MENGGAGAS NASIONALISME HUMANIS BUNG KARNO

MENGGAGAS NASIONALISME HUMANIS BUNG KARNO

Jalan Menuju Masyarakat Baru Indonesia

Oleh: Tadjuddin Noer Effenfi

Pengantar

Kesengsaraan dan penderitaan rakyat Indonesia dan masyarakat dunia ketiga, tidak hanya melahirkan pemikiran humanisme universal. Kedua etos itu melahirkan gagasan nasionalisme humanis yang merupakan kritik terhadap nasionalisme barat yang agresif, dan didorong oleh etos kapitalisme yang kemudian melahirkan imperialisme modern. Imperialisme inilah, diyakini Bung Karno sebagai penyebab masyarakat negara-negara dunia ketiga sulit ke luar dari kemelut kemiskinan dan keterbelakangan. Kritik terhadap nasionalisme barat inilah, yang menjadi gagasan utama nasionalisme humanis Bung Karno.

Nasionalisme humanis dibangun atas dasar prinsip, setiap bangsa mampu memberikan sumbangan dalam menegakkan harkat dan martabat manusia, serta untuk pengembangan nilai-nilai humanisme sesuai dengan karakteristik dan sifat-sifat bangsa itu. Tidak hanya paham kebebasan, keadilan dan kesetaraan, tetapi paham toleransi adalah hal yang perlu mendapat perhatian dalam tata pergaulan internasional. Nasionalisme yang berlandaskan pada toleransi ini tidak hanya dapat menciptakan perdamaian dunia, tetapi dapat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Gagasan nasionalisme humanis itu merupakan garis besar pemikiran Bung Karno yang didiskusikan dalam tulisan ini.

Nilai humanisme Meskipun dalam berbagai tulisan dapat ditelusuri, bahwa dasar pemikiran Bung Karno sarat dengan muatan nilai-nilai kemanusiaan hakiki bersifat universal, prinsip utama (asas) pemikiran bersumber pada tuntutan hati/budi nurani manusia (the social consicience of man). Tidak mengherankan bila Bung Karno muda dari awal berjuang, senantiasa menegaskan tuntutan revolusi rakyat Indonesia. Tidak hanya sekadar merdeka, tetapi lebih dari itu yaitu memperjuangkan kebebasan sesuai dengan kodrat manusia (hak-hak asasi manusia). Pemikiran ini tercermin antara lain dalam pidato Bung Karno.

“….bahwa revolusi kita ini adalah sebagian saja daripada revolusi kemanusiaan. Cita-cita revolusi kita adalah, kataku, konggruen dengan the social consicience of man”.

“….bahwa semboyan kita adalah freedom to be free, bebas untuk merdeka. Buat apa ada freedom of speech, freedom of creed, freedom from want, freedom of form fear, jikalau tidak ada kebebasan untuk merdeka”.

Setidaknya kutipan di atas dapat dimaknai, perjuangan rakyat Indonesia yang dikobarkan Bung Karno tidak hanya sebatas merebut kemerdekaan dari kolonial dan tercukupinya sandang pangan, tetapi juga sebuah perjuangan aspirasi kemanusiaan yang di dalamnya terkandung perjuangan untuk menegakkan harkat dan martabat manusia. Tidak mengherankan bila arah perjuangan Bung Karno adalah pembebasan anak manusia dari segala macam bentuk penindasan dan ketidakadilan.

Di masa Kolonial

Tahap awal perjuangan, Bung Karno muda berupaya membekali diri dengan pengetahuan tentang sosialis liberal, seluk beluk sistem Imperialisme, memahami kerangka analisis (epistimologis) Marxian, memperkaya pengalaman empiris, serta berusaha memahami realitas sosial dinamika kehidupan masyarakat, internasional dan nasional, pada awal dan pertengahan abad ke- 20. Berdasarkan pengetahuan itu Bung Karno berusaha mengkonstruksi sistem pengetahuan dan memformulasikan plat form perjuangan untuk membebaskan Indonesia dari penindasan kolonial. Plat form dirumuskan dalam bentuk azas Marhaenisme sebagai landasan organisasi perjuangan (PNI).

Plat form disusun berdasarkan realitas sosial bahwa tanpa melakukan perlawanan secara revolusioner terhadap feodalisme, kolonialisme, kapitalisme, dan imperialisme sangat tidak mungkin membebaskan anak bangsa dari kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, dan penindasan manusia atas manusia, serta penindasan bangsa atas bangsa. Pemikiran ini dijadikan konsep dasar dalam menentukan strategi dan arah perjuangan. Pada tahap ini Bung Karno merumuskan pemikiran itu ke dalam asas Marhaenisme.

Asas Marhaenisme bila ditelusuri dari berbagai tulisan Bung Karno, mengandung sosio-nasionalisme dan sosio demokrasi. Karena dalam asas Marhaenisme sarat dengan nuansa untuk memperjuangkan kepentingan kaum tertindas, dengan upaya menghapuskan pemerasan dan mempersatukan semua golongan yang tertindas (Marhaen). Mempersatukan kekuatan semua golongan tertindas yang antikapitalis dan imperialis, tampaknya, diletakkan sebagai pilar utama untuk memperjuangkan tegaknya nilai-nilai kemanusiaan.

Pada masa perjuangan mencapai kemerdekaan, di tataran nasional semangat Marhaenisme dijadikan kekuatan ideologi dalam menggalang dan menyusun kekuatan (machtsvorming), dan mengarahkan kekuatan masa aksi untuk melawan dan melepaskan diri dari penjajahan. Kesadaran politik kolektif kaum Marhaen yang tertindas, dijadikan alat perekat dalam membangun semangat kerjasama dan gotong royong untuk mencapai tujuan perjuangan, yakni merebut kekuasaan dalam upaya melepaskan diri dari belenggu kolonialisme, kapitalisme dan imperialisme.

Di ambang pintu kemerdekaan, pemikiran Bung Karno itu menjadi sumber inspirasi dalam merumuskan dasar negara, Pancasila. Pancasila dasar negara yang di dalamnya terkandung semangat toleransi “semua buat semua”. Pemikiran itu jelas sebagai upaya untuk menyatukan semua golongan dan menyatukan semua kepentingan golongan ke dalam satu kepentingan bangsa, dengan semboyan berbeda-beda tetapi satu (Bhineka Tunggal Ika). Pancasila sebagai perekat kepentingan bangsa mengandung nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan (humanistik), kebangsaan (persatuan), demokrasi dan keadilan.

Pasca Kemerdekaan

Setelah kemerdekaan dicapai dan dapat dipertahankan, cita-cita luhur untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaan universal mulai diperjuangkan. Usaha-usaha perbaikan sosial menuju kehidupan lebih manusiawi terus ditegakkan. Salah satu upaya untuk mencapai gagasan itu, diwujudkan dengan melawan kekuatan kolonialis, kapitalis, imperialis, melalui penggalangan kekuatan bangsa-bangsa tertindas melalui gerakan non-blok yang diawali dengan konsperensi Asia Afrika di Bandung. Gerakan ini melahirkan kesepakatan-kesepakatan penting menyangkut nasib bangsa-bangsa terjajah.

Penggalangan kekuatan nasionalisme negara-negara tertindas ini, menyebabkan kolonialisme penjajah berangsur-angsur runtuh ditandai dengan lenyapnya penjajahan, dan satu per satu bangsa-bangsa Asia Afrika merdeka dan terbebas dari belenggu penjajahan yang menyengsarakan.

Setelah itu konstelasi masyarakat internasional mengalami perubahan. Meskipun kemerdekaan telah terwujud, tetapi kolonialisme dan imperialisme tetap eksis. Melalui metamorfosa institusi, kapitalisme dan imperialisme menjelma menjadi apa yang diyakini Bung Karno sebagai kapitalisme modern dan imperialisme modern. Memanfaatkan lembaga-lembaga internasional (PBB, IMF, dll), perusahaan multi dan trans nasional praktek imperialisme tetap eksis, dan dengan berbagai upaya berusaha mendominasi serta mensubordinasi bangsa-bangsa baru merdeka dunia ketiga. Dominasi tidak secara fisik lagi, tetapi lebih bersifat ideologi di bungkus teori mission sacree (misi suci) melalui kebijakan politik, ekonomi, sosial budaya dan teknologi.

Tesis Bung Karno tentang ancaman berubahnya imperialis dari tua ke modern yang dipikirkan pada tahun 1930 an, menunjukkan kebenarannya saat ini. Menurut keyakinan Bung Karno, Indonesia tidak akan bisa keluar dari berbagai bencana, meskipun imperialisme overheersen (memerintah) telah hilang, karena imperialisme beheersen (menguasai) akan dan telah siap menggantikannya.

Dalam konteks kekinian, realitas ini mengandung makna bahwa imperialisme overheerseen (memerintah) atau dominasi secara perlahan digantikan oleh imperialisme beheersen (menguasai). Imperialisme beheersen mempunyai kemiripan dengan terminologi Gramsci, hegemoni. Melalui hegemoni, sistem kapitalisme dan imperialisme menyusup secara perlahan melalui media institusi ekonomi, sosial, politik, budaya, dan teknologi.

Dengan bahasa yang berbeda, Bung Karno menggambarkan bahwa imperialisme modern menjadikan Indonesia sebagai daerah penanaman modal (daerah pengusahaan dari kapital lebih) dalam kegiatan perdagangan dan industri, membuat rakyat menjadi bodoh dan kehilangan enersinya.

Ketika konstelasi politik dunia masih diwarnai oleh dua kekuatan ideologis, yaitu ideologi kapitalisme dan komunisme, masyarakat dunia mengalami perang dingin. Kedua kekuatan itu secara nyata berusaha dengan berbagai cara untuk mendominasi dunia. Dalam menyikapi situasi perang dingin itu dan tetap berpegang teguh pada tuntutan hati/budi nurani manusia, yakni pembebasan dari penindasan, eksploitasi kapitalis dan imperialis serta untuk menciptakan perdamaian dunia, Bung Karno berusaha mengembangkan beberapa pemikiran.

Pertama, pada tataran internasional Bung Karno berusaha membangun kekuatan politik dengan menggalang kekuatan negara-negara dunia ketiga ke dalam kekuatan politik Non Blok. Kemudian kekuatan Dunia Ketiga ini oleh Bung Karno disebut dengan New Emerging Forces (Nefo). Dengan penuh keyakinan Bung Karno mengharapkan bahwa kekuatan Dunia Baru yang terdiri dari kekuatan negara-negara Islam, Sosialis dan Nasionalis ini dapat mengurangi dan menghalangi serta membebaskan negara-negara Asia dan Afrika dari belenggu dominasi dua kekuatan dunia.

Untuk mendapat dukungan dan menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, dan dihadapkan dengan realitas sosial serta kehidupan politik saat itu, di dalam negeri Bung Karno membentuk kekuatan politik dengan mengembangkan strategi Nasakom (Nasional, Agama, dan Komunis). Strategi ini banyak menapat sorotan dan kritikan tajam dari berbagai pihak, baik di dalam negeri maupun luar negeri, karena dianggap memberikan peluang pada komunis untuk berkembang dan berpengaruh di Indonesia. Bahkan, strategi ini oleh lawan politik Bung Karno, terutama yang memihak kepentingan kaum kapitalis dan imperialis, dipakai sebagai alat untuk menyerang dan melemahkan posisi Bung Karno.

Menghadapi serangan itu, sikap nonekonomi Bung Karno terhadap imperialisme modern semakin radikal. Sebagai upaya menegakkan kedaulatan di bidang politik, salah satu strategi yang diterapkan Bung Karno adalah menarik diri dari PBB, yang saat itu dipandang sebagai instrumen imperialisme modern dalam rangka memenuhi hasrat menguasai dunia ketiga.

Ketiga, dalam bidang budaya diupayakan Berkepribadian dalam Kebudayaan. Secara konsisten Bung Karno menekankan bahwa perlu mengikis eksistensi budaya feodalis.

Penutup

Dari paparan di atas dapat kita cermati bahwa paham nasionalisme humanis Bung Karno tidak hanya dijadikan sebagai landasan utama perjuangan menegakkan kemerdekaan Indonesia, tetapi juga diupayakan sebagai dasar untuk memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan universal, dengan mengorbankan toleransi dan semangat nasionalisme negara-negara dunia ketiga, agar terbebas dari penindasan dan ekploitasi. Juga dapat dicermati bahwa paham nasionalisme humanis dikonstruksikan berdasarkan pada prinsip humanistik egaletarian, menolak individualisme dan menolak dengan tegas penindasan (eksploitasi) serta menyerukan berjuang secara revolusioner untuk menghancurkan sistem kapitalis dan imperialis yang menindas anak manusia.

Memperjuangkan kebebasan, menegakkan kesamaan, keadilan, kedaulatan dan self suffcient (kemandirian) adalah jalan untuk menciptakan dunia baru yang damai. Tetapi, mengapa paham nasionalisme humanis seakan dilupakan dalam mencari jalan keluar persoalan yang dihadapi bangsa akhir-akhir ini?

MARHAENISME DI ERA IMPRIALISME

MARHAENIS

DI ERA IMPERIALISME

Catatan untuk Budiman Sudjatmiko

Coen Husain Pontoh

Artikel panjang Budiman Sudjatmiko, menarik untuk didiskusikan lebih lanjut. Pertama, artikel itu coba melihat bagaimana kondisi negara-bangsa Indonesia di era kapitalisme-neoliberal saat ini; kedua, bagaimana posisi Marhaenis di tengah-tengah pergulatan itu; dan ketiga, bagaimana seharusnya Marhaenis bersikap.

Untuk memudahkan catatan saya terhadap artikel Budiman itu, saya ingin menempatkan artikel tersebut dalam bingkai Republik dan bingkai Imperialisme (saya tidak menggunakan istilah neoliberal, karena istilah ini lebih berbicara soal masalah ekonomi internasional). Republik di sini saya maksudkan, sebagai upaya bersama sebuah bangsa untuk meninggikan derajat kesejahteraan rakyat, harkat kemanusiaannya, dan independensinya dalam pergaulan antar bangsa. Dengan demikian, Republik bermakna pembangunan ke dalam di bidang ekonomi, politik, sosial, budaya, dan pertahanan keamanan.

Sementara Imperialisme, adalah sebuah upaya pembangunan kekaisaran global (empire) melalui proses penaklukan, pendudukan, dan atau pengontrolan sumber-sumber daya alam di luar negeri. Pada masa sekarang ini, kalangan ilmuwan sosial progresif meyakini, Imperialisme merupakan motor penggerak sejarah yang sebenarnya. Dengan demikian, ada jurang lebar antara pengertian Republik dan Imperialisme. Jika keberhasilan Republik dinilai berdasarkan hubungan yang setara, tumbuh suburnya solidaritas sosial di kalangan anak-bangsa, maka kesuksesan imperialisme dihasilkan dari hubungan yang timpang dan dominatif.

Dari pemaknaan ini, ingin saya katakan, sejak peristiwa G30S 1965, negara-bangsa Indonesia sebagai sebuah Republik, praktis telah gagal, hancur berkeping-keping. Martabat manusia diluluh-lantakkan, hubungan antar sesama berlangsung penuh kecurigaan dan serba tegang, rasa solidaritas dan kebersamaan musnah. Yang tinggal adalah laku bunuh-bunuhan, jegal-jegalan, korupsi, kebodohan, kemiskinan, penghianatan intelektual, hingga ketergantungan yang parah terhadap dinamika ekonomi internasional.

Beriringan dengan kebangkrutan Republik itu, rejim Orde Baru (Orba), di bawah kondisi perang global melawan komunisme, secara perlahan dan penuh kepastian, menggiring negara-bangsa Indonesia menjadi negara klien (Client-State/CS) bagi negara imperial (Imperial-State/IS). Dalam posisi sebagai CS ini, rejim Orba berfungsi memfasilitasi, melayani, dan melindungi kelancaran dan kelangsungan eksploitasi sumberdaya manusia dan sumberdaya alam Indonesia. Sejak peristiwa G30S 1965 itu, apa yang disinyalir Bung Karno sebagai “bangsa kuli dan kuli di antara bangsa-bangsa,” diwujud-nyatakan oleh rejim Orba.

Setelah reformasi yang menumbangkan pucuk kekuasaan rejim Orba pada 1998, terjangan imperialisme semakin menjadi-jadi. Rejim-rejim paska reformasi kian menjadikan dirinya sebagai klien imperialis. Jika pada masa Orba, agen-agen imperialisme masih harus bernegosiasi dengan struktur kekuasaan yang relatif homogen, saat ini, justru rejim-rejim paska reformasi berusaha semampu mungkin mengikatkan dirinya pada agen-agen imperialisme itu. Jika pada masa Orba Imperialisme bekerja di bawah payung perang global melawan komunisme, di masa reformasi ini, Imperialisme bekerja di bawah atap perang global melawan terorisme. Akibatnya, bukannya membuka lembaran baru bagi kebangkitan kembali Republik, rejim di era transisi ini malah kian menghamba pada tuntutan-tuntutan negara imperial: obral murah perusahaan milik negara, mencabut sesegera mungkin subsidi untuk kebutuhan mendasar rakyat, atau bagaimana agar kekuatan buruh selekas-lekasnya dilucuti agar tidak mengganggu kelangsungan eksploitasi.

Dan, keberhasilan melayani kepentingan imperial itu, dijadikan ukuran sukses tidaknya kinerja rejim masa transisi. Kata kuncinya, semakin terintegrasi semakin sukses. Misalnya, semakin banyak menjual perusahaan milik negara (BUMN), pertanda rejim baru ini sukses melaksanakan reformasi ekonomi. Semakin cepat mencabut subsidi kebutuhan pokok, semakin berbangga diri sebagai rejim paling konsisten. Semakin cepat membayar utang luar negeri, semakin merasa terhormat di mata negara imperial.

Tapi, kita tahu, semua rasa bangga itu bermakna, makin hancurnya bangunan Republik. Pertanda, posisi kaum Marhaen semakin terjepit, tergilas, dan tertinggal. “Kaum segala kecil” inilah yang pada akhirnya harus membayar totalitas penghambaan itu. Mereka tidak dilayani, dilindungi, dan difasilitasi oleh rejim-rejim paska reformasi. Bahkan, ketika rejim itu dipimpin oleh anak darah Bapak Marhaen, Soekarno.

Bagaimana Sikap Marhaenis?

Pada titik ini, kita tidak mendapatkan sebuah uraian yang memadai dari Budiman Sudjatmiko. Ia hanya memberikan lontaran-lontaran ide yang umum. Misalnya, ia mengatakan, untuk menjawab tantangan kekinian berupa runtuhnya Republik dan berjayanya globalisasi neoliberal, kaum Marhaen haruslah menjadi sebuah gerakan politik. Dan rupanya, gerakan politik yang dimaksudkannya itu, kaum Marhaen harusnya bergabung atau membentuk sebuah partai politik. “Kita tak terlalu berlarut-larut memperdebatkan urusan tersebut,” ujarnya tegas.

Tentu saja ini sebuah penyederhanaan yang berbahaya dan abai sejarah. Faktanya, kaum Marhaen, menjelang dan terutama setelah runtuhnya pucuk kekuasaan rejim Orba, telah begitu terpolitisasi. Mereka telah menyatakan sikap dan pilihan politiknya melalui dukungannya terhadap PDI-P dan Megawati Soekarnoputri. Dukungan itu luar biasa besar, penuh semangat, sukarela, yang dilambari optimisme yang tinggi. Sialnya, dukungan politik penuh antusias itu diselewengkan, lebih tepatnya, dikhianati oleh PDI-P dan Megawati Soekarnoputri. Seperti saya katakan di atas, tak ada satupun usaha serius dari PDI-P dan Megawati untuk membangun kembali Republik. Dan atas penyelewengan serta pengkhianatan itu, kaum Marhaen, lagi-lagi menunjukkan sikap politiknya dengan mentalak tiga kepemimpinan Megawati.

Maka di sini, gerakan politik Marhaenis bukan pertama-tama bagaimana membangun partai politik atau masuk partai politik. Yang terutama adalah merumuskan kembali posisi politik Marhaen, apakah berpihak pada Republik atau terus menjadi klien negara imperialis. Jika berpihak pada Republik, maka slogan lama Bung Karno “go to hell with your aid” adalah titik pijak pertama untuk melangkah ke depan. Gerakan politik Marhaen, harus secara tegas menyatakan penolakannya terhadap seluruh agenda negara imperialis. Dalam bidang ekonomi, misalnya, kaum Marhaen harus tegas-tegas menolak seluruh agenda kebijakan neoliberal. Dalam bidang politik dan pertahanan keamanan, kaum Marhaen harus menolak keterlibatan Indonesia dalam skenario perang global melawan terorisme. Sekali melunak, atau sejenak saja menjadi moderat, selamanya tak akan mampu ke luar dari jebakan imperialisme. Inilah yang menimpa rejim Luiz Ignacio “Lula” Da Silva di Brazil.

Dengan posisi politik seperti ini, implikasi praktisnya, kaum Marhaen, haruslah membangun gerakan politik yang independen, di luar partai politik yang ada saat ini. Jelasnya, gerakan politik Marhaenisme, tidak boleh lagi berkait apalagi menjadi bagian struktural dari partai-partai politik yang kini eksis. Terbukti sudah, partai-partai politik yang berjaya saat ini, dari yang mengusung jargon agama maupun jargon sekuler, telah mengkhianati Republik, telah mempecundangi kaum Marhaen. Tanpa independensi ini, gerakan politik Marhaenis, hanya akan menjadi kerikil dalam sepatu bagi kekuatan politik yang ada, ia hanya akan menjadi “buih di tengah gelombang samudra.” Ia tidak bisa menjadi benteng perlindungan, sekaligus tempat menyusun strategi untuk membangun kembali Republik.

Rujukan:

http://indoprogress.blogspot.com/2006/08/marhaenis-di-era-imperialisme.html

Ma’Nyus (Makna Yang Pas’):

Dominatif : asl. Dominasi: penguasaan; penempatan posisi bagus dan kuat; pengaruh besar

Eksploitasi :pemerasan; pengusahaan; pendayagunaan; penarikan keuntungan (secara tak wajar).

Global : seluruhnya; menyeluruh; garis besar; umumnya; secara utuh.

Homogen : terdiri dari jenis/spesies yang sama.

Imperialisme : politik menjajah atas negara lain.

Independensi : kemerdekaan; ketidaktergantungan (pada pihak/orang lain)

Kapitalisme : sistem perekonomian yang berdasarkan hak milik partikelir yang menekankan kebebasan dalam lapangan produksi, kebebasan untuk membelanjakan pendapatan; bermonopoli; sedang alat-alat produksi ada pada tangan kapitalis.

Komunisme : sistem politik ekonomi, dimana alat-alat produksi merupakan milik umum.

Konsisten : tetap; konsekuen; tetap pada; selaras; sesuai.

Moderat : sederhana; luwes; pertengahan; penahan nafsu; orang yang berhaluan lunak.

Neoliberal : asl Liberal: murah hati; dermawan; luas (pendirian/wawasan); bebas; berkenaan dengan kebebasan bagi individu atau partikelir; royal; bebas dalam berpendapat.

Progresif : berhasrat maju; selalu (lebih) maju; meningkat.

Reformasi : perubahan; perbaikan; pembentukan baru; pembaharuan; perombakan (bentuk); gerakan keagamaan pada abad ke 16 di Eropa yang bertujuan memperbaharui gereja Khatolik Roma, sehingga mengakibatkan berdirinya gereja Protestan.

Relatif :Nisbi; ada hubungan dengan; seimbang dengan; tidak mesti; tidak mutlak; tidak tetap; terbatas; famili.

Republik :bentuk negara, yang pada umumnya dipimpin oleh presiden.

Skenario : rencana lakon sandiwara (film/drama); penyusunan rencana lakon.

Subsidi : sokongan atau tunjangan uang dsb., dari pemerintah kepada suatu perkumpulan yayasan.

Terpolitisasi :asl. Politisasi: pendidikan dan penerapan kesadaran politik; pembangunan politik; hal menerapi dengan metode politik.

Transisi : peralihan; masa pancaroba.

.:: M a r h a e n i s m e ::.

.:: M a r h a e n i s m e ::.

Sintesa Bung Karno adalah sintesa yang tajam dan berani. Sintesa itu tidak hanya hasil dari renungannya seorang pejuang, yang gandrung kepada persatuan, tapi pula hasil dari pada situasi tahun 1926-1927 itu sendiri.

Tahun 1926-1927 adalah tahun-tahun memuncaknya reaksi; tapi iapun adalah tahun-tahun memuncaknya kekuatan-kekuatan revolusi. Malahan justru karena kekuatan-kekuatan revolusi meningkat kekuatan-kekuatan reaksi bersiap-siap.

Apakah jaman 1926-1927 itu?

Ia adalah jaman Internationale Democratische Congres di Bierville, dimana Perhimpunan Indonesia, perhimpunan mahasiswa-mahasiswa kita di negeri Belanda bekerja sama dengan kaum sosialis internasional.

Ia adalah jaman Kongres Liga melawan koloniale onderdrukking di Brussel, dimana mahasiswa-mahasiswa seluruh Asia bertemu dengan gerakan progressif internasional.

Ia adalah jaman konvensi Hatta-Semaun dimana kaum komunis menyatakan kesediannya untuk bekerja erat dengan kaum nasionalis dibawah pimpinan Perhimpunan Indonesia.

Ia adalah pasang naiknya gerakan rakyat yang revolusioner.

Tapi ia juga adalah jaman penghantaman dan pemukulan oleh kolonialisme terhadap gerakan kemerdekaan ini.

Di Indonesia PKI dihantam; SI dihalang-halangi; dinegeri Belanda pemuda-pemuda, Hatta, Ali Sastroamijojo, Nazir Pamuncak diproses.

Dan ditengah-tengah keadaan demikian itulah Bung Karno menghasilkan sintesa tersebut; dimaksud untuk menyelamatkan dan melanjutkan cita-cita kemerdekaan, demokrasi dan sosialisme. Pada tanggal 4 Juli 1927, ditengah-tengah gemuruhnya reaksi maka didirikan PNI dipimpin oleh Bung Karno, Mr. Iskaq, dr. Samsi, Mr. Budiarto, Mr. Sartono, Mr. Sunario dan Ir. Anwari.

Karena itu tepat sekali apa yang dikatakan oleh Benda dan Ruth McVey, bahwa taun 1926-1927 adalah a decisive turning point, yaitu karena:

1. politik kaum ethici Belanda terhadap Indonesia gagal

2. aliran kanan dalam pemerintahan Hindia Belanda menang

3. gerakan nasionalis kiri tampil kemuka di Indonesia.

Kesemuanya ini mengakibatkan bahwa sepanjang tahun-tahun 1929, 1934,1941 dan sejak Proklamasi kita sampai sekarang (1964) tidak dimungkinkan adanya asosiasi politik antara kaum nasionalis Indonesia dengan kaum kolonialis Belanda.

Jikalau kita membaca dengan teliti segala buah pena pemimpin-pemimpin kita pada waktu itu, juga mempelajari pidato-pidato mereka maka pengaruh sintesa anatar Marxisme, Nasionalisme dan Islam sangat mendalam sekali. Jiwanya tetap sosialistis, nasional dan revolusioner.

Pengaruh tulisan-tulisan Kausky, terutama yang dipaparkan dalam referaatnya bernama : Sosialismus und Koloniale Politik, dimuka Kongres Internasionale ke-II tahun 1907, yang menganalisir semua situasi koloni dan yang mengadakan perbedaan-perbedaan antara Arbeidkolonien (koloni-koloni untuk memindahkan tenaga-tenaga buruh) dan Ausbeutungskolonien (koloni-koloni untuk penghisapan), terbagi lagi dalam Ausbeutungskolonien alten Stils (kolonie untuk handels kapitaal) dan Ausbeutungskolonien neuen Stils (koloni-koloni modern untuk pasaran industri dan penanaman modal), terlihat sebagai benang merah di seluruh karya-karyanya pemimpin-pemimpin kita.

Petunjuk-petunjuk Kausky untuk machtsvorming dan massa aksi di dalam bukunya Der Weg zur Macht, juga menjadi pedoman-pedoman yang berharga bagi pemimpin-pemimpin kita dewasa itu.

Terutama Bung Karno baik dalam Suluh Indonesia Muda, dalam pembelaannya Indonesia Menggugat, dalam majalah-majalah Fikiran Rakyat, dalam karyanya Mencapai Indonesia Merdeka, bulan Maret 1933, yang menyebabkan beliau dibuang ke Flores, memperlihatkan dengan tegas sekali benang merah itu.

Hal ini dapat dilihat dalam karyanya Bung Hatta, Sjahrir, Ali Sastroamijoyo, Sartono, Suwandi dan lain-lain lagi dalam majalah-majalah Daulat Rakjat, Suluh Indonesia Muda, dan sebagainya; ya, dalam buku kecil Kamus Marhaen karyanya Sdr. Doel Arnowo yang menyebabkan beliau harus bertamasya dan melihat tembok-tembok penjara dari dalam untuk 15 bulan lamanya.

Kesemuanya cita-cita kemerdekaan dan keadilan sosial seluruh lapisan rakyat ini, dicakup oleh Bung Karno dalam paham Marhaenisme; Marhaen adalah nama seorang tani yang beliau jumpai di selatan Bandung, dan yang beliau simbolisir bagi verzamelnaam setiap rakyat Indonesia, yang menjadi korban daripada kolonialisme tanpa memandang agamanya ataupun paham politiknya. Pengertian kolonialisme dalam hubungan ini adlah kolonialisme sebagai anak kelahiran sistem imprealisme, sedangkan imprealisme adalah tingkat tertinggi dari kapitalisme.

Menurut Bung Karno maka dengan menggunakan ajaran-ajaran Marx sebagai suatu metode kerja, maka masyarakat Indonesia, in groszen Ganzen tidak mengenal lagi kelas-kelas lapisan bangsa sendiri. Pada umumnya semua sudah diverproletarisir atau dijembelkan. Berbeda dengan hasil tinjauannya Karl Marx, mengenai masyarakat Eropah Barat, yang telah mengalami Revolusi Industri, yang sistem kapitalismenya disana menghasilkan kaum buruh massal dan menderita kemiskinan, dengan sebutan kaum proletar, maka Bung Karno di Indonesia datang dengan satu kesimpulan bahwa tidak hanya kaum buruh saja (proletar) yang sengsara, tapi semua golongan, ya taninya, ya pedagangnya, ya nelayannya, ya beambtenya, ya alim ulamanya, semuanya menderita kemiskinan dan kemelaratan.

Berhubungan dengan hal itu maka pesanan Bung Karno ialah bukan klassenstrijd antar bangsa sendiri, melainkan persatuan nasional untuk melawan sistem kolonialisme Belanda. Di Indonesia pada hakekatnya klassenstrijd adalah jatuh bersamaan dengan raciale-strijd. Karena itu bagi Bung Karno jeritannya bukanlah kaum proletar sedunia bersatulah, melainkan kaum marhaen Indonesia bersatulah!.

Seorang penulis Amerika Louis Fischer, pernah mengumpamakan Marhaenisme itu Smith-isme untuk masyarakat Amerika, karena disana Smith adalah nama yang paling banyak dipakai oleh orang-orang kecil; dan andaikata Bung Karno pada waktu itu tidak berjalan-jalan di Bandung Selatan, tapi di desa-desa di sekitar Malang sini, dan ia berjumpa dengan Pak Kromo atau Pak Bakat, maka ia tentu akan menamakan teorinya; Kromoisme atau Bakat-isme.

Jikalau kita hendak mengikuti ajaran-ajaran Marhaenisme itu dari bapak penciptanya sendiri, maka baiklah kita ikuti apa yang diputuskan oleh Konferensi Partindo di Mataram tahun 1933, tentang Marhaen dan Marhaenisme yang berbunyi:

1. Marhaenisme adalah Sosio-Nasionalisme dan Sosio-Demokrasi

2. Marhaen yaitu kaum proletar Indonesia, kaum tani Indonesia yang melarat dan kaum melarat Indonesia yang lain-lain

3. PARTINDO memakai perkaraan marhaen dan tidak proletar oleh karena perkataan proletar sudah termaktub di dalam perkataan marhaen, dan oleh karena perkataan proletar itu maka kaum tani dan lain-lain kaum yang melarat tidak termaktub di dalamnya

4. Karena PARTINDO berkeyakinan bahwa di dalam perjuangan, kaum melarat Indonesia lain-lain itu yang harus menjadi elemen-elemennya maka PARTINDO memakai perkataan marhaen itu.

5. Didalam perjuangan marhaen itu maka PARTINDO berkeyakinan bahwa kaum proletar mengambil bagian yang besar sekali

6. Marhaenisme adalah azas yang menghendaki susunan masyarakat dan susunan negeri yang di dalam segala halnya menyelamatkan marhaen

7. Marhaenisme adalah pula cara perjuangan untuk mencapai susunan masyarakat dan susunan negeri yang demikian itu yang oleh karenanya harus suatu cara perjuangan yang revolusioner.

8. Jadi Marhaenisme adalah cara perjuangan dan azas yang menghendaki hilangnya tiap-tiap kapitalisme dan imprealisme

9. Marhaenis adalah tiap-tiap orang Indonesia yang menjalankan Marhaenisme.

Itulah 9 pokok tentang Marhaen dan Marhaenisme, seperti yang diputuskan dalam Konferensi Partindo tahun 1933 itu.

A un bon entendeur, un demi mot suffit, demikian kata peribahasa Perancis yang berarti bahwa bagi seorang pendengar pendengar yang tajam kata separo itu cukup.

Dan bagi seorang pendengar yang tajam demikian itu, dapat dilihat dalam 9 pokok ini bahwa Marhaenisme adalah sosialisme, yang mengunakan Marxisme sebagai metode analisa masyarakat Indonesia.

Sewaktu dalam tahun-tahun yang akhir ini Bung Karno mengkonstartir adanya kesimpang-siuran tentang pengertian kata-kata Marhaenisme, Marhaen dan Marhaenis, maka beliau menjelaskan sekali lagi pengertian-pengertian tersebut dalam amanatnya di muka Kongres Besar Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (G.m.n.I.) di Tawang Mangu pada bulan Februari 1959.

Bunyi amanat itu antara lain:

1. Marhaenisme adalah azas, yang menghendaki susunan masyarakat kaum Marhaen.

2. Marhaenisme adalah cara perjuangan yang revolusioner sesuai dengan watak kaum Marhaen pada umumnya.

3. Marhaenisme adalah dus azas dan cara perjuangan tegelijk, menuju kepada hilangnya kapitalisme, imprealisme dan kolonialisme.

Secara positif, maka Marhaenisme saja namakan juga sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi; karena nasionalisme yang sosial bewust dan karena demokrasinya kaum Marhaen adalah demokrasi yang sosial bewust pula.

Dan siapakah yang saya namakan kaum Marhaen itu?

Yang saya namakan kaum Marhaen adalah setiap rakyat Indonesia yang melarat atau lebih tepat: yang telah dimelaratkan oleh sistem kapitalisme, imprealisme dan kolonialisme.

Kaum Marhaen ini terdiri dari tiga unsur:

Pertama : unsur kaum proletar Indonesia (buruh)

Kedua : unsur kaum tani melarat Indonesia, dan

Ketiga : kaum melarat Indonesia yang lain-lain.

Dan siapakah yang saya maksud dengan kaum Marhaenis?

Kaum Marhaenis adalah setiap pejuang dan setiap patriot bangsa,yang mengorganisir berjuta-juta kaum marhaen itu, dan yang bersama-sama dengan tenaga massa marhaen itu hendak menumbangkan sistem kapitalisme, imprealisme dan kolonialism, dan

yang bersama-sama dengan massa marhaen itu membanting tulang untuk membangunkan negara dan masyarakat, yang kuat, bahagia sentosa, adil dan makmur.

Pokoknya ialah, bahwa Marhaenis adalah setiap orang yang menjalankan Marhaenisme seperti yang saya jelaskan diatas tadi.

Camkan benar-benar!; setiap kaum Marhaenis berjuang untuk kepentingan kaum Marhaen dan bersama-sama dengan kaum Marhaen!

Demikianlah isi amanat Bung Karno itu.

Jikalau kita meneliti kesemuanya itu, maka beralasanlah kiranya pendapat orang bahwa Marhaenisme adalah Marxisme, yang disesuaikan dengan kondisi dalam masyarakat Indonesia sendiri.

Bung Karno sendiri berkali-kali menegaskan, bahwa orang tidak akan dapat mengerti Marhaenisme, jikalau ia tidak mempelajari dan mengerti Marxisme.

Bahwa Bung Karno sendiri berkali-kali mengatakan ia seorang marxis, itu sudah saya buktikan dari berberapa ucapan-ucapannya. Malahan pernah Dr. Cipto Mangunkusumo menulis tentang Bung Karno dalam Hing Po tahun 1941, bahwa faham Marxisme adalah; “membakar Sukarno punya jiwa”. Dengan kontan Bung Karno menjawab dalam surat kabar Pemandangan tahun 1941 itu juga; “Saya ucapkan terimakasih atas kehormatan yang Dr. Cipto Mangunkusumo limpahkan atas diriku itu. Memang!” dan Bung Karno dalam artikelnya, Sukarno, oleh…… Sukarno sendiri” dalam surat kabar Pemandangan 1941, menulis: “Dan kini saya bertanya kepada Tuan; kenalkah Tuan ‘cap Sukarno’ itu di dalam garis-garisnya yang besar”.

Ada orang yang mengatakan Sukarno itu nasionalis, ada orang mengatakan Sukarno bukan lagi nasionalis, tetapi Islam, ada lagi yang mengatakan dia bukan nasionalis, bukan Islam, tapi Marxis, dan adalagi yang mengatkan dia bukan nasionalis, bukan islam, bukan Marxis, tetapi seorang yang berfaham sendiri. Golongan yang tersebut belakangan ini berkata: mau disebut dia nasionalis, dia tidak setuju dengan apa yang biasanya disebut nasionalisme; mau disebut dia Islam, dia mengeluarkan faham-faham yang tidak sesuai dengan fahamnya banyak orang Islam; mau disebut Marxis dia……. Sembahyang; mau disebut bukan Marxis, dia ‘gila’ kepada Marxisme itu.

Baiklah saya tuturkan kepada tuan, betapakah………. Sukarno itu. Apakah Sukarno itu? Nasionaliskah? Islamkah? Marxiskah? Pembaca-pembaca, Sukarno adalah …… campuran dari semua isme-isme itu!”

Dengan pengakuan tentang dirinya ini, yang dalam bukunya “Sarinah” tahun 1947. diulangi lagi dengan kata-kata:

“Dalam cita-cita politikku, Aku ini nasionalis,

Dalam cita-cita sosialku, Aku ini sosialis,

Dalam cita-cita sukmaku, Aku ini sama sekali theis,

Sama sekali percaya kepada Tuhan, Sama sekali mengabdi kepada Tuhan”,

Beliau pada hakekatnya menjadikan anjuran sintesanya pada tahun 1926 darah daging dalam jiwanya sendiri.

Psikologis hal ini dapat diterangkan, bahwa semula berdasarkan kenyataan-kenyataan dalam masyarakat Indonesia disekitar tahun-tahun 1920-1926 Bung Karno, menganjurkan keharusan sintesa itu. Penghidupannya dalam penjara dan pembangunan mendorong beliau untuk menjadikan dirinya sendiri sebagai verpersoonlijking dari sintesa tersebut. Dan pada waktu menjelang pecahnya revolusi 17 agustus 1945 maka sintesa itu dikeluarkan kembali dalam bentuk Panca Sila, ideologi pemersatu seluruh rakyat Indonesia.

Karena historis-ge-interpreteerd dapat disimpulkan bahwa filsafah Pancasila itu adalah filsafah yang berdasarkan kenyataan-kenyataan dalam masyarakat; pula berdasarkan ilmu, dan ilmu yang mendorong amal. Ilmu yang revolusioner untuk amal yang revolusioner! Dan revolusioner dalam arti kata tegas menentang sumber kemiskinan dan penghisapan di dunia ini, yaitu kapitalisme dan imprealisme. Tentang istilah-istilah ini hendaknya jangan ada kekacauan semantik; atau usaha mengacaukan semantik itu.

Dan kini, dalam fase sosial ekonomis dari revolusi kita, yang beliau canangkan dalam pidato 17 Agustus 1957, sintesa itu beliau tegaskan dalam gagasan Sosialisme ala Indonesia dengan jalan Demokrasi Terpimpin dan Ekonomi Terpimpin.

Saudara-saudara sekalian,

Dalam hubungan perkembangan cita-cita sosialisme ini, maka sangat menarik sekali pidato Bung Hatta di RRT pada tahun 1957 dimana beliau antara lain berkata bahwa:

“Marxism as a social-economie theory- a scientific theory- is used by non-comunnist in Indonesia to annalyss social development.

Three objective factor have strengthened socialist ideals in Indonesia, namely:

a. Marxism

b. Islamic religion

c. The old pattern of Indonesia”.

(“Marxisme sebagai teori sosial ekonomi- suatu teori ilmiah- di Indonesia oleh kaum non-komunis digunakan untuk menganalisa pertumbuhan-pertumbuhan sosial. Tiga faktor objektif mengokohkan ide sosialisme di Indonesia, yakni:

a. Marxisme

b. Agama Islam

c. Pola sosial Indonesia yang asli”)

Dari kesemuanya itu kiranya tidak berkelebihan, jika kita menarik kesimpulan, bahwa sejarah perkembangan cita-cita sosialisme di Indonesia ini adalah kelanjutan dan peyempurnaan daripada cita-cita sejak dulu kala, dan memang benar-benar mencerminkan amanat penderitaan rakyat.

Sumber: Sosialisme Indonesia, Dr. H. Roeslan Abdulgani, (1965) terbitan Jajasan Prapantja, cetakan ke-7

BOM DI BALI, ISLAM DAN TERRORISME

BOM DI BALI, ISLAM DAN TERRORISME

Diskusi Ulil Abshar-Abdalla dan Abu Bakar Ba’asyir dll.

Diskusi : Ulil Abshar-Abdalla dan Abu Bakar Ba’asyir dll.

Tentang : Bom di Bali, Islam dan terrorisme

Pengantar: Berikut di bawah ini disajikan transkrip diskusi yang melibatkan Ulil Abshar-Abdalla dan Abu Bakar Ba’asyir, disiarkan Radio 68H (Jakarta) dan jaringannya. Transkrip ini dikirim oleh Bimo Nugroho (dari komunitas Utan Kayu) dan sudah disiarkan oleh sejumlah mailing-list pada tanggal 22 November 2002.

MODERATOR: Pembicaraaan tentang siapa dalang peledakan bom Bali bukan hanya menjadi isu nasional, tapi juga pembicaraan dunia. Kita tidak hanya melihat di media lokal, menjadi headline setiap hari, tapi juga media internasional. Saya ingin fokus pada beberapa hal penting, misalnya ketika Barat langsung menuduh Islam radikal, dalam hal ini Jamaah Islamiah dalam bahasa mereka sebagai pihak yang patut dicurigai sebagai dalang pemboman di Bali. Seorang tokoh ustad Ba’asyir. Sekarang mungkin menjadi orang yang paling dicari oleh aparat keamanan Barat. Diskusi kali ini akan mengangkat tema siapa sebenarnya dalang peledakan di Bali. Ini hanya satu momentum saja, tetapi persoalan terorisme sudah berlarut-larut ada di antara kita.

Tamu kita siang ini adalah Muhyar Yara, yang menjadi juru bicara Badan Intelejen Negara, Kelik Ismunanto dari PRD, Ulil Abshar-Abdalla dari Jaringan Islam Liberal, dan Fauzan Anshori yang mewakili Abu Bakar Ba’asyir. Ba’asyir tidak dapat hadir karena sakit, tapi kita bisa hubungi beliau untuk bicara via telpon.

Pertanyaan pertama langsung kepada K. Abu Bakar Ba’asyir. Anda menjadi target rupanya dibilang bertanggung jawab atas terorisme yang ada di Indonesia. Selamat siang, Kyai, Anda di tuduh Barat sebagai penanggung jawab atas terorisme di Indonesia maupun jaringan, apa yang disebut Jamaah Islamiah, di kawasan regional Asia Tenggara dan sekitarnya, dan pertanyaan ini sering diajukan kepada Anda dan seringkali Anda menjawab dengan bahwa serangan terhadap Anda sama dengan serangan terhadap Islam. Apakah ada argumentasi lain?

BA’ASYIR: Ada. Tapi Amerika menuntut saya hanya fiktif saja tanpa bukti-bukti yang jelas. Kalau Anda sebagai seorang Islam bisa ditarik kembali pada persoalan yaitu pada akar masalah dan ditinjau dari segi Syariat, jangan hanya dari logika saja bicara. Anda harus tahu bahwasanya persoalan teroris yang dibuat-buat oleh Amerika itu hanyalah bumbu-bumbu, tapi akar masalah kalau kita kembalikan kepada Al-quran dan Sunah itu adalah perperangan umat, yaitu orang-orang kafir sedang memerangi Islam sesuai firman Allah “Yuriduna liyudfi-a nur-allah biafwaihim”, mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka. Tapi Anda sebagai orang Islam Anda tidak boleh menghindar dari Syariat.

MODERATOR: Bagaimana dengan catatan CIA, misalnya nama Anda disebut-sebut oleh Alfaruq dalam pemeriksaan. Lalu dalam pemeriksaan sebelumnya…

BA’ASYIR: Itu semua fiktif. Itu namanya makar dalam Quran. Saya tidak kenal siapa namanya Alfaruq dan itu semua hanya dikarang-karang oleh mereka. Saya tantang mereka. Saya suruh mereka datangin Alfaruq berhadapan dengan saya. Dikonfrontir. Itu namanya pemeriksaan yang benar. Selamanya CIA, intel-intel kafir laknatullah itu, membuat makar yang menipu. Itu memang pekerjaan mereka. Maka sekarang saya tantang kalau memang Faruq itu kenal saya, bawa kesini. Konfrontir dengan saya. Buktikan. Kalau memang saya salah saya siap untuk dihukum. Itu namanya jantan.

MODERATOR: Saat ini ada anggota polisi Indonesia yang berada di Amerika untuk turut menginvestigasi atau turut memeriksa Alfaruq. Dan di Jakarta Susilo Yudoyono, Menkopolkam, mengatakan bahwa penangkapan Anda akan sangat tergantung pada hasil penyidikan yang dilakukan oleh anggota polisi Indonesia di sana.

BA’ASYIR: Itu tidak bisa saya terima, sebab kalau sekedar cari pemeriksaan orangnya ke sana. Bawa Faruq ke sini. Baru nanti diadakan pemeriksaan berhadapan. Itu yang benar-benar pemeriksaan. Jadi bukan hanya sekedar pesan/tempat(?). Itu hanya dibuat-buat. Jadi bisa dibuat-buat yang semacam itu. Itu menunjukkan Indonesia sudah mulai diinjak-injak oleh Amerika.

MODERATOR: Bung Muhyar, Badan Intelejen Negara, apa yang Anda punya tentang tokoh yang satu ini?

MUHYAR: Pertama saya ingin menyampaikan salam kepada bapak Ba’asyir. Kedua, sejak awal BIN tidak pernah mengkait-kaitkan nama Abu Bakar Ba’asyir dalam masalah yang tengah diselidiki oleh BIN. Bahwasanya hasil pemeriksaan Faruq di Amerika itu adalah merupakan masalah lain. Itu adalah masalah yang terjadi di Amerika. Kami sendiri menganggap bahwa masalah terorisme, pertama-tama, tidak menyangkut masalah agama. Karena korban di Bali banyak orang Muslim. Puluhan juga, karena memang terorisme itu melingkupi di luar masalah itu. Tidak memandang bangsa, suku, atau agama. Jadi, siapapun terorisme itu dia merupakan musuh kemanusiaan yang harus diperangi oleh siapapun. Dalam rangka memerangi itu siapapun dia kalau memang dia terlibat dan terbukti terlibat maka tidak bisa dipandang bulu. Sekalipun dia tokoh satu agama, umpamanya. Jadi, kalau memang nanti Pak Ba’asyir dalam prosesnya memang terbukti, sebagaimana yang tadi beliau katakan beliau siap, ya memang harus siap. Tetapi mudah-mudahan tidak terjadi, karena apa yang kami pelajari sampai saat ini belum ada. Bau-baunya juga belum ada. Jadi, mudah-mudahan Pak Ba’asyir juga tidak perlu merasa seakan-akan menjadi target. Mungkin negara lain menargetkan, tetapi negara sendiri dimana Pak Ba’asyir merupakan warga negara Indonesia tidak pernah juga mencurigai beliau. Karena memang sampai saat ini bukti-bukti tidak ada.

Kalau Faruq menurut penilaian kami, He’s too low. Dia hanya sekedar operator biasa di bawah. Bahwasanya dia itu terlibat itu confirmed. Bahwa dia ikut dalam pelatihan di satu daerah di Sulawesi itu confirmed. Tetapi apakah Faruq mempunyai keterkaitan dengan tokoh-tokoh domestik, itu belum bisa dikemukakan di sini. Sementara itu.

MODERATOR: Belum bisa dikemukakan artinya ada keterkaitan dengan itu.

MUHYAR: Segala kemungkinan kan bisa terjadi dalam proses penyidikan. Sampai seberapa jauh jaringan-jaringannya, sampai seberapa luas jaringannya, itu harus selalu terus diungkap dan itu bukan pekerjaan yang mudah, karena jaringan teroris internasional itu sangat luas dan cakupannya luas sekali, dan kita bisa under estimate.

MODERATOR: Mas Ulil, melihat apa yang terjadi di Indonesia, di antara kita, tentang terorisme ini.

ULIL: Yang tidak boleh kita lupakan dalam melihat masalah Bali adalah ini sudah menjadi masalah internasional. PBB sudah include dengan sungguh-sungguh mendorong semua negara untuk membantu Indonesia mengusut masalah ini, dan negara-negara yang lain juga sudah menganggap ini bukan masalah Indonesia, tetapi adalah masalah internasional. Oleh karena itu, menurut saya, kita ini perlu mempunyai mental switch, perubahan cara pandang. Yang kemarin-kemarin setiap ada peristiwa kekerasan semacam ini selalu sikap beberapa tokoh-tokoh Islam dan juga tokoh-tokoh masyarakat yang lain itu menolak, self denial. Ini bukan kami. Bangsa Indonesia adalah yang suci dan baik. Umat Islam adalah umat Islam yang baik. Tidak mungkin berbuat kejahatan. Menurut saya sikap semacam ini tidak membantu untuk mengatasi masalah yang dimensinya sudah sangat global ini. Oleh karena itu, sekarang ada tiga teori yang menjelaskan masalah Bali. Pertama, teori yang sangat populer, ini adalah kerjaan Al-Qaedah. Yang kedua adalah teori yang dikembangkan oleh Abu Bakar Ba’asyir pada hari kedua setelah terjadinya peledakan di Bali dan itu didukung oleh sejumlah tokoh-tokoh Islam di Solo dalam sebuah konferensi pers di sana, ini adalah semua buatan AS. Teori ketiga mengatakan bahwa ini adalah buatan militer Indonesia untuk melakukan destabilisasi atas pemerintahan Megawati sekarang. Menurut saya, ok ketiga teori itu kita anggap semuanya punya status untuk dipertimbangkan. Tetapi berdasarkan petunjuk-petunjuk clue awal yang sudah terkumpul di dalam beberapa dinas intelegen asing, saya tidak tahu apakah BIN sendiri, tetapi clue yang paling tersedia saat ini adalah bahwa Al-Qaedah adalah aktor yang sekarang ini sangat bisa dipertanggungjawabkan untuk menjelaskan sejumlah tindak kekerasan di sejumlah tempat. Dan jangan lupa, ini juga diakui oleh Al-Qaedah di dalam, kalau kita baca berita tentang kaset yang dikirimkan kepada chanel Al-Jazirah beberapa hari yang lalu dimana Osamah mengatakan akan melakukan serangan baru terhadap kepentingan AS. Menurut saya, deklarasi ini sudah menunjukkan sebagai clue. Kita belum bisa menetapkan apakah Al-Qaedah salah, Abu Bakar Ba’asyir salah atau tidak, tetapi clue yang tersedia saat ini adalah menempatkan teori pertama itu lebih valid untuk dipertimbangkan, karena, menurut saya kalau pemerintah sekarang ini bertindak atas dasar cara berpikir yang mengambang itu tidak bisa lagi. Karena sekarang ancaman keamanan itu sudah begitu seriusnya. Kalau kita masih mengambangkan “o..ini kita tidak melakukan ini, tidak itu”, itu menurut saya tidak memadai. Dan ini sebagai point saya yang terakhir adalah tidak usah khawatir pemerintah takut kalau seandainya melakukan tindakan tegas dia khawatir dicap sebagai anti Islam. Kritik saya kepada Ustad Ba’asyir adalah seolah-olah mengadili Osamah bin Laden, mengadili Abu Bakar Ba’asyir sama dengan mengadili Islam. Itu bagi saya tidak benar sama sekali. Mesti dibedakan antara Islam dengan orang-orang Islam yang bisa berbuat baik, bisa berbuat jelek. Yang berbuat baik kita berikan reward, tapi yang jelek harus punish. Jadi tidak usah takut untuk itu.

KRIS PRD: Kalau saya sebenarnya tidak ingin terjebak pada siapa aktor di belakang pengeboman ini. Satu harus kita akui kita tidak ada data material untuk melihat siapa terlibat dibelakang kasus ini. Satu sisi sebenarnya kita harus lihat juga bahwa persoalan terorisme ini memang fenomena internasional, bukan hanya terjadi di Bali, Indonesia, tetapi juga setahun yang lalu terjadi di Amerika. Sehingga ada tugas pokok yang jelas harus kita lakukan disamping mencari siapa dalang atau otak pelaku ini, kita juga harus melihat latar belakang kenapa munculnya terorisme ini. Karena ini faktor yang penting. Kalau kita melihat atau mencari akar musabab munculnya terorisme itu tidak menyelesaikan masalah. Apapun yang akan dilakukan oleh negara, misalkan rencana untuk RUU terorisme, itu malah akan lebih merepresif, akan lebih membangkitkan proses perlawanan.

MODERATOR: kita sebenarnya juga mengundang teman-teman kita dari kedutaan Australia di Indonesia, tapi mereka sedang sibuk menyambut John Howard maupun Donner yang sedang berada di Indonesia juga. Tapi kita berhasil menghubungi Kurt Collingham juru bicara atau atase pers yang sedang berada di Bali. Kurt Collingham sekarang Anda merasa sebagai target dari serangan di Bali dan Anda juga aktif sekali membantu penyidikan apa yang terjadi di Bali kemarin. Sejauh ini bagaimana sikap Anda dan apa hasil dari penyidikan di Bali.

KURT: Lima hari sejak pemboman itu. Saya di sini sangat capek bersama dengan keluarga-keluarga korban pemboman. Sulit sekali untuk mengidentifikasi korban karena terbakar. Tetapi kami berusaha.

MODERATOR: Seberapa kuat Anda yakin desakan Anda dengan teman-teman lain, maksudnya dari negara-negara lain yang menjadi korban, dalam hal ini Amerika yang sudah mengirimkan biro penyelidiknya, juga ada Inggris di sana, dan juga negara-negara lain. Seberapa besar desakan Anda kepada pemerintah Indonesia untuk segera melakukan tindakan cepat menyikapi persoalan ini.

KURT: Kooperasi dan kerjasama pemerintah Indonesia di sini luar biasa. Semua orang Bali dan orang Indonesia lihat langsung apa yang terjadi di sini dan membantu korban, work around the clock, mereka semua melakukan yang mereka bisa. Jangan lupa ada banyak korban juga dari Indonesia di sini.

MODERATOR: Pemerintahnya termasuk yang cukup keras mendesak Indonesia agar menangkap Abu Bakar Ba’askir, misalnya, atau Jamaah Islamiyah dalam hal ini. Yakinkah Anda pemerintah akan melakukan desakan itu? Kurt: Saya yakin bahwa pemerintah Indonesia akan kerjasama dengan pemerintah Australia untuk cari sipa tanggung jawab untuk tragedi yang sangat besar ini. Saya pikir akan terjadi bahwa baik pemerintah Indonesia, Australia, maupun negar-negara lain semua ingin tahu siapa tanggung jawab untuk itu, juga untuk punish orang atau kelompok yang tanggung jawab untuk tragedi yang luar biasa di sini.

MODERATOR: Yakin atau tidak? Kurt: Yakin apa? Yakin kerjasama akan ada investigasi yang kuat, saya yakin untuk itu.

KRIS PRD: Mungkin ada satu lagi yang sebenarnya ingin saya sampaikan. Satu, mungkin kritikan terhadap Pak Ba’asyir sendiri. Pak Ba’asyir menilai persoalan yang terjadi sekarang adalah persoalan antara Islam dan non Islam. Padahal kalau kita melihat, misalkan kalau serangan solidaritas atau penolakan serangan Amerika ke Irak, ke Afganistan itu bukan hanya dilakukan oleh umat Islam, bahkan ribuan massa turun ke jalan di Washington, di Roma, di Perancis, dan sebagainya menolak. Artinya persoalan yang terjadi sekarang ini bukan persoalan antara Islam dan non Islam, tapi persoalan bagaiman counter hegemoni terhadap usaha-usaha Amerika untuk melakukan ekspansi, untuk lebih menghegemoni, untuk lebih memperkuat kekuatan negaranya di negara-negara lain, sehingga Amerika terlalu ekspansif, terlalu ofensif terhadap kekuatan-kekuatan yang dirasa itu terlalu mengganggu rencana dari Amerika itu.

FAUZAN: Sebenarnya isu terorisme ini pertama kali dikembangkan oleh utusan Malaysia pada pertengahan Agustus beberapa bulan sebelum WTC. Waktu itu pemerintah Malaysia melalui (Nurman???) melansir apa yang disebut KMM, Kumpulan Mujahidin Militan Malaysia. Dengan menggunakan ISA dikenal sebagai (Internal Security Act) Kemudian menangkap banyak orang. Kemudian di situ barulah muncul nama Abu Bakar Ba’asyir. Kemudian terus menggelinding. Peristiwa 11 September itu menjadi starting point untuk kampanye anti terorisme yang makin gencar. Kemudian Singapura mulai melempar isu Indonesia sebagai sarang teroris. Indikasinya adalah karena pemerintah Indonesia tidak menangkap Abu Bakar Ba’asyir. Lalu kita melakukan perlawanan hukum dengan menggugat Lee Kwan Yu melalui pengadilan Jakarta Selatan. Akhirnya kita kalah disitu. Kemudian isu kampanye anti terorisme itu makin mengkristal, yang saya maksud adalah tuduhan itu diarahkan ke siapa. Itu semakin mengkristal ketika secara eksplisit, umpamanya, Alexander Donner menyebut Ba’asyir sebagai dalang peledakan itu. Lalu saya katakan kepada ustad Ba’asyir saya sebagai ketua data dan informasi ingin membuka akses media dalam dan luar negeri seluas-luasnya. Maka pada waktu itu terjadi kebijakan pada Majelis Mujahidin untuk mempersilahkan wartawan dari dalam dan luar negeri untuk menshoot kegiatan sehari-hari baik itu di Ngruki sampai semua lubang itu dilihat, kecuali lubang kamar mandi. Jadi silakan ambil kesimpulan. Kami tidak ada beban apa-apa. Dalam perspektif Syariah kalau kami dituduh itu yang menuduh harus memberikan bukti dan bukti itu harus dikonfrontir. Tidak boleh orang yang seperti Umar Faruq dibawa ke luar negeri kemudian pengakuannya itu diekspos secara sepihak. Itu tidak boleh. Itu fitnah. Kalau penuduh tidak bisa membuktikan tuduhannya, maka tuduhan itu kembali kepada penuduh. Seharusnya begitu. Tetapi yang dilakukan oleh Amerika, oleh Alexander Donner, dan sebagainya itu dia mengekspos ke media. Sehingga kami melihat bahwa ini terjadi trial…public opinion. Mengkonstruksi opini publik, opini dunia untuk memvonis sebelum di pengadilan yaitu bahwa semua dalang ini adalah Jamaah Islamiyah dan Ba’asyir. Ini adalah cara-cara makar yang sangat busuk yang dilakukan oleh intel-intel asing. Tentu saja sasaran kami berbeda dengan apa yang tadi Mas Ulil katakan dan Mas dari PRD tadi. Kami melihat satu atau dua jam dari tragedi WTC Bush kemudian mengeluarkan deklarasi Crusade, perang salib. Kemudian membuat sandi keadilan tak terbatas. Kemudian diubah karena diprotes umat Islam di sana. Kami bertanya-tanya kenapa WTC tadi dijadikan starting point untuk deklarasi perang salib. Apa yang sedang terjadi. Kemudian dengan semangatnya Bush itu mengatakan pelakunya adalah Osamah, sedangkan Osamah ada di gua-gua Afganistan. Siapa pelakunya? Sampai hari ini tidak bisa membuktikan. Kemudian serangan itu membabi buta. Saya mengkonfirmasi dengan Dr. Abdurrahman (???) dari Afganistan langsung berapa jumlah korban serangan Amerika. Dia mengatakan serangan Amerika lebih dahsyat dari serangan Rusia 10 tahun di Afganistan. 20 korban meninggal dan puluhan ribu lainnya teramputasi. Dibandingkan dengan korban, katakanlah, di WTC yang tiga ribuan tentu tidak adil. Kemudian konstruksi isu terorisme ini tumbuh digalang sedemikian sistematisnya sehingga mereka membutuhkan justifikasi. Pembenaran-pembenaran inilah yang menurut kami mengorbankan orang-orang yang tidak berdosa. Jadi waktu malam Ahad itu kami bersama ustad Ba’asyir di Yogya. Kami belum tahu apa yang terjadi malam itu, karena besoknya kami ada pleno khusus untuk membicarakan masalah program. Tiba-tiba kami dikontak oleh media asing bahwa malam itu telah terjadi peledakan bom. Kami katakan kepada pers tadi “anda akan kami persilakan mengklarifikasi semua tuduhan kepada ustad Ba’asyir dan itu sudah kita laksanakan hari Rabu kemarin sampai pukul 12 malam, tadi malam, kemudian tadi subuh empat media dari Australis menshoot ustad Ba’asyir dari cara sholat sampai bangun tidur dan sebagainya. Itu dishoot semuanya. Kamar-kamar juga di markas kami. Kemudian kami tanyakan bagaimana kesimpulan Anda tentang ini semua? Mereka tidak berkomentar. Jadi saya kira kami tidak ada beban sedikit pun untuk membuka akses seluas-luasnya kepada wartawan, terutama asing, untuk mengklarifikasi tuduhan-tuduhan itu.

MODERATOR: Untuk mengatasi terorisme dimana-mana lalu ada muncul semacam, tadi yang disinggung oleh bung Kelik tentang ada aturan khusus di situ, ada perpu yang lalu mendasari atau menjadi dasar hukum untuk bisa menangkap tanpa ada pengadilan dan seterusnya. Tapi catatan-catatan yang dipakai untuk melakukan tindakan itu muncul dari intelejen dan aparat keamanan. Kita kok melihat, Pak Muhyar, Anda sering mengatakan Amerika pun yang hebat bisa kecolongan. Tetapi isu terorisme, atau gejala-gejalanya, atau dugaan-dugaannya, bahkan teror yang bukan serangan yang seperti itu, teror yang membawa senjata api, senjata tajam ke jalanan sudah terjadi. Kenapa aparat atau intelejen tidak melakukan apa-apa untuk hal itu.

MUHYAR: Begini. Pertama-tama kita harus paham betul pembagian fungsi dan tugas instansi keamanan kita. Ada instansi intelejen sebagai bagian instansi keamanan. Ada juga instansi penegak hukum seperti polisi, misalnya, yang mempunyai cara kerja yang berbeda satu dengan lainnya. Seperti ibarat sebuah rumah. Maka tidak mungkin, ini kita bicara dalam tahap pencegahan bukan pada saat telah terjadi, itu penegakan hukum nanti. Dalam pencegahan itulah fungsi intelejen di bidang itu. Kita tidak mungkin mencegah masuknya tikus ke dalam rumah kita seberapa rapatnya pun kita memagari rumah kita. Karena ada satu teori bahwa tidak ada satu pun pertahanan yang tidak bisa dibobol. Tidak bisa dimasuki. Jadi tetap tikus itu bisa masuk. Petugas intelejen tidak mungkin disebarkan di seluruh diskotik, umpamanya, restoran, hotel, di semua panjang pantai kita yang begitu luas, begitu panjang. Jadi pasti bisa masuk. Di negara mana pun. Tugas intelejen adalah menemukan jaringan kehidupan tikus yang ada di dalam rumah. Kita bisa mendeteksi itu ada kehidupan, ada jaringan kehidupan tikus-tikus. Kita tentu tidak bisa melakukan penangkapan tikus itu karena itu tugas-tugas institusi yang lain. Intelejen tidak mempunyai kewenangan hak untuk itu. Dan juga pengetahuan kita tentang adanya jaringan kehidupan tikus hanya bersifat umum. Kenapa? Karena kami juga tidak mempunyai kewenangan untuk menanyai tikus-tikus ini. Karena kami tidak dilengkapi dengan kewenangan itu. Kalau kami diberikan kewenangan itu mungkin jaringan tadi akan kita lebih tahu secara lebih detil.

MODERATOR: Pak Muhyar, apa yang terjadi di Bali ternyata terbesar kedua setelah WTC. Apa tidak ada clue sedikit pun?

MUHYAR: O, ya. Kalau itu saya pikir kita sudah katakan berulang-ulang. Saya takut dikatakan membosankan atau memuakkan bagi orang-orang karena kami sudah setengah tahun yang lalu BIN memberikan warning.

MODERATOR: Kalau setengah tahun yang lalu, kenapa tidak ada reaksi atau aksi berikutnya, misalnya tentang pengkapan atau apa pun yang dilakukan, bukan dengan intelejen, tapi oleh aparat yang lainnya. Apa ada hambatan politik, misalnya?

MUHYAR: Begini, pertama kenapa tidak ditangkap itu ‘kan bukan urusan kami. Tetapi kita ‘kan masih segar. Ini yang mungkin kita perlu perbaiki. Kita cepat lupa. Saya katakan bahwa tinta-tinta di koran itu masih belum kering, yang menunjukkan betapa warning kami itu malah dijadikan bahan polemik dan bahkan kemudian kami diserang balik. Ada yang menuduh bahwa warning kami itu adalah rekayasa. Bahkan dikatakan ini perlu diwaspadai ini BIN.

ULIL: Kalau saya boleh bertanya, dulu ketika Hendro Priyono diserang karena dia mengungkapkan fakta mengenai, kalau tidak salah ketika itu tentang Al-Qaedah di Indonesia. Tetapi ketika itu ketika dia diserang oleh publik dia mundur. Kalau dia percaya fakta yang dia angkat itu benar, kenapa setelah diserang oleh opini publik Islam lalu dia mundur lagi.

MUHYAR: Masalahnya kita bukan harus mempertahankan kebenaran. Tugas kami adalah mengungkapkan kebenaran. Itu sudah menjadi wacana publik. Tidak ada satu statement pun yang kami cabut. Tapi kemudian DPR melakukan suatu desakan agar kami, BIN, tidak melakukan statement-statement secara publik. Tapi sementara itu kemudian kita lihat pada kasus Tamsil Lindrung. Kami pun kemudian dibombardir habis-habisan. Jadi bingung sendiri. Akhirnya ditempuhlah cara adanya seorang juru bicara untuk menengahi kebutuhan masyarakat ini.

FAUZAN: Jadi inilah blunder yang kita temukan, yaitu ketika temuan “operasi intelejen” kemudian diekspos ke media yang kemudian menimbulkan polemik seperti tadi. Maka oleh karena itu mereka yang menuduh Jamaah Islamiyah atau secara eksplisit Ba’asyir harus menuai protes. Tentunya kalau mereka menggunakan cara-cara underground itu kemudian tidak akan menimbulkan gejolak. Tapi dengan apa yang dilakukan oleh Amerika, apalagi sekarang sudah menggunakan resolusi keamanan PBB ini sebuah blunder yang besar sekali. Dan ada dua kemungkinan. Tapi kami merasa dan kami yakin bahwa kami akan memenangkan opini ini. Kecuali jika kekuatan yang bicara. Jadi, Amerika akan tertampar dengan tamparan yang luar biasa apabila tidak mampu membuktikan tuduhan itu. Ini akan luar biasa. Oleh karena itu pelajaran ketika dia tidak bisa meyakinkan dewan keamanan PBB untuk mengeluarkan resolusi untuk menyerang ke Irak, harus menjadi pelajaran berharga bagi Amerika untuk tidak kemudian membuat tuduhan kepada Ba’asyir dan menekan pemerintah Indonesia untuk menangkap Ba’asyir.

KELIK: Cara melihat masalah seperti ini karena sebetulnya, ok setiap terorisme itu masalah yang kita hadapi dan serius. Itu bagian dari sejarah masa lampau yang harus dikuak. Tapi sekarang ini ancaman yang kita hadapi sekarang adalah salah satunya terorisme yang datang dari network global yang salah satunya menggunakan agama sebagai kedok. Dan itu saya kira berbahaya kalau kita masih mengungkap, mengatasi masalah, melihat masalah ini dengan cara O ini sesuatu yang tidak ada nilainya apa-apa dibanding state terorisme. Bagaimana? Saya kira tidak bisa merelativisir masalah ini dengan cara mengatakan ini lebih ringan dibandingkan dengan jenis terorisme yang lain.

MODERATOR: Apa yang Anda sampaikan Bung Kelik itu bisa jadi latar belakang. Kita kembali fokus ke Bali dan terorisme yang sekarang ada saja.

MUHYAR: Tadi dikatakan intelejen lemah. Ini ukurannya dari mana? Tadi saya katakan berdasarkan fungsi dan tugasnya kami sudah melakukan tugas sesuai dengan fungsi dan tugas kami secara maksimal. Kalau setengah tahun lalu kami sudah kasih warning, itulah tugas kami. Apalagi yang mau dikatakan? Apa kami mesti melakukan penangkapan?

ULIL: Soal warning ini. Ini kritik saya kepada opini publik yang diciptakan oleh para demagog Islam, oleh para dai-dai yang menurut saya tidak bertanggung jawab dan mengatakan ini semua adalah perang antara Islam dan kafir. Setiap fakta yang diungkapkan ini adalah serangan pada Islam. Lalu akhirnya BIN mundur. Entah akhirnya tidak mendapatkan dorongan dari masyarakat untuk berbuat. Menurut saya, lingkungan semcam ini yang diciptakan oleh retorika Islam yang tidak bertanggung jawab semacam ini berbahaya itu.

MODERATOR: Jadi ini kita harus bisa memahami pendapat Ulil karena dia Islib (Islam Liberal). Dia akan memisahkan, selalu akan memisahkan, ini bukan persoalan agama.

FAUZAN: Jadi saya ingin mengingatkan bahwa sejak jaman Nabi Adam sampai kiamat. Jadi bagaimana israel yang menginvasi Palestina tahun 48. Seorang wartawan bertanya apakah benar umat Islam musuhnya Barat? Tidak, saya bilang. Karena dalam nash Quran tidak ada. Yang ada itu walan tardo ‘ankal Yahud wan nasoro. Ini informasi dari Quran. Kalau saya tidak percaya sama Tuhan berarti Quran keliru. Maka saya keluar dari Islam. Ngapain, Quran kok keliru. Jadi, perspektif ini oleh Ulil dinafikan.

ULIL: Tidak. Itu masalah kenegaraan Palestina dan Israel. Itu sama dengan Dubes Palestina begitu ngomongnya. Karena kita sudah ketemu.

FAUZAN: Jadi, kami tidak melihat itu bukan Islam, tapi itu bagian integral dari perjuangan antara hak dan batil. Invasi Israel ke Palestina. Sampai sekarang itu berapa jumlah korbannya yang jatuh. Kalau perlu mesti diputar cd yang saya punya bagaimana korban yang terakhir ini, Muhammad Addurah, yang dalam keadaan terpepet tetap dibombardir oleh tentara Israel. Itu fakta.

MODERATOR: Saya ingin kembali ke BIN. Karena desakan-desakan atau warning yang Anda sampaikan ternyata itu tidak, istilahnya, tidak dibelilah sama pemerintah. Di dalam tubuh militer sendiri bahkan, ya jelas ada pembelaan yang cukup kuat. Ada temen-temen kita Bung Fauzan, Ba’asyir, Hamzah Haz. Bahkan Hamzah Haz mengatakan tangkap saya dulu kalau memang ada teroris di Indonesia. Sekarang teroris sudah ada di Indonesia. Bagaimana? Anda tidak punya wewenang untuk menangkap.

MUHYAR: Tidak ada. Kalau ada orang pada ribut nanti. Baru soal Faruq saja kemarin, kita minta bantuan Assegaf, minta bantuan pada imigrasi, ributnya sudah setengah mati. Padahal kita melalui saluran yang benar.

MODERATOR: Apakah karena problem itu BIN lalu tidak didengar dan terjadilah apa yang kemarin itu.

MUHYAR: Bukan saya yang menjawab itu. Kalau BIN tidak didengar, tidak mau didengar, ya tanya sama yang tidak mau mendengar.

MODERATOR: Apa benar karena ada hambatan politik, dari Hamzah Haz misalnya.

MUHYAR: Menurut saya tidak etis kalau misalnya saya kemukakan, karena kita bagian dari institusi pemerintah. Biar saja masyarakat yang menilai. Semuanya kita serahkan saja, tetapi jangan seperti tadi Ulil katakan, jangan ada pembentukan opini yang mengatasnamakan sesuatu karena ada kepentingan. Karena kepentingannya terusik, begitu. Kemudian membalikkan opini itu secara bodoh. Seperti sekarang dikatakan, BIN sudah mengatakan ada terorisme. Kemudian ketika terjadi peristiwa Bali dikatakan BIN lemah. Logikanya tidak masuk. Terbalik logikanya. Jadi, kita jadi bodoh. Saya dengar ini, bagaimana? Dulu waktu saya bilang ada Anda mendeny, sekarang ada dibilang BIN lemah. Mesti apa kita lakukan? BIN lemah juga karena mundur. BIN tidak pernah mundur.

KELIK PRD: Saya kira BIN tidak pede saja. Artinya kalau BIN sudah yakin sudah ada terorisme di Indonesia itu harus dipertahankan. Artinya opini yang ada di BIN, itu kalau BIN percaya diri, artinya ada fakta-fakta dan bukti-bukti itu harus

MUHYAR: Ada. Saya persilakan melihat kliping kita masih banyak. Itu bukan satu kali, berulang-ulang kami kemukakan.

ULIL: Pak Muhyar Begini masalahnya. Saya kira memang BIN tidak bisa disalahkan. Saya tidak membela BIN, tetapi dia bukan satu-satunya yang mestinya bertanggung jawab. Tetapi di atas ini semua bagi saya adalah tidak adanya visi dari pemerintah sendiri untuk melihat masalah ini sebenarnya kayak apa. Kritik saya pada Megawati adalah ketika dia pidato di Bali kemarin pada hari kedua setelah peledakan itu. Dia hanya menyatakan bela sungkawa.. Tetapi dia tidak mengatakan apa visi atau tindakan yang dia rencanakan akan dia lakukan. Sehingga kita tidak tahu ini determinasi memerintah ini ke arah mana. Sehingga kita melihat pernyataan yang berbeda-beda. Hamzah Haz seperti selalu meng-hijack (?) tindakan pemerintah yang ingin mengambil tindakan yang firm atas masalah ini. Bagi saya ini pemerintah kalau tidak segera punya visi yang jelas, tetapkan ini apa asumsi untuk mengatasi masalah ini. Saya kira tidak akan bisa mengambil tindakan yang tegas. Problemnya adalah pemerintah sendiri tidak mengarahkan. Sehingga begitu ada opini umat mencoba untuk mendeny ini malah dia limbung lagi. Bagi saya tidak bisa begini. Dan saya khawatir masalah ini dijadikan dagang oleh partai-partai untuk melihat ini pada pemilu 2004, sejauh mana kemungkinan untuk mendapatkan sokongan dari umat Islam. Bagi saya ini bagian dari over-politisasi dari agama yang berbahaya. Sebagai bagian dari dagang politik yang memuakkan menurut saya.

MODERATOR: Ini giliran dari teman-teman yang di forum untuk bicara.

ERY (penelpon): Ini barangkali sedikit klarifikasi saja. Kejadian yang nomor dua itu sebenarnya Nairobi. Bukan di kita. Korban di Nairobi itu sebenarnya lebih besar dari kita. Kejadian bunuh diri. Kemudian yang kedua, saya ingin menyampaikan kepada Pak Muhyar bahwa Anda sebenarnya sebaiknya dengan tudingan seperti ini beserta institusi Anda itu lebih tenang. Karena BIN adalah intelejen tetap memainkan peran Anda sebagai intelejen. Saya juga heran kenapa BIN ada juru bicaranya. Karena saya tidak melihat hal itu di negara-negara lain. Jadi jelas dalam hal ini kalau memang ada kesalahan harus introspeksi diri. Dan masalah intelejen juga tolong diperhatikan bahwa saat ini sudah cukup luas sehingga perlu sinergi dengan banyak pihak.

ADE R.: Saya ingin bertanya kepada Pak Muhyar. Yang ingin saya tanyakan tadi bahwa BIN tidak berhak, tidak punya wewenang untuk menangkap seseorang. Yang menjadi pertanyaan saya apakah tidak ada kerja sama yang baik antara BIN dengan aparat kepolisian yang berhak menangkap, menginterogasi, atau menahan orang. Kedua, setelah peristiwa Bali kalau tidak salah itu dibentuk satu tim yang melibatkan dari BIN kemudian melibatkan juga polisi yang sekarang pimpinannya Kapolda dari Papua. Apakah itu hanya bersifat sementara, yaitu hanya menangani kasus di Bali. Apakah itu tidak menjadi satu tim yang terus independen, artinya badan tersebut akan selalu bekerja sama antara BIN, kepolisian, kejaksaan agung yang mana kejaksaan atau departemen kehakiman yang bisa menghambat atau meminta pihak imigrasi untuk mencekal orang-orang yang dicurigai untuk keluar negeri.

MUHYAR: Jadi BIN hasilnya satu info intelejen. Satu informasi intelejen bukan satu data hukum. Jadi kalau kami lihat ada orang mencurigakan itu belum tentu bisa dijaring secara hukum. Jadi, sekalipun kami lemparkan ke pihak kepolisian, pihak kepolisian tidak bisa menangkap. Karena kepolisian bekerja berdasarkan sistem kepolisian yang berlaku yaitu KUHAP, yaitu paling tidak sudah ada tindakan percobaan. Jadi, sedangkan info intelejen belum sampai menyangkut ke sana. Jadi baru mencurigai, seharusnya kami mempunyai kewenangan untuk menanyai, memanggil. E, elu lagi ngapain? Siapa temen-temen lu? Itu tidak kami miliki, sehingga kalau informasi itu kami serahkan ke kepolisian, kepolisian juga belum bisa memakai dan menggunakan untuk pemanggilan atau penahanan. Jadi masih ada gap di sini. itu yang tidak diisi dalam sistem hukum kita, karena memang jenis kejahatan terorisme itu jenis kejahatan yang sangat unik. Sehingga pada umumnya belum tercakup pada sistem hukum yang konvensional. Kedua, tim yang dibentuk di Bali dibentuk dalam rangka penanganan setelah peristiwa Bali. Yang sifatnya masih lokal, artinya tingkat di daerah Bali, tidak mencakup tingkat nasional. Sehingga menurut kami itu masih bersifat sementara. Mudah-mudahan itu bisa ditingkatkan dikemudian hari menjadi ditingkat nasional dan menjadi permanen.

IPUNG: Pertanyaan saya mungkin berhubungan dengan entitas dan kwalitas peledakannya sendiri. Sebenarnya kalau kita lihat dari perkembangannya dari tahun 98 hingga ke sini, jadi entitas peledakan yang sangat menarik karena jumlahnya selalu meningkat. Kemudian kwalitas bahan peledaknya jadi berkembang. Dari mulai hanya granat, TNT, kemudian kombinasi TNT dengan C4, kemudian yang terakhir diidentifikasi sebagai C4. sebenarnya ada satu yang menarik di sini ketika kebijakan tentang pengadaan bahan peledak ini sendiri itu tidak tersentuh dengan perubahan. Ternyata masih ada dua lembaga milik sipil, yang bukan milik militer, itu juga memproduksi dan Kepres tentang itu juga tidak pernah dicabut. Metrokimia masih juga memproduksi TNT dan beberapa perusahaan juga masih memproduksi TNT. Padahal kejadian menggunakan TNT itu sudah lama. Tidak ada kebijakan, misalnya untuk membatasi pembuatan senjata hanya dikontrol oleh militer dan lain-lain. Ini kan sebenarnya tidak ada keinginan dari militer atau pemerintah sendiri untuk, misalnya, mengisolasi persoalan ini supaya menjadi lebih sempit. Sehingga suatu saat kalau terjadi peledakan seperti ini itu bisa dilakukan identifikasi yang lebih mudah. Ini tidak terjadi, itu satu. Yang kedua, yang menarik lagi kalau kita mau bicara penggunaan C4. sebenarnya ini kan bahan peledak yang sangat kuat daya ledaknya dan tidak banyak dimiliki oleh kelompok orang, bahkan kelompok militer pun tidak banyak memiliki ini. Bahkan tidak semua kesatuan punya. Hanya pada operasi khusus ini digunakan. Sebenarnya kita tidak bisa menafikan bahwa ada keterliabatan militer. Seperti misalnya pernah ada identifikasi bahwa bahan TNT yang pernah digunakan dalam satu peledakan itu berasal dari Turan (?) di Malang, tapi tidak pernah bisa diselidiki, misalnya, siapa yang mengeluarkan itu? Ini permasalahan-permasalahan yang sengaja diakumulasi atau mungkin tidak sengaja untuk membuat persoalan ini jadi tidak, kalau persoalan titik ledak yang terakhir akan dilakukan ini jadi makin sulit. Karena memang tidak ada antisipasi yang cukup signifikan.

MODERATOR: Ternyata ustad Ba’asyir masih online bersama kita. Dan saya mendapat informasi dari Mabes Polri bahwa tim Mabes Polri sudah pulang dari AS memeriksa Al-Faruq. Hasilnya Al-Faruq confirmed, artinya Faruq bicara dengan polisi Indonesia bahwa isi majalah Times yang menyebut soal Ba’asyir, Jamaah Islamiyah, keterlibatan atas beberapa teror di wilayah Asia Tenggara itu benar. Faruq mengungkapkan ini kepada polisi Indonesia bukan lagi kepada polisi Amerika. Soal itu saya ingin tanya dengan Abu Bakar Ba’asyir yang masih bersama kita.

MODERATOR: Kyai, bagaimana dengan informasi terakhir ini?

BA’ASYIR: Saya siap diperiksa dan Al-Faruq datangkan ke sini. Persoalan itu adalah persoalan kecil bagi saya. Jadi perlu saya luruskan satu pemahaman Ulil tadi. Jadi seolah-olah kalau hubungannya dengan saya itu sama dengan Islam. Itu bukan begitu. Masalah teror mari kita jangan menutup mata dan telinga. Istilah teror ini dimonopoli definisinya oleh Amerika dan itu diarahkan teror itu kepada orang Islam. Jadi mesti penegak-penegak hukum Islam. Itulah pengertian teroris yang dimonopoli oleh orang Amerika. Ini satu kenyataan. Kalau kita kembali kepada definisi teror yang sebenarnya itu harus berdasarkan kenyataan suatu perbuatan yang merusak dan menakut-nakuti orang. Kalau kita melihat apa alasan Amerika mengebom Afganistan. Apa alasan Amerika mengejar-ngejar Osama dengan tuduhan terlibat mengebom WTC. Tetapi pada sampai akhirnya Amerika tidak bisa membuktikan. Itulah teror yang sebenarnya. Sekarang Israel membunuh bangsa Palestina, menjajah bangsa Palestina. Dengan enak membunuhi anak-anak, perempuan, rumah-rumah dihancurkan dengan begitu enak, dan itu dibantu oleh Amerika. Itulah arti teror yang sebenarnya. Adapun Osamah dan Taliban, sekali lagi saya bukan fanatik pada orangnya dan organisasinya. Mereka itu menyerang Amerika karena membela diri. Karena mereka diserang lebih dahulu. Sekarang, sekali lagi, saya ingatkan kepada saudara-saudara yang beragama Islam bahwa watak orang kafir itu selalu ingin memadamkan cahaya umat Islam dengan berbagai cara makar. Ini yang harus kita pahami. Jadi masalah Mabes sudah mengambil keputusan, silakan memegang saya. Silakan memanggil saya. Saya siap dipegang, saya siap dipangil. Persoalan ini persoalan kecil buat saya, tetapi saya tetap menuntut supaya Faruq didatangkan ke sini.

MODERATOR: Tapi ada bukti lain, yaitu tentang foto-foto dan beberapa saksi mata yang menyebutkan bahwa memang Faruq memang hadir saat deklarasi Majelis Mujahidin Indonesia.

BA’ASYIR: Kalau Faruq hadir ketika deklarasi tidak berarti kenal. Banyak orang yang hadir saya tidak tahu, dia tahu saya. Itu bukti anak kecil. Silakan. Ada foto apalah. Memang benar-benar saya tidak kenal dia. Silakan datangkan ke sini. Kalau memang pemerintah itu jantan, laki-laki itu datangkan ke sini. Jangan takut pada Amerika. Takutlah pada Allah. Kalau Amerika itu memang benar-benar, datangkan Faruq ke sini. Itu namanya bukti yang benar. Jangan omong saja. Saya siap sewaktu-waktu. Saya tidak akan lari.

MODERATOR: Satu hal lagi Pak Kyai. Ada tokoh bernama Fathurrahman Al-Ghazi dan memang confirmed juga, yang pernah berguru di Ngruki di pesantren Anda. Tentang santri Anda ada yang berniat bunuh diri jika Anda ditangkap oleh polisi. Bagaimana dengan ini?

BA’ASYIR: itu hanya omongan-omongan di luar. Saya tidak mendengarnya sendiri. Saya membaca koran dan saya juga terkejut. Saya kira Kalau pun itu ada hanya orang emosi.

MODERATOR: tidak akan ada bom bunuh diri kalau Anda ditangkap?

BA’ASYIR: Mudah-mudahan tidak ada. Untuk apa? Jadi persoalannya kalau memang saya ditangkap dan itu untuk klarifikasi, itu baguslah. Bagaimana saya pernah dipanggil untuk klarifikasi dulu di Malaysia, saya siap. Hari ini saya tidak hadir karena saya sakit dan memang saya belum menerima surat panggilan dari polisi.

FAUZAN: Saya ingin mendukung data dari pak Abu Bakar Ba’asyir. Jadi memang selama ini terorisme selalu tidak terdefinisikan. Akhirnya terjadi standar ganda. Satu sisi Amerika memposisikan Osama sebagai teroris tapi sisi Amerika tidak mau memposisikan Osama sebagai teroris. Sekarang Indonesia telah masuk perangkap kampanye isu anti terorisme yang dilansir oleh Amerika. Amerika hanya punya dua pilihan; state or …(?) Kemudian kenapa sasaran dari terorisme itu adalah Islam fundamentalis? Anda harus membuka seized the moment (???) yang ditulis oleh mantan presiden Amerika Richard (who?) dia menulis ada lima ciri Islam fundamentalis. Pertama, mereka yang anti pada Barat. Kedua, mereka yang ingin menerapkan Syariat Islam. Ketiga, mereka yang ingin membangun peradaban Islam. Keempat, mereka yang tidak ingin memisahkan Islam dan negara. Dan kelima, mereka yang menjadikan masa lalu menjadi panduan untuk masa depan. Sehingga dengan ciri lima ini mana pun dan dimana pun gerakan Islam, maka akan dicap sebagai gerakan Islam fundamentalis sama dengan teroris. Dan itu pula yang diproklamirkan oleh JI dengan situsnya. Tapi sekarang sudah tidak ada. Sekarang sudah dicabut. Saya kira apa yang dimaksud Abu Bakar Ba’asyir tadi sudah tepat. Jadi sasaran teroris adalah umat Islam. Bagi kami teroris yang sebenarnya adalah Zionis dan Amerika. Amerika itu pun hanya sebagai korban. Saya katakan ketika ada media baru mengatakan kepada saya “apakah Anda memusuhi kami warga Amerika?” Tidak. Warga Amerika banyak juga yang muslim. Mereka saudara-saudara kami. Kami hanya tidak ingin kebijakan politik luar negeri pemerintah Anda. Kenapa politik pemerintah mendukung Israel habis-habisan? Sehingga pemerintah Anda telah menyeret warga Amerika yang tidak berdosa ke dalam konflik yang berkepanjangan. Oleh karena itu supaya mereka sadar dan kalau bisa masuk Islam, supaya selamat dunia akhirat.

ULIL: Inilah bentuk propaganda ala Mujahidin. Ini juga black propaganda yang sama berbahayanya black propagandanya Bush. Makanya saya pernah nulis bahwa Bin Ladenisme itu bisa dilakuan oleh Bush, bisa dilakukan oleh Osama. Saya tidak peduli apakah hal semacam ini dilakukan oleh Amerika terhadap Irak. Itu saya kritik juga. Jelas perlakuan Amerika di Palestina itu jelas-jelas salah. Tetapi kita juga tidak boleh mengabaikan dan jangan lupa sekarang ada terorisme atas orang Islam di Ayodia, India. Itu semua fakta. Tapi fakta pula bahwa Al-Qaedah ini jaringan yang berbahaya. Dan tidak ada untungnya orang Islam membela Osama dan menganggapnya sebagai pahlawan seolah-olah dia wakil dari dunia Islam. Bagi saya tidak ada manfaatnya sama sekali. Saya sebagai orang Islam merasa insulted (?) saya merasa betul-betul tersinggung karena Osama seperti hero. Dan itu dikatakan berkali-kali oleh Abu Bakar Ba’asyir. Bagi saya, bagaimana Osama dianggap sebagai pahlawan Islam? Tidak bisa itu. Ini menurut saya membodohi pandangan umat Islam di kalangan masyarakat bawah. Ini semua tidak boleh diteruskan. Orang Islam semua harus sadar bahwa fakta ada kekerasan. Ini ada jaringan kekerasan. Kita usut siapa pun orangnya. Yang terbukti nanti militer, yang terbukti nanti Abu Bakar Ba’asyir, atau Osama itu harus diadili.

KELIK PRD: Seperti tadi saya katakan, sebetulnya ada dua tugas utama yang pokok. Satu sisi harus mencari aktor pengeboman, yang kedua persoalan harus mencari akar penyebab terjadinya terorisme ini. Satu kita melihat krisis dunia yang saat ini sedang terjadi kemudian bagaimana tindakan Amerika melakukan ekspansi penyerangan ke Israel (Kok?), Irak, Afganistan. Kemudian saya ingatkan bahwa itu semata-mata bukan persoalan antara Islam dan Barat. Karena untuk menyerang Afganistan pun Amerika minta bantuan negara-negara Islam. Untuk menyerang Irak pun Amerika masih mencari dukungan negara-negara Islam. Sehingga tidak benar sama sekali bahwa persoalan yang terjadi saat ini adalah persoalan Islam dengan Amerika. Kemudian yang sukup lebih penting lagi adalah bagaimana sebenarnya pemerintah Megawati ini merespon. Mampu tidak pemerintahan Megawati ini mengusut tuntas kasus yang terjadi di Bali ini. Saya tadi katakan seperti yang telah dikemukan oleh Ulil bahwa bukan berarti statement saya berarti bahwa terorisme itu sudah biasa dan dilakukan oleh negara kita. Bukan berarti saya melegitimasi apa yang dilakukan teroris saat ini. Karena itu benar-benar sebuah pengkhianatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Siapa pun yang melakukannya itu benar-benar tidak layak lagi hidup di tetapi yang lebih penting saat ini bisa tidak pemerintahan Megawati ini dengan tadi yang diutarakan oleh Ulil bahwa pemerintahan Megawati tidak punya perspektif ekonomi, perspektif politik. Kemudian solusinya apa. Itu sebenarnya yang sangat penting untuk ke depan. Karena yang saya takutkan bahwa dampak dari serangan terorisme ini adalah persoalan kembalinya rezim lama, kembalinya pola-pola security approach yang dilakukan oleh negara dan ini, seperti yang dikatakan Pak Muhyar tadi, sekuat apa pun rumah kita itu pasti ada tikus yang masuk. Makanya jangan sampai RUU anti terorisme ini kemudian disahkan oleh DPR, yang kita juga harus belajar bahwa selama ini Suharto telah melakukan pola yang sama dan itu telah melahirkan sebuah perubahan yang cukup mahal bagi bangsa Indonesia. Itu sebenarnya yang tidak ingin kita harapkan bahwa terorisme ini kemudian melegitimasi tindakan negara untuk melakukan represif.

MODERATOR: Apa yang tadi diperdebatkan oleh Ulil dan Fauzan, dan tadi diberi perspektif lain oleh Kelik, itu juga ternyata yang berpengaruh pada kerja Anda dan teman-teman Anda.

MUHYAR: Ketakutan Kelik ini terhadap perpu anti terorisme, menurut saya, tidak komprehensif. Benar pada masa Suharto ada UU subversi.. Tapi tidak hanya itu. Bahwa pada masa Suharto ada DPR yang dikebiri. Pada masa Suharto ada kekuatan militer yang sangat dominan. Pada masa Suharto ada Suharto sendiri yang jadi tiran. Tetapi pada masa sekarang kita ada pemerintahan, ada suasana yang demokratis yang Anda sendiri perjuangkan. Ada pers yang bebas. Ada DPR yang semakin menguat. Maka adanya UU anti terorisme tidak akan mungkin menjadi suatu UU yang berada dil luar sistem. UU anti terorisme ini pun harus berada di dalam sistem. Sehingga tidak mungkin UU ini akan berada dan digunakan untuk tindakan-tindakan seperti pada masa orde baru dulu. Jadi, menurut saya, itu kekhawatiran yang seperti asap. Yang kerangka logikanya tidak masuk. Karena faktor-faktornya tidak masuk. independen variabelnya tidak masuk. Jadi, menurut saya, bahwa ini adalah suatu kejahatan. Tindakan terorisme harus dilengkapi dengan satu perangkat hukum yang sesuai dengan semangat demokrasi, dengan semangat penghargaan HAM. Itulah yang kita butuhkan. Dan bilamana nanti ada penyelewengan, maka mekanisme demokrasi yang sudah berjalan sekarang tentunya kita harapkan mampu mencegah hal-hal itu.. Tetapi jangan karena ketakutan kita, kemudian mengharamkan UU anti terorisme ini dengan mengasumsi, biarin saja terorisme ada yang penting tidak ada penyelewengan. Padahal penyelewengan itu sebenarnya adalah ketakutan yang semu.

MODERATOR: Kenapa Anda tidak mau terlibat dalam perdebatan tadi.

MUHYAR: Itu dimensinya sudah lain. Saya paham itu karena saya beragama Islam, saya belajar, saya ngaji juga. Kalau sebagai pribadi mungkin saya ikut juga, tetapi dalam hal ini saya bertindak sebagai juru bicara.

HERU: Diskusi tentang siapa dalang pemboman di Bali, saya pikir kita harus menggarisbawahi siapanya. Dan mungkin ada banyak motif bermunculan saat ini, bahkan dipolitisasi ke berbagai macam hal, termasuk penerbitan perpu dan macam-macam ini. Ada satu motif yang dilupakan orang-orang yaitu motif ekonomi, motif bisnis. Motif yang disebutkan sejak awal oleh Kapolda Bali, yaitu bahwa ini tindakan kriminal biasa. Tapi kemudian karena korbannya sekian ratus orang dan kemudian ini melibatkan oprg asing pula, dan banyak disorot dalam satu konteks terorisme, maka seluruh pikiran kita tertuju pada ini motifnya terorisme. Kemudian dibuatlah perangkat macam-macam hal. Sampaikan Pak Muhyar harus sibuk sana sini untuk diskusi terorisme dan intelejen. Termasuk juga beberapa pakar politik kita berbicara, kemarin juga di sini, berbicara mengenai kerangka penataan ulang sistem keamanan nasional, security Internal, dan macam-macam juga. Kalau menurut saya, tampaknya ada satu motif yang dilupakan orang, yaitu motif bisnis atau ekonomi

LUBIS: Ada satu motif suatu peradaban yang dipaksaan oleh suatu kelompok atau suatu negara yang memang di negara lain atau kelompok lain tidak yakin peradaban yang dipaksakan ini terhadap negara atau bangsa-bangsa lain, dan kapitalis ini, kalau mau saya simpulkan, tidak mampu menjamin suatu perdamaian dunia. Itu dulu motifnya. Dan kapitalis ini sangat ditentang oleh sebagian orang di muka bumi ini, karena membuat orang saling bersaing satu sama lain dan makan memakan. Jadi, otomatis orang dari kelompok yang ini tidak mau membiarkan peradaban yang dipaksakan oleh suatu negara itu terhadap negara-negara lain. Jadi kalau di Bali itu kemungkinan siapa pelaku oleh kejadian itu berbagai kemungkinan masih mendominasi itu. Bisa jadi Amerika dengan permainan yang lihai, bisa jadi yang lain. Tetapi untuk ukuran agama, tentang peradaban ini sebenarnya tidak kita kkategorikan dalam ukuran agama. Karena sosialisme sudah mati, tidak bisa lagi untuk menangkal kapitalisme itu. Lalu muncullah segmen itu.

MODERATOR: bagaimana dengan motif bisnis?

MUHYAR: menurut saya sampai saat sekarang semua motif terbuka kemungkinannya. Itulah perlunya ada investigasi dan itulah yang sedang dilakukan sekarang oleh aparat keamanan dan aparat intelegen.

MODERATOR: Hasil investigasi yang Anda bilang sudah satu setengah tahun lalu sudah Anda warning itu, apakah mengarah ke sana juga?

MUHYAR: Menurut saya sulit itu dicari pilah-pilahnya. Di dalam motif ideologi, politik, mungkin juga di dalamnya mengandung motif ekonomi. Tetapi kita bisa menarik satu persatu, karena semua gerakan ini memerlukan pembiayaan, pendanaan, yang saling bertautan. Beberapa waktu yang lalu Bani Indonesia mengusulkan suatu sistem keamanan yang baru dalam mencetak cek dan giro, warkat kliring. Karena dicurigai masuknya dana-dana dalam kaitan dengan pencucian uang, money laundring. Yang diduga, dicurigai, dikhawatirkan digunakan juga untuk kegiatan-kegiatan di luar kegiatan bisnis, umpamanya. Seperti semua ini saling bertautan. Selalu terbuka.

FAUZAN: Hasil kajian departemen kami sudah kami pers release-kan. Mengapa yang dibom Bali yang mayoritas Hindu, kemudian Manado yang mayoritas kristen. Ini persis seperti apa yang diharapkan oleh pelaku pengeboman WTC. Begitu terjadi itu kemudian minoritas Islam di Eropa, Amerika, dan di berbagai negara luar mendapat intimidasi. Dan kita sudah mendengar pasca peledakan bom di Bali ini bahwa masjid di…(Australia?) menjadi pelampiasan sekian orang yang terprovokasi bahwa pelaku peledakan bom Bali adalah umat Islam. Yang saya masih bersyukur adalah bahwa masyarakat Hindu Bali tidak melakukan hal-hal yang irrasional. Umpamanya melakukan tindakan pelampiasan kepada minoritas muslim yang ada di Bali. Demikian pula yang di Manado. Oleh karena itu kami menghimbau sampai pada sesuatu yang paling pahit, seandainya benar bahwa Amerika kemudian menarik seluruh staf diplomatiknya karena pemerintah Indonesia tidak mau menangkap Abu Bakar Ba’asyir, maka kita siap bersama-sama hidup prihatin mengencangkan ikat pinggang. Kalau selama ini yang siap untuk menderita adalah rakyat, sedangkan aparat, pejabat memang belum siap selama ini. Jadi, oleh karena itu kita harus siap mulai kemandirian bersama-sama. Ini himbauan moral saya.

NONG: Ini menarik laporan terakhir mengenai Al-Faruq sudah mengakui mengenal Abu Bakar Ba’asyir, bahkan Abu Bakar Ba’asyir menantang pemerintah Indonesia untuk membawa Faruq ketemu dengan Abu Bakar Ba’asyir. Saya sebagai orang awam, kita sudah terteror juga dengan berita-berita Abu Bakar Ba’asyir terlibat, Amerika terlibat. Menurut saya, informasi ini merupakan kemajuan yang luar biasa. Ada titik terangnya. Buat Pak Muhyar, sebenarnya ada tidak prosedur untuk , katakanlah, menghadap-hadapkan Abu Bakar Ba’asyir dengan Faruq untuk mengklirkan kasus ini. Benar tidak terlibat. Jadi tidak dari satu pihak saja, misalnya polisi sudah dapat oleh-oleh bahwa benar Faruq mengakui Abu Bakar Ba’asyir itu terlibat dalam kasus-kasus yang terjadi selama ini. Kedua, kepada Mas Fauzan, berdasarkan kajian atas apa bahwa paristiwa yang selama ini terjadi itu kemudian berdampak pada umat Islam. Seakan-akan ini sudah diperhitungkan. Kalau saya melihat Mas Fauzan ingin menariknya pada bahwa ini tentu saja orang yang ingin menghancurkan umat Islam. Katakanlah seperti itu. Saya ingin tahu kajiannya seperti apa. Saya lagi-lagi mengakibatkan opini publik. Seakan-akan ingin menghancurkan umat Islam. Padahal saya setuju dengan imam saya Ulil bahwa apapun kenyataan yang dinyatakan untuk publik kita harus berdasarkan fakta yang jelas juga. Kita harus fair bahwa kalau memang ada umat Islam yang melakukan kekerasan seperti sekarang ini, katakanlah benar umat Islam yang melakukan. Kita harus mengakui itu. Jangan sampai Islam ternodai oleh orang-orang yang melakukan kekerasan itu.

BA’ASYIR: Jadi cobalah kita berpikir secara dingin saja. Mengapa kalau Amerika berkokok terorisme adalah Osamah, terorisme adalah Al-Qaedah tanpa ada bukti mereka membuat perbuatan yang membunuh orang atau menghancurkan gedung-gedung tanpa sebab. Kalau dia seandainya mengahncurkan kepentingan Amerika itu suatu pembelaan. Tetapi mengapa kita tidak berani mengatakan bahw Amerika itu teroris. Israel itu teroris. Karena jelas mereka itu telah membunuhi orang yang tidak berdosa demi kepentingan dirinya untuk menguasai mereka itu. Mari kita mengoreksi diri masing-masing. Mengapa kita tidak berani mengatakan Amerika itu terorisme padahal buktinya jelas. Saya tidak keberatan Osama dikatakan teroris asal ada bukti yang jelas. Siapa yang tidak bisa kalau hanya berkokok saja. Tapi sampai sekarang Amerika tidak bisa membuktikan. Taliban juga begitu. Ternyata Amerika tujuannya untuk mengahncurkan pemerintah Islam dan diganti dengan pemerintah sekuler supaya bisa didikte. Persoalannya ini. Ini yang saya minta keadilan. Saya setuju kalau misalnya ada orang Islam yang berbuat satu kerusakan memang harus dihukum dan harus dinilai dengan secara adil. Tetapi mari kita mencoba adil menilai orang kafir. Persoalannya di situ. Mari kita adil menilai Amerika dan Islam. Jadi persoalannya tadi yang sudah dijelaskan, mengapa kejadiannya di Bali yang mayoritasnya orang Hindu. Mengapa di Manado. Di Bali itu ada dua peledakan, yang satu peledakan dahsyat yang satu yang seperti mercon saja. Itu seperti menggambarkan bahwa memang orang Islam akan mengahncurkan Amerika dan demikian pula orang Islam akan menghancurkan orang non Islam. Jadi memang diarahkan bahwa memang di Indonesia itu ada teroris, dan teroris itu orang Islam. buktinya yang dibunuh orang non Islam dan kedutaan Amerika yang tidak apa-apa itu. Ini yang perlu kita analisa dengan tenang dan jujur. Saya hanya minta jujur.

MODERATOR: Foto atau pengakuan apa bisa dijadikan bukti?

MUHYAR: Foto atau pengakuan itu salah satu bukti. Dan bukan satu-satunya bukti kalau hanya pengakuan. Harus dilengkapi dengan bukti-bukti material yang lain. Karena kalau dari pengakuan kontra pengakuan itu berarti your words against my words. Tidak ada habis-habisnya proses hukum. Oleh karena itu pengakuan saja itu belum cukup menjadi bukti. Jadi kalau tuntutan Abu Bakar Ba’asyir dikonfrontir itu juga tidak ada habis-habisnya. Faruq mengatakan saya kenal, Abu Bakar Ba’asyir mengatakan saya tidak kenal. Bagaimana tentu nanti akan ada saksi. Ada bukti hukum lain yang melengkapi. Biarlah proses hukum ini berjalan. Dan mekanismenya tidak begitu. Kalau ada yang menuduh terus yang dituduh didudukkan bersama-sama.. Benar tidak ini. Karena ada mekanisme investigasi. Tentu kepolisian akan mencari bukti yang lain sebagai pelengkap. Tetapi mengenai masalah bukti dalam terorisme jangan kita berpikir secara konvensional. Terorisme merupakan suatu jaringan yang terdiri dari sel-sel. Sekarang kita mau tahu siapa yang melempar bom itu. Mungkin itu bisa kita tahu. Tetapi siapa yang mendorong orang itu untuk melakukan dan melempar granat, kadang kala kita tidak menemukan bukti materil. Karena demikian sel terpotong-potong. Mungkin saja sel yang di atasnya dia tidak tahu, apalagi yang di atasnya. Jadi pengertian pembuktian dalam hal terorisme merupakan hal yang tidak konvensional. Jadi jangan kita terpaku pada pemikiran yang normatif konvensional. Yang tadi Abu Bakar Ba’asyir katakan itu mudah dipatahkan. Saya sarankan Abu Bakar Ba’asyir mencari alasan yang lain biar lebih kuat lagi. Kalau perlu nanti dibantu sama teman-teman supaya alasannya lebih kuat.

BA’ASYIR: memang saya tidak kenal. Silakan cari bukti-bukti atau saksi-saksi yang lain. Saya siap stiap saat. Memang saya tidak tahu menahu dan tidak kenal.

ROY: Memang siapa pelaku di Bali perlu ditemukan, tetapi siapa yang harus paling bertanggung jawab itu juga harus dibuka. Siapa yang paling bertanggung jawab menciptakan situasi sosial politik yang melahirkan, mengambangkan tindakan-tindakan atau metode-metode pemboman terhadap rakyat sipil. Justru saya kecewa Abu Bakar Ba’asyir bilang seolah-olah memiliki legitimasi kematian orang-orang di WTC dengan alasan bahwa orang Palestina pun dibombardir. Itu justru semakin menegasikan atau meniadakan bahwa ada solidaritas rakyat Israel terhadap rakyat Palestina. Karena bom-bom bunuh diri justru membuat takut rakyat Israel. Itu kelompok-kelompok yang menggunakan analisa sempit semacam itu. Kedua, yang paling bertanggung jawab adalah jelas kebijakan-kebijakan imperealis AS yang justru melahirkan bom-bom bunuh diri. Yang justru melahirkan para teroris-teroris baru. Ketiga, yang paling bertanggung jawab adalah negara-negara atau pemerintah negara dunia ketiga yang dulu untuk mempertahankan kekuasaannya mengorganisasikan kelompok-kelompok yang kemudian sekarang menjadi teroris. Siapa yang tidak tahu bahwa jaringan Al-Qaedah yang sekarang dikabarkan di Afganistan itu dulu diorganisir oleh badan intelejen Pakistan untuk memanfaatkan permainan di dalam Afganistan sendiri. Atau contoh di Indonesia. Kita masih ingat pada tahun 98-99 yang namanya pendirian FPI itu dihadiri oleh Nugroho Jayusman dan Teja Suparman. Aku pikir di situ yang harus dipertegas.

LUDI: Pertama, yang ingin saya tanyakan dan mungkin bisa diungkapkan di publik adalah sebelum terjadi peristiwa di Bali informasi apa yang diperoleh BIN akan terjadi suatu peristiwa itu. Mungkin informasi ini bisa disampaikan ke publik secara terbuka. Kedua, langkah apa yang akan BIN lakukan untuk mencegah rentetan peristiwa ini agar tidak terjadi lagi.

SANTOSO: saya kira masalah terorisme ini adalah masalah yang sangat kompleks. Dalam kaitan ini saya kira ada dua statement dari Klik dan Fauzan yang luput dari pendalaman dari diskusi ini. Tadi Fauzan mengatakan bahwa ini adalah barangkali salah satu bentuk couter hegemoni. Kelik mengatakan kita jangan terjebak hanya pada siapa dalangnya. Coba lihat akar masalah munculnya terorisme ini. Fenomena apa ini sebenarnya. Dalam kaitan ini saya ingin mendapatkan Analisa dari pihak BIN, kalau kita di tingkat wacana kita kembalikan persoalan ini di sekitar akhir robohnya negara-negara sosialisme itu, ada suatu kebutuhan suatu tatanan dunia baru, demikian propaganda dari Amerika. Dan ditingkatan wacana ada suatu dominasi, yaitu dari Huntington the Clash of civilization, di situ kita tahu betul bagaimana visi Amerika terhadap Islam. Saya ingin tahu bagaimana assessment BIN terhadap persoalan-persoalan ini dalam kaitan wacana internasional itu, karena ini merembes politik luar negeri Amerika dan terus kepada negara-negara yang menerima bantuan Amerika itu. Dan nasihat analisa BIN bagaimana. Apakah merembes kepada negara Indonesia ini?

GINANJAR: Pertama, Pak Muhyar, upaya Anda untuk menghindar dengan mengatakan tidak ingin ikutan dalam perdebatan Ulil dan Fauzan itu justru menjadi salah satu yang memberi energi bagi sejumlah kalangan untuk mengatakan bahwa agama adalah hak mereka sendiri. Sementara kita umat biasa seakan-akan tidak ada hak untuk bicara apapun atas agama. Sehingga ketika ada imam bilang begitu kita harus terima. Saya kira sikap Anda sangat berbahaya. Yang itu membuat monopoli dominasi dari kalangan yang kemudian juga meligitimasi teror. Kedua, saya tidak kaget ketika Hamzah Haz, kita tahu bagaimana motifnya ketika menyudutkan BIN dan sebagainya. Tapi saya juga tidak kaget bahwa BIN itu jelek, karena lihat saja tokoh-tokoh intelejen bekas BAKIN dan sebagainya. Maulani. Untuk kasus apapun yang dibicarakan hanya Amerika, Israel. Sama dengan tahayul-tahayul politik, tahayul keamanan dunia sekarang yang dipelihara seakan-akan untuk mengatakan bahwa Indonesia adalah negara yang bersih dari apa pun juga. Umat Islam adalah umat yang bersih dari apapu juga.

MUHYAR: Pertama, saya ingin menjawab tidak ada satu negara pun, tidak ada satu dinas intelejen dari negara manapun bisa mengetahui pada saat-saat terakhir dimana objek, dimana sasaran, apa yang akan dilakukan oleh kelompok-kelompok teroris itu. Karena untuk mengetahui itu akan memerlukan satu kegiatan yang sangat rumit. Harus ada orang yang dimasukkan ke dalam. Itu sudah teknis. Itu BIN tidah tahu. Tetapi untuk mengetahui peningkatan aktivitas dari jaringan, itu sudah kita warning. Makanya belum lama ini kita melakukan ada upaya penangkapan bersama dengan kepolisian. Sayam reda(?), umpamanya. Karena kita melihat ada itu. Dan di dalam catatan harian Sayam reda ketika disita itu ada catatan-catatan tentang eksplosif devices. Tapi pada saat itu kemudian reaksi demikian begitu kuat, bahkan ada yang mengatakan tangkap saya dulu. Tapi saya tidak mau mengulang itu lagi. Kedua, saya katakan saya hadir di sini mewakili satu institusi. Tentu saya tidak bisa ikut campur dalam perdebatan agama yang sudah sedemikian dalam.. Itu di luar tugas dan wewenang saya. Maka saya pribadi saya mau ikut-ikut juga biar bisa belajar menambah kedalaman. Ketiga, saya tidak bisa terima kalau Maulani, Manulang adalah identik dengan BIN. Mereka mungkin pernah menjadi bagian dari anggota badan intelejen pada masa yang lalu. Bukan pada masa BIN yang sekarang. Saya bukan intelejen. Tapi katanya seorang intelejen pada hari pertama, pada jam pertama dia mengikuti pendidikan Anda adalah seseorang yang tidak pernah ada. You are the man who never was. Kalau kemudian muncul ada seorang intelejen sebelum mati mengatakan dia intelejen itu berarti dia bukan orang intelejen.

ULIL: Pokoknya prinsipnya adalah sekarang ini ancaman terorisme itu sudah dihadapan mata kita dan menurut saya tidak ada lagi kemewahan waktu untuk berdebat persoalan apakah ini mencemarkan agama tertentu, mencampuri kedaulatan bangsa kita, atau pun menarik terlalu jauh kepada akar-akar masalah yang lebih luas. Tentu kita diskusikan akar-akar terorisme lebih luas, tetapi ancaman ini sudah di depan mata kita dan kita harus waspada bahwa ini adalah masalah yang harus diatasi. Saya kira jangan buang waktulah untuk hal-hal yang tidak prinsipil. Teori Amerika terlibat atau mesti ini. Lebih baik kita fokuskan pada sesuatu yang lebih spesifik. Kalau keliru misalnya, ok kita koreksi. Tapi masalah ini sudah mendesak.

FAUZAN: Jadi sebagaimana imamnya, saya kira Nong juga hanya menggunakan otak untuk menganalisis sesuatu. Jadi selamat Anda telah berhasil mencabut jilbab Anda untuk menunjukkan Anda adalah seorang yang sangat rasional. Tapi hanya mengatakan bahwa ketika Deplu menyebut bahwa Yogya dan Solo adalah tempat yang mengancam warga negara asing. Maka apa yang mesti kita analisis? Kenapa tidak menyebut yang lain? Yogya itu markas Mujahidin. Solo itu tempat dimana Abu Bakar Ba’asyir tinggal. Reaksi Sultan Hamengkubuwono X sangat realistis, yaitu kemudian memprotes sikap Amerika dengan membatalkan kunjungan ke sana. Kami melihat bahwa bom yang meledak di Bali dan di Manado adalah untuk mengaddu domba antar umat beragama. Tetapi kami merasa yakin bahwa umat beragama tidak akan mudah diadu domba oleh Amerika. Saya kira harus menyatukan langkah untuk memulai hidup baru sebagai bangsa yang mandiri.

KELIK: Mungkin statement terakhir. Sebetulnya yang perlu kita antisipasi adalah what next, apa yang akan terjadi ke depan. Artinya ini sebuah antisipasi dari katakanlah kelompok-kelompok prodem yang selama ini berjuang kemudian tiba-tiba dihancurkan, kalau saya bilang, dengan tindakan pengeboman di Bali kemarin yang sehingga meligitimasi bagi negara untuk melakukan security approach lagi. Ini yang sebetulnya sangat penting bagi gerakan-gerakan demokratisasi untuk melihat atau mengeliminir terjadi tindakan–tindakan teroris yang itu di luar kemanusiaan. Kedua, persoalan mampu itdak pemerintahan Megawati ini untuk mengusut tuntas kasus ini.

* * *

——————————————————————————–From: Haniwar Syarif [syarif@centrin.net.id]

Sent: 01 Desember 2002 19:23

To: mus-lim@isnet.org

Subject: [mus-lim] diskusi terorisme

Berdiri di Atas Kaki Sendiri

Nama:

Ir. Soekarno

Nama Panggilan:

Bung Karno

Nama Kecil:

Kusno.

Lahir:

Blitar, Jatim, 6 Juni 1901

Meninggal:

Jakarta, 21 Juni 1970

Makam:

Blitar, Jawa Timur

Gelar (Pahlawan):

Proklamator

Jabatan:

Presiden RI Pertama (1945-1966)

Isteri dan Anak:

Tiga isteri delapan anak

Isteri Fatmawati, anak: Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati dan Guruh

Isteri Hartini, anak: Taufan dan Bayu

Isteri Ratna Sari Dewi, wanita turunan Jepang bernama asli Naoko Nemoto, anak: Kartika.

Ayah:

Raden Soekemi Sosrodihardjo

Ibu:

Ida Ayu Nyoman Rai

Pendidikan:

HIS di Surabaya (indekos di rumah Haji Oemar Said Tokroaminoto, politisi kawakan pendiri Syarikat Islam)

HBS (Hoogere Burger School) lulus tahun 1920

THS (Technische Hoogeschool atau sekolah Tekhnik Tinggi yang sekarang menjadi ITB) di Bandung lulus 25 Mei 1926

Ajaran:

Marhaenisme

Kegiatan Politik:

Mendirikan PNI (Partai Nasional Indonesia) pada 4 Juli 1927

Dipenjarakan di Sukamiskin, Bandung pada 29 Desember 1929

Bergabung memimpin Partindo (1931)

Dibuang ke Ende, Flores tahun 1933 dan Empat tahun kemudian dipindahkan ke Bengkulu.

Merumuskan Pancasila 1 Juni 1945

Bersama Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945

Proklamator Soekarno (1)

Berdiri di Atas Kaki Sendiri

Soekarno (Bung Karno) Presiden Pertama Republik Indonesia, 1945- 1966, menganut ideologi pembangunan ‘berdiri di atas kaki sendiri’. Proklamator yang lahir di Blitar, Jatim, 6 Juni 1901 ini dengan gagah mengejek Amerika Serikat dan negara kapitalis lainnya: “Go to hell with your aid.” Persetan dengan bantuanmu. Namun, akhirnya ia lebih condong ke Blok Timur (Komunis) yang dikendalikan Uni Soviet dan RRC. Pemimpin Besar Revolusi ini berhasil menggelorakan semangat revolusi bagi bangsanya, serta menjaga keutuhan NKRI.

Kendati ia belum berhasil dalam bidang pembangunan ekonomi untuk membawa rakyatnya dalam kehidupan sejahtera, adil makmur. Ideologi pembangunan yang dianut pria yang berasal dari keturunan bangsawan Jawa (Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo, suku Jawa. Ibunya bernama Ida Ayu Nyoman Rai, suku Bali), ini bila dilihat dari buku Pioneers in Development, kira-kira condong menganut ideologi pembangunan yang dilahirkan kaum ekonom “merah”.

Bagi kaum “merah”, tak ada kamus bahwa membangun suatu negeri harus ngemis kepada Barat. Haram hukumnya minta-minta bantuan asing. Bersentuhan dengan negara Barat yang kaya, apalagi sampai meminta bantuan, justru mencelakakan si melarat (negara miskin).

Bagi Bung Karno, yang ketika kecil bernama Kusno, ini tampaknya tak ada kisah manis bagi negara-negara miskin yang membangun dengan modal asing dan bantuan Barat. Semua tetek bengek manajemen pembangunan yang diperbantukan dan arus teknologi modern yang dialihkan — agar si miskin jadi kaya dan mengejar Barat — hanyalah alat pengisap kekayaan si miskin yang membuatnya makin terbelakang.

Itulah Bung Karno yang berhasil menggelorakan semangat revolusi dan mengajak berdiri di atas kaki sendiri bagi bangsanya, tapi belum berhasil membawa rakyatnya dalam kehidupan sejahtera.

Masa kecil Bung Karno memang sudah diisi semangat kemandirian. Ia hanya beberapa tahun hidup bersama orang tua di Blitar. Semasa SD hingga tamat, ia tinggal di Surabaya, indekos di rumah Haji Oemar Said Tokroaminoto, politisi kawakan pendiri Syarikat Islam. Kemudian melanjut di HBS (Hoogere Burger School). Saat belajar di HBS itu ia pun telah menggembleng jiwa nasionalismenya. Selepas lulus HBS tahun 1920, ia pindah ke Bandung dan melanjut ke THS (Technische Hoogeschool atau sekolah Tekhnik Tinggi yang sekarang menjadi ITB). Ia berhasil meraih gelar “Ir” pada 25 Mei 1926.

Kemudian, ia merumuskan ajaran Marhaenisme dan mendirikan PNI (Partai Nasional lndonesia) pada 4 Juli 1927, dengan tujuan Indonesia Merdeka.. Akibatnya, Belanda, si penjajah, menjebloskannya ke penjara Sukamiskin, Bandung pada 29 Desember 1929. Delapan bulan kemudian baru disidangkan. Dalam pembelaannya berjudul Indonesia Menggugat, dengan gagah berani ia menelanjangi kemurtadan Belanda, bangsa yang mengaku lebih maju itu.

Pembelaannya itu membuat Belanda makin marah. Sehingga pada Juli 1930, PNI pun dibubarkan. Selelah bebas (1931), Bung Karno bergabung dengan Partindo dan sekaligus memimpinnya. Akibatnya, ia kembali ditangkap Belanda dan dibuang ke Ende, Flores, tahun 1933. Empat tahun kemudian dipindahkan ke Bengkulu.

Setelah melalui perjuangan yang cukup panjang, Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Sebelumnya, ia juga berhasil merumuskan Pancasila yang kemudian menjadi dasar (ideologi) Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ia berupaya mempersatukan nusantara. Bahkan ia berusaha menghimpun bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan Amerika Latin dengan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 yang kemudian berkembang menjadi Gerakan Non Blok.

Pemberontakan G-30-S/PKI melahirkan krisis politik sangat hebat. Ia pun tak mau membubarkan PKI yang dituduh oleh mahasiswa dan TNI sebagai dalang kekejaman membunuh para jenderal itu. Suasana politik makin kacau. Sehingga pada 11 Maret 1966 ia mengeluarkan surat perintah kepada Soeharto untuk mengendalikan situasi, yang kemudian dikenal dengan sebutan Supersemar. Tapi, inilah awal kejatuhannya. Sebab Soeharto menggunakan Supersemar itu membubarkan PKI dan merebut simpati para politisi dan mahasiswa. MPR mengukuhkan Supersemar itu dan menolak pertanggungjawaban Soekarno serta mengangkat Soeharto sebgai Pejabat Presiden.

Kemudian Bung Karno ‘dipenjarakan’ di Wisma Yaso, Jakarta. Kesehatannya terus memburuk. Akhirnya, pada hari Minggu, 21 Juni 1970 ia meninggal dunia di RSPAD. Ia disemayamkan di Wisma Yaso, Jakarta dan dimakamkan di Blitar, Jatim di dekat makam ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai. Paduka Yang Mulia Pemimpin Revolusi ini meninggalkan 8 orang anak. Dari Fatmawati; Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati dan Guruh. Dari Hartini: Taufan dan Bayu, dan dari Ratna Sari Dewi, wanita turunan Jepang bernama asli Naoko Nemoto; Kartika.

*** Ensiklopedi Tokoh Indonesia, dari berbagai sumber

atjungkan tindju kita

“ atjungkan tindju kita “

lagu dan sikap politik jaman soekarno

Sumber: Majalah PROGRESS, No.1, Jilid 3, 1993.

——– ——-

Kurun revolusi (1945-1949) merupakan kurun yang begitu kuat membekas dalam sanubari masyarakat Indonesia. Berbagai peristiwa heroisme, sekecil apapun, sulit untuk dilupakan. Selain itu dalam kurun ini juga ditandai kemunculan laskar-laskar, partai-partai dengan ideologi beragam.

Revolusi kemerdekaan menjadi puncak perlawanan yang secara sistematis dilakukan sejak awal abad ini. Pengenyahan terhadap unsur yang dianggap menindas, menghisap rakyat berlangsung sejak lama. Sebagaimana diketahui, perkembangan pemahaman bumi putera terhadap kolonialisasi sejak tahun belasan (1910-an) mengarah pada semua kondisi buruk yang berlangsung dalam masyarakat disebabkan struktur sosial yang kapitalis. Puncak pertama dari gerakan menentang penghisapan kapitalisme terjadi dalam pemberontakan 1926/1927 yang berlangsung di Jawa dan Sumatra.

Banyak kelompok masyarakat yang dibentuk dalam paruh kedua tahun 1940-an, berkencenderungan meng-kiri-kan revolusi. Seperti PSI, Pemuda Sosialis Indonesia (pesindo), Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI) yang dibentuk tahun 1947—berjalan efektif sampai tahun 1966, diketuai Njono (putra buruh kereta api). Rata-rata mereka mempunyai organisasi sebagai wahana komunikasi kelompoknya dengan masyarakat. PSI menerbitkan Pembaroean, Pesindo mengeluarkan Pembela Ra’jat. Sedang PKI—dalam tahun 1923 menerbitkan Kiri—sejak awal revolusi menerbitkan Bintang Merah. Dalam arus kiri ini tidak luput pula Kementerian Pertahanan Staf Pendidikan Politik Tentara Jogjakarta menerbitkan buletin “kiri” Soeloeh Tentara (edisi pertama terbit tahun 1947). Sejak nomor ke-4 (Maret 1947), mungkin dalam rangka menunjukkan terbitan ini kiri, disetiap kover buletin ia cantumkan gambar bintang merah. Artikel-artikel yang dimuat mulai memperkenalkan informasi dunia sosialis seperti “Tentara Wanita Tiongkok” “Beroeang Merah”(no 7, Mei 1947)—yang membahas Rusia dimasa Stalin. Soeloeh Tentara mengangkat isu-isu antara lain : buruh, tani, tentara rakyat, kelaskaran yang dikaitkan dengan pendidikan politik. Dalam berkembangan berkesenian, tokoh-tokoh seperti W.R Supratman, Kusbini, Ismail Marzuki, C. Simanjuntak dan sebagainya, juga melahirkan lagu-lagu yang dapat digunakan untuk menyemangati rakyat yang berjuang. Seperti Lagu “Indonesia Raya” karya W.R Supratman; juga karya C. Simanjuntak “Maju Tak Gentar”, “Tanah Air Tumpah Darah”, karya Ismail Marzuki “Halo-Halo Bandung”, “Karangan Bunga dari Selatan”, “Gugur Bunga”, L. Manik “Satu Nusa Satu Bangsa”, maupunkarya kusbini “Bagimu Negeri”. “Indonesia Raya”—kelahirannya diinspirasi oleh gerakan pemuda dalam paruh akhir tahun 1920-an, dan pertama kali diperdengarkan dalam permainan biola pada konggres Pemuda Indonesia II (27-28 Oktober 1928)—setelah ditinjau kembali lirik dan pengulangan-pengulangannya pada september 1944, akhirnya diterima sebagai lagu wajib kebangsaan dalam tahun 1953. Dalam tahun 1950-an kita dapati, dua jenis lirik lagu politik pertama, lagu-lagu yang bercorak “nasionalisme”—perlawanan maupun sikap anti terhadap unsur-unsur kekuasaan asing (Barat), imperialisme maupun neo-kolonialisme. Kedua, lagu yang mempersoalkan sistem kapitalisme yang masih berlangsung. Untuk jenis pertama, kita akan jumpai mimpi-mimpi heroisme yang dipaksakan ke rakyat untuk menanamkan semangat bela negara. Sering kali Chauvinis dan Fasist. Kata-kata seperti : “ini dadaku, mana dadamu”, “rebut”, “ganyang”, “gempur”, merupakan kosakata yang lumrah ditemui dalam syair-syair lagu ini. Lagu “Nasakom Bersatu”, karya Soebroto Ki Atmajo, disiapkan dalam rangka menyambut hari sumpah pemuda tahun 1961. Lirik selengkapnya berbunyi :

Atjungkan tindju kita, satu padu (bersatu)/ Bulat semangat kita, Hajo! Terus Madju/Nasakom bersatu, singkirkan kepala batu/Nasakom satu tjita, sosialismepasti djaja/

Fenomena seperti ini, nampaknya, juga pernah berlangsung di Jerman semasa berkuasanya Hitler. Gambaran seperti itu, kadang terjadi dinegeri-negeri selepas mengalami peperangan. Misalnya, Jerman pasca perang dunia II. Perkembangan di Indonesia secara lebih intens, berlangsung setelah diberlakukannyasistem demokrasi terpimpin, dalam tahun 1959. Oleh Soekarno, jargon-jargon Revolusi dihidupkan kembali. Tujuan Soekarno semata-mata hanyalah dalam rangka : ganyang imperialisme (jargon Soekarno yang paling terkenal adalah : Go To Hell With Your Aids/persetan dengan bantuan-bantuanmu). Anti imperialisme inilah yang disalahartikan sebagai dalam rangka menuju masyarakat sosialisme. [lihat pidato Soekarno : Re-So-Pim (Revolusi Indonesia Socialism-Nation Leadership) 17 times 17th August, Department of Information Republic of Indonesia]. Bagaimanapun, nampaknya, imperialisme—Amerika—yang meraja lela dianggap menutup kemungkinan tumbuhnya borjuasi bumiputera yang tangguh.

Sedang untuk jenis kedua, lirik-lirik lagu yang disajikan dalam bentuk penyampaian realitas sosial yang ada. Dalam hal ini termasuk dipersoalkan makna dari kerja, produksi, sistem sosial. Meskipun kadang kala juga tidak lepas dari jargon-jargon politik. Dalam konteks ini, akan didapati lagu yang ditulis oleh orang yang berpaham marxis, sosial demokrasi, maupun penganut ‘sosialisme ala soekarno’ (Marhaenisme). Lagu “gending gendjer-gendjer” – secara ahistoris sering disalahartikan dan dikaitkan dengan peristiwa pembunuhan para jendral dalam peristiwa G30S/PKI 1965 – misalnya, lebih merupakan lagu yang berkisah tentang kehidupan masyarakat Indonesia awal tahun 1950-an yang ditandai dengan kemiskinan yang mengenaskan.

Gendjer adalah tanaman sejenis enceng gondok yang tumbuh liar diselokan (rawa-rawa), dikonsomsi rakyat miskin sebagai lauk-pauk. Lagu “Gending Gendjer-Gendjer” sendiri, diciptakan oleh Samsudin Proboharjono dalam tahun 1953,– merupakan lagu tentang potret kehidupan masyarakat Banyuwangi (Jawa Timur), sehingga dilantunkan dalam lirik Banyuwangi – hanya berpretensi menyampaikan kenyataan sosial kaum miskin yang mengkonsumsi gendjer. Selengkapnya syair lagu “Gending Gendjer-Gendjer” sebagai berikut :

Gendjer-gendjer neng ledokan pating keleler/ Gendjer-gendjer neng ledokan pating keleler/ Emake thole teka-teka mbubuti gendjer/ Emake thole teka-teka mbubuti gendjer/ Oleh satenong mungkur sedot sing tolah-tolih/ Gendjer-gendjer saiki wis digawa mulih.

Gendjer-gendjer esuk-esuk digawa nang pasar/ Gendjer-gendjer esuk-esuk digawa nang pasar/ didjejer-djejer diunting pada didasar/ dudjejer-djejer diunting pada didasar/ emake djebeng tuku gendjer wadahi etas/ gendjer-gendjer saiki arep diolah.

Gendjer-gendjer mlebu kendil wedange umob/ Gendjer-gendjer mlebu kendil wedange umob/ setengah mateng dientas digawe iwak/ setengah mateng dientas digawe iwak/ sega sa piring sambel penjel ndok ngamben/ gendjer-gendjer dipangan musuhe sega.

Sedangkan lagu yang berusaha mengajak rakyat melakukan perubahan – setelah diberi penjelasan arti kerja yang telah mereka lakukan adalah “Krontjong Buruh-Tani”, karya Sjamsuri :

Dari pagi sampailah petang aku bekerja,

Memeras keringat, membanting tulang, sekuat tenaga, segala kerdja di dunia ini tak tertjipta tanpa tenagaku, Namun upah kerdjaku tiada tjukup ‘tuk sekedar makan, kita buruh tidak akan hanya menjerah kepada nasib, Bersatu dan berjuang untuk mentjapai kebahagian, Dini hari diwaktu fadjar sebelum bertjahaja, Tak ku kenal lelah, bangun pergi aku turun ke sawah, Betapa berat aku bergulat dalam lumpur pagi hingga petang, Namun djerih pajahku hanya sedikit ku ikut mengenjam, kita tani haruslah berani mengubah nasib sendiri, Bangkit serta berjuang untuk lenjapkan ketidakadilan.

Lagu ini jelas mengangkat masalah kerja, arti kerja, dan bahwa upah yang didapat kerja sangat tidak memadai (“namun upah kerdjaku tiada tjukup ‘tuk sekedar makan”, dan “Namun djerih pajahku hanja sedikit ku ikut mengejam”). Lagu ini cenderung menyiratkan semangat anti kapitalisme. Sehingga diakhir lagu dinyatakan sikap : “kita tani haruslah berani mengubah nasib sendiri, bangkit serta berdjuang untuk lenjapkan ketidakadilan”.

Berbagai arus yang berkecenderungan melawan penindasan dan penghisapan kapitalisme – sebagaimana berlangsung selama kurun penjajahan – berusaha mendorong perubahan masyarakat ke bentuk yang baru, sosialisme. Tidak dapat dipungkiri Partai Komunis Indonesia (PKI) mengemban misi ini. PKI dibentuk pada 23 Mei 1920 sebagai polarisasi dan kristalisasi dari arus radikal Sarekat Islam, Vereeniging Van Spoor en Traam Personeel (VSTP), dan Indesche Social Democratische Vereeniging (ISDV). Popularitas PKI dalam mengangkat berbagai kesenjangan sosial, mendapat sambutan hangat dari masyarakat disebabkan pengalaman pahit yang dialami selama penghisapan kapitalisme kolonial yang berlangsung bertahun-tahun. Partai ini bergiat dalam memotivasi kaum buruh untuk membebaskan dirinya dan masyarakat luas dari ketidakadilan sosial yang dikonsolidasi dalam struktur masyarakat kapitalis.

Disisi lain, Presiden Soekarno yang mencoba menjadi pusat dari berbagai kekuatan sosial politik, telah lama – sejak tahun 1920-an – mengakomodir kedalam tiga kekuatan utama yaitu agama-nasionalis-komunis (NASAKOM). Atau dalam rumusan Soekarno tahun 1926 Pengkawinan Nasionalisme, Marxisme dan Islam. Arus anti-imperialisme Amerika – yang sebetulnya tidak berarti anti-kapitalisme, jika dilihat dari program-program perekonomian yang diambil pemerintah waktu itu – membuat kecenderungan semakin kekiri menemukan pendukung yang cukup kuat. Dalam kesenian, Soekarno memberangus berbagai aktifitas yang mendukung imperialisme Amerika seperti, membungkam dan memenjarakan kelompok Koes bersaudara (Tony Koeswoyo, Yok Koeswoyo, Nomo Koeswoyo, dan Jan Mintaraga – belakangan Jan, Vokalis, mengundurkan diri) di awal tahun 1960-an disebabkan merekamempertahankan bentuk penampilan yang nge-Beatles (band rock’nroll Inggris yang hijrah ke Amerika Serikat). Sehingga Soekarno pun dalam posisi tidak menghalangi lagi derasnya arus budaya kiri yang disampaikan ke masyarakat luas oleh Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), maupun Harian Rakjat – salah satu organ resmi PKI.

Lagu-lagu yang lahir di bawah naungan ‘sosialisme ala soekarno’ antara lain adalah “Madju Sukarelawan”, “Nasakom Bersatu”, “RE-SO-PIM”. Kegarangan lirik “Madju Sukarelawan” (karya Sudharnoto) dapat ditengok di bawah ini :

Bulatkan semangat tekad kita barisan sukarelawan Indonesia ke medan tempur, siap bertempur setiap tantangan kita lawan pantang mundur, hey ! awas imperialisme durhaka landjutkanlah tjita kita kuat perkasa ini dadaku, mana dadamu kamu menjerang kita ganjang djadi abu.

Ajolah kawan, buruh tani, pemuda dan angkatan kita madju melawan siap senjata dan serbu ke kandang lawan, pastilah menang, pastilah menang, pasti menang revolusi ’45.

Suatu kegarangan anti imperialisme dan tekad menghancurleburkannya, ditanamkan di dada para pemuda Indonesia. Sedang kecenderungan kearah sosialisme lebih tajam tertuang melalui lagu “RE_SO_PIM” karya Soebroto Ki Atmojo :

Re-so-pim, re-so-pim, revolusi Agustus ’45. Re-so-pim, re-so-pim, sosialisme ditangan negara. Kita tuntut pimpinan yang jujur. Rakyat harus hidup adil makmur. Re-so-pim, re-so-pim, maju, maju, re-so-pim. Kita tuntut murah sandang pangan minggir-minggir pimpinan yang curang re-so-pim, re-so-pim, hidup, hidup re-so-pim.

Kecenderungan semakin ke kiri ini membuat PKI dengan mudah memperkenalkan ke masyarakat lagu-lagu revolusi Rusia (Oktober 1917) melalui Harian Rakjat (9 Nopember 1962) yang – setelah diterjemahkan – berjudul “Saat Telah Tiba”. Sebuah lagu yang sarat dengan jargon politik revolusioner khas komunis. Seperti, Penyebutan “Surya merah” dan “Pandji merah” :

Kawan saat ini telah tiba/ Kita tjapai merdeka/ masa gelap telah bubar/ surja merah bersinar/ Lihat barisan djutaan/ Madju tegap ke depan/ dengan semangat menjala/ Menjerbu dunia kita/

Kawan semua bersatu/ senjum ! dan ajo madju/ Achir derita mendekat/ datang hari kiamat/

Tjampakkanlah penindasan/ Hiduplah kekuatan/ Pantjangkanlah pandji merah/ di dunia kaum pekerdja.

Jargon “merah” kembali digunakan. Dalam bahasa Indonesia kata “merah” mempunyai makna khusus. Misalnya, pada penyebutan bendera kebangsaan “merah-putih”. “Merah” dalam konteks ini diidentikkan dengan “berani” yaitu pengorbanan dengan “darah”. Artinya siap berkorban sampai titik darah penghabisan untuk menghapuskan penindasan dan penghisapan kapitalisme.

Agaknya, kata ’merah’ dalam konteks komunis, dan ‘merah’ di benak rakyat Indonesia memiliki kemiripan terutama dalam hal perwujudan sikap patriotik : Perjuangan tanpa menyerah. Dan yang dibutuhkan PKI dengan jargon “merah”, nampaknya, sebagai upaya pengembalian sikap politik patriotik masyarakat untuk memiliki semangat juang – sebuah prasyarat dan mengkonsolidasi suasana revolusioner.

Dengan adanya lagu-lagu di atas, mobilisasi massa memang terjadi “Bahaya” semakin ke kiri inilah yang nampaknya mendorong negara “polisi dunia” Amerika Serikat bermain untuk mengubah arah pembangunan Indonesia menjadi layak bagi penanaman modal asing. Terjadinya peristiwa pembunuhan yang bernama gerakan 30 September 1965. Dalam dokumen CIA (Centre Intelligent of Amerika) peristiwa ini disebut sebagai “The Djakarta Operation”. Sebuah revolusi peng-kanan-an Indonesia.

Sejak peristiwa tersebut kekuasaan dilandaskan pada kekuatan rejim militer yang sudah pasti pro-Barat, pro-Kapitalisme – dan tentu saja – pro-Imperialisme. Konsekuensi dari perubahan ini adalah dilakukan pemberangusan segala aktivitas politik masyarakat. Terjadi pula pemberangusan penciptaan, peredaran, pembudayaan, dan pemasyarakatan lagu-lagu politik. Koes Bersaudara tampilkembali dalam Koes Plus (terjadi pergantian personel drumer dari Nono Koeswoyo ke Mury). Kelompok ini dilepaskan untuk membawa lagu-lagu “kacang-goreng” tentang remaja dan cinta-cengeng. Di bawah kebijakan depolitisasi ini mereka merajai blantika musik. Arus baru dalam musik ini berhasil menina-bobokan masyarakat dari persoalan-persoalan politik.

* * *

SOSIALISME INDONESIA

SOSIALISME INDONESIA )

M

embicarakan Sosialisme Indonesia berarti membicarakan hari depan Revolusi Indonesia.

Manifesto Politik RI mengatakan dengan jelas

“hari depan Revolusi Indonesia bukanlah menuju ke kapitalisme, dan sama sekali bukan menuju ke feodalisme… hari depan Revolusi Indonesia adalah masyarakat adil dan makmur, atau … Sosialisme Indonesia.”

Perumusan Manipol tentang hari depan revolusi ini hanya dapat dipahami dengan tepat, bila orang memahami dengan tepat pula apa itu kapitalisme, apa itu feodalisme, dan apa itu sosialisme. HaI ini perlu saya tekankan karena sampai sekarang masih terlalu banyak orang yang menyatakan dirinya “antikapitalisme” dan “antifeodal,” tetapi tidak tahu apa sesungguhnya kapitalisme itu, juga tidak tahu apa sesungguhnya feodalisme itu. Begitupun terlalu sering masih orang-orang menamakan dirinya “prososialisme” tanpa mengetahui apa sosialisme yang sebenarnya itu.

Apa akibat dari ketidakjelasan soal-soal ini? Akibatnya bermacam-¬macam. Ada orang yang menganggap Uni Soviet misalnya “imperialis,” “imperialis merah,” dan RRT juga “imperialis,” “imperialis kuning,” padahal Uni Soviet dan RRT adalah jelas-¬jelas negara-negara yang bukan saja anti-imperialis, tetapi sudah sosialis. Sebaliknya ada orang-orang yang menganggap misalnya Burma itu suatu negeri “sosialis,” hanya karena kaum sosialis pernah memegang pemerintahan di sana, padahal Burma itu, tidak beda dengan Indonesia, India dan banyak negeri lainnya, adalah negeri yang belum merdeka penuh dan masih setengah feodal. Perkara Burma ini belum se-berapa. Ada malahan orang-orang yang mengira kerajaan Inggris itu negeri “sosialis,” juga karena yang memerintah di sana pernah Labour Party yang sering disebut sebagai partai “sosialis” itu. Lelucon ini jadinya tidak lucu lagi! Pertama, di manalah di dunia ada kerajaan yang “sosialis”! Jika kerajaan-¬kerajaan pada sosialis, Lenin dulu tak perlu repot-repot memimpin Revolusi 1917, sebab Rusia ketika itu toh sudah Rusia tsar, Rusia kerajaan … lagipula agak sukar membayangkan bahwa seorang Elizabeth atau seorang Hirohito atau seorang Juliana bisa “Sosialis” … Nederland juga pernah diperintah oleh Partij van der Arbeid, partai “sosialis.” Tetapi apakah dengan begitu Nederland jadi sosialis? Adalah pemerintah “sosialis” Nederland itu yang di tahun 1947 melancarkan perang kolonial terhadap kita! Seratus lima belas tahun yang lalu Karl Marx dan Friedrich Engels menerangkan kepada kita supaya berhati-hati dengan sosialisme, sebab, demikian Marx dan Engels, selain sosialisme proletar, juga ada “sosialisme borjuis kecil,” “sosialisme borjuis,” bahkan “sosialisme feodal.” Dengan pengalaman Inggris dan Nederland di atas maka kita harus menambahkan bahwa selain “sosialisme kerajaan” itu masih ada lagi “sosialisme kolonial”!

Macam lain dari kekisruhan mengenai “sosialisme” adalah kenyataan bahwa ada orang-orang yang sendirinya seorang kapitalis tetapi memaklumkan diri ke mana-mana sebagai orang “antikapitalis.” Kalau ditanya, “Lha saudara ini apa?”, cepat-cepat dia menjawab: “Saya kapitalis non kapitalis,” atau malahan, ada yang bengal dengan mengatakan: “Saya kapitalis marhaen,” “Saya kapitalis murba atau “Saya kapitalis jelata.” Sungguh kapitalis jenaka!

Ada kekisruhan macam lain lagi. Bulan yang lalu pernah saya lihat di Jember sini semboyan yang mengatakan seakan-akan “ciri khusus landreform Indonesia adalah nonkomunis dan antikapitalis.” Perkara “non komunis” baiklah saya tidak beri komentar sekarang, karena komentar pun sebetulnya berkelebihan. Cobalah kita camkan: landreform adalah redistribusi atau pembagian kembali tanah dengan jalan memberikan milik individual kepada kaum tani. Inilah landreform yang tepat, dan landreform ini disokong selain oleh golongan-golongan lain, juga dan barangkali terutama oleh kaum komunis Indonesia. Jadi soal non-atau tidak nonkomunis tidak menjadi soal sama sekali. Sekarang, apakah landreform Indonesia itu benar harus antikapitalis? Dari persoalan ini jelas bahwa masih ada orang yang tak tahu bedanya kapitalisme dari feodalisme. Sasaran landreform adalah feodalisme, tuan-tuan, dan bukan kapitalisme! Tentu bagi kita ada persoalan menghapuskan sama sekali konsepsi-konsepsi kolonial atas tanah, tetapi yang dipersoalkan oleh Undang-undang Pokok Agraria adalah tanah-tanah kelebihan pada tuan-tuan tanah bumiputera, tuan-tuan tanah feodal. Presiden Sukarno menerangkan di dalam “Djarek” bahwa landreform itu tujuannya “mengakhiri pengisapan feodal secara berangsur-angsur.”

Kita lihatlah betapa kisruhnya soal-soal jadinya, jika pengertian¬pengertian kapitalisme dan sosialisme tidak jelas.

Ada yang setuju dengan sosialisme ilmiah, ada yang tidak menyetujuinya. Tetapi kita sudah sekali hidup dalam abad ilmu, abad atom dan nuklir, sputnik dan kapal ruang angkasa, dan bukan lagi dalam abad takhayul atau mistik. Kita menyuruh anak-anak kita pergi ke sekolah menuntut ilmu, tidakkah aneh jika bapak¬-bapaknya menghindari ilmu? Juga pengertian-pengertian harus ilmiah, termasuk pengertian-pengertian tentang kapitalisme, feodalisme dan sosialisme. Untuk menyebarkan ilmu secara populer dan masal inilah saya kira salah satu tujuan utama UNRA. Benar UNRA bukan suatu institut universiter, tetapi mutu ilmiah akan tetap dijaga tinggi dalam UNRA dan tujuan mendekatkan ilmu kepada rakyat atau mendekatkan rakyat kepada ilmu, kiranya adalah suatu tujuan ilmiah yang serasi dengan denyut nadi jaman. Demikian pun tujuan meniadakan jurang antara teori dan praktek, terutama teori revolusioner dan praktek revolusioner.

Apakah Sosialisme Indonesia itu dan bagaimana harusnya dia kita selenggarakan?

Saya ingin memulai dengan suatu logika yang sederhana tetapi keras: sosialisme adalah sosialisme.

Juga ini bukannya tak ada gunanya saya tekankan, sebab ada yang mengartikan “Sosialisme Indonesia” itu hanya dari sudut kekhususan-kekhususan, keistimewaan-keistimewaan, perlainan¬-perlainan, dan malahan pertentangan-pertentangan dengan “sosialisme-sosialisme lain.” Pembela-pembela “sosialisme istimewa” ini biasanya mengatakan: “Sosialisme Indonesia bukan Sosialisme Soviet, bukan Sosialisme Tiongkok, bukan Sosialisme Kuba.” Saya cuma khawatir jangan-jangan yang di-maksudkan oleh mereka adalah bahwa Sosialisme Indonesia itu bukan … sosialisme!

Kekhususan Sosialisme Indonesia tentu saja ada, tetapi apakah ada kekhususan jika tak ada keumuman? Apakah ada yang khusus jika tak ada yang umum? Kita ambilkan misal ini: “Simin manusia khusus.” Tetapi setiap kita tahu bahwa tidak akan ada itu manusia Simin jika tak ada manusia pada umumnya. Lagi pula, sekalipun Simin itu manusia khusus, tetapi dia toh manusia juga: kepalanya satu, tangannya dua, kakinya dua, melihat bukan dengan telinga melainkan dengan mata, berpikir bukan dengan punggung melainkan dengan otak, dsb. Sebab, sekiranya Simin itu berpikir tidak dengan otaknya, saya kira kita tidak akan berkata “Simin itu manusia khusus,” melainkan Simin itu manusia abnormal, atau bukan manusia sama sekali!

Oleh sebab itu sosialisme adalah sosialisme, Sosialisme Indone¬sia adalah Sosialisme Indonesia; dia bercorak Indonesia, tetapi dia sosialisme.

E. Utrech S.H., ketika sebagai sesama anggota Dewan Pertimbangan Agung bersama-sama saya mengadakan indoktrinasi Manipol ke Nusa Tenggara, merumuskan soalnya sebagai berikut: “Sosialisme Indonesia adalah sosialisme yang diindonesiakan, atau Indonesia yang disosialiskan.” Saya kira perumusan sarjana ini bukan perumusan seorang profesor linglung, melainkan perumusan yang obyektif benar.

Mari kita kembali kepada Manipol, dan di situ akan kita jumpai dengan bahasa yang terang, bahwa Sosialisme Indonesia adalah “sosialisme yang disesuaikan dengan kondisi-kondisi yang terdapat di Indonesia, dengan alam Indonesia, dengan rakyat Indonesia, dengan adat-istiadat, dengan psikologi dan kebudayaan rakyat Indonesia.” Kita perhatikanlah: “sosialisme yang disesuaikan…” dsb., tetapi yang disesuaikan itu adalah tetap sosialisme, dia harus tetap sosialisme.

Saya ingin mengambil contoh yang lain: apa misalnya yang kita sebut lukisan Indonesia tentang gunung Himalaya? Saya kira, ini berarti sebuah lukisan gunung Himalaya yang dikerjakan oleh seorang pelukis Indonesia, dan yang menggunakan gaya Indone¬sia, pengolahan Indonesia, visi Indonesia. Tetapi saya kira seindonesia-indonesianya lukisan Himalaya, dia tidak boleh menyunglap bentuk Himalaya hingga menjadi seperti gunung Argopuro atau Raung!

Sosialisme adalah suatu susunan sosial atau sistem masyarakat yang berdasarkan pemilikan bersama atas alat-alat produksi. Saya minta perhatian: alat-alat produksi. Jadi, bukan atas meja-kursi, buku-buku, tempat tidur, sepeda, dan sebagainya. Dalam sosialisme proses produksi berlangsung secara sosial, demikian pun hasil¬-hasilnya dikenyam secara sosial. Ini berarti bahwa sosialisme itu bukan kapitalisme yang produksinya berlangsung sosial (kalau tidak ada kaum buruh yang banyak itu tidak akan ada produksi kapitalis!) tetapi hasil-hasilnya masuk ke kantong si kapitalis saja, jadi asosial. Sosialisme tidak boleh disederhanakan menjadi “sama rata sama rasa,” di mana orang yang bekerja berhak makan dan orang yang tidak bekerja juga berhak makan, atau di mana si rajin mendapat persis sama dengan si malas. Sebaliknya, dalam sosialisme hanya yang bekerjalah yang berhak makan, sedang yang tidak bekerja tidak berhak atas makan. Begitu pun, si malas tak akan mendapat sebanyak si rajin. Kian rajin akan kian banyaklah pendapatannya. Seperti dikatakan oleh Karl Marx: Dalam sosialisme manusia bekerja menurut kemampuannya dan mendapat menurut prestasi atau hasil kerjanya.” Pendeknya, sosialisme adalah masyarakat tanpa exploitation de I’homme par I’homme, tanpa pengisapan oleh manusia atas manusia, seperti berulang-ulang dinyatakan oleh Bung Karno.

Demikianlah sifat-sifat umum yang pokok dari sosialisme, juga dari Sosialisme Indonesia. Bung Aidit sudah pcrnah memperingatkan: janganlah “Sosialisme Indonesia” itu diartikan sosialisme “yang begitu khususnya,” sehingga kata sifat “Indone¬sia” menjadi berarti “dengan pengisapan oleh manusia atas manusia,” sehingga “Sosialisme Indonesia” berarti “sosialisme dengan pengisapan”! Kalau ada “sosialisme dengan pengisapan,” pastilah dia bukan sosialisme sama sekali, pastilah dia bukan masyarakat yang adil dan makmur. Sebab, pengisapan itu bukan keadilan, dan dengan pengisapan tidak mungkin ada kemakmuran. Maksud saya -kemakmuran buat semua, sebab, kemakmuran buat si pengisap tentu saja bisa.

Tamu-tamu dari Eropa, yang datang ke Asia dengan berkunjung dulu ke India, baru ke Indonesia, banyak yang mengatakan kepada saya: “Indonesia ini saya lihat relatif makmur.” “Makmur bagaimana?”, tanya saya. Jawabnya: “Dibandingkan dengan In¬dia.” Memang, saya sendiri sudah tiga empat kali ke India. Orang mati menggeletak di pinggir jalan, yang di sini hanya terdapat di jaman fasisme Jepang dan yang sesudah Republik merdeka hampir-¬hampir tak pernah kita jumpai, di India sana masih gejala sehari-¬hari. Toh PM. Jawaharlal Nehru menamakan India itu suatu “negeri sosialis.” Ketika saya tanya kepada teman India saya yang baik, Bupesh Gupta, “Sosialisme India itu sosialisme macam apa,” teman saya itu menjawab, “sosialisme dengan kemiskinan”!

Bahwa “sosialisme” itu tidak selalu sosialisme, dan bahwa ada macam “sosialisme” yang sesungguhnya bukan sosialisme, juga bisa kita saksikan dari kejadian-kejadian beberapa waktu yang lalu di dunia Arab. Presiden Gamal Abdel Nasser, seperti diketahui, secara pandai telah memasukkan Suriah ke dalam gabungan dengan Mesir, ke dalam “Republik Persatuan Arab.” Presiden Nasser memaklumkan bahwa RPA adalah negeri “sosialis,” yang berasaskan “sosialisme à la Arab.” Beberapa waktu kemudian, setelah rakyat Suriah, mulai buruhnya sampai burjuasinya, mengalami apa artinya berada di dalam RPA, mereka memilih kembali jalan menentukan nasib sendiri dengan merenggutkan diri dari Mesir dan mendirikan kembali Suriah merdeka. Republik Suriah ini kemudian memaklumkan “sosialisme” juga: “sosialisme sejati.” Nah, kita lihatlah, “sosialisme” ditentang oleh “sosialisme,” “sosialisrne à la Arab” ditentang oleh “sosialisme sejati.”

Di Indonesia ini ada yang mengira bahwa sosialisme itu akan terselenggara jika kita melakukan “indonesianisasi.” Ini jugalah sebetulnya yang dilakukan oleh Mesir. Menurut Ali Sabri, menteri Mesir yang tugasnya mendampingi presiden, di sana dilakukan apa yang disebutnya “arabisasi” atau bahkan “mesirisasi.”

Bahwa “indonesianisasi” saja belum berarti perbaikan, hal itu dapat diterangkan dari dua sudut. Pertama, siapa yang mengadakan “indonesianisasi” itu; kedua, siapa orang-orang Indonesia yang ditugaskan menggantikan kedudukan-kedudukan orang-orang asing. Pasal siapa yang menugaskan, juga siapa yang ditugaskan ini, penting sekali. Pada suatu hari diberitahukan kepada anggota-¬anggota parlemen kita, bahwa pada tanggal sekian jam sekian akan datang wakil-wakil dari BPM-Shell. Anggota-¬anggota parlemen sudah mengasah bahasa Inggrisnya, tahu-tahu yang muncul or¬ang-orang berkulit sawo matang, bermata hitam, berambut hitam. Inilah “indonesianisasi” oleh BPM-Shell. Juga apabila yang menugaskan “indonesianisasi” itu pihak Indonesia, termasuk pemerintah Indonesia, belumlah tentu bahwa yang ditugaskan dalam “indonesianisasi” itu orang-orang Indonesia yang patriotik dan cakap. Bukankah Presiden Sukarno berkali-kali mencanangkan tentang masih adanya orang-orang “blandis,” orang-orang yang hollands-denken, dan bukankah kita dalam masyarakat terkadang menjumpai orang-orang yang bahkan merasa “lebih Belanda daripada si Belanda”? Ya, jika seandainya setiap “indoncsianisasi” sudah beres, tentulah Manipol tidak perlu menggariskan keharusannya retooling, dan tentulah Resopim tidak perlu menggariskan keharusannya membersihkan segala aparat dari “pencoleng-pencoleng.”

Sosialisme bukanlah suatu sistem ekonomi semata. Dia suatu sistem sosial yang menyeluruh. Dia ya sistem ekonomi, ya sistem politik, ya sistem kultural, ya malahan sistem militer.

Dalam pidatonya I Juni 1945, yaitu “Lahirnja Pantjasila” yang diucapkan tatkala kaum militer-fasis Jepang masih di Indonesia sini, Bung Karno –ketika itu belum Presiden RI– antara lain berkata:

“Jikalau kita memang betul-betul mengerti, mengingat, mencintai rakyat Indonesia, marilah kita terima prinsip hal sociale rechtvaardigheid ini, yaitu bukan saja persamaan politik … tetapi pun di atas lapangan ekonomi kita harus mengadakan persamaan, artinya kesejahteraan bersama yang sebaik-baiknya.”

Dalam pidato itu juga yang sangat saya anjurkan untuk dipelajari sungguh-sungguh oleh setiap manipolis, Bung Karno juga menganjurkan “cara yang tidak onverdraagzaam, yaitu dengan cara yang berkebudayaan!”

Apakah hakikat sosialisme di lapangan ekonomi, di lapangan politik kebudayaan?

Prinsip-prinsip sosialisme di lapangan ekonomi sudah saya bentangkan tadi, sekalipun secara cekak-aos. Bagaimana bisa ada “sosialisme” yang pemilikan alat-alat produksinya tidak bersifat sosial, sedang UUD ‘45 pun menggariskan pada pasal 133-nya:

“Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan. Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak, dikuasai oleh negara. Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya, dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk kemakmuran rakyat sebesar-besarnya.”

Kalau dalam UUD ‘45 sudah demikian, apa pula dalam sosialisme nanti.

Di lapangan politik sosialisme haruslah berarti kekuasaan politik di tangan rakyat, dalam arti yang sesungguh-sungguhnya, kedaulatan rakyat yang bukan hanya semboyan, tetapi kenyataan. Mayoritas terbesar rakyat di negeri kita adalah kaum buruh dan kaum tani. Oleh sebab itu wajarlah apabila mereka, kaum buruh dan kaum tani itu, yang harus mengurusi dirinya sendiri dan mengurusi urusan-urusan kenegaraan umumnya. Jika tidak ada ini, maka pastilah akan terjadi apa yang dikatakan Jean Jaures seperti yang dikutip oleh Bung Karno dalam pidato “Lahirnja Pantja Sila,” yaitu: “Wakil kaum buruh yang mempunyai hak politik itu di dalam parlemen dapat menjatuhkan minister. Ia seperti raja! Tetapi di dalam dia punya tempat bekerja, di dalam pabrik, sekarang ia menjatuhkan minister, besok dia dapat dilemparkan ke jalan raya, dibikin werkloos, tidak dapat makan suatu apa.”

Jika seperti yang dikatakan Jean Jaures dan Bung Karno ini masih terjadi, itu tandanya masyarakat masih berada dalam susunan kapitalis, betapapun demokratisnya, dan belum berada dalam susunan sosialis! Manipol pun sudah menetapkan bahwa “Revolusi Indonesia harus mendirikan kekuasaan gotong-royong, kekuasaan demokratis yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan, yang menjamin ter-konsentrasinya seluruh kekuatan nasional, seluruh kekuatan rakyat.” Dalam mendefinisikan “seluruh kekuatan nasional” ini Manipol mengatakan: “Seluruh rakyat Indonesia dengan kaum buruh dan kaum tani sebagai kekuatan pokoknya. Jadi: kekuasaan gotong-royong… yang menjamin terkonsentrasikannya seluruh kekuatan nasional, seluruh kekuatan rakyat… dengan kaum buruh dan kaum tani sebagai kekuatan pokoknya. Argumentasi bagi garis Manipol ini bahkan sudah diberikan Bung Karno tujuh belas tahun yang lalu dalam pidato yang saya tak jemu-jemu menyebutkannya, yaitu “Lahirnja Pantja Sila,” yang antara lain berbunyi:

“Jikalau saya peras yang lima (Pancasila) menjadi tiga, dan tiga

menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan ‘gotong royong’ Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara gotong royong! Alangkah hebatnya! Negara Gotong Royong!”

Demikianlah Bung Karno merumuskan cita-citanya. Tidaklah perlu saya berikan redenasinya, tentulah Sosialisme Indonesia di lapangan politik sedikitnya harus menjalankan asas Sukarno tentang kenegaraan ini.

Bagaimana Sosialisme Indonesia di lapangan kebudayaan?

Ketika pemuda-pemuda revolusioner yang bekerja ilegal di jaman Jepang mempersiapkan kemerdekaan Indonesia mendatangi Sutan Sjahrir di hari-hari Agustus 1945, Sjahrir mengatakan bahwa Indonesia “belum matang” buat merdeka, bahwa “paling sedikit dibutuhkan lima tahun sampai rakyat Indonesia bisa merdeka.” Melihat keadaan yang belum baik sekarang ini, mungkin ada orang yang akan berkata, “Kalau begitu Sjahrir betul juga sudah enambelas tahun lebih kita merdeka, kita belum bisa membereskan ekonomi dan soal-soal lain.” Pikiran begini adalah pikiran berbahaya sekali! Sebelum kita bicarakan ekonomi beres atau tidak beres, pertama-¬tama dan di atas segala-galanya harus kita persoalkan: kalau Proklamasi 17 Agustus 1945 ditunda apakah sekarang ini akan ada Republik Indonesia! Saya tak tahu apa akan jadinya Indonesia ini dalam hal begitu, tetapi kalaupun tidak Jepang atau Belanda menjajah kita kembali, maka imperialis-imperialis lain seperti Inggris, Amerika, Perancis, Belgia, Portugal dan Jerman Barat, kalau tidak salah satu dari mereka menjajah kita, semuanya menjajah kita bersama-sama. Sehingga, Indonesia ini merupakan suatu polikoloni, menjadi ajang penjajahan kolektif oleh kaum imperialis, mungkin langsung, mungkin pula dengan bendera PBB seperti halnya di Korea Selatan atau Kongo sekarang. Bung Karno, dalam pidatonya–ijinkanlah saya mengutipnya lagi– “Lahirnja Pantja Sila” berkata:

“Adakah Lenin ketika dia mendirikan negara Soviet Rusia Merdeka, telah mempunyai Dnieprpetrovsk, dam yang mahabesar di sungai Dniepr? Apa ia telah mempunyai redio¬stasion, yang menyundul angkasa? Apa ia telah mempunyai kereta-kereta api cukup, untuk meliputi seluruh negara Rusia? Apakah tiap-tiap orang Rusia pada waktu Lenin mendirikan Soviet Rusia Merdeka telah dapat membaca dan menulis? Tidak, tuan-tuan yang terhormat. Di seberang jembatan emas yang diadakan oleh Lenin itulah, Lenin baru mengadakan radio¬stasion, baru mengadakan sekolahan, baru mengadakan creche, baru mengadakan Dnieprpetrovsk! Maka oleh karena itu saya minta kepada tuan-ruan sekalian, janganlah tuan-tuan gentar di dalam hati, janganlah mengingat bahwa ini dan itu lebih dulu harus selesai dengan njelimet, dan kalau sudah selesai, baru kita dapat merdeka… apakah saudara-saudara (sekarang) akan menolak serta berkata: “Mangke rumiyin, tunggu dulu, minta ini dan itu selesai dulu, baru kita berani menerima urusan negara Indonesia Merdeka..?” “Di dalam Indonesia Merdeka kita menyehatkan rakyat kita, walaupun misalnya tidak dengan kinine, tetapi kita kerahkan segenap masyarakat kita untuk menghiilangkan penyakit malaria dengan menanam ketepeng kerbau. Di dalam Indonesia Merdeka kita melatih pemuda kita agar supaya menjadi kuat, di dalam Indonesia Merdeka kita menyehatkan rakyat sebaik-baiknya.”

Demikianlah Bung Karno tujuh belas tahun yang lalu. Sekarang, sudah ada plan buat memberantas buta huruf sampai tahun 1964, dan Manipol pun mengatakan bahwa

“kita bergerak tidak karena ‘ideal’ saja, kita bergerak karena ingin cukup makanan, ingin cukup pakaian, ingin cukup tanah, ingin cukup perumahan, ingin cukup pendidikan, ingin cukup meminum seni dan kultur pendek kata kita bergerak karena ingin perbaikan nasib di dalam segala bagian-bagiannya dan cabang-cabangnya.”

Dan saya kira Presiden Sukarno tidak salah, bila beliau berkata kemudian dalam Manipol itu pula bahwa “perbaikan nasib ini hanyalah bisa datang seratus prosen, bilamana masyarakat sudah tidak ada lagi kapitalisme dan imperialisme,” jadi, bilamana sudah terselenggara masyarakat sosialis.

Demikianlah “sosialisme” yang disesuaikan dengan kondisi-kondisi yang terdapat di Indonesia” itu tidak mungkin berarti diingkarinya ciri-ciri umum sosialisme, seperti penghapusan pengisapan oleh manusia atas manusia, perbaikan nasib… 100% dsb. Mengingkari sifat-sifat khusus Sosialisme Indonesia berarti bahwa ia bukan sesuatu yang bersifat Indonesia; mengingkari sifat-sifat umum Sosialisme In¬donesia berarti, bahwa ia bukan sosialisme sama sekali. Kekhususannya harus diintroduksikan, tetapi keumumannya harus dipertahankan. Beginilah dan hanya beginilah kita bisa berbicara tentang Sosialisme Indonesia.

Apakah sosialisme sebagai perspektif Revolusi Indonesia itu terjamin akan tercapai? Ketua CC PKI dan Ketua Dewan Kurator UNRA, Bung Aidit, menerangkan bahwa perspektif Revolusi In¬donesia tak mungkin lain daripada sosialisme, “karena Revolusi Indonesia pada tingkat sekarang adalah ditandai oleh kebangunan sosialisme dunia dan kehancuran kapitalisme dunia.” Ini dinyatakan Bung Aidit dalam bukunya Masjarakat Indonesia dan Revolusi Indonesia, yang oleh ahli sejarah dan Kepala Arsip Negara, Drs. Moh. Ali dinamakan suatu buku sejarah modern Indonesia “yang tegas.” Tentang jaminan akan tercapainya perspektif revolusi itu, Bung Aidit dalam bukunya tersebut menunjukkan, bahwa benar revolusi nasional-demokratis akan menyingkirkan perintang-¬perintang bagi perkembangan kapitalisme, benar kapitalisme nasional sampai batas-batas tertentu akan berkembang, tetapi ini hanya satu segi dari masalahnya, sedang segi lainnya adalah bahwa akan ada juga

“perkembangan faktor-faktor sosialis seperti pengaruh politik proletariat yang makin lama makin diakui kaum tani, intelegensia dan elemen-elemen burjuasi kecil lainnya; perusahaan¬perusahaan negara dan koperasi-koperasi kaum tani, kaum kerajinan tangan, nelayan dan koperasi-koperasi rakyat pekerja lainnya. Semua ini adalah faktor-faktor sosialis yang menjadi

jaminan bahwa hari depan revolusi Indonesia adalah sosialisme dan bukan kapitalisme.”

Bagaimana sekarang menyelenggarakan sebaik-baiknya Sosialisme Indonesia itu? Dalam “Amanat Presiden tentang Pembangunan Semesta Berentjana,” yang berarti juga “Djarek” dan “Membangun Dunia Kembali” oleh MPRS telah disahkan sebagai pedoman pelaksanaan Manipol, Presiden Sukarno dengan keras mengritik di satu pihak golongan “evolusionis,” karena “teori yang demikian itu adalah salah,” dan pihak lain golongan “melompat” atau “fasensprong,” karena “teori yang demikian itu pun tidak benar.” Saya menyokong kritik terhadap di satu pihak “evolusionisme” dan di pihak lain “fasenprong” ini, karena yang pertama akan berarti penyelewengan ke kanan, oportunisme kanan atau reformisme, sedang yang kedua akan berarti penyelewengan ke kiri, oportunisme kiri atau radikalisme. Baik yang pertama maupun yang kedua akan membikin perjuangan mandek di jalan, sosialisme tidak tercapai dan revolusi gagal.

“Evolusionisme” berarti tidak mengganti sarana-sarana lama dengan sarana-sarana baru, berarti tidak menjebol kekuasaan lama dan mendirikan yang baru, berarti sumonggo dawuh dan monggo kerso serta sendiko dalem alias menyerah-isme. Perjuangan harus revolusioner, dan tidak evolusioner, tidak reformis.

“Fasensprong” berarti melompati apa yang tidak boleh dilompati, yaitu fase revolusi nasional-demokratis, berarti memimpikan yang tidak-tidak, berarti antirealis, alias avonturisme. Perjuangan harus obyektif dan tidak subyektif, tidak acak-acakan atau awur-awuran.

Kita sekarang berada dalam fase revolusi nasional dan demokratis, artinya, revolusi melawan imperialisme dan melawan feodalisme. Fase revolusi ini tidak boleh kita takuti, dia harus kita tempuh.

Perincian “Djarek” menegaskan:

“Jelaslah, ada dua tujuan dan dua tahap Revolusi Indonesia: Pertama, tahap mencapai Indonesia yang merdeka penuh, bersih dari imperialisme-dan yang demokratis-bersih dari sisa-sisa feodalisme. Tahap ini masih harus diselesaikan… Kedua, tahap mencapai Indonesia ber-Sosialisme Indonesia, bersih dari kapitalisme dan dari exploitation de I’homme par I’homme Tahap ini hanya bisa dilaksanakan dengan sempurna setelah tahap pertama sudah diselesaikan seluruhnya.”

Bisakah dipikirkan perumusan yang lebih gamblang dari pada ini? Baiklah saya bahas tahap pertama, yang di satu pihak tak boleh ditakuti dan di pihak lain tak boleh dilompati itu. Mengapa sasaran revolusi kita sekarang imperialisme dan feodalisme? Ini mudah dipahami jika orang suka mengingat bahwa 20% dari wilayah tercinta kita, yaitu Irian Barat, masih diduduki kaum imperialis. Juga jika diingat bahwa sebagian penting dari perekonomian kita, terutama minyak, masih dikuasai oleh kapital imperialis BPM-¬Shell, Stanvac dan Caltex. Andaikata kapital imperialis sudah tidak ada lagi di Indonesia, tentulah Manipol tidak mengancam “semua modal Belanda, termasuk yang berada dalam perusahaan¬-perusahaan campuran, akan habis tamat riwayatnya sama sekali di bumi Indonesia.” Andaikata kapital imperialis sudah tidak ada lagi di Indonesia, tentulah Manipol tidak mengancam modal monopoli asing yang bukan Belanda akan diperlakukan “sama dengan modal yang asalnya dari negeri Belanda,” artinya juga dibikin “habis tamat riwayatnya sama sekali di bumi Indonesia.”

Antievolusionisme berarti harus melaksanakan ketentuan Manipol ini. Jika sebaliknya, jika ketentuan-ketentuan Manipol ini tidak dijalankan dan jika kita tidak membikin habis tamat riwayatnya kapital imperialisme asing di bumi Indonesia, maka kita sesungguhnya –sadar ataupun tak sadar– menjalankan evolusionisme, menjalankan reformisme atau oportunisme kanan, kita sesungguhnya menjadi takut kepada kemenangan revolusi!

Demikian yang mengenai imperialisme. Yang mengenai feodalisme pun demikian pula. Andaikata feodalisme sudah habis, tentulah tidak ada perlunya dibikin Undang-undang Bagi Hasil dan Undang-undang Pokok Agraria atau Undang-undang Landreform. Ya, andaikata feodalisme sudah habis, tentulah “Djarek” tidak menegaskan bahwa “Revolusi Indonesia tanpa landreform adalah sama saja dengan gedung tanpa alas, sama saja dengan pohon tanpa batang, sama saja dengan omong besar tanpa isi,” tentulah “Djarek” tidak menegaskan bahwa “melaksanakan landreform berarti melaksanakan satu bagian mutlak dari Revolusi Indonesia,” dan tentulah “Djarek” tidak menegaskan bahwa “tanah tidak boleh menjadi alat pengisapan.” “Djarek” tidak hanya berhenti di sini. Seakan-akan khawatir kalau politik landreformnya tidak akan dituruti oleh golongan-golongan tertentu, maka Presiden Sukarno dalam “Djarek” itu juga menegaskan:

“Gembar-gembor tentang Revolusi, Sosialisme Indonesia, Masyarakat Adil dan Makmur, Amanat Penderitaan Rakyat, tanpa melaksanakan landreform, adalah gembar-gembornya tukang penjual obat di Pasar Tanah Abang atau di Pasar Senen”!

Jelaslah, bahwa antirevolusionisme harus berarti setuju dan melaksanakan landreform. Jika tidak setuju, dan tidak menjalankan landreform, maka disadari atau tidak orang sudah menjalani evolusionisme, reformisme atau oportunisme kanan, orang sudah takut kepada kemenangan revolusi.

Pendeknya kita harus awas-awas terhadap orang-orang yang “revolusi yes, landreform no” atau “revolusi okay, menghabisi riwayat kapitalis imperialis tunggu dulu.” Di Sumatera Utara agak sering terjadi orang-orang berangkat ke luar negeri, pulang memakai jubah dan kupiah haji, padahal dia tidak ke Mekkah, cuma ke Singapura… inilah yang di Medan disebut “lebai Singapura” ¬–mereka lebai-lebai palsu. Begitulah tidak semua orang yang menyebut dirinya “revolusioner” adalah sesungguhnya revolusioner– ada juga revolusioner palsu, ada revolusioner gadungan!

Saya sudah menguraikan perkara “evolusionisme” di dalam praktek. Bagaimana “fasensprong” di dalam praktek?

Fasensprong tidak mau tahu akan revolusi nasional dan demokratis. Fasensprong mau langsung ke sosialisme, sekalipun syarat-syarat untuknya belum tersedia. Fasensprong mengobrak-abrik pengusaha¬-pengusaha nasional dan pengusaha-pengusaha kecil, tetapi membiarkan pengusaha-pengusaha imperialis seperti BPM-Shell, Stanvac, Caltex dan Unilever. Mereka lebih hebat daripada “sosialisme dengan kemiskinan” – mereka mau “sosialisme dengan imperialisme”!

Terhadap masalah tanah, fasensprong tak mau ambil perduli terhadap perlunya pemilikan perseorangan oleh kaum tani atas tanah: mereka mau langsung “pengkoperasian pertanian” atau yang tak kalah seringnya, mereka mau “menasionalisasi tanah-tanah.”

Jelaslah, bahwa fasensprong sebetulnya tak lain daripada sabotase terhadap revolusi.

Bagaimana hubungannya antara tingkat revolusi yang pertama dengan tingkat yang kedua? Bung Aidit dalam karyanya Masjarakat Indonesia dan Revolusi Indonesia menulis bahwa

“Dua tingkat revolusi, yang demokratis dan yang sosialis (adalah) dua proses revolusioner yang berbeda dalam watak, tetapi yang satu dengan yang lainnya berhubungan. Tingkat pertama ialah persiapan yang diperlukan untuk tingkat kedua, dan tingkat kedua tidak mungkin sebelum tingkat pertama selesai.”

Menyelesaikan “tingkat pertama” bukan hanya berarti menyelesaikan tugas-tugas ekonominya yang pokok-pokok, terutama terhadap kapital imperialis dan monopoli tuan tanah atas tanah. Menyelesaikan “tingkat pertama” harus berarti juga dikerjakannya hal-hal yang mendesak sekali seperti mempraktekkan dan bukan hanya menyerukan semboyan “merombak ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional.” Jika penghasilan negara terutama didapat dari pajak pajak, langsung maupun tak langsung, jika pajak-pajak yang sudah ada dinaikkan dan pajak-pajak baru diadakan, dan jika tarif-tarif transpor, telekomunikasi dsb. dinaikan, juga jika harga minyak, gula, dan lain-lainnya dinaikkan, dan jika sebaliknya perusahaan-perusahaan negara tidak memberikan sumbangan yang sepertinya kepada kas negara, apalagi jika karena belum diberantasnya yang dikatakan Presiden Sukarno dalam Manipol “syaitan korupsi” dan “syaitan garuk kekayaan hantam kromo” maka semua ini menandakan semboyan “merombak ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional” baru semboyan yang diserukan dan belum semboyan yang dipraktekkan.

Ketika memasuki tahun ke-2 Manipol, Presiden Sukarno berkata: “Kita harus dengan lebih tegap melangkah untuk secara konsekuen melaksanakan Manipol dan dalam tahun ke-2 Manipol Usdek ini kita harus sungguh-sungguh aanpakken soal retooling ini benar¬-benar.” Kita sekarang sudah berada di tahun ke-3 Manipol, tahun batas bagi pelaksaan triprogram kabinet, bagi kabinet sendiri, bagi keadaan bahaya juga. Jika dalam tahun ke-2 Presiden Sukarno sudah begitu menekankan mutlaknya melaksanakan secara konsekuen Manipol dan “aanpakken soal retooling benar-benar,” apalagi sekarang di tahun ke-3 Manipol ini!

Beberapa patah kata tentang Pancasila. Harus jelas bagi siapa pun, bahwa Pancasila itu sesuatu keutuhan integral yang tidak boleh direnggut-renggut satu-satu silanya dari sila-sila lainnya, dan bahwa Pancasila itu alat pemersatu. Jika Pancasila direnggut-renggut, maka bisa nanti atas nama “Kebangsaan” misalnya orang menentang “Ketuhanan Yang Mahaesa” atau “Kemerdekaan Beragama” misalnya orang menentang “Kedaulatan Rakyat” atau “Demokrasi.” Sosialisme di mana pun di dunia menjamin kemerdekaan beragama. Sosialisme Indonesia tak terkecuali. Sdr. KDH Sudjarwo dengan tepat menganjurkan “Pancasila secara ilmiah setaraf dengan interpretasi penciptanya,” yaitu Bung Karno. Memang kalau kita bertolak dari “Lahirnja Pantja Sila,” pidato 1 juni 1945 Bung Karno yang sudah banyak saya kutip itu, dalam membicarakan sila “Ketuhanan Yang Mahaesa” Bung Karno menekankan “hormat-menghormati satu sama lain,” “yang berkeadaban,” “yang berkebudayaan,” “yang tidak onverdraagxaam,” dan dengan tegas beliau kemudian berkata: “Segenap agama yang ada di Indonesia sekarang ini akan mendapat tempat yang sebaik-baiknya.” UUD ’45 dalam pasal 29 yang mengenai “Ketuhanan Yang Mahaesa menegaskan bahwa “negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah menurut agamanya dan kepercayaannya.” Dalam “Djarek” Presiden Sukarno menggasak “hantu kebencian” dan membela “toleransi politik.” Dan dalam “Membangun Dunia Kembali” atau pidato PBB-nya yang terkenal itu, Presiden Sukarno menerangkan bahwa sila “Ketuhanan Yang Mahaesa” dalam Pancasila berarti “hak untuk percaya,” bukan kewajiban untuk percaya kepada Tuhan, dan berkatalah Presiden: “Bangsa saya meliputi orang-orang yang menganut berbagai macam agama: ada yang Islam, ada yang Kristen, ada yang Budha dan ada yang tidak menganut sesuatu agama.” Kemudian Presiden menunjukkan bahwa “bahkan mereka yang tidak percaya kepada Tuhan pun” diliputi oleh “toleransi.” Pernyataan Presiden ini tepat sekali, karena sesungguhnya “yang tidak menganut sesuatu agama” atau “yang tidak percaya kepada Tuhan pun” adalah bangsa Indonesia –mereka rakyat Indonesia. Dan tentulah kita semua belum lupa pada canang yang dipukul Presiden dalam “Resopim,” bahwa Pancasila adalah alat pemersatu, bahwa Pancasila tidak boleh dijadikan alat pemecah-belah, dan bahwa barang siapa menjadikan Pancasila alat pemecah-belah, sesungguhnya dia itu–dalam istilah Presiden Sukarno sendiri¬ “sinting.”

Sampailah saya sekarang pada alat yang terpenting, yang terbaik, dan yang satu-satunya untuk menyelenggarakan Sosialisme Indo¬nesia melalui penyelesaian fase pertama, fase revolusi nasional ¬demokratis, yaitu persatuan nasional. Persatuan nasional ini dengan Nasakom sebagai porosnya, bukan hanya sesuatu yang sudah resmi dan maka itu harus dituruti mutlak oleh setiap warga negara dari golongan politik maupun karya, sipil maupun militer, tetapi dia pun syarat yang tak boleh tidak jika kita mau menyelesaikan tuntutan-tuntutan Revolusi ’45 dengan perbuatan dan tidak dengan lip-service atau lamis-lamis bibir saja. Presiden Sukarno mengatakan dalam “Resopim” bahwa menolak Nasakom berarti bertentangan dengan UUD ’45, dan dalam “Djarek” beliau berpesan, “Bangsa kita harus menggembleng dan menggempurkan persatuan dari segala kekuatan-kekuatan revolusioner, menggembleng dan menggempurkan de samenbundeling van alle revolutionaire krachten in de natie.”

Demikianlah secara pokok-pokok Sosialisme Indonesia-ilmu dan amalnya: ilmu dan amal pengakhiran pengisapan oleh manusia atas manusia. Saya anjurkan kepada para siswa UNRA dan para peminat lainnya yang mau memperdalam soalnya-supaya mempelajari buku Bung Aidit, Sosialisme Indonesia dan Syarat¬-syarat Pelaksanaannya.

Penegasan saya sebagai kesimpulan: Tanpa persatuan nasional dengan kaum buruh dan tani sebagai kekuatan pokoknya dan Nasakom sebagai porosnya, takkan ada pelaksanaan Manipol secara konsekuen, sedang tanpa pelaksanaan Manipol secara konsekuen, takkan ada Sosialisme Indonesia.