BUKU SARINA

KATA PENDAHULUAN

pada tjetakan pertama

Sesudah saja berpindah kediaman dari Djakarta ke Djokjakarta, maka di djokja itu tiap-tiap dua pekan sekali saja mengadakan “kursus wanita”. Banjak orang jang tidak mengerti apa sebabnya saja anggap kursus-kursus wanita itu begitu penting. Siapa jang membatja kitab jang saja sadjikan sekarang ini, ―jang isinya telah saja uraikan didalam kursus-kursus wanita itu dalam pokok-pokoknja―, akan mengerti apa sebab saja anggap soal wanita itu soal jang amat penting. Soal -wanita adalah soal- masyarakat!

Sajang sekali, bahwa soal-wanita itu belum pernah dipeladjari sungguh-sungguh oleh pergerakan kita. Sudah lama saja bermaksud menulis buku tentang soal itu, tetapi selalu maksud saja itu terhalang oleh beberapa sebab. Tetapi sesudah kita memproklamasikan kemerdekaan, maka menurut pendapat saja soal-wanita itu perlu dengan segera didjelaskan dan dipopulerkan. Sebab kita tidak dapat menjusun Negara dan tidak dapat menjusun masjarakat, djika (antara lain-lain soal) kita tidak mengerti soal-wanita. Itulah sebabnja saja, setiba saja di Djokjakarta, segera mengadakan kursus-kursus wanita itu.

Atas permintaan banjak orang, apa jang saja kursuskan itu kemudian saja tuliskan, dana saja lengkapkan pula. Buku “Sarinah” inilah hatsilnja.

Apa sebab saja namakan kitab ini “Sarinah”?

Saja namakan kitab ini “Sarinah” sebagai tanda terima kasih saja kepada pengasuh saja ketika saja masih kanak-kanak. Pengasuh saja itu bernama Sarinah. Ia “Mbok” saja. Ia membantu Ibu saja, dan dari dia saja menerima banjak rasa tjinta dan rasa kasih. dari dia saja mendapat banjak peladjaran mentjintai “orang ketjil”. Dia sendiripun “orang ketjil”. Tetapi budinya selalu besar!

Moga-moga Tuhan membalas kebaikan Sarinah itu!

Kata Pendahuluan ini saja sudahi dengan mengutjapkan banjak terimakasih kepada sdr. Muallif Nasution, jang selalu bekerdja keras menjelenggarakan penerbitan kitab “Sarinah” ini pula.

Djokjakarta, 3 Nopember 1947

BAB I

SOAL-PEREMPUAN

Satu pengalaman, beberapa tahun jang lalu, waktu saja masih “orang interniran”;

Pada suatu hari, saja datang bertamu bersama-sama seorang kawan dan isteri kawan itu pada salah seorang kenalan saja, jang mempunyai took ketjil. Rumah kediaman dan toko kenalan saja itu bersambung satu sama lain; bahagian muka dipakai buat took, bahagian belakang dipakai buat tempat kediaman.

Dengan budi jang amat manis kami diterima oleh kenalan itu, dipersilahkan duduk. Kami, ― jaitu kawan saja, isterinja, saja, dan tuan-rumah―, duduk berempat dekat medja-tulis took itu. Sigaret dikeluarkan, the dihidangkan. Sesudah bertjakap-tjakap sebentar, ― “bagaimana kesehatan?, “bagaimana perdagangan?”― maka kami (para tetamu) menerangkan kepada tuan rumah, bahwa maksud kami datang bukanlah untuk membeli ini atau itu, melainkan semata-mata hanja buat bertamu sadja.

Isteri kawan saja menanjakan: bagaimanakah keadaan njonja-rumah? ―ia ingin adjar-kenal dengan njonja-rumah.

Disini tuan-rumah nampak mendjadi sedikit kemalu-maluan. Rupanja ia dalam kesukaran untuk mendjawab pertanjaan itu. Sebentar telinganja mendjadi kemerah-merahan, tapi ia mendjawab dengan ramah-tamah: “O, terima kasih, ia dalam keadaan baik-baik sadja, tetapi sajang-seribu sajang ia kebetulan tidak ada dirumah, ― ia menengok bibinja jang sedang sakit”.

Isteri kawan saja menjesal sekali bahwa njonja-rumah tidak ada dirumah; terpaksa ia belum dapat adjar-kenal dengan dia hari itu.

Tetapi…. tak lama kemudian…. saja, jang duduk berhadapan kain tabir jang tergantung dipintu jang memisah bagian-toko dengan bagian-rumah-tinggal, saja melihat kain tabir itu bergerak sedikit, dan saja melihat mata orang mengintai. Mata orang perempuan! Saja melihat dengan njata: kaki dan udjung-sarung jang kelihatan dari bawah tabir itu, adalah kaki dan udjung-sarung perempuan!

Dengan segera saja palingkan muka saja, berbitjara dengan tuan-rumah dengan memandang muka dia sadja. Tetapi pikiran saja tidak tetap lagi. Satu soal telah berputar dikepala saja. Bukankah perempuan jang mengintai tadi itu isterinja tuan-rumah? Mana bisa, tuan-rumah toh mengatakan, bahwa isterinja sedang merawat orang sakit? Tetapi…. mengapa ia tadi kelihatan malu-malu telingaja kemerah-merahan, tatkala ditanja dimana isterinja?

Saja ada dugaan keras, bahwa tuan-rumah itu tidak berterus-terang. Rupa-rupanja isterinja ada dirumah. Tetapi ia tak mau memanggilnja keluar, supaja duduk ditoko bersama-sama kami. Sebaliknja ia tidak mau mempersilahkan isteri kawan saja supaja masuk kedalam. kebagian belakang, tempat kediamannja sehari-hari. Barangkali memang tidak ada tempat penerimaan tamu jang lajak, ditempat kediaman itu. Ia njata malu….

Sesudah bertjakap-tjakap seperlunja, kami bertiga permisi pulang. Kami mengambil djalan melalui kedai-kedai, dan pasar pula. Tapi pikiran saja terus melajang memikirkan satu soal, ― soal wanita.

Kemerdekaan! Bilakah semua Sarinah-Sarinah mendapat kemerdekaan?

Tetapi, ja ―kemerdekaan jang bagaimana?

Kemerdekaan seperti jang dikehendaki oleh pergerakan feminismekah, jang hendak menjamaratakan perempuan dalam segala hal dengan laki-laki?

Kemerdekaan ala Kartini? Kemerdekaan ala Chalidah Hanum? Kemerdekaan Ala Kollontay?

Seorang kawan saja, ―guru sekolah di Bengkulu―, mempunjai isteri jang ia tjintai benar. Kedua laki-isteri ini saja kenal betul-betul, kedua-duanja saja anggap seperti adik saja sendiri. Sang suami dialam Bengkulu termasuk golongan “Modern”, tetapi isterinja kadang-kadang mengeluh kepada saja, bahwa ia merasa dirinja terlalu terkurung.

Diluar pengetahuan isterinja, saja andjurkan kepada kawan saja itu supaja ia memberi kemerdekaan sedikit kepada isterinja. Ia mendjawab: Ia tak mengizinkan isterinja keluar rumah, djustru oleh karena ia amat tjinta dan mendjundjung tinggi kepadanja. Ia tak mengizinkan isterinja keluar rumah, untuk mendjaga djangan sampai isterinja itu dihina orang. “Pertjajalah Bung, saja tidak ada maksud mengurangi kebahagiaanja; saja hargakan dia sebagai sebutir mutiara”.

…. “sebagai sebutir mutiara”….

Ah, tidakkah banjak suami-suami jang menghargakan isterinja sebagai mutiara, ― tetapi sebenarnja merusak atau sedikitnja mengurangi kebahagiaan isterinja itu?

Mereka memuliakan isteri mereka, mereka tjintainja sebagai barang jang berharga, mereka pundit-pundikannja “sebagai mutiara”, ― tetapi djustru sebagaimana orang menjimpan mutiara didalam kotak, demikian pulalah mereka menjimpan isterinja itu didalam kurungan atau pingitan. Bukan untuk memperbudaknja, bukan untuk menghinanja, bukan untuk merendahkannja, katanja, melainkan djustru untuk mendjaganja, untuk menghormatinja, untuk memuliakannja. Perempuan mereka hargai sebagai Dewi, perempuan mereka pundit-pundikan sebagai Dewi, tetapi mereka djaga dan awas-awaskan dan “selalu tolong” djuga sebagai machluk jang sampai mati tidak akan mendjadi akil-balig. Kalau saja memikirkan hal jang demikian ini, maka teringatlah saja kepada perkataan Professor Havelock Ellis jang berkata, bahwa kebanjakan orang laki-laki memandang perempuan sebagai “suatu blasteran antara seorang Dewi dan seorang tolol”. Dipundi-pundikan sebagai seorang Dewi, dianggap tidak-penuh sebagai seorang tolol!

Tidakkah masih banjak laki-laki yang mendewi-tolol-kan isterinja itu? Malahan, tidakkah pada hakekatnja seluruh peradaban burdjuis dinegeri-negeri jang telah “sopan” pada waktu sekarang ini, terhadap kaum perempuan, berdiri atas kenjataan “Dewi-tolol” itu? Sebab, tidakkah seluruh hukum-sipil dan adapt istiadat dinegeri-negeri burdjuis itu sebenarnja masih men-dewi-tololkan perempuan?

Kita, bangsa Indonesia, kita terbelakang didalam banjak urusan kemadjuan. Kita (terutama sekali diluar tanah Djawa) didalam urusan posisi perempuanpun terbelakang, tetapi kebelakangan ini bermanfaat pula: Kita dapat melihat dari keadaan kaum perempuan dinegeri-negeri jang lain, bagaimana soal-perempuan harus kita petjahkan. Kita dapat melihat mana jang baik bagi kita, dan mana jang buruk. Jang baik kita ambil, jang buruk kita buang. Adakah misalnja hasil-hasil pergerakan feminisme di Eropah sudah memuaskan, ― memuaskan kepada kaum perempuan Eropah sendiri? Adakah pergerakan neo-feminisme memuaskan pula kepada kaum perempuan Eropah itu? Saja mengetahui, di Indonesia ada wanita-wanita feminis dan neo feminis. Tetapi kepada mereka itu saja ingin bertanja: Tahukah tuan, bahwa kaum perempuan Eropah sendiri tidak puas lagi dengan hasil feminisme atau neo-feminisme itu?

Henriette Roland Holst, itu pemimpin jang berkaliber besar pernah mengatakan bahwa feminisme atau neo-feminisme tak mampu menutup “scheur” (retak) jang meretakkan peri-kehidupan dan djiwa kaum perempuan, sedjak kaum perempuan itu terpaksa mentjari nafkah didalam perusahaan-perusahaan sebagai buruh: “scheur” antara perempuan-sebagai-ibu-dan-isteri, dan perempuan-sebagai-pekerja-dimasyarakat. Djiwa perempuan dahaga kepada kebahagiaan sebagai ibu dan isteri, tetapi peri-kehidupan sebagai buruh tidak memberi waktu tjukup kepadanja, untuk bertindak sempurna sebagai ibu dan isteri. Pergerakan feminisme dan neo-feminisme ternjata tidak mampu menjembuhkan retak ini.

Lagi pula, tidakkah kita melihat ekses (“keliwat batasan”) pergerakan feminisme di Eropah itu, jang mau menjamaratakan sadja perempuan dengan laki-laki, dengan tak mengingati lagi, bahwa kodrat perempuan tidak sama dengan kodrat laki-laki? Maksud feminisme jang mula-mula baik, jakni persamaan hak antara perempuan dan laki-laki, maksud-baik itu di-eksesi (diliwati batasnya dengan ekses) dengan mentjari persamaan segala hal dengan kaum laki-laki: persamaan tingkah-laku, persamaan tjara-hidup, persamaan bentuk pakaian, dan lain-lain sebagainja lagi. Kodrat perempuan diperkosa, dipaksa, disuruh mendjadi sama dengan kodrat laki-laki. Ekses jang demikian itu tak boleh tidak tentu achirnja membawa kerusakan!

Oleh karena itu sekali lagi sja katakana, bahwa kita, didalam segala kebelakangan kita itu, berada didalam posisi manfaat pula, jaitu dapat mentjerminkan masjarakat Republik Indonesia jang hendak kita susun itu, kepada pengalaman-pengalaman masjarakat perempuan dinegeri-negeri jang telah madju. Peladjarilah lebih dulu dalam-dalam pergerakan-pergerakan perempuan di Eropah, sebelum kita mengoper sadja segala tjita-tjitanja dan sepak terdjangnja! “Kita mempeladjari sedjarah untuk mendjadi bidjaksana terlebih dahulu”, demikianlah perkataan John Seeley jang termasjhur. Perkataan jang ditudjukan kepada arti mempeladjari sedjarah itu, boleh pula dipakai untuk mendjadi pedoman diatas djalan perdjoangan kaum perempuan didalam Republik Indonesia Merdeka.

“Djanganlah tergesa-gesa meniru tjara modern atau tjara Eropah, djanganlah djuga terikat oleh rasa konservatif atau rasa sempit, tetapi tjotjokkanlah semua barang dengan kodratnja”. Inilah perkataan Ki Hadjar Dewantara jang pernah saja batja. Saja kira buat soal-perempuan kalimat inipun mendjadi pedoman jang baik sekali.

Benar atau tidakkah perasaan saja ini? Sinar Mata jang mengintai itu seakan-akan satu simbul bagi saja, ―satu lambing. Sinar mata sinjonja-rumah tadi itu adalah sinar mata sebagian besar perempuan-perempuan kita. Kasihan njonja-rumah tadi itu! Duduk diruangan muka, di “tempat umum”, tidak boleh; tetapi ia dikurung, ditutup, dipingit; bukan ditempat jang luas, jang banjak sinar matahari,  tidak, melainkan disatu tempat jang gelap, jang sempit, jang tidak terpelihara. Tidakkah masih banjak perempuan kita bernasib begini? Merdeka, melihat dunia, tidak boleh, ―tetapi dikurungpun disatu tempat jang tidak selajakanja!

Ternak masih melihat dunia-luaran, tetapi dibeberapa daerah di Indonesia masih banjak Zubaida-Zubaida dan Saleha-Saleha jang dikurung antara dinding-dinding jang tinggi. Jang mereka lihat sehari-hari hanjalah suami dan anak, periuk nasi dan batu pipisan sadja. Ja, sekali-sekali mereka boleh keluar, sekali-sekali, kalau mau Sang Suami mengizinkan. Tjahaja matanja, jang dulu, waktu mereka masih kanak-kanak ketjil, adalah begitu hidup dan bersinar, tjahaja matanja itu, kemudian, kalau mereka sudah setengah tua, mendjadilah tjahaja mata jang seperti mengandung hikajat jang tiada achirnja. Tjahaja mata, jang seperti memandang kedalam keabadian!

Tjahaja mata jang demikian itulah jang kulihat mengintai dari belakang tabir….

Bagaimana pendirian Islam tentang soal-perempuan ini? Apakah Islam tidak mempunjai hukum-hukum tertentu tentang perempuan, sehingga didalam Islam tidak ada lagi soal perempuan?

Saja bukan ahli fiqh. Tentunja agama Islam mempunjai hukum-hukum tertentu tentang perempuan. Tetapi saja mengetahui, bahwa didalam masjarakat Islam, dulu dan sekarang, ada beberapa aliran tentang posisi perempuan. Ada jang “kolot”, ada jang “modern”. Ada jang “sedang”. Semuanja membawa dalil-dalinja sendiri. Mana jang benar? Mana jang salah?

Sekali lagi saja berkata: saja bukan ahli fiqh. Saja beragama Islam saja Tjinta Islam, saja banjak mempeladjari sedjarah Islam dan gerak-gerik masjarakat Islam, tetapi sajang beribu sajang, saja bukan ahli fiqh. Walaupun demikian, saja telah mentjari beberapa tahun lamanja dibanjak buku-buku jang dapat saja batja, bagaimanakah sebenarnja posisi perempuan dalam Islam. Sebagai saja katakana tadi, tentang hal ini saja mendjumpai banjak aliran. Sehingga bolehlah saja katakana disini, bahwa didalam masjarakat Islampun masih ada soal perempuan. Kesan jang saja dapat daripada apa jang saja batja itu, adalah sama dengan kesan jang didapat oleh Miss Frances Woodsmall sesudah beliau mempeladjari posisi perempuan didalam masjarakat Islam itu, jakni kesan, bahwa soal-perempuan adalah djustru bagian jang “most debated” ―bagian jang paling menimbulkan pertikaian― didalam masjarakat Islam.

Malahan seorang wanita Islam sendiri, ―Entjik Ratna Sari, jang dulu Dipadang― didalam satu risallah jang membitjarakan soal perempuan, ada menulis: “Masjarakat kitapun masih mengandung dilemma’s, soal-soal jang pelik, jang masih teka-teki sekarang, ―tapi sangat penting”.

Demikianlah. Saja berpendapat, bahwa soal perempuan seluruhnja (djuga dalam masjarakat Islam) masih harus dipetjahkan. Masih satu “soal”. Atau, djikalau memakai perkataan Entjik Ratna Sari: masih satu “dilemma”, masih satu “soal jang pelik”. Sekali lagi, soal perempuan seluruhnja, ―dan bukan hanja mitsalnja soal tabir atau lain-lain soal jang ketjil sadja! Soal perempuan seluruhnja, posisi perempuan seluruhnja didalam masjarakat,― itulah jang harus mendapat perhatian sentral, itulah jang harus kita fikirkan dan petjahkan, ahar supaja posisi perempuan didalam Republik Indonesia bisa kita susun sesempurna-sempurnanja.

Djadi: baik buat fihak jang meneropong soal-perempuan dengan teropong fiqh Islam, maupun buat fihak jang meneropong soal ini dengan teropong Rasionalisme belaka, soal ini haruslah masih dipandang sebagai satu soal jang masih perlu kita petjahkan. Dipetjahkan, difikirkan, dibolak-balikkan, bukan sadja oleh kaum perempuan kita, tetapi djuga oleh kaum laki-laki kita, oleh karena soal perempuan adalah memang satu soal masjarakat jang teramat penting. Dan tidakkah Nabi Muhammad s.a.w. pernah bersabda:

“Perempuan itu tiang negeri. Manakala baik perempuan, baiklah negeri. Manakala rusak perempuan, rusaklah negeri”?

Kaum laki-laki, marilah kita ikut memikirkan soal-permpuan ini! Dan marilah kita memikirkan soal-perempuan ini bersama-sama dengan kaum perempuan! Sebab didalam masjarakat sekarang ini, saja melihat bahwa kadang-kadang kaum laki-laki terlalu main Jang dipertuan diatas soal-soal jang mengenai kaum perempuan. Dia, kaum laki-laki, dialah kadang-kadang merasa dirinja diserahi memikirkan dan memetjahkan soal-soal sematjam ini, dialah kadang-kadang merasa dirinja tjukup bidjaksana untuk mengambil keputusan, ―sedang kaum perempuan tidak diadjak ikut bitjara, dan disuruh terima sadja apa jang diputuskan oleh kaum laki-laki itu. Tidakkah mitsalnja djanggal, bahwa soal tabir didalam rapat, jang dulu saja persembahkan kedalam pertimbangan para pemimpin, diputuskan oleh satu madjelis laki-laki sadja, sedang fihak perempuan tidak ditanja pendapatnja sama-sekali?

Sesungguhnya, kita harus beladjar insjaf, bahwa soal masjarakat dan negara adalah soal laki-laki dan perempuan adalah satu soal masjarakat dan Negara. Nanti, djikalau pembatja telah membatja uraian saja lebih landjut, maka akan mengerti, bahwa soal-perempuan bukanlah soal buat kaum perempuan sadja, tetapi soal masjarakat, soal perempuan dan laki-laki. dan sungguh, satu soal masjarakat dan negara jang amat penting!

Dan oleh karena soal perempuan adalah soal masjarakat, maka soal perempuan adalah sama tuanja dengan masjarakat; soal perempuan adalah sama tuanja dengan kemanusiaan. Atau lebih tegas: soal laki-laki-perempuan adalah sama tuanja dengan kemanusiaan. Sedjak manusia hidup didalam gua-gua dan rimba-rimba dan belum mengenal rumah, sedjak “zaman Adam dan Hawa”, kemanusiaan itu pintjang, terganggu oleh soal ini. manusia zaman sekarang mengenal “soal-perempuan”, manusia zaman purbakala mengenal “soal-laki-laki”. Sekarang kaum perempuan duduk ditingkatan bawah, dizaman purbakala kaum laki-lakilah duduk ditingkatan bawah. Sekarang kaum laki-laki jang berkuasa, dizaman purbakala kaum perempuanlah jang berkuasa. Kemanusiaan, diatas lapangan soal laki-laki-perempuan, selalu pintjang. Dan kemanusiaan akan terus pintjang, selama saf jang satu menindas saf jang lain. Harmoni hanjalah dapat tertjapai, kalau tidak ada saf satu diatas saf jang lain, tetapi dua “saf” itu sama-deradjat, ―berdjadjar― jang satu disebelah jang lain, jang satu memperkuat kedudukan jang lain.

Tetapi masing-masing menurut kodratnja sendiri. Sebab siapa melanggar kodrat alam ini, ia achirnja nistjaja digilas-remuk-redam oleh Alam itu sendiri. Alam benar adalah “sabar”, Alam benar tampaknja diam, ―tetapi ia tak dapat diperkosa, ia tak mau diperkosa. Ia tak mau ditundukkan.

Ia menurut kata Vivekenanda adalah “berkepala batu”!

BAB II

LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN

Allah telah berfirman, bahwa Ia membuat segala hal berpasang-pasangan. Firman ini tertulis dalam surat Jasin ajat 36: “Mahamulialah Dia, jang mendjadikan segala suatu berpasang-pasangan”; dalam surat Az-Zuchruf ajat 12: “Dan Dia jang mendjadikan segala hal berpasang-pasangan dan membuat bagimu perahu-perahu dan ternak, jang kamu tunggangi”; dalam surat Adz-Dzârijât ajat 49: “Dan dari tiap-tiap barang kita membuat pasang-pasangan, agar supaja kamu ingat”. Perhatikan: Segala barang, segala hal! Djadi bukan sadja manusia berpasang-pasangan, bukan sadja kita ada lelakinja dan ada wanitanja. Binatang ada djantannja, bunga-bungapun ada lelakinja dan perempuannja, alam ada malamnja dan siangnja, barang-barang ada kohesi dan adhesinja, tenaga-tenaga ada aksinja dan reaksinja, elektronelektron ada positif dan negatifnja, segala kedudukan ada tese dan antitesenja. Ilmu jang maha hebat, jang maha-mengagumkan ini telah keluar dari Mulutnja Muhammad s.a.w. ditengah-tengah padang pasir, beratus-ratus tahun sebelum di Eropah ada maha-guru-maha-guru sebagai Maxwell, Pharaday, Nicola Tesla, Descartes, Hegel, Spencer, atau William Thompson. Maha-bidjaksanalah Mulut jang mengikrarkan perkataan-perkataan itu, maha-hikmatlah isi jang tertjantum didalam perkataan-perkataan itu! sebaba didalam beberapa perkataan itu sadja termaktublah segala sifat dan hakekat alam!

Alam membuat manusia berpasang-pasangan. Laki-laki tak dapat ada djika tak ada perempuan, perempuan tak dapat ada djika tak ada laki-laki. Laki-laki tak dapat hidup normal dan subur tak dengan perempuan, perempuanpun tak dapat hidup normal dan subur tak dengan laki-laki. Olive Schreiner, seorang idealis perempuan bangsa Eropah, didalam bukunja “Drie dromen in de Woestijn”, pernah memperlambangkan lelaki dan perempuan itu sebagai dua machluk jang terikat satu kepada jang lain oleh satu tali-gaib, satu “tali-hidup”, ―begitu terikat jang satu kepada jang lain, sehingga jang satu tak dapat mendahului selangkahpun kepada jang lain, tak dapat madju setapakpun dengan tidak membawa djuga kepada jang lain. Olive Schreiner adalah benar: Memang begitulah keadaan manusia! Bukan sadja laki dan perempuan tak dapat terpisah satu dari pada jang lain, tetapi djuga tiada masjarakat manusia satupun dapat berkemadjuan, kalau laki-perempuan jang satu tidak membawa jang lain. Karenanja, djanganlah masjarakat laki-laki mengira, bahwa ia dapat madju dan subur, kalau tidak dibarengi oleh kemadjuan masjarakat perempuan pula.

Djanganlah laki-laki mengira, bahwa bisa ditanam sesuatu kultur jang sewadjar-wadjarnja kultur, kalau perempuan dihinakan didalam kultur itu. Setengah ahli tarich menetapkan, bahwa kultur Junani djatuh, karena perempuan dihinakan didalam kultur Junani itu. Nazi-Djerman djatuh, oleh karena di Nazi-Djerman perempuan dianggap hanja baik buat Kirche-Küche-Kleider-Kinder. Dan semendjak kultur masjarakat Islam (bukan agama Islam!) kurang menempatkan kaum perempuan pula ditempatnja jang seharusnja, maka matahari kultur Islam terbenam, sedikit-sedikitnja suram!

Sesungguhnja benarlah perkataan Charles Fourrier kalau ia mengatakan, bahwa tinggi-rendahnja tingkat-kemadjuan sesuatu masjarakat, adalah ditetapkan oleh tinggi-rendahnja tingkat kedudukan perempuan didalam masjarakat itu. Atau, benarlah pula perkataan baba O’illah, jang menulis, bahwa “laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sajapnja seekor burung”. Djika dua sajap itu sama kuatnja, maka terbanglah burung itu sampai puntjak udara jang setinggi-tingginja; djika patah satu dari pada dua sjap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama-sekali.

Perkataan Baba O’illah ini sudah sering sekali kita batja. Tetapi walaupun perkataannja itu hampir basi, ―kebenarannja akan tinggal ada, buat selama-lamanja.

Djadi, laki-laki dan perempuan menetapkan sifat-hakekat masing-masing. Tali hidup jang ditamsilkan oleh Olive Schreiner itu, bukan tali-hidup sosial sadja, bukan tali-hidup jang karena bersatu-rumah atau bersatu-piring-nasi sadja. Lebih asli dari pada pertalian perumahan-jang-satu dan piring-nasi-jang-satu, adalah tali hidupnja kodrat alam sendiri. Tali hidup “sekse”! Laki-laki tak dapat subur djika tak ada tali-sekse ini, perempuanpun tak dapat subur djika tak ada tali-sekse ini. Dan bukan tali-sekse jang tali seksenja fungsi biologis sadja, tapi djuga tali seksenja tali seksenja djiwa. Tiap-tiap sundal jang setiap hari barangkali mendjual tubuhnja lima atau sepuluh kali, mengetahui, bahwa “tubuh” masih lain lagi dari pada “djiwa”. dengan mendjual tubuh jang sampai sekian kali setiap hari itu, masih banjak sekali sundal jang dahaga kepada tjinta. Tali-sekse djasmani dan tali-sekse rohani, ―itulah satu bagian dari “tali-hidup” jang dimaksudkan oleh Olive Schreiner, jang mempertalikan laki-laki dan perempuan itu. memang tali-sekse djasmani dan rohani inilah kodrat tiap-tiap machluk, dus djuga kodrat tiap-tiap manusia. Manakala tali-sekse rohani dihilangkan dan hanja tali sekse djasmani sadja jang diputuskan, maka tidak puaslah kodrat alam itu. Pada permulaan diadakan kultur baru di Sovjet-Rusia, maka ekses perhubungan antara laki-laki dan perempuan adalah keliwat. “Tali-sekse” dianggap sebagai suatu keperluan tubuh sadja, sebagai mitsalnja tubuh perlu kepada segelas air kalau tubuh itu dahaga. “Teori air segelas” ini ditahun-tahun jang mula-mula sangat laku dikalangan pemuda-pemuda di Rusia. Madame Kollontay mendjadi salah seorang pengandjurnja. Siapa merasa dahaga seksuil, ia mengambil air jang segelas itu; ―”habis minum”, sudahlah pula. Beberapa tahun lamanja teori air segelas ini laku. Tetapi kemudian…. kemudian kodrat alam bitjara. Kodrat alam tidak puas dengan segelas air sadja, kodrat alam minta pula minuman djiwa. Kodrat alam minta “tjinta” jang lebih memuaskan tjita, “tjinta” jang lebih sutji. Lenin sendiri gasak teori air segelas ini habis-habisan dari semulanja ia muntjul. Dan sekarang orang disana telah meninggalkan sama sekali teori ini, orang telah mendapat pengalaman, bahwa Alam tak dapat didurhakai oleh sesuatu teori.

Semua ahli-ahli filsafat dan ahli biologi seia-sekata, bahwa tali-sekse itu adalah salah satu faktor jang terpenting, salah satu motor jang terpenting dari perikehidupan manusia. Disampingnja nafsu makan dan minum, ia adalah motor jang terkuat. disamping nafsu makan dan minum, ia menentukan perikehidupan manusia. Malahan ahli filsafat Schpenhauer ada berkata: “Sjahwat adalah pendjelmaan jang paling keras dari pada kemauan akan hidup. Keinsjafan kemauan-akan hidup ini memusat kepada fi’il membuat turunan,” begitulah ia berkata.

Kalau tali-sekse diputuskan buat beberapa tahun sadja, maka manusia umumnja mendjadi abnormal. Lihatlah keadaan didalam pendjara, baik pendjara buat orang laki-laki, maupun pendjara buat orang perempuan. Dua kali saja pernah meringkuk agak lama dalam pendjara, dan tiap-tiap kali jang paling mendirikan bulu saja ialah ke-abnormalan manusia-manusia didalam pendjara itu. pertjakapan-pertjakapan mendjadi abnormal, tingkah laku mendjadi abnormal. Sering saja melihat orang-orang didalam pendjara, jang seperti seperempat gila! Laki-laki mentjari kepuasan kepada laki-laki, dan direksi terpaksa memberi hukuman jang berat-berat.

Pembatja barangkali tersenjum akan pemandangan saja jang “mentah” ini, dan barangkali malahan menjesali kementahannja. Pembatja barangkali mengemukakan nama orang-orang besar, nama nabi Isa, nam Gandhi, nama Mazzini, jang mendjadi besar, antara lain-lain karena tidak mempunyai isteri atau tidak mentjampuri isteri. Ah,…. beberapa nama! Apakah artinja beberapa nama itu, djika dibandingkan dengan ratusan djuta manusia biasa dimuka bumi ini, jang semuanja hidup menurut kodrat alam? Kita disini membitjarakan kodrat alam, kita tidak membawa-bawa moral. Alam tidak mengenal moral, ―begitulah Luther berkata. Beliau berkata lagi: “Siapa hendak menghalangi perlaki-isterian, dan tidak mau memberikan haknja kepadanja, sebagai jang dikehendaki dan mustikan alam,― ia sama sadja dengan menghendaki jang alam djangan alam, jang api djangan menjala, jang air djangan basah, jang manusia djangan makan, djangan minum, djangan tidur!” Tali-sekse itu memang bukan perkara moral. Tali-sekse itu adalah menurut kodrat, dan sebagai dahaga adalah menurut kodrat pula!

Apakah maksud saja dengan uraian tentang tali-sekse ini? Pembatja, njatalah, bahwa baik laki-laki, maupun perempuan tak dapat normal, tak dapat hidup sebagai manusia normal, kalau tidak ada tali-sekse ini. Tetapi bagaimanakah pergaulan hidup dizaman sekarang? Masjarakat sekarang didalam hal inipun, ―kita belum membitjarakan hal lain-lain!― tidak adil kepada perempuan. Perempuan didalam hal inipun suatu machluk jang tertindas. Perempuan bukan sadja machluk jang tertindas kemasjarakatnja, tetapi djuga machluk jang tertindas ke-sekse-annja. Masjarakat kapitalis zaman sekarang adalah masjarakat, jang membuat pernikahan suatu hal jang sukar, sering kali pula suatu hal jang tak mungkin. Pentjaharian nafkah, ―struggle for life― didalam masjarakat sekarang adalah begitu berat, sehingga banjak pemuda karena kekurangan nafkah tak berani kawin, dan tak dapat kawin. Perkawinan hanjalah mendjadi privilegenja (hak-lebihnja) pemuda-pemuda jang ada kemampuan rezeki sahadja. Siapa jang belum tjukup nafkah, ia musti tunggu sampai ada sedikit nafkah, sampai umur tiga puluh, kadang-kadang sampai umur empat puluh tahun. pada waktu ke-sekse-an sedang sekeras-kerasnja, pada waktu ke-sekse-an itu menjala-njala, berkobar-kobar sampai kepuntjak-puntjaknja djiwa, maka perkawinan buat sebagian dari kemanusiaan adalah suatu kesukaran, suatu hal jang tak mungkin. Tetapi…. api jang menjala-menjala didalam djiwa laki-laki dapat mentjari djalan keluar, ―meliwati satu “pintu belakang” jang hina―, menudju kepada perzinahan dengan sundal dan perbuatan-perbuatan lain jang kedji-kedji. Dunia biasanja tidak akan menundjuk laki-laki jang demikian itu dengan djari tundjuk, dan berkata: tjih, engkau telah berbuat dosa jang amat besar! Dunia akan anggap hal itu sebagai satu “hal biasa”, jang “boleh djuga diampuni”. Tetapi bagi perempuan “pintu belakang” ini tidak ada, atau lebih benar: tidak dapat dibuka, dengan tak (alhamdulillah) bertabrakan dengan moral, dengan tak berhantaman dengan kesusilaan, ―dengan tak meninggalkan tjap-kehinaan diatas dahi perempuan itu buat selama-lamanja. Djari tundjuk masjarakat hanja menuding kepada perempuan sadja, tidak menundjuk kepada laki-laki tidak menundjuk kepada kedua fihak setjara adil. Keseksean laki-laki setiap waktu dapat merebut haknja dengan leluasa,― kendati masjarakat tak memudahkan perkawinan―, tetapi keseksean perempuan terpaksa tertutup. dan membakar dan menghanguskan kalbu. perempuan banjak jang mendjadi “terpelanting mizan” oleh karenanja, banjak jang mendjadi putus asa, oleh karenanja. Bunuh diri kadang-kadang mendjadi udjungnja. Statistik Eropah menundjukkan, bahwa dikalangan kaum pemuda, antara umur 15 tahun dan 30 tahun, jakni waktu keseksean sedang sehebat-hebatnja mengamuk dikalbu manusia, lebih banjak perempuan jang bunuh diri, daripada kaum laki-laki. Djikalau diambil prosen dari semua pembunuhan diri, maka buat empat negeri di Eropah pada permulaan abad ke 20, statistik itu adalah begini:

Ternjatalah, bahwa disemua negeri ini lebih banjak perempuan muda bunuh-diri daripada laki-laki muda. Sebabnja? Sebabnja tak sukar kika dapatkan. Keseksean jang terhalang, tjinta jang tak sampai, kehamilan jang rahasia, itulah biasanja jang mendjadi sebab.

Adakah keadaan dinegeri kita berlainan? Disini tidak ada statistik bunuh-diri, tapi saja djaminkan kepada tuan; enam atau tudjuh daripada sepuluh kali tuan membatja chabar seorang pemuda bunuh-diri disurat-surat chabar, adalah dikerdjakan oleh pemuda perempuan. Didalam masjarakat sekarang, perempuan jang mau hidup menurut kodrat alam tak selamanja dapat, karena masjarakat itu tak mengasih kemungkinannja. Dibeberapa tempat di Sumatera Selatan saja melihat “gadis-gadis tua”, jang tak dapat diperdjodohkan, karena adat memasang banjak-banjak rintangan, mitsalnja uang-antaran jang selalu terlalu mahal, kadang-kadang sampai ribuan rupiah. Roman mukanja gadis-gadis itu seperti sudah tua, padahal mereka ada jang berumur 25 tahun, 30 tahun, 35 tahun. Didaerah Indonesia jang lain-lain, saja melihat perempuan-perempuan jang sudah umur 40 atau 45 tahun, tetapi jang roman-mukanja masih seperti muda-muda. Adakah ini oleh karena perempuan-perempuan dilain-lain tempat itu barangkali lebih tjakap “make-up”nja daripada perempuan dibeberapa tempat di Sumatera Selatan itu? Lebih tjakap memakai bedak, menjisir rambut, memotong badju, mengikatkan sarung? Tidak, sebab perempuan ditempat-tempat jang saja maksudkan itupun tahu betul rahasianya bedak, menjisir rambut, memotong badju dan mengikatkan kain. Tetapi sebabnja “muka tua” itu ialah oleh karena mereka terpaksa hidup sebagai “gadis tua”,― tak ada suami, tak ada teman-hidup, tak ada kemungkinan menemui kodrat alam. Didalam bukunja tentang soal perempuan, August Bebel mengutip perkataan Dr. H. Plosz jang mengatakan, bahwa sering ia melihat, betapa perempuan-perempuan jang sudah hampir pejot lantas lantas seakan-akan mendjadi muda kembali, kalu mereka itu mendapat suami. “Tidak djarang orang melihat bahwa gadis-gadis jang sudah laju atau jang hampir-hampir pejot, kalau mereka mendapat kesempatan bersuami, tidak lama sesudah perkawinannja itu lantas mendjadi sedap kembali bentuk-bentuk badannja, merah kembali pipi-pipinja, bersinar lagi sorot matanja. Maka oleh karena itu, perkawinan boleh dinamakan sumber-kemudaan jang sedjati bagi kaum perempuan”, begitulah kata Dr. Plosz itu.

Tetapi kembali lagi kepada apa jang saja katakan tadi: masjarakat kapitalistis jang sekarang ini, jang menjukarkan sekali struggle for life bagi kaum bawahan, jang didalamnja amat sukar sekali orang mentjari nafkah, masjarakat sekarang ini tidak menggampangkan pernikahan antara laki-laki dan perempuan. Alangkah baiknya sesuatu masjarakat jang mengasih kesempatan nikah! Orang pernah tanja kepada saja: “Bagaimanakah rupanja masjarakat jang tuan tjita-tjitakan?” Saja mendjawab: “Didalam masjarakat jang saja tjita-tjitakan itu, tiap-tiap orang lelaki bisa mendapat isteri, tiap-tiap orang perempuan bisa mendapat suami”. Ini terdengarnja mentah sekali, tuan barangkali akan tertawa atau mengangkat pundak tuan, tetapi renungkanlah hal itu sebentar dengan mengingat keterangan saja diatas tadi, dan kemudian katakanlah, apa saja tidak benar? Didalam masjarakat jang struggle for life tidak seberat sekarang ini, dan dimana pernikahan selalu mungkin, didalamnja masjarakat jang demikian itu, nistjaja persundalan boleh dikatakan lenjap, prostitusi mendjadi “luar biasa” dan bukan satu kanker sosial jang permanent jang banjak korbannja. Professor Rudolf Eisler didalam buku ketjilnja tentang sosiologi pernah menulis tentang persundalan ini: “Keadaan sekarang ini hanjalah dapat mendjadi baik kalau perikehidupan ekonomi mendjadi baik, dan mengasih kesempatan kepada laki-laki akan menikah pada umur jang lebih muda, dan mengasih kesempatan kepada perempuan-perempuan jang tidak nikah, buat mentjari nafkah sonder pentjaharian- pentjaharian tambahan jang merusak kehormatan”.

Pendek kata: pada hakekatnja jang sedalam-dalamnja, soal perhubungan antara laki-laki dan perempuan, djadi sebagian daripada “soal-perempuan” pula, bolehlah kita kembalikan kepada pokok jang saja sebutkan tadi: jakni soal dapat atau tidak dapat haknja keseksean, soal dapat atau tidak dapat alam bertindak sebagai alam. Dimana alam ini mendapat kesukaran, dimana alam ini dikurangi haknja, disitulah soal ini mendjadi genting. Saja tidak ingin kebiadaban, saja tidak ingin tiap-tiap manusia mengumbar hantam-kromo sadja meliwat-bataskan kesekseannja, saja tjinta kepada ketertiban dan peraturan, saja tjinta kepada hukum, jang mengatur perhubungan laki-perempuan didalam pernikahan mendjadi satu hal jang luhur dan sutji, tetapi saja kata, bahwa masjarakat jang sekarang ini didalam hal ini tidak adil antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki minta haknja menurut kodrat alam. Ditentang haknja menurut kodrat alam ini tidak ada perbedaan antara lelaki dan perempuan. Tapi, dari masjarakat sekarang, lelaki njata mendapat hak jang lebih, njata mendapat kedudukan jang lebih menguntungkan. Sebagai machluk perseksean, sebagai geslachtswezen, perempuan njata terdjepit, sebagaimana ia sebagai machluk-masjarakat atau machluk-sosial djuga terdjepit. Laki-laki hanja terdjepit sebagai machluk-sosial sadja didalam masjarakat sekarang ini, tapi perempuan adalah terdjepit sebagai machluk-sosial dan sebagai machluk-perseksean.

Alangkah baiknja masjarakat jang sama adil didalam hal ini. Jang sama adil pula didalam segala hal jang lain-lain. Saja akui, Adalah perbedaan jang fundamentil antara lelaki dan perempuan. Perempuan tidak sama dengan laki-laki, laki-laki tidak sama dengan perempuan. Itu tiap-tiap hidup mengetahuinja. Lihatlah perbedaan antara tubuh perempuan dengan tubuh laki-laki; anggauta-anggautanja lain, susunan anggautanja lain, fungsi-fungsi anggautanja (pekerdjaannja) lain. Tetapi perbedaan bentuk tubuh dan susunan tubuh ini hanjalah untuk kesempurnaan tertjapainja tudjuan kodrat alam, jaitu tudjuan mengadakan turunan, dan memelihara turunan itu. Untuk kesempurnaan tertjapainja tudjuan alam ini, maka alam mengasih anggauta- anggauta tubuh jang spesial untuk fungsi masing-masing. Dan hanja untuk kesempurnaan tertjapainnja tudjuan kodrat alam ini, alam mengasih fungsi dan alat-alat ke-“laki-lakian” kepada laki-laki, dan mengasih fungsi serta alat-alat ke-“perempuanan” kepada perempuan: Buat laki-laki: memberi dzat anak; buat perempuan; menerima dzat anak, mangandung anak, melahirkan anak, menjusui anak, memelihara anak. Tetapi tidaklah perbedaan-perbedaan pula didalam perikehidupan perempuan dan laki-laki sebagai machluk-masjarakat.

Sekali lagi: ada perbedaan anatara laki-laki dan perempuan. Tetapi sekalai lagi pula saja ulangi disini, bahwa perbedaan-perbedaan itu hanjalah karena dan untuk tudjuan kodrat alam, jakni hanjalah karena dan untuk tudjuan perlaki-isterian dan peribuan sadja. Dan sebagai tadi saja katakan, ketjuali perbedaan tubuh, untuk hal ini adalah perbedaan psichis pula antara laki-laki dan perempuan, jakni perbedaan djiwa. Professor Heymans, itu ahli djiwa jang kesohor, jang mempeladjari djiwa perempuan dalam-dalam, mengatakan bahwa perempuan itu, untuk terlaksanja tudjuan kodrat alam itu, adalah melebihi laki-laki dilapangan “emotionaliteit” (rasa terharu), “activiteit” (kegiatan), “chariteit” (kedermawaan). Perempuan lebih lekas tergojang djiwanja daripada laki-laki, lebih lekas marah tetapi djuga lebih lekas tjinta-lagi daripada laki-laki, lebih lekas kasihan, lebih lekas “termakan” oleh kepertjajaan, lebih ichlas dan kurang serakah, lebih lekas terharu, lebih lekas mengidealisirkan orang lain, lebih boleh dipertjaja, lebih gemar kepada anak-anak dan perhiasan, dan lain sebagainja. Semuanja ini mengenai djiwa. Tetapi anggapan orang, bahwa perempuan itu akalnja kalah dengan laki-laki, anggapan orang demikian itu dibantah oleh Professor Heymans itu dengan tegas dan djitu: “Menurut pendapat saja, kita tidak mempunjai hak sedkitpun, buat mengatakan, bahwa akal perempuan kalah dengan akal laki-laki”.

Tiap-tiap guru dapat membenarkan perkataan Professor Heymans ini. Saja sendiri waktu mendjadi murid di H.B.S. mengalami, bahwa seringkali murid lelaki “pajah” berlomba kepandaian dengan teman-teman perempuan dan malahan pula sering “terpukul” oleh teman-teman perempuan itu. Pada waktu saja mendjadi guru disekolah menengahpun saja mendapat pengalaman, bahwa murid-murid saja jang perempuan umumnja tak kalah dengan murid-murid saja jang laki-laki. Professor Freundlich, itu tanagn kanannja Professor Einstein didalam ilmu bintang jang pada tahun 1929 mengundjungi Indonesia, dan kemudian mendjadi maha-guru disekolah tinggi Istambul didlam mata peladjaran itu pula. menerangkan, bahwa studen-studennja jang perempuan tak kalah dengan studen-studen laki-laki. “Mereka selamanja boleh diajak memutarkan otaknja diatas soal-soal jang maha sukar”. Professor O’Conroy jang dulu mendjadi maha-guru di Keio Universiteit di Tokio, mentjeritakan didalm bukunja tentang negeri Nippon, bahwa Nippon selalu diadakan udjian-udjian perbandingan (vergelijkende examens) antara lelaki dan perempuan oleh kantor-kantor gubernemen atau kantor-kantor dagang jang besar-besar, dan bahwa selamanja kaum perempuan njata lebih unggul darpada kaum laki-laki.

Ada-ada sadja alasan jang orang tjari buat “membuktikan”, bahwa kaum perempuan “tak mungkin” menjamai (djangan melebihi) kaum laki-laki ditentang ketadjaman otak. Orang katakan, bahwa otak perempuan kalah banjaknja dengan otak laki-laki! orang lantas keluarkan angka-angka hatsil penjelidikan ahli-ahli, seperti Bischoff, Seperti Boyd, Seperti Marchand, seperti Retzius, seperti Grosser. Orang lantas membuat daftar sebagai dibawah ini:

Nah, kata mereka mau apa lagi? kalau ambil angka-angka Retzius dan Grosser, maka otak laki-laki rata-rata beratnja 1388 gram, dan otak perempuan rata-rata 1252 gram! Mau apa lagi? Tidakkah ternyata laki-laki lebih banjak otaknja daripada perempuan.

Ini djago-djago kaum laki-laki lupa, bahwa tubuh laki-laki djuga lebih berat dan lebih besar daripada tubuh perempuan! Berhubungan dengan lebih besarnja tubuh laki-laki itu, maka Charles Darwin jang termasjhur itu berkata: “Otak laki-laki memang lebih banjak dari otak perempuan. Tetapi djika dihitung dalam per-bandingan dengan lebih besarnja badan laki-laki, apakah otak laki-laki itu benar-benar besar?” kalu dihitung didalam perbandingan dengan beratnja tubuh, maka ternjatalah (demikian dihitung) bahwa otak perempuan adalah rata-rata 23,6 gr. per kg. tubuh, tetapi otak laki-laki hanja…. 21,6 gram per kg. tubuh! Djadi kalau betul ketadjaman akal itu tergantung dari banjak atau sedikitnja otak, kalau betul banjak-sedikitnja otak mendjadi ukuran buat tadjam atau tidak-tadjamnja fikiran maka perempuan musti selalu lebih pandai dari kaum laki-laki!

Ja, kalau betul ketadjaman akal tergantung dari banjak-sedikitnja otak! Tetapi bagaimana kenjataan? Bagaimana hatsil penjelidikan otaknja orang-orang jang termasjhur sesudah mereka mati?  Ada ahli-ahli fikir jang banjak otaknja, tetapi ada pula harimau-harimau jang tidak begitu banjak otaknja! Cuvier, itu ahli fikir, otaknja 1830 gr., Byron itu penjair besar, 1807 gr, Mommsen 1429,4 gr., tetapi gembong ilmu hitung Gausz hanja 1492 gr., ahli falsafah Hermann hanja 1358 gr., (dibawah “nomor”!), gadja falsafah dan ilmu hitung Leibniz hanja 1300 gr, (dibawah “nomor”) djago phisica Bunsen hanja 1295 gr, (dibawah “nomor”!), kampiun politik Perantjis Gambetta hanja 1180 gr. (malahan dibawah “nomor perempuan” sama sekali!). sebaiknja, Broca, itu ahli fisiologi Paris jang termasjhur, pernah mengukur tengkorak-tengkorak manusia dari Zaman Batu, —dari zaman tatkala manusia masih biadab dan bodoh!— dan ia mendapat hatsil rata-rata 1606 cm2, satu angka jang djauh lebih tinggi dari pada angka-angka isi tengkorak dari zaman sekarang. Malahan teori “lebih banjak otak lebih pandai” ini ternjata pula menggelikan, sebab Bischoff pernah menimbang otak majat seorang kuli biasa, —tentu seorang-orang bodoh—, dan dia mendapat record 2222 gr.!, sedang Kohlbrugge berkata, bahwa “otak orang-orang jang gila atau idiot sering sekali sangat berat”! Dari mana orang masih mau tetap menuduh bahwa perempuan kurang tadjam fikiran, karena orang perempuan kurang banjak otaknja kalau di bandingkan dengan orang laki-laki?

Tidak, “alasan otak” ini adalah alasan kosong. “alasan oatak” ini sudah lama dibantah, dihantam, dibinasakan oleh ilmu pengetahuan! Bebel didalam bukunja mengumpulkan utjapan-utjapan ahli wetenschap tentang “alasan otak” ini. Raymond pearl berkata; “tidak ada satu bukti, bahwa antara ketadjaman akal dan beratnja otak ada perhubungan satu dengan jang lain”; Duckwoorth menetapkan: “tidak ada bukti bahwa manusia jang banjak otaknja itu manusia jang tadjam akal”; dan Kohlbrugge menulis pula: “antara ketadjaman akal dan beratnja otak tidak ada pertalian apa-apa”. Dan tidakkah ada tjukup bukti, bahwa perempuan sama tadjam fikirannja dengan kaum laki-laki, sebagai dikatakan oleh Prof. Heymans, Prof. Freundlich, Prof. O’Conroy itu tadi, dan boleh ditambah lagi dengan berpuluh-puluh lagi keterangan ahli-ahli lain yang mengakui hal ini, kalau kita mau? Tidakkah kita sering mendengar nama perempuan-perempuan jang mendjadi bintang ilmu pengetahuan atau politik, sebagai Madame Curie, Eva Curie, Clara Zetkin, Henriette Roland Holst, Sarojini Naidu, dll?

Tuan barangkali akan membantah, bahwa djumlah perempuan-perempuan kenamaan itu belum banjak, dan bahwa didalam masjarakat sekarang kebanjakannja kaum laki-lakilah jang memegang obor ilmu pengetahuan dan falsafah dan politik. Benar sekali: didalam masjarakat sekarang ini, dimana laki-laki mendapat lebih banjak kesempatan buat menggeladi akal-fikirannja, maka kaum laki-lakilah jang kebanjakan menduduki tempat-tempat kemegahan ilmu pengetahuan. Didalam masjarakat sekarang ini, dimana kaum perempuan banjak jang masih kurung, banjak jang tidak dikasih kesempatan madju kemuka dilapangan masjarakat, banjak jang baginja diharamkan ini dan diharamkan itu, maka tidak heran kita, bahwa kurang banjak kaum perempuan jang ilmu dan pengetahuaannja membumbung ke udara. Tapi ini tidak mendjadi bukti bahwa dus kwaliteit otak perempuan itu kurang dari kwaliteit otak kaum lelaki, atau ketadjaman otak perempuan kalah dengan ketadjaman otak laki-laki. Kwaliteit sama, ketadjamannja sama, kemampuannja sama, hanja kesempatan-bekerdjanja jang tidak sama, kesempatan-berkembangnja jang tidak sama. Maka oleh karena itu, djustru dengan alasan kurang dikasihnja kesempatan oleh masjarakat sekarang kepada kaum perempuan, maka kita wadjib berichtiar membongkar ketidak-adilan masjarakat terhadap kaum perempuan itu!

Bahkan terhadap fungsi kodrat dari kaum perempuan jang kita bitjarakan tadi itu, jakni fungsi mendjadi ibu: menerima benih anak, melahirkan anak,menjusui anak,memelihara anak,-terhadap fungsi kodrat inipun  laki-laki masih belum menghargakan kaum perempuan! Orang laki-laki membusungkan dadanja seraja berkata: kita, kaum laki-laki, kita madju kepadang perempuan, kita berani menghadapi bahaja-bahaja jang besar,  ”apakah jang perempuan perbuat?” orang laki-laki mengagul-n\agulkan kelakianja menghadi maut, mengagul-agulkan djumlah djiwa laki-laki jang mati guna keperluan sedjarah, seraja berkata: ”bahaja apakah jang perempuan hadapi?” orang laki-laki jang demikian ini tak mengetahui, bahwa dulu di jaman purbakala tatkala hukum masjarakat belum sepertsekarang ini, ialah di zaman ”hukum pribuan” alias matriachat,- jang didalam bab III dan IV akan saja terangkan panjang lebar -, kaum perempuanlah jang mengemudi masjarakat, kaum perempuanlah jang berkuasa, kaum perempuanlah jang mengepali peperangan, kaum perempuanlah jang memanggul senjata, kaum perempuanlah jang mengorbankan djiwanja guna sedjarah. Dan lagi …..apakah benar perempuan lebih berbahaja dari pada melahirkan anak? Apakah benar perempuan minta lebih banjak korban dari pada melahirkan anak? Tiap-tiap ibu dapat menerapkan, bahwa melahirkan anak itulah jang sangat berbahaja disepanjang hidup seorang manusia. Tiap-tiap ibu pernah menghadapi maut setidaknja satu kali dalam hidupnja, jakni pada pada waktu melahirkan anak,- maut itu, sudahkah kita mersakan nafas maut jang dingin itu menjilir dimuka kita?

Terutama di negri-negri jang belum besar usaha ke dokteran, seperti di eropa pada zamn dulu, atau di asia zaman sekarang, tidak sedikit djumlah perempuan jang jatuh diatas padang kehormatan melahirkan anak. Dulu di negri pruisen sadja, (perhatikanlah, belum djerman seluruhnja) antara tahun 1816 dan 1876, pada waktu ilmu kedokteran pada mulai subur, jumlah perempuan jang meninggal akibat melahirkan anak adalah 321,791 orang,- jakni rata-rata 5363 setahun-tahunja! Djumlah ini di negri inggeris antara tahun 1847 dan 1901 adalah 213,533, jakni, kendati waktu itu ichtiar kedokteran telah mdju pula, tak kurang dari 4000 setahun-tahunj! ” tjoba laki-laki musti menenggung sengsara perempuan ini, maka baragkali segala pap diributkan untuk menolongja!”, begitulah kata prof. Herff. Di eropa, djumlah-djumlah itu sekian besarnja! Betapa pula dikampung-kampung dan didusun-dusun kita, dimana dokter masih belum dikenal oleh banjak orang! Betapa pula keadaan dikalangan sarinah!  Maka benar sekali konklusi august bebel, kalau ia mengatakan, bahwa didalam sedjarah manusia ini, kalau didjumlahkan, lebih banjak perempuan jang melepaskan padang kehormatanja melahirkan baji, dari pada laki-laki melepaskan padang djiwanja dipadang kehormatan peperangan.

Orang laki-laki! Ia selalu menghina sadja kepada perempuan. Ia mentertawakan perempuan jang hamil, ia meremehkan arti melahirkan baji,ia tak ingat bahwa ia sendiri adalah hatsil dari kesengsaraan dan kepedihan ibunja jang bertahun-tahun. ” bagi dia, bigi laki-laki”- begitulah edward carpenter, seorang pembela pempuan di negri inggeris, berkata- ” bagi laki-laki bahwa persetubuhan itu adalah suatu peringanan dan satu kenikmatan. Ia kemudian pergi, dan tidak ingat lagi akan perbuatanja itu. Tapi bagi perempuan fi’il ini adalah satu hal jang sangat mulia dan paling berarti dalam hidupnja, laksana suatu perintah jang maha rahasia dan maha penting. Bagi perempuan, fi’il ini adalah satu perbuatan jang banjak akibat-akibatnja, satu perbuetan jang ia tak dapat hapuskan lagi atau lupakan lagi,- satu perbuatan jang harus ia selesaikan dulu dengan segala akibat-akibatnja, sebelum ia merdeka lagi……hanja sedikit kaum laki-laki, barang kali tidak ada seorangpun, jang insjaf akan dalamnja dan sutjinja rasa ibu didalam kalbu seorang perempuan, tidak seoarang pun jang ikut maerasakan kebahagiaanja dan harapa-harapanja, atau keluh kesahnja dan ketakutannja jang maha pedih. Bebannja kehamilan, kechawatirannja pada waktu melihat, bahwa apa jang dikandungnja itu selslu berubah sifat; ketakutannja kalau-kalau apa jang dikandungnja itu tidak selamat seperti jang diharap-harapkannja; kerelaannja kalau perlu manebus dengan djiwanja sendiri, asalkan sibaji itu lahir dengan selamat,- semua adalah hal-hal jang oarang laki-laki tak dapat mengira-ngirakan atau meraba-rabanja, kemudian, kemudian dari pada itu, pengorbanan jang ibu kasihkan buatkeselamatan sianak ketjil; keletihan dan kepajahan jang bertahun-tahun, jang sama sekali mendorong kebelakang segala fikiran-fikiran akan kesenangan diri sendiri; serta rasa tjinta dan rasa kasih jang tak perna orang nilaikan dan hargakan betul….. dan kemudian lagi, rasa pilu dan rasa sunji kalau nanti anak laki-laki dan anak perempuan itu masuk kedunia ramai dan memutuskan tali perhubungan dengan rumah tangga. Disini tali-tali petrsaudaraan itu diputuskan, sebagai mana duluy tali ari-ari diputuskan puya. Buat segala hal jang sedih-sedih ini perempuan tak dapat berharap akan dapat rasa simpati dari fihak akaum laki-laki”.

Begitulah perkataan edward carpenter. Moga-moga allah melimpahkan rachmad kepada semua ibiu-ibu didunia, jang semuanja, satu-satu dilupakan orang moga-moga allah melimpahkan rachmat kepada pembuat-pembuat kemanusiaan itu, kepada ini ”bouwsters dermenschheid” jang semuanja tida ada jang mintak diblas djasa, tidak ada jang minta dibalas budi, dan moga-moga allah bukakan mata kita semua, aqgar supanja kita bisa lebih menghormati dan menghargai kaum perempuanitu!

Djanganlah kaum laki-laki lupa, bahwa sifat-sifat jang kita dapatkan sekarang pada kaum pere4mpuan itu, dan membuat kaum perempuan itu menjadi dinamakan ”kaum lemah”, ”kaum bodoh”, ”kaum singkat pikiaran”, ”kaum nerimo”, dan ll. Bukankah sifat-sifat jang karena kodrat ada terlekat pada kaum perempuan, tapi adalah buah besar dari ahatsil penggurungan dan perbudakan kaum perempuan jang turun-temurun. Dizaman dulu, sebagai saja katakan tadi, dizamannbja matriarchat jang nantidi dalam bab III dan IV akan saja terangkan lebih djelas, dizaman dulu itu sifat-sifat kelemahan itu tidak ada. Ilmu pengetahuan jang modern telah mene4tapkan pengaruh keadaan (milieu) diatas djasmani dan rohani manusia. Apa sebab kaum kuli dan kaum tanin badannja umumnja lebih besar dan kuat dari pada kaum “atasan”? Oleh karena milieu kuli adalah mengasih kesempatan kepada badan sikuli itu untuk mendjadi besar dan mendjadi kuat. Apa sebap-sebap perempuan kuli lebih kuat dan besar dari perempuan kaum ”atas”? Oleh kareana milieu perempuan kuli adalah lain daripada milieu perempuan kaum atas. Apa sebab bangsa-bangsa negeri-dingin tabiatnja lebih dinamis, lebih giat, lebih ulet daripada bangsa-bangsa dinegeri panas? Oleh karena milieu milieu di negeri dingin memaksa kepada manusia supaja sangat giat didalam struggle for life, sedang dinegri panas mitsalnja di indonesia sini manusia hidup dengan setengah menganggur,- dengan tak berbaju, tak berumah, dan tak usabanjak membanting tulanh

tobe continued to page

BAB III

DARI GUA KE KOTA

Ilmu pengetahuan (wetenschap) sudah lama membantah pendapat setengah orang, bahwa adanja manusia dimuka bumi ini barulah 6000 tahun atau kurang-lebih 7600 tahun sadja. Ilmu Geologi, Anthropologi, Archeologi, Histori dan Praehistori menetapkan dengan bukti-buktijang njata, jang dapat diraba, bahwa manusia itu telah ratusan ribu tahun mendiami muka bumi ini; Sir Arthur Keith mitsalnja menghitung zaman manusia itu pada kurang-lebih 800.000 atau 900.000 tahun. Setidak-tidaknja tak kurang dari 300.000 tahun (I. H. Jeans). Hanja sadja harus diketahui, bahwa manusia purbakala itu belum begitu sempurna sebagai manusia zaman sekarang. Manusia zaman purbakala jang bernama Pithecanthropus Erectus (± 500.000 tahun j.l.), Homo Heidelbergensis (± 250.000 tahun j.l.), Eoanthropus (± 100.000 tahun j.l), Neanderthalmensch (±50.000 tahun j.l), manusia-manusia ini semuanja kalah kesempurnaannja dengan manusia zaman sekarang. Tetapi 35.000 tahun jang achir ini, sudahlah ternjata dengan bukti-bukti, bahwa manusia sudah “sempurna” seperti kita zaman sekarang. Sudah barang tentu djumlah manusia itu dulu djauh kurang pula daripada sekarang. Sudah barang tentu pula tidak dimana-mana dimuka bumi itu selalu ada manusia, dan tidak dimana-mana pula zaman manusia itu sama tuannja.

Ada negeri-negeri jang sudah lama didiami manusia, ada negeri-negeri jang belum begitu lama didiami oleh manusia. Sebaliknja, ada pula negeri-negeri, jang dulu didiami manusia, tetapi sekarang kosong dan sunji. Mitsalnja sadja padang pasir Sahara. Ada bekas-bekas kultur manusia di Sahara itu, jang membuktikan, bahwa disitu dizaman dulu banjak air dan rumput dan pohon-pohonan, banjak sjarat-sjarat untuk manusia dan binatang untuk hidup, dan tidak padang pasir jang kering, terik, dan kosong seperti sekarang. Sebaliknja, negeri-negeri Utara seperti Swedia dan Norwegia, jang sekarang begitu banjak manusianja, dizaman dulu adalah kosong oleh karena samasekali tertutup dengan es jang bermeter-meter tebalnja.

Perhitungan Sir Arthur Keith itu disendikan kepada bukti-bukti jang ada. Tetapi mungkin djuga ilmu pengetahuan nanti mendapat lagi bukti-bukti jang lebih tua mendjadi “tua” dari itu, sehingga perhitungan Sir Arthur Keith itu terpaksa didjadikan “lebih tua” lagi, Maka lantas terpaksa kita mengatakan, bahwa bukan 800.000 tahun, bukan 9000.000 tahun sudah ada manusia, tetapi bisa djuga 1.000.000 tahun, atau 1.100.000 tahun, atau 1.200.000 tahun. Tetapi bagaimanapun djuga, njatalah sudah salahnja pendapat setengah orang, bahwa manusia itu baru 7600 tahun sadja mendiami dunia ini.

Sudah barang tentu manusia purbakala itu (meskipun kita mengambil manusia-manusia “jang betul-betul manusia” dari zaman praehistori jang terachir) ketjerdasannja, tjara hidupnja, anggapan-anggapannja, adat-istiadatnja, kebutuhan-kebutuhannja, pergaulan hidupnja, lain daripada manusia zaman sekarang. Manusia-manusia purbakala itu pada mulanja hidup didalam rimba-rimba dan gua-gua. Mereka belum mempunjai perkakas, mereka belum kenal besi, mereka belum tjukup tjerdas membuat rumah. Malahan rumah ini bukan sadja tak perlu bagi mereka. Tetapi djuga… akan merugikan kepada mereka. Sebab dizaman jang pertama itu, manusia hidup dari memburu dan mentjari ikan, seperti binatang-binatang djuga ada jang memburu dan mentjari ikan. Mereka selalu berpindah-pindah tempat, tempat jang sudah habis binatangnja dan ikannja mereka tinggalkan, untuk mentjari lain tempat jang banjak binatangnja dan banjak ikannja pula. Mereka adalah hidup setjara “nomade”, jang selalu berpindah kian kemari, djadi jang tak perlu mempunjai “rumah”. Hutan dan gua, itulah rumah mereka.

To be continued to page 45

BAB IV

MATRIARCHAT DAN PATRIARCHAT

Satu kali perempuan berkedudukan mulia, jakni dizaman berkembangnja matriarchat. Adakah ini berarti, bahwa kita, untuk kemulian perempuan itu musti mengharap diadakan kembali sistim matriarchat itu?

Anggapan jang demikian ini adalah anggapan jang salah, walaupun misalnya orang perempuan sekalipun jang beranggapan begitu. Sering sekali ada perempuan menanja kepala saja: tidaklah lebih baik dari kami sistim peribuan itu daripada sistim jang sekarang ini? Sebab, tindakan di dalam sistim peribuan itu perempuan berkedudukan mulia? Saja selalu mendjawab: djangan tertarik oleh nama sadjal bungkan fikiran jang demikian itu dari ingatan saudara! Pertama oleh karna kita mentjari keselamatan masjarakat seumumja, dan tidak keselamatan perempuan sadja; kedua oleh karna matrirachat itu adalah hatsil perbandingan-perbandinga-masjarakat jang kuno dan tidak ciapat diadakan lagi didalam masjarakat sekarang; dan ketiga oleh karena tidak selamanya peribuhan itu mengasih tempat mulia kepada naum perempuan.

Lebih dulu marilah kita ingati bahwa perkataan ba-chofen, bahwah dimana sadja ada hukum peribuan; disitu pasti kedudukan perempuan tinggi dan mulia, sudah dibantah oleh ilmu pengetahuan: hukum peribuan ada jang membawa kemuliaan bagi perempuan, tetapi ada djuga jang tidak membawah kemuliaan bagi perempuan, sebab, apakah hukum peribuan itu pada asalja? Hukum peribuan pada asalja hanjalah satu aturan untun mendjaga, djangan sampai manusia-manusia dari satu kekeluargaan hantam-kromo sadja kawin satu sama lain, sehingga hatam-kromo pula turunaja bertjampuran darah. Ia dalah reaksi kepada kebiasaan promiskuitteit (pergaulan laki-perempuan hatam-kromo) jang disitupun pergaulan laki-laki perempuan tak mengenal batasan ibu, anak, dan saudara. Oleh sistem peribuan itu lantas ditentukan bahwah hanja laki-laki dari lain gerombolan sadja jang boleh berkawin dengan seorang perempuan, dan turunaja di hitung menurut garis peribuan dan mendjadi hak perempuan itu. Hanja ini sadjalah asalnja maksud hukum peribuan itu, dan tidak lain.” aturan ini tidak tentu membawa kedudukan perempuan jang lebih baik dan lebih merdeka;di dala banjak sekali suku-suku memakai aturan perinuan kedudukan perempuan sama sengsaranja dengan kedudukan perempuan didalam suku-suku jang memakai aturan perbapaan”, begitulah henrlette roland holst berkata, begitu pulah pendapat mrs. Ray strachey. Beliau mengatakan bahwa peribuan itu ”kadang-kadang pula mengekalkan milik-milik dan kekajaan-kekajaan didalam tanganja, sehinga-ga ia lantas mendapat satu kedudukan yang lebih berkuasa”, muller lyer pun berpendapat begitu, dan begitu pula ahli-ahli penjelidik lain seperti schurz, eisler dll.

Hanja dimana hukum peribuan ini mendjadi pemerintahan peribuan, mandjadi gynaeco-creatie, menjadi matriarchat, mendjadi sistem pemerintahan – ibu, maka disitula perempuan berderadjat, disitulah perempuan bermartabat tinggi, tetapi kitapun tidak boleh lupa memikirkan dan menjaga: apa sebab perna terdjadi satu masa jang perempua jang berkuasa, dan tidak laki-laki? Sebabnja ialah, oleh karena pada bagian pertama dari zaman pertanian itu, perempuanlah produksen masjarakat jang terpenting, dialah jang mengerdjakan dan memimpin pertanian, dialah jang maggenggam nasip-perekonomian-nja gens, kalau dia tidak berkerdja, laparlah semua orang. maka kedudukan sebagai produsi pokok itulah jang men-djundjung derdjabnja; harganja sebagai pengasih hidup kepada anggautan-anggautan gens itulah jang mengangkat namaja. Bukan hukum peribuan, bukan sesuatu hukum, bukan sesutu timbangan moral, jang mendjadi sebab kedudukanja penting. Sebalikja, hukum peribuan, moral, hukum itu, adalah akibat dari kedudukanja jang penting itu.

Maka oleh karna itu, tak dapat matriarchat itu datang kembali, kalau kedudukan perempuan sebagai produsen masjarakat tidak menjadi terpenting lagi seperti dulu. Mungkinkah ini? Munkinkah zaman pertania tjara dulu balik kembali? Atau mungkinkah datanglagi satu sistemproduksi masjaraka, jang kaum perempuan badja mendjadi pokoknja? Pembatnja boleh mengharapkan segala hal, boleh memasang tjita-tjita jang setinggi langit, tetapi kembali. Pembatja boleh mengharapkan susunan masjarakat jang lebih baik, kedudukan manusia jang lebih lajak, penghargaan kepada manusia satu sama lain yang lebih adil, tetapi djanganlah pembatja mengharap djarum masjarakat diputarkan mundur. Sebab harapan jang demikian itu adalah harapan jang mustahi, harapan yang kosong. Masjarat tak dapat diharap baik kembali kepada tingkat jang terdahulu, _ tiap-tiap fase jang telah dilewati oleh perdjalanan masjarakat, sudalah termasuk kedalam alamnja ”kemarin”. Pertanian kini bukan alam orang perempuan sadja, dan fase pertanian itupun sebagai fase kemasjarakatan sudah terbenam didalam kabutnja ”zaman dahulu”. Kini fase masjarakat adalah fase kepa-berikan, fase permesinan, fase industrialisme. Tidak dapat industrialisme ini lenjap lagi untuk balik kembali kepada fase pertanian, dan tidak pulah didalam industrialisme ini perempuan sadja jang memegang kendali industri! Perempuan dan lakji-laki, laki-laki dan perempuan, kedua-duanja mendjadi produksen didalam industrialisme itu. Maka oleh karna itu, djuga didalam masjarakat sekarang ini matriarchat tak dapat datang kembali.

Saudara barangkali bertanja, tidakkah di minangkabau kini ada matriatchat? Perbatnja, di minangkabau sekarang sekarang suda tidak ada lagi matriarchat, jang ada hanjalah restan-restan dari hukum peribuan sadja, jang makin lama makin lapuk. Hak keturunan menurut garis peribuan masi ada disitu, perkawinan eksogam (mentjari suami dimustikan dari suku lain, tidak boleh dari suku sendiri) masi diadatkan disitu, hak harta-pustaka-tetap-tinggal-didalam-lingkunga-ibu masih ditegakkan disitu, tetapi matriarchat suda lama lenjap, sedjak pemerintahan bundo kandung di pagar-runjung, jang masih ada hanjalan runtuhan-runtuhanini djuga terdapat pula dibeberapa daera diluar minangkabau, didaera batanghari, di atjeh, di mentawai, di emggano, di belu, di waihala, di sulawesi selatan, dll. _ dan diluar indonesia pada beberapa suku indian di amerika utara, dikepulauan mariana, dibeberapa bagian uluan philipina, di oceania, dibeberapa daera neger, dl.l. perhatian pembatja, restan-restan hukum peribuan ini (ketjuali di minangkabau) hanjalah terdapat pada bangsa-bangsa jang masi sangat terbelakang sadja, dan tidak pada bangsa-bangsa jang sudah tjerdas dan tinggi evolusinja serta kulturnja! Maka sebenarnja hukum peribuan minangkabau-tingkat-rendah, dan bukan milik minangkabau-tingkat-sekarang. Siapa mau memelihara hukum peribuan itu di minangkabau-tingkat-rendah, memelihara sisa-sisa bangkai preode kultur jang telah silam. Dia dapat kita bandingkan dengan orang jang menghiaskan bunga melati disekeliling muka gadis-cantik jang suda mati: tjantik, merindukan, memilukan, menggojangkan djiwa, tetapi_mati!

Memang tak dapat dapat dibantah, bahwah hukum peribuan itu adalah hukunja masa jang telah silam. Lihatlah, didalam kitap agama bahagia jang tua-tua sadja terdapat hukum peribuan itu, bukan didalam kitap agama jang dari zaman jang kemudian: didalam perdjandjian lama, genesis 2, 23 ada tertulis: ”maka oleh karna itu, orang laki-laki akan meninggalkan bapanja dan ibunja, dan bergantung pada istrinja, dan mereka akan mendjadi satu daging”. Menar kalimat ini terdapat djuga di-perdjandjian baru (mitsalnja mattheus 19,5 dan markus 10, 1), dan diartikan sebagai kesetiaan laki-laki kepada istrinja, tetapi asal-asalnja njatalah dari kitap perdjadjian lama. Didalam perdjandjian lama pula, numeri 32, 41 ada dijeritakan hal jang berikut: jair mempunjai bapak jang asalnja dari suku juda, tetapi ubunja jair adalah dari suku manase”, dan mendapat warisan dari suku manase itu. Begitu pula didalam mehernia 7,63: disini seorang anak-anak pendeta yang beristerikan seorang perempuan dari suku barzillai, dinamakan anak-anak barzillai, djadi menurut suku ibunja, tidakkah sebagai dimuka saja sebutkan djuga, nabi isa masi disebutkan isa ibenu marjam?

Didalam kitap sedjarah dunia dr. Jam romein, djilit I, diterangkan dengan jakin, bahwah peradapan kuno dikenam kiri sumgai-sungai nil dan trigis-eufrata, ratusa, ribuan tahun sebelum zaman nabi isa, adalah timbul dari aturan-aturan matriarchat. Semua itu membuktikan, bahwah hukum peribuan itu adalah hukumnja masjarakat kuno, timbul dari perbandingan-perbandingan sosial-ekonomis di masjarakat kuno. Ia adalah tingkatan atas rohaniah perbandingan produksi di masjarakat kuno, jang tidak dapat diadakan lagi disuatu masjarakat sekarang, dimana perbandingan sisial-ekonomis adalah lain. Dan sedjarah duniapun membuktikan, bahwah hukum peribuan itu disepandjang djalanjasedjarah jang ratusan, makin lama makin tak laku, makin lama makin lenjap. Dimana sekarang masi ada hukum peribuan, _ di minangkabau satu di oceania, di nenerapa daera neger atau diuluan philipina, di mentawai atau di amerika utara, _ dimana sekarang masi ada hukum peribuan itu, itu tak lebih dari pada sisa-sisa belaka, _ runtuh-runtuhan belaka daripada sebuah gedung kuno jang berabat-abat lamanja selalu diubah, dihantam, digempur oleh zaman. Maka siapa ingin menhidupkan kembali atau memelihara hukum peribuan itu, dia adalah mau menghidupkan kembali atau memelihara sebuah bangkai. Dia adalah menudju arah yang bertentangan 180* dengan arah tudjuan evolusi masjarakat; dia adalah reaksioner; dia adalah sosia-reaksioner.

Bukan dengan menghidupkan kembali atau memelihara restan-restan matriarchatlah tjaranja kita mesti nenerdekakan perempuan dari perbudakkanja sekarang ini, bukan dengan menghidupkan kembali atau memelihara satu sistem jang basinja adalah didalam fase masjarakat zaman dahulu. Kita musti metjari ichtiar memerdekakan kaum perempuan itu dengan basis masjarakat sekarang, atau dengan basis masjarakat jang akan datang. Jang telah silam tak dapat timbul kembali, tetapi jang sekarang ada, itula jang kita hadapi, dan jang akan datang, itulah jang akan kita alamkan. Njahkanlah segalah fikiran-fikiran primitif jang mau kembali kepada hukum-hukum primitif itu! Sebab kalau tidak, lenjaplah nanti didalam kalbu tuan segalah harapan, segala tjita-tjita, segalah kegembiraan. Angan-angan tuan itu tidak akan tertjpai, melainkan bebaliknja akan sia-sia sama sekali, kosong dan gugur sama-sekali.

Lagi pula: adakah hukum peribuan si minangkabau itu mengasih kedudukan baik dan mulia kepada perempuan? Saja kira, semua orang jang pernah berdiam si minangkabau, atau membatja buku-buku atau uraian-uraian tentang minangkabau, mengetahui, bahwah disana perempuan belum boleh dikatakan hidup didalam sorga. Beberapa akibat dari hukum peribuan disana itu ialah: banjak laki-laki maninggalkan minakabau untu ”matjari” kedaerah lain, perempuan susah mendjari suami, sukar berkembangnja ekonomi idividuil, dan lain sebagainja.

Ja, kembalilagi kepada kesalahan bachofen tadi: hukum peribuan tidak selamanja mengasih kedudukan baik kepada perempuan! Sebaliknja, manakala ia ada mengasih kedudukan baik, maka hukum peribuan iti kadang-kadang dan sering sekali membawah akibat laki-laki mendjadi hamba perempuan! Rudolr eisler menerangkan bahwa dihukum peribuan ini ”sering sekali laki-laki busti bekerdja sebagai budak buat perempua”. Keadaan jang sematjam ini tentu bukan keadaan jang sehat. Satu sistem jang membudakkan perempuan tidaklah sehat, satu sistem jang membudakkan laki-lakipun tidaklah sehat. Jang sehat hanjalah satu sistem, dimana laki-laki dan perempuan sama-sama merseka, sama-sama beruntung, sama-sama bahagia. Maka oleh karena itu, tjukuplah kiranja, kalau saja katakan disini, maka pemetjahan ”soal perempuan” itu bukanlah harus kita tjari didalam hukum peribuan dan bukanlah pulah didalam matriarcccccchat, tetapi didalam majarakat jang lain, dengan aturan-aturan jang lain!

Dimanakah dizaman dalu ada hukum peribuan? Boleh dikatakan dimana-mana sadja dulu ada hukum peribuan. Malah ada suku-suku dizaman dulu itu, jang hkum perinuanja dilukiskan dengan seksama dalam tjatatan-tjatatan orang-orang jang mengembara. Mitsalnja bachofen dapat mengetahui dengan saksama semua seluk-beluk hukum peribuan suku nair di india beberapa abat jang lalu, karena ia mempeladjari tjatatan-tjatatan pengembaraan bangsa arap, portugis, belanda, italia, perantjis, inggeris dan djerman, jang mengunjungi daerah nair itu beberapa abad jang lalu. Boleh dikatakan dimana-mana sadja dulu ada hukum peribuan. Malahan bachofen mengatakan, bahwa sebua bangsa-bangsa jang primitif adalah berhukum peribuan. Friederich engelspun berkata, bahwa hukum peribuan itu satu fase masjarakat jang umum. Pada bangsa-israel, pada bangsa mesir, pada bangsa phunicia, bangsa etruska, bangsa lykia, disemenandjung iberia, bangsa inggeris, bangsa germania-tua, bangsa india di amerika, dan pada semua bangsa-bangsa di benua asia serta kepulauan asia dan oceania, _ disemua tempat itu dizaman purbakala berlaku hukum peribuan itu. Memang, kalau difikirkan dengan sebentar sadja, maka tiap-tiap orang mengerti apa sebabnja hukum nperibuan jang mendjadi hukumnja orang dizaman itu, tidak ada hukum lain jang begitu mudah menetapkan dengan pasti neturuna seseorang manusia, melainkan hukum peribuan ini. ”ibunja sianu ialah sianu”. Sebab, pada waktu itu keluarga belum bersifat somah seperti sekarang, pada waktu itu satu gerombolan laki-laki kawai dengan satu gerombolan perempua: inilah jang dinamakan ”kawin gerombolan”. ”siapa bapa” disitu tidak terang. Karena itu mendjadi hukumnja orang diwaktu itu.

Kemudian daripada kawin gerombolan ini, datanglah kawin pasangan, dimana perempuan mendjai istrinja satu orang laki-laki sadja, didalam fase kawi pasangan inilah (didalam waktu timbulnja faham milik-perseorangan). Didalam kawai pasangan inilah diadakan hukum perbapaan. Sebagai satu”perpindaha” antara kawin gerombolan ke kawi pasangan itu, ada satu zaman jang membolehkan atau mengharuskan seseorang perempuan sebelum ia memnjai suami satu, pergaulan merdeka dengan laki-laki mana sadja. Jang oleh setengah ahlih didalam hal ini dimanaka ”hearrisme”, ”persundalan”, jang sebenarnja berlainan sekali dengan persundalan jang biasa. Didalam matriarchat itu perempuan dianggap sebagai ”ibu sekalian manusia ”, jang mengasi hidup kepada semua orang. Tetapi kini ia akan memelihara satu orang laki-laki sadja ia musti ” dapat kerugian ” labih dulu, atau ”bajar kerugian” lebih dulu! Ia lantas dibolehkan mendjalakan ”persundalan” pada waktu gadis, atau ia musti mengorbankan kegadisannja kepada umum sebelum ia kawin resmi kepada satu orang laki-laki sadja. Menurut agama di babylion, dulu seorang anak-darah kalau ia hendak menikah, diwajibkan lebih dulu pergi kekuil mylitta, dan disitu ia mesti mengorbankan kegadisannja kepada kebanjak laki-laki. Begitu pula keadaan di memphis, di cyprus, di tyus, di sydonia, didalam perajaan-perajaan dewi isis di mesir, di asia-depan di dalam kuil anaitis. Engles berkata: ”adat kebiasaan jang sematcam itu dikerdjakan oleh hampir semua bangsa asia diantara lautan tengah dan sungai gangga”.

Perempuan ibu-umum! Sebelum ia bersuami satu oramg sadja, ia mesti memuaskan semua orang lebih dahulu! Sebelum ia memuaskan satu orang sadja, ia mesti banjar dulu upeti sepada dewa-dewa. ”sebab bukan supaja menjadi laju didalam tangannja satu olarang laki sadja, maka perempuan itu dikaruniai keelokan dan ketjantikan oleh alam, hukum djasmani menolak semua pembantasan bentji kepada semua perikatan, dan pemandang tiap-tiap perchusunan sebagai satu dosa kepada sifat kedewaan perempuan itu”, begitulah bachofen menulis didalam kitabnja” mutterrecht”. Sampai zaman sekarangpu, mitsalnja di flores, di mana saja berdiam hampir lima tahun, dalam satu daerah (keo), dimana gadis-gadis boleh bergaul dengan laki-laki mana sadja jang sukai, dan jang paling ”djempol” diantara ”gadis-gadis” itu, _ djempol memuaskan laki-laki _. Ituladjang nanti paling lekas laku mendapat suami. Di kepulauan mariana, diulu-uluan philipina, dikepulauan pelynesia, di beberapa suku di afrika, sampai sekarang masih berlaku pula adat ini. Kepulauan baleara, maka belum selang berapa lamanja masih ada adat, jang pada, malam pernikahan”, semua keluarga laki-laki dari pengantin lelaki meniduri pengantin perempuan itu berganti-ganti. Dimalabar, diuluan india-belakang, dinenerapa pulau lautan teduh, kepal-kepal agamalah jang mendjelesaikan pekerdjaan ini. Dan mungkin djuga hak ”malam pertama” jang dulu diberikan kepada radja-radja di indonesia dan di eropah, _ di beberapa negri eropah sampai silamnja zaman petengahan masih ada hak ”jus primae noctis” itu _, pada asalnja harus di anggap sebagai ”selian” dewa-dewa. (kalau dewa-dewa ini karena perempuan mendjadi isteri satu orang laki-laki sadja!) dan taukah tuan, bahwa sampai didalam abat ke lima belas liderladpuan menurut keterangan murner, tamu-tamu di ”sunguh” njonjah-rumah satu puteri-rumah pada malam hari?

Ja, perempuan ibu-umum! Tidakkah pada hakekatnja ini suatu anggapan-tinggi kepada perempuan itu? Tetapi tidakkah pula terang kepada kita, bahwa aturan jang demikian ini tidak baik kita pakai? Maka oleh karna itu, meskipun ada kalanja hukum peribuan itu didalam bentu-matriarchatnja mengisih jang mulia kepada perempuan, meskipun dibeberapa tempat didunia sampai sekarang masih ada restan-restan matriarchat itu dimana perempuan seperti berkedudukan mulia, maka djanganlah matriarchat itu mendjadi tjita-tjita dan pedoman kita, kalau hukum – peribuan itu dapat tegak terus di msajarakat sekarang, dan dus boleh dipakai sebagai tjita-tjita dan pedoman dimasjarakat sekarang. Tida! Kalau sekarang masih ada hukum-peribuan, maka buat sekian kalianja katakan itu hanjalah sia-sia dan runtuh-runtuan belakang dari satu gedung – adat jang telah gugur. Itu hanjalah satu ”kematian jang terlambat” hukum – peribuan pasti mati, pasti gugur, pasti lenjap dari masjarakat industrialisme dan masjarakat hak – milik – pribadi sebagai jang sekarang ini, walaupun ia ulet njawa. (mitsalnja sampai dizmannja august bebel(perempuan abat iani) masih ada hukum – peribuan itu dinegeri modere, seperti djermania (dipropinsi wastfalen) dimana sianak mewaris dari ibu, dan tidak dari bapa).

Pembadja barangkali ada jang tahu, apaka adat satu orang perempuan bersuami banjak (poliandri) djuga disebabkan oleh hukum – peribuan, susah mendjawap pertanjaan ini! Mungkin disebabkan oleh huku – peribuan, munkin tidak disebabkan oleh hukum – peribuan. Eisler mengatakan, bahwa poliandri itu ”bukan satu” perkembangan jang umum” (bukan satu tingkat perubahan umum). Engles menamakan dia ”perkedjualian”, serta ”hasi-hasi jang mewah dari pada sedjarah”. Dan bebel berkata, bahwa ”belum diketahui orang benar-benar perbandinga-perbandingan apaka jang mendjadi sebab-sebabnja poliandri itu”. Tetapi ada hal-hal jang dapat dipakai buat menundjuk djanlan didalam hal mentjari sebab-sebabnja poliandri itu; poliandri didapatkan terutama kali hanja dinegri-negri pegunungan jang tinggi sadja, seperti di tibet. Di negeri-negeri pegunungan jang tinggi-tinggi ini, dimana hampir tiada tumbuh-tumbuhan samasekali, suda sama tentu sangat berat struggle for life. Maka poliandri atau persuamian-banjak itu, mendjadi satu djaln mentjagah terlalu bertahnjah djumlah keturunan, dengan tidak merugikan dan menghalangi kepada sjhwaat laki-laki. Benarkah keterangan ini? Entah. Ada lain keterangan lagi, jakni jang berikut: manurut seorang penjelidik jang bernama tarnowsky, maka udara jang terlalu dingin berakibat melemahkan kepada sjahwat. (sikatakan: dikatakan orang-orang jang naik kepuntjak-kepuntjak), gunung jang terlalu tinggi mendjadi lemah sahwatnja, dan sahwatnja ini sekonjong-konjong mendjari keras kembali manakala mereka turun ketempat-tempat jang lebih rendah. Orang-orang dikutup utara tidak begitu keras sahwatnja seperti orang-orang dinegeri-negeri kanan – kiri chaturistiwa orang-orang perempuan dinegeri-negeri dingin kadang-kadang baru pada umur 18 atau 19 tahun mendapat hait, tapi gadis-gadis dinegeri arabia kadang-kadang pada umur sepulu tahun atau sebelas tahun suda mendapat haid). Maka oleh karena sjhawat, terutama sjawat laki-laki, dinegeri-negeri dingin ada kurang, maka tidak merusak kesehatan manakalh dinegeri seperti tibet itu satu perempuan bersuanikan dua, tiga, empat, lima orang laki-laki. Djadi di negeri jang sangat dingin tidak heran kita melihat poliandri, dan dinegeri-negeri panas tak heran kita melihat poligami. Bahwa perempuan jang banjak laki-lakinja itu kurang mendjadi hamil dari pada perempuan jang bersuami hanja seorang sadja, lihatlah mitsalnja kepada sundal. Sundal jang saban hari menerima sjahwat laki-laki sampai lima, enam, sepulu kali, djarang mendjadi hamil, mesti dia tidak minum obat-obatan-pentjegah hamil atau tidak mengambil ichtiar satu djuapun untuk mentjegah bertumbuhnja benih. Dengan sebab-sebab jang demikian ietu, maka poliandri dinegeri-negeri pergunungan tinggi itu bukan sadja tidak merusakkan kesehatan perempuan, tetapi ada djuga berakibat mengurangi jumlah keturunan, jang sangat susah memeliharanja di negeri jang kurang rezeki itu. Bersangkutan atau tidak bersangkutan poliandri itu dengan hukum peribuan belum terang kepada kita. Tetapi ternjatalah disini sekali lagi kebenaran teori, bahwa moral, anggapan-anggapan tentang sopan dan tidak sopan, adat-lembaga, etika, recht, dan lain-lain sebaganja itu, bukanlah hasil pekerdjaan budi pekerti manusia, tetapi adalah tergantung dan di tetapkan oleh perbandingan-perbandingan bosial dan materiil.

Dimanakah, dinegeri tumpah-darah kita ini, ketjuali minangkabau, masi ada sisa-sisa hukum-peribuan? Pertama, boleh dikatakan semua daerah-daerah jang berdekatan dengan minakabau itu masi memakai hukum-peribuan:bagian-bagian dari keresidenan bengkulu, bagian-bagian dari djambi, bagian-bagian palembang, sudah barang tentu semuanja itu tidak murnilagi, tidak asli-hukum peribuan lagi, melainkan sudah tertjampur bawur dengan hukum-hukum lain, terutama sekali tertjampur dengan sjariat islam. Sebagaimana di minangkabau hukum-peribuan bukan asli hukum-pribuan lagi, maka begitu djuga di daerah daerah ini hukum-peribuan bukan asli hukum-peribuan lagi. Hanja kadang-kadang saja heran melihat ”uletnja” hukum-peribuan itu, seakan-akan sjariat islam tak mudah melenjapkanja. Dinegeri atjeh, mitsalja, jangf penduduk begitu teguhnja memeluk agama islam, masi ada sisa-sisa hukum – peribuan jang belum lenjap! Disitu masi ada daerah-daerah jang perempuan, sesudah nikah, masi tetap  sadja mendjadi ”haknja” rumah tuanja, sedang suaminja, kalau ia tidak ikut diam diruma istrinja, datang kepanja hanja kalau ada sanja. Anak-anak dari perkawinannja itu tetap dirumah ibunja, ”gampung” anak-anak itu adalah ”gampung” inunja! Adat hukum – peribuan inilah jang didaerah semendo dan lain-lain daerah di sumatera selatan mendjadi dasar perkawinan ”ambil anak” atau ”tjambur sumbai ” di tanah lampung. Disitu sisuami memutuskan pertaliannja dengan bapa-ibusendiri, dan mendjai ”anaknja” mertuanja, berdiam di rumah mertuanja berdja pada pekerdjaan mertuanja. Ia ”ikut” kepada istrinja, ia menjerahkan anak-anaknja kepada istreinja ia hanjalah bertindak sebagai ”djantan” bagi isterinja, anak-anaknja mendnja ahli-waris isterinja. Terutama sekali kalau orang hanja mempunjai anak-abak perempuan sadnja, (djadi tiada anak laki-laki), maka selalu perkawinan ”tjambur-subai” ini jang dipilih. Dengan begitu sianak perempuan itu meneruskan keturunan dan harta-miliknja famili, atau dengan perkataan adat; buat ”tungguh djurai”, buat ”menegakkan djurai”. Malahan didaerah semendo anak perempuan jang tertua tetap mendjadi menunggu dan penegak djurai itu, meski ia mempunjai saudara laki-laki atau tidak mempunjai saudara laki-laki.suaninja wadjib ikut kepadanja. Anak-anakjalah jang meneruskan djurai, dan bukan anak saudaranja jang laki-laki. Pendek kata, didaerah-daerah sumatera tengah sebagian dari sumatera selatan, masi njata ada sisa-sisa hukum-peribuan, negitu pulah dibatanghari atas, di kerintji, dan tempat-lain-lain.

Dipulau mentawai masih ada sisa adat hukum peribuan jang berupa ”hetearisme” (lihat dimuja) antara ”gadis-gadis” dengan pemuda-pemuda laki-laki, sebelum perkawinan. Dipulau mentawai itu sama sekali bukan satu kedurhakaan, kalau seorang ”gadis” sebelum ia mempunjai suami sudah mempunjai anak, dan pemuda mentawai tidak pula ketjewa hatinja kalu perempuan jang ia kawai itu sudah mempunjai anak! Begitu pula keadaan dipulau engganao. Anak-anak di luar atau didalam perkawinan, tetap mendjadi hak ibunja. Di borneo-barat, disintang, dipulau timur (belu, waihalh) masih ada adat, jang seorang suami diwadjibkan berdiam dirumah isterinja, dan di sulawasi selatan ada adat ”mapuwoawo” jang menentukan bahwa anak jang tertua dan jang ketiga ditentukan mendjadi anak ibunja sedang bapah hanja mendapat hak atas anak jang kedua tau keempat sadja. Malh bukan sadja hukum peribuan ada sia-sianja disitu tetapi djuga ada mtriarchat: dulu sering-sering disulawesi selatan orang perempuan didjadikan radja. Di keo, jaitu disatu daerah vlores, ”gadis-gadis” selalu bergaul-bebas dengan laki-laki, dan ”gadis-gadis” jang paling ”djempol” memuaskan hati laki-laki, merekalah jang nanti paling besar lekas mendapat suami.

Maka njantanlah dengan bukti-bukti dari daerah-daerah primitif dari negeri sendiri itu, bahwa hukum peribuan adalah hukum primitif, hukum sesuatu rakjat jang belum tinggi tingkat kemadjuannja. Hukum jang masih perimitif itu tak munkin baik buat masjarakat modern, dan batas diganti dengan hukum jang lebih sesuai dengan masjarakat modern!

Bagaimanakah hukum perbapaan? Sebagaimana sadja sudah uraikan dimuka, maka dibanding dengan hukum peribuan, adalah hukum perbapaan itu satu kemadjuan: dengan hukum perbapaan dapatlah berkembang somah, dengan hukum perbapaan dapatlah berkembang indivualisme jang perlu buat perkembanja masjarakat. Marx menamakan perpindahan dari hukum peribuan ke hukum perbapaan itu satu ”perpindahan jang paling sesuai dengan kodrat alam”, dan engels menamakan dia satu ”kemadjuan dalam sedjarah jang benar”. Hanja sanjang sekali, bahwah kemadjuan ini dibarengi dengan perbudakan, perbudakan satu fihak guna menegakkan pertuananja fihak jang lain!

Pokok hukum perbapaan itu digamberkan oleh engels dengan satu kalimat jang sangat djitu: ”ia berazaskan pertuanan orang laki-laki, dengan maksud tertentu untuk melahirkan anak-anak jang tak dapat dibantah lagi siapa bapaknja; dan perbapaan jang tak dapat dibantah itu sangat perlu, oleh karna anak-anak ini nantu harus memiliki harta milik siapa iatu”. Saja kira, jang akan membantah bahwa pada azasnja hukum perbapaan itu lebih baik bagi masjarakat daripada hukum peribuan. Ah ia, ada perempuan jang mengatakan hukum perbapaan itu masih ”berat sebelah”, dan lantas bertjita-tjita satu hukum jang di tengah-tengah hukum perbapaan dan hukum peribuan, ada pula jang bertjita-tjita tjampuran hukum peribuan dan hukum perbapaan itu, – tetapi baiklah direnungkan dengan tenang dan dalam: hukum perbapaan bukan hal adil atau tidak adi, hukum perbapaan adalah satu hukum jang perlu buat evolusi masjarakat. Jang tidak adil bukan hukum perbapaan itu, melainkan ekses-ekses hukum perbapaan itu, ”ke-liwatbatasa-ke-liwatbatasa” hukum perbapaan itu. Ekses-ekses hukum perbapaan inilah nanti akan saja bitjarakan didalam bab ini djuga. Tetapi marila saja sekarang membitjarakan lain-lain hal dari hukum perbapaan itu lebih dulu.

Sebagai saja terangkan, maka hukum perbapaan ini timbul, sesuda masjarakat mengenal ”milik”, jakni mengenal ”milik perseorangan”. Laki-laki jang meninggalkan perburua, menjusun ”milik” itu dengan keringat-keringat itu sendiri: peternakan mengasih kekajaan jang berupa chaiwan, orang-orang tawanan tidak dibunuh lagi tetapi didjadikan kekanjaan jang berupa budak belian, hasil pertanianpun membesar-besar harta pusaka. Untuk menetapkan milik nini didalam tangan anak-anaknja sendiri, mendjaga djangan ia djatuh ditangan anak-anaknja orang lain, maka diadakanlah hukum perbapaan itu.

Tetapi djangan pembatja kira, bahwah ia diadakan sekonjang-konjang, dengan sekali gus. Ia adalah akibat dari satu proses, sebagaimana tiap-tiap evolusi-masjarakat adalah akibat dari satu proses. Ia bukan hasil dari pemutaran otak seorang-orang ”disuatu malam jang ia tak dapat tidur”, sebagaimana djuga tiada evolusi-masjarakat hatsil pemutaran otak ”disuatu malam jang ia tak dapat tidur”. Ia menurud keterangan engeles (berlawanan dengan bachofen), sama sekali bukan evolusi jang membuat banjak ribut-ribut, melainkan hanjalah satu perubahan jang beransur-ansur tenang. ”ini”, begitulah ia berkata, ”ini sama sekali tidak begitu sukar, sebagai jang kita kirakan dizaman sekarang, sebab revolusi ini, – salah satu revolusi jang terbesar, jang pernah dialamkan oleh manusia -, tak harus mengenai seseorang anggauta gens jang masih hidup. Semua keluarga gens itu hidup tetap setjarah jang suda-suda. Nandjalah jukup mengambil satu keputusan, bahwah dikemudian hari turunan anggauta laki-laki dari gens tinggal didalam gens itu, tetapi turunan anggauta perempuan dari gens sendiri dan pindah kegens bapaknja. Dengan keputusan ini, maka suda gugurlah aturan keturunan menurut garis ibuserta hukum-waris dari ibu, dan suda ditegakka aturan keturunan menurut garis bapaserta hukum-waris dari bapa……..betapa mudahnja ravolusi ini, itu bisa kita lihat dari beberapa suku-suku indian, dimana perubahan itu belum selang berapa lamah telah terjadi, buat sebagian karena bertambahnja kekanjaan……….. dan buat sebagian lagi karena pengaruh zaman baru serta pengaruh pendeta-pendeta nasrani”. Begitulah pendapat engels. Bachofen lebih pertjaja kepada perubahan jang mendatangkan banjak peperangan. Munkin kebenaran adalah di tengah-tenga: ada jang tenang, ada jang dengan peperangan. Saja suda tuliskan dimuka, bahwah ada pula daerah-daerh jang perempuan-perempuannja tidak mau tunduk begitu sadja. Kepada aturan beru ini, dan inilah asal-asalnja tjerita-tjerita atau dongeng-dongen amazone atau wanita nusa tembini . kalau kita sekarang datang dinegeri kanan-kirinja gunung kaukasus, kita akan melihat, bahwa masi sangat hidup diingatkan raknjat di situ dongengnja radja putri tanara, jang sebagai harinau-betina telah memerangi dan menaklukan banjak radja-radja laki-laki. Radja putri tamara sampai kini malahan masi di anggungkan oleh rakjat-rakjat kaukasia. Ketjantikanja kebidjaksanaannja, kegagah-beraniannja, kesaktianja sampai kini masih dituliskan diatas pedang, dipiala, dialat-alat musik, dengan kata-kata, sjair-asair serta pudjian-pudjian jang berapi-api. Satu njajian kaukasia berpuji:

”tamara memakai tudung-perang, dan telinganja dihiasi dengan anting-anting jang pandjang. Mantanja seperti zambrut giginja seperti mutiara, lehernja seperti jaspis. Ia memakai badju-perisal, menaiki kuda jang berwarna abu. Dibawa badju perisai itu, ia memakai badju kain atlas”.

Batu-kuburan tamara dikatakan bertulis: ”aku radja putri tamara aku mengisih neger-negeri dan laut-laut dengan namaku, aku menjuruh ikan-ikan berpindah dari laut hitam kelaut kaspia. Kudaku telah masuk kota ispahan, dan pedang ku telah kutanamkan dialun-alun medan dikota istambul. Sesuda aku berbuat ini semua, aku pindah keachirat dengan membawa kain sembilan depa.”

Tamara telah menaklukkan semua mushnja. Hanjalaut kaspian sadjalah jang belum mau tunduk. ”apakah jang tamarah radjah-putri dari semua radja-radja, dapat berbuat akan daku?”, begitulah laut kaspian menanja. ”kekuasaan tamara memang besar, tatapi lebih besar ialah ombakku dan gelombangku”.

Radja-puteri tamara mendengar perkataan ini, dan dengan berlahan ia menghadapkan mukanja kapada penantang itu. Diantara dua alisnja jang pandjang itu, mengerlutlah kulit-mukanja. Dengan segera, menjeranglah pradjurit –pradjurit kepada laut jang memberontak itu, dan pantai-pani laut kaspian memekik-mekik karena sakit. Ombak-ombak laut itu diserang dengan ninjak tanah, dan api menjala-njala mendjilat kelangit. Lama sekali laut kaspian berguling-guling didalam njalanja api, dan memekik memohon apun ia sanggup menjerakan semua kekajaannja dan sanggup tahluk semata-mata.achirnja diberikan ampunan itu oleh sang radja puri kepadanja.”

Demikianlah radja putri tamarah. Fanina h. Hale menudjukkan kepada kita, bahwa didalam dongang ini ditjeritakan satu amzone-motif jang tulen: perang melawan laut. Sebab, simbul apakah laut itu? Laut adalah simbulnja laki-laki! Bumi, tanah, adalah simbul perempuan, tatapi laut adalah simbul laki-laki. Sebagaimana djuga kita bangsa indonesia menganggap bumi itu sebagai simbul perempuan: simbul ibu, simbul ibu pratiwi, maka bagi oarang kaukasia bumi adalah djuga simbul perempuan. Tetapi manakalah kita menggap langit sebagai simbul laki-laki, manakalh kita berkata: ”berkata bapa angkasa, ibu pratiwi”, maka bangsah kaukasia dan djuga bangsa junani, menganggap laut sebagai simbul laki-laki bukankah tanah tidak dapat subur kalau tidak menerima kesuranja itu dari airnja laut? Maka dongeng perjuangan tamarah jang maha-tjantik itu, dapat pualah dianggap sebagai gambar perdjuangan antara azas peribuan dan azas perbapaan, antara hukum peribuang dan hukum perbapaan, antara matriachat dan patruarchat.

Tanarah hanjalah satu tjontoh sadja. Negeri lain-lain mempunjai ”tamara” jang lain-lain pulah. Tetapi ada satu hal jang sangat menarik perhatian kita dengan tamara kaukasia itu: tamarah kaukasia sebenja adalah satu figur jang bukang sama sekali ”dongang”! Ia adalah satu figur jang djuga oleh tarich diakui adnja ia satu figur historis. Ia mendjadi radja putri dikaukasia diantara tahun 1185 dan tahun 1214,-djadi belum sampai 800 tahun dibelakang kita. Apakah artnja ini? Ini berarti bahwa, kalu benar perdjuangan tamara itu satu perdjuangan matriarchat malawan patriachat, maka perpindahan dari hukum peribuan ke hukum perbapaan itu tidak terdjadi sama-sama-waktu diseluruh dunia, tidak serempak, melainkan beberapa waktu. Ada negeri jang ribuan tahun menegakan hukum perbapaan, dan negeri (sebagai kaukasia) jang baru ratusan tahun sadja memakai hukum ini, dan adapula negeri jang sampai zaman sekarang belum meninggalkan hukum peribuan sama sekali. Engels dan bachofen memang djuga mengatakan begitu! Da bukan sadja tidak serempak, – tjaranjampun menurut bebel berbeda-beda; masing-masing menurut keadaanja sendiri-sendiri.

Ambilah misalnja daera-daera dilingkungan negeri kita sendiri. Tidakkah njata berbeda-beda sifat restan-rastan hukum peribuan didaera-daera itu, berbeda-beda pula tjaranja hukum peribuan itu menggulung tikarnja, mengasih lapangan kepada hukum perbapaan islam? Ja, negeri kita memang salasatu negeri dimana perdjuangan antara hukum peribuan dan hukum perbapaan itu belum djuga selesai. Sampai sekarang dibeberapa daerah negeri kita itu masi dapat melihat berdjalanja ”revolusi-basjarakat” jang maha-hebat ini. Tetapi djanganlah pembatja mengira, bahwa dinegeri lain dizaman dulu perdjuangan ini selanja berdjalan begitu tenang sebagai misanja perdjuangan antara ”kaum adat” dan ”kaum agama”, di minangkabau sekarang. Kesopanan modern berpengaruh besar atas sifat perdjuangan di minakabau sekarang ini. Kesopanan modern itu ”menghaluskan” ”menjopankan” sifat perdjuangan itu, sedang dulu dizaman tua, keadaan-keadaan lain, dan manusia-manusiapun adalah lain. Orang zaman sekarang adalah orang ”beradap”, orang ”sopan”, – tatapi dulu?. Dulu orang merantai dengan rantai besi, memukul dengan kentes galih asam, menjembelih dengan golok terang-terangan. Karena itu maka perdjuangan antara matriarchat dan patriarchat dizaman dulu itu mungkin tidak begitu tenang sebagai di minangkabau sekarang ini.

Ja, dulu orang lebih ”mentah”. Patriarchatpun lebih ”mentah”. Suda sanja katakan, bahwa nafsu kepada milik, nafsu kepada milik perseorangan motornja matriarchat ini, dan bahwa perempuan didjadikan milik, didjadikan milik perseorangan. Sarina berpindah sifat, dan sifat memiliki mendjadi sifat memiliki, dari subjak mendjadi objek. Ia tadinja tjakrawati, ia kini mendjadi benda. Benda, jang dimiliki, jang harus disimpan, harus disembunjikan, tak boleh dilihat oarang lain, apalagi disentuh orang lain. Perempuan jang suka disentuh orang lain, disembelih kontan-kontanan.

Edward carpenter berkata: ”nafsu kepada milik itu membuat laki-laki menutup dan memperbudakkan perempuan jang ia tjintai itu,”

Ja, –  ”milik”! Karena itupun, tidak mengherankan, kalu ”milik” itu (dulu lebih ”mentah-mentahan” daripada sekarang) bukan sadja disimpan dan disembunjikan, tetapi djuga ditambahkan, sebagaimana orang menambah djuga barang milik jang biasa: dimana-mana patriarchat datang, disitu datanglah pula poligami, atau lebih besar: poligine, polyginie, jakni peristeriang jang banjak-banjak. Makin banjak perempuan, makin baik; sebab makin bertambah banjaknja ”milik” itu, berarti bertambahnja kesedjateraan dan kemuliaan, tenaga-berkedja dan kekuasaan, bertambahnja rezeki dan kemegahan. Manakala laki-laki hanja mempunjai isteri seorang sadja, maka ieteri satu tidak mendjadi halangan buat mengambil ”selir” berapabanjaknjapun djuga. Menurud keterangan indjil, maka koning salomo (sulaiman) mempunjai 700 isteri dan 300 orang selir! Demikianlah memang; adatnja patriarchat dizaman dulu! Perhatikanlah lagi beberapa tjontoh jang berikut ini: didalam kitap perdjandjian lama genesis, fatsal 16, ajat 1 dan 2, ditjeritakan bahwa nabi ibrahi disuruh oleh sara buat ”mengambil” budaknja jang bernama hadjar; djugak didalam geneses, fatsal 30, ajat 1 dan berikutnja, ditjeritakan bahwa jakub disuruh oleh rachel buat ”mengambil” budaknja jang bernama bilha, dan disuruh pula oleh lea (saudara rachel) buat ”mengambil” budaknja jang bernama zilpa.

Dan ada lagi satu hal jang bileh kita ambil dari tjerita jakub. Manurut indjil, maka isteri-isteri jakub jang bernama rachel dan lea itu, adalah dua saudara. Mereka kedua-duanja adalah anak laban. En to, mereka dua-duanja mendjadi isteri satu oarang! Inipun oleh patriarchat dianggap sopan, tidak melanggar kesusilaan.

Dan masi ada lagi satu hal penting dalam tjeritera jakub. Menurut indjil, jakub mendapat rachel dan lea itu dengan djalan membenja dari bapaknja: baik rachal maupun lea ia beli dengan mendjual tenaganja kepada laban, masing-masing tudju tahun lamanja. Maka kita disini mengindjak satu sifat penting patriarchat pula: perempuan milik jang harus dibeli. Inilah jang di dalam salasatu bab dimuka suda pula sadja terangkan: kawin – beli, perkawinan dengan djalan membeli, perkawinan dengan menganggap perenpuan itu sebagai satu benda perdagangan. Oarang djunani dizaman dulu menjebut wanita-wanitanja. ”alphesiboai”, jang artinja: menhatsilkan sapi, berharga sapi, boleh ditukarkan dengan sapi! Ja, perempuan satu benda perdagangan, jang, kalu suda dibajar harganja, dapat diperlakukan semau-maunja, oleh jang membelinja itu, ia boleh dipandang sebagai benda perhiasan runa, boleh disimpan dan disembunjikan rapat-rapat, boleh disuruh berkerdja mati-matian seperti budak-belian, boleh didjual lagi, boleh dibunuh, boleh diwariskan kepada ahli-waris bersama benda jang lain-lain. Ia boleh dihidupi atau tidak dihidupi, boleh dimanusiakan tau tidak dimanusiakan. Dizaman romawi dahulu menurut keterangan engels adalah satu kebiasaan bahwah perempuan itu, berserta semua famili, sebelum buaminja mati, sudah ditentukan dengan tastamen kepadasiapaka ia nanti akan diwariskan kalau suaminja mati. Ja, ia memang benda belaka, milik ia punja suami! Kalau ia dibunuh oleh suaminja itu, maka itupun hak suaminja. (engels). Sampai diabat kelima-belas di djerman dan dinegeri belanda menurut keterangan murner perempuan masi ”disuguhkan” kepada tamu, sebagai oarang manjuguhkan sepotong kuih, ”het is in naderland het gebruik, wanneer de man een gast heeft, dat hij hem zijn vrouw op goed geloof toevertrouwt”. Atau mungkinkah ini sisah ”ibu umum” dari pada hukum peribuan?

Dan kalau laki-laki mempunjai djukup sjarat untuk membeli perempuan itu? Tidak tjukup harta benda atau tidak mau membeli dengan tenaga-buruh seperti jakub kepada laban? Suda saja terangkan di muka: zaman dulu zaman ”mentah-mentahan”. Kalu tidak dapat dibeli perempuan itu, maka tiada keberatan moral sama sekali, djika perempuan itu ditjuri, dirampok mentah-mentahan. Kawin-ranpas itulah menurut keterangan saja dimuka tadi djuga salah satu sifat patriarchat liar. Kita semua suda pernah membatja tjerita ”perampokan perawan saba”, dan kita malh sering sekali melihat tjerita wajang dimana perempuan ditjuri dan dibawa lari. Didalam perdjandjian lama, bagian boeka der richteren, 21, ditjeritakan, bahwa kaum bunjamin mentjuri anank gadis silo.

”kawin beli” dan ”kawin rampas”,……….sampai sekarang kita masih mengalaminja dan mengerdjakannja, meskipu dengan djalan jang lebih ”sopan”. Sampai dizaman sekarang masi ada adat ”marlodjong” ditana batak dan di chili-selatan tiap-tiap pengantin perempuan ”barus dirampas lebih dulu” oleh suaminja, dengan persetudjuan orang tua atau tidak dengan persetujuan orang tua. Tapi djustru perkawinan jang demikian itu jang dianggap sjah. Dan apaka asalnja uang ”antaran” uang ”belis”, uang ”sasrahan” atau barang ”sasrahan” jang dikalangan bangsa eropa dan dikalangan bangsa kita sampai sekarang masi sadja orang bajarkan kepada penganti perempuan atau bakal mertua, – lain dari pada uang pembeli perempuan dizamannja patriarchat liar itu? Dikalangan eropa, terutama sekali dilapisa-lapisan jang atas, orang tidak segan-segan memperhubungkan perkawinan dengan perhitungan untung atau rugi dikalangan bansa kitapun, terutama sekali di ”tanah seberang”, njata perempuan masih dianggap barang dagangan diflores masi kuat sekali adat pembadjaran ”uang belis” sampai ratusan rupia; dibengkulu, di kroe, di lampung, di lain-lain negeripun ”uang antara” kadang-kadang sampai ribuan rupia! Sudah saja terangkan, bahwah inilah mendjadi sebab begitu banjak ”gadis tua” jang sampai tinggi – umur belum mempunjai suami: orang lelaki terhalang kepada perkawinan, oleh karena uang pembelianja begitu mahal! Dan bukan sadja kawin-beli-dengan-kontan kita kenal, kita di indonesiapun mengenal kawin-beli-dengan-kridit, (boleh ditjitjil) dan kita kenal djuga kawin-beli jang belinja dengan mendjual tenaga-buruh. Inilah jang oleh ahli ethnologi dan sosiologi dimanaka kawin-djasa, dan inilah jang kita jumpai pulah dibeberapa bagian di negeri kita antara lain dinegeri batak.

Dan kawin-rampas? Lihatlah adat-kebiasaan bangsa eropa, mengadakan ”perdjalanan perkawinan” sesuda nika! Pada asalnya adat-kebiasaan jang romantis ini tidak lain daripada adat-kebiasaan mentjuri (melahirkan) perempuan itu dari kekuasaan orang tua. Dulu dizaman purbagala waktu segalahal masih ”mentah” orang tentu sadja melawan atau menjerang kepada pentjuri itu dengan sendjata, mengejar dia dengan tombak dan panah, melempari dia dengan batu atau pentung, kini orang suda ”sopan”; kini orang melempari penganti jang mau berangkat untuk perdjalanan perkawinan itu dengan………..beras! dikalangan bangsa kita masih banjak djuga daera-daera jang perempuan itu ditjuri lebih dulu, misalnja sadja dinegeri tampauli, jang disitu masih ada adat ”marlodjong” atau ”dilondjongkan” (dilarikan), atau adat ”tangko babiat” (seperti matjat). Didaera pasemah adat itupun masi ada. Menurut keterangan eisler, maka pendjurian perempuan inilah jang mendjadi asalnja adat ”pembalasan daera” dizaman dulu, jakni asalnja adat bela pasti, ambil jawa balas sjawa, jang lazim terdapat disemua bangsa-bangsa diseluru muka bumi.

Tauka tuan asalnya adat ”tukar tjintjin” pada bamgsa eropa? Adat ini adalah berasal dari adt merampas perempuan: siperempuan diikat, dirantai oleh fihak jang merampas. Lambat-laun ”rantai” ini mendjadi lebih sopan. Dikota roma adat ini suda menjopan sedikit; sebagai tanda mendjadi hamba sang suami, maka pengantin perempuan diroma mendapat tjintjin besi dari iapunja suami. Dikemudian hari, maka diubahla tjintjin besi ini medjadi tjintjin tembaga, tjintjin perak, tjintjin embas, dan kemudian lagi mendjadi adat sekarang, jaitu lelaki dan perempuan ”tukar tjintjin” sebagai tanda setia satu sama lain dari dunia sampai achirat…………

Maka demikianlah, sifat-sifat patriarchat-liar itu masih sadja berkesan dalam adat-istiada dizaman sekarang, bukan sadja pada bangsa-bangsa jang belum berkemadjuan, tetapi djuga pada bangsa-bangsa jang suda modern seperti bangsa eropa dan amerika. Berabat-abat, ratusan tahun, ribuan tahun tjap ”benda” itu masi sadja melekat pada perempuan. Ia masih tetap sadja dianggap sebagai milik jang boleh dilakukan sesuka-suka oarang tuanja dan sesuka-suka suaminja. Dulu kasar-kasaran, kini halus-halusan; dulu mentah-mentahan, kini sopan-sopanan; tapi pada hakekatnja sama; laki-laki kuasa, isteri benda; laki-laki tuan, isteri hambah. Malah adat kebiasaan levirat masih djuga terus berdjalan sampai sekarang. Apaka leverat itu? Leverat adalah perkataan jang asalnja dari liver, jang artinja ipar. Liverat adalah adat, jang menetapkan, bahwa kalu sang suami mati, maka djandanja lantas mendjadi isterinja saudara-suami itu, – isteri iparnja sendiri -, atau isterinja keluarga-dekat dari suami itu. Njatalah disini perempuan itu dianggap sebagai satu milik jang dioperkan kesaudaranja suami jang mati. Atau setidak-tidaknja, ia hanjalah dianggap sebagai alat penegakkan keturunan sadja, satu alat pelahiran anak, satu ”mesin pengeram”! Di india orang perempuan jang tidak dapat hamil, dioperkan kepada saudara suaminja, sebelum suaminja itu mati, – tjoba-tjoba barangkali dengan saudara suami inilah jang dinamakan ”perkawinan njoga”, satu matjam perkawinan jang dasar-idiologinja sama dengan leverat itu. Dan ambilah adat kebiasaan orang jahudi. Didalam kitap perdjandjian lama, bagian kitap musa deuteronomium, 25, ajat 5 sampai 10, ternjatalah bahwa orang perempuan jang tak mempunjai anak, dioperkan kepada iparnja, kalau suaminja meninggal dunia. Benar didalam hukum jahudi pengoperan ini adalah satu hak jang boleh dituntut oleh djanda itu, – kalau si-ipar tak mau mengoper dia, dia boleh meludahi muka iparnja itu dimuka umum! -, tetapi hal ini tidak mengubah kepada dasarnja idiologi itu tadi: perempuan objek, perempuan benda, perempuan milik, jang disini menuntut pemeliharaan. Sebab, mentjari ketjintaan menurut kehendak hatinja sendiri, kawin dengan orang jang bukan ipar itu, dus menegakkan keturunan diluar lingkungan dasar suaminja jang mati itu, ia tidak boleh! Ia mesti kawin dengan ipar itu sadja, kalau ipar itu mau.

Lain-lain bangsa masih djuga ada jang mengerdjakan levirat itu, sampai sekarang: bangsu drus dan bangsa afghan, jang dua-duanja beragama islam, masih mengerdjkan adat ini, dan dinegeri kita antara lain-lain orang gajo dan alas dan pasema (telah beragama islam) dan orang batak (telah beragama serani) masi djuga belum melepaskan leferat itu. Sungguh dalam sekali tertanannja akar-akar patriarchat-liar itu didalam idiologinja sesuatu rakjat!

Ada lagi dua hal jang perlu saja terangkan lebih djelas disini berubungan dengan anggapan bahwa perempuan itu ”benda”: pertama hal persudalan, kedua hal ”perempuan mahluk dosa”.

Sala satu sifat patriarchat ialah persudalan. Bukan persudalan atau hetaerisme seperti dizaman hukum peribuan, tatkalah perempuan dianggap ibu-umum, tapi persudalan jang benar-benar persudalan: menjual diri pada laki-laki dengan mendapat uang, atau menjual diri pada laki-laki dengan mendapat barang ”harga” jang lain-lain. Dulu dizaman hukum peribuan persundalan itu satu ”amal keagamaan”, satu regiliuze daad, satu perbuatan jang diwajibkan oleh ibadat.. tetapi kini ia mendjadi arnal perdagangan. Perempuan, jang kini satu barang, satu benda jang da harga, jang tak dimiliki kalau tidak dibeli atau dirampas, perempuan itu kini mendjadi satu barang jang tidak tiap-tiap orang orang laki-laki mempunjai. Maka buat memusnakan sjahwat kaum laki-laki jang belum tjukup kekanjaan untuk membeli seorang isteri atau belum tjukup keberanian untuk merampas seorang isteri, timbulah perdagangan perempuan setjara ”barang etjeran”. Siapa belum mampu membeli seekor sapi, dapatlah ia membeli daging sekati sadja! Dan jang betul-betul menggambarkan idiologi patriarchat ialah, bahwah anggapan-umum tidak terlalu menolak atau membentji persudalan ini. Orang perempuan diwadjibkan setia, orang perempuan tidak boleh mendurhakai suami, orang gadis harus mendjaga betul-betul kegadisanja, tetapi orang lelaki, budnjaatau tidak pudnjang, boleh mengedjakan perzinahan diluar rumah sebanjak kali ia mau. Ja, bukan sadja anggapan umum, tetapi hukum negeripun hampir semua mengsjahkan persudalan itu! Dulu dinegeri junani, negaralah jang mengadakan defkterion-defkterion (rumah-rumah sundal), dimana tiap-tiap orang boleh melepaskan sjahwatnja dengan bajar tarif jang tetap, jakni kurang lebih lima gobang satu-kalinja. Dan dilain-lain negeri, diromawi, di jerusalem, di india, di nippon, disitupun dulu negara jang mendjai germo (pengurus rumah persundalan) jang pertama. Solon, pembuat hukum junani jang termashur, jang mula-mula mengadakan defkterion-defkterion itu, mendapat pudjian chalajak buat ”kebidjaksanaan” itu dengan kata-kata: ”solon, terpujilah engkau! Sebab engkau telah mengadakan sundal-sundal buat keselamatan kota, buat kesutjian kota jang penuh dengan pemuda-pemuda jang kuat, jang, umpama engkau tidak mengadakan aturan jang bidjaksanaitu, mistjaja akan menggangu keamanan perempuan-perempuan jang mulia!” sudakah tuan pernah mengetahui termasjhurnja ruma-ruma persudalan yoshiwara dikota tokio, jang mendapat perlindungan dari negara? Ingatlah tuan pula keadaan dinegeri kita sendiri beberapa puluh tahun jang lalu, waktu pemeritah belanda djuga mengakui sjahnja dan mereglementir persundalan itu? Maka begitu pula belum selang berapa lamanjasemua negara di eropa mensjahkan dan mengklementir persudalan itu. Jang dibekuk dan dimasukkan pendjara hanjalah sundal-sundal jang tidak memegang ”surat” sadja, jakni sundal-sundal jang belum tertjatat namanja didalam kitab register!

Memang tak dapat disangkal, bahwa persudalan itu bukan sekedar akibat ”kebedjatan moral” sadja, bukan sekedar satu akibat dari nafsu-birahi perempuan-perempuan liar, tetapi ialah satu keadaan jang tidak-boleh-tidak pasti lahir karena salahnja susunan masjarakat dan salahnja anggapan terhadap harga perempuab. Ia adalah satu ”buatan masyarakat” (perkataan enggels), ”ia adalah suatu buatan masjarakat seperti jang lain-lain; ia melandjutkan adanja kebebasan seksuil, – untuk kepentingan kaum-lelaki. Ia tak dapat lenjap, kalu susunan masjarakat jang salah itu tidak lenjap dan anggapan salah terhadap perempuan itu tidak dibongkar. Ia, menurut perkataan marx, tetap mengikuti peri-kemanusiaan ”sebagai satu banjangan”, sampai kealamnja ”peradapan” sekalipun. Dan ia sebaliknja djuga akan membangunkan satu ”buatan masjarakat” jang lain lagi, jang djuga tak dapat lenjap dizaman sekarang ini: ia membangunkan figurnja isteri jang mendurhakai suami, karena suami mendurhakai isteri. Laki-laki pergi bertjinta dengan sundal di luar rumah-tangga, isteripun jang ditinggalkan dirumah itu menerima pertjintaanja orang dari luar rumah tangga. Laki-laki tidak setia, perempuan tidak setia pula. ”disamping perlaki-isterian tunggal (antara seorang suami dan seorang isteri) dan hetaerisme (maksudnja: pelatjuran) pertjeraian adalah suatu peristiwa masjarakat jang tak dapat dihindari – dilarang, dihukum keras, tetapi tak dapat ditindas.” begitula engels menulis. Persundalan adalah satu buatan masjarakat. Walaupun dilarang keras, diantjam dengan hukuman berat, diperangi dengan wet dan pentjara, ia tidak dapat ditindas dan dihilangkan. Itulah sebabnja, maka meskipun patriarchat itu pertama-tama dan terutama sekali diadakan untuk ”memastikan turunan” toh sampai sekarang, kedati pendjagaan wet, kedati antjaman neraka jang bagaimanapun djuga ”siapa bapa” masi tetap satu soal ”kepertjanjaan” sadja, dan bukan satu hal jang dapat didjamin kepastianja. Satu hal ”kepertjajaan”, dan bukan satu hal kanjataan. Satu hal kira-kira, dan bukan satu hal kepastian. Sehingga kitab-hukum code napoleonpun, jang mendjadi tjontoh bagi banjak kitap-kitap-hukum di eropah, (antara lain-lain djuga mendjadi tjontoh hukum nederland), didalam artikel 312 ada menulis: lenfant concu pendant lemariaga a pour pere le mari”. – ”anak jang dihamilkan didalam persuamian-peristerian, jang dianggap mendjadi bapanja ia sang suami”. Dengan djitu dan djenaka sekali engels membubuhi kommentar atas artikel 312 code napoleon ini: inilah hasil jang paling baru dari tigaribu tahun persuamian-peristerian-satu!………

Marilah sekarang kita bitjarakan sifat patriarchat jang lain lagi itu: perempuan sebagai ”machluk dosa”. Inipun suda sadja tjeritakan sedikit-sedikit didalam bab jang dimuka. Patriarchat dengan djalan parit-paritnja ”agama” telah merendahkan kedudukan perempuan, atara lai dengan mengatakan, bahwa perempuan itu bikinan sjaitan. Sebagai-mana diantara kaum agama ada jang mengatakan, bahwa buat kemuliaan diachirat nanti, sebagai hal keduniaan harus didjauhi dan dibenji, jakni, bahwa kesutjian roh hanjalah dapat diperoleh apabila manusia mendjahui tiap-tiap nafsu kepada kekajaan milik dan kekajaan benda , – sebagaimana bagi setenga kaum agama, kemiskinan adalah satu ideal dan satu pedoman hidup -, maka terhadap kepada perempuanpun, (jang djuga benda, djuga milik, djuga kekajaan!), mereka berkata: djauhila dan pentjiilah perempuan itu, karena ia mendjahukan kaum dari nikmatnja achirat. Ane sekali pertentangan ini: kaum ”dunia” mentjari kemuliaan dan kenikmatan sebesar-besarnja dengan mengumpulkan sebanjak mungkin perempuan didalam rumah-tangganja laksana mengumpulkan sebanjak munkin ternak didalam kandang, kaum ”agama” mentjari kemuliaan dan kenikmatan dengan mensjaitankan tiap-tiap perhubungan, ja tiap-tiap angan-angan kepada perempuan! Faham bentji dan mensjaitankan perempuan dikalangan agama ini dinamakan asketisme dan selibat: (ascetisme dan celibaat).

Apaka arti asketisme dan selibat itu? Asketisme memulaikan tjara-hidup jang semiskin-miskinja, dan memerangi tiap-tiap nafsu kepada kemewahan dan kesenangan: baik nafsu kepada harta-kekanjaan, maupun nafsu kepada kelezatan makan dan minum, maupun nafsu kepada rumah-tanggaan, maupun nafsu kepada kepuasan sjahwat. Selibat memiliakan tjara-hidup tidak dengan perlaki-isterian, – lelaki tidak dengan perempuan, perempuan tidak dengan lelaki. Asketisme dan selibat suda menjelinap kedalam banjak agama dizaman dulu. Agama manu, agama buda, agama nasrani sampai kepadaberontaknja maarten luther diabat jang keenam belas, semuanja dimasukinja. Perempuan dianggap sebagai asal segala dosa. Perempuanlah dulu jang mendjatuhkan adam dari kemuliaan sorga, dan perempuanlah jang sampai achir zaman akan tetap berdanja-upanja menjatuhkan anak adam dari kemuliaan sorga, malah ada satu fihak jang berkata, bahwa memotong kemaluan (lelaki) adalah satu perbuatan jang dibenarkan oleh Allah; fihak ini menundjukan, bahwah didalam indjil mattheus 19 ajat11 dan 12 ada tertulis: ”ada orang jang terpotong, jang dilahirkan demikian oleh ibunja; dan ada orang jang terpotong, jang dipotong oleh orang lain; dan ada orang jang terpotong dirinja sendiri, untuk mendapat keradjaan achirat”. Menurut fihak ini, pengebirian adalah satu perbuatan mulia, tidak kawin satu perbuatan terputji, bentji perempuan satu tabiat jang maha-luhur. Origenes bekata: ”perkawinan adalah tidak kudus, satu hal jang kotor, satu alat pemuaska ajahwat”, dan buat menolak kekotoran ini ia telah memberi dirinja sendiri! Begitupun telah tertjatat dalam sedjarah, bahwa memang sering pendeta-pendeta jang merasa dirinja kurang kuat mengekan kehendak sjehwatnja dengan kekang djiwa sadja, lantas mengembiri diri sendiri, seperti origines itu. Tertullianus berkata: ”perempuan, engkau akan selalu mengeluh dan berpakaian kojak-kojak, matamu akan selalu penuh denga air-mata kemasjgulan, buat melupakan, bahwa engkaula telah mendjerumuskan peri-kemanusiaan kedalam lumpur kebinasaan. Perempuan, engkaulah pintu-gerbang neraka djahanan!”

Dimuka suda saja tuliskan, bahwa didalam agama jang lain-lainpun, mitsjalnja agama buddha dan manu, ada aliran keras jang mengharamkan perempuan itu. Didalam sufi-islampun aliran asketisme dan selibat itu keras sekali. Saja kira, didalam patriarchat-liar asketisme dan selibat dikalangan kaum agama adalah sama-sama satu buatan masjarakat sebagai persundalan adlah satu buatan masjarakat. Sebab, baik persundalan, maupun asketisme dan selibat, adalah sama-sama akibat daripada anggapan bahwa perempuan adalah milik dan benda; milik dan benda jang boleh didjual-belikan, atau – jang harus didjauhi agar dapat mentjapai kenikmatan achirat.

Suda barang tentu golonga-golongan agama jang mengikutu aliran asketisme dasn selibat itu tidak mau mengikuti, bahwa mereka merendahkan perempua. Mereka selau mengatakan, bahwa mereka djustru memuliakan perempuan. Mereka malah mengakui, bahwa tuhan ”kadang-kadang” mensutjikan perempuan djuga! Fihak islam – sufi mendjebutkan nama siti amina jang ditakdirkan oleh tuhan buat mengandung muhamad; fihak selibat – nasrani menjebutkan nama siti marjam; dan fihak buddha menjembutkan nama maya.. tidakka mereka semuanja perempuan-perempuan jang dimuliakan?

Mereka tidak mengetahui, bahwa dilai-lain agamapun ada perempua-perempuan jang dimuliakan, bahwa disembah!, tetapi jang disitu perempuan sebagai machluk-masjarakat di tindas dan direndamkan. Dawi kybele, dewi mylitta, dewi aphrodite, dewi venus, dewi ceres di eropa selatan, dewi edda, dewi freya dieropa utara, dewi sjri, dewi partiwi, dewi lakshmi, dewi koan im atau kwannon didunia timur – tidakkah mereka ini semuanja perempuan-perempuan jang disembah? Tetapi tidakkah dinegerinja dewi-dewi itu posisi sosial daripada kaum perempuan amat rendah sekali?

Marila sekarang kita palingkan muka ke indonesia. Dimanaka di indonesia masi ada patriarchat? Pertandjaan jang demikian ini kurang tegas. Jang dimaksudkan tentunja: dimanaka di indonesia masi ada patriarchat-liar? Sebab kita bangsa indonesia hampir semua hidup didalam sistem patriarchat. Ketjuali di daerah-daerah jang njata matriarchal, maka kita semua, beragama atau tidak beragama, kita semua patriarchal. Malahan dimuka telah saja katakan, bahwa agama islam dan agama kristen sebenarnja adalah koreksi atas patriarchat jang meng-ekses, koreksi atas hukum perbapaan jang bersifat kebiadapan. Hukum perbapaan jang mendindas dan menrampok, memperlakukan perempuan sebagai benda dan sebagai ternak, hukum perbapaan jang ”liar” itu dikoteksi, hendak diganti dengan hukum perbapaan jang adil dan baik. Tetapi agama sering sekali belum tjukup ”mendalam”, atau agama njata diabadikan oleh pengikut-pengikutnja, sehingga diberapa daerah indonesia jang pendudunja telah ”islam” atau telah ”kristen”, patriarchat-liar masi tampak dengan njata.

Saja dimuka telah mentjeritakan hal adat ”marlodjong” tanah batak memang masi tampak sekali ”klassik” ditentang kepatriarchatan. Kawin-beli, kawin-rampas, kawin-djual-tenaga, levirat (koophuwelijik, roofhuwelijk, diensthowelijk, levirat) masi semua bebekas ditanah batak itu. Orang batak jang hendak kawin, harus lebih dulu membanjar uang ”mangoli”, jakni uang membeli. Orang jang tidak mempunjai tjukup uang, bolehlah membeli kekasihnja dengan tenaga-kerdja; ia harus ’’sumondo”. Dengan dibelinja perempuan itu, pindahlah perempuan itu dari tenaga bapanja mendjadi milik suaminja sama sekali. Ia keluar dari marga sendiri, masuk kedalam marga suaminja sama sekali. Ia tidak mewaris harta-benda suaminja itu, kalu suaminja itu meninggal. Ia tidak boleh mewaris, malahan akan diwariskan. Kalau suaminja itu tidak mempunjai saudara atau tidak mempunjai keluarga jang dekat, maka meninggal suaminja itu ia boleh kembali kepada marganja sendiri, tetapi ia dimustikan membanjar kembali uang belianja lebih dahulu! Anank-anaknja jang perempuan tidak boleh ikut mewaris harta benda peninggalan bapanja, oleh karena mereka kelak toh akan dibeli oarang lain, – toh akan mendjadi milik oarang lain dan meninggalkan warga bapanja.

Pembatja melihat, semua sifat-sifat petriarchat terdapat kembali ditanah batak itu. Dengarkanlah perumpamaan batak dibawa ini:

Sian dangkana tu rantingna,

Siang angkangna tu agina.

Dalam bahasa indonesia kira-kira sebagai berikut:

Dari dahan kerantingnja,

Dari kakak keadinja.

Ja, kalau saudara-tua mati, saudara-muda akan mengganti dia! Orang jang mentjinta adat ini barang kali akan mengatakan, bahwa lavirat toh ada bainja djuga? Memang, barang kali lavirat ada ”maiknja” djuga: sldjanda tidak terus mendjadi janda, tetapi segera ada orang jang ”mengurus” akan dia. Memang ada satu sjair lain lagi, jang sering dinjanjikan oleh perempuan batak:

Tumagonan unang muli,

Tu anak sisada-sada.

Tung mate i annon,

Ndang andung na mangabia.

Dalam bahasa indonesia kira-kira begini;

Lebih baik njangan kawin,

Kepada anak sebatang kara.

Kalau dia nanti mati,

Tidak ada penggantinja.

Njatalah dari sjair ini, bahwa perempuan-perempuan itu sendiri seperti senang kepada levirat. Tetapi tidakkah benar pula kalau saja katakan, bahwa tiap-tiap adat, meskipun adat jang menindas bagaimanapun djuga kerasnja, telah merobah demikian rupa kepada rasa fikiran; ideologi fihak jang tertindas itu, sehingga mereka itu sendiri tjita kepada adat itu? Tidakah benar kalau sadja katakan, bahwa banjak perempuang tjinta kepada pingitan, tjita kepada hal bahwa silaki-laki menguruskan segala apasadja bagi mereka dan mereka tak usa ikut banjak pusing kepala ini dan itu, tjinta kepada ketentraman kehidupan disamping api-dapur dan buanian-anak sadja, – tidakkah benar kalau sadja katakan bahwa banjak perempuan tjinta kepada rantai jang merantaikan mereka?

Sjair jang kesua itu bukanlah satu alasan. Ia hanjalah satu buntut, satu akibat, ia tidak mematikan kentjataan, bahwa levirat adalah berdasarkan kepada pengertian ”benda”, berdasar kepada pengertian ”milik”. Ia berdasar kepada pengertian mewariskan milik. Didaera batak karo, seorang djanda jang dioper oleh saudara suaminja, lantas bernama ”lakoman” jang maknanja: penjedia makan. Ia ”mendatangkan makan”, ia satu milik jang menguntungkan! Seorang etnilog perna berkata. ”feltelijk is het devrouw, die den men onderhoudt; een batak, die troewt, ia voor de toekomt goborgen”. Artinja: ”sebenarnja, perempuanlah jang memberi makan kepada laki-laki; seorang batak jang kawin, terpeliharalah hidupnja buat seterusnja”.

Adakah lain-lain tempat lagi di indonesia dengan ”patriarchat-liar” jang masi njata? Ada! Bukan ditanah batak sadja ada sisa patriarchat-liar! Perhatikanlah: adat membanjar uang ”djeunames” sebelum laki-laki kawin disalah satu daerah atjah mengingatkan kita kepada kawin-beli terutama sekali oleh hal jang berikut: ”kalu siisteri meninggal dunia, maka silaki-laki itu boleh mengambil salah seorang gadis saudara isteri jang meninggal itu, sebagai gantinja, dengan tak uasah membanjar lagi ”djeutamee” sepeserpun djua. Didaera gojo dan alas njatalah perkawinan satu perbuatan membeli orang. Disana orang perempuan jang telah kawin (dan telah dibajar ”harganja”) disebutkan orang: ”anggo” (gaju) atau ”alog!” (alas). Dua-dua perkataan ini bermakna terbeli, keluarganja menamakan dia ”djuolon”, jang artinja: ”jualan”, – ”barang djualan” atau ”mengalih”, – mengalih sebagai milik, kepada lain tangan. Dan kalau suaminja tiada saudara atau keluarga, bolehlah ia pulang kembali kegampongnja; tetapi anak-anaknja tak boleh ia bawa. ”laha” pembelian itu tidak boleh dibawa keluar, tetapi harus tetap mendjadi rezeki fihak jang membeli!.

Di lampungpun dibeberapa daerah masi sangat tampak sifat pendjual-pembelian itu. Seorang etnolog menjatakan: ”perempuan(di lampung) jang telah dibeli oleh seorang laki-laki, tidak mempunjai hak apa-apa lagi sama sekali. Segala apa jang mendjadi miliknja, sehingga anak-anaknja sekalipun, mendjadi milik silaki-alaki itu. Kekuasaan bapa tidak berbatas. Sibapak itu berhak mengawinkan anak-perempuanja. Malahan sampai dibahagian pertama abat ke 19, sibapa itu mendjual anak-anaknja sebagai budak belian”.

Di lampung inilah, dan djuga didaerah bengkulu, sampai sekarang masi ada-adat ”djudjur”, adt ”kulo”, adat bajar ”uang antara”, jang semuanja pada hakekatnja ialah adat djual-beli perempuan. Besarnja ”djudjur” atau ”antaran” itu kadang-kadang ribuan rupia. Di endeh (flores) uang pembelian itu (disana dinamakan uang ”belis”) kadang-kadang djuga amat tinggi sekali. Saja sendiri di endeh perna menjaksikan orang membajar uang belis R 800.- (waktu uang masih mahal). Uang-uang pembelian jang amat tinggi itulah mendjadi sebab di beberapa daerah lampung, bengkulu dan flores banjak ”gadis tua”, di endeh ada beberapa ”gadis tua” jang telah berumur…………….60 tahun!

Tuan barang kali mananja: mengapa orang laki-laki kadang berani membajar orang pembelian jang begitu mahal!

Ambol, uang jang dibajarnja itu tidak terbuang pertjuma! Sebab satu kali ia buang uang, satu kali ia beli orang perempuan, satu kali ia ”pajah” atau ”meringis”, – seumur hidup ia boleh senang-senag gonjang kaki sadja: perempuan nanti bekerdja keras mentjari makan buat dia. Uang mangoli, uang djeunaee, uang djudjur, uang antaran, uang belis, -semuanja membawa laba. Jang pajah dan meringis nanti bukan jang membeli, tetapi jang dibeli djua adanja.

Sungguh benarlah perkataan bebel;  ”perempuan adalah budak belian, – budak belianpun dibeli dengan emas”!

Sudah mengetahui kita sekarang, apakah sifat-hakekat matriarchat dan patriarchat itu.

Sekarang, baiklah saja menindjau lebih dalm cksesekesnja (keliwat batasnnja) patriarchat itu.

Kita hasrus membuat perbedaan antara patriarchat jang meliwati batas, dan patriarchat jang tidak meliwati batas. Patriarchat jang tersebut belakangan ini, jakni patriarchat jang sekedar hanja untuk menetapkan hukum – turunan dan hukum –waris sadja, memang suda sesuai denga sjarat-sjarat kesuburan masjarakat. Ia ada tiang-besanjasoma, soko-gurunja somah. Revolusi sosial ”dari hukum peribuan kehukum perbapaan” adalah satu revolusi jang progresif. Demikianlah pula agamam islam dan agama kristen tidak menentang patriarchat jang demilian ini, tetapi malahan menetapkan benarnja patriarchat jang demikian ini.

Tetapi patriarchat melalui batas. Ia mengekaes. Ia mendjadi stelsel penindasan perempuan. Ia mendjadi stelsel jang merampas segala hak-hak perempuan, dan memindahkan hak-hak itu kedalam tangan laki-laki sadja sebagai monopoli. Dinawa ini saja hendak mememberi beberapa tjontoh jang amat menjedihkan.

Lebih dahulu, marilah kita dengan singkat meninjau kedudukan patriarcat berhubung dengan agama. Suda berulang-ulang sadja katakan, bahwa agama jang murni, jakni agama sebagai jang diandjurkan oleh nabi isa dan nabi muhamad sendiri, tidak berisi penindasan kepada perempuan. Nabi isa dan nabi muhamad malahan bermaksud mengoreksi ekses-ekses patriarchat jang pada waktu mereka berkerdja sebagai nabi allah, sedang mengamuk dinegeri mereka dan dinegeri-negeri lain.

Dinegeri nabi isa pada waktu itu adalah berlaku dua matjam kultur: kultur jahudi jang memang kultur asli disitu dan kultur hellenia-rumawi, jakni kulturnja kaum jang pada waktu itu medjadjah negeri jahudi.

Kedudukan kaum perempuan masjarakat jahudi paling tepat dapat sadja gambarkan dengan menguntip perkataan-perkataan jang diutjapkan oleh orang jahudi laki-laki didalam sebahjangnja tiap-tiap pagi: ”terpujilah tuhan rabbulalamin, jang telah membuat aku tidak perempuan”. Dan orang perempuan jahudi bersembahjang: ”terpujilah tuhan rabbulalamin, bahwah ia memembuat aku menurut kehendaknja”,

Dan kedudukan kaum perempuan dimasjarakat hellenia-rumawi telah sadja gambarkan dimuka dengan memberi tahu kepada pemtja, bahwa perkataan rumawi ”famulus” (keluarga) adalah bermakna: budak, hambah, abdi. Plato mengutjapkan terimakasi kepada dewa-dewa buat delapan matjam berkat jang dewa-dewa itu karuniakan kepadanja: jang pertama dari delapan berkat itu ialah, bahwa ia dilahirkan didunia sebagai orang-merdeka dan tidak sebagai budak-belia, dan jang kedua ialah bahwa ia dilahirkan sebagai laki-laki dan tidak sebagai perempuan. Dan dimukapun suda sadja katakan, bahwa dinegeri helleia (junani) perempuan disebutkan ”oikurema”, jang bermakna ”benda pengatur rumah tangga”.

Demikianlah keadaan perempuan dinegerinja nabi isa. Maka datanglah nabi besar ini mengoreksi ekses-ekses patriarcat itu. Dengan tegas dinjatakanja, bahwa bagi tuhan samalah laki-laki dan perempuan. Bahkan inilah jang mendjadi sebab, bahwa dizaman pertama daripada agama kriten itu, kaum perempuanlah jang paling giat mengikutinja dan paling giat membelenja. Merekalah jang dengan mulut tersenjum mendjalani siksaan-siksaan jang dilakukan kepadanja oleh musuh agama kristen,-dibakar hidup-hidup, dirobek-robek tubuhnja oleh singa, diseret-mati oleh sapi-sapi djantan sebagai ditjeritakan oleh sienkiwiecz didalam bukunja ”Quovadis” jang termasjhur. Diwaktiu itu masjarakat nasrani sangat menhargakan dan menghormat kepada perempuan.

Tetapi dizaman kemudian daripada itu, deradjat mereka diturunkan lagi. Nabi isa sendiri tidak pernah mengutjapkan sekatah katapun jang merendahkan kaun perempuan. Ini dapat dibuktikan dari kitap perdjandjian baru. Mitsalnja utjapan bahwa ”orang laki-laki adalah gambar dari kemasjhuran tuhan; orang perempuan adalah kemasjhuran orang laki-laki”, adalah utjapan dari zaman kemudian daripada nabi isa.

Ah, perempuan hanja kemasjhuran sadja dari orang laki-laki! Gambar dari orang laki-lakipun tidak! August bebel mengedjek utjapan ini dengan kata: ”dus tiap-tiap orang laki-laki total atau batjingan sekalipun, boleh menganggap dirinja lebih tinggi daripada perempuan jang bagaimana tjakap dan muliapun djuga. Didalam praktek, sajang sekali, keadaan memang begitu, sampai sekarang”.

Dan didunia islam? Didunia islampun begitu. Sebelum nabi muhamad dinubuahkan mendjadi nabi, arap djahilia berpestaraja didalam skses-ekses patriarchat dengan tjara jang mendirikan bulu. Dinegeri-negeri isin perempuan sekedar dibendahkan dan dibudakkan, tetapi diarap djahilia ia sering dianggap sebagai sampah jang mengotorkan. Anak-perempuan dibuang, dibunuh, dikubur hidup-hidup. Maka datanglah pemimpin besar muhammad memerangi ekses-ekses patriarchat itu. Tetapi beberapa waktu sesuda muhammad mangkat, datanglah lagi penindasan dan penghinaan. Sampai zaman sekarang, belum lenjap sama sekali perbudakan dan penindaan itu diberapa daerah ummat islam, baik di barat maupun di timur, di afrika tengah maupun di sentral-asia.

Dan dunia jang bukan kristen dan bukan islam?keadaan sekali tiga uang. Ekses-ekse patriarchat masih belum terhapus sama sekali. Ja, soal-perempuan memang belum selesai, djauh daripada selsai! Ada negeri-negeri jang walaupun suda berkemadjuan tinggi, disitu ekses-ekse patriarchat masi mengamuk dengan tjara jang mengerikan hati (djepang). Ada negeri-negeri jang disitu tadinja ekses-ekse patriarchat luarbiasa hebatnja, tetapi oleh karena negara dengan ulet dan seksama membanteraanja, kini suda banjak kuranja, meskipun belum lenjap sama sekali (rusia timur). Ada negeri-negeri disitu sudah banjak perubahan nasip perempuan, tetapi masih ada soal ”resak” atau ”scheur” sebai jang saja tjelaskan dimuka tadi (eropah, amerika). Dan adapulah negeri-negeri jang disitu kadaan perempuan masih sadja seperti beberapa ribuh tahun jang lalu, tatkalh nabi ibrahim berdjalan dipadang pasi. (hadramaut-dalam, tibet, d. L s).

Maukah membatjah satu tjotoh ekses-patriarchat dinegeri jang sudah berteknik tinggi? Saja tidak mengenal nalin tjontoh jang lebih ”tjituh” daripada dinegeri djepang. Umumnja orang-orang jang melihat keadaan perempuan dinegeri djepang, – apalagi jang melihatnja setjara pelantjongan turis sadja -, sangat tertarik oleh ”kekulturan” perempuan disana. Dan memang djuga orang-orang jang suda lama berdiam di djepang semuanja tertarik oleh ”kekulturan” mereka itu. Lafkandio hear. O”conroy, van kol griffis, lederer, alice m. Bacom, wdulersae, dan lain-lain pentjinta negeri nippon, semuanja memudji kehalusan dan kekulturan perempuan djepang. Semuanja mereka itu umumnja menjebutkan perempuan djepang ”dewi-dewi kebaikan”, ”pitri-putri kehalusan”, – bahasa belanda: engelen, bahasa inggelis: angels dalam, jang menjebabkan perempuan-perempuan djepang itu mendjadi dewi-dewi-kebaikan dan putri-putri-kehalusan. Mereka mengatakan bahwa hidup perempuan djepang adalah satu ”kesedihan” (tragedi), satu ”korbanan”. Dan bukan sekali-kali satu ”puisi”, satu sjair. Salah satu pemimpin indonesia jang dulu ikut dengan delegasi islam ke tokyo mendjadi kagum, tatkalah ia melihat bahwa orang perempuan djepang tidak mau duduk dikursi sebelum ia dipersilakan duduk dikursi sebelum ia dipersilakan duduk oleh suaminja jang telah duduk lebih dahulu. Kalu seumpama saudara ini mengetahui sebab-sebab jang lebih dalam daripada kebaktian ini, kalau ia mengetahui dasar sosial dari daripada kebaktian ini, – nistjaja ia tidak akan kagum, tetapi terharu!

Sungguh, amat mengharuhkan nasip perempuan nippon itu. Dimuka telah saja katakan, bahwa dulu, ratusan tahun jang lalu, sebelum zaman feodal, ia adalah sangat merdeka. Dulu ia memimpin masjarakat, mendjadi pemuka ilmu pengetahuan. Dulu ia mendjadi pembuat hukum negara, bahkan sepuluh kali ia mendjadi radja-puteri diatas singgasana negara. Dulu ia dinamakan ”sememnja masjarakat”, dan nipon dinamakan ”negeri wanita” atau ”negeri radja-radja wanita”. Tetapi sekarang! Sekarang ia menurut pendapat salah seorang penulis jang telah berdiam di nipon puluhan tahun (O’Conroy) tidak lebih dari ”benda” zaliman suaminja” dan ”seorang pengurus-rumah jang tidak bergadji dan alat-pelahirkan anak”. Dulu, menurut vankol, ia tak pernah menekuk lututnja dihadapan orang laki-laki, tetapi sekarang ia harus memandang suaminja itu sebagai ”jang dipertua jang wadjib ia berhamba dengan segalah kehormatan, dan segala pengagungan jang ia bisa berikan kepadanja” (weulerss). Sekarang ia tak boleh berdjalan dimuka sang suami, tetapi harus membuntut dibelakang samg suami. Bahasa jang ia pakai terhadap sang suami adalah alin dari bahasa jang ia pakai terhadap teman-temanja.  Bahkan bahasa jang ia pakai terhadap kepada ananja jang laki-laki, haruslah ali daripada bahasa jang ia pakai terhadap kepada anaknja jang perempuan!

Suaminja pergi melantjong, pergi menontong, pergi kerapat, pergi pelisir dengan sudal-sudal dirumah-rumah ”joronya” atau ”machiya”,  tetapi ia tinggal dirumah, – bekerdja, bekerdja,. Vain kol pemimpin belanda jang tjinta kepada negeri nipon itu menamakan perempuan nipon satu ”werkdier”, satu ”kuda beban jang tiada berhentinja berkerdja”. Van kol pulah jang menulis: ”perempuan (nipon) tidak masuk hitungan. Hanja si ”hapa” jang ada; ia (sibapa) adalah pusat segalah hal; ia mewakili dan meneruskan keturunan. Perempuan dianggap sebagai boneka sadja, tidak sebagai isteri, tidakpun sebagai orang jang dipertjaja”. Seorang penulis lain menjebutkan dia ”satu milik buat dipai, satu benda jang musti selalu ada”.

Kewadjiban-hidupnja jang terbesar, ”devoir pour ia vie”nja, ia menurut. – menurut kehendak sang suami. Demikian weulersse berkata. Dan seorang penulis nipon pula, shingoro taksishi, mengatakan: ”kewadjiban oaranag perempuan jang terbesar, seumur-hidup, ialah menurut”, – ”the grest lifelong duty of a woman is obedience”. Dan tjobalh pembatja perhatikan kalimat jang berikut, terambil dari buku nipon ”pengadjaran besar buat perempuan”: ”segalah apa sadja jang diperintahkan suami, harus diturut oleh perempuan dengan penuh ketaatan. Ia mensti menengadahkan muka kepada suami, seakan-akan suami itu setinggi langit. Ia mesti selalu memikirkan apakah jang dapat menjenangkan hati suami. Ia mesti bangun pagi-pagi, masuk tidur djauh malam, supanja rumah-tangga selalu beres. Adat kita dari zaman dulu ialah bahwa baji perempuan jang baru lahir, harus diletakan tiga hari lamanja diatas tanah. Dari adt kita ini ternjata, bahwa laki-laki tinggi seperti langit, dan perempuan rendah seperti tanah”.

Pada waktu orang perempuan nipon menikah, ia harus memakai pakaian jang berwarna putih, sebab bagi oarang nipon warna putih adalah warnaja maut. Simbolik ini berarti, bahwa pada waktu ia menikah, ia telah mati bagi kehendak-kehendak dan keinginan-keinginan sendiri. Orang tuanjapun pada waktu itu membakar api, – membakar api pada waktu kematian salah seorang keluarganja. Ia tinggal hidup bagi dia jang satu itu sadja, – tinggal hidup bagi sang suami.

Ia tidak boleh berkata apa-apa, kalu suaminja djauh-djauh malam belum pulang dari pelisir. Ia musti menunggu dengan sabar, memasang telinga dengan teliti, supanja, kalau ia mendengar jejak kaki suaminja di tangga, ia segera dapat membukakan pintu dan menghematnja dengan menekukan lutut ia tak boleh berkata apa-apa, kalaupun sang suami itu membawah sundal kedalam rumah. Ia malahan tak boleh berkata apa-apa, kalau sang suami memerintahkan kepadanja, membereskan tempat tidur buat suaminja, dan sundal itu, atau menjediakan ske hangat disebelah tampa: tidur itu, meskipun ia mengetahui bahwa sake itu buat menguatkan nafsu-birahinja sang suami itu, ia tak boleh berkata apa-apa kalau ia kemudian disuruh menutup pintu balik, disuruh menungguh duduk dimuka pintu itu itu, kalau-kalu nanti sang suami memanggil kepadanja dengan tepokan tangan, – meminta ini atau itu buat kesenangannja dengan sundal itu.

Didalam buku O’Conroy, profesor ini mentjeritakan satu pengalaman jang amat mengaruhkan:

”saja tidak akan dapat melupakan pengalaman  saja pertama kali, tatkala saja menjaksikan, betapa seorang anak-perempuan jang masih pengantin baru, duduk dimuka pintu kamar-tidurnja, menunggu suaminja memangil dia dengan tepokan tangan. Ia baru umur enambelas tahun dan belum banjak lebih dari seorang kanak-kanak. Ia mengirah telah mendapat satu keberuntungan jang besar, karena mendapat suami jang agak kaja. Ia sangat mendambahkan dirinja, rumah tangganja, suaminja. Ia agungkan suaminja itu sebagai seorang-orang jang mahamulja. Ia ingin sekali lekas mendapat seorang anak laki-laki.

Ia baru kawin seminggu, tatkalah suaminja datang dirumah membawah seorang sundal. Ia diperintahkan oleh suaminja itu mendjadi itu menjediakan tempat-tidur, dan menunggu dimuka pintu. Tatkal saja melihat dia itu, dia sedang duduk diatas tikar ketjil dari tjemari. Ia gojangkan badannja kemuka dan kebelakang, merintih seluruh tubuhnja sehingga kaku, dan tiap kali ia menundukan tubuhnja kemuka, dipukul-pukulkanlah kepalanja diatas papan. Tampaknja kepada saja ia seperti ia mau memukulkan keluar fikiran-fikiran jang ada didalam kepalanja itu. Sekonjong-konjong mengalirlah air-matanja banjak-banjak diatas pipinja. Ia mengigit-gigit bibir supanja tidak berteriak, dan darah menetes dari ujung-ujung mulutnja. Ia mengambil putjuk kinomonja, dan diputar-putarkanja didalam tanganja. Kemudia ia memasukan putjuk kimono itu kedalam mulutnja, supanja tidak keluar satu tjeritan sakit hatinja. Keadaan sanja disitu dianggap sebagai satu penghinaan oleh suami itu, dan sanja tidak berani lagi bertamu disitu setengah tahun lamanja. Tatkala saja bertamu lagi kesitu, – seperti suda ditakdirkan, sedang terdjadi lagi hal jang sama pulah suaminja dengan sundal didalam kamar. Tapi ini kali isterinja itu duduk tenang membatja surat kabar, dan tatkala ia melihat saja, berdirilah ia sesudah memanggutkan kepalanja setjara biasa, menjongsong kedatangan sanja, mengutjapkan selamat datang dengan sanja dengan muka jang tersenjum. Ia telah beladjar, beladjar bahwa kewadjipanja ialah menurut”……………….

Sungguh, tidak ada satu perempuan djepang jang tidak menurut. Sebab ketjemaran-nama jang paling sangat dinegeri djepang, kehinaan jang paling besar, ialah ditjeral (ditalak) oleh suami. Semua kehinaan masi dapat dipikul, semua kepedihan masih dapat ditahan, – ketjuali kehinaan jang satu ini. Lebih baik sengsarah dan menangis dalam hati seumur hidup, dari pada mendapat perintah dari sang suami supaja pulang. Dan suami ini dapat menjuruh dia pulang setiap waktu, pagi atau sore, siang atau malam. Begitulah keadaanja sekarang. Padahal dizaman dulu, suami jang mentjeraikan isterinja, kehilangan sama sekali harta miliknja, karena harta miliknja itu mendjadi hak isteri jang ditjeraikan itu!

Ja, – ”suami” – itulah kata satu-satunja jang terdapat didalam kamus seorang perempuan djepang. Ia seorang isteri jang ”sempurna”. Jang halus, jang mentjinta, jang taat, jang bakti, jang berkorban, – karena sang suami itu. Orang tak mudah mengerti hal ini. Dr. Nitobe sendiri, itu penulis djepang jang termasjhur, berkata, bahwa perempuan djepang itu sudah mendjadi satu soal, satu problem ”problem bagi dunia, problem bagi negerinja, problem bagi dirinja sendiri”. Ia mentjita mesti tak pernah ditjitah, mengorbankan dirinja meski tak pernah mendapat. Hidupnja. Menurut O’Conroy, adalah satu ”tetesan air-mata dan satu sennjuman satu kedukatjitaan jang dipikul dengan diam-diam, satu hidup mati-berdiri jang tiada persamaanja disudut dunia manapun djuah”. Baginja, menurut tulisan van kol, tidak-kawin adasatu moda jang amat besar, tetapi kawin satu siksaan jang amat pedih.

Betapa hebatja tjinta seorang perempuan djepang! Ia mentjita dengan segenap djiwanja, tetapi tak dapat mendjelmakan tjintanja itu. Karena suaminja tak mengizinkan dia duduk terlalu dekat. Ia musti selalu bersikap hormat, selau bersikap ”abdi”. Maka ditjurahkanlah tjintanja itu habis-habisan kepada anak. Lafendio hearn tidak mengenal satu hal jang lebih mengharuhkan hati, daripada seorang perempuan djepang jang mengusap-usap dan mentjium-tjium kepada anaknja. Matanja jang memandang kepada anaknja itu sering kali berlinanga-linang.

Tetapi, apakah laki-laki djepang membalasnja dengan tjita pulah?

Menurut semua ahli-ahli djiwa orang djepang, maka laki-laki djepang itu mengenal apa tjinta itu. Bahasa djepang tak mengenal kata buat ”tjita-kasih” didalam arti dan makna jang kita kenal kepadanja perkataan mereka buat ”tjintah” adalah satu perkataan jang bermakna persatuan tubuh, dan aksarah mereka buat ”tjitah” adalah aksarah jang memggambarkan persatuan tubuh. Perempuan bagi mereka hanja mahluk pelepas sjahwat. Tjeritan-tjeritan-rumah djepang hampir tak pernah berahir dengan ”happy end”, – jaitu kebahagiaan jitah-kasih antara laki-laki dan perempuan. Tjitah batin, tjita djiwa, tidak ada. Kaerena itu maka laki-laki djepang tidak mengarti, bahwa ia mendjalankan satu penghinaan kepada isterinja, kalu ia menjudal, menjelir, membawah perempuan lain kedalam rumah. Ia merasah boleh mempunjai selir (makake) berapa sadja, – diluar dan didalam rumah. Ia merasa boleh menjudal bebereapa kali sadja setiap hari, sekuat uang dan kemampuanja. Bergaul dengan geisha-gelisha dan perempuan djalan dianggapnja bukan satu ke-immorlian. Diseluruh negeri djepang ditiap-tiap sudut adalah rumah-rumah joroya macsyah. Tidak ada satu pesta, tidak ada satu perdjamuan, jang tidak ”disempurnakan” dengan geisha-geisha.

Perzinahan,- persetubuhan diluar nikah -, bukanlah satu dosa. Menurut perhitungan tjatjah-tjiwa ratja jang dikerdjakan oleh departemen tatausaha keraton beberapa tahun jang lalu, maka 60% dari anank-anak bangsawann adalah dilahirkan oleh isteri-isteri jang tidak dikawin. Tetapi djanganlah seorang perempuan jang sudah bersuami sjah, berzinah dengan laki-laki lain ! hukuman berat, dari wet dan dari etika, akan djatuh diatas kepalanja! Beberapa pulu tahun jang lalu, ia malahan didjatuhi hukuman mati karena perzinahan itu. Ia adalah sebuah milik jang tak boleh dirabah oleh orang lain; suami adalah jang memiliki-milik itu, dan suami itu boleh menanbah djumlah milik itu menurut kemampuanja. 134…………

BAB V

WANITA BERGERAK

Keadaan wanita jang ditindas oleh fihak laki-laki itu achirnja, tidak boleh tidak, nistjaja membangunkan dan membangkitkan satu pergerakan jang berusaha meniadakan segala tindasan-tindasan itu. Itu memang sudah hukum alam. Tetapi adalah hukum alam djuga, bahwa kesadaran dan kegiatan sesuatu pergerakan bertingkat-tingkat “Ber-evolusi”. Pergerakan perempuan ber-evolusi.

To be continued to page 144

Iklan

Komentar ditutup.