DARUT TAQWA; MINIATUR INDONESIA

DARUT TAQWA; MINIATUR INDONESIA

(Telaah sinergitas pendidikan formal dan non formal Darut Taqwa)

Oleh; Muh. Syaiful Ma’ruf, S.pdI

Darut Taqwa adalah lembaga sosial yang bergerak dalam bidang pendidikan bukan lembaga politik, Darut Taqwa ditinjau dari sejarahnya yang didirikan di era 80-an, tepatnya 01 agustus 1985 oleh KH. Sholeh Bahruddin putra dari KH. M. Bahruddin Kalam memiliki visi rahmatan lil’alamin. Artinya, memberikan kasih sayang bagi seluruh umat, baik muslim maupun non muslim. Sekaligus tidak memandang strata sosial maupun ekonominya, sehingga pesan beliau kepada santrinya “ojok benak-benakno wong”-“wong nekah tak mesteh”, itu salah satu wujud dari praktek rahmatan lil’alamin, yang diharapkan bisa di jadikan contoh oleh seluruh santri-santrinya.

Sudah menjadi sunnatullah bahwa keberagaman (pluralistik) merupakan realitas yang tidak dapat di hindari, baik pluralitas dalam hal agama, etnik maupun budaya. Masyarakat Indonesia dikenall sebagai masyarakat majemuk (pluralistic society). Hal ini dapat dilihat dari realitas sosial yang ada. Bukti kemajemukan itu juga bisa dibuktikan melalui semboyan dalam lambang Negara Republik Indonesia “Bhineka Tunggal Ika”. Masyarakat Indonesia yang plural, dilandasi oleh berbagaii perbedaan, baik horizontal maupun vertikal. Perbedaan horizontal meliputi kesatuan-kesatuan sosial berdasarkan suku bangsa, bahasa, adat istiadat dan agama. Sementara perbedaan yang bersifat vertikal yakni menyangkut perbedaan-perbedaan lapisan atas dan bawah, yang menyangkut bidang poitik, sosial ekonomi maupun budaya. Sehingga sangat wajar kalau fanding father mengaju kepada kemajemukan, sehingga muncul bhineka tunggal ika, pancasila dan UUD ’45 yang dijadikan sebagai konsep pembangunan manusia seutuhnya, bukan hanya fisik ekonomii saja, tapi bagaimanapun ternyata akhlak yang tidak sesuai dengan sesuruhannya itu bukan tujuannya, melainkan moralitas. Disinilah peran tokoh-tokoh agama untuk bisa membimbing umatnya untuk membangun umat seutuhnya, seiring kerinduan bangsa ini untuk dapat menikmati perdamaian, kesejahteraan bersama di dalam format NKRI.

Ini sudah harga mati baik bhineka tunggal ika, pancasila dan UUD’45. Karena tidak mungkin keberagaman ini disatukan, karena bagaimana pun ini adalah anugerah dari tuhan, dan inilah Indonesia, bukan Saudi Arabia. Oleh karena itu KH. Sholeh Bahruddin sebagai representasi dari yayasan Darut Taqwa memegang teguh pancasila, UUD’45 dan Aswaja yang dijadikan asas kelembagaan bukan Islam, karena dalam pertimbanagn beliau metode penyebaran islam itu tidak harus secara formalitas, hal itu dibandingkan dengan masjid sebagai tempat ibadah umat islam tidak berasaskan islam melainkan ketaqwaan,

لمسجد أسس على التقوى اي بني اصله على طا عة الله تعالى وذكره (التفسير المنير, جز ١, ص, ٣٥٥)

“Sesungguhnya masjid itu di dirikan atas dasar taqwa (masjid quba), maksudnya asal di dirikannya masjid itu adalah untuk berserah diri pada Allah SWT, dan berdzikir kepada-Nya”.

Dengan dasar ini KH. Sholeh Bahruddin memahami bahwa untuk melaksanakan syari’at Islam itu tidak harus dengan lembaga ber-asas Islam.

Pancasila mengandung nilai-nilai luhur yang terkandung didalamnya, yaitu nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan. Sehingga keliru jika pancasila dikatakan keluar dari nilai-nilai keIslaman, relevansi nilai-nilai pancasila dengan nilai-nilai keIslaman dapat ditijau mualai dari Ke-I, “Ketuhanan Yang Maha Esa” relevan dengan surat al-Ikhlas ayat 1 dan Tafsir Munir juz I hal: 47.

قل هو الله احد (الاخلاص, ص, ١)

Katakanlah (Muhammad) Dia-lah Allah Yang Maha Esa (Q.S. al-Ikhlas: 1)

(والهكم ) اي المستحق منكم العبا ده (اله وحد) اي فرد فىالا لهية (لااله الا هو) اي لامعبود لنا موجد الاالاله الواحد

Dan Tuhanmu yang lebih berhak untuk kamu sembah adalah Tuhan Yang Maha Esa, artinya esa dalam sifat ketuhanan-Nya, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia (Tafsir Munir, juz I hal: 47)

Sila ke-2; kemanusiaan yang adil dan beradap relevansi dengan al qur an,

يا أيها الذ ين أمنو كونو انصا رالله

“hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah (QS. Al shof, hal: 14)

فمن تطوع خير ا فهو خير له

“ barangsiapan yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maksudnya memberikan makan lebih dari seorang miskin untuk satu hari, mak itulah yang lebih baik baginya (QS. Al Baqoroh, hal:184)

sila ke-3; Persatuan Indonesia, sesuai dengan al qur an

وتعا ونوا على البر والتقوى ولا تعاونواعلى الاسم والعدوان

“ dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangantolong menolong dalm berbuat dosa dan pelanggaran (QS. Al Maidah, hal: 2)

Dan dalam kitab tafsir Munir,

زززززززززززززز

dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai berai dan berselisih dalamartian bercerai berai dengan saling bermusuhan dan berselisih dalam agama”. (Tafsif Munir, Jld. 1. Hal.113)

Sila Ke-4, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat, kebijaksanaan dalam permusyawaratan perawiklan

Relevan dengan al Quran:

……………

dana bermusyawarahlah kamu dengan mereka dalam urusan itu”. (Q.S. al Imiron: 159)

., Maksudnya urusan peperangan dan hal-hal duniawiyah lainnya seperti urusan politik, ekonomi kemasyarakatan dan lain-lain.

Dan dalam kitab tafsir Munir:

……………..

“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu”, maksudnya sesunguhnya musyawrah itu akan mendatangkan cinta yang mendalam bagi mereka pada nabi muhammada SAW, karena sesunguhny amusyawarah tersebut menunjukkan tingginya derajat mereka. Dan sebaliknya, ketika tidak mau musyawarah hina bagi mereka. Kata lnabi hanya orang yang mau bermusyawrah yang akan mendapatkan solusi atas permasalahannya (tafsir munir Jld. 1. Hal.127)

al Quran

……………………..

“Maka sesungguhnya kami akan menyerahkannya kepeda kaum yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya” (Q.S. al ‘An’am:139)

di dalam tafsir jalalen dijelaskan bahwa kelompok yang mewakili adalah oang-orang muhajirin dan anzhor.

……………….

Juga dalam kitrab tafsir munir dijelaskan bhwa sesungguhnya allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepdanya maka allah akan menolong mereka dan akan menunjukkan mereka kebaikan dan kebenaran (tafsir Munir, Jld. 1. Hal.127)

………………

Sila ke-5 keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Relevan dengan al Quran

……………

“ dan tidaklah kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (Q.S. al Anbiya’:107)

di dalam pembukaan UUD 45 juga jelas disebutkan “Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, peredamaian abadi dan keadilan sosial dan seterusnya.

Selanjutnya darut taqwa yang merupakan bagian dari negara Indonesia atau bisa disebut miniatur Indonesia mengimplementasikan hal itu dalam pendidikan yang terbagi menjadi dua: formal (RA, Mi, MTs, MA, SMK, MAK, SMA dan UYP), non formal (Pondok pesantren, Madrasah diniyah, MDMM, TPQ dan Klinik), dengan tujuan tetap mempertahankan nilai-nilai Pancasila, UUD  45 dan Ahlu sunnah wal jamaah. Sehingga akan tercapai keselamatan hidup di dunia dan akhirat seta terciptanya perdamaian di Indonesia khususnya dan di dunia umumnya.

Sinergitas Nilai Non Formal Dan Formal Dalam Mencapai Rahmatal Li’lalamin

Pada awal-awal pendirian pesantren darut taqwa pertama yang dibangun adalah masjid kemudian adalah pesantren. Lembaga ini yang pada perkembangannya menjadi cikal bakal atau ruh dari seluruh lembaga-lembaga yang berada dibawah naungan yayasan darut taqwa. Pertanyaanya bagaimana perkembangan pendidikan formal yang berada dibawah naungan pondok pesantren? Yang mana dalam sementara waktu stigma yang berkembang adalah bahwa pendidikan pesantren merupakan pendidikan agama seperti halnya civil education – di institusi-institusi pendidikan yang sering dikesankan sebagai sistem rekayasa sosial (enginering social) pendidikan yang bercorak dogmatis, doktriner, monolititk dan tidak berwawasan plural. Agama di satu sisi membentuk kultur yang khas, sehingga secara sosiologis sering muncul dalam bentuknya yang sangat eklusiv.

Untuk menjawab pertanyaan ini perlu dijelaskan bahwa pesantren atau pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan tradisional, lemabga sosial dan penyiaran agama (mastubu, 1994) yang dewasa ini banyak mendapatkan perhatian dari berbagai kalangan “luar” maupun “dalam” pesantren. Hal ini memberikan nilai lebih bagi pesantren dalam hubungannya dalam penegasan eksistensi kelembagaan yang telah mampu beperan secara positif dalam kehidupan berbangsa selama ini. Selain itu, perhatian tersebut akan menghidupkan suasana dialogis diantara komunitas pesantren yang banyak terlupakan pada masa belakangan ini. Padahal kalau diamati pesantren sejak berdirinya senantiasa selalu berdialog dengan lingkungan masyarakat sekitarnya. Kedudukan yang mengakar di masyarakat tidak mungkin pesantren untuk tampil terisolir  apalagi eklusive. (Mahfudz, 1994)

Di era reformasi saat ini sedikit banyak membawa pengaruh terhadap keberadaan pesantren.sikap euforia sebagian kyai-kyai pesantren untuk terlibat langsung dalam politik praktis

Iklan

Komentar ditutup.