“BACAAN LIAR”: BUDAYA DAN POLITIK PADA ZAMAN PERGERAKAN

“BACAAN LIAR”: BUDAYA DAN POLITIK PADA ZAMAN PERGERAKAN

oleh Razif

“Bacaan Liar” vis a vis Balai Poestaka

Bacaan yang diproduk oleh pemimpin pergerakan, pada awalnya tidak ditujukan untuk melakukan counter-hegemony terhadap produk-produk Balai Poestaka. Produksi bacaan lebih ditujukan kepada para pembaca kaum kromo untuk berbicara tentang banyak hal dengan kata-kata “sihir” seperti kapitalisme, beweging, vergadering, imperialisme, staking dan Internasionalisme. Istilah-istilah seperti ini sering diperkenalkan melalui rapat-rapat umum dan lingkaran pembahasan (prapat) untuk memecahkan persoalan di kalangan buruh dan petani.92) Contohnya, dalam Hikajat Kadiroen, ketika tokoh Tjitro yang digambarkan oleh Semaoen sebagai propagandis PKI bertutur:

…Orang-orang yang bermodal mempoenjai fabriek-fabriek, kapal dan spoor, toko-toko dan sebagainya, orang-orang itoe doeloenja satoe sama lain reboetan ke-oentoengan sehingga sering sama tidak dapat oentoeng, oempamanja begini; “mereka sama bersaingan berdjoealan moerah-moerahan asal sadja barangnja lekas habis dan lakoe, djadi meskipoen oentoeng sedikit tetapi bisa seringkali, achirnja oentoengnja banjak djoega. Selamanya golongan soedagar diatas itoe berhaloean bersaingan begitoe, tentoelah rajat atau pendoedoek masih enak, sebab bisa beli berbeli barang-barang dengan harga moerah, sedang jang beroesaha tambah roegi.” Tetapi kaoem soedagar besar-besar tambah lama tambah pinter djoega, achirnja mereka laloe B e r k o e m p o e l – R o e k o e n dengan golongannja masing-masing, sehingga mereka laloe Rokoen Menaikkan Bersama-sama semoea harganja barang-barang keperloeannja manoesia, oempama sadja sekarang semoea fabriek goela di Hindia berkoempoel dalam “Java-Suiker-Syndikaat”, dan itoe perkoempoelan soedagar jang besar tentoe laloe bisa Roekoen Menaikkan Harganja Goela Bersama-sama atau menoeroenkan kalau ada perloenja. Begitoelah adanja dengan semoea hal, sehingga rajat bertambah lama bertambah soesah hidoepnja, karena semoea barang-barang keperloeannja menaik-naik sadja keperloeannja, sedang hatsilnja rajat itoe tidak bisa menaik jang bersepadan karena mereka reboetan pekerdjaan sebagai tadi soedah saja terangkan.

Pemaparan dari seorang propagandis rupanya tidak sekedar memperkenalkan istilah, tetapi juga membahas pengertian dari kapitalisme. Yang menarik dari pemaparan Semaoen, bahwa ia membentuk semacam “common sense” baru untuk menentang “common sense” yang lama. Dengan menunjuk Java Suiker-Syndikaat, ia membuka mata para pembacanya bahwa yang menyebabkan kemiskinan adalah pabrik gula. Dengan demikian “common sense” yang baru lebih menyatukan dan mengkoherenkan konsepsi dunia yang baru. Dalam konteks Hikajat Kadiroen, Semaoen berpikir bagaimana “common sense” yang baru dapat membentuk aksi politik yang kolektif, dan untuk itu harus dibangun “common sense” yang baru, mengikis “common sense” yang lama, warisan masalalu yang diawetkan oleh negara kolonial melalui bacaan-bacaan. Tentang ini dikatakannya “kaoem kapital sekarang menerbitkan matjam-matjam boekoe jang tidak terhingga banjaknja. Itoe semoea maksoednja tidak lain jaitoe oentoek menjesatkan dan membingoengkan kaoem boeroeh, soepaja ia tidak bisa melawan keras-kerasan sebagaimana mestinja.”93)

Di sini Semaoen tidak secara langsung menuding Balai Poestaka sebagai lembaga aparatus negara kolonial. Rata-rata pelajar sekolah di Hindia Belanda membaca terbitan Balai Poestaka dan harus diingat bahwa Balai Poestaka sebagai benteng dari Politik Etis dan lebih jauh kekuasaan kolonial, langsung berhubungan dengan kepentingan modal. Dengan kata lain melalui produksi bacaan Balai Poestaka–penerbit kolonial yang menikmati berbagai fasilitas terbaik untuk operasinya–tidak dapat disangsikan lagi sangat berperan untuk menjamin stabilitas kedudukan kaum modal di Hindia.

Tetapi sebagaimana dikatakan sebelumnya, pada awalnya “bacaan liar” yang dicetak dan diterbitkan oleh Komisi Batjaan Hoofdbestuur PKI belum ditujukan untuk melawan dominasi Balai Poestaka, namun untuk melakukan pendidikan bagi kaoem kromo. Hal ini bukan berarti PKI mengabaikan produk-produk bacaan Balai Poestaka yang sangat berhubungan dengan semangat Politik Etis, Dunia pergerakan semakin ramai karena banyak orang-orang pergerakan yang bekerja dalam kerangka Politik Etis, misalnya Abdoel Moeis selagi masih aktif di CSI, karya-karyanya diterbitkan dan dicetak oleh Balai Poestaka. Begitu pula Hadji Agoes Salim yang terus menerus menerbitkan bacaan melalui Balai Poestaka, dan disadari maupun tidak karya-karya mereka telah turut menunjang dominasi kolonial terhadap kesadaran kaoem kromo. Semangat Politik Etis harus tetap dijaga oleh negara kolonial dengan slogan “justice and equality” untuk seluruh rakyat Hindia dan BP sebagai benteng kolonial yang memproduksi bacaan dengan gencar mengedarkannya. Baru di akhir tahun 1921 diadakan kongres PKI dan Bergsma menyatakan “kita memerloekan literatuur-literatuur socialisme oentoek keperloean pergerakan kaoem kromo”.94)

Semaoen, pada bulan Oktober 1921, di depan Presidium Komintern sehubungan dengan kesulitan yang dihadapi kaum pergerakan di Hindia merumuskan hambatan-hambatannya:

In the labor movement, as in the political and cooperative spheres, we encounter enourmous difficulty due to the fact that 95% of the population of the Netherlands Indies is illiterate; and, we might add, the majority of the members of our movement are also illeterate. Aside from this, it is generally characteristic for Asia, in contrast to Europe, that the movement there has more emotion than real organization–that is to say more spirit than substance. Thanks to this quality our organizations often appears  very stable  and  the strong on the outside, in spite of  is  undoubtedly still immature.95)

Referensi Semaoen dalam merumuskan hambatan-hambatan pergerakan di Hindia, selain didapat selama perjalannya ke Rusia, juga didapat dari pengalaman pemogokan-pemogokan buruh pada tahun 1919-20. Periode pemogokan seringkali membicarakan peningkatan upah atau “perjuangan ekonomi” dan didukung oleh kekuasaan kolonial di Hindia Belanda. Bahaya tersembunyi dari “perjuangan ekonomi” semata adalah merusak moral dan politik kelas buruh dan akan menyeret mereka ke dalam politik burjuis. Namun Semaoen maupun para pemimpin pergerakan dari Partai Komunis Indonesia menyadari bahwa kelas buruh di Hindia Belanda sangat beragam, beragam dalam pengertian belum mencapai tingkat class for itself: buruh yang menyadari posisinya sebagai kelas dan memiliki organisasi politik yang otonom. Sebaliknya kelas buruh di Hindia saat itu masih pada tingkat class in itself (kelas ekonomi yang semata-mata ditentukan oleh proses produksi). Maka untuk meningkatkan kesadaran kelas buruh dan penduduk bumiputra lainnya yang tertindas untuk mencapai tingkat class for itself, seksi propaganda dan agitasi PKI sudah waktunya membentuk Komisi Bacaan untuk Rakyat Bumiputera. Sebagaimana ditegaskan oleh Semaoen sendiri, “kaoem tertindas disini haroeslah membatja boekoe-boekoenja sendiri jang ditoelis oleh orang dari klasnja sendiri. Begitoelah klas yang tertindas di sini nanti djadi insjaf betoel akan nasibnja”.96)

Penegasan Semaoen hampir senada dengan harapan Soekindar, salah seorang redaktur Sinar Hindia yang menegaskan bahwa pada zaman bergerak sekarang ini diperlukan literatur sosialisme untuk kaoem kromo, “Kita bergerak, tidak sadja sebab kita merasai tindasan dan kesoekaran, tetapi pertama-tama sebab kita soedah sadar akan mengetahoei keadaban doenia.” Lebih lanjut ia menegaskan “bahwa tindesan jang timboelkan oleh stelsel doenia sekarang ini, ialah kapitalisch,” dan “moelai timboelnja djaman kapitalisme, maka peratoeran pergaoelan hidoep itoe soedahlah membawa tindesan dan kesoekaran, tetapi pengetahoean wetenschap itoe beloem dipoenjai oleh kaoem kromo.” Tulisan Soekindar ini telah mendorong Hoofbestuur PKI menerbitkan literatur-literatur bagi kaoem kromo guna memahami pergaulan hidup kapitalisme:

Memang wetenschap itoe ada begitoe lebar, kadang-kadang ia ada melampaui landjoetnja daripada boekti-boekti jang ada pada alam. Dari itoe perloe sekalilah oentoek menerangi perkataan-perkataan jang soelit itoe dengan katjamata wetenchap. Begitoe, djoega pergerakan kita haroeslah djangan melalaikan ilmoenja.

Soedah ada 9 tahoen lamanja pergerakan kaoem kromo di Hindia sini dapat dibangoenkan. Maka hingga sekarang tenaganja pergerakan itoe soedahlah terhitoeng lebih landjoet, kalau dibandingkan dengan pergerakan ra’jat di Eropa jang soedah berpoeloeh tahoenan oesianja. Tetapi di Hindia sini jang masih di ketjiwakan, ialah masih amat koerang sekali adanja socialistische litteratuur (kitab-kitab socialisme), jang sesoenggoehnja bergoena sekali bagi pergerakan kita. Pada hemat kami, maka wetenschapplijke liiteratuur itoe adalah kami oempamakan sebagai hati dan otak pergerakan. Maka tiada dengan itoe, soesahlah dapatnja tersebar ilmoe pergerakan kedalam hati Ra’jat. Dan Djikalau kejakinan Ra’jat beloem tebal, maka pergerakan beloem bisa tebal, maka pergerakan beloem bisa koeat betoel, karena segala kata Ra’jat masih bisa bergojang haloeannja.

Kepada saudara kawan bergerak, kami berseroe, soekalah kiranja bekerdja sekeras-kerasnja oentoek menjalin kitab-kitab socialisme dalam bahasa Melajoe atau membikin origineel sendiri. Teroetama poela kami berseroe pada hoofdbestuur P.K.I. soekalah mengoempoelkan adanja kitab-kitab dalam bahasa Belanda jang soedah ada dan soepaja mengichtiarkan dapatnja kitab-kitab dalam bahasa Melajoe atau bikinan origineel.

Sekarang ini sebagian besar, Ra’jat masih penoeh dengan geest kapitalisme, karena ia itoelah jang sekarang mempoenjai wetenschap baroe ini, kita bisa menanam dalam geest Ra’jat, nistjajalah doenia baroe akan lekas lahir.97)

Tetapi tulisan ini belum mendapat sambutan dari kalangan pergerakan, tidak lain akibat semangat Politik Etis yang masih tetap masih bertahan.

Berangkat dari sini, maka pada kongres PKI bulan Desember 1921 diputuskan untuk memperbanyak “literatuur socialistisch”. Tetapi bacaaan ini pun masih belum diarahkan untuk menentang produk bacaan BP. Mereka masih sekadar mengharapkan melalui bacaan ini dapat dijelaskan kepada kaoem kromo kontradiksi yang aneh: bertambahnya kekayaan bagi satu golongan juga berarti bertambahnya kemelaratan bagi golongan lain. Dari sini juga dipikirkan bahwa bacaan tersebut dapat membangkitkan massa untuk aksi politik atas ketidak-samarata-an. Pekerjaan komisi dengan begitu terus-menerus mengadakan pendidikan teori, tidak saja kepada anggota sendiri, tetapi juga massa di luar partai.

Bacaan sosialisme yang pertamakali terbit adalah Hikajat Kadiroen yang mulanya dijadikan fouilleton di Sinar Hindia tahun 1920, yang kemudian dicetak menjadi buku pada tahun 1921 dengan harga jual f.0,25 kemudian disusul oleh Tan Malaka, Parlemen atau Soviet yang terbit pada tahun yang sama dan dijual dengan harga yang sama pula. Komisi bacaan dari partai ini berhubungan erat dengan sekolah SI Semarang yang didirikan oleh Tan Malaka dan “literatuur socialisme”-nya seperti Parlement atau Soviet yang menjadi bacaan wajib sekolah SI Semarang.98)

Derasnya produksi “literatuur socialisme” mengungkapkan realitas masyarakat kolonial yang jelas meresahkan kekuasaan kolonial Belanda. Dr. D.A. Rinkes, direktur pertama Balai Pustaka dengan watak kolonialnya dalam peringatan Wilhemina 25 tahun di atas Tahta (1923) mengemukakan:

Hasil pengadjaran itu boleh djuga mendatangkan bahaja, kalau orang jang telah tahu membatja itu mendapat kitab-kitab batjaan jang berbahaja dari saudagar kitab jang kurang sutji hatinja dan dari orang-orang jang bermaksud hendak mengatjau. Oleh sebab itu bersama-sama dengan pengajaran itu maka haruslah diadakan kitab-kitab batjaan jang memenuhi kegemaran orang kepada pembatja dan mamadjukan pengetahuannja, seboleh-bolehnja menurut tertib dunia sekarang. Dalam usaha itu perlu didjauhkan segala jang dapat merusakkan kekuasaan pemerintah dan ketentraman negeri.99)

Penegasan Rinkes ini menjadi policy dasar dari Balai Pustaka dalam menerbitkan buku-buku bacaan, yang perlu dikemukakan agar dapat menilai secara tepat buku-buku terbitan Balai Pustaka dan lebih jauh mempertanyakan sampai mana terbitan-terbitan ini merupakan karya suatu zaman. Dengan garis kebijakan dari suatu pemerintahan jajahan seperti itu, amat sukar mengharapkan produk-produk bacaan yang menjadi juru bicara zaman, dan masyarakatnya menghadapi dua kepentingan yang saling bertentangan: negara jajahan yang ingin mempertahankan kekuasaannya dan pergerakan yang ingin membebaskan rakyat.

Adapun garis kebijakan BP yang ditegaskan oleh Rinkes ini pada satu pihak ditujukan untuk membendung bacaan-bacaan politik produk para pemimpin pergerakan seperti Semaoen dengan Hikajat Kadiroen-nya yang pertamakali terbit di Sinar Hindia tahun 1920, dan diterbitkan kembali menjadi buku kecil oleh Drukkerij VSTP tahun 1921, atau Soemantri dengan Rasa Mardika yang terbit tahun 1924,100) Matahariah yang ditulis Marco tahun 1918 atau Apakah Maoenja Kaoem Kommunist? yang dikarang oleh Axan Zain dan diterbitkan oleh Kommissi Batjaan Hoofdbestuur PKI pada tahun 1925.

Buku ini adalah saduran dari buku Manifesto Komunis dan beberapa kali pernah dimuat di suratkabar Proletar pada tahun 1924. Dunia “bacaan liar” tidak dimonopoli oleh Partai Komunis Indonesia. Bacaan seperti itu juga diproduksi oleh Soerjopronoto dan Hadji Fachroedin yang menggunakan percetakan PFB (setelah pecah dengan Sosrokardono, kedua orang itu mengambil alih percetakan tersebut).101)

Ketika Rinkes menyatakan “harus dijauhkan bacaan yang dapat merusakkan kekuasaan pemerintah dan ketentraman negeri,” berarti perlu “diperkencang” dan diperluas bacaan-bacaan yang diproduksi oleh Balai Poestaka. Untuk itu pemerintah kolonial melalui Balai Poestaka menerbitkan majalah-majalah seperti Sri Poestaka (1918) dan Pandji Poestaka (1923). Terbitan yang pertama memberikan penyuluhan kepada para tani untuk bercocok tanam yang baik, sedangkan yang kedua adalah laporan kejadian sehari-hari baik di dalam maupun luar negeri. Pemberitaan luar negeri yang dianggap akan menganggu ketentraman negeri tidak disiarkan, seperti gejolak perubahan di Tiongkok ataupun di Russia. Balai Poestaka di akhir 1910-an dan awal 1920-an semakin gencar memproduksi bahan-bahan bacaan untuk konsumsi kaum bumiputera. Pada tahun 1918 terbit Tjerita Si Djamin dan Si Djohan yang disadur oleh Merari Siregar dari Jan Smees karangan J. van Maurik. Dua tahun kemudian terbit roman dalam bahasa Indonesia yang pertama diterbitkan Balai Poestaka, karangan Merari Siregar juga, yang berjudul Azab dan Sengsara Seorang Anak Gadis (1920). Menyusul dua tahun kemudian terbit roman Marah Rusli yang berjudul Siti Nurbaja (1922), yang disusul Muda Teruna karangan Moehammd Kasim.

Dominasi Balai Poestaka yang ditentang oleh kalangan pergerakan sangat erat hubungannya dengan usaha-usaha PKI untuk memberikan kalangan pergerakan sebuah sense disiplin proletariat. Pimpinan partai selama tahun l923-24, penuh semangat terus mengkampanyekan perbaikan ideologi dan tingkat organisasi pada cabang PKI dan SR. Selain itu, secara gencar diselenggarkan kursus-kursus teori Marxis, seperti yang dijalankan di sekolah-sekolah SI yang mengubah namanya dengan Sekolah Ra’jat pada bulan April 1924,102) serta kursus-kursus buta huruf untuk orang dewasa. Rekaman-rekaman tentang program Komunis dan prinsip-prinsip bahan bacaan yang diterbitkan, termasuk penterjemahan pertama Manifesto Komunis ke dalam bahasa Melayu telah menambah sirkulasi terbitan-terbitan berkala yang disponsori PKI.103) Pusat propaganda revolusioner didirikan di Semarang yang diketuai oleh Soebakat (Axan Zain). Bacaan-bacaan yang diproduksi dijual untuk mencari dana dan sekaligus sebagai propaganda partai. Penyebaran biasanya melalui sekolah-sekolah.104) Keputusan tentang pentingnya bacaan politik kembali ditegaskan pada kongres PKI 1924 yang merasakan kurangnya jumlah jurnal dan bahan bacaan.

Kebutuhan bagi kedisiplinan adalah tema yang dibicarakan pada konvensi PKI 7 Oktober 1924. “Kongres ini tidak seperti kongres sebelumnya, dengan titik perhatian pada membangkitkan massa dan kemenangan hati mereka, yang akan memperoleh kekuatan-kekuatan revolusioner menjadi sebuah organisasi yang diatur oleh disiplin yang ketat,” dan kekuatan revolusioner hanya dapat dibentuk dengan penyediaan literatuur partai. Lebih lanjut kongres memutuskan bahwa “zaman agitasi adalah zaman membuat suara satu hati dengan rapat umum dan surat kabar, yang akan mendatangkan bentuk sebuah organisasi yang kuat.”105) Yang terpenting dari kongres ini adalah dibentuknya Kommisi Batjaan Hoofdbestuur PKI106)

Tema-tema bacaan yang diterbitkan Komisi Bacaan berkisar pada kedisiplinan, internasionalisme dan Proletarianisme. Darsono dalam kongres tersebut menegaskan: “Partai tanpa disiplin, bagaikan tembok tanpa semen, mesin tanpa baut.”

Tentangan yang hebat terhadap dominasi produk bacaan BP dilancarkan oleh Moeso pada tahun 1925 dalam surat kabar Api yang menyatakan:

Volksalmanak-volksalmanak dan almanak-almanak tani itoe soedah tentoe memoeat hal-hal wetenschappenlijk, jang kelihatannja tidak bersangkoetan dengan politiek. Tetapi orang jang mengerti sedikit tentang politiek mengerti djoega, bahwa boekoe-boekoe dan almanak-almanak itoe nomer satoe dibikin tidak memboeat mendidik Ra’jat, tetapi boeat menjesatkan pikiran Ra’jat. Systematisch, dengan tjara jang haloes sekali boeah-boeah pikiran pihak sana dimasoekkan dalam kepala Ra’jat.

Sekarang kewadjiban sekalian saudara jaitoe melawan pengaroeh Balai Poestaka.

Sekarang kita haroes menerbitkan boekoe jang perloe, dan boekoe-boekoe tjerita sendiri, soepaja Ra’jat tidak terlepas dari pergerakan kita.

Karena itoe Ra’jat haroes tidak menoeroet nasehat-nasehat jang ,,baik” dalam boekoe-boekoe dari volkslectuur itoe, karena ,,baik” disitoe boekan baik boeat klas jang miskin.107)

Serangan Moeso ini mencerminkan garis politik kaum pergerakan yang secara frontal menentang Balai Poestaka sebagai institusi kolonial yang hendak menghambat pergerakan melalui produk-produk bacaannya. Produk-produk bacaan Balai Poestaka mengemukakan konsepsi Politik Etis tentang negara jajahan, memupuk ambtenaar- dan pegawai-isme. Lembaga ini menjual produk bacaannya dengan harga murah, agar para buruh dan tani juga dapat mengkonsumsinya dan dengan begitu tentu jangkauannya jadi lebih luas pula. Pernyataan Moeso di atas adalah satu langkah membangun common sense yang baru melalui “literatuur sosialistisch”. Para pemimpin pergerakan menyadari bahwa produk-produk Balai Poestaka yang didukung oleh kaum kapital dan negara dapat merusak, membingungkan dan menyesatkan kaum buruh serta tani yang menjadi pendukung atau aktivis pergerakan. Sebagaimana ditegaskan Moeso sekali lagi mengenai karya-karya Balai Poestaka:

Dengan boekoe-boekoenja, soerat-soerat kabarnja, goeroe-goeroenja dan lain-lainnja orang jang pandai dan terbajar, kaoem kapital bisa menanam pikiran dalam kepala kaoem boeroeh, bahwa kekoeasa’an kaoem kapital itoe soedah seperti disahkan dari langit dan tidak boleh diroebah lagi.

Begitoelah Ra’jat tertindas djadi diam, ia tidak bisa berboeat apa-apa jang keras, karena pikirannja di’ikat oleh boeah-boeah pikiran dan nasehat-nasehat jang diadakan dari pihak sana itoe.

Apabila kaoem tertindas hendak bertanding dengan mengharap kemenangan, haroeslah ia melepaskan pikirannja dan pengaroeh pihak sana. Ra’jat jang bertanding mereboet kemerdeka’annja sendiri, haroes mempoenjai pikrannja sendiri tentang baik dan djelek. Tidak seharoesnja ia memakai nasehat-nasehat jang diberikan dari pihak sana.108)

Moeso mendapat pengetahuannya dari Revolusi Rusia Oktober 1917, di mana bacaan politik untuk kelas buruh mempunyai peranan penting dalam revolusi itu. Penegasan Moeso di atas bukan hanya serangan terhadap BP, tapi juga timbul dari rasa khawatir karena semakin dalamnya perpecahan di kalangan pergerakan sendiri, di mana Agoes Salim cs dan Politik Ekonomi Bond (PEB) terus-menerus memborbardir pergerakan buruh yang radikal di bawah pimpinan Semaoen dan kawan-kawan.

Semaoen, pada tahun l920 menulis sebuah karangan yang khusus ditujukan untuk pergerakan buruh, dengan judul Penoentoen Kaoem Boeroeh, yang diterbitkan dan dicetak oleh Drukkerij VSTP. Kelihatan dari judulnya bahwa buku ini gunanya untuk memandu kaum buruh mendirikan organisasi dan mengurus soal-soal keuangannya sendiri. Atau seperti diungkapkan Semaoen sendiri bahwa buku ini, “teroetama boeat propaganda, dan boeat kaoem boeroeh jang beloem poenja koempoelan vakbond atau jang vakbondnja beloem teratoer beres, maka boekoe ini akan mendatengken faedahnja kalau dipikir dan dioesahakan betoel oleh kaoem boeroeh.”109)

Penyebarannya hampir pasti untuk kalangan buruh, karena dijual dengan harga yang sangat rendah agar dapat dijangkau kaum buruh, yaitu f.0,15 dan dapat dibeli di toko-toko buku VSTP.110)

Penoentoen Kaoem Boeroeh memberikan penjelasan kepada kaum buruh di Hindia tentang beberapa sumber kemiskinan yang mereka hadapi. Pertama, dengan ditemukannya mesin uap, kapal api, persenjataan yang lebih maju bangsa Eropa dapat lebih mudah mencapai dan menguasai negeri-negeri terbelakang termasuk Hindia Belanda. Dengan kekuatan tenaga produksi negeri kapitalis Eropa dapat membangun spoor (kereta api) dan tram (trem). Spoor dan tram telah membuka lebar-lebar negeri Hindia Belanda bagi perdagangan dan penanaman modal negeri kapitalis maju, seperti Inggris, Amerika dan lainnya. Dengan kekuatan tenaga produksinya kaum kapitalis Eropa dapat menyelenggarakan pertukaran yang tidak seimbang dengan barang-barang yang dihasilkan oleh bangsa Hindia. Kedua, dengan kekuatan tenaga produksinya negeri kapitalis maju dapat mendesak mundur industri-industri tradisional yang telah berlangsung lama di Hindia, seperti batik dan kerajinan-kerajinan tangan lainnya. Akibat kemunduran dari produk-produk industri tradisional ini, maka para produsennya kehilangan pekerjaannya . Sementara itu negeri-negeri kapitalis maju dengan tenaga produksinya dapat membuka berbagai onderneming besar, seperti gula, teh, kopi, tembakau, karet dan sebagainya, sedangkan para produsen industri tradisional yang kehilangan pekerjaannya dipaksa untuk bekerja di onderneming-onderneming tersebut sebagai buruh-upahan. Berarti, secara sistematis berlangsung proses pemiskinan rakyat bumiputera, sekaligus mendesak seluruh hubungan kerja yang merdeka yang telah diupayakan oleh penduduk bumiputra sendiri.

Semaoen, seorang pelopor pemimpin pergerakan buruh di Hindia dengan pengetahuannya menyadari bahwa inilah yang menyebabkan kaum buruh di Hindia hidup sengsara. Dan untuk mengatasi itu mereka harus mendirikan perkumpulan yang kuat, seperti dikatakannya:

“Djadi njatalah, bahwa kemadjoean dan kerameian di Hindia pada djaman sekarang ini mendesak antjoer kemerdikaan pentjarian pengidoepan jang koeno, sahingga kesabaran, ketentreman, kesenengan dan ajemnja nenek mojang kita sama toeroet terdesek mati djoega, dan pendoedoek Boemipoetera sekarang laloe riboet hari berhari dalem kahidoepan soekar serba soesah.”111)

Penoentoen kaoem Boeroeh dicetak dan diedarkan sebanyak 3.000 eksemplar dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh para pembacanya. Ide penerbitan buku ini sangat dipengaruhi oleh keberhasilan revolusi sosialis di Russia. Di samping itu Semaoen juga mendapat tambahan literatur dari Belanda, yang banyak mengkritik pola gerakan buruh yang mengandalkan spontanitas dan reformis seperti “Troelstra Revolution” di Nederland. Dalam gerakan itu pihak buruh konservatif di Nederland berusaha mencegah pengaruh gagasan revolusioner dari pergerakan buruh di Rusia yang telah diramalkan akan juga menyusup ke Hindia.112)

Sebagai “literatuur socialistisch,” Penoentoen Kaoem Boeroeh disajikan dengan bahasa yang mudah dimengerti serta dengan mengajukan persoalan yang dihadapi kaum buruh sehari-hari. Dengan begitu kaum buruh dan penduduk bumiputera yang tertindas dapat berpikir tentang dan memahami problem-problemnya dengan bahasa yang sudah biasa mereka gunakan, yaitu Melayu Rendah. Bacaan ini juga ditujukan untuk mengikis karakteristik budaya bangsa-bangsa Asia pada umumnya, yang lebih mengandalkan semangat emosional ketimbang organisasi yang nyata dan pengetahuan untuk melakukan perubahan.

Perkembangan organisasi kaum buruh di Hindia Belanda berjalan sejajar dengan kebangkitan kebangsaan. Kebangunan kebangsaan ini menjelma dalam organisasi, partai politik atau serikat-serikat buruh. Gerakan ini jelas menghadapi musuh yang sama: partai politik menghadapi pemerintah kolonial dan serikat buruh menghadapi kapitalisme, yang disokong pemerintah kolonial. Sebagaimana ditegaskan Boedisoetjiro: “serikat-serikat buruh sejak awalnya, bukan saja bergerak di lapangan sosial-ekonomi, tetapi turut berkecimpung digelanggang politik”.113)

Sementara itu ahli ekonomi Belanda Colijn, yang menjabat sebagai Menteri Keuangan serta juga wakil dari sebuah perusahaan minyak, mengambil keputusan tentang tunjangan kemahalan bagi kaum buruh. Kebijaksanaan ini dimaksudkan untuk mengejar “pertumbuhan ekonomi” yang memungkinkan orang mempengaruhi unsur ongkos produksi melalui negara dan pasar, sehingga mempengaruhi perkembangan kegiatan perdagangan, sementara negara kolonial mendapat keuntungan melalui hak memungut pajak terhadap proses tersebut. Akan tetapi, “sebetoelnja tjara ini hanja memoengkinkan orang oentoek mengetahoei hoeboengan-hoeboengan pasar antara peroesaha’an dan tjabang-tjabangnja. Tjara itoe tidak menoendjoekkan wet-wet dan pertentangan-pertentangan dalam produksi kapitalistisch.”114)

Dari keterangan di atas dapat dilihat bagaimana beragamnya tema dan persoalan yang dibicarakan dalam “literatuur socialistisch”. “Peluru-peluru” dilancarkan ke segala arah yang dianggap penting, dan kadang pilihannya sangat bergantung pada kondisi politik yang spesifik. Bagi para pengarang dan penulis proses ini bukan hanya melatih dan mengasah pikiran mereka tentang keadaan di Hindia, tapi secara nyata memaksa mereka mengatur strategi penulisan dan penerbitan, singkatnya mengelola sebuah organisasi besar yang terdiri atas ribuan pembacanya.

Hubungan antara pembaca dan pengarang dalam lingkup “literatuur socialistisch” bukan sekadar hubungan antara penerima dan pemberi pesan. Dalam konteks sosial politik yang panjang lebar dijelaskan di atas, hubungan mereka menjadi lebih erat dan terorganisir. Hal ini dapat dibuktikan misalnya dari berita pemogokan atau catatan pengadilan terhadap Sneevliet yang terus digunakan sebagai panduan orang-orang pergerakan. Berita pemogokan bagaimanapun menciptakan satu pengetahuan bagi rakyat Hindia bahwa sesuatu sedang terjadi di tanah Hindia, di mana buruh memegang peranan. Berita pemogokan tentu tidak langsung harus menyulut buruh-buruh lain untuk ikut mogok, tapi paling tidak terus menginformasikan orang lain, terutama buruh lainnya bahwa zaman terus bergejolak dan dengan begitu memungkinkan mereka berpikir tentang orang lain yang memiliki dan hidup dalam persoalan yang sama.115)

Balai Poestaka sebagai benteng kolonial menyebut “literatuur socialisme” sebagai “bacaan liar”. Untuk membendung pengaruh “literatuur sosialistisch”, maka diproduksi berbagai bacaan. Untuk keperluan itu, Balai Poestaka, yang awalnya adalah Komisi Bacaan Rakyat, pada tahun 1921 mengembangkan sayapnya dan makin kokoh karena memiliki percetakan sendiri. Sejak tahun 1923 Balai Poestaka menerbitkan majalah Pandji Pustaka yang terbit tiap minggu. Majalah ini berisi berita-berita penerangan dari pihak pemerintah kolonial dan memuat cerita-cerita pendek. Cerita-cerita pendek itu kebanyakan reproduksi dari sastra lisan tradisional yang sudah dikenal sejak lama sebagai cerita pelipur lara. Sifatnya adalah hiburan semata dan dapat dikategorikan sebagai bacaan di waktu senggang. Meskipun bacaan-bacaan politik yang dihasilkan oleh para pemimpin pergerakan seperti Hikajat Kadiroen atau Rasa Mardika juga dimaksudkan untuk menghibur para pembacanya, tetapi posisinya sangat berbeda. Penghibur yang pertama adalah untuk melupakan derita dan lari ke alam khayal semata-mata, sedangkan fungsi menghibur yang kedua adalah untuk mengajak berfikir dan serta memberi pengetahuan kepada para pembacanya tentang kontradiksi-kontradiksi kolonial kepada para pembacanya.116)

Cerita-cerita pendek Pandji Pustaka ini mengambil bahan dari kehidupan sehari-hari yang disajikan secara ringan dan sambil lalu. Ceritanya sering dihubungkan dengan peristiwa-peristiwa atau perayaan-perayaan yang berulang setiap tahun, seperti Hari Lebaran dan Tahun Baru. Sumber inspirasinya umumnya didapat dari tokoh-tokoh cerita rakyat lama seperti si Kabajan, si Lembai Malang, Djaka Dolok dll. Lelucon-lelucon dalam kehidupan sehari-hari yang disebabkan oleh salah paham, perbedaan bahasa, salah dengar dan anekdot banyak dijadikan tema-tema cerita. Pandji Poestaka pada tahun 1923 dicetak sebanyak 1.500 eksemplar dan dijual dengan harga yang sangat murah f.0,20. Pada tahun yang sama Balai Poestaka mulai menerbitkan majalah Kadjawen dan Parahiangan yang pada penerbitan pertamanya dicetak dengan tiras yang sama seperti Pandji Poestaka. Kadjawen yang terbit dalam bahasa Jawa dan Belanda (bilingual) selalu menonjolkan nasionalisme Jawa yang mengagung-agungkan zaman keemasan sejarah Jawa pada masa kerajaan Majapahit. Di samping itu Balai Posetaka juga mencetak dan menyebarkan naskah-naskah terjemahan cerita rakyat seperti Hikajat Sri Rama yang dikarang oleh W. G. Shellabear. Kebanyakan cerita rakyat ini diterjemahkan ke berbagai bahasa daerah. Sejak tahun 1920 Balai Poestaka menerbitkan dan menyebarkan karangan-karangan yang ditulis oleh orang bumiputera sendiri, seperti Abdoel Moeis, Merari Siregar dan Nur Sutan Iskandar yang pada tahun 1919 bekerja pada redaksi Melayu, dan kemudian menjadi anggota redaksi selanjutnya menjadi kepala redaksi BP. Untuk penerbitan buku, Balai Poestaka menaikkan anggarannya sejak tahun 1921 sebanyak 10%, sedangkan anggaran pendapatannya terus menurun.117)

Dari produk-produk BP nampak jelas eksploitasi yang dilakukan oleh kekuasaan kolonial tidak ditunjukkan apalagi ditonjolkan. Yang lebih dominan justru sikap menyerah terhadap nasib dan mengikuti aturan. Dalam banyak novel ditunjukkan bagaimana “kebaikan” mengalahkan “kejahatan”. Pihak yang “baik” diwakili oleh tokoh kolonial atau pro-kolonial. Wataknya memang digambarkan baik, sabar, bijaksana dan sebaiknya (tentu dalam ukuran dunia kolonial), sedangkan lawannya seperti Datuk Meringgih dalam Sitti Noerbaja digambarkan sebagai tokoh yang luar biasa jahat. Dengan gambaran ini posisi Datuk Meringgih sebagai orang yang menentang pajak dan kekuasaan kolonial secara terbuka pupus.

Untuk mengawasi perkembangan pers orang-orang pergerakan, BP mengikuti mendokumentasi tulisan jurnalis-jurnalis bumiputra dan berita-berita. Usaha ini dimulai pada tahun 1918, dan menjelang tahun l925 ada sekitar 200 terbitan yang didokumentasikan. Bahan-bahan yang dikumpulkan ini kemudian terbit dengan judul Inlandsche Pers Overichten.

Dalam penulisan sejarah maupun kritik sastra Indonesia ada beragam pandangan tentang dunia bacaan di Hindia. Profesor Teeuw yang mempertahankan sangat tekun mengikuti perkembangan sastra Indonesia, mengatakan bahwa sastra di Hindia Belanda dimulai oleh Balai Poestaka, dan tanpa ragu-ragu ia tegaskan bahwa “literatuur socialisme”–terutama yang ditunjuk adalah Hikajat Kadiroen–“….ditinjau dari kesusastraan semata-mata buku itu amat lemah.” Lebih jauh ia mengemukakan pendapatnya tentang Hikajat Kadiroen:

…memandang dibeberapa tempat buku itu semata-mata merupakan risalah komunis, dibagian lain lagi merupakan semacam laporan. Perkembangan peristiwanya kadang-kadang amat mustahil, dan watak-wataknya jika tidak hitam seluruhnya maka putihlah seluruhnya. Nmaun demikian buku ini merupakan sebuah dokumentasi yang menarik, yang memperlihatkan propaganda PKI di Indonesia pada zaman permulaan itu, dan bahasa pembujuk rayu yang digunakannya untuk mencoba meyakinkan pemerintah dan rakyat bahwa komunisme sama sekali tidak bersifat revolusioner.118)

Ia juga mengecam bahasa yang digunakan oleh “literatuur socialisme” adalah bahasa pra-Balai Poestaka, yang amat kacau ejaan serta tatabahasanya dan penuh dengan bahasa percakapan sehari-hari, bahasa Melayu Pasar, bahasa Jawa dan bahasa Belanda. Di sini jelas Teeuw samasekali mengabaikan konteks pergerakan, dan bahkan dengan gampang ia berusaha mereduksi kontradiksi-kontradiksi masyarakat kolonial yang diungkapkan dalam “literatuur socialism”. Dalam zaman bergerak setiap orang bebas berdebat tentang tata-kuasa kolonial, sebagaimana ditegaskan oleh Semaoen: “Goepermen Belanda datang di Hindia moelai mengatoer negeri Hindia bersama-sama dengan pembesar-pembesar boemipoetera (prijaji) jang ada pada itoe waktoe, dan sifatnya peperintahan di Hindia laloe beroebah-oebah.” Selain itu A. Teeuw tidak mengerti bagaimana bahasa Melayu Pasar dijadikan bahasa untuk meyampaikan kontradiksi-kontradiksi kolonial. Dengan bahasa Melayu Pasar gagasan socialisme dapat diterima dengan mudah. Dengan demikian posisi A. Teeuw bisa digambarkan dengan frasa berikut: The belief in art for art’s sake arises wherever the artist is out of harmony with his social environment. Disadari atau tidak ia mempertahankan pemikiran reaksioner dari Rinkes tentang “literatuur socialisme” yang melihat rakyat bumiputra “…harus dijauhkan dari segala yang dapat merusak kekuasaan pemerintah dan ketentraman negeri”, di mana “literatuur socialistisch” termasuk di dalamnya.

Yang menjadi pertanyaan selanjutnya kenadap dan bagaimana anggaran Balai Poestaka yang terus ditingkatkan pada tahun 1921, pendapatannya terus merosot hingga pendudukan Jepang tahun l941. Hal ini diakibatkan karena adanya kecenderungan dari para petugas Balai Poestaka untuk memupuk para ambtenaar negara kolonial dengan memberikan harga cicilan produk-produk bacaannya. Pada pihak lain BP gagal menembus areal “audience” para pendukung bacaan politik pergerakan, karena Balai Poestaka menjual produknya dengan harga yang lebih mahal ketimbang produk “literatuur socialisme.”

Bila dilihat dari angka-angka, produksi bacaan Balai Poestaka pada tahun 1923 saja mencapai dua ribu judul lebih. Jumlah ini memang mendukung usaha BP membendung gagasan-gagasan progresif dalam “bacaan liar”. Namun sejak lahir Balai Poestaka tidak mempunyai hubungan yang nyata dengan para pembacanya–tidak ada ikatan politik antara pembaca dan pengarangnya. Berbeda halnya dengan penulis dan penerbit pergerakan yang jelas membentuk ikatan melalui organisasi formal. BP sendiri tidak pernah secara terbuka menyatakan diri sebagai corong pemerintah dan kepentingan kolonial, sehingga tidak membuka kesempatan bagi pembacanya untuk membentuk satu ikatan sebagai “pembaca terbitan BP”. Jika kita lihat motto-motto yang terpampang di halaman depan suratkabar pergerakan maka perbedaannya jelas. BP bisa dibilang tidak punya pembaca yang well-organized, dan hanya terbatas sebagai langganan yang tidak “terjamin” aspirasi politiknya. Produk Balai Poestaka tidak dapat disejajarkan dengan produk bacaan politik, sebab struktur produksi, konsumsi, distribusi dan konsumsi berbeda dengan bacaan pergerakan yang lebih dekat dengan kehidupan para pembacanya.119)

Sejak dimulainya pergerakan pada awal abad ini kalangan pergerakan telah menghasilkan puluhan suratkabar dan bacaan, yang tidak dapat dipisahkan dari pembentukan perkumpulan atau partai politik yang disuarakannya, seperti SI Semarang yang memiliki Sinar Hindia, SI Surabaya dengan Oetoesan Hindia, IJB dan Doenia Bergerak, Insulinde dan Medan Muslimin, IP dan De Exprees, NIP-SH dengan Persatoean Hindia, dan PKI dengan Njala.120)

Cara Balai Poestaka mendistribusikan produknya di samping penjualan, juga melalui Taman Poestaka. Sejak tahun 1912 telah ada 170 Taman Poestaka dan tahun 1916 telah mencapai 700.121)

Namun produknya tidak bersambut dengan para pembacanya. Banyak produk yang saat beredar mengalami kemacetan, karena gagasan dan bentuk yang dilontarkan telah usang, seperti kawin paksa, kisah-kisah babad yang direproduksi serta cerita-cerita yang tidak mencerminkan pada kenyataan. Sulit bagi terbitan BP yang “halus dan lembut”–karena senantiasa disensor dan dipaksa bersuara dalam bahasa Melayu Tinggi yang terbatas–untuk bersuara di tengah dunia pergerakan yang “keras dan garang”.

Paul Tickell menegaskan bahwa BP dapat menguasai barang bacaan untuk rakyat pribumi. Saya pikir penegasan ini mesti diragukan, karena ternyata sirkulasi produk Balai Poestaka dan hubungan dengan para pembacanya, macet. Kemacetan ini makin jelas ketika negara kolonial dipaksa untuk menghancurkan institusi-institusi yang memproduksi bacaan-bacaan politik setelah tahun 1926-1927.

Produksi “Bacaan Liar”

Sekembalinya dari perjalanan ke Rusia, Semaoen menyatakan bahwa partai sekarang telah memiliki beberapa buku dan masih memerlukan beberapa bacaan politik yang pokok-pokok untuk memperkuat perjuangan. Tentang itu ia menulis:

Lectures, in the sense of regular series or courses, are still extremly limited: they often come down to short report. We also still possess very few books and libraries. The NIP (National Indies Party) owns a better library, and publishes books written by leaders of that party. A significant number of books have also been published by the PKI: Among the are Het Process Sneevliet (in Dutch), authored by Sneevliet and Baars, published in 500 copies; Indie Weerbaar, in Indonesian, by Semaun, 3,000 copies; Soviet dan Parlemen [sic: Parlemen atau Sovjet?], by Tan Malaka, 1,000 copies. In addition, we have a number of books by well-know European Communist and Socialist writers– Marx, Engels, Lenin, Trotsky, Gorter, Roland Holst, Radek, Kautsky and many others. Books in Dutch are extremely important for our party. We by no means have a complete library, but what we do own is studied extremely carefully, both by the leaders and the rank and file of the membership, as well as by members of the SI.

However, something that is very important and which we do not have enough of is Communist books that are well translated into the Indonesian language. At Present we are busy working on this problem.122)

Sebenarnya pendukung “literatuur socialistisch” terdiri dua “strata” yakni, anggota atau kader partai yang jumlahnya ribuan orang dan simpatisan yang mendukung pergerakan, yang tergabung dalam berbagai organisasi serikat buruh dan lainnya. Jumlah anggotanya mencapai puluhan ribu orang.123)

Sarana pendukung yang amat vital dalam produksi bacaan adalah percetakan. Percetakan yang sangat membantu dan berperan dalam mencetak buku dan bahan-bahan “literatuur socialistisch” adalah Drukkerij VSTP Semarang, yang mencetak terbitan-terbitan Kommissi Batjaan Hoofdbestuur PKI. Sementara percetakan swasta yang juga turut membantu adalah Van Dorp, yang juga berlokasi di Semarang. Anggota partai dan para simpatisan mendapat potongan ketika membeli buku. Sebagaimana dapat dibaca dalam advertensi Si Tetap pada tanggal 30 September 1925:

Kaoem Boeroeh mesti tahoe!

Soedah dikeloearkan boekoe

P A D O M A N

Partai Kommunist Indonesia

Dalam mana ada diterangkan tentang

azas-azas Communisme dengan maksoed-maksoednja sampai djelas hingga begitoe bisa boeat mempeladjari; theorie jang tinggih-tinggih.

Harga oentoek oemoem f. 0,30

Harga oentoek anggota dan simpatisan f.0,25.

Setelah terjadi pemogokan besar-besaran di percetakan Van Dorp pada akhir tahun 1920 yang melibatkan kurang lebih 3000 buruh percetakannya, percetakan Van Dorp tidak lagi mau mencetak buku-buku untuk kepentingan pergerakan. Pemogokan buruh percetakan Van Dorp kemudian diikuti dengan pemogokan di percetakan Marsman & Co yang mencetak koran De Locomotief. Pemogokan ini terjadi karena semakin mahalnya biaya hidup akibat kebijaksanaan Colijn yang mengharuskan upah buruh ditekan serendah mungkin. Akibat dari pemogokan ini juga cukup merugikan peredaran “literatuur socialisme”, dengan disitanya buku-buku dan ditutupnya toko-toko yang menjual bacaan tersebut.124)

Marco menurunkan daftar dan jumlah bukunya yang diberslag pada tahun 1920:

I. Sair rempah-rempah 180 dan 218= 398 St.
II. Mata Gelap 40
III. Sairnja Sentot 45
IV. Student Hidjo 120
V. Doenia Bergerak (Ini boekoe pada tanggal 18-3-20 dikembalikan pada saja. Marco) 120
VI. Regent Bergerak 246
VII. Maanblad Soero-Tamtomo 476
Totaal 1445125)

Dalam persoalan ini Marco berhadapan dengan hukum kekuasaan kolonial Hindia Belanda: yakni, Art. 113 dan 115, yang menyatakan bahwa orang yang menunjukkan dan memberitahukan selebaran-selebaran, tulisan-tulisan yang menghasut, gambar-gambar yang mengganggu keselamatan kekuasaan kolonial harus ditindak.

Setelah percetakan Van Dorp tidak mau lagi mencetak bacaan politik kaum pergerakan, maka pencetakannya dialihkan kepada Drukkerij VSTP yang kemudian menjadi percetakan buku-buku dan bacaan-bacaan yang dikeluarkan oleh Kommissi Batjaan Hoofdbestuur PKI.”

Setelah terjadinya pemogokan besar-besaran buruh VSTP, di mana para pemimpinnya yang juga aktif dalam penyebaran “bacaan liar” ditangkap dan dibuang, maka untuk penyebaran buku-buku dan bacaan-bacaan politik perannya diambil alih oleh dua pemuka penting, yakni S. Goenawan anggota PKI di Bandung dan Mas Marco Kartodikromo pemimpin Sarekat Rakjat di Solo. Peranan S. Goenawan dalam penyebaran “bacaan liar” dapat dibaca dalam adtevensi Si Tetap, 30 September 1925:

Satoe Roepiah Sadja

Lekas toean kirim wang f. 1,- (satoe roepiah),

nanti toean-toean akan mendapat 5 roepa boekoe

1. Boekoe: Regent nekat

2. ,, : Semaoen

3. ,, : Manoesia mesti Berani

4. ,, : Sair Kerontjong Merah

5. ,, : Saja dengen Setan

Itoe Semoea soedah dihitoeng ongkost kirim

Lekas pesan adres:

S. Goenawan

Bandoeng.

Peranan S. Goenawan dalam memproduksi “bacaan liar” sangatlah penting menjelang pemberontakan. C.W. Watson menegaskan bahwa S. Goenawan adalah orang partai yang menulis buku Semaoen Pengadjar Pergerakan Ra’jat, yang sangat berpengaruh di kalangan pergerakan. Sementara itu beberapa karangannya yang lain seperti Manoesia Mesti Berani mencerminkan situasi yang dihadapi kaum pergerakan menjelang pemberontakan 1926-27.

Orang yang juga sangat berperan dalam menyebarkan buku-buku dan bacaan politik adalah Marco Kartodikromo, pemimpin senior pergerakan yang paling produktif menulis dan menyebarkan bacaan politik. Perannya dalam penyebaran buku-buku dan bacaan politik pada masa menjelang pemberontakan dapat dibaca pada advertensi Mawa, 3 Juli 1925:

Djoeal Boekoe-Boekoe

Bahasa Melajoe aksara Latin:

Manifest Kommunist f.0,65

Kommunisme I (Apakah maoenja kaoem kommunist?) f.0,30

Kommunisme II (P.K.I. dan kaoem boeroeh) f.0,35

Rasa Mardika (Hikajat Soedjanmo) f.0,95

De strijd Tusschen Twee Krachten f.0,40

Pemogokan Besar di Shanghai f.0,30

Kehilangan ketjintaan Kita (Rosa luzemburg dan Karl Liebnecht) f.0,30

Student Hidjo f.1,60

Sjair Internationale f.0,15

Dapet diperoleh di Boekhandel & Bibliothiek

“Mardika” Lawean Solo

Pesanlah kepada:

Marco

Solo

Hampir semua nama buku yang disebutkan di atas diterbitkan oleh Kommisi Batjaan Dari Hoofdbestuur PKI dan dicetak oleh Drukkerij VSTP serta dijual oleh toko-toko buku yang dikendalikan oleh serikat buruh atau partai. Kalau dibandingkan dengan harga penjualan produk-produk bacaan BP maka harga “bacaan liar” untuk zamannya cukup murah, rata-rata di atas f.0,30,- dan bahkan untuk Sjair Internationale yang diterjemahkan oleh Soeardi Soerjaningrat tahun 1921 menjadi Darah Ra’jat, dijual dengan harga f. 0,15. Jelas harga yang murah merupakan kesengajaan dari para penulis dan penerbit buku-buku “bacaan liar” agar bisa bersaing dengan penerbit Balai Poestaka. Dalam hal distribusi bacaan, pesan-pesan penerbit “bacaan liar” lebih dapat diterima oleh para pembaca. Penyebaran bacaan, biasanya beriringan dengan rapat-rapat umum. Misalnya saja Sjair Internasionale dinyanyikan pada rapat-rapat umum, sebagaimana ditegaskan Marco dalam Rasa Merdika “berbareng dengen keloeranja orang-orang itoe maka terdengerlah soeara dalem vergadering itoe lagoe-lagoe socialisme dinjanjikan orang, jang maksoednja membangoenkan hati persaudaraan bersama.” Syair ini juga didengungkan pada saat pemogokan besar di Solo pada tahun 1923, di mana massa Sarekat Islam menyanyikan Sjair Internasionale.126)

Cara yang menarik bisa dilihat pada penerbitan buku Manifest Komunis yang disadur dan disampaikan sesuai dengan tingkat pemahaman pembaca pribumi oleh Axan Zain. Buku itu dibagi menjadi dua jilid. Bagian pertama berjudul Apakah Maoenja Kaoem Kommunist?. Tujuannya seperti dijelaskan oleh Axan Zain: “Dalem boekoe jang tipis ini maoe diterangken dengen pendek dan djelas apa maoenja kaoem kommunist dan perkoempoelannja, jaitoe Partai Kommunist Indonesia, atau dengen pendek P.K.I.” Bagian keduanya berjudul PKI dan Kaoem Boeroeh. Dalam buku ini Axan Zain menegaskan siapa yang dimaksud kaum buruh:

Siapakah jang bekerdja di paberik-paberik dan membikin barang-barang jang matjem-matjem itoe? Jang bekerdja di sitoe jaitoe golongan manoesia lain. Golongan manoesia ini kita namaken kaoem boeroeh atau dinamaken djoega kaoem proletar. Djoega di Indonesia banjak orang Proletar, jaitoe orang orang jang bekerdja di paberik-paberik goela, paberik-paberik kopi, teh, kina, karet, jang bekerdja di bingkil-bingkil, pelaboeahan, spoor, train, jang bekerdja di roemah-roemah pertjetakan dan lain-lainnja.127)

Manifest Komunis sendiri pertama kali diperkenalkan oleh Semaoen dalam Persdelict Semaoen tahun 1919, ketika ia menyatakan “…bapaknja socialisme KARL MARX dalam boekoenja “Het Communistisch Manifest” dimana dalam permoelaannja ia bilang: Hikajatnja satoe satoenja pri pengidoepan bersama sama jalah hikajatnja perlawanan dradjat atau ‘klas’.” Ia juga menekankan dalam pembelaannya bahwa buku ini telah dibaca dan diakui oleh beberapa kalangan: “Pengatahoeannja toean KARL MARX ada tjoekoep, krana diakoei kabenarannja oleh Dokter2, Ingeneur2, Mesteer2, Professor2 di Europa sebagi oepama sadja Meester Mendels dinegri Belanda, dll”.128)

Dengan demikian dapat dilihat bahwa penyaduran Manifest Kommunis merupakan pem-populer-an gagasan bahwa perubahan pergaulan hidup tidak akan statis seperti sekarang, pergaulan hidup akan terus berubah-ubah. Dengan kata lain bacaan tersebut merupakan pesan propaganda bagi bumiputra untuk memahami seluk-beluk perjalanan modal yang mengeksploitasi rakyat bumiputra dan sekaligus sebagai bacaan untuk mengajar rakyat jajahan, dan juga tentang cara berorganisasi untuk menuju pembebasan diri dari kapitalisme.

Selanjutnya penyebaran gagasan dalam buku Manifest Komunist diperluas oleh Hadji Misbach dalam menjelaskan kapitalisme, proletarianisasi, dan perubahan kapitalisme ke dalam perang imprealisme. Tulisan ini banyak dipengaruhi oleh Hikajat Kadiroen-nya Semaoen.129)

Misbach menjelaskan proletarianisasi di Hindia Belanda sebagai akibat perkembangan modal-modal besar Eropa. Ia mengutip Manifest Komunis:

Waktoe toewan Karl Marz [sic!] memegang pimpinan Jaurnalis beliau memperhatikan betoel-betoel akan nasibnja ra’jat, beliau ketarik sekali pada adanja soeal-soeal tentang Economie dan doedoeknja kaoem miskin; dari itoe toewan Karl Marx dapat tahoe dengan terang pokok atau soember2 jang menimboelkan kekaloetan doenia. Sebab atau soember kepaloetan itoe sebagai berikoet.

1e. Doenia kemiskinan di sebabkan adanja Kapitalisme. Kapitalisme jalah ilmoe mentjahari kahoentoengan bersama hanja mendjadi hak miliknja (kepoenjaanja) sedikit orang.

Kamiskinan sebab adanja isapan dan tindasan jang kaloear dari kapitalisme. Manoesia jang miskin mendjadi roesak badannja, dan moedah di hinggapi roepa-roepa penjakit jang toemboeh roepa-roepa jang toemboeh dari badannja….

2e. Manoesia dalam zaman kapitalisme mendjadi roesak moralnja (Boedinja) atau Humaniteitsgevoei (kemanoesiaannja) walaupoen mereka mendapat pengadjaran jang tinggi. Sebab keroesaannja moedah sekali mereka di permain-mainkan olih kapitalisme kepada mereka, mereka lantas merasa wadjib mendjalaninja maskipoen perentah itoe membikin hina dan tjelaka kepada dirinja. Boekti jang terang di Europa berlioenan manoesia djiwanja melajang sebab diboeat permainan olih kapitalisme, di boeat korban memoeliakan dan menjokong kedjahatannja kapitalisme jang senantiasa Concirentie goena meloeaskan kemoerkaan jang tida berbatas itoe, kemoerkaan mana mereka mereboet Ekonomi dan beberapa Indoestri {beberapa fabrik jang menghasilkan barang2 bermatjam-matjam seperti barang goena kaperloean pakaian, roemah tangga dan alat-alat jang lain jang mendjadi kaperloean dan kasenangan manoesia} dan sebagainja.130)

Artikel yang dibuat oleh Misbach dalam pembuangannya di Manokwari ini sebenarnya merupakan penglihatan terhadap pertumbuhan kapitalisme di Hindia dan pembacaannya terhadap Manifesto Komunis. Di sini Misbach dengan jelas ingin menyatakan bahwa dengan berkembangnya kapital, berkembang pula proletariat, kelas buruh modern–kelas kaum pekerja yang hanya hidup selama mereka mendapat pekerjaan, dan hanya mendapat pekerjaan selama kerja mereka memperbesar modal.

Pada tingkat itu kaum buruh merupakan massa yang tersebar di seluruh negeri dan terpecah-belah oleh persaingan di kalangan mereka sendiri, satu hal yang membuat kaum buruh menjadi lemah karena tidak ada organisasi yang kuat. Watak kapitalis adalah mengeduk keuntungan sebanyak-banyaknya yang hanya dibagikan untuk golongannya sendiri, sebagaimana ditegaskan Misbach kembali: “Orang jang mempoenjai barang2 perkakas oentoek menghasilkan kaoentoengan jang kaoentoengan itoe hanja bagi sedikit orang sadja, dan dia jang bisa menentoekan semoea harga. (Di toeroenkan atau di naikkan),” oleh karena itu, “koeboerkan kapitalisme.”131)

Sehingga dengan jelas buku Manifesto Komunis merupakan buku acuan para pemimpin pergerakan untuk memahami kontradiksi-kontradiksi di dalam masyarakat kolonial. Dan mengapa harus memilih buku Manifesto Komunis? Selain untuk mempertegas garis politik terhadap kelompok “serikat buruh putih” yang banyak memberikan konsesi politik terhadap Suikersyndicaat yang dipimpin oleh Agus Salim cs. juga untuk menentang dominasi bacaan-bacaan yang diproduksi oleh Balai Poestaka. Untuk menghadapi “bacaan liar” Balai Poestaka menerbitkan beberapa karya yang ditulis oleh orang bumiputra sendiri yang menyatakan sikap simpati terhadap kalangan Islam–terutama Agus Salim cs–dengan harapan bisa sampai pada kompromi dalam membangkitkan konsepsi nasionalisme Islam. Ini diwakili oleh tulisan Abdoel Moeis, Salah Asoehan. Dari sini diharapkan timbul bentrokan di antara para pendukung produksi “bacaan liar”, terutama para pendukung H. Misbach.132)

Sementara Darsono, propagandis SI Surabaya yang baru keluar dari penjara tahun 1920 juga menulis Ma’loemat Partai Kommunist India yang disahkan oleh A. Baars. Ia antara lain mempersoalkan nama partai:

“Apakah sebabnja maka perhimpoenan I.S.D.V. diganti nama P.K.I., jaitoelah perkataan Sociaal Democraat diganti dengan perkataan Kommunist?” Lebih lanjut ia menjelaskan “sebenarnya maka isinja, jaitoe maksoed jang dalam dari berdoea perkataan terseboet, tidak berbeda. Jang berbeda hanjalah pakaiannja sadja.”133)

Penjelasan Darsono ini agar lebih mudah dipahami dan juga untuk rendah hati kepada para anggota partai. Ditekankan bahwa perubahan nama itu tidak begitu penting, tetapi lebih penting bahwa dalam konteks itu, yakni setelah PD I usai, terjadi zaman susah di mana harga barang membubung tinggi, sebab para imperialis yang terlibat peperangan merusak harga-harga barang.

Dari tema-tema “literatuur socialiatisch” dapat dijelaskan formasi ideologi para penulisnya yang bersandar pada kondisi kongkret yang dihadapi kaum pergerakan. Penulis “literatuur socialistich” selalu menyesuaikan tulisannya dengan kebutuhan para pembacanya (pendukung), sehingga bahasa maupun ungkapan yang ditampilkan dalam bacaan, sarat dengan ekpresi dan ideologi pendukungnya. Umpamanya untuk menjelaskan perkembangan modal, diciptakan istilah “setan oeang” atau kebebasan diganti dengan “mardika”, istilah-istilah yang akrab untuk pendukung “bacaan liar”. Tanpa mengubah istilah-istilah ini pesan yang akan disampaikan sulit dipahami oleh pembacanya. Dengan begitu penjelasan Paul Tickell bahwa individu-individu atau pemimpin-pemimpin pergerakanlah yang membentuk lingkungannya, saya pikir sangat keliru, karena Tickell tidak mempertimbangkan panggung pergerakan. Yang terjadi sebenarnya malah sebaliknya, bahwa kondisi dan situasi pergerakanlah yang mendorong produksi bacaan untuk kaoem kromo.

Produksi “literatuur socialistisch” oleh para penulisnya ditujukan untuk mendidik rakyat jajahan, agar berpikir bagaimana jalan pergerakan tidak jatuh ke arah yang anarkis, dan sekaligus mengajak kaum terpelajar bumiputra untuk turut memikirkan pergerakan sebagaimana ditegaskan Aliarcham:

Ada kaoem intelektuil jang tida soeka tjampoer dengan pergerakan kita karena merasa maloe, tetapi mereka djoega akan berhoeboengan dengan fihak sana djoega tidak lakoe, paling2 djadi orang soeroehan. Tapi kita kaoem intelektuil proletar berdjoeang oentoek mendirikan koeltoer baroe, dimana tida terdjadi orang minoem darah orang lain. Dari sekarang pendidikan haroes dimoelai dari sekolah rendahan. Kita haroes banjak mengeloearkan batjaan oentoek anak2 Ra’jat kita. Batjaan ini boekannja mengadjar orang takoet sama pemerentah tapi mendidik rasa mardika dan rasa berkoempoel dan nafsoe berdjoeang melawan batjaan2 jang dikeloearkan pemerentah.134)

Jelas pernyataan “batjaan2 jang dikeloearkan oleh pemerentah” mengacu pada Balai Poestaka. Ini merupakan propaganda anti bacaan yang diproduk oleh Balai Poestaka, yang berusaha mentransmisi nilai-nilai politik dan sosial dengan harapan dapat mempengaruhi pemikiran, emosi dan sekaligus tingkah laku rakyat bumiputra. Aliarcham dan para pemimpin pergerakan yang menulis di bawah naungan Kommisi Batjaan Hoofdbeestuur PKI menyadari bahwa kelas burjuasi senantiasa menciptakan kebudayaannya sendiri dan di Hindia melalui produk-produk Balai Poestaka berusaha menghegemoni rakyat bumiputra. Untuk menentang bacaan kelas burjuasi, “intelektual proletar” harus merekonstruksi kebudayaan proletariat. Aliarcham juga menyatakan bahwa menciptakan kebudayaan yang baru bukanlah hal yang mudah, karena akan selalu mendapat halangan dari kebudayaan burjuis yang telah berakar berabad-abad di kepala proletar sekalipun. Tetapi kultur baru ini harus dicapai.135)

Rumusan Aliarcham dalam menentang dominasi Balai Poestaka agak mirip dengan seorang pemikir kebudayaan Russia yang memberi rumusan bagaimana kebudayaan proletariat itu diciptakan, “…the proletariat, however, will reach its highest tension and fullest manifestation of its class character during this revolutionary period and it will be within such narrow limits that possibility of plantful, cultural reconstruction will be confined”.136)

Dari sini terlihat bahwa produk dan penyebaran bacaan merupakan hal pokok dari pergerakan–sebagai pengikat dan roda penggerak mesin sosial demokrasi. Penerbitan buku-buku seperti Pemogokan Besar Di Shanghai, Sjair International, Hilangnja Rasa Ketjintaan Rosa Luxemburg dan Karl Liebnecht merupakan petunjuk dari gerak perubahan yang terjadi pada wajah pergerakan. Dari gerak yang berwatak kompromi ke gerak yang menentang negara kolonial. Hal ini terjadi karena pergerakan sudah tidak dapat menempuh jalan parlementer maupun diplomasi.137)

Produk “literatuur socialistich” sering menggunakan istilah “Hikajat”. Kata ini memberi pemahaman kepada pendukungnya tentang sejarah kekuasaan masyarakat kolonial. Sebagaimana dikatakan Semaoen bahwa Hindia Belanda adalah negeri di mana “Hikajatnya drajat2 jang berkoeasa dalam peprintahan negri didalam pripengidoepan bersama-sama”. Makna dari ungkapan ini adalah untuk memperlihatkan tahap-tahap perkembangan masyarakat. Pada zaman purbakala tingkat pengetahuan masyarakat terbatas pada kepala atau pemimpin yang mempunyai kekuasaan. Pemimpin ini begitu berkuasa di atas golongan-golongan masyarakat lainnya, sehingga apa yang dikehendaki harus diturut oleh yang di bawah. Dan kaum yang berkuasa ini sering mempertunjukkan kekuasaannya (dramaturgi), dan menciptakan perbedaan dengan menamakan dirinya kaum otokratis.138)

Tahap selanjutnya adalah kedatangan bangsa-bangsa Eropa yang selanjutnya menjejakkan kekuasaannya. Karena adanya kekuasaan kolonial Belanda, tentulah sejarah Hindia harus meneruskan sejarah kekuasaan di Eropa terutama setelah tumbuhnya perdagangan besar-besaran. Pertumbuhan perdagangan ini dipercepat dengan mesin-mesin dan pabrik-pabrik, sehingga kaum burjuis dapat melepaskan sandarannya pada rezim otokratis. Dalam sejarah kemudian timbul Revolusi Prancis dari tahun 1789 sampai 1793. Revolusi ini memunculkan kekuatan-kekuatan politik kaum burjuis di seantero Eropa, seperti Jerman, Inggris, Belanda dan lainnya, hingga Raja Belanda Willem I pun pada tahun 1848 dipaksa mengadakan perubahan undang-undang pertanahan yang baru serta perubahan hak pilih.139)

Hikajat dengan begitu merupakan message kepada para pembacanya untuk memahami tahap-tahap perkembangan sejarah hubungan-hubungan produksi dan kekuasaan kolonial Hindia Belanda. Tema ini diangkat untuk melawan penyebaran buku Sedjarah Djawa yang diterbitkan oleh Balai Poestaka. Buku ini menjadi bacaan wajib di sekolah-sekolah rakyat. Isinya mengajarkan bahwa orang pribumi tidak mampu memerintah sehingga bangsa Timur termasuk Hindia Belanda harus dibimbing ke arah pengetahuan Barat. Jelas bahwa terjadi pertarungan praktek kebudayaaan antara yang mempertahankan hubungan sosial produksi lama dengan yang ingin mengubah hubungan sosial produksi yang telah usang.

Pertentangan antara kaum buruh dan pemilik modal, menurut seorang penulis pergerakan ibarat pertentangan “andjing dan koetjing”, sebuah antagonisme yang tidak mungkin terdamaikan. Lebih jauh ia menjelaskan:

…lamalah Suikerbond loepa selamanja kaoem Kapitaal tiada berdamai dengan kaoem boeroeh. Loepalah ia djoega bahwa ia dapat ketjintaan dari kaoem kapitaal selama kapitaal menindas boeroeh Boemipoetera. Daja oepaja apakah jang akan didjalankan boeat kalahkan Kapitaal? Apa lagi nistjaja tiada lama lagi gadji kaoem boeroeh Suikerbond akan ditoeroenkan karena harga goela toeroen.140)

Penegasan ini dapat diinterpretasikan bahwa kaum buruh tidak dapat mengabaikan bentuk khusus aktivitas produksinya. Diperlihatkan bagaimana dalam hubungan ini, hasil kerja buruh yang terkandung dalam barang dagangan hanya diperhitungkan dari segi kuantitas. Padahal dalam perhitungan nilai tukar harus secara kualitatif, karena majikan tidak membayar sepenuhnya hasil kerja seorang buruh dan mengambil surplus yang dihasilkan oleh tenaga buruh. Pertanyaan untuk nilai pakai memang sebatas “Bagaimana” dan “Apa”, tetapi pertanyaan untuk nilai tukar jauh lebih rumit: Bagaimana dan Berapa? Berapa banyak waktu yang dipergunakan? Pada periode pergerakan pertanyaan dan persoalan seperti ini tidak pernah dipersoalkan oleh pemerintah kolonial maupun pendukungnya. Pembicaraan tentang proses produksi dalam bacaan tidak menyinggung dimensi di atas, dan sangat terbatas pada masalah teknis. Bagi orang-orang pergerakan, persoalan-persoalan yang “tidak terlihat” ini hanya dapat dijelaskan melalui bacaan dan rapat-rapat umum.

Komentar ditutup.