BOM DI BALI, ISLAM DAN TERRORISME

BOM DI BALI, ISLAM DAN TERRORISME

Diskusi Ulil Abshar-Abdalla dan Abu Bakar Ba’asyir dll.

Diskusi : Ulil Abshar-Abdalla dan Abu Bakar Ba’asyir dll.

Tentang : Bom di Bali, Islam dan terrorisme

Pengantar: Berikut di bawah ini disajikan transkrip diskusi yang melibatkan Ulil Abshar-Abdalla dan Abu Bakar Ba’asyir, disiarkan Radio 68H (Jakarta) dan jaringannya. Transkrip ini dikirim oleh Bimo Nugroho (dari komunitas Utan Kayu) dan sudah disiarkan oleh sejumlah mailing-list pada tanggal 22 November 2002.

MODERATOR: Pembicaraaan tentang siapa dalang peledakan bom Bali bukan hanya menjadi isu nasional, tapi juga pembicaraan dunia. Kita tidak hanya melihat di media lokal, menjadi headline setiap hari, tapi juga media internasional. Saya ingin fokus pada beberapa hal penting, misalnya ketika Barat langsung menuduh Islam radikal, dalam hal ini Jamaah Islamiah dalam bahasa mereka sebagai pihak yang patut dicurigai sebagai dalang pemboman di Bali. Seorang tokoh ustad Ba’asyir. Sekarang mungkin menjadi orang yang paling dicari oleh aparat keamanan Barat. Diskusi kali ini akan mengangkat tema siapa sebenarnya dalang peledakan di Bali. Ini hanya satu momentum saja, tetapi persoalan terorisme sudah berlarut-larut ada di antara kita.

Tamu kita siang ini adalah Muhyar Yara, yang menjadi juru bicara Badan Intelejen Negara, Kelik Ismunanto dari PRD, Ulil Abshar-Abdalla dari Jaringan Islam Liberal, dan Fauzan Anshori yang mewakili Abu Bakar Ba’asyir. Ba’asyir tidak dapat hadir karena sakit, tapi kita bisa hubungi beliau untuk bicara via telpon.

Pertanyaan pertama langsung kepada K. Abu Bakar Ba’asyir. Anda menjadi target rupanya dibilang bertanggung jawab atas terorisme yang ada di Indonesia. Selamat siang, Kyai, Anda di tuduh Barat sebagai penanggung jawab atas terorisme di Indonesia maupun jaringan, apa yang disebut Jamaah Islamiah, di kawasan regional Asia Tenggara dan sekitarnya, dan pertanyaan ini sering diajukan kepada Anda dan seringkali Anda menjawab dengan bahwa serangan terhadap Anda sama dengan serangan terhadap Islam. Apakah ada argumentasi lain?

BA’ASYIR: Ada. Tapi Amerika menuntut saya hanya fiktif saja tanpa bukti-bukti yang jelas. Kalau Anda sebagai seorang Islam bisa ditarik kembali pada persoalan yaitu pada akar masalah dan ditinjau dari segi Syariat, jangan hanya dari logika saja bicara. Anda harus tahu bahwasanya persoalan teroris yang dibuat-buat oleh Amerika itu hanyalah bumbu-bumbu, tapi akar masalah kalau kita kembalikan kepada Al-quran dan Sunah itu adalah perperangan umat, yaitu orang-orang kafir sedang memerangi Islam sesuai firman Allah “Yuriduna liyudfi-a nur-allah biafwaihim”, mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka. Tapi Anda sebagai orang Islam Anda tidak boleh menghindar dari Syariat.

MODERATOR: Bagaimana dengan catatan CIA, misalnya nama Anda disebut-sebut oleh Alfaruq dalam pemeriksaan. Lalu dalam pemeriksaan sebelumnya…

BA’ASYIR: Itu semua fiktif. Itu namanya makar dalam Quran. Saya tidak kenal siapa namanya Alfaruq dan itu semua hanya dikarang-karang oleh mereka. Saya tantang mereka. Saya suruh mereka datangin Alfaruq berhadapan dengan saya. Dikonfrontir. Itu namanya pemeriksaan yang benar. Selamanya CIA, intel-intel kafir laknatullah itu, membuat makar yang menipu. Itu memang pekerjaan mereka. Maka sekarang saya tantang kalau memang Faruq itu kenal saya, bawa kesini. Konfrontir dengan saya. Buktikan. Kalau memang saya salah saya siap untuk dihukum. Itu namanya jantan.

MODERATOR: Saat ini ada anggota polisi Indonesia yang berada di Amerika untuk turut menginvestigasi atau turut memeriksa Alfaruq. Dan di Jakarta Susilo Yudoyono, Menkopolkam, mengatakan bahwa penangkapan Anda akan sangat tergantung pada hasil penyidikan yang dilakukan oleh anggota polisi Indonesia di sana.

BA’ASYIR: Itu tidak bisa saya terima, sebab kalau sekedar cari pemeriksaan orangnya ke sana. Bawa Faruq ke sini. Baru nanti diadakan pemeriksaan berhadapan. Itu yang benar-benar pemeriksaan. Jadi bukan hanya sekedar pesan/tempat(?). Itu hanya dibuat-buat. Jadi bisa dibuat-buat yang semacam itu. Itu menunjukkan Indonesia sudah mulai diinjak-injak oleh Amerika.

MODERATOR: Bung Muhyar, Badan Intelejen Negara, apa yang Anda punya tentang tokoh yang satu ini?

MUHYAR: Pertama saya ingin menyampaikan salam kepada bapak Ba’asyir. Kedua, sejak awal BIN tidak pernah mengkait-kaitkan nama Abu Bakar Ba’asyir dalam masalah yang tengah diselidiki oleh BIN. Bahwasanya hasil pemeriksaan Faruq di Amerika itu adalah merupakan masalah lain. Itu adalah masalah yang terjadi di Amerika. Kami sendiri menganggap bahwa masalah terorisme, pertama-tama, tidak menyangkut masalah agama. Karena korban di Bali banyak orang Muslim. Puluhan juga, karena memang terorisme itu melingkupi di luar masalah itu. Tidak memandang bangsa, suku, atau agama. Jadi, siapapun terorisme itu dia merupakan musuh kemanusiaan yang harus diperangi oleh siapapun. Dalam rangka memerangi itu siapapun dia kalau memang dia terlibat dan terbukti terlibat maka tidak bisa dipandang bulu. Sekalipun dia tokoh satu agama, umpamanya. Jadi, kalau memang nanti Pak Ba’asyir dalam prosesnya memang terbukti, sebagaimana yang tadi beliau katakan beliau siap, ya memang harus siap. Tetapi mudah-mudahan tidak terjadi, karena apa yang kami pelajari sampai saat ini belum ada. Bau-baunya juga belum ada. Jadi, mudah-mudahan Pak Ba’asyir juga tidak perlu merasa seakan-akan menjadi target. Mungkin negara lain menargetkan, tetapi negara sendiri dimana Pak Ba’asyir merupakan warga negara Indonesia tidak pernah juga mencurigai beliau. Karena memang sampai saat ini bukti-bukti tidak ada.

Kalau Faruq menurut penilaian kami, He’s too low. Dia hanya sekedar operator biasa di bawah. Bahwasanya dia itu terlibat itu confirmed. Bahwa dia ikut dalam pelatihan di satu daerah di Sulawesi itu confirmed. Tetapi apakah Faruq mempunyai keterkaitan dengan tokoh-tokoh domestik, itu belum bisa dikemukakan di sini. Sementara itu.

MODERATOR: Belum bisa dikemukakan artinya ada keterkaitan dengan itu.

MUHYAR: Segala kemungkinan kan bisa terjadi dalam proses penyidikan. Sampai seberapa jauh jaringan-jaringannya, sampai seberapa luas jaringannya, itu harus selalu terus diungkap dan itu bukan pekerjaan yang mudah, karena jaringan teroris internasional itu sangat luas dan cakupannya luas sekali, dan kita bisa under estimate.

MODERATOR: Mas Ulil, melihat apa yang terjadi di Indonesia, di antara kita, tentang terorisme ini.

ULIL: Yang tidak boleh kita lupakan dalam melihat masalah Bali adalah ini sudah menjadi masalah internasional. PBB sudah include dengan sungguh-sungguh mendorong semua negara untuk membantu Indonesia mengusut masalah ini, dan negara-negara yang lain juga sudah menganggap ini bukan masalah Indonesia, tetapi adalah masalah internasional. Oleh karena itu, menurut saya, kita ini perlu mempunyai mental switch, perubahan cara pandang. Yang kemarin-kemarin setiap ada peristiwa kekerasan semacam ini selalu sikap beberapa tokoh-tokoh Islam dan juga tokoh-tokoh masyarakat yang lain itu menolak, self denial. Ini bukan kami. Bangsa Indonesia adalah yang suci dan baik. Umat Islam adalah umat Islam yang baik. Tidak mungkin berbuat kejahatan. Menurut saya sikap semacam ini tidak membantu untuk mengatasi masalah yang dimensinya sudah sangat global ini. Oleh karena itu, sekarang ada tiga teori yang menjelaskan masalah Bali. Pertama, teori yang sangat populer, ini adalah kerjaan Al-Qaedah. Yang kedua adalah teori yang dikembangkan oleh Abu Bakar Ba’asyir pada hari kedua setelah terjadinya peledakan di Bali dan itu didukung oleh sejumlah tokoh-tokoh Islam di Solo dalam sebuah konferensi pers di sana, ini adalah semua buatan AS. Teori ketiga mengatakan bahwa ini adalah buatan militer Indonesia untuk melakukan destabilisasi atas pemerintahan Megawati sekarang. Menurut saya, ok ketiga teori itu kita anggap semuanya punya status untuk dipertimbangkan. Tetapi berdasarkan petunjuk-petunjuk clue awal yang sudah terkumpul di dalam beberapa dinas intelegen asing, saya tidak tahu apakah BIN sendiri, tetapi clue yang paling tersedia saat ini adalah bahwa Al-Qaedah adalah aktor yang sekarang ini sangat bisa dipertanggungjawabkan untuk menjelaskan sejumlah tindak kekerasan di sejumlah tempat. Dan jangan lupa, ini juga diakui oleh Al-Qaedah di dalam, kalau kita baca berita tentang kaset yang dikirimkan kepada chanel Al-Jazirah beberapa hari yang lalu dimana Osamah mengatakan akan melakukan serangan baru terhadap kepentingan AS. Menurut saya, deklarasi ini sudah menunjukkan sebagai clue. Kita belum bisa menetapkan apakah Al-Qaedah salah, Abu Bakar Ba’asyir salah atau tidak, tetapi clue yang tersedia saat ini adalah menempatkan teori pertama itu lebih valid untuk dipertimbangkan, karena, menurut saya kalau pemerintah sekarang ini bertindak atas dasar cara berpikir yang mengambang itu tidak bisa lagi. Karena sekarang ancaman keamanan itu sudah begitu seriusnya. Kalau kita masih mengambangkan “o..ini kita tidak melakukan ini, tidak itu”, itu menurut saya tidak memadai. Dan ini sebagai point saya yang terakhir adalah tidak usah khawatir pemerintah takut kalau seandainya melakukan tindakan tegas dia khawatir dicap sebagai anti Islam. Kritik saya kepada Ustad Ba’asyir adalah seolah-olah mengadili Osamah bin Laden, mengadili Abu Bakar Ba’asyir sama dengan mengadili Islam. Itu bagi saya tidak benar sama sekali. Mesti dibedakan antara Islam dengan orang-orang Islam yang bisa berbuat baik, bisa berbuat jelek. Yang berbuat baik kita berikan reward, tapi yang jelek harus punish. Jadi tidak usah takut untuk itu.

KRIS PRD: Kalau saya sebenarnya tidak ingin terjebak pada siapa aktor di belakang pengeboman ini. Satu harus kita akui kita tidak ada data material untuk melihat siapa terlibat dibelakang kasus ini. Satu sisi sebenarnya kita harus lihat juga bahwa persoalan terorisme ini memang fenomena internasional, bukan hanya terjadi di Bali, Indonesia, tetapi juga setahun yang lalu terjadi di Amerika. Sehingga ada tugas pokok yang jelas harus kita lakukan disamping mencari siapa dalang atau otak pelaku ini, kita juga harus melihat latar belakang kenapa munculnya terorisme ini. Karena ini faktor yang penting. Kalau kita melihat atau mencari akar musabab munculnya terorisme itu tidak menyelesaikan masalah. Apapun yang akan dilakukan oleh negara, misalkan rencana untuk RUU terorisme, itu malah akan lebih merepresif, akan lebih membangkitkan proses perlawanan.

MODERATOR: kita sebenarnya juga mengundang teman-teman kita dari kedutaan Australia di Indonesia, tapi mereka sedang sibuk menyambut John Howard maupun Donner yang sedang berada di Indonesia juga. Tapi kita berhasil menghubungi Kurt Collingham juru bicara atau atase pers yang sedang berada di Bali. Kurt Collingham sekarang Anda merasa sebagai target dari serangan di Bali dan Anda juga aktif sekali membantu penyidikan apa yang terjadi di Bali kemarin. Sejauh ini bagaimana sikap Anda dan apa hasil dari penyidikan di Bali.

KURT: Lima hari sejak pemboman itu. Saya di sini sangat capek bersama dengan keluarga-keluarga korban pemboman. Sulit sekali untuk mengidentifikasi korban karena terbakar. Tetapi kami berusaha.

MODERATOR: Seberapa kuat Anda yakin desakan Anda dengan teman-teman lain, maksudnya dari negara-negara lain yang menjadi korban, dalam hal ini Amerika yang sudah mengirimkan biro penyelidiknya, juga ada Inggris di sana, dan juga negara-negara lain. Seberapa besar desakan Anda kepada pemerintah Indonesia untuk segera melakukan tindakan cepat menyikapi persoalan ini.

KURT: Kooperasi dan kerjasama pemerintah Indonesia di sini luar biasa. Semua orang Bali dan orang Indonesia lihat langsung apa yang terjadi di sini dan membantu korban, work around the clock, mereka semua melakukan yang mereka bisa. Jangan lupa ada banyak korban juga dari Indonesia di sini.

MODERATOR: Pemerintahnya termasuk yang cukup keras mendesak Indonesia agar menangkap Abu Bakar Ba’askir, misalnya, atau Jamaah Islamiyah dalam hal ini. Yakinkah Anda pemerintah akan melakukan desakan itu? Kurt: Saya yakin bahwa pemerintah Indonesia akan kerjasama dengan pemerintah Australia untuk cari sipa tanggung jawab untuk tragedi yang sangat besar ini. Saya pikir akan terjadi bahwa baik pemerintah Indonesia, Australia, maupun negar-negara lain semua ingin tahu siapa tanggung jawab untuk itu, juga untuk punish orang atau kelompok yang tanggung jawab untuk tragedi yang luar biasa di sini.

MODERATOR: Yakin atau tidak? Kurt: Yakin apa? Yakin kerjasama akan ada investigasi yang kuat, saya yakin untuk itu.

KRIS PRD: Mungkin ada satu lagi yang sebenarnya ingin saya sampaikan. Satu, mungkin kritikan terhadap Pak Ba’asyir sendiri. Pak Ba’asyir menilai persoalan yang terjadi sekarang adalah persoalan antara Islam dan non Islam. Padahal kalau kita melihat, misalkan kalau serangan solidaritas atau penolakan serangan Amerika ke Irak, ke Afganistan itu bukan hanya dilakukan oleh umat Islam, bahkan ribuan massa turun ke jalan di Washington, di Roma, di Perancis, dan sebagainya menolak. Artinya persoalan yang terjadi sekarang ini bukan persoalan antara Islam dan non Islam, tapi persoalan bagaiman counter hegemoni terhadap usaha-usaha Amerika untuk melakukan ekspansi, untuk lebih menghegemoni, untuk lebih memperkuat kekuatan negaranya di negara-negara lain, sehingga Amerika terlalu ekspansif, terlalu ofensif terhadap kekuatan-kekuatan yang dirasa itu terlalu mengganggu rencana dari Amerika itu.

FAUZAN: Sebenarnya isu terorisme ini pertama kali dikembangkan oleh utusan Malaysia pada pertengahan Agustus beberapa bulan sebelum WTC. Waktu itu pemerintah Malaysia melalui (Nurman???) melansir apa yang disebut KMM, Kumpulan Mujahidin Militan Malaysia. Dengan menggunakan ISA dikenal sebagai (Internal Security Act) Kemudian menangkap banyak orang. Kemudian di situ barulah muncul nama Abu Bakar Ba’asyir. Kemudian terus menggelinding. Peristiwa 11 September itu menjadi starting point untuk kampanye anti terorisme yang makin gencar. Kemudian Singapura mulai melempar isu Indonesia sebagai sarang teroris. Indikasinya adalah karena pemerintah Indonesia tidak menangkap Abu Bakar Ba’asyir. Lalu kita melakukan perlawanan hukum dengan menggugat Lee Kwan Yu melalui pengadilan Jakarta Selatan. Akhirnya kita kalah disitu. Kemudian isu kampanye anti terorisme itu makin mengkristal, yang saya maksud adalah tuduhan itu diarahkan ke siapa. Itu semakin mengkristal ketika secara eksplisit, umpamanya, Alexander Donner menyebut Ba’asyir sebagai dalang peledakan itu. Lalu saya katakan kepada ustad Ba’asyir saya sebagai ketua data dan informasi ingin membuka akses media dalam dan luar negeri seluas-luasnya. Maka pada waktu itu terjadi kebijakan pada Majelis Mujahidin untuk mempersilahkan wartawan dari dalam dan luar negeri untuk menshoot kegiatan sehari-hari baik itu di Ngruki sampai semua lubang itu dilihat, kecuali lubang kamar mandi. Jadi silakan ambil kesimpulan. Kami tidak ada beban apa-apa. Dalam perspektif Syariah kalau kami dituduh itu yang menuduh harus memberikan bukti dan bukti itu harus dikonfrontir. Tidak boleh orang yang seperti Umar Faruq dibawa ke luar negeri kemudian pengakuannya itu diekspos secara sepihak. Itu tidak boleh. Itu fitnah. Kalau penuduh tidak bisa membuktikan tuduhannya, maka tuduhan itu kembali kepada penuduh. Seharusnya begitu. Tetapi yang dilakukan oleh Amerika, oleh Alexander Donner, dan sebagainya itu dia mengekspos ke media. Sehingga kami melihat bahwa ini terjadi trial…public opinion. Mengkonstruksi opini publik, opini dunia untuk memvonis sebelum di pengadilan yaitu bahwa semua dalang ini adalah Jamaah Islamiyah dan Ba’asyir. Ini adalah cara-cara makar yang sangat busuk yang dilakukan oleh intel-intel asing. Tentu saja sasaran kami berbeda dengan apa yang tadi Mas Ulil katakan dan Mas dari PRD tadi. Kami melihat satu atau dua jam dari tragedi WTC Bush kemudian mengeluarkan deklarasi Crusade, perang salib. Kemudian membuat sandi keadilan tak terbatas. Kemudian diubah karena diprotes umat Islam di sana. Kami bertanya-tanya kenapa WTC tadi dijadikan starting point untuk deklarasi perang salib. Apa yang sedang terjadi. Kemudian dengan semangatnya Bush itu mengatakan pelakunya adalah Osamah, sedangkan Osamah ada di gua-gua Afganistan. Siapa pelakunya? Sampai hari ini tidak bisa membuktikan. Kemudian serangan itu membabi buta. Saya mengkonfirmasi dengan Dr. Abdurrahman (???) dari Afganistan langsung berapa jumlah korban serangan Amerika. Dia mengatakan serangan Amerika lebih dahsyat dari serangan Rusia 10 tahun di Afganistan. 20 korban meninggal dan puluhan ribu lainnya teramputasi. Dibandingkan dengan korban, katakanlah, di WTC yang tiga ribuan tentu tidak adil. Kemudian konstruksi isu terorisme ini tumbuh digalang sedemikian sistematisnya sehingga mereka membutuhkan justifikasi. Pembenaran-pembenaran inilah yang menurut kami mengorbankan orang-orang yang tidak berdosa. Jadi waktu malam Ahad itu kami bersama ustad Ba’asyir di Yogya. Kami belum tahu apa yang terjadi malam itu, karena besoknya kami ada pleno khusus untuk membicarakan masalah program. Tiba-tiba kami dikontak oleh media asing bahwa malam itu telah terjadi peledakan bom. Kami katakan kepada pers tadi “anda akan kami persilakan mengklarifikasi semua tuduhan kepada ustad Ba’asyir dan itu sudah kita laksanakan hari Rabu kemarin sampai pukul 12 malam, tadi malam, kemudian tadi subuh empat media dari Australis menshoot ustad Ba’asyir dari cara sholat sampai bangun tidur dan sebagainya. Itu dishoot semuanya. Kamar-kamar juga di markas kami. Kemudian kami tanyakan bagaimana kesimpulan Anda tentang ini semua? Mereka tidak berkomentar. Jadi saya kira kami tidak ada beban sedikit pun untuk membuka akses seluas-luasnya kepada wartawan, terutama asing, untuk mengklarifikasi tuduhan-tuduhan itu.

MODERATOR: Untuk mengatasi terorisme dimana-mana lalu ada muncul semacam, tadi yang disinggung oleh bung Kelik tentang ada aturan khusus di situ, ada perpu yang lalu mendasari atau menjadi dasar hukum untuk bisa menangkap tanpa ada pengadilan dan seterusnya. Tapi catatan-catatan yang dipakai untuk melakukan tindakan itu muncul dari intelejen dan aparat keamanan. Kita kok melihat, Pak Muhyar, Anda sering mengatakan Amerika pun yang hebat bisa kecolongan. Tetapi isu terorisme, atau gejala-gejalanya, atau dugaan-dugaannya, bahkan teror yang bukan serangan yang seperti itu, teror yang membawa senjata api, senjata tajam ke jalanan sudah terjadi. Kenapa aparat atau intelejen tidak melakukan apa-apa untuk hal itu.

MUHYAR: Begini. Pertama-tama kita harus paham betul pembagian fungsi dan tugas instansi keamanan kita. Ada instansi intelejen sebagai bagian instansi keamanan. Ada juga instansi penegak hukum seperti polisi, misalnya, yang mempunyai cara kerja yang berbeda satu dengan lainnya. Seperti ibarat sebuah rumah. Maka tidak mungkin, ini kita bicara dalam tahap pencegahan bukan pada saat telah terjadi, itu penegakan hukum nanti. Dalam pencegahan itulah fungsi intelejen di bidang itu. Kita tidak mungkin mencegah masuknya tikus ke dalam rumah kita seberapa rapatnya pun kita memagari rumah kita. Karena ada satu teori bahwa tidak ada satu pun pertahanan yang tidak bisa dibobol. Tidak bisa dimasuki. Jadi tetap tikus itu bisa masuk. Petugas intelejen tidak mungkin disebarkan di seluruh diskotik, umpamanya, restoran, hotel, di semua panjang pantai kita yang begitu luas, begitu panjang. Jadi pasti bisa masuk. Di negara mana pun. Tugas intelejen adalah menemukan jaringan kehidupan tikus yang ada di dalam rumah. Kita bisa mendeteksi itu ada kehidupan, ada jaringan kehidupan tikus-tikus. Kita tentu tidak bisa melakukan penangkapan tikus itu karena itu tugas-tugas institusi yang lain. Intelejen tidak mempunyai kewenangan hak untuk itu. Dan juga pengetahuan kita tentang adanya jaringan kehidupan tikus hanya bersifat umum. Kenapa? Karena kami juga tidak mempunyai kewenangan untuk menanyai tikus-tikus ini. Karena kami tidak dilengkapi dengan kewenangan itu. Kalau kami diberikan kewenangan itu mungkin jaringan tadi akan kita lebih tahu secara lebih detil.

MODERATOR: Pak Muhyar, apa yang terjadi di Bali ternyata terbesar kedua setelah WTC. Apa tidak ada clue sedikit pun?

MUHYAR: O, ya. Kalau itu saya pikir kita sudah katakan berulang-ulang. Saya takut dikatakan membosankan atau memuakkan bagi orang-orang karena kami sudah setengah tahun yang lalu BIN memberikan warning.

MODERATOR: Kalau setengah tahun yang lalu, kenapa tidak ada reaksi atau aksi berikutnya, misalnya tentang pengkapan atau apa pun yang dilakukan, bukan dengan intelejen, tapi oleh aparat yang lainnya. Apa ada hambatan politik, misalnya?

MUHYAR: Begini, pertama kenapa tidak ditangkap itu ‘kan bukan urusan kami. Tetapi kita ‘kan masih segar. Ini yang mungkin kita perlu perbaiki. Kita cepat lupa. Saya katakan bahwa tinta-tinta di koran itu masih belum kering, yang menunjukkan betapa warning kami itu malah dijadikan bahan polemik dan bahkan kemudian kami diserang balik. Ada yang menuduh bahwa warning kami itu adalah rekayasa. Bahkan dikatakan ini perlu diwaspadai ini BIN.

ULIL: Kalau saya boleh bertanya, dulu ketika Hendro Priyono diserang karena dia mengungkapkan fakta mengenai, kalau tidak salah ketika itu tentang Al-Qaedah di Indonesia. Tetapi ketika itu ketika dia diserang oleh publik dia mundur. Kalau dia percaya fakta yang dia angkat itu benar, kenapa setelah diserang oleh opini publik Islam lalu dia mundur lagi.

MUHYAR: Masalahnya kita bukan harus mempertahankan kebenaran. Tugas kami adalah mengungkapkan kebenaran. Itu sudah menjadi wacana publik. Tidak ada satu statement pun yang kami cabut. Tapi kemudian DPR melakukan suatu desakan agar kami, BIN, tidak melakukan statement-statement secara publik. Tapi sementara itu kemudian kita lihat pada kasus Tamsil Lindrung. Kami pun kemudian dibombardir habis-habisan. Jadi bingung sendiri. Akhirnya ditempuhlah cara adanya seorang juru bicara untuk menengahi kebutuhan masyarakat ini.

FAUZAN: Jadi inilah blunder yang kita temukan, yaitu ketika temuan “operasi intelejen” kemudian diekspos ke media yang kemudian menimbulkan polemik seperti tadi. Maka oleh karena itu mereka yang menuduh Jamaah Islamiyah atau secara eksplisit Ba’asyir harus menuai protes. Tentunya kalau mereka menggunakan cara-cara underground itu kemudian tidak akan menimbulkan gejolak. Tapi dengan apa yang dilakukan oleh Amerika, apalagi sekarang sudah menggunakan resolusi keamanan PBB ini sebuah blunder yang besar sekali. Dan ada dua kemungkinan. Tapi kami merasa dan kami yakin bahwa kami akan memenangkan opini ini. Kecuali jika kekuatan yang bicara. Jadi, Amerika akan tertampar dengan tamparan yang luar biasa apabila tidak mampu membuktikan tuduhan itu. Ini akan luar biasa. Oleh karena itu pelajaran ketika dia tidak bisa meyakinkan dewan keamanan PBB untuk mengeluarkan resolusi untuk menyerang ke Irak, harus menjadi pelajaran berharga bagi Amerika untuk tidak kemudian membuat tuduhan kepada Ba’asyir dan menekan pemerintah Indonesia untuk menangkap Ba’asyir.

KELIK: Cara melihat masalah seperti ini karena sebetulnya, ok setiap terorisme itu masalah yang kita hadapi dan serius. Itu bagian dari sejarah masa lampau yang harus dikuak. Tapi sekarang ini ancaman yang kita hadapi sekarang adalah salah satunya terorisme yang datang dari network global yang salah satunya menggunakan agama sebagai kedok. Dan itu saya kira berbahaya kalau kita masih mengungkap, mengatasi masalah, melihat masalah ini dengan cara O ini sesuatu yang tidak ada nilainya apa-apa dibanding state terorisme. Bagaimana? Saya kira tidak bisa merelativisir masalah ini dengan cara mengatakan ini lebih ringan dibandingkan dengan jenis terorisme yang lain.

MODERATOR: Apa yang Anda sampaikan Bung Kelik itu bisa jadi latar belakang. Kita kembali fokus ke Bali dan terorisme yang sekarang ada saja.

MUHYAR: Tadi dikatakan intelejen lemah. Ini ukurannya dari mana? Tadi saya katakan berdasarkan fungsi dan tugasnya kami sudah melakukan tugas sesuai dengan fungsi dan tugas kami secara maksimal. Kalau setengah tahun lalu kami sudah kasih warning, itulah tugas kami. Apalagi yang mau dikatakan? Apa kami mesti melakukan penangkapan?

ULIL: Soal warning ini. Ini kritik saya kepada opini publik yang diciptakan oleh para demagog Islam, oleh para dai-dai yang menurut saya tidak bertanggung jawab dan mengatakan ini semua adalah perang antara Islam dan kafir. Setiap fakta yang diungkapkan ini adalah serangan pada Islam. Lalu akhirnya BIN mundur. Entah akhirnya tidak mendapatkan dorongan dari masyarakat untuk berbuat. Menurut saya, lingkungan semcam ini yang diciptakan oleh retorika Islam yang tidak bertanggung jawab semacam ini berbahaya itu.

MODERATOR: Jadi ini kita harus bisa memahami pendapat Ulil karena dia Islib (Islam Liberal). Dia akan memisahkan, selalu akan memisahkan, ini bukan persoalan agama.

FAUZAN: Jadi saya ingin mengingatkan bahwa sejak jaman Nabi Adam sampai kiamat. Jadi bagaimana israel yang menginvasi Palestina tahun 48. Seorang wartawan bertanya apakah benar umat Islam musuhnya Barat? Tidak, saya bilang. Karena dalam nash Quran tidak ada. Yang ada itu walan tardo ‘ankal Yahud wan nasoro. Ini informasi dari Quran. Kalau saya tidak percaya sama Tuhan berarti Quran keliru. Maka saya keluar dari Islam. Ngapain, Quran kok keliru. Jadi, perspektif ini oleh Ulil dinafikan.

ULIL: Tidak. Itu masalah kenegaraan Palestina dan Israel. Itu sama dengan Dubes Palestina begitu ngomongnya. Karena kita sudah ketemu.

FAUZAN: Jadi, kami tidak melihat itu bukan Islam, tapi itu bagian integral dari perjuangan antara hak dan batil. Invasi Israel ke Palestina. Sampai sekarang itu berapa jumlah korbannya yang jatuh. Kalau perlu mesti diputar cd yang saya punya bagaimana korban yang terakhir ini, Muhammad Addurah, yang dalam keadaan terpepet tetap dibombardir oleh tentara Israel. Itu fakta.

MODERATOR: Saya ingin kembali ke BIN. Karena desakan-desakan atau warning yang Anda sampaikan ternyata itu tidak, istilahnya, tidak dibelilah sama pemerintah. Di dalam tubuh militer sendiri bahkan, ya jelas ada pembelaan yang cukup kuat. Ada temen-temen kita Bung Fauzan, Ba’asyir, Hamzah Haz. Bahkan Hamzah Haz mengatakan tangkap saya dulu kalau memang ada teroris di Indonesia. Sekarang teroris sudah ada di Indonesia. Bagaimana? Anda tidak punya wewenang untuk menangkap.

MUHYAR: Tidak ada. Kalau ada orang pada ribut nanti. Baru soal Faruq saja kemarin, kita minta bantuan Assegaf, minta bantuan pada imigrasi, ributnya sudah setengah mati. Padahal kita melalui saluran yang benar.

MODERATOR: Apakah karena problem itu BIN lalu tidak didengar dan terjadilah apa yang kemarin itu.

MUHYAR: Bukan saya yang menjawab itu. Kalau BIN tidak didengar, tidak mau didengar, ya tanya sama yang tidak mau mendengar.

MODERATOR: Apa benar karena ada hambatan politik, dari Hamzah Haz misalnya.

MUHYAR: Menurut saya tidak etis kalau misalnya saya kemukakan, karena kita bagian dari institusi pemerintah. Biar saja masyarakat yang menilai. Semuanya kita serahkan saja, tetapi jangan seperti tadi Ulil katakan, jangan ada pembentukan opini yang mengatasnamakan sesuatu karena ada kepentingan. Karena kepentingannya terusik, begitu. Kemudian membalikkan opini itu secara bodoh. Seperti sekarang dikatakan, BIN sudah mengatakan ada terorisme. Kemudian ketika terjadi peristiwa Bali dikatakan BIN lemah. Logikanya tidak masuk. Terbalik logikanya. Jadi, kita jadi bodoh. Saya dengar ini, bagaimana? Dulu waktu saya bilang ada Anda mendeny, sekarang ada dibilang BIN lemah. Mesti apa kita lakukan? BIN lemah juga karena mundur. BIN tidak pernah mundur.

KELIK PRD: Saya kira BIN tidak pede saja. Artinya kalau BIN sudah yakin sudah ada terorisme di Indonesia itu harus dipertahankan. Artinya opini yang ada di BIN, itu kalau BIN percaya diri, artinya ada fakta-fakta dan bukti-bukti itu harus

MUHYAR: Ada. Saya persilakan melihat kliping kita masih banyak. Itu bukan satu kali, berulang-ulang kami kemukakan.

ULIL: Pak Muhyar Begini masalahnya. Saya kira memang BIN tidak bisa disalahkan. Saya tidak membela BIN, tetapi dia bukan satu-satunya yang mestinya bertanggung jawab. Tetapi di atas ini semua bagi saya adalah tidak adanya visi dari pemerintah sendiri untuk melihat masalah ini sebenarnya kayak apa. Kritik saya pada Megawati adalah ketika dia pidato di Bali kemarin pada hari kedua setelah peledakan itu. Dia hanya menyatakan bela sungkawa.. Tetapi dia tidak mengatakan apa visi atau tindakan yang dia rencanakan akan dia lakukan. Sehingga kita tidak tahu ini determinasi memerintah ini ke arah mana. Sehingga kita melihat pernyataan yang berbeda-beda. Hamzah Haz seperti selalu meng-hijack (?) tindakan pemerintah yang ingin mengambil tindakan yang firm atas masalah ini. Bagi saya ini pemerintah kalau tidak segera punya visi yang jelas, tetapkan ini apa asumsi untuk mengatasi masalah ini. Saya kira tidak akan bisa mengambil tindakan yang tegas. Problemnya adalah pemerintah sendiri tidak mengarahkan. Sehingga begitu ada opini umat mencoba untuk mendeny ini malah dia limbung lagi. Bagi saya tidak bisa begini. Dan saya khawatir masalah ini dijadikan dagang oleh partai-partai untuk melihat ini pada pemilu 2004, sejauh mana kemungkinan untuk mendapatkan sokongan dari umat Islam. Bagi saya ini bagian dari over-politisasi dari agama yang berbahaya. Sebagai bagian dari dagang politik yang memuakkan menurut saya.

MODERATOR: Ini giliran dari teman-teman yang di forum untuk bicara.

ERY (penelpon): Ini barangkali sedikit klarifikasi saja. Kejadian yang nomor dua itu sebenarnya Nairobi. Bukan di kita. Korban di Nairobi itu sebenarnya lebih besar dari kita. Kejadian bunuh diri. Kemudian yang kedua, saya ingin menyampaikan kepada Pak Muhyar bahwa Anda sebenarnya sebaiknya dengan tudingan seperti ini beserta institusi Anda itu lebih tenang. Karena BIN adalah intelejen tetap memainkan peran Anda sebagai intelejen. Saya juga heran kenapa BIN ada juru bicaranya. Karena saya tidak melihat hal itu di negara-negara lain. Jadi jelas dalam hal ini kalau memang ada kesalahan harus introspeksi diri. Dan masalah intelejen juga tolong diperhatikan bahwa saat ini sudah cukup luas sehingga perlu sinergi dengan banyak pihak.

ADE R.: Saya ingin bertanya kepada Pak Muhyar. Yang ingin saya tanyakan tadi bahwa BIN tidak berhak, tidak punya wewenang untuk menangkap seseorang. Yang menjadi pertanyaan saya apakah tidak ada kerja sama yang baik antara BIN dengan aparat kepolisian yang berhak menangkap, menginterogasi, atau menahan orang. Kedua, setelah peristiwa Bali kalau tidak salah itu dibentuk satu tim yang melibatkan dari BIN kemudian melibatkan juga polisi yang sekarang pimpinannya Kapolda dari Papua. Apakah itu hanya bersifat sementara, yaitu hanya menangani kasus di Bali. Apakah itu tidak menjadi satu tim yang terus independen, artinya badan tersebut akan selalu bekerja sama antara BIN, kepolisian, kejaksaan agung yang mana kejaksaan atau departemen kehakiman yang bisa menghambat atau meminta pihak imigrasi untuk mencekal orang-orang yang dicurigai untuk keluar negeri.

MUHYAR: Jadi BIN hasilnya satu info intelejen. Satu informasi intelejen bukan satu data hukum. Jadi kalau kami lihat ada orang mencurigakan itu belum tentu bisa dijaring secara hukum. Jadi, sekalipun kami lemparkan ke pihak kepolisian, pihak kepolisian tidak bisa menangkap. Karena kepolisian bekerja berdasarkan sistem kepolisian yang berlaku yaitu KUHAP, yaitu paling tidak sudah ada tindakan percobaan. Jadi, sedangkan info intelejen belum sampai menyangkut ke sana. Jadi baru mencurigai, seharusnya kami mempunyai kewenangan untuk menanyai, memanggil. E, elu lagi ngapain? Siapa temen-temen lu? Itu tidak kami miliki, sehingga kalau informasi itu kami serahkan ke kepolisian, kepolisian juga belum bisa memakai dan menggunakan untuk pemanggilan atau penahanan. Jadi masih ada gap di sini. itu yang tidak diisi dalam sistem hukum kita, karena memang jenis kejahatan terorisme itu jenis kejahatan yang sangat unik. Sehingga pada umumnya belum tercakup pada sistem hukum yang konvensional. Kedua, tim yang dibentuk di Bali dibentuk dalam rangka penanganan setelah peristiwa Bali. Yang sifatnya masih lokal, artinya tingkat di daerah Bali, tidak mencakup tingkat nasional. Sehingga menurut kami itu masih bersifat sementara. Mudah-mudahan itu bisa ditingkatkan dikemudian hari menjadi ditingkat nasional dan menjadi permanen.

IPUNG: Pertanyaan saya mungkin berhubungan dengan entitas dan kwalitas peledakannya sendiri. Sebenarnya kalau kita lihat dari perkembangannya dari tahun 98 hingga ke sini, jadi entitas peledakan yang sangat menarik karena jumlahnya selalu meningkat. Kemudian kwalitas bahan peledaknya jadi berkembang. Dari mulai hanya granat, TNT, kemudian kombinasi TNT dengan C4, kemudian yang terakhir diidentifikasi sebagai C4. sebenarnya ada satu yang menarik di sini ketika kebijakan tentang pengadaan bahan peledak ini sendiri itu tidak tersentuh dengan perubahan. Ternyata masih ada dua lembaga milik sipil, yang bukan milik militer, itu juga memproduksi dan Kepres tentang itu juga tidak pernah dicabut. Metrokimia masih juga memproduksi TNT dan beberapa perusahaan juga masih memproduksi TNT. Padahal kejadian menggunakan TNT itu sudah lama. Tidak ada kebijakan, misalnya untuk membatasi pembuatan senjata hanya dikontrol oleh militer dan lain-lain. Ini kan sebenarnya tidak ada keinginan dari militer atau pemerintah sendiri untuk, misalnya, mengisolasi persoalan ini supaya menjadi lebih sempit. Sehingga suatu saat kalau terjadi peledakan seperti ini itu bisa dilakukan identifikasi yang lebih mudah. Ini tidak terjadi, itu satu. Yang kedua, yang menarik lagi kalau kita mau bicara penggunaan C4. sebenarnya ini kan bahan peledak yang sangat kuat daya ledaknya dan tidak banyak dimiliki oleh kelompok orang, bahkan kelompok militer pun tidak banyak memiliki ini. Bahkan tidak semua kesatuan punya. Hanya pada operasi khusus ini digunakan. Sebenarnya kita tidak bisa menafikan bahwa ada keterliabatan militer. Seperti misalnya pernah ada identifikasi bahwa bahan TNT yang pernah digunakan dalam satu peledakan itu berasal dari Turan (?) di Malang, tapi tidak pernah bisa diselidiki, misalnya, siapa yang mengeluarkan itu? Ini permasalahan-permasalahan yang sengaja diakumulasi atau mungkin tidak sengaja untuk membuat persoalan ini jadi tidak, kalau persoalan titik ledak yang terakhir akan dilakukan ini jadi makin sulit. Karena memang tidak ada antisipasi yang cukup signifikan.

MODERATOR: Ternyata ustad Ba’asyir masih online bersama kita. Dan saya mendapat informasi dari Mabes Polri bahwa tim Mabes Polri sudah pulang dari AS memeriksa Al-Faruq. Hasilnya Al-Faruq confirmed, artinya Faruq bicara dengan polisi Indonesia bahwa isi majalah Times yang menyebut soal Ba’asyir, Jamaah Islamiyah, keterlibatan atas beberapa teror di wilayah Asia Tenggara itu benar. Faruq mengungkapkan ini kepada polisi Indonesia bukan lagi kepada polisi Amerika. Soal itu saya ingin tanya dengan Abu Bakar Ba’asyir yang masih bersama kita.

MODERATOR: Kyai, bagaimana dengan informasi terakhir ini?

BA’ASYIR: Saya siap diperiksa dan Al-Faruq datangkan ke sini. Persoalan itu adalah persoalan kecil bagi saya. Jadi perlu saya luruskan satu pemahaman Ulil tadi. Jadi seolah-olah kalau hubungannya dengan saya itu sama dengan Islam. Itu bukan begitu. Masalah teror mari kita jangan menutup mata dan telinga. Istilah teror ini dimonopoli definisinya oleh Amerika dan itu diarahkan teror itu kepada orang Islam. Jadi mesti penegak-penegak hukum Islam. Itulah pengertian teroris yang dimonopoli oleh orang Amerika. Ini satu kenyataan. Kalau kita kembali kepada definisi teror yang sebenarnya itu harus berdasarkan kenyataan suatu perbuatan yang merusak dan menakut-nakuti orang. Kalau kita melihat apa alasan Amerika mengebom Afganistan. Apa alasan Amerika mengejar-ngejar Osama dengan tuduhan terlibat mengebom WTC. Tetapi pada sampai akhirnya Amerika tidak bisa membuktikan. Itulah teror yang sebenarnya. Sekarang Israel membunuh bangsa Palestina, menjajah bangsa Palestina. Dengan enak membunuhi anak-anak, perempuan, rumah-rumah dihancurkan dengan begitu enak, dan itu dibantu oleh Amerika. Itulah arti teror yang sebenarnya. Adapun Osamah dan Taliban, sekali lagi saya bukan fanatik pada orangnya dan organisasinya. Mereka itu menyerang Amerika karena membela diri. Karena mereka diserang lebih dahulu. Sekarang, sekali lagi, saya ingatkan kepada saudara-saudara yang beragama Islam bahwa watak orang kafir itu selalu ingin memadamkan cahaya umat Islam dengan berbagai cara makar. Ini yang harus kita pahami. Jadi masalah Mabes sudah mengambil keputusan, silakan memegang saya. Silakan memanggil saya. Saya siap dipegang, saya siap dipangil. Persoalan ini persoalan kecil buat saya, tetapi saya tetap menuntut supaya Faruq didatangkan ke sini.

MODERATOR: Tapi ada bukti lain, yaitu tentang foto-foto dan beberapa saksi mata yang menyebutkan bahwa memang Faruq memang hadir saat deklarasi Majelis Mujahidin Indonesia.

BA’ASYIR: Kalau Faruq hadir ketika deklarasi tidak berarti kenal. Banyak orang yang hadir saya tidak tahu, dia tahu saya. Itu bukti anak kecil. Silakan. Ada foto apalah. Memang benar-benar saya tidak kenal dia. Silakan datangkan ke sini. Kalau memang pemerintah itu jantan, laki-laki itu datangkan ke sini. Jangan takut pada Amerika. Takutlah pada Allah. Kalau Amerika itu memang benar-benar, datangkan Faruq ke sini. Itu namanya bukti yang benar. Jangan omong saja. Saya siap sewaktu-waktu. Saya tidak akan lari.

MODERATOR: Satu hal lagi Pak Kyai. Ada tokoh bernama Fathurrahman Al-Ghazi dan memang confirmed juga, yang pernah berguru di Ngruki di pesantren Anda. Tentang santri Anda ada yang berniat bunuh diri jika Anda ditangkap oleh polisi. Bagaimana dengan ini?

BA’ASYIR: itu hanya omongan-omongan di luar. Saya tidak mendengarnya sendiri. Saya membaca koran dan saya juga terkejut. Saya kira Kalau pun itu ada hanya orang emosi.

MODERATOR: tidak akan ada bom bunuh diri kalau Anda ditangkap?

BA’ASYIR: Mudah-mudahan tidak ada. Untuk apa? Jadi persoalannya kalau memang saya ditangkap dan itu untuk klarifikasi, itu baguslah. Bagaimana saya pernah dipanggil untuk klarifikasi dulu di Malaysia, saya siap. Hari ini saya tidak hadir karena saya sakit dan memang saya belum menerima surat panggilan dari polisi.

FAUZAN: Saya ingin mendukung data dari pak Abu Bakar Ba’asyir. Jadi memang selama ini terorisme selalu tidak terdefinisikan. Akhirnya terjadi standar ganda. Satu sisi Amerika memposisikan Osama sebagai teroris tapi sisi Amerika tidak mau memposisikan Osama sebagai teroris. Sekarang Indonesia telah masuk perangkap kampanye isu anti terorisme yang dilansir oleh Amerika. Amerika hanya punya dua pilihan; state or …(?) Kemudian kenapa sasaran dari terorisme itu adalah Islam fundamentalis? Anda harus membuka seized the moment (???) yang ditulis oleh mantan presiden Amerika Richard (who?) dia menulis ada lima ciri Islam fundamentalis. Pertama, mereka yang anti pada Barat. Kedua, mereka yang ingin menerapkan Syariat Islam. Ketiga, mereka yang ingin membangun peradaban Islam. Keempat, mereka yang tidak ingin memisahkan Islam dan negara. Dan kelima, mereka yang menjadikan masa lalu menjadi panduan untuk masa depan. Sehingga dengan ciri lima ini mana pun dan dimana pun gerakan Islam, maka akan dicap sebagai gerakan Islam fundamentalis sama dengan teroris. Dan itu pula yang diproklamirkan oleh JI dengan situsnya. Tapi sekarang sudah tidak ada. Sekarang sudah dicabut. Saya kira apa yang dimaksud Abu Bakar Ba’asyir tadi sudah tepat. Jadi sasaran teroris adalah umat Islam. Bagi kami teroris yang sebenarnya adalah Zionis dan Amerika. Amerika itu pun hanya sebagai korban. Saya katakan ketika ada media baru mengatakan kepada saya “apakah Anda memusuhi kami warga Amerika?” Tidak. Warga Amerika banyak juga yang muslim. Mereka saudara-saudara kami. Kami hanya tidak ingin kebijakan politik luar negeri pemerintah Anda. Kenapa politik pemerintah mendukung Israel habis-habisan? Sehingga pemerintah Anda telah menyeret warga Amerika yang tidak berdosa ke dalam konflik yang berkepanjangan. Oleh karena itu supaya mereka sadar dan kalau bisa masuk Islam, supaya selamat dunia akhirat.

ULIL: Inilah bentuk propaganda ala Mujahidin. Ini juga black propaganda yang sama berbahayanya black propagandanya Bush. Makanya saya pernah nulis bahwa Bin Ladenisme itu bisa dilakuan oleh Bush, bisa dilakukan oleh Osama. Saya tidak peduli apakah hal semacam ini dilakukan oleh Amerika terhadap Irak. Itu saya kritik juga. Jelas perlakuan Amerika di Palestina itu jelas-jelas salah. Tetapi kita juga tidak boleh mengabaikan dan jangan lupa sekarang ada terorisme atas orang Islam di Ayodia, India. Itu semua fakta. Tapi fakta pula bahwa Al-Qaedah ini jaringan yang berbahaya. Dan tidak ada untungnya orang Islam membela Osama dan menganggapnya sebagai pahlawan seolah-olah dia wakil dari dunia Islam. Bagi saya tidak ada manfaatnya sama sekali. Saya sebagai orang Islam merasa insulted (?) saya merasa betul-betul tersinggung karena Osama seperti hero. Dan itu dikatakan berkali-kali oleh Abu Bakar Ba’asyir. Bagi saya, bagaimana Osama dianggap sebagai pahlawan Islam? Tidak bisa itu. Ini menurut saya membodohi pandangan umat Islam di kalangan masyarakat bawah. Ini semua tidak boleh diteruskan. Orang Islam semua harus sadar bahwa fakta ada kekerasan. Ini ada jaringan kekerasan. Kita usut siapa pun orangnya. Yang terbukti nanti militer, yang terbukti nanti Abu Bakar Ba’asyir, atau Osama itu harus diadili.

KELIK PRD: Seperti tadi saya katakan, sebetulnya ada dua tugas utama yang pokok. Satu sisi harus mencari aktor pengeboman, yang kedua persoalan harus mencari akar penyebab terjadinya terorisme ini. Satu kita melihat krisis dunia yang saat ini sedang terjadi kemudian bagaimana tindakan Amerika melakukan ekspansi penyerangan ke Israel (Kok?), Irak, Afganistan. Kemudian saya ingatkan bahwa itu semata-mata bukan persoalan antara Islam dan Barat. Karena untuk menyerang Afganistan pun Amerika minta bantuan negara-negara Islam. Untuk menyerang Irak pun Amerika masih mencari dukungan negara-negara Islam. Sehingga tidak benar sama sekali bahwa persoalan yang terjadi saat ini adalah persoalan Islam dengan Amerika. Kemudian yang sukup lebih penting lagi adalah bagaimana sebenarnya pemerintah Megawati ini merespon. Mampu tidak pemerintahan Megawati ini mengusut tuntas kasus yang terjadi di Bali ini. Saya tadi katakan seperti yang telah dikemukan oleh Ulil bahwa bukan berarti statement saya berarti bahwa terorisme itu sudah biasa dan dilakukan oleh negara kita. Bukan berarti saya melegitimasi apa yang dilakukan teroris saat ini. Karena itu benar-benar sebuah pengkhianatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Siapa pun yang melakukannya itu benar-benar tidak layak lagi hidup di tetapi yang lebih penting saat ini bisa tidak pemerintahan Megawati ini dengan tadi yang diutarakan oleh Ulil bahwa pemerintahan Megawati tidak punya perspektif ekonomi, perspektif politik. Kemudian solusinya apa. Itu sebenarnya yang sangat penting untuk ke depan. Karena yang saya takutkan bahwa dampak dari serangan terorisme ini adalah persoalan kembalinya rezim lama, kembalinya pola-pola security approach yang dilakukan oleh negara dan ini, seperti yang dikatakan Pak Muhyar tadi, sekuat apa pun rumah kita itu pasti ada tikus yang masuk. Makanya jangan sampai RUU anti terorisme ini kemudian disahkan oleh DPR, yang kita juga harus belajar bahwa selama ini Suharto telah melakukan pola yang sama dan itu telah melahirkan sebuah perubahan yang cukup mahal bagi bangsa Indonesia. Itu sebenarnya yang tidak ingin kita harapkan bahwa terorisme ini kemudian melegitimasi tindakan negara untuk melakukan represif.

MODERATOR: Apa yang tadi diperdebatkan oleh Ulil dan Fauzan, dan tadi diberi perspektif lain oleh Kelik, itu juga ternyata yang berpengaruh pada kerja Anda dan teman-teman Anda.

MUHYAR: Ketakutan Kelik ini terhadap perpu anti terorisme, menurut saya, tidak komprehensif. Benar pada masa Suharto ada UU subversi.. Tapi tidak hanya itu. Bahwa pada masa Suharto ada DPR yang dikebiri. Pada masa Suharto ada kekuatan militer yang sangat dominan. Pada masa Suharto ada Suharto sendiri yang jadi tiran. Tetapi pada masa sekarang kita ada pemerintahan, ada suasana yang demokratis yang Anda sendiri perjuangkan. Ada pers yang bebas. Ada DPR yang semakin menguat. Maka adanya UU anti terorisme tidak akan mungkin menjadi suatu UU yang berada dil luar sistem. UU anti terorisme ini pun harus berada di dalam sistem. Sehingga tidak mungkin UU ini akan berada dan digunakan untuk tindakan-tindakan seperti pada masa orde baru dulu. Jadi, menurut saya, itu kekhawatiran yang seperti asap. Yang kerangka logikanya tidak masuk. Karena faktor-faktornya tidak masuk. independen variabelnya tidak masuk. Jadi, menurut saya, bahwa ini adalah suatu kejahatan. Tindakan terorisme harus dilengkapi dengan satu perangkat hukum yang sesuai dengan semangat demokrasi, dengan semangat penghargaan HAM. Itulah yang kita butuhkan. Dan bilamana nanti ada penyelewengan, maka mekanisme demokrasi yang sudah berjalan sekarang tentunya kita harapkan mampu mencegah hal-hal itu.. Tetapi jangan karena ketakutan kita, kemudian mengharamkan UU anti terorisme ini dengan mengasumsi, biarin saja terorisme ada yang penting tidak ada penyelewengan. Padahal penyelewengan itu sebenarnya adalah ketakutan yang semu.

MODERATOR: Kenapa Anda tidak mau terlibat dalam perdebatan tadi.

MUHYAR: Itu dimensinya sudah lain. Saya paham itu karena saya beragama Islam, saya belajar, saya ngaji juga. Kalau sebagai pribadi mungkin saya ikut juga, tetapi dalam hal ini saya bertindak sebagai juru bicara.

HERU: Diskusi tentang siapa dalang pemboman di Bali, saya pikir kita harus menggarisbawahi siapanya. Dan mungkin ada banyak motif bermunculan saat ini, bahkan dipolitisasi ke berbagai macam hal, termasuk penerbitan perpu dan macam-macam ini. Ada satu motif yang dilupakan orang-orang yaitu motif ekonomi, motif bisnis. Motif yang disebutkan sejak awal oleh Kapolda Bali, yaitu bahwa ini tindakan kriminal biasa. Tapi kemudian karena korbannya sekian ratus orang dan kemudian ini melibatkan oprg asing pula, dan banyak disorot dalam satu konteks terorisme, maka seluruh pikiran kita tertuju pada ini motifnya terorisme. Kemudian dibuatlah perangkat macam-macam hal. Sampaikan Pak Muhyar harus sibuk sana sini untuk diskusi terorisme dan intelejen. Termasuk juga beberapa pakar politik kita berbicara, kemarin juga di sini, berbicara mengenai kerangka penataan ulang sistem keamanan nasional, security Internal, dan macam-macam juga. Kalau menurut saya, tampaknya ada satu motif yang dilupakan orang, yaitu motif bisnis atau ekonomi

LUBIS: Ada satu motif suatu peradaban yang dipaksaan oleh suatu kelompok atau suatu negara yang memang di negara lain atau kelompok lain tidak yakin peradaban yang dipaksakan ini terhadap negara atau bangsa-bangsa lain, dan kapitalis ini, kalau mau saya simpulkan, tidak mampu menjamin suatu perdamaian dunia. Itu dulu motifnya. Dan kapitalis ini sangat ditentang oleh sebagian orang di muka bumi ini, karena membuat orang saling bersaing satu sama lain dan makan memakan. Jadi, otomatis orang dari kelompok yang ini tidak mau membiarkan peradaban yang dipaksakan oleh suatu negara itu terhadap negara-negara lain. Jadi kalau di Bali itu kemungkinan siapa pelaku oleh kejadian itu berbagai kemungkinan masih mendominasi itu. Bisa jadi Amerika dengan permainan yang lihai, bisa jadi yang lain. Tetapi untuk ukuran agama, tentang peradaban ini sebenarnya tidak kita kkategorikan dalam ukuran agama. Karena sosialisme sudah mati, tidak bisa lagi untuk menangkal kapitalisme itu. Lalu muncullah segmen itu.

MODERATOR: bagaimana dengan motif bisnis?

MUHYAR: menurut saya sampai saat sekarang semua motif terbuka kemungkinannya. Itulah perlunya ada investigasi dan itulah yang sedang dilakukan sekarang oleh aparat keamanan dan aparat intelegen.

MODERATOR: Hasil investigasi yang Anda bilang sudah satu setengah tahun lalu sudah Anda warning itu, apakah mengarah ke sana juga?

MUHYAR: Menurut saya sulit itu dicari pilah-pilahnya. Di dalam motif ideologi, politik, mungkin juga di dalamnya mengandung motif ekonomi. Tetapi kita bisa menarik satu persatu, karena semua gerakan ini memerlukan pembiayaan, pendanaan, yang saling bertautan. Beberapa waktu yang lalu Bani Indonesia mengusulkan suatu sistem keamanan yang baru dalam mencetak cek dan giro, warkat kliring. Karena dicurigai masuknya dana-dana dalam kaitan dengan pencucian uang, money laundring. Yang diduga, dicurigai, dikhawatirkan digunakan juga untuk kegiatan-kegiatan di luar kegiatan bisnis, umpamanya. Seperti semua ini saling bertautan. Selalu terbuka.

FAUZAN: Hasil kajian departemen kami sudah kami pers release-kan. Mengapa yang dibom Bali yang mayoritas Hindu, kemudian Manado yang mayoritas kristen. Ini persis seperti apa yang diharapkan oleh pelaku pengeboman WTC. Begitu terjadi itu kemudian minoritas Islam di Eropa, Amerika, dan di berbagai negara luar mendapat intimidasi. Dan kita sudah mendengar pasca peledakan bom di Bali ini bahwa masjid di…(Australia?) menjadi pelampiasan sekian orang yang terprovokasi bahwa pelaku peledakan bom Bali adalah umat Islam. Yang saya masih bersyukur adalah bahwa masyarakat Hindu Bali tidak melakukan hal-hal yang irrasional. Umpamanya melakukan tindakan pelampiasan kepada minoritas muslim yang ada di Bali. Demikian pula yang di Manado. Oleh karena itu kami menghimbau sampai pada sesuatu yang paling pahit, seandainya benar bahwa Amerika kemudian menarik seluruh staf diplomatiknya karena pemerintah Indonesia tidak mau menangkap Abu Bakar Ba’asyir, maka kita siap bersama-sama hidup prihatin mengencangkan ikat pinggang. Kalau selama ini yang siap untuk menderita adalah rakyat, sedangkan aparat, pejabat memang belum siap selama ini. Jadi, oleh karena itu kita harus siap mulai kemandirian bersama-sama. Ini himbauan moral saya.

NONG: Ini menarik laporan terakhir mengenai Al-Faruq sudah mengakui mengenal Abu Bakar Ba’asyir, bahkan Abu Bakar Ba’asyir menantang pemerintah Indonesia untuk membawa Faruq ketemu dengan Abu Bakar Ba’asyir. Saya sebagai orang awam, kita sudah terteror juga dengan berita-berita Abu Bakar Ba’asyir terlibat, Amerika terlibat. Menurut saya, informasi ini merupakan kemajuan yang luar biasa. Ada titik terangnya. Buat Pak Muhyar, sebenarnya ada tidak prosedur untuk , katakanlah, menghadap-hadapkan Abu Bakar Ba’asyir dengan Faruq untuk mengklirkan kasus ini. Benar tidak terlibat. Jadi tidak dari satu pihak saja, misalnya polisi sudah dapat oleh-oleh bahwa benar Faruq mengakui Abu Bakar Ba’asyir itu terlibat dalam kasus-kasus yang terjadi selama ini. Kedua, kepada Mas Fauzan, berdasarkan kajian atas apa bahwa paristiwa yang selama ini terjadi itu kemudian berdampak pada umat Islam. Seakan-akan ini sudah diperhitungkan. Kalau saya melihat Mas Fauzan ingin menariknya pada bahwa ini tentu saja orang yang ingin menghancurkan umat Islam. Katakanlah seperti itu. Saya ingin tahu kajiannya seperti apa. Saya lagi-lagi mengakibatkan opini publik. Seakan-akan ingin menghancurkan umat Islam. Padahal saya setuju dengan imam saya Ulil bahwa apapun kenyataan yang dinyatakan untuk publik kita harus berdasarkan fakta yang jelas juga. Kita harus fair bahwa kalau memang ada umat Islam yang melakukan kekerasan seperti sekarang ini, katakanlah benar umat Islam yang melakukan. Kita harus mengakui itu. Jangan sampai Islam ternodai oleh orang-orang yang melakukan kekerasan itu.

BA’ASYIR: Jadi cobalah kita berpikir secara dingin saja. Mengapa kalau Amerika berkokok terorisme adalah Osamah, terorisme adalah Al-Qaedah tanpa ada bukti mereka membuat perbuatan yang membunuh orang atau menghancurkan gedung-gedung tanpa sebab. Kalau dia seandainya mengahncurkan kepentingan Amerika itu suatu pembelaan. Tetapi mengapa kita tidak berani mengatakan bahw Amerika itu teroris. Israel itu teroris. Karena jelas mereka itu telah membunuhi orang yang tidak berdosa demi kepentingan dirinya untuk menguasai mereka itu. Mari kita mengoreksi diri masing-masing. Mengapa kita tidak berani mengatakan Amerika itu terorisme padahal buktinya jelas. Saya tidak keberatan Osama dikatakan teroris asal ada bukti yang jelas. Siapa yang tidak bisa kalau hanya berkokok saja. Tapi sampai sekarang Amerika tidak bisa membuktikan. Taliban juga begitu. Ternyata Amerika tujuannya untuk mengahncurkan pemerintah Islam dan diganti dengan pemerintah sekuler supaya bisa didikte. Persoalannya ini. Ini yang saya minta keadilan. Saya setuju kalau misalnya ada orang Islam yang berbuat satu kerusakan memang harus dihukum dan harus dinilai dengan secara adil. Tetapi mari kita mencoba adil menilai orang kafir. Persoalannya di situ. Mari kita adil menilai Amerika dan Islam. Jadi persoalannya tadi yang sudah dijelaskan, mengapa kejadiannya di Bali yang mayoritasnya orang Hindu. Mengapa di Manado. Di Bali itu ada dua peledakan, yang satu peledakan dahsyat yang satu yang seperti mercon saja. Itu seperti menggambarkan bahwa memang orang Islam akan mengahncurkan Amerika dan demikian pula orang Islam akan menghancurkan orang non Islam. Jadi memang diarahkan bahwa memang di Indonesia itu ada teroris, dan teroris itu orang Islam. buktinya yang dibunuh orang non Islam dan kedutaan Amerika yang tidak apa-apa itu. Ini yang perlu kita analisa dengan tenang dan jujur. Saya hanya minta jujur.

MODERATOR: Foto atau pengakuan apa bisa dijadikan bukti?

MUHYAR: Foto atau pengakuan itu salah satu bukti. Dan bukan satu-satunya bukti kalau hanya pengakuan. Harus dilengkapi dengan bukti-bukti material yang lain. Karena kalau dari pengakuan kontra pengakuan itu berarti your words against my words. Tidak ada habis-habisnya proses hukum. Oleh karena itu pengakuan saja itu belum cukup menjadi bukti. Jadi kalau tuntutan Abu Bakar Ba’asyir dikonfrontir itu juga tidak ada habis-habisnya. Faruq mengatakan saya kenal, Abu Bakar Ba’asyir mengatakan saya tidak kenal. Bagaimana tentu nanti akan ada saksi. Ada bukti hukum lain yang melengkapi. Biarlah proses hukum ini berjalan. Dan mekanismenya tidak begitu. Kalau ada yang menuduh terus yang dituduh didudukkan bersama-sama.. Benar tidak ini. Karena ada mekanisme investigasi. Tentu kepolisian akan mencari bukti yang lain sebagai pelengkap. Tetapi mengenai masalah bukti dalam terorisme jangan kita berpikir secara konvensional. Terorisme merupakan suatu jaringan yang terdiri dari sel-sel. Sekarang kita mau tahu siapa yang melempar bom itu. Mungkin itu bisa kita tahu. Tetapi siapa yang mendorong orang itu untuk melakukan dan melempar granat, kadang kala kita tidak menemukan bukti materil. Karena demikian sel terpotong-potong. Mungkin saja sel yang di atasnya dia tidak tahu, apalagi yang di atasnya. Jadi pengertian pembuktian dalam hal terorisme merupakan hal yang tidak konvensional. Jadi jangan kita terpaku pada pemikiran yang normatif konvensional. Yang tadi Abu Bakar Ba’asyir katakan itu mudah dipatahkan. Saya sarankan Abu Bakar Ba’asyir mencari alasan yang lain biar lebih kuat lagi. Kalau perlu nanti dibantu sama teman-teman supaya alasannya lebih kuat.

BA’ASYIR: memang saya tidak kenal. Silakan cari bukti-bukti atau saksi-saksi yang lain. Saya siap stiap saat. Memang saya tidak tahu menahu dan tidak kenal.

ROY: Memang siapa pelaku di Bali perlu ditemukan, tetapi siapa yang harus paling bertanggung jawab itu juga harus dibuka. Siapa yang paling bertanggung jawab menciptakan situasi sosial politik yang melahirkan, mengambangkan tindakan-tindakan atau metode-metode pemboman terhadap rakyat sipil. Justru saya kecewa Abu Bakar Ba’asyir bilang seolah-olah memiliki legitimasi kematian orang-orang di WTC dengan alasan bahwa orang Palestina pun dibombardir. Itu justru semakin menegasikan atau meniadakan bahwa ada solidaritas rakyat Israel terhadap rakyat Palestina. Karena bom-bom bunuh diri justru membuat takut rakyat Israel. Itu kelompok-kelompok yang menggunakan analisa sempit semacam itu. Kedua, yang paling bertanggung jawab adalah jelas kebijakan-kebijakan imperealis AS yang justru melahirkan bom-bom bunuh diri. Yang justru melahirkan para teroris-teroris baru. Ketiga, yang paling bertanggung jawab adalah negara-negara atau pemerintah negara dunia ketiga yang dulu untuk mempertahankan kekuasaannya mengorganisasikan kelompok-kelompok yang kemudian sekarang menjadi teroris. Siapa yang tidak tahu bahwa jaringan Al-Qaedah yang sekarang dikabarkan di Afganistan itu dulu diorganisir oleh badan intelejen Pakistan untuk memanfaatkan permainan di dalam Afganistan sendiri. Atau contoh di Indonesia. Kita masih ingat pada tahun 98-99 yang namanya pendirian FPI itu dihadiri oleh Nugroho Jayusman dan Teja Suparman. Aku pikir di situ yang harus dipertegas.

LUDI: Pertama, yang ingin saya tanyakan dan mungkin bisa diungkapkan di publik adalah sebelum terjadi peristiwa di Bali informasi apa yang diperoleh BIN akan terjadi suatu peristiwa itu. Mungkin informasi ini bisa disampaikan ke publik secara terbuka. Kedua, langkah apa yang akan BIN lakukan untuk mencegah rentetan peristiwa ini agar tidak terjadi lagi.

SANTOSO: saya kira masalah terorisme ini adalah masalah yang sangat kompleks. Dalam kaitan ini saya kira ada dua statement dari Klik dan Fauzan yang luput dari pendalaman dari diskusi ini. Tadi Fauzan mengatakan bahwa ini adalah barangkali salah satu bentuk couter hegemoni. Kelik mengatakan kita jangan terjebak hanya pada siapa dalangnya. Coba lihat akar masalah munculnya terorisme ini. Fenomena apa ini sebenarnya. Dalam kaitan ini saya ingin mendapatkan Analisa dari pihak BIN, kalau kita di tingkat wacana kita kembalikan persoalan ini di sekitar akhir robohnya negara-negara sosialisme itu, ada suatu kebutuhan suatu tatanan dunia baru, demikian propaganda dari Amerika. Dan ditingkatan wacana ada suatu dominasi, yaitu dari Huntington the Clash of civilization, di situ kita tahu betul bagaimana visi Amerika terhadap Islam. Saya ingin tahu bagaimana assessment BIN terhadap persoalan-persoalan ini dalam kaitan wacana internasional itu, karena ini merembes politik luar negeri Amerika dan terus kepada negara-negara yang menerima bantuan Amerika itu. Dan nasihat analisa BIN bagaimana. Apakah merembes kepada negara Indonesia ini?

GINANJAR: Pertama, Pak Muhyar, upaya Anda untuk menghindar dengan mengatakan tidak ingin ikutan dalam perdebatan Ulil dan Fauzan itu justru menjadi salah satu yang memberi energi bagi sejumlah kalangan untuk mengatakan bahwa agama adalah hak mereka sendiri. Sementara kita umat biasa seakan-akan tidak ada hak untuk bicara apapun atas agama. Sehingga ketika ada imam bilang begitu kita harus terima. Saya kira sikap Anda sangat berbahaya. Yang itu membuat monopoli dominasi dari kalangan yang kemudian juga meligitimasi teror. Kedua, saya tidak kaget ketika Hamzah Haz, kita tahu bagaimana motifnya ketika menyudutkan BIN dan sebagainya. Tapi saya juga tidak kaget bahwa BIN itu jelek, karena lihat saja tokoh-tokoh intelejen bekas BAKIN dan sebagainya. Maulani. Untuk kasus apapun yang dibicarakan hanya Amerika, Israel. Sama dengan tahayul-tahayul politik, tahayul keamanan dunia sekarang yang dipelihara seakan-akan untuk mengatakan bahwa Indonesia adalah negara yang bersih dari apa pun juga. Umat Islam adalah umat yang bersih dari apapu juga.

MUHYAR: Pertama, saya ingin menjawab tidak ada satu negara pun, tidak ada satu dinas intelejen dari negara manapun bisa mengetahui pada saat-saat terakhir dimana objek, dimana sasaran, apa yang akan dilakukan oleh kelompok-kelompok teroris itu. Karena untuk mengetahui itu akan memerlukan satu kegiatan yang sangat rumit. Harus ada orang yang dimasukkan ke dalam. Itu sudah teknis. Itu BIN tidah tahu. Tetapi untuk mengetahui peningkatan aktivitas dari jaringan, itu sudah kita warning. Makanya belum lama ini kita melakukan ada upaya penangkapan bersama dengan kepolisian. Sayam reda(?), umpamanya. Karena kita melihat ada itu. Dan di dalam catatan harian Sayam reda ketika disita itu ada catatan-catatan tentang eksplosif devices. Tapi pada saat itu kemudian reaksi demikian begitu kuat, bahkan ada yang mengatakan tangkap saya dulu. Tapi saya tidak mau mengulang itu lagi. Kedua, saya katakan saya hadir di sini mewakili satu institusi. Tentu saya tidak bisa ikut campur dalam perdebatan agama yang sudah sedemikian dalam.. Itu di luar tugas dan wewenang saya. Maka saya pribadi saya mau ikut-ikut juga biar bisa belajar menambah kedalaman. Ketiga, saya tidak bisa terima kalau Maulani, Manulang adalah identik dengan BIN. Mereka mungkin pernah menjadi bagian dari anggota badan intelejen pada masa yang lalu. Bukan pada masa BIN yang sekarang. Saya bukan intelejen. Tapi katanya seorang intelejen pada hari pertama, pada jam pertama dia mengikuti pendidikan Anda adalah seseorang yang tidak pernah ada. You are the man who never was. Kalau kemudian muncul ada seorang intelejen sebelum mati mengatakan dia intelejen itu berarti dia bukan orang intelejen.

ULIL: Pokoknya prinsipnya adalah sekarang ini ancaman terorisme itu sudah dihadapan mata kita dan menurut saya tidak ada lagi kemewahan waktu untuk berdebat persoalan apakah ini mencemarkan agama tertentu, mencampuri kedaulatan bangsa kita, atau pun menarik terlalu jauh kepada akar-akar masalah yang lebih luas. Tentu kita diskusikan akar-akar terorisme lebih luas, tetapi ancaman ini sudah di depan mata kita dan kita harus waspada bahwa ini adalah masalah yang harus diatasi. Saya kira jangan buang waktulah untuk hal-hal yang tidak prinsipil. Teori Amerika terlibat atau mesti ini. Lebih baik kita fokuskan pada sesuatu yang lebih spesifik. Kalau keliru misalnya, ok kita koreksi. Tapi masalah ini sudah mendesak.

FAUZAN: Jadi sebagaimana imamnya, saya kira Nong juga hanya menggunakan otak untuk menganalisis sesuatu. Jadi selamat Anda telah berhasil mencabut jilbab Anda untuk menunjukkan Anda adalah seorang yang sangat rasional. Tapi hanya mengatakan bahwa ketika Deplu menyebut bahwa Yogya dan Solo adalah tempat yang mengancam warga negara asing. Maka apa yang mesti kita analisis? Kenapa tidak menyebut yang lain? Yogya itu markas Mujahidin. Solo itu tempat dimana Abu Bakar Ba’asyir tinggal. Reaksi Sultan Hamengkubuwono X sangat realistis, yaitu kemudian memprotes sikap Amerika dengan membatalkan kunjungan ke sana. Kami melihat bahwa bom yang meledak di Bali dan di Manado adalah untuk mengaddu domba antar umat beragama. Tetapi kami merasa yakin bahwa umat beragama tidak akan mudah diadu domba oleh Amerika. Saya kira harus menyatukan langkah untuk memulai hidup baru sebagai bangsa yang mandiri.

KELIK: Mungkin statement terakhir. Sebetulnya yang perlu kita antisipasi adalah what next, apa yang akan terjadi ke depan. Artinya ini sebuah antisipasi dari katakanlah kelompok-kelompok prodem yang selama ini berjuang kemudian tiba-tiba dihancurkan, kalau saya bilang, dengan tindakan pengeboman di Bali kemarin yang sehingga meligitimasi bagi negara untuk melakukan security approach lagi. Ini yang sebetulnya sangat penting bagi gerakan-gerakan demokratisasi untuk melihat atau mengeliminir terjadi tindakan–tindakan teroris yang itu di luar kemanusiaan. Kedua, persoalan mampu itdak pemerintahan Megawati ini untuk mengusut tuntas kasus ini.

* * *

——————————————————————————–From: Haniwar Syarif [syarif@centrin.net.id]

Sent: 01 Desember 2002 19:23

To: mus-lim@isnet.org

Subject: [mus-lim] diskusi terorisme

Komentar ditutup.