PANCASILA: JIWA INDONESIA

PANCASILA: JIWA INDONESIA

oleh: Y. Dwi Harsanto, Pr[1]

Indonesia Pasti Pancasila

“Bagi bangsa dan negara Indonesia, Pancasila sudah final”. Pernyataan semacam ini mulai terdengar lagi bagaikan setitik air segar di tengah gurun gersang. Mengapa bagai di gurun gersang? Karena pasca huru-hara pergantian rezim pada tahun 1998, kata “Pancasila” mulai jarang terdengar. Setelah pada era Orde Baru selalu diucapkan oleh siapapun bagaikan mantra sakti, kini ada perkembangan yang cenderung meminggirkan Pancasila dari orasi resmi para pejabat negara. Hal ini ditengarai sebagai awal bahaya nyata bahwa Pancasila memang mulai tersingkir dari kejiwaan bangsa. Bila pada masa Orba Pancasila menjadi jargon ideologis yang dipakai untuk melanggengkan represi negara atas rakyat, maka sebaliknya kini, para pejabat negara era reformasi enggan menyebutnya lagi. Seolah-olah mereka ingin melepaskan diri dari stigma masa lalu. Jika benar bahwa penghindaran menyebut “Pancasila” secara verbal disebabkan oleh ketakutan akan stigma Orba, maka sikap itu merupakan pelecehan atas Pancasila yang luhur.

Pelecehan atas Pancasila muncul pula dari sikap para penganut kepentingan sektarian, entah yang mengatasnamakan agama maupun suku dan kedaerahan. Secara sistematik, sikap itu segera diubah oleh kekuatan modal menjadi bencana konflik horisontal. Sungguh, suatu pemelorotan habis-habisan atas Pancasila sebagai roh martabat luhur bangsa. Namun demikian, pada hakikatnya Pancasila tetap Pancasila. Tafsir ideologis-strukturalis hendaknya setia pada semangat filsafat dasar yang terkandung dalam Pancasila itu sendiri. Lebih dari itu, Pancasila adalah roh yang hidup dalam sanubari orang yang mengaku mencintai Indonesia yang bhinneka tunggal ika.

Penjiwaan Pancasila Sedang Rapuh

Tahun-tahun terakhir ini, penjiwaan Pancasila oleh bangsa ini memang sedang mengalami kerapuhan. Pada saat kita sedang belajar berdemokrasi sekarang ini, ruang publik terpecah-belah oleh berbagai kepentingan ideologis milik partai-partai politik, oleh kepentingan pemilik modal, dan keterpecah-belahan masyarakat warga. Korupsi, kerusakan lingkungan, kekerasan menjadi menu media massa sehari-hari. Bila pada masa Orba ideologi harus berazas tunggal Pancasila, maka kini ideologi partai-partai di Indonesia bisa berbagai ragam sesuai basis kepentingannya.”Otonomi Daerah”, seolah telah menjelma menjadi pembenar bagi keputusan daerah yang semau sendiri mendongkrak pendapatan hanya bagi daerahnya. Pada masa reformasi ini, kehendak kuat untuk memasukkan hukum agama dalam perundang-undangan telah menjadi kecenderungan.

Memiliki pendapat merupakan keniscayaan demokrasi. Namun demikian, dalam setiap hati sanubari warga negara hendaknya sadar bahwa roh keindonesiaan tetaplah satu yakni Pancasila, bukan agama, bukan pula ideologi anutan partai, bukan pula kepentingan penumpukan modal. Pancasila adalah satu-satunya roh yang harus hidup di ruang keindonesiaan, yang harus hidup dari dalam setiap hati sanubari warga negara Republik Indonesia. Sayang sekali bahwa kebanyakan dari kita tidak mau mempelajari sejarah bangsa dan dunia. Dari pelajaran sejarah diketahui bahwa hanyalah Pancasila yang pas di badan rakyat Indonesia sampai kapanpun. Bagaimana mengusahakan agar Pancasila tidak jatuh dalam ekstrem “mantra sakti” di satu sisi dan “diabaikan” di sisi lain? Bagaimana memperjuangkan agar ia tetap menjadi inspirasi tunggal bagi roh keindonesiaan? Dari mana kita akan memulainya? Saya sendiri merasa bahwa kita harus belajar dari sejarah. Dari kursus Pancasila yang pernah diberikan Soekarno, sang penggali Pancasila, ditemukan mutiara-mutiara renungan yang terlalu berharga untuk diabaikan. Janganlah Indonesia sampai runtuh dari dalam akibat kita lalai mempelajari, merenungkan, dan menghidupi hakikat Pancasila.

Belajar Dari Sejarah: Philosofische Grondslag

“Dasar negara bagi Indonesia Merdeka” atau Philospfische Grondslag, adalah pidato Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945 di depan Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia – BPUPKI), sebagai jawaban untuk memenuhi permintaan ketua, dokter KRT Radjiman Wediodiningrat. Setelah Soekarno mengungkapkan pidatonya, maka perdebatan yang lama dan tajam yang mencerminkan perbedaan pendapat keenampuluh orang anggota BPUPKI itu redalah sudah. Dengan jiwa kebangsaan yang bermutu tinggi, aneka perbedaan itu mereka satukan pada sintesa yang cerdas yang disebut “Pancasila”. Bung Karno sang penggali Pancasila berhasil merumuskan berbagai tesis dan antitesis atas ideologi-ideologi kapitalisme, sosialisme, ajaran agama-agama, serta kristalisasi perlawanan atas konglomerat imperialisme-kolonialisme, kepada satu dasar negara Pancasila. Karena itu, tanggal 1 Juni 1945 diartikan sebagai hari kelahiran Pancasila walaupun menurut Bung Karno, roh Pancasila sendiri sudah dihidupi oleh rakyat Nusantara sejak berabad-abad sebelum Indonesia merdeka. Sebagai penggali Pancasila, Bung Karno sudah mewanti-wanti, bahwa Pancasila adalah dasar sekaligus arah tujuan negara Indonesia. Pancasila digali oleh Bung Karno dari saf-saf kebudayaan peradaban Nusantara-Indonesia sejak pra-kedatangan Hindu, masa Hindu, masa kedatangan Islam, dan masa kontak dengan imperialisme Eropa Barat. Artinya, Pancasila dalam pandangan Bung Karno dan para pendiri bangsa, sudah menyatu dengan hakikat alam pikir, karakter, kepribadian, dan sifat tanah-air Indonesia dengan segala kekhasannya. Di luar Pancasila, bukanlah watak bangsa dan tanah air Indonesia. “Pancasila adalah Weltanschauung (dasar falsafah) sekaligus alat pemersatu bangsa dari Sabang sampai Merauke. Hanya Pancasila-lah yang tetap mengutuhkan negara kita, tetap menyelamatkan negara kita”. (Bdk. Soekarno, “Pancasila sebagai Dasar Negara” yg berisi kursus-Kursus Pancasila sepanjang 1958). Uraian ini merupakan olahan dari pidato dan kuliah Bung Karno tentang Pancasila*.

Bung Karno menandaskan bahwa kelima sila merupakan kesatuan tak terpisahkan. Perisai Pancasila yang tergantung di leher lambang negara burung garuda yg menggenggam erat semboyan “Bhineka Tunggal Ika” adalah simbol kesatuan itu. Roh Pancasila terangkum menggerakkan bangsa ke cita-cita proklamasi 17-8-1945 yg tergambar pada jumlah elar bulu-bulu pada sayap, leher dan kaki burung garuda. Kesatuan sila-sila dalam perlambangan burung garuda itu ia jelaskan dalam kursus-kursus tentang Pancasila. Ia yakin jika lambang negara ini diubah, niscaya sebagian besar rakyat akan menentangnya karena cinta rakyat akan lambang negara ini telah terpaku sedalam-dalamnya di kalbu bangsa.

Pada penjelasannya mengenai sila I, ia memakai pendekatan sosiologis-anthropologis untuk menjelaskan kerinduan manusia akan Tuhan. Bangsa Indonesia pun sudah mengimani adanya Hyang Ilahi lama waktu sebelum kedatangan agama-agama di nusantara. Sila “Ketuhanan Yang Maha Esa” mendorong rakyat mengetahui dari dalam dirinya sendiri, suatu will, iming-iming, agar negara sebagai organisasi membantu rakyat menggali kerinduan akan yang ilahi yakni suatu hidup yang sejati sebagai cita-cita bersama. Bung Karno memahami Pancasila sebagai dasar yang statis sekaligus sebagai leidstar, bintang pedoman. Sila I merupakan appeal, ajakan, tarikan yang menggerakkan rakyat memenuhi panggilan batinnya yang terdalam untuk berjuang keras mewujudkan kepercayaannya akan dunia yang lebih baik dalam Tuhan. Dorongan dari dalam untuk “berketuhanan yang maha esa” sudah ada sejak masa pra Hindu dengan adanya huruf “ha-na-ca-ra-ka-da-ta-sa-wa-la-..” dan wayang pra-Mahabarata-Ramayana seperti Cepot dan punakawan. Sejak awal mula sebelum kedatangan agama-agama, bangsa Indonesia sudah memiliki kerinduan dan iman akan Tuhan. Punya jiwa menyembah pada Hyang Ilahi.

Ketuhanan sangat lain dari sekedar keagamaan, apalagi agama tertentu saja. Ketuhanan Yang Maha Esa tidak lain jiwa merindu seluruh manusia Indonesia akan keilahian. Maka formula Tuhan YME bisa diterima oleh semua golongan agama di Indonesia, dan dimasukkan sebagai sila I dengan nyata dan tegas, karena pada hakikatnya bangsa kita adalah bangsa religius. Siapa yang mengendaki negara Indonesia berdasar agama tertentu, niscaya akan berhadapan dengan seluruh rakyat.

Kebangsaan dalam Perangai Khas Indonesia

Melawan paham anti-nasionalisme, Pancasila menekankan paham kebangsaan. Nasionalisme adalah dasar adanya negara. Ada perbedaan yang tegas antara “keperluan negara sebagai dasar” dan “urusan agama, serta urusan lain-lain”. Faktanya, ada bangsa-bangsa. Dan kita bangsa Indonesia adalah satu bangsa, dengan Pancasila sebagai dasar negara. Bung Karno mengutip Ernest Renan, maha guru di universitas Sorbonne bahwa bangsa adalah satu jiwa, satu bangsa adalah satu solidaritas yang besar. Bagi Soekarno, bangsa akan makin lebih hebat rasa kebangsaannya jika bahasanya satu. Bahasa Indonesia menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. Tapi lebih dari itu, pengikat segala suku bangsa se-nusantara menjadi satu jiwa adalah kehendak untuk hidup bersama untuk hidup sebagai bangsa Indonesia.

Karakter kebangsaan Indonesia berciri khas Indonesia. Bung Karno mencontohkan dengan cara orang Indonesia menyapa sesamanya, dibandingkan dengan cara bangsa-bangsa lain menyapa. Orang Indonesia menyapa dengan “Apa kabar, Bung?”. Bangsa kita menanyakan kabar. Lain dari bangsa Tiongkok yang selalu kelaparan sehingga bertanya “Ni hao?” (engkau bagaimana?), atau bangsa Prancis “Comnent vous portez vouz?” (bagaimana pakaianmu?), atau bangsa Inggris yang haus kekuasaan sehingga menulis “saya” dengan I kapital, dan bertanya dengan nada individualistik “How are you”. Bangsa Belanda suka berlayar, maka bertanya “Hoe vaart u”. Karakter khas bangsa Indonesia adalah bertanya mengenai kabar saudaranya. Charaktergemeinschft, persamaan watak, itulah pemersatu bangsa Indonesia.

Bila agama tidak memerlukan teritori karena hanya membutuhkan manusia, maka negara terbentuk dalam teritori. Negara Indonesia adalah teritori bagi bangsa Indonesia dengan karakternya yang khas, dan teritori yang jelas dan khas pula. Natie adalah segerombolan manusia dengan jiwa le desir d’etre ensemble, dengan jiwa corak dan sifat yang sama, hidup di wilayah yang nyata-nyata satu unit, satu kesatuan. Maka Republik Indonesia bukanlah negara agama, melainkan adalah negara nasional yang meliputi seluruh badan natie Indonesia. Susunan ekonomi dan pertahanan Indonesia mengharuskan kita bersatu, karena kita mengalami penderitaan yang sama beratus-ratus tahun. Sama seperti yang dikatakan Otto Bauer, “Eine aus Schicksalgemeinschaft erwachsene Charaktergemeinschaft”.

Semangat persatuan kebangsaan Indonesia menurut Soekarno sangat perlu untuk menjalankan perjuangkan anti-imperialisme. Negara adalah alat berjuang untuk mencapai masyarakat adil makmur. Negara perlu untuk menentang intervensi musuh dari luar pagar, tetapi ke dalam perlu untuk memberantas segala penyakit dan merealisasikan masyarakat adil-makmur.

Roh Kemanusiaan, Keadilan, Musyawarah

Perangai khas bangsa sebenarnya bagaikan mata rantai bundar dan persegi yang tersambung tiada berkeputusan. Hubungan perikemanusiaan pria-wanita yang langgeng dalam pertumbuhan terus menerus. Nasionalisme yang dikehendaki bangsa Indonesia bukanlah nasionalisme yang chauvinist dan jahat, melainkan yang berperikemanusiaan.

Perikemanusiaan selalu menyangkut kepentingan hajad hidup orang sedunia. Maka bangsa Indonesia yang berperikemanusiaan menekankan nasionalisme yang hanya akan hidup subur dalam tamansari internasionalisme. Sedangkan internasionalisme hanya dapat hidup jika berakar pada bumi nasionalisme. Menghargai harkat kemanusiaan menjadi karakter khas bangsa yang asli. Bung Karno menunjuk pada macam-macam contoh mazhab dalam agama-agama. Misalnya dalam Islam ada Maliki, Syafii, Hambali, Hanafi, bahkan Ahmadiyah Qadian, Ahmadiah Lahore. Juga dalam Budhisme, Hinduisme, Kristen. Tetapi yang paling pokok adalah “heb God lief boven alles Uw naasten gelijk U zelf”, cintailah sesamamu seperti engkau mencintai dirimu sendiri. Tat Twam Asi, aku adalah dia, dia adalah aku, tiada perpisahan.

Kemakmuran dan keadilan yg dilambangkan oleh padi dan kapas disokong oleh hikmat kebijaksanaan dalam perwakilan yang demokratis menjadi penting untuk direnungkan ulang pada masa kini. Menjadi jelas dari cara pandang Pancasila, betapa kekerasan di bidang politik dan ekonomi selama ini sudah jauh melesat dari batas hakikat asali kemanusiaan bangsa Indonesia. Orang mengira bahwa demokrasi hanya berarti pepungutan suara. Padahal musyawarah (dialog) adalah dasar dari segala upaya menuju keadilan, perdamaian, dan kemakmuran bersama. Musyawarah mengandalkan hati yang manusiawi dan wawasan luas, dengan mengindahkan keempat sila yang lain, bukan sekedar asal mendulang jumlah suara pendukung.

Membadankan Jiwa Pancasila

Jikalau bangsa Indonesia ingin supaya Pancasila menjadi kenyataan, maka syarat untuk mewujudkannya adalah satu kata: berjuang. Bung Karno menyatakan, “Di dalam Indonesia merdeka itu, perjuangan kita harus berjalan terus, hanya lain sifatnya dari perjuangan sekarang. Nanti kita bersama-sama sebagai bangsa, bersatu padu, berjuang terus menyelenggarakan apa yang dicita-citakan di dalam Pancasila…” (Pidato Lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945). Prinsip-prinsip dasar Pancasila seharusnyalah menjadi inspirasi batin bagi setiap keputusan dan tindakan kita sebagai rakyat. Prinsip ketuhanan kita hayati dengan menggerakkan fungsi profetis iman terhadap masalah aktual bangsa. Prinsip perikemanusiaan bisa diwujudkan dengan sikap aktif anti-kekerasan, melestarian keutuhan lingkungan hidup dan menghormati manusia perempuan dan laki-laki sejak dari pembuahan. Persatuan kebangsaan mendorong kita berbicara dalam “bahasa keindonesiaan”, secara tulus mengingatkan saudara sebangsa yang cenderung sektarian. Budaya musyawarah dibuat dengan mulai mengajak siapa pun untuk berbicara mengenai bagaimana baiknya situasi dengan mempertimbangkan dimensi keadilan sosial. Sebagai ideologi, dasar negara Pancasila sudah final. Namun sebagai arah pandang, kita masih harus bekerja keras untuk membadankannya dalam perilaku. **** = Dari pidato dan kursus yang diberikan Bung Karno mengenai Pancasila, baik yg berupa rekaman suara maupun tulisan, sangat menarik bahwa penjelasan yang mengalir panjang lebar itu mampu menjerat hati rakyat pendengarnya. Ia memakai bahasa Indonesia dengan “greget”, sering disisipi frasa beberapa bahasa asing, serta beberapa bahasa daerah sebagai penekanan. Pidatonya bersifat eklektik, mengutip pendangan para ahli, namun dibawakan dengan dramatik sehingga hati pendengar bergelora. Pidato dan ceramah Bung Karno tentang Pancasila seperti pidatonya yang lain terkesan “sangat mencintai Indonesia”, elegan, nasionalis tulen, dan berwibawa. Bandingkanlah dengan pidato pejabat Indonesia masa kini yang seolah terbebani aturan tak tertulis bahwa harus diawali dan ditutup dengan salam keagamaan. Bung Karno selalu memakai salam kebangsaan yang disambut oleh rakyat dengan gegap gempita penuh kecintaan. Roh Pancasila yang berbhineka tunggal ika itu sendiri sudah hidup dalam cara Soekarno dan the founding fathers berbicara di tengah rakyat).


[1] Ketua Penghubung Karya Kerasulan Kemasyarakatan Keuskupan Agung Semarang, tinggal di Kebondalem Semarang

Komentar ditutup.