Apa Yang Telah Diperbuat Sosialisme Untuk Rakyat Kuba?

Apa Yang Telah Diperbuat Sosialisme Untuk Rakyat Kuba?

Mumia Abu-Jamal (1998)

Fundamen dari setiap negara adalah pendidikan bagi kaum mudanya”—Diogenes (412-323 SM)

Kunjungan Paus pada akhir Januari 1998 ke daratan Kuba menyeret pers-pers barat pada lingkaran histeria, dimana secara implisit berita-beritanya umumnya penuh dengan harapan bahwa kunjungan Paus Johannes Paulus II akan menjadi tanda keruntuhan penguasa Kuba.

Di saat orang-orang tidak mengerti apa yang akan terjadi di masa depan, harapan bahwa  kerakusan pasar yang penuh konsumerisme material akan menjadi bahan bakar yang mengembalikan Kuba pada kemurahan-kemurahan yang ditawarkan pada masa-masa sebelum revolusi, dimana saat itu pulau ini menjadi lokasi pelacuran di Karibia, dan gudang yang murah, yaitu buruh-buruh bisa dihisap.

Selama 35 tahun, pulau yang relatif kecil ini secara gigih berjuang untuk bergerak pada jalannya sendiri, menentang kekuasaan besar utara, Amerika Serikat. Karena ketakutan akan upaya menentukan nasib sendiri inilah yang menyebabkan Amerika Serikat selama lebih dari seperempat abad terus mencoba mencekik Kuba.

Pada pidato luar biasa untuk menyambut Paus yang dibuat oleh Fidel Castro, Sang Revolusioner berusia 71 tahun ini mengutuk blokade sebagai “pembantai manusia (genocide) perlahan”. Dia berbicara tentang masa mudanya di sekolah Yesuit dimana dia diajarkan kebencian dan penentangan atas kaum non-katholik, seperti orang Hindu, Budha dan Islam. Dia mengingat bagaimana dia masuk kuliah (dimana hanya orang-orang kaya dan berpunya yang boleh masuk) dan bertanya-tanya dengan heran, “dimana kaum kulit hitamnya?”

Gereja pada masa mudanya tidak bisa merubah keadaan memalukan itu, tapi revolusi telah melakukannya. Sekarang, meskipun harus menghadapi penindasan dan blokade yang terus-menerus dari Amerika Serikat, pendidikan adalah gratis bagi semua rakyat Kuba. Bahkan, tingkat melek huruf di Kuba (96%) merupakan yang tertinggi di dunia.

Pelayanan kesehatan, juga gratis di Kuba, atau bagi yang hanya bisa membayar dengan biaya yang sangat murah.

Gereja tidak bisa melakukan ini; revolusilah yang bisa. sesungguhnya, jika “demokrasi” merupakan semacam berkah suci, kita tidak perlu mempertimbangkan Kuba, tapi marilah kita melirik ke Amerika Serikat.

Dengan kebijakan publik yang disetir oleh kepentingan pengusaha-pengusaha besar, yang secara konsisten mengurangi program-program sosial bagi kaum miskin, apakah pendidikan yang lebih tinggi bisa dirasakan oleh mayoritas oleh rakyat Amerika? Juga dengan pelayanan kesehatannya? Di Amerika Serikat, hal-hal tersebut hanya tersedia bagi yang mampu membayar, sangat berbeda dengan Kuba, yang selalu dicaci-maki oleh pers-pers barat karena pelanggaran hak azasi manusianya. HAM semacam apa yang kita pelajari dari hal semacam ini? HAM macam apa yang mereka terapkan untuk pelayanan kesehatan?

Di sini (Amerika Serikat, pent), dollar-lah yang mengatur manusia. Di Kuba, manusia merupakan pusat organisasi sosial dan politik.

Sangat gampang bicara soal permasalahan-permasalahan sosial, tapi adalah suatu hal yang berbeda jika mampu melakukan sesuatu tentang itu.

Kuba, dibawah Castro, walau di blokade yang secara de facto dalam situasi perang, mampu menggunakan sumber dayanya yang sangat minim yang tidak hanya bicara di tingkatan permasalahan-permasalah sosialnya sendiri, tapi juga di tingkat internasional. Pada tahun 1976, Kuba mengirimkan tentaranya ke Angola, dimana di Coito Carnivale, kekuatan ini mengalahkan tentara Afrika Selatan, yang membuka jalan bagi berakhirnya rejim Apartheid dan mengukuhkan ANC sebagai satu kekuatan politik di wilayah tersebut. Castro dengan bangga berseru, “Kami bukan hanya bangsa Amerika Latin; tapi juga bangsa Afro-Amerika”.

Presiden Kuba Fidel Castro Ruz pantas dijuluki sebagai pendeta sekuler yang telah bertindak menurut kekuasaan negaranya untuk menghancurkan penghinaan dan ketimpangan terhadap orang miskin. Bangsa tersebut boleh saja diacak-acak (ragged), tapi belum terkalahkan. Dia tidak hanya bicara, tapi telah mempraktekkan keyakinannya akan revolusi sosialis dan restorasi terhadap hak mendasar manusia yang tidak terbayangkan di ruang besi kemakmuran Barat. Siapa lagi yang telah melakukan ini bagi kaum miskin? (selesai)

* * *

Apakah Kuba Negara Demokratis?

Sumber: http://www.poptel.org.uk/cuba-solidarity/index.html

Penerjemah: Mohammad Rozak

Revolusi Kuba dimulai dengan perjuangan demokrasi melawan kediktatoran Fulgencio Batista. Revolusi ini juga merupakan suatu perjuangan demokrasi yang dalam cakupan luas untuk memenangkan hak-hak rakyat Kuba atas kedaulatannya dan berhak menentukan masa depannya sendiri.

Pada masa revolusi tumbuh berbagai organisasi massa rakyat yang pada saat sekarang ini berpengaruh pada keseluruhan masyarakat Kuba. Organisasi-organisasi ini meliputi serikat-serikat buruh, Federasi Perempuan Kuba, Perhimpunan Nasional Petani Kecil, dan yang terpenting Komite Pertahanan Revolusi. Keseluruhan organisasi-organisasi ini mempunyai jumlah keanggotaan yang luar biasa yaitu kira-kira 95% dari jumlah pemilih potensial mereka.

Organisasi-organisasi rakyat ini merupakan tulang punggung rakyat Kuba untuk berpartisipasi dalam level tinggi dalam pengambilan keputusan yang akan mempengaruhi kehidupan sehari-harinya. Tapi Kuba juga didukung sebuah sistem pemilihan demokrasi langsung yang unik yang sangat dibanggakan oleh pemerintah Kuba, yang dengan alasan yang bisa dipertanggungjawabkan, merupakan negara paling demokratik di dunia.

Sistem di Kuba ini berbasis pada hak pilih umum bagi orang dewasa yang sudah berusia 16 tahun ke atas. Tidak seorangpun yang dilarang terkecuali narapidana dan orang-orang yang telah meninggalkan Kuba. Jumlah pemilih yang datang pada keseluruhan wilayah selalu berkisar 95% dari keseluruhan yang memenuhi syarat.

Pemilihan langsung diadakan juga untuk dewan Kotapraja, Propinsi dan Dewan Nasional, yang merupakan wujud dari parlemen Kuba.

Kandidat yang ikut pemilihan bukan dipilih oleh komite-mite kecil maupun partai-partai politik. Tidak satupun partai politik, termasuk Partai Komunis Kuba, yang diijinkan untuk mencalonkan atau berkampanye atas calon yang sudah ada. Kandidat-kandidat tersebut dicalonkan oleh perhimpunan-perhinmpunan/dewan arus bawah (grass root) dan oleh komisi pemilihan yang merupakan representasi seluruh organisasi-organisasi massa yang ada.

Pemilu kotapraja merupakan landasan bagi struktur politik Kuba. Mereka merupakan wakil-wakil yang berwibawa di daerahnya dan yang terpilih karena dilatarbelakangi oleh integritasnya, kepandaiannya, kerja keras dan kejujurannya.

Pemilihan untuk dewan propinsi dan nasional (parlemen regional maupun nasional Kuba) menerapkan prosedur yang berbeda. Proses pengusulan untuk menjadi anggota Majelis Nasional melibatkan usulan dari dewan kotapraja.

Sebagai tambahan untuk penerimaan nominasi dari berbagai organisasi dan lembaga-lembaga yang berbeda, Komisi Pencalonan mengadakan proses konsultasi yang mendalam sebelum melakukan pencatatan akhir. Pada pemilu Februari 1993, mereka berkonsultasi dengan 1,5 juta orang dan menetapkan antara 60-70 ribu orang kandidat yang potensial sebelum merampingkannya menjadi 589 orang.

Proses pencalonan dan partisipasi yang besar dari rakyat pada pemilu yang terakhir secara nyata menunjukkan bahwa wakil-wakil yang masuk dalam parlemen Kuba adalah orang yang memperoleh dukungan publik yang massif. (selesai)

Apakah Castro Seorang Diktator?

Setiap orang yang menjadi wakil di parlemen Kuba, termasuk Fidel Castro, sewaktu-waktu harus siap ditarik kembali (recall) dan secara hukum harus memberi laporan pada massa pemilihnya sekali dalam 6 bulan. Jika Castro seorang diktator, mengapa dia memperoleh dukungan besar dalam pemilihan? Dan mengapa posisinya sebagai presiden negeri tersebut diputuskan oleh parlemen dan anggota-anggota kabinetnya juga dipilih oleh parlemen?

Di bawah ini ada beberapa fakta tentang pemilu 1993 untuk Dewan Nasional:

Pemilu di Kuba merupakan momentum pertunjukan massif perlawanan dan persatuan rakyat Kuba dalam menghadapi blokade Amerika Serikat.

99% dari jumlah pemilih menggunakan haknya.

7% suara rusak.

Dari 589 wakil, 80% dari mereka terpilih untuk pertama kalinya. Mereka rata-rata berusia 43 tahun.

77% mereka adalah pria dan 23% lainnya wanita.

59 orang wakil berasal dari petani atau buruh pertanian.

46 orang buruh manual atau industri.

23 orang merupakan pimpinan-pimpinan serikat buruh.

23 orang intelektual, seniman dan journalis.

29 orang guru dan spesialis, 10 orang pimpinan-pimpinan mahasiswa dan pelajar.

*

(selesai)

Komentar ditutup.