Dengan Air mata Bercucuran

Dengan Air mata Bercucuran

Chalik Hamid

Langkah, rezeki, pertemuan dan maut. Kata orang kehidupan itu berkisar pada empat kata ini. Dimana engkau akan berada besok atau lusa, engkau tidak akan bisa menghitungnya. Berapa rezekimu, apakah engkau akan menjadi orang kaya atau orang miskin, engkau tidak bisa mengetahuinya. Dengan siapa engkau akan menjalin hidup, rukun atau bentrokan, siapapun tidak akan bisa menduga sejak semula. Dimana engkau akan menemui ajalmu, di jalan, di dalam kereta api, di lembah gunung atau di dalam kamar mandi, engkau pasti tidak mengetahui.

Seperti yang terjadi pada orang lain, aku tidak luput dari empat kata-kata itu. Setelah seperempat abad hidup di sebuah negeri kecil di daerah Balkan, akhirnya aku tercampak di sebuah negeri kecil pula di Eropa Barat. Negeri Belanda, Holland.

Sebenarnya yang akan kuceritakan, bukanlah bagaimana aku bisa terlempar ke Holland, atau berapa rezekiku, atau bagaimana kehidupan keluargaku dan kapan aku akan menemui ajalku. Yang akan ku ceritakan adalah selingan kecil dalam kehidupan ini, yang kukira perlu juga kalian ketahui.

Sesudah dua-tiga tahun di negeri Belanda, aku sudah punya izin tinggal, anggota keluarga sudah ada di sini, sudah punya rumah sendiri, rumah sewaan tentunya. Karena uang yang kuterima dari Jawatan Sosial tidak mencukupi untuk biaya kehidupan kami, maka aku coba-coba mencari kerja, walaupun aku tahu pekerjaan itu susah untuk diperoleh, karena usiaku sudah cukup tua. Sesudah mundar-mandir ke sana-ke mari, entah bagaimana, mungkin karena nasibku agak baik, aku mendapat pekerjaan di sebuah restoran. Walaupun kerja hanya setengah hari, tapi hasilnya kan bisa juga membantu kehidupan rumah tangga kami. Bisa membantu keperluan kedua anakku yang masih sekolah.

Aku bekerja dari jam lima sore sampai jam sebelas malam. Lima hari dalam seminggu. Pekerjaan pokokku mencuci piring kalau langganan sudah selesai makan. Kemudian menusuki sate, mengaduk wajan yang penuh dengan jenis-jenis daging masakan Indonesia. Jadi, pekerjaan utamaku di dapur, bukan di depan. Di dapur ada juga pekerja lainnya. Seorang wanita yang datang dari Indonesia. Namanya Irma. Dia masih muda. Kira-kira separoh dari umurku pada waktu itu. Sekitar 27 tahun. Dia datang ke negeri Belanda atas ajakan temannya, orang Indonesia yang sudah lama tinggal di Holland. Dia datang kesini karena tidak ada pekerjaan di Indonesia. Teman-temannya banyak yang pergi ke negeri-negeri Arab, ke Hongkong, ke Malaysia dan negeri-negeri lainnya. Dia duluan masuk bekerja di restoran itu. Dia sudah bekerja selama dua tahun, ketika aku mulai masuk ke situ. Pekerjaan utamanya menyendoki makanan ke dalam piring-piring untuk dihidangkan ke depan. Di samping itu dia juga mengolah berbagai macam bumbu untuk masakan. Pekerja-pekerja lainnya adalah keluarga pemilik restoran itu sendiri.

Kalau selesai bekerja, kami sering pulang sama-sama. Kebetulan bis yang kami tumpangi jurusan yang sama pula. Karena rumahya agak masuk ke jalan kecil, maka aku sering mengantarnya sampai ke depan pintu. Hubungannya dengan aku semakin akrab. Dia memperlakukan aku sebagai bapak dan aku memperlakukannya sebagai anak. Irma kuperkenalkan juga pada teman-temanku, baik pria maupun wanita. Kadang-kadang mereka bepergian bersama. Masuk toko keluar toko, melihat barang-barang yang ada. Mereka pergi juga ke bioskop menonton film bersama-sama. Ke bioskop aku tak pernah ikut, pekerjaan yang tak kusukai. Aku cukup melihat film di TV.

Irma banyak cerita tentang keadaan di Indonesia, yang aku sendiri sangat sedikit mengetahuinya, karena aku sudah hampir 30 tahun tidak mengunjungi negeri itu. Dari cerita yang banyak itu, aku hanya menganggukkan kepala tanda setuju, walaupun dalam hatiku terus membantah.

“Untunglah pak Harto berhasil membasmi komunis di Indonesia, kalau tidak , kita tidak bisa membayangkan bagaimana Indonesia sekarang ini”, demikian Irma pada suatu hari memulai ceritanya. “ Komunis itu sangat jahat. Orang-orang komunis suka membunuhi orang lain. Entah berapa sudah jumlahnya yang dibunuhi oleh orang-orang komunis”, demikian Irma dengan penuh kesungguhan.

“Darimana dan bagaimana Irma bisa mengetahuinya?”, tanyaku pada suatu hari.
“Banyak bukti-buktinya”, katanya. “Setiap tahun, pada bulan September, kami melihat film yang menggambarkan kekejaman orang-orang komunis itu. Suratkabar juga menulis tentang itu. Guru-guru kami juga sering bercerita mengenai kekejaman itu”, demikian Irma meyakinkan aku.

Sesak juga sedikit nafasku mendengar semua ucapan Irma itu. Tapi aku berusaha mendewasakan diriku. Aku bisa memahami dalam alam bagaimana Irma hidup di Indonesia. Aku harus membantu Irma. Aku memahami kedatangannya ke negeri Belanda ini untuk mencari nafkah, untuk menghidupi ibu-bapak dan adik-adiknya. Kadang-kadang aku memberinya pakaian yang sudah tidak bisa lagi dipakai oleh anak-anak dan isteriku. Pakaian bekas itu ia kirimkan ke Indonesia. Adik-adiknya merasa senang dan puas menerima kiriman itu. Pernah beberapa kali Irma meminjam uang padaku untuk tambahan membayar sewa kamarnya. Ketika ia akan membayar, sering pula kukatakan agar tak usah dibayar. Orang-orang seperti dia ini memang perlu ditolong dan jumlahnya sangat banyak. Dia salah seorang korban Orde Baru yang memutar balikkan kebenaran sejarah. Rezim fasis Soeharto yang membunuhi ratusan ribu rakyat Indonesia, tetapi kepada generasi muda ditanamkan seolah-olah kaum komunislah yang buas, kejam, pembunuh dan tak berperi kemanusiaan.

“Kalau saya sudah lahir dan sudah besar di zaman berkecamuknya komunis itu, saya pasti turut membasmi orang-orang komunis yang jahat itu”, Irma berkata pada suatu malam ketika kami pulang bersama dari pekerjaan.

Terus terang, aku tidak mau membantahnya. Aku merasa takut kalau-kalau ia menuduh aku sebagai orang pengecut yang membuang separoh dari usia di luarnegeri. Aku takut kalau dikatakan sebagai perantau abadi. Orang yang tidak mau turut memikirkan perkembangan negerinya sendiri. Yang kukagumi dari Irma, ia berani mengemukakan pendapatnya, terlepas itu benar atau salah. Apalagi ia baru beberapa tahun mengenalku. Usahaku yang utama adalah menunjukkan kejujuran. Aku punya prinsip bahwa kebenaran itu pasti muncul di permukaan bumi Indonesia. Aku berusaha membantunya agar ia berhasil mengumpulkan uang. Menurut Irma kalau uangnya sudah agak lumayan, ia akan pulang ke Indonesia. Dengan uang itu ia akan berusaha memebuka sebuah restoran kecil agar bisa menghidupi keluarganya. Dari omongannya bisa kuketahui bahwa ia tidak punya cita-cita yang terlalu tinggi. Biasa-biasa saja. Hidup sederhana. Ia tidak ingin menjadi orang kaya raya, yang menghisap bangsanya sendiri.

Pernah pada suatu hari, kugali isi hatinya. Aku ingin tahu bagaimana pendapatnya mengenai orang-orang kaya di Indonesia.

“Irma, bagaimana pendapatmu mengenai jalan tol yang ada di Indonesia?. Mengapa didirikan bangunan di jalan tol itu untuk mengutip uang dari setiap kendaraan yang lewat. Irma kan sudah melihat sendiri di Eropa ini tidak ada bangunan yang menghadang jalan untuk mengutip uang”.

“Jalan tol itu kan dibangun oleh ibu Tutut. Dia mengeluarkan banyak biaya untuk membangun jalan itu. Sekarang jalan itu sudah selesai. Lalulintas sudah lancar. Ya, wajar saja kalau ibu Tutut mengutip uang untuk menggantikan modalnya. Dan menurut pendapat saya, itu akan berjalan lama, karena jalan itu juga membutuhkan pemeliharaan. Pemeliharaan jalan dilakukan terus-menerus. Jadi bisa saja pengutipan uang itu akan dilalukan terus-menerus”.

Kasihan aku melihat jalan fikiran anak ini. Ia melihat “modal” ibu Tutut hanya dari permukaannya. Ia tidak mampu meninjaunya sampai ke dalam isinya. Yang agak aneh lagi, bagaimana pandangan Irma atas terjadinya korupsi di Indonesia. Korupsi yang terjadi pada setiap jawatan dan pegawai di semua tingkatan.
“Negara kita belum maju, Pak. Kita masih banyak kekurangan. Para karyawan itu gajinya sangat sedikit. Tidak mencukupi. Bukankah kita sekarang dalam tahap pembangunan. Oleh karena itu Pak Harto sering menganjurkan agar kita mengencangkan ikat pinggang. Kita harus puasa Senin dan Kemis, demi penghematan. Karena tidak cukup, maka para pegawai itu melakukan korupsi. Tidak ada jalan lain. Polisi, tentara dan para jenderal, kebutuhannya lebih banyak lagi. Mereka itu penjaga negara. Karena gaji mereka tidak mencukupi, maka mereka terpaksa melakukan korupsi. Mereka perlu sehat dan kuat. Kalau tentara kita tidak kuat, maka musuh akan meremehkan kita. Musuh akan mentertawakan kita dan mereka dengan mudah menghancurkan negara kita”.

Hampir meledak tawaku mendengar pendapat Irma. Tapi tawa itu aku tahan, demi menjaga perasaannya. Tugasku yang utama hanyalah membantunya dari segi materiel, agar usahanya di masa depan bisa tercapai. Uang gajinya yang ia kumpulkan agar jangan terlalu banyak diboroskan. Kalau Irma ulangtahun, kubelikan ia celana dan baju. Kalau sepatunya sudah rusak, kuberi ia hadiah. Sering-sering juga ia kubelikan karcis bis.

Pada suatu hari di Amsterdam terjadi razia di restoran-restoran dan rumah makan. Banyak pekerja yang ditangkap karena tak punya izin tinggal dan izin bekerja di Holland. Hari sial itu tak bisa dielakan. Ia juga menimpa diri Irma. Irma turut ditangkap. Ia hanya memiliki izin sebagai turis selama tiga bulan, padahal Irma sudah tinggal di Belanda selama beberapa tahun. Jadi, selama ini Irma tinggal di Amsterdam sebagai penduduk gelap. Menurut hukum yang berlaku di Belanda, orang-orang gelap ini dalam waktu singkat harus meninggalkan negeri ini. Irma mematuhi ketentuan itu, daripada menimbulkan persoalan yang lebih rumit. Ia memahami bahwa perbuatannya sebagai penduduk gelap itu, melanggar hukum. Sudah beberapa hari ini ia membeli barang-barang kecil untuk hadiah bagi bapak, ibu dan adik-adiknya. Irma juga membeli alat-alat dapur untuk memudahkan pekerjaannya, kalau ia jadi membuka restoran kecil di Indonesia. Tiket pesawat terbang juga sudah beres.

Besok Irma sudah harus berangkat ke Indonesia. Tapi ada sesuatu yang terlupa. Irma belum membeli minyak parfum. Ini sangat berguna untuk melancarkan usaha Irma dalam membuka restoran. Parfum itu bisa dihadiahkan pada istri lurah dan para istri pejabat yang mengeluarkan surat-surat izin. Ini harus dibeli, bagaimanapun juga. Di Indonesia harga barang ini sangat mahal dan kwalitetnya juga tidak begitu tinggi. Di Eropa barang-barang ini masih asli dan harganya juga boleh dikatakan murah. Oleh karena itu, sore ini Irma bersama temanku, Bambang, pergi membeli parfum. Sampai jauh malam mereka belum pulang. Berulang kali aku menelpon, tapi tidak ada yan mengangkat. Mungkin Bambang mentraktir Irma makan malam, seperti aku mengundang Irma makan bersama keluargaku lima hari yang lalu.

Sesuai dengan rencana, bersama dengan keluarga, pagi-pagi kami hampiri Irma. Ia terus menangis sampai matanya merah dan bengkak. Barang-barang Irma kami muat ke taxi yang kami sewa untuk mengantar ke lapangan terbang. Teman Irma serumah juga turut mengantar. Sepanjang jalan dari Amsterdam ke lapangan terbang, Irma terus menangis terisak-isak. Aku dan keluarga sudah berusaha menyabarkannya agar jangan menangis, tapi Irma terus menagis dan menangis. Ia membisu, tidak berkata, hanya menyandarkan kepala pada temannya. Matanya ditutupi dengan saputangan yang sudah basah.

Setibanya di lapangan terbang, kami angkat barang-barang Irma ke ruang tunggu, kemudian menyerahkannya pada petugas di sana. Berat bagase Irma tidak melebihi ketentuan, jadi tak perlu membayar. Waktu memang sudah tidak banyak lagi. Namun Irma terus menangis.

“Sudahlah Irma, engkau tak usah menangis”. Aku berusaha membujuk. “Ada massa bertemu dan ada masa berpisah. Di negeri Belanda Irama sudah punya banyak sahabat, tapi di Indonesia Irma juga punya banyak teman. Irma bisa ketemu bapak, ibu dan adik-adik. Juga jangan lupa menemui teman yang alamatnya sudah saya beri pada Irma. Mungkin orang itu bisa juga membantumu”.

Saat berpisah sudah tiba. Irma harus menyerahkan pasport dan melewati tempat pemeriksaan. Irma memeluk dan menyalami kami satu-persatu. Tangisnya makin menjadi-jadi. Terakhir ia memelukku dengan erat serta mencium kening dan pipiku.

“Selamat tinggal, Pak.” bisiknya. “Saya menangis, bukan karena harus pulang ke Indonesia. Indonesia adalah tanah air kita, tanah air nenek moyang kita. Saya menangis karena terharu atas kebaikan bapak. Bapak sudah banyak membantu saya selama berada di negeri Belanda. Saya tidak menduga bapak seperti orang yang saya bayangkan. Saya menduga orang komunis itu kejam dan buas. ternyata bapak adalah seorang komunis. Tadi malam pak Bambang banyak cerita tentang bapak dan teman-teman bapak yang berdiam di Belanda karena tidak bisa pulang ke Indonesia. Mereka itu adalah orang-orang komunis yang menjadi korban kebuasan rezim Soeharto”.

Perlahan-lahan Irma melepaskan pelukannya. Airmatanya makin bercucuran. Tak terasa, ternyata pipiku juga basah oleh airmata. Rupanya aku juga diliputi haru yang tak tertahankan.

“Selamat jalan Irma, salam untuk semua keluarga”.
Dari jauh Irma sempat melambaikan tangan. Ia pulang dengan airmata yang bercucuran. Benaknya sedikit mengalami perubahan setelah melihat berbagai kenyataan.

Komentar ditutup.