang Madura, tentang orang Cina tapi terutama tentang Natakusuma.  Apakah Natakusuma punya kontak dengan orang Cina atau Mas Brahim dan apakah Sunan benar-benar mempercayainya? Mereka harus mencari informasi dari para pembantu dan terutama dari para wanita, yang seringkali menjadi cara terbaik untuk mendapatkan informasi dari kabinet rahasia raja. Seberapa besar pengaruh Ratu Amangkurat terhadap putranya? Siapa selir kesayangan Sunan? Mereka diberi dana untuk digunakan sebagai suap jika diperlukan, tapi penggunaannya harus hati-hati dan dipertanggungjawabkan dengan teliti. Mereka tidak boleh percaya kepada para menteri sebab semua menteri itu telah tercoreng oleh kuas yang sama dan tidak tahu arti kesetiaan, yang memang sangat jarang dijumpai pada orang Jawa, sama langkanya dengan gagak putih. Mereka harus mencari tahu siapa yang sedang naik daun, tapi jangan terlalu dekat dengannya supaya tidak menimbulkan kecemburuan. Kalau bisa jangan mengatakan apapun tentang Kapten Van Velsen dan kehancuran bentengnya. Mereka dikirim untuk melihat dan mendengar, bukan untuk mencampuri urusan. Keramahan dan kesopanan akan lebih berguna bagi mereka daripada keangkuhan.[27]

Dengan instruksi seperti itu, Van Hohendorff tiba pada tanggal 17 Maret di Kartasura. Dia disambut dengan kemegahan yang melampaui ukuran rombongannya dan setelah melewati kerumunan dari beberapa ribu orang Jawa dia menyeberangi Paseban dan masuk kraton. Sunan tampaknya sangat lega dengan kedatangannya, bahkan merasa cukup aman untuk mengirimkan pasukan yang masih tersisa untuk menyerang para pemberontak. Arya Pringgalaya dikirim pada tanggal 21 Maret bersama dengan Raden Arya Malayakusuma, ketiga Tumenggung: Mangunnagara, Wiraguna dan Singaranu dan pasukan sebanyak 2.500 orang untuk menyerang Grobogan. Keesokan harinya Natakusuma dan putranya, Raden Arya Wiryadiningrat, membawa pasukan yang lebih kecil ke Semarang untuk menyerang para pemberontak di Demak. Dan para bupati Kedu akhirnya dikirim kembali ke wilayah mereka untuk menghadang pemberontak Cina yang masih ada di sana. Sunan mempercayakan dirinya sepenuhnya kepada Van Hohendorff, yang diperbolehkan mengunjunginya siang malam tanpa perlu melapor kepada para pembesar kraton. Dia bahkan menghadiahi Van Hohendorff dengan sebuah pedang Jawa berlapis emas dan memintanya untuk mengenakan pedang itu sebagai tanda rasa hormat dan menggunakannya jika perlu, sebab hampir semua pembesar pergi berperang. Sunan tampaknya tidak ragu kepada Pringgalaya, tapi soal Natakusuma, dia hanya bisa berharap.[28]

Tampaknya untuk sekali ini Sunan membuat perhitungan yang tepat. Pringgalaya bergerak cukup cepat ke Grobogan, dan pada awal April dia berhasil mengalahkan sebagian pasukan Ngabehi Martapura.[29] Setelah itu dia tampaknya kehilangan jejak para pemberontak. Para pemberontak pada hari Jumat 6 April 1742 atau 29 Muharam, Alip 1667 A.J. di Pati mengangkat Mas Garendi menjadi Sunan Amangkurat. Mangunoneng diangkat menjadi patih. Tampaknya mata-mata Pringgalaya kehilangan jejak kekuatan utama pemberontak dan melaporkan bahwa Mas Garendi masih ada di Pati dan dijaga sejumlah kecil orang Cina. Singseh masih ada di Kudus, sementara Panjang, pemimpin Cina Batavia, yang tampaknya tidak cocok dengan Singseh dan pasukan Cina Jawanya, ada di Rembang. Ngabehi Martapura masih ada di kediamannya di Grobogan bersama sejumlah kecil orang Cina. Pringgalaya kemudian menyerang Martapura dan berhasil memukulnya mundur sampai ke Bicak. Di sana kekuatan utama pemberontak – yang katanya terdiri dari seribu orang Cina dan seribu orang Jawa di bawah komando Martapura, Mangunoneng dan Panjang dan diperkuat oleh sekitar tiga ratus orang Bugis di bawah komando Tamby, bekas kepala pedagang India di Juwana – menggempur Pringgalaya dan pada tanggal 7 Mei Pringgalaya kalah telak. Tumenggung Singaranu dan Wiraguna terbunuh, Mangunnagara ditinggalkan pasukannya sementara Malayakusuma kehilangan separoh pasukannya setelah kalah sementara yang separoh lagi lari dan kereta perbekalannya dirampas pemberontak. Pringgalaya mundur bersama sisa-sisa kekuatannya ke Kampak.[30]

Kalau Pringgalaya belum beruntung di medan laga, Natakusuma bahkan tidak mencoba keberuntungannya. Dia tiba di Semarang pada tanggal 29 Maret dan setelah bergabung dengan kekuatan bupati Kaliwungu dan Kendal dan sisa-sisa kekuatan Wirasastra, dia berangkat ke Demak. Setelah lima minggu, pada saat Pringgalaya sudah kalah, dia bahkan belum sampai di Demak, yang jaraknya hanya lima jam dari Semarang. Meskipun dia menyalahkan kondisi jalan dan tingginya genangan air – dan ini memang ada benarnya – alasan sebenarnya adalah kondisi mental sang patih. Sang patih menghadapi dilema berat. Sekalipun dia berhasil mengalahkan para pemberontak, itu tidak akan cukup untuk memulihkan dirinya di mata Sunan dan jelas tidak di mata Kumpeni. Cepat atau lambat dia akan dimintai pertanggungjawaban atas terjadinya perang lalu dicopot atau bahkan diasingkan. Bergabung dengan pemberontak juga bukan pilihan yang menarik. Seandainyapun dia sudah tidak lagi setia kepada Sunan, kemungkinan besar para pemberontak akan kalah. Apalagi dia harus memperhitungkan posisi dua putranya, Jayaningrat bupati Pekalongan dan Wiryadiningrat bupati Panekar. Mereka mungkin bisa terus bertahan setelah dia jatuh tapi mereka tidak akan selamat jika dia bergabung dengan pemberontak, dan dia sendiri bisa jadi akan diasingkan atau bahkan dihukum mati. Karena tidak mampu memilih sang patih tidak berbuat apa-apa. Dia menunggu sampai jalannya perang berubah ke arah baru yang tak terduga.

Jika gosip-gosip yang beredar saat itu bisa dipercaya, segalanya mungkin terjadi. Untuk menarik Natakusuma dan bupati-bupati lain ke pihak mereka, para pemberontak mengklaim bahwa Mas Garendi telah diangkat dengan dukungan Cakraningrat dan Mas Brahim dan bahwa jung-jung dari Cina sudah berdatangan. Pada saat yang sama mereka mencoba menciptakan kebingungan dan kecurigaan dengan mengirimkan surat-surat ke Semarang yang mengatakan secara tidak langsung bahwa bupati ini atau itu atau bahkan Natakusuma sudah bergabung dengan mereka. Karena pada saat yang sama utusan Cakraningrat tertangkap basah sedang mengumpulkan informasi tentang kekuatan pasukan Bali dan pasukan pribumi Kumpeni lainnya dan ditemukan poster-poster yang dalam bahasa Belanda patah-patah yang menyerukan agar pasukan Eropa bergabung dengan Mas Brahim dan apalagi istri Tumenggung Wirasastra didapati berusaha menyewa orang Bugis untuk suaminya, Kumpeni menjadi kuatir dan memeriksa kebenaran gosip-gosip itu.[31] Sebuah komisi dikirim ke Madura dan dua bulan kemudian sebuah komisi dikirim ke sana lagi langsung dari Batavia. Di antara Semarang dan Batavia ada perbedaan pendapat soal Cakraningrat. Semarang mencoba sebisanya untuk tidak mengikutsertakan dia ke dalam perang, sementara Batavia berpendapat bahwa Cakraningrat harus disambut baik asalkan dia bergabung ke dalam kekuatan Kumpeni. Tuduhan bahwa dia berhubungan dengan pemberontak tidak dapat dibuktikan. Dia sama sekali tidak senang ketika Kumpeni memaafkan Sunan. Menurutnya Sunan lebih baik diturunkan dari tahta sebab jika tidak masalah yang sama akan timbul lagi dalam waktu dua atau tiga tahun. Dia sendiri tidak akan berkeberatan memenggal kepala Sunan. Kumpeni seharusnya tidak mengirim komisi tapi dua ribu pasukan ke Kartasura untuk berjaga-jaga kalau pemberontak Cina mencoba merebutnya. Tanpa pasukan Kumpeni, Natakusuma atau Pringgalaya, sekalipun mereka diberi sembilan atau sepuluh ribu pasukan Jawa, tak akan melakukan apapun terhadap pemberontak Cina, yang terbukti bertempur dengan berani.[32] Kumpeni memang menolak untuk menyertakan pasukannya ke dalam kekuatan Natakusuma, dengan pemikiran bahwa jika Natakusuma tidak dapat mengalahkan para pemberontak dengan kekuatannya yang besar, maka Kumpeni terpaksa harus memanggil begitu banyak pasukan dari Batavia sehingga lebih baik berperang tanpa bantuan Jawa sekalian.[33]

Pada akhirnya bukan saran terang-terangan dari Cakraningrat, melainkan kekalahan Pringgalaya yang membuat Kumpeni beralih dari posisi hati-hati menjadi posisi hitung-hitung dan akhirnya mengambil posisi bertindak. Verijsel masih mencoba meredam situasi di hadapan Sunan. Natakusuma telah memanggil bupati Pekalongan, Batang dan Pamalang sementar Suralaya dari Brebes sudah tiba di Semarang. Yudanagara dari Banyumas dan Dipayuda dari Pamerden hendak berangkat untuk membantu Pringgalaya. Jika semuanya berusaha sebaik mungkin, situasinya akan membaik. Tapi Van Hohendorff menulis bahwa jika situasi tidak dapat dikendalikan lagi dia akan mengajak Sunan untuk pergi bersama keluarga dan hartanya ke Semarang. Jika itu tidak mungkin dilakukan, Van Hohendorff dan rombongan kecilnya akan menomorsatukan keselamatan mereka sendiri dan pergi secepatnya ke Semarang. Verijsel meminta Batavia mengirimkan bala bantuan dalam jumlah yang memungkinkan Kumpeni bertindak sendiri dan mampu memilih pihak. Sebab toh pada akhirnya memang itu yang akan terjadi dan Kumpeni harus memilih Sunan yang sekarang. Kumpeni harus mencegah terjadinya kup terhadap Sunan, sebab jika itu terjadi Kumpeni akan kehilangan semua klaimnya, belum lagi kesulitan-kesulitan lain yang akan muncul. Selama niatan Sunan dan menteri-menterinya tidak dapat dipastikan, tidak ada salahnya mengirimkan sebagian dari pasukan Kumpeni yang kecil jumlahnya itu ke Kartasura. Apalagi pihak Jawa sedang mencoba untuk menyuap pasukan pribumi Kumpeni dengan uang dalam jumlah besar dan beberapa dari antara mereka sudah melakukan desersi. Maka pasukan pribumi tidak dapat dipercaya untuk operasi ke wilayah pedalaman.[34] Selain itu Tirtawiguna telah meyakinkan Verijsel bahwa dia harus bertindak sekarang sebelum semuanya terlambat. Mengingat apa yang terjadi pada garisun di sana tahun itu, Verijsel memerlukan lebih daripada sekedar janji, dia meminta jaminan. Maka dia meminta agar putra mahkota, Pangeran Ngabehi Loringpasar dan putra-putra tertua Natakusuma dan Arya Pringgalaya dijadikan tahanan untuk jaminan. Sementara itu pasukan akan ditarik dari Tegal dan Japara untuk menambah jumlah pasukan sampai memadai untuk bergerak ke Kartasura.[35]

Sunan setuju asalkan putra mahkota, yang masih kecil dan sakit-sakitan serta tidak pernah keluar kraton, digantikan oleh Ratu Amangkurat sementara Pangeran Ngabehi Loringpasar, yang juga sedang sakit, digantikan oleh Pangeran Buminata. Verijsel bersedia menerima Ratu Amangkurat, tapi dia bersikeras mendapatkan putra mahkota. Ketika waktu yang berharga sedang dihabiskan untuk perundingan masalah ini, jalan ke Kartasura tiba-tiba diduduki pemberontak Cina. Menurut gosip, Natakusuma tidak hanya telah bergabung dengan pemberontak Cina tapi juga membocorkan kepada mereka soal penyerahan tahanan sebagai syarat pengiriman garisun itu, karena dia tidak mau putranya dijadikan tahanan. Tampaknya gosip ini ada benarnya, sebab sekalipun Natakusuma tidak bergabung dengan para pemberontak, nyatanya dia tidak menyerang mereka. Dia membiarkan mereka lolos sehingga bisa menduduki jalan ke Kartasura dan mengingat kebenciannya terhadap Pringgalaya, dia mungkin tidak keberatan jika para pemberontak memusatkan serangan terhadap Pringgalaya. Verijsel menyarankan agar Natakusuma mengirimkan sebagian pasukannya untuk membebaskan jalan ke Kartasura. Natakusuma menjawab bahwa pasukannya hanya terdiri dari tiga ribu orang. Jika untuk membuka jalan ke Kartasura diperlukan dua ribu orang mendingan dia berangkat dengan seluruh pasukannya ke sana, maka lebih baik Kumpeni saja yang membuka jalan itu. Verijsel kemudian menyerahkan kepada Natakusuma sendiri apakah dia hendak tetap berada di Demak atau mencoba membuka jalan ke Kartasura.[36]

Meskipun mulanya Natakusuma bersikeras bahwa dia tidak dapat meninggalkan Demak karena setiap hari dia diserang pemberontak, dia berubah pikiran ketika benteng dari garis depannya berhasil direbut pemberontak, dimana bupati Kaliwungu juga terbunuh. Bupati-bupati lain menjadi jerih karenanya dan Natakusuma memutuskan untuk menghentikan pertempuran dan membawa pasukannya ke jalan menuju Kartasura.[37] Ketika lewat Semarang, dia mengabarkan keputusannya itu lewat surat kepada Verijsel sambil menambahkan bahwa ia bersedia mengunjungi Verijsel. Verijsel sendiri sudah muak dengan kelambanan Natakusuma dan sabotase yang jelas-jelas dilakukannya dan berkata bahwa ia menyerahkan keputusan itu kepada sang patih, tapi menambahkan bahwa dia akan merasa mendapat kehormatan jika sang patih bersedia berkunjung. Keesokan harinya Verijsel memutuskan untuk membersihkan permainan dari bidak yang makin lama makin tidak berguna ini dengan cara menahan sang patih jika dia muncul di Semarang. Maka pada tanggal 17 Juni Natakusuma ditahan tanpa kesulitan apapun di dalam ruang pertemuan di benteng Semarang. Dua jam kemudian datang surat dari Kartasura dimana Sunan meminta Natakusuma ditahan.[38] Meskipun keputusan itu diambil Verijsel, tampaknya Natakusuma telah menemukan jalan yang paling ringan untuk keluar dari dilemanya.

Setelah Natakusuma dibereskan, Verijsel memutuskan untuk meneruskan rencana pengambilan tahanan sebagai jaminan tadi dan membuat brigade terbang[4] yang terdiri dari tiga ratus orang Eropa dan lima ratus pribumi untuk membuka jalan ke Kartasura dan menjemput para tahanan, yang akan dikawal pasukan Sunan sampai Salatiga. Rencana ini gagal seketika sebab ke tiga Tumenggung: Rajaniti, Mangkuyuda dan Mangkupraja diserang dekat Salatiga dan harus mundur ke Ampel, dimana mereka mendapat bantuan dari Pringgalaya dan sisa-sisa pasukannya. Sementara itu Semarang dikejutkan oleh gosip bahwa bupati-bupati yang masih ada dalam pasukan Natakusuma telah memutuskan pada tanggal 19 Juni di hadapan Kyahi Mas Yudanagara untuk menyerang brigade terbang dalam perjalanan ke Salatiga. Verijsel langsung membatalkan keberangkatan brigade itu untuk memeriksa kebenaran gosip itu. Ketika ternyata gosip itu cuma sebuah gosip, datang surat dari Batavia yang mengabarkan bahwa Dewan Hindia sangat tidak setuju dengan rencana untuk mengirim pasukan ke Kartasura dengan jaminan tahanan. Seharusnya Batavia dimintai persetujuan dan selain itu Sunan harus didesak supaya setidaknya menyetujui penyerahan Madura atau syarat-syarat lain dalam instruksi. Selain itu Verijsel seharusnya bertahan pada daftar tahanan semula dan tidak mau menerima pengganti.[39] Meskipun Verijsel merasa kritik Batavia itu tidak pada tempatnya dan ragu apakah masalah ini harus diperumit lagi dengan menyertakan tuntutan-tuntutan yang lebih tepat untuk masa damai ke dalamnya, dia menjelaskan isi instruksi yang diterimanya kepada Tirtawiguna dan bahkan menyuruh agar instruksi itu diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa atas permintaan Tirtawiguna. Selain itu posisi Loringpasar dalam daftar tahanan itu harus diganti dengan putra Natakusuma. Pada tanggal 27 Juni, Van Hohendorff diberitahu tentang perkembangan terakhir dan garis besar dari syarat-syarat perdamaian.[40] Tapi surat itu tidak pernah sampai kepadanya.

Setelah berziarah sebentar di makam suci di Gubug, kekuatan utama pemberontak tiba di jalan ke Kartasura. Mereka telah memukul mundur kekuatan Rajaniti dan bupati-bupati Kedu dari Tengaran sampai mundur ke Ampel, tempat perkemahan Pringgalaya. Kemudian Pringgalaya dipukul mundur ke Boyolali dan sampai ke pohon tempat penerimaan tamu-tamu dari Kumpeni. Pada saat itu seluruh Kartasura sudah mengungsi. Van Hohendorff juga menyarankan agar Sunan lari, tapi Tumenggung Wirajaya dan bekas bupati Japara, Citrasoma, minta agar Sunan menunggu apakah usaha terakhir yang dilakukan saudara-saudaranya bisa membendung serbuan ini. Pada tanggal 29 Juni para pangeran berangkat bersama pasukan mereka untuk membantu Pringgalaya. Keesokan harinya mereka terlihat sedang kabur melewati sawah-sawah pada jam dua belas siang. Para pemenang pertempuran sampai di Kartasura sementara kekuatan pemberontak lainnya sedang menghadapi Pringgalaya. Van Hohendorff mendapat peringatan dari Tumenggung Wirajaya dan pergi bersama orang-orangnya ke kraton dan mendapatinya dalam situasi kacau balau sementara Sunan sedang berdiri memegang tombak di gerbang paling dalam. Sekali lagi Van Hohendorff menyarankan agar Sunan lari sebelum mereka semua terperangkap dalam kraton. Sunan kemudian menyuruh gerbang-gerbang kraton depan ditutup, memasukkan orang-orang yang masih ada – jumlahnya sekitar dua ribu – ke kraton dalam, lalu menyuruh ibunya, Ratu Amangkurat, dijemput. Setelah saudarinya, istri-istri dan anaknya dibantu naik kuda – Ratu Amangkurat harus digotong dua orang Eropa sebab dia terus menerus pingsan dan tidak dapat naik kuda – seluruh rombongan itu berangkat dalam tangis, teriakan dan ratapan menuju pintu belakang kraton. Mereka berdesak-desakan dan tombak-tombak yang dibawa orang Jawa membuat banyak orang terluka dan mereka akhirnya berhasil keluar dari gerbang pertama. Sebelum mereka sempat mencapai gerbang kedua, mereka mendengar para pemberontak melepaskan tembakan di Paseban dan Sitinggil dan mendobrak masuk ke kraton. Dengan panik semua orang berlari ke kraton belakang dan gerbang menjadi macet oleh barang-barang, kantong uang, emas, perak, tempat sirih emas dan harta benda lain yang ditinggalkan begitu saja. Di sini Ratu Amangkurat menyadari bahwa lari lebih baik daripada pingsan dan minta agar dinaikkan ke atas kuda. Dengan susah payah mereka berhasil mencapai pintu keluar tapi ternyata para pemberontak sudah menunggu di luar. Dilepaskannya tembakan membuat keadaan menjadi tidak karuan. Para pemberontak menambah kekacauan dengan melemparkan petasan ke arah para wanita. Beberapa istri Sunan jatuh dari kuda dan di tengah-tengah ribuan wanita yang menangis dan menjerit-jerit semua orang mencoba lari atau memanjat tembok yang tinggi itu. Sunan dan Van Hohendorff tidak dapat berbuat seperi itu dan jumlah mereka terlalu sedikit untuk membuka jalan keluar sehingga mereka mundur ke sebuah lubang kecil di tembok yang ditutup dengan tombak dan cheveaux-de-frise. Di sana Sunan kehilangan kudanya dan terpaksa digendong Van Hohendorff keluar kraton ke sawah-sawah. Di sana mereka mendapatkan sebuah kuda untuk Sunan dan rombongan kecil itu bersama putra mahkota lari lewat Bengawan Solo ke arah Kamagetan. Pada malam pertama, Sunan harus tidur dengan berbantalkan pelana Van Hohendorff.[41]

Kejatuhan Kartasura pada tanggal 30 Juni itu membawa perubahan total pada situasi. Baru pada tanggal 18 Juli Verijsel menerima surat dari Hohendorff yang menceritakan tentang apa yang terjadi dan bahwa dia dan Sunan berniat pergi ke Semarang lewat Surabaya. Pada saat itu Verijsel memutuskan bahwa apapun yang akan terjadi pada diri Sunan, Kumpeni pertama-tama harus mengamankan kepentingannya. Dia telah menerima bala bantuan dari Batavia berupa 360 orang Ambon dari Ambon dan Kraeng Tanete yang terkenal sudah tiba dari Sulawesi Selatan bersama orang-orangnya. Verijsel masih meragukan kegunaan Kraeng Tanete. Kraeng Tanete hanya membawa separoh dari delapan atau sembilan ratus orang yang dijanjikan padahal yang diminta dua ribu orang. Orang-orangnya pun tidak meyakinkan, tulis Gubernur Adriaan Hendrik-Smout dari Makasar. Mereka puas dengan yang sedikit, dan selama mereka diberi perintah sederhana dan tidak ditaruh di bawah komandan Eropa yang berdisiplin serta dibiarkan seperti yang mereka mau, mereka tidak segan memberikan nyawa mereka. Untuk amannya, penterjemah ketiga dari Makasar, Willem Mulder, disertakan ke dalam rombongan ini sebab dia tahu bagaimana menghadapi Yang Mulia Pangeran.[42] Setelah mendapat kekuatan besar ini Verijsel memutuskan bahwa prioritas pertama Kumpeni bukanlah pemberontak ataupun Sunan, tapi para bupati pesisir. Setelah para bupati pesisir sudah ada di tangan Kumpeni, syarat yang paling berat dari instruksinya akan terpenuhi, sementara syarat-syarat lainnya akan bisa dengan mudah dirundingkan dengan siapapun yang nanti akhirnya menjadi Sunan.[43]

Penahanan terhadap Natakusuma dan jatuhnya Kartasura membuat para bupati lepas satu per satu. Apa yang selama hampir setahun sekedar angan-angan kini menjadi kenyataan dan satu per satu bupati-bupati Pasisir Barat meminta perlindungan Kumpeni.[44] Bagi Batavia ini tampaknya adalah saat yang tepat untuk memberi mandat kepada Verijsel untuk menawarkan perlindungan kepada semua bupati yang berminat. Verijsel tidak setuju. Saat itu para bupati Pasisir Barat telah beralih kepada Kumpeni, tapi di Pasisir Timur mandat itu tidak akan berarti sebab sebagian wilayahnya masih harus direbut dari para pemberontak, dan sebagian masih diduduki Cakraningrat, sementara bupati-bupati “pemberontak” di Surabaya tampaknya siap untuk bekerja sama. Maka mandat itu hanya akan berlaku bagi bupati-bupati wilayah pedalaman dan itu bisa-bisa hanya membawa masalah dan tidak membawa keuntungan, sekalipun masalahnya hanya Sunan bahwa mendapat kesan bahwa Kumpeni ingin merebut semua wilayah kekuasaannya.[45] Seperti yang sering terjadi dalam perang, Verijsel menentang usulan-usulan Batavia yang selalu ingin menyapu bersih segalanya itu dan meneruskan pengunaannya pendekatan langkah-demi-langkah-nya.

Dari kunjungan singkat Kapten Mom ke Kaliwungu diketahui bahwa kabupaten-kabupaten Barat tampaknya tidak memerlukan banyak bantuan militer. Maka sekarang semua perhatian dapat dipusatkan pada kabupaten-kabupaten Timur. Pada tanggal 18 Juli Mom mendaratkan pasukannya, yang terdiri dari brigade terbang yang sudah dibentuk sebelumnya itu bersama Kraeng Tanete dan orang-orangnya, di Kuala Demak. Ketika melihat pasukan Kumpeni, sejumlah kecil pemberontak lari dan Mom dapat menguasai Kuala Demak tanpa kesulitan. Dari tiga bupati di Demak, Tumenggung Wirasastra telah bergabung dengan Kumpeni, tapi Tumenggung Padmanagara dan Ngabehi Martadipura telah berpihak kepada pemberontak. Selama ekspedisinya yang gagal ke Demak, Natakusuma telah menunjuk Raden Wiranagara sebagai ganti saudaranya Martadipura, tapi dia belum berhasil menegakkan kewenangannya. Ekspedisi Mom tampaknya memberinya kesempatan kedua dan dia bergabung dengan Mom bersama dengan seorang calon lokal, Mas Martanagara. Verijsel mengijinkannya dengan alasan bahwa harus ada orang yang mengumpulkan kembali penduduk Demak yang tercerai berai dan memutuskan untuk menunda sementara keputusan tentang permintaan Tumenggung Wirasastra untuk dipulangkan ke Demak. Rakyat tampaknya bersedia menerima Wiranagara tapi membenci Wirasastra yang diangkat kraton itu. Pada saat itu Verijsel yang pragmatis menjadi yakin bahwa lebih baik mengangkat kandidat lokal yang pengikutnya jelas daripada orang-orang yang diangkat kraton, betapa pun besarnya pengakuan kesetiaannya.[46]

Pada tanggal 21 Juli, setelah pertempuran selama lima jam, Mom berhasil memukul mundur para pemberontak dari benteng mereka yang terletak sekitar setengah jam perjalanan di atas Kuala Demak. Dia kemudian berhenti untuk membangun benteng baru dan mengirimkan sejumlah besar kayu yang ditemukannya dan sejumlah besar beras yang atas usaha Raden Wiranagara dibawa para penduduk untuk dijual. Para pemberontak butuh waktu untuk memulihkan diri, tapi setelah bala bantuan datang dari Kartasura di bawah pimpinan Padmanagara dan Martadipura, mereka menyerang balik. Orang Cina dipimpin oleh Encik Ping alias Lim Pinko, pemilik pabrik gula di Bulung yang pada tahun 1740 pabriknya diserang orang Jawa dimana Kumpeni berhasil mendapatkan kompensasi baginya. Orang Cina yang dihadapi Mom umumnya adalah orang Cina lokal di bawah pemimpin mereka Lim Pinko dan Tan Sinko (Singseh), sementara orang Cina Batavia yang dipimpin Que Panjang (Oei Panko) telah pergi bersama Mas Garendi dan Mangunoneng ke Kartasura. Setelah melakukan sejumlah bentrokan, Mom bergerak pada malam tanggal 8-9 Agustus ke Demak dan memukul mundur para pemberontak yang di antaranya terdapat banyak “pendeta”.[47] Verijsel menyarankan agar Mom terus bergerak dan memukul mundur para pemberontak sekali lagi sebab mereka sekarang tampaknya ketakutan.

Tapi Pasisir Barat tidaklah setenang yang diperkirakan. Menurut sebuah gosip, sejumlah besar orang Cina akan melewati Lingaran untuk menyerang Kaliwungu dan kabupaten-kabupaten Barat lainnya. Sebuah usaha untuk menakut-nakuti mereka dan mengintai jalan dengan mengirim kavaleri ke Ungaran gagal karena jalan diblokade dengan batang pohon. Lalu datang kabar bahwa bawahan-bawahan bupati Kaliwungu telah memotong rambut mereka seperti orang Jawa yang mengikuti orang Cina dan Sunan yang baru. Selain itu saudaranya telah lari ke Kartasura. Bupati Kaliwungu, yang baru saja menggantikan ayahnya yang terbunuh dalam ekspedisi Natakusuma ke Demak, dipanggil ke Semarang. Saudaranya telah lari ke Kartasura karena masalah pribadi, mungkin karena dia dilangkahi dalam hal suksesi dan beberapa dari bawahannya, yang sebagian ia bawa serta, telah memotong rambut mereka, bukan karena disuruh, bukan karena penyakit, tapi karena takut sebab orang-orang Cina membunuh semua orang yang berambut panjang. Kabarnya lebih dari 150 orang Cina telah menyerbu Kaliwungu dan mengacaukan wilayah itu. Karena Kumpeni telah menjanjikan perlindungan kepada para bupati, maka harus dilakukan sesuatu. Meskipun kekurangan orang, akhirnya Kapten Hendrik Korenaar diberangkatkan pada tanggal 11 Agustus bersama seratus orang Eropa dan tiga ratus pasukan pribumi ke Kaliwungu. Mereka mendapati bahwa di sana bupati Kendal sudah menunggu seperti yang diperintahkan tapi ketika pasukan Kumpeni datang para pemberontak telah lari ke pegunungan di sebelah barat.[48] Korenaar dan pasukannya kemudian diarahkan ke Batang. Bersama Jayaningrat dari Pekalongan dan Cakrajaya dari Batang dia memukul mundur para pemberontak. Karena jumlah para pemberontak tidak terlalu banyak – kabarnya hanya sekitar empat ratus orang Cina dan enam ratus orang Jawa di Tempuran dan Tersana – dan para bupati tampaknya sudah bisa menguasai situasi, Korenaar dipulangkan ke Semarang. Sejumlah kecil pasukan ditinggalkan di Pekalongan dan Batang untuk berjaga-jaga. Jika perlu bala bantuan dapat didatangkan dari Tegal.[49]

Sementara itu Mom mengikuti nasehat Verijsel. Pada tanggal 20 Agustus dia meneruskan geraknya ke Welahan, dimana dia mendapati enam ratus pemberontak yang kebanyakan terdiri dari orang Cina berkuda dan berjalan kaki dengan senjata bedil dan tombak. Bersama kekuatan Jawa milik Wiranagara dan Martanagara, Mom menyerang para pemberontak, yang bertahan sekuat tenaga di seberang sungai. Di bawah hujan tembakan meriam, Mom mengirim sekelompok pasukan[5] yang dibantu sejumlah milisi pribumi dengan perahu untuk menyeberangi sungai. Para pemberontak lari ke Tanjung. Mom kemudian membumihanguskan Welahan dan desa-desa di sekitarnya untuk mendapatkan pandangan yang lebih luas. Pada tanggal 24 Agustus para pemberontak muncul lagi dengan kekuatan sebanyak 800 orang di bawah Welahan. Orang-orang Kraeng Tanete mengejar mereka tapi tiba-tiba diserang empat ribu pasukan Cina dan Jawa di bawah Singseh dan Raden Suryakusuma.[50] Orang-orang Tanete melawan dengan sengit sampai akhirnya Mom datang bersama sisa pasukan dan memukul mundur para pemberontak. Kumpeni hanya kehilangan satu orang Bali yang mati terbunuh. Para pemberontak, seperti biasanya, membawa pergi korban-korban pertempuran mereka, kecuali beberapa orang seperti misalnya Sutawangsa, kepala Tanjung. Mom kemudian membakar Mayong dan beberapa desa lainnya. Ketika datang kabar bahwa sekitar dua ribu pemberontak Cina sedang berada di Kudus, Tanjung dan sekitarnya menunggu datangnya bala bantuan dari Kartasura, dan bahwa Sutakrama, saudara Martapura dari Grobogan, telah datang bersama sejumlah orang Cina dan Jawa di bawah Demak, Verijsel memerintahkan agar Mom memanggil orang Makasar dan Ngabehi Secanagara dan pengikutnya dari Japara. Semarang menambahkan sejumlah pasukan Eropa: Kapten Hendrik Brulé dikirim bersama orang-orang Ambon lewat Japara dan Kapten Anthonius Johannes Bergeyk yang berada di Kuala Demak diperintahkan untuk bergabung dengan Mom. Mom dan bala bantuannya ini harus menyerang, merebut pabrik-pabrik gula dan mengamankan semua gula yang masih ada untuk Kumpeni. Dia tidak boleh membakar terlalu banyak desa sebab itu akan membuat orang Jawa takut. Pada tanggal 28 Agustus Mom melaporkan bahwa dia telah berhasil merebut Kudus tanpa pertempuran.[51]

Kemenangan-kemenangan dari bulan terakhir membuat Kumpeni melepaskan sikap hati-hatinya yang membuat dia selama ini mengurung diri di Semarang. Verijsel sudah tahu bahwa pasukan dalam jumlah kecil pun dapat melawan musuh yang jumlahnya jauh lebih besar dengan efektif. Untungnya bagi Kumpeni, pemberontak Cina cenderung untuk mengadakan pertempuran frontal, sebab – tentu saja – mereka terlalu menyolok untuk bisa melakukan perang gerilya. Sekutu-sekutu Jawa mereka setelahnya sempat mencoba taktik gerilya, tapi untuk menghadapinya Kumpeni selalu dapat mengandalkan sekutu Jawanya asalkan pada saat-saat penting dia selalu siap menjadi tulang punggung. Dengan adanya kebijakan Verijsel yang mengandalkan bupati atau priyayi setempat yang punya pengikut yang jelas dan terbukti mampu mempertahankan diri, tanpa memperdulikan apakah mereka pernah anti Kumpeni dulunya atau tidak, maka Kumpeni tidak memerlukan tambahan besar bagi kekuatannya. Ini tidak berarti bahwa Kumpeni akan mengiakan saja semua klaim lokal. Terutama untuk kabupaten-kabupaten pesisir Barat dia mendukung bupati-bupati yang diangkat kraton seperti Cakrajaya dari Batang, putra Danureja, atau Jayaningrat dari Pekalongan, putra Natakusuma, sekalipun posisi mereka bukannya tidak ditantang dan putra Natakusuma itu bahkan telah diincar untuk ditahan setelah terjadinya penahanan pada diri ayahnya. Verijsel juga tidak menerima klaim yang cukup beralasan dari priyayi lokal Wiradesa melawan klaim Suralaya dari Brebes. Sekali Kumpeni memberi janji dia harus mencoba menepatinya. Tapi sementara itu di kabupaten-kabupaten pesisir Timur, Verijsel tidak ragu-ragu untuk mencopot bupati-bupati seperti Wirasastra dari Demak dan kemudian Arya Jayasentika dari Kudus dan Jayawikrama dari Juwana. Citrasoma dari Japara akhirnya dipertahankan meskipun Verijsel sempat punya niatan untuk menggantinya dengan Ngabehi Secanagara. Ini juga dilakukan Verijsel pada kabupaten-kabupaten lain dan kabupaten-kabupaten di sebelah timur setelah dibebaskan dari Madura. Dalam kebanyakan kasus, Verijsel memilih untuk mempertahankan bupati yang mampu mempertahankan dirinya sendiri, sekalipun pada saat yang sama Sunan ingin mengangkat bekas bupati atau putra-putra bekas bupati.

Tapi pada akhir Agustus 1742 Verijsel lebih dipusingkan oleh pengangkatan kembali Sunan daripada pengangkatan bupati. Seperti yang telah kita lihat, dia telah didesak Batavia untuk membuat pilihan yang jelas dan sudah menjatuhkan pilihannya pada Pakubuwana II. Sekarang Van Hohendorff pun, yang telah kembali ke Semarang pada tanggal 22 Agustus, menekankan bahwa Kumpeni harus memilih pihak Sunan. Menurut Hohendorff ke dua belah pihak yang sedang berperang sekarang ini tidak akan mampu mendapatkan kemenangan dengan cepat. Tapi jika Kumpeni menyokong Sunan, yang masih didukung oleh mayoritas bupati Mancanagara Timur, perdamaian akan mudah dipulihkan. Apalagi Sunan akan bersedia memenuhi semua tuntutan, termasuk penyerahan kabupaten-kabupaten pesisir.[52]

Sejak lari keluar dari kraton, Van Hohendorff terus mengikuti Sunan. Pertama melewati Gunung Lawu ke Magetan, kemudian ke Madiun. Dari sana, Van Hohendorff berniat pergi ke Surabaya, tapi karena jalannya tampaknya ditutup oleh pasukan Mas Brahim dan apalagi Tumenggung Surabrata dari Panaraga bersikeras bahwa mereka harus tinggal bersamanya, seluruh rombongan itu akhirnya pindah ke Panaraga dan tiba pada tanggal 8 Juli. Setelah kedatangan beberapa bupati Mancanagara Timur dan pengungsi lain dari Kartasura, dibentuk pasukan baru, yang berangkat pada tanggal 17 Jui dari sisi selatan Gunung Lawu dan sampai di Kaduwang (Wonogiri) pada tanggal 24 Juli. Di sana mereka bergabung dengan pengungsi-pengungsi lain dari Kartasura, seperti Pangeran Dipanagara, Arya Pringgalaya dan Rajaniti.  Meskipun Van Hohendorff ingin agar mereka mencoba mencapai Semarang lewat Mataram dan Kedu, Surabrata dan bupati-bupati lain tidak siap untuk menemani mereka. Mereka ingin mencoba menyerang Kartasura. Bupati-bupati Madiun telah menang terhadap orang-orang Cina yang mengejar Sunan, sementara ekspedisi Mom ke Demak rupanya telah menyedot banyak kekuatan pemberontak dari Kartasura. Kesempatan ini rasanya terlalu bagus untuk disia-siakan.

Maka Tumenggung Surabrata berangkat bersama seluruh pasukan yang ada ke Nguter dan melaporkan pada tanggal 5 Agustus bahwa dia telah mengalahkan para pemberontak. Dua hari kemudian Surabrata kalah dan semuanya mundur ke Panaraga. Van Hohendorff sekali lagi membujuk Sunan untuk pergi ke Surabaya tapi Tumenggung Surabrata dan bupati-bupati lain menentang saran itu sebab tanpa Sunan, semua orang Jawa akan menyeberang kepada musuh. Sunan dapat bersembunyi dengan aman di wilayah pegunungan Panaraga dan dari sana bisa dilakukan usaha untuk merebut Kartasura, apalagi bupati-bupati Madiun sudah bertahan di Bengawan Solo. Van Hohendorff menyarankan agar mereka tidak mencoba menyerang lagi sebelum mereka dapat mengkoordinasi serangan ke Kartasura bersama Kumpeni. Sementara itu Van Hohendorff dan rombongannya akan berangkat ke Semarang. Setelah mendapat jaminan dari para bupati bahwa mereka akan tetap setia kepada Sunan dan Kumpeni – dimana Pringgalaya bahkan berkata bahwa dia sendiri yang akan membunuh raja kalau dia sampai berubah pikiran lagi – Van Hohendorff meninggalkan Panaraga pada tanggal 10 Agustus bersama sekitar lima puluh pasukan dari Surabaya yang dikirimkan untuk membantu Sunan oleh para bupati “pemberontak” Sawunggaling dan Wirasraya sebagai imbalan atas pengangkatan mereka sebagai bupati. Van Hohendorff tiba di Surabaya pada tanggal 17 Agustus dan tiba di Semarang lewat kapal pada tanggal 22 Agustus.[53]

Untuk menguji kebenaran ide-ide Hohendorff dan mengintai jalan menuju Kartasura, Verijsel beberapa hari kemudian memutuskan untuk mengirim Hohendorff dalam sebuah ekspedisi kecil ke Ungaran. Kabarnya orang Cina dan bupati-bupati Kedu sedang mendudukinya dan Van Hohendorff bersama pasukannya yang terdiri dari 30 orang Eropa berkuda, 250 pribumi dan Kyahi Mas bersama pasukan Jawanya dari Semarang harus mencoba mengusir mereka. Setelah jalan dibersihkan dari batang-batang pohon Van Hohendorff melaju seperti biasa ke Ungaran dan mendapati wilayah itu sudah ditinggalkan. Para bupati pergi setelah menembakkan meriam satu kali sebagai sambutan dan berkata mereka tidak mau bertempur dengan Kumpeni. Sekarang Verijsel merasa bahwa tidak ada lagi yang akan menghalangi penyerbuan ke Kartasura, tapi seperti yang ditulisnya kepada Batavia, instruksi agar tidak berpihak dulu kepada Sunan membuat dia tidak melakukannya.[54]

Batavia masih marah karena pengkhianatan Sunan dan punya kandidat alternatif. Mungkin ide itu berasal dari Cakraningat, yang ketika mendengar Kartasura jatuh berkata bahwa Sunan telah mendapatkan ganjaran yang setimpal dengan perbuatannya dan bahwa penghakiman Tuhan telah menimpanya. Sebaiknya Kumpeni membagi Jawa menjadi tiga atau empat kabupaten dan jika perlu pangeran yang sedang ada di Batavia diangkat menjadi raja.[55] Pangeran yang dimaksud adalah putra Pangeran Arya Mangkunagara, yang ikut ayahnya ke pengasingan, tapi dipulangkan ke Batavia setelah kematian ayahnya. Gosip bahwa Kumpeni sedang mempertimbangkan kandidat lain sudah lamat-lamat sampai ke telinga Sunan di Panaraga. Yang terdengar di Panaraga adalah bahwa Pangeran Arya Purbaya akan diangkat menjadi raja dan bahwa Danureja akan diangkat menjadi patih lagi. Karena Mas Garendi pun juga mengajukan tawaran kepada Kumpeni, Sunan dengan sendirinya gelisah dan siap untuk menawarkan apapun agar kekuasaannya dipulihkan. Tapi tawaran-tawaran dan argumen-argumen Verijsel dan Van Hohendorff tidak mampu membuat Dewan Hindia berubah pikiran. Keputusan terakhir tentang Sunan akan ditunda sampai dilakukannya perundingan.

Meskipun ekspedisi kecil Van Hohendorff ternyata sukses besar – sedemikian rupa sehingga dia bahkan diberi tambahan pasukan dan diperbolehkan bergerak melewati Ungaran – tujuan utama Kumpeni tetap ada pada Demak, Kudus dan Pati. Setelah merebut Kudus, Mom berkemah di Tanjung dan menerima banyak bala bantuan. Dia sekarang mengusulkan untuk bergerak ke Pati dan Juwana untuk kemudian merebut Rembang. Dewan di Semarang dengan hati-hati menyetujui rencana itu tapi memerintahkan agar Mom menunggu selama beberapa hari untuk berjga-jaga jika datang informasi yang lebih baik dari intelejen tentang situasi para pemberontak. Apalagi Nathanael Steinmets, yang sudah dipromosikan menjadi commandeur dan veldoverste (marsekal medan) ingin bergabung dengan ekspedisi Mom untuk mendapatkan kemuliaan. Ketika menunggu Steinmets, Mom mendapat serangan berat pada tanggal 3, 5 dan 6 September tapi menang. Dia ingin secepatnya bergerak ke Rembang dengan alasan bahwa para pemberontak mungkin akan terpancing untuk mengikutinya ke sana sehingga dia tidak perlu mencemaskan Demak.[56] Kemungkinan besar dia ingin menyelesaikan tugasnya sebelum Steinmets (yang tidak bisa bahasa pribumi sama sekali, seperti yang dicela Mom dalam suratnya) datang dan membuat ruwet situasi. Tapi mau tidak mau dia harus menunggu dan memang benar, tidak lama setelah kedatangan Steinmets pada 16 September terjadi perselisihan tentang masalah wewenang. Keputusan apakah berangkat ke Rembang atau tetap di Tanjung akhirnya diserahkan kepada Verijsel. Verijsel berkata bahwa dia tidak tahu apa-apa soal militer dan bertanya apa gunanya bertahan di Tanjung sebab pasukan akan diserang oleh muson yang basah dan argumen bahwa mereka harus melindungi Demak sudah tidak berlaku lagi sebab para pemberontak sudah membakar semua yang perlu dilindungi, yaitu pabrik-pabrik gula. Dengan agak sarkastik Verijsel menyuruh mereka merebut beberapa tempat yang masih diduduki para pemberontak. Dengan bantuan para bupati, populasi di sana mungkin bisa diorganisir untuk melawan para pemberontak.[57]

Steinmets kemudian membuat rencana baru. Beberapa pedagang Melayu di Juwana berkata bahwa mereka bisa merebut benteng yang ada di sana dan menyerahkannya kepada Kumpeni. Steinmets langsung menyadari kemungkinan untuk melakukan gerak supit udang seperti yang ada dalam buku-buku teks. Dia membuat Mom marah dengan mengambil sejumlah orang  Eropa, prajurit artileri dan dua ratus pribumi dari pasukan dan mundur ke Japara untuk naik kapal ke Juwana. Mom diperintahkan untuk tinggal di Tanjung sampai Steinmets berhasil mengamankan Juwana atau Rembang. Steinmets tiba pada tanggal 23 September di Juwana tapi pedagang-pedagang Melayu meminta dia menunggu sampai tanggal 28 yang dianggap sebagai hari baik. Hari baik itu tiba dan tidak sesuatu pun terjadi. Steinmets merasa telah ditipu dan memutuskan untuk kembali.

Verijsel kemudian turun tangan. Mom selama ini telah berhasil menang dari para pemberontak, tapi hujan yang turun setiap hari di Tanjung akan mengalahkannya. Mom ingin bergerak tapi khawatir tentang kekuatan dan posisi pasukannya. Dia membutuhkan pasukan yang diambil Steinmets dan mencemaskan garis belakangnya ketika mendengar laporan bahwa para pemberontak berniat untuk bergerak dari Grobogan ke Demak. Dia ingin dibebaskan dari perintah Steinmets agar dia tinggal di Tanjung dan meminta Semarang untuk memperkuat Gubug dan Demak. Seandainya cuacanya kering dia bisa sampai di Rembang dalam waktu tiga atau empat hari. Verijsel memerintahkan agar Steinmets bertahan di Juwana dan memanggil pulang Hohendorff.

Sementara itu Hohendorff berhasil memukul mundur para pemberontak di beberapa tempat dan bergerak sampai ke Jembatan Tuntang. Dia macet di sana karena para pemberontak telah menghancurkan jembatan dan menggunakan bahannya untuk membangun benteng di seberang sungai. Serangan artileri tidak akan mampu membuat benteng ini terbakar dan hujan membuat sungai deras sehingga tidak dapat diseberangi dengan rakit bambu. Van Hohendorff mengusulkan untuk melewati rintangan itu dengan bergerak ke Ambarawa dan Banyubiru atau mencari tempat lain yang dapat diseberangi di sepanjang Sungai Tuntang. Tapi Semarang berpendapat bahwa usulan itu akan membuat Hohendorff terputus dari Semarang. Pada tahap ini ekspedisi Mom lebih penting daripada melakukan serangan ke Kartasura sekalipun gerak laju Hohendorff yang berani telah menimbulkan panik di Kartasura. Que Panjang bahkan telah memerintahkan agar Swa Tiengiap, kepala orang Cina di jembatan Tuntang dibunuh. Akibatnya hampir semua pengikutnya ingin menyeberang ke Kumpeni, tapi kesempatan itu tidak dapat digunakan. Bala bantuan cepat-cepat didatangkan dari Kartasura sementara Van Hohendorff tidak dapat menyeberangi sungai. Maka Van Hohendorff ditarik mundur ke Demak. Ungaran diberi sebuah garisun kecil, tapi ketika garisun kecil ini diserang, Semarang memerintahkannya untuk mundur. Semua daya sekarang dipusatkan pada ekspedisi Mom.[58]

Sementara itu pasukan Mom menarik kedatangan para pemberontak seperti api mempesona ngengat. Berkali-kali dia harus bergerak keluar dan berhasil memukul mereka mundur. Bahkan Steinmets, yang mengapung di lepas pantai Juwana, juga menerima serangan. Pada tanggal 1 Oktober, yang menurut keterangan yang diterima Steinmets adalah hari Joosje (Joss),[59] sebuah armada Cina berlayar keluar dari Teluk Rembang. Armada ini terdiri dari dua puluh dua kapal dan sebuah mesin aneh, semacam rakit yang terbuat dari balok-balok besar yang dibungkus kulit sapi dan dipersenjatai meriam, dengan panjang 50 kaki dan lebar 30 kaki. Senapan-senapan Kumpeni tidak berdaya menghadapinya. Keesokan harinya ketika semuanya sedang mengapung dalam cuaca tenang, salah sebuah perahu berhasil sampai di mesin aneh itu, tapi ketika kru Belanda berteriak “menang!” orang Cina meledakkan senjata rahasia itu. Ledakan besar yang terjadi merusak beberapa kapal Belanda, tapi serangan bunuh diri itu sia-sia. Mereka berhasil dipukul mundur dan orang Belanda bahkan berhasil menyelamatkan beberapa meriam dari mesin yang menakjubkan itu. Sayangnya bagi mereka, mesin itu sendiri tidak dapat diselamatkan.[60]

Van Hohendorff sementara itu bergegas bergerak ke Tanjung. Bersama dengan Mom dia bergerak untuk menyerang para pemberontak yang mengancam Demak dari Grobogan. Setelah terjadi pertempuran mati-matian di dekat Gulang, para pemberontak mundur ke Grobogan. Van Hohendorff kemudian ditempatkan di Adilangu dekat Demak oleh Mom, sementara Mom bergerak ke Tanjung sambil membawa sebagian dari pasukan Van Hohendorff. Akhirnya pada tanggal 13 Oktober, Mom bisa mulai bergerak ke Juwana. Meskipun sejumlah besar kekuatan Cina dan Jawa mencoba menghalanginya, dia berhasil menembusnya dengan cepat dengan cara melakukan serangan mendadak pada perbentengan mereka dari belakang. Ketika mendekati Pati, dia menerima surat dari Nachoda Salam, kepala pedagang Melayu di Juwana, bahwa para pedagang Melayu akan memulai serangan mereka begitu Mom sampai di Pati. Selama ini serangan ditunda karena rencana itu baru saja diberitahukan kepadanya oleh pedagang lain dan karena dia harus menyelamatkan istri anak dan hartanya ke dalam kapal terlebih dahulu. Bapak Salam rupanya adalah orang yang hati-hati, yang tidak mau beralih pihak sebelum kemenangan ada di depan mata.

Pada pagi hari tanggal 15, Mom bergerak ke Juwana. Di tengah jalan putra Bapak Salam menemuinya untuk mengabarkan bahwa para pemberontak telah mundur ke Rembang. Pada pukul sepuluh, pasukan itu “merebut” Juwana. Mom pasti sangat senang karena Steinmets baru bisa mendarat pada malam hari karena kondisi laut.[61] Dua hari kemudian kekuatan gabungan itu bergerak ke Rembang dan tiba pada tanggal 19 Oktober. Rembang sudah ditinggalkan pemberontak, meskipun perbentengan kuat sudah dibangun. Rupanya pemberontak Cina putus asa setelah gagal dalam serangan terhadap Mom di Tanjung. Orang-orang Cina yang masih tersisa lari ke Lasem dan dari sana mereka berniat lari ke Pulau Bawean dan kemudian ke Johore. Kemudian mereka berubah pikiran dan lari ke gunung, dan rupanya bergerak menuju Kartasura. Pemimpin besar mereka, Singseh, tidak seberuntung itu. Dia dan tujuh temannya naik perahu di sebuah pantai dekat Lasem dan kepergok oleh Bapak Slamat, bekas budak Bali milik almarhum Jacob Willem Dubbeldekop, anggota luar biasa Dewan Hindia. Bapak Slamat tentunya tidak akan membiarkan keberuntungan itu lewat begitu saja. Teman-teman Singseh berhasil lari tapi Bapak Slamat berhasil membunuh Singseh dan memenggal kepalanya dan menyerahkan kepala itu bersama jimat Singseh, yang terbuat dari emas dan berbentuk singa, kepada Steinmets. Bapak Slamat menerima hadiah berupa sebuah desa dengan dua puluh lima rumah tangga di dekat Rembang seperti yang dimintanya.[62]

Setelah Rembang berhasil direbut, Kumpeni mendapati bahwa seluruh pesisir mulai dari Cirebon sampai Lasem sudah berada di tangannya. Kabupaten-kabupaten pesisir Barat pada umumnya tenang. Pada akhir Oktober Kumpeni sekali lagi harus mengirim ekspedisi kecil ke Kaliwungu, tapi para pemberontak lari ke Kedu begitu pasukan Kumpeni datang. Verijsel tidak merasa perlu mengejar mereka. Demikian juga halnya dengan Van Hohendorff yang penuh semangat itu di Demak, yang ingin mengejar para pemberontak yang kabarnya berkumpul di Grobogan. Kumpeni bisa mengambil posisi bertahan sekarang. Setelah menempatkan garisun besar yang terdiri dari hampir 600 orang di Rembang dan sebuah garisun kecil di Juwana, kekuatan utama pulang pada tanggal 4 November ke Semarang. Verijsel dengan setengah hati mengijinkan Mom, yang kesehatannya memburuk, untuk pulang ke Batavia untuk memulihkan kesehatannya dan mencari pengobatan bagi mata kanannya yang terancam buta, sebuah penyakit lama yang sebelumnya berhasil diobati di Batavia.[63] Sekarang yang perlu dihadapi tinggal Kartasura, yang masih diduduki oleh sejumlah orang Cina dan Jawa yang sudah ambruk semangatnya dan makin lama makin sulit tinggal berdampingan, sementara “raja” mereka, Mas Garendi, yang tidak dihiraukan siapapun, terus menerus mencoba meyakinkan Kumpeni bahwa dia berniat baik.

Bahkan wilayah Timur pun, di Surabaya dan Pasuruan, telah mengalami kemajuan. Setelah meninggalnya residen Vincent van Wingerden, Reinier de Klerk dikirim ke Surabaya pada akhir Juli. Dia langsung menyelesaikan masalah yang menghalangi pulihnya hubungan normal dengan cara mengirim bupati-bupati Surengrana dan Secadirana ke Semarang. Bupati-bupati bawahan yang memberontak, Sawunggaling dan Wirasraya membuka blokade dan menghancurkan perbentengan mereka.[64] Pada awal September, Mas Brahim meninggal dan untuk sementara tampaknya Pasuruan pun bisa dipulihkan ke situasi normal. Putra dan penerus Mas Brahim, Raden Arya Wiranagara, tampaknya bersedia mengakui Sunan, tapi tidak lama kemudian kembali ke jalan pemberontak seperti almarhum ayahnya.

Sawungggaling dan Wirasraya kemudian membuat rencana untuk mengangkat kembali mantan bupati Tumenggung Sasrawinata. Sebelum pasukan mereka bisa keluar menuju Pasuruan, mereka ditantang oleh Raden Puspakusuma, saudara ipar Wirasraya yang merupakan putra Adipati Jangrana dari Surabaya, yang dibunuh di Kartasura pada 1709 atas perintah Pakubuwana I. Sejak itu dia tinggal di Kartasura, tapi setelah Kartasura jatuh dia lari bersama Sunan ke Panaraga dan kemudian pergi ke Surabaya, dimana dia menuntut sebagian dari pemerintahan dan kemudian menuntut agar seluruh pemerintahan diserahkan kepadanya, sebab ayahnya dulu menjadi bupati tunggal di Surabaya. Dia bersama pengikutnya dan dengan didukung Pasuruan bergerak ke Surabaya. Dua pasukan itu bertemu di atas Bangil. Puspakusuma dan Tumenggung Sasrawinata sama-sama terbunuh sehingga Pasuruan sekali lagi tidak memiliki kandidat yang pantas.[65] Sasrawinata sendiri bukanlah kandidat yang ideal sebab rakyat Pasuruan tidak mau lagi berurusan dengan bekas bupati yang berdarah Madura itu. Mereka juga menolak kandidat-kandidat yang berkali-kali disodorkan Cakraningrat dan mereka juga tidak suka pada orang-orang Malang-nya Mas Brahim dan para penerusnya, yang secara de facto memegang kontrol atas area di luar benteng.

Situasinya sangat labil dan tidak tertolong oleh rencana para bupati Gresik untuk mengangkat saudara mereka menjadi bupati Bangil – sebab prospek mereka sendiri tidak akan cerah selama Cakraningrat masih menduduki Gresik – maupun oleh niat Cakraningrat untuk mengincar Surabaya dan Pasuruan dan oleh perselisihan di Sumenep dan Pamekasan yang membuat pasukan cadangan di sana tidak dapat digunakan Kumpeni. Kumpeni sendiri tidak mendapat banyak keuntungan dari pasukannya sendiri. Setahun sebelumnya Van Wingerden menghadapi pemberontak yang dilakukan garisun, sekarang De Klerk mendapati bahwa orang Bugis dan Bali saling gontok-gontokan karena masalah wanita – dan beberapa bulan kemudian pasukan Eropa melakukan pemberontakan besar-besaran karena masalah gaji. Kapten J.M. Constans, komandan Pasuruan, juga harus dicopot dari jabatannya karena masalah dengan bawahannya.[66] Dengan tidak adanya pasukan yang dapat diandalkan dalam jumlah yang memadai, De Klerk tidak mampu berbuat apa-apa untuk memperbaiki situasi. Dia harus mengandalkan diplomasi dan ancaman supaya paling tidak bisa mempertahankan bupati-bupati Surabaya di pihak Sunan dan Kumpeni, dan pada saat yang sama mencegah Cakraningrat turun tangan secara fisik dalam masalah Surabaya dan Pasuruan. De Klerk berhasil meskipun halangannya sangat besar sebab Batavia bahkan bersedia menerima pertolongan Cakraningrat dalam memecahkan masalah Pasuruan. Dia dan Nicolaas Hartingh, yang saat itu masih juru tulis dan penterjemah berpangkat rendah tapi kemudian menjadi gubernur Pesisir Timur Laut Jawa dan anggota Dewan Hindia, tidak hanya berhasil menahan Cakraningrat, tapi juga bahkan berhasil membujuk Cakraningrat untuk mengosongkan Kartasura yang tiba-tiba didudukinya pada 26 November 1742.

Apa tujuan Cakraningrat dengan tiba-tiba merebut Kartasura masih merupakan misteri. Sebelum memulai ekspedisi ke Rembang, Kumpeni telah meminta Cakraningrat untuk berjaga-jaga jangan sampai para pemberontak lari ke Pasuruan melewati wilayah yang ia duduki. Dari reaksi Kumpeni terhadap usulannya untuk bergerak ke Kartasura, Cakraningrat tahu bahwa permintaan untuk berjaga-jaga tidak sama dengan undangan untuk bergerak maju. Dia juga sadar bahwa orang Jawa maupun Kumpeni tidak akan mau menerima dia maupun putra-putranya di tahta Mataram sekalipun dia mengaku memiliki garis keturunan dari Nabi yang tidak kalah tinggi dengan Sunan dan bahkan memiliki garis keturunan yang lebih dekat dengan Brawijaya, raja terakhir Majapahit. Jika dia tidak menginginkan perang total melawan Kumpeni, maka menduduki Kartasura tak akan ada manfaat politiknya bagi dia. Satu-satunya penjelasan yang paling sederhana dari serbuannya ke Kartasura tampaknya adalah keinginan untuk menjarah. Menjarah adalah sesuatu yang diakui dalam perang dan seringkali merupakan satu-satunya cara untuk membayar pasukan. Apalagi Cakraningrat sudah sangat akrab dengan praktek ini. Selain memiliki pasukan Maduranya, dia telah menyewa sejumlah besar orang Bali, yang harus ia bayar. Ini tidak mungkin didapatkannya dari tanahnya yang tidak subur dan dia pun tidak ingin mendapatkannya dari wilayah yang ia duduki di Jawa Timur sebab dia berharap wilayah-wilayah itu akan diberikan kepada putra-putranya dalam perundingan terakhir nanti. Sementara Kartasura sangat menggiurkan dalam hal ini. Memang orang Cina telah menjarahnya, tapi hasil jarahan itu tidak mungkin bisa mereka bawa jauh. Dan memang orang-orang Madura ini akhirnya menjarah. Tidak ada yang selamat dari mereka, baik itu wanita, anak-anak dan ternak. Orang-orang Jawa dibuat putus asa karenanya sehingga bahkan wanita-wanita tua di desa-desa berani menyerang orang Madura dengan tongkat dan bambu runcing. Komandan Madura sendiri tidak ragu untuk menyobek seprei ranjang Ratu Amangkurat untuk mencari benda berharga. Kartasura dan area sekitarnya benar-benar disapu bersih, bahkan sampai Kumpeni pun merasa harus memprotes.[67] Cakraningrat mungkin tidak mampu mencegah Kumpeni memulihkan kekuasaan Sunan, tapi dia bisa memastikan bahwa kediaman itu tidak akan ada isinya lagi ketika Sunan pulang.

Kumpeni tentu saja sebenarnya dapat mencegah itu terjadi. Pada tanggal 5 November, ketika sebagian besar pasukannya sudah kembali ke Semarang, Verijsel sudah mendengar kabar bahwa Cakraningrat hendak melakukan sesuatu dan dia mengusulkan agar pasukan dikirim ke Kartasura. Tapi kali ini dia tidak mau mengambil resiko diomeli Batavia lagi dan dia secara resmi meminta ijin untuk itu.[68] Ijin itu sampai ke Verijsel pada tanggal 28 November dan sudah terlambat, apalagi pasukan Kumpeni tidak bisa bergerak karena terhalang hujan. Sementara orang Madura, tentu saja, tidak terhalang oleh hujan sebab mereka datang tidak membawa apa-apa, justru untuk membawa pulang semuanya. Masalah yang mereka hadapi adalah para pemberontak dan kemungkinan campur tangan Sunan, yang sudah datang bersama pasukannya di Jagaraga, di sebelah selatan Ngawi, tempat orang Madura berkumpul untuk melakukan tusukan terakhir mereka.

Menurut Sunan, orang Madura mengajukan alasan bahwa mereka bergerak karena diperintah Kumpeni, dan bahwa mereka datang untuk membebaskan istri Cakraningrat (saudari Sunan) dan melindungi Sunan. Dua pasukan itu berlomba mencapai Kartasura, dimana mereka mengalahkan pasukan pemberontak Cina yang berkekuatan seribu enam ratus orang di tengah jalan, dengan bantuan dari bupati-bupati Malayakusuma dan Mangkuyuda dan kemudian mengalahkan pasukan Mangunoneng di Bengawan Solo. Mangunoneng kemudian lari ke Kartasura hanya dengan ditemani istrinya. Orang Madura sampai terlebih dahulu di ibu kota yang sudah kosong itu dan tidak memperbolehkan Sunan masuk ke dalam kratonnya. Sunan yang dipermalukan itu mundur ke sisi timur Bengawan Solo, tapi dia masih akan menerima lagi perlakuan tidak kalah memalukannya dari orang Madura. Mereka membawa Pangeran Ngabehi Loringpasar ke dalam kraton dan memperlakukannya sebagai Sunan. Sunan hanya bisa menulis surat kepada Kumpeni untuk meminta pertolongan. Dia harus menulis surat itu dengan tangannya sendiri dan untuk itu dia sebelumnya harus latihan, sebab dia tidak punya sekretaris lagi, seperti yang dikeluhkannya kepada Verijsel. Dia juga sangat kangen kepada Van Hohendorff. Tidak ada menteri Jawa yang begitu setia dan disayanginya seperti kapten Belanda ini.[70]

Kumpeni pada mulanya agak bingung menghadapi situasi ini. Kumpeni tidak tahu apa keinginan Cakraningrat yang sebenarnya dan curiga jangan-jangan ada kesepakatan yang telah dibuat. Orang Madura tidak mungkin menang begitu mudahnya jika tidak dibantu pasukan Sunan dan tidak mungkin menang sama sekali seandainya pasukan Sunan menyerang mereka. Tapi apapun yang telah terjadi, pokoknya Cakraningrat harus keluar dari Kartasura secepatnya. Verijsel memerintahkan De Klerk untuk memberikan sendiri sebuah surat kepada Cakraningrat. Jika benar-benar tidak bisa barulah dia boleh menyerahkannya lewat Hartingh.[71] Akhirnya De Klerk dan Hartingh sama-sama pergi.

Pada tanggal 9 Desember, surat Verijsel sampai ke Surabaya dan De Klerk langsung berangkat ke Madura dan sampai keesokan harinya. Cakraningrat menyambut mereka dengan ramah, tapi setelah surat itu dibacakan kepadanya dia menjadi marah. Anggapan bahwa dia datang untuk menolong Sunan dan bahwa dia akan menyerahkan Kartasura kepada Sunan adalah dugaan yang tidak pada tempatnya. Dia sampai kapanpun tidak akan pernah mau menyerahkan Kartasura kepada si Sunan Panaraga itu, demikian dia menyebutnya. Sunan adalah musuh bebuyutannya, telah bertindak tidak setia terhadap Kumpeni dan pantas untuk ditusuk keris. De Klerk dengan santai menjelaskan bahwa Kumpeni benar-benar percaya pada niat baik Cakraningrat, tapi dalam masalah ini Kumpeni adalah pihak yang paling dirugikan sehingga berhak berbuat apa saja yang dimauinya. Kumpeni tidak akan membiarkan pihak lain memaksakan kehendaknya dan jelas tidak ingin jika sekutunya yang setia seperti Cakraningrat berbuat seperti itu. Cakraningrat kemudian menurunkan nadanya dan berkata dia bersedia mengawal Sunan sampai ke Semarang. De Klerk memintanya untuk membaca surat Verijsel sekali lagi. Cakraningrat mengusulkan untuk bersantap dan beristirahat terlebih dulu.

Pada pertemuan kedua, pada sore harinya, Cakraningrat tiba-tiba berubah pikiran. Meskipun sebenarnya Kumpeni lebih baik membunuh saja Sunan itu, dia bersedia menyerahkan kembali kraton, memulangkan pasukannya dan meninggalkan tiga ratus orang sampai kedatangan garisun Kumpeni. Setelah itu perundingan menjadi kacau lagi sebab utusan dari Sunan datang membawa sebuah surat. Cakraningrat menolak untuk menerimanya. Akhirnya Hartingh membacakannya dengan lantang. Sunan berterima kasih kepada Cakraningrat atas bantuannya, berharap semoga jasa-jasa baiknya akan terus dilanjutkan dan mengundangnya datang ke Kartasura. Isi surat itu membuat Cakraningrat jengkel dan dia menyuruh utusan itu menunggu jawabannya di Sidayu. Tapi De Klerk dan Hartingh sudah mendapatkan apa yang menjadi tujuan mereka.[72] Sekalipun marah-marah dan berusaha menawar, Cakraningrat tampaknya sudah puas, jika tidak dia tidak mungkin menyerah secepat itu. Dia setidaknya sudah mendapatkan waktu tiga minggu bagi pasukannya untuk menjarah, yang jauh lebih dari cukup daripada yang sebenarnya dibutuhkan pasukannya.

Pada tanggal 14 Desember cuaca akhirnya membaik dan enam ratus pasukan Eropa dan pribumi di bawah pimpinan Van Hohendorff berangkat ke Kartasura. Steinmets dalam kedudukannya sebagai marsekal medan menawarkan diri untuk ikut: dia tidak mau melewatkan kesempatan yang historis ini. Tiga hari kemudian mereka menerima kabar bahwa Cakraningrat bersedia menyerahkan ibu kota dan pada tanggal 20 Desember mereka tiba di Kartasura dan diterima oleh para komandan Madura yang sudah mengosongkan Paseban dan Sitinggil. Keesokan harinya Van Hohendorff dan Toutlemonde pergi menemui Sunan. Sunan diterima di Paseban dengan meriah dan disambut dentuman genderang. Steinmets membimbingnya menuju tempat duduknya di Sitinggil, dimana semua perwira Eropa dan pribumi serta menteri-menterinya yang paling penting, menghaturkan hormat. Bahkan para komandan Madura yang masih ada di sana hadir dan mengikuti adat Jawa, yaitu mencium kaki. Setelah minum teh, Sunan meminta Steinmets untuk mengantarkannya kepada ibunya. Ketika bertemu, Sunan merangkul ibunya dan keduanya menangis sepuasnya di tanah sampai akhirnya Steinmets memisahkan mereka dan memberi selamat kepada Ratu atas kembalinya putranya ke atas tahta Jawa. Upacara ditutup dengan makan siang, lengkap dengan makanan dan anggur Belanda yang dibawa Steinmets. Sunan mengundang Van Hohendorff dan Toutlemonde, yang telah bersama-sama menderita dengannya dalam pelarian ke Panaraga. Sunan berkata kepada mereka bahwa ketika dia mendengar Kumpeni sedang dalam perjalanan ke Kartasura, dia menikahi seorang putri dari Pangeran Arya Mataram yang mati dicekik itu sebagai istri sah dan memutuskan bahwa sejak saat itu dia akan hidup bergandengan dengan istrinya di satu tangan dan dengan Kumpeni di tangan lain, sebab dia telah belajar dari pengalaman siapa sebenarnya orang Jawa yang menjadi rakyatnya itu.[73] Meskipun kata-katanya itu tampaknya sungguh-sungguh, dia pada akhirnya tetap harus membuat persetujuan dengan bawahannya. Hanya Steinmets yang tidak perlu lagi memusingkan situasi, sebab di Kartasura dia menerima kabar gembira bahwa dia diangkat menjadi gubernur Amboina.

Bagi Verijsel kembalinya Kartasura adalah akhir dari perang yang sebenarnya. Setelah itu hanya perlu dilakukan beberapa operasi pembersihan dan dia mengucapkan selamat kepada Batavia karena Kumpeni sekarang mendapatkan posisi yang lebih kuat dari yang sudah-sudah di Jawa.[74] Tapi operasi pembersihan bukan pekerjaan enteng dan Kumpeni memerlukan waktu hampir satu tahun untuk menyelesaikannya, itu pun kalau dapat dikatakan benar-benar selesai.  Pertama-tama, masih ada para pemberontak yang belum ditundukkan, yang telah lari dari Kartasura ke Kedu dan kemudian ke Mataram. Tapi mayoritas orang Cina sudah menyerah. Mereka datang berbondong-bondong ke Semarang untuk menyerahkan diri. Hanya Panjang dan beberapa orang keras kepala yang masih bergabung dengan Mangunoneng dan Mas Garendi di Prambanan, dekat Yogya. Yang kedua, masih ada Martapura, yang masih aktif di wilayah Grobogan. Yang ketiga, masih ada masalah Pasuruan.

Bahkan sebelum Tahun Baru tiba, para pemberontak di Mataram sudah menyerang Kartasura. Sebelumnya, Pringgalaya sudah dikirim ke Mataram dengan pasukan dari Surabaya dan kabupaten-kabupaten Mancanagara Timur. Dua kali mereka berhasil mengalahkan pemberontak, tapi pada kesempatan ketiga mereka terpukul mundur. Mereka lari ke Kartasura dengan dikejar para pemberontak. Di Kartasura para pemberontak melakukan pembumihangusan pada malam hari dan bahkan menyerang pasukan Kumpeni di kraton belakang dan di Paseban. Setelah satu setengah jam tembakan dilancarkan, barulah mereka bisa dipukul mundur. Karena pertempuran ini menyita hampir semua amunisi yang dimiliki Van Hohendorff – hanya tiga barel yang tersisa – sehingga dia tidak mungkin dapat bertahan jika dilakukan serangan kedua, dia memutuskan untuk menyerang para pemberontak sebelum mereka mendapatkan bala bantuan. Bersama separoh garisunnya, dia berhasil mengusir mereka.[75] Selain meminta amunisi, Van Hohendorff juga meminta pasukan Tanete, yang hendak ia jadikan pasukan berkuda bersenjatakan tombak ringan. Dengan demikian ia bisa mendapatkan mobilitas yang memadai untuk mengejar para pemberontak. Dia tidak mau menempatkan pasukan Kumpeni dengan senjata api mereka di atas kuda yang tidak terlatih. Pada mulanya Verijsel tidak menyambut baik ide ini. Pasukan Tanete kurang disiplin dan terlalu suka menjarah sehingga sebaiknya tidak dilepaskan di antara orang Jawa yang ada di sekitar Kartasura.[76] Kemudian, ketika bupati Panaraga yang setia itu bergerak keluar dan dikalahkan para pemberontak dan Van Hohendorff harus bergerak keluar dua kali untuk mengusir para pemberontak, dia meminta bala bantuan dan Kraeng Tanete. Kraeng Tanete sendiri bersikeras ingin ikut, meskipun Kumpeni lebih suka dia ada di Semarang.

Verijsel mempertanyakan mengapa Van Hohendorff membiarkan orang Jawa bergerak keluar lagi kalau akhirnya mereka pasti kalah. Dia curiga sebab setiap kali mereka lari, senjata mereka selalu ditinggalkan. Tapi, seperti yang dijelaskan Van Hohendorff, orang Jawa mau tak mau harus bergerak keluar sebab mereka takut jalur suplai makanan mereka terpotong.[77] Mataram dan Bagelen tidak hanya mensuplai makanan, tapi dari tradisinya juga merupakan wilayah khusus[6] kraton. Bupati-bupati utama Bagelen telah terbunuh dalam pertempuran: Jayasuderga dari Numbak Anyar terbunuh dalam serangan terhadap benteng Kartasura dan penggantinya Singaranu terbunuh ketika Arya Pringgalaya kalah di Bicak. Mangunnagara dari Sewu juga terbunuh dalam serangan ke benteng. Dia digantikan oleh putranya, yang juga bergelar Mangunnagara, tapi bekas bupati Tumenggung Gruwakanda sedang menunggu-nunggu kesempatan untuk mendapatkan kembali kabupatennya. Para bupati Mataram, Jayawinata dan Jayasamudra, telah diturunkan jabatannya menjadi bupati bawahan dalam pertarungan politik tahun 1730-an, ketika mereka diletakkan di bawah Tumenggung Rajaniti. Maka ketika para pemberontak lari dari Kartasura ke Mataram, jumlah mereka pulih kembali dengan kedatangan bupati-bupati dan bekas bupati itu dan orang-orang mereka. Maka para pemberontak mendapatkan suntikan kekuatan dan tidak lama setelah kalah sudah bisa menjadi ancaman besar lagi bagi Kartasura.

Karena musim hujan, Van Hohendorff tidak bisa menyerang para pemberontak yang berada di sarang mereka di dekat Yogya. Selama bulan-bulan pertama 1743 dia hanya dapat mengusir mereka kalau mereka muncul di sekitar Kartasura. Pernah sekali dia hampir berhasil memancing mereka sampai dekat Kartasura dan menjebak mereka. Meskipun dia berhasil mengalahkan sebagian dari mereka, beberapa hari kemudian gerombolan lainnya berhasil memukul telak Tumenggung Surabrata, yang harus kembali ke Panaraga untuk mengumpulkan kembali pasukannya yang tercerai berai.[78] Baru pada tanggal 3 Juni Van Hohendorff bisa berangkat ke Mataram dengan pasukan berkekuatan 1.007 orang, yang 223 dari antaranya adalah orang Eropa. Pada hari yang sama dia berhasil merebut benteng di Kadersanan dan lima hari kemudian dia melaporkan bahwa dia telah memukul para pemberontak mundur dari markas mereka di Randulawang dekat Yogya dan kemudian berhasil mengalahkan beberapa serangan dari seluruh wilayah Mataram dengan mudah sebab para bupati Mataram menyeberang ke pihaknya sebelum pertempuran dimulai.[79] Para pemberontak yang selamat lari dalam dua kelompok. Kelompok pertama yang terdiri dari Mangunoneng dan sejumlah pengikut lari ke arah barat. Beberapa dari mereka tertangkap di Bagelen, sementara Mangunoneng terus lari ke Tegal dan menyerahkan diri kepada Kumpeni.[80] Kelompok kedua yang terdiri dari Mas Garendi, Panjang dan sejumlah orang Cina, lari ke selatan lewat Gunung Kidul, Kaduwang dan Panaraga menuju Kediri, dimana mereka bergabung dengan para pemberontak Pasuruan. Para bupati yang mereka lewati gagal menghentikan mereka, dan mungkin justru sangat senang bisa membiarkan mereka lewat.[81]

Sebelum Van Hohendorff dapat meninggalkan ke Mataram, dia menghadapi tantangan dari sebuah pihak yang tak terduga. Raden Pangulu, “pendeta” utama dari Tembayat, sebuah tempat suci yang terkenal, tiba-tiba merasa bahwa dia terpanggil untuk menjadi raja Jawa. Para bupati Mataram mendesak Van Hohendorff untuk menumpas pengacau ini. Pada tanggal 14 Juni Van Hohendorff berhadapan dengan raja yang mengangkat dirinya sendiri ini, yang dengan mengenakan perlengkapan raja memimpin pengikutnya di sebuah padang di dekat Tembayat. Setelah pertempuran sengit selama setengah jam, Raden Pangulu dan sejumlah pengikutnya terbunuh. Ancaman terakhir terhadap Kartasura dari wilayah Mataram berhasil disingkirkan.[82]

Ancaman dari Martapura di Grobogan tidak terlalu serius. Kekuatannya tidak besar, meskipun oleh Raden Suryakusuma (Mas Said, yang kemudian menjadi Mangkunagara I) dan Pangeran Buminata. Tapi dia dengan tiba-tiba berhasil merebut Cengkalsewu pada tanggal 2 Maret dan beberapa hari kemudian merebut Kudus dan Pati. Kumpeni mengirimkan Letnan Carel Fleurken bersama sejumlah pasukan Eropa dan 100 pasukan pribumi ke Kudus. Kekuatan lainnya diberangkatkan dari Rembang dan Juwana ke Pati.[83] Tapi sebelum mereka tiba, Martapura sudah mundur ke Grobogan.[84] Dari sana dia memalingkan perhatiannya ke Kartasura. Ancaman ini serius sebab area Sukowati di sebelah timur laut Kartasura adalah jalur suplai makanan utama ke ibu kota. Para pemberontak di Mataram telah memotong jalur lainnya. Sunan mengirim Raden Arya Malayakusuma dan beberapa bupati lain untuk menyerangnya, tapi seperti biasa, mereka dipukul mundur oleh para pemberontak, yang sekarang berada di Bengawan Solo.[85] Sebuah patroli pasukan Kumpeni berhasil mengusir mereka dan beberapa hari kemudian Raden Arya Malayakusuma melaporkan bahwa dia berhasil mengusir mereka lebih jauh lagi.

Martapura mundur lagi ke Grobogan, tapi sekarang Pangeran Singasari, saudara Buminata, bergabung dengannya.[86] Kumpeni mengira Martapura sudah putus asa, tapi pada tanggal 18 Juli datang seorang utusan dari bupati Cengkalsewu yang mengabarkan bahwa Martapura berniat menyerang Kudus dan Pati lagi. Sekali lagi Letnan Fleurken dikirim dari Semarang dan sebuah kekuatan kecil diberangkatkan dari Juwana.[87] Meskipun mereka dilarang mengejar Martapura, Fleurken kali ini menggerakan pasukannya ke Grobogan dan Ensign Hendrik Sebastiaan Bijl bergerak dengan sejumlah orang Eropa dan seratus orang Jawa dari Rembang menuju Warung. Ensign Hendrik Sebastiaan Bijl sempat beberapa kali bentrok dengan para pemberontak, yang mundur ke arah Kartasura.[88] Pada bulan Agustus Van Hohendorff melaporkan bahwa Martapura, Buminata dan Singasari ada di sekitar Kartasura dan menunjukkan tanda-tanda mau menyerah.[89] Ketika Verijsel datang ke Kartasura pada bulan November untuk membuat perjanjian dengan Sunan, mereka masih belum membuat keputusan.[90]

Sekarang tinggal Pasuruan. Situasi di sana masih panas seperti yang sudah-sudah. Beberapa kali para penerus Mas Brahim – tidak pernah dijelaskan apakah dia ini putranya ataukah salah seorang pamannya – menunjukkan keinginan untuk menyerah, tapi mereka tidak pernah melakukannya. Sebaliknya, pada bulan Maret, hampir bersamaan dengan serangan terhadap Cengkalsewu, mereka menyerbu lagi ke Japan, Wirasaba dan Kediri.[91] Pada bulan Mei bupati-bupati Surabaya mengirim ekspedisi untuk mengusir mereka dan berhasil merebut Japan. Tapi kemudian gerombolan lain mengancam Surabaya dari Bangil dan bahkan berhasil mencapai Wonokromo sebelum akhirnya dipukul mundur oleh Kumpeni. Ekspedisi para bupati pun kembali ke Surabaya.[92]

Pada bulan Juli Mas Garendi dan Panjang sampai ke Kediri, tapi ini tidak meredakan situasi.[93] Sebenarnya Mas Garendi, yang hampir sejak pengangkatannya terus mencoba mencapai persetujuan dengan Kumpeni, sudah bosan dengan perannya. Dia menyadari benar bahwa dia tidak pernah menjadi lebih daripada sebuah boneka. Pada bulan September dia berhasil lolos dan pada tanggal 2 Desember datang untuk menyerahkan diri.[94] Que Panjang tidak pernah menyerah. Dia mencoba untuk menyerah dua atau tiga kali tapi ketika dia ternyata tidak termasuk dalam golongan yang mendapat ampun, dia dan pengikutnya bergabung dengan para pemberontak di Pasuruan.[95] Lalu dia menghilang dan terakhir kali terlihat di Bali pada tahun 1758 di kraton Gusti Agung.

Karena kekacauan yang terus terjadi, negosiasi harus ditunda sampai akhir 1743. Mulanya Kumpeni minta Sunan datang ke Semarang, tapi Kumpeni kemudian sadar bahwa jika Sunan meninggalkan Kartasura sementara para pemberontak masih ada di Mataram, wilayah pusat yang masih goyah itu akan ambruk. Kumpeni tampaknya menginginkan Sunan berada di Semarang agar Sunan ada di dalam kekuasaannya. Meskipun Kumpeni telah mengangkat kembali Sunan ke atas tahta, belum ada keputusan apakah dia akan dipertahankan. Verijsel sebelumnya, pada bulan Agustus 1742, sudah membela Sunan tapi Batavia masih terus mengungkit masalah ini. Verijsel mengulang argumennya pada bulan Januari dan Maret 1743.[97] Pada bulan Juni dan Juli masalah ini dipertimbangkan kembali atas permintaan Gubernur Jendral yang baru, Gustaaf Willem Baron van Imhoff, yang tiba di Batavia pada tanggal 28 Mei 1743.[98]

Verijsel hanya mengulangi argumennya bahwa pengangkatan kembali Sunan adalah cara termudah untuk memulihkan perdamaian. Tapi cara ini harus dilakukan bersama-sama dengan pemberian amnesti yang sebaiknya diumumkan dalam rangka merayakan pengangkatan Van Imhoff sebagai gubernur jendral. Amnesti diperlukan tidak hanya untuk membujuk para pemberontak yang masih tersisa supaya mereka menyerahkan diri, tapi juga untuk menyingkirkan semua rasa kecurigaan yang ada di antara Sunan dan bupati-bupatinya. Selama masih ada keraguan apakah Kumpeni benar-benar mendukung Sunan dan tidak akan mengadakan penyelidikan untuk mencari siapa yang bersalah dalam masalah ini, para bupati tidak akan mendukung Sunan dan curiga bahwa Sunan akan menimpakan semua kesalahan kepada mereka. Apalagi penyelidikan seperti itu sebaiknya tidak dilakukan. Jangan mengaduk-aduk air yang sudah keruh ini sebab biang keladinya tidak akan pernah ditemukan. Kalau tidak mau menghukum mereka semuanya, maka harus mengampuni mereka semuanya. Jika memang penghinaan terhadap Kumpeni memang tidak dapat dimaafkan, maka sebaiknya mencari Sunan baru. Tapi sementara ini tidak ada kandidat yang pantas dan seandainya ada pun, Kumpeni harus memberikan dukungan militer yang lebih besar daripada yang diberikan kepada Sunan yang sekarang.  Apalagi sekarang Kumpeni sudah terlanjur mendukung Sunan yang sekarang dan sudah memulai perundingan dengannya. Sunan sudah menyatakan penyesalannya dan kesediaannya untuk menerima semua tuntutan. Tidak pantas jika sudah sejauh ini kemudian tiba-tiba menyingkirkan dia dan mengangkat orang lain. Dan Sunan mendapatkan posisinya ini semata-mata karena jasa Kumpeni sehingga sejak detik itu dia bisa diandalkan, dalam artian sejauh orang Jawa bisa diandalkan.

Orang kedua setelah Verijsel, Jan Herman Theling, memiliki pendapat yang berbeda: dia telah mempelajari kembali semua laporan, tapi itu tidak banyak menolong. Dari kisah-kisah para bekas anggota garisun Kartasura ada kesan bahwa Sunan, pembesar-pembesar kraton dan para bupati semuanya sama berperannya dalam kejadian-kejadian itu. Dia membaca Remarcques Van Hohendorff dan merasa kasihan kepada Sunan, sebab kebaikan hati dan keluguannya disalahgunakan para menterinya. Tapi di pihak lain, kisah Natakusuma menunjukkan bahwa dia melakukan segala sesuatunya atas perintah dan dengan sepengetahuan Sunan. Karena tidak mungkin semuanya sama bersalahnya, maka harus diadakan penyelidikan menyeluruh, yang bisa dimulai dengan menyodorkan kisah Natakusuma kepada Sunan. Mereka tidak perlu lagi takut pada Sunan sebab dia sekarang lebih seperti seorang tahanan daripada seorang raja yang berkuasa, yang tidak memiliki pengikut selain pengikut yang dibawa kepadanya lewat senjata Kumpeni. Tapi Theling mengakui bahwa jika yang diinginkan adalah pemulihan perdamaian secepatnya, maka penghinaan terhadap Kumpeni harus diabaikan dan amnesti diumumkan.

Tapi Van Imhoff tidak memandang enteng penghinaan terhadap Kumpeni. Kumpeni tidak boleh menjadi bahan ejekan. Apa yang terjadi di Kartasura pada 1741 lebih parah daripada yang terjadi pada François Tack pada 1686.[100] Akhirnya disepekati sebuah kompromi yang agak kekanak-kanakan. Tumenggung Rajaniti dan “pendeta” Sayid Aluwi tampaknya adalah pihak yang paling getol dalam memaksa garisun memeluk Islam. Batavia meminta keduanya diserahkan kepada Kumpeni dan tuntutan ini dikirim bersama instruksi bersegel kepada Van Hohendorff. Jika Sunan menolak, Van Hohendorff diperintahkan untuk menahan Sunan dan putra mahkota dan mengirim mereka berdua ke Semarang. Sebuah jaringan militer yang rumit dibentuk sepanjang jalan Kartasura-Semarang untuk melancarkan penahanan itu. Tapi Van Hohendorff ternyata tidak perlu membuka segel itu. Sunan menyetujui tuntutan itu. Rajaniti telah meninggal pada tanggal 15 Mei 1743 tapi Sayid Aluwi masih ada. Atas kehendaknya sendiri Sunan bahkan menyerahkan “pendeta” lainnya, Haji Mataram, yang menurutnya bersama-sama dengan Sayid Aluwi mendorong Natakusuma dan Rajaniti untuk memperlakukan garisun dengan buruk. Keduanya dikirim dengan dirantai ke Semarang dan kemudian ke Batavia.[101] Dengan demikian kehormatan Kumpeni tetap terjaga. Amnesti kemudian diumumkan dan Verijsel pada bulan September pergi ke Kartasura untuk membuat kontrak baru.

Karena Sunan sudah menyatakan kesediaannya untuk menandatangani hampir apa saja yang disodorkan Kumpeni di hadapannya, negosiasi itu berjalan tanpa kesulitan. Tapi Verijsel memberikan kesempatan luas kepada Sunan untuk menyatakan keberatan-keberatannya, sekalipun itu hanya untuk menghilangkan kesan bahwa Sunan sedang ditekan. Meskipun kebanyakan pasalnya berkenaan dengan pengiriman produk, pembayaran hutang dan jasa-jasa lain, inti dari kontrak yang baru itu adalah seberapa banyak kekuasaan dan wilayah yang akan disisakan untuk Sunan. Setelah mencuatnya soal penyerahan sepenuhnya seluruh kabupaten pesisir, Sunan masih bisa dikatakan beruntung. Wilayah timur jauh Jawa (sebelah timur Pasuruan) diserahkan dan Sunan tidak perduli karena wilayah ini secara efektif sudah lebih dari satu abad berada di luar kekuasaan raja. Sudah tidak ada lagi orang yang ingat hak-hak istimewa apa saja yang dimiliki Sunan di wilayah ini dan bagaimana dulu wilayah ini didapat. Madura, tentu saja, diserahkan dan Sidayu dijadikan semacam bawahan Madura dengan ketetapan bahwa semua bupatinya harus merupakan keturunan Cakraningrat, meskipun seorang bupati Sidayu tidak dapat menjadi bupati Madura pada saat yang sama.[102] Kemudian kabupaten-kabupaten Surabaya, Rembang dan Japara diserahkan, termasuk distrik penghasil kayu di Rembang dan Japara. Dari semua daerah lain di Pulau Jawa Sunan harus menyerahkan enam ratus rod[103] tanah sepanjang garis pantai dan tepian semua sungai yang bermuara ke laut. Tapi ini lebih merupakan masalah prinsip daripada praktek sebenarnya. Kabupaten-kabupaten pesisir lain kecuali Semarang, yang sudah menjadi milik Kumpeni, dikembalikan ke bawah kekuasaan Sunan, hanya saja Sunan tidak diperbolehkan menunjuk atau mencopot bupati di kabupaten-kabupaten ini tanpa persetujuan Kumpeni dan bupati-bupati ini juga tidak berkewajiban datang sendiri ke kraton.

Selain itu penunjukkan dan pencopotan patih dan bupati utama lain juga harus dilakukan dengan persetujuan Kumpeni. Ini menimbulkan sejumlah masalah. Sunan cepat-cepat berkata bahwa dia ingin menunjuk Tumenggung Tirtawiguna sebagai patih. Meskipun Kumpeni menyukai pilihan itu, Verijsel ingin menghindari terjadinya kecemburan akibat penunjukkan yang tiba-tiba seperti itu. Dan benar, pada hari yang sama Raden Arya Pringgalaya datang dengan mengeluh bahwa dia sejak lama sudah melaksanakan tugas-tugas patih dan tidak sepantasnya dirinya diabaikan begitu saja. Verijsel berkonsultasi dengan Van Imhoff dan diputuskan bahwa keduanya akan ditunjuk menjadi patih. Sunan menolak keras. Pengalaman dengan Danureja dan Kartanagara telah menunjukkan bahwa keberadaan dua patih akan menimbulkan jalan buntu. Ketika Sunan akhirnya bisa diyakinkan, Tirtawiguna menolak. Dia berasal dari rakyat jelata dan tidak bisa diletakkan sejajar dengan Pringgalaya, yang masih kerabat dekat Sunan. Tapi justru itulah sebabnya Sunan memilih Tirtawiguna. Setelah didesak keduanya bersedia.  Tirtawiguna diangkat dengan gelar Kyahi Adipati Sindureja dan Pringgalaya diangkat dengan gelar Raden Adipati Arya Pringgalaya.[104]

Meskipun kontrak itu tidak seburuk yang diperkirakan, dalam waktu tiga tahun isinya ditambah sedemikian rupa sehingga kabupaten-kabupaten pesisir akhirnya diserahkan seluruhnya. Pada bulan Mei 1746, Gubernur Jendral Van Imhoff, yang memiliki pandangan ke depan tentang eksploitasi yang lebih menyeluruh terhadap Jawa,[105] dalam kunjungannya ke kraton memaksa Sunan untuk menyerahkan semua kabupaten pesisir dengan imbalan uang sebesar lima ribu reyal tiap tahunnya. Sunan juga menyerahkan semua pajak pelabuhan untuk waktu yang tidak ditentukan. Sebagai gantinya semua hutangnya dan semua kewajiban untuk membayar garisun di ibu kota dan biaya hidup anggota keluarga dan orang-orang lain yang ada dalam pengasingan dihapuskan. Dalam kontrak tahun 1743, penyerahan hak pemungutan pajak-pajak ini terikat dengan hutang-hutang dan kewajiban Sunan sehingga pada teorinya masih bisa dikembalikan. Yang terakhir, Sunan juga dipaksa untuk menyerahkan semua gerbang pajak di wilayah pedalaman, pajak impor dan ekspor, termasuk pajak untuk sarang burung, untuk tembakau Kedu, untuk Bengawan Solo dan untuk semua pasar, dengan imbalan uang sebesar sembilan ribu reyal. Untuk membuatnya lebih menarik, Ratu Amangkurat mendapat seribu reyal dan kedua patih masing-masing mendapat seribu reyal setiap tahunnya. Para pangeran dan anggota keluarga lain akan bersama-sama menerima seribu reyal, sementara putra mahkota akan mendapat dua ribu reyal pada saat dia berumur 14 tahun.[106]

Bahkan tanpa penambahan di atas tadi, kontrak 1743 pun sudah merupakan pil pahit. Pengangkatan kembali Pakubuwana II ke atas tahta harus dibayar sangat mahal, tidak hanya karena penyerahan wilayah, pengiriman produk maupun pembayaran hutang, tapi juga karena kekuasaan Sunan dikebiri. Meskipun Kumpeni menetapkan di dalam kontrak dan dalam penambahan tahun 1746 itu bahwa para bupati harus tetap menghaturkan hormat kepada Sunan, tapi dengan tidak adanya monopoli pemberian jabatan, tidak adanya kewajiban untuk datang sendiri ke kraton, tanpa adanya kekuasaan untuk menunjuk dan mencopot sesuka hati, hormat yang dihaturkan itu menjadi upacara kosong belaka yang tidak berhubungan lagi dengan proses politik. Sunan dan kraton menjadi tidak relevan lagi. Jika sebelumnya kraton menjadi pusat segalanya karena posisi para bupati dan saingan-saingan mereka tergantung dari ketrampilan mereka berpolitik di kraton, sekarang Kumpeni yang memutuskan segalanya. Tapi Kumpeni punya tujuan-tujuan yang konservatif: perdamaian, ketertiban dan setoran produk secara teratur dalam kerangka politik status quo yang dibekukan sedapat mungkin. Posisi para bupati menjadi tergantung pada hubungan mereka dengan Kumpeni dan pada kemampuan mereka untuk menjaga ketenangan kabupaten masing-masing. Politik lokal menempat posisi yang penting sekarang. Tubuh politik Jawa terdisintegrasi menjadi unit-unit lokal. Penerus-penerus Pakubuwana II pada akhirnya bisa mendapatkan kembali sebagian kekuasaan mereka untuk wilayah-wilayah pusat dan berhasil membangun kraton menjadi sebuah mesin politik kembali, tapi kekuasaan Pakubuwana II sendiri tidak pernah pulih. Dia berhutang nyawa pada Van Hohendorff dan berhutang kekuasaan, atau sedikit kekuasaan yang masih dipegangnya, kepada Kumpeni. Kecurigaannya terhadap menteri-menteri dan bawahannya tidak pernah luntur. Kratonnya telah dijarah dua kali dan jaringan politik rumit yang menjadi esensi dari negaranya telah runtuh. Dia tidak punya apa-apa lagi untuk ditawarkan, bahkan harapan untuk pulih pun tidak dimilikinya.

Ini sangat pahit dirasakan, terutama oleh anggota keluarganya. Perang ini dimulai sebagai upaya “nasional” untuk melawan Kumpeni, lalu berubah menjadi upaya untuk menggulingkan Sunan dan akhirnya merosot menjadi perjuangan lokal, dan sekarang merusak inti dari negaranya sendiri, yaitu keluarga Sunan. Kita sudah melihat bagaimana Raden Mas Said, Pangeran Buminata dan Pangeran Singasari satu per satu meninggalkan kraton. Langkah mereka diikuti oleh Pangeran Danupaya. Empat pangeran lain, Pangeran Mangkubumi, Pangeran Rangga, Pangeran Silarong dan Pangeran Prangwadana, lari ke Semarang setelah kejatuhan Kartasura. Di sana Mangkubumi berusaha menarik minat Kumpeni tapi gagal. Mereka kemudian kembali bersama Verijsel ke Kartasura, tapi kebanyakan dari mereka tidak tinggal lama di sana. Verijsel mengira pengumuman amnesti akan mendamaikan Jawa tapi Jawa dan kratonnya yang sudah runtuh itu tidak menawarkan prospek bagi pangeran-pangeran yang ambisius. Pemberontakan yang mereka lakukan membawa perang ini ke dalam fase baru, yang berlangsung setidaknya sampai 1757, ketika sisa wilayah yang ada dibagi-bagikan kepada para petarung utamanya. Kumpeni mengira dia telah mendapatkan pijakan yang lebih kuat, tapi ia sebenarnya terjerumus ke dalam lumpur dan ia baru bisa bebas setelah menghabiskan waktu bertahun-tahun dan emas berton-ton. Dan sampai tahun 1761, seperti yang kita baca tadi, Hartingh masih bertanya-tanya apakah segala pengorbanan itu sepadan dengan biaya yang dikeluarkan.


[1] “subregent”

[2] Maksudnya dari wilayah pulau Jawa di sebelah selatan Demak (Jawa) sampai ke Gunung Muria di dekat Jepara.

[3] “Java Chinese”

[4] “flying brigade”

[5] “grenadier”

[6] “traditional appanage”

Komentar ditutup.