PERANG CINA DAN RUNTUHNYA NEGARA JAWA BAB 4

Bab IV

Perang Pertama

Kejatuhan Arya Purbaya memperbesar harapan Kumpeni. Setelah sumber petakanya disingkirkan, segala kejahatan akan berhenti dan Jawa akan mekar berkembang.[1] Tentu saja ini adalah harapan yang sia-sia. Dislokasi politik, ekonomi dan bahkan sosial yang disebabkan kehadiran Kumpeni jauh lebih besar daripada sekedar reaksi “jahat” satu orang. Lebih jauh lagi, kejahatan semacam ini belum tercabut sampai ke akarnya. Atas tekanan Kumpeni, sejumlah pengikut Arya Purbaya disingkirkan, baik saat itu juga maupun selama kurun waktu tahun 1739. Arya Secanapura dari Demak langsung diturunkan pangkat dan digantikan oleh Wirasastra, bupati Lembahrawa dan saudara tiri Tirtawiguna. Tapi Lembahrawa kemudian diberikan pada anak Natakusuma, Raden Ngabehi Anggadiwirya, yang menikah dengan seorang putri dari Danureja yang telah diasingkan[2]. Suradadaha dari Blitar/Sarengat diganti dengan saudara ipar Danureja, Ngabehi Suralagawa, yang dulunya bergelar Ngabehi Suradirana dari Surabaya. Arya Sumaningrat dari Kamagetan digantikan oleh adik Citrasoma dari Jepara yang bernama Citradiwirya sementara saudara Arya Sumaningrat yaitu Ngabehi Mangunrana dari Cengkalsewu digantikan oleh Raden Ngabehi Wiratmeja, keponakan Ratu Amangkurat. Semua pengikut Purbaya lainnya diampuni.[3] Yang membuat Kumpeni dan sekutu-sekutunya kecewa adalah Natakusuma tetap menjadi patih. Apalagi tidak semua bawahan dari mantan Arya Purbaya dialihkan ke kontrol musuh-musuhnya. Rakyat Kalang dan Gowong dialihkan kepada Rajaniti, pendukung setia Arya Purbaya dan Natakusuma. Posisi Arya Purbaya sebagai wedana keparak tengen diisi oleh Tumenggung Natayuda, bupati Kedu, yang merupakan sosok yang bisa dikatakan tidak memihak. Sementara itu posisi Natayuda di Kedu diisi oleh sepupunya, Raden Tumenggung Mangkupraja, saudara dari Tumenggung Mangkuyuda, bupati kedua Kedu. Posisi Arya Purbaya sebagai semacam wedana lebet super sebenarnya beralih ke tangan Rajaniti. Meskipun sebagian dari bawahan Arya Purbaya telah dialihkan kepada Natayuda, kehilangan itu sudah sangat terimbangi oleh fakta bahwa Rajaniti tetap memiliki kontrol atas istana belakang (achterhof) dan Mataram.[4]

Natakusuma kehilangan kontrol terhadap rakyat Jagasura, tapi dalam semua hal lain posisinya masih kuat. Dia kehilangan salah seorang penasehat spiritualnya, Kyahi Haji Mataram, yang diasingkan ke Bagelen, tapi Sayid Aluwi masih ada di Kartasura.[3] Tidak seperti Arya Purbaya, jaringan Natakusuma di antara para bupati sangat luas. Putra sulungnya menikah dengan putri Tumenggung Kartanagara dan sebentar lagi akan menjadi bupati Kediri. Putranya yang tadi sudah disebutkan sebagai bupati Lembahrawa menikah untuk putri Danureja. Putra satunya lagi menikah dengan putri Jayaningrat dari Pekalongan dan kemudian menggantikan Jayaningrat pada 1741. Seorang putrinya menikah dengan putra Rajaniti, yang kedua dengan Citrasoma dari Japara, yang ketiga dengan putra Arya Kudus, bupati Juwana, dan yang keempat tampaknya menikah dengan putra Arya Suralaya dari Brebes. Sepupu atau keponakannya (istilah Belanda neef mencakup dua makna ini) Mangunrana dari Cengkalsewu dan Arya Sumaningrat dari Kamagetan dicopot tapi sepupunya Surengrana dari Surabaya dan Wirakusuma dari Rawa tetap menjabat. Koneksi keluarga Natakusuma juga mungkin lebih luas daripada yang diindikasikan oleh catatan yang tersebar di mana-mana dalam sumber-sumber Kumpeni ini.

Di luar koneksi keluarga ini, yang sebenarnya bukan merupakan tolok ukur yang sejati dari dukungan politik, Natakusuma bisa mengandalkan dukungan dari wedana Panekar, Tumenggung Kartanagara, ke dua wedana Siti Ageng, Raden Arya Pringgalaya dan Raden Arya Malayakusuma, dan Rajaniti, yang sudah disebutkan di atas. Bupati-bupati utama lain di Kartasura lebih mencari selamat lewat posisi netral. Akibatnya oposisi di Kartasura, yang juru bicaranya adalah Pangeran Loringpasar, sangat lemah dan tidak akan ada artinya seandainya tidak didukung Kumpeni. Meskipun bisa diasumsikan bahwa beberapa orang dari saudara tirinya mendukung dia, tidak satu pun memiliki kekuatan. Jika terjadi pemberontakan mereka akan menjadi ancaman yang potensial tapi dalam situasi normal mereka dijaga ketat, sekalipun penjagaan itu hanya berwujud kecilnya jumlah rumah tangga yang ada di bawah kewenangan mereka. Ini yang bisa dikatakan terjadi pada Pangeran Tepasana dan klannya. Meskipun dia dan kerabatnya naik sedikit derajatnya setelah diasingkannya Arya Purbaya, jumlah rumah tangga yang ada di bawah kewenangan mereka dan pangeran lain dihitung dalam puluhan dan ratusan, bukan ribuan seperti seorang bupati besar. Ibu Sunan, Ratu Amangkurat, merupakan salah satu kekuatan pendukung kup terhadap Arya Purbaya, tapi setelah itu berlalu, dia langsung menyingkir. Kepentingannya terletak pada putra dan putrinya, bukan pada oposisi yang dipimpin pangeran lain. Apalagi salah satu keinginannya terpenuhi dengan jatuhnya Arya Purbaya: sebab Sunan tanpa meminta persetujuan Batavia telah memberikan mas kawin bagi saudarinya. Jabatan bupati Sidayu yang sedang kosong diberikan kepada Raden Tumenggung Suradiningrat, putra tertua Cakraningrat dari Madura. Meskipun Cakraningrat meminta agar dua putranya lainnya juga diberi kabupaten di Jawa, dia harus puas dengan penunjukkan putra tertuanya dan pemberian gelar Ratu Mas Maduretna bagi istrinya Bengkring.[6]

Tumenggung Tirtawiguna, salah seorang pelaku utama dalam kejatuhan Arya Purbaya, terlalu berhati-hati untuk berani mencoba keberuntungannya. Apalagi tidak lama setelah kejatuhan Arya Purbaya, dia ternodai oleh sebuah skandal yang melibatkan putrinya, yang menjadi istri salah seorang pengulu (semacam pejabat religius) utama. Dia kedapatan berhubungan terlalu jauh dengan selir-selir Sunan, yang diajarinya cerita-cerita dan lagu-lagu yang tidak sopan. Tuduhan yang lebih serius adalah bahwa dia juga tahu tentang skandal cinta antara putranya dengan salah seorang selir ini. Putranya itu menyamar sebagai wanita dan masuk ke keputren.[1] Ketika ketahuan dia dan kekasihnya dieksekusi secara diam-diam sementara sang pengulu dan istrinya diasingkan ke Ayah. Gunung Merapi mengeluarkan letusan besar seolah mendukung kemarahan Sunan.[7]

Tidak mengherankan jika pihak oposisi di Kartasura gagal untuk mengambil keuntungan dari kejatuhan Arya Purbaya. Mereka bertindak lewat Kumpeni dan berhati-hati untuk tidak menunjukkan diri. Tanpa intervensi aktif dari Kumpeni mereka tidak berdaya dan Kumpeni tidak mau mendesak lebih lanjut dengan harapan bahwa setelah Arya Purbaya tersingkir, segalanya akan kembali normal. Dalam artian tertentu situasinya memang tetap seperti semula: serangan-serangan terhadap orang Cina tetap berlanjut, tapi Kumpeni sudah kehilangan kambing hitam di Kartasura.[8] Dalam hal lain, hubungan Kumpeni dengan kraton tampaknya menjadi lebih dekat. Batavia meminta dua belas kuda putih dan Sunan memberikannya sementara Crul sebagai balasan memberikan seekor kuda coklat.[9] Dengan persetujuan Batavia, putra Sunan yang masih bayi diangkat sebagai putra mahkota. Tapi Batavia tidak mau memenuhi permintaan agar Arya Purbaya ditahan di Batavia dan tidak diasingkan ke luar Jawa. Katanya Sunan mengajukan permintaan itu karena cintanya pada saudarinya, istri Arya Purbaya.[10] Bahkan Natakusuma berusaha memberikan kesan bersahabat dengan mengucapkan terima kasih atas bantuan Kumpeni sehingga dia tetap menjadi patih.[11] Tapi di balik wajah-wajah bersahabat ini sedang terjadi situasi yang sama sekali lain. Menurut Loringpasar, Natakusuma mencemooh nasehat yang diberikan Crul dan Gubernur Jendral. Pada saat yang sama dia dan teman-temannya mencari tahu siapa yang telah mengorbankan Arya Purbaya kepada Kumpeni. Tumenggung Tirtawiguna berhasil membersihkan dirinya dengan mengucapkan sumpah, yang juga diminta dari Puspanagara dari Batang dan Jayaningrat dari Pekalongan.[12]

Tapi sebenarnya tidak banyak terjadi perubahan sejak masa Arya Purbaya. Akses kepada Sunan pun tidak bertambah mudah. Tidak seorangpun diberi kesempatan untuk bertemu Sunan di luar jalur tatap muka biasa, apalagi Natakusuma, sebab itu akan menimbulkan kecurigaan residen. Tapi kecurigaan residen dinyalakan oleh Pangeran Ngabehi Loringpasar, yang mengatakan kepada residen bahwa itu semua cuma pura-pura, sebab ada seseorang bernama Resajiwa, seorang lurah pemandhon (semacam pengawas barang-barang rumah tangga kerajaan) yang bertindak sebagai penghubung rahasia antara Natakusuma dan Sunan. Orang ini ternyata tidak terlalu diperlukan sebab pada bulan Januari 1740 dia didapati bersalah telah mengangkangi barang-barang yang disita dari Arya Purbaya dan terlibat dengan selir-selir Sunan. Dia dicopot dan dieksekusi.[13] Seperti biasa, Pangeran Ngabehi Loringpasar membesar-besarkan untuk mendesak Kumpeni. Dia frustrasi karena diasingkannya Arya Purbaya tidak meningkatkan pengaruh dirinya maupun teman-temannya. Meskipun Natakusuma bersumpah bahwa setelah kejatuhan Arya Purbaya semua keputusan ia rundingkan dengan para pembesar,[14] sebenarnya segalanya masih diatur oleh dia dan teman-temannya, terutama Tumenggung Kartanagara, Raden Arya Pringgalaya, Raden Arya Malayakusuma dan pepati Natakusuma, yaitu Ngabehi Surajaya. Semua pihak lain tidak tahu apa-apa. Untuk sementara, Citrasoma dari Japara dan terutama Surawikrama dari Gresik dan Arya Suralaya dari Brebes tampaknya masuk ke dalam plot Natakusuma, tapi itu mungkin lebih disebabkan karena dua Citrasoma dan Surawikrama baru pulang dari kunjungan ke Batavia dan mungkin mendapatkan informasi di sana tentang siapa yang menjatuhkan Arya Purbaya, dan karena Arya Suralaya ingin mengambil keuntungan dari kecurigaan terhadap Jayaningrat dari Pekalongan dan Puspanagara dari Batang. Kelompok ini bahkan tidak lupa menggunakan kekuatan magis untuk memperkuat diri: seorang wanita cantik diambil secara paksa dari Giri, pusat Islam yang terkenal dekat Gresik, untuk dinikahkan dengan penasehat spiritual Natakusuma, Sayid Aluwi, Menurut Pangeran Loringpasar, Natakusuma telah menjadi macan yang lebih besar daripada Arya Purbaya.[15]

Tapi tuduhan-tuduhan ini, seberapapun kebenarannya, tidak diterjemahkan ke dalam tindakan. Setelah masa-masa kacau Arya Purbaya, ketika kebijakan Jawa berhadapan dengan Kumpeni, situasi mereda tapi tidak menentu. Sementara itu Crul diangkat menjadi anggota luar biasa Dewan Hindia dan digantikan oleh Bartholomeus Visscher, seseorang yang berpengalaman dalam Jawa, yang memulai karirnya sebagai residen Demak pada 1728 dan meningkat menjadi residen Japara (1732) dan kemudian opperhoofd Surabaya (1735). Tidak lama kemudian Hendrik Duirvelt, residen dan komandan garisun Kartasura diangkat menjadi komandan garisun Batavia dan digantikan oleh Johannes van Velsen, seorang Indo-Eropa yang dilahirkan di Jepara, tapi tidak punya pengalaman di Kartasura kecuali bahwa dia menjadi anggota rombongan Coyett pada 1733. Situasi tampaknya tenang, dengan diwarnai satu dua kali serangan terhadap orang Cina dan sedikit gerakan oleh Cakraningrat di timur. Tapi ketenangan ini tidak timbul dari rasa puas, tapi dari kebingungan.

Tuntunan spiritual di Jawa biasanya didapatkan dari makam leluhur dan ke sanalah sang raja melangkahkan kakinya. Selama tahun-tahun berkuasanya Arya Purbaya, dia hampir selalu mengurung diri dalam istananya. Beberapa hari setelah dia mencopot Arya Purbaya, raja melakukan perjalanan ke Panasan, sebuah tempat favorit untuk tamasya dan ziarah bagi kraton Kartasura.[16] Tapi perjalanan itu mungkin lebih merupakan sebuah pemenuhan kaul setelah Sunan sembuh dari penyakitnya daripada sebuah ziarah.[17] Satu-satunya yang dilakukan Sunan adalah mengunjungi pasar Panasan dan menebarkan uang receh kepada orang banyak. Tapi pada September 1739 Sunan memutuskan untuk mengadakan ziarah besar ke Mataram, cikal bakal dari wangsanya, dimana semua leluhurnya dimakamkan, di Kota Gede dan Imogiri, kecuali Sultan Amangkurat Tegalwangi. Rupanya larangan bagi raja yang masih memerintah untuk menziarahi makam-makam ini belum ada pada masa Pakubuwana II.

Prosesi yang megah itu berangkat dari Mataram pada hari Rabu tanggal 16 September 1739. Sunan mengenakan baju Belanda, beludru hitam dengan bordir emas, sarung tangan kulit berwarna putih, kaos kaki dan sepatu, mahkota emas padat yang diletakkan pada topi pribumi (Maleise muts), lengkap dengan tongkat di tangan. Dia naik kereta yang ditarik dua belas ekor sapi yang tak tertandingi kecantikannya, yang didahului seekor gajah, kereta-kereta barang, empat kuda kerajaan yang dilapisi kain kuning, dua ratus penumbak berpakaian kuning, tujuh ratus penembak berpakaian ungu dan lima tandu tertutup yang membawa para wanita. Kereta raja berangkat dengan aba-aba terompet, diikuti oleh para pangeran berkuda dan pengawal Eropa yang memukul genderang. Benteng menembakkan salut sebanyak sebelas kali untuk menghormatinya. Pengawal Eropa yang berkuda diikuti oleh sekitar dua puluh ribu penumbak dan seribu penembak baik yang berkuda maupun jalan kaki, yang berpakaian Jawa dengan warna kuning, celana dan topi berwarna merah dan biru dan berbaris di bawah naungan lebih dari 50 panji dan bendera dari sutra. Prosesi ini memerlukan waktu tiga hari untuk sampai di Mataram.[18]

Tentu saja kita tidak tahu tuntunan apa yang diterima Sunan dari para leluhurnya. Tapi kunjungan itu tampaknya menguatkan dia. Selama berada di Mataram dia mengadakan pertarungan antara seekor singa betina, hadiah dari Gubernur Jendral, melawan seekor banteng, yang dimenangkan oleh sang banteng. Karena orang Jawa umumnya menafsirkan pertarungan itu sebagai pertarungan antara Kumpeni (macan atau singa) melawan Jawa (banteng), kita bisa mengasumsikan bahwa kepercayaan diri Sunan dalam menghadapi Kumpeni mulai pulih. Tapi ada masalah internal yang harus diselesaikan dulu. Selama hampir satu tahun Sunan menahan putri Pangeran Tepasana di kraton dengan niatan untuk dijadikan istri resminya. Setelah kembali dari Mataram dia mengembalikannya kepada ayahnya, yang menjadi sangat kecewa dan makin kecewa lagi ketika putrinya diberikan kepada seorang bupati rendahan. Meskipun Pangeran Tepasana dianugrahi “kehormatan” dengan seorang bekas istri Sunan – putri dari Pangeran Blitar yang pernah memberontak, yang kemudian menjadi janda dari almarhum Pangeran Buminata – maksudnya tertangkap dengan jelas, sebab pada saat yang sama sebuah desa pasar[2] diambil darinya.[19] Akibatnya Pangeran Tepasana menjadi makin dekat kepada Kumpeni.

Semua permasalahan yang berhubungan dengan Kumpeni, mulai dari masalah yurisdiksi sampai masalah rakyat Urut Dalan, berakhir dengan jalan buntu. Hanya satu masalah lama yang menampakkan sedikit celah dan pihak Jawa mengarahkan usaha-usaha diplomatiknya ke sana, yaitu masalah Madura dan bupatinya, Pangeran Adipati Cakraningrat. Sunan telah memberikan kabupaten Sidayu kepada putra Cakraningrat, tapi dia marah karena dia tidak mendapatkan apa-apa sebagai balasannya. Sunan rupanya berharap bahwa Cakraningrat mau muncul pada perayaan Mulud, tapi pangeran yang keras kepala ini malah meminta kabupaten untuk dua putranya yang lain. Yang membuat Sunan marah, dan dan malah membuat Kumpeni lebih marah lagi, Cakraningrat berani menyerang Blambangan pada Februari 1739 dan berhasil menguasai Panarukan, bergerak ke Bondowoso dan mendapatkan pampasan berupa sembilan puluh delapan orang wanita dan anak-anak. Selain itu dia mengirim pasukan ke Jawa Timur sampai ke Panaraga, dengan alasan untuk menangkap budak-budak yang melarikan diri, tapi yang teramati pihak Jawa hanyalah penjarahan yang terjadi. Yang membuat Kumpeni khawatir adalah bahwa Cakraningrat juga memiliki sejumlah besar pasukan Bali di bawah komandonya dan dia membuat Sunan sangat tersinggung dengan membiarkan putra-putranya muncul di Kartasura dengan pakaian Bali. Pada saat yang sama Cakraningrat juga memicu kekacauan di Sumenep, yang bupatinya, Raden Tumenggung Cakranagara, baru saja meninggal secara mencurigakan dan suksesinya menimbulkan banyak perselisihan di dalam.

Menurut Sunan, Cakraningrat sudah bertindak terlalu jauh dan bahkan Kumpeni tampaknya juga setuju.  Tapi penyelesaian masalah yang diusulkan Sunan menurut Kumpeni justru lebih buruk daripada masalahnya sendiri sebab Kumpeni takut jika sampai diadakan operasi militer bersama, ia akan terseret lagi ke dalam perang di timur, yang akan membuat posisinya di Jawa Tengah dan pesisir utara lemah. Lagipula Kumpeni tidak mampu melaksanakannya sebab ia masih terlibat perang dengan Sulawesi Selatan, yang menguras kekuatan garisun-garisun Jawa sehingga tinggal 597 pasukan Eropa.[20] Selain itu situasi di kraton mulai mencemaskan sebab Natakusuma dan teman-temannya akhirnya bergerak memburu salah satu dari orang-orang yang mereka curigai turut andil dalam kejatuhan Arya Purbaya.

Pada Mulud 1740 Puspanagara dari Batang dicopot dan semua hartanya disita, termasuk istri dan anaknya. Menurut Natakusuma, Puspanagara telah berdosa besar dengan memiliki dua orang cebol di Batang. Dalam pemikiran Jawa, segala yang abnormal memiliki kekuatan besar, maka hanya raja yang boleh memilikinya. Jika seorang bawahan berani memilikinya, itu sama dengan pengkhianatan kelas berat. Kumpeni, yang tidak pernah toleran dengan tahyul-tahyul Jawa, menganggap argumen itu tidak beralasan. Ketika sekitar sebulan kemudian Bartholomeus Visscher mengadakan kunjungan kehormatan ke kraton, dia berhasil mendapat tahu kisah yang sebenarnya. Pada Mulud, Adipati Jayaningrat dari Pekalongan ditekan sedemikian rupa sehingga dia akhirnya menunjuk sepupunya Puspanagara sebagai biang keladi utama dari kejatuhan Arya Purbaya. Jayaningrat diampuni dan dengan bercucuran air mata dia menerima keris dari Sunan, tapi sebelum itu dia harus membayar lima ribu reyal kepada Sunan dan masing-masing seribu reyal kepada Natakusuma dan Raden Arya Malayakusuma dan bersumpah bahwa dia tidak akan pernah membantu Kumpeni.[21]

Posisi Puspanagara di Batang diisi oleh Tumenggung Cakrajaya, putra Danureja (karena itulah dia menggunakan gelar lama Danureja), suami dari saudari Raden Arya Pringgalaya.[22] Roda nasib Jawa mulai menunjukkan putarannya yang khas, sebab ayah Puspanagara-lah yang pada 1732 menyampaikan surat rahasia Sunan kepada Coyett yang isinya meminta agar Danureja diasingkan. Kejatuhan Puspanagara dengan sendirinya membuat Loringpasar dan Tepasana takut bahwa giliran berikutnya adalah mereka. Tirtawiguna berhasil selamat karena kecerdikannya, tapi dia harus menjauhi masalah setelah itu. Begitu juga dengan Ratu Amangkurat, yang kehilangan keberanian untuk menentang Natakusuma.

Natakusuma tampaknya punya rencana besar. Gosip mengatakan bahwa dia hendak mencopot Tumenggung Mataun dari Jipang dan hampir semua bupati-bupati pesisir. Dia hendak mengganti mereka dengan orang-orang dari Kartasura, yang kebanyakan adalah kerabatnya, kerabat Raden Arya Pringgalaya dan kerabat Raden Arya Suralaya dari Brebes. Informasi yang berasal dari Raden Arya Suralaya telah menunjuk kepada Jayaningrat dan akhirnya kepada Puspanagara. Sebagai imbalannya, dia menerima gelar Puspanagara dan diangkat menjadi wakil gubernur kabupaten-kabupaten pesisir Barat dan menerima lima ratus rumah tangga yang diambil dari Arya Cakranagara dari Pamalang, sepupu Pangeran Ngabehi Loringpasar. Dengan demikian tidak hanya Pangeran Loringpasar yang mendapat peringatan tidak langsung, tapi juga Ratu Amangkurat. Arya Jayasentika dari Kudus, yang dekat dengan Ratu Amangkurat, dicopot dari jabatannya sebagai wakil gubernur kabupaten-kabupaten pesisir Timur dan diganti oleh Raden Surengrana, bupati pertama Surabaya dan sepupu Natakusuma. Visscher mendapat penjelasan bahwa perubahan itu dilakukan untuk menyenangkan dan menghormati dirinya karena Arya Kudus adalah bupati yang malas dan Surengrana pasti akan melayani Kumpeni dengan lebih baik. Visscher hanya bisa mengucapkan terima kasih, tapi dia berkata kepada Batavia bahwa Surengrana orangnya licik dan selalu membuat masalah dengan bupati kedua Surabaya. Dalam pandangan Visscher, Natakusuma sedang membangun kekuatan yang bertumpu pada Raden Arya Suralaya dari Brebes di barat, Raden Surengrana dari Surabaya di timur, Tumenggung Wirasastra dari Demak di tengah dan Tumenggung Surabrata dari Panaraga di Mancanagara Timur.[24]

Dengan kesuksesa-kesuksesan ini, suasana kraton menjadi lebih berani: Kumpeni dianggap sebagai sekedar sebuah wilayah (negorijtje) kecil di Jawa dan apakah Jawa bersedia memberinya makan atau tidak itu tergantung sepenuhnya pada Jawa dan Kumpeni harus menari dengan nada yang dimainkan Jawa.[25] Jelas bahwa Visscher gagal untuk menolong Puspanagara. Visscher merasa dia harus mencoba menolong Puspanagara karena masalah itu akan membuat semua bupati segan berurusan dengan Kumpeni. Tapi Batavia hanya memberinya wewenang untuk menggunakan sedikit kata saja dalam urusan Puspanagara, tapi tidak boleh mengatakannya atas nama Kumpeni. Dia tidak berhasil sebab Puspanagara dituduh melakukan sodomi dan itu berarti dia tidak bisa ditolong lagi. Apalagi Sunan belum lama sebelumnya mengasingkan saudaranya sendiri, Blitar, ke Imogiri karena masalah yang sama.[26]

Dengan situasi seperti ini, yang menunjukkan gejala kembali ke masa-masa Arya Purbaya – bahkan Arya Secanapura dari Demak yang telah dicopot itu kembali mendapat anugrah dan dipromosikan menjadi pembawa payung bagi putra mahkota – Kumpeni tidak akan mau bekerja sama dengan Jawa dalam serangan melawan Cakraningrat. Kumpeni sudah tutup mulut soal serangan terhadap orang Cina, atau soal penebang-penebangnya yang diserang penduduk Blora, Pati dan Jipang dan dirampok sapi-sapinya. Satu-satunya yang dimintakan ganti rugi adalah kasus serangan terhadap pabrik gula Lim Pinko di Bulung, dekat Jepara, tapi serangan itu tidak dituduhkan kepada Natakusuma dan teman-temannya.[27] Tapi penolakan itu tidak membuat Sunan menyerah begitu saja. Bahkan setelah usainya kunjungan Visscher dia terus mengeluh soal Cakraningrat, bahwa bupati-bupati lain sudah dieksekusi atau diasingkan ke luar Jawa karena melakukan tindakan-tindakan serupa, tapi mengapa Kumpeni diam saja terhadap Cakraningrat. Dia meminta pertolongan langsung kepada Gubernur Jendral.[28] Tapi Sunan tidak menerima jawaban. Gubernur Jendral sendiri sedang menghadapi masalah yang lebih besar. Terjadinya pemberontakan orang Cina secara tak terduga di Batavia menimbulkan perubahan total terhadap situasi.

Pendapat-pendapat tentang sebab-sebab langsung dari pemberontakan ini dan dari pembantaian yang kemudian dilakukan terhadap orang Cina di dalam dan sekitar Batavia tidak banyak berbeda satu sama lain. Masalahnya telah menumpuk setidaknya selama setengah abad, yaitu masuknya orang Cina yang makin deras dari daratan Cina dan situasi ekonomi yang memburuk sehingga timbul pengangguran dan kejahatan di kalangan orang Cina, terutama di wilayah sekitar Batavia. Kebijakan yang dibuat untuk mengatasi masalah ini – langkah-langkah pertama diambil tahun 1690 – adalah dengan mencoba membatasi jumlah masuknya orang Cina dan menyingkirkan imigran-imigran ilegal, maksudnya yang tidak memiliki surat ijin resmi. Tapi pelaksanaan kebijakan ini yang sewenang-wenang, terutama korupsi besar-besaran yang terjadi dalam perjualannya, malah menambah parahnya situasi, sampai akhirnya meletus pada bulan September 1740.

Itulah elemen-elemen dasarnya seperti yang dikupas dalam studi-studi Krabbe (1846), B. Hoetink (1918) dan thesis J. Th. Vermeulen (1938). Letusan yang terjadi pada 1740 dipicu oleh makin parahnya masalah dasar dan oleh kebijakan yang dirancang untuk mengobatinya. Apa yang membuat masalah dasarnya makin parah masih belum jelas. Statistik populasi resmi dari Batavia dan wilayah sekitarnya tidak menunjukkan peningkatan yang besar dalam jumlah orang Cina, tapi peningkatan yang terjadi tentunya adalah peningkatan jumlah imigran ilegal yang tentunya tidak tercatat dalam statistik ini. Tapi seandainya tidak terjadi peningkatan jumlah imigran sekalipun, tampaknya jumlah pengangguran Cina meningkat karena memburuknya ekonomi Batavia. Vermeulen telah memberikan gambaran umum dari memburuknya ekonomi ini,[29] tapi seperti yang ditunjukkan oleh J.L. Blussé, faktor yang paling penting adalah krisis dalam industri gula, yang terjadi terutama sejak awal 1720.

Habisnya sumber daya tanah dan hutan telah menekan industri ini dan kemudian ditambah lagi dengan kemunduran ekspor karena ditutupnya pasar Persia yang menguntungkan itu. Yang paling dirugikan adalah orang Cina. Hampir semua pabrik gula dimiliki orang Cina dan dikerjakan oleh tenaga kerja Cina, terutama oleh imigran-imigran yang baru datang ke Batavia karena tertarik oleh industri ini. Sebagian besar dari komunitas Cina juga tergantung secara langsung maupun tidak langsung pada industri ini. Naiknya angka pengangguran dan merebaknya bandit menciptakan sebuah masalah yang tak tertangani. Tidak seperti komunitas Cina yang terorganisasi di dalam kota, yang bisa diatur lewat kepalanya dan yang sudah memiliki pola kerja sama yang sudah berdekade-dekade lamanya, orang Cina di sekeliling Batavia tinggal dalam kekosongan institusional. Mereka tidak dimasukkan dalam organisasi orang Cina kota, yang secara sistematis dijauhkan dari mereka, dan juga tidak diwakili oleh organisasi mereka sendiri.[31] Pada efeknya mereka seperti gerombolan tak berbentuk yang dikontrol hanya oleh brutalitas polisi dan korupsi. Penindasan adalah satu-satunya jawaban yang ditemukan Kumpeni bagi masalah ini dan obat ini ternyata harus digunakan dalam dosis yang makin lama makin tinggi, sampai akhirnya muncul resolusi 25 Juli 1740 yang terkenal itu, yang memerintahkan agar semua orang Cina yang terlantar dan terlihat mencurigakan, baik yang memiliki surat ijin yang sah atau tidak, ditahan dan diperiksa. Jika ternyata tidak memiliki mata pencaharian maka mereka akan dideportasi ke Srilanka.

Resolusi itu sendiri tidak lebih bengis daripada resolusi-resolusi sebelumnya. Memiliki surat ijin yang sah bukanlah jaminan untuk tidak diperlakukan semena-mena, dan sudah pernah ada pendeportasian orang Cina sebelumnya. Tapi kali ini penerapan resolusi itu sewenang-wenang dan penuh penyelewengan. Populasi Cina menjadi gelisah dan panik ketika muncul gosip bahwa orang Cina yang katanya dideportasi ke Srilanka itu sebenarnya ditenggelamkan di tengah laut. Penduduk Cina, baik yang legal maupun ilegal, lari dan bersembunyi di hutan-hutan. Mereka berkumpul, mempersenjatai diri dan mulai menyerang pabrik-pabrik gula, yang mereka duduki dan mereka perkuat. Perselisihan di dalam tubuh pemerintahan, terutama antara kubu Gubernur Jendral Adriaan Valckenier dan kubu Gustaaf Willem Baron van Imhoff, yang kemudian akan menggantikan Valckenier, membuat krisis ini tidak dapat ditangani secepatnya. Tiba-tiba saja Batavia dikepung oleh gerombolan orang Cina yang bengis dan bersenjata apa adanya. Panik menyebar ke populasi Eropa dan menimbulkan terjadinya pembantaian terhadap orang Cina dalam kota pada tanggal 9 dan 10 Oktober 1740.

Meskipun latar belakang dan jalannya pemberontakan sudah diketahui dengan baik, sedikit sekali yang sudah dikupas tentang para pemberontak itu sendiri. Korupsi dan teror yang dilakukan pegawai-pegawai Kumpeni, usaha untuk mendapatkan kambing hitam dan pertengkaran tiada hentinya dalam pemerintahan telah banyak dibahas, tapi orang Cina dan pemimpin mereka masih tetap merupakan misteri. Hoetink, dalam studinya tentang kapten Cina di Batavia, Ni Hoekong, berusaha membiarkan setidaknya satu karakter Cina berbicara, tapi dia membiarkannya berbicara lewat sumber-sumber Kumpeni. Ni Hoekong sendiri menutup mulut, bahkan di dalam proses kasusnya dan di bawah siksaan.[32] Dia memang tidak punya banyak untuk dikatakan. Kumpeni hendak mendakwanya dengan persekongkolan, tapi persekongkolan semacam itu tidak pernah ada. Ni Hoekong mungkin tahu sesuatu tentang gerakan orang Cina di luar kota, tapi mereka bukan tanggung jawabnya, dan juga tidak berada di bawah kontrolnya.

Pengetahuan Kumpeni tentang bawahan Cinanya sangat minim dan Kumpeni juga tidak mencoba untuk lebih tahu dalam hal itu. Pada tahap-tahap awal pemberontakan, Kumpeni mencoba mendapatkan informasi dari para tahanan, tapi setelah terjadinya pembantaian, saksi-saksi ini dan orang-orang lain yang mungkin bisa menjadi informan kebanyakan sudah mati. Setelah serangan terhadap Batavia berhasil dipatahkan dan amnesti diumumkan, ketakutan akan terjadinya kekacauan baru tidak memungkinkan dilakukannya penyelidikan secara menyeluruh. Seluruh masalah ini dianggap sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan, yang lebih baik cepat-cepat dilupakan oleh semua pihak yang terlibat. Akibatnya, pemberontakan ini, pemimpin-pemimpinnya, organisasinya, latar belakang dan pemikiran yang ada di dalamnya, tetap sama misteriusnya seperti pada saat ketika Kumpeni menghadapinya. Bagi Kumpeni, masalah ini lebih mirip sebuah bencana alam, yang tidak perlu dijelaskan tapi jika sudah berlalu perlu disyukuri dengan doa dan pertobatan, seperti yang diselenggarakan pada 23 November 1740.

Setelah serangannya terhadap Batavia dipatahkan, sisa-sisa pemberontak mundur ke Bekasi. Di sana mereka berhasil dipukul mundur pada Juni 1741 dan bergerak ke Jawa. Ada kesan bahwa gerombolan-gerombolan ini lari dari Batavia dan menimbulkan perang di Jawa.[33] Tapi sebenarnya orang-orang Cina di Jawa sudah memulai perang beberapa bulan sebelumnya.

Sama seperti di Batavia, jalannya peristiwa di Jawa juga dapat diruntut dengan jelas, tapi dalam soal orang-orang Cina dan pemimpin-pemimpin mereka, sekali lagi kita dihadapkan pada ruang kosong dalam sumber-sumber Kumpeni. Kadang sebuah nama dan pribadi dapat ditemukan di balik nama-nama khayalan dari para pemimpin pemberontak Cina, tapi seringnya amnesti diberikan tidak memungkinkan Kumpeni mengadakan penyelidikan yang menyeluruh, dan Kumpeni memang sebenarnya tidak terlalu tertarik untuk melakukannya.

Bagi pihak Cina, kejadian-kejadian di Jawa mirip dengan kejadian-kejadian di Batavia. Pada 19 Oktober Semarang menerima kabar resmi dari Batavia tentang terjadinya pemberontakan dan dilakukannya pembantaian. Sehari sebelumnya Visscher sudah secara rahasia diberitahu tentang kejadian itu oleh kapten Cina di Semarang, Que Anko, dan letnannya Que Yonko. Keduanya sangat gelisah tapi mencoba untuk meyakinkan Visscher bahwa orang-orang Cina di Jawa masih setia dan tidak ada hubungannya dengan kejadian-kejadian di Batavia.[34]

Ke dua orang itu punya alasan yang sangat kuat untuk gelisah, seperti yang terlihat dari rapat Dewan Semarang pada 20 Oktober. Selain mempersiapkan pengamanan seperti biasanya, Visscher mengusulkan agar dilakukan pengamanan ekstra dengan menyuruh Adipati Astrawijaya (yang peranakan Cina) dan orang-orang Jawanya untuk melakukan pembantaian terhadap semua orang Cina yang mampu mengangkat senjata[3] di distrik itu. Tapi akhirnya akal sehat yang menang. Tindakan seperti itu hanya patut dipikirkan dalam keadaan genting saja, sebab populasi Cina di Semarang, meskipun tampaknya sangat gelisah, masih tetap tenang. Visscher, yang melihat kegelisahan sang kapten dan letnannya, takut mereka akan mengambil tindakan nekad karena takut dicurigai. Tapi Dewan memutuskan untuk tetap mengadakan kontak dengan kepala orang Cina dan mengatakan kepada mereka bahwa mereka tidak perlu takut selama mereka tetap tenang. Para kepala orang Cina kemudian menyatakan bahwa mereka tidak takut dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Kumpeni. Hanya beberapa orang Cina yang tidak penting yang mencoba lari bersama istri dan anak mereka, tapi sudah berhasil dicegah dan segalanya menjadi tenang.

Meskipun situasi tampaknya tenang dan terkontrol, Dewan tetap membuat rencana untuk keadaan gawat darurat: jika perlu akan diminta bantuan dari Sunan untuk menyuruh bawahannya membantai semua orang Cina. Pemikiran-pemikiran haus darah seperti ini menunjukkan betapa siapnya Dewan untuk mengambil pemecahan pamungkas yang sederhana dan meniru apa yang dilakukan massa di Batavia. Kesiapan ini sebagian dapat dijelaskan oleh kesan bahwa pembantaian di Batavia mungkin bukan tindakan massal yang spontan tapi sebuah kebijakan yang sudah dipertimbangkan. Maka ketika Semarang mengabari pos-pos Kumpeni lainnya, diberitahukan bahwa situasi di Batavia sebelumnya telah mengharuskan dilakukannya pembantaian besar-besaran dan mungkin hal yang sama harus dilakukan di Jawa. Tapi umumnya ada harapan bahwa segalanya akan kembali tenang dan untuk menghindari kesalahpahaman, Dewan memutuskan untuk menghentikan untuk sementara semua pelaksanaan eksekusi terhadap penjahat Cina maupun pribumi.[35]

Beberapa hari kemudian amnesti diumumkan secara resmi dan semua orang diperintahkan untuk memperlakukan orang Cina dengan baik. Orang Cina bahkan didorong untuk pergi berdagang ke Batavia, terutama untuk komoditi beras dan bahan pokok lain. Visscher kemudian memberitahu Sunan tentang apa yang terjadi di Batavia. Dia menekankan fakta bahwa orang Cina telah berhasil dipukul mundur dan amnesti sudah diumumkan bagi semua pemberontak yang mau menyerahkan diri dalam waktu satu bulan. Orang-orang Cina yang berniat baik harus tetap mendapatkan hak-hak mereka, dan dia berharap Sunan tidak percaya pada gosip-gosip yang timbul karena kejadian itu.

Dalam jawabannya Sunan menyatakan kekagetannya bahwa orang Cina berani memberontak sebab semua bangsa sudah tahu bahwa orang Cina itu lembek seperti wanita, tidak punya kekuatan sendiri. Mereka hanya bisa berdagang dan menjaga gerbang pajak; bahwa dimanapun mereka hidup mereka selalu disokong oleh Kumpeni, yang memperbolehkan mereka berdagang dan menjadi kaya. Tanpa dukungan Kumpeni mereka tidak akan mampu menjaga diri mereka sendiri karena mereka pengecut. Sunan menyatakan keheranannya dan berkata bahwa rupanya sudah menjadi kehendak Tuhan bahwa petaka ini menimpa orang-orang Cina yang baik di Batavia. Lebih jauh lagi Sunan mengucapkan selamat kepada Kumpeni atas kemenangannya, mengucapkan terima kasih kepada Visscher karena telah memberitahu sahabat dan sekutunya yang sejati tentang masalah ini dan telah memperhatikan masalah diumumkannya amnesti dan berjanji untuk tidak mendengarkan gosip-gosip apapun.[36]

Bagi Visscher jawaban itu tampaknya meyakinkan. Apalagi musim hujan sudah tiba dan segalanya terhenti. Tidak ada kabar lagi soal orang Cina – gerombolan yang lari dari Batavia masih diam di Bekasi – dan kraton juga tenang-tenang saja. Natakusuma dan kelompoknya berhasil sedikit lagi menambah kekuatan mereka: Ngabehi Rajaniti dianugrahi payung bawat, payung yang paling tinggi tingkatannya. Putra Natakusuma, bupati Lembahrawa, diangkat menjadi wedana Panekar dengan gelar Raden Arya Wiryadiningrat, menggantikan Tumenggung Kartanagara, yang meninggal pada Juli 1739, dan tidak dilepaskan dari jabatannya sebagai bupati Lembahrawa.[37]

Bukan muson yang basah saja yang membuat situasi reda. Kejadian di Batavia membuat semua orang tercengang. Jika Visscher membaca surat Sunan dengan lebih seksama dia akan tahu bahwa kekagetan Sunan itu sungguh-sungguh dan bukan sekedar basa-basi. Kraton, dan bahkan seluruh Jawa, yakin bahwa itu bukan pemberontakan biasa. Orang Cina dan Belanda sudah seperti dua sisi dari satu keping uang yang sama dan sekarang setelah bekerja sama sedemikian erat selama satu abad mereka berseteru pada tahun Wawu. Ini begitu sulit untuk dipercaya sehingga ini pasti adalah pertanda dari Tuhan. Bagaimana menafsirkan tanda ini itu masalah lain lagi, tapi tampaknya banyak orang percaya bahwa ini adalah tanda akan berakhirnya Kumpeni. Jika di antara bawahan-bawahan asing Kumpeni saja yang biasanya setia, orang Makasar, Bugis, Melayu, Bali, India, bisa didapati pemikiran seperti ini, kita bisa mengasumsikan bahwa di antara orang Jawa yang lebih menginginkan itu sungguh-sungguh terjadi tentunya juga banyak yang mempercayainya.

Ketika kepala pedagang Melayu di Juwana, Tamby Tjinia Moetiapa, mencoba membujuk kepala dari pedagang bangsa Moor (maksudnya India) di Semarang membelot dari Kumpeni, dia mengajukan alasan bahwa menurut nubuat Muhammad sudah tiba waktunya untuk menghancurkan Kumpeni. Tanda-tandanya sudah jelas, sebab mana ada bangsa lain yang begitu setia satu sama lain seperti Kumpeni dan orang Cina? Sekarang Tuhan rupanya menghendaki agar persekutuan di antara ke duanya berakhir.[38] Letnan dari orang-orang Makasar bebas di Gresik, Intje (Encik) Ismael, juga berpendapat sama. Pada bulan September 1741 dia lari dari Gresik bersama para pengikutnya karena, seperti yang diketahui kemudian dari sadapan terhadap surat kepada Raden Tumenggung Cakranagara dari Sumenep, dia percaya bahwa setelah seratus tahun bercokol di Batavia, masa Kumpeni akan berakhir. Dia tidak pro-Jawa maupun anti-Kumpeni, tapi justru netral dan menunggu hasil dari pertarungan itu.[39]

Yang menarik di sini adalah bahwa orang seperti Encik Ismael sampai bertindak seperti itu sebab dia tentunya tahu lebih banyak tentang kekuatan Kumpeni yang sebenarnya daripada orang biasa. Selama bertahun-tahun dia menjadi kepala orang Makasar di Surabaya dan Opperhoofd Johan Sautijn menggambarkan dia sebagai orang yang berpendidikan dan cerdas, tahu Qur’an. Dia sering ikut Kumpeni dalam perang.[40] Menurut Gubernur Makasar, Adriaan Hendrik Smout, Encik Ismael berselisih dengan pengganti Sautijn, Duyvens, dan pergi ke Makasar. Sautijn yang saat itu sudah menjadi gubernur Makasar memanfaatkan bantuan Encik Ismael untuk menyelesaikan beberapa masalah pribumi dengan sukses. Setelah Sautijn diangkat menjadi anggota Dewan Hindia, Encik Ismael kembali ke Jawa dan menjadi kepala orang Makasar di Gresik. Smout rupanya tidak memiliki kepercayaan sebesar itu kepada Encik Ismael sebab dia menyarankan agar Crul memeriksa Encik Ismael tentang kemungkinan adanya hubungan antara Arya Purbaya dan pemberontak Kraeng Bontolangkasa.[41]

Encik Ismael tampaknya tidak punya dendam terhadap Kumpeni, tapi kepercayaannya bahwa sebuah kraton, atau dalam hal ini maksudnya adalah Kastil Batavia, tidak akan bertahan lebih dari seratus tahun atau sepuluh windu, sudah cukup untuk membuatnya cacat di mata Kumpeni. Sementara itu orang Jawa punya dendam dan sekaligus melihat tanda yang memberi harapan. Kebencian terhadap Kumpeni meninggi sebab meskipun Sunan pada awal setiap suratnya kepada Gubernur Jendral dapat menyebut dirinya sebagai “Susuhunan Pakubuwana Senapati Ingalaga Abdulrahman Sayidin Panatagama, yang berkraton di Kartasura Adiningrat, yang memiliki hak atas seluruh tanah Jawa dan diangkat menjadi raja atas berkat Tuhan dan pertolongan Kumpeni”, sengatan pada bagian terakhir dari gelar ini membuat gelar lainnya tidak ada artinya lagi.

Apalagi pertolongan Kumpeni itu harus dibayarnya dengan mahal. Berdasarkan kontrak tahun 1733, dia membayarkan 25.600 reyal Spanyol setiap tahunnya dimana 15.600 reyal adalah untuk biaya garisun Kartasura dan 10.000 reyal untuk cicilan hutang. Lalu dia masih harus mengirimkan seribu koyan beras setiap tahunnya untuk mencicil sisa hutangnya. Seribu koyan beras ini kira-kira setara dengan dua puluh ribu reyal (dengan asumsi harga beras dua puluh reyal tiap koyannya). Harga pertolongan Kumpeni itu mungkin mencapai lima puluh ribu reyal tiap tahunnya.

Bagi Kumpeni, lima puluh ribu reyal bukanlah jumlah yang luar biasa. Ketika Coyett kembali ke Batavia pada 1732 dia mentransfer tiga puluh ribu rixdollar (24.000 reyal) ke dalam kantong pribadinya di Batavia.[42] Jumlah yang sama ditransfer oleh janda Duyvens beberapa tahun kemudian.[43] Ketika panik melanda Semarang pada Mei 1741, Commandeur Visscher berkata dia kehilangan seratus ribu rixdollar.[44] Angka-angka itu hanya menunjukkan sebagian dari harta pribadi dan investasi para para pegawai Kumpeni ini dan jelas tidak didapatkan dari gaji bulanan mereka yang besarnya kira-kira 55 rixdollar. Seberapa besarnya 50.000 reyal ini bagi orang Jawa lebih sulit untuk ditentukan. Tapi kalau dihitung berdasarkan upah harian maka jadinya sederhana saja. Untuk perbaikan benteng dan bangunan-bangunan lain, Kumpeni membayar seorang kuli kasar 1/24 rixdollar, tukang kayu Jawa dibayar 1/8 rixdollar dan tukang batu Cina dibayar 1/2 rixdollar. Dengan 1/24 rixdollar atau dua stuiver alias delapan duit, seorang kuli dapat membeli sekitar empat kilo beras. Ini setara dengan kondisi seorang pekerja kasar masa kini (1984) di Jawa Tengah. Memang pekerja kasar masa kini hanya dapat membeli dua sampai tiga kilo beras sehari, tapi kita pun dapat mengasumsikan bahwa kuli abad delapan belas pun tidak mendapatkan 1/24 rixdollar sepenuhnya seperti yang dicatat dalam buku-buku Kumpeni. Penetapan harga besar sebesar dua duit per satu kilo beras tadi pun cuma sebuah dugaan.

Seberapa beratnya beban lima puluh ribu reyal ini bagi Sunan sulit untuk dikatakan. Jika kita bisa mempercayai Serat Pustaka Raja Puwara, Sunan menerima 85.000 reyal dari pajak setiap tahunnya.[45] Landasan dari pajak ini adalah jumlah dari rumah tangga yang diberikan kepada tiap bupati. Meskipun angka ini idealnya menunjukkan besarnya populasi, jumlah ini sebenarnya sudah ditetapkan oleh tradisi dan jarang diubah. Sejauh mana angka yang diberikan dalam Serat Pustaka Raja Puwara dapat diandalkan hanya dapat dijawab bahwa kadang angka-angka itu kadang sesuai tapi seringkali tidak sesuai dengan angka-angka yang ditemukan dalam sumber-sumber Kumpeni. Jika kita terima saja angka sebesar 85.000 itu dan menambahnya dengan pendapatan yang diterima Sunan dari pajak pelabuhan Pantai Utara, yang besarnya sekitar 15.000 reyal[46] – pemasukan substansial dari gerbang pajak masih tidak diketahui, meskipun pada 1746 dihargai sebesar 9.000 reyal – maka kita dapat jumlah minimum pendapat tahunan sebesar 100.000 reyal. Jumlah ini merupakan uang pribadi untuk digunakan Sunan sebab sudah dideduksi dengan biaya administrasi. Maka dapat diperkirakan Sunan harus membayar pertolongan Kumpeni dengan separoh dari pendapatan pribadinya.

Tapi gambaran seperti tadi kurang lengkap. Pembayaran uang dan beras kepada Kumpeni ditanggung dengan rasio tertentu di antara para bupati. Pada prinsipnya Nagaragung membayar 34%, Mancanagara 22%, dan Pasisir 45%. Rasio ini ditetapkan pada tahun 1709 dan dipertahankan dalam kontrak 1733. Bagaimana distribusi beban ini di masing-masing wilayah tidak diketahui. Hanya data dari Pasisir untuk tahun 1709 yang masih ada.[47] Juga tidak jelas apakah beban ini ditambahkan ke beban pajak (kemungkinan besar begitu) ataukah dipotong dari apa yang akhirnya diterima Sunan, ataukah keduanya. Yang jelas 50.000 reyal ini sangat besar di mata Sunan, sekalipun pendapatannya mungkin beberapa kali lipat lebih besar daripada asumsi kita sebesar 100.000 reyal tadi.

Tapi uang sebanyak itu telah mampu membeli pertolongan dari Kumpeni, yang melindunginya dari para bupati dan orang-orang yang mungkin ingin merebut tahta, seperti yang dikatakan Ter Smitten tentang para bupati:

dan perlu saya tambahkan bahwa mereka semua, dengan kadar yang berbeda-beda, dengan terpaksa menjadi sahabat Kumpeni, sekalipun mereka semuanya mengakui bahwa jika Kumpeni tidak menjadi penguasa dari pantai ini, seluruh Jawa akan kacau balau, dan bupati-bupati yang paling penting akan mencoba menjadi raja atau penguasa yang punya kedaulatan sendiri seperti di masa lalu.[48]

Seandainya Sunan dapat membeli pasukan bayaran yang tidak kelihatan oleh mata untuk melindungi dirinya dengan harga lima puluh ribu reyal, dia pasti akan dengan senang hati melakukannya. Tapi harga dari perlindungan yang diberikan Kumpeni jauh lebih tinggi dari itu. Meskipun penanaman merica, katun, indigo dan kacang untuk Kumpeni belum seberat tahun-tahun selanjutnya, permintaan Kumpeni terhadap beras dan kayu mencekik ekonomi Jawa. Garam, yang merupakan bahan pokok, tidak sedemikian besar pengaruhnya karena didapatkan dari satu wilayah saja, yaitu Paradesi, dekat Rembang.

Selain mendapatkan seribu koyan (sekitar 1.700 ton metrik) beras secara gratis, Kumpeni juga membeli tiga ribu sampai lima ribu ton metrik beras setiap tahunnya di pasar. Itu adalah jumlah yang dilaporkan Kumpeni setiap tahunnya kepada Sunan atas permintaan khusus Sunan sendiri, yang ingin tahu kira-kira berapa banyaknya jumlah yang diperlukan Kumpeni setiap tahunnya. Ini menunjukkan bahwa kebutuhan Kumpeni memiliki pengaruh besar terhadap suplai beras di tanah ini. Sebagian besar pajak masih dibayar dengan beras. Meskipun pada paroh pertama abad 18 Kumpeni biasanya membayar sesuai dengan harga pasar – pengiriman dengan harga rendah yang sudah ditetapkan baru terjadi setelah kabupaten-kabupaten pesisir diserahkan kepada Kumpeni – Kumpeni tetap mencoba menurunkan harga beras dengan menawarkan uang kepada penanam padi, dan membeli beras sebelum panen tiba, dengan cara menutup pelabuhan dan sungai dan menghalangi transportasi beras selama suplai Kumpeni belum tercukupi. Pegawai-pegawai Kumpeni sendiri menanamkan modal besar dalam perdagangan beras, terutama di wilayah-wilayah Tegal, Demak, Kudus, Pati dan Grobogan.

Setelah tuntutan Kumpeni dipenuhi, sejumlah besar beras yang tersisa diperdagangkan oleh pedagang-pedagang swasta, yang terutama terdiri dari pedagang Cina, dan diekspor ke Borneo dan tempat-tempat lain. Hartingh memperkirakan bahwa pada tahun 1761 lebih dari empat ribu koyan telah terekspor.[49] Para bupati juga terlibat dalam perdagangan ini, sekalipun itu hanya bertujuan untuk mengubah pajak beras menjadi uang tunai. Membesarnya tuntutan akan beras tampaknya tidak merangsang produksi dan mungkin malah menaikkan harga beras dari sekitar 16 rixdollar satu koyannya pada awal pemerintahan Pakubuwana II menjadi dua puluh empat rixdollar pada 1740. Tapi sulit untuk membuat gambaran sebab-akibat yang jelas, karena cuaca, kebijakan moneter Kumpeni dan serangan-serangan terhadap orang Cina juga menimbulkan fluktuasi besar terhadap harga beras. Yang lebih penting lagi daripada sekedar analisa terinci adalah kesan saat itu bahwa Kumpeni merupakan beban berat bagi orang Jawa.

Hal yang sama juga terjadi pada pengiriman kayu. Penebangan dan transportasi kayu adalah pekerjaan yang berat dan di beberapa tempat bahkan sangat membahayakan kesehatan. Kumpeni tetap membayar untuk kayu itu, tapi tidak banyak, dan korupsi mencukur habis semua keuntungan yang tersisa untuk orang Jawa. Yang paling sengsara adalah orang biasa. Kumpeni membayar kepada bupati, yang mendistribusikan uang itu ke eselon-eselon bawah, yang masing-masing mengambil bagiannya sehingga akhirnya sedikit saja yang tersisa untuk mereka yang mengerjakannya. Meskipun residen-residen Kumpeni menimpakan semua kesalahan kepada praktek-praktek seperti ini, tindakan mereka sendiri pun juga merupakan masalah. Mereka terus menerus menolak sebagian besar dari kayu dengan alasan masih di bawah standar. Tapi orang Jawa tidak diperbolehkan menjual kayu di bawah standar itu ke pasar bebas. Sekali atau dua kali setahun Kumpeni membuat penilaian dan kemudian membelinya dengan harga yang sangat rendah. Para residen sendiri mendapat keuntungan dari bisnis kayu yang katanya di bawah standar ini. Efeknya adalah orang Jawa bekerja dua kali lipat tapi hanya menerima setengah harga dan ini membuat “korupsi” tradisional yang dilakukan para pejabat pribumi sangat memberatkan.

Untuk menghitung harga yang sebenarnya harus dibayar untuk perlindungan yang diberikan Kumpeni kita masih harus memperhitungkan efek negatif dari tuntutan beras dan kayu dan campur tangan Kumpeni terhadap kedaulatan Jawa. Tidak satupun masalah tentang kedaulatan ini mendapat penyelesaian yang memasukan bagi pihak Jawa. Satu-satunya konsesi yang diberikan Kumpeni adalah penarikan mundur pasukan Kumpeni dari Sitinggil pada 1733. Masalah yurisdiksi, sekalipun sudah ada kontrak 1737, serta masalah rakyat Urut Dalan masih tetap mengganjal dan Kumpeni masih tetap saja campur tangan dalam politik internal, seperti yang terlihat dari penyingkirkan Arya Purbaya secara semena-mena. Bagi Sunan dan sejumlah besar tubuh politik Jawa ada pertanyaan besar: apakah keuntungan dari pertolongan Kumpeni setara dengan biaya yang harus dikeluarkan? Sunan rupanya memandang masalah ini dengan sangat sederhana dan konkrit: apakah dia sudah mendapatkan pertolongan Kumpeni yang mahal harganya itu ketika dia membutuhkannya? Pada 1740 jawabannya kelihatannya adalah tidak, sebab Batavia menulikan telinga terhadap semua permintaan Sunan untuk menyerang Cakraningrat dari Madura, padahal Kumpeni seharusnya melindungi dia dari bupati pemberontak seperti Cakraningrat.

Pemberontakan Cina jelas merupakan kesempatan untuk mendefinisikan kembali hubungan dengan Kumpeni, tapi pilihannya tidaklah sesederhana antara memilih Cina atau Kumpeni. Posisi netral maupun beberapa bentuk dukungan bersyarat terhadap Kumpeni adalah lebih daripada sebuah pilihan teoritis. Pokoknya Kumpeni harus membayar, baik membayar atas dosa-dosanya maupun membayar pertolongan yang mungkin akan dimintanya dari pihak Jawa. Kraton dengan tegang mengikuti perkembangan sebab segalanya tergantung pada apakah orang Cina di Jawa akan memberontak atau tidak.

Saat itu tidak dapat dipastikan apakah orang Cina di Jawa akan memberontak atau tidak, sekalipun sudah ada jaminan kesetiaan dari kepala orang Cina di Semarang. Seperti kepala-kepala orang Cina di Batavia, mereka juga tidak punya kontrol terhadap orang Cina di luar kota. Tapi ada perbedaan di sini. Mayoritas orang Cina di sekeliling Batavia terdiri dari orang miskin, bekas pekerja pabrik gula yang menganggur dan banyak dari mereka baru saja datang serta sepenuhnya berada di bawah kemauan operator pabrik gula dan polisi Kumpeni. Mereka sama sekali tidak bersimpati dengan para pemilik pabrik gula dan orang Cina kota lainnya, yang kepentingannya diwakili oleh kepala orang Cina di Batavia. Jika benar isi sebuah laporan yang muncul pada awal keributan bahwa di antara mereka ada banyak orang Kanton, maka itu berarti simpati mereka lebih kecil lagi,[50] sebab elit Cina di Batavia seratus persen terdiri dari orang Fukien. Karena itulah tindakan kekerasan pertama yang dilakukan gerombolan-gerombolan di sekeliling Batavia adalah menjarah dan membakar pabrik-pabrik gula. Alat-alat dan mesin-mesin yang terbuat dari besi dijadikan senjata primitif, sementara manajer atau operator (pothia) pabrik seringkali dengan sendirinya menjadi pemimpin mereka, sebab orang-orang ini adalah perantara dengan pemilik pabrik dan polisi. Ketika mereka ditinggalkan  oleh para kepala di kota dalam situasi kacau itu dan hubungan mereka dengan polisi menjadi rusak, mereka hanya punya satu pilihan yaitu ikut para pemberontak.[51]

Di Jawa situasinya tidak sepanas di Batavia. Pabrik gula jumlahnya cukup banyak. Sebuah laporan pada 1719 menyebutkan jumlahnya ada tiga puluh tujuh,[52] dan kebanyakan terletak di Japara, Kudus dan Pati, tapi sebagian besar pekerjanya tampaknya adalah orang Jawa. Jika laporan tahun 1719 itu bisa dipercaya, maka hanya manajer dan empat atau lima asistennya yang orang Cina. Ini tidak berarti tidak ada orang Cina “ilegal” di Jawa. Ketika Visscher menerima laporan tentang terjadinya pemberontakan di Batavia, dia menjawab bahwa situasi di Jawa tidak mencemaskan sebab jumlah orang Cina hanya sekitar lima ribu orang.[53] Tapi residen Rembang melaporkan bahwa di distriknya sekarang jumlah orang Cina lebih dari dua kali lipat dari daftar tahun sebelumnya.[54] Tidak harus berarti bahwa jumlah ini bertambah karena kedatangan orang-orang Cina yang lari dari pembantaian di Batavia. Sejak awal abad 18 residen-residen di Jawa harus membuat laporan tahunan tentang jumlah orang Cina di distrik mereka. Sayangnya daftar-daftar ini tampaknya sudah tidak ada lagi sekarang. Tapi di Batavia penghitungan dan pemberian surat ijin hanya dilakukan terhadap sebagian dari orang Cina yang ada. Yang mendapat surat ijin ini biasanya adalah orang Cina yang sudah menetap dan dikenal, seperti misalnya pemungut gerbang pajak, sementara anak buahnya, yang menjaga gerbang pajak dibebaskan dari inspeksi dengan uang suap dalam jumlah besar seperti yang terjadi pada pekerja-pekerja pabrik gula di sekeliling Batavia .

Orang Cina di Jawa biasanya tidak diutik-utik. Pada 1730 dilakukan sebuah usaha setengah hati untuk melakukan sesuatu terhadap orang-orang Cina yang berkeliaran di pedalaman, terutama di wilayah Kedu, Bagelen dan Mataram. Menurut Kumpeni, orang-orang Cina semacam itu biasanya diperkerjakan oleh bupati-bupati Jawa untuk menjaga gerbang pajak pribadi mereka. Apalagi, gerbang pajak resmi. yang pada teorinya disewakan kepada satu orang Cina saja, seringkali memperkerjakan empat, enam dan bahkan dua belas orang Cina, yang dengan cara yang luar biasa menjadi tukang onar setempat. Tapi tidak banyak yang dilakukan untuk mengatasi masalah ini. Kumpeni hanya memutuskan untuk memberikan surat ijin resmi, yang memungkinkan pedagang Cina untuk berdagang di pedalaman selama sebulan, yang dilengkapi dengan terjemahan dalam bahasa Jawa. Para pejabat Jawa bisa mencek siapa pedagang ini, kemana mereka boleh bepergian dan untuk berapa lama.[55] Serangan-serangan terhadap orang Cina menimbulkan dilakukannya penyelidikan terhadap berapa jumlah orang Cina ilegal di Demak.[56] Pada umumnya, jika terjadi konflik dengan orang Jawa, Kumpeni membela kepentingan bawahan Cinanya.[57]

Komunitas Cina di Jawa bukanlah komunitas yang homogen. Di bawah lapisan elit dari pedagang-pedagang kaya, yang usahanya biasanya dibangun dengan posisi mereka sebagai shahbandar, pemungut gerbang pajak, agen pembeli beras, pemilik pabrik gula, dll., ada sejumlah besar “pegawai”, yaitu pedagang kecil, pengrajin, pekerja, yang pada lapisan paling bawah bercampur dengan populasi Jawa. Dan pada posisi paling atas juga terjadi pembauran dengan elit Jawa. Kita sudah melihat tadi bahwa klan Jayaningrat (di Pekalongan, Batang dan Sidayu) adalah keturunan Cina, demikian juga Adipati Semarang. Istilah untuk orang-orang Cina yang sudah ter-Jawanisasi adalah peranakan, yang sekarang berarti lahir di wilayah setempat, tapi waktu itu juga berarti sudah memeluk agama Islam. Istilah lain untuk kategori ini adalah geschoren Chinees atau orang Cina yang dicukur, yang dalam teks-teks Kumpeni lama berati orang Cina yang disunat. Tapi teks-teks Kumpeni selanjut menggunakan istilah ini untuk menyebut orang Cina yang rambutnya dipotong ala Tartar dengan kuncir. Gaya rambut ini menjadi keharusan di Cina pada masa dinasti Manchu sejak pertengahan abad tujuh belas. Kumpeni mulanya melarang gaya rambut seperti itu di Jawa dan sampai pertengahan abad 18, imigran-imigran yang baru datang langsung bisa dikenali karena kepalanya dicukur di sebelah depan tapi berkuncir di belakang (geschoren hoofden en hangende tuiten). Selama terjadinya pemberontakan dan perang di Jawa, para pemberontak sangat mudah dikenali karena gaya rambutnya ini.[58]

Jika dilihat lebih seksama, kommunitas Cina menunjukkan adanya perbedaan-perbedaan besar dalam status dan pekerjaannya. Dan komunitas ini tidaklah harmonis. Besarnya keuntungan yang didapatkan dari posisi sebagai shahbandar dan pemungut gerbang pajak dan fakta bahwa posisi-posisi ini disewakan kepada penawar tertinggi menciptakan persaingan di dalam komunitas ini. Orang-orang saling menyikut untuk mendapatkan posisi-posisi menguntungkan ini. Bahkan hubungan kekerabatan – sebuah usaha Cina biasanya dijalankan pada jaringan ikatan keluarga – tidak juga lepas dari pertentangan ini. Yang menyolok karena ketidakadaannya adalah jejak-jejak dari apa yang kemudian menjadi institusi yang menonjol dalam komunitas imigran Cina, yaitu komunitas rahasia.

Di lain pihak ketidakadaan jejak ini tidak mengejutkan, karena eksistensi dari komunitas-komunitas ini pertama kali ditemukan oleh T.J. Newbold di Penang pada 1799, sementara Gustave Schlegel menerbitkan karya monumentalnya tentang Triad dan komunitas rahasia di Hindia Belanda baru pada tahun 1866. Deskripsi-deskripsi Kumpeni tentang komunitas Cina sangat tidak memadai, bahkan fakta-fakta normal saja kurang, sehingga ada kemungkinan bahwa di dalamnya tidak ada data yang bisa digunakan untuk menyelidiki keberadaan komunitas rahasia. Masalah ini tetap menarik, sebab jika kapten Malaka pada 1710 dapat dipastikan sebagai anggota Triad,[60] maka kita pun bertanya-tanya bagaimana dengan para kapten di Jawa. Di pihak lain, mungkin di Jawa pada saat itu tidak ada komunitas rahasia yang sudah berkembang, karena sebagai sebuah struktur organisasi, komunitas rahasia biasanya ada pada komunitas yang heterogen secara linguistik.[61] Sementara imigran di Jawa, menurut semua sumber, kecuali laporan yang disebutkan di atas tadi, hampir seratus persen terdiri dari suku Fukien. Apalagi divisi yang terjadi antara orang Cina kota dan orang Cina luar kota di Batavia, yang juga terjadi di Jawa, merupakan penghalang bagi adanya organisasi komunitas rahasia yang dikepalai kapten Cina setempat. Jika organisasi seperti itu memang ada, maka organisasi itu tampaknya telah gagal melindungi anggota-anggotanya, padahal pemberian perlindungan adalah satu-satunya tujuan dari keberadaan komunitas seperti itu dalam komunitas imigran awal.

Komunitas Cina jelas bukan komunitas yang sederhana, tapi Kumpeni menyamaratakannya begitu saja. Prasangka ini harus dibayar mahal oleh orang Cina di Batavia dan orang Cina di Jawa terancam akan menerima nasib yang sama. Sebelum pernah sebuah gerombolan pemberontak pindah dari Batavia ke Jawa, yaitu ketika pada 1684 Surapati dan sejumlah kecil pengikut Balinya mencari perlindungan ke kraton Kartasura. Tentang apa yang akan terjadi seandainya sebuah gerombolan pemberontak Cina yang lebih besar ukurannya sampai ke Kartasura dapat diduga setidaknya oleh salah seorang bupati Jawa. Cakraningrat dari Madura, sambil dengan terang-terangan mengutip kasus Surapati, berkata kepada Visscher bahwa banyak pembesar Jawa akan bergabung dengan orang Cina atau setidaknya mendukung mereka. Untuk menguji kebenaran prediksi ini Visscher hanya perlu menyuruh para bupati untuk membunuh semua orang Cina yang ada di distrik mereka, sebuah pekerjaan mudah yang tidak akan memakan waktu sampai sehari penuh.

Saran Cakraningrat kepada Kumpeni menunjukkan bahwa bukan hanya Kumpeni saja yang menyamaratakan semua orang Cina, tapi orang Jawa pun cenderung untuk berbuat sama. Pada masa Surapati tak seorang pun berani menimpakan tanggung jawab kepada semua orang Bali, yang memiliki komunitas tersendiri yang cukup besar, karena perbuatan sebagian saja dari mereka. Bahkan di dalam perang yang dilakukannya di Jawa dan di wilayah-wilayah lain dalam Kepulauan, Kumpeni tidak pernah menjadikan ras sebagai kriteria tunggal bagi permusuhan. Hanya pihak yang sudah terbukti dan menyatakan diri sebagai musuh sajalah yang dapat dianggap sebagai musuh, baik itu orang Jawa, Bugis, atau suku-suku lain dalam Kepulauan. Tapi lain halnya dengan orang Cina. Sejak awal kericuhan, Kumpeni sudah mencoba membedakan antara orang Cina baik dan orang Cina jahat, tapi ketika pembedaan ini diuji di lapangan, semua orang Cina menjadi orang Cina jahat. Bagaimana supaya ini tidak terjadi merupakan tugas yang luar biasa berat bagi kepala-kepala orang Cina di Semarang. Setidaknya letnan Semarang, Que Yonko, telah mengadakan sebuah usaha serius untuk mencegah terjadinya tragedi, dan tidak sekedar larut dalam situasi sepeti Kapten Batavia, Ni Hoekong. Tapi akhirnya usaha itu gagal, sebab dia tidak menerima dukungan dari Visscher dan bahkan pamannya sendiri, Kapten Que Anko, mencoba menjegalnya.

Insiden yang memicu terjadinya kericuhan di Jawa adalah pembunuhan terhadap Kopral Claas Lutten, seorang pembuat indigo Kumpeni di Majawa, di distrik Pati. Pada tanggal 1 Februari 1741, tiga puluh tujuh orang peranakan Cina yang miskin, terlunta-lunta dan berniat jahat, dengan kepala dicukur dan kuncir, bersenjatakan tombak, bedil, garpu dan pedang, sambil membawa dua spanduk merah hitam, mengenakan pakaian berlapis kulit anti peluru dan tusukan, sambil membunyikan trompet dan simbal Cina, menyerbu kediaman Lutten pada pagi hari, membunuhnya dengan cara yang sangat keji dan menjarah harta bendanya. Ketika mereka dikejar oleh orang-orang Jawa bawahan Bupati Kudus, yang telah diperingatkan oleh dua pegawai Kumpeni lainnya, gerombolan kecil itu mencoba untuk lari lewat sungai, tapi ketika tidak dapat menemukan perahu mereka, meerka mengambil jalan ke pabrik gula Tapus. Mereka terpaksa meninggalkan kepala Lutten ketika salah seorang dari mereka terkena tembakan di leher. Sebagai peringatan, kepala orang ini ditancapkan pada tonggak di Semarang.[63]

Bagi Visscher seharusnya kejadian ini tidak mengejutkan lagi sebab beberapa minggu sebelum insiden itu terjadi dia telah diperingatkan oleh Letnan Que Yonko bahwa ada tiga orang Cina, satu dari Batavia dan dua dari Semarang dan Kaligawe, sedang mencoba untuk menghasut orang-orang Cina di wilayah Tanjung, dekat Kudus. Visscher berkata bahwa Que Yonko tidak perlu kuatir, sebab apa yang bisa dilakukan segelintir orang Cina yang bermaksud jahat? Tapi segelintir orang Cina ini bertambah jumlahnya menjadi sebuah gerombolan kecil, yang bergerak ke arah Semarang. Sekali lagi Que Yonko meminta petunjuk dari Visscher, yang tampaknya tidak terlalu perduli. Dia memerintahkan agar Que Yonko menyuruh penjaga kampung Cina menantang gerombolan ini dan jika tidak dijawab, mereka ditembak saja. Ketika mereka ditantang dan dilarang masuk kampung, gerombolan ini pergi begitu saja, tapi pemimpin-pemimpin mereka menyelinap masuk ke dalam kampung keesokan harinya. Ketika Visscher diberitahu, dia memerintahkan agar mereka dibiarkan saja. Selama lebih dari seminggu orang-orang Cina ini aktif di dalam kampung. Lalu salah seorang dari mereka pergi ke Grobogan dan Visscher memerintahkan kapten Cina untuk menahan orang Cina yang berasal dari Batavia itu dan satu orang Cina lagi yang ikut ke dalam plot itu. Dua minggu kemudian mereka diam-diam dikirim ke Banjarmasin.

Beberapa hari kemudian Que Yonko menerima kabar bahwa ada tiga puluh tujuh orang Cina bersenjata berkumpul di dekat Tanjung. Visscher tidak perduli. Jika Que Yonko mau menahan mereka, silahkan, jika tidak juga tidak apa-apa. Dua hari kemudian Claas Lutten dibunuh. Ketika Que Yonko meminta Visscher mengadakan pertemuan untuk membahas masalah ini, Visscher berkata bahwa itu tidak perlu sebab dia bisa menanganinya sendirian. Fakta bahwa orang Jawa telah mengusir gerombolan kecil ini menurut Visscher adalah bukti bahwa kegelisahan Que Yonko tidak pada tempatnya. Visscher, seperti yang akan kita lihat nanti, punya harapan bupati-bupati Jawa mau mengurus masalah ini. Sedangkan Que Yonko sama sekali tidak percaya pada orang Jawa. Pada bulan April sebuah gerombolan pemberontak Cina yang lebih besar lagi muncul di Tanjung. Visscher meminta para bupati untuk mengirimkan pasukan, tapi para bupati mencoba menunda keberangkatan pasukan ini dengan segala cara. Bahkan warna dari ransum nasi menjadi alasan untuk tidak berangkat. Pasukan itu baru berangkat setelah Que Yonko memberikan ransum nasi yang lebih putih warnanya, bersama opium dan perbekalan lain. Setelah sampai pada jarak tiga kali jarak tembakan bedil dari orang-orang Cina, mereka menembakkan bedil lalu pulang.

Ketidakperdulian Visscher menyadarkan Que Yonko. Dia mengontak anggota Dewan Semarang lainnya, tapi intervensi mereka hanya menimbulkan pertengkaran dengan Visscher. Que Yonko akhirnya tidak tahan dengan tekanan situasi ini dan menghilang. Panik melanda Semarang sebab dia dikira bergabung dengan para pemberontak, sesuatu yang bahkan juga dilontarkan oleh Kapten Que Anko. Orang-orang Belanda lari ke dalam benteng sementara orang Cina dan suku-suku lain tercerai berai. Yang sebenarnya terjadi adalah Que Yonko pulang ke rumah karena bingung memikirkan pertemuan terakhirnya dengan Visscher. Di rumahnya dia mendapati bahwa dua orang yang dipercayainya untuk menjaga harta bendanya telah lari membawa semuanya. Dia langsung hilang akal. Tanpa makan maupun minum dia pergi ke makam putranya di dekat Paterongan dan berdiam di sana semalaman. Dia telah gagal.[64]

Mungkin bisa menghibur Que Yonko kalau disampaikan bahwa Visscher ternyata juga gagal, tapi dengan cara yang berbeda dan lebih parah. Visscher tentu saja mendapati dirinya dalam situasi sulit. Skenario terburuk yang disodorkan kepadanya adalah kemungkinan terjadinya perang, tapi dia tidak memiliki pasukan untuk turun ke medan laga. Garisun-garisun di Jawa hanya berisi beberapa ratus pasukan. Para pemberontak Cina masih berdiam di Bekasi dan perang di Sulawesi Selatan belum selesai, sehingga dia tidak dapat mengharapkan bantuan dari Batavia maupun Makasar. Harapannya satu-satunya adalah bahwa situasi akan reda dengan sendirinya. Visscher, yang pada dasarnya tidak percaya diri, takut dikritik dan tidak bisa menanggapi dengan baik saran yang diajukan bawahannya tanpa diminta, tampaknya menggantungkan diri pada harapannya itu tadi dan merancang kebijakannya sesuai dengan harapan itu. Semakin dia berpegang teguh pada harapannya bahwa orang Cina tidak akan memberontak dan orang Jawa akan tetap setia, semakin jauh dia dari kenyataan, sampai akhirnya dia terbangun dan mendapati dirinya terperangkap dalam sebuah mimpi buruk.

Sekalipun Visscher sebelumnya pernah mengusulkan untuk membantai semua orang Cina yang bisa memanggul senjata, yang mungkin diajukan untuk menunjukkan bahwa Dewan siap mempertimbangkan semua kemungkinan, Visscher sebenarnya berpegang pada pemikiran bahwa orang Cina tidak akan memberontak dan semua pelarian Cina dari Batavia hanya ingin menyelamatkan diri. Meskipun perkiraannya ini mungkin berlaku bagi sebagian besar paelarian itu, tapi tidak pada tempatnya ia mengabaikan peringatan Letnan Que Yonko dan tidak membantunya menyingkirkan para calon pembuat masalah ini. Sebagian dari ketidakperdulian Visscher bisa jadi disebabkan oleh saran dari Kapten Que Anko, yang tampaknya sedang berselisih dengan sepupunya Que Yonko, dan terutama oleh saran dari seorang Cina yang lebih tidak dikenal lagi, Que Poetko, yang kabarnya bercakap-cakap setiap hari dengan Visscher.[65]

Pembunuhan terhadap Claas Lutten tidak menggoyahkan Visscher. Orang Jawa toh sudah mengusir para pembunuhnya dan dia menulis surat kepada para bupati agar mereka waspada, menahan gerombolan-gerombolan orang Cina yang mencurigakan, mengirim mereka ke Semarang atau membunuh mereka, tapi semua pedagang yang tidak berniat jahat sebaiknya jangan diapa-apakan. Visscher menerima jawaban yang menggembirakan: tiga kepala orang Cina. Sementara itu Sunan memberikan tanggapan yang lebih hati-hati. Menurut Sunan sebelumnya belum pernah ada kasus dimana orang Jawa menahan orang Cina, dan bukannya tidak mungkin mereka akan membunuh orang Cina yang salah. Tapi orang Cina adalah bawahan Kumpeni dan jika Kumpeni menginginkan orang-orang Cina jahat dibunuh, terserah saja. Visscher menjawab bahwa orang-orang Cina yang berniat jahat bisa dikenali dari senjata dan pakaian mereka. Sunan merasa permintaan itu agak lain dari biasanya, tapi sebagai sekutu dia akan bekerja sama.

Jawaban Sunan yang tidak terlalu antusias ini tidak mengurangi niat Visscher untuk mempercayai orang Jawa dalam masalah ini. Lagipula dia tidak punya pilihan. Pada bulan Maret bupati-bupati Demak telah menyerahkan lima orang Cina kepada Kumpeni, dan salah satu dari mereka mengaku bahwa sejumlah orang Cina ingin membalas dendam bagi rekan-rekan mereka yang telah dibunuh di Batavia. Mereka yakin bisa berhasil sebab orang Jawa hidup di bawah beban yang sangat berat dan mungkin akan bergabung dengan mereka. Sejumlah besar orang Jawa telah bergabung dan orang Cina di Semarang juga telah bergabung dalam komplotan ini. Tapi bagi Visscher, fakta bahwa para bupati telah menyerahkan orang Cina lebih penting daripada isi pengakuan salah seorang dari mereka. Bahkan ketika laporan-laporan dari Kartasura tampaknya membenarkan isi pengakuan itu dia meragukan sumber-sumber yang digunakan sang residen. Bukankah orang-orang Cina yang memberontak sedang ditangkapi dan diserahkan kepada Kumpeni?[67]

Karena tidak memiliki kebijakan yang lebih baik, Visscher bertahan pada harapannya, yang ia dukung dengan bukti-bukti yang sudah setengah abad umurnya, sementara bukti-bukti yang berlawanan ia abaikan begitu saja. Untuk membenarkan tindakannya meminta bantuan dari para bupati Jawa dia mengais-ngais arsip-arsip lama tahun 1693 di Japara, yang berkenaan dengan sebuah komplotan Cina diamankan dengan bantuan orang Jawa.[68] Fakta bahwa dia merasa perlu untuk menggunakan bukti lama yang tidak terlalu mirip dengan situasi sekarang menunjukkan bahwa dia merasa tidak aman bahkan terhadap para atasannya di Batavia. Tapi di hadapan residen Kartasura dia tampil penuh percaya diri. Laporan-laporan bahwa Sunan telah memberikan dua ribu reyal kepada Mas Brahim untuk memulai serangan terhadap Kumpeni, bahwa Jayaningrat dan Citrasoma telah mendapat instruksi rahasia untuk tetap netral dan membiarkan sebanyak mungkin orang Cina lolos jika terjadi bentrokan bersenjata, bahwa Sunan kabarnya telah mengambil posisi netral dalam jawabannya terhadap permintaan para pemimpin pemberontak Cina, bahwa Sunan berkata kepada ibunya, Ratu Amangkurat, dia tidak akan membantu Kumpeni dan jika dia dimintai bantuan dia akan berpura-pura membantu sebab Kumpeni berkali-kali telah menolak membantu dia (melawan Cakraningrat?), semua laporan tadi menurut Visscher tidak perlu dipercaya dan tidak sesuai dengan karakter Sunan yang lembut, dan lagi Sunan sebelumnya tidak pernah menunjukkan ketidaksetiaan terhadap Kumpeni. Sang residen, yang mengakui bahwa dia mengalami kesulitan dalam mengumpulkan informasi karena Pangeran Ngabehi Loringpasar masih belum sembuh dari batu ginjalnya, diperintahkan untuk lebih berhati-hati dalam memilih sumber. Cakraningrat, yang pada saat itu peringatannya sudah tersampaikan, diminta untuk tidak kuatir, sebab kadang matahari tertutup awan, tapi tidak akan pernah kehilangan cahayanya.[69]

Tapi awan mendung sedang berkumpul, dan tidak bisa diusir oleh kecerahan optimisme Visscher sekalipun. Pada paroh kedua bulan April datang laporan bahwa para pemberontak Cina berkumpul lagi di Tanjung. Mereka telah menduduki dan menjarah pabrik-pabrik gula. Orang-orang Cina pro Kumpeni dikejar-kejar, sementara yang lainnya dipaksa mengikuti mereka. Kejadian di Batavia tampaknya terulang lagi. Kebijakan Visscher diuji sekarang. Dia memerintahkan kepada beberapa bupati pesisir, yang kebetulan sedang berada di Semarang, untuk mengumpulkan pasukan dan bergerak ke Tanjung. Utusan dikirim kepada bupati Japara, Kudus, Pati dan Cengkalsewu supaya mereka bergabung dengan ekspedisi ini dan menutup semua jalan keluar. Rencananya bagus. Para bupati berhasil mengumpulkan 540 orang (245 penumbak dan 295 penembak), tapi kemudian muncul beberapa masalah. Masalah yang paling ringan adalah bahwa pasukan ini, yang akhirnya berangkat setelah disuap dengan perbekalan dari Letnan Que Yonko seperti yang dikisahkan tadi, tidak berhasil melakukan apapun. Yang berhasil dilakukan ekspedisi ini hanyalah membuat Sunan marah besar, sebab pasukan Jawa telah diterjunkan ke medan laga tanpa ijinnya dan bahkan tanpa sepengetahuannya. Sunan-lah yang berhak memutuskan apakah Jawa hendak membantu Kumpeni atau tidak, dan dia meminta para bupati pesisir itu segera datang ke Kartasura.[70]

Visscher telah membuat kesalahan besar. Semakin giat dia mendesak pihak Jawa turun ke medan laga melawan orang Cina, semakin lemah Kumpeni kelihatannya dan semakin besar kecenderungan pihak Jawa untuk bergabung dengan orang Cina melawan Kumpeni. Menurunkan para bupati dan pasukan mereka ke medan laga tanpa sepengetahuan Sunan malah merusak dirinya sendiri. Seolah itu dirancang untuk mendorong Sunan yang tidak stabil ini, yang masih belum mengambil keputusan, untuk terjun ke arah yang salah. Penjelasan panjang lebar dan permintaan maaf Visscher tidak berhasil memulihkan situasinya. Tapi Sunan berpura-pura menerima permintaan maaf itu dan berjanji kepada Visscher untuk mengirim empat bupati pesisir dengan enam ribu pasukan ke Semarang untuk menyerang para pemberontak Cina. Dia meminta Visscher untuk melaporkan masalah itu ke Batavia, karena belum pernah sebelumnya Jawa berperang demi Kumpeni dan dia minta kompensasi untuk itu.[71]

Sementara itu Dewan Semarang bertanya-tanya apa yang sedang terjadi sebab Visscher sama sekali tidak memberitahu mereka. Resminya dia memang punya hak untuk berbuat seperti itu sebab semua masalah yang berhubungan dengan Jawa adalah tanggung jawab tunggalnya dan sesuai dengan prosedur standar dia melaporkannya secara rahasia ke Batavia. Dewan hanya punya suara dalam masalah-masalah internal Kumpeni sendiri. Karena itu juga, residen-residen dari pos-pos Kumpeni lainnya di Jawa dilarang untuk mencampuri masalah pribumi. Sang gezaghebber atau commandeur Semarang adalah satu-satunya suara Kumpeni terhadap Jawa. Residen dapat memberikan pesan, tapi tidak diperbolehkan terlibat dalam pengambilan kebijakan. Kebanyakan gezaghebber menjaga ketat hak prerogatif ini, sebab informasi yang mereka dapatkan bisa sangat menguntungkan bagi bisnis mereka. Permusuhan antar sejumlah kecil orang Belanda yang ditempatkan di wilayah asing yang sempit menjamin bahwa aturan-aturan ini dilaksanakan bahkan dengan lebih ketat daripada yang ditetapkan.

Gerombolan pemberontak Cina, yang menurut informasi terakhir berjumlah lebih dari seribu orang, dan banyak berisi orang Jawa dari wilayah Grobogan, sekarang sudah berada dekat Semarang dan anggota-anggota Dewan mulai mempertanyakan pandangan Visscher. Ketika pada tanggal 1 Mei, kapten dan letnan Cina di Semarang mengontak mereka dan menyatakan kekhawatiran mereka, Kapten Rudolph Carel von Glan, komandan pasukan Kumpeni, mendatangi Visscher untuk bertanya mengapa dia tidak menerima tawaran yang katanya diajukan orang-orang Cina yang berniat baik dan pedagang asing lainnya di Semarang untuk memperlengkapi pasukan tersendiri untuk menyerang pemberontak Cina. Visscher marah besar dan berkata bahwa itu bukan urusan mereka sebab dia adalah komandan tunggal di Semarang. Keesokan harinya, Jeronimus Tonnemans Jr., sang jaksa, sekali lagi mendekati Visscher di hadapan Que Anko dan Que Yonko. Visscher mengamuk. Dia berteriak dan memaki-maki para kepala Cina ini, membanting sebuah meja kecil ke lantai dan menginjak-injaknya sampai hancur. Que Yonko saking takutnya jatuh berlutut dan berkata dia semata-mata berniat baik dan kemudian lari ke rumahnya.[72]

Larinya Que Yonko dan ketidakmunculannya kemudian meloloskan semua frustasi dan panik yang selama ini ditahan-tahan. Sorenya Visscher menerima kabar dari Kapten Que Anko yang menggunakan kesempatan itu untuk kepentingan jangka pendek pribadinya bahwa Que Yonko telah bergabung dengan musuh. Visscher cepat-cepat naik kereta ke benteng sambil berteriak-teriak dan memerintah semua orang Eropa dan orang Kristen yang ada di dalam benteng. Di tengah-tengah panik itu, delapan bedil[4] yang sudah terisi dibiarkan tergeletak di luar loji, sementara orang-orang Cina dan pedagang asing lainnya kabur dari Semarang. Visscher hilang akal dan hanya mampu memikirkan semua uang yang telah ia tanamkan pada Que Yonko dan sekarang lenyap. Von Glan dan anggota Dewan lainnya berhasil meredakan situasi dan menempatkan pasukan di luar benteng untuk menjaga kota. Visscher sudah ambruk mentalnya dan menyerahkan segalanya kepada Von Glan.

Keesokan harinya Visscher berbaring di ranjang dan berkata bahwa dia tidak mampu memegang komando. Dia mengaku tidak ingat apapun yang telah terjadi dan menyerahkan komando kepada Von Glan dan Dewan. Sementara itu Que Yonko sudah ditemukan dalam keadaan hilang ingatan di depan rumahnya. Penemuan ini nampaknya membuat Visscher tersadar. Pada 4 Mei dia mengambil alih komando dari Von Glan dan keesokan harinya dia memerintahkan semua orang kembali ke rumah masing-masing. Selama dua minggu selanjutnya, Visscher tidak mau berkomunikasi. Ketika ditanya apa yang akan dilakukan terhadap para pemberontak Cina di dekat Tanjung yang semakin banyak jumlahnya itu, dia hanya berkata semakin sedikit yang dilakukan semakin baik. Mereka belum menyerang Kumpeni. Tidak ada yang perlu ditakutkan sebab dia sendiri yang akan menghadapi tiga puluh ribu orang pemberontak itu. Dia yang memegang komando dan dia tahu apa yang telah diperintahkan oleh Gubernur Jendral kepadanya. Jika Batavia menghadapi orang Cina sebaik dia menghadapi mereka, masalahnya tidak akan sampai menjadi seperti ini.[73]

Situasi itu dan laporan-laporan dari Kartasura tidak membuat Visscher berhenti berharap bahwa harapannya terhadap orang Jawa akan terwujud. Beberapa hari setelah panik terjadi, empat bupati pesisir, Suradiningrat dari Tuban, Martapura dari Grobogan, Suradimenggala dari Kaliwungu dan Awangga dari Kendal, yang dikirim Sunan untuk membantu Kumpeni, tiba di Semarang. Meskipun enam ribu pasukan yang seharusnya ada bersama mereka itu tidak kelihatan, semangat Visscher pulih dan siap untuk menunggu mereka mengumpulkan pasukan, dan mengabaikan semua kabar buruk yang dilaporkan residen Kartasura.

Sang residen sendiri telah tercebur ke dalam situasi klasik. Kapten Johannes van Velsen bukannya bersikap senetral mungkin dan mencoba mengadakan kontak dengan semua faksi dalam kraton, tapi malah membiarkan dirinya dianggap masuk dalam kelompok oposisi di Kartasura. Perkembangan seperti ini hampir tidak bisa ditolak. Dia mencari-cari informasi, tapi tidak mendapatkan satu orang pun yang mau memberikannya, kecuali Pangeran Ngabehi Loringpasar, Puspanagara bekas bupati Batang dan saudaranya Pusparudita dan Pangeran Tepasana – kelompok yang telah bekerja keras untuk menyingkirkan Arya Purbaya tapi hampir tidak mendapatkan apapun dari keberhasilan mereka.

Menurut Pangeran Ngabehi, dia sudah beberapa kali mencoba menekankan kepada Sunan betapa berbahayanya melepaskan diri dari Kumpeni, tahtanya akan terancam dan membuka kesempatan bagi siapapun untuk merebut tahta dengan kekuatan senjata.[74] Peringatan serupa juga disuarakan oleh Ratu Amangkurat dan bahkan oleh Cakraningrat dari Madura, tapi Sunan tidak bergeming. Sunan tampaknya bertekad untuk mendapatkan sesuatu yang nyata sebagai imbalan atas dukungannya terhadap Kumpeni. Paling tidak dia harus mendapatkan uang, seperti yang selalu diminta Kumpeni dari para leluhurnya jika terjadi perang di Jawa.[75] Untuk memastikan adanya dukungan dari para bupati jika dia sampai memutuskan hubungan secara resmi dengan Kumpeni, para bupati pesisir dimintai sumpah kesetiaan pada tanggal 11 Mei, dan para bupati Mancanagara dan kraton pada tanggal 13 Mei. Semuanya harus siap menyerang Kumpeni dan mengusir orang Eropa dari Jawa dengan ancaman hukuman mati jika gagal.

Tapi belum ada keputusan pasti untuk memisahkan diri dari Kumpeni. Sunan sendiri maupun para pendukung garis keras seperti Patih Natakusuma dan Raden Arya Pringgalaya, masih ragu. Kebanyakan bupati lain dan terutama pada bupati pesisir tampaknya tidak setuju tapi tidak seorang pun menentang pemisahan ini pada prinsipnya. Bahkan Pangeran Ngabehi, Pangeran Tepasana dan mantan Bupati Batang pun menentangnya semata karena mereka memiliki kepentingan pribadi. Mereka bertiga sedang berada pada titik terendah keberuntungan mereka dan tidak memiliki pengaruh maupun kekuasaan sama sekali. Kumpeni adalah harapan terakhir mereka. Sialnya mereka juga harapan terakhir Kumpeni. Ini adalah situasi yang sangat berbahaya sebab Pangeran Ngabehi berada pada urutan suksesi kedua setelah putra mahkota, sementara Pangeran Tepasana, sebagai putra dari Sunan Amangkurat III yang digeser dan diasingkan, bahkan memiliki klaim yang lebih kuat terhadap tahta. Dengan kata lain, hubungan yang terlalu dekat antara pangeran-pangeran ini dengan Kumpeni hanya akan membuat Sunan curiga berat. Dan seperti yang akan kita lihat nanti, kecurigaan itu bukannya tidak beralasan. Untuk sementara waktu, Sunan dihadapkan pada pilihan yang sulit. Apakah dia harus memilih Kumpeni, yang telah terbukti tidak perduli terhadap permintaannya selama beberapa tahun terakhir, yang sekarang dalam situasi sulit ini meminta pertolongannya tanpa menjanjikan apapun sebagai imbalan dan yang residennya sekarang berkomplot dengan para calon suksesi, ataukah dia harus memilih orang Cina, yang menjanjikan seisi dunia kepadanya tapi belum menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka mampu memberikannya? Sebelum dia mendapat indikasi jelas dari Kumpeni atau bukti kehandalan orang Cina dia tidak dapat membuat keputusan. Satu-satunya keputusan yang dapat dibuatnya adalah mencari istri wanita Cina. Karena wanita Cina yang cantik dan bertubuh proporsional tidak dapat ditemukan di Kartasura, Natakusuma menulis kepada Visscher untuk meminta dia mencarikan seorang wanita yang pantas untuk dipersembahkan kepada Sunan dari kalangan Cina di Semarang. Visscher dengan heran hanya bisa berjanji untuk melakukan yang terbaik.[76]

Seharusnya Visscher mempertimbangkan dengan lebih serius tuntutan Sunan akan imbalan bagi bantuan yang diberikannya kepada Kumpeni. Tentu saja dia tidak berhak memutuskan apapun, tapi dia bahkan tidak mengajukan tuntutan itu ke Batavia.  Dalam pandangan Visscher, dan juga dalam pandangan Gubernur Jendral dan Dewan Hindia. Sunan yang baik hati itu akan tahu sendiri bahwa dia dan para leluhurnya sudah menerima banyak bantuan dari Kumpeni sehingga dia pasti akan membantu Kumpeni. Jika tidak maka itu pasti gara-gara perbuatan menteri-menterinya yang jahat, tapi itu tidak mungkin. Tidak lama lagi Ratu Amangkurat atau Pangeran Ngabehi akan berhasil menunjukkan arah yang benar kepada Sunan. Maka Visscher menulis kepada Van Velsen bahwa semua laporan bernada mencemaskan itu cuma mimpi dan Van Velsen sebaiknya memusatkan perhatian pada pengumpulan informasi dan untuk memberikan pesan yang benar lewat Pangeran Ngabehi, dan sekaligus berpura-pura tidak tahu apa-apa tentang rencana apapun untuk melawan Kumpeni. Satu-satunya perjanjian yang ditawarkan Kumpeni adalah tuntutan untuk pemberian bantuan tanpa syarat.

Posisi yang diambil Kumpeni ini pasti sangat pahit dirasakan Sunan, yang merasa bahwa bantuannya dalam situasi ini jauh lebih berharga. Apalagi Sunan merasa bahwa dia sekarang berunding dari posisi yang kuat: belum pernah kekuasaannya terhadap wilayahnya sendiri sedemikian kuat seperti sekarang. Bukan Kumpeni tapi Sunan-lah yang sekarang menuntut. Apa isi tuntutannya terlihat jelas dari kata-kata yang kabarnya diucapkan Sunan ketika Tumenggung Wirajaya menyatakan diri siap untuk mengikuti tuannya ke medan laga tapi menyarankan bahwa sebaiknya Sunan tetap menjaga hubungan dengan Kumpeni. Kabarnya Sunan menjawab bahwa orang Jawa sekarang dapat memerintah dirinya sendiri. Jika Kumpeni mau patuh padanya, mereka akan diijinkan tinggal di Jawa sebagai bawahan di bawah kekuasaannya.[78] Di sini Sunan menunjukkan bahwa dirinya lebih radikal daripada Natakusuma, yang sekarang cenderung untuk menunda serangan untuk sementara waktu. Jika patih takut, dia sendiri yang akan memulai penyerangan.[79] Meskipun beberapa hari kemudian Sunan dengan air mata bercucuran berterima kasih kepada ibunya, Ratu Amangkurat, karena telah memberikan saran-saran yang membuat dia tidak bertindak bodoh,[80] Sunan tampaknya berkeinginan untuk memisahkan diri dari Kumpeni begitu pemberontak Cina menunjukkan keberhasilan.

Memang itu yang sedang diusahakan pemberontak Cina. Gerombolan di Tanjung/Welahan semakin besar dari hari ke hari, sementara gerombolan lain pada tanggal 23 Mei merebut Juwana dengan serangan mendadak. Meskipun residen dan beberapa orangnya berhasil lolos, sembilan orang lainnya tidak seberuntung itu. Seperti yang dilaporkan residen Demak dengan ngeri, sembilan orang itu itu dibawa dalam arak-arakan kemenangan ke Welahan, dimana satu orang dipotong-potong perlahan-lahan setelah jantungnya diambil, digoreng dan dimakan. Jantung tiga orang lainnya dimakan mentah-mentah. Supaya terhindar diri dari nasib serupa, residen Demak meminta ijin untuk mundur ke Semarang, tapi ditolak sebab Demak dianggap sangat penting. Demak kemudian diperkuat dengan sekitar seratus pasukan pribumi di bawah komando seorang ensign Bali.[81]

Meskipun Semarang belum berani menurunkan pasukan Eropa ke medan laga seperti yang diperintahkan Batavia sepuluh hari sebelumnya, ia sudah mulai aktif. Alasannya utamanya adalah karena bupati-bupati Kaliwungu, Tuban, Grobogan dan Kendal telah berhasil mengumpulkan kekuatan sebanyak lebih dari seribu pasukan (310 penembak dan 700 penumbak). Kekuatan ini langsung dikirim dalam kapal-kapal kecil lewat Demak ke Welahan. Tidak lama kemudian Visscher menerima kabar dari Kartasura bahwa Sunan telah mengirim dua gubernur pesisir, Jayaningrat dan Citrasoma untuk membantunya; bahwa bupati-bupati Brebes, Kudus, Demak dan Juwana telah dikirim ke Juwana untuk membebaskan wilayah itu; dan bahwa pasukan juga telah dikirim ke Kedu untuk membersihkan area itu dari gerombolan sebanyak empat ratus orang Cina yang baru tiba di sana.[82]

Selama beberapa hari kelihatannya situasi akan membaik. Semarang baru saja menerima dua ratus pasukan Bugis dan Bali, dan lima puluh empat pasukan Eropa di bawah Letnan Josephus Maximiliaan Constans. Maka pada tanggal 10 Juni Visscher menulis dengan optimis kepada Sunan bahwa ke dua gubernur pesisir telah tiba di Semarang dengan sejumlah bupati pesisir lain, bahwa Rangga Kaliwungu dan pasukannya akan memotong jalan orang Cina di Sungai Tedunan (Kali Serang) sementara Demak telah diperkuat dengan pasukan Kumpeni dan pasukan Jawa setempat. Selain itu untuk menjawab keluhan Sunan dia telah menginstruksikan kepada Van Velsen di Kartasura untuk menunjukkan rasa hormat yang lebih kepada Sunan. Tapi pada hari yang sama datang kabar bahwa orang Cina berhasil lolos di Sungai Tedunan dan telah mendarat dengan lebih dari 70 kapal kecil di Kaliwungu di sebelah barat Semarang. Segera diperintahkan untuk mengadakan serangan balasan. Sebuah kapal Kumpeni dikirim ke Kaliwungu untuk menghancurkan kapal-kapal Cina jika bisa dan mencegah mereka lari. Bupati-bupati Kaliwungu, Tuban, Kendal dan Grobogan ditarik dari Tedunan dan diperintahkan untuk menduduki Kaliwungu. Tiga bupati Tegal, bupati-bupati Pamalang dan Batang, bupati pertama Pati, bupati kedua Surabaya, bupati kedua Demak dan bupati Cengkalsewu diperintahkan untuk menduduki jalan ke Tugu. Lalu kekuatan yang terdiri dari empat puluh enam orang Eropa, sembilan puluh enam orang Bali dan lima puluh orang Bugis di bawah pimpinan Letnan Josephus Maximiliaan Constans dan Ensign Jan Meyerhoff diperintahkan untuk menyerang pemberontak Cina bersama-sama dengan pasukan Jawa.[83]

Setelah ditunda sehari pasukan ini akhirnya berangkat pada tanggal 12 Juni dari Semarang pada jam 12 siang dengan membawa dua meriam.[5] Di Tugu, bupati Surabaya, Surengrana, bergabung bersama pasukannya bergabung dengan mereka tapi setengah jam kemudian pasukan ini kabur, bahkan sebelum musuh kelihatan. Pihak Belanda tidak tahu bahwa bupati Semarang sudah menjarah sebagian dari amunisi dan perbekalan ekspedisi ini. Ketika gerombolan Cina akhirnya muncul, kekuatan Kumpeni dipaksa main kejar-kejaran, yang baru berakhir setelah mereka mendengar tembakan meriam dari sebuah pabrik di dekat mereka. Mereka mengira kekuatan utama gerombolan Cina berada di sana. Mereka bergerak ke sana melewati sebuah jalan sempit – sebab semua jalan lain telah dirusak – dan masuk perangkap. Pasukan Jawa yang ada di depan lari berbalik ke arah pasukan Kumpeni yang menyongsong mereka. Setelah keteraturan dapat dipulihkan dan barisan bergerak maju lagi, mereka mendapat tembakan gencar dari rerumputan tinggi, semak-semak dan rumah-rumah di ke dua sisi jalan itu. Pasukan Jawa yang masih tersisa semuanya kabur, sambil membawa mesiu dan peluru meriam. Pasukan Kumpeni membuat garis depan di segala penjuru dan selama tiga perempat jam berusaha melawan sebisanya. ketika kekuatan utama pemberontak Cina, yang berada di kaki Gunung Bergota, melihat bahwa pasukan Kumpeni tidak punya meriam, mereka melancarkan serangan frontal tapi untungnya dua meriam yang sempat dibawa masih berisi. Dua meriam ini diambil dari garis belakang, ditembakkan dan orang Cina, yang tidak menduga ini sama sekali, tercerai berai. Pasukan itu mundur ke Semarang dengan korban jiwa tujuh orang – di antaranya adalah penterjemah Van Woensel – dan sembilan belas luka-luka dan kali ini untuk kedua kalinya orang-orang dengan panik lari ke benteng. Para pemuka Cina, Que Anko dan Que Yonko, dirantai sementara Visscher berteriak-teriak (dalam bahasa Melayu): “Potong kepala, semua!” Pengepungan terhadap Semarang telah dimulai.

Keesokan harinya para pengepung mencoba pindah posisi ke pemukiman Cina di Semarang. Pasukan pribumi dan sejumlah sukarelawan berhasil memukul mereka mundur dan kemudian dengan gembira menjarah apa yang tersisa. Di rumah Kapten Que Anko ditemukan sejumlah senjata dan amunisi. Ini dianggap sebagai bukti keterlibatan Que Anko dengan para pemberontak, tapi kata Que Anko senjata dan amunisi itu berasal dari perang tahun 1718. Tapi itu tidak penting lagi sekarang. Semua orang Cina sudah dianggap sebagai musuh. Keesokan harinya (14 Juni) ketika wilayah Semarang di depan benteng di seberang sungai sedang terbakar dan garisun Demak yang kekuatannya kecil itu dipanggil, Dewan Semarang memerintahkan pembantaian terhadap semua orang Cina di Jawa, baik di darat maupun di laut.

Sikap pemberontak Cina sudah diketahui dengan jelas, tapi sikap pihak Jawa belum. Mereka belum berbuat apapun terhadap pemberontak Cina dan mereka pun belum terang-terangan bergabung dengan pemberontak Cina. Untuk kesekian kalinya Visscher mencoba mendorong mereka untuk bertindak, bahkan mengancam akan menganggap mereka sebagai musuh jika mereka tidak membantu Kumpeni, tapi jawaban yang ia terima hanya pernyataan kesetiaan dan ketidakberdayaan untuk bertindak. Visscher bahkan sudah bersikap terang-terangan kepada Sunan: jika Sunan tidak memerintahkan para bupatinya untuk menolong Kumpeni dan membasmi orang Cina, dia akan menarik garisun Kartasura ke Semarang. Pada akhir bulan Juni, ketika Rembang juga telah terkepung, dia memberitahu Sunan bahwa dia telah menerima tawaran pertolongan dari Cakraningrat dari Madura.

Sementara itu Batavia bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Mereka disibukkan oleh masalah mereka sendiri dalam menghadapi orang Cina dan Dewan Hindia belum sempat memikirkan Jawa dan untuk sementara waktu agak mengabaikan laporan-laporan yang mengkhawatirkan. Ketika situasi dirasa membaik setelah kemenangan terhadap pemberontak Cina di dekat Bekasi (4 Juni) dan setelah selesainya ekspedisi ke Wajo di Sulawesi, mereka menerima kabar lewat postscript bahwa Semarang sedang dikepung dan sebagian besar kota telah terbakar. Sekalipun mereka mengasumsikan bahwa laporan-laporan yang mengkhawatirkan sebelumnya tentang situasi di Kartasura adalah benar, mereka masih tidak dapat mengambil keputusan. Crul, satu-satunya anggota yang memiliki “pengalaman” di Jawa, menyarankan agar Natakusuma dan Pringgalaya ditahan saat mereka muncul di benteng Kartasura, supaya setelah itu Pangeran Ngabehi Loringpasar, Pangeran Tepasana dan Ratu Amangkurat dapat mengontrol situasi. Yang lainnya berpendapat bahwa itu hanya akan menimbulkan perang dengan Jawa dan karena alasan yang sama pula tawaran bantuan dari Cakraningrat tidak dapat diterima dan bahkan karena itu juga pasukan bawahan Kumpeni di Sumenep dan Pamekasan tidak dapat dipanggil tanpa memberitahu Sunan.[87]

Tapi kejadian-kejadian selanjutnya memaksa Batavia membuat keputusan. Kabar berikutnya datang lewat sebuah surat dari Dewan Semarang bahwa Commandeur Bartholomeus Visscher tidak mampu memegang komando dan sudah hampir kehilangan akal.[88] Meskipun sang pembawa surat itu tidak melihat ada yang aneh pada diri Visscher, dan Batavia curiga bahwa di dalam tubuh Dewan sedang terjadi perselisihan pribadi, akhirnya diputuskan untuk memanggil pulang Visscher, Kapten Von Glan dan beberapa pejabat yang lebih rendah pangkatnya. Visscher digantikan oleh Pedagang Kepala Abraham Roos, commissaris tot en over de zaken van der inlander, yang sebelumnya memenangkan pertempuran di Bekasi.[89] Keputusan untuk mengganti Visscher seolah dibuktikan oleh kabar bahwa Visscher telah melakukan penarikan bersyarat terhadap garisun Kartasura. Keputusan yang dianggap sembarangan ini (een onbezonnen besluit) langsung dibatalkan dengan mengirim utusan khusus ke Kartasura. Jika Van Velsen sudah meninggalkan benteng, dia harus menguasainya kembali dan mempertahankannya sampai titik darah penghabisan. Keputusan opperhoofd Surabaya untuk memanggil pasukan dari Sumenep disetujui dengan setengah hati, tapi semua keputusan tentang diterima atau tidaknya tawaran Cakraningrat ada sepenuhnya di tangan Batavia. Beberapa hari kemudian Visscher menulis surat bahwa dia telah menerima tawaran Cakraningrat.[90]

Kali ini Dewan Hindia marah besar sebab itu dilakukan sepenuhnya atas kewenangan Semarang. Sunan belum pernah menunjukkan niat jahat terhadap Kumpeni dan keputusan Semarang itu bisa-bisa akan mendorongnya ke arah yang tidak diinginkan. Apalagi keputusan Semarang untuk tidak mengumumkan amnesti yang terakhir dikeluarkan bisa jadi akan membuat orang-orang Cina yang berniat baik lari ke pihak pemberontak. Tapi waktu tidak dapat diputar balik dan tidak ada lagi yang bisa diperbuat. Satu-satunya yang bisa diperbuat menurut sebagian anggota Dewan Hindia adalah memperkuat pasukan di Jawa. Meskipun Gubernur Jendral Valckenier menentangnya, Dewan Hindia memutuskan untuk menambah jumlah bala bantuan yang akan dikirim ke Jawa dengan beberapa ratus pasukan Eropa lagi dan paling tidak seribu pasukan pribumi.[91]

Waktunya memang mendesak. Persediaan Semarang semakin menipis dan Visscher mengakui bahwa tanpa bala bantuan mereka tidak akan mampu bertahan lebih dari sebulan. Tapi ketika Abraham Roos tiba di Semarang pada tanggal 25 Juli dia mendapati situasinya membaik. Kepungan terhadap Semarang menjadi makin ketat, karena para pengepung telah berhasil menduduki pemukiman Cina dan Kaligawe, sehingga hanya pemukiman Eropa, benteng dan pantai yang masih ada di tangah Kumpeni, tapi dengan kekuatan pasukan yang ada dia yakin dia dapat mempertahankan apa yang ada. Apalagi dia melihat Visscher tidak kehilangan akal seperti yang dilaporkan. Justru sebaliknya, dalam situasi itu Visscher telah bertindak seperti yang diharapkan.[93]

Di luar Semarang, situasinya lebih kritis. Gerombolan Cina di bawah pimpinan Que Panjang, yang telah dikejar keluar Bekasi, berhasil mengalahkan usaha setengah hati yang dilakukan pasukan pangeran-pangeran Cirebon untuk menahannya. Mereka dikejar oleh seribu pasukan pribumi Kumpeni yang dipimpin Kapten Ismael tapi berhasil sampai di Tegal dan bergabung dengan para pemberontak Jawa di sana dan sekarang mengepung Tegal. Rembang sudah hampir satu bulan dikepung. Semarang telah memerintahkan residennya untuk mundur, tapi garisun kecil yang ada di sana tidak berhasil menembus kepungan. Pada tanggal 27 Juli Rembang jatuh. Residennya terbunuh oleh peluru nyasar enam hari sebelumnya.

Pada tanggal 31 Juli Japara juga dikepung, tapi wilayah di sebelah timurnya tampaknya masih ada di bawah kontrol. Pada tanggal 12 Juli semua orang Cina yang masih ada di Surabaya dan Pasuruan telah dibantai. Hal yang sama juga dilakukan di Gresik – yang merupakan tempat pelarian bagi kebanyakan orang Cina. Ini dilakukan oleh pasukan Cakraningrat atas permintaan residen Surabaya. Meskipun sebelumnya Visscher telah menerima tawaran pertolongan dari Cakraningrat, pangeran yang cerdik ini tidak mau berbuat apapun sebelum ia menerima perjanjian tertulis yang akan secara resmi melepaskan dirinya dari kekuasaan Sunan dan mengakuinya sebagai bawahan Kumpeni.[94] Sebelum permintaan Cakraningrat itu sempat menimbulkan perdebatan yang tak ada habisnya, Roos menerima kabar bahwa komunikasi dengan Kartasura telah terputus dan benteng di sana rupanya telah diserang. Laporan ini dan fakta bahwa Cakraningrat telah menunjukkan kesungguhannya dengan membantai orang Cina di Gresik, menyelesaikan semua argumen. Pada tanggal 28 Juli Semarang mengirimkan perjanjian yang diminta Cakraningrat.[95] Sepuluh hari kemudian Batavia bertindak serupa.[96]

Serangan terhadap benteng Kartasura tampaknya merupakan tanda yang telah lama ditunggu Sunan untuk memilih pihak Cina dan menyerang Kumpeni secara habis-habisan. Sebenarnya, serangan itu bukan hanya merupakan salah satu dari tanda-tanda dimulainya perang yang membingungkan dan saling bersilangan, tapi juga dimulai sebagai sebuah usaha untuk menyatukan pihak Jawa dan bukan akibat dari adanya persatuan di pihak Jawa. Seandainya pihak Jawa sudah bersatu sejak awal, saat yang tepat untuk menyerang adalah dua bulan sebelummnya, ketika garisun-garisun Kumpeni di Jawa sedang berada pada posisi yang paling lemah dan Batavia tidak dapat mengirim bala bantuan sebab pemberontak Cina masih ada di Bekasi. Tapi logistik peperangan di Jawa – alias muson yang basah dan musim panen – tidak memungkinkan pihak Jawa menurunkan pasukan dalam jumlah besar sebelum Juni. Saat terbaik kedua untuk menyerang adalah setelah pemberontak Cina mendapat sukses besar, tapi setelah sebulan berada dalam kepungan, Semarang masih bertahan dan tampaknya pihak pemberontak Cina tidak dapat berhasil tanpa dibantu. Hanya campur tangan besar-besaran dari pihak Jawa yang dapat membawa kemenangan bagi mereka.

Sekalipun semua bupati sudah disumpah untuk menyerang Kumpeni begitu diperintahkan, konsensus masih belum tercipta. Membenci Kumpeni boleh-boleh saja, tapi memulai perang itu bukan masalah main-main. Kebanyakan bupati sadar bahwa mereka sendiri, yang memegang jabatan untuk masa sementara, mungkin akan menjadi korban-korban pertama dalam sebuah perang besar-besaran, dimana pun mereka berpihak. Maka mereka tetap tidak berpihak. Posisi ini tidak sulit untuk dipertahankan selama Sunan secara resmi masih mendukung Kumpeni dan diam-diam menolong orang Cina. Orang Cina bisa disuap dengan perbekalan dan Kumpeni bisa dipuaskan dengan manuver-manuver militer dan setoran kepala-kepala orang Cina dari waktu ke waktu. Cara ini berhasil, baik ke arah Kumpeni maupun ke arah Sunan dan patih. Sekalipun memiliki pengaruh besar terhadap Sunan dan kontrol yang luar biasa besar terhadap para bupati, Raden Adipati Natakusuma menghadapi kesulitan yang sama besarnya dengan Visscher dalam usahanya menggerakkan para bupati. Cara yang akhirnya digunakan Natakusuma untuk mengalahkan keraguan para bupati dan membuat jurang pemisah dengan Kumpeni tidak ada hubungannya dengan pembuatan konsensus, tapi sangat berhubungan dengan taktik lama “membunuh ayam untuk memperingatkan sang kera”. Usahanya ini sangat banyak dibantu secara tidak sengaja oleh perwakilan Kumpeni setempat.

Kapten Johannes van Velsen tidak hanya berhasil membuat dirinya dibenci karena kesombongannya dan tindakannya, yang menurut ukuran Kartasura, sangat tidak tahu aturan, yaitu memukul dan memeras orang tanpa membeda-bedakan,[97] tapi dia juga, seperti yang telah kita lihat tadi, membuat manuver yang membawa dirinya dan Kumpeni ke dalam posisi yang sangat berbahaya karena hubungannya yang dekat dengan pihak oposisi di Kartasura. Meskipun pada kenyataannya pihak oposisi ini hanya terdiri dari beberapa ekor ayam yang hanya bisa berkotek-kotek, adanya hubungan antara mereka dengan garisun Kumpeni yang memiliki dua ratus pasukan Eropa lengkap dengan bedil dan meriam merupakan bahaya besar. Garisun itu mampu menangkap Sunan dan patih dan menaikkan Pangeran Ngabehi, atau Pangeran Tepasana misalnya, ke atas tahta. Pertimbangan apakah tindakan semacam itu tidak akan hanya membawa kekacauan semata kalah penting dengan fakta bahwa kemungkinan itu sudah pernah dibahas, tidak hanya di Batavia, seperti yang kita lihat tadi, tapi juga di Kartasura. Ketika Van Velsen menerima perintah bersyarat Visscher agar mundur ke Semarang, Pangeran Ngabehi dan Pangeran Tepasana menentang keras sebab kata mereka Van Velsen tidak akan mampu membela diri di wilayah terbuka dalam perjalanan ke Semarang. Jika terjadi yang terburuk, maka dia justru harus mempertahankan benteng dan Sitinggil. Meriam yang dibawanya mampu membuyarkan musuh, menguasai kraton dan mengangkat pangeran yang telah mendukung Kumpeni ke atas tahta. Sunan yang sekarang memerintah, jika masih hidup setelah itu terjadi, akan ditinggalkan rakyatnya dan menyerah.[98] Bahkan pasar pun penuh dengan gosip semacam itu, yang terutama dikipasi nyalanya oleh pengikut-pengikut Tepasana, para bekas pengasingan dari Srilanka, yang karenanya disebut sebagai pihak Srilanka.[99] Tindakan Van Velsen, seperti menarik pasukannya ke dalam benteng dan hadir dalam beberapa acara kraton dengan pistol berisi, tidak membantu melonggarkan suasana.

Resminya Sunan masih mendukung Kumpeni. Sebagai tanda dukungannya maka pada tanggal 22 Juni dia mengirim Raden Arya Pringgalaya ke Semarang dengan kekuatan yang cukup besar bersama Tumenggung Wiraguna dari Panumping, Raden Tumenggung Suradiningrat dari Sidayu, Tumenggung Mataun dari Jipang, Ngabehi Tohjaya dari Lamongan, dan ke dua bupati Gresik, Tumenggung Jayanagara dan Ngabehi Surawikrama. Pasukan ini diperlengkapi dengan sepuluh meriam dan lima tong mesiu. Apalagi Tumenggung Mangkuyuda dari Kedu dan Ngabehi Sutawijaya, sang wedana merdika, telah dikirim mengitari garis belakang melewati Kedu untuk menyerang orang Cina yang berkumpul di sana.

Raden Arya Pringgalaya merupakan wedana Siti Ageng dan secara de facto adalah orang yang paling berpengaruh di Kartasura setelah Natakusuma. Kumpeni menganggap dia sama busuknya dengan Natakusuma dan setelah lama sekali baru menganggapnya sebagai pialang kekuasaan yang berdiri sendiri, yang oposisinya terhadap Natakusuma kadang dapat menjadi lebih kuat daripada rasa benci yang katanya dimilikinya terhadap Kumpeni. Sampai sekarang Pringgalaya di dalam sejarah populer Jawa masih menyandang citra seorang patih yang licik dan penuh intrik, terutama lewat perannya kemudian dalam pemberontakan Mangkubumi, yang menimbulkan pemecahan kerajaan dan diciptakannya Kesultanan Yogya. Sebenarnya benih-benih dari reputasinya ini ia telah tanam jauh sebelum itu.

Meskipun anti Kumpeni, Pringgalaya tidak mendukung keinginan Natakusuma untuk cepat-cepat lepas dari Kumpeni. Tidak jelas apakah posisinya itu didasarkan pada evaluasi yang realistik terhadap situasi, atau sekedar disebabkan oleh persaingannya dengan Natakusuma, tapi sejak awal kekacauan situasi dia selalu menghalangi langkah-langkah Natakusuma dengan halus. Prioritas utama Natakusuma adalah menyingkirkan Pringgalaya dari kraton bersama semua bupati Pasisir dan Mancanagara Timur yang diketahui menentangnya. Pengangkatan Tumenggung Wiraguna pada 1737 tidak disetujui Pangeran Arya Purbaya dan Natakusuma. Sementara Raden Tumenggung Suradiningrat adalah putra tertua Cakraningrat dari Madura, yang pengangkatannya pada 1738 juga tidak disetujui Natakusuma dan dia sekarang menjadi mata-mata dan juru bicara ayahnya. Tumenggung Mataun dari Jipang pernah menjadi sasaran Natakusuma untuk digulingkan pada 1740 dan yang terakhir, para bupati Gresik, atau setidaknya Tumenggung Jayanagara, diketahui bersikap pro Kumpeni. Pengiriman Pringgalaya dan kekuatannya ini dimaksudkan untuk melapangkan jalan di Kartasura.

Tapi bukan Pringgalaya namanya kalau tidak berusaha menjegal rencana patih ini. Ketika dia tiba bersama pasukannya di Salatiga, dia ditemui oleh juru tulis Cina dari Kartasura, Gouw Hamko, yang datang bersama dua belas pengawal pribadinya dari gerombolan Cina yang menduduki jembatan Tuntang. Gouw Hamko bukan saja merupakan pemuka Cina di Kartasura secara de facto tapi juga salah satu pemimpin utama pemberontak. Ketika Gouw Hamko menyarankan agar Pringgalaya bergabung dengan orang Cina menyerang Semarang, Pringgalaya menyuruh agar dia dan pengawal pribadinya dieksekusi dan kepala mereka dibawa ke Kartasura.[101]

Ini jauh lebih serius daripada membunuh beberapa orang Cina yang tidak penting untuk memuaskan Kumpeni, tapi sudah merupakan usaha untuk membuat jurang pemisah antara pihak Jawa dan pemberontak Cina. Natakusuma pasti sangat marah dibuatnya, tapi dia berusaha menjaga penampilan. Kepada orang Cina dia menjelaskan bahwa tindakan Gouw Hamko itu terlalu tergesa-gesa, padahal niat Sunan yang sebenarnya belum diketahui para bupati.[102] Kepada Kumpeni kejadian itu dijadikannya jaminan dan memang berhasil, sebab Van Velsen dan Dewannya memutuskan untuk tidak mengirimkan sebuah surat Visscher yang bernada keras kepada Sunan.[103] Karena surat itu juga mengabarkan kemenangan Kumpeni terhadap pemberontak Cina di Bekasi, muncul pertanyaan apakah dengan demikian Sunan tidak mendapatkan informasi penting itu. Tapi tentu saja ada cara lain untuk menyampaikan berita itu. Tapi karena Van Velsen menarik diri dari hampir semua fungsi kraton karena takut dibunuh, Natakusuma bisa dengan mudah menutupi kabar ini dari Sunan. Berita ini mungkin membuat Natakusuma memutuskan untuk mempercepat pelaksanaan rencana. Tapi dia sudah membuat gerakan pertama beberapa hari sebelum kabar kemenangan di Bekasi secara resmi sampai di Kartasura.

Rencana Natakusuma dirancang dengan baik. Pertama-tama dia mencoba untuk meyakinkan garisun. Sesuai dengan kebiasaan lama yaitu jika pasukan meninggalkan ibu kota mereka yang tetap tinggal harus diberi hadiah atas kesetiaan mereka, Sunan pada hari keberangkatan Pringgalaya telah memberikan seribu rixdollar kepada garisun dan sejumlah hadiah lain kepada para perwira.[104] Beberapa hari setelah insiden Gouw Hamko, Natakusuma menantang Van Velsen dengan menampakkan diri di benteng, tapi sebelumnya dia sudah memastikan sambutan apa yang bakal diterimanya.  Sebelumnya dia telah memanggil Letnan Nicolaas Wiltvang dan beberapa perwira[6] lain ke kediamannya. Di sana, di hadapan Pangeran Tepasana dan sejumlah pembesar lain, dia mengakui dengan bahasa Melayu, supaya semua yang hadir dapat mengerti, bahwa niatnya murni dan dia tidak punya niatan jahat apapun terhadap Kumpeni. Kapten sebaiknya tidak terlalu percaya pada gosip-gosip ini dan besok dia akan mengunjungi benteng dan dia harap pada saat itu semua perwira hadir. Kehadiran Natakusuma rupanya membuat para perwira terkesan, sebab mereka mendesak agar Van Velsen menyambutnya dengan lebih megah daripada biasanya.[105] Di dalam benteng, Natakusuma menyatakan keprihatinannya atas ditariknya pasukan ke dalam benteng, sehingga ketika dia mengunjungi benteng pada hari-hari pertemuan dia melihat pasukan siap dengan senjata. Pendeknya dia takut akan timbul perpecahan di antara Kumpeni dan Sunan dan meminta penjelasan mengapa sampai terjadi situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya ini. Natakusuma bahkan menunjukkan surat dari Astrawijaya, bupati Semarang, yang isinya terang-terangan memperingatkan agar dia jangan sekali-kali menampakkan diri di benteng. Van Velsen berdalih bahwa dia mengambil tindakan pencegahan itu karena mendengar gosip yang beredar bahwa semua orang Eropa akan dibunuh. Dia bahkan dengan sopan menyatakan kepada Natakusuma bahwa Natakusuma bahkan dilibatkan dalam gosip-gosip itu. Sang patih mengaku merasa marah mendengarnya. Beraninya mereka menggosipkan dia seperti itu, padahal semua orang tahu dia yang telah mendapatkan posisinya karena jasa Kumpeni! Jika Pringgalaya mau tapi tidak mampu menghancurkan orang Cina, dia sendiri (sambil memukul dada) yang akan membuktikan bahwa namanya sungguh-sungguh Natakusuma. Lalu dia memeluk semua yang hadir dan meminta mereka untuk tidak takut, sebab dia akan segera membereskan masalah ini.[106] Dia pergi, tapi sebelumnya dia sempat bertanya dengan licik: mengapa hadiah Sunan tidak juga dibagikan kepada pasukan? Natakusuma tahu betapa tidak populernya Van Velsen di kalangan anak buahnya.[107]

Meskipun Natakusuma tidak berhasil mengusir kecurigaan Velsen dan garisun, dia berhasil membuat mereka jauh dari neraca keseimbangan situasi. Gerak Natakusuma berikutnya, setelah kesuksesan penampilannya di benteng, membuat Van Velsen benar-benar terkejut. Dia menahan Puspanagara, bekas bupati Batang yang menajdi penghubung Van Velsen dengan Pangeran Ngabehi, bersama dengan adiknya Jayakusuma dan keduanya cepat-cepat dieksekusi dan kepalanya ditaruh di Alun-alun. Saudara ketiga, Pusparudita, berhasil lolos. Van Velsen berusaha menghilangkan rasa takut bahwa dia akan dibunuh dengan mengikuti turnamen reguler pada hari Sabtu keesokan harinya, tanggal 8 Juli, untuk bertemu dengan Sunan. Tapi Sunan tidak muncul. Van Velsen diberitahu bahwa sebuah plot yang melibatkan seseorang yang sangat penting telah ditemukan dan rakyat takut akan keselamatan Sunan. Keesokan harinya, Pangeran Tepasana, bersama adiknya (yang juga bernama Jayakusuma) dipancing masuk ke kediaman patih dan dipaksa membuat sumpah. Patih masih tidak puas dan mereka berdua dibawa ke kraton untuk mengucapkan sumpah mereka sekali lagi di depan Sunan. Lalu mereka dibunuh dan jenazah mereka dikeluarkan secara diam-diam meskipun beberapa orang pasukan Eropa penjaga Kraton melihatnya. Kakak Tepasana, Pangeran Wiramenggala, kabur bersama keluarganya yang masih tersisa dan anggota kelompok Srilanka lainnya ke Semarang, sambil dikejar oleh Raden Malayakusuma, sang wedana siti ageng ingkang tengen. Sementara itu Natakusuma mencopot gubernur besar kabupaten-kabupaten pesisir Barat, Adipati Jayaningrat dari Pekalongan dan menggantinya dengan putranya sendiri, yang menikah dengan seorang putri Jayaningrat. Setelah itu, komunikasi antara Kartasura dan Semarang terputus.[108]

Sampai titik itu rencana Natakusuma berjalan lancar. Dengan satu kali pukul dia berhasil menyingkirkan satu alasan praktis bagi garisun Kumpeni untuk bertindak. Pada saat yang sama dia berhasil menggertak beberapa bupati yang masih tersisa di Kartasura yang bisa menentang rencananya. Strategi Natakusuma adalah memaksa diambilnya keputusan secara cepat di Kartasura. Jika berhasil ini akan membawa antusiasme, bahkan di antara mereka yang ragu sekalipun. Maka Pringgalaya tidak bisa tidak akan membawa pasukannya ke Semarang dan bergabung dengan pemberontak Cina. Sunan jelas tidak akan menentangnya sebab Natakusuma secara untung-untungan sudah berhasil membuat Sunan takut dengan eksekusi terhadap Puspanagara dan Tepasana sehingga Sunan pasti akan bersedia mendukung serangan terhadap garisun, yang selama ini telah berkomplot dengan para pengkhianat. Apalagi Cakraningrat tidak mau menemui utusan khusus yang dikirim Sunan ke Madura. Berita ini dan berita dari Visscher bahwa dia telah menerima tawaran Cakraningrat membuat Sunan makin marah.

Tapi perebutan benteng yang dilakukan dengan gerak cepat itu gagal sekalipun rencananya sudah matang. Natakusuma mengumumkan kepada Van Velsen bahwa dia akan mengirim sebagian dari pasukan Pringgalaya yang ada di bawah bupati-bupati Gresik ke timur untuk berjaga-jaga terhadap Cakraningrat. Sebagai gantinya, Tumenggung Jayasuderga dari Numbak Anyar akan dikirim kepada Pringgalaya.[109] Maksudnya supaya Tumenggung Jayasuderga dan pengikutnya datang ke benteng untuk pamitan kepada Van Velsen. Di dalam sana mereka akan melakukan serangan mendadak dan pasukan Jawa di luar akan menyerbu benteng. Pada saat yang sama penjaga kraton akan diserang oleh pasukan lain.

Pada hari Kamis, 20 Juli, Tumenggung Jayasuderga, Tumenggung Mangunnagara dari Sewu dan Tumenggung Yudanagara dari Banyumas datang bersama pengikut mereka ke benteng. Sekali lagi Natakusuma memilih komando bunuh dirinya dengan baik. Ketiganya adalah penentang yang tidak pernah membuka suara. Bagi Jayasuderga dan Yudanagara, masa Arya Purbaya masih belum lama berlalu, sementara Mangunnagara baru saja digeser dari posisi wedana gedhong ke posisi yang kalah bergengsi yaitu bupati Sewu (Bagelen). Ketiganya tidak dibutuhkan lagi. Ketika mereka sedang minum teh di galeri depan Van Velsen – dan Van Velsen sedang membacakan sebuah surat yang baru saja datang dari Semarang dan Batavia – tiba-tiba ada yang menembak pasukan Kumpeni yang ada di luar. Pada saat itu orang Jawa yang ada di dalam benteng mulai menyerang. Meskipun Van Velsen terluka tangan dan paha kirinya, dia berhasil menahan penyerangnya dan bahkan menurut salah satu sumber dia berhasil membunuh Tumenggung Jayasuderga dengan pedangnya. Lalu dia ditolong. Setelah pertempuran mati-matian dimana pasukan Kumpeni berhasil menutup gerbang, hampir semua penyerang di dalam benteng (delapan puluh dua orang) mati di dalam benteng. Hanya Tumenggung Yudanagara dan beberapa lainnya yang berhasil lolos. Garisun kehilangan sepuluh pasukan, yang enam dari antaranya sedang berjalan di luar benteng pada saat serbuan dimulai dan terperangkap di antara tembok benteng dan orang Jawa yang menyerbu dari luar. Orang Jawa berhasil diusir dengan granat tangan dan meriam. Serangan terhadap penjaga kraton juga tidak terlalu sukses. Meskipun kehilangan dua puluh empat orang, penjaga kraton berhasil membuka jalan ke benteng. Pihak Jawa kehilangan antara lain Tumenggung Natayuda dan Ngabehi Asmarandana.[110]

Garisun Kartasura berhasil menahan serangan pertama. Masalahnya sekarang berapa lama mereka dapat bertahan. Van Velsen telah diperintahkan untuk menjaga benteng sampai titik darah penghabisan, tapi kepahlawanan seperti itu jarang dilakukan pasukan Kumpeni. Apalagi Van Velsen bukanlah komandan yang bisa memberi inspirasi kepada anak buahnya untuk berbuat begitu. Dia rupanya merasa tidak ada harapan lagi dan tidak berbuat apapun untuk mempertahankan pengepungan itu selama mungkin. Sekalipun didesak oleh beberapa perwiranya, dia bahkan tidak mau memasukkan sapi-sapi, sayuran dan kayu di luar benteng. Selama sepuluh hari pertama tidak banyak yang terjadi. Terjadi hubungan lewat surat beberapa kali dengan Sunan, tapi tidak ada penyelesaian yang didapat. Lalu pada tanggal 1 Agustus, pasukan Cina tiba di Kartasura. Mereka mencoba strategi yang lebih agresif. Pada tanggal 5 Agustus terjadi duel artileri dimana sebagian besar isi benteng rusak. Tapi usaha itu harus dibayar oleh Sunan dengan meriam besarnya yang terkenal itu. Meriam itu diisi terlalu banyak oleh penembak Cina dan meledak sehingga paling tidak sepuluh orang terlempar ke atas beringin. Garisun membongkar bagian dalam benteng dan menggunakannya untuk memperkuat tembok. Pada malam tanggal 6 Agustus pihak Jawa dan Cina memindahkan parit-parit dan perbentengan[7] mereka sedemikian dekatnya dengan tembok benteng sehingga meriam benteng tidak banyak gunanya lagi. Van Velsen menolak untuk mengambil tindakan pencegahan dan pasukan sendiri, ketika menyadari pergantian situasi paginya, mulai menggerutu. Seorang penerompet dikirim kepada Sunan untuk meminta ijin mundur ke Semarang dengan jaminan beberapa tawanan penting. Ketika keesokan harinya si penerompet tidak muncul, serangan dilancarkan ke perbentengan  Jawa dengan meriam. Tidak lama kemudian si penerompet muncul membawa jawaban Sunan. Garisun akan dibiarkan selamat jika mereka mau masuk Islam. Tapi pasukan tidak mau dan bertekad untuk membela kulit mereka.

Keesokan harinya, tanggal 9 Agustus, sebuah surat dikirim lagi, kali ini dengan ancaman terhadap keamanan Arya Purbaya (Purwakusuma) dan istrinya (saudari Sunan) yang sedang diasingkan di Srilanka. Jika Sunan mau berbelas kasihan kepada garisun, mungkin ada yang bisa diatur tentang masalah Purwakusuma ini. Rupanya surat itu terlalu sulit untuk diterjemahkan oleh juru tulis garisun, Jan Nieuwenhuys. Nieuwenhuys, yang memainkan peran yang agak meragukan dalam masalah ini, dikirim bersama dengan penerompet tadi untuk menterjemahkan dengan mulut apa yang tidak bisa dilakukan penanya. Mungkin sekali Nieuwenhuys ingin membuat perjanjian bagi dirinya sendiri, sebuah pikiran yang tidak jarang dimiliki beberapa anggota pasukan sendiri. Sang penerompet sebelumnya diberitahu bahwa pihak Jawa hanya meminta kapten dan juru tulis sementara lainnya tidak akan diapa-apakan dan mereka bisa ikut Sunan dengan bayaran yang sama. Beberapa orang menganggap tawaran itu menarik dan menyuruh penerompet untuk berkata kepada Sunan bahwa jika Sunan menginginkan dua liplap itu[111] dia bisa mendapatkannya. Tapi Nieuwenhuys maupun sang penerompet tidak mendapat kesempatan. Mereka ternyata tidak boleh masuk kraton. Surat itu dibawa masuk kepada Sunan. Apa isinya, apakah dibaca atau tidak, tidak dilaporkan. Yang jelas surat itu tidak membawa hasil sebab Sunan tetap pada tuntutannya: pengampunan hanya akan diberikan jika mereka masuk Islam. Mayoritas anggota garisun ingin bertahan, tapi disiplin mulai tidak dapat dijaga lagi. Beberapa menyarankan untuk menghabiskan makanan, sebab itu toh akan menjadi makanan terakhir mereka. Keesokan harinya didapati seseorang telah menyiramkan air ke lubang sumbu meriam. Situasinya tidak dapat dipertahankan lagi. Pada tanggal 10 Agustus benteng menyerah tanpa syarat.[112]

Sekalipun payah penampilannya, garisun ini telah mampu bertahan tiga minggu. Dibandingkan dengan enam minggu oleh garisun kecil di Rembang, memang bukan apa-apanya. Tapi, untuk menundukkan garisun Kartasura ini Pringgalaya harus ditarik pulang dari Salatiga dan sebuah detasemen Cina dikirim dari Semarang untuk membantu pihak Jawa. Bagaimana pengaruh dari melemahnya tekanan terhadap Semarang sulit untuk ditentukan. Kumpeni dalam kurun waktu itu berhasil memperkuat Semarang.[113] Apalagi di antara bala bantuan itu ada seorang komandan baru, Berghopman (Kapten) Nathanael Steinmets, orang yang kegarangannya sama sekali tidak terkurangi oleh batu ginjal dan penyakit lain yang diidapnya. Setelah bertugas sebentar di Sulawesi Selatan dia menjadi komandan pasukan di Jawa sejak 1738 sampai 1740. Lalu dia berada di Batavia untuk menyelesaikan sebuah klaim finansial dengan Kumpeni. Yang terakhir dia menolak untuk memimpin ekspedisi ke Bekasi dan karenanya gajinya ditahan. Komando yang sekarang dipegangnya merupakan kesempatan terakhir baginya untuk memperbaiki prestasinya dan dia tampaknya bertekad untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Beberapa hari setelah kedatangannya diputuskan untuk melancarkan serangan[8] untuk menciptakan ruang di sekeliling Semarang. Pada tanggal 21 Agustus, setelah melakukan pemboman, pasukan Kumpeni menyerang pemukiman Cina pada jam 5:30 pagi. Pada jam sepuluh mereka sudah berhasil mengusir para pengepung dan merampas empat puluh empat meriam dan tiga panji dengan korban jiwa lima puluh orang dan seratus sembilan luka-luka. Kapten Daeng Mabela dan pasukan Bugisnya bertarung bagaikan singa.[114]

Gezaghebber Abraham Roos merasa optimis tentang situasinya. Menurutnya orang Jawa bukan pejuang yang hebat dan tidak akan menimbulkan terlalu banyak masalah. Pemberontak Cina untuk sementara bisa ditahan dengan kekuatan yang ada, meskipun untuk mengalahkan mereka diperlukan tambahan bantuan lagi. Setelah mengambil inisiatif seperti ini harus dibuat kebijakan yang jelas. Roos membuat tiga rekomendasi yang nantinya berakibat besar bagi jalannya perang.[115]

Saran pertama, yang sudah dilaksanakannya sendiri, adalah jangan menunda-nunda lagi masalah Cakraningrat, tapi harus memberikan perjanjian tertulis yang dimintanya dan kemudian menunggu dan berharap. Roos bahkan berharap Cakraningrat mengirimkan pasukannya ke Semarang. Kekuatan mereka berdua bisa mengalahkan pemberontak Cina. Sayangnya, Cakraningrat, seperti yang akan kita lihat, punya tujuan sendiri dan jelas dia tidak mau menyerahkan komando pasukannya kepada Kumpeni.

Saran Roos kedua adalah memanggil pulang bekas bupati Martayuda ke Semarang. Kumpeni harus mendapatkan kesetiaan orang-orang Jawa di Semarang. Adipati Astrawijaya yang sedang menjabat sudah dicap pengkhianat dan Visscher bahkan pernah mencoba memancing putranya, bupati Gemulak, untuk memihak Kumpeni dengan janji akan dijadikan bupati pertama Semarang. Tapi Roos sudah tidak menaruh harapan pada Astrawijaya dan keluarganya lagi. Menurutnya, Martayuda dan putra-putranya, yang dicopot pada 1723 dan masih tinggal dalam pengasingan di Batavia,[116] merupakan solusi yang lebih baik. Martayuda pasti mau mengambil kesempatan kedua ini, Kumpeni bisa yakin pada kesetiaannya dan yang paling penting, populasi Semarang masih memiliki kesetiaan pada bekas bupatinya ini.

Saran Roos ketiga adalah mencoba untuk memecah belah pihak Jawa. Sunan tidak perlu diakui lagi dan para bupati harus ditawari perlindungan Kumpeni. Menurut Roos, kebanyakan bupati tidak terlalu optimis pada kraton dan lebih suka menjadi bawahan Kumpeni sebab dengan demikian posisi mereka akan lebih aman dan pendapatan mereka akan lebih besar daripada pendapatan mereka di bawah Sunan. Apalagi tampaknya tidak seorang pun dari mereka setuju dengan perang ini.[117]

Batavia bisa menyetujui dua rekomendasi pertama, tapi saran ketiga dianggap terlalu radikal. Yang paling dikhawatirkan Dewan Hindia dari deklarasi semacam itu adalah efeknya terhadap Cakraningrat. Apalagi apa yang sebenarnya terjadi di Kartasura dan bagaimana posisi Sunan sekarang masih belum jelas.[118]

Sebenarnya, pendapat Roos tentang para bupati adalah benar tapi alasan-alasannya salah. Sebab akhirnya perpecahan di pihak Jawa bukan merupakan akibat tapi sebab dari pilihan untuk berpihak kepada Kumpeni. Para bupati akan memilih tapi bukan karena mereka suka Kumpeni tapi karena Sunan tidak lagi menjadi tiang yang menyangga posisi mereka di kabupaten mereka masing-masing. Bupati-bupati seperti itu tidak hanya tidak banyak berguna lagi bagi Kumpeni tapi juga kekosongan kekuasaan dalam negara Jawa akan membuat Kumpeni kehilangan pihak untuk diajak berunding. Kumpeni sendiri tidak mampu atau tidak mau menggantikan negara Jawa. Roos menginginkan perpecahan yang akan membawa sejumlah sekutu yang berguna seperti Cakraningrat dari Madura. Tapi perpecahan itu sebenarnya hanya dibutuhkan jika Sunan dan para bupati memiliki kekuasaan yang lebih besar daripada yang mereka miliki sekarang.

Jika Roos memang salah membaca situasi, kita tidak dapat menyalahkannya. Justru pada awal September 1741 itu Sunan tampaknya memiliki kontrol yang lebih kuat dari yang sudah-sudah. Dia telah mengirim Natakusuma dan sejumlah pembesar kraton lain ke Semarang. Ini menimbulkan tekanan yang semakin besar sehingga setelah serangan kedua dilancarkan pada 28 Agustus, yang membuat para pemberontak mundur dari posisi mereka di seberang sungai di depan benteng ke Paseban, dewan perang di Semarang memutuskan untuk tidak lagi mengadakan serangan.[119] Kemudian Sunan mengirim Tumenggung Yudanagara bersama sejumlah pasukan ke kabupaten Priangan di Jawa Barat. Untuk mengimbangi gerak ini, Kumpeni terpaksa mengirimkan sekitar lima ratus pasukan keluar dari garisun Tegal yang sedang dikepung dan mengirim mereka ke kabupaten Priangan lewat Cirebon.[120] Selain Tegal, Japara juga sudah terkepung sementara Surabaya dan Pasuruan mendapat tekanan berat. Meskipun Cakraningrat sudah mengalahkan kekuatan pertama yang dikirim ke arahnya, kekuatan yang lebih besar tiba pada bulan Agustus itu di bawah pimpinan Pringgalaya dan sejumlah bupati Mancanagara Timur dan sedang menyebar mendekati Tuban, Lamongan, Sidayu dan Gresik.[121]

Gerakan-gerakan ini tidak hanya memberikan kesan adanya sebuah rencana serangan yang matang, tapi juga dibarengi dengan elemen ideologis baru, yang membuat Kumpeni cemas. Di semua tempat, mulai dari Priangan sampai Pasuruan, Sunan menyerukan solidaritas Islam. Surat-surat dikirim, diselundupkan, dan bahkan – seperti yang terjadi di Surabaya – diapungkan di sungai dengan batang pisang, yang kesemuanya ditujukan kepada prajurit-prajurit pribumi Kumpeni supaya mereka bergabung dengan pihak Jawa.[122] Betapa seriusnya ancaman ini, jika berhasil, dapat dilihat dari kekuatan garisun Semarang, yang pada akhir September 1741 berisi 3.072 orang dan hanya 662 orang atau 20 persen di antaranya yang orang Eropa. Dari antara 662 orang Eropa itu hanya 553 yang bisa memanggul senjata.[123] Di garisun-garisun lain persentasenya bahkan lebih kecil lagi. Kesetiaan pasukan pribumi sangat penting bagi Kumpeni. Untungnya bagi Kumpeni mereka ternyata tidak mengecewakan. Sekalipun ada seruan solidaritas Islam, sekalipun ada peringatan berupa nasib Kapten Jonker, para perwira pribumi tidak mengikuti Sunan. Menurut mereka perang ini tidak ada hubungannya dengan Islam, tapi perang melawan orang Cina, yang kafir dan pernah menyerang dan membakar rumah-rumah mereka di Batavia.[124] (Sebagian besar dari pasukan pribumi berasal dari milisi pribumi kota Batavia.)

Meskipun Dewan Hindia lega mendengar jawaban ini, disadari bahwa diperlukan tindakan yang lebih drastis untuk menyelamatkan situasi, apalagi setelah Roos tiba-tiba mengajukan pengunduran diri. Alasan resmi Roos adalah bahwa kesehatannya memburuk karena kerja keras, tapi dalam surat pribadinya kepada Valckenier, hubungannya dengan Steinmets-lah yang memburuk.[125] Ini membuat Dewan Hindia menghadapi jalan buntu. Dewan sudah marah pada Semarang karena memutuskan untuk tidak lagi melancarkan serangan, padahal para veteran perang Sulawesi di bawah komandan mereka Kapten Gerrit Mom sudah datang pada akhir Agustus. Dewan Hindia dengan mengabaikan keberatan Valckenier, yang telah menyerahkan jabatannya kepada Johannes Thedens tapi masih menganggap dirinya Gubernur Jendral secara de facto, memutuskan untuk mengirim armada mudik tahunan bersama dua pertiga awaknya dan bala bantuan lain yang berjumlah total 2.270 orang ke Semarang.[126] Bala bantuan sementara ini – sebab paling lambat pada akhir November armada itu sudah harus berangkat ke Belanda – diharapkan bisa membantu Semarang mendapatkan kemenangan yang pasti dan cepat. Tapi resikonya terlalu besar jika armada ini diserahkan pada dua komandan yang saling bertengkar. Sekalipun kali ini Thedens tidak setuju, Roos diberi ijin untuk mundur. Steinmets menggantikan dia sebagai gezaghebber sementara.[127] Saran Roos untuk memecah belah pihak Jawa dengan mengumumkan tawaran perlindungan Kumpeni kepada semua bupati yang berminat juga dipertimbangkan kembali. Usaha Sunan untuk membujuk pasukan pribumi Kumpeni telah membuat Dewan gelisah dan sekarang diputuskan untuk melaksanakan saran Roos.[128] Tapi tiga hari kemudian, tanggal 28 September, seluruh masalahnya dipertimbangkan kembali. Pengumuman seperti itu akan merugikan. Dan lagi, efeknya terhadap situasi dari garisun Kartasura yang sudah menyerah juga harus diperhitungkan. Akhirnya setelah berdiskusi panjang, yang sebagian dilakukan lewat surat karena Dewan itu penuh dengan faksi dan perselisihan sehingga banyak anggotanya pura-pura tidak bisa hadir tapi ikut ke dalam pembicaraan lewat komunikasi tertulis – diputuskan untuk mengirim seorang komisioner khusus ke Semarang untuk mengambil alih komando dan masalah jadi tidaknya mengadakan pengumuman akan diserahkan kepadanya. Idealnya komisioner ini diambil dari salah seorang anggota Dewan tapi jika demikian maka Dewan akan kekurangan orang sebab Valckenier dan direktur jendral sudah pulang ke Belanda. Jadi harus orang lain dan terus terang tampaknya tidak ada anggota Dewan yang mau mengambil resiko itu. Akhirnya diusulkan untuk mengirim sang comptroller-general, Hugo Verijsel. Sebagai orang kedua ditunjuk Jan Herman Theling, pedagang kepala dari Kastil Batavia. Karena Verijsel kebetulan adalah menantu pejabat Gubernur Jendral Johannes Thedens, maka Thedens harus dimintai persetujuan terlebih dahulu. Thedens mengusulkan nama lain sekedar untuk catatan, tapi dia menyatakan bahwa dia tunduk pada keputusan Dewan.[129]

Verijsel dikirim ke Semarang dengan harapan besar dan tiba pada tanggal 17 Oktober. Dua hari sebelumnya Roos pergi setelah memanggil dan menyerahkan tanggung jawab kepada Steinmets, yang sebelumnya ada di Japara atas perintah Roos pada akhir September dengan alasan untuk memimpin pertahanan di sana tapi sebenarnya supaya dia tersingkir.[130] Verijsel mendapati pertahanan Semarang sudah diorganisasi dengan baik. Dia merasa ini adalah hasil kerja Steinmets, terutama Kapten Gerrit Mom. Dia juga lebih suka menempatkan Mom sebagai komandan benteng. Mom tidak hanya mampu untuk itu tapi juga sangat populer di kalangan pasukan, baik yang Eropa maupun pribumi. Verijsel takut mereka tidak akan mau bertugas jika tidak dipimpin Mom. Verijsel tidak terlalu optimis melihat situasi militer secara umum. Tampaknya Kumpeni belum mampu melakukan pertempuran habis-habisan dan harus menunggu setidaknya satu bulan lagi.[131]

Kabar ini mengejutkan Batavia. Para ahli strategi di dalam Dewan terpaksa membuat rencana sendiri. Tegal harus ditinggalkan supaya garisunnya dapat membantu jika terjadi pertempuran habis-habisan di sekitar Semarang. (Pada bulan Juni justru yang sebaliknya yang diusulkan: Semarang harus ditinggalkan dan pindah ke Tegal.)[132] Garis pertahanan Semarang dipendekkan supaya jumlah pasukan dalam setiap serangan dapat bertambah. Sebelum Batavia sempat merencanakan banyak, datang kabar bahwa pertempuran di Semarang sudah dimulai pada tanggal 7 November setelah melaksanakan serangan yang sukses terhadap Kaligawe.[133]

Pihak Cina dan Jawa juga sama terburu-burunya seperti Kumpeni. Muson basah sudah tiba. Orang Belanda harus memulangkan armada mereka ke Belanda, orang Jawa harus mulai menanam padi. Apalagi Ramadan sudah dekat dan pasukan Jawa lebih suka melewatkannya dengan keluarga mereka daripada kelaparan di medan laga di Semarang. Menurut sebuah laporan, persediaan opium menipis dan opium adalah satu bentuk pembayaran yang bisa membuat orang Jawa betah dalam tugas militer. Tampaknya pasukan makin sulit dikendalikan. Bahkan orang Cina pun ada yang sudah desersi. Mereka sudah lelah bertempur. Beberapa mulai ragu apakah mereka akan menang, sementara lainnya mulai takut ditinggalkan begitu saja oleh pasukan Jawa. Pada bulan September Tumenggung Wirasastra dari Demak sudah mulai mencoba menghubungi Kumpeni.[134] Ketika Verijsel mengumumkan kedatangannya dengan membawa bala bantuan besar dan mengirim surat kepada para bupati, dan juga kepada Sunan dan patih, yang menyerukan agar mereka bergabung dengan dia dalam mengalahkan orang Cina, dengan janji bahwa masih belum terlambat untuk memaafkan dosa masa lalu, banyak bupati yang tertarik.

Tapi kesan yang paling kuat tidak berasal dari kedatangan komandan Belanda baru yang namanya tidak dapat diucapkan, tapi oleh kedatangan bekas bupati Semarang, Martayuda, yang diangkat dengan gelar ayahnya Adipati Suramenggala. Pengangkatannya kembali merupakan langkah jitu Kumpeni sebab itu tidak hanya membawa sebuah wajah yang sudah dikenal banyak orang Jawa, yang tidak berpikir soal pasukan yang mana tapi tokoh yang mana, tapi juga menyediakan penghubung para bupati, seseorang yang mereka kenal, yang bisa mereka ajak berunding. Meskipun Suradimenggala sudah tua, putranya Kyahi Mas Yudanagara, ternyata sangat aktif. Apalagi Yudanagara kabarnya adalah putra Sunan Amangkurat IV sehingga dia bisa jadi merupakan saudara tiri Sunan[135] dan membawa elemen tokoh dan heroisme yang selama ini belum dimiliki oleh peristiwa ini. Tapi Kumpeni tidak menyadari aspek-aspek semacam ini. Verijsel hanya memperhatikan betapa mendalamnya kesan yang ditimbulkan oleh kedatangan Suradimenggala.[136]

Menurut mata-mata, Natakusuma akan menyerang pada hari Rabu, 15 November. Jika gagal dia akan mengulanginya pada hari Rabu minggu berikutnya. Jika gagal lagi dia akan melancarkan serangan terakhir pada hari Sabtu setelahnya. Jika gagal lagi dia akan menyerah dan kembali ke Kartasura. Kumpeni tentu saja tidak mau duduk menunggu datangnya serangan itu. Menurut Kapten Mom, para pengepung mulai menggerakkan perbentengan mereka dalam jarak satu tembakan pistol dari garis pertahanan Kumpeni. Semarang akan diserang malam hari secara mendadak. Maka Kumpeni harus melancarkan serangan dan lebih cepat lebih baik.

Sasaran pertama dengan sendirinya adalah Kaligawe dan Torbaya. Di sana para pengepung mengancam akan memotong akses Semarang ke laut. Dari kontak-kontaknya dengan Wirasastra, Kumpeni tahu bahwa Kaligawe dan Torbaya dipertahankan oleh pemberontak Cina yang terkenal, Singseh. Posisi-posisi di sebelah selatannya dipertahankan oleh kekuatan Wirasastra sendiri, Arya Kudus dan bupati-bupati Demak dan jumlahnya tidak terlalu besar. Dan kekuatan ini tampaknya tidak akan datang cepat-cepat untuk membantu orang Cina. Maka pada pagi hari tanggal 7 November, sekitar 2.400 pasukan yang terbagi rapi menjadi garis depan, sayap kiri dan kanan dan garis belakang, bergerak keluar dari barikade jalan ke Kaligawe (lihat peta: huruf N, O, P, Q). Orang Cina dengan mudah dipukul mundur ke arah Sungai Kaligawe. Setelah perbentengan Cina berhasil dihancurkan, dilakukan persiapan untuk menyerang Torbaya dan menguasai sungai, termasuk muaranya yang masih diduduki musuh. Pada tanggal 9 November serangan dilancarkan lagi dengan formasi yang sama dan orang Cina berhasil dipukul mundur dari Kaligawe dan Torbaya (lihat peta: huruf Y). Selama serangan itu dilancarkan, pihak Cina berusaha membuat serangan balasan ke sisi selatan Semarang dekat pasar garam. Meskipun beberapa dari mereka berhasil memanjat perbentengan Kumpeni, mereka berhasil dipukul mundur. Satu-satunya situasi berbahaya terjadi ketika sayap kanan di bawah Kapten Van Hohendorff diserang oleh orang-orang Jawa yang sedang lari untuk bergabung dengan pasukan Jawa yang datang dari Paterongan. Keputusan Mom yang tepat pada waktunya untuk memperkuat sayap kanan dengan detasemen dari sayap kiri dan keberanian serta kepemimpinan Van Hohendorff berhasil menyelamatkan mereka.[137]

Karena hujan, serangan selanjutnya harus ditunda selama beberapa hari. Tapi pada tanggal 13 November posisi-posisi utama para pengepung di Paseban dan pemukiman Melayu diserang (lihat peta: huruf K) dalam serbuan tiga arah. Kapten Van Hohendorff memimpin sayap kiri dari pasar garam melewati jembatan ponton yang melintasi sungai utama untuk menyerang para pengepung dari belakang. Sebuah brigade yang lebih kecil kekuatannya menyeberang dari perbentengan selatan menuju Paseban, sementara sayap kanan di bawah Kapten Ulrich Hemmingson[138] bergerak dari pemukiman Melayu. Seluruhnya ada sekitar 1.885 orang yang diturunkan. Sayap kiri dan brigade tadi tidak menemui banyak perlawanan. Tapi sayap kanan macet sebab penunjuk jalan mereka membawa mereka ke padang-padang berlumpur dan bukannya lewat jalan utama. Milisi pribumi harus mundur di bawah gempuran artileri. Pidato sang administrator kedua, Reinier de Klerk – yang nantinya menjadi gubernur jendral – berhasil membuat mereka maju lagi. Tidak lama kemudian mereka dibantu oleh sayap kiri dan brigade tadi, yang sudah selesai memukul mundur musuh mereka. Hari itu berakhir dengan kemenangan besar. Dalam tiga serangan itu Kumpeni hanya kehilangan tiga puluh enam jiwa dan 126 luka-luka. Pengepungan Semarang telah berhasil dipatahkan.[139]

Pada tanggal 24 November Cakraningrat melaporkan bahwa dalam sejumlah pertempuran, pasukannya telah berhasil mengalahkan pasukan Jawa di Sidayu, Gresik, Lamongan dan Tuban dan dalam pertempuran-pertempuran itu Tumenggung Mataun dari Jipang dan putranya terbunuh. Dalam pertempuran sebelumnya Ngabehi Tohjaya dari Lamongan terluka berat, Tumenggung Suradiningrat tertangkap ketika orang Madura berhasil menguasai Tuban. Suradiningrat hanya bisa menuding hartanya, tapi ketika orang Madura mulai mempreteli istrinya dia mengamuk dan terbunuh. Kepalanya dipenggal dan dikirim ke Surabaya dan ditaruh di pucuk tiang supaya terlihat oleh para pengepung. Demikian akhir dari karirnya yang dimulai dengan keributan yang begitu besar di Tegal pada 1726.[140]

Kemenangan di Semarang memungkinkan Kumpeni memperkuat Japara. Serangan pada tanggal 25 November membuyarkan pengepungan terhadap Japara. Meskipun Tegal masih dikepung, dan situasi di Surabaya dan Pasuruan masih belum dapat dipastikan kesudahannya, titik balik dalam perang telah dicapai. Sunan dan patihnya pun mengakui ini dengan memulai negosiasi dengan Kumpeni.[141]


[1] “women’s quarters of the palace”

[2] “market village”

[3] “able bodied”

[4] “field guns”

[5] “one-pounder cannon”

[6] “subaltern officers”

[7] “bulwark”

[8] “sortie”

Komentar ditutup.