PERANG CINA DAN RUNTUHNYA NEGARA JAWA (AWAL) ADA BAB I – BAB 6

PERANG CINA DAN RUNTUHNYA NEGARA JAWA,

1725-1743

Willem Remmelink

1994. KITLV Press Leiden

ISBN 90 6718 067 x

diterjemahkan oleh Akhmad Santoso

Semua catatan kaki (yang ditandai angka tanpa kurung) berasal dari penterjemah. Catatan penulis (yang bertanda kurung kotak “[ ]” ) dipindahkan ke akhir buku.

PEMBUKA

d’Minste weters, zijn hier basen

‘t Zijn al danssers op een been[1]

Setelah menyelesaikan sebuah studi yang penyelesaiannya memakan waktu hampir 10 tahun, perlu kita camkan keluhan Hindia Timur abad 17 di atas. Kutipan ini adalah sebuah peringatan kepada pembaca dan sekaligus penulis bahwa dia mungkin akan bernasib sama dengan orang-orang terkemuka. Penelitian dan penulisan buku ini dilakukan di tempat-tempat di mana saya biasanya tidak memiliki akses ke sumber-sumber atau bahkan ke perpustakaan referensi yang memadai. Saya akan sungguh-sungguh menjadi seorang penari yang menari dengan satu kaki seandainya tidak ditolong oleh sejumlah orang seperti almarhumah Margot van Opstall dari Algemeen Rijksarchief, Ibu Soemartini dan staf beliau di Arsip Nasional, dan Jaap Ekelens dari KITLV di Jakarta. Mereka menyediakan hampir semua materi yang masuk ke dalam buku ini tanpa mengharuskan saya untuk meninggalkan kursi saya, baik ketika saya berada di Yogya, Borculo maupun Tokyo. Terima kasih saya yang paling mendalam tertuju pada Amin Soedoro di Yogyakarta. Dia menuntun langkah-langkah pertama saya dalam membaca babad dan kemudian bersedia bersusah payah me-roman-kan sejumlah manuskrip yang sulit dibaca. Tanpa pertolongannya entah kapan studi ini bisa selesai. Dan yang terakhir, saya mengucapkan terima kasih kepada PRIS (Program Studi Indonesia) atas dukungan finansial selama bulan-bulan Agustus sampai Desember 1984.

SINGKATAN DAN EJAAN

AN                  Arsip Nasional, Jakarta

ARA                Algemeen Rijksarchief (Arsip Nasional). Gravenhage

KITLV             Koninklijk Instituut vor Taal-, Land- en Volkenkunde

(Institut Linguistik dan Antropologi Kerajaan), Leiden

MvO                Memorie van Overgave

VOC                Arsip-arsip VOC di ARA, Gravenhage.

Ejaan

Untuk kata-kata Jawa, umumnya digunakan ejaan 1974, kecuali untuk beberapa nama tempat dan nama orang. Nama-nama Belanda dan Cina dituliskan sesuai dengan ejaan yang ditemukan dalam sumber-sumber.

KATA PENGANTAR

Sejarawan sering membaca teks semata sebagai sumber informasi pada tingkat analisa isi.[1]

Ketika ditanya belum lama ini tentang apa definisi dari Orde Baru: apakah sistem ataukah pribadi yang menjadi kepalanya, seorang anggota kabinet senior menjawab dengan ambiguitas Indonesia seperti biasanya: “Sistemnya, tapi pribadinya lebih penting.[2]

Usaha saya untuk mendapatkan jawaban yang lebih tegas sehubungan dengan orde yang jauh lebih tua, yaitu tentang kerajaan Jawa yang masih bersatu sebelum tahun 1755, dimulai dari sebuah peristiwa pada tahun 1979. Sekitar setahun sebelumnya saya tiba di Yogya untuk mengajarkan pada sekelompok mahasiswa Indonesia apa yang dengan megah oleh Profesor Sartono disebut sebagai hermeneutika dari sumber-sumber Belanda tentang sejarah Indonesia. Pada awalnya saya sekedar mengajarkan bahasa Belanda, meskipun saya sebenarnya bisa membelokkannya kepada aspirasi profesional saya dengan memberikan kuliah umum tentang sejarah Cina dan Jepang, yang tentunya lebih sesuai bagi saya sebagai seorang sinolog. Saya membawa thesis saya yang masih setengah jadi tentang filsuf Konfusian abad 18 Dai Zhen ke Yogya dan berniat untuk melewatkan malam-malam tropis yang panjang dengan tokoh ini, tapi apa yang saya temukan di Jawa dan tidak tersedianya perpustakaan referensi Cina membuat saya bahkan tidak pernah membuka buku-buku yang saya bawa serta. Malahan saya memutuskan untuk mencari tema yang lebih sesuai dengan tugas-tugas yang sedang saya laksanakan, tapi tetap mencakup sesuatu yang berhubungan dengan Cina. Apa yang disebut Perang Cina di Jawa jelas merupakan pilihan utama. Tema ini belum pernah diteliti, kecuali pada bagian awal pemberontakan di Batavia. Saya memahami latar belakang daratan besar Cina pada jaman itu (ini mungkin bisa membantu) sementara keberadaan saya di Yogya akan menjadi kesempatan bagus untuk mengakrabkan diri dengan latar belakang Jawa. Pada akhir 1979, ARA telah menyediakan salinan mikrofilm dari seluruh arsip Pantai Utara mulai 1725 sampai 1745 dan selama beberapa tahun berikutnya malam-malam tropis yang panjang itu diisi oleh nyala yang menyeramkan dari mesin pembaca mikrofilm.

Ternyata tidak mudah melangkah dari filsafat Cina ke keributan dan kekacauan Cina yang terdorong ombak dan mendarat di pantai Jawa. Apalagi di dalam segitiga yang terdiri dari Kumpeni, orang Cina dan orang Jawa, orang Jawa-lah atau khususnya negara Jawa-lah yang menjadi misteri terbesar. Studi-studi standar dari G.P. Rouffaer, B.J.O. Schrieke, J.C. Van Leur, D.H. Burger, Soemarsaid Moertono, M.C. Ricklefs, B.R.O’G Anderson, A. Kumar dan lain-lainnya telah sangat membantu saya, tapi juga sekaligus lebih banyak menimbulkan pertanyaan daripada jawaban. Sebuah usaha pertama untuk mencari sendiri jawabannya saya lakukan dalam sebuah makalah untuk seminar sejarawan Jawa Tengah pada 31 Maret 1984, yang versi ringkasnya muncul di harian nasional Kompas.[3] Makalah ini menjadi dasar bagi Bab I. Setahun sebelumnya saya mempresentasikan sebagian isi Bab II bersama dengan elemen-elemen Bab VI dalam sebuah kuliah untuk proyek Javanologi di Yogya, yang kemudian diterbitkan oleh proyek ini.[4] Sebuah versi revisi dari Bab I dan sebagian dari bab III digunakan untuk sebuah makalah untuk Konferensi Cambridge-Delhi-Leiden-Yogayakarta Ketiga pada September 1986 dan diterbitkan dalam edisi khusus dari Itinerario.[5] Sebenarnya pada akhir 1984 Bab I sampai III dan sebagian besar Bab IV telah selesai, lalu saya meneruskan pekerjaan saya yang sekarang ini di Jepang dan selama lebih dari empat tahun Perang Cina di Jawa terancam oleh nasib yang sama dengan thesis saya tentang filsafat Cina tadi. Untungnya, sebuah cuti belajar pada musim panas 1989 memungkinkan saya menyelesaikan bagian lain dari buku ini.

Selama kurun waktu itu muncul dua thesis yang relevan dengan karya saya. Yang pertama adalah karya besar C.J.G. Holtzappel tentang hubungan antara desa dan negara di Jawa pada jaman pra-kolonial.[6] Yang kedua adalah analisa L.W. Nagtegaal yang sangat sistematik terhadap hubungan antara Pesisir Utara Jawa dengan VOC selama periode 1680-1743.[7] Dua thesis ini membawa kemungkinan bahwa saya harus melakukan revisi besar terhadap setidaknya bab pertama saya. Tapi akhirnya saya memutuskan untuk tidak melakukan revisi.

Thesis Holtzappel, dengan segala rinciannya yang menarik, ternyata adalah sebuah pertimbangan kembali terhadap Rouffaer, Schrieke, Van Leur, Burger dan Soemarsaid Moertono melawan konsep asli M. Weber dan juga sekaligus membongkar mitos kolonial dalam desa Jawa. Jatuhnya pilihan Holtzappel pada tipe terbuka dari dominasi patrimonial Weber sebagai model yang paling mampu mengkarakterisasikan negara Jawa tradisional bersesuaian dengan cara saya dalam menggunakan konsep Weber, sementara pembongkaran mitos kolonial dalam desa Jawa adalah sekedar menggarisbawahi berlakunya kesimpulan-kesimpulan J. Breman dari Priangan bagi seluruh Jawa.[8] Sejak munculnya artikel penting Breman yang pertama[9] saya telah menerima argumen-argumen utamanya dan menggunakannya sejauh hubungan antara desa dan negara muncul dalam kisah saya. Dengan kata lain, thesis Holtzappel adalah referensi yang baik tapi bukanlah merupakan alasan untuk mengubah interpretasi saya.

Analisa Nagtegaal terhadap hubungan politik dan terutama hubungan ekonomi antara VOC, Pesisir Utara dan, sebenarnya juga Kraton tidak hanya mendukung temuan-temuan saya dari analisa terhadap periode yang lebih panjang, tapi juga menyatakannya dengan cara yang lebih sistematis. Saya mendapati persamaan dengannya terutama dalam hal posisi para bupati, hubungan mereka dengan priyayi setempat dan kraton dan juga usaha kraton yang makin gencar untuk melakukan sentralisasi. Dalam hal peran Kumpeni dan orang Cina juga tidak ada perbedaan besar. Yang terakhir tapi juga penting di sini adalah bahwa Nagtegaal tampaknya juga ragu tentang teori konsensus Ricklefs, sama seperti saya.

Saya memutuskan untuk membiarkan bab pertama saya apa adanya, karena bab ini masih mampu menawarkan sebuah kontribusi terhadap sebuah masalah lama yang menurut saya belum dapat dipecahkan secara memuaskan oleh Holtzappel maupun Nagtegaal, yaitu dikotomi lama antara karakterisasi negara Jawa tradisional sebagai sebuah pemerintahan despotik di satu pihak dengan gambaran tentang sebuah persemakmuran yang harmonis di bawah kekuasaan seorang raja suci di pihak lain. Teori konsensus Ricklefs mengambil posisi di tengah-tengah dua pilihan di atas: jika tidak bisa mencapai sebuah harmoni lewat konsensus maka akan digunakan pemaksaan. Holtzappel berpendapat bahwa di dalam tipe terbuka dari dominasi patrimonialnya Weber, intervensi dan non-intervensi adalah dua sisi dari satu keping yang sama, sementara Nagtegaal memilih model negara kontes M. Adas yang terdiri dari jaringan-jaringan patron-klien yang saling bersaing.[10] Model jaringan seperti itu juga ditekankan oleh Breman dan Kumar. Dalam pendekatan saya sendiri, saya secara diam-diam mengambil model jaringan patron-klien untuk mengisi celah-celah yang longgar dari tipe terbuka dominasi patrimonial dan pada umumnya tidak terlalu memperdulikan klasifikasi sosiologis. Tapi saya juga mencoba untuk melangkah lebih jauh dan berdasarkan beberapa ide dari N. Elias, saya mencoba untuk menggambarkan kraton sebagai sebuah mesin politik.[11] Keuntungannya tidak hanya berupa bertambahnya instrumen kekuasaan yang ada pada raja, tapi juga mampu menjelaskan peran esensial dari hirarki, etiket dan upacara dalam kehidupan dan politik Jawa. Elemen-elemen yang menonjol dalam masyarakat Jawa ini bahkan tidak disebutkan oleh Holtzappel dan Nagtegaal. Menurut saya, pendekatan ini dapat banyak menjelaskan pesona fatal kraton terhadap elit Jawa, bahkan pada saat kraton tidak memiliki kekuatan militer yang besar sekalipun. Pada saat yang sama, pendekatan ini juga mampu menjelaskan fragmentasi dan ketidakstabilan pada jaringan patron-klien dan level kompetisi dan pertentangan yang di atas normal. Fakta bahwa saya harus memasukkan karakter sewenang-wenang dari pemerintahan raja sebagai elemen esensial dalam sistem, yang menurut Holtzappel tidak mendapat tempat dalam tipe dominasi patrimonial Weber[12], tidaklah terlalu mengganggu saya. Yang justru lebih saya pikirkan adalah peringatan yang sering diutarakan Sartono bahwa pendekatan-pendekatan yang paling interpretatif terhadap sejarah Jawa cenderung untuk menjadi terlalu interpretatif dengan penggunaan gambaran-gambaran yang tidak sesuai dengan realita historis maupun gambaran setempat. Saya merasa saya telah bertindak cukup jauh. Saya memiliki gambaran yang cukup konsisten tentang tatanan tradisional dan secara fungsional saya menyatukan kepribadian yang memimpinnya ke dalam sistem. Terlebih lagi, tujuan utama dari dialog saya dengan masa lalu – di luar usaha untuk menginterpretasi dan merekonstruksi masa lalu – bukanlah semata untuk terlibat dalam dialog dengan interpreter-interpreter yang ada sekarang, melainkan lebih untuk mewujudkan sebuah dialog dengan jenis teks tertentu, yaitu tarikh[1] historis tradisional Jawa alias babad, yaitu Babad Tanah Jawi dalam hal ini.

Saya bukanlah sejarawan pertama yang menggunakan babad. Hampir tidak ada penulis yang serius tentang Jawa yang tidak mengutip dari babad. Selain itu, penggunaan babad biasanya terbatas pada usaha untuk merekonstruksi bagian-bagian dari masa lalu Jawa yang tidak ada pada sumber lain atau untuk menyaring teks-teks ini untuk mendapatkan wawasan hidup Jawa, yang relevansinya dengan kejadian “nyata” tidak pernah dijelaskan. Ini menimbulkan adanya pendekatan dokumenter yang sempit terhadap babad atau menimbulkan usaha untuk membuat teori-teori tentang fungsi babad untuk dimanfaatkan sebagai saringan supaya mendapatkan informasi historis sejati dari babad. Mungkin memang ini yang diharapkan dari seorang sejarawan, yang menurut Hayden White “pelatihannya sebagian besar terdiri dari studi terhadap beberapa bahasa, kerja arsip dan melakukan sejumlah latihan yang sudah ditetapkan untuk mengenalkannya dengan karya-karya dan jurnal-jurnal referensi standar dalam bidangnya. Untuk melengkapinya, hanya tinggal diperlukan pengetahuan umum tentang manusia, bacaan tentang bidang-bidang seputar sejarah, disiplin dan Sitzfleisch.”[13] Saya tidak memiliki kelebihan dalam hal pelatihan, tapi saya merasa heran mengapa babad, seandainya pun cuma sekedar sebagai pamflet kerajaan Jawa untuk menyiarkan mitos kultus kemuliaan raja, harus dianggap kalah penting bagi sejarah Jawa daripada mitos kolonial tentang desa Jawa atau prasangka-prasangka Kumpeni tentang despotisme timur. Jika sejarah adalah “sekedar” sebuah cara khusus dalam bercerita, maka semua yang lainnya pun juga merupakan cara khusus bercerita, baik itu penggunaan konsep feudalisme oleh Burger yang tidak sesuai dengan Weber sampai pada usaha saya sendiri untuk mengubah kraton Kartasura menjadi semacam Versailles tropis. Kita semua berhadapan dengan “fakta” yang sama, hanya saja pengaturan dan pengkodeannya berbeda. Satu kisah untuk arena politik Jawa, satu lagi untuk kebijakan kolonial dan satu lagi untuk wacana akademik.

Tidak satu pun dari kisah-kisah tadi, bahkan yang paling ilmiah dan akademis sekalipun, yang murni berasal dari ketertarikan akan masa lalu. Relevansi dengan masa sekarang adalah tujuan mereka. Jika babad mencoba untuk menetapkan legitimasi penguasa pada masanya, maka Breman dan Holzappel pun menceburkan diri ke dalam kebijakan kolonial dan bahkan pra-kolonial untuk mendukung keraguan mereka terhadap program pengembangan desa dewasa ini. Dan tidak sedikit pula minat terhadap negara Jawa tradisional, termasuk minat saya sendiri, yang dipicu oleh masalah-masalah Orde Baru. Dalam hal pemberontakan Cina tahun 1740 dan perang yang terjadi selanjutnya, saya bahkan sengaja mengabaikan posisi seperti tadi. Tidak lama setelah terjadinya pembantaian, timbul polemik yang ramai tentang siapa yang bersalah: orang Cina, orang Belanda, pemerintah ataukah hanya Adriaan Valckenier atau Gustaaf Willem Baron van Imhoff saja. Setelah kemerdekaan, diskusi-diskusi yang ada mengambil sudut yang sama sekali baru. Orang Cina, yang ingin menanggalkan reputasi mereka sebagai pihak yang paling diuntungkan oleh kerjasama dengan Belanda, sekarang digambarkan sebagai korban dari pemerintahan kolonial dan senasib dengan orang Indonesia. Perang Cina dirayakan sebagai contoh dari persaudaraan dan bahkan dicatat dalam sebuah mural dari tahun 1950 di klenteng di Rembang, dimana digambarkan pendekar-pendekar kung fu yang kekar mengusir orang Belanda, yang kelihatannya seolah baru saja bermain dalam opera Franz Lehár. Tapi di luar simbolisme kasar seperti itu, muncul pertanyaan-pertanyaan yang lebih serius. Mengapa komunitas Cina di Jawa tidak menjadi lebih menyatu dengan masyarakat Jawa, seperti komunitas-komunitas Cina di Thailand atau Filipina? Tidakkah sudah ada contoh-contoh dari orang Cina yang terJawanisasi, yang menikah dengan kalangan elit Jawa dan bahkan ada bupati keturunan Cina pada paroh pertama abad delapan belas. Jawabannya: pemerintahan kolonial Belanda menghalanginya. Sekarang Belanda sudah pergi, orang Cina dan Jawa dapat meneruskan kembali simbiosis mereka yang tertunda. Tapi saya tidak mendapati bukti adanya integrasi Cina-Jawa yang sejati sebelum atau bahkan selama Perang Cina maka saya merasa sudut penyelidikan seperti ini tidak menjanjikan. Terlebih lagi, kejadian-kejadian pada 1965, setidaknya untuk sementara, menyingkirkan cerita yang baru tumbuh ini dari wacana politik, dan masalah integrasi orang Cina memerlukan penjelasan-penjelasan yang lebih rumit karenanya.

Semua sejarah mengandung elemen penyiaran politik dan hanya sejarawan yang paling suka memuja masa lalu sajalah yang akan membantah ini. Ironisnya ini justru terlihat paling jelas dari ilmuwan sosial yang berpaling kepada sejarah tapi yang metode-metode ilmiahnya diangap mampu mengeliminasi wacana jenis ini. Setidaknya jelas terlihat dari sini bahwa dalam hal motivasi dan prinsip, penulis babad tidak berbeda banyak dari sejarawan-sejarawan modern yang berusaha untuk menggarap kembali dan mewakili masa lalu. Tapi meskipun kita sudah menjadi cukup pintar dalam membaca kisah-kisah yang diajukan pegawai-pegawai Kumpeni, adiministrator-adiministrator kolonial dan bahkan sesama rekan sejarawan, Quellenkritik yang canggih semacam itu tidak didapati dalam hubungannya dengan babad Jawa tradisional. Babad digunakan sebagai gudang fakta dan bukan sebagai teks yang rumit yang menggarap kembali masa lalu dan yang sebenarnya lebih daripada sekedar gudang fakta dan mungkin bahkan yang pada intinya bukan gudang fakta sama sekali. Sekalipun babad menunjukkan sikap semena-mena terhadap fakta atau menghadirkan masa lalu sebagaimana seharusnya dan bukan masa lalu apa adanya, tidaklah berarti babad bisa didiskualifikasi begitu saja sebagai sumber sejarah. Hal yang sama juga dapat dikatakan tentang ide-ide Kumpeni tentang negara Jawa, belum lagi dugaan-dugaan Rouffaer yang sembarangan, beberapa reifikasi tentang desa Jawa atau semua mitos lain yang telah menambah pemahaman kita tentang masa lalu Jawa. Semuanya tadi, termasuk babad, telah dan masih menjadi inspirasi bagi pengambilan kebijakan sehingga, salah atau benar, setara levelnya dengan fakta manapun yang diinginkan sejarawan. Yang pertama-tama diperlukan adalah pengamatan dari dekat tentang bagaimana babad menggarap kembali dan menghadirkan masa lalu.

Karena babad pada dasarnya adalah kisah kronologis, maka rasanya praktis jika saya menempatkan kejadian versi saya ke dalam narasi kronologis (Bab II – IV). Ini akan menghasilkan sebuah perbandingan yang langsung. Tapi pendekatan ini memiliki beberapa kekurangan. Bab I tampaknya akan terpisah dari bab-bab lainnya karena kesimpulan-kesimpulan Bab I tidak dapat dijelaskan secara sistematis dalam bab-bab selanjutnya. Terlebih lagi, tujuan saya yaitu membuat perbandingan dengan babad memerlukan sejumlah besar fakta, rincian-rincian remeh, dan nama-nama yang kurang dikenal, yang seringkali mengancam kejernihan analisa kejadian dan, seperti pada sebuah novel Rusia, cenderung untuk membuat kisah tidak dapat dibaca jika tidak disertai sebuah daftar pelaku. Indeks dan lampiran diharapkan bisa memberikan pertolongan dalam hal ini. Konsekwensi lainnya adalah penekanan secara umum terhadap proses-proses politik yang mungkin akan berat sebelah dengan faktor-faktor ekonomi. Hasil akhirnya adalah sebuah karya tiga bagian, dimana bagian tengahnya (Bab II-V) berisi catatan sejarah, yang dapat dikodekan atau didekodekan dengan bantuan Bab I atau VI.

Sehubungan dengan masalah babad, Bab II-V merupakan kerangka dasar tentang kapan, siapa, apa dan dimana, yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah – setidaknya sejak kemunculan L. von Ranke. Tapi fungsinya di sini bukanlah untuk menentukan reliabilitas faktual dalam babad, tapi untuk menentukan sebagian dari struktur sastranya. Mungkin ada keberatan bahwa analisa dan pemahaman terhadap struktur sastra tidak tergantung pada faktualitas dari kisah yang dibeberkan di dalamnya. Tapi dalam babad, kita berhadapan dengan fakta dan kejadian yang diatur dalam susunana kronologis yang tampaknya baik. Hanya setelah menemukan pola pelanggaran terhadap kronologi kejadian yang sebenarnya barulah tampak bahwa kronologi babad tidak banyak ditentukan waktu tapi lebih banyak oleh perhitungan waktu. Sekalipun wujudnya adalah sebuah tarikh, waktu bukanlah satu-satunya prinsip pengatur dan bahkan bukan prinsip pengatur terpenting dalam babad. Masalah yang sama juga ada pada seleksi fakta. Perbandingan dengan Bab II-V menunjukkan bahwa babad membatasi seleksi faktanya dan deskripsi mereka seringkali memiliki perbedaan yang konsisten dengan catatan. Meskipun ketidakcocokan ini mungkin disebabkan oleh masalah memori historis, tapi seringkali ketidakcocokan itu muncul dari interpretasi-interpretasi yang dipaksakan penyusun babad kepada materi yang digarapnya. Apa yang tampaknya adalah kisah kronologis yang lumayan akurat dan baik, yang tidak banyak diberi interpretasi atau analisa, ternyata adalah sebuah karya imajinasi historis yang rumit.

Karena kepentingan-kepentingan saat itu adalah bahan dasar dari imajinasi historis, tujuan penulisan babad sebagai dokumen untuk mengesahkan wangsa yang sedang memerintah merupakan petunjuk untuk menelaah strukturnya. Tapi di dalam pengaturan praktis kisahnya, fungsi pengesahan babad ini tampaknya tidak terlalu berhasil. Sudah menjadi prinsip umum dalam babad bahwa apapun yang terjadi, terjadi karena kehendak Tuhan dan ini hampir secara serta merta memberikan restu Tuhan kepada pihak yang sedang berkuasa. Tapi ini tidak dapat menjelaskan perilaku dari tokoh-tokoh sejarah sebab manusia mestinya tidak mengetahui kehendak Tuhan, dan jika karena suatu kebetulan manusia bisa tahu, entah itu lewat mimpi atau nubuat, dianggap bahwa manusia tidak seharusnya campur tangan ke dalam kehendak Tuhan. Bahwa manusia akhirnya campur tangan juga, atau secara sadar menentang godaan untuk berbuat demikian, di pihak lain, sebenarnya menjadi sebuah sarana dramatis yang sering dipergunakan dalam babad. Dengan kata lain, kehendak Tuhan pun ternyata diletakkan di bawah prinsip umum dimana sejarah dijelaskan lewat perilaku manusia. Maka tampaknya, imajinasi historis dalam babad pertama-tama berarti imajinasi moral.

Ide bahwa babad adalah sarana untuk imajinasi moral banyak menjelaskan cara penulisan babad dan sekaligus menghubungkannya secara langsung dengan literatur Jawa lainnya. Imajinasi moral adalah satu bahan dasar yang paling aktif yang dimiliki semua literatur ini dan ini menjelaskan keberadaan pola-pola imajinasi sastra yang sama. Yang membedakan babad dari bentuk imajinasi moral dan sastra yang paling tersebar dan berpengaruh, yaitu lakon wayang, adalah bahwa babad memiliki beberapa batasan. Babad harus tetap dibatasi oleh dunia dan kejadian nyata. Ini sangat banyak membatasi kebebasan di dalam mengatur latar belakang cerita. Terlebih lagi, babad mengaplikasikan imajinasi moralnya kepada orang-orang nyata. Meskipun orang-orang ini sudah lama mati, keturunan mereka adalah pemirsa babad dan mereka tidak akan terima jika nenek moyang mereka digambarkan terlalu hitam. Meskipun penggambaran tegas secara hitam dan putih biasanya tidak menjadi bagian dari model aslinya – baik dan buruk dianggap saling terjalin dengan fatal seperti pada Mahabrata, yang tidak diragukan lagi memberikan sebagian dari landasan filsafat dalam babad – dalam babad biasanya karakter yang paling jahat sekalipun menjadi sadar pada akhirnya sehingga mereka dapat keluar dari adegan dengan reputasi yang baik.

Penulis babad jelas bukanlah penguasa absolut di dalam kerajaan imajinernya. Dia ditekan oleh realita dan konvensi moral dan sastra. Dia harus mendapatkan penjelasan proses sejarah yang dapat diterima. Cara yang digunakannya cerdik. Dalam artian harafiah mbabad[2] dia membersihkan hutan fakta. Di dalam sebidang lahan yang telah dibersihkannya itu dia menanam ceritanya, yang pada dasarnya berkutat di sekitar satu orang. Satu orang ini biasanya bukan sang raja. Meskipun babad seharusnya merupakan tarikh dari penguasa saat itu dan nenek moyangnya, raja biasanya menjadi figur yang agak samar di latar belakang, sama seperti dalam kebanyakan lakon wayang. Ini sangat sesuai dengan statusnya yang tinggi. Yang sebenarnya menjadi “pahlawan” biasanya patih, orang kuat jaman itu, pemberontak atau orang penting atau sekelompok orang penting lain. Sejumlah kejadian historis yang berhubungan dengan karakter utama dipaparkan. Tindakan, motif, kejelekannya, dan juga kebaikannya diselaraskan dengan ide umum tetang apa yang seharusnya diperbuat oleh orang yang berada dalam posisinya. Seluruh kompleks ini kemudian berfungsi untuk menjelaskan jalannya kejadian. Semua fakta dan kejadian lain menjadi seperti kayu bakar yang disingkirkan ke pinggir, tapi masih memiliki fungsi penting untuk menjadi batas-batas kisah. Kisah-kisah ini dibentuk menjadi deretan dari kejadian-kejadian terpilih dan merupakan blok-blok dasar yang menyusun babad. Kisah-kisah ini dipisahkan dari satu sama lain oleh caesura yang ditandai dengan jelas, dimana di dalamnya kayu bakar dari kejadian-kejadian rutin seperti pernikahan dan pengangkatan bupati dikumpulkan menjadi satu. Waktu merupakan mata rantai utama antar kisah, tapi mata rantai ini sering dipatahkan untuk memfokuskan pada sang karakter utama, atau untuk menciptakan plot yang lebih memuaskan. Seringkali nubuat atau prediksi menyediakan ketegangan dramatis di antara adegan.

Karena imajinasi moral adalah penjelas utama, babad menjadi seperti deretan emblem yang dipasang pada jendela kaca berwarna. Maka tidak selalu jelas apakah seorang tokoh atau sebuah situasi historis yang berfungsi sebagai gaya bahasa untuk memaparkan ide-ide paten tentang kondisi manusia atau masyarakat, ataukah justru ide-ide ini yang membantu menjelaskan tindakan atau kejadian itu. Sehingga tidak terhindarkan terjadinya de-personalisasi terhadap tokoh-tokoh sejarah dan bahkan terjadi pula de-historisasi terhadap kejadian-kejadian. Seringkali imajinasi moral dan sastra menguasai sepenuhnya imajinasi historis. Kejadian-kejadian dipilih berdasarkan signifikansi moral atau diberi signifikansi moral. Kadang sebuah cerita tampaknya sengaja diciptakan sekedar untuk menyediakan signifikansi ini jika tidak ada. Gambaran pribadi yang bertolak belakang satu sama lain diberikan karena ceritanya membutuhkan kontras-kontras seperti itu. Kronologinya diputar balik untuk kepentingan dramatis dan bahkan renda-renda cerita kadang diisi dengan fakta-fakta yang terjadi bertahun-tahun sebelum atau sesudahnya hanya untuk menggarisbawahi pikiran utama cerita.

Dengan cara ini, Babad Tanah Jawi, setidaknya fragmen-fragmennya yang dianalisa dalam Bab VI, berhasil menciptakan keteraturan di tengah-tengah kekacauan. Babad ini berhasil membentuk sebuah komposisi yang tertata rapi dimana semua ujung yang terburai berhasil dijahit erat. Terlebih lagi, sebagai sebuah pelajaran dari masa lalu atau sebuah cermin bagi masa sekarang, babad ini mungkin telah berhasil menjawab semua pertanyaan yang mungkin ditanyakan orang-orang sejamannya. Sebutan terhadap babad ini sebagai sebuah tarikh dalam artian sempit, atau bahkan sebagai sebuah tarikh yang rusak kronologinya dan tidak lengkap faktanya, tidak hanya salah sasaran, tapi juga tidak adil dilihat dari sudut kreatifitas penulisnya. Tapi di mata sejarawan modern, penulis babad ini telah berdosa karena tidak selalu meluruskan fakta-fakta dan kronologinya. Terlebih lagi, penulis babad menggambarkan karakter dan bahkan menciptakan sendiri konfigurasi-konfigurasi sesuai dengan imajinasi moralnya dan pola-pola sastra yang ada. Dengan kata lain, penulis babad telah mengabaikan pembedaan yang sekarang konvensional, yaitu pembedaan antara fiksi dan fakta, antara kisah dan sejarah, dan sebagai gantinya malah menciptakan mitos. Tapi jelas bukan kesalahan sang penulis babad jika dia tidak mengenal Ranke.

Meskipun historiografi modern telah melewati tahap dimana sejarah dipandang sebagai sandiwara moral, sebagai ekspresi dari kehendak Tuhan, dari semacam Zeitgeist[3] atau hukum-hukum yang tak terelakkan dan sekalipun ia mungkin telah berhasil lolos dari usaha untuk mereduksinya menjadi ilmu sosial, ia masih harus menentukan apa yang pada akhirnya menegakkan keteraturan dalam apa yang ia tahu atau yang ia ingin tahu tentang masa lalu. Dan justru ketika ia telah membuang reifikasi abstraksi sosiologis dan kembali kepada fakta-fakta dan narasi, datanglah Hayden White yang berkata bahwa justru bentuk narasi itulah yang memaksakan tatanan fiksi kepada catatan sejarah.[14] Pembedaan antara fiksi dan fakta, ketika diterapkan pada kisah dan sejarah, tampaknya tidaklah setegas yang dipercayai kebanyakan sejarawan. Sebuah kisah tidak mesti merupakan sejarah, tapi sebuah sejarah pasti merupakan sebuah kisah.

Kebanyakan sejarawan tampaknya dengan setengah terpaksa mengakui ini dan dengan giat mereka berkutat dengan prosa yang ilmiah dan fakta-fakta yang terdokumentasi dengan baik. Tapi usaha untuk kembali ke masa depan menuju kemuliaan Neo-Rankean semacam itu justru menampakkan apa yang sebenarnya terjadi dalam praktek. Jika terjadi perdebatan antar sejarawan, yang mereka perdebatkan bukanlah fakta. Paling banter mereka hanya mengumpulkan fakta. Hampir tidak ada yang datang membawa sebuah fakta baru yang sulit didapatkan yang dianggap bisa memberikan penerangan yang sama sekali baru terhadap kejadian-kejadian yang dicoba untuk digambarkan oleh sejarawan. Penerangan baru dan perdebatan biasanya berasal dari interpretasi baru terhadap fakta yang sama dan dari dibongkarnya mitos-mitos umum, historis atau historiografis. Tapi dalam proses itu mitos-mitos baru pun tercipta. Konvensi-konvensi dari genre ini, sejauh mereka mengumpulkan makin banyak kesalahan historiografis yang diakui, tidak diragukan lagi telah mempertajam pemahaman historis kita. Penalaran[4] dalam babad sekarang tampaknya sama ketinggalannya – dan anehnya juga mirip – dengan rekan-rekan Belanda sejamannya, seperti misalnya “Batavia in 1940” karya Reverend W.R. van Hoëvell.[15] Di pihak lain, pengetatan standar dan ketakutan terhadap fiksi tidak hanya telah menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru kepada catatan sejarah, tapi juga mengakibatkan tersingkirnya dari wacana ini sejumlah pertanyaan yang ironisnya ditanyakan oleh para pelaku historis itu sendiri dan yang bisa menjelaskan tindakan mereka, dan, yang terakhir tapi bukan yang paling remeh, ini juga membatasi pertanyaan-pertanyaan terhadap bukti-bukti jenis tertentu, terutama bukti dokumenter yang bisa diandalkan. Seperti pada sebuah parlor game, pertanyaan  sudah  lebih dari separoh jawaban. Tapi ketika pertanyaan yang diajukan pun tidak melebihi separoh, hasilnya bisa diperkirakan.

Perenungan kembali membuat para sejarawan lebih tahu daripada pelaku-pelaku historis itu sendiri. Tapi jika di masa lalu kesempatan ini terutama digunakan untuk mengekspresikan penilaian moral terhadap para pelaku, sejarawan modern dengan logika dari rekonstruksinya cenderung untuk menampilkan pelaku-pelaku sejarah paling baik sebagai korban-korban yang tak berdaya menghadapi kekuatan-kekuatan yang tak mereka mengerti, atau paling buruk sebagai idiot-idiot yang tidak mengerti apa yang terlihat begitu jelas di mata sang sejarawan. Maka akhirnya sejarawan sebelum sejarawan terakhir di periode itu berdasarkan definisi ini menjadi idiot yang paling idiot. Seorang sejarawan mungkin tidak memiliki kebebasan seperti seorang novelis untuk menempatkan karakter-karakternya ke dalam ikatan eksistensial, tapi cara mengatur pelaku-pelaku seperti ini adalah sebuah contoh dari sarana sastra yang bahkan digunakan dengan sangat dramatis oleh penulis yang sangat sosiologis seperti Holtzappel dalam paragraf-paragraf penutup thesisnya.

Bahwa para sejarawan baik secara sadar maupun tidak menggunakan sarana-sarana sastra tidaklah begitu mengagetkan dibandingkan dengan keengganan mereka untuk mengakui bukti sastra atau bahkan untuk menggunakan analisa sastra terhadap teks-teks yang mereka gunakan sebagai sumber fakta. Masa lalu datang kepada kita dalam wujud kisah dan bukan dalam wujud fakta. Meskipun ini sebenarnya membutuhkan analisa sastra, praktek yang biasa dilakukan adalah langsung melompat kepada fakta setelah melakukan Quellenkritik sekedarnya. Dan memang ini memberikan kebebasan lebih bagi sang sejarawan untuk membentuk cerita berdasarkan pandangannya sendiri dan menetapkan subyeknya tanpa harus terlalu banyak diganggu oleh suara-suara subyeknya, yang cenderung untuk tidak hanya menjadi makin lantang, tapi juga tidak dapat dimengerti ketika diekspresikan dalam literatur. Mungkin saya sekarang akan hanyut dalam hiperbola saya sendiri dan menyatakan bahwa kesukaan para sejarawan terhadap fakta-fakta dokumenter ditimbulkan oleh keinginan rahasianya untuk menjadi penguasa khayalan di sebuah kerajaan yang nyata, tapi saya kira saya tidak perlu mengutip S. Freud untuk mengatakan bahwa konvensi-konvensi genre ini telah menyebabkan tak terjangkaunya sejumlah besar bukti oleh penyelidikan, seperti misalnya bukti sastra dari babad. Jika kita menginginkan dialog yang lebih kompleks dengan masa lalu Jawa, suara babad harus juga didengar. Tapi sebelum itu, dan ini adalah pertanyaan utama yang dibahas dalam Bab VI, kita harus mencari tahu bagaimana babad menggarap kembali dan merepresentasikan masa lalu. Sebuah jawaban terhadap pertanyaan ini tidak hanya akan membantu kita membaca babad sebagai sebuah teks, tapi juga akan melibatkan kembali babad ke dalam sebuah dialog dengan masa lalu Jawa, dan bukannya sekedar menggunakannya sebagai tambang fakta dan sumber sudut pandang yang tidak ada dalam sumber-sumber yang lebih “dapat diandalkan”.

Analisa ini tidak mungkin bisa dilakuian secara menyeluruh – saya bukan ahli dalam literatur Jawa – tapi setidaknya ini adalah sebuah permulaan. Maka dialog yang lebih kompleks dengan masa lalu Jawa seperti yang diinginkan tadi hampir belum tinggal landas dalam prakteknya. Dalam artian tertentu saya belum mempraktekkan apa yang saya khotbahkan dalam kata pengantar ini. Supaya tidak dianggap menuding kondisi historiografi saat ini sebagai biang keladi dari sodoran interpretasi saya yang mungkin tidak sesuai dengan realitas historis yang saya gambarkan sendiri dan sodoran tentang gambaran setempat yang tidak sesuai dengan keduanya, ijinkan saya menambahkan bahwa pertanyaan-pertanyaan yang diangkat di sini bagi saya tampaknya cukup penting untuk mendapat jawaban sementara. Sebab pertanyaan, seperti dalam pepatah-pepatah Cina kunonya Charlie Chan, adalah kunci bagi gerbang kebenaran. Hanya satu pertanyaan yang dapat menerima jawaban yang tegas di sini, meskipun untuk menjawabnya saya harus memparodi kesimpulan utama Nagteggal[17] untuk menghadirkannya. Orang Jawa bukan hanya pribadi-pribadi yang aktif dan nyata ada, tapi mereka juga memiliki historiografi yang aktif dan nyata ada. Lucunya, seolah orang Jawa sendiri pernah meragukan hal itu.


[1] “chronicle”, catatan sejarah.

[2] “menebang, membersihkan hutan”

[3] Semangat (geist) yang menjadi ciri sebuah jaman (Zeit).

[4] “reasoning”

Komentar ditutup.