PERANG CINA DAN RUNTUHNYA NEGARA JAWA BAB 2

Bab II

Kejatuhan Danureja

Tahta emas yang diduduki Pakubuwana pada 1726 pada umur enam belas tahun terbuat dari logam campuran bermutu rendah. Tapi Pedagang Senior dan gezaghebber untuk Pesisir Timur Laut Jawa, Willem ter Smitten, yang membuat penilaian terang-terangan tadi ketika menjadi duta ke kraton pada 1727, punya penilaian yang jauh lebih rendah lagi terhadap pemuda yang menduduki tahta itu.[1] Supaya tidak kehilangan kepercayaan yang telah didapatkannya dengan susah payah dari Patih Danureja yang sangat mudah curiga itu, Ter Smitten menghindari kontak pribadi dengan Sunan yang masih muda itu. Dan dia hanya bisa menyampaikan jaminan dari Danureja dan menteri-menteri Jawa lainnya bahwa sang raja sehat mental dan pemikirannya, hanya saja masih terlalu canggung untuk berbicara di depan umum.[2]

Apa yang dilihat Ter Smitten tidak berbeda dari penilaian yang sebelumnya dibuat oleh Komandan garisun Kartasura bahwa Yang Mulia “masih sangat besar nafsunya dan pikirannya tidak terbebani oleh studi-studi yang berguna.”[3] Maka tahta mendapat pengawasan lebih dekat, sementara Ter Smitten tetap terobsesi dengan sang patih dan ibu suri, Ratu Amangkurat – dua orang cerdik yang menguasai kraton dan segala yang tergantung pada kraton.[4] Yang menjadi sasaran utama Ter Smitten adalah Danureja, sampai-sampai akhirnya Batavia meminta agar Ter Smitten tidak menghiasi laporan-laporannya dengan begitu banyak cacian terhadap sang patih.[5] Tapi teguran ini tidaklah menandakan adanya pergantian pandangan. Batavia sebenarnya tetap terobsesi dengan sang patih, sama seperti wakil-wakilnya di Jawa.

Adipati Danureja tampaknya memiliki bakat yang sangat besar untuk selamat dari ganasnya percaturan politik Jawa. Dia lahir di kalangan biasa dan mengabdi pada Pangeran Puger sebagai pemotong rumput. Ironisnya, dia ditaruh di sana oleh Pangeran Adipati Anom setelah kematian Amangkurat II untuk menjadi mata-mata bagi Pangran Puger, saudara Pangeran Adipati Anom yang terkenal punya keinginan untuk naik tahta ini. Tapi dia justru membantu Pangeran Puger kabur ke Semarang dan ketika Pangeran Puger naik tahta sebagai Pakubuwana I, dia diangkat menjadi salah satu dari dua patih, bersama-sama dengan Kartanagara, yang juga kesayangan Pakubuwana I. Setelah kematian Kartanagara, dia diangkat menjadi patih tunggal oleh Amangkurat IV, yang mengubah namanya dari Cakrajaya menjadi Danureja.[6]

Pemerintahan Amankurat IV, atau Amangkurat Jawi, berlangsung singkat dan masa dimana ia menduduki tahta dengan damai bahkan lebih singkat lagi. Dia menggantikan ayahnya pada 1719 di tengah-tengah berkecamuknya Perang Surabaya, dimana Pakubuwana akhirnya berhasil memancing Kumpeni untuk menghukum para bupati bersaudara[1] Surabaya, yang bergabung dengan bupati Madura dan penerus-penerus Surapati. Suksesi ini langsung ditentang oleh saudara-saudara Amangkurat IV yaitu Purbaya dan Blitar. Sebuah serangan terhadap kraton berhasil digempur mundur oleh pasukan Kumpeni yang menjaga kraton tapi saudara-saudara yang memberontak ini lari dari ibu kota untuk melanjutkan perjuangan mereka. Sebelum itu saudara mereka yaitu Dipanagara telah melakukan hal yang sama dan sekarang mereka mendapatkan tambahan bantuan dari paman mereka Arya Mataram dan dua putra Amangkurat IV sendiri: putra tertuanya Arya Mangkunagara dan adiknya Raden Lindhu. Arya Mataram menyerah pada 1720 dan dicekik di Jepara atas perintah Sunan sementara Blitar mati di dekat Kediri pada 1721.

Sebelum Amangkurat naik tahta, Cakraningrat dari Madura terbunuh dalam sebuah peristiwa aneh di atas kapal Kumpeni, Oegstgeest, pada 1718. Dia lari dari saudaranya yang berhasil menggulingkannya dan mencari perlindungan pada Kumpeni. Tidak lama kemudian, saudaranya yang tidak tahu bahwa Cakraningrat ada di atas kapal, mendekati kapal itu untuk menawarkan jasanya pada Kumpeni. Cakraningrat mengira dirinya telah dikhianati dan mengamuk dan dalam perkelahian itu dia membunuh dan sekaligus terbunuh oleh Kapten De Chavonnes, yang datang ke geladak untuk melihat apa yang menjadi penyebab keributan. Saudaranya menggantikannya dengan nama Cakraningrat juga dan dengan bantuannya akhirnya perlahan-lahan Amangkurat dan Kumpeni menang dalam perang.

Dua bersaudara dari Surabaya tadi meninggal kira-kira pada saat yang sama dengan Blitar sementara para pemberontak yang masih tersisa lari ke wilayah Pasuruan, dimana pada awal 1723 hampir semuanya menyerah pada Kumpeni. Purbaya dibuang ke Batavia dan Dipanagara dibuang ke Cape Colony. Arya Mangkunagara dan Raden Lindhu kembali ke Kartasura, sementara salah satu dari saudara-saudara di Surabaya dan sebagian dari para penerus Surapati diasingkan ke Srilanka. Hanya beberapa dari “gerombolan” Surapati yang masih tersisa, di antaranya adalah Mas Brahim, yang selanjutnya akan meneruskan perjuangannya sampai 1742. Sebenarnya pada mulanya mereka juga ingin menyerah, tapi Kumpeni bertindak terlalu tergesa-gesa dalam mengasingkan para pemberontak lainnya sehingga mereka tidak percaya lagi.

Pada 1724 Amangkurat IV sudah sepenuhnya menguasai wilayahnya dan mulai menunjukkan tanda-tanda bahwa dia akan memaksakan kehendaknya. Dia tidak segan menciptakan kontroversi dalam pengangkatan dan pemecatan. Dia antara lain memecat bupati Kediri, Demang Ranuita, saudara tiri Danureja, karena mengadakan kontak dengan pemberontak Mas Brahim, mengirim pasukan untuk menyerang Mas Brahim dan bahkan menolak permintaan Kumpeni. Pada Mei 1725 residen Kumpeni di Kartasura mengeluh bahwa raja memegang semua kontrol dan tidak mau melibatkan siapapun, bahkan Kumpeni sekalipun.[7] Tapi sebelum Amangkurat dapat menikmati kekuasaan yang baru didapatkannya itu, dia mati mendadak dalam situasi yang misterius pada tanggal 20 April 1726.

Menurut gosip-gosip yang terus menerus beredar, Amangkurat diracun oleh persekongkolan yang dipimpin Danureja.[8] Amangkurat punya kecurigaan sendiri. Pada awal kemunculan penyakitnya – sakit perut yang parah – yaitu pada awal Maret 1726, dia meminta sumpah dari Danureja, Cakraningrat (Madura), Jayaningrat (Pekalongan), Citrasoma (Jepara), Puspanagara (Batang), dan Arya Jayasentika (Kudus). Lima bupati yang disebut terakhir ini mengirimkan surat bahwa mereka sama sekali tidak terlibat apapun dalam penyakit Sunan ataupun memberi hadiah-hadiah pada orang-orang suci di pegunungan untuk mempengaruhi kemauan raja.[9] Amangkurat juga mencurigai beberapa istri dan selirnya, saudaranya Purbaya yang diasingkan di Batavia, dan bahkan ibunya sendiri. Tapi tidak ada yang bisa dibuktikan dan dalam kemarahannya yang tak berdaya dia hanya bisa menghukum mati seorang selir dan menghukum seekor gajah sampai kelaparan – keduanya merupakan hadiah dari Adipati Jayaningrat, orang yang paling ia curigai. Untuk memastikan ketidaksenangannya, dia mencopot kekuasaan Jayaningrat terhadap kaum Jagasura di atas Tegal.

Tidak semua tindakannya ini ngawur. Sejak awal dia telah menyatakan keputusannya tentang suksesi kepada Kumpeni, bersama sebuah tawaran untuk menegosiasikan kontrak baru dan, supaya paket ini lebih menarik, dia juga menawarkan hadiah sebesar lima ribu reyal Spanyol – tiga ribu untuk Gubernur Jendral dan dua ribu untuk Dewan Hindia.[10] Dia melewatkan putranya tertuanya yaitu Pangeran Arya Mangkunegara dan menunjuk Pangeran Adipati Anom sebagai penerusnya. Jika sesuatu terjadi, suksesi diteruskan ke Pangeran Buminata dan kemudian ke Pangeran Loringpasar. Amangkurat tahu dari pengalamannya bahwa tanpa dukungan Kumpeni tidak satu pun dari kandidat-kandidat yang semuanya masih di bawah umur ini yang bisa mendapatkan tahta dengan mudah. Di pihak lain, Pangeran Arya Mangkunagara bukan hanya cuma hasil dari petualangan masa muda dengan seorang pembantu, tapi juga pernah bergabung dengan pemberontak pada 1719, yang tidak hanya membuat dia memiliki dukungan laten, tapi juga membuat dia tersisih dari ayahnya dan membuat dia tidak dapat diterima oleh pejabat-pejabat yang berpihak pada ayahnya. Tapi sejarah Jawa sampai saat itu telah menunjukkan lompatan-lompatan dan benturan-benturan yang tak terduga dan raja yang sedang sakit itu gelisah memikirkan keputusan apa yang akan diambil Kumpeni.

Ketika dirawat oleh orang suci yang tersohor yaitu Damarjati dari Jagaraga – yang kebetulan juga lari dari ibu kota pada 1719 bersama-sama dengan Purbaya – kondisi raja tampaknya membaik pada bulan Maret. Tapi pada awal April, residen Kumpeni mendapati bahwa tubuhnya sudah bengkak-bengkak dan dipenuhi noda-noda merah dan biru – yang mungkin saja habis dikerok, tapi sang residen mungkin saja bisa membedakan mana yang habis dikerok dan mana yang penyakit – dan bahwa penyakit raja sudah sedemikian rupa sampai-sampai dia mau meminum obat yang disiapkan oleh ibunya yang buta, yang sebelumnya dicurigainya hendak meracunnya. Beberapa hari kemudian raja tidak dapat lagi bangkit dari ranjang dan kepada residen yang hendak menghiburnya dengan sebuah surat dari Semarang bahwa Batavia setuju dengan rencana suksesi itu, dia mengucapkan kata-kata yang mengharukan ini:

Temanku, apakah tidak ada lagi yang bisa menolongku. Tolonglah aku. Aku tidak bisa memasukkan apapun ke dalam tubuhku, baik itu air, nasi, ataupun sirih karena jantungku berdetak seperti jam dan begitu makanan masuk tenggorokanku, jantungku meloncat dan mengejarnya sampai keluar. Apakah tidak ada pertolongan lagi bagiku?[11]

Berulangkali dia berkata demikian dan akhirnya meminta obat luar dari dokter Belanda.  Ahli bedah senior Kumpeni memberikan plester penghangat perut – sebab sekalipun diminta Kumpeni tidak akan mau memberikan obat dalam karena takut akan gosip tentang racun – tapi tidak ada gunanya. Dokter datang dan pergi dari segala penjuru wilayah tapi setelah satu minggu Amangkurat IV akhirnya meninggal juga pada siang hari, Sabtu tanggal 20 April 1726 yang bertepatan dengan Setu, 17 Ruwah, Tahun Jimakhir 1650 kalender Jawa. Dia meninggalkan ibu kota yang dari luar kelihatan tenang tapi sebenarnya sangat goyah, sebab suksesi masih belum dapat ditentukan kepastiannya.[12]

Dalam suasana seperti itu tidak seorangpun bertanya apakah Amangkurat IV mati wajar ataukah tidak wajar dan gambaran seadanya tentang penyakitnya yang diberikan oleh sang residen tidak memungkinkan dilakukannya diagnosa yang baik. Dari deskripsi yang ada, tampaknya itu lebih cocok dengan tipus daripada racun.[13] Tradisi Jawa tampaknya lebih memilih sebab-sebab supernatural sebagai penyebabnya sebab di dalam Serat Wulang Reh kita jumpai dalam daftar larangan ritual bahwa Amangkurat melarang keturunan-keturunannya menziarahi makam Sultan Pajang di Butuh.[14] Pada bulan Juli 1725 Amangkurat memang berziarah ke sana, dan itu rupanya tidak memberinya keberuntungan sama sekali.[15]

Dengan meninggalnya Amangkurat, Patih Danureja menjadi orang yang paling penting di dalam kerajaan. Bahkan sebelum raja meninggal, Danureja sudah berkonsultasi dengan Kumpeni tentang langkah pengamanan apa yang harus diambil. Pasukan Kumpeni langsung menduduki Sitinggil, semacam panggung di depan kraton tempat raja mengadakan pertemuan, yang posisinya strategis. Kraton sendiri dijaga dengan penjagaan ganda sampai ke gerbang keempat dan tidak seorang pun boleh masuk atau keluar tanpa ijin khusus dari sang patih. Semua pejabat yang ada di sana harus tinggal di kediaman sementara di Paseban, dimana mereka sudah tinggal selama Amangkurat menderita sakit, persis di bawah bedil-bedil di Sitinggil. Pangeran Arya Mangkunegara juga tinggal di sana, di bawah pengawasan ketat Danureja, sementara para pewaris tinggal di Sitinggil pada siang hari dan malamnya tidur di antara gerbang kedua dan ketiga. Ornamen-ornamen dan kas kerajaan, yang sedianya hendak diserahkan kepada tanggung jawab Kumpeni namun ditolak, dijaga oleh Danureja dan sang wedana gedhong, Tumenggung Mangunnagara.

Situasi tampaknya sudah terkendali sepenuhnya. Danureja dengan berani menampilkan kembali selir dan gajah yang seharusnya sudah dihukum mati itu dan jelas bahwa perintah Amangkurat untuk mengalihkan orang-orang Jagasura dari kontrol Jayaningrat juga belum dilaksanakan. Tapi syarat yang paling penting untuk terjadinya sebuah suksesi damai belum terpenuhi. Surat dari Batavia belum datang dan tempat itu segera dipenuhi gosip. Pangeran Arya Mangkunagara melihat adanya kesempatan dan pengikutnya bertambah dengan masuknya apa yang disebut orang Jawa bebas, yaitu orang-orang Jawa yang tidak berada di bawah komando langsung pejabat manapun, sementara Danureja dan pembesar-pembesar kraton lain gelisah mendengar kabar burung bahwa Batavia memutuskan untuk mengangkat Purbaya yang sedang diasingkan itu menjadi raja sebab pewaris yang ditunjuk masih di bawah umur. Pada akhir April Danureja saking gelisahnya mengirim surat ke Semarang yang berisi tanda tangan dari enam belas pejabat yang paling penting untuk meminta dipercepatnya pengambilan keputusan sebab Jawa belum pernah kosong pemerintahan untuk masa sedemikian lama dan bahwa jika keputusan tidak diberikan secara cepat mereka tidak tahu apa yang akan terjadi.[16]

Akhirnya pada tanggal 14 Mei, Semarang mampu meredakan ketegangan dengan kabar bahwa Batavia telah menyetujui suksesi dan bahwa dalam waktu beberapa hari Commandeur Pieter Gijsbert Noodt akan datang pada upacara penobatan sambil membawa surat resmi dan hadiah-hadiah dari Kumpeni. Suasana langsung mereda. Setelah selesai Sholat Jumat, Danureja mengijinkan semua pejabat pulang ke rumah dan menyebarkan surat dari Semarang itu supaya dibaca semua pembesar dan memerintahkan agar gamelan dimainkan. Pangeran Arya Mangkunagara memberi jaminan kepada residen bahwa dia akan tunduk pada keputusan itu dan dia juga meminta perlindungan Kumpeni.[17] Pada hari Minggu 2 Juni 1726, pada Hari Lebaran, enam minggu setelah kematian Amangkurat, Pangeran Adipati Anom akhirnya naik tahta dengan gelar Susuhunan Pakubuwana Senapati Ingalaga Abdulrahman Sayidin Panatagama, yang merupakan gelar kakeknya, sesuai dengan keinginan Amangkurat.[18]

Segera diambil tindakan-tindakan untuk menguatkan posisi raja yang masih muda ini. Pada sidang pertamanya, hari Minggu setelah penobatan, dikeluarkan keputusan tentang pembagian bawahan kepada para pejabat dan tentang pajak. Tapi yang paling penting dari keputusan itu adalah ketetapan bahwa untuk selanjutnya semua pejabat pada prinsipnya akan digantikan oleh putra tertua atau kerabat yang paling dekat kecuali jika ada alasan untuk tidak melakukan itu. Jelas ini adalah sebuah usaha untuk memenuhi keinginan para pejabat dan untuk mencari dukungan mereka. Beberapa hari kemudian diumumkan bahwa semua penduduk diminta untuk lebih rajin dalam menghadiri Sholat Jumat dan bahwa semua kelalaian akan dihukum dengan perusakan cangkul dan penyitaan ternak mereka. Dan tidak hanya pejabat serta kalangan religius yang dipenuhi keinginannya. Semua saudara dari raja yang baru ini mendapatkan bagian dari warisan Amangkurat, sementara Pangeran Arya Mangkunagara mendapatkan janji kenaikan status dan tambahan pendapatan. Yang tidak kalah pentingnya, raja langsung menikahi seorang putri sah dari Pangeran Purbaya, pemberontak yang telah diasingkan itu, dan satu-satunya saudari kandungnya dinikahkan dengan bawahannya yang paling bandel, yaitu Cakraningrat dari Madura. Dua pernikahan ini sudah menjadi keputusan terakhir Amangkurat, yang baru setahun sebelumnya menolak memberikan putrinya kepada Cakraningrat.[19] Untuk melambangkan permulaan baru ini, direncanakan untuk membangun kraton baru sebab kraton yang sekarang telah digunakan oleh tiga raja dan menurut keyakinan Jawa itu sudah jumlah maksimum. Mulanya dipilih sebuah lokasi di sebelah utara Sungai Pepe, tapi kemudian diputuskan sebuah lokasi di sebelah tenggara kraton yang sekarang. Tapi Kumpeni menyarankan agar rencana itu ditunda sampai raja cukup umur.

Cara-cara ini tampaknya berhasil menyelesaikan sejumlah masalah utama dengan rapi, tapi solusi itu bukan solusi nyata. Sebelum bulan Juli berakhir, Batavia sudah menerima surat dari Cakraningrat bahwa perkawinannya dengan saudari Sunan tidak berarti bahwa dia melepaskan keinginannya untuk dipisahkan dari Jawa dan menjadi bawahan Kumpeni. Sebuah tantangan yang lebih kentara terhadap kewenangan raja yang baru bahkan sudah muncul sebelum itu. Tiga hari setelah penobatan, terjadi sebuah pemberontakan di Tegal melawan sang bupati, Demang Tirtanata.

Demang Tirtanata adalah putra dari Adipati Jayaningrat dari Pekalongan. Seperti yang akan terlihat jelas nanti, dia ditunjuk menjadi bupati Tegal sejak November 1725 oleh Amangkurat atas usaha dari Ngabehi Tirtawiguna, sekretaris Sunan, dan untuk itu dia telah membayar tujuh ribu reyal Spanyol.[20] Bupati yang sebelumnya, Tumenggung Raksanagara dan Tumenggung Wiranagara, dipecat dengan alasan yang dibuat-buat bahwa mereka telah menghukum mati seseorang – menjatuhkan hukuman mati adalah hak raja  semata – dalam sebuah urusan judi, dan juga karena mereka telah menolak untuk menyediakan kapal bagi duta ke Batavia tahun itu.[21]

Sebab terjadinya pemberontakan sederhana saja. Demang Tirtanata tidak mau membuang waktu untuk menutup pengeluarannya. Dari tiga ribu rumah tangga dia menarik sepertiga kerja dan dua pertiga uang tunai, yang berarti bahwa semua jasa kerja bagi Kumpeni dan Sunan harus dilaksanakan oleh seribu rumah tangga saja, sementara dua ribu sisanya harus menyerahkan enam puluh reyal untuk tiap dua puluh lima rumah tangga, seratus reyal untuk tiap lima puluh rumah tangga dan dua ratus reyal untuk setiap seratus rumah tangga. Ketika pejabat-pejabat bawahan menerima tugas jaga di kediaman bupati, mereka tidak diperbolehkan membawa pelayan untuk membawakan senjata dan tikar mereka, tapi harus membawa sendiri semuanya. Pada saat panen semua rumah tangga harus membayar tujuh belas dubbeltjes, semua janda membayar sembilan dan semua pria yang tidak atau tidak mampu melaksanakan tugas harus membayar empat reyal. Pejabat-pejabat asli Tegal dipecat dan diganti dengan orang-orang dari Pekalongan. Dan daftar keluhan-keluhan ini masih panjang. Lima gerbang pajak didirikan di Tegal yang setiap bulannya harus menyetorkan sepuluh, lima belas, dua belas, delapan dan enam reyal. Semua orang yang lewat gerbang pajak di Alun-alun di depan kabupaten harus membayar dua dubbeltjes jika membawa muatan dan satu dubbeltjes jika bawaannya itu bisa dibawa dengan satu tangan. Semua keluhan dikesampingkan dengan kata-kata: “Bisa atau tidak, kamu harus melakukannya sebab aku sudah membeli Tegal dari Sunan”.

Menurut kesaksian di atas yang didapatkan oleh komisi penyelidik yang dikirim kraton ke Tegal, penduduk Tegal masih mau tunduk pada praktek-praktek itu seandainya Tirtanata tidak memanggil istri-istri dari pejabat bawahannya ke kediamannya. Mulanya mereka membiarkan itu terjadi, tapi setelah terbukti bahwa itu dilakukan dengan tujuan yang tidak patut, mereka bangkit memberontak. Sekarang mereka berharap Sunan tidak mengembalikan Tirtanata ke Tegal.[22]

Pemberontakan di Tegal menciptakan situasi yang rumit. Kabupaten itu sangat penting bagi Kumpeni, karena mensuplai sebagian besar kebutuhan berasnya, yang tidak hanya diperuntukkan bagi Batavia, tapi juga bagi wilayah timur Indonesia sebab jalannya lebih memudahkan bagi kapal-kapal yang berangkat dari Batavia ke timur daripada kapal-kapal dari Semarang. Terlebih lagi panenannya jarang gagal. Produksi beras Jawa umumnya tergantung pada hujan karena tidak ada sistem irigasi. Tapi wilayah Tegal memiliki banyak sungai kecil yang bisa dibendung. Suplai beras ini merupakan satu-satunya kekhawatiran dari residen Kumpeni, Jacques de Laval. Maka ketika rakyat Tegal di bawah pimpinan orang-orang terkemuka setempat, yang punya koneksi dengan para bekas bupati, mengejar-ngejar kroni-kroni Demang Tirtanata, sang residen tidak terlalu perduli. Demang Tirtanata sendiri saat itu sedang dalam perjalanan ke Kartasura untuk menghadiri penobatan Sunan yang baru. Hubungan sang residen dengan Demang Tirtanata juga tidak terlalu baik sementara para pemberontak berusaha sebisanya untuk memenuhi kebutuhan Kumpeni. Dia agak cemas ketika Adipati Jayaningrat mengancam akan mengirimkan pasukan ke Tegal untuk memulihkan kekuasaan anaknya dengan paksa, tapi itu bisa dicegah dengan melimpahkan urusannya ke Kartasura. Apalagi Jayaningrat mengalami kesulitan dalam mengumpulkan pasukan sebab orang-orang yang ia kumpulkan pada siang hari kabur pada malam hari. Sementara itu utusan khusus dari Kartasura membawa kabar bahwa Tumenggung Wiranagara akan diangkat kembali dan Raksanagara yang sudah meninggal akan digantikan oleh saudaranya. Ini meredakan suasana di Tegal. Sekarang tinggal menunggu keputusan dari kraton.[23]

Yang mengherankan bagi Commandeur Noodt, yang masih berada di Kartasura, kraton tampaknya tidak terlalu memperdulikan masalah ini. Dia mendapat kesan bahwa masalah itu bisa diselesaikan dengan mudah, yaitu dengan memanggil para pemimpin pemberontakan ke Kartasura dan dia melihat bahwa berita tentang akan diangkatnya Tumenggung Wiranagara dan saudara dari Raksanagara adalah cuma gosip. Kraton tampaknya cenderung untuk mempertahankan Demang Tirtanata.[24]

Noodt yakin bahwa Danureja berperan besar dalam penunjukan Demang Tirtanata dan menganggap bahwa ada kesepakatan rahasia di antara mereka berdua. Kesimpulan ini didapatkannya tidak hanya dari kejadian-kejadian terakhir di seputar kematian Amangkurat, tapi juga dari gosip-gosip yang terutama disebarkan oleh Cakraningrat. Sebenarnya bagi Danureja, pemberontakan di Tegal justru membawa keuntungan baginya, sebab para bekas bupati Tegal merupakan penghalang bagi klan Jayaningrat, yang sangat kaya dan dibenci orang Jawa asli karena keturunan Cina peranakannya.[25] Keluarga ini memiliki pengaruh dan kekuasaan di wilayah-wilayah pesisir maupun di pusat yang tidak akan bisa dibiarkan berlama-lama oleh patih manapun. Jayaningrat, sang ayah, adalah bupati Pekalongan dan sekaligus menjabat sebagai gubernur besar untuk kabupaten-kabupaten pesisir Barat. Saudaranya yaitu Puspanagara menjadi bupati Batang dan Wiradesa, sementara putranya memimpin Lembahrawa. Di sebelah timur, bupati Sidayu, Tumenggung Tirtawijaya adalah keponakannya, sementara istri Ngabehi Jayajengrana di Pasuruan juga masih keponakannya. Pasuruan, anehnya, secara resmi berada di bawah komando gubernur besar kabupaten-kabupaten pesisir Barat. Masalahnya Raden Arya Cakranagara dari Pamalang adalah musuh bebuyutan Jayaningrat dan tidak mau menjadi bawahannya, sehingga dia diletakkan di bawah gubernur besar kabupaten-kabupaten pesisir Timur dan Jayaningrat mendapat Pasuruan sebagai gantinya.

Sekalipun satu-satunya putri sah Danureja dinikahkan dengan putra Jayaningrat, yang berarti mereka memiliki hubungan besan yang penting bagi orang Jawa, Danureja tampaknya tidak senang melihat Jayaningrat melahap Tegal, satu-satunya kabupaten penting yang masih tersisa di wilayah barat. Fakta yang tidak diketahui Kumpeni saat itu bahwa Tirtanata mendapatkan Tegal lewat Tirtawiguna mengharuskan Danureja bertindak hati-hati. Dia tidak bisa menyinggung Tirtawiguna dan sekaligus klan Jayaningrat. Dengan kata lain dia mengambil sikap tidak memihak, tapi kita bisa menduga bahwa dia-lah yang mengirim utusan yang menyebarkan gosip bahwa keluarga bupati lama akan diangkat kembali. Gosip ini telah menenangkan para pemberontak di Tegal, tapi dia tidak mau bertindak lebih jauh daripada mengirim komisi penyelidik ke Tegal.

Commandeur Noodt memandang pemberontakan itu sebagai tantangan yang tidak menyenangkan terhadap kewenangan Sunan yang baru. Apalagi dia telah diyakinkan – mungkin oleh Puspanagara dari Batang – bahwa masalahnya sangat berat karena Residen De Laval telah sedikit banyak berpihak pada pemberontak. Noodt juga sangat setuju jika Tirtanata dikembalikan kepada kedudukannya. Tapi usulan yang diajukan kraton pada akhir Juli untuk melakukan operasi militer bersama tidak mungkin dilaksanakan, apalagi setelah Tegal memberontak lagi pada awal Agustus setelah menerima surat dari Puspanagara bahwa Tirtanata akan dipulihkan kedudukannya. Noodt masih memikirkan ide untuk memancing para pemimpin pemberontakan supaya datang ke loji[2] Kumpeni dan menahan mereka, tapi sang residen tidak setuju sebab akan menciptakan kericuhan dan menghambat pengiriman beras, yang sekarang justru lebih lancar dari biasanya. Tapi sang commandeur belum menyerah. Dia secara formal menegur residen atas tindakan-tindakannya dan mengirim kapten Semarang bersama seorang penterjemah ke Tegal untuk membujuk para pemberontak untuk menerima kembali Tirtanata, kalau perlu dengan mengangkat salah seorang keluarga bupati lama sebagai wakil bupati. Para pemberontak menolaknya mentah-mentah dan ketika Tirtanata sendiri menampakkan diri seluruh wilayah itu melakukan perlawanan bersenjata dan dia harus lari ke Pekalongan. Tapi bagi Noodt dan Kumpeni ini merupakan akhir permasalahan sebab Noodt baru saja menerima pesan bahwa dia telah dipromosikan menjadi gubernur Cape Colony dan tidak lagi mengurusi masalah ini kecuali sehubungan dengan residen Tegal, yang tetap ditransfer sekalipun komisi yang dikirim Noodt telah meluruskannya.

Jayaningrat melakukan usaha terakhir untuk menarik perhatian Gubernur Jendral ke dalam masalah ini, tapi tak berhasil.[26] Kumpeni tidak perduli siapa yang menjadi bupati Tegal asalkan suplai beras tidak terputus dan jelas tidak menginginkan tindakan militer. Maka masalahnya kembali kepada kraton dan Danureja. Sunan menempatkan Tegal di bawah komando Danureja, yang memerintahkan agar situasi status quo ante dipulihkan, yaitu dengan menunjuk seorang saudara Raksanagara dan seorang saudara Wiranagara sebagai wakil bupati dan menetapkan denda sebesar tiga ribu reyal (satu reyal untuk setiap rumah tangga) pada rakyat Tegal sebab mereka telah melakukan pemberontakan.[27] Danureja setidaknya tidak dapat disalahkan, sebab jika commandeur dari Kumpeni yang perkasa saja tidak dapat memulihkan jabatan Tirtanata, apalagi dia.

Tapi masalah Tegal ini menimbulkan kebencian yang tidak pernah disadari Kumpeni. Meskipun Danureja menunggu setahun untuk meredam situasi sebelum mengangkat kembali bekas bupati Wiranagara dan saudara Reksanagara menjadi bupati, kemarahan masih membara sehingga Wiranagara dibunuh di Semarang ketika dalam perjalanan ke Tegal.[28] Tapi pembunuhan ini tidak berhasil memberikan pekerjaan baru pada Tirtanagara maupun melunasi hutang Tirtawiguna. Meskipun Danureja bisa puas dengan kesudahan dari masalah Tegal, dia mendapatkan musuh yang sangat licik yaitu Tirtawiguna.

Danureja makin memperkuat posisinya pada bulan November dengan keberhasilan saudara tirinya Demang Ranuita yang tidak hanya menjadi bupati Kediri lagi tapi juga menjadi bupati Blitar/Sarengat pada perayaan Mulud. Willem ter Smitten, yang menggantikan Noodt pada Oktober, melihat Danureja sebagai orang yang paling kuat di kerajaan Jawa, seperti Richelieu yang memanfaatkan rajanya yang masih di bawah umur untuk tujuan-tujuannya sendiri. Tapi dalam pandangan Ter Smitten, kekuasaan patih adalah sedemikian rupa sehingga dia bisa-bisa menjadi sumber utama dari semua masalah. Untuk sementara pandangannya ini terbukti benar.

Tanda-tanda kemunculan masalah terlihat pada Februari 1727, ketika Pangeran Arya Mangkunegara mendekati residen Kartasura untuk meminta bantuannya supaya dia bisa pindah ke kediaman putra mahkota dan mendapatkan kenaikan pendapatan, sebab janji-janji yang dibuat setelah kematian Amangkurat belum juga dipenuhi. Residen menolak memberikan bantuannya sebab itu melampaui wewenangnya. Dia menasehati Arya Mangkunagara supaya tenang.[29] Pada bulan Maret terjadi banjir gosip bahwa akan terjadi perselisihan antara Danureja dan Pangeran Arya Mangkunagara. Pangeran Arya Mangkunagara, yang didukung oleh Pangeran Mangkubumi dan Raden Arya Pringgalaya, hendak menyerang Danureja di Paseban karena Danureja mengangkangi begitu banyak kekuasaan dan berniat menyingkirkan Arya Mangkunagara. Katanya plot ini tidak ditujukan untuk melawan Kumpeni. Sementara itu katanya Danureja bersiap menyerang Arya Mangkunagara karena telah menolak untuk bersama-sama menyerang Kumpeni. Rombongan duta ke Batavia, yang dipimpin anak buah kesayangan Danureja, Tumenggung Nitinagara, sudah pergi lebih dari enam bulan tapi masih belum diperbolehkan kembali ke Kartasura. Ini menimbulkan ketakutan bahwa Danureja sendiri juga akan dipanggil untuk menghadap ke Batavia. Apalagi sekarang Danureja memiliki kekuatan untuk membalas dendam pada Kumpeni, yang pernah menahannya pada 1719. Harta bendanya telah dibawa ke Panaraga dan kabarnya dia didukung oleh Raden Tumenggung Natawijaya dan Demang Urawan.

Rakyat Kartasura mulai mengubur harta benda mereka dan bersiap-siap untuk mengungsi dari ibu kota. Tembakan[3] misterius yang melubangi pipi Tumenggung Kartanadi dan pelemparan batu pada malam hari terhadap penjaga benteng Kumpeni menimbulkan kekacauan. Danureja dan Arya Mangkunagara dan pejabat-pejabat lain pura-pura tidak tahu apa-apa. Hanya Tumenggung Wiraguna yang sudah berumur lebih dari delapan puluh tahun saking bingungnya mengirim utusan kepada komandan penjaga kraton untuk menanyakan kapan pertempuran antara Danureja dan Arya Mangkunagara akan terjadi.[30]

Tapi gosip-gosip ini lenyap secepat kemunculannya. Sunan mengancam akan menjatuhkan hukuman pada para penyebar gosip serta mereka yang hendak lari dari rumahnya. Apalagi Danureja dan Arya Mangkunagara tampaknya sudah berdamai ketika mereka bersama-sama menghadiri acara makan malam dengan residen. Pada kesempatan itu Danureja berkata bahwa dia merasa dia akan hidup delapan tahun lagi dan akan pensiun empat tahun lagi. Sang residen heran, apalagi karena semua tanda-tanda menunjukkan yang sebaliknya. Danureja tidak hanya mengokohkan posisinya dengan kelalaiannya mendidik Sunan tapi pemberontakan di Banyumas menunjukkan bahwa dia sama sekali belum melepaskan trik-trik lamanya. Bukan penurunan, tapi peningkatan kekuasaan-lah yang tampaknya menjadi tujuan Danureja.

Pemberontakan di Banyumas membuktikan kecurigaan Ter Smitten. Sang bupati, Tumenggung Suradipura mengambil sebagian besar dari bawahan[4] saudara tirinya Ngabehi Wiramantri dan memberikannya kepada priyayi dari Kartasura. Ketika setelah membuat janji-janji ia tidak juga mengembalikannya, Wiramantri memberontak pada akhir Maret dan sang bupati lari. Kali ini Kumpeni lebih tahu masalahnya daripada yang sudah-sudah. Seorang prajurit Kumpeni yang diletakkan di Banyumas untuk mengawasi pengumpulan hasil bumi wilayah itu melaporkan sejak dini bahwa Wiramantri sudah sumbar bahwa dia mendapat perintah khusus dari Danureja untuk memulai pemberontakan. Apalagi dia mendengar bahwa pemberontakan itu dapat dihentikan dengan mengangkat Mas Martawijaya, putra dari bekas bupati. Martawijaya ini ternyata adalah putra dari Tumenggung Martayuda, yang dieksekusi oleh Pakubuwana I pada 1715 karena memelihara pasukan bayaran asing. Mas Martawijaya tidak hanya tinggal di kediaman Danureja, tapi juga menikah dengan saudari dari istri pertama Danureja. Kesimpulannya tampaknya tidak salah lagi. Dan memang, setelah dilakukan tindakan penyelesaian pura-pura yaitu mengirim komisi penyelidik ke Banyumas dan pengadilan terhadap Wiramantri, Tumenggung Suradipura menyerahkan jabatannya pada awal Juni. Wiramantri dipenjara selama beberapa hari dan pada bulan Juli Mas Martawijaya ditunjuk menjadi bupati Banyumas dengan gelar Tumenggung Yudanagara.

Kali ini Ter Smitten benar-benar khawatir. Ada pola-pola berbahaya yang kelihatannya mulai terbentuk. Pada 16 Juni Raden Tumenggung Natawijaya, yang dianggap sebagai kroni Danureja oleh Kumpeni, tiba-tiba ditunjuk menjadi wakil patih. Sebelum itu, tiang-tiang dipancangkan di sekitar pasar di belakang benteng Kumpeni – yang menurut pihak Jawa dipasang untuk mencegah hewan-hewan yang kabur, tapi menurut sang residen itu berpotensi untuk dijadikan tembok[5], yang menjadi semakin berbahaya ketika diperpanjang dari benteng sampai ke sungai. Meskipun sang residen berhasil menghentikan penambahan lebih lanjut, yang bisa-bisa memutuskan hubungan benteng dengan sungai, kecurigaan mereka tidak berkurang sebab tiba-tiba hewan-hewan sembelihan disediakan hanya untuk keperluan dari hari ke hari sehingga garisun tidak memiliki persediaan. Daging asap dan gandum harus dikirim dari Semarang untuk berjaga-jaga. Residen sementara yang baru tidak mendapatkan penghormatan seperti yang biasanya ketika datang dan jika ini masih tidak cukup untuk menimbulkan kecurigaan, masih ada kabar dari Surabaya.

Menurut kabar-kabar ini, Danureja sedang mempersiapkan rencana besar-besaran untuk menyerang Kumpeni dan ada laporan terinci tentang bagaimana Danureja memobilisasi bupati-bupati terpenting di Mancanagara Timur dan mengontak Mas Brahim lewat bantuan saudara tirinya, bupati Kediri. Yang lebih fantastis lagi, ada kabar bahwa raja-raja Bali, Dewa Agung dan Dewa Anom hendak menyerang Blambangan untuk kemudian bergabung dengan Mas Brahim dan bergerak ke Mataram atas undangan Danureja.[32] Hasil dari pemeriksaan di Kartasura justru menguatkan kebenaran kabar-kabar ini. Danureja rupanya telah membagi-bagikan uang kepada beberapa pejabat tinggi, dan berniat untuk menyingkirkan Arya Mangkunagara, untuk merusak jembatan strategis di Tuntang dan kemudian menduduki jalan ke Semarang.[33] Istrinya bahkan kabarnya sudah menjual barang-barangnya dengan harga miring untuk mendapatkan emas.[34]

Sekalipun ada bukti-bukti tidak langsung seperti ini, Ter Smitten masih belum bisa mempercayai kabar-kabar itu. Satu-satunya rencana yang tampaknya benar-benar dimiliki Danureja adalah rencana untuk menyingkirkan Arya Mangkunagara dari kediamannya untuk digantikan oleh sang wedana gedhong, Tumenggung Mangunnagara, yang kediamannya di sebelah Danureja hendak diberikan kepada wakil patih yang baru Raden Tumenggung Natawijaya. Arya Mangkunagara belum diberitahu soal rencana ini dan orang-orang menanti-nanti bagaimana reaksinya. Menurut perhitungan Ter Smiteen, ketegangan antara Danureja dan Arya Mangkunagara bisa jadi justru akan membuat suasana tenang dan mencegah terjadinya koalisi besar-besaran melawan Kumpeni.

Ter Smitten tetap optimis. Dia tidak dapat mengerti mengapa orang seperti Danureja, yang sudah tua dan sudah mampu menyebut dirinya sebagai penguasa Jawa, hendak mempertaruhkan segala yang ia punya. Apa yang masih dia inginkan lagi? Apakah dia hendak membalas dendam karena penahanan atas dirinya delapan tahun sebelumnya? Tapi supaya aman, Ter Smitten meminta bantuan dari Batavia. Kekuatan yang ada saat itu cuma 1061 prajurit yang terbagi ke dalam sembilan garisun: Semarang (299), Kartasura (292), Surabaya (150), Pasuruan (149), Tegal (43), Jepara (60), Rembang (35), Demak (17) dan Juana (16). Segalanya tergantung pada apakah Danureja bersedia datang ke Semarang untuk menyerahkan setoran tahunan berupa beras dan uang tunai seperti yang ditetapkan dalam kontrak tahun 1705. Jika didatangkan bantuan pasukan saat itu juga, mungkin dia tidak akan berani berbuat macam-macam. Ter Smitten memutuskan untuk meyakinkan Danureja sebisa mungkin lewat jalur pribadi, yaitu lewat Tumenggung Puspanagara dari Batang, dan menunggu.

Ter Smitten sangat lega ketika Danureja tiba pada tanggal 7 Agustus di Semarang. Dia memberikan sambutan yang luar biasa megah dan berbicara kepada Danureja secara pribadi. Dia mengungkapkan tentang semua gosip yang tersebar tentang diri Danureja sejak kematian Amangkurat, tentang bantuan yang didatangkannya untuk bersiap menghadapi niat jahat dari para tukang gosip itu, tapi bahwa Kumpeni tidak meragukan kesetiaannya dan bahwa Danureja sama sekali tidak perlu takut. Danureja tampaknya sangat lega. Dia memeluk Ter Smitten dan berterima kasih atas pernyataannya itu sebab banyak sekali gosip yang juga tersebar sejak keberangkatan rombongan duta Nitinagara ke Batavia dan dia menjadi takut sedemikian rupa sampai-sampai mempersiapkan rencana untuk lari ke Batavia lewat Lasem atau Tegal. Dia membantah dirinya telah menghubungi Mas Brahim atau raja-raja Bali dengan cara apapun dan menerangkan bahwa uang yang ia bagikan kepada bupati-bupati Mancanagara Timur adalah uang muka untuk membeli produk Kumpeni seperti biasanya dan bukan untuk membeli senjata. Arya Mangkunagara, Pangeran Mangkubumi dan sejumlah pembesar lain berusaha menimbulkan pertentangan, tapi dia tidak akan memberontak melawan Kumpeni maupun Sunan. Dia sudah tua dan penahanan pada tahun 1719 sudah lama ia lupakan. Jika Nitinagara kembali dari Batavia, semua gosip akan segera reda.[35]

Nitinagara dan rombongannya kembali dari Batavia hampir setahun setelah keberangkatan mereka yaitu pada 10 September, yang disambut dengan sangat gembira oleh Danureja. Mereka ditahan di Batavia alasan yang dibuat-buat bahwa Gubernur Jendral terlalu sibuk untuk menerima mereka, padahal sebenarnya Batavia hanya ingin menegur patih, sebab rombongan itu hanya terdiri dari tiga pejabat rendahan yang dipimpin oleh orang kesayangan Danureja, Nitinagara, yang untuk tujuan itu telah diangkat menjadi tumenggung, sehingga mereka tidak bisa diajak membicarakan urusan apapun oleh Kumpeni. Jika memang Batavia sekedar bertujuan untuk membuat Danureja gemetaran sedikit, itu sudah lebih dari cukup. Menurut Danureja sendiri, rombongan itu dikirim semata untuk memberi selamat kepada Gubernur Jendral yang baru diangkat, Mattheus de Haan. Apalagi Commandeur Noodt katanya setuju bahwa tidak boleh ada pejabat tinggi yang cepat-cepat dikirim ke sana setelah kematian Amangkurat. Bagi orang Jawa, masalah ini tidak hanya menyinggung perasaan mereka, tapi juga sulit dimengerti. Seluruh pihak oposisi terhadap patih mempermasalahkannya dan posisi patih menjadi sangat goyah karenanya. Betapapun kuat kelihatannya posisi sang patih, jika dia bisa dijangkau lewat Kumpeni, keruntuhannya tidak akan lama lagi.

Sudut pandang inilah yang harus digunakan untuk memandang permintaan aneh dari Danureja, yang membuat Ter Smitten serta bupati-bupati yang hadir terperangah. Pada 13 September Danureja mengabarkan kepada Ter Smitten bahwa untuk meyakinkan dunia, ia ingin tidur bersama Ter Smitten malam itu, dengan hanya ditemani lima atau enam pembantu muda. Ter Smitten tidak keberatan. Dia menganggapnya sebagai kesempatan baik untuk menguji sang patih dalam situasi yang sangat tidak formal. Kesannya adalah bahwa betapapun pintarnya Danureja berpura-pura, niat aslinya pasti akan ketahuan dalam suasana seperti itu. Tapi ternyata Danureja kelihatannya sangat jerih kepada Gubernur Jendral dan dia tampaknya akan tetap melaksanakan kewajiban-kewajibannya. Ter Smitten tidak menyadari efek dari peristiwa itu terhadap percaturan politik Jawa. Semua orang sedang meragukan niat Kumpeni yang sebenarnya terhadap Danureja dan Danureja telah pergi ke Semarang bersama empat atau lima puluh pembantunya yang paling berani dan siap untuk mengamuk jika ada sesuatu terjadi. Sekarang dia bermalam bersama sang gezaghebber dengan hanya ditemani beberapa bocah. Adakah bukti yang lebih kuat bahwa hubungannya dengan Kumpeni sedang hangat-hangatnya?[36]

Danureja sangat senang dengan hasil dari kunjungannya ke Semarang. Dengan satu langkah dia telah berhasil meraih kembali semua keuntungan. Apalagi dalam waktu beberapa minggu, Ter Smitten akan menghadiri Hari Mulud sebagai duta resmi kepada kraton, sesuatu yang telah lama ia tunda. Ini merupakan kesempatan bagi Danureja untuk memamerkan posisi barunya terhadap Kumpeni dan dia punya harapan bagus bahwa sejumlah permintaan yang ia ajukan dalam kunjungannya ke Semarang akan dipenuhi. Kedatangan duta yang bertepatan dengan Hari Mulud, ketika semua bupati datang untuk memberi hormat kepada raja, merupakan pilihan yang sulit bagi Kumpeni sebab akan ada kesan bahwa Kumpeni juga sedang memberi hormat kepada raja, sama seperti para bupati. Tapi kebanyakan gezaghebber tidak berpikir sejauh itu. Undangan untuk menghadiri Mulud adalah cara yang praktis untuk bertemu dengan semua bupati dan mempelajari situasi politik di kraton.

Rombongan Ter Smitten, yang datang sejak 15 Oktober sampai 15 November, mendapat sukses besar. Dia diterima dengan lebih megah daripada biasanya. Sama sekali tidak muncul masalah. Bahkan Cakraningrat dari Madura juga menampakkan diri. Danureja dan Arya Mangkunagara tampaknya sudah menyelesaikan perbedaan-perbedaan di antara mereka. Ter Smitten berpikir bahwa ada alasan-alasan kuat untuk percaya bahwa keadaan akan menjadi tenang untuk waktu yang lama.[37] Dalam kunjungannya ini, Ter Smitten melihat bahwa kekuasaan Danureja tidak sebesar yang selama ini diperkirakan. Dia tidak hanya memiliki banyak musuh, tapi juga tidak memperlakukan teman-temannya dengan cara yang bisa meningkatkan kesetiaan mereka. Jika dia tidak seserakah itu dalam mencari kekuasaan dan uang – sebab bahkan teman-teman dan kerabatnya sendiri pun harus membayar pertolongan sekecil apapun yang mereka terima – dia mungkin akan lebih dihormati dan disegani. Sekarang dia ditakuti dan dibenci oleh banyak orang.[38]

Tapi itu tadi adalah komentar-komentar paten yang digunakan pegawai-pegawai Kumpeni terhadap hampir semua pejabat tinggi Jawa. Oderint dum metuant, pepatah favorit dari banyak kaisar Romawi, juga berlaku di Jawa. Pegawai-pegawai Kumpeni hanya berminat pada usaha-usaha mempertahankan status quo dan lupa bahwa segala aksi dan reaksi dalam politik Jawa adalah esensi dari apa yang menyatukan mereka dan bukan sekedar ekspresi kebetulan dari rapuhnya karakter Jawa. Menjaga keseimbangan kekuasaan adalah proses yang kreatif, bukan sesuatu yang bisa dihentikan semata karena Kumpeni tidak mau dibuat repot pada saat dia asyik menghitung neracanya.

Danureja berharap bisa memanfaatkan kesuksesannya barusan itu dengan sebuah langkah yang cerdik. Hampir semua gosip yang menyerang dirinya berasal dari Surabaya dan dia punya alasan kuat untuk mencurigai bahwa biang keladinya adalah bupati kedua Surabaya, Ngabehi Secadirana, putra dari Adipati Citrasoma dari Jepara. Apalagi Ngabehi Secadirana selalu berselisih dengan bupati pertama, Ngabehi Suradirana, saudara ipar Danureja. Dia mengusulkan pertukaran kepada Ter Smitten. Ngabehi Secaradirana akan dicopot dari jabatannya dan diganti dengan Arya Tuban, saudara tiri Danureja yang saat itu sedang menjadi bupati Tuban. Posisi yang kosong di Tuban akan diisi oleh Suradiningrat, nama baru dari Demang Tirtanata yang terlibat dalam masalah Tegal tadi dan Tumenggung Wiranagara yang sudah tua itu bisa diangkat menjadi bupati Tegal tanpa halangan apa-apa.

Langkah brilyan ini seandainya berhasil akan memperkuat posisi Danureja dengan satu kali pukul, dimana dia akan mendapatkan kontrol penuh atas kabupaten penting yaitu Surabaya. Luka-luka akibat kasus Tegal akan disembuhkan dan masalah dengan Tirtawiguna dan klan Jayaningrat akan terselesaikan tanpa harus memberikan Tegal kepada mereka. Selain itu pengaturan ini akan memuaskan bekas bupati Tegal, Tumenggung Wiranagara, yang memainkan peran yang kurang jelas dalam penyebaran gosip tahun sebelumnya. Resikonya pun kecil sebab pihak yang akan dirugikan dalam hal ini yaitu Adipati Citrasoma dan klannya, tidak memiliki kekuatan besar.

Tapi Kumpeni tidak mau membunuh begitu banyak burung dengan satu batu. Ngabehi Secadirana selalu melayani Kumpeni dengan baik sementara Arya Tuban kabarnya tolol, arogan dan kecanduan opium.[40] Dan lagi Kumpeni tidak mau kasus Tegal terulang di Tuban. Pengangkatan kembali Wiranagara di Tuban bisa disetujui Kumpeni, tapi jika usulan Danureja yang lainnya tidak dilaksanakan itu tidak akan banyak gunanya.[41]

Permintaan Danureja lainnya, seperti penarikan pasukan Kumpeni dari Sitinggil dan keinginannya untuk membeli seratus bedil dari Kumpeni juga tidak terpenuhi. Kumpeni bersikeras akan menduduki Sitinggil sampai Sunan cukup umur, sehingga menjadi pemandangan yang sangat tidak enak bagi semua orang di dalam kraton, sementara permintaan untuk membeli bedil itu ditolak dengan alasan yang dibuat-buat bahwa bedil-bedil yang baru datang dari Belanda sangat rendah kualitasnya sehingga Kumpeni tidak punya cadangan sama sekali saat itu. Akhirnya Danureja hanya mendapatkan kayu khusus dari Palembang untuk menghias makam untuk Sunan dan dirinya sendiri.

Optimisme Ter Smitten dalam kunjungannya itu sama sekali tidak menyelesaikan ketegangan-ketegangan mendalam di dalam kraton. Ketegangan-ketegangan itu mungkin justru makin parah sebab dalam pembicaraannya dengan para pejabat dia pastilah membeberkan seberapa besar dukungan Kumpeni yang sebenarnya kepada Danureja sehingga acara bermalam bersama Danureja menjadi tidak berarti lagi. Ketenangan tidak dapat dipertahankan lama. Keributan terjadi begitu cepat sehingga Ter Smitten mungkin bahkan tidak sempat mempelajari neraca rugi laba tahunan, yang akhirnya dikirim ke Batavia pada bulan Maret dan bukannya Desember seperti biasanya.

Sejak Sunan naik tahta, Pangeran Arya Mangkunegara menjadi lawan utama Danureja. Dia adalah satu-satunya pangeran berdarah kerajaan yang cukup umur dan itu menjadikannya titik pusat dari semua elemen perlawanan yang ada. Cepat atau lambat dia akan berhadapan langsung dengan Danureja, maka sang patih tidak membuang waktu begitu mendapatkan kesempatan emas untuk menyingkirkannya dari arena.

Latar belakangnya seperti sebuah naskah tragedi. Arya Mangkunagara kabarnya berhasil merayu salah seorang istri resmi Sunan. Setelah melakukan kekurangajaran itu dia bahkan berani meminta wanita itu dan sang raja menjadi sangat marah karenanya sehingga dia ingin menghukum mati saudaranya itu. Atas permohonan dari ibunya, Ratu Amangkurat dan lainnya, dia akhirnya memutuskan untuk membuang Arya Mangkunagara dari Jawa.[42]

Apa yang sebenarnya terjadi sulit untuk ditentukan. Kraton tidak pernah mengadakan penyelidikan menyeluruh. Wanita yang terlibat itu langsung dieksekusi dengan dicekik di kediaman Danureja, dan tidak ditusuk keris seperti yang direncanakan semula. Menurut kesaksian Tumenggung Puspanagara dari Batang yang dibuat lama setelahnya, Danureja berkata: “Wanita ini harus disingkirkan, jika tidak maka tidak akan ada alasan.”[43] Dua orang comblang dalam skandal itu juga cepat-cepat disingkirkan. Mbok Wiraga, kepala dari pembantu wanita kraton dipecat dan mendapat hukuman bekerja di kebun, sementara Nitipraya, pelayan[6] Sunan, dikirim dalam sebuah misi ke Banyumas dan tidak pernah kembali.[44]

Arya Mangkunagara tampaknya telah menjadi korban dari sebuah rencana yang lihai. Sekitar seminggu sebelum skandal itu meledak, residen mendapat informasi tentang dosa Arya Mangkunagara dari Danureja dan pejabat lain. Sang pangeran sendiri belum tahu apa-apa dan menurut sang residen dia sedang melewatkan hari-harinya dengan menikmati musik Jawa di kediamannya. Sang residen meminta masalah itu ditutup rapat-rapat sebelum datangnya perintah dari Batavia. Kumpeni sudah dua kali menjanjikan perlindungan kepada Arya Mangkunagara, maka eksekusi terhadap Arya Mangkunagara harus mendapat persetujuan dari Batavia. Jika Arya Mangkunagara merasakan adanya bahaya dia bisa jadi akan lari dari kraton dan memulai sebuah pemberontakan. Menahannya saja bisa menimbulkan masalah karena dia memiliki banyak pengikut. Ter Smitten memerintahkan agar residen mengawasi Arya Mangkunagara, dan jika perlu menahannya setelah berkonsultasi dengan semua pejabat penting. Itu saja yang perlu diketahui Danureja. Pada pertemuan berikutnya dengan raja, residen melihat sang raja sedang gelisah menuntut dibunuhnya Arya Mangkunagara, sementara ibunya memohon agar masalah ini tidak dibawa terlalu jauh. Sang residen akhirnya harus menyela dan mengusulkan bahwa untuk sementara waktu Kumpeni akan menahan Arya Mangkunagara. Semua yang hadir setuju bahwa itu harus segera dilakukan. Arya Mangkunagara bisa saja mengetahui rencana itu dan kabur, tapi di pihak lain, menahan dia di tengah-tengah Paseban yang ramai di tengah-tengah sidang akan terlalu menyolok. Akhirnya Arya Mangkunagara diundang untuk menemani residen kembali ke benteng, bersama dengan Pangeran Loringpasar, Danureja dan sejumlah pejabat lain. Begitu sampai di sana Danureja membacakan dosa-dosanya dan meminta dia menyerahkan kerisnya. Arya Mangkunagara menyatakan dirinya tidak bersalah, tapi setelah Danureja menjamin bahwa nyawanya akan diselamatkan, dia menyerahkan kerisnya dan meminta pengampunan dari raja.[45]

Masalah yang memanfaatkan kemarahan raja ini terjadi dengan perhitungan waktu yang tepat dan melibatkan begitu banyak saksi sehingga sang raja tidak punya kesempatan lagi untuk mundur. Keesokan harinya wanita yang terlibat itu dicekik dan beberapa hari kemudian para comblang lenyap. Harta benda Arya Mangkunagara disita dan kediamannya diberikan kepada pangeran-pangeran muda Danupaya, Subakti, Sujana dan Subrongta. Untuk memberikan kesan yang tepat, kraton menghendaki agar Arya Mangkunagara ditaruh dalam kerangkeng dalam perjalanan ke Semarang, seperti pemberontak Pangeran Dipasanta pada 1719. Kumpeni menganggap usulan itu keterlaluan.  Pertama-tama Ter Smitten meminta adanya permohonan resmi dari sang Sunan untuk menahan Arya Mangkunagara bersama janji untuk membayar biaya hidupnya. Akhirnya pada tanggal 31 Januari 1728, setelah ditunda sehari sebab hari yang sebelumnya dipilih dianggap hari sial, Pangeran Arya Mangkunagara diberangkatkan ke Semarang dalam tandu tertutup bersama dengan istri keduanya Ragasmara, seorang selir, seorang putra dan beberapa pembantu. Dia tidak diperbolehkan pamit kepada anak-anaknya yang lain, dan juga tidak diperbolehkan membawa pakaian selain yang dikenakannya. Atas permintaan Ter Smitten dia diperbolehkan menerima hadiah dari beberapa teman dan Ratu Amangkurat yang tiba-tiba merasa kasihan kepadanya berupa pakaian dan sejumlah uang sebelum dia dikirim ke Batavia. Meskipun Sunan menghendaki dia disingkirkan dari Jawa, Kumpeni memutuskan untuk menahan dia di Batavia untuk sementara sebagai bidak yang mungkin akan berguna.

Skandal selalu memicu rasa ingin tahu dan Arya Mangkunagara juga mendapat kesempatan untuk menceritakan masalah ini dari sudut pandangnya. Yang pertama adalah di Kartasura, dimana Tumenggung Nitinagara, seorang kroni Danureja, diharuskan menginterogasinya di hadapan residen. Yang kedua yang di Semarang, dimana ia menceritakan kisahnya kepada Ter Smitten, di hadapan adipati Semarang, penterjemah Kumpeni dan Ragasmara, istrinya yang kedua. Kisahnya begitu lugu sehingga Ter Smitten hampir-hampir merasa kasihan kepadanya. Arya Mangkunagara seperti ngengat yang terbang masuk ke dalam api. Kisahnya yang sebagai berikut.

Pada September 1727, Arya Mangkunagara kehilangan istri pertamanya, Raden Ayu Wulan, putri dari Pangeran Blitar yang memberontak, karena penyakit cacar. Ketika rombongan Ter Smitten datang ke kraton dia menonton tari bedhaya dan tertarik pada salah seorang penarinya yang sangat mirip dengan istri pertamanya. Dia bertanya kepada istrinya keduanya, Ragasmara – putri dari Cakraningrat yang mati dalam insiden di kapal Oegstgeest itu – siapa wanita itu. Wanita itu ternyata adalah istri resmi Sunan, bernama Wirasmara dan masih peranakan, yang dihadiahkan oleh adipati Semarang kepada Amangkurat yang sedang sakit. Dia masih perawan ketika Amangkurat meninggal dan akhirnya dihamili dan dinikahi oleh Pakubuwana.[46] Meskipun rupanya dia sudah tidak disenangi raja, Arya Mangkunagara merasa bahwa dia tidak pantas untuk ikut dalam tari bedhaya, apalagi dia sudah bergelar Ratu Mas. Menurut Arya Mangkunagara dia melihat wanita itu hanya sekali itu saja. Mereka tidak pernah bertukar-tukaran hadiah ataupun lagu cinta. Buku berisi lagu cinta yang diketemukan dalam kotak sirih Arya Mangkunagara adalah salinan dari buku yang ia pinjam dari Pangeran Loringpasar, sementara fakta bahwa beberapa barangnya diketemukan pada wanita itu dan sebaliknya dapat dijelaskan dengan fakta sederhana bahwa Wirasmara adalah sahabat dari almarhumah istrinya dan kadang saling bertukar hadiah.

Meskipun hanya pernah melihatnya sekali saja, Arya Mangkunagara rupanya tidak melupakannya. Sekitar satu setengah bulan kemudian Arya Mangkunagara kebagian tugas jaga di kraton bersama dengan Pangeran Loringpasar, Pangeran Martasana dan Raden Purwakasuma. Raden Purwakasuma adalah putra tertua dari Pangeran Purbaya, yang meninggal dalam pengasingan di Batavia. Setelah kematiannya, keluarganya pulang ke Kartasura pada awal Januari 1727.[47] Di hadapan Purwakasuma, dia memanggil Nitipraya, pembantu kesayangan Sunan, yang sebelumnya mengabdi pada wedana keparak kiwa Ngabehi Wirajaya. Dia berkata kepada Nitipraya bahwa ia ingin meminta sesuatu dari Sunan tapi jika Nitipraya merasa bahwa itu terlalu sulit seluruh masalah itu sebaiknya dilupakan. Dia sekarang sudah menjadi duda dan ingin meminta istri dari raja. Nitipraya berkata bahwa itu tampaknya bukan masalah dan bertanya apakah Arya Mangkunagara punya pilihan. Arya Mangkunagara menyerahkan itu sepenuhnya kepada Sunan. Dia hanya meminta agar Nitipraya membicarakannya dengan Mbok Wiraga, kepala dari pembantu wanita kraton.

Empat hari kemudian, ketika dia bertugas jaga lagi, dia memanggil Mbok Wiraga dan meminta pendapatnya. Mbok Wiraga berkata itu bukan masalah yang sulit dan meminta Pangeran Arya Mangkunagara untuk berkata terus terang siapa yang diinginkannya. Arya Mangkunagara menjawab bahwa dia hanya meminta seseorang yang figur dan sifat-sifatnya mirip dengan almarhumah istrinya. Mbok Wiraga langsung mengusulkan Wirasmara, yang memang sudah tidak disenangi lagi oleh raja. Arya Mangkunagara bertanya apakah itu mungkin dan menyatakan kegelisahannya. Mbok Wiraga berkata bahwa Arya Mangkunagara tidak perlu khawatir, dia akan mengurus semuanya. Keesokan harinya Nitipraya datang kepada Arya Mangkunagara dan mengatakan bahwa Mbok Wiraga telah mengajukan permohonannya kepada raja dan tampaknya sejauh itu tidak ada masalah, kecuali satu bahwa dia tidak boleh meminta Ratu Mas (sang permaisuri). Arya Mangkunagara sekali lagi menyatakan kekhawatirannya, tapi Nitipraya meyakinkan dia bahwa dia dan Mbok Wiraga akan menanggung semua akibatnya, sekalipun misalnya Ratu Amangkurat berkeberatan. Arya Mangkunagara hendak menyerahkan kerisnya kepada Nitipraya sebagai tanda bahwa dia mempercayakan nyawanya kepada raja, tapi Nitipraya menolak sambil berkata bahwa nanti saja kalau dia sudah mendapatkan istri baru ia menyerahkan kerisnya.

Tidak lama kemudian Arya Mangkunagara memanggil Mbok Patrasari, seorang pelayan Ratu Amangkurat dan membeberkan masalahnya. Mbok Patrasari berkata bahwa itu bukan masalah dan dia akan menyerahkan masalah itu kepada Ratu. Tapi Ratu Amangkurat menentang keras dan menawarkan Sutari, putri dari almarhum saudaranya Raden Tohpati, atau Raden Ayu Kusuma, putri dari Pangeran Dipanagara yang dibuang itu. Semuanya ditolak oleh Arya Mangkunagara.

Menurut Ter Smitten justru hal itulah yang seharusnya tidak dilakukan Arya Mangkunagara. Sebab dengan menolak tawaran Ratu Amangkurat dan membuatnya tersinggung, maka Arya Mangkunagara telah meniadakan dukungan dari satu-satunya orang yang bisa menyelamatkannya.

Ketertarikan Arya Mangkunagara terhadap Wirasmara telah menjadi sebuah perangkap, yang tinggal ditutup oleh Danureja dan sang patih terbukti bertindak cepat dalam memanfaatkan situasi ini. Menurut Arya Mangkunagara, Danureja dan Wirajaya telah menjebaknya, sementara yang lainnya tutup mulut karena takut. Dia sama sekali tidak menyalahkan Sunan. Sebuah laporan dari Kartasura beberapa bulan kemudian tampaknya mendukung pendapatnya ini. Sunan mendapati istrinya sang permaisuri sedang menangis dan ketika ditanya mengapa dia menjawab: “Karena dibuangnya Pangeran Arya Mangkunagara”.[49] Kabarnya sang raja menjawab: “Jangan menangis. Apa yang bisa kulakukan? Bukan aku penyebabnya. Aku harus memenuhi keinginan ibuku dan sang patih.”[50]

Setelah Arya Mangkunagara disingkirkan, Danureja mencapai puncak dari kekuasaannya. Pada bulan Juni dia berhasil mengupayakan agar orang kesayangannya, Tumenggung Nitinagara, diangkat menjadi wedana gedhong kiwa dan itu tampaknya memberinya kontrol penuh terhadap seluruh wilayah kerajaan. Di atas kertas posisinya tak tergoyahkan.

Di kabupaten-kabupaten pesisir posisinya kuat. Kabupaten-kabupaten pesisir barat dikontrol dar Pekalongan oleh keluarga Jayaningrat yang peranakan Cina. Jayaningrat senior meninggal pada Desember 1726, tapi dia digantikan oleh putranya, yang merupakan mantu Danureja, dengan gelar yang sama. Batang dan Wiradesa ada di bawah paman Jayaningrat, Tumenggung Puspanagara. Lembahrawa juga dikontrol oleh keluarga ini, dimana putranya menjadi bupati, yang kemudian digantikan oleh saudaranya dan kemudian oleh sepupunya. Para tumenggung dari Tegal, yaitu Raksanagara dan Wiranagara merupakan penyeimbang utama bagi kekuasaan Jayaningrat dan mereka berhutang budi pada Danureja karena kasus Tegal. Tumenggung Raksanagara menikah dengan bekas istri Amangkurat, yang ketika Amangkurat mulai sakit dipulangkan kepada ayahnya, Arya Martalaya dari Brebes karena mengidap penyakit, yang tampaknya adalah infeksi jamur. Saudara dari istri Raksanagara ini, yaitu Arya Suaralaya, menjadi bupati Brebes dan menikah dengan Raden Ayu Dewi, saudari tiri Sunan. Pamalang dipimpin oleh Raden Arya Cakranagara, yang merupakan musuh bebuyutan keluarga Jayaningrat dan masih berhubungan dengan Pangeran Loringpasar, sehingga memiliki pendukung di kraton. Kabupaten-kabupaten kecil Kendal dan Kaliwungu tidak banyak diperhitungkan. Pemimpin Kendal adalah Ngabehi Awangga sementara pemimpin Kaliwungu adalah Rangga (Sur)adimanggala yang menikah dengan Raden Ajeng Aminah,[51] saudari tiri Sunan, tapi mereka bercerai ketika Pakubuwana naik tahta. Semarang, yang ada di bawah pimpinan Adipati Astrawijaya, seorang Cina peranakan, adalah wilayah Kumpeni. Sementara Demak ada di bawah para tumenggung Suranata dan Padmanagara, yang ikatannya dengan pusat kekuasaan tidak jelas.

Gubernur dari kabupaten-kabupaten pesisir Timur adalah Adipati Citrasoma, bupati Jepara. Salah seorang putranya, Ngabehi Secadirana, menjadi salah satu bupati di Surabaya, sementara putranya yang lain, Ngabehi Suradigjaya, menjadi bupati Blora, yang secara formal merupakan bagian dari Mancanagara. karena usianya yang lanjut, Citrasoma dibantu oleh putranya Ngabehi Sumawijaya, bekas bupati Blora. Kudus dikontrol oleh Arya Jayasentika, teman dekat Ratu Amangkurat. Ratu Amangkurat pernah tinggal beberapa lama di kediaman Arya Jayasentika setelah kehilangan suami pertamanya, bekas bupati Jepara, sebelum menikah lagi dengan Amangkurat. Bupti Juwana, Ngabehi Jayawikrama, adalah putra tertua Arya Kudus. Para bupati di Pati adalah Tumenggung Mangunoneng dan Ngabehi Suramanggala, saudara dari Rangga Kaliwungu, yang beristrikan salah seorang putri Puspanagara dari Batang. Pada sekitar saat itu Pati bahkan memiliki bupati ketiga yaitu Ngabehi Prayaita. Cengkalsewu dipimpin oleh Ngabehi Kartijaya, yang hanya diketahui namanya ini saja. Rembang dan Lasem dikontrol oleh patih, yang menunjuk orang-orangnya sendiri, di antaranya adalah Ngabehi Yudasasana dari Rembang, sementara yang lainnya tidak diketahui. Bupati Tuban adalah saudara tiri Danureja, Arya Tuban. Pemimpin Sidayu adalah Tumenggung Tirtawijaya, sepupu dari Jayaningrat dari Pekalongan. Saudari Tirtawijaya dinikahkan dengan  Ngabehi Jayengrana dari Pasuruan. Gresik ada di bawah Tumenggung Puspanagara, yang dikenal sebagai teman baik Kumpeni. Kabupaten kecil Lamongan dipimpin oleh Ngabehi Tohjaya, yang menikah dengan salah seorang putriArya Tuban. Surabaya memiliki dua bupati, Ngabehi Suradirana, saudara ipar Danureja. dan Ngabehi Secadirana, putra Adipati Citrasoma. Bupati Pasuruan sudah disebut di atas, yaitu Ngabehi Jayengrana, saudara ipar dari bupati Sidayu. Bangil dipimpin oleh Ngabehi Puspareja, putra dari Puspangara yang menjadi bupati Gresik. Probolinggo, yang juga disebut Banger atau Daringu, dipimpin oleh Ngabehi Jayalalana. Sebagian Malang dan Tengger ada di bawah kontrol keturunan Surapati yang dipimpin oleh Mas Brahim, tapi wilayah ini kebanyakan tidak dapat didiami dan sebenarnya sudah ada di luar wilayah kerajaan, sama seperti daerah-daerah di sebelah timur Malang seperti Blambangan di ujung timur pulau Jawa, yang berada di tangan orang Bali, biasanya kerajaan Mengwi. Sisi barat Madura ada di bawah kekuasaan Jawa dan diperintah oleh Pangeran Adipati Cakraningrat, yang menikah dengan Raden Ayu Bengkring, satu-satunya saudari kandung Sunan. Sisi timurnya, yaitu Sumenep dan Pamekasan, ada di bawah kekuasaan Kumpeni.

Kalau memang kontrol Danureja terhadap kabupaten-kabupaten pesisir adalah masalah politik dan keseimbangan, maka dengan perkecualian beberapa kabupaten yang dipimpin orang-orang Danureja sendiri seperti Surabaya, Tuban, Lasem dan Rembang, kontrolnya terhadap Mancanagara sudah hampir mutlak. Hubungannya dengan Tumenggung Yudanagara dari Banyumas sudah dijelaskan di muka. Resminya, kepala dari Mancanagara Barat adalah Tumenggung Mataun dari Jipang (Bojonegoro) dan kepala dari Mancanagara Timur adalah Tumenggung Surabrata dari Ponorogo. Menurut sebuah sumber Mataun menikah dengan putri dari almarhum raja, mungkin yang dimaksud adalah Pakubuwana I, sebab tidak ada putri Amangkurat yang bersuamikan dia. Tumenggung Surabrata menikah dengan seorang putri dari saudari ipar Danureja. Baik Mataun maupun Surabrata dikenal sebagai pendukung setia Danureja. Kabupaten besar ketiga di Mancanagara Timur adalah Kediri, yang dipimpin oleh Demang Ranuita, saudara tiri Danureja, yang juga menjadi bupati Blitar/Sarengat. Demang Ranuita juga secara resmi mengontrol Wirasaba (Jombang) yang dipimpin Rangga Martapati dan Japan (Mojokerto) di bawah Demang Alad-Alad. Kertosono dipimpin oleh Demang Surengpati, yang juga dikenal sebagai Ngabehi Kramawijaya, putra dari Tumenggung Mataun. Madiun memiliki dua bupati, Raden Sumawijaya dan Ngabehi Secanapura, yang afiliasinya kurang begitu jelas. Rawa (Tulungagung) dipimpin oleh Ngabehi Malangjiwa, bekas bupati Jagaraga, yang sekarang dipimpin oleh Ngabehi Wirasari. Kalangbret, wilayah kecil di antara Tulungagung dan Trenggalek dipimpin Arya Tandhamantri. Bupati Caruban adalah Ngabehi Secadirana. Wilayah-wilayah kecil yang penting bagi tradisi wangsa yaitu Warung dan Sesela (di antara Blora dan Grobogan) dipimpin oleh Ngabehi Sutawirya (yang disebut juga Kartayuda) dan Ngabehi Yudajaya. Bupati Blora adalah Ngabehi Suradigjaya, putra Citrasoma dari Jepara, sementara Grobogan dipimpin oleh Arya Mandalika, bekas bupati Juwana. Kamagetan dipimpin oleh Ngabehi Sutawijaya, putra Demang Urawan sang wedana keparak tengen. Kaduwang (Wonogiri) diperintah oleh Ngabehi Sutanagara, sepupu dari Tumenggung Kartanagara yang menikah dengan putri Ngabehi Wirajaya, sang wedana keparak kiwa. Pacitan di pantai selatan tampaknya adalah sebuah wilayah khusus[7] yang dipimpin berbagai pejabat dengan gelar Demang. Dan yang terakhir, di Banyumas, ada wilayah Pamerden (Banyumas Timur) dan Dayaluhur (Banyumas Barat Laut), tapi nama-nama bupatinya jarang sekali bisa ditentukan.

Kebanyakan dari kabupaten-kabupaten di atas kecil atau berpopulasi sedikit. Anggota inti dari Mancanagara adalah Banyumas, Jipang, Ponorogo dan Kediri dan semuanya terikat erat dengan Danureja.

Di wilayah pusat, yaitu Nagaragung, posisi Danureja tidak sekuat itu. Deputinya, Raden Tumenggung Natawijaya, menurut Kumpeni berada di bawah pengaruh Danureja, tapi itu terlalu berlebihan. Sebagai bekas bupati utama dari Siti Ageng Ingkang Kiwa dan cucu dari sang Pangeran Mangkubumi yang menjadi patih di bawah Pakubuwana I pada saat Pakubuwana I gagal untuk pertama kalinya dalam usahanya mendapatkan tahta, dia dalam hal keturunan jauh lebih tinggi daripada Danureja. Sumber-sumber Kumpeni umumnya menyatakan bahwa kecerdasannya sangat rendah (van lage verdieping, atau de schranderste niet), tapi itu justru hanya membuatnya menjadi sasaran empuk bagi musuh-musuh Danureja.

Kekuasaan Danureja terhadap keempat wedana lebet juga memiliki batas waktu. Tumenggung Mangunnagara, wedana gedhong tengen, tampaknya mendukung Danureja. Ketika Mangunnagara meninggal pada Juni 1728, Danureja mengusahakan agar kroninya, Nitinagara mendapatkan kedudukan itu tapi gagal. Mangunnagara digantikan oleh putranya yang baru berumur empat belas tahun. Ini jelas merupakan hasil dari sebuah kompromi, sementara Nitinagara mendapatkan jabatan wedana gedhong kiwa yang tampaknya sudah kosong sejak beberapa tahun sebelumnya. Babad Tanah Jawi mengisahkan bahwa seseorang bernama Sumabrata digeser untuk memberi tempat bagi Nitinagara, tapi nama itu tidak disebutkan dalam sumber-sumber Kumpeni masa itu, padahal orang yang memiliki jabatan setinggi itu tentunya akan masuk dalam catatan Kumpeni.[53] Sang wedana keparak tengen, Demang Urawan, tampaknya mendukung Danureja dengan setengah hati, sementara sang wedana keparak kiwa, Ngabehi Wirajaya, adalah tukang intrik yang berdiri sendiri.

Dukungan terhadap Danureja dari ke delapan wedana jawi tidak terlalu kuat. Ketika menjadi bupati utama dari Siti Ageng Ingkang Kiwa, Raden Tumenggung Natawijaya digantikan oleh Raden Arya Pringgalaya, yang setelah 1743 menjadi patih dan sejak itu terabadikan sebagai karakter patih licik yang tipikal dalam literatur Jawa. Tidak ada indikasi bahwa karakternya lain pada karirnya sebelum itu. Raden Arya Pringgalaya menikah dengan bekas istri Rangga Kaliwungu, saudari tiri Sunan, Raden Ajeng Aminah. Menurut gosip di Kartasura, dia merasa kurang dihormati karenanya sebab R.A. Aminah dikenal memiliki karakter yang mendominasi.[54] Sang wedana dari Siti Ageng Ingkang Tengen adalah Pangeran Mangkubumi yang sudah tua, yang terkenal sebagai pendukung Arya Mangkunagara dan musuh Danureja. Sang wedana Panumping, Tumenggung Wiraguna, sudah berumur delapan puluhan dan tidak banyak diperhitungkan lagi. Dia dekat dengan Ratu Amangkurat sehingga bisa disebut sebagai musuh Danureja. Sang wedana Panekar, Tumenggung Kartanagara, adalah putra dari almarhum rekan patih dari Danureja, Patih Mangkupraga (yang sebelumnya bergelar Kartanagara). Jika dilihat dari banyaknya perselisihan antara Danureja dengan koleganya ini, bisa dikatakan bahwa putranya inipun merupakan lawan Danureja. Tumenggung Mangkuyuda dan sepupunya Tumenggung Natayuda dari Kedu (Bumi dan Bumijo) memiliki siasat sendiri. Jika dilihat dari dukungan mereka berdua terhadap Amangkurat ketika Amangkurat memperjuangkan suksesinya, mereka sering berada di pihak yang sama dengan Danureja, seperti ketika datang ancaman dari para mantan pendukung Purbaya. Tumenggung Jayasuderga dari Numbak Anyar, saudara ipar Danureja, adalah pendukung Danureja, demikian juga halnya dengan Kandhuruan Wilatikta, bupati Sewu (Bagelen). Danureja mengontrol Mataram, yang dipimpin Tumenggung Jayawinata dan keponakannya sendiri Demang Jayasamudra, meskipun Mataram merupakan wilayah raja. Wilayah sebelah barat Mataram, atau Gadhing Mataram, dipimpin oleh Rajaniti, musuh Danureja.

Selain dari dua belas bupati besar, empat wedana lebet dan delapan wedana jawi di atas, masih ada sejumlah pejabat yang berpangkat tumenggung, seperti Tumenggung Suradipura, bekas bupati Banyumas, yang jelas tidak dapat dianggap sebagai teman Danureja, atau seperti Tumenggung Gajah, kepala dari orang Kalang dan Gowong, yang diketahui merupakan pendukung Danureja. Tapi pada umumnya, aliansi dari pejabat-pejabat ini sulit untuk ditentukan.

Jika dilihat lebih seksama, kekuatan Danureja dalam pemerintahan Jawa sebenarnya tidak sekuat yang kelihatan dari luar. Bahkan kekuatan Danureja sebenarnya makin berkurang, meskipun diperlukan waktu yang lama bagi Kumpeni untuk menyadarinya. Cepatnya perubahan dalam percaturan politik Jawa membuat para pegawai Kumpeni jarang membuat pandangan jangka panjang. Dari hari ke hari mereka mendapatkan potongan-potongan informasi yang tidak akurat atau saling berlawanan, yang dikumpulkan oleh sang residen dan diproses oleh para gezaghebber, yang seringkali sedikit lebih pintar atau bahkan kalah pintar dari deputi-deputi Danureja. Selain itu Kumpeni juga dipersulit oleh fakta bahwa semua keputusan final diambil di balik tembok kraton dan mereka jarang bisa menembus tembok ini untuk mendapatkan informasi dari tangan pertama dan mereka juga jarang menghabiskan uang yang sangat mereka sayangi itu untuk menyuap atau membayar mata-mata. Untungnya bagi Kumpeni, keputusan terakhirnya juga tidak ditentukan oleh para gezaghebber di Semarang.

Gubernur Jendral dan Dewan Hindia menetapkan kebijakan umum dan dianggap memiliki pandangan jangka panjang. Masing-masing anggota Dewan Hindia memiliki kewajiban untuk memonitor perkembangan di wilayah tertentu dan kemudian dia harus membuat laporan panjang lebar setiap tahunnya kepada direktur-direktur di Belanda. Jawa dimonitor secara khusus oleh Gubernur Jendral, tapi dia seringkali terlalu sibuk untuk memformulasikan pandangan jangka panjang, sementara di lain pihak, kedekatan Jawa membuat kendalinya ke Semarang terlalu ketat dan merembet sampai ke urusan sehari-hari. Dalam situasi seperti ini, lambatnya komunikasi pada masa itu benar-benar merupakan berkah sebab dengan demikian segala tingkah polah dalam politik Jawa biasanya sudah habis tenaganya sebelum mencapai Batavia sehingga secara tidak sengaja kebijakan Kumpeni menjadi cukup konsisten. Pertahankan status quo dan hindarkan usaha-usaha militer – inilah aturan-aturan dasarnya. Sebagai akibatnya, Kumpeni seringkali lebih banyak bermain sebagai penengah yang terus menerus berlari mengejar fakta daripada sebagai peserta yang aktif.

Dalam kasus Danureja, Kumpeni tidak hanya berlari mengejar di belakang fakta, tapi juga terus-menerus mengartikan berbagai fakta yang muncul ke permukaan sebagai bukti besarnya kekuatan sang patih. Tapi Danureja sebenarnya bukanlah jenius keji seperti yang dilihat Kumpeni, melainkan lebih merupakan seorang patih yang gelisah karena kekuatannya makin lama makin merosot dan belum menemukan cara untuk melepaskan diri dari situasi. Semakin ia berusaha mempertahankan kekuasaan, semakin goyah tampaknya posisinya. Kemerosotan situasi Danureja ini sebagian disebabkan oleh proses alamiah. Orang-orang segenerasinya makin sedikit dan posisi-posisi yang mereka tinggalkan diisi oleh orang-orang yang lebih muda, yang meskipun masih berposisi sebagai anak asuh maupun kerabat, dengan sendirinya lebih cenderung memandang ke masa depan dimana nanti mereka harus melindungi diri mereka sendiri. Sang raja juga bertambah umurnya dan cenderung untuk mengisi posisi-posisi kosong dengan orang-orang pilihannya sendiri. Tapi ada dua kejadian yang menjadi landasan bagi kejatuhan Danureja.

Yang pertama adalah efek kelanjutan dari kasus diasingkannya Arya Mangkunagara. Penyingkiran Arya Mangkunagara membawa akibat di luar harapan Danureja. Untuk melaksanakan permainan itu Danureja terpaksa memanipulasi Sunan sedemikian rupa sehingga raja yang masih muda itu dengan sendirinya merasa bahwa dia telah dimanfaatkan. Ini terlihat dari kata-katanya kepada permaisurinya yang sedang menangis, kalau kata-kata itu memang historis. Seandainya sang raja tidak menyadari ini, orang lain pasti akan menyadarkannya. Sejak saat itu sikap sang raja terhadap Danureja menjadi dingin dan sang patih tidak bisa lagi mendapatkan apa yang ia inginkan dengan mudah. Dengan kepergian Arya Mangkunagara, Danureja tidak terlalu penting lagi bagi sang raja. Apapun perasaan Pakubuwana yang sebenarnya terhadap Arya Mangkunagara, dia tidak terlalu bodoh untuk menyadari bahwa Arya Mangkunagara adalah ancaman besar bagi kedudukannya. Ketika ancaman itu tersingkirkan, Danureja kehilangan sebagian besar kegunaannya di mata raja. Kumpeni mengira bahwa keberadaan Arya Mangkunagara di Batavia akan menahan gerak langkah sang patih, tapi justru itu menguntungkan Danureja sebab selama Arya Mangkunagara masih ada di sana, sang raja masih membutuhkannya. Setelah kejatuhan Danureja, sang raja dengan sendirinya tidak mau menerima Arya Mangkunagara kembali di Kartasura. Justru sebaliknya, ia bersikeras dan akhirnya berhasil membujuk Kumpeni untuk mengirim pangeran yang malang itu ke Srilanka.

Perkembangan kedua yang menjatuhkan Danureja adalah fakta bahwa musuh-musuhnya akhirnya mendapatkan masalah yang ampuh untuk menjegalnya. Sebelumnya mereka menyebarkan gosip-gosip liar dan rencana-rencana yang dibuat seadanya untuk merusak kedudukan sang patih. Dengan membuat banyak asap, mereka berhasil membuat pegawai-pegawai Kumpeni yang mudah kaget dan curiga itu percaya bahwa di balik asap itu benar-benar ada api. Tapi pada saat tanda bahaya sampai ke Batavia dan beberapa tindakan diambil, situasinya biasanya sudah tenang dengan sendirinya. Pada 1727 Ter Smitten hampir berhasil diprovokasi dengan gosip bahwa Danureja berkomplot dengan Mas Brahim dan beberapa raja Bali untuk melemparkan Kumpeni ke Laut Jawa. Tahun ini, 1728, mereka mencoba lagi dengan cara yang sama tapi lebih rumit sifatnya. Sekali lagi gosip muncul dari Surabaya. Sang opperhoofd, Rijckloff Duyvens, secara rahasia diberitahu tentang adanya plot itu oleh seorang pribumi berkualitas yang cerdik (een fijne schrandere oosterling van qualiteit) yang tidak hanya dihormati oleh pembesar-pembesar Jawa tapi juga tahu betul urusan mereka karena ia terlibat dengan kedok agama. Orang itu secara tidak sengaja mengetahui adanya plot itu dari seorang pejabat tinggi kraton, yang meminta tuntunan spiritual darinya pada saat plot itu dilaksanakan.  Akhirnya Kumpeni mendapatkan pelapor yang kedudukannya bisa diandalkan dan Ter Smitten menyambar umpan itu, meskipun plot itu sangat fantastis: Ter Smitten pastilah sedang mengenakan sepatu kayu supaya tidak merasakan debu di kakinya. Dia menulis ke Batavia bahwa dia benar-benar yakin ada plot besar-besaran antara Danureja, Cakraningrat dari Madura (ini yang sulit dipercaya), Mas Brahim, hampir semua bupati pesisir, semua bupati wilayah dalam, dan bahkan Ratu Amangkurat. Tujuannya adalah mengusir Kumpeni ke laut, membunuh Sunan, meletakkan Danureja di atas tahta dan memberikan kontrol dari semua kabupaten pesisir kepada Cakraningrat, seperti ayahnya, sang Panembahan.[55]

Diri sang pelapor sendiri, besarnya jumlah dari bukti-bukti tak langsung, tapi terutama sikap Danureja-lah yang telah membuat Ter Smitten percaya pada gosip itu dan dia cepat-cepat memanggil bala bantuan dari Batavia. Sebuah ekspedisi dilakukan untuk menyerang Mas Brahim dan dipimpin saudara ipar Danureja, Ngabehi Suradirana dari Surabaya. Ekspedisi ini mengikutsertakan hampir semua bupati Mancanagara Timur yang setia pada Danureja. Tapi Ter Smitten tidak menganggapnya sebagai cara untuk mendiskreditkan sang patih – yang tidak sulit untuk diperkirakan sebab ekspedisi ini tidak mungkin berbuat lebih daripada mengejar-ngejar pemberontak yang tidak mungkin tertangkap di hutan-hutan di Malang – tapi justru diartikannya sebagai gerak pertama dari plot besar itu. Menurut Ter Smitten, ekspedisi ini akan digabungkan dengan Mas Brahim dan kemudian mereka akan melaksanakan rencana besar itu bersama-sama dengan Cakraningrat. Ter Smitten tidak mau lengah, tapi pada saat bala bantuan tiba, segalanya telah kembali normal.

Sikap Danureja yang tidak lagi terbuka seperti tahun sebelumnya adalah sesuatu yang bisa dimengerti. Sang patih sedang gelisah memikirkan pengiriman duta berikutnya ke Batavia dan dia mencoba mencari alasan supaya dia tidak pergi. Ter Smitten, yang dibakar oleh gosip yang belum lama beredar itu, mengartikan keengganan sang patih sebagai bukti dari kebenaran gosip itu. Ketika sang patih akhirnya pergi ke Batavia, atas dorongan Jayaningrat, Puspanagara dari Batang dan Astrawijaya dari Semarang – dengan alasan bahwa jika dia tidak berangkat musuh-musuhnya akan menyebarkan gosip lagi – semua gosip-gosip itu reda dengan sendirinya.[56] Seluruh rencana itu sebenarnya adalah sebuah trik yang rumit untuk membuat Danureja berangkat ke Batavia supaya dia tidak ada di Kartasura untuk beberapa lama. Tapi kesimpulan ini tak terpikirkan oleh Ter Smitten. Kepanikan dan bala bantuan yang dimintanya membuat dia tampak bodoh, atau bahkan tidak kompeten.

Kunjungan Danureja ke Batavia yang berlangsung setahun lamanya itu membawa kerugian fatal baginya. Ketidakhadirannya memberi kesempatan bagi musuh-musuhnya di Kartasura untuk merusak posisinya di hadapan Sunan dan, yang lebih penting lagi, mematangkan masalah Madura, yang akhirnya menjadi jebakan baginya.

Danureja berangkat ke Batavia pada bulan September bersama Arya Kudus (sebagai mata-mata Ratu Amangkurat), Ngabehi Tirtawiguna (sekretaris dan mata-mata Sunan) dan Tumenggung Puspanagara dari Batang. Menurut Ter Smitten, Danureja tidak menduga disertakannya Tirtawiguna ke dalam rombongannya, meskipun kelihatannya sangat mungkin bahwa disertakannya orang yang sangat cerdik (super fijne knaap) inilah yang membuat Danureja mau berangkat.[57] Pada saat itu dia sudah tahu bahwa Tirtawiguna adalah musuhnya yang paling berbahaya dan dia pasti juga menyadari fakta yang tidak teramati oleh Kumpeni bahwa Tirtawiguna berasal dari Surabaya, tempat dimana semua gosip itu berasal. Dengan ikut sertanya Tirtawiguna ke Batavia di bawah pengawasannya, maka pihak oposisi di Kartasura kehilangan pemimpinnya yang paling cerdik.

Ketika rombongan itu datang untuk berpamitan kepada Ter Smitten, Danureja menggunakan kesempatan itu untuk melindungi diri. Dia meminta nasehat Ter Smitten apakah dia sebaiknya melaporkan gosip-gosip yang menyerang dirinya tahun sebelumnya; apakah jika rombongan berpangkat rendah yang dipimpin Nitinagara disebut-sebut, dia boleh berkata bahwa yang menjadi gara-garanya adalah saran Commandeur Noodt untuk tidak meninggalkan sang raja selama tiga tahun pertama; apa yang harus ia lakukan jika Gubernur Jendral berbicara tentang kontrak baru; apakah dia boleh mengangkat masalah penarikan pasukan Kumpeni dari Sitinggil; apakah dia bisa meminta Arya Mangkunagara dibuang keluar dari pulau Jawa agar Sunan merasa lega dan meminta Secaradirana dari Surabaya dicopot supaya dirinya sendiri merasa lega; dan yang terakhir, apakah dia bisa membicarakan permintaan Cakraningrat atas Pasuruan, Bangil dan Daringu. Ter Smitten menjawab bahwa ketika dia datang berkunjung ke Kartasura, Danureja telah berkata kepadanya bahwa dia akan pergi bersama rombongan duta ke Batavia untuk membersihkan dirinya dari semua gosip, dan memang itulah yang harus ia lakukan. Danureja harus berhati-hati dalam masalah Nitinagara, sebab yang sekarang sedang dikambinghitamkan adalah Noodt. Masalah kontrak mungkin tidak akan muncul dalam pembicaraan sebab Batavia nanti akan mengirim utusan khusus ke kraton. Tentang masalah lainnya, Danureja bisa bertindak sesuai dengan apa yang dianggapnya baik tanpa menyembunyikan apapun, sebab Ter Smitten telah memberitahukan semuanya kepada Batavia. Tapi dia belum memberitakan permintaan saudari Sunan atas Sidayu sebagai mas kawin, karena Sunan tidak pernah memintanya. Danureja berkata bahwa pikirannya tenang sekarang dan sambil meminta Tirtawiguna menjadi saksi, tanpa menyebutkan yang lainnya, dia meminta agar semua yang hadir mengingat-ingat apa yang telah dikatakan.[58] Dengan persiapan seperti itu Danureja berangkat ke Batavia, dimana dia disambut dengan meriah.[59] Dia tidak tahu bahwa dia akan tertahan di Batavia selama hampir setahun.

Seperti yang bisa disimpulkan dari jawaban Ter Smitten, masalah utamanya adalah Madura. Ini bukan masalah baru. Sekitar setengah abad sebelumnya, Trunajaya memicu timbulnya masalah ini dengan permintaannya untuk dipisahkan dari Jawa dan menjadi bawahan Kumpeni. Trunajaya selanjutnya mengejar kemuliaan yang lebih besar dan setelah dia berhasil ditangani, ternyata Madura tidak bisa dipisahkan sepenuhnya dari Jawa. Hanya separoh sebelah timurnya yang menjadi bawahan Kumpeni. Bupati-bupati Sampang (Madura Barat) tetap berada di bawah kekuasaan Sunan tapi terus menerus menimbulkan masalah. Ada perbedaan sifat dan rasa tidak suka antara Jawa dan Madura yang ditambah lagi dengan jaraknya yang terlalu jauh dari pusat untuk bisa dikontrol. Bupati-bupati Sampang bisa menulikan telinga terhadap tekanan sekeras apapun dari kraton. Dalam prakteknya ini berarti mereka sering tidak datang menghadap pada Mulud. Secara ekonomi pulau ini juga tidak memperkaya kerajaan Jawa, sehingga Kumpeni berpikir bahwa sebaiknya Madura dipisahkan secara formal dari Jawa dan diberikan kepada Kumpeni. Ini tidak hanya akan membebaskan Kumpeni dari perselisihan tanpa akhir antara kraton dan bawahannya yang bandel, tapi juga menyingkirkan perangkap yang bisa digunakan untuk menjebak Kumpeni. Sebab bukannya tidak mungkin Kumpeni akan terlibat lagi dalam perang di pihak Sunan untuk menghukum bupati-bupati yang memberontak. Siapa tahu akan terjadi perang semacam itu dimana Kumpeni terbujuk untuk turun ke medan laga sehingga tenaga pasukannya terkuras sementara serangan utama dilancarkan di Jawa Tengah?[60]

Pangeran Cakraningrat yang sekarang menunjukkan tanda-tanda bahwa dia tidak jauh berbeda dari pendahulu-pendahulunya. Kumpeni kadang curiga, dan bukannya tanpa alasan, bahwa dia punya cita-cita setidaknya setinggi Trunajaya. Gerak pertamanya juga sama: permintaan untuk menjadi bawahan Kumpeni. Tapi dia masih tetap menjaga hubungannya dengan kraton. Sebagai imbalan atas jasanya dalam Perang Surabaya, dia meminta putri Amangkurat. Amangkurat pada mulanya menolak dan menawarkan putri dari seorang selirnya. Cakraningrat menolak tawaran itu dan tidak muncul pada Hari Mulud. Ketika sedang sekarat, Amangkurat berubah pikiran sehingga beberapa minggu setelah Pakubuwana naik tahta, Cakraningrat menikahi Raden Ayu Bengkring, satu-satunya saudari kandung Pakubuwana II. Tapi Cakraningrat segera memberitahu Kumpeni bahwa dia tidak menarik permohonannya untuk menjadi bawahan Kumpeni. Tahun berikutnya, ketika Ter Smitten datang berkunjung, Cakraningrat muncul pada Hari Mulud, yang ternyata kemudian merupakan kemunculan terakhirnya. Ratu Amangkurat, ibu dari istrinya, menjelaskan bahwa keengganannya itu disebabkan rasa malu sebab istrinya belum diberi mas kawin. Dia bersedia menerima Sidayu, dan beberapa waktu kemudian Pasuruan, Bangil dan Probolinggo disebut-sebut, dan kadang keempatnya disebut-sebut. Sunan yang masih muda itu, di bawah tekanan ibu dan saudari tercintanya, cenderung untuk setuju, tapi Kumpeni turun campur. Sejak urusan Trunajaya, Kumpeni telah memutuskan bahwa orang Madura tidak boleh masuk ke Jawa, maksudnya: bupati Madura tidak boleh memiliki wilayah di Jawa. Dengan permintaannya ini Cakraningrat dengan pintar telah mengadu domba Kumpeni dengan kraton. Kumpeni tidak mau Cakraningrat diberi tanah di Jawa sementara kraton tidak mau Cakraningrat menjadi bawahan Kumpeni.

Itulah situasinya ketika Danureja berangkat ke Batavia, sekalipun ke dua belah pihak belum berani mengangkat masalah itu. Ketika Danureja tiba di Batavia, Kumpeni memutuskan untuk menyelesaikan masalah yang sudah berumur setengah abad ini dengan penyerahan Madura kepada Kumpeni. Danureja mendapati dirinya terjepit sebab di lain pihak kraton minta agar dia mendapatkan persetujuan pemberian mas kawin itu. Melaksanakannya berarti bunuh diri. Danureja tidak berbuat apa-apa menghadapi dilema ini. Tapi selama dia tidak berbuat apapun, Kumpeni tidak mau mengijinkannya kembali ke Kartasura.

Masalahnya macet selama hampir setahun. Gubernur Jendral Mattheus de Haan tampaknya mencoba menggulirkan kembali masalah ini dengan sedikit mengalah pada permintaan lama supaya residen-residen Kumpeni, terutama yang ada di Tegal, diharuskan membeli beras dari pasar bebas, maksudnya lewat para bupati, dan tidak dengan memberikan uang kepada produsen dan memotong jalur para bupati. Ketika datang protes keras dari para residen bahwa itu akan merusak suplai beras dan setelah melihat fakta bahwa tawaran itu tidak menggoyahkan patih dalam hal masalah utama, tawaran itu akhirnya ditarik kembali. Tidak lama kemudian De Haan meninggal[61] dan masalahnya menjadi mentah lagi. Harus ada sesuatu yang terjadi. Di Kartasura sendiri situasinya kacau. Musuh-musuh Danureja menginginkan kepergiannya untuk sementara, tapi tidak selama itu. Pada November 1728 Sunan sudah mengambil empat dari enam ribu rumah tangga milik Tumenggung Jayawinata dan Demang Jayasamudra, bupati-bupati Mataram yang merupakan pendukung Danureja. Pada Januari 1729 Sunan meminta Danureja pulang dengan alasan bahwa Danureja harus hadir pada peringatan seribu hari meninggalnya Amangkurat dan pada bulan Julinya Sunan memprotes keras. Penunjukkan Gubernur Jendral yang baru,  Diderik Durven, memberikan kesempatan untuk mengirimkan dua orang utusan yang membawa hadiah dan membawa pesan agar Danureja kembali. Pada saat itu Ter Smitten juga mulai mengatakan hal yang sama. Betapapun bajingannya si Danureja ini, Ter Smitten lebih suka berurusan dengan dia daripada dengan orang-orang yang sekarang sedang mengaduk-aduk situasi di Kartasura. Apalagi setoran tahunan berupa beras dan uang harus dilakukan dan itu memerlukan kehadiran sang patih.

Pada 28 Agustus 1729, Danureja akhirnya kembali ke Semarang. Kepada Ter Smitten yang sudah ragu, Gubernur Jendral menulis  bahwa sebuah penyelesaian telah dicapai. Danureja akan meyakinkan kraton bahwa Madura harus diserahkan kepada Kumpeni.

Keraguan Ter Smitten bukannya tidak beralasan. Di Semarang, Danureja membantah bahwa dia pernah berjanji kepada Gubernur Jendral untuk mengusahakan agar Sunan menyerahkan Madura jika Kumpeni bisa memaksa Cakraningrat menceraikan istrinya dan mengembalikannya ke kraton. Danureja berkata dirinya tidak mungkin bisa membuat janji seperti itu karena dia selalu berusaha untuk tidak memojokkan raja atau kerajaan, sebab jika benar demikian raja akan membalas dendam pada dirinya atau keturunannya. Dia bahkan tidak pernah membicarakan soal Madura dengan Gubernur Jendral Durven. Masalah itu diangkat ketika bertemu dengan Honorable Mayor Herman van Bayen sekitar sebulan setelah Durven diangkat menjadi Gubernur Jendral. Dua kali Danureja dipanggil oleh Van Bayen dari rumah taman milik Komisaris David Andreas Stier, dimana ia tinggal bersama Arya Kudus, Tumenggung Puspanagara dan Tirtawiguna. Yang hadir dalam pertemuan itu pun hanya seorang sersan dari pasukan penjaga kehormatannya, yang bertugas sebagai penterjemah. Van Bayen berkata kepada Danureja bahwa Kumpeni tidak akan pernah membiarkan Cakraningrat masuk Jawa. Cakraningrat harus menjadi bawahan Kumpeni. Danureja menjawab bahwa dia tidak pernah setuju dengan niat untuk menyerahkan Pasuruan atau tempat lain kepada Cakraningrat, tapi Gubernur Jendral De Haan pernah menyetujuinya dan Sunan menginginkannya. Lagipula kalau Cakraningrat nanti meninggal, tanah-tanah itu akan kembali kepada raja. Jika sekarang Kumpeni menentang niat itu, dia akan memastikan supaya niat itu tidak terlaksana. Tapi dia tidak pernah menyebut ataupun menjanjikan penyerahan Madura kepada Kumpeni. Dia hanya berkata bahwa itu sangat sulit untuk dilakukan karena tanah itu adalah milik raja dan saudari raja yang tercinta telah menikah dengan Cakraningrat.

Van Bayen kemudian bertanya apakah orang Jawa tidak pernah menceraikan istrinya. Danureja menjawab bahwa itu sering terjadi, dan kemudian Van Bayen meminta nasehat dan bantuan Danureja supaya Kumpeni mendapatkan Madura. Gubernur Jendral akan melindunginya dan ia bisa meminta apapun yang ia inginkan dan Kumpeni akan menggunakan pengaruhnya terhadap Sunan. Danureja mengucapkan terima kasih dan berkata bahwa dia sudah puas dengan keadaannya yang sekarang. Dia akan menyerahkan seluruh masalah itu kepada Sunan, tapi tidak bisa memberikan janji apapun.

Danureja berkata kepada Ter Smitten bahwa dia telah menulis segala sesuatunya dan bersumpah bahwa dia tidak berdusta. Mungkin Sersan Bogendael yang menjadi penterjemah saat itu salah paham. Danureja juga membantah bahwa dirinya pernah berkata bahwa orang berdarah kerajaan menurut hukum Jawa tidak boleh menjadi bawahan Kumpeni. Menurut Ter Smitten alasan seperti itu sudah pernah dilontarkan dan merupakan landasan dari rencana untuk membuat Cakraningrat  menceraikan   istrinya,  supaya  dia  bisa  menjadi bawahan Kumpeni. Ter Smitten berusaha memojokkan sang patih dengan argumen bahwa pada masa undang-undang Jawa ditetapkan, belum ada orang yang tahu tentang Kumpeni, maka pasti tidak ada hukum semacam itu.

Ter Smitten marah besar dan bisa dikatakan menuduh Danureja sebagai pembohong. Sang patih meminta dia untuk menunggu kedatangan Tumenggung Puspanagara, karena dia bisa bersaksi atas kebenaran cerita Danureja. Tapi Puspanagara ternyata hanya bisa berkata bahwa ceritanya juga ia dengar dari Danureja sebab dia tidak hadir dalam pertemuan dengan Honorable Mayor. Ter Smitten berusaha untuk yang ketiga kalinya tapi sang patih tidak bergeming. Baru setelah Ter Smitten mengancam bahwa Gubernur Jendral akan menagih janji-janji itu dan kalau perlu akan mengirim seorang commissaris bersama Ter Smitten ke Kartasura, Danureja berjanji akan menyerahkan seluruh masalah itu kepada Sunan. Kumpeni tidak boleh menyalahkan dia kalau Sunan tidak bersedia menyerahkan Madura, dan dia meminta agar Kumpeni meminta Madura secara langsung kepada Sunan tanpa melibatkan dirinya.

Danureja kembali ke Kartasura dan Ter Smitten pergi ke Surabaya atas perintah Gubernur Jendral untuk bertemu dengan Cakraningrat dan untuk memenuhi kewajiban Kumpeni dalam apa yang masih dianggap sebagai sebuah kesepakatan itu. Ter Smitten menunggu hampir sebulan di Surabaya, diselingi sebuah inspeksi singkat ke Pasuruan, tapi Pangeran Adipati Cakraningrat menolak datang ke Surabaya, meskipun dia mengundang Ter Smitten untuk datang ke Madura. Menurut Ter Smitten ini merendahkan martabat Kumpeni. Dia tidak mau lagi menjadi bahan tertawaan orang Jawa dan kembali ke Semarang. Cakraningrat berpura-pura bahwa dia takut Ter Smitten datang dengan maksud untuk menahannya.[63]

Nasib Danureja sedikit lebih baik, tapi tidak terlalu baik. Pada tanggal 6 Oktober, Hari Mulud, dia naik kuda ke Paseban bersama sekitar enam ratus orang pengawal. Ketika melewati jembatan yang melintasi sungai antara benteng Kumpeni dan pasar, jembatan itu runtuh dan semua orang yang lewat jatuh. Yang membuat heran semua orang, sang patih tidak terluka sedikitpun padahal empat orang anak buahnya mati dan enam puluh empat terluka.[64] Sang patih senang sekali dirinya lolos dari kecelakaan besar itu dan tampaknya ia menganggap itu sebagai pertanda baik. Ter Smitten sendiri lebih suka seandainya Danureja patah leher.[65]

Dalam masalah Madura, Danureja juga berhasil lolos dari lubang jarum. Setelah berpura-pura bersatu dengan semua bupati yang hadir di kraton dimana mereka bersumpah tidak akan pernah membiarkan Madura diberikan kepada Kumpeni, barulah dia bisa meniadakan sebagian dari kecurigaan raja. Tapi Cakraningkrat masih belum mendapat mas kawin. Dia masih mau menerima dua orang utusan, termasuk di antaranya saudara tiri Danureja, Arya Tuban, tapi dia menerima mereka hampir-hampir tanpa penghormatan sama sekali. Selain itu dia menolak untuk hadir pada Mulud.

Penyelesaian besar yang dikatakan Gubernur Jendral tadi ternyata adalah kekacauan besar. Yang paling dirugikan adalah Danureja. Dia tidak hanya kehilangan kepercayaan raja dan Kumpeni, tapi juga uang dalam jumlah besar, tiga ribu reyal Spanyol. Menurut kesaksian Ter Smitten kemudian di Belanda pada pemeriksaan Gubernur Jendral Durven yang ditarik pulang, uang itu diserahkan untuk membeli pembebasannya dari Batavia.[66]

Sementara itu bagi Danureja, tahun 1729 yang sial masih belum berakhir. Ibu Sunan, Ratu Amangkurat, yang berusaha keras mendapatkan mas kawin bagi Cakraningrat, jelas sangat tidak puas dengan situasi ini. Tapi pada bulan Oktober terjadi sesuatu yang membuat ketidaksenangannya berubah menjadi benci. Selama lebih dari setahun dia menikmati kebersamaan dengan seseorang bernama Raden Surawijaya. Hampir setiap malam dia menghibur Ratu Amangkurat dengan cerita-cerita sejarah Jawa dan tampaknya bukan itu saja jenis hiburannya. Sang raja, yang menunjukkan tanda-tanda bahwa dia memiliki semangat moral dan religius yang menggebu-gebu, mendengar apa yang dilakukan ibunya dan marah besar. Dia memerintahkan kepada Tirtawiguna, Wirajaya dan kemudian Mangunnagara untuk menyingkirkan teman kesayangan ibunya itu, tapi mereka semua berhasil menghindar dari tugas. Akhirnya Danureja-lah yang diperintahkan untuk melakukannya, tapi dia merusaknya. Dia memerintahkan agar Surawijaya dibunuh pada fajar 21 Oktober di bawah pohon beringin di Paseban pada saat dia meninggalkan kraton. Tapi senjata pembunuhnya tertinggal di tubuh korban. Ketika keris itu dibawa ke Sunan, Danureja dengan bodohnya meminta senjata itu untuk dikembalikan kepada pemiliknya dan Ratu Amangkurat langsung tahu siapa yang ada di balik pembunuhan kekasihnya. Setelah itu dia bergabung dengan mereka yang ingin menjatuhkan Danureja.[67]

Hasilnya mulai terlihat pada Januari 1730. Orang kesayangan Danureja, Tumenggung Nitinagara, dicopot dari jabatannya sebagai wedana gedhong kiwa dan digantikan oleh musuhnya, Tirtawiguna, dengan gelar tumenggung. Putra Tirtawiguna dijadikan sekretaris Sunan dengan gelar Ngabehi Surawiguna.[68] Sejak saat itu Danureja kehilangan hampir semua kontrol dalam pengangkatan pejabat baru. Pada bulan Agustus, musuh lamanya, Pangeran Mangkubumi meninggal tapi digantikan oleh Raden Arya Malayakusuma, cucu dari Pangeran Arya Mataram yang mati dicekik itu. Pada bulan yang sama Demang Urawan meninggal dan digantikan oleh Demang Candranagara, salah satu orang kesayangan Sunan. Frederik Julius Coyett, yang menggantikan Ter Smitten pada bulan Juli dan berkunjung ke kraton pada September/Oktober, melihat betapa dewasanya sang raja sekarang. Dia tampaknya cerdas dan mengontrol situasi, meskipun pemerintahan di luar kraton dilimpahkannya kepada sang patih, yang masih dihormatinya.[69]

Rasa hormat itu hanya di luarnya saja. Dalam hal pengambilan kebijakan, sang raja semakin lama semakin menggunakan caranya sendiri atau cara orang-orang lain selain Danureja. Selama kunjungannya itu Coyett menghormati undangan patih untuk bersama-sama menarikan tarian Jawa. Jika ini dimaksudkan untuk menunjukkan kemesraan antara patih dan Kumpeni, maka hanya sedikit pejabat saja yang terkesan. Permainan di kraton sudah berubah temanya, dan sang patih serta Kumpeni ketinggalan jauh. Pada Mei 1731, Tumenggung Mangunnagara, sang wedana gedhong tengen secara formal digantikan oleh pamannya, yang merupakan penjabat sebenarnya dari jabatan itu sebab Mangunnagara masih di bawah umur. Pada saat yang sama Demang Candranagara digantikan oleh Raden Purwakusuma, saudara permaisuri, putra dari Pangeran Purbaya yang memberontak. Dia mendapat gelar kuno yaitu Demang Urawan. Pada awal 1730, wakil Danureja, Raden Tumenggung Natawijaya, menikah dengan putri Purbaya yang lain. Pada September 1732 Demang Urawan yang baru ini menikah dengan saudari raja dan pada saat itu triumvirat yang terdiri dari tiga saudara ipar ini, Sunan, Demang Urawan dan Raden Tumenggung Natawijaya, terbentuk dengan Demang Urawan sebagai motor penggeraknya.

Perkembangan ini hampir-hampir tak disadari oleh Kumpeni, yang masih terobsesi dengan Danureja. Pada tahun-tahun ini dimana tidak banyak kejadian terjadi dan sang raja tampaknya hanya menyibukkan diri dengan perjalanan ke sekitar Kartasura, Kumpeni terus mengikuti langkah-langkah patih. Fakta bahwa dia sering pergi ke makam leluhurnya, yang merupakan sebuah tanda bahwa dia gelisah dan memerlukan tuntunan spiritual, malah diartikan sebagai trik untuk diam-diam mengontak pengikutnya dan membuat rencana baru melawan Kumpeni.

Setelah kegagalan Ter Smitten, Kumpeni untuk sementara waktu menahan diri dalam masalah Madura. Ter Smitten berkata bahwa suatu hari nanti Kumpeni akan mendapatkan Madura entah itu dengan senjata (jika Cakraningrat memulai perang) atau lewat perjanjian dengan kraton. Ter Smitten menyarankan agar Kumpeni menekan dengan cara mengancam akan membawa Arya Mangkunagara kembali ke Kartasura.[70] Tapi saran ini tidak digubris oleh Kumpeni, meskipun munculnya gosip di Jawa bahwa Kumpeni akan berbuat demikian menunjukkan bahwa Ter Smitten telah melontarkan ide ini di tempat lain pula. Cakraningrat menghindar dari konfrontasi total dengan mengirim putranya untuk datang pada Mulud. Pada tahun 1731 kraton mencoba menguji situasi dengan mengusulkan kepada Kumpeni untuk melakukan ekspedisi militer tapi Kumpeni tidak mau. Untuk sementara masalah ini didiamkan.

Danureja masih hidup, tapi tidak lagi banyak bergerak. Pada Juli 1731 dia berkata kepada Coyett bahwa dia akan pensiun setahun kemudian dan pada bulan September dia benar-benar  mengajukan pengunduran diri. Ini menimbulkan kegelisahan besar, terutama karena dibarengi dengan gosip bahwa seorang anggota Dewan Hindia akan datang untuk mengangkat Pangeran Arya Mangkunagara menjadi raja. Sunan kabarnya sangat bingung sampai-sampai dia memulangkan para bupati dari acara Mulud tanpa memberikan penghormatan seperti biasanya. Ancaman lama Ter Smitten tampaknya berhasil. Tapi Coyett rupanya tidak tahu akan hal ini. Dia menganggap itu sebagai trik Danureja untuk memperpanjang masa hidupnya. Atas permintaan sejumlah bupati pesisir dia menulis surat kepada Sunan bahwa semua gosip ini tidak benar dan dia bersumpah atas nyawanya sendiri bahwa Sunan tidak perlu khawatir.[71]

Tidak jelas apakah insiden ini sebuah percikan terakhir dari semangat Danureja atau sebuah tanda bahwa dia sudah lelah bertarung. Sunan menolak permohonan pengunduran diri itu tapi tetap marah. Danureja bisa dipecat tapi tidak boleh mengundurkan diri. Baru setahun kemudian Sunan yakin dia tidak memerlukan Danureja lagi dan ingin menyingkirkannya.

Kejadian terakhir yang memicu kejatuhan patih berasal dari sebuah luka lama. Demang Tirtanata yang terlibat dalam masalah Tegal tadi, yang sekarang bernama Tumenggung Suradiningrat, masih belum mendapatkan kompensasi. Sponsornya, Tirtawiguna, akhirnya berhasil mengusahakan supaya Suradiningrat diberi gelar tumenggung dan kekuasaan atas dua ribu rumah tangga di Pekalongan, tidak jauh dari saudaranya Jayaningrat, yang tidak terlalu senang dengan penempatan itu. Dia bahkan makin tidak senang lagi karena kabarnya Suradiningrat pernah sekali menggoda salah seorang istrinya. Jayaningrat memanfaatkan Danureja untuk membatalkan pengangkatan itu dan berhasil. Kali ini tidak hanya Tirtawiguna yang sekali lagi menanggung hutang lama, tapi sang raja juga jengkel karena harus menarik kembali perintahnya. Danureja berkata bahwa dia bukannya mau mencampuri urusan ini, tapi dia cuma ragu apakah bijaksana mengambil dua ribu rumah tangga dari Jayaningrat tanpa alasan yang jelas.[72] Tapi itu sudah terlambat dan sang raja, yang sudah jengkel dengan Danureja karena Danureja terus meminta raja untuk merealisasi pemberian lima belas ribu rumah tangga yang menjadi hak saudara-saudara raja yaitu Buminata dan Loringpasar, sekarang siap dibujuk untuk menyingkirkan Danureja sekali untuk selamanya.

Bagaimana cara menyingkirkan Danureja itu persoalan lain, tapi pengalaman masa lalu menunjukkan jalan. Pada masa sebelumnya Kumpeni terbukti sangat berguna ketika raja ingin menyingkirkan anggota keluarga atau menteri-menterinya yang cacat. Dalam kasus Danureja, pertolongan itu malah mutlak diperlukan. Adanya dukungan dari Kumpeni dalam melakukan pekerjaan kotor itu tidak hanya mengaburkan siapa pelakunya sebab sebagian kesalahan bisa dilemparkan, tapi juga meniadakan kemungkinan terjadinya oposisi sebab tanpa adanya dukungan Kumpeni pemberontakan tidak akan berhasil. Di lain pihak Kumpeni tidak selalu bersedia menjadi alat kemarahan raja. Sikap ini tentu saja tidak dimotivasi oleh idealisme kemanusiaan tentang keadilan. Selain berpendapat bahwa despotisme ketimuran tidak sesuai untuk memilah mana yang baik dan mana yang buruk, Kumpeni juga berpendapat bahwa urusan domestik dimana Kumpeni tidak merasa perlu mendikte Sunan sebaiknya tidak dicampuri. Bagi Kumpeni yang penting adalah pertimbangan praktis semata. Jika menteri-menteri diperlakukan terlalu buruk, orang akan segan menempati posisi-posisi atas itu, sebab menteri tidak hanya penting bagi raja, tapi juga bagi Kumpeni sebab merupakan instrumen untuk mendapatkan produk-produk dari Jawa. Menteri-menteri yang “berniat baik” haruslah mendapatkan dukungan dan campur tangan dari Kumpeni sementara menteri-menteri lain dipersilahkan hanyut ke dalam kejatuhan mereka sendiri.[73]

Danureja dianggap tidak “berniat baik”:

pendeknya, Danureja itu adalah orang Jawa, maka dapat diasumsikan bahwa dia tidak bisa dianggap sebagai saudara Kumpeni yang paling setia.[74]

Di pihak lain, dia tidak dapat dituduh apapun sebab semuanya masih baru gosip dan selama beberapa tahun terakhir pengiriman beras dan uang berjalan lancar. Apalagi Kumpeni telah menganggap Danureja sebagai semacam wali bagi raja selama raja belum dewasa. Kumpeni tidak mau membuang Danureja begitu saja. Yang terjadi justru sebaliknya. Frederik Julius Coyett diangkat menjadi anggota luar biasa Dewan Hindia setelah Gubernur Jendral Diderik Durven ditarik dan ditunjuk menjadi duta besar dengan kuasa penuh kepada kraton untuk membuat perjanjian baru, sebab perjanjian 1705 telah habis pada tahun 1730 sementara hutang-hutang dari Perang Surabaya masih belum diselesaikan. Dia justru menganggap Danureja sebagai stabilisator. Coyett beranggapan bahwa Danureja harus dipertahankan posisinya bahkan setelah raja dinyatakan dewasa sekalipun Danureja sering menyatakan bahwa dirinya akan mengundurkan diri.[75] Kemampuan persuasi Coyett memang besar. Belum lama sebelum itu dia berhasil meminta Raden Tumenggung Cakranagara dari Sumenep, yang dituduh memiliki kelamin ganda oleh Cakraningrat, untuk menyingkap kainnya untuk menunjukkan bahwa dia benar-benar memiliki alat kelamin pria yang sempurna.[76] Maka Coyett punya keyakinan besar bahwa Danureja bisa dibujuk untuk tetap pada posisinya. Jika dilihat dari pertimbangan-pertimbangan ini, yang tidak diketahui musuh-musuh Danureja, bisa diperkirakan bahwa Kumpeni akan bersikeras soal Danureja. Tapi perencanaan yang matang, atau mungkin lebih tepatnya perhitungan yang tidak disengaja, ternyata sangat memudahkan usaha ini.

Kumpeni mengira bahwa pembuatan kontrak yang baru itu akan berjalan lancar dan kraton sudah diberitahu bahwa Kumpeni tidak akan meminta tanah. Tawaran yang diajukan Amangkurat ketika sekarat tampaknya merupakan dasar yang pantas untuk memulai negosiasi. Karena itulah Batavia kaget ketika menerima jawaban Sunan terhadap usulan negosiasi pada bulan Agustus 1732 bahwa Sunan bersedia memperbarui kontrak tapi berpendapat bahwa pada saat itu tidak ada yang perlu dinegosiasikan. Meskipun Coyett menafsirkan frase ini sebagai ekspresi dari kesopanan Jawa, Batavia ingin memastikan apakah sang raja benar-benar serius soal negosiasi ini dan setuju untuk mengirim Coyett sebagai duta. Seorang anggota biasa dari Dewan Hindia baru saja membuat kontrak baru dengan Banten dan Batavia khawatir jangan-jangan orang Jawa akan tersinggung sebab hanya didatangi oleh anggota luar biasa yang baru saja diangkat. Ketika masalah ini akhirnya dibereskan, waktunya sudah terlambat: pada akhir September Sunan diberitahu bahwa Batavia memutuskan untuk menunda pengiriman duta sampai musim kemarau 1733. Coyett dipanggil ke Batavia untuk berkonsultasi.

Pada akhir Oktober, ketika hendak berangkat, Coyett menerima sebuah surat sangat rahasia dari raja yang isinya meminta bantuan Kumpeni untuk menyingkirkan sang patih. Surat itu berisi keluhan tentang sang patih bersama sejumlah contoh kasus yang spesifik yang menurut Sunan sudah cukup untuk menghukum mati Danureja. Kumpeni tidak mau bergeming, tapi di pihak lain, Kumpeni jelas tidak bisa memaksa Sunan untuk mempertahankan seorang patih yang sudah dibencinya, apalagi menegosiasikan kontrak lewat patih itu. Bisa-bisa itu akan menjadi alasan bagi Sunan untuk tidak memenuhi isi kontrak. Sementara itu, jika permintaan ini dituruti, negosiasi bisa berjalan lebih lancar. Pendeknya Danureja jatuh seperti sebuah batu, meskipun Coyett diperintahkan untuk memperlunak kejatuhan Danureja itu dengan mengucapkan beberapa patah kata, memastikan dia tidak dibunuh dan jika Danureja diasingkan, Coyett harus memastikan agar Danureja mendapatkan biaya yang memadai. Toh sang raja bukanlah satu-satunya penguasa yang lebih suka dilayani bawahan-bawahannya sendiri daripada orang tinggalan pendahulunya.[77]

Tidak mudah mencari situasi yang tepat untuk menangkap sang patih dan ketegangan meninggi. Danureja bisa jadi mendengar rencana itu, atau Sunan bisa jadi berubah pikiran atau Kumpeni yang bisa jadi berubah pikiran. Bahkan sebelum Coyett sampai di Batavia pun, beberapa bupati pesisir sudah membuat plot untuk memancing Danureja ke dalam pertarungan melawan Tirtawiguna. Meskipun Danureja tidak mau melayaninya, Tirtawiguna memastikan agar cerita itu sampai ke Sunan, sehingga Sunan menjadi marah dan hampir-hampir membocorkan rencananya itu. Akibatnya Sunan mengulangi permintaannya itu kepada Kumpeni dan kali ini Sunan menjamin bahwa masalah ini akan ditutup rapat-rapat. Kumpeni ragu apakah masalah ini bisa dijaga kerahasiaannya, dan ketika Danureja menolak untuk memimpin rombongan ke Batavia yang resminya dikirim untuk memberi selamat pada Gubernur Jendral yang baru, Dirk van Cloon, padahal sebenarnya untuk menangkap Danureja, semua orang khawatir dia tahu apa yang sedang terjadi.[78] Dan sebuah badai petir yang lebih besar daripada yang sudah-sudah melanda Kartasura seolah menandai apa yang akan terjadi.[79]

Supaya pandangan Kumpeni terhadap Danureja tidak berubah lagi, ditebarkan sebuah gosip yang sejenis dengan gosip lama dari Surabaya. Kali ini Ngabehi Secadirana sendiri menyamar sebagai pelayan dalam cuaca gelap dan mendatangi residen untuk mengabarkan rahasia tentang plot besar-besaran Danureja yang ia dengar dari teman-temannya di Kartasura.[80] Tapi keputusan Kumpeni sudah mantap dan tinggal menunggu waktu yang tepat. Setelah sembilan bulan penuh ketegangan berlalu, tibalah saat yang tepat yaitu kedatangan Coyett dari Batavia. Dengan alasan menyambut Coyett dan sekaligus mengantarkan setoran beras dan uang tahunan, Danureja dikirim ke Semarang. Prosedur normal seperti itu tidak akan membuat curiga patih yang hati-hati ini. Tapi sebelum meninggalkan Kartasura, Danureja menghadiahi Sunan sepuluh ribu ribu reyal Meksiko dan empat cincin intan seharga empat ribu reyal. Karena sang raja menyambutnya dengan senang hati, Danureja berangkat ke Semarang dengan keyakinan bahwa dia sudah berhasil melunakkan hati sang raja.[81] Tapi pada tanggal 9 Juli 1733, Danureja yang tidak curiga sama sekali itu ditahan atas nama rajanya di loji Semarang. Dia dengan sukarela menyerahkan kerisnya dengan kata-kata yang pantas diucapkan seorang negarawan: “Karena ini sudah menjadi kehendak raja saya, yang tidak menginginkan pengabdian saya lagi, maka saya mempercayakan diri saya kepada Kumpeni dengan keyakinan bahwa saya tidak akan dibunuh.”[82] Kumpeni menyadari, seperti yang ditulis Gubernur Jendral kepada direktur-direktur di Belanda, bahwa:

orang-orang pribumi janganlah dianggap lugu seperti yang terlihat secara sekilas dan mereka jelas tidak kalah cerdiknya ketika mereka berusaha menjegal satu sama lain dan ketika kemampuan alamiah mereka untuk menipu dan bersiasat dirangsang oleh kepentingan pribadi.[83]


[1] “regent-brothers”

[2] “lodge”

[3] “potshot”

[4] “subject”, orang-orang yang ada di bawah kekuasaan atau kewenangan pembesar atau pejabat atau organisasi tertentu. Maka “subject” dari seorang raja bisa disebut sebagai “rakyat” atau kadang “penduduk”.

[5] “breastwork”, tembok tanah untuk pertahanan yang biasanya setinggi “breast” atau dada.

[6] “body servant”

[7] “court appanage”. “appanage” adalah wilayah yang tidak memiliki kepala (dalam hal ini bupati) dalam artian sebenarnya sebab diserahkan kepada seorang pejabat atau lembaga tertentu. “Court appanage” adalah sebuah “appanage” yang langsung berada di bawah kontrol raja.

Iklan

Komentar ditutup.