BUKU SARINA

KATA PENDAHULUAN

pada tjetakan pertama

Sesudah saja berpindah kediaman dari Djakarta ke Djokjakarta, maka di djokja itu tiap-tiap dua pekan sekali saja mengadakan “kursus wanita”. Banjak orang jang tidak mengerti apa sebabnya saja anggap kursus-kursus wanita itu begitu penting. Siapa jang membatja kitab jang saja sadjikan sekarang ini, ―jang isinya telah saja uraikan didalam kursus-kursus wanita itu dalam pokok-pokoknja―, akan mengerti apa sebab saja anggap soal wanita itu soal jang amat penting. Soal -wanita adalah soal- masyarakat!

Sajang sekali, bahwa soal-wanita itu belum pernah dipeladjari sungguh-sungguh oleh pergerakan kita. Sudah lama saja bermaksud menulis buku tentang soal itu, tetapi selalu maksud saja itu terhalang oleh beberapa sebab. Tetapi sesudah kita memproklamasikan kemerdekaan, maka menurut pendapat saja soal-wanita itu perlu dengan segera didjelaskan dan dipopulerkan. Sebab kita tidak dapat menjusun Negara dan tidak dapat menjusun masjarakat, djika (antara lain-lain soal) kita tidak mengerti soal-wanita. Itulah sebabnja saja, setiba saja di Djokjakarta, segera mengadakan kursus-kursus wanita itu.

Atas permintaan banjak orang, apa jang saja kursuskan itu kemudian saja tuliskan, dana saja lengkapkan pula. Buku “Sarinah” inilah hatsilnja.

Apa sebab saja namakan kitab ini “Sarinah”?

Saja namakan kitab ini “Sarinah” sebagai tanda terima kasih saja kepada pengasuh saja ketika saja masih kanak-kanak. Pengasuh saja itu bernama Sarinah. Ia “Mbok” saja. Ia membantu Ibu saja, dan dari dia saja menerima banjak rasa tjinta dan rasa kasih. dari dia saja mendapat banjak peladjaran mentjintai “orang ketjil”. Dia sendiripun “orang ketjil”. Tetapi budinya selalu besar!

Moga-moga Tuhan membalas kebaikan Sarinah itu!

Kata Pendahuluan ini saja sudahi dengan mengutjapkan banjak terimakasih kepada sdr. Muallif Nasution, jang selalu bekerdja keras menjelenggarakan penerbitan kitab “Sarinah” ini pula.

Djokjakarta, 3 Nopember 1947

BAB I

SOAL-PEREMPUAN

Satu pengalaman, beberapa tahun jang lalu, waktu saja masih “orang interniran”;

Pada suatu hari, saja datang bertamu bersama-sama seorang kawan dan isteri kawan itu pada salah seorang kenalan saja, jang mempunyai took ketjil. Rumah kediaman dan toko kenalan saja itu bersambung satu sama lain; bahagian muka dipakai buat took, bahagian belakang dipakai buat tempat kediaman.

Dengan budi jang amat manis kami diterima oleh kenalan itu, dipersilahkan duduk. Kami, ― jaitu kawan saja, isterinja, saja, dan tuan-rumah―, duduk berempat dekat medja-tulis took itu. Sigaret dikeluarkan, the dihidangkan. Sesudah bertjakap-tjakap sebentar, ― “bagaimana kesehatan?, “bagaimana perdagangan?”― maka kami (para tetamu) menerangkan kepada tuan rumah, bahwa maksud kami datang bukanlah untuk membeli ini atau itu, melainkan semata-mata hanja buat bertamu sadja.

Isteri kawan saja menanjakan: bagaimanakah keadaan njonja-rumah? ―ia ingin adjar-kenal dengan njonja-rumah.

Disini tuan-rumah nampak mendjadi sedikit kemalu-maluan. Rupanja ia dalam kesukaran untuk mendjawab pertanjaan itu. Sebentar telinganja mendjadi kemerah-merahan, tapi ia mendjawab dengan ramah-tamah: “O, terima kasih, ia dalam keadaan baik-baik sadja, tetapi sajang-seribu sajang ia kebetulan tidak ada dirumah, ― ia menengok bibinja jang sedang sakit”.

Isteri kawan saja menjesal sekali bahwa njonja-rumah tidak ada dirumah; terpaksa ia belum dapat adjar-kenal dengan dia hari itu.

Tetapi…. tak lama kemudian…. saja, jang duduk berhadapan kain tabir jang tergantung dipintu jang memisah bagian-toko dengan bagian-rumah-tinggal, saja melihat kain tabir itu bergerak sedikit, dan saja melihat mata orang mengintai. Mata orang perempuan! Saja melihat dengan njata: kaki dan udjung-sarung jang kelihatan dari bawah tabir itu, adalah kaki dan udjung-sarung perempuan!

Dengan segera saja palingkan muka saja, berbitjara dengan tuan-rumah dengan memandang muka dia sadja. Tetapi pikiran saja tidak tetap lagi. Satu soal telah berputar dikepala saja. Bukankah perempuan jang mengintai tadi itu isterinja tuan-rumah? Mana bisa, tuan-rumah toh mengatakan, bahwa isterinja sedang merawat orang sakit? Tetapi…. mengapa ia tadi kelihatan malu-malu telingaja kemerah-merahan, tatkala ditanja dimana isterinja?

Saja ada dugaan keras, bahwa tuan-rumah itu tidak berterus-terang. Rupa-rupanja isterinja ada dirumah. Tetapi ia tak mau memanggilnja keluar, supaja duduk ditoko bersama-sama kami. Sebaliknja ia tidak mau mempersilahkan isteri kawan saja supaja masuk kedalam. kebagian belakang, tempat kediamannja sehari-hari. Barangkali memang tidak ada tempat penerimaan tamu jang lajak, ditempat kediaman itu. Ia njata malu….

Sesudah bertjakap-tjakap seperlunja, kami bertiga permisi pulang. Kami mengambil djalan melalui kedai-kedai, dan pasar pula. Tapi pikiran saja terus melajang memikirkan satu soal, ― soal wanita.

Kemerdekaan! Bilakah semua Sarinah-Sarinah mendapat kemerdekaan?

Tetapi, ja ―kemerdekaan jang bagaimana?

Kemerdekaan seperti jang dikehendaki oleh pergerakan feminismekah, jang hendak menjamaratakan perempuan dalam segala hal dengan laki-laki?

Kemerdekaan ala Kartini? Kemerdekaan ala Chalidah Hanum? Kemerdekaan Ala Kollontay?

Seorang kawan saja, ―guru sekolah di Bengkulu―, mempunjai isteri jang ia tjintai benar. Kedua laki-isteri ini saja kenal betul-betul, kedua-duanja saja anggap seperti adik saja sendiri. Sang suami dialam Bengkulu termasuk golongan “Modern”, tetapi isterinja kadang-kadang mengeluh kepada saja, bahwa ia merasa dirinja terlalu terkurung.

Diluar pengetahuan isterinja, saja andjurkan kepada kawan saja itu supaja ia memberi kemerdekaan sedikit kepada isterinja. Ia mendjawab: Ia tak mengizinkan isterinja keluar rumah, djustru oleh karena ia amat tjinta dan mendjundjung tinggi kepadanja. Ia tak mengizinkan isterinja keluar rumah, untuk mendjaga djangan sampai isterinja itu dihina orang. “Pertjajalah Bung, saja tidak ada maksud mengurangi kebahagiaanja; saja hargakan dia sebagai sebutir mutiara”.

…. “sebagai sebutir mutiara”….

Ah, tidakkah banjak suami-suami jang menghargakan isterinja sebagai mutiara, ― tetapi sebenarnja merusak atau sedikitnja mengurangi kebahagiaan isterinja itu?

Mereka memuliakan isteri mereka, mereka tjintainja sebagai barang jang berharga, mereka pundit-pundikannja “sebagai mutiara”, ― tetapi djustru sebagaimana orang menjimpan mutiara didalam kotak, demikian pulalah mereka menjimpan isterinja itu didalam kurungan atau pingitan. Bukan untuk memperbudaknja, bukan untuk menghinanja, bukan untuk merendahkannja, katanja, melainkan djustru untuk mendjaganja, untuk menghormatinja, untuk memuliakannja. Perempuan mereka hargai sebagai Dewi, perempuan mereka pundit-pundikan sebagai Dewi, tetapi mereka djaga dan awas-awaskan dan “selalu tolong” djuga sebagai machluk jang sampai mati tidak akan mendjadi akil-balig. Kalau saja memikirkan hal jang demikian ini, maka teringatlah saja kepada perkataan Professor Havelock Ellis jang berkata, bahwa kebanjakan orang laki-laki memandang perempuan sebagai “suatu blasteran antara seorang Dewi dan seorang tolol”. Dipundi-pundikan sebagai seorang Dewi, dianggap tidak-penuh sebagai seorang tolol!

Tidakkah masih banjak laki-laki yang mendewi-tolol-kan isterinja itu? Malahan, tidakkah pada hakekatnja seluruh peradaban burdjuis dinegeri-negeri jang telah “sopan” pada waktu sekarang ini, terhadap kaum perempuan, berdiri atas kenjataan “Dewi-tolol” itu? Sebab, tidakkah seluruh hukum-sipil dan adapt istiadat dinegeri-negeri burdjuis itu sebenarnja masih men-dewi-tololkan perempuan?

Kita, bangsa Indonesia, kita terbelakang didalam banjak urusan kemadjuan. Kita (terutama sekali diluar tanah Djawa) didalam urusan posisi perempuanpun terbelakang, tetapi kebelakangan ini bermanfaat pula: Kita dapat melihat dari keadaan kaum perempuan dinegeri-negeri jang lain, bagaimana soal-perempuan harus kita petjahkan. Kita dapat melihat mana jang baik bagi kita, dan mana jang buruk. Jang baik kita ambil, jang buruk kita buang. Adakah misalnja hasil-hasil pergerakan feminisme di Eropah sudah memuaskan, ― memuaskan kepada kaum perempuan Eropah sendiri? Adakah pergerakan neo-feminisme memuaskan pula kepada kaum perempuan Eropah itu? Saja mengetahui, di Indonesia ada wanita-wanita feminis dan neo feminis. Tetapi kepada mereka itu saja ingin bertanja: Tahukah tuan, bahwa kaum perempuan Eropah sendiri tidak puas lagi dengan hasil feminisme atau neo-feminisme itu?

Henriette Roland Holst, itu pemimpin jang berkaliber besar pernah mengatakan bahwa feminisme atau neo-feminisme tak mampu menutup “scheur” (retak) jang meretakkan peri-kehidupan dan djiwa kaum perempuan, sedjak kaum perempuan itu terpaksa mentjari nafkah didalam perusahaan-perusahaan sebagai buruh: “scheur” antara perempuan-sebagai-ibu-dan-isteri, dan perempuan-sebagai-pekerja-dimasyarakat. Djiwa perempuan dahaga kepada kebahagiaan sebagai ibu dan isteri, tetapi peri-kehidupan sebagai buruh tidak memberi waktu tjukup kepadanja, untuk bertindak sempurna sebagai ibu dan isteri. Pergerakan feminisme dan neo-feminisme ternjata tidak mampu menjembuhkan retak ini.

Lagi pula, tidakkah kita melihat ekses (“keliwat batasan”) pergerakan feminisme di Eropah itu, jang mau menjamaratakan sadja perempuan dengan laki-laki, dengan tak mengingati lagi, bahwa kodrat perempuan tidak sama dengan kodrat laki-laki? Maksud feminisme jang mula-mula baik, jakni persamaan hak antara perempuan dan laki-laki, maksud-baik itu di-eksesi (diliwati batasnya dengan ekses) dengan mentjari persamaan segala hal dengan kaum laki-laki: persamaan tingkah-laku, persamaan tjara-hidup, persamaan bentuk pakaian, dan lain-lain sebagainja lagi. Kodrat perempuan diperkosa, dipaksa, disuruh mendjadi sama dengan kodrat laki-laki. Ekses jang demikian itu tak boleh tidak tentu achirnja membawa kerusakan!

Oleh karena itu sekali lagi sja katakana, bahwa kita, didalam segala kebelakangan kita itu, berada didalam posisi manfaat pula, jaitu dapat mentjerminkan masjarakat Republik Indonesia jang hendak kita susun itu, kepada pengalaman-pengalaman masjarakat perempuan dinegeri-negeri jang telah madju. Peladjarilah lebih dulu dalam-dalam pergerakan-pergerakan perempuan di Eropah, sebelum kita mengoper sadja segala tjita-tjitanja dan sepak terdjangnja! “Kita mempeladjari sedjarah untuk mendjadi bidjaksana terlebih dahulu”, demikianlah perkataan John Seeley jang termasjhur. Perkataan jang ditudjukan kepada arti mempeladjari sedjarah itu, boleh pula dipakai untuk mendjadi pedoman diatas djalan perdjoangan kaum perempuan didalam Republik Indonesia Merdeka.

“Djanganlah tergesa-gesa meniru tjara modern atau tjara Eropah, djanganlah djuga terikat oleh rasa konservatif atau rasa sempit, tetapi tjotjokkanlah semua barang dengan kodratnja”. Inilah perkataan Ki Hadjar Dewantara jang pernah saja batja. Saja kira buat soal-perempuan kalimat inipun mendjadi pedoman jang baik sekali.

Benar atau tidakkah perasaan saja ini? Sinar Mata jang mengintai itu seakan-akan satu simbul bagi saja, ―satu lambing. Sinar mata sinjonja-rumah tadi itu adalah sinar mata sebagian besar perempuan-perempuan kita. Kasihan njonja-rumah tadi itu! Duduk diruangan muka, di “tempat umum”, tidak boleh; tetapi ia dikurung, ditutup, dipingit; bukan ditempat jang luas, jang banjak sinar matahari,  tidak, melainkan disatu tempat jang gelap, jang sempit, jang tidak terpelihara. Tidakkah masih banjak perempuan kita bernasib begini? Merdeka, melihat dunia, tidak boleh, ―tetapi dikurungpun disatu tempat jang tidak selajakanja!

Ternak masih melihat dunia-luaran, tetapi dibeberapa daerah di Indonesia masih banjak Zubaida-Zubaida dan Saleha-Saleha jang dikurung antara dinding-dinding jang tinggi. Jang mereka lihat sehari-hari hanjalah suami dan anak, periuk nasi dan batu pipisan sadja. Ja, sekali-sekali mereka boleh keluar, sekali-sekali, kalau mau Sang Suami mengizinkan. Tjahaja matanja, jang dulu, waktu mereka masih kanak-kanak ketjil, adalah begitu hidup dan bersinar, tjahaja matanja itu, kemudian, kalau mereka sudah setengah tua, mendjadilah tjahaja mata jang seperti mengandung hikajat jang tiada achirnja. Tjahaja mata, jang seperti memandang kedalam keabadian!

Tjahaja mata jang demikian itulah jang kulihat mengintai dari belakang tabir….

Bagaimana pendirian Islam tentang soal-perempuan ini? Apakah Islam tidak mempunjai hukum-hukum tertentu tentang perempuan, sehingga didalam Islam tidak ada lagi soal perempuan?

Saja bukan ahli fiqh. Tentunja agama Islam mempunjai hukum-hukum tertentu tentang perempuan. Tetapi saja mengetahui, bahwa didalam masjarakat Islam, dulu dan sekarang, ada beberapa aliran tentang posisi perempuan. Ada jang “kolot”, ada jang “modern”. Ada jang “sedang”. Semuanja membawa dalil-dalinja sendiri. Mana jang benar? Mana jang salah?

Sekali lagi saja berkata: saja bukan ahli fiqh. Saja beragama Islam saja Tjinta Islam, saja banjak mempeladjari sedjarah Islam dan gerak-gerik masjarakat Islam, tetapi sajang beribu sajang, saja bukan ahli fiqh. Walaupun demikian, saja telah mentjari beberapa tahun lamanja dibanjak buku-buku jang dapat saja batja, bagaimanakah sebenarnja posisi perempuan dalam Islam. Sebagai saja katakana tadi, tentang hal ini saja mendjumpai banjak aliran. Sehingga bolehlah saja katakana disini, bahwa didalam masjarakat Islampun masih ada soal perempuan. Kesan jang saja dapat daripada apa jang saja batja itu, adalah sama dengan kesan jang didapat oleh Miss Frances Woodsmall sesudah beliau mempeladjari posisi perempuan didalam masjarakat Islam itu, jakni kesan, bahwa soal-perempuan adalah djustru bagian jang “most debated” ―bagian jang paling menimbulkan pertikaian― didalam masjarakat Islam.

Malahan seorang wanita Islam sendiri, ―Entjik Ratna Sari, jang dulu Dipadang― didalam satu risallah jang membitjarakan soal perempuan, ada menulis: “Masjarakat kitapun masih mengandung dilemma’s, soal-soal jang pelik, jang masih teka-teki sekarang, ―tapi sangat penting”.

Demikianlah. Saja berpendapat, bahwa soal perempuan seluruhnja (djuga dalam masjarakat Islam) masih harus dipetjahkan. Masih satu “soal”. Atau, djikalau memakai perkataan Entjik Ratna Sari: masih satu “dilemma”, masih satu “soal jang pelik”. Sekali lagi, soal perempuan seluruhnja, ―dan bukan hanja mitsalnja soal tabir atau lain-lain soal jang ketjil sadja! Soal perempuan seluruhnja, posisi perempuan seluruhnja didalam masjarakat,― itulah jang harus mendapat perhatian sentral, itulah jang harus kita fikirkan dan petjahkan, ahar supaja posisi perempuan didalam Republik Indonesia bisa kita susun sesempurna-sempurnanja.

Djadi: baik buat fihak jang meneropong soal-perempuan dengan teropong fiqh Islam, maupun buat fihak jang meneropong soal ini dengan teropong Rasionalisme belaka, soal ini haruslah masih dipandang sebagai satu soal jang masih perlu kita petjahkan. Dipetjahkan, difikirkan, dibolak-balikkan, bukan sadja oleh kaum perempuan kita, tetapi djuga oleh kaum laki-laki kita, oleh karena soal perempuan adalah memang satu soal masjarakat jang teramat penting. Dan tidakkah Nabi Muhammad s.a.w. pernah bersabda:

“Perempuan itu tiang negeri. Manakala baik perempuan, baiklah negeri. Manakala rusak perempuan, rusaklah negeri”?

Kaum laki-laki, marilah kita ikut memikirkan soal-permpuan ini! Dan marilah kita memikirkan soal-perempuan ini bersama-sama dengan kaum perempuan! Sebab didalam masjarakat sekarang ini, saja melihat bahwa kadang-kadang kaum laki-laki terlalu main Jang dipertuan diatas soal-soal jang mengenai kaum perempuan. Dia, kaum laki-laki, dialah kadang-kadang merasa dirinja diserahi memikirkan dan memetjahkan soal-soal sematjam ini, dialah kadang-kadang merasa dirinja tjukup bidjaksana untuk mengambil keputusan, ―sedang kaum perempuan tidak diadjak ikut bitjara, dan disuruh terima sadja apa jang diputuskan oleh kaum laki-laki itu. Tidakkah mitsalnja djanggal, bahwa soal tabir didalam rapat, jang dulu saja persembahkan kedalam pertimbangan para pemimpin, diputuskan oleh satu madjelis laki-laki sadja, sedang fihak perempuan tidak ditanja pendapatnja sama-sekali?

Sesungguhnya, kita harus beladjar insjaf, bahwa soal masjarakat dan negara adalah soal laki-laki dan perempuan adalah satu soal masjarakat dan Negara. Nanti, djikalau pembatja telah membatja uraian saja lebih landjut, maka akan mengerti, bahwa soal-perempuan bukanlah soal buat kaum perempuan sadja, tetapi soal masjarakat, soal perempuan dan laki-laki. dan sungguh, satu soal masjarakat dan negara jang amat penting!

Dan oleh karena soal perempuan adalah soal masjarakat, maka soal perempuan adalah sama tuanja dengan masjarakat; soal perempuan adalah sama tuanja dengan kemanusiaan. Atau lebih tegas: soal laki-laki-perempuan adalah sama tuanja dengan kemanusiaan. Sedjak manusia hidup didalam gua-gua dan rimba-rimba dan belum mengenal rumah, sedjak “zaman Adam dan Hawa”, kemanusiaan itu pintjang, terganggu oleh soal ini. manusia zaman sekarang mengenal “soal-perempuan”, manusia zaman purbakala mengenal “soal-laki-laki”. Sekarang kaum perempuan duduk ditingkatan bawah, dizaman purbakala kaum laki-lakilah duduk ditingkatan bawah. Sekarang kaum laki-laki jang berkuasa, dizaman purbakala kaum perempuanlah jang berkuasa. Kemanusiaan, diatas lapangan soal laki-laki-perempuan, selalu pintjang. Dan kemanusiaan akan terus pintjang, selama saf jang satu menindas saf jang lain. Harmoni hanjalah dapat tertjapai, kalau tidak ada saf satu diatas saf jang lain, tetapi dua “saf” itu sama-deradjat, ―berdjadjar― jang satu disebelah jang lain, jang satu memperkuat kedudukan jang lain.

Tetapi masing-masing menurut kodratnja sendiri. Sebab siapa melanggar kodrat alam ini, ia achirnja nistjaja digilas-remuk-redam oleh Alam itu sendiri. Alam benar adalah “sabar”, Alam benar tampaknja diam, ―tetapi ia tak dapat diperkosa, ia tak mau diperkosa. Ia tak mau ditundukkan.

Ia menurut kata Vivekenanda adalah “berkepala batu”!

BAB II

LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN

Allah telah berfirman, bahwa Ia membuat segala hal berpasang-pasangan. Firman ini tertulis dalam surat Jasin ajat 36: “Mahamulialah Dia, jang mendjadikan segala suatu berpasang-pasangan”; dalam surat Az-Zuchruf ajat 12: “Dan Dia jang mendjadikan segala hal berpasang-pasangan dan membuat bagimu perahu-perahu dan ternak, jang kamu tunggangi”; dalam surat Adz-Dzârijât ajat 49: “Dan dari tiap-tiap barang kita membuat pasang-pasangan, agar supaja kamu ingat”. Perhatikan: Segala barang, segala hal! Djadi bukan sadja manusia berpasang-pasangan, bukan sadja kita ada lelakinja dan ada wanitanja. Binatang ada djantannja, bunga-bungapun ada lelakinja dan perempuannja, alam ada malamnja dan siangnja, barang-barang ada kohesi dan adhesinja, tenaga-tenaga ada aksinja dan reaksinja, elektronelektron ada positif dan negatifnja, segala kedudukan ada tese dan antitesenja. Ilmu jang maha hebat, jang maha-mengagumkan ini telah keluar dari Mulutnja Muhammad s.a.w. ditengah-tengah padang pasir, beratus-ratus tahun sebelum di Eropah ada maha-guru-maha-guru sebagai Maxwell, Pharaday, Nicola Tesla, Descartes, Hegel, Spencer, atau William Thompson. Maha-bidjaksanalah Mulut jang mengikrarkan perkataan-perkataan itu, maha-hikmatlah isi jang tertjantum didalam perkataan-perkataan itu! sebaba didalam beberapa perkataan itu sadja termaktublah segala sifat dan hakekat alam!

Alam membuat manusia berpasang-pasangan. Laki-laki tak dapat ada djika tak ada perempuan, perempuan tak dapat ada djika tak ada laki-laki. Laki-laki tak dapat hidup normal dan subur tak dengan perempuan, perempuanpun tak dapat hidup normal dan subur tak dengan laki-laki. Olive Schreiner, seorang idealis perempuan bangsa Eropah, didalam bukunja “Drie dromen in de Woestijn”, pernah memperlambangkan lelaki dan perempuan itu sebagai dua machluk jang terikat satu kepada jang lain oleh satu tali-gaib, satu “tali-hidup”, ―begitu terikat jang satu kepada jang lain, sehingga jang satu tak dapat mendahului selangkahpun kepada jang lain, tak dapat madju setapakpun dengan tidak membawa djuga kepada jang lain. Olive Schreiner adalah benar: Memang begitulah keadaan manusia! Bukan sadja laki dan perempuan tak dapat terpisah satu dari pada jang lain, tetapi djuga tiada masjarakat manusia satupun dapat berkemadjuan, kalau laki-perempuan jang satu tidak membawa jang lain. Karenanja, djanganlah masjarakat laki-laki mengira, bahwa ia dapat madju dan subur, kalau tidak dibarengi oleh kemadjuan masjarakat perempuan pula.

Djanganlah laki-laki mengira, bahwa bisa ditanam sesuatu kultur jang sewadjar-wadjarnja kultur, kalau perempuan dihinakan didalam kultur itu. Setengah ahli tarich menetapkan, bahwa kultur Junani djatuh, karena perempuan dihinakan didalam kultur Junani itu. Nazi-Djerman djatuh, oleh karena di Nazi-Djerman perempuan dianggap hanja baik buat Kirche-Küche-Kleider-Kinder. Dan semendjak kultur masjarakat Islam (bukan agama Islam!) kurang menempatkan kaum perempuan pula ditempatnja jang seharusnja, maka matahari kultur Islam terbenam, sedikit-sedikitnja suram!

Sesungguhnja benarlah perkataan Charles Fourrier kalau ia mengatakan, bahwa tinggi-rendahnja tingkat-kemadjuan sesuatu masjarakat, adalah ditetapkan oleh tinggi-rendahnja tingkat kedudukan perempuan didalam masjarakat itu. Atau, benarlah pula perkataan baba O’illah, jang menulis, bahwa “laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sajapnja seekor burung”. Djika dua sajap itu sama kuatnja, maka terbanglah burung itu sampai puntjak udara jang setinggi-tingginja; djika patah satu dari pada dua sjap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama-sekali.

Perkataan Baba O’illah ini sudah sering sekali kita batja. Tetapi walaupun perkataannja itu hampir basi, ―kebenarannja akan tinggal ada, buat selama-lamanja.

Djadi, laki-laki dan perempuan menetapkan sifat-hakekat masing-masing. Tali hidup jang ditamsilkan oleh Olive Schreiner itu, bukan tali-hidup sosial sadja, bukan tali-hidup jang karena bersatu-rumah atau bersatu-piring-nasi sadja. Lebih asli dari pada pertalian perumahan-jang-satu dan piring-nasi-jang-satu, adalah tali hidupnja kodrat alam sendiri. Tali hidup “sekse”! Laki-laki tak dapat subur djika tak ada tali-sekse ini, perempuanpun tak dapat subur djika tak ada tali-sekse ini. Dan bukan tali-sekse jang tali seksenja fungsi biologis sadja, tapi djuga tali seksenja tali seksenja djiwa. Tiap-tiap sundal jang setiap hari barangkali mendjual tubuhnja lima atau sepuluh kali, mengetahui, bahwa “tubuh” masih lain lagi dari pada “djiwa”. dengan mendjual tubuh jang sampai sekian kali setiap hari itu, masih banjak sekali sundal jang dahaga kepada tjinta. Tali-sekse djasmani dan tali-sekse rohani, ―itulah satu bagian dari “tali-hidup” jang dimaksudkan oleh Olive Schreiner, jang mempertalikan laki-laki dan perempuan itu. memang tali-sekse djasmani dan rohani inilah kodrat tiap-tiap machluk, dus djuga kodrat tiap-tiap manusia. Manakala tali-sekse rohani dihilangkan dan hanja tali sekse djasmani sadja jang diputuskan, maka tidak puaslah kodrat alam itu. Pada permulaan diadakan kultur baru di Sovjet-Rusia, maka ekses perhubungan antara laki-laki dan perempuan adalah keliwat. “Tali-sekse” dianggap sebagai suatu keperluan tubuh sadja, sebagai mitsalnja tubuh perlu kepada segelas air kalau tubuh itu dahaga. “Teori air segelas” ini ditahun-tahun jang mula-mula sangat laku dikalangan pemuda-pemuda di Rusia. Madame Kollontay mendjadi salah seorang pengandjurnja. Siapa merasa dahaga seksuil, ia mengambil air jang segelas itu; ―”habis minum”, sudahlah pula. Beberapa tahun lamanja teori air segelas ini laku. Tetapi kemudian…. kemudian kodrat alam bitjara. Kodrat alam tidak puas dengan segelas air sadja, kodrat alam minta pula minuman djiwa. Kodrat alam minta “tjinta” jang lebih memuaskan tjita, “tjinta” jang lebih sutji. Lenin sendiri gasak teori air segelas ini habis-habisan dari semulanja ia muntjul. Dan sekarang orang disana telah meninggalkan sama sekali teori ini, orang telah mendapat pengalaman, bahwa Alam tak dapat didurhakai oleh sesuatu teori.

Semua ahli-ahli filsafat dan ahli biologi seia-sekata, bahwa tali-sekse itu adalah salah satu faktor jang terpenting, salah satu motor jang terpenting dari perikehidupan manusia. Disampingnja nafsu makan dan minum, ia adalah motor jang terkuat. disamping nafsu makan dan minum, ia menentukan perikehidupan manusia. Malahan ahli filsafat Schpenhauer ada berkata: “Sjahwat adalah pendjelmaan jang paling keras dari pada kemauan akan hidup. Keinsjafan kemauan-akan hidup ini memusat kepada fi’il membuat turunan,” begitulah ia berkata.

Kalau tali-sekse diputuskan buat beberapa tahun sadja, maka manusia umumnja mendjadi abnormal. Lihatlah keadaan didalam pendjara, baik pendjara buat orang laki-laki, maupun pendjara buat orang perempuan. Dua kali saja pernah meringkuk agak lama dalam pendjara, dan tiap-tiap kali jang paling mendirikan bulu saja ialah ke-abnormalan manusia-manusia didalam pendjara itu. pertjakapan-pertjakapan mendjadi abnormal, tingkah laku mendjadi abnormal. Sering saja melihat orang-orang didalam pendjara, jang seperti seperempat gila! Laki-laki mentjari kepuasan kepada laki-laki, dan direksi terpaksa memberi hukuman jang berat-berat.

Pembatja barangkali tersenjum akan pemandangan saja jang “mentah” ini, dan barangkali malahan menjesali kementahannja. Pembatja barangkali mengemukakan nama orang-orang besar, nama nabi Isa, nam Gandhi, nama Mazzini, jang mendjadi besar, antara lain-lain karena tidak mempunyai isteri atau tidak mentjampuri isteri. Ah,…. beberapa nama! Apakah artinja beberapa nama itu, djika dibandingkan dengan ratusan djuta manusia biasa dimuka bumi ini, jang semuanja hidup menurut kodrat alam? Kita disini membitjarakan kodrat alam, kita tidak membawa-bawa moral. Alam tidak mengenal moral, ―begitulah Luther berkata. Beliau berkata lagi: “Siapa hendak menghalangi perlaki-isterian, dan tidak mau memberikan haknja kepadanja, sebagai jang dikehendaki dan mustikan alam,― ia sama sadja dengan menghendaki jang alam djangan alam, jang api djangan menjala, jang air djangan basah, jang manusia djangan makan, djangan minum, djangan tidur!” Tali-sekse itu memang bukan perkara moral. Tali-sekse itu adalah menurut kodrat, dan sebagai dahaga adalah menurut kodrat pula!

Apakah maksud saja dengan uraian tentang tali-sekse ini? Pembatja, njatalah, bahwa baik laki-laki, maupun perempuan tak dapat normal, tak dapat hidup sebagai manusia normal, kalau tidak ada tali-sekse ini. Tetapi bagaimanakah pergaulan hidup dizaman sekarang? Masjarakat sekarang didalam hal inipun, ―kita belum membitjarakan hal lain-lain!― tidak adil kepada perempuan. Perempuan didalam hal inipun suatu machluk jang tertindas. Perempuan bukan sadja machluk jang tertindas kemasjarakatnja, tetapi djuga machluk jang tertindas ke-sekse-annja. Masjarakat kapitalis zaman sekarang adalah masjarakat, jang membuat pernikahan suatu hal jang sukar, sering kali pula suatu hal jang tak mungkin. Pentjaharian nafkah, ―struggle for life― didalam masjarakat sekarang adalah begitu berat, sehingga banjak pemuda karena kekurangan nafkah tak berani kawin, dan tak dapat kawin. Perkawinan hanjalah mendjadi privilegenja (hak-lebihnja) pemuda-pemuda jang ada kemampuan rezeki sahadja. Siapa jang belum tjukup nafkah, ia musti tunggu sampai ada sedikit nafkah, sampai umur tiga puluh, kadang-kadang sampai umur empat puluh tahun. pada waktu ke-sekse-an sedang sekeras-kerasnja, pada waktu ke-sekse-an itu menjala-njala, berkobar-kobar sampai kepuntjak-puntjaknja djiwa, maka perkawinan buat sebagian dari kemanusiaan adalah suatu kesukaran, suatu hal jang tak mungkin. Tetapi…. api jang menjala-menjala didalam djiwa laki-laki dapat mentjari djalan keluar, ―meliwati satu “pintu belakang” jang hina―, menudju kepada perzinahan dengan sundal dan perbuatan-perbuatan lain jang kedji-kedji. Dunia biasanja tidak akan menundjuk laki-laki jang demikian itu dengan djari tundjuk, dan berkata: tjih, engkau telah berbuat dosa jang amat besar! Dunia akan anggap hal itu sebagai satu “hal biasa”, jang “boleh djuga diampuni”. Tetapi bagi perempuan “pintu belakang” ini tidak ada, atau lebih benar: tidak dapat dibuka, dengan tak (alhamdulillah) bertabrakan dengan moral, dengan tak berhantaman dengan kesusilaan, ―dengan tak meninggalkan tjap-kehinaan diatas dahi perempuan itu buat selama-lamanja. Djari tundjuk masjarakat hanja menuding kepada perempuan sadja, tidak menundjuk kepada laki-laki tidak menundjuk kepada kedua fihak setjara adil. Keseksean laki-laki setiap waktu dapat merebut haknja dengan leluasa,― kendati masjarakat tak memudahkan perkawinan―, tetapi keseksean perempuan terpaksa tertutup. dan membakar dan menghanguskan kalbu. perempuan banjak jang mendjadi “terpelanting mizan” oleh karenanja, banjak jang mendjadi putus asa, oleh karenanja. Bunuh diri kadang-kadang mendjadi udjungnja. Statistik Eropah menundjukkan, bahwa dikalangan kaum pemuda, antara umur 15 tahun dan 30 tahun, jakni waktu keseksean sedang sehebat-hebatnja mengamuk dikalbu manusia, lebih banjak perempuan jang bunuh diri, daripada kaum laki-laki. Djikalau diambil prosen dari semua pembunuhan diri, maka buat empat negeri di Eropah pada permulaan abad ke 20, statistik itu adalah begini:

Ternjatalah, bahwa disemua negeri ini lebih banjak perempuan muda bunuh-diri daripada laki-laki muda. Sebabnja? Sebabnja tak sukar kika dapatkan. Keseksean jang terhalang, tjinta jang tak sampai, kehamilan jang rahasia, itulah biasanja jang mendjadi sebab.

Adakah keadaan dinegeri kita berlainan? Disini tidak ada statistik bunuh-diri, tapi saja djaminkan kepada tuan; enam atau tudjuh daripada sepuluh kali tuan membatja chabar seorang pemuda bunuh-diri disurat-surat chabar, adalah dikerdjakan oleh pemuda perempuan. Didalam masjarakat sekarang, perempuan jang mau hidup menurut kodrat alam tak selamanja dapat, karena masjarakat itu tak mengasih kemungkinannja. Dibeberapa tempat di Sumatera Selatan saja melihat “gadis-gadis tua”, jang tak dapat diperdjodohkan, karena adat memasang banjak-banjak rintangan, mitsalnja uang-antaran jang selalu terlalu mahal, kadang-kadang sampai ribuan rupiah. Roman mukanja gadis-gadis itu seperti sudah tua, padahal mereka ada jang berumur 25 tahun, 30 tahun, 35 tahun. Didaerah Indonesia jang lain-lain, saja melihat perempuan-perempuan jang sudah umur 40 atau 45 tahun, tetapi jang roman-mukanja masih seperti muda-muda. Adakah ini oleh karena perempuan-perempuan dilain-lain tempat itu barangkali lebih tjakap “make-up”nja daripada perempuan dibeberapa tempat di Sumatera Selatan itu? Lebih tjakap memakai bedak, menjisir rambut, memotong badju, mengikatkan sarung? Tidak, sebab perempuan ditempat-tempat jang saja maksudkan itupun tahu betul rahasianya bedak, menjisir rambut, memotong badju dan mengikatkan kain. Tetapi sebabnja “muka tua” itu ialah oleh karena mereka terpaksa hidup sebagai “gadis tua”,― tak ada suami, tak ada teman-hidup, tak ada kemungkinan menemui kodrat alam. Didalam bukunja tentang soal perempuan, August Bebel mengutip perkataan Dr. H. Plosz jang mengatakan, bahwa sering ia melihat, betapa perempuan-perempuan jang sudah hampir pejot lantas lantas seakan-akan mendjadi muda kembali, kalu mereka itu mendapat suami. “Tidak djarang orang melihat bahwa gadis-gadis jang sudah laju atau jang hampir-hampir pejot, kalau mereka mendapat kesempatan bersuami, tidak lama sesudah perkawinannja itu lantas mendjadi sedap kembali bentuk-bentuk badannja, merah kembali pipi-pipinja, bersinar lagi sorot matanja. Maka oleh karena itu, perkawinan boleh dinamakan sumber-kemudaan jang sedjati bagi kaum perempuan”, begitulah kata Dr. Plosz itu.

Tetapi kembali lagi kepada apa jang saja katakan tadi: masjarakat kapitalistis jang sekarang ini, jang menjukarkan sekali struggle for life bagi kaum bawahan, jang didalamnja amat sukar sekali orang mentjari nafkah, masjarakat sekarang ini tidak menggampangkan pernikahan antara laki-laki dan perempuan. Alangkah baiknya sesuatu masjarakat jang mengasih kesempatan nikah! Orang pernah tanja kepada saja: “Bagaimanakah rupanja masjarakat jang tuan tjita-tjitakan?” Saja mendjawab: “Didalam masjarakat jang saja tjita-tjitakan itu, tiap-tiap orang lelaki bisa mendapat isteri, tiap-tiap orang perempuan bisa mendapat suami”. Ini terdengarnja mentah sekali, tuan barangkali akan tertawa atau mengangkat pundak tuan, tetapi renungkanlah hal itu sebentar dengan mengingat keterangan saja diatas tadi, dan kemudian katakanlah, apa saja tidak benar? Didalam masjarakat jang struggle for life tidak seberat sekarang ini, dan dimana pernikahan selalu mungkin, didalamnja masjarakat jang demikian itu, nistjaja persundalan boleh dikatakan lenjap, prostitusi mendjadi “luar biasa” dan bukan satu kanker sosial jang permanent jang banjak korbannja. Professor Rudolf Eisler didalam buku ketjilnja tentang sosiologi pernah menulis tentang persundalan ini: “Keadaan sekarang ini hanjalah dapat mendjadi baik kalau perikehidupan ekonomi mendjadi baik, dan mengasih kesempatan kepada laki-laki akan menikah pada umur jang lebih muda, dan mengasih kesempatan kepada perempuan-perempuan jang tidak nikah, buat mentjari nafkah sonder pentjaharian- pentjaharian tambahan jang merusak kehormatan”.

Pendek kata: pada hakekatnja jang sedalam-dalamnja, soal perhubungan antara laki-laki dan perempuan, djadi sebagian daripada “soal-perempuan” pula, bolehlah kita kembalikan kepada pokok jang saja sebutkan tadi: jakni soal dapat atau tidak dapat haknja keseksean, soal dapat atau tidak dapat alam bertindak sebagai alam. Dimana alam ini mendapat kesukaran, dimana alam ini dikurangi haknja, disitulah soal ini mendjadi genting. Saja tidak ingin kebiadaban, saja tidak ingin tiap-tiap manusia mengumbar hantam-kromo sadja meliwat-bataskan kesekseannja, saja tjinta kepada ketertiban dan peraturan, saja tjinta kepada hukum, jang mengatur perhubungan laki-perempuan didalam pernikahan mendjadi satu hal jang luhur dan sutji, tetapi saja kata, bahwa masjarakat jang sekarang ini didalam hal ini tidak adil antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki minta haknja menurut kodrat alam. Ditentang haknja menurut kodrat alam ini tidak ada perbedaan antara lelaki dan perempuan. Tapi, dari masjarakat sekarang, lelaki njata mendapat hak jang lebih, njata mendapat kedudukan jang lebih menguntungkan. Sebagai machluk perseksean, sebagai geslachtswezen, perempuan njata terdjepit, sebagaimana ia sebagai machluk-masjarakat atau machluk-sosial djuga terdjepit. Laki-laki hanja terdjepit sebagai machluk-sosial sadja didalam masjarakat sekarang ini, tapi perempuan adalah terdjepit sebagai machluk-sosial dan sebagai machluk-perseksean.

Alangkah baiknja masjarakat jang sama adil didalam hal ini. Jang sama adil pula didalam segala hal jang lain-lain. Saja akui, Adalah perbedaan jang fundamentil antara lelaki dan perempuan. Perempuan tidak sama dengan laki-laki, laki-laki tidak sama dengan perempuan. Itu tiap-tiap hidup mengetahuinja. Lihatlah perbedaan antara tubuh perempuan dengan tubuh laki-laki; anggauta-anggautanja lain, susunan anggautanja lain, fungsi-fungsi anggautanja (pekerdjaannja) lain. Tetapi perbedaan bentuk tubuh dan susunan tubuh ini hanjalah untuk kesempurnaan tertjapainja tudjuan kodrat alam, jaitu tudjuan mengadakan turunan, dan memelihara turunan itu. Untuk kesempurnaan tertjapainja tudjuan alam ini, maka alam mengasih anggauta- anggauta tubuh jang spesial untuk fungsi masing-masing. Dan hanja untuk kesempurnaan tertjapainnja tudjuan kodrat alam ini, alam mengasih fungsi dan alat-alat ke-“laki-lakian” kepada laki-laki, dan mengasih fungsi serta alat-alat ke-“perempuanan” kepada perempuan: Buat laki-laki: memberi dzat anak; buat perempuan; menerima dzat anak, mangandung anak, melahirkan anak, menjusui anak, memelihara anak. Tetapi tidaklah perbedaan-perbedaan pula didalam perikehidupan perempuan dan laki-laki sebagai machluk-masjarakat.

Sekali lagi: ada perbedaan anatara laki-laki dan perempuan. Tetapi sekalai lagi pula saja ulangi disini, bahwa perbedaan-perbedaan itu hanjalah karena dan untuk tudjuan kodrat alam, jakni hanjalah karena dan untuk tudjuan perlaki-isterian dan peribuan sadja. Dan sebagai tadi saja katakan, ketjuali perbedaan tubuh, untuk hal ini adalah perbedaan psichis pula antara laki-laki dan perempuan, jakni perbedaan djiwa. Professor Heymans, itu ahli djiwa jang kesohor, jang mempeladjari djiwa perempuan dalam-dalam, mengatakan bahwa perempuan itu, untuk terlaksanja tudjuan kodrat alam itu, adalah melebihi laki-laki dilapangan “emotionaliteit” (rasa terharu), “activiteit” (kegiatan), “chariteit” (kedermawaan). Perempuan lebih lekas tergojang djiwanja daripada laki-laki, lebih lekas marah tetapi djuga lebih lekas tjinta-lagi daripada laki-laki, lebih lekas kasihan, lebih lekas “termakan” oleh kepertjajaan, lebih ichlas dan kurang serakah, lebih lekas terharu, lebih lekas mengidealisirkan orang lain, lebih boleh dipertjaja, lebih gemar kepada anak-anak dan perhiasan, dan lain sebagainja. Semuanja ini mengenai djiwa. Tetapi anggapan orang, bahwa perempuan itu akalnja kalah dengan laki-laki, anggapan orang demikian itu dibantah oleh Professor Heymans itu dengan tegas dan djitu: “Menurut pendapat saja, kita tidak mempunjai hak sedkitpun, buat mengatakan, bahwa akal perempuan kalah dengan akal laki-laki”.

Tiap-tiap guru dapat membenarkan perkataan Professor Heymans ini. Saja sendiri waktu mendjadi murid di H.B.S. mengalami, bahwa seringkali murid lelaki “pajah” berlomba kepandaian dengan teman-teman perempuan dan malahan pula sering “terpukul” oleh teman-teman perempuan itu. Pada waktu saja mendjadi guru disekolah menengahpun saja mendapat pengalaman, bahwa murid-murid saja jang perempuan umumnja tak kalah dengan murid-murid saja jang laki-laki. Professor Freundlich, itu tanagn kanannja Professor Einstein didalam ilmu bintang jang pada tahun 1929 mengundjungi Indonesia, dan kemudian mendjadi maha-guru disekolah tinggi Istambul didlam mata peladjaran itu pula. menerangkan, bahwa studen-studennja jang perempuan tak kalah dengan studen-studen laki-laki. “Mereka selamanja boleh diajak memutarkan otaknja diatas soal-soal jang maha sukar”. Professor O’Conroy jang dulu mendjadi maha-guru di Keio Universiteit di Tokio, mentjeritakan didalm bukunja tentang negeri Nippon, bahwa Nippon selalu diadakan udjian-udjian perbandingan (vergelijkende examens) antara lelaki dan perempuan oleh kantor-kantor gubernemen atau kantor-kantor dagang jang besar-besar, dan bahwa selamanja kaum perempuan njata lebih unggul darpada kaum laki-laki.

Ada-ada sadja alasan jang orang tjari buat “membuktikan”, bahwa kaum perempuan “tak mungkin” menjamai (djangan melebihi) kaum laki-laki ditentang ketadjaman otak. Orang katakan, bahwa otak perempuan kalah banjaknja dengan otak laki-laki! orang lantas keluarkan angka-angka hatsil penjelidikan ahli-ahli, seperti Bischoff, Seperti Boyd, Seperti Marchand, seperti Retzius, seperti Grosser. Orang lantas membuat daftar sebagai dibawah ini:

Nah, kata mereka mau apa lagi? kalau ambil angka-angka Retzius dan Grosser, maka otak laki-laki rata-rata beratnja 1388 gram, dan otak perempuan rata-rata 1252 gram! Mau apa lagi? Tidakkah ternyata laki-laki lebih banjak otaknja daripada perempuan.

Ini djago-djago kaum laki-laki lupa, bahwa tubuh laki-laki djuga lebih berat dan lebih besar daripada tubuh perempuan! Berhubungan dengan lebih besarnja tubuh laki-laki itu, maka Charles Darwin jang termasjhur itu berkata: “Otak laki-laki memang lebih banjak dari otak perempuan. Tetapi djika dihitung dalam per-bandingan dengan lebih besarnja badan laki-laki, apakah otak laki-laki itu benar-benar besar?” kalu dihitung didalam perbandingan dengan beratnja tubuh, maka ternjatalah (demikian dihitung) bahwa otak perempuan adalah rata-rata 23,6 gr. per kg. tubuh, tetapi otak laki-laki hanja…. 21,6 gram per kg. tubuh! Djadi kalau betul ketadjaman akal itu tergantung dari banjak atau sedikitnja otak, kalau betul banjak-sedikitnja otak mendjadi ukuran buat tadjam atau tidak-tadjamnja fikiran maka perempuan musti selalu lebih pandai dari kaum laki-laki!

Ja, kalau betul ketadjaman akal tergantung dari banjak-sedikitnja otak! Tetapi bagaimana kenjataan? Bagaimana hatsil penjelidikan otaknja orang-orang jang termasjhur sesudah mereka mati?  Ada ahli-ahli fikir jang banjak otaknja, tetapi ada pula harimau-harimau jang tidak begitu banjak otaknja! Cuvier, itu ahli fikir, otaknja 1830 gr., Byron itu penjair besar, 1807 gr, Mommsen 1429,4 gr., tetapi gembong ilmu hitung Gausz hanja 1492 gr., ahli falsafah Hermann hanja 1358 gr., (dibawah “nomor”!), gadja falsafah dan ilmu hitung Leibniz hanja 1300 gr, (dibawah “nomor”) djago phisica Bunsen hanja 1295 gr, (dibawah “nomor”!), kampiun politik Perantjis Gambetta hanja 1180 gr. (malahan dibawah “nomor perempuan” sama sekali!). sebaiknja, Broca, itu ahli fisiologi Paris jang termasjhur, pernah mengukur tengkorak-tengkorak manusia dari Zaman Batu, —dari zaman tatkala manusia masih biadab dan bodoh!— dan ia mendapat hatsil rata-rata 1606 cm2, satu angka jang djauh lebih tinggi dari pada angka-angka isi tengkorak dari zaman sekarang. Malahan teori “lebih banjak otak lebih pandai” ini ternjata pula menggelikan, sebab Bischoff pernah menimbang otak majat seorang kuli biasa, —tentu seorang-orang bodoh—, dan dia mendapat record 2222 gr.!, sedang Kohlbrugge berkata, bahwa “otak orang-orang jang gila atau idiot sering sekali sangat berat”! Dari mana orang masih mau tetap menuduh bahwa perempuan kurang tadjam fikiran, karena orang perempuan kurang banjak otaknja kalau di bandingkan dengan orang laki-laki?

Tidak, “alasan otak” ini adalah alasan kosong. “alasan oatak” ini sudah lama dibantah, dihantam, dibinasakan oleh ilmu pengetahuan! Bebel didalam bukunja mengumpulkan utjapan-utjapan ahli wetenschap tentang “alasan otak” ini. Raymond pearl berkata; “tidak ada satu bukti, bahwa antara ketadjaman akal dan beratnja otak ada perhubungan satu dengan jang lain”; Duckwoorth menetapkan: “tidak ada bukti bahwa manusia jang banjak otaknja itu manusia jang tadjam akal”; dan Kohlbrugge menulis pula: “antara ketadjaman akal dan beratnja otak tidak ada pertalian apa-apa”. Dan tidakkah ada tjukup bukti, bahwa perempuan sama tadjam fikirannja dengan kaum laki-laki, sebagai dikatakan oleh Prof. Heymans, Prof. Freundlich, Prof. O’Conroy itu tadi, dan boleh ditambah lagi dengan berpuluh-puluh lagi keterangan ahli-ahli lain yang mengakui hal ini, kalau kita mau? Tidakkah kita sering mendengar nama perempuan-perempuan jang mendjadi bintang ilmu pengetahuan atau politik, sebagai Madame Curie, Eva Curie, Clara Zetkin, Henriette Roland Holst, Sarojini Naidu, dll?

Tuan barangkali akan membantah, bahwa djumlah perempuan-perempuan kenamaan itu belum banjak, dan bahwa didalam masjarakat sekarang kebanjakannja kaum laki-lakilah jang memegang obor ilmu pengetahuan dan falsafah dan politik. Benar sekali: didalam masjarakat sekarang ini, dimana laki-laki mendapat lebih banjak kesempatan buat menggeladi akal-fikirannja, maka kaum laki-lakilah jang kebanjakan menduduki tempat-tempat kemegahan ilmu pengetahuan. Didalam masjarakat sekarang ini, dimana kaum perempuan banjak jang masih kurung, banjak jang tidak dikasih kesempatan madju kemuka dilapangan masjarakat, banjak jang baginja diharamkan ini dan diharamkan itu, maka tidak heran kita, bahwa kurang banjak kaum perempuan jang ilmu dan pengetahuaannja membumbung ke udara. Tapi ini tidak mendjadi bukti bahwa dus kwaliteit otak perempuan itu kurang dari kwaliteit otak kaum lelaki, atau ketadjaman otak perempuan kalah dengan ketadjaman otak laki-laki. Kwaliteit sama, ketadjamannja sama, kemampuannja sama, hanja kesempatan-bekerdjanja jang tidak sama, kesempatan-berkembangnja jang tidak sama. Maka oleh karena itu, djustru dengan alasan kurang dikasihnja kesempatan oleh masjarakat sekarang kepada kaum perempuan, maka kita wadjib berichtiar membongkar ketidak-adilan masjarakat terhadap kaum perempuan itu!

Bahkan terhadap fungsi kodrat dari kaum perempuan jang kita bitjarakan tadi itu, jakni fungsi mendjadi ibu: menerima benih anak, melahirkan anak,menjusui anak,memelihara anak,-terhadap fungsi kodrat inipun  laki-laki masih belum menghargakan kaum perempuan! Orang laki-laki membusungkan dadanja seraja berkata: kita, kaum laki-laki, kita madju kepadang perempuan, kita berani menghadapi bahaja-bahaja jang besar,  ”apakah jang perempuan perbuat?” orang laki-laki mengagul-n\agulkan kelakianja menghadi maut, mengagul-agulkan djumlah djiwa laki-laki jang mati guna keperluan sedjarah, seraja berkata: ”bahaja apakah jang perempuan hadapi?” orang laki-laki jang demikian ini tak mengetahui, bahwa dulu di jaman purbakala tatkala hukum masjarakat belum sepertsekarang ini, ialah di zaman ”hukum pribuan” alias matriachat,- jang didalam bab III dan IV akan saja terangkan panjang lebar -, kaum perempuanlah jang mengemudi masjarakat, kaum perempuanlah jang berkuasa, kaum perempuanlah jang mengepali peperangan, kaum perempuanlah jang memanggul senjata, kaum perempuanlah jang mengorbankan djiwanja guna sedjarah. Dan lagi …..apakah benar perempuan lebih berbahaja dari pada melahirkan anak? Apakah benar perempuan minta lebih banjak korban dari pada melahirkan anak? Tiap-tiap ibu dapat menerapkan, bahwa melahirkan anak itulah jang sangat berbahaja disepanjang hidup seorang manusia. Tiap-tiap ibu pernah menghadapi maut setidaknja satu kali dalam hidupnja, jakni pada pada waktu melahirkan anak,- maut itu, sudahkah kita mersakan nafas maut jang dingin itu menjilir dimuka kita?

Terutama di negri-negri jang belum besar usaha ke dokteran, seperti di eropa pada zamn dulu, atau di asia zaman sekarang, tidak sedikit djumlah perempuan jang jatuh diatas padang kehormatan melahirkan anak. Dulu di negri pruisen sadja, (perhatikanlah, belum djerman seluruhnja) antara tahun 1816 dan 1876, pada waktu ilmu kedokteran pada mulai subur, jumlah perempuan jang meninggal akibat melahirkan anak adalah 321,791 orang,- jakni rata-rata 5363 setahun-tahunja! Djumlah ini di negri inggeris antara tahun 1847 dan 1901 adalah 213,533, jakni, kendati waktu itu ichtiar kedokteran telah mdju pula, tak kurang dari 4000 setahun-tahunj! ” tjoba laki-laki musti menenggung sengsara perempuan ini, maka baragkali segala pap diributkan untuk menolongja!”, begitulah kata prof. Herff. Di eropa, djumlah-djumlah itu sekian besarnja! Betapa pula dikampung-kampung dan didusun-dusun kita, dimana dokter masih belum dikenal oleh banjak orang! Betapa pula keadaan dikalangan sarinah!  Maka benar sekali konklusi august bebel, kalau ia mengatakan, bahwa didalam sedjarah manusia ini, kalau didjumlahkan, lebih banjak perempuan jang melepaskan padang kehormatanja melahirkan baji, dari pada laki-laki melepaskan padang djiwanja dipadang kehormatan peperangan.

Orang laki-laki! Ia selalu menghina sadja kepada perempuan. Ia mentertawakan perempuan jang hamil, ia meremehkan arti melahirkan baji,ia tak ingat bahwa ia sendiri adalah hatsil dari kesengsaraan dan kepedihan ibunja jang bertahun-tahun. ” bagi dia, bigi laki-laki”- begitulah edward carpenter, seorang pembela pempuan di negri inggeris, berkata- ” bagi laki-laki bahwa persetubuhan itu adalah suatu peringanan dan satu kenikmatan. Ia kemudian pergi, dan tidak ingat lagi akan perbuatanja itu. Tapi bagi perempuan fi’il ini adalah satu hal jang sangat mulia dan paling berarti dalam hidupnja, laksana suatu perintah jang maha rahasia dan maha penting. Bagi perempuan, fi’il ini adalah satu perbuatan jang banjak akibat-akibatnja, satu perbuetan jang ia tak dapat hapuskan lagi atau lupakan lagi,- satu perbuatan jang harus ia selesaikan dulu dengan segala akibat-akibatnja, sebelum ia merdeka lagi……hanja sedikit kaum laki-laki, barang kali tidak ada seorangpun, jang insjaf akan dalamnja dan sutjinja rasa ibu didalam kalbu seorang perempuan, tidak seoarang pun jang ikut maerasakan kebahagiaanja dan harapa-harapanja, atau keluh kesahnja dan ketakutannja jang maha pedih. Bebannja kehamilan, kechawatirannja pada waktu melihat, bahwa apa jang dikandungnja itu selslu berubah sifat; ketakutannja kalau-kalau apa jang dikandungnja itu tidak selamat seperti jang diharap-harapkannja; kerelaannja kalau perlu manebus dengan djiwanja sendiri, asalkan sibaji itu lahir dengan selamat,- semua adalah hal-hal jang oarang laki-laki tak dapat mengira-ngirakan atau meraba-rabanja, kemudian, kemudian dari pada itu, pengorbanan jang ibu kasihkan buatkeselamatan sianak ketjil; keletihan dan kepajahan jang bertahun-tahun, jang sama sekali mendorong kebelakang segala fikiran-fikiran akan kesenangan diri sendiri; serta rasa tjinta dan rasa kasih jang tak perna orang nilaikan dan hargakan betul….. dan kemudian lagi, rasa pilu dan rasa sunji kalau nanti anak laki-laki dan anak perempuan itu masuk kedunia ramai dan memutuskan tali perhubungan dengan rumah tangga. Disini tali-tali petrsaudaraan itu diputuskan, sebagai mana duluy tali ari-ari diputuskan puya. Buat segala hal jang sedih-sedih ini perempuan tak dapat berharap akan dapat rasa simpati dari fihak akaum laki-laki”.

Begitulah perkataan edward carpenter. Moga-moga allah melimpahkan rachmad kepada semua ibiu-ibu didunia, jang semuanja, satu-satu dilupakan orang moga-moga allah melimpahkan rachmat kepada pembuat-pembuat kemanusiaan itu, kepada ini ”bouwsters dermenschheid” jang semuanja tida ada jang mintak diblas djasa, tidak ada jang minta dibalas budi, dan moga-moga allah bukakan mata kita semua, aqgar supanja kita bisa lebih menghormati dan menghargai kaum perempuanitu!

Djanganlah kaum laki-laki lupa, bahwa sifat-sifat jang kita dapatkan sekarang pada kaum pere4mpuan itu, dan membuat kaum perempuan itu menjadi dinamakan ”kaum lemah”, ”kaum bodoh”, ”kaum singkat pikiaran”, ”kaum nerimo”, dan ll. Bukankah sifat-sifat jang karena kodrat ada terlekat pada kaum perempuan, tapi adalah buah besar dari ahatsil penggurungan dan perbudakan kaum perempuan jang turun-temurun. Dizaman dulu, sebagai saja katakan tadi, dizamannbja matriarchat jang nantidi dalam bab III dan IV akan saja terangkan lebih djelas, dizaman dulu itu sifat-sifat kelemahan itu tidak ada. Ilmu pengetahuan jang modern telah mene4tapkan pengaruh keadaan (milieu) diatas djasmani dan rohani manusia. Apa sebab kaum kuli dan kaum tanin badannja umumnja lebih besar dan kuat dari pada kaum “atasan”? Oleh karena milieu kuli adalah mengasih kesempatan kepada badan sikuli itu untuk mendjadi besar dan mendjadi kuat. Apa sebap-sebap perempuan kuli lebih kuat dan besar dari perempuan kaum ”atas”? Oleh kareana milieu perempuan kuli adalah lain daripada milieu perempuan kaum atas. Apa sebab bangsa-bangsa negeri-dingin tabiatnja lebih dinamis, lebih giat, lebih ulet daripada bangsa-bangsa dinegeri panas? Oleh karena milieu milieu di negeri dingin memaksa kepada manusia supaja sangat giat didalam struggle for life, sedang dinegri panas mitsalnja di indonesia sini manusia hidup dengan setengah menganggur,- dengan tak berbaju, tak berumah, dan tak usabanjak membanting tulanh

tobe continued to page

BAB III

DARI GUA KE KOTA

Ilmu pengetahuan (wetenschap) sudah lama membantah pendapat setengah orang, bahwa adanja manusia dimuka bumi ini barulah 6000 tahun atau kurang-lebih 7600 tahun sadja. Ilmu Geologi, Anthropologi, Archeologi, Histori dan Praehistori menetapkan dengan bukti-buktijang njata, jang dapat diraba, bahwa manusia itu telah ratusan ribu tahun mendiami muka bumi ini; Sir Arthur Keith mitsalnja menghitung zaman manusia itu pada kurang-lebih 800.000 atau 900.000 tahun. Setidak-tidaknja tak kurang dari 300.000 tahun (I. H. Jeans). Hanja sadja harus diketahui, bahwa manusia purbakala itu belum begitu sempurna sebagai manusia zaman sekarang. Manusia zaman purbakala jang bernama Pithecanthropus Erectus (± 500.000 tahun j.l.), Homo Heidelbergensis (± 250.000 tahun j.l.), Eoanthropus (± 100.000 tahun j.l), Neanderthalmensch (±50.000 tahun j.l), manusia-manusia ini semuanja kalah kesempurnaannja dengan manusia zaman sekarang. Tetapi 35.000 tahun jang achir ini, sudahlah ternjata dengan bukti-bukti, bahwa manusia sudah “sempurna” seperti kita zaman sekarang. Sudah barang tentu djumlah manusia itu dulu djauh kurang pula daripada sekarang. Sudah barang tentu pula tidak dimana-mana dimuka bumi itu selalu ada manusia, dan tidak dimana-mana pula zaman manusia itu sama tuannja.

Ada negeri-negeri jang sudah lama didiami manusia, ada negeri-negeri jang belum begitu lama didiami oleh manusia. Sebaliknja, ada pula negeri-negeri, jang dulu didiami manusia, tetapi sekarang kosong dan sunji. Mitsalnja sadja padang pasir Sahara. Ada bekas-bekas kultur manusia di Sahara itu, jang membuktikan, bahwa disitu dizaman dulu banjak air dan rumput dan pohon-pohonan, banjak sjarat-sjarat untuk manusia dan binatang untuk hidup, dan tidak padang pasir jang kering, terik, dan kosong seperti sekarang. Sebaliknja, negeri-negeri Utara seperti Swedia dan Norwegia, jang sekarang begitu banjak manusianja, dizaman dulu adalah kosong oleh karena samasekali tertutup dengan es jang bermeter-meter tebalnja.

Perhitungan Sir Arthur Keith itu disendikan kepada bukti-bukti jang ada. Tetapi mungkin djuga ilmu pengetahuan nanti mendapat lagi bukti-bukti jang lebih tua mendjadi “tua” dari itu, sehingga perhitungan Sir Arthur Keith itu terpaksa didjadikan “lebih tua” lagi, Maka lantas terpaksa kita mengatakan, bahwa bukan 800.000 tahun, bukan 9000.000 tahun sudah ada manusia, tetapi bisa djuga 1.000.000 tahun, atau 1.100.000 tahun, atau 1.200.000 tahun. Tetapi bagaimanapun djuga, njatalah sudah salahnja pendapat setengah orang, bahwa manusia itu baru 7600 tahun sadja mendiami dunia ini.

Sudah barang tentu manusia purbakala itu (meskipun kita mengambil manusia-manusia “jang betul-betul manusia” dari zaman praehistori jang terachir) ketjerdasannja, tjara hidupnja, anggapan-anggapannja, adat-istiadatnja, kebutuhan-kebutuhannja, pergaulan hidupnja, lain daripada manusia zaman sekarang. Manusia-manusia purbakala itu pada mulanja hidup didalam rimba-rimba dan gua-gua. Mereka belum mempunjai perkakas, mereka belum kenal besi, mereka belum tjukup tjerdas membuat rumah. Malahan rumah ini bukan sadja tak perlu bagi mereka. Tetapi djuga… akan merugikan kepada mereka. Sebab dizaman jang pertama itu, manusia hidup dari memburu dan mentjari ikan, seperti binatang-binatang djuga ada jang memburu dan mentjari ikan. Mereka selalu berpindah-pindah tempat, tempat jang sudah habis binatangnja dan ikannja mereka tinggalkan, untuk mentjari lain tempat jang banjak binatangnja dan banjak ikannja pula. Mereka adalah hidup setjara “nomade”, jang selalu berpindah kian kemari, djadi jang tak perlu mempunjai “rumah”. Hutan dan gua, itulah rumah mereka.

To be continued to page 45

BAB IV

MATRIARCHAT DAN PATRIARCHAT

Satu kali perempuan berkedudukan mulia, jakni dizaman berkembangnja matriarchat. Adakah ini berarti, bahwa kita, untuk kemulian perempuan itu musti mengharap diadakan kembali sistim matriarchat itu?

Anggapan jang demikian ini adalah anggapan jang salah, walaupun misalnya orang perempuan sekalipun jang beranggapan begitu. Sering sekali ada perempuan menanja kepala saja: tidaklah lebih baik dari kami sistim peribuan itu daripada sistim jang sekarang ini? Sebab, tindakan di dalam sistim peribuan itu perempuan berkedudukan mulia? Saja selalu mendjawab: djangan tertarik oleh nama sadjal bungkan fikiran jang demikian itu dari ingatan saudara! Pertama oleh karna kita mentjari keselamatan masjarakat seumumja, dan tidak keselamatan perempuan sadja; kedua oleh karna matrirachat itu adalah hatsil perbandingan-perbandinga-masjarakat jang kuno dan tidak ciapat diadakan lagi didalam masjarakat sekarang; dan ketiga oleh karena tidak selamanya peribuhan itu mengasih tempat mulia kepada naum perempuan.

Lebih dulu marilah kita ingati bahwa perkataan ba-chofen, bahwah dimana sadja ada hukum peribuan; disitu pasti kedudukan perempuan tinggi dan mulia, sudah dibantah oleh ilmu pengetahuan: hukum peribuan ada jang membawa kemuliaan bagi perempuan, tetapi ada djuga jang tidak membawah kemuliaan bagi perempuan, sebab, apakah hukum peribuan itu pada asalja? Hukum peribuan pada asalja hanjalah satu aturan untun mendjaga, djangan sampai manusia-manusia dari satu kekeluargaan hantam-kromo sadja kawin satu sama lain, sehingga hatam-kromo pula turunaja bertjampuran darah. Ia dalah reaksi kepada kebiasaan promiskuitteit (pergaulan laki-perempuan hatam-kromo) jang disitupun pergaulan laki-laki perempuan tak mengenal batasan ibu, anak, dan saudara. Oleh sistem peribuan itu lantas ditentukan bahwah hanja laki-laki dari lain gerombolan sadja jang boleh berkawin dengan seorang perempuan, dan turunaja di hitung menurut garis peribuan dan mendjadi hak perempuan itu. Hanja ini sadjalah asalnja maksud hukum peribuan itu, dan tidak lain.” aturan ini tidak tentu membawa kedudukan perempuan jang lebih baik dan lebih merdeka;di dala banjak sekali suku-suku memakai aturan perinuan kedudukan perempuan sama sengsaranja dengan kedudukan perempuan didalam suku-suku jang memakai aturan perbapaan”, begitulah henrlette roland holst berkata, begitu pulah pendapat mrs. Ray strachey. Beliau mengatakan bahwa peribuan itu ”kadang-kadang pula mengekalkan milik-milik dan kekajaan-kekajaan didalam tanganja, sehinga-ga ia lantas mendapat satu kedudukan yang lebih berkuasa”, muller lyer pun berpendapat begitu, dan begitu pula ahli-ahli penjelidik lain seperti schurz, eisler dll.

Hanja dimana hukum peribuan ini mendjadi pemerintahan peribuan, mandjadi gynaeco-creatie, menjadi matriarchat, mendjadi sistem pemerintahan – ibu, maka disitula perempuan berderadjat, disitulah perempuan bermartabat tinggi, tetapi kitapun tidak boleh lupa memikirkan dan menjaga: apa sebab perna terdjadi satu masa jang perempua jang berkuasa, dan tidak laki-laki? Sebabnja ialah, oleh karena pada bagian pertama dari zaman pertanian itu, perempuanlah produksen masjarakat jang terpenting, dialah jang mengerdjakan dan memimpin pertanian, dialah jang maggenggam nasip-perekonomian-nja gens, kalau dia tidak berkerdja, laparlah semua orang. maka kedudukan sebagai produsi pokok itulah jang men-djundjung derdjabnja; harganja sebagai pengasih hidup kepada anggautan-anggautan gens itulah jang mengangkat namaja. Bukan hukum peribuan, bukan sesuatu hukum, bukan sesutu timbangan moral, jang mendjadi sebab kedudukanja penting. Sebalikja, hukum peribuan, moral, hukum itu, adalah akibat dari kedudukanja jang penting itu.

Maka oleh karna itu, tak dapat matriarchat itu datang kembali, kalau kedudukan perempuan sebagai produsen masjarakat tidak menjadi terpenting lagi seperti dulu. Mungkinkah ini? Munkinkah zaman pertania tjara dulu balik kembali? Atau mungkinkah datanglagi satu sistemproduksi masjaraka, jang kaum perempuan badja mendjadi pokoknja? Pembatnja boleh mengharapkan segala hal, boleh memasang tjita-tjita jang setinggi langit, tetapi kembali. Pembatja boleh mengharapkan susunan masjarakat jang lebih baik, kedudukan manusia jang lebih lajak, penghargaan kepada manusia satu sama lain yang lebih adil, tetapi djanganlah pembatja mengharap djarum masjarakat diputarkan mundur. Sebab harapan jang demikian itu adalah harapan jang mustahi, harapan yang kosong. Masjarat tak dapat diharap baik kembali kepada tingkat jang terdahulu, _ tiap-tiap fase jang telah dilewati oleh perdjalanan masjarakat, sudalah termasuk kedalam alamnja ”kemarin”. Pertanian kini bukan alam orang perempuan sadja, dan fase pertanian itupun sebagai fase kemasjarakatan sudah terbenam didalam kabutnja ”zaman dahulu”. Kini fase masjarakat adalah fase kepa-berikan, fase permesinan, fase industrialisme. Tidak dapat industrialisme ini lenjap lagi untuk balik kembali kepada fase pertanian, dan tidak pulah didalam industrialisme ini perempuan sadja jang memegang kendali industri! Perempuan dan lakji-laki, laki-laki dan perempuan, kedua-duanja mendjadi produksen didalam industrialisme itu. Maka oleh karna itu, djuga didalam masjarakat sekarang ini matriarchat tak dapat datang kembali.

Saudara barangkali bertanja, tidakkah di minangkabau kini ada matriatchat? Perbatnja, di minangkabau sekarang sekarang suda tidak ada lagi matriarchat, jang ada hanjalah restan-restan dari hukum peribuan sadja, jang makin lama makin lapuk. Hak keturunan menurut garis peribuan masi ada disitu, perkawinan eksogam (mentjari suami dimustikan dari suku lain, tidak boleh dari suku sendiri) masi diadatkan disitu, hak harta-pustaka-tetap-tinggal-didalam-lingkunga-ibu masih ditegakkan disitu, tetapi matriarchat suda lama lenjap, sedjak pemerintahan bundo kandung di pagar-runjung, jang masih ada hanjalan runtuhan-runtuhanini djuga terdapat pula dibeberapa daera diluar minangkabau, didaera batanghari, di atjeh, di mentawai, di emggano, di belu, di waihala, di sulawesi selatan, dll. _ dan diluar indonesia pada beberapa suku indian di amerika utara, dikepulauan mariana, dibeberapa bagian uluan philipina, di oceania, dibeberapa daera neger, dl.l. perhatian pembatja, restan-restan hukum peribuan ini (ketjuali di minangkabau) hanjalah terdapat pada bangsa-bangsa jang masi sangat terbelakang sadja, dan tidak pada bangsa-bangsa jang sudah tjerdas dan tinggi evolusinja serta kulturnja! Maka sebenarnja hukum peribuan minangkabau-tingkat-rendah, dan bukan milik minangkabau-tingkat-sekarang. Siapa mau memelihara hukum peribuan itu di minangkabau-tingkat-rendah, memelihara sisa-sisa bangkai preode kultur jang telah silam. Dia dapat kita bandingkan dengan orang jang menghiaskan bunga melati disekeliling muka gadis-cantik jang suda mati: tjantik, merindukan, memilukan, menggojangkan djiwa, tetapi_mati!

Memang tak dapat dapat dibantah, bahwah hukum peribuan itu adalah hukunja masa jang telah silam. Lihatlah, didalam kitap agama bahagia jang tua-tua sadja terdapat hukum peribuan itu, bukan didalam kitap agama jang dari zaman jang kemudian: didalam perdjandjian lama, genesis 2, 23 ada tertulis: ”maka oleh karna itu, orang laki-laki akan meninggalkan bapanja dan ibunja, dan bergantung pada istrinja, dan mereka akan mendjadi satu daging”. Menar kalimat ini terdapat djuga di-perdjandjian baru (mitsalnja mattheus 19,5 dan markus 10, 1), dan diartikan sebagai kesetiaan laki-laki kepada istrinja, tetapi asal-asalnja njatalah dari kitap perdjadjian lama. Didalam perdjandjian lama pula, numeri 32, 41 ada dijeritakan hal jang berikut: jair mempunjai bapak jang asalnja dari suku juda, tetapi ubunja jair adalah dari suku manase”, dan mendapat warisan dari suku manase itu. Begitu pula didalam mehernia 7,63: disini seorang anak-anak pendeta yang beristerikan seorang perempuan dari suku barzillai, dinamakan anak-anak barzillai, djadi menurut suku ibunja, tidakkah sebagai dimuka saja sebutkan djuga, nabi isa masi disebutkan isa ibenu marjam?

Didalam kitap sedjarah dunia dr. Jam romein, djilit I, diterangkan dengan jakin, bahwah peradapan kuno dikenam kiri sumgai-sungai nil dan trigis-eufrata, ratusa, ribuan tahun sebelum zaman nabi isa, adalah timbul dari aturan-aturan matriarchat. Semua itu membuktikan, bahwah hukum peribuan itu adalah hukumnja masjarakat kuno, timbul dari perbandingan-perbandingan sosial-ekonomis di masjarakat kuno. Ia adalah tingkatan atas rohaniah perbandingan produksi di masjarakat kuno, jang tidak dapat diadakan lagi disuatu masjarakat sekarang, dimana perbandingan sisial-ekonomis adalah lain. Dan sedjarah duniapun membuktikan, bahwah hukum peribuan itu disepandjang djalanjasedjarah jang ratusan, makin lama makin tak laku, makin lama makin lenjap. Dimana sekarang masi ada hukum peribuan, _ di minangkabau satu di oceania, di nenerapa daera neger atau diuluan philipina, di mentawai atau di amerika utara, _ dimana sekarang masi ada hukum peribuan itu, itu tak lebih dari pada sisa-sisa belaka, _ runtuh-runtuhan belaka daripada sebuah gedung kuno jang berabat-abat lamanja selalu diubah, dihantam, digempur oleh zaman. Maka siapa ingin menhidupkan kembali atau memelihara hukum peribuan itu, dia adalah mau menghidupkan kembali atau memelihara sebuah bangkai. Dia adalah menudju arah yang bertentangan 180* dengan arah tudjuan evolusi masjarakat; dia adalah reaksioner; dia adalah sosia-reaksioner.

Bukan dengan menghidupkan kembali atau memelihara restan-restan matriarchatlah tjaranja kita mesti nenerdekakan perempuan dari perbudakkanja sekarang ini, bukan dengan menghidupkan kembali atau memelihara satu sistem jang basinja adalah didalam fase masjarakat zaman dahulu. Kita musti metjari ichtiar memerdekakan kaum perempuan itu dengan basis masjarakat sekarang, atau dengan basis masjarakat jang akan datang. Jang telah silam tak dapat timbul kembali, tetapi jang sekarang ada, itula jang kita hadapi, dan jang akan datang, itulah jang akan kita alamkan. Njahkanlah segalah fikiran-fikiran primitif jang mau kembali kepada hukum-hukum primitif itu! Sebab kalau tidak, lenjaplah nanti didalam kalbu tuan segalah harapan, segala tjita-tjita, segalah kegembiraan. Angan-angan tuan itu tidak akan tertjpai, melainkan bebaliknja akan sia-sia sama sekali, kosong dan gugur sama-sekali.

Lagi pula: adakah hukum peribuan si minangkabau itu mengasih kedudukan baik dan mulia kepada perempuan? Saja kira, semua orang jang pernah berdiam si minangkabau, atau membatja buku-buku atau uraian-uraian tentang minangkabau, mengetahui, bahwah disana perempuan belum boleh dikatakan hidup didalam sorga. Beberapa akibat dari hukum peribuan disana itu ialah: banjak laki-laki maninggalkan minakabau untu ”matjari” kedaerah lain, perempuan susah mendjari suami, sukar berkembangnja ekonomi idividuil, dan lain sebagainja.

Ja, kembalilagi kepada kesalahan bachofen tadi: hukum peribuan tidak selamanja mengasih kedudukan baik kepada perempuan! Sebaliknja, manakala ia ada mengasih kedudukan baik, maka hukum peribuan iti kadang-kadang dan sering sekali membawah akibat laki-laki mendjadi hamba perempuan! Rudolr eisler menerangkan bahwa dihukum peribuan ini ”sering sekali laki-laki busti bekerdja sebagai budak buat perempua”. Keadaan jang sematjam ini tentu bukan keadaan jang sehat. Satu sistem jang membudakkan perempuan tidaklah sehat, satu sistem jang membudakkan laki-lakipun tidaklah sehat. Jang sehat hanjalah satu sistem, dimana laki-laki dan perempuan sama-sama merseka, sama-sama beruntung, sama-sama bahagia. Maka oleh karena itu, tjukuplah kiranja, kalau saja katakan disini, maka pemetjahan ”soal perempuan” itu bukanlah harus kita tjari didalam hukum peribuan dan bukanlah pulah didalam matriarcccccchat, tetapi didalam majarakat jang lain, dengan aturan-aturan jang lain!

Dimanakah dizaman dalu ada hukum peribuan? Boleh dikatakan dimana-mana sadja dulu ada hukum peribuan. Malah ada suku-suku dizaman dulu itu, jang hkum perinuanja dilukiskan dengan seksama dalam tjatatan-tjatatan orang-orang jang mengembara. Mitsalnja bachofen dapat mengetahui dengan saksama semua seluk-beluk hukum peribuan suku nair di india beberapa abat jang lalu, karena ia mempeladjari tjatatan-tjatatan pengembaraan bangsa arap, portugis, belanda, italia, perantjis, inggeris dan djerman, jang mengunjungi daerah nair itu beberapa abad jang lalu. Boleh dikatakan dimana-mana sadja dulu ada hukum peribuan. Malahan bachofen mengatakan, bahwa sebua bangsa-bangsa jang primitif adalah berhukum peribuan. Friederich engelspun berkata, bahwa hukum peribuan itu satu fase masjarakat jang umum. Pada bangsa-israel, pada bangsa mesir, pada bangsa phunicia, bangsa etruska, bangsa lykia, disemenandjung iberia, bangsa inggeris, bangsa germania-tua, bangsa india di amerika, dan pada semua bangsa-bangsa di benua asia serta kepulauan asia dan oceania, _ disemua tempat itu dizaman purbakala berlaku hukum peribuan itu. Memang, kalau difikirkan dengan sebentar sadja, maka tiap-tiap orang mengerti apa sebabnja hukum nperibuan jang mendjadi hukumnja orang dizaman itu, tidak ada hukum lain jang begitu mudah menetapkan dengan pasti neturuna seseorang manusia, melainkan hukum peribuan ini. ”ibunja sianu ialah sianu”. Sebab, pada waktu itu keluarga belum bersifat somah seperti sekarang, pada waktu itu satu gerombolan laki-laki kawai dengan satu gerombolan perempua: inilah jang dinamakan ”kawin gerombolan”. ”siapa bapa” disitu tidak terang. Karena itu mendjadi hukumnja orang diwaktu itu.

Kemudian daripada kawin gerombolan ini, datanglah kawin pasangan, dimana perempuan mendjai istrinja satu orang laki-laki sadja, didalam fase kawi pasangan inilah (didalam waktu timbulnja faham milik-perseorangan). Didalam kawai pasangan inilah diadakan hukum perbapaan. Sebagai satu”perpindaha” antara kawin gerombolan ke kawi pasangan itu, ada satu zaman jang membolehkan atau mengharuskan seseorang perempuan sebelum ia memnjai suami satu, pergaulan merdeka dengan laki-laki mana sadja. Jang oleh setengah ahlih didalam hal ini dimanaka ”hearrisme”, ”persundalan”, jang sebenarnja berlainan sekali dengan persundalan jang biasa. Didalam matriarchat itu perempuan dianggap sebagai ”ibu sekalian manusia ”, jang mengasi hidup kepada semua orang. Tetapi kini ia akan memelihara satu orang laki-laki sadja ia musti ” dapat kerugian ” labih dulu, atau ”bajar kerugian” lebih dulu! Ia lantas dibolehkan mendjalakan ”persundalan” pada waktu gadis, atau ia musti mengorbankan kegadisannja kepada umum sebelum ia kawin resmi kepada satu orang laki-laki sadja. Menurut agama di babylion, dulu seorang anak-darah kalau ia hendak menikah, diwajibkan lebih dulu pergi kekuil mylitta, dan disitu ia mesti mengorbankan kegadisannja kepada kebanjak laki-laki. Begitu pula keadaan di memphis, di cyprus, di tyus, di sydonia, didalam perajaan-perajaan dewi isis di mesir, di asia-depan di dalam kuil anaitis. Engles berkata: ”adat kebiasaan jang sematcam itu dikerdjakan oleh hampir semua bangsa asia diantara lautan tengah dan sungai gangga”.

Perempuan ibu-umum! Sebelum ia bersuami satu oramg sadja, ia mesti memuaskan semua orang lebih dahulu! Sebelum ia memuaskan satu orang sadja, ia mesti banjar dulu upeti sepada dewa-dewa. ”sebab bukan supaja menjadi laju didalam tangannja satu olarang laki sadja, maka perempuan itu dikaruniai keelokan dan ketjantikan oleh alam, hukum djasmani menolak semua pembantasan bentji kepada semua perikatan, dan pemandang tiap-tiap perchusunan sebagai satu dosa kepada sifat kedewaan perempuan itu”, begitulah bachofen menulis didalam kitabnja” mutterrecht”. Sampai zaman sekarangpu, mitsalnja di flores, di mana saja berdiam hampir lima tahun, dalam satu daerah (keo), dimana gadis-gadis boleh bergaul dengan laki-laki mana sadja jang sukai, dan jang paling ”djempol” diantara ”gadis-gadis” itu, _ djempol memuaskan laki-laki _. Ituladjang nanti paling lekas laku mendapat suami. Di kepulauan mariana, diulu-uluan philipina, dikepulauan pelynesia, di beberapa suku di afrika, sampai sekarang masih berlaku pula adat ini. Kepulauan baleara, maka belum selang berapa lamanja masih ada adat, jang pada, malam pernikahan”, semua keluarga laki-laki dari pengantin lelaki meniduri pengantin perempuan itu berganti-ganti. Dimalabar, diuluan india-belakang, dinenerapa pulau lautan teduh, kepal-kepal agamalah jang mendjelesaikan pekerdjaan ini. Dan mungkin djuga hak ”malam pertama” jang dulu diberikan kepada radja-radja di indonesia dan di eropah, _ di beberapa negri eropah sampai silamnja zaman petengahan masih ada hak ”jus primae noctis” itu _, pada asalnja harus di anggap sebagai ”selian” dewa-dewa. (kalau dewa-dewa ini karena perempuan mendjadi isteri satu orang laki-laki sadja!) dan taukah tuan, bahwa sampai didalam abat ke lima belas liderladpuan menurut keterangan murner, tamu-tamu di ”sunguh” njonjah-rumah satu puteri-rumah pada malam hari?

Ja, perempuan ibu-umum! Tidakkah pada hakekatnja ini suatu anggapan-tinggi kepada perempuan itu? Tetapi tidakkah pula terang kepada kita, bahwa aturan jang demikian ini tidak baik kita pakai? Maka oleh karna itu, meskipun ada kalanja hukum peribuan itu didalam bentu-matriarchatnja mengisih jang mulia kepada perempuan, meskipun dibeberapa tempat didunia sampai sekarang masih ada restan-restan matriarchat itu dimana perempuan seperti berkedudukan mulia, maka djanganlah matriarchat itu mendjadi tjita-tjita dan pedoman kita, kalau hukum – peribuan itu dapat tegak terus di msajarakat sekarang, dan dus boleh dipakai sebagai tjita-tjita dan pedoman dimasjarakat sekarang. Tida! Kalau sekarang masih ada hukum-peribuan, maka buat sekian kalianja katakan itu hanjalah sia-sia dan runtuh-runtuan belakang dari satu gedung – adat jang telah gugur. Itu hanjalah satu ”kematian jang terlambat” hukum – peribuan pasti mati, pasti gugur, pasti lenjap dari masjarakat industrialisme dan masjarakat hak – milik – pribadi sebagai jang sekarang ini, walaupun ia ulet njawa. (mitsalnja sampai dizmannja august bebel(perempuan abat iani) masih ada hukum – peribuan itu dinegeri modere, seperti djermania (dipropinsi wastfalen) dimana sianak mewaris dari ibu, dan tidak dari bapa).

Pembadja barangkali ada jang tahu, apaka adat satu orang perempuan bersuami banjak (poliandri) djuga disebabkan oleh hukum – peribuan, susah mendjawap pertanjaan ini! Mungkin disebabkan oleh huku – peribuan, munkin tidak disebabkan oleh hukum – peribuan. Eisler mengatakan, bahwa poliandri itu ”bukan satu” perkembangan jang umum” (bukan satu tingkat perubahan umum). Engles menamakan dia ”perkedjualian”, serta ”hasi-hasi jang mewah dari pada sedjarah”. Dan bebel berkata, bahwa ”belum diketahui orang benar-benar perbandinga-perbandingan apaka jang mendjadi sebab-sebabnja poliandri itu”. Tetapi ada hal-hal jang dapat dipakai buat menundjuk djanlan didalam hal mentjari sebab-sebabnja poliandri itu; poliandri didapatkan terutama kali hanja dinegri-negri pegunungan jang tinggi sadja, seperti di tibet. Di negeri-negeri pegunungan jang tinggi-tinggi ini, dimana hampir tiada tumbuh-tumbuhan samasekali, suda sama tentu sangat berat struggle for life. Maka poliandri atau persuamian-banjak itu, mendjadi satu djaln mentjagah terlalu bertahnjah djumlah keturunan, dengan tidak merugikan dan menghalangi kepada sjhwaat laki-laki. Benarkah keterangan ini? Entah. Ada lain keterangan lagi, jakni jang berikut: manurut seorang penjelidik jang bernama tarnowsky, maka udara jang terlalu dingin berakibat melemahkan kepada sjahwat. (sikatakan: dikatakan orang-orang jang naik kepuntjak-kepuntjak), gunung jang terlalu tinggi mendjadi lemah sahwatnja, dan sahwatnja ini sekonjong-konjong mendjari keras kembali manakala mereka turun ketempat-tempat jang lebih rendah. Orang-orang dikutup utara tidak begitu keras sahwatnja seperti orang-orang dinegeri-negeri kanan – kiri chaturistiwa orang-orang perempuan dinegeri-negeri dingin kadang-kadang baru pada umur 18 atau 19 tahun mendapat hait, tapi gadis-gadis dinegeri arabia kadang-kadang pada umur sepulu tahun atau sebelas tahun suda mendapat haid). Maka oleh karena sjhawat, terutama sjawat laki-laki, dinegeri-negeri dingin ada kurang, maka tidak merusak kesehatan manakalh dinegeri seperti tibet itu satu perempuan bersuanikan dua, tiga, empat, lima orang laki-laki. Djadi di negeri jang sangat dingin tidak heran kita melihat poliandri, dan dinegeri-negeri panas tak heran kita melihat poligami. Bahwa perempuan jang banjak laki-lakinja itu kurang mendjadi hamil dari pada perempuan jang bersuami hanja seorang sadja, lihatlah mitsalnja kepada sundal. Sundal jang saban hari menerima sjahwat laki-laki sampai lima, enam, sepulu kali, djarang mendjadi hamil, mesti dia tidak minum obat-obatan-pentjegah hamil atau tidak mengambil ichtiar satu djuapun untuk mentjegah bertumbuhnja benih. Dengan sebab-sebab jang demikian ietu, maka poliandri dinegeri-negeri pergunungan tinggi itu bukan sadja tidak merusakkan kesehatan perempuan, tetapi ada djuga berakibat mengurangi jumlah keturunan, jang sangat susah memeliharanja di negeri jang kurang rezeki itu. Bersangkutan atau tidak bersangkutan poliandri itu dengan hukum peribuan belum terang kepada kita. Tetapi ternjatalah disini sekali lagi kebenaran teori, bahwa moral, anggapan-anggapan tentang sopan dan tidak sopan, adat-lembaga, etika, recht, dan lain-lain sebaganja itu, bukanlah hasil pekerdjaan budi pekerti manusia, tetapi adalah tergantung dan di tetapkan oleh perbandingan-perbandingan bosial dan materiil.

Dimanakah, dinegeri tumpah-darah kita ini, ketjuali minangkabau, masi ada sisa-sisa hukum-peribuan? Pertama, boleh dikatakan semua daerah-daerah jang berdekatan dengan minakabau itu masi memakai hukum-peribuan:bagian-bagian dari keresidenan bengkulu, bagian-bagian dari djambi, bagian-bagian palembang, sudah barang tentu semuanja itu tidak murnilagi, tidak asli-hukum peribuan lagi, melainkan sudah tertjampur bawur dengan hukum-hukum lain, terutama sekali tertjampur dengan sjariat islam. Sebagaimana di minangkabau hukum-peribuan bukan asli hukum-pribuan lagi, maka begitu djuga di daerah daerah ini hukum-peribuan bukan asli hukum-peribuan lagi. Hanja kadang-kadang saja heran melihat ”uletnja” hukum-peribuan itu, seakan-akan sjariat islam tak mudah melenjapkanja. Dinegeri atjeh, mitsalja, jangf penduduk begitu teguhnja memeluk agama islam, masi ada sisa-sisa hukum – peribuan jang belum lenjap! Disitu masi ada daerah-daerah jang perempuan, sesudah nikah, masi tetap  sadja mendjadi ”haknja” rumah tuanja, sedang suaminja, kalau ia tidak ikut diam diruma istrinja, datang kepanja hanja kalau ada sanja. Anak-anak dari perkawinannja itu tetap dirumah ibunja, ”gampung” anak-anak itu adalah ”gampung” inunja! Adat hukum – peribuan inilah jang didaerah semendo dan lain-lain daerah di sumatera selatan mendjadi dasar perkawinan ”ambil anak” atau ”tjambur sumbai ” di tanah lampung. Disitu sisuami memutuskan pertaliannja dengan bapa-ibusendiri, dan mendjai ”anaknja” mertuanja, berdiam di rumah mertuanja berdja pada pekerdjaan mertuanja. Ia ”ikut” kepada istrinja, ia menjerahkan anak-anaknja kepada istreinja ia hanjalah bertindak sebagai ”djantan” bagi isterinja, anak-anaknja mendnja ahli-waris isterinja. Terutama sekali kalau orang hanja mempunjai anak-abak perempuan sadnja, (djadi tiada anak laki-laki), maka selalu perkawinan ”tjambur-subai” ini jang dipilih. Dengan begitu sianak perempuan itu meneruskan keturunan dan harta-miliknja famili, atau dengan perkataan adat; buat ”tungguh djurai”, buat ”menegakkan djurai”. Malahan didaerah semendo anak perempuan jang tertua tetap mendjadi menunggu dan penegak djurai itu, meski ia mempunjai saudara laki-laki atau tidak mempunjai saudara laki-laki.suaninja wadjib ikut kepadanja. Anak-anakjalah jang meneruskan djurai, dan bukan anak saudaranja jang laki-laki. Pendek kata, didaerah-daerah sumatera tengah sebagian dari sumatera selatan, masi njata ada sisa-sisa hukum-peribuan, negitu pulah dibatanghari atas, di kerintji, dan tempat-lain-lain.

Dipulau mentawai masih ada sisa adat hukum peribuan jang berupa ”hetearisme” (lihat dimuja) antara ”gadis-gadis” dengan pemuda-pemuda laki-laki, sebelum perkawinan. Dipulau mentawai itu sama sekali bukan satu kedurhakaan, kalau seorang ”gadis” sebelum ia mempunjai suami sudah mempunjai anak, dan pemuda mentawai tidak pula ketjewa hatinja kalu perempuan jang ia kawai itu sudah mempunjai anak! Begitu pula keadaan dipulau engganao. Anak-anak di luar atau didalam perkawinan, tetap mendjadi hak ibunja. Di borneo-barat, disintang, dipulau timur (belu, waihalh) masih ada adat, jang seorang suami diwadjibkan berdiam dirumah isterinja, dan di sulawasi selatan ada adat ”mapuwoawo” jang menentukan bahwa anak jang tertua dan jang ketiga ditentukan mendjadi anak ibunja sedang bapah hanja mendapat hak atas anak jang kedua tau keempat sadja. Malh bukan sadja hukum peribuan ada sia-sianja disitu tetapi djuga ada mtriarchat: dulu sering-sering disulawesi selatan orang perempuan didjadikan radja. Di keo, jaitu disatu daerah vlores, ”gadis-gadis” selalu bergaul-bebas dengan laki-laki, dan ”gadis-gadis” jang paling ”djempol” memuaskan hati laki-laki, merekalah jang nanti paling besar lekas mendapat suami.

Maka njantanlah dengan bukti-bukti dari daerah-daerah primitif dari negeri sendiri itu, bahwa hukum peribuan adalah hukum primitif, hukum sesuatu rakjat jang belum tinggi tingkat kemadjuannja. Hukum jang masih perimitif itu tak munkin baik buat masjarakat modern, dan batas diganti dengan hukum jang lebih sesuai dengan masjarakat modern!

Bagaimanakah hukum perbapaan? Sebagaimana sadja sudah uraikan dimuka, maka dibanding dengan hukum peribuan, adalah hukum perbapaan itu satu kemadjuan: dengan hukum perbapaan dapatlah berkembang somah, dengan hukum perbapaan dapatlah berkembang indivualisme jang perlu buat perkembanja masjarakat. Marx menamakan perpindahan dari hukum peribuan ke hukum perbapaan itu satu ”perpindahan jang paling sesuai dengan kodrat alam”, dan engels menamakan dia satu ”kemadjuan dalam sedjarah jang benar”. Hanja sanjang sekali, bahwah kemadjuan ini dibarengi dengan perbudakan, perbudakan satu fihak guna menegakkan pertuananja fihak jang lain!

Pokok hukum perbapaan itu digamberkan oleh engels dengan satu kalimat jang sangat djitu: ”ia berazaskan pertuanan orang laki-laki, dengan maksud tertentu untuk melahirkan anak-anak jang tak dapat dibantah lagi siapa bapaknja; dan perbapaan jang tak dapat dibantah itu sangat perlu, oleh karna anak-anak ini nantu harus memiliki harta milik siapa iatu”. Saja kira, jang akan membantah bahwa pada azasnja hukum perbapaan itu lebih baik bagi masjarakat daripada hukum peribuan. Ah ia, ada perempuan jang mengatakan hukum perbapaan itu masih ”berat sebelah”, dan lantas bertjita-tjita satu hukum jang di tengah-tengah hukum perbapaan dan hukum peribuan, ada pula jang bertjita-tjita tjampuran hukum peribuan dan hukum perbapaan itu, – tetapi baiklah direnungkan dengan tenang dan dalam: hukum perbapaan bukan hal adil atau tidak adi, hukum perbapaan adalah satu hukum jang perlu buat evolusi masjarakat. Jang tidak adil bukan hukum perbapaan itu, melainkan ekses-ekses hukum perbapaan itu, ”ke-liwatbatasa-ke-liwatbatasa” hukum perbapaan itu. Ekses-ekses hukum perbapaan inilah nanti akan saja bitjarakan didalam bab ini djuga. Tetapi marila saja sekarang membitjarakan lain-lain hal dari hukum perbapaan itu lebih dulu.

Sebagai saja terangkan, maka hukum perbapaan ini timbul, sesuda masjarakat mengenal ”milik”, jakni mengenal ”milik perseorangan”. Laki-laki jang meninggalkan perburua, menjusun ”milik” itu dengan keringat-keringat itu sendiri: peternakan mengasih kekajaan jang berupa chaiwan, orang-orang tawanan tidak dibunuh lagi tetapi didjadikan kekanjaan jang berupa budak belian, hasil pertanianpun membesar-besar harta pusaka. Untuk menetapkan milik nini didalam tangan anak-anaknja sendiri, mendjaga djangan ia djatuh ditangan anak-anaknja orang lain, maka diadakanlah hukum perbapaan itu.

Tetapi djangan pembatja kira, bahwah ia diadakan sekonjang-konjang, dengan sekali gus. Ia adalah akibat dari satu proses, sebagaimana tiap-tiap evolusi-masjarakat adalah akibat dari satu proses. Ia bukan hasil dari pemutaran otak seorang-orang ”disuatu malam jang ia tak dapat tidur”, sebagaimana djuga tiada evolusi-masjarakat hatsil pemutaran otak ”disuatu malam jang ia tak dapat tidur”. Ia menurud keterangan engeles (berlawanan dengan bachofen), sama sekali bukan evolusi jang membuat banjak ribut-ribut, melainkan hanjalah satu perubahan jang beransur-ansur tenang. ”ini”, begitulah ia berkata, ”ini sama sekali tidak begitu sukar, sebagai jang kita kirakan dizaman sekarang, sebab revolusi ini, – salah satu revolusi jang terbesar, jang pernah dialamkan oleh manusia -, tak harus mengenai seseorang anggauta gens jang masih hidup. Semua keluarga gens itu hidup tetap setjarah jang suda-suda. Nandjalah jukup mengambil satu keputusan, bahwah dikemudian hari turunan anggauta laki-laki dari gens tinggal didalam gens itu, tetapi turunan anggauta perempuan dari gens sendiri dan pindah kegens bapaknja. Dengan keputusan ini, maka suda gugurlah aturan keturunan menurut garis ibuserta hukum-waris dari ibu, dan suda ditegakka aturan keturunan menurut garis bapaserta hukum-waris dari bapa……..betapa mudahnja ravolusi ini, itu bisa kita lihat dari beberapa suku-suku indian, dimana perubahan itu belum selang berapa lamah telah terjadi, buat sebagian karena bertambahnja kekanjaan……….. dan buat sebagian lagi karena pengaruh zaman baru serta pengaruh pendeta-pendeta nasrani”. Begitulah pendapat engels. Bachofen lebih pertjaja kepada perubahan jang mendatangkan banjak peperangan. Munkin kebenaran adalah di tengah-tenga: ada jang tenang, ada jang dengan peperangan. Saja suda tuliskan dimuka, bahwah ada pula daerah-daerh jang perempuan-perempuannja tidak mau tunduk begitu sadja. Kepada aturan beru ini, dan inilah asal-asalnja tjerita-tjerita atau dongeng-dongen amazone atau wanita nusa tembini . kalau kita sekarang datang dinegeri kanan-kirinja gunung kaukasus, kita akan melihat, bahwa masi sangat hidup diingatkan raknjat di situ dongengnja radja putri tanara, jang sebagai harinau-betina telah memerangi dan menaklukan banjak radja-radja laki-laki. Radja putri tamara sampai kini malahan masi di anggungkan oleh rakjat-rakjat kaukasia. Ketjantikanja kebidjaksanaannja, kegagah-beraniannja, kesaktianja sampai kini masih dituliskan diatas pedang, dipiala, dialat-alat musik, dengan kata-kata, sjair-asair serta pudjian-pudjian jang berapi-api. Satu njajian kaukasia berpuji:

”tamara memakai tudung-perang, dan telinganja dihiasi dengan anting-anting jang pandjang. Mantanja seperti zambrut giginja seperti mutiara, lehernja seperti jaspis. Ia memakai badju-perisal, menaiki kuda jang berwarna abu. Dibawa badju perisai itu, ia memakai badju kain atlas”.

Batu-kuburan tamara dikatakan bertulis: ”aku radja putri tamara aku mengisih neger-negeri dan laut-laut dengan namaku, aku menjuruh ikan-ikan berpindah dari laut hitam kelaut kaspia. Kudaku telah masuk kota ispahan, dan pedang ku telah kutanamkan dialun-alun medan dikota istambul. Sesuda aku berbuat ini semua, aku pindah keachirat dengan membawa kain sembilan depa.”

Tamara telah menaklukkan semua mushnja. Hanjalaut kaspian sadjalah jang belum mau tunduk. ”apakah jang tamarah radjah-putri dari semua radja-radja, dapat berbuat akan daku?”, begitulah laut kaspian menanja. ”kekuasaan tamara memang besar, tatapi lebih besar ialah ombakku dan gelombangku”.

Radja-puteri tamara mendengar perkataan ini, dan dengan berlahan ia menghadapkan mukanja kapada penantang itu. Diantara dua alisnja jang pandjang itu, mengerlutlah kulit-mukanja. Dengan segera, menjeranglah pradjurit –pradjurit kepada laut jang memberontak itu, dan pantai-pani laut kaspian memekik-mekik karena sakit. Ombak-ombak laut itu diserang dengan ninjak tanah, dan api menjala-njala mendjilat kelangit. Lama sekali laut kaspian berguling-guling didalam njalanja api, dan memekik memohon apun ia sanggup menjerakan semua kekajaannja dan sanggup tahluk semata-mata.achirnja diberikan ampunan itu oleh sang radja puri kepadanja.”

Demikianlah radja putri tamarah. Fanina h. Hale menudjukkan kepada kita, bahwa didalam dongang ini ditjeritakan satu amzone-motif jang tulen: perang melawan laut. Sebab, simbul apakah laut itu? Laut adalah simbulnja laki-laki! Bumi, tanah, adalah simbul perempuan, tatapi laut adalah simbul laki-laki. Sebagaimana djuga kita bangsa indonesia menganggap bumi itu sebagai simbul perempuan: simbul ibu, simbul ibu pratiwi, maka bagi oarang kaukasia bumi adalah djuga simbul perempuan. Tetapi manakalah kita menggap langit sebagai simbul laki-laki, manakalh kita berkata: ”berkata bapa angkasa, ibu pratiwi”, maka bangsah kaukasia dan djuga bangsa junani, menganggap laut sebagai simbul laki-laki bukankah tanah tidak dapat subur kalau tidak menerima kesuranja itu dari airnja laut? Maka dongeng perjuangan tamarah jang maha-tjantik itu, dapat pualah dianggap sebagai gambar perdjuangan antara azas peribuan dan azas perbapaan, antara hukum peribuang dan hukum perbapaan, antara matriachat dan patruarchat.

Tanarah hanjalah satu tjontoh sadja. Negeri lain-lain mempunjai ”tamara” jang lain-lain pulah. Tetapi ada satu hal jang sangat menarik perhatian kita dengan tamara kaukasia itu: tamarah kaukasia sebenja adalah satu figur jang bukang sama sekali ”dongang”! Ia adalah satu figur jang djuga oleh tarich diakui adnja ia satu figur historis. Ia mendjadi radja putri dikaukasia diantara tahun 1185 dan tahun 1214,-djadi belum sampai 800 tahun dibelakang kita. Apakah artnja ini? Ini berarti bahwa, kalu benar perdjuangan tamara itu satu perdjuangan matriarchat malawan patriachat, maka perpindahan dari hukum peribuan ke hukum perbapaan itu tidak terdjadi sama-sama-waktu diseluruh dunia, tidak serempak, melainkan beberapa waktu. Ada negeri jang ribuan tahun menegakan hukum perbapaan, dan negeri (sebagai kaukasia) jang baru ratusan tahun sadja memakai hukum ini, dan adapula negeri jang sampai zaman sekarang belum meninggalkan hukum peribuan sama sekali. Engels dan bachofen memang djuga mengatakan begitu! Da bukan sadja tidak serempak, – tjaranjampun menurut bebel berbeda-beda; masing-masing menurut keadaanja sendiri-sendiri.

Ambilah misalnja daera-daera dilingkungan negeri kita sendiri. Tidakkah njata berbeda-beda sifat restan-rastan hukum peribuan didaera-daera itu, berbeda-beda pula tjaranja hukum peribuan itu menggulung tikarnja, mengasih lapangan kepada hukum perbapaan islam? Ja, negeri kita memang salasatu negeri dimana perdjuangan antara hukum peribuan dan hukum perbapaan itu belum djuga selesai. Sampai sekarang dibeberapa daerah negeri kita itu masi dapat melihat berdjalanja ”revolusi-basjarakat” jang maha-hebat ini. Tetapi djanganlah pembatja mengira, bahwa dinegeri lain dizaman dulu perdjuangan ini selanja berdjalan begitu tenang sebagai misanja perdjuangan antara ”kaum adat” dan ”kaum agama”, di minangkabau sekarang. Kesopanan modern berpengaruh besar atas sifat perdjuangan di minakabau sekarang ini. Kesopanan modern itu ”menghaluskan” ”menjopankan” sifat perdjuangan itu, sedang dulu dizaman tua, keadaan-keadaan lain, dan manusia-manusiapun adalah lain. Orang zaman sekarang adalah orang ”beradap”, orang ”sopan”, – tatapi dulu?. Dulu orang merantai dengan rantai besi, memukul dengan kentes galih asam, menjembelih dengan golok terang-terangan. Karena itu maka perdjuangan antara matriarchat dan patriarchat dizaman dulu itu mungkin tidak begitu tenang sebagai di minangkabau sekarang ini.

Ja, dulu orang lebih ”mentah”. Patriarchatpun lebih ”mentah”. Suda sanja katakan, bahwa nafsu kepada milik, nafsu kepada milik perseorangan motornja matriarchat ini, dan bahwa perempuan didjadikan milik, didjadikan milik perseorangan. Sarina berpindah sifat, dan sifat memiliki mendjadi sifat memiliki, dari subjak mendjadi objek. Ia tadinja tjakrawati, ia kini mendjadi benda. Benda, jang dimiliki, jang harus disimpan, harus disembunjikan, tak boleh dilihat oarang lain, apalagi disentuh orang lain. Perempuan jang suka disentuh orang lain, disembelih kontan-kontanan.

Edward carpenter berkata: ”nafsu kepada milik itu membuat laki-laki menutup dan memperbudakkan perempuan jang ia tjintai itu,”

Ja, –  ”milik”! Karena itupun, tidak mengherankan, kalu ”milik” itu (dulu lebih ”mentah-mentahan” daripada sekarang) bukan sadja disimpan dan disembunjikan, tetapi djuga ditambahkan, sebagaimana orang menambah djuga barang milik jang biasa: dimana-mana patriarchat datang, disitu datanglah pula poligami, atau lebih besar: poligine, polyginie, jakni peristeriang jang banjak-banjak. Makin banjak perempuan, makin baik; sebab makin bertambah banjaknja ”milik” itu, berarti bertambahnja kesedjateraan dan kemuliaan, tenaga-berkedja dan kekuasaan, bertambahnja rezeki dan kemegahan. Manakala laki-laki hanja mempunjai isteri seorang sadja, maka ieteri satu tidak mendjadi halangan buat mengambil ”selir” berapabanjaknjapun djuga. Menurud keterangan indjil, maka koning salomo (sulaiman) mempunjai 700 isteri dan 300 orang selir! Demikianlah memang; adatnja patriarchat dizaman dulu! Perhatikanlah lagi beberapa tjontoh jang berikut ini: didalam kitap perdjandjian lama genesis, fatsal 16, ajat 1 dan 2, ditjeritakan bahwa nabi ibrahi disuruh oleh sara buat ”mengambil” budaknja jang bernama hadjar; djugak didalam geneses, fatsal 30, ajat 1 dan berikutnja, ditjeritakan bahwa jakub disuruh oleh rachel buat ”mengambil” budaknja jang bernama bilha, dan disuruh pula oleh lea (saudara rachel) buat ”mengambil” budaknja jang bernama zilpa.

Dan ada lagi satu hal jang bileh kita ambil dari tjerita jakub. Manurut indjil, maka isteri-isteri jakub jang bernama rachel dan lea itu, adalah dua saudara. Mereka kedua-duanja adalah anak laban. En to, mereka dua-duanja mendjadi isteri satu oarang! Inipun oleh patriarchat dianggap sopan, tidak melanggar kesusilaan.

Dan masi ada lagi satu hal penting dalam tjeritera jakub. Menurut indjil, jakub mendapat rachel dan lea itu dengan djalan membenja dari bapaknja: baik rachal maupun lea ia beli dengan mendjual tenaganja kepada laban, masing-masing tudju tahun lamanja. Maka kita disini mengindjak satu sifat penting patriarchat pula: perempuan milik jang harus dibeli. Inilah jang di dalam salasatu bab dimuka suda pula sadja terangkan: kawin – beli, perkawinan dengan djalan membeli, perkawinan dengan menganggap perenpuan itu sebagai satu benda perdagangan. Oarang djunani dizaman dulu menjebut wanita-wanitanja. ”alphesiboai”, jang artinja: menhatsilkan sapi, berharga sapi, boleh ditukarkan dengan sapi! Ja, perempuan satu benda perdagangan, jang, kalu suda dibajar harganja, dapat diperlakukan semau-maunja, oleh jang membelinja itu, ia boleh dipandang sebagai benda perhiasan runa, boleh disimpan dan disembunjikan rapat-rapat, boleh disuruh berkerdja mati-matian seperti budak-belian, boleh didjual lagi, boleh dibunuh, boleh diwariskan kepada ahli-waris bersama benda jang lain-lain. Ia boleh dihidupi atau tidak dihidupi, boleh dimanusiakan tau tidak dimanusiakan. Dizaman romawi dahulu menurut keterangan engels adalah satu kebiasaan bahwah perempuan itu, berserta semua famili, sebelum buaminja mati, sudah ditentukan dengan tastamen kepadasiapaka ia nanti akan diwariskan kalau suaminja mati. Ja, ia memang benda belaka, milik ia punja suami! Kalau ia dibunuh oleh suaminja itu, maka itupun hak suaminja. (engels). Sampai diabat kelima-belas di djerman dan dinegeri belanda menurut keterangan murner perempuan masi ”disuguhkan” kepada tamu, sebagai oarang manjuguhkan sepotong kuih, ”het is in naderland het gebruik, wanneer de man een gast heeft, dat hij hem zijn vrouw op goed geloof toevertrouwt”. Atau mungkinkah ini sisah ”ibu umum” dari pada hukum peribuan?

Dan kalau laki-laki mempunjai djukup sjarat untuk membeli perempuan itu? Tidak tjukup harta benda atau tidak mau membeli dengan tenaga-buruh seperti jakub kepada laban? Suda saja terangkan di muka: zaman dulu zaman ”mentah-mentahan”. Kalu tidak dapat dibeli perempuan itu, maka tiada keberatan moral sama sekali, djika perempuan itu ditjuri, dirampok mentah-mentahan. Kawin-ranpas itulah menurut keterangan saja dimuka tadi djuga salah satu sifat patriarchat liar. Kita semua suda pernah membatja tjerita ”perampokan perawan saba”, dan kita malh sering sekali melihat tjerita wajang dimana perempuan ditjuri dan dibawa lari. Didalam perdjandjian lama, bagian boeka der richteren, 21, ditjeritakan, bahwa kaum bunjamin mentjuri anank gadis silo.

”kawin beli” dan ”kawin rampas”,……….sampai sekarang kita masih mengalaminja dan mengerdjakannja, meskipu dengan djalan jang lebih ”sopan”. Sampai dizaman sekarang masi ada adat ”marlodjong” ditana batak dan di chili-selatan tiap-tiap pengantin perempuan ”barus dirampas lebih dulu” oleh suaminja, dengan persetudjuan orang tua atau tidak dengan persetujuan orang tua. Tapi djustru perkawinan jang demikian itu jang dianggap sjah. Dan apaka asalnja uang ”antaran” uang ”belis”, uang ”sasrahan” atau barang ”sasrahan” jang dikalangan bangsa eropa dan dikalangan bangsa kita sampai sekarang masi sadja orang bajarkan kepada penganti perempuan atau bakal mertua, – lain dari pada uang pembeli perempuan dizamannja patriarchat liar itu? Dikalangan eropa, terutama sekali dilapisa-lapisan jang atas, orang tidak segan-segan memperhubungkan perkawinan dengan perhitungan untung atau rugi dikalangan bansa kitapun, terutama sekali di ”tanah seberang”, njata perempuan masih dianggap barang dagangan diflores masi kuat sekali adat pembadjaran ”uang belis” sampai ratusan rupia; dibengkulu, di kroe, di lampung, di lain-lain negeripun ”uang antara” kadang-kadang sampai ribuan rupia! Sudah saja terangkan, bahwah inilah mendjadi sebab begitu banjak ”gadis tua” jang sampai tinggi – umur belum mempunjai suami: orang lelaki terhalang kepada perkawinan, oleh karena uang pembelianja begitu mahal! Dan bukan sadja kawin-beli-dengan-kontan kita kenal, kita di indonesiapun mengenal kawin-beli-dengan-kridit, (boleh ditjitjil) dan kita kenal djuga kawin-beli jang belinja dengan mendjual tenaga-buruh. Inilah jang oleh ahli ethnologi dan sosiologi dimanaka kawin-djasa, dan inilah jang kita jumpai pulah dibeberapa bagian di negeri kita antara lain dinegeri batak.

Dan kawin-rampas? Lihatlah adat-kebiasaan bangsa eropa, mengadakan ”perdjalanan perkawinan” sesuda nika! Pada asalnya adat-kebiasaan jang romantis ini tidak lain daripada adat-kebiasaan mentjuri (melahirkan) perempuan itu dari kekuasaan orang tua. Dulu dizaman purbagala waktu segalahal masih ”mentah” orang tentu sadja melawan atau menjerang kepada pentjuri itu dengan sendjata, mengejar dia dengan tombak dan panah, melempari dia dengan batu atau pentung, kini orang suda ”sopan”; kini orang melempari penganti jang mau berangkat untuk perdjalanan perkawinan itu dengan………..beras! dikalangan bangsa kita masih banjak djuga daera-daera jang perempuan itu ditjuri lebih dulu, misalnja sadja dinegeri tampauli, jang disitu masih ada adat ”marlodjong” atau ”dilondjongkan” (dilarikan), atau adat ”tangko babiat” (seperti matjat). Didaera pasemah adat itupun masi ada. Menurut keterangan eisler, maka pendjurian perempuan inilah jang mendjadi asalnja adat ”pembalasan daera” dizaman dulu, jakni asalnja adat bela pasti, ambil jawa balas sjawa, jang lazim terdapat disemua bangsa-bangsa diseluru muka bumi.

Tauka tuan asalnya adat ”tukar tjintjin” pada bamgsa eropa? Adat ini adalah berasal dari adt merampas perempuan: siperempuan diikat, dirantai oleh fihak jang merampas. Lambat-laun ”rantai” ini mendjadi lebih sopan. Dikota roma adat ini suda menjopan sedikit; sebagai tanda mendjadi hamba sang suami, maka pengantin perempuan diroma mendapat tjintjin besi dari iapunja suami. Dikemudian hari, maka diubahla tjintjin besi ini medjadi tjintjin tembaga, tjintjin perak, tjintjin embas, dan kemudian lagi mendjadi adat sekarang, jaitu lelaki dan perempuan ”tukar tjintjin” sebagai tanda setia satu sama lain dari dunia sampai achirat…………

Maka demikianlah, sifat-sifat patriarchat-liar itu masih sadja berkesan dalam adat-istiada dizaman sekarang, bukan sadja pada bangsa-bangsa jang belum berkemadjuan, tetapi djuga pada bangsa-bangsa jang suda modern seperti bangsa eropa dan amerika. Berabat-abat, ratusan tahun, ribuan tahun tjap ”benda” itu masi sadja melekat pada perempuan. Ia masih tetap sadja dianggap sebagai milik jang boleh dilakukan sesuka-suka oarang tuanja dan sesuka-suka suaminja. Dulu kasar-kasaran, kini halus-halusan; dulu mentah-mentahan, kini sopan-sopanan; tapi pada hakekatnja sama; laki-laki kuasa, isteri benda; laki-laki tuan, isteri hambah. Malah adat kebiasaan levirat masih djuga terus berdjalan sampai sekarang. Apaka leverat itu? Leverat adalah perkataan jang asalnja dari liver, jang artinja ipar. Liverat adalah adat, jang menetapkan, bahwa kalu sang suami mati, maka djandanja lantas mendjadi isterinja saudara-suami itu, – isteri iparnja sendiri -, atau isterinja keluarga-dekat dari suami itu. Njatalah disini perempuan itu dianggap sebagai satu milik jang dioperkan kesaudaranja suami jang mati. Atau setidak-tidaknja, ia hanjalah dianggap sebagai alat penegakkan keturunan sadja, satu alat pelahiran anak, satu ”mesin pengeram”! Di india orang perempuan jang tidak dapat hamil, dioperkan kepada saudara suaminja, sebelum suaminja itu mati, – tjoba-tjoba barangkali dengan saudara suami inilah jang dinamakan ”perkawinan njoga”, satu matjam perkawinan jang dasar-idiologinja sama dengan leverat itu. Dan ambilah adat kebiasaan orang jahudi. Didalam kitap perdjandjian lama, bagian kitap musa deuteronomium, 25, ajat 5 sampai 10, ternjatalah bahwa orang perempuan jang tak mempunjai anak, dioperkan kepada iparnja, kalau suaminja meninggal dunia. Benar didalam hukum jahudi pengoperan ini adalah satu hak jang boleh dituntut oleh djanda itu, – kalau si-ipar tak mau mengoper dia, dia boleh meludahi muka iparnja itu dimuka umum! -, tetapi hal ini tidak mengubah kepada dasarnja idiologi itu tadi: perempuan objek, perempuan benda, perempuan milik, jang disini menuntut pemeliharaan. Sebab, mentjari ketjintaan menurut kehendak hatinja sendiri, kawin dengan orang jang bukan ipar itu, dus menegakkan keturunan diluar lingkungan dasar suaminja jang mati itu, ia tidak boleh! Ia mesti kawin dengan ipar itu sadja, kalau ipar itu mau.

Lain-lain bangsa masih djuga ada jang mengerdjakan levirat itu, sampai sekarang: bangsu drus dan bangsa afghan, jang dua-duanja beragama islam, masih mengerdjkan adat ini, dan dinegeri kita antara lain-lain orang gajo dan alas dan pasema (telah beragama islam) dan orang batak (telah beragama serani) masi djuga belum melepaskan leferat itu. Sungguh dalam sekali tertanannja akar-akar patriarchat-liar itu didalam idiologinja sesuatu rakjat!

Ada lagi dua hal jang perlu saja terangkan lebih djelas disini berubungan dengan anggapan bahwa perempuan itu ”benda”: pertama hal persudalan, kedua hal ”perempuan mahluk dosa”.

Sala satu sifat patriarchat ialah persudalan. Bukan persudalan atau hetaerisme seperti dizaman hukum peribuan, tatkalah perempuan dianggap ibu-umum, tapi persudalan jang benar-benar persudalan: menjual diri pada laki-laki dengan mendapat uang, atau menjual diri pada laki-laki dengan mendapat barang ”harga” jang lain-lain. Dulu dizaman hukum peribuan persundalan itu satu ”amal keagamaan”, satu regiliuze daad, satu perbuatan jang diwajibkan oleh ibadat.. tetapi kini ia mendjadi arnal perdagangan. Perempuan, jang kini satu barang, satu benda jang da harga, jang tak dimiliki kalau tidak dibeli atau dirampas, perempuan itu kini mendjadi satu barang jang tidak tiap-tiap orang orang laki-laki mempunjai. Maka buat memusnakan sjahwat kaum laki-laki jang belum tjukup kekanjaan untuk membeli seorang isteri atau belum tjukup keberanian untuk merampas seorang isteri, timbulah perdagangan perempuan setjara ”barang etjeran”. Siapa belum mampu membeli seekor sapi, dapatlah ia membeli daging sekati sadja! Dan jang betul-betul menggambarkan idiologi patriarchat ialah, bahwah anggapan-umum tidak terlalu menolak atau membentji persudalan ini. Orang perempuan diwadjibkan setia, orang perempuan tidak boleh mendurhakai suami, orang gadis harus mendjaga betul-betul kegadisanja, tetapi orang lelaki, budnjaatau tidak pudnjang, boleh mengedjakan perzinahan diluar rumah sebanjak kali ia mau. Ja, bukan sadja anggapan umum, tetapi hukum negeripun hampir semua mengsjahkan persudalan itu! Dulu dinegeri junani, negaralah jang mengadakan defkterion-defkterion (rumah-rumah sundal), dimana tiap-tiap orang boleh melepaskan sjahwatnja dengan bajar tarif jang tetap, jakni kurang lebih lima gobang satu-kalinja. Dan dilain-lain negeri, diromawi, di jerusalem, di india, di nippon, disitupun dulu negara jang mendjai germo (pengurus rumah persundalan) jang pertama. Solon, pembuat hukum junani jang termashur, jang mula-mula mengadakan defkterion-defkterion itu, mendapat pudjian chalajak buat ”kebidjaksanaan” itu dengan kata-kata: ”solon, terpujilah engkau! Sebab engkau telah mengadakan sundal-sundal buat keselamatan kota, buat kesutjian kota jang penuh dengan pemuda-pemuda jang kuat, jang, umpama engkau tidak mengadakan aturan jang bidjaksanaitu, mistjaja akan menggangu keamanan perempuan-perempuan jang mulia!” sudakah tuan pernah mengetahui termasjhurnja ruma-ruma persudalan yoshiwara dikota tokio, jang mendapat perlindungan dari negara? Ingatlah tuan pula keadaan dinegeri kita sendiri beberapa puluh tahun jang lalu, waktu pemeritah belanda djuga mengakui sjahnja dan mereglementir persundalan itu? Maka begitu pula belum selang berapa lamanjasemua negara di eropa mensjahkan dan mengklementir persudalan itu. Jang dibekuk dan dimasukkan pendjara hanjalah sundal-sundal jang tidak memegang ”surat” sadja, jakni sundal-sundal jang belum tertjatat namanja didalam kitab register!

Memang tak dapat disangkal, bahwa persudalan itu bukan sekedar akibat ”kebedjatan moral” sadja, bukan sekedar satu akibat dari nafsu-birahi perempuan-perempuan liar, tetapi ialah satu keadaan jang tidak-boleh-tidak pasti lahir karena salahnja susunan masjarakat dan salahnja anggapan terhadap harga perempuab. Ia adalah satu ”buatan masyarakat” (perkataan enggels), ”ia adalah suatu buatan masjarakat seperti jang lain-lain; ia melandjutkan adanja kebebasan seksuil, – untuk kepentingan kaum-lelaki. Ia tak dapat lenjap, kalu susunan masjarakat jang salah itu tidak lenjap dan anggapan salah terhadap perempuan itu tidak dibongkar. Ia, menurut perkataan marx, tetap mengikuti peri-kemanusiaan ”sebagai satu banjangan”, sampai kealamnja ”peradapan” sekalipun. Dan ia sebaliknja djuga akan membangunkan satu ”buatan masjarakat” jang lain lagi, jang djuga tak dapat lenjap dizaman sekarang ini: ia membangunkan figurnja isteri jang mendurhakai suami, karena suami mendurhakai isteri. Laki-laki pergi bertjinta dengan sundal di luar rumah-tangga, isteripun jang ditinggalkan dirumah itu menerima pertjintaanja orang dari luar rumah tangga. Laki-laki tidak setia, perempuan tidak setia pula. ”disamping perlaki-isterian tunggal (antara seorang suami dan seorang isteri) dan hetaerisme (maksudnja: pelatjuran) pertjeraian adalah suatu peristiwa masjarakat jang tak dapat dihindari – dilarang, dihukum keras, tetapi tak dapat ditindas.” begitula engels menulis. Persundalan adalah satu buatan masjarakat. Walaupun dilarang keras, diantjam dengan hukuman berat, diperangi dengan wet dan pentjara, ia tidak dapat ditindas dan dihilangkan. Itulah sebabnja, maka meskipun patriarchat itu pertama-tama dan terutama sekali diadakan untuk ”memastikan turunan” toh sampai sekarang, kedati pendjagaan wet, kedati antjaman neraka jang bagaimanapun djuga ”siapa bapa” masi tetap satu soal ”kepertjanjaan” sadja, dan bukan satu hal jang dapat didjamin kepastianja. Satu hal ”kepertjajaan”, dan bukan satu hal kanjataan. Satu hal kira-kira, dan bukan satu hal kepastian. Sehingga kitab-hukum code napoleonpun, jang mendjadi tjontoh bagi banjak kitap-kitap-hukum di eropah, (antara lain-lain djuga mendjadi tjontoh hukum nederland), didalam artikel 312 ada menulis: lenfant concu pendant lemariaga a pour pere le mari”. – ”anak jang dihamilkan didalam persuamian-peristerian, jang dianggap mendjadi bapanja ia sang suami”. Dengan djitu dan djenaka sekali engels membubuhi kommentar atas artikel 312 code napoleon ini: inilah hasil jang paling baru dari tigaribu tahun persuamian-peristerian-satu!………

Marilah sekarang kita bitjarakan sifat patriarchat jang lain lagi itu: perempuan sebagai ”machluk dosa”. Inipun suda sadja tjeritakan sedikit-sedikit didalam bab jang dimuka. Patriarchat dengan djalan parit-paritnja ”agama” telah merendahkan kedudukan perempuan, atara lai dengan mengatakan, bahwa perempuan itu bikinan sjaitan. Sebagai-mana diantara kaum agama ada jang mengatakan, bahwa buat kemuliaan diachirat nanti, sebagai hal keduniaan harus didjauhi dan dibenji, jakni, bahwa kesutjian roh hanjalah dapat diperoleh apabila manusia mendjahui tiap-tiap nafsu kepada kekajaan milik dan kekajaan benda , – sebagaimana bagi setenga kaum agama, kemiskinan adalah satu ideal dan satu pedoman hidup -, maka terhadap kepada perempuanpun, (jang djuga benda, djuga milik, djuga kekajaan!), mereka berkata: djauhila dan pentjiilah perempuan itu, karena ia mendjahukan kaum dari nikmatnja achirat. Ane sekali pertentangan ini: kaum ”dunia” mentjari kemuliaan dan kenikmatan sebesar-besarnja dengan mengumpulkan sebanjak mungkin perempuan didalam rumah-tangganja laksana mengumpulkan sebanjak munkin ternak didalam kandang, kaum ”agama” mentjari kemuliaan dan kenikmatan dengan mensjaitankan tiap-tiap perhubungan, ja tiap-tiap angan-angan kepada perempuan! Faham bentji dan mensjaitankan perempuan dikalangan agama ini dinamakan asketisme dan selibat: (ascetisme dan celibaat).

Apaka arti asketisme dan selibat itu? Asketisme memulaikan tjara-hidup jang semiskin-miskinja, dan memerangi tiap-tiap nafsu kepada kemewahan dan kesenangan: baik nafsu kepada harta-kekanjaan, maupun nafsu kepada kelezatan makan dan minum, maupun nafsu kepada rumah-tanggaan, maupun nafsu kepada kepuasan sjahwat. Selibat memiliakan tjara-hidup tidak dengan perlaki-isterian, – lelaki tidak dengan perempuan, perempuan tidak dengan lelaki. Asketisme dan selibat suda menjelinap kedalam banjak agama dizaman dulu. Agama manu, agama buda, agama nasrani sampai kepadaberontaknja maarten luther diabat jang keenam belas, semuanja dimasukinja. Perempuan dianggap sebagai asal segala dosa. Perempuanlah dulu jang mendjatuhkan adam dari kemuliaan sorga, dan perempuanlah jang sampai achir zaman akan tetap berdanja-upanja menjatuhkan anak adam dari kemuliaan sorga, malah ada satu fihak jang berkata, bahwa memotong kemaluan (lelaki) adalah satu perbuatan jang dibenarkan oleh Allah; fihak ini menundjukan, bahwah didalam indjil mattheus 19 ajat11 dan 12 ada tertulis: ”ada orang jang terpotong, jang dilahirkan demikian oleh ibunja; dan ada orang jang terpotong, jang dipotong oleh orang lain; dan ada orang jang terpotong dirinja sendiri, untuk mendapat keradjaan achirat”. Menurut fihak ini, pengebirian adalah satu perbuatan mulia, tidak kawin satu perbuatan terputji, bentji perempuan satu tabiat jang maha-luhur. Origenes bekata: ”perkawinan adalah tidak kudus, satu hal jang kotor, satu alat pemuaska ajahwat”, dan buat menolak kekotoran ini ia telah memberi dirinja sendiri! Begitupun telah tertjatat dalam sedjarah, bahwa memang sering pendeta-pendeta jang merasa dirinja kurang kuat mengekan kehendak sjehwatnja dengan kekang djiwa sadja, lantas mengembiri diri sendiri, seperti origines itu. Tertullianus berkata: ”perempuan, engkau akan selalu mengeluh dan berpakaian kojak-kojak, matamu akan selalu penuh denga air-mata kemasjgulan, buat melupakan, bahwa engkaula telah mendjerumuskan peri-kemanusiaan kedalam lumpur kebinasaan. Perempuan, engkaulah pintu-gerbang neraka djahanan!”

Dimuka suda saja tuliskan, bahwa didalam agama jang lain-lainpun, mitsjalnja agama buddha dan manu, ada aliran keras jang mengharamkan perempuan itu. Didalam sufi-islampun aliran asketisme dan selibat itu keras sekali. Saja kira, didalam patriarchat-liar asketisme dan selibat dikalangan kaum agama adalah sama-sama satu buatan masjarakat sebagai persundalan adlah satu buatan masjarakat. Sebab, baik persundalan, maupun asketisme dan selibat, adalah sama-sama akibat daripada anggapan bahwa perempuan adalah milik dan benda; milik dan benda jang boleh didjual-belikan, atau – jang harus didjauhi agar dapat mentjapai kenikmatan achirat.

Suda barang tentu golonga-golongan agama jang mengikutu aliran asketisme dasn selibat itu tidak mau mengikuti, bahwa mereka merendahkan perempua. Mereka selau mengatakan, bahwa mereka djustru memuliakan perempuan. Mereka malah mengakui, bahwa tuhan ”kadang-kadang” mensutjikan perempuan djuga! Fihak islam – sufi mendjebutkan nama siti amina jang ditakdirkan oleh tuhan buat mengandung muhamad; fihak selibat – nasrani menjebutkan nama siti marjam; dan fihak buddha menjembutkan nama maya.. tidakka mereka semuanja perempuan-perempuan jang dimuliakan?

Mereka tidak mengetahui, bahwa dilai-lain agamapun ada perempua-perempuan jang dimuliakan, bahwa disembah!, tetapi jang disitu perempuan sebagai machluk-masjarakat di tindas dan direndamkan. Dawi kybele, dewi mylitta, dewi aphrodite, dewi venus, dewi ceres di eropa selatan, dewi edda, dewi freya dieropa utara, dewi sjri, dewi partiwi, dewi lakshmi, dewi koan im atau kwannon didunia timur – tidakkah mereka ini semuanja perempuan-perempuan jang disembah? Tetapi tidakkah dinegerinja dewi-dewi itu posisi sosial daripada kaum perempuan amat rendah sekali?

Marila sekarang kita palingkan muka ke indonesia. Dimanaka di indonesia masi ada patriarchat? Pertandjaan jang demikian ini kurang tegas. Jang dimaksudkan tentunja: dimanaka di indonesia masi ada patriarchat-liar? Sebab kita bangsa indonesia hampir semua hidup didalam sistem patriarchat. Ketjuali di daerah-daerah jang njata matriarchal, maka kita semua, beragama atau tidak beragama, kita semua patriarchal. Malahan dimuka telah saja katakan, bahwa agama islam dan agama kristen sebenarnja adalah koreksi atas patriarchat jang meng-ekses, koreksi atas hukum perbapaan jang bersifat kebiadapan. Hukum perbapaan jang mendindas dan menrampok, memperlakukan perempuan sebagai benda dan sebagai ternak, hukum perbapaan jang ”liar” itu dikoteksi, hendak diganti dengan hukum perbapaan jang adil dan baik. Tetapi agama sering sekali belum tjukup ”mendalam”, atau agama njata diabadikan oleh pengikut-pengikutnja, sehingga diberapa daerah indonesia jang pendudunja telah ”islam” atau telah ”kristen”, patriarchat-liar masi tampak dengan njata.

Saja dimuka telah mentjeritakan hal adat ”marlodjong” tanah batak memang masi tampak sekali ”klassik” ditentang kepatriarchatan. Kawin-beli, kawin-rampas, kawin-djual-tenaga, levirat (koophuwelijik, roofhuwelijk, diensthowelijk, levirat) masi semua bebekas ditanah batak itu. Orang batak jang hendak kawin, harus lebih dulu membanjar uang ”mangoli”, jakni uang membeli. Orang jang tidak mempunjai tjukup uang, bolehlah membeli kekasihnja dengan tenaga-kerdja; ia harus ’’sumondo”. Dengan dibelinja perempuan itu, pindahlah perempuan itu dari tenaga bapanja mendjadi milik suaminja sama sekali. Ia keluar dari marga sendiri, masuk kedalam marga suaminja sama sekali. Ia tidak mewaris harta-benda suaminja itu, kalu suaminja itu meninggal. Ia tidak boleh mewaris, malahan akan diwariskan. Kalau suaminja itu tidak mempunjai saudara atau tidak mempunjai keluarga jang dekat, maka meninggal suaminja itu ia boleh kembali kepada marganja sendiri, tetapi ia dimustikan membanjar kembali uang belianja lebih dahulu! Anank-anaknja jang perempuan tidak boleh ikut mewaris harta benda peninggalan bapanja, oleh karena mereka kelak toh akan dibeli oarang lain, – toh akan mendjadi milik oarang lain dan meninggalkan warga bapanja.

Pembatja melihat, semua sifat-sifat petriarchat terdapat kembali ditanah batak itu. Dengarkanlah perumpamaan batak dibawa ini:

Sian dangkana tu rantingna,

Siang angkangna tu agina.

Dalam bahasa indonesia kira-kira sebagai berikut:

Dari dahan kerantingnja,

Dari kakak keadinja.

Ja, kalau saudara-tua mati, saudara-muda akan mengganti dia! Orang jang mentjinta adat ini barang kali akan mengatakan, bahwa lavirat toh ada bainja djuga? Memang, barang kali lavirat ada ”maiknja” djuga: sldjanda tidak terus mendjadi janda, tetapi segera ada orang jang ”mengurus” akan dia. Memang ada satu sjair lain lagi, jang sering dinjanjikan oleh perempuan batak:

Tumagonan unang muli,

Tu anak sisada-sada.

Tung mate i annon,

Ndang andung na mangabia.

Dalam bahasa indonesia kira-kira begini;

Lebih baik njangan kawin,

Kepada anak sebatang kara.

Kalau dia nanti mati,

Tidak ada penggantinja.

Njatalah dari sjair ini, bahwa perempuan-perempuan itu sendiri seperti senang kepada levirat. Tetapi tidakkah benar pula kalau saja katakan, bahwa tiap-tiap adat, meskipun adat jang menindas bagaimanapun djuga kerasnja, telah merobah demikian rupa kepada rasa fikiran; ideologi fihak jang tertindas itu, sehingga mereka itu sendiri tjita kepada adat itu? Tidakah benar kalau sadja katakan, bahwa banjak perempuang tjinta kepada pingitan, tjita kepada hal bahwa silaki-laki menguruskan segala apasadja bagi mereka dan mereka tak usa ikut banjak pusing kepala ini dan itu, tjinta kepada ketentraman kehidupan disamping api-dapur dan buanian-anak sadja, – tidakkah benar kalau sadja katakan bahwa banjak perempuan tjinta kepada rantai jang merantaikan mereka?

Sjair jang kesua itu bukanlah satu alasan. Ia hanjalah satu buntut, satu akibat, ia tidak mematikan kentjataan, bahwa levirat adalah berdasarkan kepada pengertian ”benda”, berdasar kepada pengertian ”milik”. Ia berdasar kepada pengertian mewariskan milik. Didaera batak karo, seorang djanda jang dioper oleh saudara suaminja, lantas bernama ”lakoman” jang maknanja: penjedia makan. Ia ”mendatangkan makan”, ia satu milik jang menguntungkan! Seorang etnilog perna berkata. ”feltelijk is het devrouw, die den men onderhoudt; een batak, die troewt, ia voor de toekomt goborgen”. Artinja: ”sebenarnja, perempuanlah jang memberi makan kepada laki-laki; seorang batak jang kawin, terpeliharalah hidupnja buat seterusnja”.

Adakah lain-lain tempat lagi di indonesia dengan ”patriarchat-liar” jang masi njata? Ada! Bukan ditanah batak sadja ada sisa patriarchat-liar! Perhatikanlah: adat membanjar uang ”djeunames” sebelum laki-laki kawin disalah satu daerah atjah mengingatkan kita kepada kawin-beli terutama sekali oleh hal jang berikut: ”kalu siisteri meninggal dunia, maka silaki-laki itu boleh mengambil salah seorang gadis saudara isteri jang meninggal itu, sebagai gantinja, dengan tak uasah membanjar lagi ”djeutamee” sepeserpun djua. Didaera gojo dan alas njatalah perkawinan satu perbuatan membeli orang. Disana orang perempuan jang telah kawin (dan telah dibajar ”harganja”) disebutkan orang: ”anggo” (gaju) atau ”alog!” (alas). Dua-dua perkataan ini bermakna terbeli, keluarganja menamakan dia ”djuolon”, jang artinja: ”jualan”, – ”barang djualan” atau ”mengalih”, – mengalih sebagai milik, kepada lain tangan. Dan kalau suaminja tiada saudara atau keluarga, bolehlah ia pulang kembali kegampongnja; tetapi anak-anaknja tak boleh ia bawa. ”laha” pembelian itu tidak boleh dibawa keluar, tetapi harus tetap mendjadi rezeki fihak jang membeli!.

Di lampungpun dibeberapa daerah masi sangat tampak sifat pendjual-pembelian itu. Seorang etnolog menjatakan: ”perempuan(di lampung) jang telah dibeli oleh seorang laki-laki, tidak mempunjai hak apa-apa lagi sama sekali. Segala apa jang mendjadi miliknja, sehingga anak-anaknja sekalipun, mendjadi milik silaki-alaki itu. Kekuasaan bapa tidak berbatas. Sibapak itu berhak mengawinkan anak-perempuanja. Malahan sampai dibahagian pertama abat ke 19, sibapa itu mendjual anak-anaknja sebagai budak belian”.

Di lampung inilah, dan djuga didaerah bengkulu, sampai sekarang masi ada-adat ”djudjur”, adt ”kulo”, adat bajar ”uang antara”, jang semuanja pada hakekatnja ialah adat djual-beli perempuan. Besarnja ”djudjur” atau ”antaran” itu kadang-kadang ribuan rupia. Di endeh (flores) uang pembelian itu (disana dinamakan uang ”belis”) kadang-kadang djuga amat tinggi sekali. Saja sendiri di endeh perna menjaksikan orang membajar uang belis R 800.- (waktu uang masih mahal). Uang-uang pembelian jang amat tinggi itulah mendjadi sebab di beberapa daerah lampung, bengkulu dan flores banjak ”gadis tua”, di endeh ada beberapa ”gadis tua” jang telah berumur…………….60 tahun!

Tuan barang kali mananja: mengapa orang laki-laki kadang berani membajar orang pembelian jang begitu mahal!

Ambol, uang jang dibajarnja itu tidak terbuang pertjuma! Sebab satu kali ia buang uang, satu kali ia beli orang perempuan, satu kali ia ”pajah” atau ”meringis”, – seumur hidup ia boleh senang-senag gonjang kaki sadja: perempuan nanti bekerdja keras mentjari makan buat dia. Uang mangoli, uang djeunaee, uang djudjur, uang antaran, uang belis, -semuanja membawa laba. Jang pajah dan meringis nanti bukan jang membeli, tetapi jang dibeli djua adanja.

Sungguh benarlah perkataan bebel;  ”perempuan adalah budak belian, – budak belianpun dibeli dengan emas”!

Sudah mengetahui kita sekarang, apakah sifat-hakekat matriarchat dan patriarchat itu.

Sekarang, baiklah saja menindjau lebih dalm cksesekesnja (keliwat batasnnja) patriarchat itu.

Kita hasrus membuat perbedaan antara patriarchat jang meliwati batas, dan patriarchat jang tidak meliwati batas. Patriarchat jang tersebut belakangan ini, jakni patriarchat jang sekedar hanja untuk menetapkan hukum – turunan dan hukum –waris sadja, memang suda sesuai denga sjarat-sjarat kesuburan masjarakat. Ia ada tiang-besanjasoma, soko-gurunja somah. Revolusi sosial ”dari hukum peribuan kehukum perbapaan” adalah satu revolusi jang progresif. Demikianlah pula agamam islam dan agama kristen tidak menentang patriarchat jang demilian ini, tetapi malahan menetapkan benarnja patriarchat jang demikian ini.

Tetapi patriarchat melalui batas. Ia mengekaes. Ia mendjadi stelsel penindasan perempuan. Ia mendjadi stelsel jang merampas segala hak-hak perempuan, dan memindahkan hak-hak itu kedalam tangan laki-laki sadja sebagai monopoli. Dinawa ini saja hendak mememberi beberapa tjontoh jang amat menjedihkan.

Lebih dahulu, marilah kita dengan singkat meninjau kedudukan patriarcat berhubung dengan agama. Suda berulang-ulang sadja katakan, bahwa agama jang murni, jakni agama sebagai jang diandjurkan oleh nabi isa dan nabi muhamad sendiri, tidak berisi penindasan kepada perempuan. Nabi isa dan nabi muhamad malahan bermaksud mengoreksi ekses-ekses patriarchat jang pada waktu mereka berkerdja sebagai nabi allah, sedang mengamuk dinegeri mereka dan dinegeri-negeri lain.

Dinegeri nabi isa pada waktu itu adalah berlaku dua matjam kultur: kultur jahudi jang memang kultur asli disitu dan kultur hellenia-rumawi, jakni kulturnja kaum jang pada waktu itu medjadjah negeri jahudi.

Kedudukan kaum perempuan masjarakat jahudi paling tepat dapat sadja gambarkan dengan menguntip perkataan-perkataan jang diutjapkan oleh orang jahudi laki-laki didalam sebahjangnja tiap-tiap pagi: ”terpujilah tuhan rabbulalamin, jang telah membuat aku tidak perempuan”. Dan orang perempuan jahudi bersembahjang: ”terpujilah tuhan rabbulalamin, bahwah ia memembuat aku menurut kehendaknja”,

Dan kedudukan kaum perempuan dimasjarakat hellenia-rumawi telah sadja gambarkan dimuka dengan memberi tahu kepada pemtja, bahwa perkataan rumawi ”famulus” (keluarga) adalah bermakna: budak, hambah, abdi. Plato mengutjapkan terimakasi kepada dewa-dewa buat delapan matjam berkat jang dewa-dewa itu karuniakan kepadanja: jang pertama dari delapan berkat itu ialah, bahwa ia dilahirkan didunia sebagai orang-merdeka dan tidak sebagai budak-belia, dan jang kedua ialah bahwa ia dilahirkan sebagai laki-laki dan tidak sebagai perempuan. Dan dimukapun suda sadja katakan, bahwa dinegeri helleia (junani) perempuan disebutkan ”oikurema”, jang bermakna ”benda pengatur rumah tangga”.

Demikianlah keadaan perempuan dinegerinja nabi isa. Maka datanglah nabi besar ini mengoreksi ekses-ekses patriarcat itu. Dengan tegas dinjatakanja, bahwa bagi tuhan samalah laki-laki dan perempuan. Bahkan inilah jang mendjadi sebab, bahwa dizaman pertama daripada agama kriten itu, kaum perempuanlah jang paling giat mengikutinja dan paling giat membelenja. Merekalah jang dengan mulut tersenjum mendjalani siksaan-siksaan jang dilakukan kepadanja oleh musuh agama kristen,-dibakar hidup-hidup, dirobek-robek tubuhnja oleh singa, diseret-mati oleh sapi-sapi djantan sebagai ditjeritakan oleh sienkiwiecz didalam bukunja ”Quovadis” jang termasjhur. Diwaktiu itu masjarakat nasrani sangat menhargakan dan menghormat kepada perempuan.

Tetapi dizaman kemudian daripada itu, deradjat mereka diturunkan lagi. Nabi isa sendiri tidak pernah mengutjapkan sekatah katapun jang merendahkan kaun perempuan. Ini dapat dibuktikan dari kitap perdjandjian baru. Mitsalnja utjapan bahwa ”orang laki-laki adalah gambar dari kemasjhuran tuhan; orang perempuan adalah kemasjhuran orang laki-laki”, adalah utjapan dari zaman kemudian daripada nabi isa.

Ah, perempuan hanja kemasjhuran sadja dari orang laki-laki! Gambar dari orang laki-lakipun tidak! August bebel mengedjek utjapan ini dengan kata: ”dus tiap-tiap orang laki-laki total atau batjingan sekalipun, boleh menganggap dirinja lebih tinggi daripada perempuan jang bagaimana tjakap dan muliapun djuga. Didalam praktek, sajang sekali, keadaan memang begitu, sampai sekarang”.

Dan didunia islam? Didunia islampun begitu. Sebelum nabi muhamad dinubuahkan mendjadi nabi, arap djahilia berpestaraja didalam skses-ekses patriarchat dengan tjara jang mendirikan bulu. Dinegeri-negeri isin perempuan sekedar dibendahkan dan dibudakkan, tetapi diarap djahilia ia sering dianggap sebagai sampah jang mengotorkan. Anak-perempuan dibuang, dibunuh, dikubur hidup-hidup. Maka datanglah pemimpin besar muhammad memerangi ekses-ekses patriarchat itu. Tetapi beberapa waktu sesuda muhammad mangkat, datanglah lagi penindasan dan penghinaan. Sampai zaman sekarang, belum lenjap sama sekali perbudakan dan penindaan itu diberapa daerah ummat islam, baik di barat maupun di timur, di afrika tengah maupun di sentral-asia.

Dan dunia jang bukan kristen dan bukan islam?keadaan sekali tiga uang. Ekses-ekse patriarchat masih belum terhapus sama sekali. Ja, soal-perempuan memang belum selesai, djauh daripada selsai! Ada negeri-negeri jang walaupun suda berkemadjuan tinggi, disitu ekses-ekse patriarchat masi mengamuk dengan tjara jang mengerikan hati (djepang). Ada negeri-negeri jang disitu tadinja ekses-ekse patriarchat luarbiasa hebatnja, tetapi oleh karena negara dengan ulet dan seksama membanteraanja, kini suda banjak kuranja, meskipun belum lenjap sama sekali (rusia timur). Ada negeri-negeri disitu sudah banjak perubahan nasip perempuan, tetapi masih ada soal ”resak” atau ”scheur” sebai jang saja tjelaskan dimuka tadi (eropah, amerika). Dan adapulah negeri-negeri jang disitu kadaan perempuan masih sadja seperti beberapa ribuh tahun jang lalu, tatkalh nabi ibrahim berdjalan dipadang pasi. (hadramaut-dalam, tibet, d. L s).

Maukah membatjah satu tjotoh ekses-patriarchat dinegeri jang sudah berteknik tinggi? Saja tidak mengenal nalin tjontoh jang lebih ”tjituh” daripada dinegeri djepang. Umumnja orang-orang jang melihat keadaan perempuan dinegeri djepang, – apalagi jang melihatnja setjara pelantjongan turis sadja -, sangat tertarik oleh ”kekulturan” perempuan disana. Dan memang djuga orang-orang jang suda lama berdiam di djepang semuanja tertarik oleh ”kekulturan” mereka itu. Lafkandio hear. O”conroy, van kol griffis, lederer, alice m. Bacom, wdulersae, dan lain-lain pentjinta negeri nippon, semuanja memudji kehalusan dan kekulturan perempuan djepang. Semuanja mereka itu umumnja menjebutkan perempuan djepang ”dewi-dewi kebaikan”, ”pitri-putri kehalusan”, – bahasa belanda: engelen, bahasa inggelis: angels dalam, jang menjebabkan perempuan-perempuan djepang itu mendjadi dewi-dewi-kebaikan dan putri-putri-kehalusan. Mereka mengatakan bahwa hidup perempuan djepang adalah satu ”kesedihan” (tragedi), satu ”korbanan”. Dan bukan sekali-kali satu ”puisi”, satu sjair. Salah satu pemimpin indonesia jang dulu ikut dengan delegasi islam ke tokyo mendjadi kagum, tatkalah ia melihat bahwa orang perempuan djepang tidak mau duduk dikursi sebelum ia dipersilakan duduk dikursi sebelum ia dipersilakan duduk oleh suaminja jang telah duduk lebih dahulu. Kalu seumpama saudara ini mengetahui sebab-sebab jang lebih dalam daripada kebaktian ini, kalau ia mengetahui dasar sosial dari daripada kebaktian ini, – nistjaja ia tidak akan kagum, tetapi terharu!

Sungguh, amat mengharuhkan nasip perempuan nippon itu. Dimuka telah saja katakan, bahwa dulu, ratusan tahun jang lalu, sebelum zaman feodal, ia adalah sangat merdeka. Dulu ia memimpin masjarakat, mendjadi pemuka ilmu pengetahuan. Dulu ia mendjadi pembuat hukum negara, bahkan sepuluh kali ia mendjadi radja-puteri diatas singgasana negara. Dulu ia dinamakan ”sememnja masjarakat”, dan nipon dinamakan ”negeri wanita” atau ”negeri radja-radja wanita”. Tetapi sekarang! Sekarang ia menurut pendapat salah seorang penulis jang telah berdiam di nipon puluhan tahun (O’Conroy) tidak lebih dari ”benda” zaliman suaminja” dan ”seorang pengurus-rumah jang tidak bergadji dan alat-pelahirkan anak”. Dulu, menurut vankol, ia tak pernah menekuk lututnja dihadapan orang laki-laki, tetapi sekarang ia harus memandang suaminja itu sebagai ”jang dipertua jang wadjib ia berhamba dengan segalah kehormatan, dan segala pengagungan jang ia bisa berikan kepadanja” (weulerss). Sekarang ia tak boleh berdjalan dimuka sang suami, tetapi harus membuntut dibelakang samg suami. Bahasa jang ia pakai terhadap sang suami adalah alin dari bahasa jang ia pakai terhadap teman-temanja.  Bahkan bahasa jang ia pakai terhadap kepada ananja jang laki-laki, haruslah ali daripada bahasa jang ia pakai terhadap kepada anaknja jang perempuan!

Suaminja pergi melantjong, pergi menontong, pergi kerapat, pergi pelisir dengan sudal-sudal dirumah-rumah ”joronya” atau ”machiya”,  tetapi ia tinggal dirumah, – bekerdja, bekerdja,. Vain kol pemimpin belanda jang tjinta kepada negeri nipon itu menamakan perempuan nipon satu ”werkdier”, satu ”kuda beban jang tiada berhentinja berkerdja”. Van kol pulah jang menulis: ”perempuan (nipon) tidak masuk hitungan. Hanja si ”hapa” jang ada; ia (sibapa) adalah pusat segalah hal; ia mewakili dan meneruskan keturunan. Perempuan dianggap sebagai boneka sadja, tidak sebagai isteri, tidakpun sebagai orang jang dipertjaja”. Seorang penulis lain menjebutkan dia ”satu milik buat dipai, satu benda jang musti selalu ada”.

Kewadjiban-hidupnja jang terbesar, ”devoir pour ia vie”nja, ia menurut. – menurut kehendak sang suami. Demikian weulersse berkata. Dan seorang penulis nipon pula, shingoro taksishi, mengatakan: ”kewadjiban oaranag perempuan jang terbesar, seumur-hidup, ialah menurut”, – ”the grest lifelong duty of a woman is obedience”. Dan tjobalh pembatja perhatikan kalimat jang berikut, terambil dari buku nipon ”pengadjaran besar buat perempuan”: ”segalah apa sadja jang diperintahkan suami, harus diturut oleh perempuan dengan penuh ketaatan. Ia mensti menengadahkan muka kepada suami, seakan-akan suami itu setinggi langit. Ia mesti selalu memikirkan apakah jang dapat menjenangkan hati suami. Ia mesti bangun pagi-pagi, masuk tidur djauh malam, supanja rumah-tangga selalu beres. Adat kita dari zaman dulu ialah bahwa baji perempuan jang baru lahir, harus diletakan tiga hari lamanja diatas tanah. Dari adt kita ini ternjata, bahwa laki-laki tinggi seperti langit, dan perempuan rendah seperti tanah”.

Pada waktu orang perempuan nipon menikah, ia harus memakai pakaian jang berwarna putih, sebab bagi oarang nipon warna putih adalah warnaja maut. Simbolik ini berarti, bahwa pada waktu ia menikah, ia telah mati bagi kehendak-kehendak dan keinginan-keinginan sendiri. Orang tuanjapun pada waktu itu membakar api, – membakar api pada waktu kematian salah seorang keluarganja. Ia tinggal hidup bagi dia jang satu itu sadja, – tinggal hidup bagi sang suami.

Ia tidak boleh berkata apa-apa, kalu suaminja djauh-djauh malam belum pulang dari pelisir. Ia musti menunggu dengan sabar, memasang telinga dengan teliti, supanja, kalau ia mendengar jejak kaki suaminja di tangga, ia segera dapat membukakan pintu dan menghematnja dengan menekukan lutut ia tak boleh berkata apa-apa, kalaupun sang suami itu membawah sundal kedalam rumah. Ia malahan tak boleh berkata apa-apa, kalau sang suami memerintahkan kepadanja, membereskan tempat tidur buat suaminja, dan sundal itu, atau menjediakan ske hangat disebelah tampa: tidur itu, meskipun ia mengetahui bahwa sake itu buat menguatkan nafsu-birahinja sang suami itu, ia tak boleh berkata apa-apa kalau ia kemudian disuruh menutup pintu balik, disuruh menungguh duduk dimuka pintu itu itu, kalau-kalu nanti sang suami memanggil kepadanja dengan tepokan tangan, – meminta ini atau itu buat kesenangannja dengan sundal itu.

Didalam buku O’Conroy, profesor ini mentjeritakan satu pengalaman jang amat mengaruhkan:

”saja tidak akan dapat melupakan pengalaman  saja pertama kali, tatkala saja menjaksikan, betapa seorang anak-perempuan jang masih pengantin baru, duduk dimuka pintu kamar-tidurnja, menunggu suaminja memangil dia dengan tepokan tangan. Ia baru umur enambelas tahun dan belum banjak lebih dari seorang kanak-kanak. Ia mengirah telah mendapat satu keberuntungan jang besar, karena mendapat suami jang agak kaja. Ia sangat mendambahkan dirinja, rumah tangganja, suaminja. Ia agungkan suaminja itu sebagai seorang-orang jang mahamulja. Ia ingin sekali lekas mendapat seorang anak laki-laki.

Ia baru kawin seminggu, tatkalah suaminja datang dirumah membawah seorang sundal. Ia diperintahkan oleh suaminja itu mendjadi itu menjediakan tempat-tidur, dan menunggu dimuka pintu. Tatkal saja melihat dia itu, dia sedang duduk diatas tikar ketjil dari tjemari. Ia gojangkan badannja kemuka dan kebelakang, merintih seluruh tubuhnja sehingga kaku, dan tiap kali ia menundukan tubuhnja kemuka, dipukul-pukulkanlah kepalanja diatas papan. Tampaknja kepada saja ia seperti ia mau memukulkan keluar fikiran-fikiran jang ada didalam kepalanja itu. Sekonjong-konjong mengalirlah air-matanja banjak-banjak diatas pipinja. Ia mengigit-gigit bibir supanja tidak berteriak, dan darah menetes dari ujung-ujung mulutnja. Ia mengambil putjuk kinomonja, dan diputar-putarkanja didalam tanganja. Kemudia ia memasukan putjuk kimono itu kedalam mulutnja, supanja tidak keluar satu tjeritan sakit hatinja. Keadaan sanja disitu dianggap sebagai satu penghinaan oleh suami itu, dan sanja tidak berani lagi bertamu disitu setengah tahun lamanja. Tatkala saja bertamu lagi kesitu, – seperti suda ditakdirkan, sedang terdjadi lagi hal jang sama pulah suaminja dengan sundal didalam kamar. Tapi ini kali isterinja itu duduk tenang membatja surat kabar, dan tatkala ia melihat saja, berdirilah ia sesudah memanggutkan kepalanja setjara biasa, menjongsong kedatangan sanja, mengutjapkan selamat datang dengan sanja dengan muka jang tersenjum. Ia telah beladjar, beladjar bahwa kewadjipanja ialah menurut”……………….

Sungguh, tidak ada satu perempuan djepang jang tidak menurut. Sebab ketjemaran-nama jang paling sangat dinegeri djepang, kehinaan jang paling besar, ialah ditjeral (ditalak) oleh suami. Semua kehinaan masi dapat dipikul, semua kepedihan masih dapat ditahan, – ketjuali kehinaan jang satu ini. Lebih baik sengsarah dan menangis dalam hati seumur hidup, dari pada mendapat perintah dari sang suami supaja pulang. Dan suami ini dapat menjuruh dia pulang setiap waktu, pagi atau sore, siang atau malam. Begitulah keadaanja sekarang. Padahal dizaman dulu, suami jang mentjeraikan isterinja, kehilangan sama sekali harta miliknja, karena harta miliknja itu mendjadi hak isteri jang ditjeraikan itu!

Ja, – ”suami” – itulah kata satu-satunja jang terdapat didalam kamus seorang perempuan djepang. Ia seorang isteri jang ”sempurna”. Jang halus, jang mentjinta, jang taat, jang bakti, jang berkorban, – karena sang suami itu. Orang tak mudah mengerti hal ini. Dr. Nitobe sendiri, itu penulis djepang jang termasjhur, berkata, bahwa perempuan djepang itu sudah mendjadi satu soal, satu problem ”problem bagi dunia, problem bagi negerinja, problem bagi dirinja sendiri”. Ia mentjita mesti tak pernah ditjitah, mengorbankan dirinja meski tak pernah mendapat. Hidupnja. Menurut O’Conroy, adalah satu ”tetesan air-mata dan satu sennjuman satu kedukatjitaan jang dipikul dengan diam-diam, satu hidup mati-berdiri jang tiada persamaanja disudut dunia manapun djuah”. Baginja, menurut tulisan van kol, tidak-kawin adasatu moda jang amat besar, tetapi kawin satu siksaan jang amat pedih.

Betapa hebatja tjinta seorang perempuan djepang! Ia mentjita dengan segenap djiwanja, tetapi tak dapat mendjelmakan tjintanja itu. Karena suaminja tak mengizinkan dia duduk terlalu dekat. Ia musti selalu bersikap hormat, selau bersikap ”abdi”. Maka ditjurahkanlah tjintanja itu habis-habisan kepada anak. Lafendio hearn tidak mengenal satu hal jang lebih mengharuhkan hati, daripada seorang perempuan djepang jang mengusap-usap dan mentjium-tjium kepada anaknja. Matanja jang memandang kepada anaknja itu sering kali berlinanga-linang.

Tetapi, apakah laki-laki djepang membalasnja dengan tjita pulah?

Menurut semua ahli-ahli djiwa orang djepang, maka laki-laki djepang itu mengenal apa tjinta itu. Bahasa djepang tak mengenal kata buat ”tjita-kasih” didalam arti dan makna jang kita kenal kepadanja perkataan mereka buat ”tjintah” adalah satu perkataan jang bermakna persatuan tubuh, dan aksarah mereka buat ”tjitah” adalah aksarah jang memggambarkan persatuan tubuh. Perempuan bagi mereka hanja mahluk pelepas sjahwat. Tjeritan-tjeritan-rumah djepang hampir tak pernah berahir dengan ”happy end”, – jaitu kebahagiaan jitah-kasih antara laki-laki dan perempuan. Tjitah batin, tjita djiwa, tidak ada. Kaerena itu maka laki-laki djepang tidak mengarti, bahwa ia mendjalankan satu penghinaan kepada isterinja, kalu ia menjudal, menjelir, membawah perempuan lain kedalam rumah. Ia merasah boleh mempunjai selir (makake) berapa sadja, – diluar dan didalam rumah. Ia merasa boleh menjudal bebereapa kali sadja setiap hari, sekuat uang dan kemampuanja. Bergaul dengan geisha-gelisha dan perempuan djalan dianggapnja bukan satu ke-immorlian. Diseluruh negeri djepang ditiap-tiap sudut adalah rumah-rumah joroya macsyah. Tidak ada satu pesta, tidak ada satu perdjamuan, jang tidak ”disempurnakan” dengan geisha-geisha.

Perzinahan,- persetubuhan diluar nikah -, bukanlah satu dosa. Menurut perhitungan tjatjah-tjiwa ratja jang dikerdjakan oleh departemen tatausaha keraton beberapa tahun jang lalu, maka 60% dari anank-anak bangsawann adalah dilahirkan oleh isteri-isteri jang tidak dikawin. Tetapi djanganlah seorang perempuan jang sudah bersuami sjah, berzinah dengan laki-laki lain ! hukuman berat, dari wet dan dari etika, akan djatuh diatas kepalanja! Beberapa pulu tahun jang lalu, ia malahan didjatuhi hukuman mati karena perzinahan itu. Ia adalah sebuah milik jang tak boleh dirabah oleh orang lain; suami adalah jang memiliki-milik itu, dan suami itu boleh menanbah djumlah milik itu menurut kemampuanja. 134…………

BAB V

WANITA BERGERAK

Keadaan wanita jang ditindas oleh fihak laki-laki itu achirnja, tidak boleh tidak, nistjaja membangunkan dan membangkitkan satu pergerakan jang berusaha meniadakan segala tindasan-tindasan itu. Itu memang sudah hukum alam. Tetapi adalah hukum alam djuga, bahwa kesadaran dan kegiatan sesuatu pergerakan bertingkat-tingkat “Ber-evolusi”. Pergerakan perempuan ber-evolusi.

To be continued to page 144

Iklan

TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK DAN HUMANISTIK

TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK DAN HUMANISTIK

1        Teori Behavioristik

  • Teori Connectionism(Thorndike)

Dalam teori ini dilakukan percobaan pada seekor anjing.Pada parcobaan tersebut menghasilkan teori trial and error atau selecting and connecting,yaitu bahwa belajar itu terjadi dengan cara mencoba coba dan membuat salah.Dalam percobaan ini kucing tersebut cenderung untuk meninggalkan perbuatan perbuatan yang tidak mempunyai hasil.Setiap respons menimbulkan stimulus yang baru ,selanjutnya stimulus baru ini akan menimbulkan respons lagi.

Hukum – hokum dalam belajar menurut Thorndike

1)The law of rediness

Yaitu bahwa kesiapsiagaan untuk berbuat akan memperlancar hubungan antara S dan R.

2)The law of excercise

Yaitu dengan adanya ulangan – ulangan yang selalu dikerjakan ,maka hubungan antara S dan R akan lebih lancar.

3)The law of effect

Yaitu hubungan antara S dengan R akan lebih baik kalau menghasilkan hal –hal  yang menyenangkan,dan ini cenderung selalu di ingat.

  • Teori Cconditioning (Pavlov)

Dalam teori ini dilakukan percobaan pada anjing ,dimana dalam percobaannya anjing tersebut dioperasi lehernya,sehingga kelihatan kelenjar liurnya dari luar.Apabila diperlihatkan sesuatu makanan maka akan keluarlah air liur anjing tersebut.Dalam percobaan tersebut dibuatkan  rangsangan buatan  berupa sinar merah ,air liur itupun  keluar dengan sendirinya.Apabila hal ini dilakukan berulang ulang rangsangan  buatan  ini akan  menimbulkan syarat (kondisi) untuk timbulnya air liur  pada anjing tersebut.Peristiwa ini disebut refleks bersyarat atau Conditional respons.

Belajar menurut teori behavioristik merupakan proses perubahan tingkah laku sebagai akibat  adanya interaksi antara  stimulus dengan respons,Adapun akibat adanya interaksi  antara stimulus dengan respons siswa mempunyai pengalaman baru,yang menyebabkan mereka mengadakan  tingkah laku dengan cara yang baru.

Hal –hal yang harus diperhatikan  dalam menerapkan teori Behavioristik

  1. Mementingkan  pengaruh lingkungan
  2. Mementingkan bagian bagian
  3. Mementingkan  perubahan reaksi
  4. Mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil belajar melalui prosedur stimulus – respons
  5. Mementingkan peranan kemampuan yang sudah terbentuk sebelumnya
  6. Mementingkan pembentukan kebiasaan melalui latihan dan pengulangan
  7. Hasil belajar yang dicapai adalah munculnya perilaku yang diinginkan

Seorang Guru harus  menyusun bahan pelajaran dalam bentuk yang sudah siap,sehingga tujuan pembelajaran  yang harus dikuasai siswa disampaikan secara utuh  oleh Guru.Guru tidak banyak memberikan ceramah,tetapi instruksi singkat yang diikuti contoh –contoh,baik dilakukan sendiri maupun melalui stimulusBahan pelajaran disusun secara hierarki dari yang sederhana sampai pada yang kompleks.Tujuan pembelajaran dibagi dalam bagian bagian kecil yang ditandai dengan pencapaian suatu ketrampilan tertentu.Pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur,diamati dan kesalahan harus segera diperbaiki.

Kelebihan  teori belajar Behavioristik yaitu sangat cocok  untuk memperoleh kemampuan yang membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur –unsur seperti kecepatan ,spontanitas,kelenturan ,refleks<dan daya tahan.Cocok diterapkan untuk melatih anak anak yang masih membutuhkan dominasi peran orang dewasa,suka mengulangi dan harus dibiasakan ,suka meniru dan senang dengan bentuk penghargaan langsung.Dapat dikendalikan  melalui cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan,sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya.

Kekurangan teori belajar Behavioristik yaitu murid hanya mendengarkandengan tertib penjelasan guru dan menghapalkan apa yang didengar dan dipandanng sebagai cara belajar yang efektif.

2        Teori Humanistik

Menurut teori ini ,tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia.Tujuan utama para pendidik adalah membantu siswa untuk mengembangkan dirinya,yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia  yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi –potensi yang ada pada diri mereka .Teori belajar ini berusaha  memahami perilaku belajar dari sudut pandang  pelakunya,bukan dari sudut pandang pengamatnya.

  1. Artur Combs (1912-1999)

Meaning (makna dan arti) adalah konsep dasar yang sering digunakan .Belajar terjadi bila  mempunyai arti bagi individu.Guru tidak bias  memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan mereka ,Untuk itu,Guru harus memahami perilaku siswa dengan mencoba memahami dunia  persepsi siswa ,sehingga apabila ingin merubah perilakunya ,Guru harus berusaha mengubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada.Combs berpendapat bahwa banyak Guru yang membuat kesalahan dengan berasumsi  bahwa siswa mau belajar apabila materi pelajarannya disusun dan disajikan  sebagai mana mestinya .Yang terpenting adalah bagaimana membawa siswa untuk memperoleh arti bagi pribadinya,dari materi pelajaran tersebut dan menghubungkannya dengan kehidupannya.Jadi sesuatu hal akan mudah melekat pada diri seseorang jika mempunyai makna dan arti bagi dirinya sendiri.

  1. Maslow

Teori Maslow didasarkan atas asumsi bahwa didalam diri individu ada dua hal:

  • Suatu usaha yang positif untuk berkembang
  • Kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan tersebut

Hierarki kebutuhan manusia menurut Maslow mempunyai implikasi yang penting yang harus diperhatikan oleh guru pada waktu mengajar  anak-anak .Ia mengatakan bahwa perhatian dan motivasi belajar tidak mungkin berkembang kalau kebutuhan dasar siswa belum terpenuhi.

  1. Carl Rogers

Ada dua tipe belajar manurut Rogers:

  • Kognitif (kebermaknaan )
  • Experietial(pengalaman atau signifikasi)

Menurut Rogers yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran.

Aplikasi teori Humanistik terhadap pembelajaran siswa

Aplikasi teori humanistic lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode metode yang diterapkan.Peran Guru dalam pembelajaran humanistic adalah menjadi fasilitator bagi para siswa  sedangkan Guru memberikan motivasi,kesadaran mengenai makna  belajar dalam kehidupan siswa.Guru memfasilitasi pengalaman  belajar kepada  siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran.Siswa berperan sebagai pelaku utama(student center) yang memaknai proses pengalaman belajar sendiri.

Kekurangan teori humanistik yaitu Peserta didik kurang mengenal diri dan potensi potensi yang ada pada diri mereka.

Kelebihannya teori Humanistik yaitu Pembelajarannya siswa harus berusaha agar lambat laun mampu mencapai aktualisasi diri sebaik baiknya.

SUMBER

  • Sugihartono,dkk.2006.Psikologi Pendidikan.Yoyakarta:FIP UNY.
  • Dakir.1993.Dasar –dasar psikologi.Yogyakarta:Pustaka pelajar.
CIRI-CIRI KURIKULUM  AKADEMIK SUBYEK AKADEMIK

Kurikulum disajikan bagian bagian ilmu ilmu pengetahuan, mata pelajaran yang di intregasikan.Ciri-ciri ini berhubungan dengan maksud, metode, organisasi dan evaluasi.

1.  Maksud dan Fungsi

Maksud kurikulum adalah melatih siswa dalam menggunakan gagasan yang paling bermanfaat dan proses menyelidiki masalah riset khusus.  Siswa diharapkan memperoleh konsep dan methode untuk melanjutkan pertumbuhan dalam masyarakat lebih luas.

2.  Metode-Metode Kurikulum Subjek Akademik

Adalah dengan cara :

Pameran (eksposisi), penyelidikan merupakan dua titik teknik yang secara umum digunakan dalam kurikulum akademik.

Masalah atau gagasan dirumuskan dan diupayakan sehingga dapar dipahami mereka memeriksa pernyataan untuk menerangkan arti, landasan logika, dan dukungan factual mereka.  Buku yang telah sangat terpengaruh kehidupan besar tidak diabaikan.

3.  Organisasi

Banyak pola organisasi alternatif dalam kurikulum akademik.  Beberapa diantaranya :

<!–[if !supportLists]–>-    DISATUKAN ATAU DIMAMPATKAN, misalnya konsep tentang energi, dapat dipelajaria dari sudut-sudut pandang biologi, fisika, kimia dan geologi.

<!–[if !supportLists]–>-      DIINTEGRASIKAN, misalnya matematika diajarkan untutk menyelesaikan masalah ilmu pengetahuan.

<!–[if !supportLists]–>-   DIKORELASIKAN, misalnya Sejarah, Geografi dan Bahasa Inggris, mungkin diajarkan agar dapat memperkuat satu dengan yang lain.

<!–[if !supportLists]–>-        PENYELESAIAN MASALAH SECARA KOMPREHENSIF, yaitu dengan tujuannya para siswa dapat harus mendapatkan kecakapan dan pengetahuan dari ilmu pengetahuan matematika dan kesenian dalam upaya mendapatkan penyelesaian yang optimal.

Dengan memperhitungkan urutan dalam seluruh program sekolah, ini menekankan kontinuitas dari bahan pelajaran dan memberi gambaran bagaimana bahan pelajaran dapat disesuaikan dengan pandangan mengenai kematangan pelajar

Tingkat Sekolah                     Penenkanan Bahan Pelajaran

Primary                                   Bahan Pelajaran berfariasi melalui pengalaman berwujud atau kongret

Upper Elementary                        Penguasaan alat dasar pemeriksaan dan komunikasi, membaca, menulis, aritmetik, observasi, dan penyelidikan

Secondary                                Perbedaan bahan pelajaran dan pengajaran sistematik dalam bidang terpisah.  Pandangan bagaimana tiap mata pelajaran dihubungkan dengan yang lainnya (survey ensiklopedi)

Higher Education                      Bahan pelajaran sesuai dengan minat dan kemampuan individual.

3. PUBLIKASI SEBAGAI ACADEMIC SUBJECT METTER

Menyelidiki Diantara Disiplin.

Sejumlah alat pengukur diusulkan

<!–[if !supportLists]–>1.      <!–[endif]–>Pengertian mengenai cara mencapai atau mempertimbangkan kebenaran atau

pengetahuan

<!–[if !supportLists]–>2.      <!–[endif]–>Pelayan social – kegunaan disiplin ilmu untuk seluruh warga Negara.

<!–[if !supportLists]–>3.      <!–[endif]–>Pengetahuan prasyarat – pentingnya disiplin ilmu sebagai dasar untuk

pengetahuan lain atau untuk pendidikan ilmu sebagai dasar untuk pengetahuan lain atau untuk pendidikan berikutnya.

Kurikulum dapat mencegah keterasingan sekolah pada waktu ini, yang hanya menggunakan cara belajar berdasarkan pengetahuan.

Mata pelajaran tertentu sebagai prasyarat seringkali dipertahankan atas dasar bahwa ada ketergantunga logis anatara bidang pengetahuan yang mengesampingkan kepentiangan siswa atau relevansi dengan masalah social.  Penggunaan yang paling tidak dapat dipertahankan tentang criteria prsyarat berhubungan dengan persyaratan penerimaan perguruan tinggi yang menyajikan standar untuk kurikulum sekolah menengah atas selama bertahun-tahun.

SELF EFFICACY

SELF EFFICACY

Pengertian Self Efficacy

Menurut Bandura self Efficacy adalah belief atau keyakinan seseorang bahwa ia dapat menguasai situasi dan menghasilkan hasil (outcomes) yang positif (Santrock, 2001). Sedangkan menurut Wilhite (1990) dalam tesis yang berjudul Goal Orientantion, Self Efficacy dan Prestasi Belajar pada Siswa Peserta dan Non Peserta Program Pengajaran Intensif di Sekolah oleh Retno Wulansari tahun 2001, self efficacy adalah suatu keadaan dimana seseorang yakin dan percaya bahwa mereka dapat mengontrol hasil dari usaha yang telah dilakukan.

Menurut Dale Schunk self efficacy mempengaruhi siswa dalam memilih kegiatannya. Siswa dengan self efficacy yang rendah mungkin menghindari pelajaran yang banyak tugasnya, khususnya untuk tugas-tugas yang menantang, sedangkan siswa dengan self efficacy yang tinggi mempunyai keinginan yang besar untuk mengerjakan tugas-tugasnya.

II.1.B Faktor-faktor yang Mempengaruhi Self Efficacy

Menurut Bandura (1997) dalam Tesis yang berjudul Goal Orientantion, Self Efficacy dan Prestasi Belajar pada Siswa Peserta dan Non Peserta Program Pengajaran Intensif di Sekolah oleh Retno Wulansari tahun 2001, ada beberapa faktor yang mempengaruhi self efficacy yaitu:

a. Pengalaman Keberhasilan (mastery experiences)

Keberhasilan yang sering didapatkan akan meningkatkan self efficacy yang dimiliki seseorang sedangkan kegagalan akan menurunkan self efficacynya. Apabila keberhasilan yang didapat seseorang seseorang lebih banyak karena faktor-faktor di luar dirinya, biasanya tidak akan membawa pengaruh terhadap peningkatan self efficacy. Akan tetapi, jika keberhasilan tersebut didapatkan dengan melalui hambatan yang besar dan merupakan hasil perjuangannya sendiri, maka hal itu akan membawa pengaruh pada peningkatan self efficacynya.

b. Pengalaman Orang Lain (vicarious experiences)

Pengalaman keberhasilan orang lain yang memiliki kemiripan dengan individu dalam mengerjakan suatu tugas biasanya akan meningkatkan self efficacy seseorang dalam mengerjakan tugas yang sama. Self efficacy tersebut didapat melalui social models yang biasanya terjadi pada diri seseorang yang kurang pengetahuan tentang kemampuan dirinya sehingga mendorong seseorang untuk melakukan modeling. Namun self efficacy yang didapat tidak akan terlalu berpengaruh bila model yang diamati tidak memiliki kemiripan atau berbeda dengan model.

c. Persuasi Sosial (Social Persuation)

Informasi tentang kemampuan yang disampaikan secara verbal oleh seseorang yang berpengaruh biasanya digunakan untuk meyakinkan seseorang bahwa ia cukup mampu melakukan suatu tugas.

d. Keadaan fisiologis dan emosional (physiological and emotional states)

Kecemasan dan stress yang terjadi dalam diri seseorang ketika melakukan tugas sering diartikan sebagai suatu kegagalan. Pada umumnya seseorang cenderung akan mengharapkan keberhasilan dalam kondisi yang tidak diwarnai oleh ketegangan dan tidak merasakan adanya keluhan atau gangguan somatic lainnya. Self efficacy biasanya ditandai oleh rendahnya tingkat stress dan kecemasan sebaliknya self efficacy yang rendah ditandai oleh tingkat stress dan kecemasan yang tinggi pula.

II.1 C Manfaat Self Efficacy

Sebagaimana dikatakan dalam tesis yang berjudul Goal Orientantion, Self Efficacy dan Prestasi Belajar pada Siswa Peserta dan Non Peserta Program Pengajaran Intensif di Sekolah oleh Retno Wulansari tahun 2001, bahwa ada beberapa fungsi dari self efficacy yaitu :

a. Pilihan perilaku

Dengan adanya self efficacy yang dimiliki, individu akan menetapkan tindakan apa yang akan ia lakukan dalam menghadapi suatu tugas untuk mencapai tujuan yang diiinginkannya.

b. Pilihan karir

Self efficacy merupakan mediator yang cukup berpengaruh terhadap pemilihan karir seseorang. Bila seseorang merasa mampu melaksanakan tugas-tugas dalam karir tertentu maka biasanya ia akan memilih karir tesebut.

c. Kuantitas usaha dan keinginan untuk bertahan pada suatu tugas

Individu yang memiliki self efficacy yang tinggi biasanya akan berusaha keras untuk menghadapi kesulitan dan bertahan dalam mengerjakan suatu tugas bila mereka telah mempunyai keterampilan prasyarat. Sedangkan individu yang mempunyai self efficacy yang rendah akan terganggu oleh keraguan terhadap kemampuan diri dan mudah menyerah bila menghadapi kesulitan dalam mengerjakan tugas.

d. Kualitas usaha

Penggunaan strategi dalam memproses suatu tugas secara lebih mendalam dan keterlibatan kognitif dalam belajar memiliki hubungan yang erat dengan self efficacy yang tinggi. Suatu penelitian dari Pintrich dan De Groot menemukan bahwa siswa yang memiliki self efficacy tinggi cenderung akan memperlihatkan penggunaan kognitif dan strategi belajar yang lebih bervariasi.

Sebuah penelitian telah menemukan bahwa ada hubungan yang erat antara self efficacy dan orientasi sasaran (goal orientasi). Self efficacy dan achievement siswa meningkat saat mereka menetapkan tujuan yang spesifik, untuk jangka pendek, dan menantang. Meminta siswa untuk menetapkan tujuan jangka panjang adalah hal yang baik seperti: “Saya ingin malanjutkan ke perguruan tinggi”, tetapi akan sangat lebih baik kalau mereka juga membuat tujuan jangka pendek tentang apa yang harus dilakukan seperti: “Saya harus mendapatka nilai A untuk tes matematika yang akan datang”.

II.I.D Pengukuran Self Efficacy

Menurut Bandura (1977) sebagaimana dikatakan dalam tesis yang berjudul Goal Orientantion, Self Efficacy dan Prestasi Belajar pada Siswa Peserta dan Non Peserta Program Pengajaran Intensif di Sekolah oleh Retno Wulansari tahun 2001, pengukuran self efficacy yang dimilki seseorang mengacu pada tiga dimensi, yaitu:

a. Magnitude, yaitu suatu tingkat ketika seseorang meyakini usaha atau tindakan yang dapat ia lakukan

b. Strength, yaitu suatu kepercayaan diri yang ada dalam diri seseorang yang dapat ia wujudkan dalam meraih performa tertentu.

c. Generality, diartikan sebagai keleluasaan dari bentuk self efficacy yang dimiliki seseorang untuk digunakan dalam situasi lain yang berbeda.

II.1.E Strategi untuk Meningkatkan Self Efficacy

Untuk meningkatkan self efficacy siswa, ada beberapa strategi yang dapat kita lakukan (Stipek, 1996) yaitu :

a. Mengajarkan siswa suatu strategi khusus sehingga dapat meningkatkan kemampuannya untuk fokus pada tugas-tugasnya.

a. Memandu siswa dalam menetapkan tujuan, khususnya dalam membuat tujuan jangka pendek setelah mereka mebuat tujuan jangka panjang.

b. Memberikan reward untuk performa siswa

c. Mengkombinasikan strategi training dengan menekankan pada tujuan dan memberi feedback pada siswa tentang hasil pembelajarannya.

d. Memberikan support atau dukungan pada siswa. Dukungan yang positif dapat berasal dari guru seperti pernyataan “kamu dapat melakukan ini”, orang tua dan peers.

e. Meyakinkan bahwa siswa tidak terlalu aroused dan cemas karena hal itu justru akan menurunkan self efficacy siswa.

f. Menyediakan siswa model yang bersifat positif seperti adult dan peer. Karakteristik tertentu dari model dapat meningkatkan self efficacy siswa. Modelling efektif untuk meningkatkan self efficacy khususnya ketika siswa mengobservasi keberhasilan teman peer nya yang sebenarnya mempunyai kemampuan yang sama dengan mereka.

II.2 Motivasi

II.2.A Pengertian dan Manfaat Motivasi

Motivasi adalah keadaan internal yang menyebabkan kita bertindak, mendorong kita pada arah tertentu, dan menjaga kita tetap bekerja pada aktivitas tertentu (Elliott dkk, 2000). Motivasi merupakan konstruk psikologi penting yang mempengaruhi pembelajaran dan performa dalam empat cara yaiti :

a. Motivasi meningkatkan energi individu dan level aktivitasnya (Pintrich, Marx, & Boyle, 1993)

b. Motivasi mengarahkan individu menuju tujuan tertentu ( Eclcles & Wigfield, 1985)

c. Motivasi menaikkan inisiatif dari aktivitas tertentu dan ketekunan dalam aktivitas tersebut (Stipek, 1998)

d. Motivasi mempengaruhi strategi pembelajaran dan proses kognitif dari usaha seseorang (Dweck & Elliot, 1983).

Aspek lain yang sering dibicarakan adalah mengenai motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi intrinsik atau Motivasi orientasi internal berarti bahwa siswa menunjukkan hasrat untuk belajar tanpa kebutuhan dorongan dari luar dirnya. Apabila respon siswa merujuk pada dorongan dari luar maka dikatakan bahwa ia memiliki motivasi ekstrinsik. Tujuan jangka panjang yang diinginkan oleh kebanyakan orang tua dan pendidik adalah melihat siswa mengembangkan dirinya sehingga memiliki motivasi intrinsik dalam belajar.

Ada beberapa perspektif dari motivasi, diantaranya adalah perspektif behavioral. Perspektif ini menekankan tentang pentingnya motivasi ekstrinsik dalam achievement. Menurut perspektif ini, rewards dan punishment eksternal merupakan kunci yang menentukan motivasi siswa. Hal itu disebabkan karena insentif merupakan suatu stimulus atau event baik positif maupun negatif yang dapat memotivasi tingkah laku siswa.

II.2.B Teori-teori motivasi

1. Hierarki Kebutuhan Maslow

Konsep paling terkenal dari Abraham Maslow (1987) adalah self-actualization, yang berarti bahwa kita menggunakan kemampuan kita sampai batas akhir potensi kita. Apabila kita dapat meyakinkan siswa bahwa mereka akan dan dapat memenuhi janji mereka, maka saat itu mereka sedang berada pada jalur menuju self actualization. Self actualization merupakan konsep pertumbuhan, siswa bergerak menuju tujuan setelah memenuhi kebutuhan dasarnya. Pertumbuhan menuju self actualization mensyaratkan kepuasan akan hierarki kebutuhan. Lima dasar kebutuhan dalam teori hierarki kebutuhan Maslow adalah :

1. Kebutuhan fisiologis seperti lapar, tidur dan lain-lain. Sebagai contoh, siswa yang tidak sarapan sebelum kegiatan bealjar mengajar sulit untuk berkonsentrasi di kelas.

2. Kebutuhan akan rasa aman yaitu bebas dari rasa takut dan kecemasan (T) tinggi.

3. Kebutuhan akan rasa cinta dan kepemilikan, merujuk pada kebutuhan akan keluarga dan teman.

4. Kebutuhan akan harga diri, mencakup reaksi orang lain terhadap diri kita sebagai individu dan pandanagn kita terhadap diri sendiri.

5. Kebutuhan akan self actualization

2. Weiner and Attributions About Sucess or Failure.

Attributions theory didasarkan pada tiga asumsi dasar (Petri, 1991) yaitu :

a. Ability (kemampuan) : Atribusi terhadap kesuksesan dan kegagalan memiliki implikasi penting dalam mengajar sejak asumsi siswa tentang kemampuan mereka berdasarkan pada pengalaman masa lalu. Ketika siswa memiliki sejarah kegagalan, mereka sering mengasumsikan bahwa mereka memang kurang mampu. Studii Schunk (1989) tentang hubungan antara self efficacy dan pembelajaran, melaporkan bahwa siswa yang memasuki ruangan kelas dengan kemampuan dan pengalaman yang mempengaruhi self-efficacy mereka terhadap initial learning. Ketika berhasil, sense siswa terhadap self-efficacy meningkat dan pada gilirannya akan meningkatkan motivasi.

b. Effort (usaha) : Weiner (1990b) menemukan bahwa siswa biasanya tidak mengetahui tentang bagaimana sulitnya mereka berusaha untuk sukses. Siswa mengetahui usaha mereka dengan cara mencari tahu sebaik apa mereka dalam tugas partikular.

c. Luck : Siswa yang memiliki kepercayaan yang rendah terhadap atribut kemampuan mereka, mereka akan menganggap kesuksesan sebagai hasil dari keberuntungan.

d. Task Difficulty : Biasanya dinilai dariperforma yang lain pada tugas tersebut. Apabila banyak yang berhasil, maka tugas dirasa mudah dan sebaliknya.

3. Operant Conditioning oleh Skinner

Merujuk pada B. F. Skinner (1971), tingkah laku dibentuk dan dipelihara oleh konsekuensinya. Konsekuensi dari tingkah laku sebelumnya mempengaruhi siswa. Tidak ada komponen motivasi internal atau motivasi intrinsik secara mayor dalam proses tersebut. Apabila siswa mengumpulkan reinforcement untuk tingkah laku tertentu, mereka cenderung mengulangnya disertai kekuatan. Apabila tidak, siswa cenderung kehilangan minat dan performa mereka memburuk. Hal ini membuktikan bahwa positive reinforcement merupakan jawaban paling tepat. Siswa diberikan reward ketika memberikan respon yang tepat dan tidak dihukum ketika memberikan respon yang tidak tepat. Siswa tersebut akan merasa bebas dan senang ketika berada di dalam dan di luar situasi belajar mengajar karena mereka telah menciptakan pola tingkah laku yan menghasilkan kesuksesan, hubungan yang menyenangkan dengan orang lain, dan hasil yang pantas diterima.

Skinner menyatakan bahwa memberitahu siswa bahwa mereka tidak mengetahui sesuatu tidak memberikan motivasi sedikitpun kepada mereka. Sebaliknya, memberikan materi dalam jumlah kecil dengan segera memberikan positive reinforcement kepada mereka. Metode Reinforcement lebih tepat digunakan ketika siswanya mengalami kecemasan tinggi mengenai pembelajaran, motivasi rendah, atau memiliki sejarah kegagalan akademis.

II.2.C Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Siswa

Beberapa hal yang mempengaruhi motivasi siswa adalah :

1. Kecemasan

Kecemasan adalah sensasi tidak menyenangkan yang sering dialami sebagai perasaan kekhawatiran dan iritabilitas umum yang disertai restlessness, fatigue, dan bermacam-macam simptom somatis seperti sakit kepala dan sakit perut (Chess & Hassibi, 1978, p. 241).

Sejak perhatian kita secara primer mengacu pada. kecemasan, kita harus menyadari bahwa motivasi intens dan ekstrim yang menghasilkan kecemasan tinggi memiliki efek negatif pada performa. Motivasi sedang merupakan tingkat yang diinginkan dalam mempelajari tugas kompleks. Yorkes-Dodson law adalah prinsip yang menyatakan bahwa motivasi ideal akan menurun secara intens ketika kesulitan tugas meningkat.

2. Rasa keingintahuan (curiousity) dan minat

Tingkah laku curious sering digambarkan dengan istilah lain seperti exploratory, manipulative, atau aktif yang kurang lebih memiliki arti yang sama dengan tingkah laku curious itu. Menurut Loewenstein (1994), curiousity adalah hal kognitif berdasarkan emosi yang muncul ketika siswa menyadari bahwa ada diskrepansi atau konflik antara apa yang ia percayai benar tentang dunia dan apa yang sebenarnya terjadi.

Minat kurang lebih sama dan berkaitan dengan curiousity. Minat adalah karakteristik yang dipertahankan yang diekspresikan oleh hubungan antara belajar dan aktivitas atau objek partikular (Deci, 1992).

3. Locus of Control

Locus of control adalah penyebab dari suatu tingkah laku, beberapa orang mempercayai suatu hal disebabkan oleh sesuatu yang ada dalam diri mereka, ada pula yang mempercayai hal itu akibat sesuatu yang ada di luar diri mereka. Individu yang mengatribusikan penyebab tingkah laku adalah factor-faktor di luar diri mereka disebut individu dengan locus of control external, dan sebaliknya apabila berasal dari dalam diri sendiri disebut locus of control internal .

4. Learned Helplessness

Learned helplessness adalah reaksi beberapa individu yang berupa frustasi dan secara mudah menyerah setelah kegagalan yang berulang-ulang (Seligman, 1975). Tiga komponen dari learned helplessness memiliki kegunaan particular untuk kelas yaitu :

a. Kegagalan untuk memulai tindakan berarti bahwa siswa yang memiliki pengalaman learned helplessness cenderung untuk tidak mencoba mempelajari materi baru.

b. Kegagalan dalam belajar berarti bahwa walaupun arah baru diberikan kepada siswa tersebut, mereka tidak memepelajari apapun dari hal itu.

c. Masalah emosional sepertinya menyertai learned helplessness. Frustrasi, depresi dan rasa tidak kompeten muncul secara berkala.

II.2.D Strategi untuk Meningkatkan Motivasi

Berikut adalah beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan motivasi siswa, yaitu:

a. menyediakan model yang kompeten yang dapat memotivasi mereka untuk belajar.

b. Menciptakan atmosfer yang menantang dan tingkat harapan yang tinggi

c. Mengkomunukasikan pada siSwa bahwa mereka akan menerima dukungan akademik dan emosional.

d. Mendorong motivasi intrinsik siswa untuk belajar

e. Bekerja sama dengan siswa untuk membantu mereka menetapkan tujuan dan rencana serta memonitor perkembangannya.

f. Menyeleksi tugas-tugas pembelajaran yang merangsang ketertarikan dan keingintahuan siswa.

g. Menggunakan teknologi secara efektif.

II.3 Self Esteem

Self esteem merupakan evaluasi secara menyeluruh dari dimensi diri. Self esteem juga mengacu pada harga diri atau self image dan merefleksikan kepercayaan diri serta kepuasan individu terhadap diri mereka.

Sebuah penelitian menemukan bahwa setidaknya ada 4 strategi untuk meningkatkan self esteem siswa, yaitu:

a. Mengidentifikasi penyebab rendahnya self esteem dan area-area kompeten dalam diri

b. Memberikan dukungan sosial dan emosional .

Roger mengatakan bahwa penyebab utama individu mempunyai self esteem yang rendah adalah karena mereka tidak diberikan dukungan sosial dan emosional yang cukup. Dukungan sosial dan emosional dapat membuat suatu perubahan besar dalam membantu siswa untuk menilai lebih diri mereka.

c. Membantu siswa untuk berprestasi.

Prestasi dapat meningkatkan self esteem siswa dan Galskin meningkatkan self esteem siswa dengan cara meningkatkan kemampuan akademik mereka.

d. Mengembangkan kemampuan coping skill siswa.

Saat siswa menghadapi suatu masalah dan mengatasinya, bukan nya menghindari, maka hal itu akan meningkatkan self esteem mereka.

II.4 MODELING

Proses belajar dengan modeling meliputi observasi terhadap pola-pola tingkah laku, yang kemudian diikuti dengan perfoma atau tingkah laku yang serupa. Model yang diobservasi adalah seseorang atau representasi dari sebuah pola respon (Wittig, 1981:51).

Beberapa nama lain dari modeling yaitu:

1. Obsevational learning

Pembalajaran ini ditekankan pada atensi yang dilakukan observer terhadap pola tingkah laku yang dilakukan oleh model.

2. Social learning

Pembelajaran ini ditekankan pada hubungan interpersonal yang terjadi antara observer dengan model.

3. Vicarious learning

Pembelajaran ini ditekankan pada konsekuensi yang terjadi pada model yang diobservasi oleh observer, sehingga membantu observer untuk menentukan apakah tingkah laku diikuti atau tidak.

Pembelajaran dengan modeling terdiri dari empat bantuk atau jenis, yaitu:

1. Berdasarkan bentuk materi

a. Sensory modeling

Sensory modeling adalah proses pembelajaran modeling dimana materi diberikan secara sensoris.

b. Verbal modeling

Verbal modeling adalah proses pembelajaran modeling dimana materi diberikan secara verbal atau deskriptif.

2. Berdasarkan kontak antara observer dengan model

a. Live modeling

Live modeling adalah proses pembelajaran modeling dimana model hadir dalam situasi yang bersamaan dengan observer atau terjadi kontak langsung antara model dengan observer.

b. Symbolic modeling

Symbolic modeling adalah proses pembelajaran modeling dimana model tidak hadir dalam situasi yang bersamaan dengan observer atau tidak terjadi kontak antara model dengan observer.

Karakteristik model mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap keefektifan pembelajaran dengan modeling. Beberapa karakteristik model tersebut adalah:

1. Model similarity

Bukti penelitian mengindikasikan bahwa semakin mirip karakteristik yang dimiliki model dengan observer, semakin memungkinkan terjadinya pembelajaran dengan modeling. Karakteristik seperti jenis kelamin, usia, latar belakang, dan hobi dapat digunakan untuk menentukan kesamaan.

2. Model status

Penelitian juga mengindikasikan bahwa model dengan status yang lebih tinggi dari observer lebih memungkinkan untuk diikuti atau observer akan lebih mengimitasikan tingkah laku subjek tersebut. Status dapat merupakan hasil dari posisi dan peran yang dimiliki model. Posisi mengacu pada jabatan di pekerjaan atau fungsi yang dimiliki model berdasarkan jabatannya tersebut. Sedangkan peran mengacu pada tingkah laku aktual dari model dalam di dalam posisinya.

3. Model standards

Observer akan cenderung mengikuti tingkah laku model sesuai dengan standar tingkah laku atau tingkat keberhasilan tingkah laku yang dimiliki oleh model. Beberapa modeling mungkin mencakup standar dari self-reinforcement atau standar moral.

Teori sosial kognitif dari Bandura mempunyai relevansi untuk motivasi dan self-directed learning. Siswa yang datang ke sekolah biasanya akan cenderung mengikuti pengaruh yang kuat di sekolah dengan tidak memberitahu mereka apa yang harus dilakukan, tapi dengan memberikan contoh untuk apa yang harus diikuti oleh mereka. Guru harus menjadi model sebanyak mungkin bagi siswa karena tingkah laku mereka dapat memotivasi siswa dengan kuat untuk tingkah laku siswa.

II.5 Persuasi

Persuasi adalah proses menciptakan state of identification antara sumber dan obyek penerima (receiver) yang dihasilkan dari penggunaan symbol-simbol verbal dan atau visual (Larson, 2004). Proses persuasi meliputi 5 tahap berikut:

1. Atensi (Attension). Jika obyek persuasi (persuadee) tidak menaruh perhatian pada pesan yang akan disampaikan, maka persuasi tidak akan berhasil dilakukan.

2. Komprehensi (Comprehension). Jika persuadee tidak mengerti atau memahami pesan yang disampaikan, maka persuasi tidak akan berhasil dilakukan.

3. Penerimaan (Acceptance). Jika persuadee menolak isi dari pesan tersebut setelah memperhatikan dan memahaminya, maka persuasi tidak akan berhasil dilakukan.

4. Retensi (Retension). Persuadee harus menunda tingkah lakunya untuk beberapa waktu setelah ketiga tahap di atas dilakukan. Mereka harus mengingat kembali pesannya sampai waktunya tepat untuk melakukan tingkah laku seperti yang diharapkan.

5. Tindakan (Action). Orang bertingkah laku secara logis dan konsisten dengan argumen orang yang mempersuasi (persuader).

Berikut ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi diterima atau ditolaknya sebuah pesan persuasi:

1. Efek dari sumber persuasi (Source Effect). Faktor yang mempengaruhi penerimaan persuasi terdiri dari 2 hal:

a. Kredibilitas Keterpercayaan dari persuader

b. Keatraktifan dari persuader terhadap persuadee

2. Efek Pesan (Message effects).Menurut seorang Psikolog yang bernama F. H. Lund (1925), bukti-bukti yang dianggap paling penting harus dihadirkan di awal (primacy effect) dibandingkan di akhir (Recency effect). Motivasi juga memainkan peranan penting dalam memproses sebuah informasi. Urutan dari isi pesan menimbulkan sedikit perbedaan pada pesan yang membutuhkan kognisi yang tinggi untuk memprosesnya. Ada perbedaan substansi pada pesan yang diberikan pada orang-orang yang tidak termotivasi untuk memproses informasi. Sebuah studi menyatakan bahwa opini seseorang dapat berhasil diubah/dipersuasi jika informasi yang diinginkan oleh persuadee dihadirkan lebih dahulu, sebelum informasi yang tidak terlalu diinginkan.

Seseorang membutuhkan alasan yang kuat sebelum memutuskan untuk mengubah sikap, kepercayaan, dan keputusannya sesuai dengan pesan yang disampaikan melalui proses persuasi. Walaupun persuader adalah seseorang yang sangat berkompeten, tetapi orang masih membutuhkan suatu bukti tambahan untuk meyakinkan keputusan mereka untuk berubah. Bukti yang dapat diberikan kepada persuadee dapat berupa:

1. Bukti statistik. Bukti statistic dapat mempersuasi dengan baik ketika tampilannya sederhana dan mudah untuk dimengerti.

2. Naratif dan anekdot. Naratif membuat pesan yang disampaikan mudah untuk diingat.

3. Testimoni. Orang akan lebih memperhatikan seorang persuader yang hanya menggunakan perasaan dan opininya sendiri. Hal inilah yang mendasari mengapa testimony.dari seseorang akan sangat berharga. Tentu saja, persuasi akan lebih berhasil jika menghadirkan orang yang dianggap berkompeten untuk menceritakan prestasi seseorang, produk atau ide tertentu.

4. Bukti visual. Demonstrasi aktual dari produk tidak selalu mungkin dilakukan, tetapi persuader dapat mengembangkan berbagai macam bukti visual (seperti grafik ) untuk membantu persuadee mengerti permasalahan. Grafik haruslah simple karena jika terlalu kompleks akan membingungkan. Selain itu bukti visual haruslah menonjol, misalnya dapat menggunakan gambar.

5. Perbandingan dan Kontras. Komparasi dapat membuat persuadee melihat perbedaan antara 2 sisi dari masalah atau antara 2 kasus.

6. Analogi, penggunaan analogi dapat efektif, tetapi juga beresiko. Oleh karena itu, pemilihan analogi haruslah hati-hati.

Social Learning Theory

Bandura menyatakan bahwa respon seseorang dalam menyikapi interaksi antara perasaanya (internal state) dan Social reinforcement yang tercermin dalam tingkah lakunya terhadap orang lain. Reinfocers berasal dari dua sumber. Pertama adalah informasi eksternal, baik yang berasal dari pengalaman sendiri maupun orang lain, dan yang kedua adalah reinfocer yang dikembangkan subyek sendiri di dalam dirinya (internal), contohnya adalah konsep diri.

Salah satu sumber reinfocers eksternal menurut Bandura adalah berasal dari Role model, seperti figure olahragawan, pebisnis yang sukses, pemimpin spiritual, dan lain-lain. Beberapa model ini mempengaruhi kita melalui media massa dan dapat mempersuasi banyak orang untuk berperilaku sama dengan apa yang mereka lakukan .

II.6 Perbedaan Sosioekonomi

Sosioeconomic Status (SES) adalah kedudukan umum social dan ekonomi seseorang dalam masyarakat (meliputi pendapatan keluarga, pekerjaan dan level pendidikan). SES sebuah keluarga (apakah itu SES tinggi, sedang atau rendah) memberikan arti kedudukan mereka dalam masyarakat atau seberapa fleksibel mereka dalam kehidupan dan apa yang mereka beli. Seberapa besar pengaruh mereka dalam pengambilan keputusan politik, kesempatan pendidikan yang dapat mereka tawarkan pada anak mereka, dan lain-lain.

Siswa dengan SES rendah ada bermacam-maca kelompok (Sidel, 1996). Diantaranya ada yang berasal dari keluarga yang mampu memenuhi kebutuhan dasar mereka (seperti makanan, pakaian dan tempat tinggal) tapi tidak mempunyai uang untuk bermewah-mewah. Kelompok yang lain bahkan hidup di kehidupan miskin yang sangat ekstrim, dan kelompok ini mempunyai resiko yang lebih untuk mengalami kegagalan akademik dan dalam kebutuhan akan perhatian dan dukungan (support).

Ada beberapa faktor yang mungkin berkontribusi dalam prestasi yang rendah dari siswa dengan SES rendah. Siswa yang hanya memiliki 1-2 faktor yang mempengaruhinya masih bisa berprestasi dengan baik di sekolah. Namun siswa yang menghadapi banyak faktor yang mempengaruhi SES-nya mempunyai resiko yang besar untuk mengalami kegagalan akademik. Faktor-faktor tersebut antara lain:

1. poor nutrition. Nutirisi yang buruk dapat mempengaruhi prestasi sekolah baik secara langsung maupun tidak langsung (Byrnes, 2001; Sigman&Whaley, 1998; R. A. Thompson&Nelson, 2001). Pengajar seharusnya dapat mengambil langkah-langkah penting untuk memastikan para siswa tersebut terpenuhi gizinya. Contohnya pengajar harus memastikan bahwa semua siswa bisa mendapatkan makanan bergizi secara murah atau gratis dari program yang telah diselenggarakan oleh sekolah (Ormrod, 2006).

2. inadequate housing (Tempat tinggal yang kurang memadai)

3. emotion stress (Tekanan emosional, seperti depresi, cemas, dll)

4. gaps in background knowledge (jurang perbedaan tentang pengetahuan awal)

5. less parental involvement in school activities and homework (Kurangnya keikutsertaan orangtua dalam aktivitas sekolah dan pekerjaan rumah)

6. lower-quality school (Kualitas sekolah yang rendah), etc.(Omrod, 2006)

Penelitian memberikan guru alasan untuk optimis kepada siswa dengan latar belakang pendapatan yang rendah mampu berprestasi tinggi jika guru juga berkomitmen untuk membantu mereka dan memberikan mereka program akademik yang kuat dan mendukung usaha belajar mereka.

• Presentasi diri

  • Presentasi diri

Self-presentation (presentasi diri) mengacu pada keinginan untuk menunjukkan image seseorang yang diinginkan baik kepada khalayak pribadi maupun umum.

–        False modesty (rendah hati yang salah)

yaitu ketika seseorang selalu merasa bahwa dirinya lebih buruk/rendah & cenderung memuji kelebihan orang lain. Miasal perasaan yang menganggap dirinya lebih bodoh & mengagung-agungkan kepandaian orang lain & kadang berandai-2 “ kenapa aku tak seperti mereka”.

–        Self-handicapping

Yaitu menjaga image diri dengan perilaku & tindakan yang bersifat menghibur diri untuk menutupi kelemahannya. Sebagai contoh seseorang yang akan wawancara kerja, justru mengadakan pesta besar-2an bukan mempersiapkan diri, mahasiswa yang akan ujian justru main games daripada belajar. Ketika dalam ujian ia berhasil, ia akan membesar-2kan bahwa meskipun tidak belajar ia ternyata mampu, sedangkan jika ia gagal, ia mengatribusikan kegagalannya kepada hal-2 yang bersifat sementara & remeh. Misal “saya gagal karena badanku agak lelah & capek waktu ujian atau karena tadi malam kurang tidur, dll” daripada mengakui ketidakmampuannya.

self-perception theory berasumsi bahwa tindakan kita adalah self-revealing (ungkapan pikiran kita sendiri) ketika terdapat ketidakpastian tentang perasaan atau kepercayaan.

–        Self-presentation: impression management

Kita dapat mengulas sedikit di Bab 2 bahwa kita selalu sibuk berdandan, diet, berpakaian bahkan ikut operasi plastik hanya karena khawatir akan pikiran orang lain tentang kita. Untuk membuat membuat kita terkesan bagus (good impression) sering kita berusaha untuk meraih reward sosial & material guna menyamankan diri kita bahkan untuk menyelamatkan identitas sosial kita. Bahkan tak seorangpun ingin tampak seperti orang bodoh, maka ia berusaha untuk menyerasikan antara sikap & tindakannya. Agar tampak konsisten, kita mungkin pura-2 besikap yang kita sendiri sebenarnya tidak mempercayainya. Seseorang yang cenderung membuat kesan baik dengan cara terus menerus memonitor perilaku sendiri & memperhatikan bagaimana reaksi orang lain serta ia berusaha untuk tampil sesuai dengan tuntutan & harapan orang lain terhadap dirinya yang disebut sbg self-monitoring tendency.

–        Self-justification: cognitive dissonance (penyelarasan diri: ketegangan kognitif)

Salah satu teori mengatakan bahwa sikap kita berubah karena kita termotivasi untuk tetap menjaga konsistensi kita diantara kognisi-2 yang kita miliki. Cognitive dissonance theory dari Leon Festinger mengasumsikan bahwa akan muncul ketegangan ketika secara tiba-2 muncul dua pikiran/ kepercayaan “kognisi” yang secara psikis tidak konsisten. Maka unuk mengurangi ketidaknyamanan dari kemunculan kognisi tsb, kita sedapat mungkin menyelaraskan pikiran kita.

–        Self-perception (persepsi diri)

Self-perception theory mengasumsikan bahwa kita menarik kesimpulan diri sama seperti ketika mengamati perilaku kita sendiri. Ketika kita dalam keadaan/ ambigu, kita dlm posisi pengamat seseorang dari luar, kita melihat sikap orang dengan cara mengamati perilaku mereka secara seksama ketika beraksi dengan perasaan senang. Seperti itu juga kita mengamati sikap kita sendiri. Mendengar diri sendiri, berbicara menginformasikan tindakan kita, mengamati tindakan-2 kita, memberikan petunjuk betapa kuatnya kepercayaan kita.

  • Self-monitoring

Baik tempat maupun waktu, para individu sangat vervariasi pendekatannya untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis. Seseorang yang memiliki self-monitoring tinggi akan sangat terampil dalam memonitor perilakunya sendiri dalam segala kondisi. Selain itu dalam menjalin hubungan, ia tidak mau berlama-2 dalam berpacaran dan memiliki itikad baik dalam berhubungan.

Menurut Snyder, Gangestad dan Simpson (1983), self monitoring didefinisikan sebagai cara individu dalam membuat perencanaan, bertindak dan berperilaku dalam situasi sosial. Self monitoring menjadi dua prototip yaitu; high self monitoring dan low self monitoring. Sedangkan menurut McClelland (dalam Atkinson,1964),

PRESIDIUM GERAKAN MAHASISWA NASIONAL INDONESIA

PRESIDIUM

GERAKAN MAHASISWA NASIONAL INDONESIA

(GMNI)

Sekretariat: Jl. Tebet Timur Dalam IXB/14 Jakarta Selatan É 021-8303312

PEDOMAN PRESIDIUM

Nomor: 01/ PP/Pres-GMNI/V/2001

Tentang

GERAKAN MAHASISWA NASIONAL INDONESIA

Berdasarkan hasil Rapat Kerja Presidium GMNI mengenai internal organisasi, maka dipandang perlu untuk melakukan pembenahan administrasi organisasi di seluruh jajaran GMNI yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi obyektif organisasi, sehingga dapat dijadikan landasan yuridis organisasi. Adapun kelengkapan administrasi yang akan diatur dalam pedoman ini adalah sebagai berikut:

  1. Kop Kertas (Surat )
  2. Penomoran Surat
  3. Nomor Anggota
  4. Dst
  1. 1. Kop Surat

Format pembuatan dan penulisan kop ( kepala ) surat akan diatur dengan ketentuan menurut hirarki struktur organisasi, yaitu:

  1. A. Presidium

Lambang GMNI diletakan di sebelah atas kertas

Di bawah lambang GMNI tertuliskan:

Baris 1  :  Presidium

Baris 2  :  Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia

Baris 3  :  ( GMNI )

  1. B. Koordinator Daerah

Lambang GMNI diletakan di sebelah pojok kiri atas kertas

Disebelah kanan lambang GMNI tertulis:

Baris 1  :  Koordinator Daerah

Baris 2  :  Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia

Baris 3  :  ( GMNI )

Baris 4  :  Wilayah yang dimaksud

  1. C. Dewan Pimpinan Cabang

Lambang GMNI diletakan di sebelah pojok kiri atas kertas

Disebelah kanan lambang GMNI tertulis:

Baris 1  :  Dewan Pimpinan Cabang

Baris 2  :  Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia

Baris 3  :  ( GMNI )

Baris 4  :  Wilayah yang dimaksud

  1. D. Komisariat

Lambang GMNI diletakan di sebelah pojok kiri atas kertas

Disebelah kanan lambang GMNI tertulis:

Baris 1  :  Nama  Komisariat

Baris 2  :  Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia

Baris 3  :  ( GMNI )

Baris 4  :  Cabang  yang bersangkutan

  1. 2. Penomoran Surat

Format pembuatan dan penomoran surat akan diatur dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. A. Surat ke dalam

Surat kedalam di beri kode A dengan pengertian proses surat- menyurat yang ditujukan ke dalam lingkungan internal masing-masing tingkatan organisasi dengan ketentuan sebagai berikut :

A.1. Presidium

Nomor urut surat / kode surat / Pres-GMNI /Bulan / Tahun

A.2. Koordinator Daerah

Nomor urut surat / kode surat / Korda-Wilayah yang dimaksud (bisa disingkat) / Bulan /  Tahun

A.3. Dewan Pimpinan Cabang

Nomor urut surat / kode surat / DPC.GMNI wilayah yang dimaksud (bisa disingkat) / Bulan / Tahun

A.4  Komisariat

Nomor urut surat / kode surat / Nama komisariat /GMNI.Cabang yang dimaksud  (bisa disingkat) / Bulan / Tahun

  1. B. Surat ke luar

Surat keluar diberi kode B.Surat keluar dapat dibagi menjadi dua, yaitu: Surat Keluar Internal dan Surat Keluar Eksternal.

B.1.Surat Keluar Internal

Surat Keluar Internal diberi kode (B-Int) dengan pengertian surat menyurat tersebut ditujukan keluar lingkungan internal masing- masing tingkatan organisasi yang kemudian diatur sebagai berikut:

B.1.1. Presidium

Nomor urut surat / B-Int / Pres-GMNI / Bulan / Tahun

B.1.2. Koordinator Daerah

Nomor urut surat / B-Int / Nama Korda (bisa disingkat) / Bulan / Tahun

B.1.3. Dewan Pimpinan Cabang

Nomor urut surat / B-Int /  Nama DPC (bisa disingkat) / Bulan / Tahun

B.1.4. Komisariat

Nomor urut surat / B-Int/ Nama Komisariat /Cabang  yang bersangkutan (bisa disingkat) /Bulan / Tahun

B.2. Surat Keluar Eksternal

Surat Keluar Eksternal diberi kode (B-Eks) dengan pengertian surat menyurat tersebut ditujukan keluar lingkungan eksternal masing- masing tingkatan organisasi yang kemudian diatur sebagai berikut:

B.2.1. Presidium

Nomor urut surat / B-Eks / Pres-GMNI / Bulan / Tahun

B.2.2. Koordinator Daerah

Nomor urut surat / B-Eks / Nama Korda (bisa disingkat) / Bulan / Tahun

B.2.3. Dewan Pimpinan Cabang

Nomor urut surat / B-Eks / Nama DPC (bisa disingkat)  / Bulan / Tahun

B.2.4. Komisariat

Nomor urut surat / B-Eks/ Nama Komisariat /Cabang  yang Bersangkutan (bisa disingkat) / Bulan / Tahun

Khusus untuk surat keluar dan surat masuk, penomorannya berurutan.


  1. C. Surat Keputusan

C.1. Presidium

Nomor urut surat / SK / Pres-GMNI /Bulan / Tahun

C.2. Koordinator Daerah

Nomor urut surat / SK / Korda-Wilayah yang dimaksud  (bisa disingkat) / Bulan /Tahun

C.3. Dewan Pimpinan Cabang

Nomor urut surat / SK / DPC.GMNI.Wilayah yang dimaksud (bisa disingkat) /Bulan / Tahun

C.4  Komisariat

Nomor urut surat / SK / Nama komisariat /GMNI.Cabang yang bersangkutan  (bisa disingkat) / Bulan / Tahun

  1. D. Instruksi

D.1. Presidium

Nomor urut surat / Ins / Pres-GMNI /Bulan / Tahun

D.2. Koordinator Daerah

Nomor urut surat / Ins / Korda-Wilayah yang dimaksud  (bisa disingkat) / Bulan / Tahun

D.3. Dewan Pimpinan Cabang

Nomor urut surat / Ins / DPC.GMNI.Wilayah yang dimaksud (bisa disingkat) / Bulan/Tahun

D.4  Komisariat

Nomor urut surat/Ins/Nama komisariat/GMNI.Cabang yang bersangkutan (bisa disingkat)/Bulan/Tahun.

  1. E. Pedoman

E.1. Presidium

Nomor urut surat / PP / Pres-GMNI /Bulan / Tahun

E.2. Koordinator Daerah

Nomor urut surat / PKd / Korda-Wilayah yang dimaksud (bisa disingkat) / Bulan / Tahun

E.3. Dewan Pimpinan Cabang

Nomor urut surat / PC / DPC.GMNI.Wilayah yang dimaksud (bisa disingkat) / Bulan / Tahun

E.4  Komisariat

Nomor urut surat/PK/Nama komisariat /GMNI.Cabang yang bersangkutan (bisa disingkat)/Bulan/Tahun

  1. F. Rekomendasi

F.1. Presidium

Nomor urut surat / Rekom / Pres-GMNI /Bulan/Tahun

F.2. Koordinator Daerah

Nomor urut surat / Rekom / Korda-Wilayah yang dimaksud (bisa disingkat)/ Bulan / Tahun

F.3. Dewan Pimpinan Cabang

Nomor urut surat / Rekom / DPC.GMNI.Wilayah yang dimaksud (bisa disingkat) / Bulan / Tahun

F.4  Komisariat

Nomor urut surat/Rekom/Nama komisariat/GMNI. Cabang yang bersangkutan (bisa disingkat) / Bulan / Tahun

  1. 3. Nomor Anggota

Dalam rangka tertib administrasi serta perlunya pendataan anggota melalui pembuatan Kartu Tanda Anggota yang akan dilaksanakan oleh masing- masing jajaran DPC GMNI di seluruh Indonesia, maka dipandang penting dalam pembuatan Kartu Tanda Anggota tersebut dibakukan penomorannya.

Adapun penomorannya adalah sebagai berikut:

n   DPC.GMNI. (Kota/ Kabupaten yang bersangkutan –bisa disingkat-)/Nomor Komisariat/Tahun Mengikuti Kaderisasi/ Nomor Anggota

Keterangan:

°    Nomor Komisariat adalah nomor dari komisariat yang ada dalam satu wilayah Cabang GMNI, halmana penomorannya ditentukan oleh DPC yang dimaksud berdasarkan abjad.

°    Nomor Anggota adalah nomor yang diperoleh setiap kader setelah mengikuti proses kaderisasi. Awalan dari penomoran ini selalu berubah (dimulai dari angka satu (1) ) dalam setiap tahun kaderisasi diadakan.

Contoh:

Nomor KTA : DPC.GMNI.Ambon/ V/1999/ 23

Demikian Pedoman Presidium ini dibuat dalam rangka melaksanakan tertib administrasi demi terwujudnya efektifitas kinerja organisasi. Adapun beberapa hal yang belum diatur dan atau masih memerlukan penjelasan akan ditentukan dan atau dijelaskan lebih lanjut oleh Presidium sebagai pimpinan tertinggi organisasi sebagaimana diatur AD/ ART GMNI.

Jakarta, 19 Mei 2001

PRESIDIUM

GERAKAN MAHASISWA NASIONAL INDONESIA

(GMNI)

Ttd

SONNY T. DANAPARAMITA

Sekretaris Jenderal

Komentar Dinonaktifkan pada PRESIDIUM GERAKAN MAHASISWA NASIONAL INDONESIA Posted in GmnI Yudharta Pasuruan

F I L S A F A T I L M U

F I L S A F A T   I L M U

JILID 1

UHAR SUHARSAPUTRA, Drs.,M.Pd.

UNIVERSITAS KUNINGAN

2004

DAFTAR ISI

Hal
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI i
BAB  1. MANUSIA, BERFIKIR, DAN PENGETAHUAN
    1. Makna menjadi Manusia
1
  1. Makna Berfikir
7
  1. Makna Pengetahuan
11
  1. Berfikir dan Pengetahuan
13
BAB  2. F I L S A F A T
  1. Pengertian Filsafat
17
  1. Ciri-ciri Filsafat
20
  1. Objek Filsafat
22
  1. Sistimatika Filsafat
23
  1. Cabang-cabang Filsafat
25
  1. Pendekatan dalam mempelajari Filsafat
28
  1. Sudut pandang terhadap Filsafat
30
  1. Sejarah singkat Filsafat
31
BAB  3. ILMU PENGETAHUAN
  1. Pengertian Ilmu (Ilmu Pengetahuan)
42
  1. Ciri-ciri Ilmu
46
  1. Fungsi dan Tujuan Ilmu
48
  1. Struktur Ilmu
50
    1. fakta dan Konsep
52
    1. generalisasi dan Teori
55
    1. proposasi dan Asumsi
59
    1. definisi/Batasan
61
    1. paradigma
64
    1. Objek Ilmu
65
  1. Pembagian/pengelompokan Ilmu
66
  1. Penjelasan Ilmu (scientific explanation)
70
  1. Sikap Ilmiah
71
BAB  4. F I L S A F A T   I L M U
  1. Orientasi Filsafat Ilmu
74
  1. Perkembangan Filsafat Ilmu
78
  1. Ciri-ciri Ilmu modern
84
  1. Paradigma Ilmu modern menurut beberapa Aliran
85
  1. Hubungan Filsafat dengan Ilmu
88
  1. Pengertian Filsafat Ilmu
90
  1. Bidang kajian dan masalah-masalah Filsafat Ilmu
94
  1. Kebenaran Ilmu
97
  1. Keterbatasan Ilmu
100
  1. Manfaat mempelajari Filsafat Ilmu
103
DAFTAR PUSTAKA 104

B A B   1

MANUSIA, BERFIKIR DAN PENGETAHUAN

Tanpa saudara kandungnya Pengetahuan, Akal (Instrumen berfikir Manusia) bagaikan si miskin yang tak berumah, sedangkan Pengetahuan tanpa akal seperti rumah yang tak terjaga. Bahkan, Cinta, Keadilan, dan Kebaikan akan terbatas kegunaannya jika akal tak hadir (Kahlil Gibran)

Pengetahuan merupakan suatu kekayaan dan kesempurnaan. ..Seseorang yang tahu lebih banyak adalah lebih baik kalau dibanding dengan yang tidak tahu apa-apa (Louis Leahy)

Mengetahui merupakan kegiatan yang menjadikan subjek berkomunikasi Secara dinamik dengan eksistensi dan kodrat dari “ada” benda-benda (Sartre)

  1. MAKNA MENJADI MANUSIA

Kemampuan manusia untuk menggunakan akal dalam memahami lingkungannya merupakan potensi dasar yang memungkinkan manusia Berfikir, dengan Berfikir manusia menjadi mampu melakukan perubahan dalam dirinya, dan memang sebagian besar perubahan dalam diri manusia merupakan akibat dari aktivitas Berfikir, oleh karena itu sangat wajar apabila Berfikir merupakan konsep kunci dalam setiap diskursus mengenai kedudukan manusia di muka bumi, ini berarti bahwa tanpa Berfikir, kemanusiaan manusia  pun tidak punya makna bahkan mungkin tak akan pernah ada.

Berfikir juga memberi kemungkinan manusia untuk memperoleh pengetahuan, dalam tahapan selanjutnya pengetahuan itu dapat menjadi fondasi penting bagi kegiatan berfikir yang lebih mendalam. Ketika Adam diciptakan dan kemudian ALLAH mengajarkan nama-nama, pada dasarnya mengindikasikan bahwa Adam (Manusia) merupakan Makhluk yang bisa Berfikir dan berpengetahuan, dan dengan pengetahuan itu Adam dapat melanjutkan kehidupannya di Dunia. Dalam konteks yang lebih luas, perintah Iqra (bacalah) yang tertuang dalam Al Qur’an dapat dipahami dalam kaitan dengan dorongan Tuhan pada Manusia untuk berpengetahuan disamping kata Yatafakkarun (berfikirlah/gunakan akal) yang banyak tersebar dalam Al Qur’an. Semua ini dimaksudkan agar manusia dapat berubah dari tidak tahu menjadi tahu, dengan tahu dia berbuat, dengan berbuat dia beramal bagi kehidupan. semua ini pendasarannya adalah penggunaan akal melalui kegiatan berfikir. Dengan berfikir manusia mampu mengolah pengetahuan, dengan pengolahan tersebut, pemikiran manusia menjadi makin mendalam dan makin bermakna, dengan pengetahuan manusia mengajarkan, dengan berpikir manusia mengembangkan, dan dengan mengamalkan serta mengaplikasikannya manusia mampu melakukan perubahan dan peningkatan ke arah kehidupan yang lebih baik, semua itu telah membawa kemajuan yang besar dalam berbagai bidang kehidupan manusia (sudut pandang positif/normatif).

Dengan demikian kemampuan untuk berubah dan perubahan yang terjadi pada manusia merupakan makna pokok yang terkandung dalam kegiatan Berfikir dan berpengetahuan. Disebabkan kemampuan Berfikirlah, maka manusia dapat berkembang lebih jauh dibanding makhluk lainnya, sehingga dapat terbebas dari kemandegan fungsi kekhalifahan di muka bumi, bahkan dengan Berfikir manusia mampu mengeksplorasi, memilih dan menetapkan keputusan-keputusan penting untuk kehidupannya.

Pernyataan di atas pada dasarnya menggambarkan keagungan manusia berkaitan dengan karakteristik eksistensial manusia sebagai upaya memaknai kehidupannya dan sebagai bagian dari Alam ini. Dalam konteks perbandingan dengan bagian-bagian alam lainnya, para akhli telah banyak mengkaji perbedaan antara manusia dengan makhluk-makhluk lainnya terutama dengan makhluk yang agak dekat dengan manusia yaitu hewan. Secara umum komparasi manusia dengan hewan dapat dilihat dari sudut pandang Naturalis/biologis dan sudut pandang sosiopsikologis. Secara biologis pada dasarnya manusia tidak banyak berbeda dengan hewan, bahkan Ernst Haeckel (1834 – 1919) mengemukakan bahwa manusia dalam segala hal sungguh-sungguh adalah binatang beruas tulang belakang, yakni binatang menyusui, demimikian juga Lamettrie (1709 – 1751) menyatakan bahwa tidaklah terdapat perbedaan antara binatang dan manusia dan karenanya bahwa manusia itu adalah suatu mesin.

Kalau manusia itu sama dengan hewan, tapi kenapa manusia bisa bermasyarakat dan berperadaban yang tidak bisa dilakukan oleh hewan ?, pertanyaan ini telah melahirkan berbagai pemaknaan tentang manusia, seperti manusia adalah makhluk yang bermasyarakat (Sosiologis), manusia adalah makhluk yang berbudaya (Antropologis), manusia adalah hewan yang ketawa, sadar diri, dan merasa malu (Psikologis), semua itu kalau dicermati tidak lain karena manusia adalah hewan yang berfikir/bernalar (the animal that reason) atau Homo Sapien.

Dengan memahami uraian di atas, nampak bahwa ada sudut pandang yang cenderung merendahkan manusia, dan ada yang mengagungkannya, semua sudut pandang tersebut memang diperlukan untuk menjaga keseimbangan memaknai manusia. Blaise Pascal (1623 – 1662) menyatakan bahwa adalah berbahaya bila kita menunjukan manusia sebagai makhluk yang mempunyai sifat-sifat binatang dengan tidak menunjukan kebesaran manusia sebagai manusia. Sebaliknya adalah bahaya untuk menunjukan manusia sebagai makhluk yang besar dengan tidak menunjukan kerendahan, dan lebih berbahaya lagi bila kita tidak menunjukan sudut kebesaran dan kelemahannya sama sekali (Rasjidi. 1970 : 8). Guna memahami lebih jauh siapa itu manusia, berikut ini akan dikemukakan beberapa definisi yang dikemukakan oleh para akhli :

    • Plato (427 – 348). Dalam pandangan Plato manusia dilihat secara dualistik yaitu unsur jasad dan unsur jiwa, jasad akan musnah sedangkan jiwa tidak, jiwa mempunyai tiga fungsi (kekuatan) yaitu  logystikon (berfikir/rasional, thymoeides (Keberanian), dan epithymetikon (Keinginan)
    • Aristoteles (384 – 322 SM). Manusia  itu adalah hewan yang berakal sehat, yang mengeluarkan pendapatnya, yang berbicara berdasarkan akal fikirannya. Manusia itu adalah hewan yang berpolitik (Zoon Politicon/Political Animal), hewan yang membangun masyarakat di atas famili-famili menjadi pengelompokan impersonal dari pada kampung dan negara.
    • Ibnu Sina (980 -1037 M). manusia adalah makhluk yang mempunyai kesanggupan : 1) makan, 2) tumbuh, 3) ber-kembang biak, 4) pengamatan hal-hal yang istimewa, 5) pergerakan di bawah kekuasaan, 6) ketahuan (pengetahuan tentang) hal-hal yang umum, dan 7) kehendak bebas. Menurut dia, tumbuhan hanya mempunyai kesanggupan 1, 2, dan 3, serta hewan mempunyai kesanggupan 1, 2, 3, 4, dan 5.
    • Ibnu Khaldun (1332 – 1406). Manusia adalah hewan dengan kesanggupan berpikir, kesanggupan ini merupakan sumber dari kesempurnaan dan puncak dari segala kemulyaan dan ketinggian di atas makhluk-makhluk lain.
    • Ibnu Miskawaih. Menyatakan bahwa manusia adalah makhluk yang mempunyai kekuatan-kekuatan yaitu : 1) Al Quwwatul Aqliyah (kekuatan berfikir/akal), 2) Al Quwwatul Godhbiyyah (Marah, 3) Al Quwwatu Syahwiyah (sahwat).
    • Harold H. Titus menyatakan : Man is an animal organism, it is true but he is able to study himself as organism and to compare and interpret living forms and to inquire about the meaning of human existence. Selanjutnya Dia menyebutkan beberapa faktor yang berkaitan (menjadi karakteristik – pen) dengan manusia sebagai pribadi yaitu :
      1. Self conscioueness
      2. Reflective thinking, abstract thought, or the power of generalization
      3. Ethical discrimination and the power of choice
      4. Aesthetic appreciation
      5. Worship and faith in a higher power
      6. Creativity of a new order
    • William E. Hocking menyatakan : Man can be defined as the animal who thinks in term of totalities.
    • C.E.M. Joad. Menyatakan : every thing and every creature in the world except man acts as it must, or act as it pleased, man alone act on occasion as he ought
    • R.F. Beerling. Menyatakan bahwa manusia itu tukang bertanya.

Dari uraian dan berbagai definisi tersebut di atas dapatlah ditarik beberapa kesimpulan tentang siapa itu manusia yaitu :

    1. Secara fisikal, manusia sejenis hewan juga
    2. Manusia punya kemampuan untuk bertanya
    3. Manusia punya kemampuan untuk berpengetahuan
    4. Manusia punya kemauan bebas
    5. Manusia bisa berprilaku sesuai norma  (bermoral)
    6. Manusia adalah makhluk yang bermasyarakat dan berbudaya
    7. Manusia punya kemampuan berfikir reflektif dalam totalitas dengan sadar diri
    8. Manusia adalah makhluk yang punya kemampuan untuk percaya pada Tuhan

apabila dibagankan dengan mengacu pada pendapat di atas akan nampak sebagai berikut :

MANUSIA
HEWANI/BASARI INSANI/MANUSIAWI
JASAD/FISIK/BIOLOGIS JIWA/AKAL/RUHANI
MAKAN BERFIKIR
MINUM BERPENGETAHUAN
TUMBUH BERMASYARAKAT
BERKEMBANGBIAK BERBUDAYA/BERETIKA/

BERTUHAN

Gambar 1.1. Dimensi-dimensi manusia

Dengan demikian nampaknya terdapat perbedaan sekaligus persamaan antara manusia dengan makhluk lain khususnya hewan, secara fisikal/biologis perbedaan manusia dengan hewan lebih bersifat gradual dan tidak prinsipil, sedangkan dalam aspek kemampuan berfikir, bermasyarakat dan berbudaya, serta bertuhan perbedaannya sangat asasi/prinsipil, ini berarti jika manusia dalam kehidupannya hanya bekutat dalam urusan-urusan fisik biologis seperti makan, minum, beristirahat, maka kedudukannya tidaklah jauh berbeda dengan hewan, satu-satunya yang bisa mengangkat manusia lebih tinggi adalah penggunaan akal untuk berfikir dan berpengetahuan serta mengaplikasikan pengetahuannya bagi kepentingan kehidupan sehingga berkembanglah masyarakat beradab dan berbudaya, disamping itu kemampuan tersebut telah mendorong manusia untuk berfikir tentang sesuatu yang melebihi pengalamannya seperti keyakinan pada Tuhan yang merupakan inti dari seluruh ajaran Agama. Oleh karena itu carilah ilmu dan berfikirlah terus agar posisi kita sebagai manusia menjadi semakin jauh dari posisi hewan dalam konstelasi kehidupan di alam ini. Meskipun demikian penggambaran di atas harus dipandang sebagai suatu pendekatan saja dalam memberi makna manusia, sebab manusia itu sendiri merupakan makhluk yang sangat multi dimensi, sehingga gambaran yang seutuhnya akan terus menjadi perhatian dan kajian yang menarik, untuk itu tidak berlebihan apabila Louis Leahy berpendapat bahwa manusia itu sebagai makhluk paradoksal dan sebuah misteri, hal ini menunjukan betapa kompleks nya memaknai manusia dengan seluruh dimensinya.

  1. MAKNA BERFIKIR

Semua karakteristik manusia yang menggambargakan ketinggian dan keagungan pada dasarnya merupakan akibat dari  anugrah akal yang dimilikinya, serta pemanfaatannya untuk kegiatan berfikir, bahkan Tuhan pun memberikan tugas kekhalifahan (yang terbingkai dalam perintah dan larangan) di muka bumi pada manusia tidak terlepas dari kapasitas akal untuk berfikir, berpengetahuan, serta membuat keputusan untuk melakukan dan atau tidak melakukan yang tanggungjawabnya inheren pada manusia, sehingga perlu dimintai pertanggungjawaban.

Sutan Takdir Alisjahbana. Menyatakan bahwa pikiran memberi manusia pengetahuan yang dapat dipakainya sebagai pedoman dalam perbuatannya, sedangkan kemauanlah yang menjadi pendorong perbuatan mereka. Oleh karena itu berfikir merupakan atribut penting yang menjadikan manusia sebagai manusia, berfikir adalah fondasi dan kemauan adalah pendorongnya.

Kalau berfikir (penggunaan kekuatan akal) merupakan salah satu ciri penting yang membedakan manusia dengan hewan, sekarang apa yang dimaksud berfikir, apakah setiap penggunaan akal dapat dikategorikan berfikir, ataukah penggunaan akal dengan cara tertentu saja yang disebut berfikir. Para akhli telah mencoba mendefinisikan makna berfikir dengan rumusannya sendiri-sendiri, namun yang jelas tanpa akal nampaknya kegiatan berfikir tidak mungkin dapat dilakukan, demikian juga pemilikan akal secara fisikal tidak serta merta mengindikasikan kegiata berfikir.

Menurut J.M. Bochenski berfikir adalah perkembangan ide dan konsep, definisi ini nampak sangat sederhana namun substansinya cukup mendalam, berfikir bukanlah kegiatan fisik namun merupakan kegiatan mental, bila seseorang secara mental sedang mengikatkan diri dengan sesuatu dan sesuatu itu terus berjalan dalam ingatannya, maka orang tersebut bisa dikatakan sedang berfikir. Jika demikian berarti bahwa berfikir merupakan upaya untuk mencapai pengetahuan. Upaya mengikatkan diri dengan sesuatu merupakan upaya untuk menjadikan sesuatu itu ada dalam diri (gambaran mental) seseorang, dan jika itu terjadi tahulah dia, ini berarti bahwa dengan berfikir manusia akan mampu memperoleh pengetahuan, dan dengan pengetahuan itu manusia menjadi lebih mampu untuk melanjutkan tugas kekhalifahannya di muka bumi serta mampu memposisikan diri lebih tinggi dibanding makhluk lainnya.

Sementara itu Partap Sing Mehra memberikan definisi berfikir (pemikiran) yaitu mencari sesuatu yang belum diketahui berdasarkan sesuatu yang sudah diketahui. Definisi ini mengindikasikan bahwa suatu kegiatan berfikir baru mungkin terjadi jika akal/pikiran seseorang telah mengetahui sesuatu, kemudian sesuatu itu dipergunakan untuk mengetahui sesuatu yang lain, sesuatu yang diketahui itu bisa merupakan data, konsep atau sebuah idea, dan hal ini kemudian berkembang atau dikembangkan sehingga diperoleh suatu yang kemudian diketahui atau bisa juga disebut kesimpulan. Dengan demikian kedua definisi yang dikemukakan akhli tersebut pada dasarnya bersifat saling melengkapi. Berfikir merupakan upaya untuk memperoleh pengetahuan dan dengan pengetahuan tersebut proses berfikir dapat terus berlanjut guna memperoleh pengetahuan yang baru, dan proses itu tidak berhenti selama upaya pencarian pengetahuan terus dilakukan.

Menurut Jujus S Suriasumantri Berfikir merupakan suatu proses yang membuahkan pengetahuan. Proses ini merupakan serangkaian gerak pemikiran dalam mengikuti jalan pemikiran tertentu yang akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan yang berupa pengetahuan. Dengan demikian berfikir mempunyai gradasi yang berbeda dari berfikir sederhana sampai berfikir yang sulit, dari berfikir hanya untuk mengikatkan subjek dan objek sampai dengan berfikir yang menuntut kesimpulan berdasarkan ikatan tersebut. Sementara itu Partap Sing Mehra menyatakan bahwa proses berfikir mencakup hal-hal sebagai berikut yaitu  :

    • Conception (pembentukan gagasan)
    • Judgement (menentukan sesuatu)
    • Reasoning (Pertimbangan pemikiran/penalaran)

bila seseorang mengatakan bahwa dia sedang berfikir tentang sesuatu, ini mungkin berarti bahwa dia sedang membentuk gagasan umum tentang sesuatu, atau sedang menentukan sesuatu, atau sedang mempertimbangkan (mencari argumentasi) berkaitan dengan sesuatu tersebut.

Cakupan proses berfikir sebagaimana disebutkan di atas menggambarkan bentuk substansi pencapaian kesimpulan, dalam setiap cakupan terbentang suatu proses (urutan) berfikir tertentu sesuai dengan substansinya. Menurut John Dewey proses berfikir mempuyai urutan-urutan (proses) sebagai berikut :

    • Timbul rasa sulit, baik dalam bentuk adaptasi terhadap alat, sulit mengenai sifat, ataupun dalam menerangkan hal-hal yang muncul secara tiba-tiba.
    • Kemudian rasa sulit tersebut diberi definisi dalam bentuk permasalahan.
    • Timbul suatu kemungkinan pemecahan yang berupa reka-reka, hipotesa, inferensi atau teori.
    • Ide-ide pemecahan diuraikan secara rasional melalui pembentukan implikasi dengan jalan mengumpulkan bukti-bukti (data).
    • Menguatkan pembuktian tentang ide-ide di atas dan menyimpulkannya baik melalui keterangan-keterangan ataupun percobaan-percobaan.

Sementara itu Kelly mengemukakan bahwa proses berfikir mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :

  • Timbul rasa sulit
  • Rasa sulit tersebut didefinisikan
  • Mencari suatu pemecahan sementara
  • Menambah keterangan terhadap pemecahan tadi yang menuju kepada kepercayaan bahwa pemecahan tersebut adalah benar.
  • Melakukan pemecahan lebih lanjut dengan verifikasi eksperimental
  • Mengadakan penelitian terhadap penemuan-penemuan eksperimental menuju pemecahan secara mental untuk diterima atau ditolak sehingga kembali menimbulkan rasa sulit.
  • Memberikan suatu pandangan ke depan atau gambaran mental  tentang situasi yang akan datang untuk dapat menggunakan pemecahan tersebut secara tepat.

Urutan langkah (proses) berfikir seperti tersebut di atas lebih menggambarkan suatu cara berfikir ilmiah, yang pada dasarnya merupakan gradasi tertentu disamping berfikir biasa yang sederhana serta berfikir radikal filosofis, namun urutan tersebut dapat membantu bagaimana seseorang berfikir dengan cara yang benar, baik untuk hal-hal yang sederhana dan konkrit maupun hal-hal yang rumit dan abstrak, dan semua ini dipengaruhi oleh pengetahuan yang dimiliki oleh orang yang berfikir tersebut.

  1. MAKNA PENGETAHUAN

Berfikir mensyaratkan adanya pengetahuan (Knowledge) atau sesuatu yang diketahui agar pencapaian pengetahuan baru lainnya dapat berproses dengan benar, sekarang apa yang dimaksud dengan pengetahuan ?, menurut Langeveld pengetahuan ialah kesatuan subjek yang mengetahui dan objek yang diketahui, di tempat lain dia mengemukakan bahwa pengetahuan merupakan kesatuan subjek yang mengetahui dengan objek yang diketahui, suatu kesatuan dalam mana objek itu dipandang oleh subjek sebagai dikenalinya. Dengan demikian pengetahuan selalu berkaitan dengan objek yang diketahui, sedangkan Feibleman menyebutnya hubungan subjek dan objek (Knowledge : relation between object and subject). Subjek adalah individu yang punya kemampuan mengetahui (berakal) dan objek adalah benda-benda atau hal-hal yang ingin diketahui. Individu (manusia) merupakan suatu realitas dan benda-benda merupakan realitas yang lain, hubungan keduanya merupakan proses untuk mengetahui dan bila bersatu jadilah pengetahuan bagi manusia. Di sini terlihat bahwa subjek mesti berpartisipasi aktif dalam proses penyatuan sedang objek pun harus berpartisipasi dalam keadaannya, subjek merupakan suatu realitas demikian juga objek, ke dua realitas ini berproses dalam suatu interaksi partisipatif, tanpa semua ini mustahil pengetahuan terjadi, hal ini sejalan dengan pendapat Max Scheler yang menyatakan bahwa pengetahuan sebagai partisipasi oleh suatu realita dalam suatu realita yang lain, tetapi tanpa modifikasi-modifikasi dalam kualitas yang lain itu. Sebaliknya subjek yang mengetahui itu dipengaruhi oleh objek yang diketahuinya.

Pengetahuan pada hakikatnya merupakan segenap apa yang diketahui tentang objek tertentu, termasuk ke dalamnya ilmu (Jujun S Suriasumantri,), Pengetahuan tentang objek selalu melibatkan dua unsur yakni unsur representasi tetap dan tak terlukiskan serta unsur penapsiran konsep yang menunjukan respon pemikiran. Unsur konsep disebut unsur formal sedang unsur tetap adalah unsur material atau isi (Maurice Mandelbaum). Interaksi antara objek dengan subjek yang menafsirkan, menjadikan pemahaman subjek (manusia) atas objek menjadi jelas, terarah dan sistimatis sehingga dapat membantu memecahkan berbagai masalah yang dihadapi. Pengetahuan tumbuh sejalan  dengan bertambahnya pengalaman, untuk itu diperlukan informasi yang bermakna guna menggali pemikiran untuk menghadapi realitas dunia dimana seorang itu hidup (Harold H Titus).

  1. BERFIKIR DAN PENGETAHUAN

Berfikir dan pengetahuan merupakan dua hal yang menjadi ciri keutamaan manusia, tanpa pengetahuan manusia akan sulit berfikir dan tanpa berfikir pengetahuan lebih lanjut tidak mungkin dapat dicapai, oleh karena itu nampaknya berfikir dan pengetahuan mempunyai hubungan yang sifatnya siklikal, bila digambarkan nampak sebagai berikut :

BERFIKIR

PENGETAHUAN

Gambar 1.2. Hubungan berfikir dengan pengetahuan

Gerak sirkuler antara berfikir dan pengetahuan akan terus membesar mengingat pengetahuan pada dasarnya bersifat akumulatit, semakin banyak pengetahuan yang dimiliki seseorang semakin rumit aktivitas berfikir, demikian juga semakin rumit aktivitas berfikir semakin kaya akumulasi pengetahuan. Semakin akumulatif pengetahuan manusia semakin rumit, namun semakin memungkinkan untuk melihat pola umum serta mensistimatisirnya dalam suatu kerangka tertentu, sehingga lahirlah pengetahuan ilmiah (ilmu), disamping itu terdapat pula orang-orang yang tidak hanya puas dengan mengetahui, mereka ini mencoba memikirkan hakekat dan kebenaran yang diketahuinya secara radikal dan mendalam, maka lahirlah pengetahuan filsafat, oleh karena itu berfikir dan pengetahuan dilihat dari ciri prosesnya dapat dibagi ke dalam :

    • Berfikir biasa dan sederhana menghasilkan pengetahuan biasa (pengetahuan eksistensial)
    • Berfikir sistematis faktual tentang objek tertentu menghasilkan pengetahuan ilmiah (ilmu)
    • Berfikir radikal tentang hakekat sesuatu menghasilkan pengetahuan filosofis (filsafat)

Semua jenis berfikir dan pengetahuan tersebut di atas mempunyai poisisi dan manfaatnya masing-masing, perbedaan hanyalah bersifat gradual, sebab semuanya tetap merupakan sifat yang inheren dengan manusia. Sifat inheren berfikir dan berpengetahuan pada manusia telah menjadi pendorong bagi upaya-upaya untuk lebih memahami kaidah-kaidah berfikir benar (logika), dan semua ini makin memerlukan keakhlian, sehingga makin rumit tingkatan berfikir dan pengetahuan makin sedikit yang mempunyai kemampuan tersebut, namun serendah apapun gradasi berpikir dan berpengetahuan yang dimiliki seseorang tetap saja mereka bisa menggunakan akalnya untuk berfikir untuk memperoleh pengetahuan, terutama dalam menghadapi masalah-masalah kehidupan, sehingga manusia dapat mempertahankan hidupnya (pengetahuan macam ini disebut pengetahuan eksistensial). Gradasi berfikir dan berpengetahuan sebagai dikemukakan terdahulu dapan dibagankan sebagai berikut :

Berfikir/Pengetahuan Ilmiah

Berfikir/Pengetahuan Biasa

Berfikir/

Pengetahuan

Filosofis

(Common Sense)

Gambar 1.3. Hirarki gradasi berfikir

Berpengetahuan merupakan syarat mutlak bagi manusia untuk mempertahankan hidupnya, dan untuk itu dalam diri manusia telah terdapat akal yang dapat dipergunakan berfikir untuk lebih mendalami dan memperluas pengetahuan. Paling tidak terdapat dua alasan mengapa manusia memerlukan pengetahuan/ilmu yaitu :

    1. manusia tidak bisa hidup dalam alam yang belum terolah, sementara binatang siap hidup di alam asli dengan berbagai kemampuan bawaannya.
    2. manusia merupakan makhluk yang selalu bertanya baik implisit maupun eksplisit dan kemampuan berfikir serta pengetahuan merupakan sarana untuk menjawabnya.

Dengan demikian berfikir dan pengetahuan bagi manusia merupakan instrumen penting untuk mengatasi berbagai persoalah yang dihadapi dalam hidupnya di dunia, tanpa itu mungkin yang akan terlihat hanya kemusnahan manusia (meski kenyataan menunjukan bahwa dengan berfikir dan pengetahuan manusia lebih mampu membuat kerusakan dan memusnahkan diri sendiri lebih cepat)

PERTANYAAN UNTUK BAHAN DISKUSI

  1. jelaskan makna Manusia?
  2. jelaskan perbedaan manuaia dengan hewan?
  3. apa yang dimaksud dengan berfikir?
  4. apa yang dimaksud dengan pengetahuan?
  5. jelaskan hubungan antara berfikir dan pengetahuan?
  6. mengapa manusia perlu berfikir dan berpengetahuan?
  7. sebutkan danjelaskan jenis-jenis berfikir dan pengetahuan?
  8. mengapa manusia merupakan satu-satunya makhluk di dunia yang bisa beragama?

B A B   2

F I L S A F A T

Aku tidak boleh mengatakan bahwa mereka bijaksana, sebabkebijaksanaan adalah sesuatu yang luhur, dan hanya dimiliki oleh Tuhan sendiri. Sebutan yang bersahaja, yaitu yang selayaknya diberikan kepada mereka adalah pencinta kebijaksanaan atau akhli Filsafat (Socrates dalam Phaedrus karya Plato)

    1. PENGERTIAN FILSAFAT

Secara etimologis filsafat berasal dari bahasa Yunani dari kata “philo” berarti cinta dan” sophia” yang berarti kebenaran, sementara itu menurut I.R. Pudjawijatna (1963 : 1) “Filo artinya cinta dalam arti yang seluas-luasnya, yaitu ingin dan karena ingin lalu berusaha mencapai yang diinginkannya itu . Sofia artinya kebijaksanaan , bijaksana artinya pandai, mengerti dengan mendalam, jadi menurut namanya saja  Filsafat boleh dimaknakan ingin mengerti dengan mendalam  atau cinta dengan kebijaksanaan.

Kecintaan pada kebijaksanaan haruslah dipandang sebagai suatu bentuk proses, artinya segala upaya pemikiran untuk selalu mencari hal-hal yang bijaksana, bijaksana di dalamnya mengandung dua makna yaitu baik dan benar, baik adalah sesuatu yang berdimensi etika, sedangkan benar adalah sesuatu yang berdimensi rasional, jadi sesuatu yang bijaksana adalah sesuatu yang etis dan logis. Dengan demikian berfilsafat berarti selalu berusaha untuk berfikir guna mencapai kebaikan dan kebenaran, berfikir dalam filsafat bukan sembarang berfikir namun berpikir secara radikal sampai ke akar-akarnya, oleh karena itu meskipun berfilsafat mengandung kegiatan berfikir, tapi tidak setiap kegiatan berfikir berarti filsafat atau berfilsafat. Sutan Takdir Alisjahbana (1981) menyatakan bahwa pekerjaan berfilsafat itu ialah berfikir, dan hanya manusia yang telah tiba di tingkat berfikir, yang berfilsafat. Guna lebih memahami mengenai makna filsafat berikut ini akan dikemukakan definisi filsafat yang dikemukakan oleh para akhli :

  1. Plato salah seorang murid Socrates yang hidup antara 427 – 347 Sebelum Masehi mengartikan filsafat  sebagai pengetahuan tentang segala yang ada, serta pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli.
  2. Aristoteles (382 – 322 S.M) murid Plato, mendefinisikan filsafat sebagai ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik dan estetika. Dia juga berpendapat bahwa filsafat itu menyelidiki sebab dan asas segala benda.
  3. Cicero (106 – 43 S.M). filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu yang maha agung dan usaha-usaha mencapai hal tersebut.
  4. Al Farabi (870 – 950 M). seorang Filsuf Muslim mendefinidikan Filsafat sebagai ilmu pengetahuan tentang alam maujud, bagaimana hakikatnya yang sebenarnya.
  5. Immanuel Kant (1724 – 1804). Mendefinisikan Filsafat sebagai ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang mencakup di dalamnya empat persoalan yaitu :
    1. Metafisika (apa yang dapat kita ketahui).
    1. Etika (apa yang boleh kita kerjakan).
    2. Agama ( sampai dimanakah pengharapan kita)
    3. Antropologi (apakah yang dinamakan manusia).
  1. H.C Webb dalam bukunya History of Philosophy menyatakan bahwa filsafat mengandung pengertian penyelidikan. Tidak hanya penyelidikan hal-hal yang khusus dan tertentu saja, bahkan lebih-lebih mengenai sifat – hakekat baik dari dunia kita, maupun dari cara hidup yang seharusnya kita selenggarakan di dunia ini.
  2. Harold H. Titus dalam bukunya Living Issues in Philosophy mengemukakan beberapa pengertian filsafat yaitu :
    1. Philosophy is an attitude toward life and universe (Filsafat adalah sikap terhadap kehidupan dan alam semesta).
    1. Philosophy is a method of reflective thinking and reasoned inquiry (Filsafat adalah suatu metode berfikir reflektif dan pengkajian secara rasional)
    2. Philosophy is a group of problems (Filsafat adalah sekelompok masalah)
    3. Philosophy is a group of systems of thought (Filsafat adalah serangkaian sistem berfikir)

Dari beberapa pengertian di atas nampak bahwa ada akhli yang menekankan pada subtansi dari apa yang difikirkan dalam berfilsafat seperti pendapat Plato dan pendapat Al Farabi, Aristoteles lebih menekankan pada cakupan apa yang difikirkan dalam filsafat demikian juga Kant setelah menyebutkan sifat filsafatnya itu sendiri sebagai ilmu pokok, sementara itu Cicero disamping menekankan pada substansi juga pada upaya-upaya pencapaiannya. Demikian juga H.C. Webb melihat filsafat sebagai upaya penyelidikan tentang substansi yang baik sebagai suatu keharusan dalam hidup di dunia. Definisi yang nampaknya lebih menyeluruh adalah yang dikemukakan oleh Titus, yang menekankan pada dimensi-dimensi filsafat dari mulai sikap, metode berfikir, substansi masalah, serta sistem berfikir.

Meskipun demikian, bila diperhatikan secara seksama, nampak pengertian-pengertian tersebut lebih bersifat saling melengkapi, sehingga dapat dikatakan bahwa berfilsafat berarti penyeledikan tentang Apanya, Bagaimananya, dan untuk apanya, dalam konteks ciri-ciri berfikir filsafat, yang bila dikaitkan dengan terminologi filsafat tercakup dalam ontologi (apanya), epistemologi (bagaimananya), dan axiologi (untuk apanya)

    1. CIRI-CIRI FILSAFAT

Bila dilihat dari aktivitasnya filsafat merupakan suatu cara berfikir yang mempunyai karakteristik tertentu. Menurut Sutan Takdir Alisjahbana syarat-syarat berfikir yang disebut berfilsafat yaitu : a) Berfikir dengan teliti, dan  b) Berfikir menurut aturan yang pasti. Dua ciri tersebut menandakan berfikir yang insaf, dan berfikir yang demikianlah yang disebut berfilsafat. Sementara itu Sidi Gazalba (1976) menyatakan bahwa ciri ber-Filsafat atau berfikir Filsafat adalah : radikal, sistematik, dan universal. Radikal bermakna berfikir sampai ke akar-akarnya (Radix artinya akar), tidak tanggung-tanggung sampai dengan berbagai konsekwensinya dengan tidak terbelenggu oleh berbagai pemikiran yang sudah diterima umum, Sistematik artinya berfikir secara teratur dan logis dengan urutan-urutan yang rasional dan dapat dipertanggungjawabkan, Universal artinya berfikir secara menyeluruh tidak pada bagian-bagian khusus yang sifatnya terbatas.

Sementara itu Sudarto (1996) menyatakan bahwa  ciri-ciri berfikir Filsafat adalah :

    1. Metodis : menggunakan metode, cara, yang lazim digunakan oleh filsuf (akhli filsafat) dalam proses berfikir
    2. Sistematis : berfikir dalam suatu keterkaitan antar unsur-unsur dalam suatu keseluruhan sehingga tersusun suatu pola pemikiran Filsufis.
    3. Koheren : diantara unsur-unsur yang dipikirkan tidak terjadi sesuatu yang bertentangan dan tersusun secara logis
    4. Rasional : mendasarkan pada kaidah berfikir yang benar dan logis (sesuai dengan kaidah logika)
    5. Komprehensif : berfikir tentang sesuatu dari berbagai sudut (multidimensi).
    6. Radikal : berfikir secara mendalam sampai ke akar-akarnya atau sampai pada tingkatan esensi yang sedalam-dalamnya
    7. Universal : muatan kebenarannya bersifat universal, mengarah pada realitas kehidupan manusia secara keseluruhan

Dengan demikian berfilsafat atau berfikir filsafat bukanlah sembarang berfikir tapi berfikir dengan mengacu pada kaidah-kaidah tertentu secara disiplin dan mendalam. Pada dasarnya manusia adalah homo sapien, hal ini tidak serta merta semua manusia menjadi Filsuf, sebab berfikir filsafat memerlukan latihan dan pembiasaan yang terus menerus dalam kegiatan berfikir sehingga setiap masalah/substansi mendapat pencermatan yang mendalam untuk mencapai kebenaran jawaban dengan cara yang benar sebagai manifestasi kecintaan pada kebenaran.

    1. OBJEK FILSAFAT

Pada dasarnya filsafat atau berfilsafat bukanlah sesuatu yang asing dan terlepas dari kehidupan sehari-hari, karena segala sesuatu yang ada dan yang mungkin serta dapat difikirkan bisa menjadi objek filsafat apabila selalu dipertanyakan, difikirkan secara radikal guna mencapai kebenaran. Louis Kattsoff menyebutkan bahwa lapangan kerja filsafat itu bukan main luasnya yaitu meliputi segala pengetahuan manusia serta segala sesuatu yang ingin diketahui manusia, Langeveld (1955) menyatakan bahwa filsafat itu berpangkal pada pemikiran keseluruhan serwa sekalian secara radikal dan menurut sistem, sementara itu Mulder (1966) menjelaskan bahwa tiap-tiap manusia yang mulai berfikir tentang diri sendiri dan tentang tempat-tempatnya dalam dunia akan menghadapi beberapa persoalan  yang begitu penting, sehingga persoalan-persoalan itu boleh diberi nama persoalan-persoalan pokok yaitu : 1) Adakah Allah dan   siapakan  Allah   itu ?, 2) apa  dan    siapakah   manusia ?, dan 3) Apakah hakekat dari segala realitas, apakah maknanya, dan apakah intisarinya ?. Lebih jauh E.C. Ewing dalam bukunya Fundamental Questions of Philosophy (1962) menyatakan bahwa pertanyaan-pertanyaan pokok filsafat (secara tersirat menunjukan objek filsafat)  ialah : Truth (kebenaran), Matter (materi), Mind (pikiran), The Relation of matter and mind (hubungan antara materi dan pikiran), Space and Time (ruang dan waktu), Cause (sebab-sebab), Freedom (kebebasan), Monism versus Pluralism (serba tunggal lawan serba jamak), dan God (Tuhan)

Pendapat-pendapat tersebut di atas menggambarkan betapa luas dan mencakupnya objek filsafat baik dilihat dari substansi masalah maupun sudut pandang nya terhadap masalah, sehingga dapat disimpulkan bahwa objek filsafat adalah segala sesuatu yang maujud dalam sudut pandang dan kajian yang mendalam (radikal). Secara lebih sistematis para akhli membagi objek filsafat ke dalam objek material dan obyek formal. Obyek material adalah objek yang  secara wujudnya dapat dijadikan bahan telaahan dalam berfikir, sedangkan obyek formal adalah objek yang menyangkut sudut pandang dalam melihat obyek material tertentu.

Menurut Endang Saefudin Anshori (1981) objek material filsafat adalah sarwa yang ada (segala sesuatu yang berwujud), yang pada garis besarnya  dapat dibagi  atas tiga persoalan pokok yaitu : 1). Hakekat Tuhan; 2). Hakekat Alam; dan 3). Hakekat manusia, sedangkan objek formal filsafat ialah usaha mencari keterangan secara radikal terhadap objek material filsafat. Dengan demikian objek material filsafat mengacu pada substansi yang ada dan mungkin ada yang dapat difikirkan oleh manusia, sedangkan objek formal filsafat menggambarkan tentang cara dan sifat berfikir terhadap objek material tersebut, dengan kata lain objek formal filsafat mengacu pada sudut pandang yang digunakan dalam memikirkan objek material filsafat.

    1. SISTIMATIKA FILSAFAT

adapun Bidang-bidang kajian/sistimatika filsafat antara lain adalah :

    1. Ontologi. Bidang filsafat yang meneliti hakikat wujud/ada (on = being/ada; logos = pemikiran/ ilmu/teori).
    2. Epistemologi. Filsafat yang menyelidiki tentang sumber, syarat serta proses terjadinya pengetahuan (episteme = pengetahuan/knowledge; logos = ilmu/teori/pemikiran)
    3. Axiologi. Bidang filsafat yang menelaah tentang hakikat nilai-nilai (axios = value; logos = teori/ilmu/pemikiran)

Sementara itu menurut Gahral Adian, Pendekatan filsafat melalui   sistimatika dapat   dilakukan   dengan   mengacu   pada tiga

pernyataan yang dikemukakan oleh Immanuel Kant yaitu :

    1. Apa yang dapat saya ketahui ?
    2. Apa  yang dapat saya harapkan ?
    3. Apa yang dapat saya lakukan ?

ketiga pertanyaan tersebut  menghasilkan tiga wilayah  besar filsafat yaitu wilayah pengetahuan, wilayah ada, dan wilayah nilai. Ketiga wilayah besar tersebut kemudian dibagi lagi kedalam wilayah-wilayah bagian yang lebih spesifik. Wilayah nilai mencakup nilai etika (kebaikan) dan nilai estetika (keindahan), wilayah Ada dikelompokan ke dalam Ontologi dan Metafisika, dan wilayah pengetahuan dibagi ke dalam empat wilayah yaitu filsafat Ilmu, Epistemologi,  Metodologi, dan Logika.  lebih lanjut   ketiga  wilayah tersebut diskemakan sbb :

A D A

N I L A I

PENGETAHUAN

ONTOLOGI                                   METAFISIKA

M

FILSAFAT ILMU                                                                                 ETIKA

EPISTEMOLOGI

METODOLOGI

LOGIKA                                                       ESTETIKA

Gambar 2.1. Skema Wilayah Filsafat

    1. CABANG-CABANG FILSAFAT

Dengan memahami Bidang-bidang kajian/sistimatika filsafat, nampak bahwa betapa luas cakupan filsafat mengingat segala sesuatu yang ada dapat dijadikan substansi bagi pemikiran filsafat, namun demikian dalam perkembangannya para akhli mencoba mengelompokan cabang-cabang Filsafat kedalam beberapa pengelompokan sehingga nampak lebih fokus dan sistematis. Pencabangan ini pada dasarnya merupakan perkembangan selanjutnya dari pembidangan/sistematika filsafat, seiring makin berkembangnya pemikiran manusia dalam melihat substansi objek material filsafat dengan titik tekan penelaahan yang bervariasi. Berikut ini akan dikemukakan pendapat beberapa pakar tentang cabang-cabang filsafat.

    1. Plato (427 – 347 S.M). membedakan lapangan atau bidang-bidang Filsafat  kedalam : 1) Dialektika (yang mengandung persoalan idea-idea atau pengertian-pengertian umum), 2) Fisika (yang mengandung persoalan dunia materi), 3) Etika (yang mengandung persoalan baik dan buruk).
    2. Aristoteles (382 – 322 S.M).berpendapat bahwa Filsafat dapat dibagi ke dalam empat cabang yaitu :
    1. Logika. Merupakan ilmu pendahuluan bagi Filsafat
    2. Filsafat Teoritis. Yang mencakup tiga bidang: 1) Fisika, 2) Matematika, 3) Metafisika.
    3. Filsafat Praktis. Mencakup tiga bidang yaitu 1) Etika, 2) Ekonomi, 3) Politik.
    4. Poetika (kesenian)
  1. Al Kindi. Membagi Filsafat ke dalam tiga bidang yaitu :
      1. Ilmu Thabiiyat (Fisika)–merupakan tingkatan terendah
      2. Ilmu Riyadhi (matematika)—merupakan tingkatan menengah
      3. Ilmu Rububiyat (Ketuhanan)—merupakan tingkatan tertinggi
  1. Al Farabi. Membagi Filsafat ke dalam dua bagian yaitu :

a.  Filsafat Teori.  Meliputi matematika, Fisika, dan Metafisika.

b.  Filsafat Praktis. Meliputi etika dan politik

    1. H. De Vos. Menggolongkan Filsafat ke dalam :
    1. Metafisika (pemikiran di luar kebendaan)
    1. Logika (cara berfikir benar)
    2. Ajaran tentang Ilmu Pengetahuan
    3. Filsafat Alam
    4. Filsafat Kebudayaan
    5. Filsafat sejarah
    6. Etika (masalah baik dan buruk)
    7. Estetika (masalah keindahan, seni)
    8. Antropologi (masalah yang berkaitan dengan manusia)
    1. Hasbullah Bakry (1978). Menyatakan bahwa di zaman modern ini pembagian/cabang filsafat terdiri
    1. Filsafat Teoritis yang terdiri dari: logika, Metafisika, filsafat alam, filsafat manusia.
    1. Filsafat praktis. Terdiri dari : etika, filsafat Agama, filsafat kebudayaan
    1. Prof.H.Ismaun (2000). Membagi cabang-cabang Filsafat sebagai berikut :
    1. Epistemologi (filsafat pengetahuan)
    1. Etika (filsafat moral.
    2. Estetika (filsafat seni)
    3. Metafisika
    4. Politik (filsafat pemerintahan/negara)
    5. Filsafat Agama
    6. Filsafat pendidikan
    7. Filsafat ilmu
    8. Filsafat hukum
    9. Filsafat sejarah
    10. Filsafat matematika
    1. Richard A. Hopkin. Membahas Filsafat ke dalam tujuh cabang penelaahan yaitu :
    1. Etics (etika)
    1. Political Philosophy (filsafat politik)
    2. Metaphisics (metafisika)
    3. Philosophy of Religion (filsafat Agama)
    4. Theory of Knowledge (teori pengetahuan)
    5. Logics (logika)
    1. Alburey Castell. Membagi filsafat ke dalam :
      1. Ketuhanan (theological problem)
      1. Metafisika (methaphysical problem)
      2. Epistemologi (epistemological problem)
      3. Etika (ethical problem)
      4. Politik (political problem)
      5. Sejarah (historical problem)
    1. Endang Saifuddin Anshori. Membagi cabang-cabang filsafat sebagai berikut :
    1. Metafisika. Filsafat tentang hakekat yang ada dibalik fisika, tentang hakekat yang bersifat transenden, di luar atau di atas jangkauan pengalaman manusia.
    1. Logika. Filsafat tentang pikiran yang benar dan  yang salah.
    2. Etika. Filsafat tentang tingkah laku yang baik dan yang buruk.
    3. Estetika. Filsafat tentang kreasi yang indah dan yang jelek
    4. Epistemologi. Filsafat tentang ilmu pengetahuan
    5. Filsafat-filsafat khusus lainnya seperti: filsafat hukum, filsafat sejarah, filsafat alam, filsafat agama, filsafat manusia, filsafat pendidikan dan lain sebagainya

Pencabangan filsafat sebagaimana tersebut di atas amat penting dipahami guna melihat perkembangan keluasan dari substansi yang dikaji dan ditelaah dalam filsafat, dan secara teoritis hal itu masih mungkin berkembang sejalan dengan kemendalaman pengkajian terhadap objek materi filsafat.

    1. PENDEKATAN DALAM MEMPELAJARI FILSAFAT

Upaya memahami apa yang dimaksud dengan filsafat dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, secara umum, pendekatan yang diambil dapat dikategorikan berdasarkan sudut pandang terhadap filsafat, yakni filsafat sebagai produk dan filsafat sebagai proses. Sebagai produk artinya melihat filsafat sebagai kumpulan pemikiran dan pendapat yang dikemukakan oleh filsuf, sedangkan sebagai proses, filsafat sebagai suatu bentuk/cara berfikir yang sesuai dengan kaidah-kaidah berfikir filsafat.

Menurut Donny Gahral Adian (2002), terdapat empat pendekatan dalam melihat/memahami filsafat yaitu:

    1. Pendekatan Definisi.
    2. Pendekatan Sistimatika.
    3. Pendekatan Tokoh
    4. Pendekatan Sejarah

Pendekatan Definisi. Dalam pendekatan ini filsafat dicoba difahami melalui berbagai definisi yang dikemukakan oleh para akhli, dan dalam hubungan ini penelusuran asal kata menjadi penting, mengingat kata filsafat itu sendiri pada dasarnya merupakan kristalisasi/representasi dari konsep-konsep yang terdapat dalam definisi itu sendiri, sehingga pemahaman atas kata filsafat itu sendiri akan sangat membantu dalam memahami definisi filsafat.

Pendekatan Sistimatika. Objek material Filsafat adalah serwa yang ada dengan berbagai variasi substansi dan tingkatan. Objek material ini bisa ditelaah dari berbagai sudut sesuai dengan fokus keterangan yang diinginkan. Variasi fokus telaahan yang mengacu pada objek formal melahirkan berbagai bidang kajian dalam filsafat yang menggambarkan sistimatika,

Pendekatan Tokoh. Pada umumnya para filsuf jarang membahas secara tuntas seluruh wilayah filsafat, seorang filsuf biasanya mempunyai fokus utama dalam pemikiran filsafatnya. Dalam pendekatan ini seseorang mencoba mendalami filsafat melalui penelaahan pada pemikiran-pemikiran yang dikemukakan oleh para Filsuf, yang terkadang mempunyai kekhasan tersendiri, sehingga membentuk suatu aliran filsafat tertentu, oleh karena itu pendekatan tokoh juga dapat dikelompokan sebagai pendekatan Aliran, meskipun tidak semua Filsuf memiliki aliran tersendiri.

Pendekatan Sejarah. Pendekatan ini berusaha memahami filsafat dengan melihat aspek sejarah dan perkembangan pemikiran filsafat dari waktu ke waktu dengan melihat kecenderungan-kecenderungan umum sesuai dengan semangat zamannya, kemudian dilakukan periodisasi untuk melihat perkembangan pemikiran filsafat secara kronologis.

Dari pendekatan-pendekatan tersebut di atas, nampak sekali bahwa untuk memahami filsafat seseorang dapat memasukinya melalui empat pintu, namun demikian bagi pemula, pintu-pintu tersebut harus dilalui secara terurut, mengingat pintu pendekatan Tokoh dan pendekatan Historis perlu didasari dengan pemahaman awal tentang filsafat yang dapat diperoleh melalui pintu pendekatan definisi dan pendekatan sistematika.

  1. SUDUT PANDANG TERHADAP FILSAFAT

Terdapat tiga sudut pandang dalam melihat Filsafat, sudut pandang ini menggambarkan variasi pemahaman dalam menggunakan kata Filsafat, sehingga dalam penggunaannya mempunyai konotasi yang berbeda. Adapun sudut pandang tersebut adalah :

    1. Filsafat sebagai metode berfikir (Philosophy as a method of thought)
    2. Filsafat sebagai pandangan hidup (Philosophy as a way of life)
    3. Filsafat sebagai Ilmu (Philosophy as a science)

Filsafat sebagai metode berfikir berarti filsafat dipandang sebagai suatu cara manusia dalam memikirkan tentang segala sesuatu secara radikal dan menyeluruh, Filsafat sebagai pandangan hidup mengacu pada suatu keyakinan yang menjadi dasar dalam kehidupan baik intelektual, emosional, maupun praktikal, sedangkan filsafat sebagai Ilmu artinya melihat filsafat sebagai suatu disiplin ilmu yang mempunyai karakteristik yang khas sesuai dengan sifat suatu ilmu.

  1. SEJARAH SINGKAT FILSAFAT

Sejarah filsafat dapat diperiodisasi ke dalam empat periode (Sudarto. 1996) yaitu :

    1. Tahap/masa Yunani kuno (Abad ke-6 S.M sampai akhir abad ke-3 S.M)
    2. Tahap/masa Abad Pertengahan (akhir abad ke-3 S.M sampai awal abad ke-15 Masehi)
    3. Tahap/masa Modern (akhir abad ke-15 M sampai abad ke-19 Masehi)
    4. Tahap/masa dewasa ini/filsafat kontemporer (abad ke-20 Masehi)

sementara itu K. Bertens dalam bukunya Ringkasan Sejarah Filsafat (1976) menyusun topik-topik pembahasannya sebagi berikut :

    1. Masa Purba Yunani
    2. Masa Patristik dan Abad pertengahan
    3. Masa Modern

Pembagian periodisasi yang nampaknya lebih rinci, dikemukakan oleh Susane K. Langer (Donny Gahral Adian, 2002) yang membagi sejarah filsafat ke dalam enam tahapan yaitu :

    1. Yunani Kuno (+ 600 SM)
    2. Filsuf-filsuf Manusia Yunani
    3. Abad Pertengahan (300 SM –1300M)
    4. Filsafat Modern (17-19 M)
    5. Positivisme (Abad 20 M)
    6. Alam Simbolis

kemudian Gahral Adian menambahkan kepada enam tahapan tersebut dengan satu tahapan lagi yaitu  Post Modernisme. Meskipun terdapat perbedaan dalam periodisasi sejarah filsafat, namun semua itu nampaknya lebih menunjukan perincian dengan menggunakan sifat pemikiran serta pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat.

Masa Yunani Kuno. Pada tahap awal kelahirannya filsafat  menampakkan diri sebagi suatu bentuk mitologi, serta dongeng-dongeng yang dipercayai oleh Bangsa Yunani, baru sesudah Thales (624-548 S.M) mengemukakan pertanyaan aneh pada waktu itu, filsafat berubah menjadi suatu bentuk pemikiran rasional (logos). Pertanyaan Thales yang menggambarkan rasa keingintahuan bukanlah pertanyaan biasa seperti apa rasa kopi ?, atau pada tahun keberapa tanaman kopi berbuah ?, pertanyaan Thales yang merupakan pertanyaan filsafat, karena mempunyai bobot yang dalam sesuatu yang ultimate (bermakna dalam) yang mempertanyakan tentang Apa sebenarnya bahan alam semesta ini (What is the nature of the world stuff ?), atas pertanyaan ini indra tidak bisa menjawabnya, sains juga terdiam, namun Filsuf berusaha menjawabnya. Thales menjawab Air (Water is the basic principle of the universe), dalam pandangan Thales air merupakan prinsip dasar alam semesta, karena air dapat berubah menjadi berbagai wujud

Kemudian silih berganti Filsuf memberikan jawaban terhadap bahan dasar (Arche) dari semesta raya ini dengan argumentasinya masing-masing. Anaximandros (610-540 S.M) mengatakan Arche is to Apeiron, Apeiron adalah sesuatu yang paling awal dan abadi, Pythagoras (580-500 S.M) menyatakan bahwa hakekat alam semesta adalah bilangan, Demokritos (460-370 S.M) berpendapat hakekat alam semesta adalah Atom, Anaximenes (585-528 S.M) menyatakan udara, dan Herakleitos (544-484 S.M) menjawab asal hakekat alam semesta adalah api, dia berpendapat bahwa di dunia ini tak ada yang tetap, semuanya mengalir . Variasi jawaban yang dikemukakan para filsuf menandai dinamika pemikiran yang mencoba mendobrak dominasi mitologi, mereka mulai secara intens memikirkan tentang Alam/Dunia, sehingga sering dijuluki sebagai Philosopher atau akhli tentang Filsafat Alam (Natural Philosopher), yang dalam perkembangan selanjutnya melahirkan Ilmu-ilmu kealaman.

Pada perkembangan selanjutnya, disamping pemikiran tentang Alam, para akhli fikir Yunani pun banyak yang  berupaya memikirkan tentang hidup kita (manusia) di Dunia. Dari titik tolak ini lahir lah Filsafat moral (atau filsafat sosial) yang pada tahapan berikutnya mendorong lahirnya Ilmu-ilmu sosial. Diantara filsuf terkenal yang banyak mencurahkan perhatiannya pada kehidupan manusia adalah Socrates (470-399 S.M),  dia   sangat   menentang  ajaran  kaum Sofis

Yang   cenderung   mempermainkan   kebenaran, Socrates  berusaha

meyakinkan bahwa kebenaran dan kebaikan sebagai nilai-nilai yang

Kaum  Sofis

Kaum  Sofis adalah golongan yang tidak lagi memikirkan alam, malainkan melatih kemahiran manusia dalam berpidato, berargumentasi untuk mempertahankan kebenaran, akan tetapi bagi mereka kebenaran itu sifatnya relatif tergantung kemampuan berargumentasi. Salah seorang tokohnya adalah Protagoras yang berpendapat bahwa Man is the measure of all things

objektif yang harus diterima dan dijunjung tinggi oleh semua orang. Dia mengajukan pertanyaan pada siapa saja yang ditemui dijalan untuk membukakan batin warga Athena kepada kebenaran (yang benar) dan kebaikan (yang baik). Dari prilakunya ini pemerintah  Athena menganggap Socrates sebagai penghasut, dan akhirnya dia dihukum mati dengan jalan meminum racun.

Sesudah Socrates mennggal, filsafat Yunani terus berkembang dengan Tokohnya Plato (427-347 S.M), salah seorang murid Socrates. Diantara pemikiran Plato yang penting adalah  berkaitan dengan pembagian relaitas ke dalam dua bagian yaitu realitas/dunia yang hanya terbuka bagi rasio, dan dunia yang terbuka bagi pancaindra, dunia pertama terdiri dari idea-idea, dan dunia ke dua adalah dunia jasmani (pancaindra), dunia ide sifatnya sempurna dan tetap, sedangkan dunia jasmani selalu berubah. Dengan pendapatnya tersebut, menurut Kees Berten (1976), Plato berhasil mendamaikan pendapatnya Herakleitos dengan pendapatnya Permenides, menurut Herakleitos segala sesuatu selalu berubah, ini benar kata Plato, tapi hanya bagi dunia Jasmani (Pancaindra), sementara menurut Permenides segala sesuatu sama sekali sempurna dan tidak dapat berubah, ini juga benar kata Plato, tapi hanya berlaku pada dunia idea saja.

Dalam sejarah Filsafat Yunani, terdapat seorang filsuf yang sangat legendaris yaitu Aristoteles (384-322 S.M), seorang yang pernah belajar di Akademia Plato di Athena. Setelah Plato meninggal Aristoteles menjadi guru pribadinya Alexander Agung selama dua tahun, sesudah itu dia kembali lagi ke Athena dan mendirikan Lykeion, dia sangat mengagumi pemikiran-pemikiran Plato meskipun dalam filsafat, Aristoteles mengambil jalan yang berbeda (Aristoteles pernah mengatakan-ada juga yang berpendapat bahwa ini bukan ucapan Aristoteles- Amicus Plato, magis amica veritas – Plato  memang sahabatku, tapi kebenaran lebih akrab bagiku – ungkapan ini terkadang diterjemahkan bebas menjadi “Saya mencintai Plato, tapi saya lebih mencintai kebenaran”)

Aristoteles mengkritik tajam pendapat Plato tentang idea-idea, menurut Dia yang umum dan tetap bukanlah dalam dunia idea akan tetapi dalam benda-benda jasmani itu sendiri, untuk itu Aristoteles mengemukakan teori Hilemorfisme (Hyle = Materi, Morphe = bentuk), menurut teori ini,  setiap benda jasmani memiliki dua hal  yaitu bentuk dan materi, sebagai contoh, sebuah patung pasti memiliki dua hal yaitu materi atau bahan baku patung misalnya kayu atau batu, dan bentuk misalnya bentuk kuda atau bentuk manusia, keduanya tidak mungkin lepas satu sama lain, contoh tersebut hanyalah untuk memudahkan pemahaman, sebab dalam pandangan Aristoteles materi dan bentuk itu merupakan prinsip-prinsip metafisika untuk memperkukuh dimingkinkannya Ilmu pengetahuan atas dasar bentuk dalam setiap benda konkrit. Teori hilemorfisme juga menjadi dasar bagi pandangannya tentang manusia, manusia terdiri dari materi dan bentuk, bentuk adalah jiwa, dan karena bentuk tidak pernah lepas dari materi, maka konsekwensinya adalah bahwa apabila manusia mati, jiwanya (bentuk) juga akan hancur.

Disamping pendapat tersebut Aristoteles juga dikenal sebagai Bapak Logika yaitu suatu cara berpikir yang teratur menurut urutan yang tepat atau berdasarkan hubungan sebab akibat. Dia adalah yang pertama kali membentangkan cara berpikir teratur  dalam suatu sistem, yang intisarinya adalah Sylogisme (masalah ini akan diuraikan khusus dalam topik Logika) yaitu menarik  kesimpulan dari kenyataan umum atas hal yang khusus (Mohammad Hatta, 1964).

Abad Pertengahan. Semenjak meninggalnya Aristoteles, filsafat terus berkembang dan mendapat kedudukan yang tetap penting dalam kehidupan pemikiran manusia meskipun dengan corak dan titik tekan yang berbeda. Periode sejak meninggalnya Aristoteles (atau sesudah meninggalnya Alexander Agung (323 S.M) sampai menjelang lahirnya Agama Kristen oleh Droysen (Ahmad Tafsir. 1992) disebut periode Hellenistik (Hellenisme adalah istilah yang menunjukan kebudayaan gabungan antara budaya Yunani dan Asia Kecil, Siria, Mesopotamia, dan Mesir Kuno). Dalam masa ini Filsafat ditandai antara lain dengan perhatian pada hal yang lebih aplikatif, serta kurang memperhatikan Metafisika, dengan semangat yang Eklektik (mensintesiskan pendapat yang berlawanan) dan bercorak Mistik.

Menurut  A. Epping. at al (1983), ciri manusia (pemikiran filsafat) abad pertengahan adalah :

    1. Ciri berfilsafatnya dipimpin oleh Gereja
    2. Berfilsafat di dalam lingkungan ajaran Aristoteles
    3. berfilsafat dengan pertolongan Augustinus

pada masa ini filsafat cenderung kehilangan otonominya, pemikiran filsafat abad pertengahan bercirikan Teosentris (kebenaran berpusat pada wahyu Tuhan), hal ini tidak mengherankan mengingat pada masa ini pengaruh Agama Kristen sangat besar dalam kehidupan manusia, termasuk dalam bidang pemikiran.

Filsafat abad pertengahan sering juga disebut filsafat scholastik, yakni filsafat yang mempunyai corak semata-mata bersifat keagamaan, dan mengabdi pada teologi. Pada masa ini memang terdapat upaya-upaya para filsuf untuk memadukan antara pemikiran Rasional (terutama pemikiran-pemikiran Aristoteles) dengan Wahyu Tuhan sehingga dapat dipandang sebagai upaya sintesa antara kepercayaan dan akal. Keadaan ini pun terjadi dikalangan umat Islam yang mencoba melihat ajaran Islam dengan sudut pandang Filsafat (rasional), hal ini dimungkinkan mengingat begitu kuatnya pengaruh pemikiran-pemikiran ahli filsafat Yunani/hellenisme dalam dunia pemikiran saat itu, sehingga keyakinan Agama perlu dicarikan landasan filosofisnya agar menjadi suatu keyakinan yang rasional.

Pemikiran-pemikiran yang mencoba melihat Agama dari perspektif filosofis terjadi baik di dunia Islam maupun Kristen, sehingga para ahli mengelompokan filsafat skolastik ke dalam filsafat skolastik Islam dan filsafat skolastik Kristen.

Di dunia Islam (Umat Islam) lahir filsuf-filsuf terkenal seperti Al Kindi (801-865 M),  Al Farabi (870-950 M), Ibnu Sina (980-1037 M), Al Ghazali (1058-1111 M), dan Ibnu Rusyd (1126-1198), sementara itu di dunia Kristen lahir Filsuf-filsuf antara lain seperti  Peter Abelardus (1079-1180), Albertus Magnus (1203-1280 M), dan Thomas Aquinas (1225-1274). Mereka ini disamping sebagai Filsuf juga orang-orang yang mendalami ajaran agamanya masing-masing, sehingga corak pemikirannya mengacu pada upaya mempertahankan keyakinan agama dengan jalan filosofis, meskipun dalam banyak hal terkadang ajaran Agama dijadikan Hakim untuk memfonis benar tidaknya suatu hasil pemikiran Filsafat (Pemikiran Rasional).

Masa Modern. Pada masa ini pemikiran filosofis seperti dilahirkan kembali dimana sebelumnya dominasi gereja sangat dominan yang berakibat pada upaya mensinkronkan antara ajaran gereja dengan pemikiran filsafat. Kebangkitan kembali rasio mewarnai zaman modern dengan salah seorang pelopornya adalah Descartes, dia berjasa dalam merehabilitasi, mengotonomisasi kembali rasio yang sebelumnya hanya menjadi budak keimanan.

Diantara pemikiran Desacartes (1596-1650) yang penting adalah diktum kesangsian, dengan mengatakan Cogito ergo sum, yang biasa diartikan saya berfikir, maka saya ada. Dengan ungkapan ini posisi rasio/fikiran sebagai sumber pengetahuan menjadi semakin kuat, ajarannya punya pengaruh yang cukup besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan, segala sesuatu bisa disangsikan tapi subjek yang berfikir menguatkan kepada kepastian.

Dalam perkembangnnya argumen Descartes (rasionalisme) mendapat tantangan keras dari para filosof penganut Empirisme seperti David Hume (1711-1776), John Locke (1632-1704). Mereka berpendapat bahwa pengetahuan hanya didapatkan dari pengalaman lewat pengamatan empiris. Pertentangan tersebut terus berlanjut sampai muncul Immanuel Kant (1724-1804) yang berhasil membuat sintesis antara rasionalisme dengan empirisme, Kant juga dianggap sebagai tokoh sentral dalam zaman modern dengan pernyataannya yang terkenal sapere aude(berani berfikir sendiri), pernyataan ini jelas makin mendorong upaya-upaya berfikir manusia tanpa perlu takut terhadap kekangan dari Gereja.

Pandangan empirisme semakin kuat pengaruhnya dalam cabang ilmu pengetahuan setelah munculnya pandangan August Comte (1798-1857) tentang Positivisme. Salah satu buah pikirannya yang sangat penting dan berpengaruh adalah tentang tiga tahapan/tingkatan cara berpikir manusia dalam berhadapan dengan alam semesta yaitu : tingkatan Teologi, tingkatan Metafisik, dan tingkatan Positif

Tingkatan Teologi (Etat Theologique). Pada tingkatan ini manusia belum bisa memahami  hal-hal yang berkaitan dengan sebab akibat. Segala kejadian dialam semesta merupakan akibat dari suatu perbuatan Tuhan dan manusia hanya bersifat pasrah, dan yang dapat dilakukan adalah memohon pada Tuhan agar dijauhkan dari berbagai bencana. Tahapan ini terdiri dari tiga tahapan lagi yang berevolusi yakni dari tahap animisme, tahap politeisme, sampai dengan tahap monoteisme.

Tingkatan Metafisik (Etat Metaphisique). Pada dasarnya tingkatan ini merupakan suatu variasi dari cara berfikir teologis, dimana Tuhan atau Dewa-dewa diganti dengan kekuatan-kekuatan abstrak misalnya dengan istilah kekuatan alam. Dalam tahapan ini manusia mulai menemukan  keberanian dan merasa bahwa kekuatan yang menimbulkan bencana dapat dicegah dengan memberikan berbagai sajian-sajian sebagai penolak bala/bencana.

Tingkatan Positif (Etat Positive). Pada tahapan ini manusia sudah menemukan pengetahuan yang cukup untuk menguasai alam. Jika pada tahapan pertama manusia selalu dihinggapi rasa khawatir berhadapan dengan alam semesta, pada tahap kedua manusia mencoba mempengaruhi kekuatan yang mengatur alam semesta, maka pada tahapan positif manusia lebih percaya diri, dengan ditemukannya hukum-hukum alam, dengan bekal  itu manusia mampu menundukan/mengatur (pernyataan ini mengindikasikan adanya pemisahan antara subyek yang mengetahui dengan obyek yang diketahui)  alam serta memanfaatkannya untuk kepentingan manusia, tahapan ini merupakan tahapan dimana manusia dalam hidupnya lebih mengandalkan pada ilmu pengetahuan.

Dengan memperhatikan tahapan-tahapan seperti dikemukakan di atas nampak bahwa istilah positivisme mengacu pada tahapan ketiga (tahapan positif/pengetahuan positif) dari pemikiran Comte. Tahapan positif merupakan tahapan tertinggi, ini berarti  dua tahapan sebelumnya merupakan tahapan yang rendah dan primitif, oleh karena itu filsafat Positivisme merupakan filsafat yang anti metafisik, hanya fakta-fakta saja yang dapat diterima. Segala sesuatu yang bukan fakta atau gejala (fenomin) tidak mempunyai arti, oleh karena itu yang penting dan punya arti hanya satu yaitu mengetahui (fakta/gejala) agar siap bertindak (savoir pour prevoir).

Manusia harus menyelidiki dan mengkaji berbagai gejala yang terjadi beserta hubungan-hubungannya diantara gejala-gejala tersebut agar dapat meramalkan apa yang akan terjadi, Comte menyebut hubungan-hubungan tersebut dengan konsep-konsep dan hukum-hukum yang bersifat positif dalam arti berguna untuk diketahui karena benar-benar nyata bukan bersifat spekulasi seperti dalam metafisika.

Pengaruh positivisme yang sangat besar dalam zaman modern sampai sekarang ini, telah mengundang para pemikir untuk mempertanyakannya, kelahiran post modernisme yang narasi awalnya dikemukakan oleh Daniel Bell dalam bukunya The cultural contradiction of capitalism, yang salah satu pokok fikirannya adalah bahwa etika kapitalisme yang menekankan kerja keras, individualitas, dan prestasi telah berubah menjadi hedonis konsumeristis.

Postmodernisme pada dasarnya merupakan pandangan yang tidak/kurang mempercayai narasi-narasi universal serta kesamaan dalam segala hal, faham ini lebih memberikan tempat pada narasi-narasi kecil dan lokal yang berarti lebih menekankan pada keberagaman dalam memaknai kehidupan.

PERTANYAAN UNTUK BAHAN DISKUSI

    1. jelaskan pengertian filsafat?
    2. jelaskan pendekatan-pendekatan dalam mempelajari filsafat?
    3. jelaskan metode berfikir filsafat?
    4. apa yang dimaksud dengan berfikir radikal?
    5. jelaskan objek filsafat?
    6. jelaskan apa yang dimaksud dengan positivisme?
    7. jelaskan bagaimana pendapat Immanuel Kant tentang

rasio dan pengalaman?

    1. apakah filsafat diperlukan bagi kehidupan manusia, coba jelaskan?

BAB 3

ILMU PENGETAHUAN

There  can be no living science unless there is a widespread instinctive conviction in the exixtence of an order of things, and in particular, of an order of nature (Alfred North Whitehead)

Barang siapa menginginkan dunia, hendaklah berilmu, barang siapa menginginkan akhirat, hendaklah berilmu, dan barang siapa menginginkan keduanya, hendaklah berilmu (Al Hadist)

  1. PENGERTIAN ILMU (ILMU PENGETAHUAN)

Ilmu merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab, masdar dari ‘alima – ya’lamu yang berarti tahu atau mengetahui, sementara itu secara istilah ilmu diartikan sebagai Idroku syai bi haqiqotih(mengetahui sesuatu secara hakiki). Dalam bahasa Inggeris Ilmu biasanya  dipadankan  dengan  kata  science, sedang    pengetahuan dengan knowledge. Dalam bahasa Indonesia kata science(berasal dari bahasa lati dari kata Scio, Scire yang berarti tahu) umumnya diartikan Ilmu tapi sering juga diartikan dengan Ilmu Pengetahuan, meskipun secara konseptual mengacu pada makna yang sama. Untuk lebih memahami pengertian Ilmu (science) di bawah ini akan dikemukakan beberapa pengertian :

    • Ilmu adalah pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu  dibidang (pengetahuan) itu (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
    • Science is knowledge arranged in a system, especially obtained by observation and testing of fact (An English reader’s dictionary)
    • Science is a systematized knowledge obtained by study, observation, experiment” (Webster’s super New School and Office Dictionary)
    • Science is the complete and consistent description of facts and experience in the simplest possible term”(Karl Pearson)
    • Science is a sistematized knowledge derives from observation, study, and experimentation carried on in order to determinethe nature or principles of what being studied” (Ashley Montagu)
    • Science is the system of man’s knowledge on nature, society and thought. It reflect the world in concepts, categories and laws, the correctness and truth of which are verified by practical experience(V. Avanasyev)

sementara itu The Liang Gie menyatakan dilihat dari ruang lingkupnya pengertian ilmu adalah sebagai berikut :

    • Ilmu merupakan sebuah istilah umum untuk menyebutkan segenap pengetahuan ilmiah yang dipandang sebagai suatu kebulatan. Jadi ilmu mengacu pada ilmu seumumnya.
    • Ilmu menunjuk pada masing-masing bidang pengetahuan ilmiah yang mempelajari pokok soal tertentu, ilmu berarti cabang ilmu khusus

sedangkan jika dilihat dari segi maknanya The Liang Gie mengemukakan tiga sudut pandang berkaitan dengan pemaknaan ilmu/ilmu pengetahuan yaitu :

    • Ilmu sebagai pengetahuan, artinya ilmu adalah sesuatu kumpulan yang sistematis, atau sebagai kelompok pengetahuan teratur mengenai pokok soal atau subject matter. Dengan kata lain bahwa pengetahuan menunjuk pada sesuatu yang merupakan isi substantif yang terkandung dalam ilmu.
    • Ilmu sebagai aktivitas,  artinya suatu aktivitas mempelajari sesuatu secara aktif, menggali, mencari, mengejar atau menyelidiki sampai pengetahuan itu diperoleh. Jadi ilmu sebagai aktivitas ilmiah dapat berwujud penelaahan (Study), penyelidikan (inquiry), usaha menemukan (attempt to find), atau pencarian (Search).
    • Ilmu sebagi metode, artinya ilmu pada dasarnya adalah suatu metode untuk menangani masalah-masalah, atau suatu kegiatan penelaahan atau proses penelitian yang mana ilmu itu mengandung prosedur, yakni serangkaian cara dan langkah tertentu yang mewujudkan pola tetap. Rangkaian cara dan langkah ini dalam dunia keilmuan dikenal sebagai metode

Harsoyo mendefinisikan ilmu dengan melihat pada sudut proses historis dan pendekatannya yaitu :

    • Ilmu merupakan akumulasi pengetahuan yang disistematiskan atau kesatuan pengetahuan yang terorganisasikan
    • Ilmu dapat pula dilihat sebagai suatu pendekatan atau suatu metode pendekatan terhadap seluruh dunia empiris, yaitu dunia yang terikat oleh faktor ruang dan waktu, dunia yang pada prinsipnya dapat diamati oleh pancaindra manusia.

dari pengertian di atas nampak bahwa Ilmu memang  mengandung arti pengetahuan, tapi bukan sembarang pengetahuan melainkan pengetahuan dengan ciri-ciri khusus yaitu yang tersusun secara sistematis, dan untuk mencapai hal itu diperlukan upaya mencari penjelasan atau keterangan, dalam hubungan ini Moh Hatta menyatakan bahwa Pengetahuan yang didapat dengan jalan keterangan disebut Ilmu, dengan kata lain ilmu adalah pengetahuan yang diperoleh melalui upaya mencari keterangan atau penjelasan.

Lebih jauh dengan memperhatikan pengertian-pengertian  Ilmu sebabagaimana diungkapkan di atas, dapatlah ditarik beberapa kesimpulan berkaitan dengan pengertian ilmu yaitu :

    • Ilmu adalah sejenis pengetahuan
    • Tersusun atau disusun secara sistematis
    • Sistimatisasi dilakukan dengan menggunakan metode tertentu
    • Pemerolehannya dilakukan dengan cara studi, observasi, eksperimen.

Dengan demikian sesuatu yang bersifat pengetahuan biasa dapat menjadi suatu pengetahuan ilmiah bila telah disusun secara sistematis serta mempunyai metode berfikir yang jelas, karena pada dasarnya ilmu yang berkembang dewasa ini merupakan akumulasi dari pengalaman/pengetahuan manusia yang terus difikirkan, disistimatisasikan, serta diorganisir sehingga terbentuk menjadi suatu disiplin yang mempunyai kekhasan dalam objeknya

  1. CIRI-CIRI ILMU (ILMU PENGETAHUAN)

Secara umum dari pengertian ilmu dapat diketahui apa sebenarnya yang menjadi ciri dari ilmu, meskipun untuk tiap definisi memberikan titik berat yang berlainan. Menurut The Liang Gie secara lebih khusus menyebutkan ciri-ciri ilmu sebagai berikut :

    • Empiris (berdasarkan pengamatan dan percobaan)
    • Sistematis (tersusun secara logis serta mempunyai hubungan saling bergantung dan teratur)
    • Objektif (terbebas dari persangkaan dan kesukaan pribadi)
    • Analitis (menguraikan persoalan menjadi bagian-bagian yang terinci)
    • Verifikatif (dapat diperiksa kebenarannya)

Sementara itu Beerling menyebutkan ciri ilmu (pengetahuan ilmiah) adalah :

    • Mempunyai dasar pembenaran
    • Bersifat sistematik
    • Bersifat intersubjektif

Ilmu perlu dasar empiris, apabila seseorang memberikan keterangan ilmiah maka keterangan itu harus memmungkintan untuk dikaji dan diamati, jika tidak maka hal itu bukanlah suatu ilmu atau pengetahuan ilmiah, melainkan suatu perkiraan atau pengetahuan biasa yang lebih didasarkan pada keyakinan tanpa peduli apakah faktanya demikian atau tidak. Upaya-upaya untuk melihat fakta-fakta memang merupakan ciri empiris dari ilmu, namun demikian bagaimana fakta-fakta itu dibaca atau dipelajari jelas memerlukan cara yang logis dan sistematis, dalam arti urutan cara berfikir dan mengkajinya tertata dengan logis sehingga setiap orang dapat menggunakannya dalam melihat realitas faktual yang ada.

Disamping itu ilmu juga harus objektif dalam arti perasaan suka-tidak suka, senang-tidak senang harus dihindari, kesimpulan atau penjelasan ilmiah harus mengacu hanya pada fakta yang ada, sehingga setiap orang dapat melihatnya secara sama pula tanpa melibatkan perasaan pribadi yang ada pada saat itu. Analitis merupakan ciri ilmu lainnya, artinya bahwa penjelasan ilmiah perlu terus mengurai masalah secara rinci sepanjang hal itu masih berkaitan dengan dunia empiris, sedangkan verifikatif berarti bahwa ilmu atau penjelasan ilmiah harus memberi kemungkinan untuk dilakukan pengujian di lapangan sehingga kebenarannya bisa benar-benar memberi keyakinan.

Dari uraian di atas, nampak bahwa ilmu bisa dilihat dari dua sudut peninjauan, yaitu ilmu sebagai produk/hasil, dan ilmu sebagai suatu proses. Sebagai produk ilmu merupakan kumpulan pengetahuan yang tersistematisir dan terorganisasikan secara logis, seperti jika kita mempelajari ilmu ekonomi, sosiologi, biologi. Sedangkan ilmu sebagai proses adalah ilmu dilihat dari upaya perolehannya melalui cara-cara tertentu, dalam hubungan ini ilmu sebagai proses sering disebut metodologi dalam arti bagaimana cara-cara yang mesti dilakukan untuk memperoleh suatu kesimpulan atau teori tertentu untuk mendapatkan, memperkuat/menolak suatu teori dalam ilmu tertentu, dengan demikian jika melihat ilmu sebagai proses, maka diperlukan upaya penelitian untuk melihat fakta-fakta, konsep yang dapat membentuk suatu teori tertentu.

  1. FUNGSI DAN TUJUAN ILMU (ILMU PENGETAHUAN)

Lahirnya dan berkembangnya Ilmu Pengetahuan telah banyak membawa perubahan dalam kehidupan manusia, terlebih lagi dengan makin intensnya penerapan Ilmu dalam bentuk Teknologi yang telah menjadikan manusia lebih mampu memahami berbagai gejala serta mengatur Kehidupan secara lebih efektif dan efisien. Hal itu berarti bahwa ilmu mempunyai dampak yang besar bagi kehidupan manusia, dan ini tidak terlepas dari fungsi dan tujuan ilmu itu sendiri

Kerlinger dalam melihat fungsi ilmu, terlebih dahulu mengelompokan dua sudut pandang tentang ilmu yaitu pandangan statis dan pandangan dinamis. Dalam pandangan statis, ilmu merupakan aktivitas yang memberi sumbangan bagi sistimatisasi informasi bagi dunia, tugas ilmuwan  adalah menemukan fakta baru dan menambahkannya pada kumpulan informasi yang sudah ada, oleh karena itu ilmu dianggap sebagai sekumpulan fakta, serta merupakan suatu cara menjelaskan gejala-gejala yang diobservasi,  berarti bahwa dalam pandangan ini penekanannya terletak pada keadaan pengetahuan/ilmu yang ada sekarang serta upaya penambahannya baik hukum, prinsip ataupun teori-teori.  Dalam pandangan ini, fungsi ilmu lebih bersifat praktis yakni sebagai disiplin atau aktivitas untuk memperbaiki sesuatu, membuat kemajuan, mempelajari fakta serta memajukan pengetahuan untuk memperbaiki sesuatu (bidang-bidang kehidupan).

Pandangan ke dua tentang ilmu adalah pandangan dinamis atau pandangan heuristik (arti heuristik adalah menemukan), dalam pandangan ini ilmu dilihat lebih dari sekedar aktivitas, penekanannya terutama pada teori dan skema konseptual yang saling berkaitan yang sangat penting bagi penelitian. Dalam pandangan ini fungsi ilmu adalah untuk membentuk hukum-hukum umum yang melingkupi prilaku dari kejadian-kejadian empiris atau objek empiris yang menjadi perhatiannya sehingga memberikan kemampuan menghubungkan berbagai kejadian yang terpisah-pisah serta dapat secara tepat memprediksi kejadian-kejadian masa datang, seperti dikemukakan oleh Braithwaite dalam bukunya Scientific Explanation bahwa the function of science… is to establish general laws covering the behaviour of the empirical events or objects with which the science in question is concerned, and thereby to enable us to connect together our knowledge of the separately known events, and to make reliable predictions of events as yet unknown.

Dengan memperhatikan penjelasan di atas nampaknya ilmu mempunyai fungsi yang amat penting bagi kehidupan manusia, Ilmu dapat membantu untuk memahami, menjelaskan, mengatur dan memprediksi berbagai kejadian baik yang bersifat kealaman maupun sosial yang terjadi dalam kehidupan manusia. Setiap masalah yang dihadapi manusia selalu diupayakan untuk dipecahkan agar dapat dipahami, dan setelah itu manusia menjadi mampu untuk mengaturnya serta dapat memprediksi (sampai batas tertentu) kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi berdasarkan pemahaman yang dimilikinya, dan dengan kemampuan prediksi tersebut maka perkiraan masa depan dapat didesain dengan baik meskipun hal itu bersifat probabilistik, mengingat dalam kenyataannya sering terjadi hal-hal yang bersifat unpredictable.

Dengan dasar fungsi tersebut, maka dapatlah difahami tentang tujuan dari ilmu, apa sebenarnya yang ingin dicapai oleh ilmu. Sheldon G. Levy menyatakan bahwa science has three primary goals. The first is to be able to understand what is observed in the world. The second is to be able to predict the events and relationships of the real world. The third is to control aspects of the real world, sementara itu Kerlinger menyatakan bahwa the basic aim of science is theory.dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa tujuan dari ilmu adalah untuk memahami, memprediksi, dan mengatur berbagai aspek kejadian di dunia, disamping untuk menemukan atau memformulasikan teori, dan teori itu sendiri pada dasarnya merupakan suatu penjelasan tentang sesuatu sehingga dapat diperoleh kefahaman, dan dengan kepahaman maka prediksi kejadian dapat dilakukan dengan probabilitas yang cukup tinggi, asalkan teori tersebut telah teruji kebenarannya

  1. STRUKTUR ILMU

Struktur ilmu menggambarkan bagaimana ilmu itu tersistimatisir dalam suatu lingkungan (boundaries), di mana keterkaitan antara unsur-unsur nampak secara jelas. Menurut Savage & Amstrong, struktur ilmu merupakan A scheme that has been devided to illustrate relationship among facts, concepts, and generalization. Dengan demikian struktur ilmu merupakan ilustrasi hubungan antara fakta, konsep serta generalisasi, keterkaitan tersebut membentuk suatu bangun struktur ilmu, sementara itu menurut H.E. Kusmana struktur ilmu adalah seperangkat pertanyaan kunci dan metoda penelitian yang akan membantu memperoleh jawabannya, serta berbagai fakta, konsep, generalisasi dan teori yang memiliki karakteristik yang khas yang akan mengantar kita untuk memahami ide-ide pokok dari suatu disiplin ilmu yang bersangkutan.

Dengan demikian nampak dari dua pendapat di atas bahwa terdapat dua hal pokok dalam suatu struktur ilmu yaitu :

    • A body of Knowledge (kerangka ilmu) yang terdiri dari fakta, konsep, generalisasi, dan teori yang menjadi ciri khas bagi ilmu yang bersangkutan sesuai dengan boundary yang dimilikinya
    • A mode of inquiry. Atau cara pengkajian/penelitian yang mengandung pertanyaan dan metode penelitian guna memperoleh jawaban atas permasalahan yang berkaitan dengan ilmu tersebut.

Kerangka ilmu terdiri dari unsur-unsur yang berhubungan, dari mulai yang konkrit yaitu fakta sampai level yang abstrak yaitu teori, makin ke fakta makin spesifik, sementara makin mengarah ke teori makin abstrak karena lebih bersifat umum. Bila digambarkan akan nampak sebagai berikut :

Increasing specificity

Increasing transfer

value

TEORI

GENERALISASI

KONSEP-KONSEP

FAKTA-FAKTA

Gambar 2.1. Bagan Stuktur Ilmu

Dari gambar tersebut nampak bahwa bagian yang paling dasar adalah fakta-fakta, fakta-fakta tersebut akan menjadi bahan atau digunakan untuk mengembangkan konsep-konsep, bila konsep-konsep menunjukan ciri keumuman maka terbentuklah generalisasi, untuk kemudian dapat diformulasikan menjadi teori. Fakta-fakta sangat dibatasi oleh nilai transfer waktu, tempat dan kejadian. Konsep dan generalisasi memiliki nilai transfer yang lebih luas dan dalam, sementara itu teori mempunyai jangkauan yang lebih universal, karena cenderung dianggap berlaku umum tanpa terikat oleh waktu dan tempat, sehingga bisa berlaku universal artinya bisa berlaku dimana saja (hal ini sebenarnya banyak dikritisi para akhli). Namun demikian keberlakuannya memang perlu juga memperhatikan jenis ilmunya.

  1. Fakta dan Konsep.

Fakta merupakan Building Blocks untuk mengembangkan konsep, generalisasi (Schuncke : facts are building blocks from which concept and generalization are constructed) dan teori. Menurut Bertrand Russel fakta  adalah segala sesuatu yang berada di dunia, ini berarti gejala apapun baik gejala alam maupun gejala human merupakan fakta yang bisa menjadi bahan baku bagi pembentukan konsep-konsep, namun demikian karena luasnya, maka tiap-tiap ilmu akan menyeleksi fakta-fakta tersebut sesuai dengan orientasi ilmunya.

Fakta mempunyai peranan yang penting bagi teori, dan mempunyai interaksi yang tetap dengan teori, menurut Moh. Nazir peranan fakta terhadap teori adalah :

    • Fakta menolong memprakarsai teori
    • Fakta memberi jalan dalam mengubah atau memformulasikan teori baru
    • Fakta dapat membuat penolakan terhadap teori
    • Fakta memperterang dan memberi definisi kembali terhadap teori.

Konsep adalah label atau penamaan yang dapat membantu seseorang membuat arti informasi dalam pengertian yang lebih luas serta memungkinkan dilakukan penyederhanaan atas fakta-fakta sehingga proses berfikir  dan pemecahan masalah lebih mudah. Menurut Bruner konsep merupakan abstraksi atas kesamaan atau  keterhubungan dari sekelompok benda atau sifat.

Menurut pendapat Bruner, Goodnow dan Austin sebagaimana dikutip oleh Hamid Hasan (1996) menyatakan bahwa dalam ilmu-ilmu sosial dikenal tiga jenis konsep  yaitu :

    1. Konsep konjungtif. Yaitu konsep yang paling rendah yang menggambarkan benda atau sifat yang menjadi anggota konsep dengan tingkat persamaan yang tinggi dengan jumlah atribut yang banyak. Contoh konep Buku Pengantar Manajemen Perkantoran yaitu buku yang ditulis untuk mahasiswa  yang baru belajar manajemen perkantoran oleh pengarang A, warna sampul biru, tebalnya 200 halaman.
    2. Konsep disjungtif. Adalah konsep yang memiliki anggota dengan atribut yang memiliki nilai beragam, konsep jenis ini punya kedudukan lebih tinggi. Sontoh konsep alat kantor. Atribut untuk konsep ini cukup beragam dengan masing-masing punya bentuk dan fungsi khusus seperti kertas untuk dipakai menulis, mesin tik untuk mengetik, perforator, hekter yang mempunyai fungsi berbeda-beda.
    3. Konsep relasional. Yaitu  konsep yang menunjukan kebersamaan antara anggotanya dalam suatu atribut berdasarkan kriteria yang abstrak dan selalu dalam hubungan dengan kriteria tertentu. Konsep ini terbentuk karena adanya relasi/hubungan yang diciptakan dalam pengertian yang dikandungnya. Contoh konsep Jarak. Konsep ini dikembangkan berdasarkan kedudukan dua titik, yang apabila dihitung secara objektif akan diperoleh angka yang menggambarkan posisi kedua titik tersebut, sehingga dapat diketahui jauh dekatnya (contoh, tambahan dari Penulis)

Sementara itu menurut  Sofian Effendi, jika dilihat hubungannya dengan realitas/fakta, akan ditemui dua jenis konsep yaitu pertama konsep-konsep yang jelas hubungannya dengan realitas (Misalnya : Meja, Lemari, Kursi) dan kedua konsep-konsep yang lebih abstrak dan lebih kabur  hubungannya dengan realitas (misalnya : Emosi, Kecerdasan, Komitmen). Sementara itu Prof. Dr. H. Bambang Suwarno, MA. Guru Besar UPI Bandung telah lama  merumuskan penjabaran-penjabaran Konsep untuk kepentingan suatu penelitian kedalam tiga tingkatan yaitu konsep Teori, konsep empiris dan konsep Analitis, Konsep teori mempunyai tingkat abstarksi yang tinggi dan merupakan pengertian esensil dari suatu fenomena, konsep empiris merupakan gambaran konsep yang sudah dapat diobservasi, sementara konsep analitis merupakan konsep yang menunjukan apa dan bagaimana konsep empiris tersebut dapat diketahui untuk keperluan analisa, sebagai contoh dapat dilihat dalam tabel berikut:

Tabel 3.1.

Penjabaran Konsep

No Konsep Teori Konsep Empiris Konsep Analitis
1. Pendidikan – Asal Sekolah

– Waktu menyelesaikan SLA

– Ijazah terakhir yang dimiliki

Jawaban responden tentang  asal sekolah,   waktu menyelesaikan sekolah dan ijazah terakhir yang dimiliki
  1. Generalisasi dan Teori (Theory)

Generalisasi. Adalah kesimpulan umum yang ditarik berdasarkan hal-hal khusus (induksi), generalisasi menggambarkan suatu keterhubungan beberapa konsep dan merupakan hasil yang sudah teruji secara empiris (empirical generalization), Generalisasi empiris adalah pernyataan suatu hubungan berdasarkan induksi dan terbentuk berdasarkan observasi tentang adanya hubungan tersebut. kebenaran suatu generalisasi ditentukan oleh akurasi konsep dan referensi pada fakta-fakta. Generalisasi yang diakui kebenarannya pada satu saat memungkinkan  untuk dimodifikasi bila diperoleh fakta baru atau bukti-bukti baru, bahkan mungkin juga ditinggalkan jika lebih banyak bukti yang mengingkarinya .

Generalisasi berbeda dengan teori sebab teori mempunyai tingkat keberlakuan lebih universal dan lebih kompleks, sehingga teori sudah dapat digunakan untuk menjelaskan dan bahkan memprediksi kejadian-kejadian, pernyataan tersebut menunjukan bahwa apabila suatu generalisasi telah bertahan dari uji verifikasi maka generalisasi tersebut dapat berkembang menjadi teori, sebagaimana dikemukakan oleh Goetz & LeCompte bahwa teori adalah komposisi yang dihasilkan dari pengembangan sejumlah proposisi atau generalisasi yang dianggap memiliki keterhubungan secara sistematis. Kerlinger dalam Bukunya Foundation of Behavioural Research mendefinisikan teori sebagai a set of interrelated constructs (concepts), definition, and proposition that present a systematic view of phenomena by specifying relation variables, with the purpose of explaining and predicting the phenomena. Sementara itu Kenneth D. Bailey dalam bukunya Methods of Social Research menyatakan bahwa teori merupakan suatu upaya untuk menjelaskan gejala-gejala tertentu serta harus dapat diuji, suatu pernyataan yang tidak dapat menjelaskan dan memprediksi sesuatu bukanlah teori, lebih jauh Bailey menyebutkan bahwa komponen-komponen dasar dari teori adalah Konsep (Concept)   dan variabel (Variable).

Teori terdiri dari sekumpulan konsep yang umumnya diikuti oleh relasi antar konsep sehingga tergambar hubungannya secara logis dalam suatu kerangka berpikir tertentu. Konsep   pada dasarnya merupakan suatu gambaran mental atau persepsi yang menggambarkan atau menunjukan suatu fenomena baik secara tunggal ataupun dalam suatu kontinum, konsep juga sering diartikan sebagai abstraksi dari suatu fakta yang menjadi perhatian Ilmu, baik berupa keadaan, kejadian, individu ataupun kelompok. Umumnya konsep tidak mungkin/sangat sulit untuk diobservasi secara langsung, oleh karena itu untuk keperluan penelitian perlu adanya penjabaran-penjabaran ke tingkatan yang lebih kongkrit agar observasi dan pengukuran dapat dilakukan. Dalam suatu teori, konsep-konsep sering dinyatakan dalam suatu relasi atau hubungan antara dua konsep atau lebih yang tersusun secara logis, pernyataan yang menggambarkan hubungan antar konsep disebut proposisi, dengan demikian konsep merupakan himpunan yang membentuk proposisi, sedangkan proposisi merupakan himpunan yang membentuk teori.

Adapun teori  menurut Redja Mudyahardjo dapat dibagi menurut tingkatannya ke dalam teori induk, teori formal, dan teori substantif dengan penjelasan sebagai berikut :

    1. Teori induk dan model/paradigma teoritis. Yaitu sistem pernyataan yang saling berhubungan erat dan konsep-konsep abstrak yang menggambarkan, memprediksi atau menerangkan secara komprehensif hal-hal yang luas tentang gejala-gejala yang tidak dapat diukur tingkat kemungkinannnya (misalnya teori-teori manajemen). Teori dapat dikembangkan/dijabarkan ke dalam model-model teoritis yang menggambarkan seperangkan asumsi, konsep atau pernyataan yang saling berkaitan erat yang membentuk  sebuah pandangan tentang kehidupan (suatu masalah). Model teoritis biasanya dapat dinyatakan secara visual dalam bentuk bagan.
    2. Teori formal dan tingkat menengah. Yaitu pernyataan-pernyataan  yang saling berhubungan, yang dirancang untuk menerangkan suatu kelompok tingkah laku secara singkat (misalnya teori manajemen menurut F.W. Taylor)
    3. Teori substantif. Yaitu pernyataan-pernyataan atau konsep-konsep yang saling berhubungan, yang berkaitan dengan aspek-aspek khusus tentang suatu kegiatan (misalnya fungsi perencanaan)

Sementara itu Goetz dan LeCompte membagi teori ke dalam empat jenis yaitu :

    1. Grand Theory (teori besar). Yaitu sistem yang secara ketat mengkaitkan proposisi-proposisi dan konsep-konsep yang abstrak sehingga dapat digunakan menguraikan, menjelaskan dan memprediksi secara komprehensif sejumlah fenomena besar secara non-probabilitas.
    2. Theoritical model (model teoritis, yaitu keterhubungan yang longgar (tidak ketat) antara sejumlah asumsi, konsep, dan proposisi yang membentuk pandangan ilmuwan tentang dunia.
    3. Formal and middle-range theory (teori formal dan tingkat menengah). Yaitu proposisi yang berhubungan, yang dikembangkan untuk menjelaskan beberapa kelompok tingkah laku manusia yang abstrak.
    4. Substantive theory (teori substantif). Adalah teori yang paling rendah tingkatan abstraksi dan sangat terbatas dalam keumuman generalisasinya (Hamid Hasan. 1996)

Teori pada dasarnya merupakan alat bagi ilmu (tool of science), dan berperan dalah hal-hal berikut (Moh. Nazir. 1985) :

    • Teori mendefinisikan orientasi utama ilmu dengan cara memberikan definisi terhadap jenis-jenis data yang akan  dibuat abstraksinya
    • Teori memberikan rencana konseptual, dengan rencana manafenomena-fenomena yang relevan disistematiskan, diklasifikasikan dan dihubung-hubungkan
    • Teori memberi ringkasan terhadap fakta dalam bentuk generalisasi empiris dan sistem generalisasi
    • Teori memberikan prediksi terhadap fakta
    • Teori memperjelas celah-celah dalam pengetahuan kita
        1. Proposisi dan asumsi

Proposisi. Konstruksi sebuah teori terbentuk dari proposisi, dan proposisi merupakan suatu pernyataan mengenai satu atau lebih konsep/variabel, proposisi yang menyatakan variabel tunggal disebut proposisi univariate, bila menghubungkan dua variabel disebut proposisi multivariat sedang bila proposisi itu menghubungkan lebih dari dua variabel disebut proposisi multivariat. Adapun jenis-jenis proposisi (sub tipe proposisi) adalah :

    1. Hipotesis. Yaitu proposisi yang dinyatakan untuk dilakukan pengujian, menurut kamus Webster’s (1968) Hypothesis adalah a tentative assumption made in order to draw out and testits logical or empirical consequences, sementara itu Bailey mendefinisikan hipotesis sebagai a tentative explanation for which the evidence  necessary for testing, dengan demikian hipotesis dapat dipahami sebagai anggapa atau penjelasan sementara yang masih memerlukan pengujian di lapangan, jadi jika kita berpendapat bahwa terdapat hubungan antara konsep/variabel X dengan variabel Y, maka pertama dinyatakan sebagai hipotesis untuk kemudian menguji hipotesis tersebut di lapangan (dalam penelitian), apakah fakta lapangan menerima atau menolaknya. Adapun dasar hipotesis dapat diperoleh dari berbagai sumber misalnya dari pengamatan sehari-hari, dari hasil penelitian yang sudah ada, dari analisis data lapangan, atau dari teori.
    2. Generalisasi empiris. Pernyataan hubungan yang di dasarkan pada hasil penelitian lapangan (induksi). Generalisasi merupakan keumuman sifat atau pola yang disimpulkan dari penelitian atas fakta-fakta yang terdapat di lapangan.
    3. Aksioma. Proposisi yang kebenarannya mengacu pada proposisi-proposisi lainnya, aksioma terkadang disebut teori deduktif, dengan konotasi matematis dan proposisi jenis ini biasanya mempunyai tingkat abstraksi yang tinggi, sandaran aksioma adalah rasional logis berdasarkan hukum berfikir yang benar
    4. Postulat.  Proposisi yang punya makna hampir sama dengan aksioma namun kebenaran pernyataannya telah teruji secara empiris.
    5. Teorema. Proposisi yang didasarkan pada serangkaian aksioma atau postulat

adapun karakteristik dari proposisi tersebut di atas hubungannya dengan perolehan dan kemungkinan pengujiannya dapat dilihat dari tabel berikut :

Tabel 3.2.

Tipe proposisi, perolehan dan pengujiannya

Nama proposisi Perolehan Pengujian langsung
Hypothesis Deduksi atau berdasarkan data Bisa
Generalisasi empiris Berdasarkan data Bisa
Aksioma Benar karena definisi Tidak
Postulat Dianggap benar Tidak
Teorema Deduksi dari aksioma atau postulat Bisa

Diadaptasi dari Kenneth D. Bailey (1982)

Asumsi biasanya dipadankan dengan istilah anggapan dasar, menurut Komaruddin (1988 : 22), bahwa : “Asumsi adalah sesuatu yang dianggap tidak berpengaruh atau dianggap konstan. Asumsi dapat berhubungan dengan syarat-syarat, kondisi-kondisi dan tujuan. Asumsi memberikan hakekat, bentuk dan arah argumentasi. Dan asumsi bermaksud membatasi masalah.” dalam setiap judgment dan atau kesimpulan dalam bidang ilmu di dalamnya tersirat suatu anggapan dasar tertentu yang menopang kekuatan kesimpulan/judgmen tertentu.

Dalam ilmu ekonomi dikenal istilah Ceteris Paribus artinya keadaan lain dianggap tetap, ini merupakan asumsi yang dapat memperkuat suatu kesimpulan atau teori, misalnya hukum permintaan menyatakan bahwa bila permintaan naik maka harga akan naik, hukum ini jelas tidak akan berlaku bila misalnya penawaran naik, untuk itu faktor penawaran naik dianggap tidak ada atau tidak berpengaruh terhadap harga (ceteris paribus), ini berarti bahwa asumsi bisa dipandang sebagai syarat berlakunya suatu kesimpulan (atau kondisi tertentu) Dengan demikian asumsi merupakan hal yang sangat penting untuk dipahami, mengingat tidak stiap pernyataan/kesimpulan ilmiah menyatakan dengan jelas/eksplisit asumsinya, meskipun sebaiknya dalam penulisan karya ilmiah seperti skripsi  dinyatakan secara eksplisit.

        1. Ddefinisi/batasan

Ilmu harus benar-benar bercirikan keilmiahan, dia perlu terus melakukan pengkajian, mengumpulkan konsep-konsep dan hukum-hukum/prinsip-prinsip umum, tidak memihak dalam mengembangkan ruang lingkup pengetahuan. Di dalamnya dikembangkan relasi antar konsep/variabel, meneliti fakta-fakta untuk kemudian dikembangkan generalisasi dan teori-teori serta perlu dilakukan upaya verifikasi untuk menguji validitas teori/ilmu dengan menggunakan metode-metode tertentu sesuai dengan arah kajiannya, dan untuk menghindari berbagai pendapat yang bisa mengaburkan atas suatu aktivitas ilmiah, maka konsep-konsep/variabel-variabel perlu diberikan pembatasan atau definisi sebagai koridor untuk mencapai pemahaman yang tepat.

Isi dari suatu konsep baru jelas apabila konsep tersebut didefinisikan, disamping menghindari salah pemahaman mengingat suatu konsep terkadang mempunyai banyak makna dan pengertian. Definisi adalah pernyataan tentang makna atau arti yang terkandung dalam sebuah istilah atau konsep. Dalam setiap karya ilmiah menentukan definisi menjadi hal yang sangat penting. Apabila ditinjau dari sudut bentuk pernyataannya menurut Redja Mudyahardjo(2001) definisi dapat dibedakan dalam dua macam yaitu :

    1. Definisi konotatif. Yaitu definisi yang menyatakan secara jelas/eksplisit tentang isi yang terkandung dalam istilah/konsep yang didefinisikan. Definisi konotatif dapat dibedakan ke dalam dua kelompok yaitu definisi leksikan/definisi menurut kamus, dan definisi stiputatif yaitu definisi yang menyebutkan syarat-syarat yang menjadi makna konsep tersebut, atau ketentuan dari suatu pihak mengenai arti apa yang hendaknya diberikan. Dalam definisi stipulatif terdapat beberapa jenis definisi yaitu 1) definisi nominan atau definisi verbal yaitu definisi yang memperkenalkan istilah-istilah baru dalam menyatakan konsep yang didefinisikan; 2) definisi deskriptif yaitu definisi yang menggambarkan lebih lanjut dan rinci dari definisi leksikal; 3) definisi operasional/definisi kerja yaitu definisi yang menggambarkan proses kerja atau kegiatan yang spesifik dan rinci yang diperlukan untuk mencapopai tujuan yang menjadi makna konsep yang didefinisikan; definisi teoritis yaitu definisi yang menyatakan secara tersurat karakteristik yang tepat tentang sustu istilah atau konsep.
    2. definisi denotatif. Yaitu definisi yang menyatakan secara tersurat luas pengertian dari istilah/konsep yang didefinisikan, luas pengertian adalah hal-hal yang merupakan bagian kelas dari konsep yang didefinisikan. Cara untuk mendefinisikan konsep secara denotatif adalah dengan jalan menyebutkan keseluruhan bagian atau salahsatu bagian yang termasuk dalam kelas dari konsep yang didefinisikan.

Sementara itu menurut Hasbulah Bakry, terdapat lima macam definisi yaitu :

    1. Obstensive definition, yaitu definisi yang menerangkan sesuatu secara deminstratif, misalnya Kursi adalh ini (atau itu) sambil menunjuk pada kursinya, oleh karena demikian maka definisi macam ini sering juga disebut demonstrative definition.
    2. biverbal definition. Yaitu definisi yang menjelaskan sesuatu dengan memberikan sinonim nya, misalnya sapi adalah lembu.
    3. extensive definition, yaitu definisi  yang menerangkan sesuatu dengan memberikan contoh-contohnya, misalnya ikan adalah hewan yang hidup dalam air seperti mujair, nila, gurame, dan sebagainya.
    4. analytic definition. Yaitu definisi yang menerangkan sesuatu dengan menguraikan bagian-bagiannya, misalnya negara adalah suatu wilayah yang punya pemerintahan, rakyat dan batas-batas daerahnya.
    5. descriptive definition, yaitu definisi yang menerangkan sesuatu dengan melukiskan sifat-sifatnya yang mencolok, misaalnya Gajah adalah binatang yang tubuhnya besar seperti gerbong, kakinya besar seperti pohon nyiur.
        1. Paradigma

Menurut Webster’s Dictionary, paradigma adalah, pola, contoh atau model, sebagai istilah dalam bidang ilmu  (sosial) paradigma adalah perspektif atau kerangka acuan untuk memandang dunia, yang terdiri dari serangkaian konsep dan asumsi. Sebenarnya konsep paradigma bukan hal yang baru, namun semakin mendapat penekanan sejak terbitnya buku karya Thomas Kuhn (1962) yang berjudul The structure of scientific revolution, dimana Kuhn sendiri mendefinisikan paradigma antara lain sebagai keseluruhan  konstelasi daripada kepercayaan, nilai, teknologi dan sebagainya yang dimiliki bersama oleh anggota-anggota dari suatu kelompok tertentu. Definisi Kuhn ini banyak dikritik karena dianggap tidak jelas, namun pada edisi kedua dari bukunya Kuhn memberikan definisi yang lebih spesifik yang mempersamakan paradigma dengan contoh (exemplars). Karya Kuhn dalam perkembangannya telah membangkitkan diskusi di kalangan para ahli mengenai paradigma dalam hubungannya dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

George Ritter menyatakan bahwa paradigma merupakan citra dasar bidang kajian di dalam suatu ilmu (fundamental image of the subject matter withina science), lebih lanjut dia mengatakan bahwaterdapat empat komponen pokok yang membentuk suatu paradigma yaitu : Contoh suatu penelitian dalam bidang kajian, Suatu citra tentang bidang kajian, Teori, serta Metode dan alat penelitian. Sementara itu Bailey mendefinisikan paradigma sebagai jendela mental seseorang untuk melihat dunia.

Dengan dasar pengertian di atas, maka suatu masalah yang sama akan menghasilkan analisis dan kesimpulan yeng berbeda bila paradigma yang digunakan berbeda, sebagai contoh masalah Kemiskina (ledakan penduduk), menurut Malthus hal itu terjadi karena penduduk bertambah menurut deret ukur sedangkan bahan makanan bertambah menurut deret hitung, dan untuk mengatasinya perlu dilakukan population control; sementara menurut Marx, hal itu terjadi karena kapitalisme yang mengeksplotasi manusia, dan untuk mengatasinya adalah dengan pembentukan masyarakat sosialis. Terjadinya perbedaan tersebut tidak lain karena perbedaan paradigma antara Malthus dengan Marx

  1. OBJEK ILMU

Setiap ilmu mempunyai objeknya sendiri-sendiri, objek ilmu itu sendiri akan menentukan tentang kelompok dan cara bagaimana ilmu itu bekerja dalam memainkan perannya melihat realitas. Secara umum objek ilmu adalah alam dan manusia, namun karena alam itu sendiri terdiri dari berbagai komponen, dan manusiapun mempunyai keluasan dan kedalam yang berbeda-beda, maka mengklasifikasikan objek amat diperlukan. Terdapat dua macam objek dari ilmu yaitu objek material dan objek formal.

Objek material adalah seluruh bidang atau bahan yang dijadikan telaahan ilmu, sedangkan objek formal adalah objek yang berkaitan dengan bagaimana objek material itu ditelaah oleh suatu ilmu, perbedaan objek setiap ilmu itulah yang membedakan ilmu satu dengan lainnya terutama objek formalnya. Misalnya ilmu ekonomi dan sosiologi mempunyai objek material yang sama yaitu manusia, namun objek formalnya jelas berbeda, ekonomi melihat manusia dalam kaitannya dengan upaya memenuhi kebutuhan hidupnya, sedangkan sosiologi dalam kaitannya dengan hubungan antar manusia.

  1. PEMBAGIAN/PENGELOMPOKAN ILMU

Semakin lama pengetahuan manusia semakin berkembang, demikian juga pemikiran manusia semakin tersebar dalam berbagai bidang kehidupan, hal ini telah mendorong para akhli untuk mengklasifikasikan ilmu ke dalam beberapa kelompok dengan sudut pandangnya sendiri-sendiri, namun seara umum pembagian ilmu lebih mengacu pada obyek formal dari ilmu itu sendiri, sedangkan jenis-jenis di dalam suatu kelompok mengacu pada obyek formalnya. Pada tahap awal perkembangannya ilmu terdiri dari dua bagian yaitu :

    1. trivium yang terdiri dari :
      1. gramatika, tata bahasa agar orang berbicara benar
      2. dialektika, agar orang berfikir logis
      3. retorika, agar orang berbicara indah
    2. quadrivium yang terdiri dari :
      1. aritmetika, ilmu hitung
      2. geometrika, ilmu ukur
      3. musika, ilmu musik
      4. astronomis, ilmu perbintangan

pembagian tersebut di atas pada dasarnya sesuai dengan bidang-bidang ilmu yang menjadi telaahan utama pada masanya, sehingga ketika pengetahuan manusia berkembangan dan lahir ilmu-ilmu baru maka pembagian ilmupun turut berubah, sementara itu Mohammad Hatta membagi ilmu pengetahuan ke dalam :

      1. ilmu alam (terbagi dalam teoritika dan praktika)
      2. ilmu sosial (juga terbagi dalam teoritika dan praktika)
      3. ilmu kultur (kebudayaan)

sementara  itu Stuart Chase membagi ilmu pengetahuan  sebagai berikut :

    1. ilmu-ilmu pengetahuan alam (natural sciences)
      1. biologi
      1. antropologi fisik
      2. ilmu kedokteran
      3. ilmu farmasi
      4. ilmu pertanian
      5. ilmu pasti
      6. ilmu alam
      7. geologi
      8. dan lain sebagainya
    1. Ilmu-ilmu kemasyarakatan
      1. Ilmu hukum
      1. Ilmu ekonomi
      2. Ilmu jiwa sosial
      3. Ilmu bumi sosial
      4. Sosiologi
      5. Antropologi budaya an sosial
      6. Ilmu sejarah
      7. Ilmu politik
      8. Ilmu pendidikan
      9. Publisistik dan jurnalistik
      10. Dan lain sebagainya
    1. Humaniora
      1. Ilmu agama
      1. Ilmu filsafat
      2. Ilmu bahasa
      3. Ilmu seni
      4. Ilmu jiwa
      5. Dan lain sebagainya

dalam pembagian ilmu sebagaimana dikemukakan di atas, Endang Saifudin Anshori menyatakan bahwa  hal itu hendaknya jangan dianggap tegas demikian/mutlak, sebab mungkin saja ada ilmu yag masuk satu kelompok namun tetap bersentuhan dengan ilmu dalam kelompok lainnya.

A.M. Ampere berpendapat bahwa pembagian ilmu pengetahuan sebaiknya didasarkan pada objeknya atau sasaran persoalannya, dia membagi ilmu ke dalam dua kelompok yaitu :

    1. ilmu yang cosmologis, yaitu ilmu yang objek materilnya bersifat jasadi, misalnya fisika, kimia dan ilmu hayat.
    2. ilmu yang noologis, yaitu ilmu yang objek materilnya bersifat rohaniah seperti ilmu jiwa.

August Comte membagi ilmu  atas dasar kompleksitas objek materilnya yang terdiri dari  :

    1. ilmu pasti
    2. ilmu binatang
    3. ilmu alam
    4. ilmu kimia
    5. ilmu hayat
    6. sosiologi

Herbert Spencer, membagi ilmu atas dasar bentuk pemikirannya/objek formal, atau tujuan yang hendak dicapai, dia membagi ilmu ke dalam dua kelompok yaitu :

    1. ilmu murni (pure science). Ilmu murni adalam ilmu yang maksud pengkajiannya hanya semata-mata memperoleh prinsi-prinsip umum atau teori baru tanpa memperhatikan dampak praktis dari ilmu itu sendiri, dengan kata lain ilmu untuk ilmu itu sendiri.
    2. ilmu terapan (applied science), ilmu yang dimaksudkan untuk diterapkan dalam kehidupan paraktis di masyarakat.

Pembagian ilmu sebagaimana dikemukakan di atas mesti dipandang sebagai kerangka dasar pemahaman, hal ini tidak lain karena pengetahuan manusia terus berkembang sehingga memungkinkan tumbuhnya ilmu-ilmu baru, sehingga pengelompokan ilmu pun akan terus bertambah seiring dengan perkembangan tersebut, yang jelas bila dilihat dari objek materilnya ilmu dapat dikelompokan ke dalam dua kelompok saja, yaitu ilmu yang mengkaji/menelaah alam dan ilmu yang menelaah manusia, dementara variasi penamaannya tergantung pada objek formal dari ilmu itu sendiri.

  1. PENJELASAN ILMIAH (SCIENTIFIC EXPLANATION)

Sesuai dengan fungsinya untuk memberikan penjelasan tentang berbagai gejala, baik itu gejala alam maupun gejala sosial, maka ilmu mempunyai peranan penting dalam memberikan pemahaman tentang berbagai gejala tersebut. Semua orang punya kecenderungan untuk mencoba menjelaskan sesuatu gejala, namun tidak semua penjelasan tersebut merupakan penjelasan ilmiah (scientific explanation), mengingat penjelasan ilmiah (penjelasan yang mengacu pada ilmu)

Penjelasan ilmiah adalah adalah pernyataan-pernyataan mengenai masing-masing karakteristik sesuatu serta hubungan-hubungan yang terdapat diantara karakteristik tersebut, yang diperoleh melalui cara sistematis, logis, dapat dipertanggung jawabkan, serta terbuka/dapat diuji kebenarannya. Dengan demikian penjelasan ilmiah merupakan penjelasan yang merujuk pada suatu kerangka ilmu, baik itu teori maupun fakta yang sudah mengalami proses induksi. Terdapat beberapa jenis penjelasan ilmiah yaitu :

    1. genetic explanation. Yaitu penjelasan tentang sesuatu gejala dengan cara melacak sesuatu tersebut dari awalnya atau asalnya.
    2. intentional explanation. Yaitu penjelasan tentang sesuatu gejala dengan melihat hal-hal yang mendasarinya atau yang menjadi tujuannya.
    3. dispositional explanation. Yaitu penjelasan tentang suatu gejala dengan melihat karakteristik atau sifat dari gejala tersebut.
    4. reasoning explanation (explanation through reason). Yaitu penjalasan  yang dihubungkan dengan alasan mengapa sesuatu itu terjadi atau sesuatu itu dilakukan.
    5. functional explanation. Yaitu penjelasan  dengan melihat suatu gejala dalam konteks keseluruhan dari suatu sistem atau gejala yang lebih luas
    6. explanation through empirical generalization. Yaitu penjelasan yang dibuat dengan cara menyimpulkan hubungan antara sejumlah gejala.
    7. explanation through formal theory. Yaitu penjelasan yang menekankan pada adanya aturan , hukum atau prinsip yang umumnya terbentuk memalui deduksi.

Dalam memberikan suatu penjelasan seseorang bisa saja menggunakan berbagai jenis penjelasan untuk makin memperkuat argumentasinya, dan hal ini tergantung pada gejala atau masalah yang ingin dijelaskannya.

  1. SIKAP ILMIAH

Sikap ilmiah merupakan sikap yang harus dimiliki oleh ilmuwan, atau para pencari ilmu. Menurut Harsoyo, sikap ilmiah mencakup hal-hal sebagai berikut :

  1. sikap objektif (objektivitas)
  2. sikap serba relatif
  3. sikap skeptis
  4. kesabaran intetelektual
  5. kesederhanaan
  6. sikap tak memihak pada etik

sementara ituTini Gantini dalam bukunya Metodologi Riset menyebutkan delapan ciri dari sikap ilmiah yaitu :

    1. mempunyai dorongan ingin tahu, yang mendorong kegelisahan untuk meneliti fakta-fakta baru
    2. tidak berat sebelah dan berpandangan luas terhadap kebenaran
    3. ada kesesuaian antara apa yang diobservasi dengan laporannya
    4. keras hati dan rajin dalam mencari kebenaran
    5. mempunyai sifat ragu, sehingga terus mendorong upaya pencarian kebenaran/tidak pesimis
    6. rendah hati dan toleran terhadap hal yang diketahui dan yang tidak diketahui
    7. kurang mempunyai ketakutan
    8. pikiran terbuka terhadap kebenaran-kebenaran baru.

Dari pendapat di atas dapat ditarik beberapa pokok yang menjadi ciri sikap ilmiah yaitu : objektif, terbuka, rajin, sabar, tidak sombong, dan tidak memutlakan suatu kebenaran ilmiah. Ini berarti bahwa ilmuwan dan para pencari ilmu perlu terus memupuk sikap tersebut dalam berhadapan dengan ilmu, karena selalu terjadi kemungkinan bahwa apa yang sudah dianggap benar hari ini seperti suatu teori, mungkin saja pada suatu waktu akan digantikan oleh teori lain yang mempunyai atau menunjukan kebenaran baru.

PERTANYAAN UNTUK BAHAN DISKUSI

  1. jelaskan secara rinci apa yang demaksud dengan ilmu?
  2. jelaskan pengertian ilmu dilihat dari ruang lingkupnya  ?
  3. jelaskan apa yang dimaksud dengan Ilmu sebagai akumulasi pengetahuan yang tersistematisir dan terorganisir?
  4. jelaskan dan berikan contoh-contohnya berkaitan dengan ciri-ciri ilmu?
  5. Jelaskan apa yang dimaksud dengan fungsi ilmu untuk memprediksi?
  6. jelaskan perbedaan antara fakta, konsep, generalisasi dan teori?
  7. jelaskan hubungan antara fakta dengan teori, dan buat gambarnya     ?
  8. jelaskan kenapa suatu konsep atau variabel perlu didefinisikan?
  9. jelaskan apa yang dimaksud dengan asumsi dan apa perlunya dalam suatu aktivitas ilmiah
  10. Jelaskan apa yang dimaksud dengan objek material dan objek formal ilmu
  11. jelaskan apa yang dimaksud dengan penjelasan ilmiah serta sebutkan macam-macamnya beserta contoh-contohnya
  12. jelaskan masing-masing ciri sikap ilmiah?, serta jelaskan sikap apa yang paling penting untuk dimiliki oleh seseorang yang sedang menuntut ilmu?

B A B   4

F I L S A F A T    I L M U

Metode-metode dan penemuan-penemuan sains modern telah mendominasi dunia, dan filsafat hanya dianggap sebagai pelayan sains. Kesuksesan dan kemajuan ilmiah telah diterima sebagai kebenaran, … konsepsi dunia ilmiah mendikte apa yang boleh diterima secara filosofis, karena filsafat diturunkan menjadi peran sekunder, tugas justifikasi sains tidak lagi dianggap esensial. Sain menentukan apa yang dimaksud dengan kebenaran, dan tidak ada ruang untuk mempertanyakan apakah sain satu-satunya kebanaran atau hanya sebuah jalan menuju kebenaran.(R. Trigg, dalam Rationality and Science)

    1. ORIENTASI FILSAFAT ILMU

Setelah mengenal pengertian dan makna apa itu filsafat dan apa iti ilmu, maka pemahaman mengenai filsafat ilmu tidak akan terlalu mengalami kesulitan. Hal ini tidak berarti bahwa dalam memaknai filsafat ilmu tinggal menggabungkan kedua pengertian tersebut, sebab sebagai suatu istilah, filsafat ilmu telah mengalami perkembangan pengertian serta para akhli pun telah memberikan pengertian yang bervariasi, namun demikian pemahaman tentang makna filsafat dan makna ilmu akan sangat membantu dalam memahami pengertian dan makna filsafat ilmu (Philosophy of science).

Pada dasarnya filsafat ilmu merupakan kajian filosofis terhadap hal-hal yang berkaitan dengan ilmu, dengan kata lain filsafat ilmu merupakan upaya pengkajian dan pendalaman mengenai ilmu (Ilmu Pengetahuan/Sains), baik itu ciri substansinya, pemerolehannya, ataupun manfaat ilmu bagi kehidupan manusia. Pengkajian tersebut tidak terlepas dari acuan pokok filsafat yang tercakup dalam bidang ontologi, epistemologi, dan axiologi dengan berbagai pengembangan dan pendalaman yang dilakukan oleh para akhli.

Secara historis filsafat dipandang sebagai the mother of sciences atau induk segala ilmu, hal ini sejalan dengan pengakuan Descartes yang menyatakan bahwa  prinsip-prinsip dasar ilmu diambil dari filsafat. Filsafat alam mendorong lahirnya ilmu-ilmu kealaman, filsafat sosial melahirkan ilmu-ilmu sosial, namun dalam perkembangannya dominasi ilmu sangat menonjol, bahkan ada yang menyatakan telah terjadi upaya perceraian antara filsafat dengan ilmu, meski hal itu sebenarnya hanya upaya menyembunyikan asal usulnya atau perpaduannya seperti terlihat dari ungkapkan  Husein Nasr (1996) bahwa :

meskipun sains modern mendeklarasikan independensinya dari  aliran filsafat tertentu, namun ia sendiri tetap berdasarkan sebuah pemahaman filosofis partikular baik tentang karakteristik alam maupun pengetahuan kita tentangnya, dan unsur terpenting di dalamnya adalah Cartesianisme yang tetap bertahan sebagai bagian inheren dari pandangan dunia ilmiah modern

dominasi ilmu terutama aplikasinya dalam bentuk teknologi telah menjadikan pemikiran-pemikiran filosofis cenderung terpinggirkan, hal ini berdampak pada cara berfikir yang sangat pragmatis-empiris dan partial, serta cenderung menganggap pemikiran radikal filosofis sebagai sesuatu yang asing dan terasa tidak praktis, padahal ilmu yang berkembang dewasa ini di dalamnya terdapat pemahaman filosofis yang mendasarinya sebagaimana kata Nasr .

Perkembangan ilmu memang telah banyak pengaruhnya bagi kehidupan manusia, berbagai kemudahan hidup telah banyak dirasakan, semua ini telah menumbuhkan keyakinan bahwa ilmu merupakan suatu sarana yang penting bagi kehidupan, bahkan lebih jauh ilmu dianggap sebagai dasar bagi suatu ukuran kebenaran. Akan tetapi kenyataan menunjukan bahwa tidak semua masalah dapat didekati dengan pendekatan ilmiah, sekuat apapun upaya itu dilakukan, seperti kata Leenhouwers yang menyatakan:

Walaupun ilmu pengetahuan mencari pengertian menerobos realitas sendiri, pengertian itu  hanya dicari di tataran empiris dan eksperimental. Ilmu pengetahuan membatasi kegiatannya hanya pada fenomena-fenomena, yang entah langsung atau tidak langsung, dialami dari pancaindra. Dengan kata lain ilmu pengetahuan tidak menerobos kepada inti objeknya yang sama sekali tersembunyi dari observasi. Maka ia tidak memberi jawaban prihal kausalitas yang paling dalam.

pernyataan di atas mengindikasikan bahwa adalah sulit bahkan tidak mungkin ilmu mampu menembus batas-batas yang menjadi wilayahnya yang sangat bertumpu pada fakta empiris, memang tidak bisa dianggap sebagai kegagalan bila demikian selama klaim kebenaran yang disandangnya diberlakukan dalam wilayahnya sendiri, namun jika hal itu menutup pintu refleksi radikal terhadap ilmu maka hal ini mungkin bisa menjadi ancaman bagi upaya memahami kehidupan secara utuh dan kekayaan dimensi di dalamnya.

Meskipun dalam tahap awal perkembangan pemikiran manusia khususnya jaman Yunani kuno cikal bakal ilmu terpadu dalam filsafat, namun pada tahap selanjutnya ternyata telah melahirkan berbagai disiplin ilmu yang masing-masing mempunyai asumsi filosofisnya (khususnya tentang manusia) masing-masing. Ilmu ekonomi memandang manusia sebagai homo economicus yakni makhluk yang mementingkan diri sendiri dan hedonis, sementara sosiologi memandang manusia sebagai homo socius yakni makhluk yang selalu ingin berkomunikasi dan bekerjasama dengan yang lain, hal ini menunjukan suatu pandangan manusia yang fragmentaris dan kontradiktif, memang diakui bahwa dengan asumsi model ini ilmu-ilmu terus berkembang dan makin terspesialisasi, dan dengan makin terspesialisasi maka analisisnya makin tajam, namun seiring dengan itu hasil-hasil penelitian ilmiah selalu berusaha untuk mampu membuat generalisasi, hal ini nampak seperti contradictio in terminis (pertentangandalam istilah)

Dengan demikian eksistensi ilmu mestinya tidak dipandang sebagai sesuatu yang sudah final, dia perlu dikritisi, dikaji, bukan untuk melemahkannya tapi untuk memposisikan secara tepat dalam batas wilayahnya, hal inipun dapat membantu terhindar dari memutlakan ilmu dan menganggap ilmu dan kebenaran ilmiah sebagai satu-satunya kebenaran, disamping perlu terus diupayakan untuk melihat ilmu secara integral bergandengan dengan dimensi dan bidang lain yang hidup dan berkembang dalam memperadab manusia. Dalam hubungan ini filsafat ilmu akan membukakan wawasan tentang bagaimana sebenarnya substansi ilmu itu, hal ini karena filsafat ilmu merupakan pengkajian lanjutan, yang menurut Beerleng, sebagai Refleksi sekunder atas illmu dan ini merupakan syarat mutlak untuk menentang bahaya yang menjurus kepada keadaan cerai berai serta pertumbuhan yang tidak seimbang dari ilmu-ilmu yang ada, melalui pemahaman tentang asas-asas, latar belakang serta hubungan yang dimiliki/dilaksanakan oleh suatu kegiatan ilmiah.

    1. PERKEMBANGAN   FILSAFAT   ILMU

Secara umum dapat dikatakan bahwa sejak perang dunia ke 2, yang telah menghancurkan kehidupan manusia, para Ilmuwan makin menyadari bahwa perkembangan ilmu dan pencapaiannya telah mengakibatkan banyak penderitaan manusia , ini tidak terlepas  dari pengembangan ilmu dan teknologi  yang tidak dilandasi oleh nilai-nilai moral serta komitmen etis dan agamis pada nasib manusia , padahal Albert Einstein pada tahun 1938 dalam pesannya pada Mahasiswa California Institute of Technology mengatakan “ Perhatian kepada manusia itu sendiri dan nasibnya harus selalu merupakan  perhatian pada masalah besar yang tak kunjung terpecahkan dari pengaturan kerja dan pemerataan benda,  agar buah ciptaan dari pemikiran kita akan merupakan berkah dan bukan kutukan terhadap kemanusiaan (Jujun S Suriasumantri, 1999 : 249 ).

Akan tetapi penjatuhan bom di Hirosima dan Nagasaki tahun 1945 menunjukan bahwa perkembangan iptek telah mengakibatkan kesengsaraan manusia , meski disadari  tidak semua hasil pencapaian iptek  demikian, namun hal itu telah mencoreng  ilmu dan menyimpang dari pesan Albert Einstein, sehingga hal itu telah menimbulkan keprihatinan filosof tentang arah kemajuan peradaban manusia sebagai akibat perkembangan ilmu (Iptek) .

Untuk itu  nampaknya para filosof dan ilmuan perlu merenungi apa yang dikemukakan Harold H Titus dalam bukunya Living Issues in Pilosophy (1959), beliau mengutif  beberapa pendapat cendikiawan seperti Northrop yang mengatakan “ it would seem that the more civilized we become , the more incapable of maintaining civilization we are”, demikian juga pernyataan Lewis Mumford yang berbicara tentang “the invisible breakdown in our civiliozation : erosion of value, the dissipation of human purpose, the denial of any dictinction between good and bad, right or wrong, the reversion to sub human conduct” (Harold H Titus, 1959 : 3)

Ungkapan tersebut di atas hanya untuk menunjukan bahwa memasuki dasawarsa 1960-an  kecenderungan mempertanyakan manfaat ilmu menjadi hal yang penting, sehingga pada periode ini (1960-1970)  dimensi aksiologis menjadi perhatian para filosof, hal ini tak lain  untuk meniupkan ruh etis dan agamis pada ilmu, agar pemanfaatannya dapat menjadi berkah  bagi manusia dan kemanusiaan , sehingga telaah pada fakta empiris berkembang ke pencarian makna dibaliknya atau seperti yang dikemukakan oleh Prof. Dr. H. Ismaun, M.Pd (2000 : 131) dari telaah positivistik ke telaah meta-science yang dimulai sejak tahun 1965.

Memasuki tahun 1970-an , pencarian makna ilmu mulai berkembang khususnya di kalangan pemikir muslim , bahkan pada dasawarsa ini lahir gerakan islamisasi ilmu, hal ini tidak terlepas dari sikap apologetik umat islam terhadap kemajuan barat, sampai-sampai ada ide untuk melakukan sekularisasi, seperti yang dilontarkan oleh Nurcholis Majid pada tahun 1974 yang kemudian banyak mendapat reaksi keras dari pemikir-pemikir Islam  seperti dari Prof. H.M Rasyidi dan Endang Saifudin Anshori.

Mulai awal tahun 1980-an, makin banyak karya cendekiawan muslim yang berbicara  tentang integrasi ilmu dan agama atau islamisasi ilmu, seperti terlihat dari berbagai karya mereka yang mencakup  variasi ilmu seperti  karya Ilyas Ba Yunus tentang Sosiologi Islam, serta karya-karya dibidang ekonomi, seperti  karya Syed Haider Naqvi Etika dan Ilmu Ekonomi, karya Umar Chapra Al Qur’an, menuju sistem moneter yang adil, dan karya-karya lainnya , yang pada intinya semua itu merupakan upaya penulisnya untuk menjadikan ilmu-ilmu tersebut mempunyai landasan nilai islam.

Memasuki tahun 1990-an , khususnya di Indosesia  perbincangan filsafat diramaikan dengan wacana post modernisme, sebagai suatu kritik terhadap modernisme yang berbasis positivisme  yang sering mengklaim universalitas ilmu, juga diskursus post modernisme memasuki kajian-kajian agama.

Post modernisme yang sering dihubungkan dengan Michael Foccault dan Derrida dengan beberapa konsep/paradigma yang kontradiktif dengan modernisme seperti  dekonstruksi, desentralisasi, nihilisme dsb, yang pada dasarnya ingin menempatkan narasi-narasi kecil  ketimbang narasi-narasi besar, namun post modernisme mendapat kritik keras dari Ernest Gellner dalam bukunya Post modernism, Reason and Religion yang terbit pada tahun1992. Dia menyatakan bahwa post modernisme akan menjurus pada relativisme dan untuk itu dia mengajukan konsep fundamentalisme rasionalis, karena rasionalitas merupakan standar yang berlaku lintas budaya.

Disamping itu gerakan meniupkan nilai-nilai agama pada ilmu makin berkembang, bahkan untuk Indonesia disambut hangat oleh ulama dan masyarakat  terlihat dari berdirinya BMI, yang pada dasarnya hal ini tidak terlepas dari gerakan islamisasi ilmu, khususnya dalam bidang ilmu ekonomi.

Dan pada periode ini pula teknologi informasi sangat luar biasa , berakibat pada makin pluralnya perbincangan/diskursus filsafat, sehingga sulit menentukan diskursus mana yang paling menonjol, hal ini mungkin sesuai dengan apa yang digambarkan oleh Alvin Tofler sebagai The third Wave, dimana informasi makin cepat memasuki berbagai belahan dunia yang pada gilirannya akan mengakibatkan kejutan-kejutan budaya tak terkecuali bidang pemikiran filsafat.

Meskipun nampaknya prkembangan Filsafat ilmu erat kaitan dengan dimensi axiologi atau nilai-nilai pemanfaatan ilmu, namun dalam perkembangannya keadaan tersebut telah juga mendorong para akhli untuk lebih mencermati apa sebenarnya ilmu itu atau apa hakekat ilmu, mengingat dimensi ontologis sebenarnya punya kaitan dengan dimensi-dimensi lainnya seperti ontologi dan epistemologi, sehingga dua dimensi yang terakhir pun mendapat evaluasi ulang dan pengkajian yang serius.

Diantara tonggak penting dalam bidang kajian ilmu (filsafat ilmu) adalah terbitnya Buku The Structure of Scientific Revolution yang ditulis oleh Thomas S Kuhn, yang untuk pertama kalinya  terbit tahun 1962, buku ini merupakan sebuah  karya yang monumental mengenai  perkembangan sejarah  dan filsafat sains, dimana didalamnya paradigma menjadi konsep sentral, disamping konsep sains/ilmu normal. Dalam pandangan Kuhn ilmu pengetahuan tidak hanya pengumpulan fakta untuk membuktikan suatu teori, sebab selalu ada anomali yang dapat mematahkan teori yang telah dominan.

Pencapaian-pencapaian manusia dalam bidang pemikiran ilmiah  telah menghasilkan teori-teori, kemudian teori-teori  terspesifikasikan berdasarkan karakteristik tertentu  ke daLam suatu Ilmu. Ilmu (teori) tersebut kemudian dikembangkan , diuji sehingga menjadi mapan dan menjadi dasar bagi riset-riset  selanjutnya , maka Ilmu (sains) tersebut menjadi sains normal yaitu riset yang dengan teguh berdasar atas suatu pencapaian ilmiah yang lalu, pencapaian yang oleh masyarakat  ilmiah tertentu pada suatu ketika dinyatakan sebagai pemberi fundasi  bagi praktek (riset) selanjutnya ( Thomas S Kuhn, 2000 :10 ) .

Pencapaian pemikiran ilmiah tersebut dan terbentuknya sains yang normal kemudian menjadi paradigma, yang berarti “apa yang dimiliki bersama oleh anggota suatu masyarakat sains dan sebaliknya masyarakat sains terdiri atas orang yang memiliki suatu paradigma tertentu ( Thomas S Kuhn, 2000 : 171 ). Paradigma dari sains yang normal kemudian mendorong riset normal yang cenderung sedikit sekali ditujukan untuk menghasilkan penemuan baru yang  konseptual atau yang hebat (. Thomas S Kuhn, 2000 : 134 ). Ini berakibat bahwa sains yang normal, kegunaannya  sangat bermanfaat dan bersifat kumulatif. Teori yang memperoleh pengakuan sosial akan menjadi paradigma, dan kondisi ini merupakan periode ilmu normal. Kemajuan ilmu berawal dari perjuangan kompetisi berbagai teori untuk mendapat pengakuan intersubjektif dari suatu masyarakat ilmu. Dalam periode sain normal ilmu hanyalah merupakan pembenaran-pembenaran sesuai dengan asumsi-asumsi paaradigma yang dianut masyarakat tersebut, ini tidak lain dikarenakan paradigma yang berlaku telah menjadi patokan bagi ilmu untuk melakukan penelitian, memecahkan masalah, atau bahkan menyeleksi masalah-masalah yang layak  dibicarakan dan dikaji

Akan tetapi didalam perkembangan selanjutnya ilmuwan banyak menemukan hal-hal baru yang sering mengejutkan, semua ini diawali dengan  kesadaran akan anomali atas prediksi-prediksi paradigma sains normal, kemudian pandangan yang anomali ini dikembangkan sampai akhirnya ditemukan paradigma baru yang mana perubahan ini sering sangat revolusioner. Paradigma baru tersebut kemudian melahirkan sain normal yang baru sampai ditemukan lagi paradigma baru berikutnya. Bila digambarkan nampak sebagai berikut :

Pencapaian Manusia dalam pemikiran ilmiah
Sains Normal
Paradigma
Anomali
Perubahan paradigma/ revolusi sains
Sains Normal yang baru
Paradigma Baru

Gambar 4.2, Struktur perubahan ke-Ilmuan

Pencapaian sain normal dan paradigma  baru bukanlah akhir , tapi menjadi awal bagi proses perubahan paradigma dan revolusi sains berikutnya, bila terdapat anomali atas prediksi sains normal yang baru tersebut. Pendapat Kuhn tersebut pada dasarnya mengindikasikan bahwa secara substansial kebenaran ilmu bukanlah sesuatu yang tak tergoyahkan, suatu paradigma yang berlaku pada suatu saat, pada saat yang lain bisa tergantikan dengan paradigma baru yang telah mendapat pengakuan dari masyarakat ilmiah, itu berarti suatu teori sifatnya sangat tentatif sekali.

    1. CIRI-CIRI ILMU MODERN

Dalam bab terdahulu telah dikemukakan ciri-ciri dari suatu ilmu, ciri-ciri tersebut pada prinsipnya merupakan suatu yang normatif dalam suatu disiplin keilmuan. Namun dalam perkembangannya ilmu khususnya teknologi sebagai aplikasi dari ilmu telah banyak mengalami perubahan yang sangata cepat, perubahan ini berdampak pada pandangan masyarakat tentang hakekat ilmu, perolehan ilmu, serta manfaatnya bagi masyarakat, sehingga ilmu cenderung dianggap sebagai satu-satunya kebenaran dalam mendasari berbagai kebijakan kemasyarakatan, serta telah menjadi dasar penting yang mempengaruhi penentuan prilaku manusia. Keadaan ini berakibat pada karakterisasi ciri ilmu modern, adapun ciri-ciri tersebut adalah :

  1. Bertumpu pada paradigma positivisme.  Ciri ini terlihat dari pengembangan ilmu dan teknologi yang kurang memperhatikan aspek nilai baik etis maupun agamis, karena memang salah satu aksioma positivisme adalah value free yang mendorong tumbuhnya prinsip science for science.
  2. Mendorong pada tumbuhnya sikap hedonisme dan konsumerisme. Berbagai pengembangan ilmu dan teknologi selalu mengacu pada upaya untuk meningkatkan kenikmatan hidup , meskipun hal itu dapat mendorong gersangnya ruhani manusia akibat makin memasyarakatnya budaya konsumerisme yang terus dipupuk oleh media teknologi modern seperti iklan besar-besaran  yang dapat menciptakan kebutuhan semu yang oleh Herbert Marcuse didefinisikan sebagai kebutuhan  yang ditanamkan ke dalam masing-masing individu demi kepentingan sosial tertentu dalam represinya (M. Sastrapatedja, 1982 : 125)
  3. Perkembangannya sangat cepat . Pencapaian sain ddan teknologi modern menunjukan percepatan yang menakjubkan , berubah tidak dalam waktu tahunan lagi  bahkan mungkin dalam hitungan hari, ini jelas sangat berbeda denngan perkembangan iptek sebelumnya yang kalau menurut Alfin Tofler dari gelombang pertama (revolusi pertanian) memerlukan waktu ribuan tahun untuk mencapai gelombang ke dua (revolusi industri, dimana sebagaimana diketahui gelombang tersebut terjadi akibat pencapaian sains dan teknologi.
  4. Bersifat eksploitatif terhadap lingkungan. Berbagai kerusakan lingkungan hidupdewasa ini tidak terlepas dari pencapaian iptek yang kurang memperhatikan dampak lingkungan.
    1. PARADIGMA ILMU MODERN MENURUT BEBERAPA ALIRAN

Secara historis paradigma sains telah mengalami tahapan-tahapan perubahan sebagaimana dikemukakan oleh S Nasution dalam bukunya “Metode penelitian naturalistik kualitatif (1996 : 3). Tahap pertama disebut masa pra-positivisme, yang diawali dari jaman Aristiteles sampai David Hume, dimana  aplikasinya dalam penelitian adalah mengamati secara pasif, tidak ada upaya memanipulasi lingkungan dan melakukan eksperimen terhadap lingkungan . Tahapan ini kemudian berganti  dengan tahapan positivisme, dimana paradigma ini menjadi dasar bagi metode ilmiah dengan bentuk penelitian kuantitatif , yang mencoba mencari prinsip-prinsip atau hukum-hukum  umum tentang dunia kenyataan . Paradigma berikutnya yang muncul adalah paradigma post positivisme sebagai reaksi atas pendirian positivisme, dimana dalam pandangan ini, kebenaran bukan sesuatu yang tunggal (it is an increasing complexity) sebagaimana diyakini positivisme.

Namun demikian paradigma yang paling menonjol di jaman modern ini nampaknya adalah positivisme, meskipun ada beberapa sempalan dalam positivisme itu (Ahmad Sanusi, Majalah Matahari : 12). Untuk  lebih mengetahuiberbagai paradigma  sains modern, penulis sajikan tabel berikut yang dikutip oleh Ahmad Sanusi dalam Majalah Matahari halaman 12 sebagai berikut :

Tabel 4.2. Macam-macam  Paradigma Ilmu

ALIRAN PARADIGMA WACANA ILMU SUMBER/DAYA /POTENSI PENGERTIAN DAN TUGASNYA BENTUK PENGETAHUAN DAN TUGASNYA TITIK BERAT PADA MODEL VERIFIKASI MODALITAS MENYELURUH ESENSI ONTOLOGIS
POSITIVISTIK Akal sehat dan melakukan observasi Empirikal Statis-tik dan memilih metoda fakta Konsistensi dan Kepastian yang empirikal, rasional/logis Obyek yang spesifik dan terukur Realitas yang memisah/ khusus
FORMALISTIK/ STRUKTURALISTIK Nalar reflektif dan Menemukan Makna Empirikal statistikal dan Menyusun fakta metode Konsistensi empirikal Obyek yang spesifik dan terukur Realitas yang melanjut
PENAFSIRAN (INTERPRETATIF) Intuisi dan Menemukan Metoda Teoritikal Filosofis Subyektivitas

Transendental, dan menjelaskan teori

makna Kohesi teoritik Identitas obyek yang masuk akal dan kemampuan mentransformasikan Realitas yang melanjut
TEORITIS Intuisi dan Menemukan Nilai Teoritikal Filosofis Menemukan Makna Teori Kohesi Teoritik Identitas obyek yang masuk akal dan karakteristik yang unggul Realitas yang menyatu
KRITIS Intuisi dan Menemukan Teori Personal Sosial dan Melakukan Observasi Nilai Konsensus atas dasar pengalaman Identitas obyek yang masuk akal dan karakteristik yang unggul Realitas yang menyatu
PENGAMAT

PARTISIPAN

Akal sehat dan menemukan fakta Personal Sosial dan Menemukan Fakta Observasi Konsensus atas dasar pengalaman Identitas obyek yang masuk akal dan fungsi yang khas Realitas yang  memisah

Paradigma-paradigma yang tercantum dalam tabel tersebut masih dapat dikelompokan pada kategori yang sama atau mendekati. Dilihat dari esensi ontologisnya  paradigma positivistik sama dengan pengamat partisipan  yakni bahwa realitas itu terpisah, paradigma teoritis sama dengan paradigma kritis, sedang paradigma formalistik strukturalis sama dengan paradigma interpretatif. Dilihat dari sumber, positivistik sama dengan pengamat partisipan dan mendekati paradigma interpretatif serta formalistik strukturalis, sedangkan paradigma teoritis sama dengan paradigma kritis.

Dari segi bentuk pengetahuan, positivistik sama dengan formalistik, interpretatif sama dengan teoritis, sedangkan paradigma kritis sama dengan paradigma pengamat partisipan , demikian juga dilihat dari segi model verifikasi banyak kesamaannya, hanya dari tugas dan titik berat keenam paradigma itu berbeda.

Namun demikian paradigma yang paling menonjol sekarang ini adalah paradigma positivistik, dimana kenyataan menunjukan paradigma ini banyak memberikan sumbangan bagi perkembangan teknologi dewasa ini , akan tetapi tidak berarti paradigma lainnya tidak berperan , peranannya tetap ada terutama dalam hal-hal yang tak dapat dijelaskan  oleh paradigma positivistik , hal ini terlihat dengan berkembangnya  paradigma naturalistik  yang telah mendorong berkembangnya penelitian kualitatif . oleh karena itu nampaknya paradigma-paradigma tersebut tidak bersifat saling menghilangkan tapi lebih bersipat saling melengkapi , hal ini didasari keyakinan betapa kompleksnya realitas dunia dan kehidupan di dalamnya.

    1. HUBUNGAN FILSAFAT DENGAN ILMU

Meskipun secara historis antara ilmu dan filsafat pernah merupakan suatu kesatuan, namun dalam perkembangannya mengalami divergensi, dimana dominasi ilmu lebih kuat mempengaruhi pemikiran manusia, kondisi ini mendorong pada upaya untuk memposisikan ke duanya secara tepat sesuai dengan batas wilayahnya masing-masing, bukan untuk mengisolasinya melainkan untuk lebih jernih melihat hubungan keduanya dalam konteks lebih memahami khazanah intelektuan manusia

Harold H. Titus mengakui kesulitan untuk menyatakan secara tegas dan ringkas mengenai hubungan antara ilmu dan filsafat, karena terdapat persamaan sekaligus perbedaan antara ilmu dan filsafat, disamping dikalangan ilmuwan sendiri terdapat perbedaan pandangan dalam hal sifat dan keterbatasan ilmu, dimikian juga dikalangan filsuf terdapat perbedaan pandangan dalam memberikan makna dan tugas filsafat.

Adapaun persamaan (lebih tepatnya persesuaian) antara ilmu dan filsafat adalah bahwa keduanya menggunakan berfikir reflektif dalam upaya menghadapi/memahami fakta-fakta dunia dan kehidupan, terhadap hal-hal tersebut baik filsafat maupun ilmu bersikap kritis, berfikiran terbuka serta sangat konsern pada kebenaran, disamping perhatiannya pada pengetahuan yang terorganisisr dan sistematis.

Sementara itu perbedaan filsafat dengan ilmu lebih berkaitan dengan titik tekan, dimana ilmu mengkaji bidang yang terbatas, ilmu lebih bersifat analitis dan deskriptif dalam pendekatannya, ilmu menggunakan observasi, eksperimen dan klasifikasi data pengalaman indra serta berupaya untuk menemukan hukum-hukum atas gejala-gejala tersebut, sedangkan filsafat berupaya mengkaji pengalaman secara menyeluruh sehingga lebih bersifat inklusif dan mencakup hal-hal umum dalam berbagai bidang pengalaman manusia, filsafat lebih bersifat sintetis dan sinoptis dan kalaupun analitis maka analisanya memasuki dimensi kehidupan secara menyeluruh dan utuh, filsafat lebih tertarik  pada pertanyaan kenapa dan bagaimana dalam mempertanyakan masalah hubungan antara fakta khusus dengan skema masalah yang lebih luas, filsafat juga mengkaji  hubungan antara temuan-temuan ilmu  dengan klaim agama, moral serta seni.

Dengan memperhatikan ungkapan di atas nampak bahwa filsafat mempunyai batasan yang lebih luas dan menyeluruh ketimbang ilmu, ini berarti bahwa apa yang sudah tidak bisa dijawab oleh ilmu, maka filsafat berupaya mencari jawabannya, bahkan ilmu itu sendiri bisa dipertanyakan atau dijadikan objek kajian filsafat (Filsafat Ilmu), namun demikian filsafat dan ilmu mempunyai kesamaan dalam menghadapi objek kajiannya yakni berfikir reflektif dan sistematis, meski dengan titik tekan pendekatan yang berbeda.

Dengan demikian, Ilmu mengkaji hal-hal yang bersifat empiris dan dapat dibuktikan, filsafat mencoba mencari jawaban terhadap masalah-masalah yang tidak bisa dijawab oleh Ilmu dan jawabannya bersifat spekulatif, sedangkan Agama merupakan jawaban terhadap masalah-masalah yang tidak bisa dijawab oleh filsafat dan jawabannya bersifat mutlak/dogmatis. Menurut Sidi Gazlba (1976), Pengetahuan ilmu lapangannya segala sesuatu yang dapat diteliti (riset dan/atau eksperimen) ; batasnya sampai kepada yang tidak atau belum dapat dilakukan penelitian. Pengetahuan filsafat : segala sesuatu yang dapat dipikirkan oleh budi (rasio) manusia yang alami (bersifat alam) dan nisbi; batasnya ialah batas alam namun demikian ia juga mencoba memikirkan sesuatu yang diluar alam, yang disebut oleh agama “Tuhan”. Sementara itu Oemar Amin Hoesin (1964) mengatakan bahwa ilmu memberikan kepada kita pengetahuan, dan filsafat memberikan hikmat. Dari sini nampak jelas bahwa ilmu dan filsafat mempunyai wilayah kajiannya sendiri-sendiri

Meskipun filsafat ilmu mempunyai substansinya yang khas, namun dia merupakan bidang pengetahuan campuran yang perkembangannya tergantung pada hubungan timbal balik dan saling pengaruh antara filsafat dan ilmu, oleh karena itu pemahaman bidang filsafat dan pemahaman ilmu menjadi sangat penting, terutama hubungannya yang bersifat timbal balik, meski dalam perkembangannya filsafat ilmu itu telah menjadi disiplin yang tersendiri dan otonom dilihat dari objek kajian dan telaahannya

    1. PENGERTIAN FILSAFAT ILMU

Dilihat dari segi katanya filsafat ilmu dapat dimaknai sebagai filsafat yang berkaitan dengan atau tentang ilmu. Filsafat ilmu merupakan bagian dari filsafat pengetahuan secara umum, ini dikarenakan ilmu itu sendiri merupakan suatu bentuk pengetahuan dengan karakteristik khusus, namun demikian untuk memahami secara lebih khusus apa yang dimaksud dengan filsafat ilmu, maka diperlukan pembatasan yang dapat menggambarkan dan memberi makna khusus tentang istilah tersebut.

Para akhli telah banyak mengemukakan definisi/pengertian filsafat ilmu dengan sudut pandangnya masing-masing, dan setiap sudut pandang tersebut amat penting guna pemahaman yang komprehensif tentang makna filsafat ilmu, berikut ini akan  dikemukakan beberapa definisi filsafat ilmu :

    • The philosophy of science is a part of philosophy which attempts to do for science what philosophy in general does for the whole of human experience (Peter Caws)
    • The philosophy of science attemt, first, to elucidate the elements involved in the process of scientific inquiry-observational procedures, patterns of argument, methods of representation and calculation, metaphysical presupposition, and so on, and then to evaluate the grounds of their validity from  the points of view of formal logic, practical methodology anf metaphysics (Steven R. Toulmin).
    • Philosophy of science questions and evaluates the methods of scientific thinking and tries to determine the value and significance of scientific enterprise as a whole (L. White Beck)
    • Philosophy of science.. that philosophic discipline which is the systematic study of the nature of science, especially of its methods, its concepts and presupposition, and its place in the general scheme of intelectual discipline (A.C. Benyamin)
    • Philosophy of science.. the study of the inner logic of scientific theories, and the relations between experiment and theory, i.e of scientific method (Michael V. Berry)

Pengertian-pengertian di atas menggambarkan variasi pandangan beberapa akhli tentang makna filsafat ilmu. Peter Caw memberikan makna filsafat ilmu sebagai bagian dari filsafat yang kegiatannya menelaah ilmu dalam kontek keseluruhan pengalaman manusia,  Steven R. Toulmin memaknai filsafat ilmu sebagai suatu disiplin yang diarahkan untuk menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan prosedur penelitian ilmiah, penentuan argumen, dan anggapan-anggapan metafisik guna menilai dasar-dasar validitas ilmu dari sudut pandang logika formal, dan metodologi praktis serta metafisika. Sementara itu White Beck lebih melihat filsafat ilmu sebagai kajian dan evaluasi terhadap metode ilmiah untuk dapat difahami makna ilmu itu sendiri secara keseluruhan, masalah kajian atas metode ilmiah juka dikemukakan oleh Michael V. Berry setelah mengungkapkan dua kajian lainnya yaitu logika teori ilmiah  serta hubungan antara teori dan eksperimen, demikian juga halnya Benyamin yang memasukan masalah metodologi dalam kajian filsafat ilmu disamping posisi ilmu itu sendiri dalam konstelasi umum disiplin intelektual (keilmuan).

Menurut The Liang Gie, filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi kehidupan manusia. Pengertian ini sangat umum dan cakupannya luas, hal yang penting untuk difahami adalah bahwa filsafat ilmu itu merupakan telaah kefilsafatan terhadap hal-hal yang berkaitan/menyangkut ilmu, dan bukan kajian di dalam struktur ilmu itu sendiri. Terdapat beberapa istilah dalam pustaka yang dipadankan dengan Filsafat ilmu seperti : Theory of  science, meta science, methodology, dan science of science, semua istilah tersebut nampaknya menunjukan perbedaan dalam titik tekan pembahasan, namun semua itu pada dasarnya tercakup dalam kajian filsafat ilmu .

Sementara itu Gahral Adian mendefinisikan filsafat ilmu sebagai cabang filsafat yang mencoba mengkaji ilmu pengetahuan (ilmu) dari segi ciri-ciri dan cara pemerolehannya.  Filsafat ilmu selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mendasar/radikal terhadap ilmu seperti tentang apa ciri-ciri spesifik yang menyebabkan sesuatu disebut ilmu, serta apa bedanya ilmu dengan pengetahuan biasa, dan bagaimana cara pemerolehan ilmu, pertanyaan – pertanyaan tersebut dimaksudkan untuk membongkar serta mengkaji asumsi-asumsi ilmu yang biasanya diterima begitu saja (taken for granted), Dengan demikian filsafat ilmu merupakan jawaban filsafat atas pertanyaan ilmu atau filsafat ilmu merupakan upaya penjelasan dan penelaahan secara mendalam hal-hal yang berkaitan dengan ilmu,  apabila digambarkan hubungan tersebut nampak sebagai berikut :

ILMU

FILSAFAT

Menjawab

FILSAFAT ILMU

Bertanya

Gambar 4.1. Hubungan Filsafat, Ilmu dan Filsafat Ilmu

Secara historis filsafat merupakan induk ilmu, dalam perkembangannya ilmu makin terspesifikasi dan mandiri, namun mengingat banyaknya masalah kehidupan yang tidak bisa dijawab oleh ilmu, maka filsafat menjadi tumpuan untuk menjawabnya, filsafat memberi penjelasan atau jawaban substansial dan radikal atas masalah tersebut, sementara ilmu terus mengembangakan dirinya dalam batas-batas wilayahnya, dengan tetap dikritisi secara radikal, proses atau interaksi tersebut pada dasarnya merupakan bidang kajian Filsafat Ilmu, oleh karena itu filsafat ilmu dapat dipandang sebagai upaya menjembatani jurang pemisah antara filsafat dengan ilmu, sehingga ilmu tidak menganggap rendah pada filsafat, dan filsafat tidak memandang ilmu sebagai suatu pemahaman atas alam secara dangkal.

    1. BIDANG KAJIAN DAN MASALAH-MASALAH DALAM FILSAFAT  ILMU

Bidang kajian filsafat ilmu ruang lingkupnya terus mengalami perkembangan, hal ini tidak terlepas dengan interaksi antara filsafat dan ilmu yang makin intens. Bidang kajian yang menjadi telaahan filsafat ilmu pun berkembang dan diantara para akhli terlihat perbedaan dalam menentukan lingkup kajian filsafat ilmu, meskipun bidang kajian iduknya cenderung sama, sedang perbedaan lebih terlihat dalam perincian topik telaahan. Berikut ini beberapa pendapat akhli tentang lingkup kajian filsafat ilmu :

    1. Edward Madden menyatakan bahwa lingkup/bidang kajian filsafat ilmu adalah:
    1. Probabilitas
      1. Induksi
      2. Hipotesis
    1. Ernest Nagel
    1. Logical pattern exhibited by explanation in the sciences
    1. Construction of scientific concepts
    2. Validation of scientific conclusions
    1. Scheffer
    1. The role of science in society
    1. The world pictured by science
    2. The foundations of science

Dari beberapa pendapat di atas nampak bahwa  semua itu lebih bersifat menambah terhadap lingkup kajian filsafat ilmu, sementara itu Jujun S. Suriasumantri menyatakan bahwa filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemology yang secara spesifik mengkaji hakekat ilmu. Dalam bentuk pertanyaan, pada dasar filsafat ilmu merupakan telahaan berkaitan dengan objek apa yang ditelaah oleh ilmu (ontologi), bagaimana proses pemerolehan ilmu (epistemologi), dan bagaimana manfaat ilmu (axiologi), oleh karena itu lingkup induk telaahan filsafat ilmu adalah :

        1. ontologi
        2. epistemologi
        3. axiologi

ontologi berkaitan tentang apa obyek yang ditelaah ilmu, dalam kajian ini mencakup masalah realitas dan penampakan (reality and appearance), serta bagaimana hubungan ke dua hal tersebut dengan subjek/manusia. Epistemologi berkaitan dengan bagaimana proses diperolehnya ilmu, bagaimana prosedurnya untuk memperoleh pengetahuan ilmiah yang benar. Axiologi berkaitan dengan apa manfaat ilmu, bagaimana hubungan etika dengan ilmu, serta bagaimana mengaplikasikan ilmu dalam kehidupan.

Ruang lingkup telaahan filsafat ilmu sebagaimana diungkapkan di atas di dalamnya sebenarnya menunjukan masalah-masalah yang dikaji dalam filsafat ilmu, masalah-masalah dalam filsafat ilmu pada dasarnya menunjukan topik-topik kajian yang pastinya dapat masuk ke dalam salahsatu lingkup filsafat ilmu. Adapun masalah-masalah yang berada dalam lingkup filsafat ilmu adalah (Ismaun) :

  1. masalah-masalah metafisis tentang ilmu
  2. masalah-masalah epistemologis tentang ilmu
  3. masalah-masalah metodologis tentang ilmu
  4. masalah-masalah logis tentang ilmu
  5. masalah-masalah etis tentang ilmu
  6. masalah-masalah tentang estetika

metafisika merupakan telaahan atau teori tentang yang ada, istilah metafisika ini terkadang dipadankan dengan ontologi jika demikian, karena sebenarnya metafisika juga mencakup telaahan lainnya seperti telaahan tentang bukti-bukti adanya Tuhan. Epistemologi merupakan teori pengetahuan dalam arti umum baik itu kajian mengenai pengetahuan biasa, pengetahuan ilmiah, maupun pengetahuan filosofis, metodologi ilmu adalah telaahan atas metode yang dipergunakan oleh suatu ilmu, baik dilihat dari struktur logikanya, maupun dalam hal validitas metodenya. Masalah logis berkaitan dengan telaahan mengenai kaidah-kaidah berfikir benar, terutama berkenaan dengan metode deduksi. Problem etis berkaitan dengan aspek-aspek moral dari suatu ilmu, apakah ilmu itu hanya untuk ilmu, ataukah ilmu juga perlu memperhatikan kemanfaatannya dan kaidah-kaidah moral masyarakat. Sementara itu masalah estetis berkaitan dengan dimensi keindahan atau nilai-nilai keindahan dari suatu ilmu, terutama bila berkaitan dengan aspek aplikasinya dalam kehidupan masyarakat.

    1. KEBENARAN ILMU

Ilmu pada dasarnya merupakan upaya manusia untuk menjelaskan berbagai  fenomena empiris yang terjadi di alam ini, tujuan dari upaya tersebut adalah untuk memperoleh suatu pemahaman yang benar atas fenomena tersebut. Terdapat kecenderungan yang kuat sejak berjayanya kembali akal pemikiran manusia adalah keyakinan bahwa ilmu merupakan satu-satunya sumber kebanaran, segala sesuatu penjelasan yang tidak dapat atau tidak mungkin diuji, diteliti, atau diobservasi adalah sesuatu yang tidak benar, dan karena itu tidak patut dipercayai.

Akan tetapi kenyataan menunjukan bahwa tidak semua masalah dapat dijawab dengan ilmu, banyak sekali hal-hal yang merupakan konsern manusia, sulit, atau bahkan tidak mungkin dijelaskan oleh ilmu  seperti masalah Tuhan, Hidup sesudah mati, dan hal-hal lain yang bersifat non – empiris. Oleh karena itu bila manusia hanya mempercayai kebenaran ilmiah sebagai satu-satunya kebenaran, maka dia telah mempersempit kehidupan dengan hanya mengikatkan diri dengan dunia empiris, untuk itu diperlukan pemahaman tentang apa itu kebenaran baik dilihat dari jalurnya (gradasi berfikir) maupun macamnya.

Bila dilihat dari gradasi berfikir kebenaran dapat dikelompokan kedalam empat gradasi berfikir yaitu :

    1. kebenaran biasa. Yaitu kebenaran yang dasarnya adalah common sense atau akal sehat. Kebenaran ini biasanya mengacu pada pengalaman individual tidak tertata dan sporadis sehingga cenderung sangat subjektif sesuai dengan variasi pengalaman yang dialaminya. Namun demikian seseorang bisa menganggapnya sebagai kebenaran apabila telah dirasakan manfaat praktisnya bagi kehidupan individu/orang tersebut.
    2. Kebenaran Ilmu. Yaitu kebenaran yang sifatnya positif karena mengacu pada fakta-fakta empiris, serta memungkinkan semua orang untuk mengujinya dengan metode tertentu dengan hasil yang sama atau paling tidak relatif sama.
    3. Kebenaran Filsafat. Kebenaran model ini sifatnya spekulatif, mengingat sulit/tidak mungkin dibuktikan secara empiris, namun bila metode berfikirnya difahami maka seseorang akan mengakui kebenarannya. Satu hal yang sulit adalah bagaimana setiap orang dapat mempercayainya, karena cara berfikir dilingkungan filsafatpun sangat bervariasi.
    4. kebenaran Agama. Yaitu kebenaran yang didasarkan kepada informasi yang datangnya dari Tuhan melalui utusannya, kebenaran ini sifatnya dogmatis, artinya ketika tidak ada kefahaman atas sesuatu hal yang berkaitan dengan agama, maka orang tersebut tetap harus mempercayainya sebagai suatu kebenaran.

Dari uraian di atas nampak bahwa maslah kebenaran tidaklah sederhana, tingkatan-tingkatan/gradasi berfikir akan menentukan kebenaran apa yang dimiliki atau diyakininya, demikian juga  sifat kebenarannya juga berbeda. Hal ini menunjukan bahwa bila seseorang berbicara mengenai sesuatu hal, dan apakah hal itu benar atau tidak, maka pertama-tama perlu dianalisis tentang tataran berfikirnya, sehingga tidak serta merta menyalahkan atas sesuatu pernyataan, kecuali apabila pembicaraannya memang sudah mengacu pada tataran berfikir tertentu.

Dalam konteks Ilmu,  kebenaran pun mendapatkan perhatian yang srius, pembicaraan masalah ini berkaitan dengan validitas pengetahuan/ilmu, apakah pengetahuan yang diliki seseorang itu benar/valid atau tidak, untuk itu para akhli mengemukakan berbagai teori kebenaran (Theory of Truth), yang dapat  dikategorikan ke dalam beberapa jenis teori kebenaran yaitu :

    1. Teori korespondensi (The Correspondence theory of truth). Menurut teori ini kebenaran, atau sesuatu itu dikatakan benar apabila terdapat kesesuaian antara suatu pernyataan dengan faktanya (a proposition – or meaning – is true if there is a fact to which it correspond, if it expresses what is the case). Menurut White Patrick “truth is that which conforms to fact, which agrees with reality, which corresponds to the actual situation. Truth, then can be defined as fidelity to objective reality”. Sementara itu  menurut Rogers, keadaan benar (kebenaran) terletak dalam kesesuaian antara esensi atau arti yang kita berikan dengan esensi yang terdapat di dalam objeknya. Contoh : kalau seseorang menyatakan bahwa Kualalumpur adalah ibukota Malayasia, maka pernyataan itu benar kalu dalam kenyataannya memang ibukota Malayasia itu Kualalumpur.
    2. Teori Konsistensi (The coherence theory of truth). Menurut teori ini kebenaran adalah keajegan antara suatu pernyataan dengan pernyataan lainnya yang sudah diakui kebenarannya, jadi suatu proposisi itu benar jika sesuai/ajeg atau koheren dengan proposisi lainnya yang benar. Kebenaran jenis ini biasanya mengacu pada hukum-hukum berfikir yang benar. Misalnya Semua manusia pasti mati, Uhar adalah Manusia, maka Uhar pasti mati, kesimpulan uhar pasti mati sangat tergantung pada kebenaran pernyataan pertama (semua manusia pasti mati).
    3. Teori Pragmatis (The Pragmatic theory of truth). Menurut teori ini kebenaran adalah sesuatu yang dapat berlaku, atau dapat memberikan kepuasan, dengan kata lain sesuatu pernyataan atau proposisi dikatakan benar apabila dapat memberi manfaat praktis bagi kehidupan, sesuatu itu benar bila berguna.

Teori-teori kebenaran tersebut pada dasarnya menunjukan titik berat kriteria yang berbeda, teori korespondensi menggunakan kriteria fakta, oleh karena itu teori ini bisa disebut teori kebenaran empiris, teori koherensi menggunakan dasar fikiran sebagai kriteria, sehingga bisa disebut sebagai kebenaran rasional, sedangkan teori pragmatis menggunakan kegunaan sebagai kriteria, sehingga bisa disebut teori kebenaran praktis.

    1. KETERBATASAN ILMU

Hubungan antara filsafat dengan ilmu yang dapat terintegrasi dalam filsafat ilmu, dimana filsafat mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan ilmu, menunjukan adanya keterbatasan ilmu dalam menjelaskan berbagai fenomena kehidupan. Disamping itu dilingkungan wilayah ilmu itu sendiri sering terjadi sesuatu yang dianggap benar pada satu saat ternyata disaat lain terbukti salah, sehingga timbul pertanyaan apakan kebenaran ilmu itu sesuatu yang mutlak ?, dan apakah seluruh persoalan manusia dapat dijelaskan oleh ilmu ?. pertanyaan-pertanyaan tersebut sebenarnya menggambarkan betapa terbatasnya ilmu dalam mengungkap misteri kehidupan serta betapa tentatifnya kebenaran ilmu.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, ada baiknya diungkapkan pendapat para akhli berkaitan dengan keterbatasan ilmu, para akhli tersebut antara lain adalah :

    1. Jean Paul Sartre menyatakan bahwa ilmu bukanlah sesuatu yang sudah selesai terfikirkan, sesuatu hal yang tidak pernah mutlak, sebab selalu akan disisihkan oleh hasil-hasil penelitian dan percobaan baru yang dilakukan dengan metode-metode baru atau karena adanya perlengkapan-perlengkapan yang lebih sempurna, dan penemuan baru tiu akan disisihkan pula oleh akhli-akhli lainnya.
    2. D.C Mulder menyatakan bahwa tiap-tiap akhli ilmu menghadapi soal-soal yang tak dapat dipecahkan dengan melulu memakai ilmu itu sendiri, ada soal-soal pokok atau soal-soal dasar yang melampaui kompetensi ilmu, misalnya apakah hukum sebab akibat itu ?, dimanakah batas-batas lapangan yang saya selidiki ini?, dimanakah tempatnya dalam kenyataan seluruhnya ini?, sampai dimana keberlakuan metode yang digunakan?. Jelaslah bahwa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut ilmu memerlukan instansi lain yang melebihi ilmu yakni filsafat.
    3. Harsoyo menyatakan bahwa ilmu yang dimiliki umat manusia dewasa ini belumlah seberapa dibandingkan dengan rahasia alam semesta yang melindungi manusia. Ilmuwan-ilmuwan besar biasanya diganggu oleh perasaan agung semacam kegelisahan batin untuk ingin tahu lebih banyak, bahwa yang diketahui itu masih meragu-ragukan, serba tidak pasti yang menyebabkan lebih gelisah lagi, dan biasanya mereka adalah orang-orang rendah hati yang makin berisi makin menunduk. Selain itu Harsoyo juga mengemukakan bahwa kebenaran ilmiah itu tidaklah absolut dan final sifatnya. Kebenaran-kebenaran ilmiah selalu terbuka untuk peninjauan kembali berdasarkan atas adanya fakta-fakta baru yang sebelumnya tidak diketahui.
    4. J. Boeke menyatakan bahwa bagaimanapun telitinya kita menyelidiki peristiwa-peristiwa yang dipertunjukan oleh zat hidup itu, bagaimanapunjuga kita mencoba memperoleh pandangan yang jitu tentang keadaan sifatzat hidup itu yang bersama-sama tersusun, namun asas hidup yang sebenarnya adalah rahasiah abadi bagi kita, oleh karena itu kita harus menyerah dengan perasaan saleh dan terharu.

Dengan memperhatikan penjelasan di atas, nampak bahwa ilmu itu tidak dapat dipandang sebagai dasar mutlak bagi pemahaman manusia tentang alam, demikian juga kebenaran ilmu harus dipandang secara tentatif, artinya selalu siap berubah bila ditemukan teori-teori baru yang menyangkalnya. Dengan demikian dpatlah ditarik kesimpulan berkaitan dengan keterbatasan ilmu yaitu :

  1. ilmu hanya mengetahui fenomena bukan realitas, atau mengkaji realitas sebagai suatu fenomena (science can only know the phenomenal, or know the real through and as phenomenal – R. Tennant)
  2. Ilmu hanya menjelaskan sebagian kecil dari fenomena alam/kehidupan manusia dan lingkungannya
  3. kebenaran ilmu bersifat sementara dan tidak mutlak

keterbatasan tersebut sering kurang disadari oleh orang yang mempelajari suatu cabang ilmu tertentu, hal ini disebabkan ilmuwan cenderung bekerja hanya dalam batas wilayahnya sendiri dengan suatu disiplin yang sangat ketat, dan keterbatasan ilmu itu sendiri bukan merupakan konsern utama ilmuwan yang berada dalam wilayah ilmu tertentu.

    1. MANFAAT MEMPELAJARI FILSAFAT ILMU

Filsafat ilmu berusaha mengkaji hal tersebut guna menjelaskan hakekat ilmu yang mempunyai banyak keterbatasan, sehingga dapat diperoleh pemahaman yang padu mengenai berbagai fenomena alam yang telah menjadi objek ilmu itu sendiri, dan yang cenderung terfragmentasi. Untuk itu filsafat ilmu bermanfaat untuk :

  • Melatih berfikir radikal tentang hakekat ilmu
  • Melatih berfikir reflektif di dalam lingkup ilmu
  • Menghindarkan diri dari memutlakan kebenaran ilmiah, dan menganggap bahwa ilmu sebagai satu-satunya cara memperoleh kebenaran
  • Menghidarkan diri dari egoisme ilmiah, yakni tidak menghargai sudut pandang lain di luar bidang ilmunya.

PERTANYAAN UNTUK BAHAN DISKUSI

  1. mengapa ilmu memerlukan telaahan kritis dan radikal dari filsafat?
  2. Jelaskan hubungan filsafat dengan ilmu ?
  3. jelaskan makna filsafat ilmu?
  4. apa yang dimaksud dengan pernyataan bahwa filsafat ilmu merupakan refleksi sekunder?
  5. jelaskan dampak dari perkembangan ilmu yang tidak memperhatikan dimensi etika?
  6. jelaskan bagaimana ilmuwan Muslim menyikapi berbagai perkembangan ilmu yang terjadi belakangan ini?
  7. Jelaskan bagaimana pandangan Thomas Kuhn mengenai revolusi ilmiah?
  8. Jelaskan ciri utama  dan paradigma dari ilmu modern?
  9. jelaskan lingkup dan bidang kajian filsafat ilmu?
  10. jelaskan persesuaian dan perbeaan antara filsafat dengan ilmu?
  11. Jelaskan hubungan antara Filsafat, Ilmu dan Filsafat ilmu?
  12. jelaskan pengertian Ontologi, epistemologi dan axiologi?
  13. Jelaskan posisi filsafat ilmu dalam epistemologi?
  14. Jelaskan apa yang dimaksud dengan kebenaran dan teori-teori kebenaran?
  15. jelaskan apa yang dimaksud dengan keterbatasan ilmu, dan apa saja pokok-pokok keterbatasannya
  16. Jelaskan dengan bahasa sendiri manfaat mempelajari filsafat ilmu, dan bagaimana aplikasinya bagi kehidupan saudara?
  17. jelaskan apa yang sedang Saudara fikirkan pada saat membaca soal nomor tujuh belas?

D A F T A R    P U S T A K A

Abu Ahmadi. 1982. Filsafat Islam. Semarang. Toha Putra.

Abubakar Aceh, 1982. Sejarah Filsafat Islam, Surakarta. Ramadhani Sala

Achmad Charris Zubair. 2002. Dimensi Etik dan Asketik Ilmu Pengetahuan Manusia. Yogyakarta. LESFI.

Ahmad Fuad Al Ahwani, 1985. Filsafat Islam. Jakarta. Pustaka Firdaus.

Ahmad Syadali & Mudzakir, 1997. Filsafat Umum, Bandung. Pustaka Setia

Ahmad Tafsir.1992. Filsafat Umum. Bandung. Remaja Rosdakarya.

Al Ghazali, 1986. Tahafut Al Falasifah, Kerancuan Para Filosuf. Jakarta. Pustaka Panjimas. (terj. Ahmadie Thaha)

———–, tt. Mi’yarul Ilmi, Beirut. Darul Fikri

———–,1978. Al Munqidzu Min Addolal, Jakarta. Tintamas. (terj. Abdulah Bin Nuh

A. Epping O.F.M. et al. 1983. Filsafat Ensie. Bandung Jemmar.

Ahmad Daudy. 1984. Segi-segi Pemikiran Filsafi dalam Islam, Jakarta. Bulan Bintang.

A. Sonny Keraf, Mikhael Dua. 2001. Ilmu Pengetahuan, Yogyakarta. Kanisius.

Abubakar Aceh. 1982. Sejarah Filsafat Islam, Sala. Ramadhani

Bertrand Russel. 2002. Persoalan-persoalan seputar Filsafat. Yogyakarta. IKON, (terj. Ahmad Asnawi)

Anton Bakker, A.C. Zubair, 1990. Metodologi Penelitian Filsafat, Yogyakarta. Kanisius.

Ayn Rand. 2003. Pengantar Epistemologi Objektif. Yogyakarta. Bentang Budaya (terj. Cuk Ananta Wijaya)

Beerling, et.al. 1997. Pengantar Filsafat Ilmu, Yogyakarta. Tiara Wacana.

C.A. Van Peursen, Orientasi di Alam Filsafat, Jakarta. Gramedia

Descartes, 2003. Diskursus Metode, terj. A.F. Ma’ruf, Yogyakarta, IRCiSoD.

Donny Gahral Adian, 2002. Menyoal Objektivisme Ilmu Pengetahuan. Jakarta. Teraju.

Endang Saifudin Anshori. 1979. Ilmu, Filsafat dan Agama, Surabaya: Bina Ilmu,

Frithjof Schuon. 1994. Islam dan Filsafat Perenial. Bandung. Mizan. (terj. Rahmani Astuti)

Fuad Hasan. 1985. Berkenalan dengan Eksistensialisme. Jakarta. Pustaka Jaya.

———-,1986. Apologia, Pidato Pembelaan Socrates yang diabadikan Plato (saduran). Jakarta. Bulan Bintang

———-. 1977. Heteronomia. Jakarta. Pustaka Jaya

Harun Nasution, 1978. Filsafat dan Mistisisme dalam Islam, Jakarta.  Bulan Bintang

———-. 1979. Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya. Jakarta. UI Press

H.C. Webb, 1960. Sejarah Filsafat, Jogjakarta, Terban Taman 12.

H.M. Rasjidi, 1970. Filsafat Agama, Jakarta: Bulan Bintang,

Harold H Titus. 1959, Living  issues in philosophy, New York, American Book

Harry Hamersma. 1984. Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern. Jakarta. Gramedia.

Husain Heriyanto. 2003. Paradigma Holistik. Bandung. Teraju

Ismaun, 2000. Catatan Kuliah Filsafat Ilmu (Jilid 1 dan 2), Bandung. UPI

Jujun S Suriasumantri, 1996. Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer, Jakarta Pustaka Sinar Harapan,

———-,1996. Ilmu dalam Perspektif. Jakarta. Yayasan Obor

JWM. Bakker, SY. 1978. Sejarah Filsafat dalam Islam, Yogyakarta. Kanisius.

K. Berten,  1976. Ringkasan Sejarah Filsafat, Yogyakarta. Kanisius

———-, 1990. Sejarah Filsafat Yunani, Yogyakarta. Knisius

Keith Wilkes, 1977. Agama dan Ilmu Pengetahuan, Jakarta. Yayasan Cipta Loka Caraka.

Koentjaraningrat. et. al 1991. Metode-Metode Penelitian Masyarakat. Jakarta. Gramedia

Lengeveld. Tt. Menuju ke Pemikiran Filsafat, terj. G.J. Claessen, Jakarta, PT Pembangunan.

Louis Leahy. 1984. Manusia Sebuah Misteri. Sintesis Filosofis tentang Makhluk Paradoksal. Jakarta. Gramedia

Mahdi Ghulsyani. 1995. Filsafat Sains menurut Al Qur’an. Bandung. Mizan (terj. Agus Effendi)

M. Arifin. 1995. Agama, Ilmu dan Teknologi. Jakarta. Golden Terayon Press.

Mohamud Hamid Zaqzuq. 1987. Al Ghazali. Sang Sufi Sang Filosof. Bandung. Pustaka. (terj. Ahmad Rofi’ Utsmani)

Maurice Mandelbaum, et al. 1958, Philosophic Problems, New York,Mc Millan Co,

M.A.W. Brouwer. 1983. Psikologi Fenomenologis. Jakarta. Gramedia

Mehdi Ha’iri Yazdi.1994. Ilmu Huduri, Prinsip-prinsip Epistemologi dalam Filsafat Islam. Bandung. Mizan

Mohammad Hatta. 1964. Alam Pikiran Yunani (Jilid 1 dan 2). Jakarta. Tintamas

M.T. Zen (ed). Sains, 1981 Teknologi dan Hari depan Manusia. Jakarta. Gramesia

Muhammad Baqir Ash Shadr. Falsafatuna, Bandung. Mizan. (terj. M. Nur Mufid Bin Ali)

Murthadho Muthahhari, 2002. Filsafat Hikmah, Bandung. Mizan

Nurcholis Madjid. 1978. Khazanah Intelektual Islam. Jakarta. Bulan Bintang

Oemar Amin Hoesen. 1964. Filsafat Islam. Jakarta. Bulan Bintang

Osman Bakar. 1998. Hierarki Ilmu. Membangun Rangka Pikir Islamisasi Ilmu. Bandung. Mizan (terj. Purwanto)

Partap Sing Mehra, 2001. Pengantar Logika Tradisional. Bandung. Putra Bardin.

Pervez Hoodbhoy. 1997. Islam dan Sains. Pertarungan menegakan Rasionalitas. Bandung. Pustaka. (trj.Luqman)

Poedjawijatna, 1980. Pembimbing ke arah Alam Filsafat, Jakarta. PT Pembangunan.

———-,1975. Filsafat Sana – Sini (jilid 1 dan 2). Yogyakarta. Yayasan Kanisius

Sastrapratedja. (ed). 1982. Manusia Multi Dimensional. Jakarta. Gramedia

Sidi Gazalba, 1976. Sistimatika Filsafat (Jilid 1 sampai 4), Jakarta. Bulan Bintang

———-,1978. Ilmu, Filsafat dan Islam, tentang Manusia dan Agama. Jakarta. Bulan Bintang

Sindhunata.1982. Dilema Usaha Manusia Rasional, Jakarta. Gramedia.

Siti Handaroh. et.al. 1998. The Qur’an and Philosophic Reflections. Yogyakarta. Titian Ilahi Press.

Soerjanto & K. Bertens. 1983. Sekitar Manusia. Bunga Rampai tentang Filsafat Manusia. Jakarta. Gramedia

Sudarto, 1996. Metodologi Penelitian Filsafat, Jakarta. RajaGrafindo.

Sutan Takdir Alisjahbana, 1981. Pembimbing ke Filsafat, Jakarta, Dian Rakyat.

———– et al. 2001. Sumbangan Islam kepada Sains dan Peradaban Dunia, Jakarta. Nuansa.

———–, 1986. Antropologi Baru, Jakarta, Dian Rakyat.

Whitehead. Alfred North. 1960. Science and The Modern World.New York. The New American Library of World Literature.

PENGANTAR FILSAFAT ILMU/UHAR SUHARSAPUTRA

METODE BERPIKIR DIALEKTIK

METODE BERPIKIR DIALEKTIK

  1. A. METODE BERPIKIR DIALEKTIK
    1. 1. Latar belakang sejarah Materialisme Dialektik

Sebagaimana kita telah ketahui, bahwa Materialisme Dialektik bersumber pada filsafat klasik Jerman abad ke 19, atau dengan kata lain, Materialisme Dialektik (MD) adalah pengembangan lebih lanjut dari filsafat klasik Jerman. Pada masa itu, Fisafat klasik Jerman merupakan filsafat yang paling maju di Eropa. Mengapa tidak di Inggris atau Perancis yang tingkat perkembangan masyarakatnya jauh lebih maju dari pada di Jerman, tentunya bukan hal yang kebetulan.

Pada abad ke 19, kapitalisme mulai berkembang di Jerman, kaum borjuis Jerman berada di telapak kaki kekuasaan feodal Kaum Jongker. Sementara di Inggris dan Perancis, kapitalisme berkembang lebih maju dibandingkan Jerman. Borjuasi kedua negeri itu sudah berhasil menumbangkan kekuasaan feodal sementara borjuis Jerman membutuhkan sebuah filsafat sebagai sebuah senjata ideologis yang mampu memberikan bimbingan dan pimpinan dalam perjuangan melepaskan dekapan Kaum Jonger. Begitulah dapat dikatakan bahwa Filsafat klasik Jerman di abad ke 19 justru merupakan proses perkembangan dari perjuangannya untuk mendapatkan  senjata ideologi itu.

Pada batas-batas tertentu perjuangan klas antara kaum feodal dan kaum borjuis lebih berat daripada apa yang terjadi sebelumnya di Inggris dan Perancis. Alasannya, baik kaum feodal maupun kaum borjuis yang berkuasa di Jerman, masing-masing telah dapat menarik pelajaran dari pengalaman sejarah perjuangan klas dari negeri-negeri tersebut (Inggris dan Perancis). Sementara itu perkembangan kapitalisme yang tak mungkin terhindarkan, telah melahirkan suatu klas baru, yaitu klas pekerja. Kelas pekerja ini semakin tumbuh membesar dan kuat dan menjadi musuh utama klas borjuis dalam masyarakat kapitalis di Jerman. Ditambah lagi dengan Gerakan kaum buruh yang sudah mulai bangkit di negri-negeri lain seperti Inggris, Perancis dsb., mempengaruhi alam pikiran kaum borjuis Jerman.

Sudah tentu disamping itu semua, ilmu pengetahuan dan tehnologi yang berkembang pesat. Hal itu tidak lain berkat kemajuan kapitalisme di capai. Kemajuan tersebut  yang kemudian menentukan perkembangan dunia pikiran dan filsafat. Dalam situasi demikian, pada satu pihak kaum borjuis Jerman berkepentingan menumbangkan kekuasaan feodal untuk mengembangkan kapitalisme, sedang di pihak lain mereka juga mengkuatirkan ancaman kebangkitan gerakan klas proletar. Situasi demikian menimbulkan keraguan dalam diri mereka. Hal ini jelas tercermin dalam filsafat klasik Jerman yang muncul.Gambaran yang konkrit misalnya dari filsafat dualisme Kant yang kompromis, filsafat Hegel yang Dialektik tapi idealis, sampai ke filsafat Feuerbach yang materialis tapi mekanis dan tak konsekwen.

Sebagaimana kita ketahui, tokoh-tokoh yang berhubungan erat dengan kelahiran Materialisme Dialektik adalah Hegel dan Feuerbach. Hegel berjasa dalam mensistimatisir fikiran-fikiran dialektis yang terdapat sepanjang sejarah filsafat, ini yang menunjukkan bagian progresip dari filsafatnya, namun Dialektikanya Hegel lebih  berdasarkan idealisme dimana filsafatnya menunjukkan segi yang reaksioner. Menurut Hegel, gejala alam dan sosial adalah perwujudan dari ‘ide absolut yang senantiasa bergerak dan berkembang. Marx berpendapat bahwa Dialektika Hegel itu berjalan dengan kaki di atas dan kepala di bawah.

Filsafat Feuerbach adalah filsafat materialis mekanis yang pernah menjadi senjata ideologis kaum borjuis Perancis dalam revolusi abad 18. Sungguh pun demikian, adalah juga Feuerbach, yang berani menghidupkan kembali Materialisme dan mengibarkannya tinggi-tinggi di tengah lautan idealisme yng menguasai seluruh Eropah pada abad itu. Dengan pemikiran Materialisme yang terbatas, Feuerbach mengkritik agama Katholik yang berkuasa pada saat itu, karena mereka tak lebih dari kuroptor dan alat negara kerajaan pada saat itu. Dari pemikirannya itu pula muncul ide untuk mendirikan sebuah agama baru diatas bumi yang nyata, bukan di awang-awang. Ini justru menunjukkan ketidak konskwenan pandangan Materialisme Feuerbach.

Marx secara kritis mengubah Dialektika Hegel yang idealis menjadi Materialis, dan Materialisme Feuerbach yang mekanis (non-dialektis) menjadi dialektis. Dengan demikian terciptalah suatu sistim filsafat Materialisme Dialektik.

Berdasarkan sistim filsafat Materialisme Dialektik, Marx mengadakan penyelidikan dalam bidang sejarah, menelaah sejarah perkembangan masyarakat manusia sehingga lahirlah apa yang dikenal Materialime Historis atau pandangan tentang sejarah secara materialis. Menurut Materialisme Historisnya, Marx menggambarkan bahwa masyarakat berkembang menurut hukum-hukumnya dan tidak dapat ditentukan oleh ide atau kehendak seseorang atau golongan. Dan menurut hukum-hukum perkembangan masyarakat yang objektip ini, terutama hukum yang menguasai masyarakat kapitalis, Marx berkesimpulan bahwa masyarakat kapitalis pasti akan tumbang dan akan diganti oleh masyarakat yang lebih maju. Ini adalah suatu keharusan sejarah. Dan keharusan sejarah ini akan diwujudkan dan hanya dapat diwujudkan oleh klas pekerja, ksum proletar. Klas pekerja sebagai kelompok mayoritas dan paling tertindas itu telah mendapatkan filsafatnya sebagai senjata ideologis yaitu Materialisme Dialektika. Dan Materialisme Dialektika mendapatkan kekuatan realnya pada Klas pekerja.

2. Kenyataan Objektif  di Dunia Adalah  Material

Sama seperti filsafat materialis lainnya, Materialisme Dialektik pertama-tama mengakui, bahwa materi atau kekeberdaan (being) adalah primer sementara idea atau pikiran adalah sekunder. Materi yang dimaksudkan disini tidak berarti hanya benda tapi segala sesuatu yang adanya secara nyata (riil), yang dapat ditangkap oleh indera, dilihat, dibaui, didengar, diraba dan dirasakan. Selain itu yang lebih penting lagi bahwa Materialisme Dialektik mengakui materi atau kenyataan objektip itu berada diluar kesadaran subjektif, artinya adanya suatu materi itu tidak ditentukan oleh kesadaran atau pengetahuan kita.

Misalnya, kehidupan ekonomi kapitalis selalu di acam oleh penyebab-penyebab yang hadir tanpa peduli kita menyadarinya atau tidak. Atau, contoh kedua, atom-atom dalam kertas ini sudah ada, disadari atau tidak oleh kita. Hal ini bertolak belakang dengan filsafat idealisme yang hanya mau mengakui suatu hal sebagai suatu kenyataan apabila sudah ia sadari, dengan kata lain  ada atau tidak adanya suatu kenyataan itu ditentukan oleh kesadaran subjektif. Contoh dari filsafat ini, kita baru mengetahui bahwa kita memiliki nafas kalau saat ini kita berhenti sebentar membaca… (silakan berhenti membaca). dan merasakan bahwa ternyata kita mengambil dan mengeluarkan udara lewat hidung. Nafas itu tidak ada kalau kita sadar menghentikan udara agar tidak masuk lagi ke dalam hidung. Nafas itu pun kembali ada , kalau kita menghirup dan mengeluarkan udara lagi. Dari contoh itu kita dapat menyatakan bahwa Inilah ciri dari pandangan idealisme subjektif. Sering secara tidak sadar tergelincir kedalam pandangan yang demikian, hingga jatuh dalam jurang subjektivisme. Berdasarkan contoh tersebut, kubu materialisme akan menjawab bahwa nafas tetap ada, entah kita sadari atau tidak, 5 menit yang lalu.

Dasar material dari pendirian kita menyatakan bahwa idea atau fikiran itu sekunder. Secara khusus adalah sebagai berikut:

a)       Suatu ide atau pikiran mesti dilahirkan oleh suatu    materi    yang dinamakan otak, tanpa otak tak akan ada idea atau  pikiran.

b)      Menurut isinya,  suatu  idea  mesti   merupakan  suatu  pencerminan dari suatu kenyatan objektip atau materi, sekalipun betapa  abstraknya materi itu,   misalnya ide  masyarakat adil makmur, adalah pencerminan yang berpangkal  dari suatu  kenyataan masyarakat   yang  serba tidak adil  dan miskin, hingga menimbulkan angan atau cita-cita akan  sebuah masyarakat yang adil dan makmur.

Dalam mencerminkan kenyataan objektif, ide atau pikiran  tidak hanya seperti sebuah cermin atau alat pemotret yang dapat mencerminkan objek sebagaimana adanya, tapi dapat juga mengembangkannya lebih jauh; menghubungkan, membandingkan dengan kenyataan-kenyataan lain lalu menarik kesimpulan atau keputusan, hingga melahirkan suatu idea untuk merubah kenyataan itu. Peranan aktif ide ini mendapatkan tempat yang sangat penting dalam pandangan Materialisme Dialektik, karena motif berpikir kita pada umumnya untuk memecahkan persoalan atau mengubah kenyataan, dan tidak hanya sekedar mencerminkan kenyataan begitu saja.

Meskipun demikian, ide itu sendiri tidak dapat secara langsung mengubah kenyataan atau keadaan, dan untuk dapat mewujudkannya ide memerlukan dukungan kekuatan material. Dan seterusnya kekuatan material inilah yang secara kongkrit mengubah kenyataan atau keadaan tersebut Gagasan Indonesia tidak akan dapat menjadi kenyataan apabila tak dapat menghimpun dan menggerakkan Rakyat Indonesia untuk me-wujudkannya. Kegunaaan praktis dari prinsip pertama filsafat Materialisme Dialektik adalah, bahwa dalam menghadapi suatu persoalan kita harus bertolak dari kenyataan objektif sebagaiman adanya, bukan dari dugaan atau pikiran subjektif kita. Dan dengan pengetahuan kita yang lengkap mengenai kenyataan itu kita baru dapat menyusun suatu ide atau cara yang tepat untuk pemecahannya.

3. Dunia Kenyataan Objektip Merupakan Suatu Kesatuan Organik.

Dunia materiil atau kenyataan objektip merupakan suatu kesatuan organik, artinya setiap gejala atau peristiwa yang terjadi di dunia sekeliling kita, tidak berdiri sendirian, tapi saling berhubungan satu dengan yang lainnya. seperti tubuh kita, setiap bagian badan mempunyai saling hubungan dengan bagian badan lainnya secara tak terpisah.

Oleh karena itu, sebuah gejala dapat dimengerti dan diterangkan kalau dipandang dalam hubungannya dengan keadaan-keadaan yang tak terpisahkan dengan gejala-gejala disekelilingnya, sebagai gejala-gejala yang ditentukan oleh gejala-gejala disekitarnya. Pertumbuhan padi hanya dapat dimengerti hanya bila kita mengetahui saling hubungannya dengan keadaan tanah, air, dan matahari dsb. yang ada disekitarnya; disamping keadaan saling hubungan antara bagian-bagian dari pohon padi tadi yaitu, akar, batang, daun, dsb. Saling hubungan antara gejala-gejala di sekitar kita itu banyak corak dan ragamnya, ada yang langsung dan ada yang tak langsung; ada saling hubungan yang penting dan yang tak penting; ada saling hubungan keharusan dan kebetulan dsb. Semua harus dipelajari dan dapat dibedakan. Terutama saling hubungan keharusan dan yang kebetulan. Salah satu bentuk saling hubungan kausal atau sebab-akibat. Dan kita hanya dapat memahami sesuatu hal apabila kita mengetahui sebab dan syarat-syarat serta faktor yang melahirkan hal-hal tersebut.

Dengan mengenal baik saling hubungan internal suatu hal-ikhawal, serta saling hubungannya dengan keadaan sekeliling (ekstern), kita tidak hanya dapat memahami sifat dan kualitasnya, tapi juga dapat mengetahui hukum-hukum yang menguasai perkembangannya. Dengan mengenal baik saling hubungan antar klas yang barada dalam masyarakat kita serta hubungannya dengan dunia sekitar sebagai keseluruhan, kita dapat memahaami watak masyarakat kita. Materialisme Dialektika memandang suatu hal ikhwal tidak secara terpisah dari hubungannya dengan keadaan sekitarnya. Supaya kita saling mengenal baik saling hubungan kenyataan disekitarnya. sehingga kita dapat mengetahui hukum yang menguasainya. Dan hanya berdasarkan hukum-hukum yang kita ketahui, kita dapat mengubah hal ikhwal tersebut.

4. Dunia Kenyataan Objektip Senantiasa Bergerak Dan Berkembang

Materialisme dialektis selanjutnya menunjukkan bahwa, dunia materi atau kenyataan objektip itu senantiasa dalam keadaan bergerak dan berkembang terus menerus. Keadaan diam atau statis, hanya bersifat sementara atau relatif, disebabkan karena kekuatan didalamnya serta hubungannya dengan kekuatan-kekuatan yang ada di sekitarnya dalam keadaan seimbang. Misalnya air dalam satu panci, dalam keadaan temperatur dan tekanan udara yang bias, nampaknya diam, padahal molukel-molukel air itu dalam keadaan bergerak, hanya saja dalam kecepatan yang rendah dan stabil, dan tak dapat dilihat dengan mata telanjang. Demikian juga kekuatan-kekuatan antara air dengan dinding-dinding panci itu, tapi setelah panci dipanasi maka gerakan-gerakan molukel air makin cepat hingga makin nampak geraknya, akhirnya sampai pada 100 derajat celsius. Pecahlah keseimbangan mereka hingga air berubah menjadi uap dan meninggalkan panci tersebut.

Materialisme dilalektika tidak hanya berpendapat, bahwa materi itu senantiasa dalam keadaan bergerak dan berkembang, tapi juga berpendapat bahwa gerak materi itu adalah gerak sendiri, bukan digerakkan oleh kekuatan diluarnya. Gerak bumi kita adalah gerak sendiri, bukan digerakkan oleh “gerak pertama”, sebagaimana yang dikemukakan Newton, Yang pada hakekatnyanya adalah pandangan idealisme — “gerak pertama” itu digerakkan Tuhan.

Materialisme Dialektika lebih lanjut menjelaskan, bahwa gerak materi banyak ragamnya, tidak terbatas pada gerak mekanis saja, yang hanya membawa perubahan kuantitas, juga bukan gerak lingkaran setan atau gerak berulang-ulang yang tetap. Setiap materi mempunyai bentuk gerakan sendiri. Berpikirpun merupakan suatu gerak dari materi tertentu yang kita sebut otak. Sungguhpun gerak mempunyai banyak bentuk, mereka pada umumnya berada dalam proses perkembangan “tumbuh, hilang berganti” di mana sesuatu itu senantiasa timbul dan berkembang, dan sesuatu itu senantiasa rontok dan mati; senantiasa dalam ‘gerak yang maju dan naik’, sebagai peralihan dari keadaaan kualitatif yang lama ke kualitatif yang baru, perkembangan dari yang sederhana ke yang rumit, dari yang rendah ke yang lebih tinggi.

Materialisme Dialektik juga menjelaskan bahwa gerak materi itu tidak tergantung atau ditentukan oleh keinginan atau kehendak subjektif manusia, melainkan menurut hukum-hukum yang menguasainya. Setiap hal yang khusus mempunyai hukum-hukum gerak yang khusus. Hukum perkembangan dunia tumbuhan berlainan dengan hewan; hukum perkembangan masyarakat desa berlainan dengan yang di kota. Hukum-hukum gerak itu disebut hukum Dialektika. Disamping hukum-hukum Dialektika yang berlaku khusus dari hal-hal yang khusus, sudah tentu juga ada hukum-hukum yang berlaku umum, yang berlaku buat semua hal. Prinsip-prinsip Dialektika secara praktis mengajar kita agar supaya selalu berpandangan ke depan, jangan selalu ke belakang, supaya selalu berorientasi pada hal-hal atau kekuatan yang sedang tumbuh dan berkembang, jangan pada sesuatu yang sedang lapuk atau mati. Dengan kata lain, supaya kita selalu berpandangan progresif revolusioner.

B. DIALEKTIKA MATERIALISME

  1. 1. Hukum Dialektika dan Metode Dialektika

Apakah metode Dialektika itu?, Metode ini memandang, menyelidiki dan menganalisa segala hal-hal yang kongkrit kita hadapi, dengan menggunakan dasar-dasar hukum-hukum Dialektika yang berlaku secara objektif, oleh karena, metode Dialektika itu sebetulnya tergantung oleh dua hal subjektif  yaitu:

a)       Lengkap tidaknya, tepat tidaknya, pengetahuan seseorang tentang hukum Dialektika,

b)      Banyak atau sedikitnya pengalaman dia dalam praktek menggunakan metode tersebut, atau dengan perkataan lain sejauhmana ketrampilan dia menggunakannya.

Dengan mengetahui secara jernih tentang perbedaan atau hukum Dialektika yang objektif dengan metode Dialektika yang subjektif, kita dapat memiliki kegunaan secara praktis sbb:

a)       Kita hendaknya terus melatih pandangan Dialektika materialis kita, selain dengan rajin mempelajari teori-teori revolusioner dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan umum secara cermat, juga dan terutama ikut terjun dalam praksis, terjun dalam kancah perjuangan massa rakyat revolusioner.

b)      Melatih cara pandang dengan menggunakan metode Dialektika, meneliti dan menganalisa, me-mecahkan setiap hal yang kita hadap, misalnya dengan jalan berusaha mengenal sesuatu hal seobjektif mungkin  dan selengkap mungkin, mengumpulkan  data dan  mendiskusikannya dengan kawan-kawan, dengan mengadakan dialog dengan massa rakyat, memperhatikan pendapat orang lain, mempelajari tulisan, analisa atau karya-karya ilmiah orang lain, berusaha untuk mampu mengadakan penyimpulan atau analisa serta menguraikan secara sistimatis baik dengan lisan maupun tulisan.

Orang menggunakan metode Dialektik berdasarkan hukum umum Dialektik, sebagai pedoman untuk mendekati, mengenal dan menganalisa hal-hal yang khusus dan kongkrit, dan untuk menemukan hukum-hukum Dialektik yang khusus untuk menguasai hal-hal tertentu tersebut. Sifat hukum Dialektik yang umum itu abstrak, ia merupakan abstraksi dari hukum-hukum Dialektika yang khusus dan kongkrit, dalam dunia kenyataan yang kongkrit. Hukum umum Dialektik itu sebenarnya tidak ada, yang ada hanyalah hukum-hukum Dialektik yang khusus dan kongkrit. Setiap hal atau soal mempunyai hukum Dialektiknya sendiri yang khusus dan  kongkrit.

Karena itu, memecahkan suatu persoalan tertentu berarti memecahkan atau menemukan dan memahami secara tepat hukum Dialektikanya yang khusus mengenai persoalan itu. Sedangkan hukum-hukum yang umum hanyalah pedoman. Seperti apa yang pernah dikatakan oleh orang-orang revolusioner sepanjang sejarah pergerakan rakyat: jangan banyak bicara umum dan abstrak, tapi pecahkan sesuatu hal secara khusus dan kongkrit.

2. Hukum  Umum  Dialektika Yang  Pertama:  Kesatuan Dari Segi-Segi  Yang  Berlawanan

Dalam “anti duhring”, Engels mengemukakan tiga hukum umum Dialektika. Hukum Dialektika yang pertama, Kesatuan dari segi-segi yang belawanan atau kontradiksi, menunjukkan bahwa gerak dunia materiil atau dunia kenyataan objektip ada karena segi-segi, faktor-faktor yang berlawanan dalam dirinya. Oleh karena itu menurut arti sebenarnya, ‘Dialektika adalah studi tentang kontradiksi di dalam hakekat segala sesuatu itu sendiri’.

Dengan kata lain  hukum kontradiksi itu adalah jiwanya Dialektika. Tanpa adanya kontradiksi intern, berarti tidak ada gerak dan perkembangan. berarti tidak ada hal ikhwal itu sendiri.

a)       Pengertian tentang Kontradiksi.

Dalam pengertian filsafat, sangatlah luas, tidak sebatas pada segi-segi yang saling berlawanan atau bertentangan, tapi segi yang berlainan dan berbeda sekalipun termasuk dalam kontradiksi.

b)      Keumuman Kontradiksi

Ada dua pengertian: pertama, bahwa di dalam segala hal terdapat segi-segi yang berkontradiksi. Kedua, bahwa di dalam segala hal dalam seluruh proses perkembangannya, dari satu tingkat ke tingkat yang lain selalu terdapat kontradiksi di dalamnya. Setelah satu kontradiksi pada suatu tingkat perkembangan selesai, timbullah kontradiksi baru pada tingkat perkembangan yang baru. Begitu seterusnya tiada habis-habisnya. Arti praktis dari pengertian keumuman kontradiksi ini adalah bahwa kita tak boleh melarikan diri dari kontradiksi atau persoalan, bahwa kita tak boleh merasa jemu atau jera menghadapi dan memecahkan kontradiksi (persoalan). Di dunia ini tidak ada satu hal atau masalah yang dapat dengan satu kali diselesaikan untuk selama-lamanya, tanpa timbul persoalan baru.

c)       Kekhususan Kontradiksi

Mempunyai dua pengertian, pertama bahwa di dalam setiap hal terdapat kontradiksinya sendiri secara khusus, yang berbeda dengan kontradiksi di dalam hal yang lain. Kedua, bahwa suatu hal dalam proses perkembangannya, maka di setiap tingkat perkembangannya terdapat kontradiksinya yang khusus, sehingga kita dapat membedakan tingkat perkembangannya yang satu dengan yang lain. Misalnya dalam proses perkembangan kupu-kupu, kontradiksi yang terkandung pada tingkat perkembangannya sebagai telur berbeda dengan yang pada tingkat perkembangannya sebagai ulat, dan seterusnya. Pengertian ini mempunyai arti praktis, bahwa sekali lagi kita dalam mengenal dan memecahkan persoalan harus secara kongkrit, tidak boleh secara umum dan garis besar saja, tidak boleh asal menjiplak saja. Cara pemecahan suatu persoalan tertentu tak dapat digunakan mentah-mentah untuk memecahkan persoalan yang lain. Demikian juga pemecahan untuk suatu tingkat perkembangan tertentu dari suatu persoalan tak dapat dipakai begitu saja untuk pemecahan tingkat perkembangannya yang lain.

d)      Kontradiksi Dasar.

Dalam suatu materi atau kenyataan objektif terdapat lebih dari satu kontradiksi. Kontradiksi atau kontradiksi-kontradiksi yang menentukan kualitas suatu materi atau kenyataan objektif, atau dengan perkataan lain, yang menentukan adanya materi atau kenyataan objektif itu, disebut kontradiksi atau kontradiksi-kontradiksi dasar. Perubahan kontradiksi dasar berarti terjadi perubahan dari kualitas yang satu menjadi kualitas yang lain, berarti terjadinya suatu perubahan dari suatu materi pertama menjadi materi yang lain. Misalnya, Penghisapan kaum kapitais terhadap kaum buruh merupakan suatu kontradiksi dasar dari masyarakat kapitalis, dan dengan lenyapnya kontradiksi itu berarti lenyaplah pula masyarakat kapitalis yang berubah menjadi masyarakat yang lain.

Arti praktis dari pengertian ini ialah, kita hanya bisa mengambil sesuatu hal dengan baik, apabila kita mengetahui dengan jelas apa kontradiksi dasarnya. Hanya dengan demikian kita akan mengetahui dengan jelas pula suatu hal itu mengalami perubahan yang kualitatif ataukah tidak, juga dengan hanya demikian kita baru bisa mengusahakan untuk mengubahnya.

e)       Kontradiksi Pokok Atau Kontradiksi Utama

Pada setiap tingkat perkembangan sesuatu hal, tidak semua kontradiksi yang terkandung memainkan peranan yang sama. Diantaranya pasti ada satu dan hanya satu kontrdiksi yang memainkan peranannya yang paling menonjol. Kontradiksi ini disebut kontradiksi pokok atau utama. Misalnya, kontradiksi antara rakyat Indonesia (terutama rakyat pekerja) dengan kaum penjajah kolonial sebelum kemerdekaan 45 merupakan kontradisi pokok dalam masyarakat Indonesia pada tahap itu. Arti praktis dari ini adakah bahwa kita harus dapat mengenal kunci persoalan atau kontradiksi pokok ini, maka kontradiksi-kontradiksi lainnya dapat diselesaikan dengan lebih mudah. Tanpa memecahkan kontradiksi antara rakyat Indonesia dengan penguasa kolonial, kita tidak akan dapat menyelesaikan kontradiksi antara kaum petani dengan tuan-tuan feodal, suatu klas yang dipertahankan oleh sistim kolonial.

f)       Mutasi

Kontradiksi pokok itu tidak tetap kedudukannya. Dalam keadaan dan syarat tertentu bisa diambil alih oleh kontradiksi yang tadinya bukan pokok. Pergeseran atau pergantian ini disebut mutasi kontradiksi pokok. Misalnya kaum imperialis pernah berusaha agar kontradiksi antar daerah atau suku bermutasi menjadi kontradiksi pokok di Indonesia, hingga bangsa kita dapat dipecah belah dan tetap mereka kuasai. Arti praktisnya ialah, bahwa kita harus mengenal baik keadaan atau syarat-syarat yang dibutuhkan oleh suatu kontradiksi hingga dapat bermutasi menempati kedudukan sebagai kontradiksi pokok. Hanya dengan demikian kita baru dapat mendorong/mempercepat atau sebaliknya mencegah/menghambat terjadinya mutasi itu. Hanya dengan mengetahui dengan jelas dan tepat syarat-syarat yang diperlukan telor ayam untuk mendapat menetas menjadi anak ayam, maka manusia dapat menciptakan mesin penetas.

g)      Kedudukan Dua Segi Dalam Suatu Kontradiksi.

Dua segi yang berkontradiksi itu tentu berbeda kualitasnya. diantaranya pasti akan ada yang mewakili kekuatan lama, yang tak mempunyai hari depan, dan segi lainnya mewakili kekuatan baru atau yang sedang tumbuh. Kedudukan mereka dalam proses perkembangan adalah tidak sama pula. Segi lama yang nampak besar dan kuat pada awal perkembangan kontradiksi itu menempati kedudukan yang menguasai dan yang memimpin. Sebaliknya segi yang baru yang semula nampak masih kecil dan lemah, berkedudukan sebagai yang dikuasai dan yang dipimpin. Tapi dalam perkembangan selanjutnya segi baru itu berkembang besar dan makin kuat. sedang segi lama makin lemah dan makin lapuk sehingga suatu saat segi baru yang berkedudukan dipimpin berkembang dan bermutasi menjadi yang memimpin. Ini berarti arah perkembangan kontradiksi itu mengalami perubahan. Kalau tadinya ke kanan misalnya, sekarang ke kiri. Lebih lanjut, segi baru yang tadinya dikuasai sekarang bermutasi ke tempat yang menguasai. Dengan perkataan lain, terjadi perubahan kwalitatip, hal yang lama berubah menjadi yang baru.

Arti praktis dari pengertian itu adalah kita harus selalu berusaha mengenal sebaik-baiknya segi-segi yang berkontradiksi. Baik kualitasnya, maupun kedudukan atau posisinya dalam proses per-kembangannya. Jadi kalau kita mau mengalahkan musuh-musuh rakyat yang tertindas, kita harus mempelajari mendalam mengenai segi-segi dan keadaan musuh dan posisinya, dan dari pihak kita sendiri. Disamping itu, bagi kita yang menginginkan perubahan dan pembebasan, harus selalu berorientasi pada kekuatan-kekuatan yang sedang tumbuh, yang mempunyai hari depan dan syarat-syarat yang diperlukan bagi perkembangannya, agar kita membantu mempercepat pertumbuhannya.

h)      Kesatuannya Relatif, Pertentangannya Mutlak

Apabila kita memperhatikan dua segi dalam suatu kontradiksi maka kita dapat melihat, bahwa dua segi itu sejak dari awal sampai akhir proses perkembangannya selalu bertentangan satu sama lainnya, selalu dalam perjuangan mengenyahkan lawannya tanpa syarat. Artinya pertentangan dua segi itu adalah mutlak, tak peduli dalam keadaan bagaimanapun juga. Kesatuannya bisa terjadi karena kedua segi itu berbeda kualitasnya, dan menempati kedudukan yang berbeda pula dalam kesatuan itu, ada yang menguasai dan ada yang dikuasai. Dan hal ini dikatakan bersifat sementara karena dalam perkembangannya kedua segi itu akan terjadi mutasi, yang semula dikuasai akan menguasai, sehingga terjadi perubahan kualitatif, kesatuan yang lama diganti dengan kesatuan yang baru.

Pengertian ini berarti, sikap kompromi dengan musuh itu relatif sementara (taktis), sedangkan perjuangan melawan musuh itu mutlak (strategis), tetap berlangsung terus, bervariasi dalam bentuk dan bidangnya.

i)        Antagonisme

Dalam kontradiksi hal ini mempunyai dua pengertian: pertama, menurut wataknya ada yang antagonistik, misalnya kaum buruh dan kaum kapitalis, buruh tani lawan tuan-tuan feodal, yang langsung berlawanan kepentingannya. Ada pula kontradiksi yang non-antagonistik.

Kedua, menurut bentuknya perjuangan dari kedua segi yang berkontradiksi ada yang bersifat antagonistik dan ada yang non-antagonistik. Yang dimaksud dengan perjuangan yang non-antagonistik itu adalah perjuangan yang terbuka dan dengan kekerasan. Misalnya perjuangan kaum buruh melawan majikan selama masih dalam bentuk pernyataan protes dan berunding di meja perundingan, atau bahkan merupakan pemogokkan dengan tata tertib, masih dapat digolongkan dalam bentuk perjuangan yang antagonistik. Tetapi kalau sudah terjadi pengambil alihan pabrik atau penindas dan dari majikan dengan kekerasan sehingga terjadi perkelahian, maka perjuangan tersebut disebut perjuangan yang antagonistik. Kontradiksi yang menurut wataknya antagonis belum tentu harus sudah mengambil bentuk perjuangan yang antagonistik, dapat jua masih mengambil bentuk perjuangan  yang non antagonistik. Misalnya kontradiksi antara rakyat dan musuh-musuh rakyat, menurut wataknya adalah antagonistik. Namun bentuk perjuangannya dalam proses perkembangan masih bisa bersifat non-antagnistik misalnya aksi-aksi reform. jadi tidak mutlak sudah harus angkat senjata  atau dengan kekerasan. Semua tergantung pada kondisi  dan situasi serta syarat-syarat kongkrit yang ada. Akan tetapi pada tingkat terakhir di tingkat perkembangannya, pada pokoknya secara mutlak mengambil perjuangan antagonistik. Karena tidak ada penguasa yang rela menyerahkan kekuasaannya dengan suka rela, malah mereka akan mempertahankan dengan kekerasan.

Pengertian  ini mengingatkan kita supaya kita pada satu pilihan memperkuat persatuan kita dengan kelompok progresif lainnya dengan menciptakan dan mempertahankan syarat-syarat yang diperlukan. Dipihak lain kita harus berusaha supaya musuh terus terpencil dari sekutunya dan memperlemah persatuan mereka.

Disamping itu kita harus melihat dengan cermat, bahwa pada keadaan yang bagaimana kita akan mengambil bentuk perjuangan yang antagonistik atau non-antagonistik dalam menghadapi musuh.

3. Hukum Umum  Dialektika ke dua:

a) Perubahan Kuantitatif Ke Perubahan  Kualitatif

Hukum umum Dialektika yang kedua ini menyatakan, bahwa proses perkembangan dunia material atau dunia kenyataan objektip terdiri dari dua tahap. Tahap pertama adalah perubahan kuantitatif yang berlangsung secara perlahan, berangsur atau evolusioner. Kemudian meningkat ketahap kedua, yaitu perubahan kualitatif yang berlangsung dengan cepat, mendadak dalam bentuk lompatan dari satu keadaan ke keadaan lain, atau revolusioner. Perubahan kuantitatif dan perubahan kualitatif merupakan dua macam bentuk dasar dari segala perubahan. Segala perubahan yang terjadi dalam dunia kenyataan objektif itu kalau bukan dalam bentuk perubahan kuantitatif, maka dalam bentuk kualitatif.

1      Pengertian Tentang Kuantitas

Adalah jumlah dalam arti seluas-luasnya tidak terbatas mengenai ruang (banyak-sedikit, besar-kecil, panjang-pendek, tebal-tipis) dan waktu (lama-sebentar, cepat-lambat) saja tapi juga mengenai pikiran dan perasaan (tinggi-rendahnya kesadaraan politik, kuat-lemahnya keyakinan atau ke-percayaan, dalam-dang-kalnya pengetahuan, besar-kecilnya minat atau pengetahuan) sebagai contoh:

Kuantitas-kuantitas tertentu yang dimiliki seorang juara bulu tangkis, selain kuat keadaan fisiknya, stamina, cepatnya gerak, pengalaman bertanding dan latihan dll. Demikian pula bagi seorang kader revolusioner, selain ketentuan-ketentuan formal dalam konstitusi organisasi, seperti umur  dan masa calon anggota, maka yang terpenting lainnya ialah kesadaran klas dan kesadaran politik, yang hal itu terbentuk dari aktivitasnya dalam keterlibatan dalam perjuangan massa rakyat pekerja, dan semangat juangnya yang tinggi. Dari uraian diatas maka dapat dilihat bahwa kuantitas dan kualitas itu tak dapat dipisahkan satu sama lain, kuantitas tertentu membentuk kualitas tertentu pula.

2      Pengertian Tentang Kualitas

Adalah ciri  yang membedakan hal yang satu dengan yang lain. Kita dapat membedakan minyak dari air, demikian jua kita dapat membedakan antara kaum buruh dan kaum tani, antara desa dan kota, karena kualitas mereka berbeda satu dan lainnya. Telah dinyatakan, bahwa kuantitas-kuantitas tertentu yang dimiliki oleh sesuatu hal membentuk dan menunjukkan kualitas tertentu dalam sesuatu hal itu. misalnya, antara ormas kaum buruh dan partai politik klas buruh, mempunyai ketentuan susunan intern yang berlainan, antara lain adalah  keterikatan para anggota dari organisasi massa kaum buruh itu berdasarkan terutama pada kepentingan sosial ekonominya, sedangkan dalam partai buruh, sangat berdasarkan pada cita-cita politiknya. Ketentuan susunan intern mereka secara praktis dinyatakan selengkapnya dalam anggaran dasar organisasi mereka masing-masing dan aktivitas mereka sehari-hari dalam mewujudkan program mereka masing-masing. Jelas kiranya bahwa kualitas yang mencirikan sesuatu hal itu adalah pernyataan dari ketentuan susunan internnya.

3      Perubahan Kuantitatif

Perubahan kuantitatif seperti telah dikemukakan berlangsung secara perlahan-lahan dan tidak menyolok. selama dalam proses perubahan kuantitatif tersebut, kualitasnya nampak tidak berubah. Keadaan itu disebut kemantapan relatif kualitas.

Keadaan kemantapan relatip kualitas tersebut mempunyai batas tertentu. Bila perubahan kuantitatif melampaui batas itu maka rusaklah kemantapan relatip kualitas itu yang berarti kualitasnya mengalami perubahan. Misal, seceret air dibawah tekanan udara biasa, apabila penambahan suhunya tidak melampaui batas 100 derajat celcius, cirinya sebagai cairan masih dapat dipertahankan, tapi bila perubahan suhu melampaui batas itu, maka kualitas cairan mengalami perubahan menjadi uap. Demikian pula perkembangan rakyat revolusioner bila melampaui batas tertentu, akan menjadi suatu revolusi sosial, hingga kualitas masyarakat lama akan disingkirkan oleh masyarakat baru. Oleh karena itu dalam proses perubahan kuantitatif, kualitas nampaknya tidak mengalami perubahan apa-apa, maka seakan-akan perubahan kuantitatif itu tak ada hubungannya dengan kualitas. Dari uraian singkat diatas kita dapat melihat bahwa perubahan kuantitatif adalah persiapan untuk perubahan kualitatif, atau dengan kata lain, bahwa perubahan kualitatif menyelesaikan atau mengakhiri perubahan kuantitatif yang sedang berlangsung, dan menimbulkan atau melahirkan perubahan-perubahan kuantitatif yang baru.

Hal yang sangat sederhana ini perlu ditandaskan karena ada sebagian orang hanya mau mengakui perubahan kuantitatif saja tetapi tidak mengakui adanya perubahan kualitatif. Mereka berpendapat di dunia ini tak ada perubahan yang melahirkan hal yang baru, karena menurut mereka anak ayam itu sejak semula telah berada di dalam telur hanya saja masih terlalu kecil dan tersembunyi di dalam telur hingga tak dapat kita lihat. Kemudian setelah mengalami perubahan kuantitatif, ia tumbuh semakin besar hingga pada saat ia mampu memecahkan kulit dinding telur yang melindunginya dan menampakkan dirinya di dunia ini. Demikian juga kata mereka, bahwa penindasan dan penghisapan oleh manusia atas manusia sudah ada sejak adanya manusia di bumi ini. Kalau semula penindasan dan penghisapan itu dilakukan dengan cara primitif, sederhana, terbuka dan tidak intensif, tepi setelah mengalami perubahan-perubahan kuantitatif maka penghisapan mengambil bentuk yang terselubung, halus dan makin intensif.

Pandangan metafisik (non-dialektis) semacam ini dapat menyesatkan kita. Dia merupakann basis filosofis kesalahan-kesalahan reformis di dalam bidang politik, hingga membuat orang merasa puas dengan hanya perubahan-perubahan reformis atau perbaikkan tambal sulam rakyat pekerja, tanpa menghendaki adanya pembebasan rakyat pekerja dari penghisapan manusia lainnya, tidak menghendaki adanya perubahan revolusioner untuk mengubah sistim masyarakat penindasan. Sudah tentu pandangan filosofis semacam ini menguntungkan dan dipelukan oleh klas-klas penghisap dalam mempertahankan kekuasaan dan penghisapannya. Padahal, satu abad yang lalu Hegel telah mengemukakan dengan tepat, bahwa peralihan dari alam yang tak berperasaan ke alam berperasaan, dari alam an-organik ke alam kehidupan organik, merupakan lompatan keadaan yang baru sama sekali.

Pernyataan Hegel ini bukanlah spekulatif, melainkan berdasarkan pada hasil-hasil pengembangan ilmu pengetahuan pada waktu itu, baik ilmu alam maupun ilmu sosial. Masyarakat komune primitif waktu itu belum mengenal penghisapan manusia oleh manusia dan masyarakat penghisapan ini baru lahir setelah komune primitif ini mengalami keruntuhannya, dimana kerja seseorang dengan alat-alat kerja yang relatif lebih maju dapat menghasilkan hasil lebih, sehingga memungkinkan terjadinya penghisapan atas manusia oleh manusia dan melahirkan sistim pemilikan budak.

Dengan memiliki pengertian, bahwa perubahan-perubahan kuantitatif menyiapkan suatu perubahan kualitatif yang revolusioner, maka kita tak akan mudah terjebak oleh teori-teori seperti: kapitalisme kerakyatan, negara kapitalis yang berorientasi sosialis, perkembangan kapitalisme ke sosialisme secara damai, memperjuangkan masyarakat industri yang non-kapitalis dan non-sosialis dan sebagainya, yang dijajakan oleh teoritikus-teoritikus borjuis dan revisionis.

Sebagaimana selalu diingatkan oleh pejuang-pejuang besar revolusi, bahwa klas penghisap yang berkuasa tak akan pernah dengan sukarela menyerahkan kekuasaannya, bahwa rakyat tertindas harus melakukan perjuangan revolusioner untuk membebaskan dirinya.

4      Perubahan Kualitatif

Sebagaimana telah dikemukan sebelumnya bahwa perubahan kualitatif itu terjadi secara mendadak, cepat dalam bentuk lompatan dari satu keadaan ke satu keadaan lainnya. Sedikit mengulangi tentang telur ayam selama dalam proses perubahan kualitatif dalam masa pengeraman, cirinya yang berbentuk telur itu nampak tepat tak berubah, masih tetap bertahan, atau masih dalam kemantapan relatif. Tetapi begitu perubahan kuantitatif melampaui batas relatif kualitasnya, terjadilah perubahan kualitatif dengan mendadak. Perubahan kuantitatif yang berlangsung dalam telur itu segera berhenti atau terputus, kemantapan relatif kualitasnya sebagai telur tak dapat dipertahankan lagi dan lenyap seketika itu juga. Sebagai gantinya muncullah anak ayam yang ciri atau kualitasnya berlainan dengan telur tadi. Demikianlah kita melihat perubahan dari telur ke anak ayam itu merupakan suatu lompatan yang disebut keterputusan kesinambungan. Artinya terputusnya keadaan kesinambungan perubahan kuantitatif atau kemantapan relatif kualitasnya. Mengenai perubahan kualitatif ini, Engels di dalam bukunya “Dialektika alam” mengemukan bahwa “kimia boleh dikatakan ilmu tentang perubahan kualitatif yang terjadi dalam benda sebagai akibat perubahan kuantitatif komposisinya. Contohnya oksigen atau zat asam apabila molekul itu terdiri dari 3 atom dan bukan 2 sebagaimana biasanya maka kita mendapatkan ozon yaitu suatu benda yang dalam hal bau dan reaksi kimianya sangat berlainan dengan zat asam biasa.”

Kelanjutannya, oleh karena perubahan kualitatif itu terjadi secara mendadak, merupakan lompatan dari suatu lompatan keadaan ke keadaan lainnya, atau terputus sama sekali ke-sinambungannya dengan keadaan sebelumnya, maka ada sementara orang mengira bahwa perubahan kualitatif itu terlepas dari perubahan kuantitatif, tak ada hubungan sama sekali dengan kuantitas atau  perubahan kuantitatif. Mereka tak mau mengeakui perubahan kuantitatif, dan hanya mengakui perubahan kualitatif saja. Meletusnya gunung krakatau satu abad yang lampau hingga gunung tenggelam ke dasar laut, menurut mereka, merupakan perubahan kualitatif yang mendadak tanpa melalui perubahan kuantitatif. Demikian juga mereka menganggap, misalnya meletusnya revolusi ’45 terjadi secara mendadak dalam momentum yang kebetulan, sama sekali tak ada hubungannya dengan perubahan-perubahan kuantitatif sebelumnya, yang berupa gerakan massa rakyat. Katanya lagi, ibarat meletusnya sebuah petasan, yang hanya dengan menyulut sumbunya saja (maksudnya, cukup dengan agitasi atau menghasut massa rakyat)

Pandangan ini juga suatu jenis metafisik, yang dapat menyesatkan kita dengan melakukan kesalahan-kesalahan avonturis dibidang politik, misalnya kendak menyelesaikan suatu revolusi sosial dengan kudeta militer atau avonturisme militer. Padahal pejuang-pejuang besar revolusi, selalu mengingatkan kita bahwa revolusi adalah urusan dan karya rakyat, merupakan puncak dari perjuangan rakyat untuk membebaskan dirinya. Rakyat pekerja tak akan dapat dibebaskan oleh siapapun, kecuali oleh perjuangan mereka sendiri. Kesadaran politik dan organisasional pada rakyat sangat menentukan sebuah revolusi rakyat.

Telah diketahui, bahwa setiap perubahan yang terjadi dalam kuantitas dengan sendirinya menimbulkan perubahan juga dalam kualitas. Sebagai contoh, air yang dipanasi sehingga suhunya meningkat, perubahan kuantitatif ini dengan sendirinya menimbulkan perubahan dalam kualitas atau cirinya. Sebagaimana dapat kita saksikan, misalnya gerak molukel makin cepat, daya kohesi antar molukel makin longgar, hingga kita dapat membedakan air panas dan air dingin. Akan tetapi perubahan semacam ini tidak termasuk dalam pengertian perubahan kualitatif.

b) Materialisme Dialektika

Berbarengan dengan cara pandang materialis dan pengetahuan ilmiah bergerak maju dan menjadi penting pada waktu kebangkitan kapitalisme (abad 17 dan 18) Materialisme mengambil bentuk Materialisme mekanis. Yakni, bahwa alam dan masyarakat dilihat sebagai sebuah mesin raksasa dimana bagian-bagiannnya bekerja secara mekanis. Pandangan ini memudahkan orang memahami bagian-bagian dari sesuatu hal dan bagaimana mereka “bekerja”, tetapi hal ini tidak mampu menjelaskan asal-usul dan perkembangan sesuatu hal.

Namun demikian, akibat perkembangan masyarakat yang cepat pada saat itu, perubahan sesuatu hal tidak bisa diabaikan begitu saja. Ilmu Alam pada jamannya Marx dan Engels membuat lompatan besar dalam memahami perkembangan, memahami perubahan dan transformasi dalam tubuh alam. satu contoh kunci soal ini adalah teori Evolusi Darwin, yang memperlihatkan bagaimana bentuk-bentuk kehidupan bergerak, berubah secara kualitatif sepanjang beberapa tahun. Ilmu Alam kemudian mulai menggunakan konsep Dialektika (paling kurag secara implisit), menegaskan kembali perkembangan, kontradiksi dan transformasi dalam memahami materi dan kehidupan. Seperti yang ditulis oleh Engels,

“alam adalah batu uji Dialektika, dan harus dikatakan bahwa ilmu pengetahuan modern sudah melampaui ujian ini dengan bahan-bahan yng sangat kaya dan melimpah, dan dengan demikian memperlihatkan bahwa pada bagian yang menentukan alam bekerja secara Dialektik…” (anti-duhring).

Namun demikian, perubahan dan perkembangan bukan saja konsep yang penting untuk me-mahami alam, tetapi konsep-konsep ini secara sadar bisa diterapkan atas seluruh area kenyataan, khususnya, perkembangan masyarakat. Marx dan Engels mewarisi periode kamajuan-kemajuan ilmu pengetahuan dan dari filsafat Dialektik Hegel (yang secara berat dipengaruhi oleh idelisme) dan merumuskan pandangan Dialektika materislis secara sistematik.

Prinsip Dialektika dijabarkan dari analisa bagaimana dunia sebenarnya berkembang; jadi bukan sekadar jatuh dari pikiran orang. Jadi Dialektika bukanlah skema yang dipaksakan atas kenyataan, tapi ia merupakan seperangkat prinsip-prinsip ilmiah untuk memudahkan orang memahami kompleksitas perubahan dan perkembangan.

Metode Dialektika hanya dapat dipahami dalam pertentangannya dengan cara pandang metafisik. berikut ini diringkaskan ciri-ciri pokok Dialektika dan melawankannya dengan cara pandang metafisik.

1      Inter-Koneksi Atau Saling Hubungan.

Dunia merupakan kesatuan, keseluruhan yang saling berhubngan dimana semua hal saling berkaitan dan bergantung. Sebaliknya, metafisika melihat bahwa dunia sebagai kumpulan hal yang berdikari, independent, terpisah.

Seorang MD dan metafisika, seabagai misal akan mengambil pendekatan yang berbeda dalam memahami seorang individu. Seorang metafisika akan bertanya apa yang dipirkan orang itu, apa aktivitas mereka, bagaimana penampilannya, apa yang mereka sukai dan apa yang tidak disukai, dan seterusnya. tetapi seorang MD akan berusaha memahami orang tersebut dengan memeriksa hubungannya dengan orang lain dan dunia sekitarnya dan memperlihatkan pengalaman orang tersebut sebagai bagian dari keluarga tertentu, klas tertentu, ras dan masyarakat tertentu.

Arti penting pendekatan yang berbeda-beda ini adalah bahwa  jika metode MD memudahkan menemukan mengapa sesuatu itu dengan menganalisa konteks darimana mereka muncul dan saling hubungan dengan sesuatu yang lain; sementara itu seorang pendekatan metafisika hanya menjelaskannya pada tingkat menggambarkan sesuatu sebatas dari dirinya sendiri.

2      Materi

Materi selalu dan terus-menerus dalam gerak. Dunia ini ada dalam keadaan gerak dari dia ada, berkembang, berubah dan lenyap. Metafisika memandang bahwa dunia ada dalam keadaan diam, segala sesuatu statik, diam, tetap dan tak berubah.

Jadi MD dan metafisika memiliki pandangan yang berlawanan mengenai kapitalisme yang permanen. Perbedan ini jelas menunjukkan pendirian konsevatif metafisika dan pendirian revolusioner dari Dialektika. Pendekatan metafisika secara implisit mempertahankan bahwa “tak ada sesuatu pun yang berubah di dunia ini” dan “ini adalah dunia yang terbaik dari semua kemungkinan yang ada” dalam pandangannya atas kapitalisme sebagai sistem yang permanen. Ini semua menyatakan bahwa pemilikan pribadi dan persaingan bebas sebagai kebal-nilai (tak dapat dibantah), dan bahwa nilai-nilai ini berasal dari kualitas sifat manusia seperti persaingan, ketamakan dan sebagainya. MD mempunyai pandangan yang panjang dan obyektif atas bentangan sejarah dan mengakui bahwa kapitalisme tidak selalu ada, dan bahwa ia telah mendominasi dunia selama ratusan tahun, dan selanjutnya ia dalam proses digantikan oleh sosialisme. Tidak ada satupun sistem sosial yang permanen, apa yang tetap adalah perkembangan dan transformasi masyarakat secara terus menerus.

3      Kontradiksi

Kontradiksi internallah yang secara mendasar menentukan pertumbuhan dan perkmbangannya. faktor-faktor ekternal dan kekuatan-kekuatan luar meletakkan kondisi material bagi sesuatu hingga ia berkembang, tetapi tidak menentukan watak mendasar sesuatu, dan bukan merupakan penyebab pokok geraknya.

Menegaskan kontradiksi internal sebagai dasar perkembangannya berarti melihat sesuatu sebagai “persatuan dari aspek-aspek yang berlawanan” dimana keduanya saling berlawanan dan bersatu, dan pertarungan adalah sumber dari gerak sesuatu. Jadi kapitalisme terdiri dari kesatuan dari hal-hal yang berlawanan, yakni kaum borjuis dan kelas pekerja. Di bawah kapitalisme, dua klas ini adalah tergantung satu sama lain, yaitu memiliki kepentingan yang berlawanan dan karena itu terlibat dalam perjuangan klas yang terus-menerus. Pertarungan antara klas dalam masyarakat kapitalis ini yang menyebabkan perkembangan dan transformasinya.

Hanya dengan memahami persatuan dan perjuangan dari aspek-aspek internal yang saling berlawanan ini barulah kita bisa paham mengapa sesuatu terus berubah.

Ini akan jadi jelas jika kita kontraskan dengan metafisika yang melihat sesuatu sebagai kesatuan dalam dirinya sendiri dan menjelaskan terjadinya perubahan sebagai akibat faktor-faktor luar. Misalnya, kaum borjuis menggunakan metafisika  untuk menjelaskan revolusi di dunia tertindas sebagai akibat “Iblis kekaisaran Soviet”, atau akibat campur tangan luar komunis subversif. Tentu saja, ini adalah penolakan menyeluruh atas kontradiksi internal dalam masyarakat-masyarakat tersebut yang menyebabkan revolusi.

4      Kuantitas ke dalam kualitas

Sesuatu (barang atau peristiwa) berkembang melalui perubahan secara  kuantitatif yang pada umumnya bertahap dan secara halus; dan secara kualitatif berubah secara sekonyong-konyong yang merubah menjadi sesuatu yang baru. Perubahan kualitatif merupakan hasil akumulasi/penumpukkan perubahan kuantitatif dan membawa perkembangan progresif dari sesuatu yang lama/tua menjadi baru, dan dari sederhana menjadi kompleks.

Metafisika, pada tingkat tertentu mengakui perubahan, hanya melihat perubahan kuantitatif  dimana sesuatu tumbuh menjadi lebih besar, lebih kecil, lebih kuat, lebih lemah dsb, dan masa lalu mengulangi dirinya sendiri. pandangan metafisika menolak perubahan kualitatif yang merubah sesuatu dan mendorong maju menjadi sesuatu yang baru.

Perubahan Dialektik yang bergerak dari kuantitas ke kualitas niscaya terjadi dalam banyak bidang. Esai Stalin menyebutkan hal ini, termasuk contoh yang menyolok mata adalah evolusi. melewati adaptasi dan perkembangan selama ratusan tahun, spesies awal berubah secara kualitatif menjadi spesies baru, homo sapiens atau manusia. Dalam kehidupan sehari-hari dari perubahan kuantitas ke kualitas, contohnya adalah bagaimana air, secara bertahap berubah menjadi lebih panas atau lebih dingin (perubahan kuantitas) berubah menjadi uap atau es (berubahan secara kualitas).

Dan dalam soal masyarakat juga terdapat jurang perbedaan yang memisahkan pandanagan metafisika yang konservatif dengan pandanagn Dialektika yang revolusioner mengenai bagaimana dunia berubah. Sudah tentu, dalam dunia sosial perubahan terjadi tidak secara otomatis sifatnya, sebagaimana terjadi dalam alam. Perubahan sosial disebabkan oleh rakyat melalui aksi dan saling aksi. Jadi, pandangan rakyat yang menentukan apa jenis perubahan dan bagaimana dilakukan, dibentuk oleh kondisi sosial mereka dan kedudukan klasnya.

Cara pandang metafisika klas berkuasa perubahan revolusioner dan kualitatif dalam perubahan masyarakat dan berpendirian bahwa perubahan secara bertahap, gradual, perubahan kuantitaif lah yang diperlukan untuk mengembangkan dan menyempurnakan masyarakat kapitalis sekarang ini.

Pandangan MD dari klas pekerja, dipihak lain, memandang perubahan kualitatif, revolusioner sebagai puncak perjuangan untuk mengembangkan medan memajukan masyarakat. Kehendak revolusi bukan untuk menyempurnakan kapitalisme, melainkan untuk menggantikannya dengan sosialisme.

MD (16)

Relevansi pertarungan antara Dilektika dan Metafisika dengan Perjuangan kelas.

Contoh-contoh sebelumnya sudah mnggambarkan bagaimana pandangan metafisika atas masyarakat mewakili kepentingan kaum borjuis. Hal ini tidak mengejutkan karena keinginannya (dan juga klas-klas berkuasa sebelumnya) untuk mamamerkan kepentingan klasnya sebagai permanen dan tak berubah. Klas borjuis tak pernah henti-hentinya menganjurkan cara berpikir metafisika kepada klas pekerja, sebagai usaha untuk membuktikan bahwa sistem kapitalis berharga dan permanen dan menyingkirkan adanya pertentangan klas.

Cara berpikir metafisika juga menyusup ke dalam gerakan revolusioner sendiri, dalam bentuk pikiran yang menganjurkan jalan damai, reformis dan evolusioner dari kapitalisme ke sosialisme. Mereka ini gagal dan tidak mengakui bahwa revolusi sosialis sebagai perubahan kualitatif bagi masyarakat kapitalis.

Bagi kelas pekerja, Dialektika merupakan alat penting untukmemahami mengapa dunia seperti sekarang ini, menganlisanya bagaimana ia berubah dan mengerti bagaimana rakyat yang sadar bisa merubahnya.

C. KESIMPULAN

Sebelum pendirian MD oleh Marx, bentuk materialis yang ada adalah pandangan yang mekanis, non-Dialektika, dan Hegel, seorang Dialektikus, menganjurkan versi idealis dari Dialektika. Kaum filsuf tidak mampu mengembangkan materislisme yang konsisiten dan meneyeluruh karena pada analisa akhir, mereka menerima pandangan borjuis yang ada. Mereka tidak sudi melihat secara lengkap, termasuk privelese klas, hak milik perorangan dan ketimpangan sosial sebagai faktor bagi perubahan sosial.

Marx dan Engels akhirnya berhasil mengembangkan sintesis Materialisme dan Dialektika sebab mereka mendasarkan filsafatnya pada aspirasi revolusioner dan cara pandang klas pekerja. kelas pekerja memiliki kepentingan dalam memahami masyarakat sebagaimana adanya “tanpa terkecuali” dan sebuah klas untuk perubahan, termasuk perubahan revolusioner, dapat menjadi kekuatan pembebas.

MD adalah filsafat revolusioner klas pekerja. Ia memberikan arah umum bagi dunia dan peranan manusia dan menyediakan seperangkat prinsip-prinsip ilmiah untuk menjawab masalah-masalah politik dan parktis; namun demikian ia menyediakan kerangka yang pasti untuk memperoleh jawaban. Juga MD merupakan dasar-dasar dari semua teori Marxis dan pandangan khusus terhadap sejarah, ekonomi dan politik.

Studi kita yang singkat sudah meletakkan garis besar MD, arti petingnya filsafat Marxis dalam memahami dunia, perjuangan klas dan kerja politik dimana kita terlibat. Untuk bisa paham sepenuhnya sudah tentu harus dilanjutkan dalam proses yang akan terus berjalan, dan mendalaminya dalam studi dan praktek.

Ringkasan MD

Idealisme dan Materialisme menjawab masalah hubungan antara dunia ide dan dunia material. Dua cara pandang filsafat ini muncul untuk menjawab yang manakah yang lebih utama dan menentukan.

A. Idealisme :

1. Ide-ide, spirit sebagai kenyataan pokok/prinsip.

2. Ide-ide dan spirit membentuk dan menentukan dunia material.

3. Dunia ini penuh berisi segala sesuatu yang tidak bisa dipahami oleh manusia dan ilmu pengetahuan.

B. Materialisme

1.  Dunia material adalah kenyataan pokok.

2.  Dunia maerial adalah sumber ide-ide.

3.  Dunia material ini dapat dijelaskan dan dipahami melalui pengalaman manusia dan ilmu pengetahuan.

Metafisika dan Dialektika keduanya berkaitan dan menjawab masalah perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam alam dan masyarakat.

A.   Metafisika

1.  Fenomena atau gejala dilihat secara terpisah

2.  Keadaan alamiah adalah statik, diam.

3. Segala sesuatu bersatu dalam dirinya sendiri dan perubahan disebabkan oleh faktor-faktor luar.

4.  Hanya ada perubahan kuantitatif.

B. Dialektika

1.      Fenomena dilihat dalam salinghubugannya dan saling ketergantungannya.

2.      Keadaan alamiah sesuatu hal adalah terus-menerus berubah.

3.      Kontradiksi ada secara internal dalam suatu hal dan perubahan pada dasarnya akibat faktor-faktor internal ini.

4.      Ada perubahan kuantitatif dan kualitatif. Perkembangan terjadi dari sederhanan ke rumit, dari rendah ke tinggi.

POINT-POINT DISKUSI – MD

1.      Ringkaskan perbedaan antara Materialisme dan idealisme. bagaimana agama dan bentuk idealisme lain memainkan peran reaksioner dalam masyarakat, membela status quo dan cara pandang kelas berkuasa. bagaimana Materialisme mengabdi kepentingan klas pekerja?

2.      Jelaskan perbedaan antara pandangan metafisika dan dialektis terhadap perkembangan dan perubahan. Tunjukkan bagaimana sifat/ciri Dialektika?

3.      Marxisme berpendirian bahwa Dialektika tidak saja menjelaskan alam, tetapi juga masyarakat. Pilihlah fenomena sosial (misalnya rasisme (?)). Apakah pandangan metafisika atas hal ini ? Dan bagaimanakah pandangan Dialektika?

4.      Dengan menggunakan metode Dialektika, coba bahas dan diskusikan sebuah contoh bagaimana Materialisme Dialektika bekerja dalam kerja politik anda. bagaimana Materialisme Dialektika menyinkap hakekat aneka fenomena?

5.      Akhirnya, jelaskan bagaimana filsafat Marxis berwatak ilmiah dan partisan (memihak kepentingan kelas pekerja)?