PERANG CINA DAN RUNTUHNYA NEGARA JAWA BAB 6

BAB VI

Babad

[...] tarikh Jawa [...] memungkinkan kita untuk melihat [...] dengan kejelasan yang tidak mungkin didapati dalam catatan-catatan Belanda [...] [1]

Bab-bab sebelumnya hampir semata didasarkan pada catatan-catatan Kumpeni. Alasannya jelas. Meskipun sebenarnya tidak sulit untuk menyelipkan cukilan-cukilan informasi dari tarikh-tarikh Jawa – dan mungkin saya telah secara tidak sengaja berbuat demikian – tampaknya lebih baik keduanya dipisahkan. Alasan utamanya bukan untuk memperdebatkan kembali masalah lama yaitu apakah babad bisa diandalkan sebagai sumber sejarah. J.J. Ras, dalam pengantarnya untuk cetakan ulang dari versi prosa Babad Tanah Jawi, juga telah mengenyampingkan masalah ini dan menilai babad sebagai salah satu dari visi Jawa tentang masa lalu, dan memiliki tempat tersendiri dalam historiografi yang bersifat Indonesia-sentris.[2]

Pengenyampingan yang dilakukan Ras terhadap masalah reliabilitas historis babad terutama didasarkan pada studinya terhadap asal mula dan fungsi dari Babad Tanah Jawi utama[1]. Dia menunjukkan bahwa Babad Mataram ditulis untuk dijadikan “buku referensi” karena adanya kebutuhan untuk melegitimasi hak penguasa terhadap tahta dengan menggunakan silsilah dan takdir dan untuk menjustifikasi masa kini lewat pengisahan yang sah tentang masa lalu.[3] Penulisan karya ini mungkin dimulai pada tahun 1612 ketika Panembahan Seda ing Krapyak memerintahkan agar Babad Demak ditulis ulang. Pada pemerintahan Sultan Agung (1613-1646) Babad Mataram ini diselesaikan oleh Pangeran Panjang Mas dan berfungsi sebagai piagam untuk melegitimasi pemerintahan Sultan Agung. Krisis-krisis yang terjadi selanjutnya membuat karya ini diperbaharui dan diedit secara berkala. Revisi besar pertama dilakukan setelah tahun 1680 oleh Pangeran Adilangu I untuk melegitimasi posisi Amangkurat II sebagai penguasa kraton Kartasura. Revisi kedua yang dilaksanakan oleh Pangeran Adilangu II diperlukan setelah tahun 1705 untuk melegitimasi kudeta yang dilakukan Pangeran Puger (Pakubuwana I, 1705-1719). Pakubuwana II memerintahkan agar teks itu diperbaharui sampai pada masa pemerintahan ayahnya (Amangkurat IV, 1719-1726). Pakubuwana III menyertakan pemerintahan Pakubuwana II (1726-1749). Bagian-bagian ini ditulis oleh Carik Bajra, atau yang kita kenal sebagai Tumenggung Tirtawiguna dalam bab-bab sebelumnya. Teks ini, yang sekarang bisa disebut sebagai Babad Kartasura, ditulis ulang pada tahun 1788 oleh Pakubuwana IV, yang setelah naik tahta menghadapi masalah politik yang serius. Dan yang terakhir, setelah tahun 1830, teks ini dan Babad Giyanti karya Yasadipura I, yang membahas periode 1746-1755, ditulis ulang oleh Yasadipura II atas perintah Pakubuwana VII, yang hendak melegitimasi kedudukannya setelah diasingkannya Pakubuwana VI, dan menjadi Babad Tanah Jawi tahun 1836 yang kita kenal sekarang.[4]

Ras adalah yang pertama kali memberikan garis besar yang jelas tentang asal mula, fungsi dan kepengarangan Babad Tanah Jawi. Tapi bagian utama dari studinya digunakan untuk menganalisa bagian-bagian awal babad ini, dimana dia menunjukkan bagaimana kompleks-kompleks mitos yang rumit, silsilah dan kisah-kisah pendirian, yang lolos dari pemahaman ahli-ahli sebelumnya, berfungsi untuk menggarisbawahi fungsi babad sebagai dokumen pelegitimasi dan sambil jalan dia menunjukkan bahwa Pangeran Panjang Mas adalah penulis pertamanya dan Pangeran Adilangu I merupakan penulis keduanya. Dalam bagian-bagian awal itu, kandungan historis babad digunakan sepenuhnya untuk mendukung fungsi utamanya sehingga hampir tidak bisa didapati lagi. Maka reliabilitas historisnya tidak perlu dipermasalahkan lagi. Tapi lain halnya dengan bagian-bagian selanjutnya dalam babad, dimana sejumlah besar rincian historis hampir-hampir mengaburkan pesan politiknya. Menurut perhitungan Ras, bagian awal sampai jatuhnya kraton Mataram hanya sebesar 16% dari seluruh teks yang ada dalam Babad Tanah Jawi, sementara masa seterusnya sampai 1768 menempati sekitar 84% dari teks.[5]

Tentang bagian kedua teks ini, Ras tidak terlalu eksplisit di luar apa yang sudah dijelaskan secara garis besar di atas. Dan tentu saja dia memang tidak perlu menjelaskannya secara eksplisit sebab studinya itu sebenarnya adalah sebuah pengantar untuk cetakan ulang dari versi prosa Babad Tanah Jawi, yang disebut sebagai Babad Meinsma, yang materinya hanya sampai pada tahun 1721. Pada umumnya dia mengikuti pendapat Hoesein Djajadiningrat bahwa bagian yang berisi Babad Kartasura ditulis oleh Carik Bajra atau Tumenggung Tirtawiguna. Tirtawiguna tidak hanya meneruskan kisah Pangeran Adilangu II sampai kematian Pakubuwana I tapi juga mencatat kejadian secara terinci sampai tahun 1743, dan catatan ini kemudian dimasukkan ke dalam teks, mungkin oleh dia sendiri atau mungkin oleh orang lain. Bagian ini menurut Ras adalah sebuah tarikh.[6] Ada asumsi, seperti yang kita dapati dalam G.J.W. Drewes,[7] bahwa bagian-bagian akhir babad ini lebih faktual daripada bagian-bagian awalnya, sekalipun itu hanya karena penulisnya mungkin menyaksikan sendiri kejadian-kejadiannya atau karena dia menggunakan catatan-catatan kraton. Soal apakah ada sesuatu dalam teks ini yang lebih dari sekedar tarikh tidak dibahas oleh Ras. Dia hanya mengimplikasikan adanya kemungkinan itu dengan menunjukkan bahwa teks ini telah ditulis ulang setidaknya dua kali dan bahwa lanjutan dari teks ini, yaitu apa yang disebut sebagai Babad Mangkubumen, sebagaimana yang diciptakan oleh Yasadipura II, jelas berbeda isinya dengan Babad Giyanti karya Yasadipura I yang membahas periode yang sama.[8] Babad Kartasura tidak memiliki pembanding seperti itu. Apapun yang mungkin telah ditulis oleh Tumenggung Tirtawiguna sudah tidak ada lagi, atau setidaknya belum diketemukan. Catatan sejarah Jawa yang bisa digunakan sebagai pembanding dari sumber-sumber VOC sebagaimana yang telah dipaparkan tadi bukanlah kisah Tumenggung Tirtawiguna maupun catatan yang dibuat tidak lama sesudahnya, melainkan sebuah versi yang sudah ditulis ulang setidaknya dua kali (pada tahun 1788 dan 1836). Sejauh mana versi ini dapat disebut sebagai sebuah tarikh jika dipandang sekilas dan sejauh mana versi ini memungkinkan kita membaca dengan lebih jelas daripada catatan-catatan VOC: dua hal inilah yang menjadi pokok pembahasan bab ini.

Historiografi yang ideal, tentu saja, adalah historiografi yang menyatukan semua sumber yang ada menjadi satu pengisahan yang diakronis. Dalam hal sejarah Jawa, usaha yang paling konsisten dalam mengusahakan ini dilakukan oleh apa yang bisa disebut sebagai aliran De Graaf/Ricklefs. Masalah utama yang ada dalam pendekatan ini, seperti yang telah ditunjukkan oleh Kumar, adalah karakter ganda dari sumber-sumbernya. Pengisahan “kejadian-kejadian nyata” dan perubahan-perubahan historis dari hari ke hari dan tahun ke tahun cenderung diambil dari laporan-laporan Belanda, sementara sumber-sumber Jawa berfungsi sebagai konstruk sekunder, sebagai refleksi dari perubahan-perubahan itu terhadap wawasan hidup Jawa.[9] Sifat ganda ini hampir tidak dapat diatasi. Kumar berhasil mengatasinya dalam pembahasan periode singkat yang dia paparkan dalam artikelnya karena dia memiliki catatan Jawa yang mungkin bisa dikatakan unik: sumber utamanya berbentuk sebuah catatan harian. Studi Kumar menunjukkan bahwa kita harus lebih berhati-hati dengan wawasan hidup Jawa yang didapatkan dari konstruk-konstruk sekunder dan ex post facto seperti babad. Wawasan hidup Jawa lebih bervariasi dan seringkali lebih konsisten dengan sumber-sumber Belanda daripada yang bisa diketahui lewat babad.

Sekalipun dengan adanya rambu-rambu di atas dan pengetahuan bahwa babad seringkali ditulis ulang untuk kepentingan politik penguasa saat itu, kita masih bisa menggunakannya untuk mendapatkan sudut pandang yang berbeda dengan sumber-sumber Belanda atau mendapatkan fakta yang tersebar dimana-mana yang tidak ada dalam sumber-sumber Kumpeni atau bahkan mendapatkan pandangan yang lebih jelas daripada yang didapatkan dari sumber-sumber Belanda. Tapi dalam semua kemungkinan tadi, babad tetap berfungsi sebagai pelengkap yang kadang berguna bagi sumber-sumber Belanda yang dijadikan landasan. Pendekatan ini sah, tapi tidak digunakan di sini dan sebagai gantinya digunakan pendekatan yang berlawanan, yaitu menggunakan sumber-sumber Belanda untuk melihat cerita apa yang sebenarnya harus disampaikan babad. Babad tidak hanya penting sebagai gudang fakta dan sudut pandang yang tidak tercakup dalam sumber-sumber VOC tapi juga sebagai sebuah sumber tersendiri. Tapi babad tidaklah berdiri sendiri. Sebagai teks, babad merupakan bagian dari tradisi literatur dan tunduk pada sejumlah konvensi literatur. Meskipun sumber-sumber Belanda tidak dapat menunjukkan secara langsung apa konvensi-konvensi itu, tapi sumber-sumber Belanda dapat menunjukkan konteks “dunia nyata” dimana babad ditulis dan konteks “dunia nyata” dari apa yang dibicarakan oleh babad. Maka secara tidak langsung ini dapat menyingkapkan struktur literaturnya juga.

Maka dengan demikian pemilihan babad bisa dilakukan dengan mudah. Babad yang dipilih haruslah merupakan sebuah teks yang diketahui baik sejarahnya dan memaparkan periode yang dibahas dalam bab-bab sebelumnya. Hanya ada satu teks yang memenuhi syarat ini, yaitu Babad Tanah Jawi utama. MS Yogya Babad Kraton dari tahun 1777-78 merupakan versi yang lebih tua dari tradisi Babad Tanah Jawi, tapi karena kesalahan juru tulis, periode 1719 sampai Juni 1741 tidak ada di dalamnya.[10] Babad-babad lain seperti Babad Pacina, baik edisi Van Dorp tahun 1874 dan MS A.2 Sanabudaya yang hampir identik, ternyata sangat kurang informasinya dibandingkan dengan Babad Tanah Jawi. Babad Pacina terfokus pada perang dan adegan-adegan pertempurannya. Meskipun tentu saja bagi para pembaca atau pendengar itu merupakan daya tarik utama babad, seperti halnya wayang, ini tidak memudahkan analisa terhadap kisah babad, kecuali untuk pengamatan bahwa perang dan pemberontakan adalah tema utama babad, dan dalam beberapa babad tertentu tema ini memang merupakan satu-satunya tema. Apalagi seringkali ke dua Babad Pacina itu tidak menawarkan lebih dari sekedar ringkasan dari adegan-adegan yang sama dalam Babad yang utama.

Ini juga sama pada sebuah MS Babad Kartasura di Museum Nasional (KBG 71). MS Yogyakarta yang tampaknya berasal dari abad 19 ini merupakan ringkasan yang paralel dengan Babad utama. Ciri yang menonjol di sini, yang biasa ditemui pada MS Yogyakarta lain, adalah babad ini menghilangkan perhatian yang berlebihan terhadap peran Pangeran Arya Mangkunagara dan putranya Raden Mas Said seperti yang ada dalam Babad utama. Sebaliknya, yang ditekankan adalah peran Pangeran Mangkubumi, pendiri Yogyakarta. Alasan lain mengapa memilih Babad Tanah Jawi yang utama adalah adanya tradisi yang sudah disebutkan di atas bahwa bagian-bagian yang membahas kejadian-kejadian yang dipaparkan dalam bab-bab sebelumnya dalam buku ini ditulis oleh Tumenggung Tirtawiguna. Seperti yang sudah kita lihat tadi, Tirtawiguna memainkan peran penting dalam kejadian-kejadian itu dan meskipun teks Tirtawiguna tidak ada lagi, jejak-jejaknya dalam versi yang ada sekarang mungkin sudah memadai untuk memaparkan sebuah wawasan Jawa masa itu yang bisa dibandingkan dengan sumber-sumber Belanda.

Babad memiliki banyak jenis dan ukuran. Ada yang membahas insiden bersejarah tertentu, ada yang membahas periode sejarah tertentu, ada yang membahas sejarah dari wilayah tertentu.[11] Babad Tanah Jawi yang utama ini bertujuan untuk mengulas sejarah Jawa sejak asal mulanya, tapi babad ini lebih merupakan sebuah tarikh dari penguasa saat itu serta leluhurnya daripada tarikh sebuah kerajaan. Ini terlihat jelas dari daftar isi MS Babad Kartasura (KBG 71), yang termasuk dalam tradisi yang sama. Dengan sendirinya silsilahnya dimulai dari Adam, tapi ketika sampai pada masa-masa yang historis, temanya dibagi-bagi secara rapi menjadi segmen-segmen yang judulnya adalah nama-nama raja yang memerintah dan diikuti oleh daftar nama anak-anaknya dan perang atau pemberontakan yang ia hadapi dalam masa pemerintahannya. Perang-perang ini dipecah lagi menjadi sejumlah besar kisah pertempuran. Selama pemerintahan Pakubuwana II sampai Perjanjian 1743 jumlahnya tidak kurang dari empat puluh delapan pertempuran.

Seperti yang terlihat dari daftar isi – Babad Tanah Jawi yang utama bisa dengan mudah dibuatkan daftar isi yang identik dengan daftar isi ini – fungsi pertama babad adalah untuk menetapkan kewenangan penguasa yang ada lewat para leluhurnya. Babad menetapkan, tapi tidak sepenuhnya membenarkan. Menjadi raja itu sendiri adalah sebuah pembenaran. Mungkin pembenaran itu bisa didukung dengan aspek-aspek supernatural, seperti jatuhnya andaru atau wahyu, atau dengan aspek-aspek duniawi seperti garis keturunan (dari permaisuri, istri utama atau selir). Penyelewengan fakta atau bahkan distorsi bisa dilakukan untuk membereskan silsilah sang penguasa, tapi kewenangan seorang raja pada dasarnya adalah sebuah fakta. Yang membutuhkan pembenaran adalah pemberontakan, atau lebih tepatnya pemberontakan yang agak berhasil. Pemberontakan menyentuh inti dari sistem dan bahkan dapat disebut sebagai tema sentral dari kisah-kisah wangsa ini. Masalah utamanya adalah bahwa di dalam konteks ideologis babad, pemberontak pada dasarnya tidak dapat dibenarkan.

Untungnya kebanyakan pemberontak tidak berhasil. Kegagalan mereka dijadikan bukti dari besarnya kekuasaan raja dan, seperti yang telah ditunjukkan oleh Supomo, dijadikan bukti dari cacat moral dan pribadi yang dituduhkan pada pemberontak. Sebab utama pemberontakan dan alasan dari kegagalan mereka adalah lali, yang artinya mencakup mulai dari “tidak perduli” sampai pada “kehilangan akal”, sebuah kondisi yang biasanya menyebabkan orang kehilangan kontrol dan bernafsu mengejar kekuasaan, kekayaan dan wanita.[12] Beberapa pemberontak menjadi sadar tepat pada waktunya dan mendapat ampun, sementara lainnya jatuh.

Tapi bagi penulis babad, pemberontakan yang berhasil merupakan masalah yang tak terpecahkan. Bahkan ketika digunakan pembenaran bahwa “mandat dari langit” – ini istilah Cina – telah berpindah tangan sekalipun, penjelasan semacam ini dianggap tidak memadai dan bahkan tidak dapat digunakan dalam beberapa kasus seperti misalnya pemberontakan Pangeran Mangkubumi, yang berakibat didirikannya Yogyakarta, sebab Surakarta tidak pernah kehilangan mandat itu: keduanya menerima mandat. Supomo menunjukkan bahwa bahkan dalam kasus ini pun sudah ada pola literatur tersendiri untuk menangani sang pemberontak “resmi” ini.[13] Dia selalu digambarkan sebagai penasehat raja yang paling setia dan dipercaya. Setelah ketidakadilan besar menimpa dirinya – biasanya karena intrik yang tidak diketahui raja – dia merenung dan setelah menerima tanda lewat tapa atau bantuan guru spiritual bahwa Yang Maha Kuasa merestuinya, dia memulai pemberontakan. Dia tidak lali dan bahkan sampai pada akhirnya dia tetap menentang desakan para pengikutnya untuk memulai pemberontakan tapi akhirnya tidak ada pilihan lain. Kadang terjadi pertemuan terakhir yang mengharukan dengan raja, tapi kemudian sang pemberontak akan berangkat untuk melaksanakan tugasnya itu. Terjadinya situasi itu diterima dengan sedih dan bahkan dimaklumi, seringkali oleh raja sendiri dan penulis babad sudah menyediakan jalan keluar yang anggun atau bahkan supernatural bagi raja.

Gambaran yang tegas antara hitam dan putih, baik dan buruk, tidak diharapkan kehadirannya dalam babad, bahkan dalam soal pemberontak yang tidak sah sekalipun. Ini bisa dimengerti sebab masalahnya biasanya melibatkan orang-orang yang masih kerabat raja. Apalagi raja cenderung untuk menikahi putri (jika ada) dari kerabat-kerabat yang memberontak. Putra mahkota yang dilahirkan dari ibu seperti itu tentu saja tidak boleh punya cacat dalam silsilahnya. Pertimbangan lainnya bagi penulis adalah bahwa babad nantinya akan dibaca oleh keturunan dari tokoh-tokoh sejarah yang silsilahnya kadang ia sebutkan dan mereka tidak akan terima jika leluhur mereka digambarkan terlalu hitam. Maka pemberontakan dan konflik digarap dengan hati-hati. Baik dan buruk, benar dan salah saling terjalin erat di dalam babad, sama seperti Mahabrata, yang tidak diragukan lagi merupakan sumber dari sebagian kandungan filosofis dalam babad.

Akibatnya penilaian moral dalam babad cenderung datar, atau lebih tepatnya, merata. Setidaknya untuk bagian dari Babad Tanah Jawi yang membahas apa yang sudah dipaparkan dalam bab-bab sebelumnya, kita tidak mendapati tokoh pahlawan maupun bajingan sejati di antara karakter-karakter utamanya. Karakter-karakter kecil, seperti misalnya orang-orang Madura setelah menjarah Kartasura, mendapat sensor dengan disebut celeng Madura, tapi karakter-karakter utama, meskipun tidak terlepas dari kesalahan manusiawi dan lali pada taraf tertentu, biasanya dinilai dengan lunak dengan perkataan “Mikul dhuwur, mendhem jero“, yang bagi orang Jawa memiliki konotasi yang positif, yaitu “menghormati orang tua, yang lebih tua atau leluhur”, tapi kadang juga dapat diartikan secara sinis sebagai “menjunjung (yang baik) dan menyembunyikan (yang buruk)”. Ini membawa konsekwensi serius pada cara pengisahan dalam babad.

Berbeda dengan lakon wayang – yang merupakan satu-satunya format kisah yang asli setempat yang tersedia – plot dari babad tidak dapat dipaksakan ke dalam salah satu dari sejumlah pola sederhana yang ada. Garis besar cerita ditentukan oleh dunia nyata. Motor penggerak cerita lainnya yang ada dalam wayang, yaitu pembedaan yang jelas antara pahlawan dan bajingan, tidak dapat digunakan sebebas dalam wayang. Memang dalam lakon wayang tidak ada oposisi baik buruk yang berdimensi satu. Hampir semua pahlawan dan bahkan dewa pun pernah berbuat salah sementara bajingannya memiliki sedikit kebaikan. Tapi dalam babad, kesempurnaan dan cacat dari para dewa, manusia dan para raksasa yang ada dalam lakon wayang ditarik mundur ke wilayah manusia dan kehilangan kontrasnya. Ini ditambah dengan kecenderungan untuk “mikul dhuwur, mendhem jero” sehingga sarana-sarana pengisahan menjadi sangat berkurang. Hanya satu “sarana” dari format lakon wayang yang masih banyak digunakan, yaitu ramalan. Tapi dalam fungsinya sebagai motor penggerak cerita, ramalan memiliki efek-efek yang berbeda-beda. Ramalan-ramalan ini, tentu saja, membantu kita menentukan kira-kira kapan fragmen atau teks tertentu ditulis sebab ramalan itu tidak mungkin dimasukkan ke dalam babad sebelum apa yang diramalkannya sudah terjadi. Hoesein Djajadiningrat adalah yang pertama kali menggunakan alat analisa ini terhadap Babad Tanah Jawi yang utama. Tapi di dalam sebuah kisah, adanya ramalan akan mematikan aksi, bukan karena kita sekarang kebetulan sudah tidak percaya lagi pada ramalan, tapi karena dengan adanya ramalan, penulis babad tidak perlu menceritakan apa yang sebenarnya menjadi resiko para tokoh. Karena si Anu sudah diramalkan suatu hari nanti akan menjadi raja, atau menjadi pejuang yang besar, atau akan diasingkan atau apalah, maka bagi penulis babad itu sudah merupakan pembenaran dari kejadian. Akibatnya karakter-karakter yang hendak digambarkan penulis babad menjadi dangkal. Dia secara efektif menjunjung sisi baik dan memendam sisi buruk dalam-dalam di balik ramalan.

Kisah jelas tidak sama dengan sejarah. Begitu penulis babad lepas dari penulisan fakta secara apa adanya, dia akan terseret dalam orbit dari teknik-teknik pengisahan yang sudah ada. Lagipula sejarah harus dinyatakan, tidak hanya dalam bentuk yang mudah dikenali dan dimengerti oleh pemirsanya, tapi juga yang moralnya dapat diterima para pemirsa dan terutama oleh patronnya yaitu raja. Dengan kata lain, tampaknya logis jika diasumsikan bahwa kisah-kisah wangsa dalam babad memiliki hubungan yang agak dekat dengan kisah-kisah wangsa dalam wayang. Hubungan yang dimaksud bukanlah hubungan langsung seperti yang ingin didapatkan oleh J.L.A. Brandes dengan cara menemukan satu sumber yang sama yaitu genre Serat Kandha, yang berasal dari semacam buku petunjuk hipotetis bagi pujangga. Hubungan yang dimaksud adalah hubungan yang tidak langsung, yaitu lewat pola, stereotip dan sarana-sarana lain dalam literatur, yang secara sengaja atau tidak sengaja menentukan cara penyampaian suatu kisah. Kerangka referensi semacam ini jauh lebih luas daripada repertoar wayang dan mencakup seluruh jagat budaya Jawa, yang memang terekspresikan secara penuh dalam wayang, tapi wayang bukanlah yang satu-satunya ekspresi jagat budaya Jawa. Selain itu kerangka referensi ini juga harus mencakup bagian-bagian yang relevan dari dalam teori literatur modern, yang bukannya tidak mungkin bisa-bisa melepaskan kita dari sihir C.G. Berg tapi melemparkan kita masuk ke dalam formula-formula penghubung[2] dalam literatur oral. Tapi bukan usaha sebesar itu yang akan dilakukan di sini. Hubungan antara babad dengan wayang tidak akan dijelajahi jauh. Yang ingin dikatakan di sini hanyalah bahwa babad dan wayang memiliki sejumlah pola dan sarana literatur yang sama dan bahkan sejumlah kisah yang sama, seperti misalnya kisah Watu Gunung pada awal Babad Tanah Jawi.[14] Di sini tradisi Babad Tanah Jawi akan dianggap sebagai genre tersendiri, yang terutama dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan dunia nyata. Ras tampaknya juga mengambil posisi ini dalam masalah ini. Ini berarti bahwa penentu pertama kita dalam menelaah bagian dari babad ini adalah dunia nyata dimana babad ditulis kembali. Sayangnya dunia nyata dari revisi 1788 dan 1836 tidak termasuk dalam jangkauan studi ini, sementara revisi yang mungkin dibuat tahun 1746 tidak mungkin disertakan. Maka kita pun mengambil penentu kedua, yaitu dunia nyata sebagaimana yang dibahas oleh babad.

Tampaknya mempelajari sebuah teks tanpa menggunakan sebagian dari konteksnya – baik konteks dunia nyata maupun konteks literatur – adalah usaha yang sia-sia, tapi dalam pembahasan kita kali ini ketidakadaan konteks ini tidak fatal. Jika babad adalah sebuah tarikh yang strukturnya ditentukan oleh kronologi dari kejadian-kejadian dalam dunia nyata dengan niat untuk melegitimasi penguasa, maka pengetahuan tentang bagaimana babad menggarap dunia nyata bisa memberikan petunjuk tentang gaya sastranya juga. Ini tidak bisa diterapkan pada bagian awal babad, dimana dunia mitos dan kepercayaan telah menggeser dunia nyata, tapi untuk bagian-bagian akhir babad, cara ini bisa menjadi langkah pertama dalam analisa teks.

Teks Babad Tanah Jawi yang membahas materi yang dipaparkan dalam bab-bab sebelumnya adalah mulai dari Jilid XXI, halaman 12 sampai Jilid XXX halaman 62 dalam edisi Balai Pustaka, atau sekitar sepertiga dari keseluruhan edisi ini. Materi dari Bab II terdiri dari 57 halaman,[15], Bab III 35 halaman, Bab IV 233 halaman dan Bab V 411 halaman. Seperti yang bisa diduga, perang menempati sebagian besar (sekitar 87%) dari teks. Tapi perang bukanlah bagian yang paling menarik. Meskipun babad merupakan satu-satunya sumber dari beberapa informasi pertempuran dan beberapa kejadian lain yang terjadi pada saat Kumpeni terkurung di Semarang atau tidak diketahui Kumpeni karena alasan tertentu, umumnya pengisahan perang terlalu apa adanya sehingga tidak bisa kita gunakan untuk mengetahui struktur babad. Yang jauh lebih berguna bagi kita dalam hal ini adalah cara pengisahan dari materi dalam Bab II dan III.

Hal pertama yang mungkin akan teramati oleh pembaca adalah bagaimana kisah diletakkan dalam adegan-adegan yang berurutan. Meskipun adegan-adegan ini biasanya bersesuaian dengan kejadian nyata, terjadi sejumlah pelanggaran yang khas terhadap susunan kronologis. Yang pertama adalah penyelipan elemen-elemen non-kronologis yang tidak dapat diverifikasi seperti misalnya ramalan dan mimpi. Meskipun dua hal ini adalah bagian penting dari kisah, tapi tidak akan kita soroti di sini. Sorotan kita arahkan kepada fakta-fakta, angka-angka dan tanggal-tanggal yang dapat dengan mudah dibandingkan dengan catatan VOC. Beberapa dari pelanggaran ini terjadi karena besarnya selisih waktu, karena kecerobohan atau karena penghematan. Tapi seringkali bukan kecerobohan yang menimbulkan pelanggaran itu melainkan struktur cerita. Kadang malah seluruh makna kisah tertumpu pada satu pelanggaran kronologi yang tampaknya tidak penting. Tapi pertama-tama perlu dikemukakan beberapa hal tentang adegan dan susunannya.

Sudah dinyatakan tadi bahwa kisah dalam babad tidak dapat diletakkan ke dalam pola lakon wayang yang sederhana. Lakon wayang terdiri dari empat bagian: yang pertama, eksposisi masalah dalam bentuk diskusi di istana raja, yang diikuti oleh pengambilan keputusan untuk bertindak dan mengirim utusan atau pasukan. Yang kedua, rekapitulasi masalah di istana musuh, yang juga dilanjutkan dengan pengiriman utusan atau pasukan. Kedua pihak saling berhadapan tapi siapa yang menang masih belum jelas. pada bagian ketiga, kisah mencapai titik balik, dimana pahlawan cerita tampil. Sang pahlawan mengalahkan kekuatan musuh, dan musuh yang selamat lari pulang kepada rajanya. Bagian keempat berisi pertarungan terakhir dimana pihak yang benar menang.[19] Meskipun pola ini terlalu sederhana untuk menggambarkan kejadian nyata, tapi memiliki beberapa ciri mendasar yang sama dengan yang ada pada latar belakang dunia nyata. Di dalam keduanya sama-sama ada raja, kraton dan masalah, yang biasanya diakibatkan oleh pemberontakan. Di dalam keduanya juga dilakukan diskusi dan pengiriman utusan atau pasukan, lalu terjadi pertarungan dimana siapa yang menang karena kekuatannya dialah yang berhak.

Karena dunia yang nyata mirip dengan dunia yang digambarkan wayang, yang bagi orang Jawa merupakan gambaran ideal untuk dunia nyata, maka penulis babad tidak perlu menciptakan alat baru untuk bercerita. Seluruh tindakan yang dilakukan raja, kraton, Kumpeni dan pemberontak bisa diletakkan pada bagian pertama dari format di atas tanpa banyak kesulitan. Kumpeni, tentu saja, adalah bagian yang paling sulit untuk dimasukkan ke dalamnya. Idealnya Kumpeni berperan sebagai raja sabrang, raja para raksasa yang berdiam di kerajaannya di Batavia, tapi di lain pihak kekuatan militernya seringkali membawakan kemenangan untuk sang raja Jawa. Orang Belanda bahkan dapat dimasukkan ke dalam peran pembantu, seperti para panakawan yang membantu sang pahlawan. Dan ini benar-benar telah dilakukan, seperti yang ditunjukkan oleh Ricklefs.[20] Masalah yang dihadapi penulis babad bukanlah parameter-parameter awal tapi latar belakang ceritanya (denouement). Kisahnya tidak dilanjutkan ke bagian ketiga dan keempat, tapi terus bergulir melewati kerumitan-kerumitan dunia nyata, dimana kandidat-kandidat yang paling sesuai, paling berhak, atau bahkan yang paling saleh seringkali tidak berhasil mencapai puncak kekuasaan. Meskipun ini jelas ditetapkan sebagai suratan takdir, tapi tetap saja merusak skema besar. Sebagian dari masalah ini dipecahkan oleh struktur teleologis babad. Masalah lainnya dipecahkan dengan menggunakan teknik dasar pengisahan, yang tidak menggambarkan dan menjelaskan tapi memberi watak (askripsi) dan memberi contoh (eksemplifikasi).

Memberi watak dan memberi contoh hanya dapat dilakukan jika ada ideal yang sama, seperti misalnya kerajaan ideal dimana sandang dan pangan berlimpah dan keadilan tidak pernah gagal atau orang ideal yang mulia dan bijak, yang telah mengalahkan semua nafsu rendahnya dan terwujud dalam tokoh Arjuna dalam Mahabarata. Tapi idealisme seperti itu tidak dapat terwujud di masa kini dan bahkan di masa lalu pun hanya sedikit yang berhasil mewujudkannya. Arjuna sendiri masih terus menerus berjuang mencapai kesempurnaan dan Astina biasanya berada dalam situasi kacau. Maka alat pengukurnya bukanlah idealisme ini tapi skala bergeser. Maka kita tidak perlu heran nanti melihat para pahlawan dalam babad naik dan turun dalam skala ini tanpa dianggap sebagai kontradiksi. Raja ditampilkan sebagai raja yang luar biasa unggul tapi pada adegan berikutnya menjadi contoh dari sebuah kejatuhan yang telak. Dan demikian seterusnya, babad pindah dari satu adegan eksemplifikasi ke adegan eksemplifikasi lain dan dalam tiap adegan memberi watak yang sesuai kepada para pelaku cerita. Pemberian watak ini dilakukan secara efektif dengan menggambarkan mereka tertawa, marah dan terkejut atau sedih dan gelisah. Pendeknya seluruh emosi positif dan negatif digunakan secara efektif untuk menimbulkan perasaan yang tepat dalam diri pembaca atau pendengar. Efek secara keseluruhan digarisbawahi oleh jenis bait yang digunakan untuk menggambarkan adegan-adegan itu.

Lewat sederetan kejadian-kejadian, yang mungkin nyata mungkin tidak, yang sudah diseleksi, babad secara tidak langsung menjelaskan jalannya kisah dengan menyelaraskan nadanya dengan skala nilai bergeser. Skala ini pada akhirnya dilandaskan pada kesempurnaan dan ketidaksempurnaan para pelaku cerita itu sendiri. Kejadian-kejadian yang sudah diseleksi dan susunan dari kejadian-kejadian itu merupakan bahan dasar untuk membangun babad. Seperti yang sudah dinyatakan sebelumnya, isi kejadian maupun susunannya tidak selalu didasarkan pada realitas historis. Penentuan tentang mana kejadian yang merefleksikan kenyataan dan mana yang tidak serta apa maknanya sangat tergantung pada sumber-sumber Kumpeni.

Dalam Bab II kita telah menyoroti perjalanan hidup Patih Danureja. Kita membaca tentang tindakan-tindakannya sambil mengingat-ingat ide-ide tertentu tentang proses politik Jawa dan merekonstruksi kisahnya berdasarkan laporan-laporan VOC. Perbedaan penafsiran VOC, atau lebih tepatnya pegawai-pegawainya, di dalam memandang tindakan-tindakan Danureja tadi dipandang sebagai akibat dari pengalaman mereka sendiri dan tidak menunjukkan bahwa mereka memahami tindakan Danureja. Dalam babad kita dapati cara pandang yang lain sebab jika catatan-catatan VOC saja tidak dapat diperlakukan sebagai sumber fakta murni tentang masa lalu, apalagi babad, yang jelas-jelas menambahi dan menggarap kembali materi yang di-”nyata”-kannya.[21]

Meskipun Danureja memainkan peran utama dari cukilan babad berikut ini dan hampir semua faktor yang menimbulkan kejatuhannya telah disebutkan – seperti diasingkannya Pangeran Arya Mangkunagara, masalah Madura, masalah Tegal dan kelanjutannya – dia bukanlah tokoh utama. Penulis babad menggunakan bagian ini untuk mempersiapkan adegan untuk pertentangan pasca periode Kartasura antara Pakubuwana III, Pangeran Mangkubumi (yang kemudian menjadi Hamengkubuwana I) dan Raden Mas Said (yang kemudian menjadi Mangkunagara I). Peran utama Danureja di sini adalah sebagai kambing hitam. Pakubuwana II menjadi raja karena dia; dia tidak menenangkan raja dan tidak mencegah diasingkannya Pangeran Arya; keangkuhannya menanamkan benih pertentangan di antara pejabat; dia mengira dia bisa memanfaatkan kemudaan raja untuk mencampuri urusan keluarga raja dan pengasingan itu adalah ganjaran yang setimpal untuknya. Penulis babad tidak hanya sekedar menceritakan isi komentar orang-orang tua di Kartasura untuk menjelaskan pokok pikiran ini, tapi bahkan menceritakan bahwa Abraham Patras yang orang Belanda itu memperingatkan Danureja bahwa dia sudah lali dan akan menerima segala konsekwensinya. Garis besar dari cukilan ini adalah sebagai berikut:[22]

XXI:12-3

Sunan Amangkurat berziarah ke makam di Butuh.[23] Amangkurat memiliki delapan putri dan dua puluh putra. Hanya dua dari mereka yang mencapai usia dewasa: anak sulungnya yaitu Pangeran Arya Mangkunagara dan Raden Mas Sandeya yang sama-sama berasal dari selir. Dari sang permaisuri (Ratu Sepuh) dia hanya mendapatkan dua anak, seorang putra bernama Prabayasa yang sudah diangkat mejadi putra mahkota dan seorang putri. Setelah itu Ratu Sepuh disingkirkan dan Amangkurat menikahi saudari Ratu Sepuh, yaitu Ratu Kencana. Amangkurat kemudian berniat menikahkan putri dari saudaranya Panembahan Purbaya (yang kemudian menjadi Ratu Mas) dengan putranya Arya Mangkunagara, yang dipaksa menceraikan istrinya, seorang putri Pangeran Blitar. Ratu Sepuh menentang rencana ini. Amangkurat akhirnya memberikan putri ini kepada putranya Raden Sandeya.[24]

XXI:14

Sebelum keinginan itu terlaksana, Amangkurat tiba-tiba jatuh sakit. Dia memanggil Danureja dan menyampaikan keinginan terakhirnya bahwa dia harus digantikan oleh putranya Prabayasa, sang putra mahkota. Amangkurat kemudian meninggal.[25] Dalam beberapa baris digambarkan duka cita dan pemakamannya.

[Sekalipun Amangkurat adalah leluhur langsung dari wangsa raja Solo dan Yogya dan wangsa pangeran Mangkunagaran, penulis babad terlalu tergesa-gesa menyingkirkannya dari adegan dan sama sekali tidak menyebutkan soal kecurigaan seputar masalah kematiannya. Tapi mungkin itu yang menjadi alasan ketergesaan ini.]

Danureja dan Arya Mangkunagara diceritakan sedang ada di dalam istana. Danureja memerintahkan agar jenazah Amangkurat dimakamkan di pemakaman raja di Imogiri. Dia sangat cemas dan pasukannya sudah bersiap siaga dengan tidak kentara.

XXI:15-6

Danureja berkata kepada Arya Mangkunagara bahwa kalau dia ingin menggantikan ayahnya, dia harus pergi dari istana. Danureja belum sempat berbicara dengan para pembesar maupun memberitahu Gubernur Jendral. Arya Mangkunagara dengan sukarela meninggalkan istana dan Danureja mengunci istana. Danureja mengumpulkan para pembesar dan meminta pendapat mereka. Tidak seorang pun angkat bicara dan mereka semua menyerahkan segala keputusan kepada Danureja dan keinginan terakhir almarhum Sunan. Cakraningrat dari Madura kemudian membela Arya Mangkunagara bahwa pangeran-pangeran lain masih terlalu muda dan tidak tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Ini akan merusak negara. Tapi Jayaningrat dari Pekalongan menentang pendapatnya dan berkata bahwa Arya Mangkunagara kurang baik dan lagi dilahirkan dari wanita desa. Dia mengusulkan Raden Mas Sandeya sebab meskipun juga lahir dari selir, ibunya setidaknya adalah putri Adipati Sindupraja dari Pamalang dan umurnya tidak kalah jauh dari Arya Mangkunagara. Putra mahkota memang lahir dari permaisuri tapi masih terlalu muda untuk duduk di tahta. Tidak tercapai kesepakatan dan pertemuan itu bubar. Malamnya Danureja meminta segel-segel pribadi para pembesar Kartasura untuk digunakan dalam surat untuk Batavia. Dia melaporkan bahwa situasi di Kartasura menjadi tidak menentu karena keraguan Cakraningrat dan Jayaningrat terhadap putra mahkota.

[Dari catatan-catatan Kumpeni kita tahu bahwa Cakraningrat dan Jayaningrat biasanya bersilang pendapat tapi pada saat itu keduanya tidak hadir di Kartasura. Yang hadir adalah istri Jayaningrat dan ibu Cakraningrat. Aneh jika Cakraningrat mendukung Arya Mangkunagara sebab pada perang yang terjadi setelah suksesi Amangkurat, Cakraningrat berpihak pada Amangkurat melawan Panembahan Purbaya, yang didukung oleh Arya Mangkunagara. Sebagai hadiahnya Cakraningrat mendapatkan putri Sunan, satu-satunya saudari kandung putra mahkota. Meskipun Amangkurat kemudian ingkar janji, dia menjelang kematiannya sekali lagi menjanjikan putrinya untuk Cakraningrat. Maka kelihatannya Cakraningrat akan lebih suka mendukung putra mahkota daripada Arya Mangkunagara. Dukungan Jayaningrat terhadap Loringpasar lebih aneh lagi. Jayaningrat adalah musuh bebuyutan bupati Pamalang, yang bahkan tidak mau menjadi bawahannya sebagai gubernur besar kabupaten-kabupaten pesisir Barat. Jika dia mendukung Loringpasar, dia akan menyediakan pendukung terbaik yang tersedia di kraton bagi musuhnya ini. Surat dari Danureja ke Batavia yang ditandatangani bersama oleh enam belas pembesar masih ada dalam arsip (bertanggal 29 April 1726).[26] Isinya membicarakan situasi yang tidak menentu itu secara umum dan sama sekali tidak menyebut Cakraningrat dan Jayaningrat secara khusus.]

XXI:17-9

Akhirnya Commandeur Duyvens datang membawa sebuah surat dari Batavia.[27] Setelah surat dari Batavia dibacakan dengan lantang oleh Tirtawiguna, Danureja cepat-cepat menyembah putra mahkota dan semua yang lain berbuat yang sama. Kumpeni lalu memberikan tembakan penghormatan dengan bedil dan meriam dan putra mahkota diangkat menjadi Sunan dengan gelar Sunan Pakubuwana Senapati Ingalaga Ngabdurrachman Sayidin Panatagama.[28] Pada saat itu Mattheus de Haan menjadi Gubernur Jendral, Valcknier menjadi direkturnya, Duyvens menjadi commandeur di Semarang dan Coster menjadi kapten di Kartasura,[29] Semua pejabat tanpa kecuali tunduk kepada sang Sunan yang baru, yang tampan, gagah, dll. Dia menikah dengan putri yang cantik, putri dari Pangeran Purbaya.[30] Babad menutup adegan bahagia ini dengan daftar dari saudara dan saudari Sunan: total jumlahnya 26, 8 saudari dan 18 saudara.[31]

XXI:20-2

(Situasinya belum beres sebab) Sunan yang baru menolak untuk duduk di atas singasana. Dia duduk di sebuah bantal di bawahnya. Danureja merasa bahwa Sunan masih sungkan kepada kakaknya Arya Mangkunagara. Arya Mangkunagara harus meyakinkan saudaranya supaya tidak kuatir. Danureja malam itu mengundang Arya Mangkunagara ke Kapatihan. Di sana dia berkata bahwa dia akan melaporkan kata-kata Arya Mangkunagara keesokan harinya ke istana. Tapi masih ada masalah dengan para saudara dan saudari yang lebih tua. Mereka semua harus ditinggikan derajatnya dan dinikahkan. Arya Mangkunagara setuju dan berkata bahwa tidak ada lagi yang perlu dirisaukan. Dia kemudian pergi.

Patih Danureja datang ke istana, dipersilahkan menghadap dan berkata kepada Sunan bahwa dia tidak perlu khawatir untuk duduk di singasana. Bahkan Arya Mangkunagara sendiri sudah berkata bahwa Sunan harus duduk di singasana. Danureja kemudian membicarakan masalah saudara saudari raja yang harus dinaikkan derajatnya dan dinikahkan. Sunan tersenyum dan berkata dia akan mengunjungi kediaman Arya Mangkunagara keesokan harinya. Danureja mengirim seorang utusan untuk memberitahu Arya Mangkunagara. Pada malam harinya semua orang membantu membuat atap sementara di depan kediaman Arya Mangkunagara.

XXI:23-4

Keesokan harinya Sunan dan semua pembesar mengunjungi kediaman Arya Mangkunagara, yang sudah menata segala harta bendanya untuk diperiksa. Sunan diterima dengan penghormatan besar (1727). Dia ada di sana sejak jam delapan sampai setengah empat. Arya Mangkunagara mengirimkan semua yang telah diperiksa oleh Sunan ke istana: kuda, gamelan, senjata, dll. Setelah beberapa hari para saudara saudari raja dinaikkan derajatnya dan dinikahkan. Diberikan daftar tentang siapa menjadi siapa dan menikah dengan siapa.[32]

[Kisah tentang penolakan Sunan untuk duduk di singasana dan kunjungannya ke kediaman Arya Mangkunagara tidak bisa dikonfirmasi lewat sumber-sumber VOC. Karena Kumpeni pada saat itu sedang mengawasi Arya Mangkunagara dengan ketat, seandainya ini terjadi pasti sudah dilaporkan, apalagi sang residen pasti akan diundang dalam kesempatan semacam itu. Jelas bahwa babad menyelipkan kisah ini untuk membangun citra Arya Mangkunagara, bahwa klaimnya terhadap tahta diakui bahkan oleh Sunan sendiri, tapi dia dengan ikhlas melepaskan klaim itu dan di sini ditekankan bahwa dia menyerahkan dirinya sepenuhnya.]

XXI:25

Sunan mengirim rombongan duta yang membawa banyak hadiah ke Batavia.[33] Rombongan itu dipimpin oleh seorang pengikut Danureja, seorang pejabat rendahan bernama Wirakrama (yang sebelumnya bernama Cakrakerti). Dia pergi sangat lama. Ngabehi Jayasonta dan Raden Prameya dikirim menyusulnya.[34] Mereka pun tidak kembali-kembali. Cakraningrat dan Jayaningrat tertawa mendengarnya [dan berkata bahwa] Danureja telah menapak pada sehelai daun, memilih anak kecil untuk menjadi raja supaya dia sendiri yang dapat menjadi raja. Seorang raja yang masih muda dapat didorong ke segala arah. Itulah perasaan para pembesar karena rombongan duta itu tidak kembali.

Danureja memberi Pangeran Ngabehi dan Pangeran Buminata masing-masing seribu sawah untuk penghidupan mereka. Tapi Arya Mangkunagara masih harus menghidupi saudara dan saudari lainnya.

Lalu Rangga Wirakrama, Jayasonta dan Suprameya kembali dari Batavia[35] sambil membawa jenazah Panembahan Purbaya dan kerabat serta pengikutnya yang masih ada.[36] Danureja kebetulan masih ada di Semarang. Semuanya kemudian kembali ke Kartasura.

XXI:26-8

Wirakrama diangkat menjadi gedhong kiwa sebagai ganti Sumabrata.[37] Para wedana jero lainnya terkejut sebab itu dilakukan tanpa berkonsultasi sebelumnya. Danureja adalah dalangnya. Wirakrama diberi gelar Tumenggung Nitinagara. Ini terjadi pada 1727.

[Kerumitan situasi seputar rombongan duta Tumenggung Nitinagara, yang sudah mendapat gelar itu sebelum berangkat ke Batavia, dibahas panjang lebar dalam Bab II. Babad menyederhanakan masalah ini untuk membuat gambaran yang lebih hitam lagi tentang Danureja.]

Kira-kira pada saat yang sama Pangeran Buminata meninggal.[38] Dia digantikan oleh adiknya. Semua saudara lainnya diangkat menjadi pangeran.[39] Babad menutup adegan ini dengan puji-pujian bagi Sunan dan ketentraman negaranya.

XXI:29

Kisahnya kembali kepada Pangeran Arya Mangkunagara. Dia sudah dikaruniai tujuh anak. Dari istri pertamanya, Raden Ayu Wulan, putri dari Pangeran Blitar, lahir Raden Mas Umar dan Raden Mas Said. Raden Mas Umar diambil oleh raja sebagai lanjaran.[40] Raden Mas Said lahir pada 7 April 1726, ketika Amangkurat sedang sakit. Semua pembesar dan istri mereka yang tinggal di kediaman sementara di Paseban datang untuk mengunjungi kediaman Pangeran Arya. Wahyu Amangkurat tertahan sebab dia sedang sakit dan wahyu itu menyentuh kepala dari ibu yang baru saja melahirkan itu. Bayi itu memancarkan sinar. Banyak yang mengatakan bahwa itu artinya dia akan menjadi seorang pemimpin besar dalam perang. Pangeran Arya Mangkunagara sangat senang. Semua orang kemudian kembali ke kediaman sementara di Paseban.

[Di sini orang yang nantinya menjadi Mangkunagara I diberi legitimasi supernatural yang sesuai. Tentu saja ini sama sekali tidak ada dalam catatan VOC, yang hanya menyatakan bahwa Ratu Amangkurat menghadiahi Pangeran Arya dengan seratus reyal, tiga cincin gelang emas dan tiga kain atas kelahiran putranya.[41] ]

XXI:30-2

Pangeran Arya mendapatkan dua anak dari Ragasmara, putri dari Cakraningrat yang meninggal dalam insiden di atas kapal itu. Kemudian dia mendapat dua anak lagi dari seorang selir dan seorang putra dari Raden Ayu Wulan. Tapi kali ini Raden Ayu Wulan dan putranya meninggal pada waktu melahirkan.[42] Pangeran Arya menjadi sangat sedih. Jenazahnya dibawa ke Imogiri untuk dimakamkan. Ratu Pakubuwana yang masih hidup saat itu sangat sedih mendengarnya dan membawa Raden Mas Said ke istana untuk disatukan dengan kakaknya Raden Mas Umar. Raden Mas Umar yang waktu itu berumur tiga tahun kebetulan sedang duduk di pangkuan raja. Sang raja membandingkan dua orang keponakannya itu. Ini membuat Ratu Pakubuwana yang sudah tua itu tidak suka dan dia berkata bahwa dia akan mengambil yang masih kecil sementara raja mengambil yang sudah agak besar. Cucu sang Ratu (maksudnya sang raja) tersenyum pada sang cucu buyut (Raden Mas Said) yang ada di pangkuannya tapi Raden Mas Said kemudian cepat-cepat diambil. Sang raja cepat-cepat mengikuti bersama istri-istri dan pembantu-pembantunya tapi ketika Ratu Pakubuwana yang sudah tua itu tenang kembali sang raja pun kembali.

Babad kemudian menggambarkan kesedihan Pangeran Arya Mangkunagara atas meninggalnya istrinya. Setelah berduka cita selama 40 hari dia kembali aktif dalam pertemuan dan pertandingan. Setelah menjadi duda karena kematian istrinya,[43] Arya Mangkunagara berniat menikah lagi. Dia melirik pada istri raja yang sudah disingkirkan, yang masih keturunan Cina dan berasal dari sekitar Semarang.

XXI:33-5

Tersebar gosip bahwa mereka berdua sudah saling bertemu dan menukar hadiah, tapi itu tidak benar. Ketika Panembahan Purbaya masih hidup dalam pengasingan di Batavia, dia mengirim dua potong kain lurik ke Kartasura, satu untuk Ratu Kencana dan satu untuk Arya Mangkunagara, yang sudah dianggapnya seperti putranya sendiri. Ketika gadis dari Semarang itu tidak disenangi lagi oleh raja, Ratu Kencana merasa kasihan dan memberikan kain lurik itu padanya tanpa sepengetahuan orang lain dalam kraton. Mata-mata raja dengan ceroboh melaporkan bahwa mereka telah saling bertukar hadiah dan sudah akrab satu sama lain. Kain itu buktinya. Ketika raja kebetulan melihat wanita itu mengenakan kain itu, dia menjadi yakin bahwa laporan itu benar tapi tidak mengatakannya kepada siapa-siapa. Ketika Arya Mangkunagara meminta wanita itu untuk dijadikan istri, raja menjadi sangat marah. Dia berpikir bahwa Arya Mangkunagara telah bermain-main dengan istri-istrinya, tapi sang raja menahan perkataannya sebab istrinya sedang hamil saat itu. Patih mendengar bahwa raja marah dan mencari tahu mengapa dan menjadi marah juga. Dia menyuruh Cakraningrat untuk duduk di sebelah Arya Mangkunagara pada hari Kamis berikutnya dan mengambil kerisnya. Raden Natawijaya diperintahkan untuk membuat persiapan. Keesokan harinya Pangeran Arya Mangkunagara ditahan di loji VOC.[44] Ini menimbulkan keributan. Wanita itu dibunuh dan Pangeran Arya diasingkan.

Raden Natawijaya dan Tumenggung Nitinagara membawa dia dan mereka yang bersamanya dalam pengasingan ke Semarang.[45] Dari sana ia dikirim ke Batavia, dimana dia ditahan Kumpeni. Kumpeni merasa tidak enak dengan masalah ini dan berpikir bahwa mungkin raja akan menyesali kemarahannya yang mendadak ini. Tapi setelah kemarahan raja reda, Pangeran Arya masih ada di Batavia. Setelah Pangeran Arya diasingkan, permaisuri melahirkan seorang putri.[46]

XXI:36-8

Danureja dikirim sebagai duta ke Batavia.[47] Dia ditemani oleh Tirtawiguna, Jayasentika dari Kudus dan Puspanagara dari Batang. Mereka pergi ke Semarang dan dari situ berangkat ke Batavia, dimana mereka diterima dengan meriah.[48]

Tiga hari setelah kedatangannya Danureja diterima oleh Gubernur Jendral De Haan. Surat Sunan diserahkan dan meriam ditembakkan sebagai penghormatan. De Haan menanyakan kesehatan Sunan dan situasi dari peperangan melawan Mas Brahim. Danureja kemudian dibawa ke kantor di sebelah kiri belakang. Selain mereka hanya ada seorang penterjemah. Danureja menyerahkan dua ribu reyal dan jaminan kesetiaannya.[49] Danureja berkata bahwa dia telah berbuat sebaik mungkin untuk kepentingan raja. Dia bersumpah bahwa jika dia tidak setia, nasibnya tidak akan bahagia. Mattheus de Haan heran mendengar letupan emosi itu. Danureja tidak perlu khawatir. De Haan memegang tangannya dan menuntunnya keluar. Setelah beberapa lama Danureja diminta pulang dan diminta untuk kembali tiga hari kemudian. Dalam perjalanan pulang, Danureja dan rombongannya melewati kediaman Pangeran Arya Mangkunagara, yang melihat mereka dan perasaannya menjadi campur aduk.

Kisahnya beralih ke Kartasura. Pembangunan masjid besar dimulai pada tanggal 6 September 1728. Pada kira-kira saat yang sama Mangunoneng dari Pati dicopot, karena dia telah membunuh orang Cina.[50] Jayawinata dari Mataram kehilangan sebagian besar cacah-nya dan sekarang hanya memiliki seribu.[51] Pangeran Martasana menceraikan istrinya, putri Purbaya, yang merupakan adik permaisuri.[52]  Putri ini kemudian menikah dengan Tumenggung Natawijaya.[53] Raden Ajeng Aminah (saudari raja) diceraikan dari Rangga Kaliwungu.[54]

Babad kemudian kembali pada Danureja di Batavia. Setelah tiga hari berlalu dia bertemu lagi dengan Gubernur Jendral. Atas permintaan Mattheus de Haan mereka berbicara empat mata. Dia tidak percaya pada mata-mata Jawa. Di kantor mereka hanya ditemani penterjemah dan direktur Adriaan Valckenier.

XXI:39-40

De Haan memulai pembicaraan dengan mengangkat masalah Cakraningrat, yang sudah dijanjikan akan mendapatkan Pasuruan, Probolinggi dan Bangil. Dia bertanya apakah janji ini sudah dipenuhi. Danureja berkata bahwa itu sudah menjadi kehendak raja, tapi masalah itu sekarang sedang ditunda. Dia sendiri tidak campur tangan dalam masalah itu. De Haan memintanya untuk memikirkan masalah ini kembali: apakah keputusan itu sudah benar. Danureja menjawab bahwa Cakraningrat sudah menjadi saudara ipar raja dan rakyat lebih suka diperintah oleh orang yang masih anggota keluarga raja dan itu bisa jadi akan membuat wilayah itu makmur. Tapi tidak pada tempatnya jika Cakraningrat memperbesar pasukannya dan menjadi sombong. De Haan berkata bahwa Danureja sebaiknya memikirkan lagi apa yang telah dikatakannya itu. Jika bertindak dulu dan berpikir kemudian, bagaimana jadinya nanti? Ataukah mungkin Cakraningrat telah membangkang terhadap raja? Danureja menjawab bahwa sekarang belum, tapi siapa yang tahu soal nanti? De Haan dengan marah berkata bahwa bukan itu cara penyelesaiannya. Tidak seorangpun tahu apakah sesuatu akan menjadi buruk di masa depan. Cakraningrat sedang berperilaku sangat baik saat ini. Jika dia tidak mendapatkan apa yang sudah dijanjikan kepadanya maka dia akan marah dan jika dia marah kerajaan akan terpecah-belah. Sebaiknya Danureja memutuskannya saat itu juga. Danureja berkata dia tidak berani mengatakannya kepada raja. De Haan menjawab dengan marah bahwa raja masih muda dan pasti akan menurut padanya. Danureja berkata masalahnya lain dan dia tidak memiliki kekuasaan apapun dalam masalah ini. Kalau nanti raja cukup umur dan tahu bahwa Danureja telah memberikan sebagian dari wilayah kekuasaannya, dia akan menanggung akibatnya. Dia akan ditembak di Alun-alun. Kepalanya akan dipotong dan anak cucunya akan menderita. Sebab bagi raja hanya ada dua hal yang paling penting: kehormatan dan wilayahnya. Bahkan pelanggaran yang paling kecil terhadap tanah sekecil apapun tidak dapat dianggap enteng, lain dengan yang atau harta benda. Kalau soal itu dia dapat bersikap santai.

XXI:41-5

Gubernur Jendral Mattheus de Haan mengganti topik. Dia meminta agar para pembesar, Demang Urawan, Wirajaya dan Mangunnagara dipanggil. Dia berkata bahwa menurutnya mereka punya wewenang untuk bertindak jika Danureja sakit atau berhalangan. Rupanya Danureja tidak merasa bertanggung jawab kepada mereka dan bertindak sesuai kehendaknya sendiri. Danureja menyimpan sendiri semua informasi dan bahkan tahu kabar dari dalam istana lebih cepat daripada mereka. Mendengar ini, Danureja agak terkejut dan bertanya darimana dia bisa punya pendapat seperti itu. De Haan berkata bahwa mungkin orang-orang lain kecewa karena Danureja mengangkat pengikutnya sendiri Nitinagara mejadi wedana jero. Danureja kaget dan dengan terbata-bata berkata bahwa dia tidak punya kekuasaan soal itu sebab raja sendiri yang telah mengangkat Nitinagara.

De Haan tampaknya marah dan terdiam. Setelah beberapa saat dia meminta penterjemah untuk meminta patih pulang. Di kediamannya, Danureja dikunjungi oleh meneer Patras, yang berbicara soal Arya Mangkunagara. Biaya hidup Arya Mangkunagara harus dibayar. Danureja menawarkan diri untuk membayarnya. Dia masih mendesak agar Arya Mangkunagara diasingkan keluar Jawa. Menurut Danureja itu sudah menjadi keinginan raja tapi tidak dicantumkan dalam surat resmi. Patras menegurnya karena membawa masalah yang tidak tercantum dalam surat resmi dan karena menimbulkan perpecahan dalam keluarga raja. Patras kemudian pergi.[55] Danureja kemudian tidak dianggap lagi. Dia tidak dipulangkan maupun dipanggil untuk menghadap.

Setahun lebih satu bulan setelah kedatangan Danureja, Gubernur Jendral Mattheus de Haan meninggal[56] dan digantikan oleh direktur Valckenier.[57] Ini diberitahukan kepada raja. Mereka saling mengirim surat. Raja bertanya-tanya mengapa Arya Mangkunagara masih ada di Batavia. Valckenier berkata kepada Danureja bahwa selama Arya Mangkunagara sudah berada di tangan Kumpeni, masalahnya beres. Apakah dia berada di tempat yang dekat atau jauh itu bukan masalah. Danureja tidak membicarakannya lagi. Valckenier berkata bahwa surat dari raja telah sampai dan Danureja boleh pulang pada hari Sabtu berikutnya. Dengan lega dan gembira Danureja dan rombongannya pulang. Mereka tinggal tiga hari di Semarang,[58] dimana mereka diterima dengan megah. Sang commandeur sangat senang. Kemudian rombongan itu pulang ke Kartasura.[59] Mereka disambut dengan kegembiraan besar. Danureja menangis tersengguk-sengguk ketika menghadap raja.

[Pada Bab II kita telah melihat betapa pentingnya kunjungan Danureja ke Batavia bagi posisinya di dalam kraton. Tapi babad tampaknya tidak mengerti pentingnya masalah Madura dan justru menggunakan kesempatan ini untuk mencela Danureja lewat kata-kata Gubernur Jendral De Haan tentang penanganannya yang salah terhadap masalah mas kawin Cakraningrat dan karena menarik terlalu banyak kekuasaan kepada dirinya sendiri. Tapi penekanan utama ada pada kesalahan penanganannya dalam masalah Arya Mangkunagara. Babad menyederhanakan begitu saja permasalahannya dan menggambarkan Danureja sebagai tokoh stereotip patih: yang tidak bertindak demi kepentingan raja dan kerajaannya tapi demi skema-skema kecilnya sendiri dan pada kenyataannya hampir semua patih sejak Sangkuni dalam Mahabrata baik secara fiksi maupun secara nyata akhirnya selalu tersudut ke posisi stereotip ini. Peran Kumpeni yang tidak jelas dalam seluruh masalah ini tertutupi oleh gambaran tentang orang Belanda yang selalu kasar, tidak sabaran dan kadang meledak kemarahannya, tapi sama sekali tidak menunjukkan motif-motif yang ada di balik itu dan tanggung jawab yang mereka tanggung dalam masalah Madura. Kadang orang Belanda digambarkan sebagai pengkhotbah yang keras. Mereka tidak selalu dapat memahami adat Jawa, tapi isi khotbah mereka dan hak mereka untuk memberi khotbah tidak pernah dipertanyakan sebab isi kata-katanya yang bernada sangat tidak Jawa itu adalah mengulang apa yang telah dikatakan penulis babad sebelumnya.]

Raja tampaknya agak reda kemarahannya dan Danureja dipersilahkan mundur dari hadapan raja. [Kemudian baitnya ganti menjadi dhandanggula yang lebih manis.] Kapten Upag tiba dan kunjungannya ini menciptakan kesibukan. Setelah itu datanglah masa tenang dimana Danureja bekerja untuk kemakmuran negerinya.

XXI:46-8

Raden Tumenggung Natawijaya menikah dengan Raden Ajeng Salamah (Jemblem).[61] Raden Ajeng Aminah menikah dengan Arya Pringgalaya.[62] Tumenggung Nitinagara dicopot dan digantikan oleh Ngabehi Tirtawiguna.[63] Demang Urawan meninggal.[64] Dia tidak digantikan oleh putranya Sutawijaya [bupati Kamagetan] tapi oleh seorang pembantu raja, Candramanggala, yang diberi gelar Candranagara. Raden Tirtakusuma, cucu dari Pangeran Arya Mataram dan sepupu pertama raja, diberi gelar Arya Malayakusuma dan diangkat menjadi wedana Siti Ageng,[65] di sebelah Arya Pringalaya, yang sebelumnya bernama Martakusuma.[66] Raden Ayu Siti Sundari [Bengkring, satu-satunya saudari kandung Sunan] menerima gelar Ratu Maduretna.[67] Pangeran Martasana menjadi Pangeran Dipanagara.[68] Pangeran Ngabehi [Loringpasar] menjadi wedana sentana sebelah kiri sementara Pangeran Dipanagara menjadi kliwon sebelah kiri. Pangeran Buminata menjadi wedana sentana sebelah kanan dan Pangeran Mangkubumi menjadi kliwon sebelah kanan. Semuanya mendapat tambahan cacah yang berasal dari harta benda Arya Mangkunagara. Kerajaan menjadi makmur.

Tumenggung Candranagara (Cakranagara) dicopot.[69] Dia digantikan oleh Raden Purwakusuma, saudara ipar raja, yang diberi gelar Demang Urawan. Ratu Kencana melahirkan Raden Mas Priyembada pada tanggal 21 Desember 1730. Raden Ajeng Tajem meninggal.[70] Raden Ajeng Inten menikah dengan Demang Urawan.[71] Raden Ajeng Jumanten menikah dengan duda dari Raden Ajeng Tajem yaitu Raden Wiratmaja.[72] Pangeran Dipasanta meninggal.[73]

XXI:49-52

Raden Mas Priyembada, putra raja, meninggal.[74] Dia tidak hidup lama. Raja sangat sedih tapi kemudian pulih dan menjadi sangat sayang kepada Raden Mas Umar. Kemudian Umar meninggal.[75] Raja sangat berduka sehingga tidak mau makan maupun tidur dengan istri-istrinya. Hanya Raden Ayu Gedhong yang diperbolehkan menemuinya.

Danureja bingung. Raja tidak memiliki penerus. Jika raja mendapatkan penerus dari Mbok Gedhong, putri Wangsaprana,[76] akan timbuul masalah. Danureja berunding dengan Jayaningrat, Citrasoma, Mataun, Surabrata dan pembesar lain. Mereka memutuskan untuk meminta semua ulama, pertapa, orang suci, dsb. berdoa agar raja mau berkumpul lagi bersama permaisuri.

Sang permaisuri masih berduka. Dia tidak mau makan kecuali pelem dodol, tidak mau tidur karena kehilangan satu-satunya putranya dan sekarang karena raja menghindarinya. Sang raja suka berkeliaran malam-malam di dalam kraton sambil mengawasi semua orang.

XXI:53-5

Sang permaisuri tidak dapat tidur. Dia membaca Serat Maljunah sampai tengah malam untuk menentramkan hatinya. Seolah menjawab doa para pertapa, sang raja kebetulan lewat. Dia mendengar orang membaca dan memyuruh dua bujangnya melihat. Mereka melaporkan bahwa yang sedang membaca itu adalah sang permaisuri.  Sang raja batuk-batuk dan sang permaisuri membukakan pintu. Raja meminta permaisuri datang dan membaca di tempatnya. Mereka tidur bersama dan sang pemaisuri hamil. Danureja sangat senang. Ratu Pakubuwana yang sudah tua meninggal pada tanggal 5 Januari 1732. Permaisuri melahirkan seorang putra pada tanggal 2 Februari 1732. Seluruh negara bergembira. Ratu Amangkurat berziarah ke Mataram.[77]

[Setelah memberikan legitimasi supernatural kepada Raden Mas Said, yang kemudian menjadi Mangkunagara I (XXI:29), kelahiran dari orang yang kemudian menjadi Pakubuwana III pun harus diberi kisah yang luar biasa pula. Kelahirannya dikatakan sebagai akibat dari kehendak Tuhan dan berkat doa para ulama, pertapa, dll. Jika tanggal-tanggalnya diperiksa, terlihat bahwa ketika Mas Priyembada meninggal pada 8 September 1731 - tanggal ini tidak disebutkan oleh babad - sang permaisuri pastilah sudah hamil empat bulan. Dia melahirkan pada tanggal 2 Februari 1732 setelah hamil selama sembilan bulan persis, seperti yang dikatakan babad. Dengan kata lain, babad menghadirkan sebuah kisah yang agak khayal, yang menjadi semakin khayal ketika mengisahkan kematian Raden Mas Umar, yang sebenarnya terjadi pada tahun 1737.]

[Setelah memunculkan orang-orang yang kemudian menjadi Mangkunagara I dan Pakubuwana III, sekarang tiba saatnya untuk memperkenalkan petarung ketiga, yaitu orang yang kemudian menjadi Hamengkubuwana I.]

XXI:56-8

Ki Tandhamantri, bupati Kalangbret, menceritakan kepada Tumenggung Mataun dari Jipang tentang seorang pertapa yang membuat ramalan tentang seseorang yang akan menjadi raja dan pemimpin di masa depan. Tumenggung Mataun memanggil orang itu, yang bernama Wangsawana dan membawanya ke Kartasura pada perayaan Mulud. Dia diam-diam membawanya menemui Danureja pada malam hari. Danureja bertanya-tanya apa isi ramalannya. Bagaimana bisa ada kambing hitam di antara para bupati dan anggota keluarga raja yang bisa lolos dari tinjunya dan memulai pemberontakan selama dia masih hidup. Danureja bahkan sesumbar bahwa jika ada seratus ribu macan dan banteng di kerajaan ini, mereka semua akan masuk ke dalam kepalannya selama dia masih hidup. Seh Wangsawana berkata bahwa akan tiba saatnya nanti dimana apa yang dikubur dalam tanah akan keluar dengan sendirinya. Tidak perlu heran bahwa ini sudah ditakdirkan. Danureja menanyakan siapa nama dari pejuang berdarah biru yang akan muncul itu supaya dia dapat bersiap-siap. Seh Wangsawana kemudian membeberkan ramalannya tentang masa depan gemilang dari Raden Mas Sujana[78] dan Raden Mas Said.

Pembicaraan mereka terputus oleh kedatangan Mbok Secawati, pembantu Ratu Amangkurat, untuk memanggil Danureja. Dia berkata bahwa Ratu Amangkurat pada malam Jumat terakhir[79] bermimpi bahwa bulan menghilang. Banyak orang memanggil-manggil bulan. Bulan itu jatuh ke pohon dhuku dan hanya Pangeran Mangkubumi yang melihatnya. Dia mengambil bulan dengan bantuan tongkat dan memakan separohnya. Sisanya ia buang. Bulan kemudian kembali ke langit. Setelah itu sang Ratu terbangun. Laporan itu membuat Danureja gelisah dan dia hampir tidak dapat berbicara.

Ketika disampaikan bahwa Ratu Amangkurat bertanya apa yang harus dilakukan sehubungan dengan mimpi itu, Danureja menyarankan agar Mbok Secawati tidak menceritakannya kepada siapa-siapa. Bertindak berdasarkan mimpi yang tidak dimengerti adalah dosa. Danureja kembali ke rumahnya di sebelah belakang kediamannya untuk bertemu dengan Seh Wangsawana dan bertanya apakah dia, Danureja, akan mendapat kesempatan untuk melihat itu terjadi. Seh Wangsawana tidak mau menjawab, tapi memberi petunjuk bahwa Danureja tidak akan hidup pada saat itu terjadi. Danureja terlanda emosi dan air matanya mengalir deras. Setelah pulih dia mempersilahkan Seh Wangsawana dan Tumenggung Mataun mundur.

XXI:59-60

Danureja sejak itu membantu mendukung Seh Wangsawana. Setiap Mulud, Ki Mataun membawa Seh Wangsawana ke Kartasura, tapi Seh Wangsawana tidak mau menerima hadiah dari Danureja. Dia hanya meminta petah [sejenis kain].

[Kisah ini lebih daripada sekedar prediksi tentang masa depan gemilang Pangeran Mangkubumi. Seh Wangsawana dan reputasinya yang tak tercela - dia seperti halnya semua orang spiritual sejati menolak menerima uang maupun hadiah - juga meramalkan nasib Danureja, yang membawa ke adegan berikut ini.]

Adipati Jayaningrat dari Pekalongan meninggal.[80] Dia digantikan oleh putranya, yang juga merupakan menantu Danureja. Masih ada adiknya, bernama Mas Kutha. Ketika menjadi bupati Ambarawa dia bergelar Jayakusuma. Dia kemudian dijadikan bupati Tegal dengan gelar Tirtanata. Karena terjadi pemberontakan di Tegal, dia kembali ke Kartasura, dimana ia menjadi magang dari Tumenggung Wirajaya dan Tumenggung Tirtawiguna. Keduanya menerima suap[81] dan membujuk raja untuk mengangkat Tirtanata menjadi bupati di Pekalongan bersama dengan saudaranya dan menerima seribu cacah dan gelar Suradiningrat tanpa membicarakannya dengan Danureja. Ketika Danureja mendengarnya dia menjadi sangat marah. Dia lupa bahwa raja masih muda dan dalam sebuah adegan yang mengerikan dia mencopot Suradiningrat. Raja menerima berita itu lewat Wirajaya dan Tirtawiguna. Dia menjadi marah karena perintahnya ditentang dan tidak lagi suka pada Danureja. Dia memanggil Tirtawiguna dan Wirajaya dan berkata menyuruh Tirtawiguna untuk menulis sebuah surat kepada Kumpeni bahwa dia tidak lagi suka pada Danureja dan dia ingin menyerahkan Danureja kepada Kumpeni untuk diasingkan keluar Jawa.

XXI:61-4

Ratu Amangkurat mencoba mencegahnya, tapi raja tak bergeming. Malamnya Tirtawiguna datang untuk menyegelkan surat itu. Ke dua surat itu, satu untuk Semarang dan satu untuk Batavia, dikirim lewat pesuruh Belanda.

Dewan Hindia membicarakan surat itu[82] dan memutuskan untuk menyetujui permintaan raja. Coyett ditunjuk untuk melakukan penahanan itu. Dia berangkat ke Semarang dengan hanya membawa lima puluh budak Bugis.

Danureja dikirim ke Semarang seperti biasa untuk menyetorkan beras. Setelah tiba dia ditahan oleh Coyett pada tanggal 9 Juli 1733. Penahanannya ini mengejutkan semua orang. Orang-orang tua heran mengapa Danureja, yang sudah mengabdi pada dua raja sebelumnya, bisa menjadi sedemikian rupa. Tapi dua raja itu adalah raja yang tersohor sementara Danureja sekarang berlagak seolah dirinya raja. Meskipun sebabnya sepele, dosa-dosa Danureja sekarang menimpa dirinya sendiri. Dia telah gagal menuntun raja dan seperti yang terlihat dari kasus Pangeran Arya Mangkunagara dia tidak mampu mempertahankan keselarasan di antara anggota keluarga raja. Jika dia bertindak dengan berani dan berunding dengan para bupati, membujuk mereka untuk melupakan perbedaan yang ada dan melindungi mereka dari kemarahan raja, raja pasti tidak akan marah dan pasti akan memaafkannya. Jika seorang patih suka membuat raja marah sehingga sering mengasingkan orang, maka kerajaannya pasti akan runtuh.

Setelah datang surat resmi bahwa Danureja sudah ditahan, semua harta bendanya disita dan dibawa ke kraton, termasuk istri-istri, anak dan pembantunya. Raja merasa lega. Coyett memberitahu raja bahwa dia hendak mengunjungi Kartasura.

[Selanjutnya babad memberikan gambaran panjang lebar tentang kunjungan Coyett dan Duyvens ke kraton dan sambutan yang mereka terima di sana, yang penampilan luarnya sama dengan isi catatan harian Coyett dalam VOC 7827, tapi tujuan dari perjalanan itu, yaitu pembuatan kontrak baru, tidak disebut-sebut.]

XXI:65-7

Tumenggung Natawijaya menggantikan Danureja sebagai patih dengan gelar Raden Adipati Natakusuma. Tiga saudara Danureja (bupati Tuban, Surabaya dan Kediri) dicopot dan digantikan oleh Tumenggung Katawengan (di Kediri), Tumenggung Suradiningrat (di Tuban) dan Raden Surengrana (di Surabaya). Raden Surengrana ini adalah saudara Natakusuma. Datang perintah dari Gubernur Jendral agar Danureja dibawa ke Batavia, jika raja juga menghendakinya. Kumpeni tidak berhak mengadili dosa-dosa Danureja.

Meneer Patras datang ke Semarang untuk menemui Danureja. Danureja menangis. Patras berkata bahwa Danureja seharusnya tidak ikut campur dalam masalah keluarga raja dan seharusnya mencegah Pangeran Arya diasingkan. Danureja menunduk dan menangis. Dia mengakui kesalahannya dan berharap semoga Pangeran Arya dan raja bersedia memaafkannya. Patras berkata bahwa dari uang yang diberikan kepada Gubernur Jendral masih tersisa seribu reyal. Dia kasihan pada sang patih. Dia memberikan tujuh ratus reyal dari kantongnya sendiri kepada Danureja dan menyuruh Danureja menggunakannya untuk membeli tanah untuk kediamannya kalau dia sudah tiba di pulau pengasingannya di seberang lautan. Apakah dia akan berlayar atau tidak masih belum ditentukan. Coyett hendak memintakan ampun dari Sunan dan dia akan kembali membawa perintah Sunan. Dia sudah pergi selama empat bulan tapi akan kembali tidak lama lagi. Coyett tiba dari Kartasura[83] dan berkata kepada Danureja bahwa dia akan diasingkan ke Srilanka.

[Sebenarnya Danureja sudah dibawa ke Batavia pada tanggal 10 Agustus dengan kapal Kockenge, tapi kisah yang ditampilkan babad di sini tidaklah sedatar itu.]

Pangeran Arya Mangkunagara sudah ada di Batavia selama tujuh tahun. Dia bahkan mendapat seorang putra di sana. Kemudian dia diberangkatkan lewat ke kapal ke Srilanka. Karena angin dan arus yang tidak menguntungkan kapal itu membuang jangkar di tengah laut. Kapal kecil yang membawa Danureja dari Semarang jaraknya lebih dari satu bulan perjalanan jauhnya karena tiang layarnya patah. Mungkin sudah takdir, kapal itu bertemu dengan kapal yang membawa Pangeran Arya. Pada jam 7 pagi terjadi tabrakan. Kapal Danureja pecah. Orang-orang menjerit minta tolong. Kapten dan bahkan Pangeran Arya naik ke geladak. Sebuah perahu kecil diturunkan dan semuanya naik.

XXI:68-9

Besar kekagetan Danureja ketika dia melihat Pangeran Arya Mangkunagara. Dia memegangi dadanya dan meratapi kemalangan yang lebih besar lagi yang menimpanya. Ketika dia naik kapal, Pangeran Arya Mangkunagara pun terkejut. Danureja mendekati Pangeran Arya dan berlutut di depannya sambil menangis tersedu-sedu. Pangeran Arya bertanya dengan lembut bagaimana Danureja bisa sampai di sana dan apa yang telah menimpa dia. Danureja berkata bahwa dia harus menebus semua kesalahan yang telah dilakukannya dan meminta maaf. Bahkan kapten kapal pun terharu. Biang keladinya sekarang justru menjadi yang paling malang nasibnya.

Kapal kecil Danureja tidak dapat diselamatkan lagi dan mereka meneruskan pelayaran bersama-sama. Segala sudah dimaafkan. Perjalanan itu cukup menyenangkan dan pada malam harinya mereka diperbolehkan naik ke geladak. Pada suatu malam, ketika putra ketiga Pangeran Arya, Raden Mas Ali sedang berdiri di dekat Pangeran Arya, Danureja menceritakan prediksi dari Seh Wangsawana tentang masa depan gemilang dari Raden Mas Said dan Raden Mas Sujana [Pangeran Mangkubumi]. Semuanya tersenyum. Akhirnya mereka sampai di Srilanka dan ditempatkan secara berdekatan.[84]

Akhir dari kisah Danureja ini menunjukkan bahwa imajinasi literatur dalam babad ini cukup hebat. Tapi seluruh fragmen tadi bukanlah tarikh semata. Kita disuguhi alur cerita yang jelas, yang terutama ditarik oleh Danureja. Danureja merupakan tokoh penyatu yang membawakan ketiga kisah yang menjadi latar belakang bagi adegan Mangkunagara I, Hamengkubuwana I dan Pakubuwana III. Perpindahan dari adegan atau tema yang satu ke adegan dan tema lain juga ditangani secara kreatif. Penulis babad meringkas kejadian-kejadian rutin seperti perkawinan, pengangkatan, daftar anak, dll., menjadi blok-blok teks yang berfungsi sebagai caesura yang menjadi pembatas antar adegan-adegan utama dalam kisah. Penempatan caesura ini ditentukan oleh fungsi mereka dalam kisah dan bukan oleh kronologi dunia nyata. Misalnya, ketika Pakubuwana II akhirnya naik tahta dan diberikan kesan bahwa segalanya beres, babad memperkuat kesan itu dengan menempatkan caesura yang mengisahkan bahwa semua saudara dan saudarinya dinaikkan derajatnya dan dinikahkan, padahal pengangkatan dan pernikahan itu ada yang terjadi pada saat itu dan ada yang terjadi sesudah itu dan beberapa tidak diangkat maupun dinikahkan. Pengelompokan kejadian-kejadian  yang terpisah sampai sepuluh tahun lamanya ini dilakukan di beberapa tempat dalam cukilan babad tadi dengan tujuan untuk menciptakan caesura yang sangat fungsional di dalam struktur kisah. Dan memang sulit bagi penulis babad untuk mencarikan cara yang ekonomis untuk mengisahkan kejadian-kejadian ini selain daripada mengumpulkannya di tempat-tempat yang biasanya diisi oleh kejadian-kejadian semacam itu dan kadang beberapa dari kejadian itu memang terjadi pada titik itu. Sebelum membahas masalah ini lebih jauh, mari kita lihat bagaimana penggarapan yang dilakukan babad terhadap kejadian-kejadian yang dipaparkan dalam Bab III.

Dalam Bab III tadi kita menyoroti usaha kraton untuk menegakkan kedaulatannya di hadapan Kumpeni dan memperkuat cengkramannya terhadap bupati-bupati. Ke dua usaha ini terwujud dalam tindakan-tindakan Demang Urawan atau Pangeran Arya Purbaya. Tindakan-tindakannya menimbulkan kemarahan Kumpeni dan menimbulkan perselisihan dengan sejumlah bupati. Mereka baru bisa mengambil tindakan setelah saudarinya, sang permaisuri, meninggal dan terjadi celah yang bisa digunakan untuk menekan raja agar Arya Purbaya diasingkan berdasarkan tuduhan yang dibuat-buat. Di dalam babad, alur ini masih dipertahankan dengan perkecualian bahwa peran aktif Kumpeni dikurangi – sama seperti pada kisah Danureja. Patih Natakusuma pun mendapat peran pasif. Babad menggambarkan figur Arya Purbaya sebagai seseorang yang sudah sangat lali, tapi – seperti yang sudah kita kenal dari akhir kisah Danureja – pada akhirnya, ketika sudah terlambat, dia sadar dan menyesal, sehingga dia pun dapat keluar dari adegan dengan reputasi tak tercela.

[Setelah Danureja ditahan dan diasingkan] Adipati Natakusuma memimpin sebuah rombongan ke Batavia bersama Tirtawiguna, Suralaya (Brebes) dan Arya Kudus.[85] Mereka diperlakukan dengan hormat. Patih masih kerabat raja sehingga derajatnya lain dari patih yang sebelumnya.

XXI:70-1

Natakusuma kembali dari Batavia.[86] Permaisuri melahirkan seorang putri,[87] yang diberi nama Raden Ayu Kadhaton.[88] Pada sekitar saat yang sama, sang lurah kraton, Martakusuma, dicopot dan dikirim ke sebuah benteng di Majenang. Istri dan kaki tangannya, Ni Rengganis, dibunuh di Magetan.[89]

Pada tahun berikutnya Natakusuma kembali memimpin rombongan ke Batavia.[90] Dia dikirim untuk menjemput jenazah Sunan Amangkurat Mas yang diasingkan dan kerabat yang tersisa. Resminya, niat Sunan adalah untuk mendapatkan kembali pusaka-pusaka yang dibawa ke Srilanka: tombak, keris, sebuah baju[3] dan gong kecil Kyahi Bicak. Natakusuma ditemani oleh Suralaya, Arya Kudus dan Tirtawiguna. Mereka pergi ke Semarang dan dari situ berangkat ke Batavia dan diterima dengan kehormatan besar.[91] Permintaan Sunan dibicarakan panjang lebar.[92]

Setelah Gubernur Jendral mengirim utusan ke Srilanka, orang-orang yang diasingkan tiba di Batavia, yaitu putra-putra Amangkurat: Pangeran Mangkunagara, Pangeran Mangkuningrat, Raden Jayakusuma dan yang paling muda yaitu Pangeran Mas. Mereka dan pengikut mereka berjumlah sekitar dua ratus orang. Mereka menemui Patih Natakusuma. Rasanya seolah mereka bangkit lagi dari kubur. Kegembiraan yang dirasakan sangat besar.

Natakusuma dan rombongan dari pengasingan tiba di Semarang.[93] Dia memberitahukannya kepada raja dan raja memerintahkan Tumenggung Mangunnagara dan Tumenggung Mangkuyuda untuk menyambut mereka. Di Semarang mereka diberangkatkan dengan dentuman meriam. Mereka kembali ke Kartasura[94] dan disambut oleh kerumunan orang yang ingin melihat. Mereka tinggal di Kapatihan.

XXI:72-3

Keesokan harinya mereka dibawa ke istana. Pertama-tama mereka dibawa ke bangsal, dimana mereka dengan heran melihat megahnya sambutan dari semua yang duduk di sana dengan busana resmi. Patih menjelaskan bahwa itu sudah menjadi kehendak raja. Mereka kemudian diajak oleh patih dan kapten Belanda masuk ke dalam istana dimana mereka disambut oleh raja. Raja tidak duduk di tahta tapi duduk bersama mereka di atas tikar di lantai, untuk menghormati mereka sebagai saudara tua. Kemudian keluarga raja masuk dan menyalami mereka sebagai saudara tua.

Mereka ditempatkan di Kapatihan di kediaman Ki Secapati. Mereka datang pada hari Minggu dan pada hari Rabu semua pusaka sudah dibawa ke dalam istana. Kediaman Ki Secapati tidak cukup untuk menampung mereka semua dan mereka pindah ke kediaman Jayaningrat, yang lebih memadai, lebih indah dan luas. Gelar-gelar mereka diganti. Pangeran Mangkunagara menjadi Pangeran Wiramanggala, Pangeran Mangkuningrat menjadi Pangeran Tepasana. Gelar Raden Jayakusuma dan Pangeran Mas tidak diganti.[95]

Tapi sang permaisuri iri karena saudaranya, Raden Demang Urawan tidak diangkat. Dia kemudian diberi gelar Raden Arya Purbaya.[96] Pangeran Wiramanggala, pangeran tertua dari rombongan Srilanka, diberi ijin untuk tidak bertugas. Pangeran Tepasana, saudara kedua, mengambil alih tugas-tugasnya. Dia menerima seribu dua ratus cacah untuk penghidupannya. Wiramanggala menerima dua ratus, Jayakusuma menerima empat ratus dan Pangeran Mas menerima seratus. Pangeran Tepasana diperbolehkan membawa payung kebesaran dan mendapat istri Raden Ayu Tambelek, putri Pangeran Blitar yang merupakan janda dari Pangeran Buminata.[97] Pangeran Tepasana melaksanakan tugasnya dengan baik dan dia adalah orang yang welas asih dan rendah hati.

XXI:74-7

[Lain halnya dengan] Pangeran Purbaya, saudara ipar raja. Raja menyayanginya dan menelan semua yang ia katakan tapi orang-orang takut padanya dan para pejabat menjadi takut dan sedih.

[Babad kemudian menggambarkan keangkuhannya dan kebencian dan ketakutan yang ditimbulkannya.]

Seorang utusan dari Gubernur Jendral memberitahu raja bahwa Pangeran Loringpasar telah meninggal dalam pengasingannya di Cape Colony (Pulo Kap).[98] Dia diasingkan ke sana bersama dengan Pangeran Erucakra (Dipanagara). Kerabat yang masih tersisa kembali ke Kartasura.[99] Kedua putranya ditempatkan bersama Natakusuma.[100]

Babad beralih ke putra-putri Pangeran Tepasana. Pangeran Tepasana memiliki lima anak, dua putra dan tiga putri. Putra tertua, Raden Wiratmeja, sangat tampan dan raja ingin menikahkannya dengan Ratu Alit, putrinya tapi Ratu Alit masih terlalu muda untuk menikah. Maka mereka harus menunggu. Wiratmeja sebenarnya sudah memiliki selir di Srilanka. Adiknya, Raden Ajeng Banowati, juga telah menikah di Srilanka dengan Raden Anggakusuma, tapi Raden Anggakusuma sangat kasar dan Raden Ajeng Banowati tidak menghiraukannya lagi sekalipun mereka sudah punya anak satu di Srilanka. Di Kartasura, Puspadirja, adik bupati Batang yang tampan, melihat dia, melamarnya dan menikahinya dengan persetujuan Pangeran Tepasana. Anggakusuma sangat kecewa karenanya.

Putri Tepasana, Raden Ajeng Sumilah, pernah hendak dinikahi raja, tapi raja berubah pikiran dan kemudian menikahkannya dengan Pangeran Buminata.[101]

Putra bungsu, Raden Mas Garendi, juga sangat tampan. Diramalkan bahwa suatu hari nanti dia akan menjadi raja, tapi tidak lama. Setelah itu dia akan kembali ke pengasingan. Banyak orang di Kartasura beranggapan bahwa raja curiga pada saudara tuanya, Tepasana. Jayakusuma memiliki satu putra, yang bernama Raden Mas Surada. Pangeran tertua dari rombongan Srilanka, Wiramanggala, tidak  memiliki keturunan.

Babad kemudian beralih ke kisah Raden Ermaya, yang telah diangkat menjadi bupati Demak dengan gelar Tumenggung Suranata.[102] Dia dinikahkan dengan saudari raja, Raden Ajeng Umi(t). Tumenggung Suranata meninggal[103] dan Raden Martakusuma, yang telah diasingkan ke Majenang, diangkat untuk menggantikannya dengan gelar Sujanapura.[104] Raden Ajeng Umi(t), yang belum memiliki anak, juga dinikahkan dengannya.[105]

XXII:3-5

Babad kemudian berlanjut ke sebuah gambaran tentang pemerintahan teror yang dilakukan Pangeran Arya Purbaya. Bahkan Kumpeni pun tidak lepas dari terornya dan harus menarik diri dari Sitinggil, yang telah dijaganya sejak Pakubuwana I dan pindah ke sebuah tempat di sebelah baratnya.[106] Para pejabat terkejut dan tidak seorang pun berani protes. Patih Natakusuma cuma menggeleng-gelengkan kepala dan tidak berbuat apapun. Para pejabat yang lebih tua mulai memikirkan bagaimana caranya menghentikannya, tapi tidak berani melaksanakannya. Sejak saat itu tidak seorang pun berani membicarakan masalah itu atau mempertanyakan tindakan-tindakan yang diambil. Di dalam hati mereka semua setuju bahwa harus dilakukan sesuatu tapi mereka masih takut dan mencari-cari kesempatan yang tepat. Mereka menahan diri karena mengingat kondisi permaisuri. Lalu terjadi kekagetan besar. Permaisuri melahirkan tapi bayi perempuan yang dilahirkannya itu meninggal tidak lama kemudian.[108] Sang permaisuri hamil lagi tapi kehamilannya kali ini sangat sulit. Raja sangat cemas. Di seluruh wilayah kerajaannya, tidak satu pun gong dibunyikan, tidak ada pertunjukan wayang. Hanya di Cirebon dan Batavia musik masih dimainkan. Seluruh keluarga raja cemas.

Para pertapa dipanggil dan doa dipanjatkan. Para dhukun datang dari Jakarta dan tanah-tanah Sunda di Barat dan dari Pasuruan, Madura dan bahkan pulau Bawean dan Kangean di Timur. Semua obat dicoba. Akhirnya permaisuri melahirkan seorang putra,[109] yang juga meninggal tidak lama kemudian. Kondisi sang permaisuri tidak pulih. Tidak ada obat yang bisa menolong. Raja sangat cemas. Pangeran Purbaya berjaga di istana siang dan malam. Ketika raja harus pergi untuk beberapa saat, permaisuri berkata kepada saudaranya Arya Purbaya bahwa kalau dia mati, Arya Purbaya akan dicopot. Arya Purbaya tidak menjawab, hanya menangis. Percakapan mereka terputus oleh kedatangan raja, yang bertanya ada apa. Pangeran Purbaya minta maaf dan menangis sampai tidak ada air mata tersisa lagi, tapi masih ada harapan baginya sebab raja sering berkata bahwa dia tidak perlu memikirkan apa yang dikatakan permaisuri.

XXII:6-8

Kondisi ratu memburuk dan tampaknya waktunya sudah tiba. Dia meninggal.[110]

[Babad kemudian melanjutkan dengan gambaran panjang lebar tentang duka raja yang berlangsung sampai tujuh bulan. Lalu muncul masalah karena kosongnya posisi permaisuri.]

Dilakukan usaha agar raja tertarik pada Raden Ayu Kusuma, putri dari Pangeran Erucakra (Dipanagara) yang diasingkan itu, tapi tidak berhasil.[111]

Pangeran Purbaya kemudian memanggil Mangunoneng, bekas bupati Pati, yang sekarang menjabat sebagai panewu di bawah Raden Malayakusuma, tapi sebenarnya masih merupakan pengikut Purbaya. Tanpa diketahui orang lain, Purbaya bertanya dengan suara rendah apakah dia tahu wanita yang sangat cantik. Silsilahnya tidak penting asalkan dia adalah wanita tercantik di seluruh negeri. Mangunoneng berkata bahwa Purbaya terlambat, sebab wanita seperti itu ada, yaitu Raden Ayu Taman, cucu dari seseorang bergelar Raden Singasari, yang meninggal pada saat pengepungan Giri pada masa Sunan Amangkurat.

XXII:9-10

Raden Ayu Taman adalah wanita tercantik di dunia. Semua wanita cantik di Jawa hanya pantas menjadi dayangnya. Tapi dia sudah dinikahkan kepada saudara dari bupati Tebaya dengan imbalan delapan ratus rixdollar. Purbaya menyuruh Mangunoneng menyingkirkan suaminya dan memberinya dua ratus reyal untuk keperluan itu. Jika dia berhasil membunuh orang itu, dia akan diangkat menjadi rekan Citrasoma sebagai bupati Japara.

Mangunoneng berangkat ke Pasisir, tapi dia tidak mau melakukannya sendiri. Dia menawarkan seratus pices kepada penjahat yang melakukannya. Rahasia ini tidak tersimpan lama dan Citrasoma mendengarnya. Dia kaget. Ini akan membuat dia dan cucu-cucunya jatuh miskin. Dia secara diam-diam menawarkan lima ratus reyal dan seorang pembunuh dari Japara kemudian membunuh Raden Ayu Taman. Citrasoma menyadari bahwa jika wanita cantik ini dibiarkan hidup dan dipersembahkan kepada raja, dia akan kehilangan posisinya di Japara sebab dia sudah mendengar bahwa Pangeran Purbaya menginginkan Raden Ayu Taman. Pangeran Purbaya mengira Mangunoneng telah gagal karena tidak berhasil menjaga kerahasiaannya. Dia memanggil Mangunoneng dan mencopotnya dari jabatannya. Mangunoneng menghilang dan menjadi bajingan sejati.

[Kejadian ini tidak dapat ditemui dalam catatan-catatan Kumpeni. Entah benar atau tidak, kisah ini membantu melekatkan Mangunoneng ke pikiran pemirsa sebab ia kemudian akan memainkan peran penting sebagai patih Mas Garendi. Pada saat yang sama kisah ini menjembatani kematian permaisuri dengan tindakan-tindakan jahat Pangeran Purbaya lainnya.]

XXII:11-2

Dipasana, seorang magang dari Tuban dan bawahan Pangeran Purbaya, diperintahkan untuk menyerang Tuban dan bupatinya Suradiningrat. Tapi Dipasana tidak terlalu pandai membuat taktik. Pada suatu malam gerombolannya menyerang dan menduduki sebuah desa di tepi Tuban. Ini menimbulkan kekacauan di Tuban. Suradiningrat mendengar bahwa Dipasana, pengikut Purbaya, yang melakukan serangan itu. Maka dia bertindak sangat hati-hati. Dia diam-diam menempatkan pasukannya di desa itu dan para penyerbu berhasil ditawan. Dipasana dan gerombolannya dibawa ke Kartasura dan diserahkan kepada sang patih.[112]

Citrasoma dan Jayaningrat, setelah membicarakan masalah ini, mengajukan protes keras kepada sang patih. Para pembesar lain juga menyuarakan protes mereka dan patih menyadari bahwa harus dilakukan sesuatu. Dia berunding dengan Kumpeni, yang juga memerintahkan agar dia melakukan sesuatu. Sang pepati Japara dan Pekalongan dikirim dengan sebuah surat resmi untuk mengambil alih Tuban.

Sang patih tidak berunding dengan para pejabat yang lebih tua maupun para pepati mereka, seolah-olah dia menganggap mereka semua sebagai musuh. Pemerintahan dijalankan dengan sangat serampangan dan semua orang Jawa gemetar ketakutan. Kumpeni menyadarinya dan mempersiapkan rencananya dengan tenang. Patih kemudian berniat untuk memberitahukan masalah Tuban kepada raja dan berkata bahwa dia telah menerima sebuah surat dari commandeur di Semarang bahwa Pangeran Purbaya telah melepaskan seorang gila. Semua pembesar ketakutan tapi mereka menyimpulkan bahwa yang paling baik adalah meminta Dipasana [dari Purbaya] dan mengadunya dengan seekor macan sebab dia telah melakukan kejahatan besar. Raja setuju dengan sang patih dan meminta Dipasana. Arya Purbaya heran ketika datang seorang utusan dari sang raja dan tidak dari patih. Dia sempat takut tapi dia tetap angkuh.

Pada hari Senin Dipasana dan teman-temannya, total berjumlah tujuh orang memasuki arena.[113] Tapi keris yang ia bawa bukan keris biasa. Para penjaga takut semuanya. Keris itu berasal dari Pangeran Purbaya yang bisa mengiris tanpa harus menyentuh korbannya. Tidak heran macan itu dengan mudah dapat dibunuh dan ke tujuh orang itu bebas.[114]

XXII:13-4

Tapi Pangeran Purbaya tetap khawatir dan pada malam hari dia berjaga. Sejumlah pengikutnya menyertainya. Dia berkata kepada mereka bahwa dia heran apa sebenarnya yang dimaui raja dari dirinya. Dia merasa dirugikan sebab tindakan yang diambilnya untuk menyelesaikan masalah justru tidak dihargai. Setelah berjaga dia membagikan makanan di halaman depannya bagi semua orang. Banyak orang datang, termasuk Raden Mas Said, yang berkeliaran bersama teman-teman kecilnya. Pangeran Purbaya melihatnya dan meramalkan bahwa di masa depannya dia akan menjadi pahlawan besar. Sementara semua orang mengomentari prediksi itu dengan suara rendah, Purbaya tiba-tiba merasa tertekan, seolah dia akan disatukan dengan saudaranya yang ada di Srilanka. Dia seolah terbawa mimpi dan lupa sekelilingnya. Tapi ketika dia sadar kembali dia mengusir pikiran itu.

XXII:15-6

Babad kemudian melanjutkan dengan ceramah panjang tentang bagaimana seharusnya raja memperlakukan bawahannya dan bagaimana pejabat dan rakyatnya harus bersikap. Ceramah itu dimulai dengan kisah dari suami Raden Ayu Taman, yang bersumpah bahwa dia akan membalas dendam. Ceramah ini berakhir dengan kematian sang Kandhuruan, bupati Sewu.[115] Dia menjadi sangat sedih setelah kudanya ditusuk atas perintah Pangeran Purbaya[116] dan digantikan Garwakondha, cucu Wiraguna.[117]

XXII:17-8

Karena segalanya sudah terlalu jauh, maka Batavia diberitahu. Gubernur Jendral menulis kepada Sunan bahwa Pangeran Purbaya sedang menindas orang Jawa. Terserah pada Sunan apa yang hendak dilakukan, tapi jika dia membiarkan Purbaya, situasi akan makin parah. Tapi Sunan tidak bisa mengandalkan bantuan Kumpeni dalam hal ini.

Surat itu membuat Sunan sedih, tapi rasa sayangnya terhadap Pangeran Purbaya masih besar dan dia tidak tahu apa yang harus diperbuat.

Surat itu membuat rasa sayang Sunan pada Pangeran Purbaya agak melemah tapi dia masih ragu-ragu. Dia meminta Purbaya mengunjunginya secara diam-diam dan berkata kepadanya bahwa Kumpeni meminta penyerahan dirinya. Sunan tidak mau menyerahkan Pangeran Purbaya tapi di lain pihak dia juga tidak mau memutuskan hubungan dengan Kumpeni. Maka Sunan mengusulkan agar Purbaya bersedia diasingkan, bukan karena ke tempat yang biasanya tapi ke Tegalarum. Harta bendanya akan disita tapi dia boleh membawa apa saja yang ia mau. Jika Purbaya tidak mau dan memilih untuk berperang, Sunan akan memaafkannya tapi di luar dia harus berpura-pura menjadi musuh Purbaya. Sama seperti almarhum Sunan Amangkurat dan Surapati, Purbaya menundukkan kepala sambil menahan air mata. Purbaya tampaknya tidak yakin bahwa dia akan menang melawan peluru Kumpeni. Almarhum raja [Amangkurat III] pun tidak menang, padahal kekuatannya lebih besar dan Sultan Blitar serta ayahnya sendiri Panembahan Purbaya pun tidak mampu.

XXII:19-20

Sunan berkata bahwa situasinya sudah lain sekarang. Para leluhur itu tidak beruntung. Kali ini dia tidak hanya akan memberinya ijin tapi juga membiayainya. Purbaya menyembah dan berkata bahwa dia tidak akan membantah keputusan raja itu dan akan mempertimbangkan usulan raja.

Raja kemudian memanggil patih dan Tirtawiguna. Dia bertanya kepada mereka bagaimana sebaiknya menghadapi surat dari Gubernur Jendral. Patih menyerahkan jawabannya kepada Tirtawiguna. Tirtawiguna menjawab dengan analogi-analogi yang pada intinya setuju dengan Kumpeni. Sunan menjadi tertekan dan patih bertanya apakah tidak ada cara untuk mencegahnya. Natakusuma takut bahwa jika Purbaya diasingkan dia akan kebingungan. Tirtawiguna berkata bahwa jangan sampai karena mempertahankan satu kelingking seluruh kaki terbuang. Sunan setuju, mereka harus menyerah dalam situasi ini. Setelah patih dan Tirtawiguna pergi, raja memanggil Wirajaya dan memerintahkan agar dia dan orang-orangnya pergi untuk mengatakan kepada Purbaya bahwa dia dicopot dari jabatannya sebagai wedana keparak tengen dan akan diasingkan ke Kembangarum, sebuah perdikan desa yang pernah menjadi milik ayahnya. Namanya dikembalikan lagi menjadi Purwakusuma.[118]

XXII:21-2

Para kliwon Wirataruna dan Asmaradana pergi bersamanya. Dia ditemani istrinya, enam pembantu dan enam selir. Raja tidak mau membiarkan dia membawa lebih dari itu.[119] Mereka dalam kondisi yang menyedihkan ketika datang dan tinggal di sebelah utara masjid. Dia berdoa dan berjaga pada malam hari dan merenungkan nasibnya. Perintah raja yang terakhir pun terlupakan. Dia dengan sedih menyadari bahwa pemberontakan hanya akan berakhir dengan kematian.

Mereka yang mengiringinya sudah pulang, tapi masih ada seorang utusan raja yang tinggal di sana dan melaporkan bahwa Purbaya kemudian sering menerima tamu-tamu yang menyuruh dia memberontak.

[Di antaranya adalah putra Yudanagara dari Banyumas dan Jayasamudra dari Mataram. Anehnya babad menyebut mereka sebagai pengikut Purbaya. Putra Yudanagara yang disebutkan di sini mungkin adalah saudara dari putra Yudanagara lainnya yang diloloskan dari cengkraman Purbaya. Atau mungkin putra Yudanagara ini-lah yang diinginkan Purbaya sehingga kesimpulannya Yudanagara tidak berhasil menyingkirkan putranya ini.[120] Di dalam catatan-catatan Kumpeni Jayasamudra biasanya digambarkan sebagai musuh Purbaya, karena dia kehilangan sebagian besar bawahannya gara-gara Purbaya. Tapi satu hal yang jelas: kita tiba pada titik balik kisah Purbaya di sini. Dia menjadi sadar dan sesuai dengan pola tadi, dia harus menolak dorongan dari para pengikutnya itu.]

Mereka mengingatkan Purbaya pada pesan terakhir raja dan berkata bahwa rakyat Banyumas, Mataram dan Mancanagara siap mati dalam perang. Mereka ingin melihat wajah-wajah dari pejabat-pejabat licik di Kartasura itu ketika diadili dalam perang. Tapi Purbaya berkata dengan lembut kepada mereka bahwa mereka seharusnya tidak menambah masalah negara dengan membuat pemberontakan. Dia mendapat wangsit bahwa dalam waktu tiga tahun Jawa akan menderita amarah Tuhan dan akan runtuh dan berkata bahwa seharusnya mereka tidak menentang kehendak Tuhan.

Kisah itu kembali ke Kartasura. Tumenggung Natayuda, bupati Bumijo [Kedu], menggantikan Purbaya sebagai wedana keparak. Pada saat yang sama dia tetap menjadi kepala jaksa. Di Bumijo dia digantikan oleh Tumenggung Mangkupraja. Kumpeni yang sebelumnya sudah diberitahu mengajukan keberatan dalam sebuah surat dari Rijckloff Duyvens [sebenarnya Crul] mengapa Pangeran Purbaya diletakkan di desa sebesar itu. Dia bisa memanfaatkannya untuk memberontak. Jangan sampai lupa pada apa yang telah diperbuat ayahnya, Panembahan Purbaya, yang telah membuat Kumpeni terpaksa mengeluarkan banyak.

XXII:23-4

Raja kaget dan langsung mengirim Rajasonta untuk memindahkan Purbaya ke Kademen, sebuah desa kecil dan kosong di kaki gunung.[121] Tapi Jayaningrat, Citrasoma dan sejumlah pembesar lain berunding sepanjang malam di Kapatihan dan bersama-sama dengan para pejabat lain yang takut pada Purbaya mengumpulkan uang sebanyak 10.000 reyal dan mereka kirimkan ke Batavia bersama permintaan agar Purbaya diasingkan keluar Jawa.

[Pada akhir Oktober 1738, Citrasoma pergi bersama Tumenggung Raksanagara dari Tegal dan Ngabehi Surawikrama dari Gresik ke Batavia untuk memberi selamat - yang agak terlambat - kepada Valckenier atas pengangkatannya. Seperti biasanya para pejabat ikut menyumbangkan uang untuk biaya perjalanan dan sangu bagi mereka yang berangkat. Babad menganggap ini sebagai usaha untuk membuat Purbaya diasingkan keluar Jawa, padahal sebenarnya usaha itu dipimpin Crul dari Semarang dengan Tirtawiguna di Kartasura sebagai sekutu utamanya.]

Raja menerima surat dari Gubenur Jendral dan dia menjadi sangat sedih. Sebelum itu, ketika dia sedang mencoba untuk memuaskan semua pihak dan mengasingkan Purbaya ke Kembangarum, putra mahkota jatuh sakit. Ketika Purbaya dipindahkan ke Kademen, putra mahkota sembuh. Raja memberitahu Purbaya bahwa putra mahkota sudah diresmikan. Purbaya dan istrinya senang mendengarnya.[122]

Untuk memenuhi kaul yang dibuatnya ketika putra mahkota sakit, Sunan berziarah ke Panasan.[123] Setelah kembali dari Panasan, Sunan membuat keputusan dan memerintahkan Raden Singaranu untuk membawa Purbaya dari Kademen ke Kartasura. Dia tidak diperbolehkan menemui Sunan dan diserahkan kepada Kumpeni. Istri dan pengikutnya ditempatkan di Kapatihan. Dia kemudian dikirim ke pengasingan bersama istri dan salah seorang putrinya, Raden Ajeng Akik. Putrinya satunya, Raden Ajeng Ijo, ditinggalkan. Mereka berangkat pada tanggal 27 Jumadilakir, Dal, 1663.[124]

XXII:25

Pada tahun itu juga petaka menimpa sang pengulu. Surat cinta dari putranya ditemukan di dalam kraton. Putranya dieksekusi dan sang pengulu dipecat dan diasingkan bersama istrinya[125] ke Ayah.[126] Pada hari yang sama kemudian, gunung Merapi meletus.

[Babad tidak mau melewatkan kesempatan untuk menekankan dua kebetulan ini dan menyamakan letusan Merapi dengan kemarahan raja. Letusan itu memang besar dan berlangsung selama beberapa hari - yang menurut babad terjadi selama tujuh hari - dan menurut residen sampai menyebabkan timbulnya rongga kecil di Gunung itu. Kadang babad malah melewatkan kesempatan (dengan sengaja?) untuk menaruh penekanan khusus pada sebuah kejadian alam seperti ini. Persis satu bulan setelah diangkatnya Mas Garendi sebuah komet terlihat dan di Jawa itu selalu merupakan tanda dari akan terjadinya perselisihan wangsa. Ini adalah untuk pertama kalinya komet sebesar itu terlihat dan komet itu terlihat dari beberapa tempat lain di dunia.[127] Residen Pasuruan, Kapten Constans, melaporkan bahwa dia melihatnya pada tanggal 4-6 Maret 1742 dan komet itu pasti juga terlihat di Jawa Tengah. Tapi babad tidak menyebutkannya sama sekali. Sebuah fenomena yang lebih menakjubkan lagi, yaitu terlihatnya tiga matahari di langit (yang mungkin disebabkan refraksi atmosfir) oleh Reinier de Klerk di Surabaya pada tanggal 8 Desember 1742 jam 9.15 pagi.[128] yang hampir bersamaan dengan pengangkatan kedua Pakubuwana II. Jelas sekali ini bisa dihubungkan dengan terpecahnya kerajaan menjadi tiga setelahnya, tapi mungkin saja fenomena ini hanya terlihat di Surabaya.]

Sulit untuk menciptakan akhir cerita yang lebih tepat bagi fragmen babad di atas. Tapi akhir cerita itu tidak dibuat-buat dan sekaligus menggarisbawahi sebuah pokok penting dalam fragmen di atas. Kita tidak berhadapan dengan fantasi. Alur kisah dari Bab II dan Bab III tadi jelas terlihat, tapi sudah digarap ulang, ditambahi dan disusun sedemikian rupa. Ini terlihat jelas dari kisah Danureja dan kita lihat tangan yang sama menggarap pula kisah Purbaya. Pada dasarnya materi yang ada dibagi menjadi dua. Yang pertama adalah kisah kembalinya keturunan Amangkurat III dari Srilanka. Meskipun itu sebenarnya terjadi pada April 1737, tapi kisah ini merupakan satu unit utuh. Sebelum kita sampai ke caesura besar yang menjadi titik tolak untuk beralih ke cerita Purbaya, babad berhenti sebentar setelah memberi gambaran positif tentang Tepasana sebagai kontras bagi sosok negatif Purbaya. Barulah kita sampai pada caesura besar dimana dibahas tentang kembalinya keturunan Pangeran Loringpasar, yang meninggal dalam pengasingan di Cape Colony, dan anak-anak dari rombongan pengasingan Srilanka. Caesura ini ditutup dengan kisah pengangkatan bupati baru di Demak. Babad kemudian mengetengahkan kembali Pangeran Arya Purbaya dan pemerintahan terornya, tapi dengan nada yang lebih keras. Sebelum sempat memberikan rincian, babad beralih ke kematian Ratu, kemudian kembali ke masalah Purbaya dengan rincian tentang perbuatan-perbuatannya, padahal masalah Dipasana terjadi jauh sebelum kematian permaisuri.

Seperti halnya dalam kisah Danureja, ramalan memainkan peran penting dalam fragmen ini yaitu untuk menghubungkan adegan-adegan yang berurutan dan meningkatkan tegangan dramatis. Ada ramalan tentang peran Mas Garendi di masa depan, kemudian sang ratu meramalkan kejatuhan saudaranya, Purbaya. Maka kisah kematiannya itu memiliki fungsi dramatis dalam babad. Purbaya tidak menjadi sadar karenanya, seperti yang bisa ditebak, tapi sifat keras kepalanya justru makin bertambah. Pada kenyataannya kematian permaisuri memang fungsional dalam kejatuhan Arya Purbaya, tapi dengan cara yang berbeda. Kemudian ini disusul dengan ramalan kedua tentang masa depan Mas Said oleh Arya Purbaya, yang tiba-tiba dapat meramalkan bahwa dirinya akan diasingkan. Kemudian Purbaya juga meramalkan pecahnya Perang Cina. Ramalan ini pada saat yang sama menjelaskan penolakannya untuk memulai perang. Prediksi tidak hanya fungsional, tapi juga perlu. Bahkan sampai sekarang pun semua yang terjadi di Jawa selalu telah diprediksikan seseorang sebelumnya atau seseorang telah melihat tanda-tandanya sebelumnya. Dalam hal ini babad tidak berbeda dari pers populer dewasa ini.

Meskipun ada fantasi yang masuk ke dalam cerita karena alasan-alasan fungsional, dramatis atau bahkan alasan emosional yang mendalam, yang kita bahas sekarang bukanlah jenis fantasi yang menurut A.B. Cohen Stuart telah dia temukan dalam studinya terhadap kisah Baron Sakhender. Kita pun tidak memerlukan teori yang rumit tentang struktur sosial masyarakat Jawa ala W.H. Rassers untuk memahami kisah ini.[129] Sihir Berg pun tidak kita butuhkan di sini, setidaknya bukan dengan alasan-alasan mengapa dia menggunakannya. Berg memerlukan sihir untuk bisa memberikan nilai kepada faktor f dari persamaan R x f = S dari A. Teeuw supaya dia bisa mendapatkan nilai dari R atau sebuah laporan historis yang setidaknya konsisten dan memuaskan,[130] tapi kita dalam hal ini sudah memiliki laporan yang secara umum dapat diandalkan yaitu catatan-catatan VOC. Pada intinya kita memiliki faktor R dan S  sehingga kita sudah siap untuk menentukan nilai bagi f.

Studi terhadap bagian-bagian akhir babad sangat penting karena memiliki kemungkinan untuk dapat memecahkan persamaan Teeuw. Meskipun Teeuw berharap kemungkinan itu ada, kurangnya materi membuat dia langsung melompat ke sisi ekstrim lain, yaitu pendekatan yang murni literatur, non-referensial, seperti yang dilakukan dalam studi P.J. Worsley terhadap Babad Buleleng.[1131] L.F. Brakel mencoba menyeret Teeuw kembali dari lubang ini.[132] Masih ada lubang lain yang menganga, tapi baik Teeuw maupun Brakel tampaknya tidak akan jatuh ke dalamnya: yaitu pendekatan dokumenter yang lebih sempit itu. Ini adalah lubang dimana Ricklefs kadang tampaknya akan jatuh.

Patut dinyatakan di sini bahwa Ricklefs sendiri mengakui adanya masalah[4] dalam hal ini dalam jawabannya terhadap kritik dari A. Day, yang lebih cenderung kepada pendekatan literatur.[135] Pembahasan materi dimana minat pada “akurasi” sejarah tidak terlalu penting dan sangat banyak berisi perbandingan antara variasi tekstual, sudah dimajukan beberapa langkah oleh Kumar.[134] Meskipun studi terhadap variasi dan tema, motif dan pola literatur penting untuk memahami babad, intrusi sejarah, seperti yang dimaksud Brakel, hampir-hampir diabaikan. Dan ketika ini tidak diabaikan, seperti pada studi Ricklefs terhadap versi babad tentang kejatuhan Kartasura, cara penyampaian cerita akan menjadi terabaikan.[135] Bagi Ricklefs tampaknya ini sudah memadai: “Karena garis besar kisah yang ada dalam tarikh dapat diverifikasi beserta sejumlah detail dari catatan Kumpeni maka tarikh itu tampaknya bisa memberikan penjelasan yang dapat diandalkan terhadap periode itu.”[136] Jika dibandingkan antara versi babad dengan isi Bab II dan III,  maka kita melihat bahwa persamaan garis besar cerita dan sejumlah detail tidaklah menunjukkan adanya versi kejadian yang dapat diandalkan. Ini berlaku juga bagi kisah kejatuhan Kartasura versi babad.[137]

Kejelasan yang didapati Ricklefs dalam babad yang tidak didapatinya dalam catatan-catatan VOC adalah kejelasan yang dihadirkan babad untuk menggantikan fakta. Daripada susah-susah menyaring sejumlah besar rincian baik yang relevan maupun tidak relevan untuk bisa mendapatkan pemahaman tentang apa yang telah terjadi, babad memberi kita gambaran yang pada umumnya jelas, tapi sudah disaring dan dicetak ulang. Maka dalam hal ini, kesemena-menaan babad terhadap fakta, yang sering disebut-sebut, kalah penting dengan kerangka referensi umumnya. Maka tidak ada gunanya menggunakan pendekatan yang murni dokumenter terhadap babad. Babad tidak pernah menambahkan fakta yang sungguh-sungguh baru. Sekalipun fakta-fakta yang dipaparkan babad sudah enam puluh, delapan puluh atau bahkan seratus persen benar, kita tetap masih harus menghindari perangkap yang bernama “positivisme primitif”, yaitu membaca teks, entah itu babad atau catatan-catatan VOC, sebagai sumber informasi pada tingkatan analisa isi.[138]

Yang membuat babad menarik bagi sejarawan – selain karena fakta bahwa untuk beberapa lama babad adalah satu-satunya sumber yang kita miliki dan karena fakta bahwa semua artifak, baik itu artifak literatur, dokumenter atau apapun, adalah penting bagi seorang sejarawan – adalah bahwa babad tampaknya “juga sedang mencari-cari apa yang dicari oleh historiografi: yaitu cara memanajemen kompleksitas dengan ‘menata dan menetapkan mana yang penting’ (seperti yang dikatakan Edward Gibbon)  dari isi catatan sejarah.”[139] Lalu untuk apa dan dengan metode apa ini bisa dilakukan?

Kita sudah melihat tadi bahwa pelegitimasian wangsa yang sedang berkuasa merupakan kepentingan utama penulis babad. Tapi ini masih dimasukkan lagi ke dalam kerangka teleologis bahwa apapun yang terjadi, terjadi karena kehendak Tuhan, maka para raja tinggal dilabeli dengan kehendak Tuhan. Sebuah kepentingan lain – yang mungkin lebih dibutuhkan untuk mise en scéne[5] kisah – adalah fungsi teladan, atau fungsi didaktisnya. Di satu pihak ini diekspresikan lewat ceramah tentang bagaimana raja, pejabat dan rakyat harus bertindak dan di pihak lain ini diekspresikan lewat beberapa kisah dan terutama dalam penggambaran individu. Kesalahan-kesalahan mereka (yang biasanya adalah lali) adalah cermin bagi pemirsa dan menjadi penjelasan bagi apa yang dikisahkan. Manusia gagal karena tidak berhasil mencapai apa yang diharapkan dari mereka sebagai individu, sebagai pejabat atau keduanya. Di sinilah muncul bahaya de-personalisasi terhadap figur-figur historis, yang didapati oleh Worsley dalam Babad Buleleng dan bahkan de-historisasi sempat terjadi dalam babad. Akibatnya seringkali tidak jelas apakah seorang figur historis atau sebuah situasi historis sekedar digunakan untuk menyampaikan pemikiran-pemikiran yang sudah paten tentang kondisi manusia atau masyarakat ataukah tindakan dan kejadian itu dijelaskan dengan bantuan pemikiran-pemikiran ini.

Minat babad terhadap masa lalu bukanlah untuk memujanya. Jika sejarah diharapkan bisa memberikan pelajaran untuk masa kini, maka babad jelas memenuhi syarat itu. Fakta bahwa babad memberikan pelajaran ini lewat pemikiran-pemikiran  dan bukan lewat fakta – baik fakta ekonomi, politik, yang nyata maupun dibuat-buat – tidak membuat pesan yang disampaikannya melenceng jauh. Sebab cermin masa lalu yang ditawarkan babad kepada kita umumnya jauh lebih berperikemanusiaan dan lebih mampu memaafkan daripada catatan-catatan tentang keserakahan dan kecupatan yang merembes keluar dari sumber-sumber VOC. Jika kita kesampingkan sebentar pertanyaan tentang mana dari keduanya yang memberikan gambaran yang lebih setia tentang realita, melewatkan satu malam dalam sebuah acara macapat bersama beberapa pria Jawa yang sudah tua dan mengidungkan babad jelas lebih mengesankan dan menyegarkan daripada memilah-milah catatan-catatan VOC.

Tapi sebelum saya dituduh telah tergelincir ke dalam pendekatan respons-pemirsa pasca kritik, saya harus menekankan bahwa dalam masalah babad dan literatur Indonesia lainnya yang bersangkutan, kita masih ada dalam tahap pra-kritik. Perbandingan antara cukilan dari babad dengan catatan-catatan Kumpeni telah memberikan kita gambaran tentang bagaimana babad menggarap ulang dan melengkapi realita yang dipaparkannya. Kita juga sudah melihat bahwa babad bukanlah tarikh yang dibuat dengan ngawur melainkan sebuah narasi yang terstruktur dengan jelas dan dirancang dengan baik dan membawa pesan yang jelas. Input narasinya agak berlebihan sehingga, setidaknya menurut Brakel, babad haruslah digolongkan sebagai literatur.[140]

Babad Tanah Jawi yang utama jelas adalah sebuah karya literatur yang baik, tidak seperti banyak babad-babad lain, tapi mengangkat babad ke dalam golongan literatur tidaklah berarti bahwa para sejarawan bisa membuangnya ke tempat sampah, kecuali mungkin jika sejarawannya percaya bahwa semua yang tidak dapat diekspresikan dalam statistik bukanlah sejarah. Pendekatan dokumenter menganggap babad tidak diperlukan karena informasi yang diberikan babad hanya bisa menegaskan kembali apa yang bisa diketahui dari sumber-sumber yang lebih dapat dipercaya, atau menganggap bahwa babad itu sugestif, karena memberi kita “rasa” akan masa lalu ketika informasinya tidak dapat diperiksa dengan sumber lain. Pendekatan ini tampaknya tidak produktif, sama seperti pendekatan formalistik yang hanya memanfaatkan sarana-sarana literaturnya saja dan menempatkan sejarah ke dalam posisi sebagai informasi latar belakang.[141] Dengan kata lain, dua pendekatan itu tidak akan membawa kita lebih dekat daripada Teeuw dan Brakel ke pemecahan masalahnya. Hanya saja masalahnya bukan hanya karena kurangnya studi terhadap teks babad (ini pun bukan masalah yang utama), tapi juga terutama karena hubungan antara sejarah dan literatur yang memang mengalami masalah. Mungkin tidak akan terlalu menghibur jika dikatakan bahwa di antara sejarah dan kisah, di antara fakta dan fiksi, masih ada mitos. Setidaknya mitos merupakan genre yang mencakup keduanya, dan yang membuat ahli-ahli literatur dan sejarah Indonesia sama-sama putus asa.


[1] “major Babad Tanah Jawi”.

[2] “formulaic clutches”

[3] “tunic”

[4] “False turns”

[5] Pemaparan latar belakang kisah.

CATATAN

Tentang file-file dalam REMME.ACE ini:

Teks yang ada dalam file-file ini diterjemahkan dari buku “Chinese War and the Collapse of Javanese State” karya W. Remmelink, terbitan Leiden.

Pada mulanya saya mengerjakannya dengan program Word Star 7.0 dan file-file Word Star ini (yang ada dalam direktori WORDSTAR) sudah diperiksa baik penterjemahan maupun ejaannya sampai pada file BAB5B.WS halaman 3. Tapi masih ada satu yang kurang yaitu bagan dari lampiran 2 karena Word Star tidak menyediakan sarana untuk membuat bagan itu dengan mudah.

Ternyata pada titik itu saya harus mencetak file-file ini tapi sialnya  malam sebelumnya printer saya (Epson LX-300) tiba-tiba rusak karena salah satu pin dari printer head-nya tersangkut pita yang kendor karena sudah terlalu lama saya gunakan.

Saya berhasil mendapatkan printer lain (Epson LX-800) tapi untuk itu saya harus mencetak di tempat lain (bukan di rumah saya tapi di kantor Yayasan Abdi Nusantara yang waktu itu masih bertempat di perumahan srikandi) dan komputer yang tersedia di sana tidak memiliki program Word Star.

Saya mengkopi program Word Star ke dalam komputer ini tapi ternyata printer driver yang ada dalam Word Star saya, meskipun sebenarnya dirancang untuk LX-800, tidak mampu mencetak karakter “[" dan "]” dimana “[" berubah menjadi "&" dan "]” berubah menjadi “!” padahal dua karakter ini cukup banyak saya gunakan untuk penomoran catatan kaki dari penulis.

Teman saya mengusulkan agar teks ini dicetak dengan menggunakan Microsoft Word 97 dan kebetulan empat bab pertama sudah saya konversi sebelumnya ke dalam format Microsoft Word 6.0 sehingga saya pulang sebentar dan mengkonversi semua file Word Star (WS) dari bab-bab selanjutnya ke dalam format RTF, yang bisa mempertahankan semua formatting yang saya gunakan dan sekaligus bisa dikonversi oleh Word 97.

Teks ini akhirnya saya cetak di tempat lain itu dengan menggunakan Word 97, sampai pada pertengahan file LAMPIR.DOC. Di tengah jalan saya meneruskan koreksi untuk bagian-bagian setelah halaman 3 dari file BAB5B.WS sambil membuat bagan yang tersisa tadi.

Setelah itu diputuskan untuk meneruskan mencetak di rumah saya. Komputer saya 486 dengan RAM 8Mb. Dengan kata lain saya tidak bisa menggunakan Word 97, maka sebelum kembali ke rumah, semua file Word 97 itu saya konversikan lagi dalam format RTF dan saya bawa pulang. Di rumah semua file RTF itu saya konversi balik ke format Word 6.0 dan pencetakan saya teruskan. Setelah selesai semua file yang ada saya kompresi dengan program ACE.

Kesimpulannya:

1. di dalam file REMME.ACE ini ada empat format dari satu teks yang sama: Word Star 7.0, Word 97, Word 6.0 dan RTF.

2. Dari keempat format itu hanya file-file dalam format WS yang belum selesai, yaitu:

a. Pemeriksaan ejaan baru dilakukan sampai halaman 3 dari BAB5B.WS,

b. Bagannya belum ada.

sementara file-file dalam ke tiga format lainnya sudah bisa dianggap final.

3. Maka file-file dalam format Word 97, Word 6.0 dan RTF identik satu sama lain (kecuali masalah penomoran halaman sebab printer driver yang digunakan berbeda) tapi tidak identik dengan file-file dalam format WS, yang belum selesai diperiksa ejaannya.

N.B.:

Selama proses pencetakan berlangsung saya masih sempat melihat ada satu dua salah ketik. Berarti file-file ini masih harus diperiksa lagi secara menyeluruh.

CATATAN APRIL 2003

BUKU INI SUDAH DITERBITKAN OLEH JENDELA JOGJA DENGAN JUDUL “PERANG CINA DAN RUNTUHNYA NEGARA JAWA” DAN SUDAH DIBAYAR DENGAN BILYET GIRO SEBESAR 2,5 JUTA YANG UNTUNGNYA TERNYATA TIDAK NGE-BLONG DAN SUDAH SAYA TERIMA SETAHUN YANG LALU (2002). TERIMA KASIH KEPADA PAK WI DI MEDOKAN AYU SURABAYA YANG SUDAH BERSEDIA MEMINJAMI BUKU ASLINYA. PENERBIT JENDELA KABARNYA MENERBITKAN BUKU INI SUDAH DUA KALI SAMPAI SAAT INI. YANG PERTAMA ADALAH DALAM RANGKA MENERIMA DANA HIBAH DARI FORD FOUNDATION DAN YANG KEDUA ADALAH PENERBITAN TAHUN 2002 INI, YANG DIBERI KATA PENGANTAR OLEH PENULIS ASLINYA (YANG KATANYA PAK JOKO SARYONO, ORANG YANG BERJASA DALAM MENGANTAR TERJEMAHAN INI KE MESIN CETAK, HARUS DIKEJAR SAMPAI KETEMU DI JEPANG). TERIMA KASIH JUGA KEPADA IRVAN YANG SUDAH WIRA WIRI KE JOGJA. TERIMA KASIH UNTUK GO’UL YANG SUDAH MEMPERKENALKAN SAYA KE PAK WI SEHINGGA BISA MENDAPAT BUKU ASLINYA.

15 mei 2003

ternyata ada kesalahan fatal pada hasil cetakan. halaman 39 ada kata pemo, yang tidak ada dalam file tapi sebenarnya ada paragraf yang hilang di situ.

5 juli 2003

ternyata hal 212 dari buku cetak (bab 4) ada tambahan keterangan mengenai kapten jonker yang tidak berasal dari saya. where have they got that kind of information?

17 juli 2003

format dari file telah diubah menjadi ms word 97 dan file-file lama dalam format ws dan rtf dihapus untuk menghemat tempat

CATATAN PENULIS

PEMBUKA

1. “Mereka yang paling tidak tahu menjadi tuan di sini. Mereka semua menari dengan satu kaki.” Matthijs Cramer dalam Du Perron 1939:61

KATA PENGANTAR

1.  LaCapra 1987:38

2.  Far Eastern Economic Review, 18 Januari 1990:25.

3.  Remmelink 1984.

4.  Remmelink 1983.

5.  Remmelink 1988.

6.  Holtzappel 1986.

7.  Nagtegaal 1988.

8.  Breman 1980.

9.  Breman 1978.

10. Holtzappel 1986:563-77; Nagtegaal 1988:5-7, 221.

11. Elias 1977.

12. Holtzappel 1986:117.

13. Dikutip dari LaCapra 1987:24.

14. Bahwa fakta semata tidak dapat mencegah timbulnya fiksi adalah sesuatu yang tidak perlu dibuktikan lebih lanjut dan bisa dengan mudah dimengerti oleh pengunjung Hiroshima Peace Memorial, dimana pembatasan yang keterlaluan terhadap satu fakta bahwa pada tanggal 6 Agustus 1945 pada jam 8.15 pagi sebuah bom jatuh dari langit yang cerah, bersama dengan foto-foto dan memorabilia telah menimbulkan satu dari mitos-mitos tentang kisah yang paling mengerikan pada masa ini.

15. Van Hoëvell 1840.

16. Holtzappel 1986:691-2.

17. Nagtegaal 1988:223.

BAB I

1.  Dit nu zo geschied zijnde werd Java gevonden in een geruste staat en onder Godes zeegen vreedig en bloeyende, hetgeen na mij voorkomt, veele volgende jaaren blijven zal, alzo een ieder den oorlog schuwt (VOC 2478: 12 Nov. 1739).

2.  VOC 2548: 27 Maret 1741.

3.  Ach! had de Compagnie koopman gebleven, en nooyt het lijntje zo hard getrokken, ‘tgeen men al begreep in den jare 1733 [...] om van geen landen meer te spreken, en dus den Javaan in geen denkbeeld te brengen, dat men alles in wilde slokken, en wat heeft de Comp. tot nog toe voor alle zyne uytgeschoten schatten (Nicolaas Hartingh, Memorie van Overgave 1761, De Jonge 1862-1909, X:330).

4. De Jonge 1862-1909, X:215.

5. Gaastra 1982:53.

6. Gaastra 1982:155.

7. Java’s Oostcust, is het comptoir dat deze tafel, successive een onbeschryfelyke moeite en verdriet veroorsaakt, ja genoegsaam by continuatie gehouden heeft in een byna radelooze bekommering (De Jonge 1862-1909, IX:410).

8. Schrieke1957; Ricklefs 1974:21-36; Ricklefs 1981:74-5.

9. Soemarsaid 1968:120; Kumar 1980, II:109.

10. Ricklefs 1974:25.

11. Anderson 1972.

12. Anderson 1972:35.

13. Weber 1978:1042.

14. Anderson 1972:65-9.

15. Ricklefs 1981:16.

16. Soemarsaid 1968:119.

17. VOC 2169:30 Agustus 1730.

18. VOC 2080:22 Februari 1728.

19. Palmier 1960.

20. Den Groot Wester Strand Gouverneur adipatty Djayaningrat [...] is getrouwd geweest met de eenigste egte dogter van den rijxbestierder Danoeredja [...] soodat men daaruyt soude kunnen mogen poseeren dat Danoeredja en Djayaningrat het volkomen eens waren, maar de ondervinding heeft mij geleerd dat sulks juyst niet vastgaat (VOC 2069: MvO Semarang, 25 Jul. 1730).

21. Ricklefs 1974:25.

22. Schrieke 1957:100.

23. Den Groot Oosterstrand Gouverneur adipatty Tjitra Soema die tot Japara woond, en noyt iets tot sijn lasten heeft gehad dan dat hij dom en onwetende is en door sommige sijner kinderen die meenigvuldig sijn, off wel door eenige sijner mantries dikmaale werd bedot, want hij kan nog lessen nog schrijven, en is alleen groot geworden door het besorgen van fraye paarden en jonge vroumen voor den verstorven Soesoehoenang Pacoeboeana grootvader van den thans op den troon sittende keyser,[...] (VOC 2169:MvO Semarang, 25 Jul. 1730).

24. Vanwage de Javaanse talmachtigheid in het schrijven duurde dit tot drie uur’s middags (HRB 995; Dagregister Verijsel, Nov. 1743).

25. Terwijl men met tekenen bezig was, ‘t geen bij de Javanen gansch nite spoedig in zijn werk gaat [...] (Ibid.).

26. Lihat Kontrak tahun 1733 (An Solo 52/10).

27. Reid 1988:215-55.

28. Yang dimaksud dengan priyayi di sini adalah priyayi secara keseluruhan. Dalam sumber-sumber Kumpeni, istilah ini biasanya digunakan untuk pejabat setempat di bawah level bupati.

29. Burger 1975:39.

30. Geertz 1980.

31. Bandingkan Soemarsaid 1968:101-18.

32. Anderson 1972:22.

33. Bandingkan Elias 1977:154.

34. Bandingkan Elias 1977:140.

35. VOC 2056 apart: 10 July 1726.

36. en het is tegenwoordig al soo verre gekomen dat de priays meerder te seggen hebben als sommige regenten selfs die naar haar land off onderdanen niet eens omsien ja selfs niet weten wat dat haar om te regeren door hunne vorst den Soesoehoenang tot Cartasoera is gegeven maar sig haar welluste kunnen voldoen met hunne wijve en bijsitte item een fraai paard off haan om daar in het openbaar mede te pronken hetgeen voorsz. priays van hare onderdanen werde besorgt (VOC 2324: MvO Tegal 1734).

37. VOC 2611 apart: 14 September 1743.

38. VOC 2169: MvO Semarang 1730.

39. Kumar 1980,II:108-9

40. Ricklefs 1983:283.

41. Kontrak 1743: pasal 3, 4, 5; De Jonge 1862-1909, IX:434.

42. En vermits het waare voordeel van een land en gevolgelijk ook het regte interest van een vorst daarin bestaat dat hetzelve allorlye voordeelige producten uytlevere waardoor den inwoonder zijn bestaan en den vorst zijne inkomsten zoo veel ruymer kan vinden, zoo [...]

Sawab dening babathening nagari punapa dening ratunipun amedalaken sarupining wewedalan darapon dadosa babathenipun ingkang angenggeni sarta kalih awewaha kang dados dhahare ratunipun mila [...] (Kontrak 1743: pasal 19; AN Solo: 53/7).

BAB II

1. VOC 2080: Dagregister Ter Smitten 1727.

2. VOC 2080 apart: December 4, 1727.

3. VOC 2080 apart: April 12, 1727.

4. VOC 2169: MvO Semarang 25 Juli 1730.

5. VOC 2169 apart: 21 Mei 1730.

6. VOC 986: 31 Mei 1733.

7. VOC 2035 apart: 7 Mei 1725.

8. VOC 2169: MvO Semarang 25 Juli 1730.

9. VOC 2056: 6 April 1726.

10. VOC 2035: 19 Maret 1726.

11. Vrienden is er dan geen raad voor mij, helpt mij dog, ik kan niet meer in mijn lichaam krijgen, ‘t geen water, rijs, of pinang, want mijn hert gaat als een horlogie en zodra er iets door mijn hals komt om tot voedsel te strekken slaat mijn hert na boven toe en jaagt hetzelve naar buiten, is er dan geen hulpe meer voor mij (VOC 2056: 13 April 1726).

12. VOC 2056: 21,23,26 April 1726.

13. Remmelink 1983:13

14. Darusuprapto 1983:74, 111.

15. VOC 2035: 23 Juli 1725.

16. VOC 2056: 23, 26, 29 April; 3, 9 Mei 1726.

17. VOC 2056: 23 Mei 1726.

18. VOC 2056: 11 Juni 1726.

19. VOC 2056: 11 Juni, 10, 22 Juli 1726.

20. VOC 2294 apart: 27 Juli 1733.

21. VOC 2035: 23 November 1725.

22. VOC 2056: 14 September 1726.

23. VOC 2056: 10, 20 Juni 1726.

24. VOC 2056 apart: 10 Juli 1726.

25. VOC 2169: MvO Semarang, 25 Juli 1730.

26. VOC 2056: 2 Oktober 1726.

27. VOC 2056: 6 Oktober 1726.

28. VOC 2080: 8 Januari 1728.

29. VOC 2080: 13 Maret 1727.

30. VOC 2080 apart: 3 April 1727.

31. VOC 2080: 1 April; apart: 12, 27 April, 8 Mei, 2 Juli 1727.

32. Tentang gerakan orang Bali di Jawa Timur pada masa ini lihat Schulte Nordholt 1988:27-9.

33. VOC 2080 apart: 18, 20, 27 Juli 1727.

34. VOC 2080 apart: 4 Desember 1727.

35. VOC 2080 apart: 12 Augustus 1727.

36. VOC 2080 apart: 15 September 1727.

37. VOC 2080: 19 November 1727.

38. VOC 2080 apart: 4 Desember 1727; VOC 986: 31 Mei 1733.

39. VOC 2080 apart: 15 September 1727.

40. VOC 2107: MvO Surabaya, 30 April 1728; VOC 2061: MvO Semarang, 25 Juli 1730.

41. VOC 2080 apart: 4 Desember 1727.

42. VOC 2080 apart: 11 Januari, 22 Februari 1728.

43. VOC 2107 apart: 21 Agustus 1728.

44. VOC 2107 apart: 26 April 1728.

45. VOC 2080: 22 Februari 1728.

46. VOC 2056: 29 Agustus 1726.

47. VOC 2056: 5 Februari 1727.

48. VOC 2080 apart: 22 Februari 1728.

49. Sang permaisuri adalah putri dari Pangeran Purbaya, yang diikuti oleh Arya Mangkungara dalam pemberontakannya dan dia tetap dekat dengan keluarga itu.

50. VOC 2107 apart: 26 April 1728.

51. Yang disebut juga Sukiyah.

52. VOC 2295: 15 Oktober 1733.

53. Babad Tanah Jawi: XXI, 26.

54. VOC 2056: 5 Februari 1727.

55. VOC 2107 apart: 20 Juli 1728.

56. VOC 2107 apart: 21 Agustus 1728.

57. VOC 2107 apart: 21 Agustus 1728.

58. VOC 2107 apart: 23 September 1728.

59. Dagregister: 6 Oktober 1728.

60. VOC 986: 31 Mei 1733.

61. 1 Juni 1729.

62. VOC 2139 apart: 18 Agustus 1729.

63. VOC 2139 apart: 31 Oktober, 10 November, 13 Desember 1729.

64. VOC 2139: 19 Oktober 1729.

65. VOC 2139 apart: 31 Oktober 1729.

66. Gijsberti Hodenpijl 1917:196.

67. VOC 2139 apart: 13 Desember 1729; VOC 2294 apart: 27 Juli 1733.

68. VOC 2139: 31 Januari 1730.

69. VOC 2169 apart: 31 Oktober 1730.

70. VOC 2139 apart: 13 Desember 1729.

71. VOC 2203 apart: 20 Oktober 1731.

72. VOC 2257 apart: 17 Oktober 1732; VOC 2294 apart: 27 Juli 1733.

73. VOC 986: 31 Mei 1733.

74. het is genoeg te zeggen dat Danoeredja een Javaan is om te geloven dat hij juist den vroomsten broeder voor de Compagnie niet gerekend werden moet (VOC 986: 31 Mei 1733).

75. VOC 2257 apart: 2 September 1732.

76. VOC 2257 apart: 10 Agustus 1732.

77. VOC 986: 31 Mei 1733.

78. VOC 7888 apart: 14, 25 November, 8 Desember 1732; VOC 2257 apart: 4 Januari 1733; VOC 2294: 27 Juli 1733.

79. VOC 2294: 3 April 1733.

80. VOC 2294 apart: 3, 30 April, 29 Mei 1733.

81. VOC 2294 apart: 14 Juli 1733.

82. VOC 2294: 9 Juli 1733.

83. den inlander so onnosel niet versleten moet worden, als zij op het oog wel schynen te wesen en dat het haer vooral aan geen subtiliteyt en adresse manqueert als zij daer op uyt sijn om elkander den voet te ligten en hare natuurlyke bequaemheyd tot bedrog en arglistiqheyd door eygen intrest werd opgewekt en aengeset (De Jonge 1862-1909, IX:211).

BAB III

1. VOC 7827: Dagregister Coyett, 1733.

2. VOC 7827: Dagregister Coyett, 1733; VOC 2294 apart: 14 Juli 1733.

3. Yang satu orang Bengali dan satunya adalah pelaut Pieter Boom.

4. VOC 2294 apart: 17 Agustus 1733.

5. Karena itulah namanya kamhout.

6. VOC 2294 apart: 14 Juli 1733.

7. VOC 986: 31 Mei 1733.

8. Saya mendapatkan pengamatan ini dari G.J. Resink.

9. voor de Javanen komt hel wel genoegsaam op hetselve uyt, vermits dog de Comp. volgens de contracten de vrijheyt heeft allerwegen in de landen van den Soesoehoenang logies en vastigheden op te richten, maar voor andere natien soude het veel schelen off men dese plaatsen precario, dat is bij vergunning, dan wel uyt hoofde van een volkomen dominium ofte eygendom possedeerde (VOC 986: 31 Mei 1733).

10. boten tumut-tumut anyekel parentah Jawi (AN Solo 52 / 8).

11. VOC 2295 apart: 15 Oktober 1733.

12. saking Kangjeng Susuhunan sakalangkung atemen-temen sedya langgeng apawong-sanak sabayantu kalih Kumpeni Olandi (AN Solo 52 / 8).

13. VOC 986: 31 Mei 1733.

14. Lihat Kontrak 1733: artikel 1; Kontrak 1743: artikel 24.

15. VOC 2257: MvO Semarang, 20 Oktober 1732.

16. VOC 7827: Dagregister Coyett 1733.

17. Heuken 1982:132-4.

18. mila sapunika ingkang karsa Kangjeng Susuhunan dening sakathahing paparentahan utawi sakathahing dagangan kang miyos saking ing tanah Jawi, ing mangke akarsa dipun parentahi ing Kangjeng Susuhunan piyambek (AN Solo 52 / 8).

19. wonten dene bilih manawi wonten tiwasipun dameling Kumpni utawi tiwasing dagangan punika atas pinanggiya ing Kangjeng Susuhunan (AN Solo 52 / 8).

20. VOC 7888 apart: 25 November 1732.

21. VOC 2294 apart: 6 Agustus 1733.

22. VOC 2295 apart: Oktober 1733.

23. VOC 2294 apart: 6 Agustus 1733.

24. Bandingkan De Graaf and Pigeaud 1977:420-37.

25. VOC 2169: MvO Semarang, 25 Juli 1730.

26. VOC 2324: 16 Maret 1734.

27. VOC 2295: 22 Februari 1734; VOC 2324: 16 Maret 1734.

28. VOC 2324: 16 Juni, 7 Juli, 19 Juli 1734.

29. VOC 2324: 31 Agustus 1734.

30. VOC 2295: 22 Februari 1734.

31. Bandingkan Sartono Kartodirjo 1973:64-105.

32. VOC 986: 31 Mei 1733.

33. VOC 2324: 13, 27, 30 Oktober; 2 November 1734.

34. VOC 2324 apart: 19 Desember 1734.

35. VOC 2324 apart: 4 November 1734.

36. VOC 2324 terpisah: 6 Maret 1735. Kuda adalah satu dari lima ciri esensial seorang priyayi: istir, rumah, kuda, keris dan burung. Bahkan ini sampai sekarang masih menjadi tema banyak spekulasi filosofis.

37. VOC 2358: 16 Agustus 1735.

38. VOC 2358 apart: 31 Maret 1735.

39. Dan rupanya juga dianggap suci oleh orang Bali. Lihat, Schulte, Nordholt 1988:29.

40. VOC 2358: 20 Juli 1735.

41. VOC 2358: 8 Agustus 1735.

42. Seperti misalnya sang pelaut Oratio Roba dari Castiglione, Piedmont dan teman Indianya Adam dari Hougly (VOC 2478: 21 September 1739). Bahkan pejabat tinggi Kumpeni pun tampaknya juga ada yang demikian. Lihat Blussé 1985:71.

43. VOC 2478: 12 November 1739; VOC 2512 apart: 29 Juni, 26 Oktober 1740.

44. VOC 2358 apart: 5 September 1735.

45. VOC 2338 apart: 21 September 1735.

46. VOC 2080 apart: 4 Desember 1727.

47. VOC 2358 apart: 5 September 1735.

48. VOC 2358: 22 Desember 1735.

49. VOC 2358: 29 Agustus 1735.

50. VOC 2358 apart: 25 September 1735.

51. VOC 2358 apart: 25 September 1735.

52. VOC 2358: 22 Desember 1735.

53. Bandingkan Onghokham 1975:63.

54. Onghokham 1975:65-6.

55. VOC 2107: 10 Januari 1729; VOC 2139: 29 Maret, 28 April, 11 Juni 1729, 31 Januari 1730.

56. Bisa jadi muncul keberatan bahwa konsep jago Onghokam lebih tipikal untuk wilayah Jakarta daripada Jawa Tengah, sebab di Jawa Tengah ada banyak istilah yang digunakan: kecu, gegedug, benggol, dll. Tapi selama ini belum dianalisa dengan baik, gambaran Onghokam yang agak terlalu umum masih tetap berguna.

57. VOC 2358: 5 Maret 1736.

58. VOC 2391: 3 April 1736.

59. VOC 2391: 3, 25 April; 8 Agustus 1736.

60. VOC 2391 apart: 3 April 1736.

61. VOC 2391 apart: 3 April, 24 Mei, gemeen: 15 April, 24 Mei 1736.

62. VOC 2391: 15 Oktober 1736.

63. J.G. Loten adalah satu dari sedikit pegawai Kumpeni yang tertarik dengan ilmu pengetahuan alam. Aktifitasnya yang diketahui dengan baik adalah saat dia menjabat Gubernur Srilangka 1752-1757 (Lequin 1982:168). Dia mungkin merupakan orang Eropa pertama yang mendatangi reruntuhan Gedhong Sanga di atas Ambarawa.

64. VOC 2391 apart: 8 November 1736.

65. VOC 2391: 24 Mei, 18 Juni, 30 Juni, 6 September, 12 Oktober 1736.

66. VOC 2391 apart: 3 April 1736.

67. Een onbezeild lichaam (VOC 2391: 3 April 1736).

68. VOC 2391 apart: 24 Mei 1736.

69. VOC 2391 apart: 24 Mei, 18 Juni 1736.

70. VOC 2391 apart: 18, 30 Juni 1736.

71. VOC 2391: 1 Agustus, 6 September 1736.

72. VOC 2391: 1, 8 Agustus 1736.

73. VOC 2391 apart: 19 Oktober, 23 November 1736.

74. VOC 2391 apart: 19 Oktober, 23 November 1736.

75. VOC 2391 apart: 29 November, 28 Desember 1736.

76. VOC 2391: 1, 14 November 1736; 7 Januari 1737.

77. VOC 2418: 25 Mei 1737.

78. VOC 2418 apart: 28 Maret 1737.

79. VOC 2418 apart: 21 Mei, 30 Juli 1737.

80. VOC 2418 apart: 21 Mei 1737. Untuk keadilan dan hukum tradisional secara umum, lihat Reid 1988:137-46.

81. VOC 2418 part: 21 Mei 1737.

82. De Jonge 1862-1909, IX:268.

83. VOC 2418 apart: 21 Mei 1737.

84. Bandingkan Ricklefs 1985:601-30.

85. VOC 2418 apart: 21 Mei 1737.

86. VOC 2418 apart: 30 Juli 1737.

87. VOC 2449 apart: 21 April 1738.

88. VOC 2418: 22 Oktober 1737.

89. VOC 2418 apart: 14 November 1737.

90. VOC 7889 apart: 14 Juli 1738.

91. VOC 2418 apart: 9 Desember 1737.

92. VOC 2418 apart: 9 Desember 1737.

93. VOC 2418 apart: 10 Februari 1738.

94. VOC 2418 apart: 25 Februari 1738.

95. VOC 2418 apart: 25 Februari 1738; VOC 2449: 16, 21 April; apart: 21 April 1738.

96. VOC 7889 apart: 14 Juli 1738.

97. VOC 2449 apart: 29 Mei 1738.

98. VOC 7889 apart: 2 Juli 1738.

99. VOC 7889 apart: 14 Juli 1738.

100. VOC 7889 apart: 3 November 1738.

101. VOC 7889 apart: 18 Juli 1738.

102. VOC 7889 apart: 21 Juli 1738.

103. VOC 2391 apart: 28 Desember 1736.

104. VOC 2391 apart: 30 Juni 1736.

105. VOC 7889 apart: 18 Juli, 1 Agustus 1738.

106. VOC 7889 apart: 1 Agustus 1738.

107. VOC 7889 apart: 9 Agustus 1738.

108. Lihat Soemarsaid 1968:22.

109. VOC 7889 apart: 29 Agustus, 13 September 1738.

110. VOC 7889 apart: 26 September 1738.

111. VOC 7889 apart: 22 November 1738.

112. VOC 2449: 29 November 1738.

113. VOC 7889 apart: 29 November 1738.

BAB IV

1. De Jonge 1862-1909, IX:280.

2. VOC 7889 apart: 3 November 1738.

3. VOC 2478: 14, 29 Juli 1739.

4. VOC 7889 apart: 28 Oktober 1738.

5. VOC 7889 apart: 3 November 1738.

6. VOC 7889 apart: 22, 24 November 1738; VOC 2449 apart: 24 Februari 1739.

7. VOC 2449 apart: 24 Februari 1739.

8. VOC 2449: 24 Februari 1739.

9. VOC 2478: 3, 25 Mei 1739.

10. VOC 2478: 25 Mei 1739.

11. VOC 2478: 8 Agustus 1739.

12. VOC 2478: 29 Juli 1739.

13. VOC 2478: 7 Februari 1740.

14. VOC 7889 apart: 29 November 1738.

15. VOC 2478: 29 Juli 1739.

16. VOC 7889 apart: 28 Oktober 1738.

17. Menurut Babad Tanah Jawi (XXII, 24), sebabnya adalah kesembuhan putra mahkota dari sakitnya.

18. VOC 2478: 12 November 1739.

19. VOC 2478: 12, 21 November 1739.

20. VOC 2478: 22 Februari 1740.

21. VOC 2512 apart: 18 Juli 1740.

22. VOC 2512 apart: 29 Juni 1740.

23. De Jonge 1862-1909, IX:196.

24. VOC 2512 apart: 18 Juli 1740.

25. VOC 2512 apart: 18 Juli 1740.

26. VOC 2479: 12 November 1739; VOC 2512 apart: 15 Agustus 1740.

27. VOC 2512 apart: 15 Agustus 1740.

28. VOC 2512: 16 September 1740.

29. Vermeulen 1938:24-6.

30. Blussé 1981.

31. Bandingkan Blussé 1981.

32. Hoetink 1918.

33. Ricklefs 1981:87-8.

34. VOC 2512 apart: 18 Oktober 1740.

35. VOC 2512: 22 Oktober 1740.

36. VOC 2512: 22 November 1740.

37. VOC 2478: 29 Juli 1739; VOC 2512: 19 Desember 1740; VOC 2512: 15 Februari 1741.

38. VOC 2548: 8 November 1741.

39. VOC 2587 apart: 4 Mei 1742.

40. VOC 2107: MvO. Surabaya, 30 April 1728.

41. VOC 7889 apart: 3 November 1738.

42. VOC 2257: 4 November 1732.

43. VOC 2418: 23 April 1737.

44. VOC 2548: 14 Agustus 1741.

45. Brandes 1900:140-85.

46. VOC 2611 apart: 3 Agustus 1743.

47. VOC 2257 apart: 10 Agustus 1732.

48. En sal ik nog daarbij voegen dat se allen, hoewel de een meer en den ander min, gedwogen vrunden van de Europesen sijn, nietjegenstaande sij eenparig bekennen dat ingevalle de Compagnie op dese cust geen meester was gantsch Java overhoop geraken, en de voornaamste regenten, gelijk in al oude tijden, hun als, bijsondere vorsten off heeren souden trachten op te werpen (VOC 2169: MvO Semarang, 25 Juli 1730).

49. De Jonge 1862-1909, X:356.

50. De Jonge 1862-1909, IX:296.

51. VOC 11226: 28, 31 Januari 1741.

52. De Jonge 1862-1909, IX:35.

53. VOC 2512: 18 Oktober 1740.

54. VOC 2512: 15 Februari 1741.

55. VOC 2139: 31 Januari, 6 Maret 1730.

56. VOC 2391: 30 Juni 1736.

57. Pembahasan tentang hubungan Cina-Jawa pada masa ini bisa dilihat pada Carey 1984:4-16.

58. Dan untuk selanjutnya, tentu saja, istilah ini merujuk pada orang Cina yang telah memotong kuncirnya dan menjadi seperti pribumi atau seperti orang Eropa.

59. Schlegel 1866.

60. Mark Lau Fong 1981:38.

61. Mark Lau Fong 1981:32-3.

62. VOC 2548: 27 Maret 1741.

63. VOC 2512 apart: 15 Februari 1741.

64. VOC 2548 apart: 13 November 1741.

65. VOC 2548: 14 Agustus 1741.

66. VOC 2512 apart: 15 Februari 1741.

67. VOC 2548 apart: 27 Maret 1741.

68. VOC 2512 apart: 15 Februari 1741, Bandingkan De Graaf 1935:155-8.

69. VOC 2548 apart: 27 Maret 1741.

70. VOC 2548 apart: 30 April 1741.

71. VOC 2548 apart: 10 Mei 1741.

72. VOC 2548: 14 Agustus 1741.

73. VOC 2548: 14 Agustus 1741.

74. VOC 2548: 10 Mei 1741.

75. VOC 2548: 20 Mei 1741.

76. VOC 2548: 20 Mei 1741.

77. VOC 2428: 10 Mei 1741.

78. VOC 2548: 2 Juni 1741.

79. VOC 2548: 2 Juni 1741.

80. VOC 2548: 14 Juni 1741.

81. VOC 2548: 2 Juni 1741.

82. VOC 2548: 2 Juni 1741.

83. VOC 2548: 14 Juni 1741.

84. VOC 2548: 14 Juni 1741; idem 14 Agustus 1741.

85. VOC 2548: 20 Juni 1741.

86. VOC 2548: 20 Juni; 2 Juli 1741.

87. VOC 767: 24 Juni 1741.

88. Niet het minste weet te ordoneeren off commandeeren, ja finaal gesegt zijn kennis meer dan half quyt is.

89. VOC 2548: 20 Juni 1741; VOC 767: 27 Juni 1741.

90. VOC 767: 27 Juni, 7 Juli 1741.

91. VOC 767: 7, 10 Juli 1741.

92. VOC 2548: 9 Juli 1741.

93. VOC 2548: 31 Juli 1741.

94. VOC 2548: 12 Juli 1741.

95. VOC 2548: 31 Juli 1741.

96. VOC 767: 10 Agustus 1741.

97. Leupe 1864:106.

98. VOC 2548: 2 Juli 1741.

99. Leupe 1864:107-8.

100. VOC 2548: 2, 19 Juli 1741.

101. VOC 2548: 19 Juli 1741.

102. VOC 2548: 10 November 1741.

103. VOC 2548: 19 Juli 1741.

104. VOC 2548: 2 Juli 1741.

105. Leupe 1864:124.

106. Leupe 1864:125-6.

107. VOC 2548: 19 Juli 1741.

108. VOC 2548: 19 Juli 1741.

109. VOC 2548: 19 Juli 1741.

110. VOC 2548: 10 Oktober 1741; VOC 2549: 4 Februari 1742; Leupe 1864.

111. Sebuah istilah ejekan terhadap orang keturunan campuran.

112. VOC 2549: 4 Februari 1742; Leupe 1864.

113. VOC 767: 10 Juli, 21 Juli, 1 Agustus 1741.

114. VOC 2548: 25 Agustus 1741; idem apart.

115. VOC 2548 apart: 25 Agustus 1741.

116. Lihat De Graaf, 1978.

117. VOC 2548 apart: 25 Agustus 1741; idem 16 September 1741.

118. VOC 767: 1 September 1741.

119. VOC 2548: 30 Agustus, 13 September 1741.

120. VOC 2549: Cirebon, 29 Agustus, 11, 22 September, 8 Oktober 1741.

121. VOC 2548: 14 Agustus, 13 September 1741.

122. VOC 2548: 30 Agustus, 16 September, 21 Oktober, 8 November 1741.

123. VOC 2548: 30 September 1741.

124. VOC 2548: 30 Agustus, 30 September, 8 November 1741.

125. VOC 2548 apart: 13 September 1741; VOC 767: 21 September 1741.

126. VOC 767: 22, 25 September 1741.

127. VOC 767: 22 September 1741.

128. VOC 767: 25 September 1741.

129. VOC 767: 28 September 1741.

130. VOC 2548: 15, 17 Oktober 1741.

131. VOC 2548: 12 Oktober; idem apart: 25 Oktober 1741.

132. VOC 767: 26 Juni 1741.

133. VOC 767: 7, 10 November 1741; VOC 2548 apart: 7 November 1741.

134. VOC 2548 apart: 13 September 1741.

135. De Graaf 1978:301, 308 n. 10.

136. VOC 2548 apart: 25 Oktober 1741.

137. VOC 2548: 9 November 1741; VOC 2549: 1 Desember 1741.

138. Putra Hemmingson, Ulrich Gualtherus, yang saat itu baru saja lahir, di kemudian hari akan menikah dengan janda Cina kaya dan mendapatkan banyak harta ketika menjadi pegawai Kumpeni di Kanton sejak 1765 sampai 1790. Lihat Blussé 1989:104.

139. VOC 2549: 1 Desember 1741.

140. VOC 2548: 21 Oktober 1741; VOC 2549: 18, 27 November, 7, 12 Desember 1741.

141. VOC 2548: 13, 26 November 1741; VOC 2549: 23, 27 November 1741.

BAB V

1. Gambaran umum tentang perayaan kemenangan (victorie branden) seperti ini dapat dibaca pada De Haan 1984:100-2

2. VOC 2549: 27 November 1741.

3. VOC 2549: 20 Januari 1742; juga Gijsberti Hodenpijl 1918:583-96.

4. VOC 2549: 12, 24 Desember 1741.

5. VOC 2549: 12 Desember 1741.

6. VOC 2549: 24 Desember 1741.

7. VOC 767: 18 Desember 1741.

8. VOC 2549: 28 Desember 1741.

9. VOC 7893: 20 Juni 1743.

10. VOC 2549: 7 Desember 1741.

11. VOC 2587 apart: 16 April 1742.

12. VOC 2587 apart: 7 April 1742.

13. VOC 2587 apart: 31 Maret 1742.

14. VOC 2587 apart: 12, 31 Maret 1742.

15. Lihat Bab III.

16. VOC 2549 apart: 4 Februari 1742.

17. Lihat VOC 2633 apart: 5 Oktober 1744. Kumpeni hanya memiliki enam pembuat indigo di Jawa, yaitu di Kudus, Pati, Kaliwungu, Pekalongan, Wiradesa dan Pamalang. Hasil total mereka sebanyak 50 picul setahunnya, yang membuat beberapa pihak bertanya-tanya apakah hasil itu sepadan dengan gaji yang mereka dapat. (VOC: 2633: 19 Februari 1744).

18. VOC 2549: 4 Februari 1742.

19. VOC 2548: 31 Juli 1741.

20. VOC 2548: 10 November 1741.

21. Lihat Bab III.

22. VOC 2587 apart: 7 April 1742.

23. VOC 2587 apart: 12 Maret 1742.

24. VOC 2587 apart: 31 Maret 1742.

25. VOC 2587 apart: 12 Maret 1742.

26. VOC 2487 apart: 12 Maret 1742.

27. VOC 2587 apart: 31 Maret 1742.

28. VOC 2587 apart: 31 Maret 1742.

29. VOC 2587 apart: 5 Mei 1742.

30. VOC 2587 apart: 17, 30 Mei 1742.

31. VOC 2587 apart: 12 Maret 1742; VOC 2585: 17 Mei 1742.

32. VOC 2587 apart: 17 Mei; 9 Juni 1742.

33. VOC 2587 apart: 16 April 1742.

34. VOC 2587 apart: 17 Mei 1742.

35. VOC 2587 apart: 17 Mei 1742.

36. VOC 2587 apart: 9 Juni 1742.

37. VOC 2586 apart: 30 Juni 1742.

38. VOC 2586 apart: 18 Juni 1742.

39. VOC 2586 apart: 25, 30 Juni 1742.

40. VOC 2586 apart: 30 Juni 1742.

41. VOC 2586 apart: 30 Agustus 1742; juga Gijsberti Hodenpijl 1918:597-601.

42. VOC 2585: 4 Juli 1742.

43. VOC 2586 apart: 17 Juli 1742.

44. VOC 2586 apart: 7 Juli 1742.

45. VOC 2586 apart: 14 Agustus 1742.

46. VOC 2586 apart: 29 Juli 1742.

47. VOC 2586 apart: 7 Juli, 14 Agustus 1742; VOC 2585: 11 Agustus 1742.

48. VOC 2586 apart: 14, 23 Agustus 1742.

49. VOC 2586 apart: 30 Agustus 1742.

50. Raden Suryakusuma adalah gelar yang diberikan kepada Raden Mas Said oleh Sunan pemberontak yang baru. Ini adalah kemunculan pertamanya di medan perang dalam catatan Kumpeni. Tapi Kumpeni saat itu tentu saja tidak tahu siapa dia.

51. VOC 2586 apart: 30 Agustus 1742.

52. VOC 2586 apart: 23 Agustus 1742.

53. VOC 2586 apart: 30 Agustus 1742; juga Gijsberti Hodenpijl 1918:597-608.

54. VOC 2586 apart: 30 Agustus 1742.

55. VOC 2586 apart: 14 Agustus 1742.

56. VOC 2586 apart: 17 September 1742.

57. VOC 2586 apart: 2 Oktober 1742.

58. VOC 2586 apart: 2, 11 Oktober

58. VOC 2586 apart: 2, 11 Oktober 1742.

59. Dari kata Portugis “deos” yang berarti “Tuhan”. Dalam bahasa Belanda maupun Inggris kata ini merupakan istilah untuk menyebut Tuhan atau Berhala Cina.

60. VOC 2586 apart: 11 Oktober 1742.

61. VOC 2586 apart: 20 Oktober 1742.

62. VOC 2586 apart: 22 Oktober 1742; VOC 2587: 19 November 1742.

63. VOC 2588 apart: 8 November 1742; VOC 2587: 19 November 1742.

64. VOC 2586 apart: 14 Agustus, 17 September 1742.

65. VOC 2586 apart: 17 September, 2 Oktober 1742.

66. VOC 2548: 13 September 1741; VOC 2588 apart: 12 Desember 1742; VOC 2585: 27 September 1742; VOC 2611: 27 Maret 1743.

67. VOC 2588 apart: 2, 12, 27 Desember 1742.

68. VOC 2586 apart: 5 November 1742.

69. VOC 2588 apart: 29 November 1742.

70. VOC 2588 apart: 29 November, 2, 12, 27 Desember 1742.

71. VOC 2588 apart: 2 Desember 1742.

72. VOC 2588 apart: 12 Desember 1742.

73. VOC 2588 apart: 27 Desember 1742.

74. VOC 2588 apart: 27 Desember 1742.

75. VOC 2588 apart: 15 Januari 1743.

76. Sebenarnya Kumpeni juga bersalah dalam hal ini. Kumpeni hanya membayar pasukan Tanete dengan ransum normal sehingga mereka harus mencari-cari sendiri. Setelahnya barulah Kraeng Tanete dibayar 25 rixdollar sebulan untuk menutup sebagian pengeluarannya.

77. VOC 2588 apart: 17 Februari 1743.

78. VOC 2611 apart: 18 Maret 1743.

79. VOC 2611 apart: 12 Juni 1743.

80. VOC 2611 apart: 23 Juni 1743.

81. VOC 2611 apart: 4, 14 Juli 1743.

82. VOC 2611 apart: 4 Juli 1743. Tentang Temabayat dan ringkasan tentang pertempuran di sana menurut Babad Pacina, lihat Rinkes 1911:435-581.

83. VOC 2611 apart: 18 Maret 1743.

84. VOC 2611 apart: 27 Maret, 25 April 1743.

85. VOC 2611 apart: 10 Mei 1743.

86. VOC 2611 apart: 12 Juni 1743.

87. VOC 2611 apart: 31 Juli 1743.

88. VOC 2611 apart: 20 Agustus 1743.

89. VOC 2611 apart: 9 September 1743.

90. VOC 2611 apart: 12 November 1743.

91. VOC 2611 apart: 27 Maret 1743.

92. VOC 2611 apart: 12 Juni, 14 Juli, 31 Juli 1743.

93. VOC 2611 apart: 31 Juli, 20 Agustus 1743.

94. VOC 2611 apart: 6 Oktober 1743.

95. VOC 2611 apart: 16 Oktober 1743.

96. De Jonge 1862-1909, X:322.

97. VOC 2588 apart: 15 Januari 1743; VOC 2611 apart: 27 Maret 1743.

98. VOC 7893: 20 Juni, 9, 10 Juli 1743; VOC 2611 apart: 4 Juli 1743.

99. Lihat Gijsberti Hodenpijl 1918:609

100. VOC 7893: 27 Juni 1743.

101. VOC 7893: 11 Agustus 1743; VOC 2611: 11 September 1743.

102. Tentu saja ini sangat tidak memuaskan Cakraningrat. Ketika pada tahun 1744 dia menyadari bahwa dia tidak akan mendapatkan tanah maupun hak khusus di Jawa Timur, dia memulai pertempuran pada bulan November. Perang yang terjadi baru berakhir pada bulan November 1745.

103. Dua kilometer lebih sedikit.

104. VOC 7893: 8, 12 Oktober 1743; VOC 2611 apart: 12 November 1743, HRB 995: Dagregister Verijsel.

105. Bandingkan dengan ide-idenya dalam VOC 2656 apart: 12 Februari 1745.

106. AN Solo 53/8

BAB VI

1. Ricklefs 1983:284.

2. Ras 1987:vii.

3. Ras 1987:xlix.

4. Lihat Ras 1987:1.

5. Ras 1987:xxvii.

6. Ras 1982.

7. Drewes 1939.

8. Ras 1987:xxv, 1.

9. Kumar 1980, I;2.

10. Ricklefs 1983:285, n.5.

11. Lihat Pigeaud 1967, I:114-74

12. Supomo 1980:567-8.

13. Supomo 1980:567-9.

14. Bandingkan Ras 1987:xxxv.

15. XXI:12-69.

16. XXI:69-XXII:26.

17. XXII:26-XXV:30.

18. XXV:30-XXX:62.

19. Bandingkan Kats 1984:100-2.

20. Ricklefs 1974:27-30

21. Bandingkan LaCapra 1987:125.

22. Nama-nama atau tanggal alternatif yang diberikan dalam babad ditandai dengan kurung “( )”. Jilid dan nomor halaman dari edisi balai Pustaka diindikasikan dengan angka Romawi dan Arab.

23. Babad tidak memberikan keterangan lain, tapi catatan VOC menunjukkan bahwa ini terjadi pada tanggal 18 Juli 1725.

24. Pangeran Loringpasar.

25. 20 April 1726 pada siang hari.

26. VOC 2056: 13 Mei 1726.

27. Sebenarnya adalah Noodt pada tanggal 1 Juni 1726.

28. Menurut babad ini terjadi pada hari Senin, tapi menurut catatan VOC terjadi para hari Minggu sebelumnya, pada tanggal 2 Juni 1726.

29. Hanya De Haan yang benar.

30. 10 Juni 1726.

31. Jumlah ini tidak sesuai dengan jumlah yang telah ditulis sebelumnya, dan juga tidak sesuai dengan beberapa daftar dalam catatan VOC. Sebuah usaha untuk menyusun daftar yang lengkap bisa dilihat pada Lampiran I.

32. Daftar ini tidak sepenuhnya tepat. Beberapa sudah diangkat atau dinikahkan pada masa Amangkurat, sementara yang lainnya diangkat atau dinikahkan jauh setelah itu. Lihat Lampiran I.

33. Agustus 1726

34. Februari 1727

35. September 1727

36. Sebenarnya mereka pulang dalam rombongan terpisah pada bulan Januari 1727.

37. Juni 1728. Sumabrata tidak disebutkan dalam catatan-catatan Kumpeni.

38. Sebenarnya 30 November 1736.

39. Babad memberi kesan seolah ini terjadi secara bersamaan. padahal ada jarak waktu yang jauh antar pengangkatan. Bandingkan Lampiran I.

40. Arti harafiahnya adalah tiang untuk dirambati tanaman, tapi artinya di sini adalah anak yang diambil oleh pasangan yang belum punya anak dengan harapan bahwa dengan kehadirannya mereka bisa punya anak sendiri.

41. VOC 2056: 29 APril 1726.

42. Menurut catatan VOC dia meninggal karena cacar air pada September 1727.

43. Menurut VOC, istri keduanya, Ragasmara, masih hidup.

44. 15 Januari 1728.

45. 31 Januari 1728.

46. 4 Juni 1728.

47. 2 September 1728.

48. Dagregister Batavia juga memberikan gambaran terinci tentang upacara penyambutan itu. Hanya satu dua nama Belanda di dalam babad yang dapat direkonstruksi dari daftar dalam Dagregister. Untuk mendapatkan gambaran umum tentang penyambutan duta, lihat De Haan 1984:97-100.

49. Daftar dari hadiah resmi dalam Dagregister menyebutkan tiga ribu reyal untuk Gubernur Jendral, dua ribu reyal untuk Dewan Hindia, seribu reyal untuk Kumpeni dan keris, sendok, garpu, mangkuk, kuda, sarang burung, katun dan beras.

50. Juni 1729.

51. November 1728.

52. April 1729.

53. April 1730.

54. Juni 1726.

55. Abraham Patras telah kembali ke Batavia pada bulan Januari 1728. Saya tidak mendapati adanya indikasi bahwa dia punya urusan khusus dengan Danureja.

56. 1 Juni 1729.

57. Sebenarnya, Diderik Durven.

58. 28 Agustus 1729.

59. Dan tiba pada 15 September 1729.

60. Yang dimaksud dengan Kapten Upag mungkin adalah rombongan Frederik Julius Coyett ke kraton pada bulan September-Oktober 1730.

61. April 1730. Dia bercerai dari pangeran Martasana pada April 1729.

62. Januari 1727. Dia bercerai dari Rangga Kaliwungu pada bulan Juni 1726.

63. Desember 1729.

64. 17 Agustus 1730

65. September 1730

66. Diangkat pada bulan Juni 1727.

67. Pada akhir tahun 1738.

68. Februari 1737

69. April 1731

70. 1740

71. 25 Desember 1732.

72. 1740.

73. 1743-44.

74. 8 September 1731

75. Sebenarnya pada 31 Januari 1737

76. Mungkin yang dimaksud adalah Wangsatruna, orang biasa dari Bangil, disebutkan dalam daftar tahun 1740 (VOC 2512 apart: 15 Agustus 1740)

77. 9 Juni 1732.

78. Pangeran Mangkubumi, yang kemudian menjadi Hamengku Buwana I.

79. Malem Jumuwah. Dipercayai bahwa mimpi yang didapat pada malam ini merupakan pertanda.

80. 12 Desember 1726.

81. Jika benar penulis dari bagian ini adalah Tirtawiguna, maka kita harus menghargai kejujurannya atau sebaliknya, menyimpulkan bahwa ini merupakan hasil campur tangan penulis lain dalam fragmen ini.

82. Kebanyakan nama anggota Dewan yang disebutkan di sini tidak benar, kecuali Coyett, yang memang pernah menjadi commandeur di Semarang.

83. 16 November 1733.

84. Karena Dagregister Batavia untuk thaun 1733 tidak ada lagi maka sulit untuk menentukan apakah Pangeran Arya dan Danureja berangkat dengan kapal yang sama ke Srilanka.

85. September 1734.

86. April 1735

87. 6 Juni 1735

88. Sengkala yang diberikan dalam babad salah. Bayi perempuan itu meninggal pada 21 Januari 1736.

89. Kejadian-kejadian ini tidak terdapat dalam catatan Kumpeni, tapi catatan Kumpeni menyebut tentang skandal-skandal lainnya.

90. November 1736

91. Tanggalnya adalah: 6 Oktober, 16 Oktober dan 1 November 1736.

92. Tanggal yang diberikan babad tentang dua rombongan Natakusuma tidak benar. Apalagi Arya Kudus pada rombongan kedua adalah putra dari Arya Kudus yang ikut dan meninggal pada rombongan kedua. Sunan mengajukan permintaannya agar jenazah Amangkurat III dan kerabat serta pengikut yang tersisa dipulangkan ke Jawa lewat rombongan pertama. Rombongan kedua membawa mereka pulang. Tapi urusan utama dari rombongan kedua, yaitu pembuatan kontrak baru untuk masalah yurisdiksi, tidak disebutkan sama sekali oleh babad.

93. 3 April 1737.

94. 16 April 1737.

95. Pusaka-pusaka itu, atau setidaknya sebagian dari antaranya, telah diserahkan ke dalam perlindungan Gubernur Jendral ketika tiba di Batavia dan baru dibawa ke Kartasura dan diserahkan kepada Sunan pada September 1737 oleh Nicolass Crul. Menurut catatan VOC, Raden Jayakusuma sebenarnya bergelar Pangeran Buminata. Gelarnya diganti menjadi Jayakusuma. Pangeran Mas tidak pernah disebutkan dalam dokumen-dokumen VOC.

96. Mei 1737.

97. November 1739.

98. Sunan telah diberitahu soal kematian Loringpasar pada Desember 1736. Kumpeni kemudian meminta Sunan membayar biaya hidup Pangeran Dipanagara. Sunan mulanya menolak dengan alasan bahwa sebelum dia tidak pernah membayar, tapi kemudian ia bersedia.

99. Mei 1739.

100. November 1739.

101. Babad rancu soal putri-putri Tepasana: putri pertama menikah dengan Puspadirja, yang kedua menikah dengan Buminata pada Desember 1737 dan yang ketiga, bungsu, Raden Ayu Sumilah, pada Juli 1738 pada umur lima belas tahun dibawa ke kraton untuk dijadikan ratu. Pada September tahun itu dia diletakkan bersama para selir dan rencana perkawinan rupanya dibatalkan. Pada November 1739 Sunan mengembalikan dia pada ayahnya, tapi pada bulan Juni 1741 dia menikahkannya dengan Ngabehi Surawikrama, yang membuat sedih Pangeran Tepasana. Setelah pemberontak Cina berhasil diusir dari Kartasura, dia lari bersama gerombolan kecul Mangunoneng, yang menyerah di Tegal. Pada bulan Juli 1732 dia tiba bersama ibunya dan salah seorang saudarinya di Semarang. Sunan meminta agar dia dikembalikan ke Kartasura, mungkin dengan niat untuk mengawininya.

102. Juli 1736.

103. Maret 1737.

104. Secanapura; Juli 1737.

105. Menurut catatan VOC, Martakusuma telah ditunjuk menjadi bupati Lembahrawa pada Juli 1736, dan baru kemudian menjadi menjadi bupati Demak pada Juli 1737. Soal perbuatan jahat dan pengasingannya tidak ada dalam catatan VOC.

106. Ini sebenarnya adalah sebuah permintaan yang sudah diajukan sejak kunjungan Coyett.

107. 25 Oktober 1736.

108. 11 Januari 1737.

109. 1 Maret 1738.

110. Minggu, 14 April 1738 pada jam setengah empat sore. Babad memberikan hari dan jam yang tepat, tapi tanggalnya salah. Tanggal yang benar adalah 23 (bukan 21) Besar, Je, 1662 A.J. sebagaimana yang ada dalam surat resmi Natakusuma ke Semarang.

111. Raden Ayu Kusuma juga telah ditawarkan kepada Pangeran Arya Mangkunagara pada tahun 1727. Lihat Bab II.

112. November, Desember 1736.

113. April 1737.

114. Hanya DIpasana yang bertarung dengan macan itu dan selamat. Lainnya dieksekusi.

115. Januari/Februari 1738.

116. 13 Januari 1735.

117. 30 April 1736.

118. 4 Oktober 1738.

119. 4 Oktober 1738.

120. Lihat Bab III.

121. 9 Oktober 1738.

122. Gubernur Jendral juga diberitahu lewat surat dari Sunan yang dibawa oleh Citrasoma pada tanggal 10 November. Residen Kartasura baru melaporkannya pada 16 November. Pengangkatan putra mahkota – yang biasanya tidak dilakukan dalam usia semuda itu – mungkin ditimbulkan oleh kegelisahan-kegelisahan yang disampaikan Kumpeni sejak beberapa bulan sebelumnya tentang soal suksesi.

123. Paruh kedua bulan Oktober 1738. Perjalanan ziarah ini digambarkan dalam catatan Kumpeni sebagai perjalanan berkuda yang diikuti oleh residen, komandan penjaga kraton dan sejumlah pasukan Eropa. Catatan Kumpeni tidak menyebutkan apapun tentang tujuan perjalanan itu atau tentang sakitnya putra mahkota. Hanya ada catatan bahwa Sunan sakit pada bulan Juli. Pada bulan September, Ratu Amangkurat melakukan perjalanan ziarah yang sama. Panasan sekarang menjadi lokasi dari bandar udara Solo.

124. Sengkala ini sama dengan 11 Oktober 1738. Sebenarnya Purbaya dikirim dari Kartasura pada bulan 22 dan diberangkatkan dari Semarang ke Batavia pada tanggal 29 November 1738.

125. Salah satu putri Tirtawiguna.

126. 13 Januari 1739.

127. Lihat S.K. Vsekhvyatsky. Physical Characteristics of Comets, sebuah terjemahan dari bahasa Rusia milik NASA yang tidak diterbitkan. Saya mendapatkan informasi ini dari Proffessor Mayo Greenberg.

128. VOC 2589: 26 Desember 1742.

129. LIhat artikel oleh Teeuw (1976) dan Brakel (1980) tentang literatur historis Indonesia.

130. f adalah fungsi dan S adalah story (kisah).

131. Teeuw 1976:14-6

132. Brakel 1980:43

133. Ricklefs 1979:443-54; Day 1978:433-50.

134. Kumar 1984:223-47

135. Ricklefs 1983:268-90

136. Ricklefs 1983:268.

137. Garis besar dari kelanjutan isi babad memerlukan satu jilid tersendiri dan tidak akan banyak membantu apa yang hendak saya paparkan dalam bab ini. Apalagi tujuan dari bab ini bukanlah untuk mengkritik Ricklefs, yang saya akui telah memberikan sumbangan yang tak ternilai bagi studi sejarah Jawa. Satu contoh kecil dari kisah babad bisa diberikan di sini: yaitu bunuh dirinya Tumenggung Kartanagara, yang memainkan peran dramatis dalam pembicaraan di dalam kraton pada bulan-bulan pertama tahun 1741. Menurur Ricklefs, kematian Kartanagara didukung oleh catatan VOC yang mengatakan bahwa pada bulan Januari 1741 telah ditunjuk pengganti bagi sang “almarhum”. Tapi catatan ini tidak mengatakan bahwa Kartanagara meninggal pada saat itu. Kartanagara meninggal pada tanggal 26 Juli 1739 setelah lama menderita sakit (VOC 2478: 29 Juli 1739). Meskipun mungkin pengganti yang ditunjuk itu mendapat gelar yang sama, ini tidak disebutkan dalam catatan VOC. Justru pada bulan Agustsu 1740 daftar bupati yang disertakan pada catatan harian rombongan Visscher masih mengatakan bahwa posisi itu kosong dan untuk sementara ada di bawah pengawasan Tumenggung Wiraguna (VOC 2512 apart: 15 Agustus 1740). Tampaknya kematian Kartanagara dibuat fungsional seperti kematian Raden Mas Umar dan yang lainnya di dalam fragmen-fragmen di atas.

138. Bandingkan LaCapra 1985:20, 38.

139. LaCapra 1985:87

140. Brakel 1980:43

141. LaCapra 1985:126-7

LAMPIRAN II

1. Rouffaer 1931.

2. Schrieke 1957.

3. Rouffaer 1931:279.

4. Rouffaer 1931:288-90. Anggapan bahwa ini disebabkan oleh pengaruh Cina tampaknya terlalu berlebihan.

5. Lihat Bab 2.

LAMPIRAN III

1. Biasanya orang yang berpangkat Pedagang Utama. Setelah beberapa tahun dia bisa dipromosikan menjadi Commandeur.

LAMPIRAN I

Anak-Anak Amangkurat IV

Daftar berikut ini didasarkan pada daftar yang disertakan dalam laporan para duta yang berkunjung ke kraton pada tahun 1727, 1730, 1733, 1737, 1740, 1743 dan 1744. Semua data lain yang ditemukan dalam catatan-catatan VOC juga disertakan ke dalam lampiran ini. Daftar-daftar itu kemudian dibandingkan dengan daftar dalam Babad Tanah Jawi (XXI:13 23, 24.) Datanya banyak tapi tidak memungkinkan dibuatnya daftar yang pasti. Data VOC seringkali berlawanan satu sama lain, terutama dalam soal umur. Menurut Babad Tanah Jawi, Amangkurat IV memiliki 28 anak (20 putra dan 8 putri) dan jumlah itu sama dengan catatan VOC, tapi kemudian babad menyatakan bahwa Pakubuwana II memiliki delapan belas saudara, dan hanya enam belas yang disebut namanya. Meskipun catatan VOC mengatakan ada dua puluh putra, hanya sembilan belas yang dapat diidentifikasi dengan jelas.

1. Pangeran Arya Mangkunagara

Lahir dari Mas Ayu Sumarsa 1703-1704.

Menikah dengan:

a. Raden Ayu Wulan, putri Pangeran Blitar yang meninggal 23 September 1727.

b. Raden Ayu Ragasmara, putri Cakraningrat III. Meninggal di pengasingan di Srilanka pada tahun 1739-1740.

2. Raden Ayu Dewi.

Lahir dari Mas Ayu Nitawati 1704-1707.

Menikah dengan Arya Suralaya dari Brebes sebelum 1725.

3. Raden Ayu Sukiyah.

Juga bernama Aminah.

Lahir dari Mas Ayu Kamulawati 1704-1709.

Menikah dengan Rangga Adimenggala dari Kaliwungu.

Brecerai pada bulan Juni 1726.

Menikah lagi dengan Raden Arya Pringgalaya pada bulan Januari 1727.

4. Pangeran Loringpasar.

Raden Mas Sandeya.

Lahir dari Raden Ayu Kulon 1708-1709.

Menikah dengan Raden Ayu Gelang, putri Pangeran Purbaya, pada bulan Januari 1727.

Meninggal pada tanggal 4 Juni 1744.

5. Sunan Pakubuwana II

Raden Mas Prabayasa. Pangeran Adipati Anom.

Lahir dari Ratu Amangkurat 1710.

Menikah dengan:

a. Raden Ayu Sukiyah atau Subiyah, putri Pangeran Purbaya pada tanggal 10 Juni 1726.

b. Raden Ayu Tambelek, putri Pangeran Blitar pada Februari 1732. Pada tanggal 15 Oktober 1736 Tambelek diberikan kepada Pangeran Buminata dan setelah kematian Buminata diberikan kepada Pangeran Tepasana pada bulan November 1739.

6. Raden Ayu Bengkring.

Raden Ayu Sitisundari.

Lahir dari Ratu Amangkurat 1711.

Menikah dengan Adipati Cakraningrat IV dari Madura pada 21 Juni 1726.

Menerima gelar Ratu Maduretna pada akhir tahun 1738.

7. Pangeran Danupaya.

Raden Mas Ragu.

Lahir dari Mbok Ajeng Kamudawati 1714-1717.

Menikah dengan:

a. seorang putri Pangeran Dipanagara

b. Raden Ayu Temon, cucu Pangeran Arya Panular dan putri dari Raden Tumenggung Suradiningrat dari Tuban pada Maret 1731.

8. Pangeran Martasana/Dipanagara/Adinagara

Raden Mas Utara.

Lahir dari Mas Ayu Kamulawati 1715-1718.

Menikah dengan:

a. seorang putri Tumenggung Wiranagara dari Tegal pada Februari 1727. Tumenggung Wiranagara meninggal pada perang di dekat Surabaya pada 1719.

b. Raden Ayu Jemblem, yang juga bernama Salamah atau Umpling, putri Pangeran Purbaya. Setelah bercerai pada April 1729, Jemblem menikah lagi dengan R.T. Natawijaya pada April 1730. Para tanggal 7 Februari 1737 Martasana mendapat gelar Pangeran Dipanagara. Gelarnya diberikan kepada anak no. 22. Diberi gelar Adinagara pada 1743.

9. Pangeran Buminata

Raden Mas Sekti

Lahir dari Ratu Mas (Kadipaten), saudari Ratu Amangkurat 1716-1717. Menikah dengan Raden Ayu Tambelek, putri Pangeran Blitar dan mantan istri Pakubuwana II pada 15 Oktober 1736.

Buminata meninggal pada 30 November 1736 dan gelarnya dialihkan kepada adiknya no. 14.

10. Raden Mas Lindhu

Raden Mas Subakti.

Lahir dari Mbok Ajeng Ranggawita 1717. Meninggal pada 20 Februari 1737.

11. Raden Ayu Sibrangti

Lahir dari Mbok Ajeng Sasmita 1713-1718.

Menikah pada bulan Juli 1730 dengan Raden Mangunkusuma, yang kemudian diangkat menjadi Tumenggung Mangkupraja di Kedu.

12. Pangeran Blitar.

Raden Mas Subrongta.

Lahir dari Mbok Ayu Asmara (Mbok Ajeng Ranggawita?) 1718-1719.

Menikah dengan Madion, putri dari Tumenggung Metaun dari Jipang pada bulan Agustus 1734. Pada tahun yang sama menerima gelar Pangeran Blitar. Bercerai pada tahun 1740.

Diasingkan beberapa kali karena kecenderungan homoseksualnya.

Mungkin meninggal pada Perang Cina karena daftar pada tahun 1743 dan 1744 tidak menyebutkan dia lagi.

13. Pangeran Mangkubumi.

Raden Mas Sujana.

Lahir dari Mbok Ajeng Tejawati 1718-1719.

Menikah dengan Raden Ajeng Manik, putri Pangeran Madiun.

Menjadi Pangeran Mangkubumi pada 29 November 1730.

14. Pangeran Buminata.

Raden Mas Saidin. Juga disebut Raden Mas Karaton.

Lahir dari Ratu Mas Kadipaten 1719-1720. Menerima gelar Pangeran Buminata pada 7 Februari 1737. Lihat juga No. 9.

Menikah dengan putri Pangeran Tepasana pada Desember 1737.

15. Raden Ayu Tajem.

Lahir dari Mbok Ajeng Kamudawati 1719-1720.

Menikah pada 31 Oktober 1735 dengan Mas Sudersa, yang kemudian diberi gelar Raden Reksakusuma dan diangkat pada bulan Juli 1739 menjadi bupati Cengkalsewu dengan gelar Raden Ngabehi Wiratmeja. Pada Juni 1740 dia diangkat menjadi bupati Pati. Lihat no. 27. Tajem meninggal pada tahun 1740 dalam perjalanan ke Kartasura untuk menghadiri Mulud.

16. Pangeran Arya Pamod.

Raden Mas Bakti.

Lahir dari Mbok Ajeng Asmara 1720-1721. Menerima gelar Pangeran Arya Pamod pada 29 November 1730.

Menikah pada tanggal 1 Desember 1732 dengan seorang putri Tumenggung Natayuda dari Kedu.

17. Pangeran Arya Mataram.

Raden Mas Ukir. Juga disebut Raden Mas Pamade.

Lahir dari Ratu Mas Kadipaten 1722-1725.

Diangkat menjadi pangeran pada Mei 1737.

18. Pangeran Prangwardana.

Raden Mas Sukara. Disebut juga Raden Mas Langkir.

Lahir dari Mbok Ajeng Ranggapura 1722-1725.

Diangkat menjadi Pangeran pada 1737.

Menikah pada bulan September 1740 dengan putri Raden Anggameja, putra Ngabehi Wirancana, kliwon dari Tumenggung Kartanagara.

19. Pangeran Silarong.

Raden Mas Suradi. Juga disebut Raden mas Yadi.

Lahir dari Mas Ayu 1722-1723.

Diangkat menjadi pangeran pada tanggal 5 Januari 1736.

Menikah dengan putri Tumenggung Surabrata dari Panaraga pada 14 November 1735.

20. Pangeran Arya Panular.

Raden Mas Genter.

Lahir dari Raden Mas Ajeng 1722-1724.

Diangkat menjadi pangeran pada 1737.

21. Pangeran Singasari.

Raden Mas Sunaka.

Lahir dari Ratu Mas Kadipaten 1723-1726.

Diangkat menjadi pangeran pada bulan Mei 1737.

22. Pangeran Martasana.

Raden Mas Langkir.

Lahir dari Mbok Ajeng Puspita 1723-1724.

Diangkat menjadi pangeran pada tanggal 7 Februari 1737. Lihat no. 8.

23. (Pangeran Rangga)

Raden Mas Langkir. Lahir dari Mbok Ajeng Puspita.

Putra ini disebutkan dalam catatan-catatan VOC tapi mungkin saja salah sebab nama, ibu dan umurnya sama dengan nomor 22 sementara nama Raden Mas Langkir juga didapati pada no. 18, 22 dan 24. Gelar Pangeran Rangga adalah milik no. 24 karena dalam VOC 2358: 20 Juli 1735 kita dapati bahwa Raden Mas Surata, yang disebut juga Langkir, telah diangkat menjadi Pangeran Rangga.

24. Pangeran Rangga.

Raden Mas Surata. Disebut juga Raden Mas Langkir.

Lahir dari Mbok Ajeng Tanjongpura 1723.

Diangkat menjadi Pangeran pada Juli 1735.

25. Pangeran Dipasanta.

Raden Mas Sujamal. Juga disebut Raden Mas Sardin.

Lahir dari Mbok Ajeng Waratsari 1723.

Meninggal pada tahun 1743-1744.

26.Raden Ayu Umi.

Lahir dari Mas Ajeng 1717-1723.

Menikah pada 1736 dengan Tumenggung Suranata dari Demak. Tumenggung Suranata meninggal pada 13 Maret 1727 dan kemudian Umi menikah lagi pada Juli 1737 dengan Raden Arya Secanapura, bupati Demak yang baru.

27. Raden Ayu Inten.

Raden Ayu Jumanten Endah. Lahir dari Mbok Ajeng Kambang 1720-1723. Menikah pada 1740 dengan Raden ngabehi Wiratmeja dari Pati, duda dari Raden Ayu Tajem, no. 15.

28. Raden Ayu Inten.

Lahir dari Mas Ayu Tenarangga 1717-1724.

Menikah pada tanggal 25 September 1732 dengan Demang Urawan (Raden Purwakusuma/Pangeran Arya Purbaya).

LAMPIRAN II

Daftar Pejabat-Pejabat Tinggi 1726-1743

Struktur internal dari negara Jawa telah dipelajari secara luas oleh Rouffaer[1] dan Schrieke.[2] Sebagian besar dari penelitian mereka didasarkan pada daftar-daftar yang disertakan ke dalam laporan duta tahun 1733,1737 dan 1744. Dalam lampiran ini, selain digunakan daftar-daftar tadi, juga digunakan daftar dari tahun 1727, 1730, 1740 dan 1743 dan daftar dari tahun-tahun di antara tahun-tahun itu yang diketemukan dalam catatan-catatan VOC. Maka akibatnya sejumlah kesimpulan dan dugaan Schrieke tentang pejabat dan pribadi tertentu harus direvisi.

Diagram di bawah ini menggambarkan sistem pembagian negara menjadi nagara (pusat, yaitu kraton dan ibu kota), nagaragung atau nagara ageng (kabupaten-kabupaten interior), mancanagara (kabupaten-kabupaten luar), pasisir (kabupaten-kabupaten pesisir) dan narawita (wilayah raja, Mataram dan Gadhing Mataram). Secara teoritis, Sunan memegang kontrol secara langsung terhadap narawita dan sejumlah pejabat tinggi. Keempat wedana lebet atau wedana jero mengurusi kraton dan ibu kota, sementara patih mengontrol wilayah-wilayah di luarnya, mulai dari nagaragung yang ada di bawah delapan wedana jawi atau wedana jaba, mancanagara, yang dibagi menjadi Timur (wetan) dan Barat (kilen) sampai pada pasisir, yang juga dibagi menjadi timur dan barat. Putra mahkota membawahi sentana atau keluarga raja, yang terdiri dari saudara laki-laki dan kerabat dekat lainnya. Sentana juga dibagi menjadi kiri dan kanan.

Seperti yang telah ditunjukkan oleh Rouffaer dan Schrieke, kondisi ini merupakan akibat dari perkembangan yang telah berjalan lama. Tampaknya pada abad ke 17 wedana lebet memainkan peran yang jauh lebih penting, bahkan sampai ke dalam administrasi wilayah-wilayah luar. Sunan Amangkurat I bahkan tidak memiliki seorang patih dalam artian yang sesungguhnya. Tapi di pihak lain kadang ada dua patih. Rouffaer beranggapan bahwa patih kedua, atua patih jero/lebet, memimpin wedana jero/lebet, sementara patih pertama memimpin wedana jaba/jawi.[3] Ini beralasan jika dilihat dari kesukaan orang Jawa akan simetri dan jika dilihat dari praktek-praktek setelahnya, tapi dalam kasus Danureja dan Kartanagara dan juga dalam kasus Arya Pringgalaya dan Tirtawiguna (Sindureja) setelah 1743, jelas bahwa ke dua patih memimpin para bupati kabupaten-kabupaten luar dan dan wedana jero tidak masuk dalam wewenang mereka.
Diagram di atas jangan dibaca terlalu harafiah. Seorang patih yang kuat akan menguasai wedana lebet dan sekaligus wedana jawi, sementara figur yang kuat mampu merebut kekuasaan dari pejabat lain, seperti yang terjadi dalam kasus Demang Urawan (Pangeran Arya Purbaya). Dia resminya menjabat wedana keparak tengen, tapi dia berhasil merebut sebagian kekuasaan patih, memimpin orang Kalang dan Gowong, yang resminya berada di bawah kontrol langsung Sunan, dan bahkan berani memberi perintah kepada bupati Banyumas, yang resminya termasuk ke dalam Mancanagara Kilen. Ada dua aspek lain dari diagram ini yang tidak boleh dibaca dengan terlalu harafiah. Nama Panekar dan Bumijo belum digunakan pada masa ini, sekalipun Panumping (Pajang dan Sokawati) dan Bumi (Kedu) sudah memiliki dua bupati. Saya dapati sebutan yang muncul kemudian ini lebih praktis daripada menyebutnya sebagai Panumping I dan II dan Bumi I dan II. Lalu masalah tentang pembagian menjadi kiri dan kanan, serta mana yang dianggap lebih tinggi secara hirarkis, adalah masalah yang membingungkan. Rouffaer mengamati bahwa bagi orang Jawa kanan pada dasarnya lebih tinggi daripada kiri, tapi karena alasan-alasan yang tidak diketahui, etiket kraton pada sekitar masa ini beralih dari kanan ke kiri.[4] Karena sumber-sumber Belanda tidak selalu jelas dan bahkan seringkali kontradiktif soal kiri dan kanan ini, saya mengikuti Serat Pustaka Raja Puwara dan Babad Tanah Jawi, sekalipun dua sumber ini pun tidak selalu konsisten.

Masalah kiri dan kanan, atau Timur dan Barat, adalah masalah yang penting sebab jika diagram ini diakui menggambarkan sesuatu, maka yang digambarkannya secara hirarkis itu adalah pengaturan di dalam kraton, dan bukan divisi administratif atau bahkan divisi teritori. Schrieke dengan sabar telah mencoba merekonstruksi divisi teritori negara Jawa. Daftar ini saya batasi hanya pada wilayah-wilayah yang paling penting, dengan pertimbangan bahwa yang kita hadapi di sini bukan divisi teritori tapi divisi penduduk.

Secara umum, aturan yang dibuat Rouffaer masih berlaku. Wedana lebet dan wedana jawi tinggal di ibu kota. “Wilayah khusus” milik para pejabat kraton terletak di nagaragung, sementara para pemimpin mancanagara dan pasisir adalah penguasa wilayah dalam artian sejati. Tapi di mancanagara dan pasisir sekalipun, mungkin terjadi banyak praktek penyewaan desa dan penduduk, tidak hanya kepada orang Cina dan orang asing lain tapi juga kepada pejabat kraton Jawa, seperti yang terjadi dalam kasus Banyumas.[5] Apalagi beberapa wilayah di mancanagara dan pasisir, atau penduduk di wilayah-wilayah itu, masih ada di bawah kontrol langsung kraton, entah itu karena alasan-alasan kewangsaan atau karena tradisi mewajibkan mereka untuk mensuplai pasukan profesional, seperti misalnya wilayah Tempuran, Tersana dan Jagasura. Wilayah yang menjadi wewenang para pejabat tidak memiliki batas yang jelas, tapi jumlah rumah tangga di dalam suatu kabupaten sudah pasti, sementara rumah tangga lain, biarpun ada di dalam desa yang sama, bisa jadi merupakan wewenang dari bupati lain, kalau bupatinya lebih dari satu, seperti Demak, sementara bukannya tidak mungkin ada rumah tangga lain lagi yang tidak berada di bawah wewenang bupati karena diserahkan kepada lembaga keagamaan atau menjadi bawahan langsung kraton. Perlu diingat bahwa yang dimaksud dengan rumah tangga di sini hanyalah rumah tangga (yang memiliki tanah) yang diwajibkan membayar pajak dan memberikan jasa (militer). Mereka hanya sebagian dari populasi total. Soal organisasi lokal pada level desa, sulit untuk membuat aturan yang pasti. Ada begitu banyak variasi lokal sehingga semua aturan yang sudah dibuat bisa dibatalkan hanya dengan komentar “Tapi tidak kalau di Bagelen Timur”, atau tempat selain itu.

Dan yang terakhir yang perlu diperhatikan adalah divisi simbolis dari diagram tadi. Pembagian besar menjadi kiri dan kanan, timur dan barat, telah dibahas tadi. Pembagian ini dikombinasikan dengan pembagian arah mata angin menjadi empat, dan kemudian menjadi delapan, sehingga jika dihitung bersama dengan pusatnya akan menghasilkan angka-angka suci lima dan sembilan, seperti misalnya, Sunan dan keempat wedana jero, kemudian Sunan, keempat wedana jero bersama keempat wedana jaba. Dengan cara ini pengorganisasian negara secara simbolis merefleksikan tatanan jagat.

PATIH

Adipati Danureja

Pada tanggal 16 Juli 1727 mendapat wakil patih, Raden Tumenggung Natawijaya, sang Wedana Siti Ageng Ingkang Kiwa. pada tanggal 9 Juli 1733 Danureja diasingkan dan digantikan R.T. Natawijaya pada tanggal 3 Agustus 1733, dengan gelar:

Adipati Natakusuma

Pada bulan Juli 1739, Raden Arya Pringgalaya, sang Wedana Siti Ageng Ingkang Kiwa dan Tumenggung Kartanagara diangkat menjadi wakil-wakilnya. Dia ditahan oleh Kumpeni pada tanggal 17 Juni 1742 dan diasingkan. Karena sedang terjadi perang, penggantinya, yaitu Raden Arya Pringgalaya dan Tumenggung Tirtawiguna, sang Wedana Gedhong Kiwa, baru diangkat pada tanggal 13 November 1743. Pringgalaya menjadi patih sisi kanan dan Tirtawiguna menjadi patih sisi kiri dengan gelar:

Raden Adipati Pringgalaya

dan

Adipati Sindureja

WEDANA LEBET

Wedana Gedhong Tengen

Tumenggung Mangunnagara 1

Meninggal pada 16 Juni 1728. Putranya yang masih di bawah umur menggantikannya dengan gelar:

Tumenggung Mangunnagara 2

Dicopot pada bulan April 1731 karena terlalu muda dan tidak berpengalaman dan digantikan oleh pamannya, Arya Tuban. Dia mengambil gelar pamannya sementara pamannya mendapat gelar:

Tumenggung Mangunnagara 3

Pada akhir 1740 atau awal 1741 diangkat menjadi Wedana Sewu, menggantikan T. Gruwakandha. Catatan-catatan Kumpeni tidak jelas soal pergantian ini. Menurut Babad Tanah Jawi ini terjadi setelah Sunan berziarah ke Mataram pada bulan September 1739. Dia digantikan oleh Ki Wirapati, penasehat Sunan, dengan gelar:

Tumenggung Wirareja

Wedana Gedhong Kiwa

Tumenggung Nitinagara

Diangkat pada tanggal 16 Juni 1728, bersamaan dengan pengangkatan T. Mangunnagara 2. Catatan VOC tidak menyebutkan siapa yang digantikannya. Menurut Babad Tanah Jawi dia menggantikan seseorang bernama Sumabrata. pada bulan Desember 1729 Nitinagara dicopot dan diganti oleh Tumenggung Tirtawiguna, sekretaris Sunan. (Nitinagara kemudian meninggal pada tanggal 23 April 1733 dan digantikan oleh putra tertuanya, tapi putranya ini dicopot pada bulan November 1733.)

Tumenggung Tirtawiguna 1

Pada tanggal 13 November 1743, Tirtawiguna diangkat menjadi patih sisi kiri dan digantikan putranya Ngabehi Surawiguna dengan gelar:

Tumenggung Tirtawiguna 2

Wedana Keparak Tengen

Demang Urawan 1

Meninggal pada tanggal 17 Agustus 1730. Digantikan oleh:

Demang Candranagara

Dicopot pada bulan April 1731. Digantikan oleh Raden Purwakusuma, putra dari Pangeran Purbaya yang diasingkan dengan gelar:

Demang Urawan 2

Yang pada bulan Mei 1737 menerima gelar yang lebih megah, yaitu:

Pangeran Arya Purbaya

Dicopot pada tanggal 4 Oktober 1738 dan kemudian diasingkan ke Srilanka dan digantikan T. Natayuda, sang Wedana Bumijo.

Tumenggung Natayuda

Terbunuh dalam serangan terhadap penjaga kraton pada tanggal 20 Juli 1741. Penggantinya ditunjuk ketika dalam pelarian ke Panaraga pada bulan Juli 1742 dan mendapat gelar:

Tumenggung Nitinagara

Yang sebelum diangkat adalah seorang panakawan, atau pengiring Sunan. Saudaranya pada saat yang sama diangkat menjadi Wedana Keparak Kiwa.

Wedana Keparak Kiwa

Ngabehi Wirajaya (Tumenggung Wirajaya)

Pada tanggal 16 Mei 1737 diangkat menjadi tumenggung. Tetap berada di Kartasura setelah Kartasura jatuh pada tanggal 30 Juni 1742. Gelarnya diganti menjadi Baureksa oleh Mas Garendi. Dalam pelariannya ke Panagara, Sunan mengangkat saudara dari Tumenggung Nitinagara dengan gelar:

Tumenggung Kartinagara

WEDANA JAWI (TENGEN)

Wedana Siti Ageng ingkang Kiwa

Raden Tumenggung Natawijaya

Pada tanggal 16 Juli 1727 dia diangkat menjadi wakil patih dan posisinya diisi oleh:

Raden Arya Pringgalaya

Yang pada tanggal 13 November 1743 diangkat menjadi patih bersama dengan Tirtawiguna dan digantikan oleh:

Raden Arya Wiryadiningrat

Putra Natakusuma dan mantan Wedana Panekar.

Wedana Siti Ageng ingkang Tengen

Pangeran Mangkubumi

Meninggal pada tanggal 5 Agustus 1730 dan digantikan oleh:

Raden Arya Malayakusuma

cucu dari Pangeran Arya Mataram yang mati dicekik di Japara tahun 1720.

Wedana Sewu

Kandhuruan Wilatikta

Pada tanggal 30 April 1736 dicopot dan digantikan oleh ngabehi Wirawangsa, cucu T. Wiraguna dari Panumping dengan gelar T. Wirakandha. Gelarnya diganti menjadi T. Gruwakandha atau Garwakondha.

Tumenggung Gruwakandha

Pada awal 1740 atau awal 1741 dicopot dan diganti oleh T. Mangunnagara 3, sang Wedana Gedhong Tengen. Menurut Babad Tanah Jawi ini terjadi setelah perjalanan ziarah ke Mataram pada bulan September 1739.

Tumenggung Mangunnagara 3

Terbunuh dalam serangan terhadap benteng, 20 Juli 1741. Digantikan putranya:

Tumenggung Mangunnagara 4

Wedana Numbak Anyar

Tumenggung Jayasuderga 1

Meninggal pada tanggal 26 April 1732 dan digantikan putranya:

Tumenggung Jayasuderga 2

Terbunuh dalam serangan ke benteng 20 Juli 1741. Digantikan oleh Raden Singaranu, yang mungkin adalah gelar baru dari Demang Candranagara sang Wedana Keparak Tengen.

Raden Singaranu 1

Terbunuh dalam pertempuran Bicak 7 Mei 1742. Digantikan putranya:

Raden Singaranu 2

WEDANA JAWI (KIWA)

Wedana Panumping

Tumenggung Wiraguna 1

Dicopot pada tanggal 10 Juni 1737 karena usianya sudah lanjut dan digantikan putranya Arung Binang dengan gelar:

Tumenggung Wiraguna 2

Terbunuh dalam pertempuran Bicak 7 Mei 1742 dan digantikan putranya:

Tumenggung Wiraguna 3

Wedana Panekar

Tumenggung Kartanagara 1

Putra dari mantan patih Mangkupraja. Meninggal pada tanggal 26 Juli 1739 dan digantikan untuk sementara oleh:

Tumenggung Wiraguna 2 (sementara)

Pada bulan Januari 1741 digantikan oleh Raden Arya Wiryadiningrat, putra Natakusuma dan bupati Lembahrawa.

Raden Arya Wiryadiningrat

Pada tanggal 13 November 1743 diangkat menjadi Wedana Siti Ageng ingkang Kiwa. Posisi Wedana Panekar diisi oleh putra dari Kartanagara 1:

Tumenggung Kartanagara 2

Wedana Bumi

Tumenggung Mangkuyuda 1

Sepupu T. Natayuda  dari Bumijo. Meninggal karena demam pada Juli 1742 dan digantikan putranya:

Tumenggung Mangkuyuda 2

Wedana Bumijo

Tumenggung Natayuda

Sepupu T. Mangkuyuda dari Bumi. Juga menjadi kepala Jaksa. Pada bulan Oktober 1738 dia diangat menjadi Wedana Keparak Tengen menggantikan Pangeran Arya Purbaya yang diasingkan. Posisinya sebagai Wedana Bumijo diisi oleh Raden Mangkukusuma, saudara dari T. Mangkuyuda, dengan gelar:

Tumenggung Mangkupraja

MATARAM

Tumenggung Natawijaya 1

Meninggal pada tanggal 26 Januari 1730. Digantikan putra saudarinya:

Tumenggung Natawijaya 2

dan Demang Jayasamudra

Saudara tiri Tumenggung Natawijaya 2, yaitu Demang Jayasamudra sudah menjadi bupati bawahan Jayawinata 1. Pada bulan Mei 1736 keduanya dicpot dan diletakkan di bawah wewenang:

Ngabehi Rajaniti

Pada bulan Oktober 1738 menerima sebagian dari bawahan Pangeran Arya Purbaya yang diasingkan. Pada bulan Desember 1740 menerima gelar tumenggung. Meninggal pada 15 Mei 1743.

Gadhing Mataram

Ngabehi Rajaniti (Tumenggung)

Bekas pengikut Pangeran Purbaya yang memberontak. Pada bulan Mei 1736 juga menjadi bupati Mataram.

MANCANAGARA

Blitar/Sarengat

Rangga Diramanggala

Digantikan para bulan November 1726 oleh mantan bupati Demang Ranuita, saudara tiri Patih Danureja.

Demang Ranuita

Pada saat yang sama ia menjabat bupati Kediri. Dia sebelumnya dicopot karena diduga berhubungan dengan pemberontak Mas Brahim di Malang. Setelah Danureja diasingkan, Demang Ranuita dicopot dan Blitar/Sarengat diberikan kepada Tumenggung Mataun dari Jipang. Pada bulan Agustus 1735, Raden Suradilaga ditunjuk menjadi bupati dengan gelar:

Raden Ngabehi Suradadaha

Salah seorang kesayangan Pangeran Arya Purbaya. Ada yang mengatakan dia adalah anak pemberontak Surapati, yang menyerah pada tahun 1723. Tampaknya sebenarnya dia adalah anak dari seseorang bernama Kartamanggala, sepupu dari ayah Tumenggung Surabrata dari Panaraga. Saudari Kartamanggala menikah dengan Surapati. Karena terjadi pertengkaran, Kartamanggala pindah ke Trenggalek dan meninggal di sana. Istrinya dan putranya yang berumur tiga tahun pindah ke Pasuruan dan dipelihara Surapati. Setelah ibunya meninggal, anak yang sudah berumur tujuh tahun itu dipanggil pulang oleh neneknya ke Panaraga dan di sana dipelihara oleh Tumenggung Surabrata. Dia kemudian pindah ke Kartasura, dan menjadi pengikut Pangeran Arya Purbaya, yang mengangkatnya menjadi bupati Blitar/Sarengat. Sepupunya, Surawijaya, pada saat yang sama menjadi bupati Pace. Pada tahun 1739, setelah Pangeran Arya Purbaya jatuh dan diasingkan, dia dicopot dan diperintahkan untuk hidup sebagai orang biasa di Panaraga. Posisinya di Blitar/Sarengat digantikan oleh:

Ngabehi Suralagawa

Bekas kepala rumah tangga Sunan[1] dan sebelum itu pernah menjadi bupati Surabaya dengan gelar Suradirana. Dia adalah saudara ipar dari mantan Patih Danureja.

Rawa

Ngabehi Gempang

Diturunkan dari jabatannya pada bulan November 1726 atas permintaannya sendiri dan digantikan oleh bekas bupati Jagaraga, yaitu:

Ngabehi Malangjiwa

Yang dicopot pada tanggal 19 Agustus 1734 dan digantikan oleh:

Raden Subajaya

Setelah Subajaya meninggal, ia digantikan oleh seorang sepupu atau keponakan Patih Natakusuma, yaitu Raden Wirakusuma, pada tanggal 23 Agustus 1735.

Raden Wirakusuma

Hilang dalam perang. Pada bulan November 1743, seseorang bernama Trunawijaya menjalankan tugas-tugas bupati:

Trunawijaya

Kabarnya adalah menantu dari bekas bupati Kediri, Wirakusuma. Karena bupati Kediri pada tahun 1740 adalah Raden Tumenggung Natawijaya, putra dari Patih Natakusuma, tampaknya Wirakusuma, yang juga masih kerabat, menjadi bupati di Rawa dan pada saat yang sama menjalankan tugas-tugas bupati di Kediri sementara R.T. Natawijaya tinggal di Kartasura.

Wirakusuma dipukul mundur sampai keluar Kediri oleh pemberontak Mas Brahim pada bulan April 1742.

Kalangbret

Arya Tandhamantri

Merupakan satu dari sedikit bupati yang mampu mempertahankan jabatannya selama periode yang dibahas ini dan selamat dari perang. Tidak ada keterangan lain yang dapat ditemukan.

Jipang

Tumenggung Mataun

Juga menjabat sebagai kepala tituler dari Mancanagara Barat, meskipun Jipang (Bojonegoro, Blora) secara geografis terletak lebih timur daripada Panaraga, yang bupatinya menjabat sebagai kepala tituler dari Mancanagara Timur. T. Mataun terbunuh pada bulan November 1741 dalam pertempuran melawan orang Madura. Dia mungkin menikah dengan putri Pakubuwana I. Setelah perang, Sunan mencoba mengangkat putranya, yang bergelar Mataun juga, Verijsel terpaksa mempertahankan seseorang bernama Pranaita (Oktober 1745), yang sebelumnya menjadi pepati Jipang. Pranaita tidak hanya memiliki banyak pengikut di Jipang, tapi juga dengan cepat memilih pihak Kumpeni dan mengusir orang Madura.

Wirasaba

Rangga Martapati 1

Meninggal pada bulan Juli 1739. Digantikan oleh putra tertuanya:

Rangga Martapati 2

Berpihak kepada pemberontak di Pasuruan pada masa perang. Pada bulan April 1742 Sunan menunjuk seseorang bernama:

Raden Wangsakusuma

Setelah perang, Kumpeni memilih seseorang bernama:

Ngabehi Sumayuda

Yang menikah dengan putri Tumenggung Secanagara dari Surabaya.

Kediri

Demang Ranuita

Ngabehi Asmarandana

Demang Ranuita

Pada bulan November 1726, Demang Ranuita, bekas bupati Kediri dan saudara tiri Patih Danureja, diangkat kembali. Lihat juga Blitar/Sarengat. Pada bulan November 1733 dicopot dan digantikan oleh Ngabehi Singayuda, keturunan dari keluar mantan bupati, yang mendapat gelar tradisional:

Ngabehi Katawengan

Pada tahun 1740, setelah kematian (?) Ngabehi Katawengan, putra tertua Natakusuma, Raden Tumenggung Natawijaya diangkat menjadi bupati.

Raden Tumenggung Natawijaya

Tapi Raden Tumenggung Natawijaya mungkin tinggal di Kartasura, sementara Raden Wirakusuma, bupati Rawa (lihat Rawa) menjadi pejabat bupati.

Raden Suradadaha

Pada bulan April 1742, Sunan menunjuk seseorang bernama Raden Suradadaha, yang mungkin adalah bekas bupati Blitar, sebab bupati bawahan Ngabehi Sasrapati telah berpindah ke pihak pemberontak. Tapi pada bulan Oktober 1745 Verijsel memutuskan untuk mengembalikan Ngabehi (S)as(t)rapati ke Kediri karena Suradadah lari ke pamannya di Panaraga lama sebelum para pemberontak benar-benar memulai penyerangan ke Kediri.

Panaraga

Tumenggung Surabrata

Juga menjadi kepala tituler dari Mancanagara Timur. Menikah dengan seorang putri dari saudari dari istri Danureja. Ketika Sunan lari ke Panaraga dia mendapat gelar Adipati Suradiningrat.

Caruban

Ngabehi Secadirana

Setelah perang, mantan pepati Panaraga, Ngabehi Candramanggala, diangkat menjadi bupati.

Ngabehi Candramanggala

Kertasana

Demang Surengpati (juga disebut Ngabehi Kramawijaya)

Putra T. Mataun dari Jipang. Pada bulan Agustus 1734 pindah ke Japan. Posisinya di Kertasana digantikan oleh:

Raden Wangsakusuma

Menikah dengan saudari dari T. Surabrata dari Panaraga.

Blora

Ngabehi Sumawijaya

Putra Citrasoma dari Japara. Pada bulan November 1726 digantikan oleh adiknya:

Ngabehi Suradigjaya

Menikah dengan saudari Arya Jayasentika dari Kudus. Pada bulan Oktober 1745, Verijsel menunjuk seseorang bernama Raden Jayawirya (?), yang memilih pihak Kumpeni dan mengusir orang Madura.

Sela

Ngabehi Yudajaya

Tidak ada keterangan lain.

Warung

Ngabehi Sutawirya 1 (Kartayuda)

Juga disebut Kartayuda. Setelah ia meninggal, ia digantikan pada bulan Januari 1730 oleh seorang putra T. Mataun dari Jipang, yang sama-sama disebut Ngabehi Sutawirya atau Ngabehi Kartayuda.

Ngabehi Sutawirya 2 (Kartayuda)

Menikah dengan saudari Wiratmaja, bupati kedua Pati.

Raden Anggakusuma

Setelah perang seseorang bernama Raden Anggakusuma diangkat, tapi dia meninggal. Pada bulan April 1744 Sunan mengangkat saudaranya:

Raden Anggayuda

Grobogan

Ngabehi Jayasentika

Setelah meninggal, digantikan pada Maret 1725 oleh mantan bupati Juwana:

Arya Mandalika 1

Meninggal pada Maret 1731 dan digantikan oleh putra tertuanya Pranayuda dengan gelar:

Arya Mandalika 2

Setelah meninggal digantikan pada bulan September 1732 oleh Sumawijaya, putra tertua Arya Kudus, dengan gelar:

Ngabehi Martapura

Pada tahun 1733 diangkat bupati kedua, yaitu:

Ngabehi Sutayuda (Martawijaya 1?)

Pada tahun 1736 dia disebutkan sebagai kroni dari Arya Purbaya dan mantan bupati Grobogan. Dia mungkin adalah orang yang sama dengan Martawijaya, yang setelah meninggal posisinya sebagai bupati kedua Grobogan digantikan oleh putranya Martawijaya 2 pada bulan Juli 1737.

Ngabehi Martawijaya 2

Ngabehi Martapura menjadi salah satu pemimpin utama pemberontakan selama dan setelah perang. Pada November 1743 Sunan mengangkat kembali Martawijaya 2 bersama dengan seseorang bernama Surakarti, yang selama beberapa waktu menjadi satu-satunya pejabat bupati di sana.

Ngabehi Surakarti

Madiun

Raden Tambakbaya

Dicopot dan digantikan pada bulan November 1725 oleh Ngabehi Arung Binang, putra tertua Tumenggung Wiraguna 1.

Ngabehi Arung Binang

Dibebastugaskan atas permintaannya sendiri dan digantikan oleh Raden Secanapura pada November 1726.

Raden Secanapura

Pada bulan Juli 1727 disebutkan bahwa dia mendapatkan bupati kedua:

Pangeran Anom

Mungkin identik dengan Raden Sumawijaya, yang disebutkan pada bulan Oktober 1727.

Raden Sumawijaya

Menikah dengan putri dari Pangeran Dipanagara yang diasingkan, yang sebelumnya menikah dengan Pangeran Danupaya.

Apa yang terjadi pada Raden Secanapura (yang kemudian menjadi Ngabehi) tidak jelas. Pada 1730 dia masih menjadi bupati, tapi pada 1733 dia rupanya sudah digantikan oleh seseorang bernama Raden Wirasari (lihat juga Jagaraga).

Raden Wirasari

Pada 1737 posisinya diambil oleh seseorang bernama:

Raden Arya Martalaya

Martalaya dan Sumawijaya mendapat gelar pangeran selama masa pelarian Sunan ke Panaraga. Menurut Babad Tanah Jawi (XXVII, 18) Martalaya mendapat gelar Pangeran Martalaya dan Sumawijaya mendapat gelar Pangeran Mangkunagara.

Kamagetan

Ngabehi Sutawijaya

Putra dari Demang Urawan 1. Pada bulan November 1733 ditarik ke kraton dan digantikan oleh:

Arya Sumaningrat

Yang kabarnya adalah putra dari almarhum Arya Mangunrana, yang saudarinya menjadi permaisuri pertama Amangkurat. Adik Arya Sumaningrat, Wiramanggala, menjadi bupati Cengkalsewu pada 1735, dengan gelar Ngabehi Mangunrana. Mereka berdua adalah sepupu atau keponakan dari Patih Natakusuma. Pada bulan Juli 1739 keduanya dicopot karena menjadi pengikut Arya Purbaya. Arya Sumaningrat digantikan oleh:

Citradiwirya

Adik dari Citrasoma dari Japara.

Pada tahun 1742 Citradiwirya atas permintaannya sendiri diturunkan dari jabatannya dan digantikan oleh Raden Sumadiningrat (=Arya Sumaningrat?).

Raden Sumadiningrat 1

Terbunuh dalam pertempuran melawan pemberontak Cina pada tanggal 17 Januari 1743. Digantikan oleh putranya Raden Pusparana dengan gelar:

Raden Sumadiningrat 2

Jagaraga

Demang Semalang Sumirang

Diturunkan dari jabatannya atas permintaannya sendiri dan pada bulan Desember 1725 digantikan oleh:

Ngabehi Malangjiwa

Juga diturunkan dari jabatannya atas permintaannya sendiri dan diangkat di Rawa. Digantikan oleh:

Raden Wirasari

Yang kemudian mendapat gelar Ngabehi. Menikah dengan keponakan atau sepupu dari Raden Megatsari dari Pati. Kebetulan Raden Wirasari dari Madiun juga katanya menikah dengan seorang keponakan atau sepupu dari Raden Megatsari. Mungkin ada yang rancu di sini.

Selama masa pelarian ke Panaraga pada 1742 Sunan mencopot Wirasari dan menunjuk:

Ngabehi Tirtamenggala

Japan

Demang Alad-Alad

Dicopot pada bulan Agustus 1734 dan digantikan oleh:

Ngabehi Kramawijaya

Mantan bupati Kertasana, putra T. Mataun dari Jipang.

Kaduwang

Ngabehi Sutanagara

Keponakan atau sepupu dari Tumenggung Kartanagara 1 (Panekar) dan menikah dengan putri dari Ngabehi Wirajaya (Keparak Kiwa).

Berpihak pada pemberontak pada tahun 1742 dan digantikan oleh:

Raden Mangunrana

Mantan bupati Cengkalsewu?

Pacitan

dipimpin beberapa pejabat rendahan.

Banyumas

Tumenggung Suradipura

Dicopot dari jabatannya setelah memberontak pada bulan Juli 1727. Digantikan oleh:

Tumenggung Yudanagara

Mas Martawijaya, putra dari mantan bupati Tumenggung Martayuda, yang dieksekusi pada 1715. Yudanagara menikah dengan saudari dari istri Danureja. Selama masa kekuasaan Arya Purbaya dia diletakkan di bawah komando Arya Purbaya dan kemudian di bawah Natakusuma. Dia hampir terbunuh dalam serangan terhadap benteng. Dia kemudian memainkan peran penting sebagai patih pertama dari Pangeran Mangkubumi dengan gelar Danureja.

Pamerden

Ngabehi Dipayuda 1

Meninggal pada awal tahun 1743. Digantikan putranya:

Ngabehi Dipayuda 2

Dayaluhur

Ngabehi Wiradika

Menghilang dari catatan sejarah setelah 1742. Pada tahun 1743 penggantinya disebut sebagai:

Ngabehi Jayasentika

PASISIR

Brebes

Arya Martalaya

Putrinya, Raden Ajeng Brebes, dinikahkan dengan Pangeran Blitar dan kemudian diambil istri oleh Sunan Amangkurat IV. Pada bulan April 1726 dikembalikan kepada ayahnya karena mengalami gangguan kewanitaan. Dia kemudian menikah dengan Tumenggung Raksanagara 2 dari Tegal. Martalaya pada 1722 sudah digantikan putranya:

Raden Arya Suralaya

Menikah dengan Raden Ayu Dewi, saudari tiri Pakubuwana II. Pada 1736 juga menerima wewenang atas Wiradesa, yang sebelum itu ada di bawah wewenang Puspanagara dari Batang. Dia meninggal pada 15 November 1743.

Tegal

Tumenggung Raksanagara 1

dan Tumenggung Wiranagara 1

Keduanya dicopot pada bulan November 1725 dan digantikan oleh:

Demang Tirtanata

Putra Jayaningrat dari Pekalongan. Dia lari dari Tegal karena meletusnya pemberontakan pada bulan Juni 1726. Kemudian untuk sementara Tegal diletakkan di bawah wewenang Patih Danureja, yang mengangkat Badrayuda, adik dari Raksanagara 1 yang sudah meninggal dan seseorang bernama Secanagara untuk memimpin para bawahan Raksanagara 1. Sementara itu bawahan Wiranagara 1 diserahkan kepada Panji.

Tumenggung Raksanagara 2

dan Tumenggung Wiranagara 2

Pada bulan Oktober 1727, Badrayuda diangkat menjadi Tumenggung Raksanagara 2, sementara Wiranagara 1 diangkat kembali menjadi bupati. Tapi Wiranagara diserang dalam perjalanannya ke Tegal dan meninggal pada bulan Desember 1727 karena luka tembakan pada lengan kanannya. Maka Panji diangkat menjadi Tumenggung Wiranagara 2 pada bulan Januari 1728. Pada bulan September 1732 Wiranagara 2 mengajukan pengunduran diri karena kesehatan yang kurang bagus. Dia digantikan oleh putra dari mantan bupati Tumenggung Wiranagara yang terbunuh dalam pertempuran selama Perang Surabaya tahun 1718.

Tumenggung Wiranagara 3

Raksanagara 2 menikah dengan saudari Arya Suralaya dari Brebes, mantan istri Amangkurat IV (lihat Brebes).

Pamalang

Raden Arya Cakranagara 1

Sepupu Pangeran Loringpasar. Musuh besar Jayaningrat dari Pekalongan. Karena itulah dia secara resmi menjadi bawahan Pasisir Wetan. Meninggal pada tanggal 22 Juli 1737 dan digantikan putranya:

Raden Arya Cakranagara 2

Pekalongan

Adipati Jayaningrat 1

Kepala tituler dari Pasisir Kilen. Keturunan Cina. Adiknya Puspanagara menjadi bupati Batang. Keponakannya menjadi bupati Sidayu. Meninggal pada tanggal 12 Desember 1726 dan digantikan oleh Tumenggung Suradiningrat yang mendapat gelar yang sama. Gelar Tumenggung Suradiningrat dialihkan kepada saudaranya Demang Tirtanata mantan bupati Tegal.

Adipati Jayaningrat 2

Menikah dengan putri Danureja. Putra yang dihasilkan dari perkawinan ini, Ngabehi Tirtawija, diangkat menjadi wakil ayahnya pada bulan November 1733. Tapi dia meninggal pada bulan Agustus 1743 di Ampel dalam perjalanan ke Kartasura untuk menghadiri Mulud. Jayaningrat 2 sudah meninggal sebelumnya pada tanggal 11 Juli 1742 dan digantikan oleh menantunya, putra Patih Natakusuma, yang bernama Sumadiwirya. Dia mendapat gelar Raden Arya Sumadiningrat tapi kemudian menjadi bupati dengan gelar:

Raden Adipati Jayaningrat 3

Lembahrawa

Jayanagara

Putra Jayaningrat 1. Setelah dia menggantikan ayahnya sebagai bupati Pekalongan, saudaranya Demang Tirtanata mantan bupati Tegal menerima gelar Tumenggung Suradiningrat dan menjadi bupati Lembahrawa.

Tumenggung Suradiningrat

Pada tahun 1733 Suradiningrat diangkat menjadi bupati Tuban. Lembahrawa beralih ke tangan klan Jayadiningrat yang ada di Batang dengan diangkatnya Ngabehi Tirtanagara, putra Puspanagara dari Batang.

Ngabehi Tirtanagara

Pada tahun 1735 dia dipindahkan ke Batang untuk membantu ayahnya yang sakit-sakitan dan posisinya digantikan adiknya Jayakusuma.

Jayakusuma

Pada bulan Juli 1736 Jayakusuma dicopot dan digantikan oleh Raden Martakusuma (Raden ngabehi Kartawirya).

Raden Martakusuma

Pindah ke Demak pada bulan Juli 1737 dan digantikan oleh:

Ngabehi Wirasastra

Bekas kepala rumah tangga Sunan dan saudara Tirtawiguna, sang Wedana Gedhong Kiwa. Pada bulan Oktober 1738 Wirasastra diangkat menjadi bupati Demak dan posisinya digantikan oleh:

Raden Ngabehi Anggadiwirya

Putra ketiga Patih Natakusuma. Menikah dengan putri dari Patih Danureja yang sudah diasingkan. Pada Januari 1741 diangkat menjadi Wedana Panekar dengan gelar:

Raden Arya Wiryadiningrat

Batang

Tumenggung Puspanagara 1

Keturunan Cina. Adik dari Jayaningrat 1 dari Pekalongan. Pada bulan September 1733 putranya Tirtanagara mantan bupati Lembahrawa ditunjuk untuk membantunya dan akhirnya menggantikannya. Puspanagara 1 meninggal pada tanggal 15 Mei 1736. Tirtanagara menggantikannya dengan gelar:

Tumenggung Puspanagara 2

(Tapi Wiradesa diberikan kepada Arya Suralaya dari Brebes). Puspanagara 2 dicopot pada tahun 1740 dan diganti oleh:

Tumenggung Cakrajaya

Putra dari Patih Danureja yang diasingkan. Menikah dengan saudari Arya Pringgalaya.

(Puspanagara 2 dan saudara-saudaranya Jayakusuma dan Puspadireja dieksekusi pada tanggal 6 Juli 1741. Hanya saudara keempat, Pusparudita yang berhasil lolos.)

Kendal

Ngabehi Awangga 1

Meninggal di Semarang dan digantikan pada tanggal 9 Juli 1740 oleh putra tertuanya:

Ngabehi Awangga 2

Kaliwungu

Rangga (Sur)Adimenggala 1

Menikah dengan saudari tiri Pakubuwana II, Raden Ayu Sukiyah. Bercerai pada bulan Juni 1726. Sukiyah (Aminah) menikah dengan Arya Pringgalaya. Suradimanggala terbunuh dalam pertempuran melawan pemberontak Cina pada Juni 1742. Dia digantikan putranya, Ngabehi Wangsaprana:

Rangga Suradimenggala 2

Demak

Tumenggung Suranata 1

dan Tumenggung Padmanagara 1

Pada bulan Oktober 1729 lima ratus rumah tangga diambil dari Suranata 1 dan diberikan kepada Raden Martadipura 1, putra mantan bupati Demak, Raden Malat.

Raden Martadipura 1

Pada bulan Mei 1730 Suranata 1 meninggal dan digantikan oleh putranya Raden Martajaya dengan gelar:

Tumenggung Suranata 2

Pada bulan Juli 1736 Ngabehi Martadipura diangkat menjadi bupati utama dan diberi wewenang atas tiga ribu rumah tangga dengan gelar:

Tumenggung Suranata 3

Dia juga menikah dengan saudari tiri Sunan, R.A. Umi.

Padmanagara dan Suranata 2 dikurangi wewenangnya menjadi seribu lima ratus rumah tangga. Suranata 2 diberi gelar:

Ngabehi Martadipura 2

Pada tanggal 13 Maret 1737 Suranata 3 meninggal dan digantikan pada bulan Juli oleh Raden Martakusuma mantan bupati Lembahrawa, yang juga menikah dengan janda yang ditinggalkannya. Martakusuma menerima gelar:

Raden Arya Secanapura

Yang dicopot pada bulan Oktober 1738 karena menjadi pengikut Pangeran Arya Purbaya. Posisinya digantikan oleh mantan bupati Lembahrawa dan saudara (ipar?) dari Tumenggung Tirtawiguna yaitu:

Tumenggung Wirasastra

Pada tahun 1739 Padmanagara 1 diturunkan karena usia dan digantikan putranya, Natawijaya, yang menikah dengan seorang putri Pangeran Arya Mataram:

Tumenggung Padmanagara 2

(Martadipura 2 dinikahkan dengan seorang putri Puspanagara dari Batang).

Selama perang, Wirasastra terpaksa lari dan setelah perang usai Kumpeni mempertahankan:

Raden Tumenggung Martanagara

dan Raden Tumenggung Wiranagara

Mereka ini ditunjuk oleh Natakusuma. Wiranagara tampaknya adalah saudara dari bupati ketiga Ngabehi Martadipura 2, yang bergabung dengan pemberontak Cina.

Wiradesa

Tumenggung Puspanagara

Yang merupakan bupati Batang. Setelah kematiannya pada 1736 Wiradesa diberikan kepada:

Raden Arya Suralaya

Bupati Brebes.

Japara

Adipati Citrasoma 1

Kepala tituler dari Pasisir Wetan. Pada bulan Desember 1726, putranya, bupati Blora, Ngabehi Sumawijaya, diangkat untuk membantu ayahnya di Japara. Posisinya di Blora diisi oleh saudaranya Ngabehi Suradigjaya. Saudaranya yang lain lagi menjadi bupati Surabaya, yaitu Ngabehi Secadirana. Pada tanggal 25 Juli 1737 Citrasoma 1 mengajukan pengunduran diri dan digantikan putranya Sumawijaya dengan gelar:

Adipati Citrasoma 2

Menikah dengan putri Natakusuma. Istrinya meninggal di dekat Salatiga dalam perjalanan ke Kartasura untuk menghadiri Mulud tahun 1740.

Kudus

Arya Jayasentika 1

Mneinggal pada bulan Mei 1735 ketika ikut rombongan duta ke Batavia. Digantikan oleh putra tertuanya, Ngabehi Jayawikrama, bupati Juwana, dengan gelar:

Arya Jayasentika 2

Menikah dengan seorang putri Pangeran Arya Mataram. Putranya,  Ngabehi Jayawikrama menjadi bupati Juwana sementara saudaranya, Martapura menjadi bupati Grobogan. Salah seorang saudarinya menikah dengan Ngabehi Suradigjaya dari Blora. Dia terpaksa lari semasa perang dan setelah perang usai Kumpeni mempertahankan:

Raden Ngabehi Candratruna

dan Ngabehi Wiranagara

Pati

Tumenggung Mangunoneng 1

Meninggal pada tahun 1725 dan digantikan putranya pada bulan November 1725:

Tumenggung Mangunoneng 2

dan Ngabehi Suramanggala

dan Ngabehi Prayaita

Ngabehi Suramanggala sebelumnya bergelar Ngabehi Tisnanagara. menikah dengan seorang putri Puspanagara 1 dari Batang.

Mangunoneng 2 dicopot pada bulan Juni 1729 dan bawahannya untuk sementara diserahkan kepada “Orang” Gedhong. Pada bulan Desember 1729, Ngabehi Prayaita dicopot dan digantikan oleh Raden Tohpati, seorang saudara Ratu Amangkurat, dengan gelar:

Raden Arya Megatsari

Yang juga mengambil alih bawahan dari Mangunoneng 2 yang sudah dicopot. Ngabehi Suramanggala meninggal dan pada bulan Juni 1740 digantikan:

Raden Ngabehi Wiratmaja

Mantan bupati Cengkalsewu, sepupu Ratu Amangkurat dan suami dari saudari Pakubuwana II, R.A. Tajem. Setelah Tajem meninggal dia menikahi saudari Sunan lainnya R.A. Sinten.

Setelah perang usai, Raden Arya Megatsari, yang lari pada tahun 1742, diangkat kembali bersama Demang Tirtanata, yang sudah beberapa lama menjadi pejabat patih. Wiratmeja tidak diangkat lagi.

Demang Tirtanata

Cengkalsewu

Ngabehi Kartijaya

Mungkin merupakan alias dari Ngabehi Santayuda. Ke dua nama ini disebut bergantian.

Pada bulan Agustus 1735 Ngabehi Santayuda digantikan oleh Ngabehi Wiramanggala, sepupu atau keponakan dari Patih Natakusuma, yang mendapat gelar:

Ngabehi Mangunrana

Menurut Kumpeni pemberian gelar itu dilakukan untuk menutupi masa lalunya sebab dia dan saudaranya Sumaningrat dari Kamagetan pernah ikut pemberontak semasa Perang Surabaya. Kecurigaan Kumpeni ini berlebihan sebab Mangunrana adalah gelar ayahnya.

Pada tahun 1739 mangunrana dicopot ketika Arya Purbaya jatuh (demikian juga saudaranya Sumaningrat dari Kamagetan). Dia digantikan oleh Raden Raksakusuma, sepupu Ratu Amangkurat, dengan gelar baru:

Raden Ngabehi Wiratmaja

Pada tahun 1740 ia diangkat menjadi bupati kedua Pati. Posisinya diisi Ngabehi Selingsinga, adik dari pejabat kraton Ngabehi Arya Mandura. Menikah dengan putri Demang Ranuita mantan bupati Kediri.

Ngabehi Selingsinga

Pada tahun 1742 semasa perang seseorang bergelar Ngabehi Dipajaya menjadi pejabat bupati dan dia dipertahankan setelah perang usai. (Dipayuda dalam daftar tahun 1743 mungkin sebenarnya adalah Dipajaya.)

Ngabehi Dipajaya

Juwana

Arya Mandalika

Dicopot (pada tahun 1725?) dan digantikan oleh:

Ngabehi Jayawikrama 1

Putra Arya Kudus. Dia mengisi posisi ayahnya di Kudus pada bulan Mei 1735 dan posisinya diJuwana diisi oleh putra tertuanya dengan gelar:

Ngabehi Jayawikrama 2

Menikah dengan putri Patih Natakusuma. Terpaksa lari semasa perang dan setelah perang usai yang menjadi bupati adalah:

Ngabehi Sebajaya

dan Ngabehi Nayamarta

Rembang

Ngabehi Yudasasana

Ngabehi Anggajaya

Mereka ada di bawah wewenang patih. Setelah perang usai Ngabehi Anggajaya menjadi bupati tapi tahun 1745 dia dicurigai bekerjasama dengan musuh dan dicopot. Tampaknya dia diganti oleh putra Adipati Semarang.

Lasem

Adipati Danureja

Raden Adipati Natakusuma

Wilayah ini merupakan wilayah wewenang khusus patih dan patih menunjuk sendiri beberapa pejabat rendahan untuk wilayah ini.

Tuban

Arya Tuban

Saudara tiri Patih Danureja. Pada tahun 1733, setelah Danureja jatuh, dia digantikan:

Tumenggung Suradiningrat

Mantan bupati Lembahrawa, mantan bupati Tegal (Demang Tirtanata), saudara Adipati Jayaningrat 2 dari Pekalongan. Dibunuh orang Madura pada bulan Desember 1741. Setelah perang usai Kumpeni mempertahankan Raden Arya Dipasana, yang beralih dari orang Madura ke pihak Kumpeni tepat pada waktunya.

Raden Arya Dipasana

Sidayu

Tumenggung Tirtawijaya

Keturunan Cina. Sepupu Adipati Jayaningrat 2 dari Pekalongan. Saudara ipar dari Jayajengrana dari Pasuruan. Dicopot pada tanggal 28 April 1738 dan diasingkan ke Ayah (di Banyumas) dan digantikan oleh:

Raden Tumenggung Suradiningrat

Putra tertua Cakraningrat IV dari Madura.

Gresik

Tumenggung Puspanagara 1

Meninggal tanggal 16 Agustus 1729 dan digantikan putranya Jayanagara pada bulan Oktober 1729:

Tumenggung Puspanagara 2

dan Ngabehi Surawikrama

Ngabehi Surawikrama, adiknya, menerima sepertiga dari kabupaten ini.

Pada tanggal 19 Austus 1734 Surawikrama dicopot tapi diangkat kembali pada tanggal 22 Agustus 1735. Setelah perang usai Kumpeni mengangkat kembali keduanya. (Puspanagara juga sering disebut Jayanagara.)

Lamongan

Ngabehi Tohjaya

Menikah dengan putri Arya Tuban. Terbunuh dalam pertempuran melawan orang Madura pada Noevmber 1741. Setelah perang Kumpeni mempertahankan posisi dari bekas pepati Lamongan sebagai bupati (namanya tidak disebutkan).

Surabaya

Ngabehi Suradirana

dan Ngabehi Secadirana

Ngabehi Suradirana adalah saudara ipar Danureja.

Ngabehi Secadirana adalah putra dari Citrasoma 1 dari Japara.

Pada tanggal 9 Novmber 1733 Suradirana dicopot dan digantikan oleh sepupu Patih Natakusuma:

Raden Surengrana

Menikah dengan saudari Natakusuma.

Semasa perang ke dua bupati ini dikejar-kejar oleh pepati mereka masing-masing, Sawunggaling dan Wirasraya, yang diteguhkan posisinya oleh Pakubuwana II selama pelarian ke Panaraga dengan gelar:

Tumenggung Secanagara

dan Tumenggung Sasranagara

Keduanya dipertahankan Kumpeni setelah perang.

Pasuruan

Arya Adikara

Digantikan pada bulan Agustus 1725 (oleh saudara tirinya?):

Ngabehi Jayajengrana

Saudara ipar Tirtawijaya dari Sidayu. Pada tanggal 13 November 1733 dicopot dan digantikan oleh:

Raden Tumenggung Sasrawinata

Sepupu Cakraningrat IV dari Madura. Sebelumnya dia dan saudaranya, Suryawinata menjadi bupati di Madura bersama dengan Cakraningrat III. Mereka dikeluarkan dari Madura oleh Cakraningrat IV dan menjadi bupati Grobogan dan kemudian (1722) menjadi bupati Surabaya. Karena tekanan dari Cakraningrat IV mereka ditarik ke kraton. Suryawinata meninggal di Kartasura pada tanggal 21 Mei 1733. Pengangkatan di Pasuruan ini sudah lama dipertimbangkan sebagai imbangan bagi Cakraningrat. Sasrawinata juga menerima wewenang atas seratus desa yang termasuk dalam Pasuruan, tapi dipegang oleh Probolinggo sejak Perang Surabaya.

Pada bulan Oktober 1735 Sasrawinata dilepaskan dari Pasisir dan diletakkan di bawah kontrol langsung Sunan. Kabupaten-kabupaten di sekitarnya, Bangil dan Probolinggo dijadikan wewenangnya.

Dia diusir dari Pasuruan oleh Mas Brahim semasa perang dan mencoba untuk merebut kembali Pasuruan pada bulan September 1742 dengan bantuan bupati-bupati Surabaya tapi terbunuh dalam pertempuran di Bangil. Setelah perang usai Kumpeni menunjuk:

Ngabehi Wangsanagara

Bangil

Ngabehi Puspadireja

Saudara Puspanagara 2 dari Gresik. Pada bulan Oktober 1735 diletakkan di bawah Pasuruan. Setelah perang ia diangkat lagi oleh Kumpeni.

Probolinggo

Demang Jayalalana

Diletakkan di bawah Pasuruan pada bulan Oktober 1735.

Tengger

Demang Jayuda

Bergabung dengan Mas Brahim.

Ngabehi Sutajaya

Bekas pepati Jayuda. Selama periode ini Tengger berada dalam kontrol para keturunan Surapati. mas Brahim (Raden Arya Wiranagara) meninggal pada bulan September 1742.

Madura

Pangeran Adipati Cakraningrat IV

Menikah dengan satu-satunya saudari kandung Pakubuwana II.

LAMPIRAN III

Daftar Pejabat-Pejabat Utama VOC

Gubernur Jendral

Mattheus de Haan                                                        1725-1729

Diderik Durven                                                             1729-1732

Dirk van Cloon                                                             1732-1735

Abraham Patras                                                            1735-1737

Adriaan Valckenier                                                       1737-1741

Johannes Thedens                                                         1741-1743

Gustaaf Willem Baron van Imhoff                                  1743-1750

Gezaghebber Semarang[1]

Pieter Gijbert Noodt                                                     1725-1726

Willem ter Smitten                                                        1726-1730

Frederik Julius Coyett                                                   1730-1732

Rijkloff Duyvens                                                           1732-1736

Nicolaas Crul                                                               1737-1739

Bartholomeus Visscher                                                 1739-1741

Abraham Roos                                                             1741 (Juli-Oktober)

Nathanael Steinmets                                                     1741-1742

Jan Herman Theling                                                      1742-1744

Sejak Oktober 1741 sampai 1746 Hugo Verijsel memegang komando tertinggi sebagai komisaris khusus.

Komandan benteng Kartasura

Simon Ceesjong (Kapten)                                             1722-1727

Hendrik Coster (Kapten)                                              1727-1731

Hendrik Duirvelt (Kapten)                                            1731-1740

Johannes van Velsen (Kapten)                                      1740-1741

Komandan Pasukan Pengawal Kraton

Hendrik Coster (Letnan)                                               1724-1727

Frederik Smit (Letnan)                                                  1727-1729

Otto Ewald Coolwagen (Letnan)                                   1729-1731

Nicolaas Wiltvang (Letnan)                                           1731-1741

Semarang adalah kantor pusat Kumpeni di Pesisir Timur Laut Jawa dan mengepalai kantor cabang di Tegal, Kuala Demak, Japara, Juwana, Surabaya dan pos militer di Pasuruan.

Residen Tegal

Jacques de Laval (Pedagang Yunior)                             (1725)-1726

Hendrik Gousset (Pedagang Yunior)                             1726-1728

Cornelis ‘t Hooft (Pedagang Yunior)                              1728-1729

Mattheus Jeremias van Loon (Pedagang Yunior)           1729

Jacobus Thierens (Pedagang Yunior)                             1729-1734

Jan Christoffel Loseke (Pedagang Yunior)                     1734-1738

Laurens Grothe (Pedagang Yunior)                               1738-1743

Residen Kuala Demak

Adriaan van Dorssen (Asisten)                                      (1725)-1728

Adriaan van Gils (Asisten)                                             1728 (sementara)

Bartholomeus Visscher (Asisten)                                   1728-1732

Christoffel Frederik Rautenberg (Bendahara)                 1732-1735

Jacob Kuyper (Asisten)                                                1735-1738

Anthony van Langelaar (Bendahara)                              1738-1739

Urbanus Bresijn (Asisten)                                             1739-1741

Residen Japara

Emericus Dallens (Pedagang Yunior)                             (1725)-1732

Bartholomeus Visscher (Pedagang Yunior)                    1732-1735

Cornelis Breekpot (Pedagang Yunior)                           1735-1740

Lambert Lepeltak (Pedagang Yunior)                            1740-1744

Residen Juwana

Boudewin Welgevare (Asisten)                                     (1725)-1732

Jan Melchior Dye (Asisten)                                           1728-1733

Johannes Gerbrands (Asisten)                                       1733-1741

Residen Rembang

Jacques Dallens (Pedagang Yunior)                               (1725)-1728

Servaas Gallé (Pedagang Yunior)                                  1728-1729

Jan Meyn (Pedagang Yunior)                                        1729-1735

Zacharias de Bensin (Pedagang Yunior)                        1735-1741

Residen Surabaya

Johan Sautijn (Pedagang)                                              1725-1728

Rijkloff Duyvens (Pedagang)                                         1728-1732

Jacob Roman (Pedagang)                                             1732-1735

Bartholomeus Visscher (Pedagang)                               1735-1739

Benjamin Blom (Pedagang)                                           1740-1741

Vincent van Wingerden (Pedagang)                               1741-1742

Reinier de Klerk (Pedagang)                                         1742-1743

Komandan Benteng Pasuruan

Jan Minut (Letnan)                                                        (1725)-1727

Dirk Paradijs (Kapten)                                                 1727-1730

Frederik Smit (Kapten)                                                 1730-1733

Jan Minut (Kapten)                                                       1734-1738

Absalon van der Mey (Kapten)                                     1738-1740

Reynicus Siersma (Kapten)                                           1740-1741

Josephus Maximiliaan Constans (Kapten)                      1741-1742

Christiaan Benjamin Rhenert (Kapten)                           1742-

Meskipun beberapa dari pejabat-pejabat yang disebut di atas hanya datang sebentar untuk bertugas di Jawa, banyak dari mereka melewatkan masa hidup mereka di Jawa dan bertugas dalam jabatan-jabatan rendahan sampai akhirnya menjadi kepala (chef de poste). Sebuah contoh yang ekstrim tapi tidak terlalu luar biasa adalah Nicolaas Hartingh. Dia sewaktu masih menjadi seorang pelaut muda diambil dari kapal ‘T Stadhuis van Delft pada bulan Juli 1731, ketika kapal itu berlabuh di Tegal. Pada tahun 1734, dia dikirim ke Kartasura untuk belajar bahasa Jawa dan dia akhirnya menjadi Gubernur Pesisir Utara Jawa dan meninggalkan Jawa pada tahun 1761 untuk menjadi anggota Dewan Hindia di Batavia.

DAFTAR KATA

Catatan: makna yang dicantumkan di sini hanya relevan dengan periode yang dibahas dalam studi ini. Gelar-gelar Jawa disertai indikasi jabatan, seperti misalnya tinggi, rendah aristokrat. Perlu diingat bahwa nama yang ada di belakang gelar adalah bagian dari gelar itu sendiri. Gelar yang tampaknya rendah bisa jadi menunjuk pada jabatan yang sangat tinggi jika digandengkan dengan nama yang kuno dan bergengsi.

andaru. bintang atau bola api yang jatuh dari langit dan membawa pertanda ilahi.

arya. Gelar pejabat tinggi, yang tampaknya seringkali merupakan tanda dari adanya hubungan dengan keluarga raja.

bupati. Gelar pejabat tinggi yang berwewenang atas kegiatan tertentu dalam kraton atau atas wilayah tertentu di luar kraton. Dalam bahasa Belanda istilah ini biasanya diterjemahkan regent atau hoofregent. Lihat juga wedana.

cacah. Unit pengukuran untuk rakyat dan tanah. Biasanya diasumsikan sebagai satu orang petani yang mewakili sebuah rumah tangga yang beranggotakan empat orang beserta tanah yang bisa mereka garap.

commissaris. Gelar pejabat tinggi VOC yang memiliki tugas khusus dan kewenangannya ada di atas pejabat Kumpeni setempat. Dalam buku ini diterjemahkan sebagai “komisaris”.

dagregister. Catatan harian.

demang. Gelar untuk pejabat yang ada di kraton maupun di wilayah. Juga merupakan gelar untuk pejabat lokal yang mewakili pemegang wewenang wilayah khusus yang tinggal di kraton.

dubbele stuiver. Juga disebut dubbeltje. Keping perak senilai dua stuiver.

dubbeltje. Lihat dubbeltje stuiver.

duit. Keping tembaga berukuran kecil yang diedarkan atas perintah tanggal 26 Juni 1724 dan dengan nilai tukar empat duit untuk tiap satu stuiver perak, atau delapan duit sama dengan satu dubbeltje. Duit ditarik dari peredaran atas perintah tanggal 21 Desember 1725. Tapi duit ternyata sangat populer, sehingga diedarkan lagi atas perintah tanggal 18 Oktober 1727 dalam bentuk keping uang yang dicetak khusus untuk VOC. Kandungan tembaganya sama dengan duit Belanda tapi bentuknya sedemikian rupa sehingga mencegah terjadinya impor duit Belanda tanpa ijin. Nilainya ditetapkan sama dengan nilai tukar tahun 1724 tapi dengan syarat bahwa tidak boleh ada orang yang menerima duit dalam nilai lebih dari dua stuiver. Atas perintah tanggal 23 Mei 1735 ditetapkan nilai tukar baru. Dubbele stuiver ditetapkan setara dengan dua setengah stuiver atau sepuluh duit dan stuiver dinaikkan menjadi 5 duit atau 1,25 stuiver.

encik. Sapaan untuk pedagang asing, terutama yang muslim, tapi juga digunakan terhadap pedagang-pedagang Cina yang dianggap telah menjadi muslim. Lihat intje.

fiscaal. Semacam jaksa dalam VOC.

Garebeg Mulud. Festival Jawa-Islam yang merayakan kelahiran Nabi Muhammad. Merupakan peristiwa utama dalam tahun politik Jawa yaitu ketika semua pejabat termasuk para bupati Mancanagara dan Pasisir harus hadir di kraton untuk memberi hormat pada raja.

gezaghebber. Wewenang tertinggi VOC dalam sebuah wilayah tertentu, yang biasanya membawahi sejumlah posisi lain. Wilayah yang lebih penting lagi akan dipimpin oleh seorang gubernur, seperti misalnya Pantai Timur Laut Jawa setelah tanun 1748. Dalam periode yang dibahas dalam buku ini, gezaghebber dari Pantai Timur Laut Jawa berpangkat Pedagang Senior (opperkoopman). Setelah beberapa tahun dia akan diangkat menjadi commandeur. Lihat Lampiran III.

Gowong. Golongan abdi kraton yang katanya berasal dari wilayah Gowong di Bagelen.

Hari Mulud. Lihat Garebeg Mulud.

intje. Lihat encik.

Kalang. Segolongan orang tertentu yang menurut orang Jawa berasal dari luar Jawa. Biasanya menjadi penebang.

kandhuruan. Gelar Jawa kuno.

kliwon. Asisten atau wakil dari seorang pejabat tinggi.

koyan. Unit pengukuran yang biasanya ditetapkan sebesar 32 picul atau 4.000 pon Amsterdam atau 1976,36 kilo. Koyan untuk garam ditetapkan sebesar 30 picul dan beras bervariasi mulai dari 27 picul (Batavia), 28 (Semarang), 30 picul (Surabaya), tergantung pada kelembaban beras.

kraeng. Gelar Bugis.

magang. Pejabat rendahan, asisten.

mancanagara. kabupaten-kabupaten luar. Lihat Lampiran II.

mas. Gelar kebangsawanan.

mbabad. Membabat (hutan).

memorie van overgave. Laporan yang harus dibuat kepala sebuah lembaga VOC untuk mengakrabkan penggantinya dengan situasi.

meneer. Sapaan dalam bahasa Belanda untuk pria.

Mulud. Lihat Garebeg Mulud.

opperhoofd. Gelar untuk kepala dari lembaga penting VOC. Pada periode yang dibahas buku ini, hanya Surabaya yang memiliki opperhoofd.

pangeran. Normalnya adalah gelar untuk orang-orang yang berdarah raja, tapi juga digunakan oleh “Pangeran” Cakraningrat dari Madura yang independen. Pakubuwana II juga memberikannya kepada bupati-bupati lokal Madiun selama pelariannya ke Panaraga.

Paseban. Tempat di depan kraton dimana para pejabat harus berkumpul untuk menerima perintah. Dalam dokumen-dokumen VOC istilah ini seringkali sinonim dengan alun-alun dan kadang dalam bahasa Belanda rusak ejaannya menjadi passeerbaan.

pelem dodol. Makanan dari mangga.

pepati. Lihat kliwon.

peranakan. Istilah Melayu untuk orang Cina kelahiran setempat. Dalam periode yang dibahas ini, istilah ini biasanya mengimplikasikan orang keturunan Cina yang lahir dari ibu Jawa dan telah menjadi muslim.

perdikan desa. Desa yang dibebaskan dari kewajiban untuk menyerahkan pajak dan jasa tertentu dan diberi tanggung jawab khusus, terutama tugas-tugas keagamaan seperti misalnya perawatan makam, tmepat suci dan sekolah keagamaan.

piagem. Surat wewenang.

pice, picis. Keping uang Cina atau yang dibuat lokal (terbuat dari tembaga, timbal dan bahkan besi) yang nilainya rendah.

raden. Gelar aristokrat. Jika ditambahi gelar mas menunjukkan tingkat kebangsawanan yang lebih tinggi.

rangga. Gelar administratif.

regent. Lihat bupati.

sankin-kotai. Tahun dimana seorang penguasa regional di Jepang pada masa Tokugawa wajib tinggal di Edo.

sentana. Keluarga raja.

shahbandar. Kepala pelabuhan.

Sitinggil (Siti Inggil). Panggung dengan balairung di depan kraton dimana raja tampil secara resmi.

stuiver. Keping perak Belanda yang paling kecil. Lihat juga dubbele stuiver dan duit.

urut dalan. Singkatan dari desa urut dalan yaitu desa-desa sepanjang jalan dari Kartasura ke Semarang yang diwajibkan melayani orang-orang yang lewat sepanjang jalan ini.

wedana. Pejabat tinggi administrasi. Gelar ini diberikan kepada pejabat yang tinggal di kraton maupun di luar kraton, sama seperti gelar bupati. Dalam periode yang dibahas istilah bupati tampaknya lebih dikhususkan untuk Mancanagara dan Pasisir. Wedana dibagi menjadi empat wedana lebet (jero) atau “bupati sebelah dalam” dan delapan wedana jawi (jaba) atau “bupati sebelah luar”. Wedana lebet terbagi menjadi dua wedana gedhong atau semacam menteri “urusan pemerintahan” dan “urusan perbendaharaan” dan dua wedana keparak atau semacam menteri “urusan keamanan raja” dan “urusan kehakiman”. Delapan wedana jawi mengurus negari ageng atau inti kerajaan di luar kraton. Para wedana lebet dan wedana jawi dibagi menjadi kiri (kiwa) dan kanan (tengen). Lihat Lampiran II.

DAFTAR PUSTAKA

Sumber-sumber dari Arsip

Algemeen Rijksarchief

Archief van de VOC

Overgekomen Brieven 1725-1746

Batavia’s Inkomend Briefboek:

Java’s Ooskust, november 1724 – december 1745

VOC 2035, 2056, 2080, 2107, 2139, 2169, 2203, 2204, 2257, 2294, 2295, 2324, 2358, 2391, 2418, 2449, 2478, 2512, 2548, 2549, 2585, 2586, 2587, 2588, 2589, 611, 2633, 2634, 2656.

Batavia’s Uitgaand Briefboek

VOC 986 (Instructie Coyett).

Kamer van Zeeland:

VOC 7827                   (Dagregister hofreis Coyett 1733)

VOC 7828                   (Rapport hofreis Coyett 1733)

VOC 7888                   (Secrete missiven Java’s Oostkust,

10-11-1732 – 1-2-1733)

VOC 7889                   (Secrete missiven Java’s Oostkust,

2-7-1738 – 27-12-1738)

VOC 7893                   (Secrete missiven Java’s Oostkust,

20-6-1743 – 12-10-1743)

Hoge Regering Batavia:

HRB 995                     (Dagregister hofreis Verijsel 1743).

Stukken betreffende de Chinezenopstand                      VOC 11226.

Secrete resolutioes betreffende

de Chinezenopstand 20-9-1740 – 18-12-1741

[Inkomend Briefboek dari Batavia berisi laporan-laporan yang berkesinambungan, tapi ada sejumlah laporan penting - terutama laporan-laporan tentang kunjungan Coyett tahun 1733, pengasingan Pangeran Arya Purbaya tahun 1738 dan kunjungan Verijsel tahun 1743 - yang tidak didapati di dalam laporan-laporan ini, yang pada dasarnya adalah arsip dari Kamer van Amsterdam. Untungnya laporan-laporan yang hilang ini dapat dilacak dari laporan-laporan paralel dalam arsip Kamer van Zeeland. Referensi-referensi dalam teks ini, untuk praktisnya, diberi tanggal sesuai dengan tanggal pengarsipannya (biasanya tanggal dari surat pengantar[2] Semarang ke Batavia). Ini lebih cepat daripada membuat referensi berdasarkan nomor halaman, recto, verso, dll. Dan lagi akan timbul kesan akurat yang palsu karena seringkali nomor-nomor halamannya tidak tepat.]

Arsip Nasional Republik Indonesia

Dagregisters Batavia 1730-1745 (Yang hilang: 1733, 1734, 1736, 1744).

Drie stukken betreffende de Chinezenmoord.                Fam C. 150

a. Manifest Valckenier 6 december 1740 (arrestatie Van Imhoff c.s.).

b. Verhaal van het veraad of opstand der Chinesen so binnen als buyten de stadt Batavia.

c. Kort relaas van het gepasseerde in de Chineese revolte in de maand van October Ao. 1740.

Contract 8 november 1733.                                          Solo 52/10

Contract 7 maart 1737.                                                            Solo 53/1

Contract 13 november 1743.                                        Solo 53/7

Contract 18 mei 1746.                                                  Solo 53/8

Acte van Afstand 11 december 1749                            Solo 53/12

[Kontrak-kontrak ini selain berisi teks bahasa Belanda, juga menyertakan terjemahan bahasa Jawanya. Selain memiliki nilai historis, terjemahan ini juga merupakan petunjuk penting tentang kemampuan bahasa Jawa para penterjemah Kumpeni. Karena bahasa Jawanya bergaya formal Kumpeni[3], timbul pertanyaan tentang sejauh mana pihak Jawa memahami kontrak-kontrak ini. Sayangnya kondisi arsip ini kurang baik dan sebagian tidak bisa dibaca. Saya berhasil merekonstruksi hampir 99% dari teks ini tapi tempat yang tersedia tidak memungkinkan saya menyertakannya di sini.]

Serat pemut Pakubuwana II – F.J. Coyett.                                Solo 52/8

Javaans placcaat 9 november 1733.                                          Solo 52/8

[Sebagian besar dari arsip Pantai Timur Jawa sudah tidak ada lagi di Jakarta. Mungkin sudah dimanfaatkan untuk kotak peluru oleh Gubernur Jendral Herman Willem Daendels. Tapi sebagian bisa dipulihkan lewat Bijlagen dari Resoluties. Meskipun arsip ini sebagian besar masih ada di Belanda, ada kekosongan setelah April 1743. Gubernur Jendral yang baru Van Imhoff memutuskan untuk melakukan penghematan dalam penyalinan semua jenis materi (Door alle de prullen word men byna gedegouteerd van het essentiele. De Jonge 1862-1909, IX:428), sehingga yang disalin untuk Belanda hanyalah laporan-laporan utama dari Semarang ke Batavia, sementara surat-surat dari kantor-kantor cabang seperti Kartasura, Tegal, Surabaya tidak disertakan. Dalam beberapa kasus ini merupakan kehilangan yang sangat besar.]

Sumber-sumber Jawa

Babad Tanah Jawi, Jilid XXI-XXXI. Bale Pustaka. Batavia. 1740-41

Babad Pecina, Van Dorp, Semarang, 1874.

Babad Kartasura, Museum Nasional, MS. KBG 71.

Babad Pacina, Museum Nasional, MS. KBG 100.

Babad Pacina, Sonobudoyo, MS. A.2.

Sumber-sumber lain yang dikutip

Anderson, B.R.O’G.

1972. ‘The idea of power in Javanese culture’, in: Claire Holt (ed.), Culture and politics in Indonesia, hal. 1-69. Ithaca: Cornell University Press.

Blussé, L.

1981. ‘Batavia, 1619-1740;The rise and fall of a Chinese colonial town’, Journal of Southeast Asian Studies 12:159-78.

1985. ‘Justus Schouten en de Japanse gijzeling’, in: Nederlandse Historische Bronen 5:69-109. Hilversum: Verloren.

1989. Tribuut aan China; Vier eeuwen Nederlands-Chinese betrekkingen. Amsterdam: Otto Cramwinckel.

Brakel,L.F.

1980. ‘Dichtung und Wahrheit; Some notes on the development of the study of Indonesian historiography’, Archipel 20:35-44.

Brandes, J. (ed.).

1900. ‘Serat Pustaka Raja Puwara’; Appendix II to: J. Brandes, ‘Register op de proza-omzetting van de Babad Tanah Jawi (uitgave van 1874)’, Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap 51-4:140-85.

Breman, J.

1978. Het Javaanse dorp en de vroeg-koloniale staat. Rotterdam: Erasmus Universiteit, Comparative Asian Studies Programme. (Mimeographed).

1980. The village on Java and the early-colonial state. Rotterdam:Erasmus Universiteit. [Casp Publications.]

Burger, D.H.

1975. Sociologisch-economische geschiedenis van Indonesia I. Indonesia voor de 20e eeuw. Amsterdam: Koninklijk Instituut voor de Tropen.

Carey, P.

1984. ‘Changing Javanese perceptions of the Chinese communities in Central Java, 1755-1825′, Indonesia 37:1-47.

Darusuprapto (ed.)

1983. Serat Wulang Reh. Yogyakarta: n.n [Mimeographed.]

Day, A.

1978. ‘Babad Kandha, Babad Kraton and variation in modern Javanese literature’, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 134:433-50.

Djajaningrat, H.

1913. Cristische beschouwing van de Sadjarah Banten: Bijdrage ter kenschetsing vande Javaansche geschiedschrijving. Haarlem: Enschedé. [Ph.D. thesis, Rijksuniversiteit Leiden.]

Drewes, G.W.J.

1939. ‘Over werkelijke en vermeende geschiedschrijving in de nieuwjavaanse literatuur’, Djawa 19:244-57.

Elias, N.

1977. Die höfische Gesellschaft. Darmstadt: Luchterhand.

Gaastra, F. S.

1982. Die geschiedenis van de VOC. Haarlem: Fibula-Van Dishoeck.

Geertz, C.

1980. Negara; The theatre state in nineteenth-century Bali. Princeton: Princeton University Press.

Gijsberti Hodenpijl, A.K.A.

1917. ‘Het ontslag en opontbod van den Gouverneur-Generaal Mr. Diderik Durven op 9 Oktober 1731′, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 74:562-614.

Graaf, H.J. de.

1935. De moord op Kapitein François Tack, 8 Febr. 1686. Amsterdam: Paris. [Ph.D. thesis, Rijksuniversiteit Leiden.]

1978. ‘De regenten van Semarang ten tijde van de V.O.C., 1682-1809′, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 134:296-309.

Graaf, H.J. de and Th.G.Th. Pigeaud.

1977. ‘Kadiri en het geslacht Katawengan van 1500 tot 1700′, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 133:420-37.

Haan, F. de.

1984. Uit de nadagen van de ‘Loffelijke Compagnie’. Een keuze uit de geschriften samengesteld door Rob Nieuwenhuys. Amsterdam: Querido.

Heuken, A.

1982. Historical sites of Jakarta. Jakarta: Cipta Loka Caraka.

Hoetink, B.

1918. ‘Ni Hoekong, Kapitein der Chineezen te Batavia in 1740′, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 74:447-518.

Hoëvell, W.R. van.

1840. ‘Batavia in 1740′, Tijdschrift voor Nederlandsch Indië 3-1:447-557.

Holtzappel, C.J.G.

1986. Het verband tussen desa en rijksorganisatie in prekoloniaal Java; Een ontwikkelingssociologische studie in historisch perspectief. [Ph.D. thesis, Rijksuniversiteit Leiden.]

Jonge, J. K. J. de et al. (eds.)

1862-1909. De opkomst van het Nederlandsche gezag in Oost-Indië. ‘s-Gravenhage: Nijhoff. 13 vols.

Kats, J.

1984. De Wajang Poerwa; Een vorm van Javaans toneel. Second edition. Dordrecht: Foris. [KITLV, Indonesische Herdrukken; First edition 1923.]

Krabbe.

1846. ‘Overzigt der crimineele procedures voor de Raad van Justitie te Batavia, gevoerd tegen den gewezen Gouverneur Generaal A. Valckenier, cum suis’, Tijdschrift voor Nederlandsch Indië 8-4:1-31.

Kumar, A.

1980. ‘Javanese court society and politics in the late eighteenth century; The record of a lady soldier’, Indonesia 29:1-46, 30:67-111.

Kumar, A.

1984. ‘On variation in Babads’, Bijdragen tot de Taal- , Land- en Volkenkunde 140:223-47.

LaCapra, D.

1985. History and criticism. Ithaca: Cornell University Press.

Lequin, F.

1982. Het personeel van de Vereenigde Oost-indische Compagnie in Azië in de achttiende eeuw, meer in het bijzonder in de vestiging Bengalen. 2 vols. [Ph.D. thesis, Rijksuniversiteit Leiden.]

Leupe, P.A.

1864. ‘Verhaal van het gepasseerde te Kartasura vóór en onder de belegering, item na het demolieren der vesting, door den opper-chirurgijn Aarnout Gerritz, 1742′, Bijdragen tot de Taal-, Land- end Volkenkunde 11:102-41.

Mak Lau Fong.

1981. The sociology of secret societies; A study of Chinese secret societies in Singapore and peninsular Malaysia. Kuala Lumpur: Oxford University Press.

Nagtegaal, L.W.

1988. Rijden op een Hollandse tijger; De noordkust van Java en de V.O.C. 1680-1743. [Ph.D. thesis, Rijksuniversiteit Utrecht.]

Newbold, T.J.

1839. Political and statistical account of British settlements in the Straits of Malacca. London: John Murray. 2 vols.

Onghokham.

1975. The residency of Madiun; Priyayi and peasant in the nineteenth century. [Ph.D. Thesis, Yale University]

Palmier, L.H.

1960. Social status and power in Java. London: The Athlone Press.

Perron, E. du.

1939. De muze van Jan Companjie. Bandoeng: Nix.

Pigeaud, Th.G.Th.

1967. Literature of Java; Catalogue raisonné of Javanese manuscripts in the library of the University of Leiden and other public collections in the Netherlands. The Hague: Nijhoff. 3 vols.

Ras, J.J.

1982. Lecture Javanologi Yogyakarta, December 1982.

1985. Het ontstaan van de Babad Tanah Jawi; Herkomst en functie van de Javaanse rijkskroniek. [Inaugural Lecture, Rijksuniversiteit Leiden, Leiden.]

1987. (ed.). Babad Tanah Djawi, Javaanse rijkskroniek; W. L. Olthof’s vertaling van de prozaversie van J. J. Meinsma lopende tot het jaar 1721. Second revised edition by J.J. Ras. Dordrecht: Foris. [KITLV, Indonesische Herdrukken.]

Reid, A.

1988. Southeast Asia in the age of commerce 1450-1680; The lands below the winds. New Haven: Yale University Press.

Remmelink, W.G.J.

1983. Babak pertama pemerintahan Pakubuwana II 1725-1733; Menurut sumber Babad dan sumber VOC. Yogyakarta. [Seri Penerbitan Proyek Javanologi No. 14.]

1984. ‘Raja dan algojonya; Faktor kemampuan pribadi raja dalam sistem kekuasaan Jawa’, Kompas, 12, 13 Juni:iv.

1988. ‘Expansion without design; The snare of Javanese politics’, Itinerario 12:111-28.

Ricklefs, M.C.

1974. Yogyakarta under Sultan Mangkubumi 1742-1792. London: Oxford University Press.

1978. Modern Javanese historical tradition; A study of an original Kartasura chronicle and related materials. London: School of Oriental and African Studies.

1979. ‘The evolution of Babad Tanah Jawi texts; In response to Day’, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 135:443-54.

1981. A history of modern Indonesia. London: Macmillan.

1983. ‘The crisis of 1740-1 in Java; The Javanese, Chinese, Madurese and Dutch, and the fall of the court of Kartasura’, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 139:268-90.

1985. ‘The missing Pusakas of Kartasura, 1705-37′, in: Sulastin Sutrisno et al. (eds.), Bahasa, sastra, budaya; Ratna munikam untaian persembahan kepada Prof. Dr. P. J. Zoetmulder, page 601-30. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Rinkes, D.A.

1911. ‘De heiligen van Java IV: Ki Pandan arang te Tembajat’, Tijdschrift voor Indische Taat-, Land- en Volkenkunde (TBG) 53:435-581.

Rouffaer, G.P.

1905. ‘Vorstenlandern’, in: Adatrechtbundels 34; Java en Madura, page 233-378.;s-Gravenhage: Nijhoff. [First published 1905.]

Sartono Kartodirdjo.

1973. Protest movements in rural Java; A study of agrarian unrest in the nineteenth and early twentieth centuries. Kuala Lumpur: Oxford University Press.

Schlegel, G.

1866. Thian Ti Hwui; The Hung League or Heaven-Earth-League; A secret society with the Chinese in China and India. Batavia: Lange.

Schrieke, B.J.O.

1957. Indonesian sociological studies; Selected writings II. The Hague: Van Hoeve.

Schulte Nordholt, H.G.C.

1988. Een Balische dynastie; Hiërarchie en conflict in de Negara Mengwi 1700-1940. [Ph.D. thesis, Vrije Universiteit, Amsterdam.]

Soemarsaid Moertono.

1968. State and statecraft in Old Java; A study of the Later Mataram period 16th to 19th century. Ithaca: Cornell Modern Indonesia Project.

Suporno Suryohudojo.

1980. ‘Rebellion in the kraton world as seen by the Pujangga’, in: J.J. Fox et al. (eds.), Indonesia: Australian Perspectives, page 563-75, Canberra: Australian National University.

Teeuw, A.

1976. ‘Some remarks on the study of so-called historical texts in Indonesian languages’, in: Sartono Kartodirdjo (ed.), Profiles of Malay culture, historiography, religion and politics, page 3-26. Yogyakarta: Ministry of Education and Culture, Directorate General of Culture.

Vermeulen, J.Th.

1938. De Chineezen te Batavia en de troebelen van 1740. Leiden: IJdo.[Ph.D. thesis, Rijksuniversiteit Leiden.]

Vsekhvyatsky, S.K.

n.d. Physical characteristics of comets. [Unpublished NASA translation from the Russian.]

Weber, M.

1978. Economic and society; An outline of interpretive sociology. Edited by G. Roth and C. Wittich. Berkeley: University of California Press. 2 vols.

Worsley, P.J.

1972. Babad Buleleng. The Hague: Nijhoff.[KITLV, Bibliotheca Indonesica 8.]


[1] “constable”

[2] “covering letter”

[3] “curious Company chancery Javanese”

Komentar ditutup.