METODE BERPIKIR MARHAENISME

METODE BERPIKIR MARHAENISME

Oleh: Wisnu Wardhana

  1. Pendahuluan

Tergolong oleh rasa tanggung jawab terhadap segenap penderitaan yang kita alami bersama, penderitaan bangsa dan Negara kita, ingin kami mengajukan bahan studi bagi kita semua. Suatu bahan studi untuk menyatukan gerak langkah perjuangan kita, keluar dari segenap penderitaan batin, sebenarnya, bahan ini bukanlah suatu bahan yang baru, akan tetapi kami sekedar menyusun kembali ajaran-ajaran perjuangnan marhaenisme dalam bentuk yang disesuaikan dengan perkembangan dan tantangan yang kita hadapi pada tahap perjuangan menghadapi neo-kolonialisme dan neo-imperialisme, yaitu imperialisme dan kolonialisme yang dijalankan melalui tangan-tangannya berupa bangsa sendiri.

Memang nekolim adalah suatu bentuk penjajahan yang baru dikenal oleh rakyat kita, oleh karena itu pada tahap-tahap pertama sangat membingungkan, sehingga kita tidak tahu siapa sebenarnya yang seharusnya menjadi kawan ataupun lawan. Kebingungan yang cukup mengorat-arit barisan progresif revolusioner terutama cukup dapat membuat keblinger orang-orang yang kurang teguh imannya. Namun, itu takkan bertahan lama dalam waktu yang relative pendek, pendek dalam ukuran revolusi, rakyat kita yang cukup terdidik oleh pengalaman menghadapi kolonialisme dan imperialisme dan subversi dan infiltrasinya, maka rakyat kita segera sadar siapa yang harus dihadapi.

Melihat pengalaman pahit yang telah lalu, maka kami merasa bahwa porak-porandanya barisan kita adalah karena dilanda oleh subversi, infiltrasi nekolim dan pengkhianatan PKI.

Terutama karena kurangnya keseragaman metode berpikir anggota-anggota barisan kita. Sehingga masing-masing mengambil tafsiran, kesimpulan dan sikap sendiri-sendiri yang bersimpang alur saling menghantam sesama kawan, lupa pada kawan bersama. Oleh karena itu dengan ini kami harapkan adanya kesatuan tafsir ideologi, kesatuan tafsir ideologi berarti kesatuan landasan, kesatuan tujuan, kesataun langkah. Masing-masing individu dan kelompok dalam barisan kita dapat mengembangkan kreasi-kreasinya, tidak dogmatis dalam menghadapi persoalan-persoalan perjuangan dalam barisan masing-masing menuju sasaran bersama dalam derap langkah yang harmonis. Dan dapat menilai keadaan secara obyektif siapa benar siapa salah. Sehingga tidak terjadi penilaian perorangan secara like and dislike suka dan tidak suka pada orangnnya, akan tetapi kita nilai person-person itu dengan norma-norma garis perjuangan dalam setipa tahap-tahap perjuangan, jadi metode berpikir marhaenisme pada pokoknya ialah untuk:

  1. Menyatukan tafsir ideologi.
  2. Menghilangkan caa berpikir dogmatis.
  3. Menggunakan kreasi-kreasi gerakan dengan satu tujuan dengan satu langkah.
  4. Latar Belakang
    1. Faktor-faktor yang mempengaruhi cara berpikir seseorang

Di jaman perburuan, pertanian dan peternakan yaitu jaman manusia purba yang sangat primitive manusia hanya bias berpikir secara sepotong-sepotong. Mereka tidak dapat melihat secara luas, tidak bias membuat rencana hidupnya secara panjang. Segala sesuatu diangan-angankan seperti mereka meng-angankan datangnya hujan buat tanaman mereka, mereka meng-angankan datangnya musim panas. Dengan idealisnya mereka menyembah berhala unutk mendatangkan hujan. Agak maju sedikit adalah berpikir idealis.

Sesudah manusia mengenal alat-alat, lebih maju lagi manusia mengenal kebutuhan hidupnya dengan membuat kerajinan tangan, maka pada saat itu manusia juga mengalami kemajuan cara berpikir. Timbullah berpikir secara realis, manusia sudah bias melihat kenyataan-kenyataan secara obyektif. Akal manusia berkembang maju.

Kemajuan akal, meningkatnya intelegensia juga mempengaruhi cara berpikir seseorang. Cara berpikir anak-anak lain dengan cara berpikir orang dewasa, cara berpikir anak sekolah dasar lain dengan cara berpikir anak sekolah lanjutan pertama. Disamping memang ada perbedaaan yang disebabkan karena perbedaan kecerdasan seseorang. Pada pokoknya perbedaan intelegensia.

Seorang berpikir tentulah ditentukan oleh kebiasaan-kebiasaan atau lingkungan hidupnya. Seorang pegawai negeri yang terbiasa dengan cara formal birokratis tentulah lain dengan cara berpikir seorang pedagang yang segala sesuatunya dengan motif mencari keuntungan pribadi (perhitungan rugi-laba). Lain pula dengan cara berpikir juri yang segala sesuatunya berdasarkan landasan-landasan hukum formal, lain pula dengan cara berpikir seorang guru, buruh pabrik, polisi dan sebagainya.

Disamping itu, semua orang berpikir menurut kepentingannya, menurut vestednya. Seorang majikan yang mempunyai modal tentulah berpikir untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dari modal yang dimilikinya. Sebaliknya seorang buruh yang bekerja pada majikannya tentulah ingin mendaptkan upah yang setinggi-tingginya. Kaum imperialis kapitalis ingin agar barang produksinya laku di Indonesia, sedang rakyat Indonesia ingin membuat barang kebutuhannya sendiri.

Orang komunis lain dengan orang pancasilais lain pula dengan kaum reaksioner kanan. Jadi falsafah hidup seseorang tentu juga mempengaruhi cara berpikirnya. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa cara berpikir seseorang itu dipengaruhi faktor-faktor:

  1. Caranya orang ber-reproduksi, mencari makan
  2. Tingkat intelegensia, tingkat kecerdasan.
  3. Pengalaman hidup, lingkungan hidupnya atau kebiasaan-kebiasaanya.
  4. Kepentingan atau vested, sehingga orang mesti memihak kepentingannya.
  5. Falsafah atau pandangan hidupnya.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut kita dapat menilai dan mengerti serta memahami tindakan-tindakan seseorang, mengapa dia begitu dan mengapa dia berbuat begini. Demikian juga kita yang mengetahui faktor-faktor tersebut secara tidak langsung juga terpengaruh. Oleh karena itu sangat penting berjuang bersama rakyat atau orang menempatkan dirinya berada dimana, sehingga vested kita yang negatif minimal dapat ter-eliminer atau diintegrasikan dengan kepentingan rakyat.

  1. Perkembangan cara berpikir

Di jaman purbakala manusia primitif berpikir secara pragmatis, agak maju sedikit orang berpikir secara idealis atau idealis pragmatis, kemudian ditingkat yang lebih maju orang berpikir secara realis, yaitu sudah dapat melihat secara obyektif, kemudian cara berpikir realis ini berkembang menjadi dua aliran yaitu: realis pragmatis dan realis dialektis.

Pandangan realis pragmatis sekarang lebih popular dengan realis pragmatis praktis. Cara berpikir ini memang sudah dapat melihat kenyataan-kenyataan secara obyektif, tetapi belum atau tidak menghubungkan dengan sebab-sebabnya. Tidak dapat melihat hubungan persoalan satu dengan yang lainnya. Dianggapnya masing-masing persoalan kehidupan itu tidak ada saling keterkaitan, dan dapat diselesaikan secara sepotong-sepotong, cara sepotong-sepotong ini kelihatannya sangat praktis. Mereka itu tahu bahwa rakyat itu butuh makan, maka secara praktis penyelesaiannya import makanan, tanpa dipikir bahwa unutuk import itu kita harus memikul hutang dengan bunga yang tinggi. Agak maju sedikit mereka yang mau menaikkan produksi beras, tanpa dipikirkan bahwa produksi beras di sulawesi dilempar ke singapura dan kembali ke Jakarta sebagai beras import.

Mereka tidak mau melihat adanya saling hubungan antara pengiriman message sending dari Amerika di irian barat dan penanaman modal amerika dalam proyek lembaga disana, sebenarnya hal ini berhubungan dengan rencana pleosit (bei) tahun 1969 Amerika tidak mahu tahu bahwa perang Vietnam ada hubungannya dengan keinginan Amerika untuk mempertahankan live linernya dan khususnya Amerika dengan menguasai Asia tenggara. Mereka tidak mahu tahu bahwa bajirnya kebudayaan-kebudayaan moral sekarang ini ada hubungannya dengan perluasan pasaran-pasaran bagi hasil industri seperti tape recorder, film, obat-obatan, walkman, ganja, video cassette dan sebagainya yang memberikan keuntungan kepada kapitalis-kapitalis asing. Ditambah lagi hancurnya unsure patriotisme dari orang yang sudah terbius oleh kebudayaan amoral itu.

Pandangan realis dialektis selalu melihat dan mencari hubungan antara persoalan-persoalan yang ada, sehingga dapat mengetahui sebab-sebabnya suatu kejadian  atau keadaan, sampai mengetahui sebab-sebab pokoknya akan tetapi realis dialektis masih di bagi lagi menjadi dua lagi yaitu REALIS DIALEKTIS UTOPIS dan REALIS DIALEKTIS REVOLUSIONER sesudah mengetahui sebab-sebabnya suatu keadaan atau persoalan maka dialektis tidak tahu bagaimana cara penyelesaiannya. Tidak tahu bagaimana merombaknya sehingga mengharap adanya perombakan secara angan-angan, tanpa usaha sebaliknya yang dialektis revolusioner sekaligus mengetahui dan melaksanakan adanya perombakan berusaha secara aktif dan rasional mengadakan perombakan-perombakan.

Denagn demikian seorang marhaenis pastilah cara berpikirnya adalah REALIS DIALEKTIS REVOLUSIONER dan memihak rakyat

Skema perkembangan metode berpikir

Pragmatis ………….. pragmatis idealis realis

  1. Metode berpikir marhaenis

Di zaman perburuan, pertanian dan peternakan yaitu zaman

  1. Metode be

Komentar ditutup.