MEMPERTAHANKAN PANCASILA DAN BHINNEKA TUNGGAL IKA

Mempertahankan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika

Benny Susetyo. Pr bennya at indo.net.id
Mon Jun 26 10:31:46 ICT 2006

Sri Sultan Hamengku Buwono X

Keynote Speech
Mempertahankan Pancasila
Dan Bhinneka Tunggal Ika
Seminar Nasional
Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2006

Kerjasama

Aliansi Bhinneka Tunggal Ika-Yogyakarta
Untuk Keberagaman-Masyarakat Surabaya
Untuk Kebangsaan.
Surabaya, 22 Juni 2006

Sebuah Ilustrasi dari Jogja.

   MEMANG, di tengah musibah selalu ada saja pelajaran dan hikmah yang bisa kita petik. Misalnya, di Yogyakarta pasca gempa, kita bisa menyaksikan Tim Relawan yang melibatkan seorang Kyai, Pastur, dan Pendeta, bekerja bahu-membahu menolong sesama tanpa bertanya: “Siapa Tuhanmu”.
Demikian juga, siswi-siswi yang berjilbab dengan suka cita menyambut kehadiran para Bhiku Budha dari Korea yang telah mendirikan tenda-tenda darurat untuk tempat belajar sementara di sekitar puing-puing  reruntuhan bangunan SD Inpres. Lain lagi yang terjadi di rumah yang berdekatan dengan sebuah pasar. Di sana, para pekerja bangunan dari desa yang tidak terkena gempa di Gunungkidul, denga biaya sendiri mereka bergotong royong menyingkirkan puing-puing bangunan  dan membantu mendirikan rumah-rumah sementara.
Ada juga pengalaman menarik seorang relawan, yang sejak hari pertama membantu masyarakat di Bantul dan Klaten. Selain memberi bantuan obat-obatan, tenda dan bahan pangan, istrinya mendirikan dapur umum. Di tiga lokasi yang berbeda ia mengajukan pertanyaan serupa untuk mengetahui apakah masyarakat kita masih memiliki semangat kebangsaan.
Pertama ia bertanya kepada seorang Ibu dalam bahasa Jawa krama madya: “Ibu menawi wonten tiyang saking dusun sanes nyuwun paringan pitedan, menapa kepareng?” “Inggih angsal kemawon ta Pak. Wong kita sedaya rak sami bangsa Indonesia ta,” [1] jawab sang ibu dengan nada mantap. Demikian pula ketika ditanyakan ibu-ibu yang lain di tempat berbeda: Jika ada orang dari suku lain atau yang memiliki keyakinan agama selain Islam, apakah juga akan diberi makan, jawabnya tetap sama: “Bukankah mereka juga bangsa Indonesia Pak?”
Luar biasa! Jawaban polos dan spontan tapi bermakna dalam dari ibu-ibu desa itu sungguh membuat ia tertegun, sekaligus terbersit rasa bangga, seraya berucap lirih: “Ternyata semangat kebangsaan masih diugemi oleh masyarakat desa”. Itulah sekelumit dialog di tengah suasana duka pasca gempa di Yogyakarta, yang agaknya membesarkan hati kita, bahwa semangat ke-bhinneka tunggal ika-an itu masih bersemayan di hati mereka, meski lagi terkena musibah.
Tetapi di balik itu, masih ada saja orang-orang yang mendahulukan kepentingan pribadi dan golongan, meski jumlahnya sangatlah kecil dibanding mereka yang memilih kegotong-royongan. Ilustrasi tadi seakan memberikan gambaran akseptasi, sebagian besar masyarakat terhadap Pancasila, selain adanya sedikit kalangan yang kurang menghargai ke-bhinneka-an sebagai sebuah kekayaan bangsa.
Masyarakat Multikultural.
SEBELUM Indonesia merdeka, sebenarnya semua daerah di Nusantara berasal dari kerajaan dan masyarakat etnik. Kemudian sejak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, kita tanggalkan baju identitas etnik, menjadi satu bangsa Indonesia. Setelah itu, masing-masing dari kita membawa budaya lokalnya sehingga budaya kita seperti untaian mozaik yang indah.
Selama ini, yang terjadi justru upaya penyeragaman, termasuk dalam tingkah laku kita. Contoh sederhana, peresmian-peresmian dari pusat sampai desa dilakukan dengan pemukulan gong, yang belum tentu di setiap daerah gong menjadi alat keseniannya. Seharusnya, potensi-potensi lokal dihargai dalam negara yang multikultural ini.
Sejarah telah memberikan pelajaran berharga, dimana hidup dalam multikulturalisme yang penuh toleran dan saling menghargai dapat menjadi sumber kemajuan. Di Spanyol Andalusia adalah simbol kerukunan hidup antara Yahudi, Nasrani, dan Islam. Saat itu, semua orang berbeda suku dan agama bisa hidup bebas. Ilmu pengetahuan dan kebudayaan berkembang maju, karena semua saling belajar dari kebudayaan lain.
Berbagai penemuan baru didapatkan dari kerja bersama ahli fisika Islam, ahli matematika Yahudi, dan ahli filsafat Kristen. Banyak hasil masterpiece seni diproduksi dari perpaduan kebudayaan ketiga agama. Hal yang sama juga pernah berlangsung di India, di zaman Moghul Empire. Akibat kerukunan hidup, hasilnya adalah produksi seni dan budaya, serta Taj Mahal yang menjadi salah satu istana terindah di dunia. India saat itu juga menjadi pusat perkembangan beradaban yang tinggi. Keberadaan Prambanan di antara candi-candi Buddha, adalah buah koeksistensi agama Hindu dan Buddha.
Ketika semua merayakan perbedaan dari suku, bangsa, dan agama sebagai sesuatu yang baik bagi kehidupan, hal itu akan menjadi sumber kemajuan. Tetapi sebaliknya, ketika permusuhan yang dikembangkan hasilnya adalah kematian dan peperangan. Kemajemukan adalah salah satu alasan dari sejarah kemajuan beberapa negara besar sekarang, termasuk Amerika dan Eropa.
Ilustrasi itu saya sampaikan di Banda Aceh beberapa bulan yang lalu [2], bahwa pengalaman dunia dan pelajaran sejarah berguna bagi Aceh. Aceh, berada di persimpangan kebudayaan dan interaksi beragam manusia, oleh sebab itu menjadi tempat singgah dari banyak orang. Anthony Reid, sejarawan Aceh, menggambarkan saudagar China, Eropa, Arab, dan India adalah pengunjung rutin kota pelabuhan Aceh seakan bayangan Singapura masa kini[3].
Demikian juga ketika saya berbicara di Sekayu, Palembang, yang sejak dulu merupakan Bandar perdagangan strategis dan aktif mengembangkan hubungan dagang ke Persia, China, India, dan Jawa. Pengembara China, I Tsing, datang ke Sriwijaya pada tahun 672 Masehi mencatat, Sriwijaya saat itu telah menjadi kota dagang, kota pelajar dengan penduduk dan raja beragama Buddha.
Sarjana China itu sempat tinggal selama tujuh tahun di bumi Sriwijaya dan sempat belajar bahasa Sansekerta. Pada tahun 700 Masehi, Sriwijaya telah menjadi pusat pengembangan agama Buddha dan ilmu pengetahuan. Bahkan pendeta Buddha yang ingin ke India dianjurkan untuk belajar terlebih dahulu di Sriwijaya[4].
Sejarah menunjukkan, proses integrasi berbagai budaya dan bangsa adalah keniscayaan dalam sejarah nusantara, mereka bisa hidup bertetangga, saling menghormati. Aceh maupun Sriwijaya saat itu terbuka bagi siapapun, tanpa memandang agama, suku, dan warna kulit. Islam yang kemudian menjadi agama mayoritas tidak pernah membuat takut pihak luar dan kelompok minoritas. Islam tidak pernah menjadi hambatan bagi pergaulan dengan berbagai bangsa dan suku, juga tidak pernah memaksakan agama. Hasilnya adalah Islam yang inklusif dan tidak beraliran keras.
Setiap budaya punya sisi baik dan buruknya. Memadukan yang baik, menjadikannya sebagai sintesis baru adalah cara yang bijak, daripada menolaknya semena-mena. Terhadap budaya orang dan diri sendiri, filosofi yang baik adalah tidak merasa inferior, tetapi juga tidak merasa superior dengan budaya sendiri. Beranilah belajar dari budaya orang lain dan budaya sendiri. Filosofi ini penting bagi masa depan kebudayaan Indonesia di dunia yang global yang multikultural ini. Kita bisa belajar banyak hal positif dari keberagaman manusia, agama, dan suku bangsa.
Bhinneka Tunggal Ika Sebagai Strategi Budaya
BHINNEKA Tunggal Ika hendaknya bukan hanya digunakan sebatas slogan, tetapi sebagai strategi kebudayaan, yang dituangkan ke dalam kebijakan publik guna membangun Kebudayaan Indonesia Baru yang lebih berkualitas dengan Pancasila sebagai dasar falsafahnya. Dalam konteks itu, kebijakan dan strategi kebudayaan harus ditujukan agar ke-bhinneka-an budaya-budaya etnik dan masyarakat adap terjalin dalam “serat-serat kebudayaan” yang saling memperkuat. Serat-serat budaya yang terjalin erat itulah yang akan membentuk batang tubuh Kebudayaan Indonesia Baru yang kokoh, laksana sebatang pohon kelapa yang berdiri tegak oleh serat-serat kayu, akar memikul batang, batang menunjang daun dan buah.
Umar Kayam berbicara tentang “Serat-serat Kebudayaan Nusantara”, yang mengandung konotasi pluralitas yang saling memperkuat, seperti serat-serat pada batang pohon nyiur atau anyaman benang-benang pada tenunan. Hingga kini banyak pakar masih melihat pluralitas sistem nilai etnis kita tak lebih sebagai “mozaik” yang indah dipandang. Terutama bagi para ahli antropologi asing, mozaik itu merupakan gudang yang tiada habisnya untuk digali. Tetapi mozaik itu sedikit sekali artinya bagi diri bangsa pemiliknya sendiri.
Implementasi kebijakan yang diderivasikan dari filosofi Bhinneka Tunggal Ika itu adalah, bagaimana ragam kekayaan budaya dan adat-istiadat itu terjadi dalam “serat-serat budaya” Indonesia yang terekat erat. Diandaikan secara fisik, pertumbuhannya pada setiap tahap akan ditujukan untuk menumbuhkan pohon yang kokoh-kuat. Tercerabutnya akar sebatang pohon akan berdampak pada robohnya pohon, sehingga pohon tidak lagi dapat disebut sebagai pohon, melainkan hanya seonggok kayu.
Guna mewujudkan penguatan persatuan dan kesatuan bangsa memerlukan strategi kebudayaan yang mengandung dua aspek penting bagai dua sisi mata uang[5]. Pertama, menunjukkan pada strategi pengelolaan cara bangsa ini bereaksi, berpikir, berperilaku, bertindak, dan bekerja dalam menumbuhkan proses membangsa. Kedua, menunjukkan pada strategi menumbuhkan nilai keutamaan berbangsa seperti nilai-nilai kejujuran, kedisiplinan, profesionalisme, etika, respek, rasa malu, kerja keras, toleransi, cinta tanah air, dan sebagainya.
Strategi kebudayaan mensyaratkan kemampuan menghidupkan filosofi Bhinneka Tunggal Ika itu ke dalam sistem hukum tanpa lepas dari aspek historisnya. Di sisi lain, juga mensyaratkan manajemen bernegara yang dijabarkan ke dalam program kerja dalam skala prioritas, agar secara sosiologis mampu hidup dan dirasakan sehari-hari manfaatnya oleh masyarakat dalam berbagai bentuknya. Catatan ini adalah refleksi dari bekerjanya kebijakan politik yang mengandung strategi kebudayaan yang komprehensif, yang mengejawantah dalam program prioritas.
Pancasila Dalam Tantangan
Kondisi objektif negeri besar yang bernama Indonesia ini, sesungguhnya amat rentan. Memang Indonesia adalah Negara besar, berbeda dengan Negara lain yang manapun. Ini  perlu dicamkan, bukan untuk menggalang rasa chauvinistis atau kesombongan, tetapi justru untuk membangun kesadaran bertanggungjawab yang rendah hati bagi seluruh rakyatnya.
Apabila kita melihat negeri ini “Cuma” seperti Singapura, Taiwan, atau Korea Selatan, tanpa maksud mengecilkan keberhasilan mereka, akibatnya bangsa ini bisa salah jalan dalam usaha mencari terapi krisis multi dimensi yang melilitnya. Indonesia besar bukan hanya dalam angka-angka statistik, seperti jumlah penduduk. Atau luas Negara yang meliputi hampir seluruh Eropa, atau pantai terpanjang di dunia, dan seterusnya. Tetapi, ia juga besar skala jumlah permasalahan di dalam skala jumlah permasalahan mendasar yang harus dihadapi setiap saat.
Artinya, sewaktu-waktu bisa muncul, bahkan meletup dalam besaran yang sulit diduga, yang mengancam persatuan-kesatuan bangsa. Sekalipun permasalahan elementer itu begitu besarnya, sejarah telah membuktikan, bahwa dengan berpegang teguh pada dasar dan falsafah Pancasila, bangsa ini mampu mengatasinya dengan tangan sendiri. membanggakan, tetapi sarat masalah paradoksial. Betapa tidak, kita kembangkan semangat integralistik dan sepakat membangun bangsa dalam Negara kesatuan, tetapi yang kita miliki justru semangat primordial, yang seringkali menggunakan nama agama dan chauvinisme kedaerahan, yang berpotensi disintegrasif.
Pada saat sekarang ini setelah lebih 60 tahun merdeka, telah muncul tantangan terhadap konsep Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, karena kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sudah semakin kompleks. Ini berarti perlu dicari bentuk-bentuk relasi sosial baru yang mengarah ke masa depan.
Dalam situasi yang berubah teramat cepat sekarang ini, upaya-upaya untuk mengkokohkan kembali nilai-nilai Pancasila yang menghargai ke-bhinneka-an sebagai semen perekat persatuan kesatuan bangsa menjadi teramat penting. Karena tidak bisa lain, Pancasila-lah yang harus menjadi sumber sekaligus landasan dan perspektif dari persatuan-kesatuan bangsa.
Pancasila sebagai terbuka yang memungkinkan tumbuhnya nilai-nilai baru yang dibawa oleh zaman, harus terus-menerus disegarkan dan dihidup-hidupkan, agar Pancasila tetap mampu menjadi a Living Ideology dalam menjawab tantangan masa depan. Bagaimana kita menjadikan Pancasila suatu filosofi bangsa yang bisa hidup membumi, dengan melakukan pernyataan terus-menerus (continual re-statement) secara kontinyu memberikan makna baru melalui penafsiran yang kritis.
Dengan landasan Pancasila itu pula, maka usaha untuk lebih memperkokoh rasa persatuan-kesatuan bangsa memperoleh landasan spiritual, moral dan etik, yang bersumber pada kepercayaan kepada KeTuhanan Yang Maha Esa. Sejalan dengan paham kebangsaan, kita juga menentang segala macam bentuk eksploitasi, penindasan oleh satu bangsa terhadap bangsa lainnya, oleh satu golongan terhadap golongan lain, dan oleh manusia lain, bahkan oleh penguasa terhadap rakyatnya.
Sebab Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab mengajarkan untuk menghormati harkat dan martabat manusia dan menjamin hak-hak azasi manusia. Untuk bangsa yang majemuk seperti kita ini, semangat persatuan-kesatuan yang bersumber pada Pancasila, juga menentang praktek-praktek yang mengarah pada dominasi dan diskriminasi sosial, baik oleh karena alasan perbedaan suku, asal-usul maupun agama.
Oleh sebab itu, dengan jiwa persatuan-kesatuan itu pula bangsa ini akan dijauhkan dari perilaku main hakim sendiri, merusak, melakukan sweeping dan teror, bahkan pengusiran bagi kelompok tertentu yang kesemuannya mengarah ke anarkisme. Tetapi juga sekaligus ikut berdiri di depan memberantas KKN tanpa melihat latar belakang partai, golongan, agama, ras ataupun etnik.
Semangat persatuan-kesatuan kita jelas-jelas menentang segala bentuk separatisme, baik atas dasar kedaerahan, agama maupun suku, sebab Sila Persatuan Indonesia memberikan tempat pada kemajemukan dan sama sekali tidak akan menghilangkan perbedaan alamiah dan keberagaman budaya etnik bangsa kita. Semangat untuk tetap bersatu juga berakar pada azas kedaulatan yang berada di tangan Rakyat, serta menentang segala bentuk premanisme politik, dan kediktatoran oleh mayoritas maupun minoritas.
Karena persatuan-kesatuan yang dijiwai oleh Pancasila itu adalah nilai-nilai normatif yang diperjuangkan melalui nation and character building oleh para Pendiri Bangsa. Proses itu harus kita lanjutkan dan kita kembangkan serta tidak boleh terhenti sejak kita memutuskan untuk membangun NKRI yang merdeka dan berdaulat. Sejak awal mula para pemimpin bangsa ini sepenuhnya mengalami dan menyadari, bahwa membentuk satu Negara Republik Indonesia yang berkepulauan dan melingkari khatulistiwa Nusantara ini memerlukan satu visi yang jauh ke depan melampaui batas-batas keaneka-ragaman tata-nilai yang dimiliki oleh suku-suku bangsa kita.
Paradigma Baru
PERSATUAN-KESATUAN bangsa yang ideal, telah diikrarkan oleh Pemuda Indonesia dalam “Soempah Pemoeda” 28 Oktober 1928 - satu nusa, satu bangsa, satu bahasa: Indonesia. Setelah pada 17 Agustus 1945 dicanangkan Proklamasi, maka “impian” Sumpah Pemuda itu telah terwujud dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Rakyat pertama kali mengartikulasikan visinya lewat Sumpah Pemuda, dan bermodalkan ikrar inilah bangsa Indonesia memproklamasikan Negara yang bernama Indonesia, sebuah Negara “mewujudkan Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur, serta berperikehidupan”. Namun sungguh memprihatinkan, visi yang ditanam oleh pendiri bangsa itu kini seakan berantakan, tercerai berai menjadi visi yang mengutamakan kepentingan golongan sendiri-sendiri.
Di masa silam ketika zaman Majapahit hidup seorang pujangga, Mpu Tantular, yang menulis Kakawin Sutasoma dengan kalimat saktinya: “Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa” - biarpun kita berbeda-beda, sesungguhnya kita itu satu, tiada satu pun untuk mendua. Konsep pluralisme seorang pujangga, di tangan Gadjah Mada, seorang bhayangkara Negara, dengan Sumpah Palapa-nya kemudian diterjemahkan menjadi penaklukan wilayah Nusantara.
Dari visi kita sekarang, Sumpah Palapa itu bertolak-belakang dengan aspirasi bangsa pluralistik, yang pada awal abad 20 ditegakkan melalui Sumpah Pemuda. Pengalaman mengajarkan, bahwa bukan semangat kemanunggalan (tunggal-ika) yang potensial untuk melahirkan kesatuan dan persatuan yang kuat, melainkan pengakuan akan adanya pluralitas (bhinneka), dan kesediaan untuk menghormati kemajemukan bangsa Indonesia. Inilah yang lebih menjamin persatuan dan kesatuan serta integrasi nasional dalam rentang waktu jangka panjang yang kukuh dan lestari.
Pada saat ini bangsa Indonesia sedang mengalami masa transisi yang kompleks, perubahan pemerintahan otoriter menuju demokratis maupun system sentralistis menuju otonomi yang desentralistik, tidak serta-merta menjadi obat mujarab dalam mengatasi krisis multi dimensi yang berkepanjangan ini.
Manifestasi Pancasila seharusnya terlihat pada keseimbangan hubungan yang adil antara kekuasaan pemerintah Pusat (sentralisasi) dan pemerintah lokal (otonomi daerah). Karena itu kebangsaan Indonesia yang berideologikan Pancasila harus bersifat inklusif serta egalitarian dalam bidang politik, budaya dan ekonomi yang dapat diwujudkan dan dipelihara secara dinamis, bila terdapat distribusi kekuasaan yang relatif seimbang di antara semua unsur bangsa pendukungnya.
Kenyataan kemajemukan ini seringkali diabaikan dalam wacana politik elite negeri ini. Sekalipun diakui, bahwa Indonesia adalah masyarakat yang berbeda-beda (bhinneka). Tetapi siapa pun diri kita, harus selalu diingat-ingatkan bahwa sesungguhnya kita ini adalah satu (tunggal-ika). Bhinneka Tunggal-Ika hendaknya tidak hanya dikeramatkan sebagai simbol NKRI saja, tetapi juga diaktualisasikan sebagai semangat dan strategi integrasi bangsa.
Catatan Akhir
Budaya Indonesia dan masyarakat Yogyakarta pada khususnya, mendukung upaya-upaya pengayoman bagi semua umat, tempat berekspresi semua jemaat. Juga menjamin kerukunan antar warga, menjunjung tinggi semangat mandiri, mengandalkan potensi diri, mengakomodasi berkibarnya semua bendera, sejauh tidak merusak kerukunan warga. Ciri asli ini menjadi suatu yang dibutuhkan Indonesia di masa ini, bahkan di semua sudut dunia yang dilanda keresahan membara.
Bangsa ini perlu mempromosikan dan mengaktualisasikan masyarakat yang bercara pandang, cara hidup dan cara bergaul menghargai semua hak dasar setiap warga Negara. Pengayoman semua tanpa beda, persaudaraan sejati berlandaskan hati, semangat mandiri mengandalkan potensi diri dan menghargai tradisi dalam hidup bersama untuk menyikapi arus masa kini.
Saya menyerukan tindakan-tindakan nyata dan gerakan bersama dalam kerangka pendidikan politik dalam arti yang seluas-luasnya bagi seluruh rakyat. Saya akan selalu mendorong pengorganisasian masyarakat adat, kaum perempuan, rakyat kecil, orang-orang yang tersingkir, dan kelompok-kelompok terdidik untuk bersatu padu mempertahankan Pancasila dan menguatkan Bhinneka Tunggal Ika sebagai jati diri kita, Bangsa Indonesia yang bermartabat, menghargai sejarah dan kekayaan budaya sendiri, menjunjung tinggi kemanusiaan, kerakyatan dan keberlanjutan alam, serta mencintai keberagaman.
 
 
Surabaya, 22 Juni 2006
Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat,
Hamengku Buwono X
Iklan

2 responses to “MEMPERTAHANKAN PANCASILA DAN BHINNEKA TUNGGAL IKA