(sunting) Daftar Tokoh Wayang

(sunting) Daftar Tokoh Wayang
Di bawah ini disajikan daftar tokoh-tokoh yang muncul dalam kisah Wiracarita, Ramayana dan Mahabharata yang sering dipentaskan dalam pertunjukan wayang:

[sunting] Dewa – Dewi Para Wayang
Sang Hyang Tunggal
Batara Guru
Batara Bayu
Batara Wisnu
Batara Kamajaya
Batara Indra
Batara Brahma
Batara Narada
Batara Yamadipati
Batara Surya
Batara Candra

Sang Hyang Tunggal
Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.
Langsung ke: panduan arah, cari
Sang Hyang Tunggal adalah ayah dari Batara Ismaya (Semar), Batara Antaga (Togog) dan Batara Manikmaya (Guru).

Pada episode Dewa Ruci, dia muncul sebagai Dewa Ruci dan bertemu Bima di dasar Laut Selatan. Bentuk wayangnya (dalam wayang kulit) termasuk kecil, seukuran wayang kulit tokoh-tokoh perempuan. Tokoh ini jarang dimainkan dalam pertunjukkan wayang kulit, karena episode yang memunculkannya memang sangat sedikit. Konon tidak sembarang dalang berani memainkan tokoh ini. Sang Hyang Tunggal adalah anak dari Sang Hyang Wenang.

Diperoleh dari “http://id.wikipedia.org/wiki/Sang_Hyang_Tunggal”
Kategori: Tokoh wayang

Semar
Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.
Langsung ke: panduan arah, cari
Semar Badranaya adalah tokoh punakawan yang dalam wayang Jawa /Sunda memiliki peran yang lebih utama ketimbang wayang babon (wayang dengan tokoh asli India). Merupakan Jelmaan dari Bambang Ismaya anak tertua dari Sang Hyang Tunggal. Kakak dari Batara Guru yang menguasai Swargaloka. Berada di Bumi untuk memberikan nasihat atau petuah petuah baik bagi para Raja Pandawa dan Ksatria juga untuk audiens tentunya. Memiliki Pusaka Hyang Kalimasada yang dititipkan kepada Yudistira yang merupakan pusaka utama para Pandawa. Memiliki tiga anak dari Istrinya Sutiragen, dalam versi Jawa Tengah maupun Timur adalah : Gareng, Petruk, Bagong. Sedangkan dalam versi Sundanya bernama : Astrajingga (Cepot), Dawala, dan Gareng (bungsu).

Semar Badranaya adalah tokoh Lurah dari desa (Karang) Tumaritis yang merupakan bagian dari Kerajaan Amarta dibawah pimpinan Yudistira. Meskipun peranannya adalah Lurah namun sering dimintai bantuan oleh Pandawa dan Ksatria anak-anaknya bahkan oleh Batara Kresna sendiri bila terjadi kesulitan.

Tokoh ini bersama tokoh punakawan lainnya dibuat oleh para wali diantaranya Sunan Kalijaga dalam menebarkan Agama Islam di Jawa yang melalui akulturasi budaya. Dengan adanya tokoh punakawan, pagelaran cerita wayang menjadi lebih hidup karena ada dialog dan interaksi antara dalang (wayang) dengan audiens serta merupakan sentral para dalang dalam menyampaikan nasihat nasihat dalam lakon atau pertunjukkan yang mungkin tidak dapat dicerna oleh orang awam bila tidak menggunakan tokoh tokoh punakawan. Istilah Pusaka Hyang Kalimusada merupakan perlambang Dua Kalimat Syahadat.

Diperoleh dari “http://id.wikipedia.org/wiki/Semar”
Kategori: Punakawan

Gareng
Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.
Langsung ke: panduan arah, cari
Nama lengkap dari Gareng sebenarnya adalah Nala Gareng , hanya saja masyrakat sekarang lebih akrab dengan sebutan Gareng.Gareng adalah punakawan yang berkaki pincang.diceritakan bahwa tumit kanannya terkena semacam penyakit bubul.Gareng adalah anak sulung dari Semar.dalam suatu carangan Gareng pernah menjadi raja di Paranggumiwayang dengan Gelar Pandu Pragola, saat itu dia berhasil mengalahkan prabu Welgeduwelbeh raja dari borneo yang tidak lain adlah penjelmaan dari saudaranya sendiri yaitu petruk.

Dulunya , Gareng berujud ksatria tampan bernamaBambang Sukodadi dari pedepokan Bluktiba.Suatu hari , saat baru saja menyelesaikan tapanya , ia berjumpa dengan ksatria lain bernama Bambang panyukilan.Karena suatu kesalah pahaman , mereka malah berkelahi. Dari hasil perkelahian itu, tidak ada yang menang dan kalah, bahkan wajah mereka berdua rusak.Kemudian datanglah Batara Ismaya yang kemudian melerai mereka.karena dia adalah pamong para ksatria yang berjalan diatas kebenaran , maka dalam bentuk Jangganan Samara Anta , dia memberi nasihat pada kedua ksatria itu.Karena kagum oleh nasihat Batara Ismaya, kedua ksatria itu kagum dan minta mengabdi dan minta diaku anak oleh Lurah Karang Dempel , titisan dewa itu.akhirnya Jangganan Samara Anta bersedia menerima mereka , asal kedua ksatria itu mau menemani dia menjadi pamong para ksatria berbudi luhur.dan akhirnya mereka setuju.

Petruk adalah punakawan yang tinggi dan berhidung panjang. Dalam suatu kisah berjudul Petruk Menjadi Raja, dia memakai nama Prabu Kantong Bolong.

2.Batara Guru
Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.
Langsung ke: panduan arah, cari

Bathara GuruBatara Guru merupakan Dewa yang merajai kahyangan. Dia yang mengatur wahyu kepada para wayang, hadiah, dan ilmu-ilmu. Batara Guru mempunyai sakti (istri) Dewi Uma, dan mempunyai beberapa anak. Berikut adalah urutan anak-anak Batara Guru, dimulai dari yang paling sulung (menurut tradisi wayang Jawa):

Batara Sambu
Batara Sambu adalah putra Batara Guru yang bertempat tinggal di Kahyangan Suwelagringging. Ia ditugaskan menguasai awan. Ia pernah turun ke dunia dan menjadi raja bergelar Prabu Maldewa. Ia kemudian menurunkan Resi Wisrawa, ayah Dasamuka.

Batara Brahma
Batara Bayu adalah anak dari Batara Siwa yang bertempat tinggal di khayangan Panglawung. Batara bayu ditugaskan utk mengatur / menguasai angin. Batara Bayu pada zaman kelahiran Hanoman menjadi guru Hanoman shg menjadi sakti. Pada zaman Pandawa, Batara Bayu menurunkan Werkudoro (Bima. Ciri dari murid ataupun keturunan bayu ini adalah mempunyai kuku Pancanaka).

Batara Indra Batara Indra merupakan anak ketiga dari Batara Siwa. Batara Indra ini mempunyai kuasa atas halilintar dan cuaca. Dewa ini sering ditugaskan oleh Batara Siwa untuk menjadi penengah dalam permasalahan-permasalahan yang terjadi di mayapada. Salah satu keturunan dari Batara Indra ini dikemudian hari ialah Arjuna, salah satu penengah Pandawa di kitab Mahabarata.

Batara Bayu Batara Bayu adalah dewa penguasa angin.
Batara Wisnu Batara Wisnu (Sansekerta: Bha?ara Vi??u) adalah dewa kebajikan dan dewa pemelihara. Dalam wiracarita Mahabharata batara Wisnu menitis kepada Kresna.

Wahana batara Wisnu adalah sang burung Garuda.

Batara Ganesha Batara ganesha adalah Dewa Ilmu Pengetahuan, dia adik dari Batara Wisnu. Batara Ganesha berkepala gajah, karena ketika Dewi Uma mengandung Batara Ganesha, dia dikejutkan oleh kehadiran Batara Indra yang mengendarai Gajah sangat besar, dan seketika itu pula lahirlah Ganesha

Batara Kala Batara Kala
Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.
Langsung ke: panduan arah, cari
Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia.
Merapikan artikel bisa berupa membagi artikel ke dalam paragraf atau wikifikasi artikel. Setelah dirapikan, Anda boleh menghapus pesan ini.

Ketika Batara Guru dan istrinya, Dewi Uma terbang menjelajah dunia dengan mengendarai Lembu Andini, dalam perjalanannya karena terlena maka Batara Guru bersenggama dengan istrinya di atas kendaraan suci Lembu Andini, sehingga Dewi Uma hamil. Ketika pulang dan sampai di kahyangan Batara Guru kaget dan tersadar atas tindakannya melanggar larangan itu. Seketika itu Batara Guru marah pada dirinya dan Dewi Uma, dia menyumpah-nyumpah bahwa tindakan yang dilakukannya seperti perbuatan “Buto” (bangsa raksasa). Karena semua perkataannya mandi(bahasa indonesianya : cepat menjadi kenyataan) maka seketika itu juga Dewi Uma yang sedang mengandung menjadi raksasa. Batara Guru kemudian mengusirnya dari kahyangan Jonggringsalaka dan menempati kawasan kahyangan baru yang disebut Gondomayit. Hingga pada akhirnya Dewi Uma yang berubah raksasa itu terkenal dengan sebutan Batari Durga. Setelah itu ia melahirkan anaknya, yang ternyata juga berwujud raksasa dan diberi nama Kala. Namun pada perkembangan selanjutnya Batara Kala justru menjadi suami Batari Durga, karena memang di dunia raksasa tidak mengenal norma-norma perkawinan. Batara Kala dan Batari Durga selalu membuat onar marcapada (bumi) karena ingin membalas dendam pada para dewa pimpinan Batara Guru.

(Tambahan: disadur dari http://www.Merbabu.com )

BATARA KALA

Kayangan : kayangan Selamangumpeng

Ayah : Batara Guru

Istri : Batari Durga

Keterangan : Batara Kala lahir dari Kama salah yang jatuh di laut pada saat Batara Guru rekrasi dengan Batari Uma (lihat hal Batari Uma). Batara Kala dilahirkan dalam wujud api yang berkobar-kobar yang makin lama makin besar. Hal ini membuat gara-gara di Suralaya, sehingga para dewa diperintahkan oleh Batara Guru untuk mematikan api yang berkobar-kobar tetapi tidak mati, malah makin lama makin besar dan naik ke Suralaya menanyakan bapaknya.

Karena Hyang Guru kwatir kalau kayangan rusak maka Batara Guru mengakui kalau Kala adalah anaknya. Maka diberi nama Batara Kala dan Batara Kala minta makanan, maka Batara Guru memberi makanan tetapi ditentukan yaitu :

1.Orang yang mempunyai anak satu yang disebut ontang-anting

2.Pandawa lima anak lima laki-laki semua atau anak lima putri semua.

3.Kedono kedini, anak dua laki-laki perempuan jadi makanan Betara Kala.

Untuk menghindari jadi mangsa Batara Kala harus diadakan upacara ruwatan. Maka untuk lakon-lakon seperti itu di dalam pedalangan disebut lakon Murwakala atau lakon ruwatan. Di dalam lakon pedalangan Batara Kala selalu memakan para pandawa karena dianggapnya Pandawa adalah orang ontang anting. Tetapi karena Pandawa selalu didekati titisan Wisnu yaitu Batara Kresna. Maka Batara Kala selalu tidak berhasil memakan Pandawa.

Hanoman Hanuman, juga disebut sebagai Hanoman, Anuman atau Anoman, mungkin adalah tokoh protagonis wiracarita Ramayana yang paling terkenal. Ia adalah seekor kera putih dan merupakan putra Batara Bayu, dewa angin. Dengan ini Hanuman masih saudara Bima. Menurut Kitab Serat Pedhalangan, tokoh Hanoman sebenarnya memang asli dari Epos Ramayana, namun dalam pengembangannya tokoh ini juga sering muncul dalam serial Mahabarata, sehingga menjadi tokoh antar zaman. Ini hanya berlaku di Indonesia (khususnya Jawa), dan tidak berlaku pada cerita aslinya di India.

Wahana (hewan kendaraan) Batara Guru adalah sang lembu Nandini.

Batara Guru adalah nama lain Siwa.

Batara Kamajaya adalah Dewa Cinta dan istrinya bernama Dewi Kamaratih. Batara Kamajaya sendiri putra dari Semar dan Dewi Sanggani Putri. Batara Kamajaya dan istri dalam masyarakat Jawa di simbolkan sebagai lambang kerukunan suami istri.

Pada acara mitoni atau tujuh bulan (kandungan istri berusia 7 bulan), kelapa muda yg hendak dipecahkan ayah calon bayi sering dilukiskan atau dituliskan nama Kamajaya. Sebagai wujud dari buah cinta.

Dewi Kamaratih adalah istri batara Kamajaya yang ketika suaminya terbakar api dari mata ke tiga Batara Guru, ia meminta Batara Guru untuk membunuh dirinya sekalian, sebagai wujud kesetiaannya kepada Batara Kamajaya. Ia adalah Dewi yang sangat cantik, sehingga muncul kepercayaan di masyarakat agar melukiskan Dewi Kamaratih pada kelapa muda sewaktu upacara Mitoni, sehingga apabila nanti anak yang lahir adalah perempuan, ia akan secantik Kamaratih.

1Rama Wijaya
Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.
Langsung ke: panduan arah, cari
Sri Rama (disebut juga Ramawijaya, Raghawa, Ramabhadra atau Bathara Rama) berasal dari Kerajaan Ayodya, putra dari Prabu (Raja) Dasarata dan Dewi Raghu, cucu dari Prabu Banaputra.

Pada masa kecil dan remaja dididik tentang keutamaan dan kesaktian oleh Bagawan Wasistha. Karena kepandaian, kesaktian dan kehalusan budinya, Sri Rama mendapat anugrah sebagai titisan Sang Hyang Wisnu yang bertugas memusnahkan angkara murka di muka bumi.

Sri Rama beristerikan Dewi Shinta, setelah memenangkan sayembara menarik Busur Pusaka Kerajaan Mantili (Mithiladiraja). Sri Rama memiliki anak yaitu Kusiya, dan Rama Batlawa

Diperoleh dari “http://id.wikipedia.org/wiki/Rama_Wijaya”

[sunting] Ramayana
Rama Wijaya
Laksamana
Sinta
Satrugna
Subali
Sugriwa
Hanoman
Rahwana
Wibisana
Dasarata
Jatayu Jatayu adalah protagonis daripada wiracarita Ramayana. Ia adalah seekor burung yang melihat bagaimana Dewi Sita diculik oleh Rawana.

Ia berusaha melawan tetapi kalah bertarung dan akhirnya mati. Tetapi ketika belum mati dan masih sekarat masih bisa melaporkan kepada Sri Rama bahwa Dewi Sita istrinya, diculik.

Sumitra Sumitra, adalah seorang tokoh dalam wiracarita Ramayana. Ia adalah salah seorang istri prabu Dasaratha dan merupakan ibu dari Laksamana dan Satrugna.
Kosalya Kosalya adalah seorang tokoh dalam wiracarita Ramayana. Ia adalah salah seorang istri prabu Dasarata dan merupakan ibu dari Sri Rama.

Sarpakenaka
Anggada
Anila Anila adalah nama tokoh dalam wiracarita Ramayana.

[sunting] Asal usul
Saat Anoman menghadap Batara Guru untuk diakui sebagai putranya, Batara Narada tertawa sambil menyindir Batara Guru. Batara Guru yang merasa disindir kemudian mengambil daun nila (sawo kecik) dan dilempar ke punggung Batara Narada. Daun nila tersebut menjadi seekor kera berbadan pendek dan berbulu biru tua yang menempel di punggung Batara Narada. Saat itu Batara Narada yang sangat benci terhadap kera meminta ampun kepada Batara Guru agar kera tersebut lepas dari punggungnya. Kemudian Batara Guru memberi tahu cara melepaskan kera itu dari punggung Batara Narada yaitu dengan mengakui kera tersebut menjadi anaknya dan akhirnya Batara Narada mau mengakui kera tersebut sebagai putranya.

Semua dewa yang hadir di dalam pertemuan tertawa melihat kejadian tersebut. Batara Narada menuntut kepada Batara Guru untuk memerintahkan semua dewa yang lainnya untuk memuja keranya masing-masing saperti yang telah dilakukan Batara Narada. Setelah tujuh hari kemudian akhirnya lahirlah kera-kera pujaan para dewa itu. Adapun kera-kera tersebut antara lain Kapi Sempati pujaan Batara Indra, Kapi Anggeni pujaan Batara Brahma, Kapi Menda, Kapi Baliwisata, dan Kapi Anala pujaan Batara Yamadipati dan sebagainya yang mencapai ratusan ekor.

Kera-kera tersebut lalu dikirim ke raja kera di Guakiskendha di bawah pimpinan Anila. Di kerajaan Guakiskendha, Anila diangkat menjadi patih sekaligus ahli seni bersama Kapi Nala dan Kapi Anala.

Kapi Anila menjadi pahlawan setelah berhasil membunuh Patih Prahasta (patihnya Dasamuka) dari Alengka dengan cara mengadu kepalanya dengan tugu batu yang ada di perbatasan negeri Alengka (tugu tersebut adalah pujaan Dewi Indrardi yang terkutuk pada peristiwa Cupu Manik). Selain itu, Anila membebaskan Dewi Indrardi dari kutukannya.

Jembawan
Ramaparasu
Garuda Jatayu
Kumbakarna
Wilkataksini Wilkataksini adalah raksasa yang sangat besar yang menjaga pantai Alengka. Pada waktu Hanoman terbang diatas pantai Alengka untuk mencari Sinta, Wilkataksini menyedot Hanoman sampai kedalam perutnya, Hanoman berhasil menewaskannya dengan cara merobek perutnya.

Indrajit Dalam wiracarita Ramayana, Indrajit (nama lainnya adalah Megananda) adalah salah satu putra Rahwana dan menjadi putra mahkota kerajaan Alengka. Indrajit merupakan satria yang sakti mandraguna, dalam perang antara pihak Rama dan Rahwana, Indrajit sering merepotkan bala tentara Rama dengan kesaktiannya. Ia punya senjata sakti yang bernama Nagapasa, apabila senjata tersebut dilepaskan, maka akan keluar ribuan naga meyerang ke barisan musuh. Dalam perang besar tersebut akhirnya Indrajit tewas di tangan Laksamana, adik Rama.

Diperoleh dari “http://id.wikipedia.org/wiki/Indrajit”

Trisirah
Trinetra
Trikaya
Prahastha Dalam wiracarita Ramayana, Prahastha adalah seorang patih (perdana menteri) kerajaan Alengka, sekaligus paman dari raja Alengka, Rahwana. Meskipun wujud lahirnya seorang raksasa, namun Prahastha berbudi baik dan sering memberikan nasehat kebaikan kepada Rahwana yang bersifat angkara murka. Sewaktu Alengka diserang bala tentara kera, Prahastha ikut maju ke peperangan untuk membela negaranya, akhirnya ia tewas di tangan Anila.

[sunting] Pandawa
Yudistira (nama lainnya : Darmawangsa, Darmakusuma, Kantakapura, Gunatalikrama, Sami Aji )
Bima (nama lainnya : Werkudara, Brata Sena, Harya Sena, Bayu Putra, Bayusutu, Dandun Wacana, Kusuma Waligita)
Arjuna (nama lainnya : Janaka, Parta, Panduputra, Kumbawali, Margana, Kuntadi, Indratanaya, Prabu Kariti, Palgunadi, Dananjaya)
Nakula (nama lainnya : Pinten)
Sadewa (nama lainnya : Tansen)
Yudistira, Bima dan Arjuna adalah putra Prabu Pandu Dewanata dan Dewi Kunti
Nakula dan Sadewa adalah putra Prabu Pandu Dewanata dan Dewi Madrim
asal usul tokoh Kresna

[sunting] Pihak Pandawa
Pandu Dewanata
Kresna
Srikandi
Gatotkaca
Abimanyu
Parikesit
Drupadi
Antareja
Antasena
Wisanggeni
Dewi Kunti
Dewi Madrim

[sunting] Kurawa
Dretarastra
Duryodana, Suyodana
Dursasana
Durmogati
Kartamarma
Jayadrata
Citraksa
Citraksi
Dursala
Dursilawati
Aswatama
Karna*
Durna*
Bhisma*
Sakuni

[sunting] Pihak Kurawa
RAJA:Duryudana,Suyudana,Destarata Putra,Kuru Pati,Jaka Pitana
Satria yang tak mau bersedekah sama sesama,bersifat dengki srei sama sesama,putra dari prabu Destarata, satria titisan darah Kuru,dan dikala muda sudah memangku jabatan.

PATIH:Arya Sangkuni,Arya Suman.
Pendita:Begawan resi Dorna,pendita Drona,resi Kumboyana.
Begawan Bhisma:Begawan ini pernah menjadi senopati negara Astina dan mati yang prisipnya sama dengan
Kumbakarna dari Alengka dalam Ramayana yang maju kepalagan perang untuk membela bumi tanah kelahirannya. Bhisma maju ke medan perang bukan untuk membela raja Astina yang jelas-jelas tidak baik,dan kematiannya oleh Srikandi yang telah dititisi dewi Amba.

Dursasana:Panegak kurawa dari Banjarajumrut
Aswatama:putra dari resi Dorna
Kartamarma
Tirtanata
Durmogati
Citraksi
Citraksa
Jayadrata
Dursala
Dursilawati
Burisrawa
Karna, Basukarna, Surya Putra:putra dari Dewi Kunti yang juga ibu dari para Pandawa yang berkawan sama raka Astina prabu Duryudana, karena sakit hati tidak masuk/diakui sebagai anggota Pandawa Lima. Akhirnya harus bertarung dengan panengah Pandawa Raden Arjuna dan kalah.
Resi Bhisma
Sangkuni
Salya

[sunting] Belum dipilah
Satyawati
Kunti
Yuyutsuh
Citraksa
Citraksi
Krepa
Drestadyumna
Baladewa
Indra
Satyaki
Burisrawa
Kretawarma,Kartamarma
Janamejaya
Ekalawiya
Widura
R.Samba, Wisnubroto
Nala
Damayanti
Tirtanata
Udawa
Durmogati
Sembodra
Utara

[sunting] Punakawan
Punakawan adalah para pembantu dan pengasuh setia Pandawa. Dalam wayang kulit, punakawan ini paling sering muncul dalam goro-goro, yaitu babak pertujukan yang seringkali berisi lelucon maupun wejangan. Biasanya sebelum muncul para punakawan pasti ada semacam kata pembuka yang diawali dengan: cth:

Goro-goro….
Goro garaning manungsa sak pirang-pirang,
Yen diitung saka tanah jawa nganti bumi sebrang,
Uripe manungsa kena kaibaratake kaya wayang,
Mrana-mrene pikire mung tansah nggrangsang,
Nanging keri-kerine mung oleh wirang.
Goro-goro…..
Wolak-walike jaman menungsa kakean dosa,
Merga ora ngerti tata krama,senengane tumindak culika,
lan nerak uger-ugere agama,
Wani nekak janggane sapada manungsa
Eling-eleng deweke duwe panguwasa
Najan to olehe nekak ora pati loro,
Nanging saya suwe ya saya kroso
Ora sanak ora kadang waton atine bisa lega
Goro-goro……
Goro-goro jaman kala bendu
Wulangane agama ora digugu,
Sing bener dianggep kliru sing slah malah ditiru,
Bocah sekolah ora gelem sinau,
Yen dituturi malah nesu bareng ora lulus ngantemi guru,
Pancen prawan saiki ayu-ayu,
Ana sing duwur tor kuru,ana sing cendek tor lemu,
Sayang sethitek senengane mung pamer pupu.
Goro-goro……..
Goro-goro jaman,jaman kemajuan
Uripe manungsa wis sarwa kecukupan,
Ora kurang sandang,pangan,papan,lan pendidikan,
Ananging malah akeh wong sing menggok ndedalan,
Kayu,watu kanggo sesembahan,domino,lintrik kanggo panggautan,
Senengae mung muja bangsane jin klawan syetan,
Dasar menungsa sing tipis iman.
Goro-goro……….
ada lanjutnya
Pungkasane goro-goro medal Ki Lurah Petruk………

Iklan

Komentar ditutup.