DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI DIREKTORAT KETENAGAAN 2008

DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI

DIREKTORAT KETENAGAAN

2008

A. Pendahuluan

Sesuai dengan amanah Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, guru dan dosen mempunyai fungsi, peran, dan kedudukan yang sangat strategis dalam pembangunan nasional bidang pendidikan, yaitu memberdayakan semua warga negara agar berkembang menjadi manusia yang berkualitas yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia.

Direktorat Ketenagaan sebagai unit kerja yang paling dekat dengan  program-program peningkatan kualitas tenaga pendidik dan kependidikan, telah diberi tugas untuk mewujudkan upaya untuk peningkatan kualifikasi guru dan dosen serta penyebarannya secara geografis maupun bidang ilmu. Berdasarkan Keputusan Menteri Nomor 176/0/2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja serta Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 21 Tahun 2006 tentang Rincian Tugas Unit Kerja di lingkungan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Ketenagaan mempunyai tugas pembinaan, pengembangan, pemberian bimbingan teknis, supervisi, dan evaluasi di bidang ketenagaan.

Sasaran yang ingin dicapai dari pengembangan program Direktorat Ketenagaan menurut kelompok program strategis adalah untuk mendukung pilar-pilar pembangunan pendidikan nasional, yakni pemerataan dan perluasan akses, peningkatan mutu, relevansi dan daya saing serta penguatan tata pamong, akuntabilitas dan pencitraan publik.

B. Program Utama

Berdasarkan Rencana Strategis, Tujuan dan Sasaran yang ingin dicapai, berikut disajikan uraian ringkas program utama yang dikelola dan laksanakan oleh Direktorat Ketenagaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, yaitu:

  1. Program Beasiswa S-2/S-3 Luar Negeri

2.   Program Detasering

3.   Program Magang

4.   Program Sertifikasi Dosen

5.   Program Sertifikasi Guru

6.   Program Pendidikan Jarak Jauh S-1 PGSD

  1. 1. Program Beasiswa S-2/S-3 Luar Negeri

  1. a. Latar belakang

Dosen sebagai salah satu komponen SDM perguruan tinggi mempunyai peran sentral dan strategis. Kualitas dosen akan menentukan tinggi-rendahnya kualitas suatu perguruan tinggi. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 mengamanatkan dosen sebagai tenaga pendidikan di perguruan tinggi harus mempunyai kualifikasi minimum dan sertifikasi sesuai dengan jenjang kewenangan mengajarnya. Sementara itu, Permen Nomor 42 Tahun 2007 tentang Sertifkasi Dosen, secara tegas menyebutkan bahwa dosen harus memiliki strata pendidikan minimal satu tingkat lebih tinggi dari para mahasiswa yang diajarnya.

Menurut data tahun 2003/2004 dosen perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki strata S-2/S-3 baru mencapai sekitar 55%, sementara target dalam Rencana Strategis Ditjen Pendidikan Tinggi pada tahun 2009 sekurang-kurangnya 70%. Dengan semakin ketatnya persaingan di era globalisasi dan untuk meningkatkan daya saing bangsa, Pemerintah berupaya untuk meningkatkan kualitas dosen berskala internasional. Untuk itu, sejak tahun 2000 berbagai skema bantuan pendanaan program pengiriman dosen untuk studi lanjut ke luar negeri telah dilakukan, antara lain melalui perguruan tinggi masing-masing. Proses itu berjalan sangat lamban dan sulit mencapai critical mass dosen yang berpendidikan kualitas internasional. Untuk itu, mulai tahun 2008, Ditjen Pendidikan Tinggi menganggarkan pemberian beasiswa pendidikan lanjut S-2 dan S-3 ke luar negeri melalui skema pendanaan APBN-Depdiknas. Kesempatan memperoleh beasiswa tersebut diberikan kepada para dosen tetap perguruan tinggi  Indonesia, baik negeri maupun swasta. Program ini merupakan pengejawantahan dari pilar peningkatan mutu pembangunan pendidikan Depdiknas.

  1. b. Tujuan

Tujuan penyelenggaraan program beasiswa S-2 dan S-3 luar negeri adalah memberi kesempatan kepada dosen-dosen perguruan tinggi Indonesia untuk melanjutkan studi di luar negeri dan mempercepat pencapaian target untuk membentuk critical mass dosen tetap Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta berkualitas internasional.

  1. c. Kegiatan

Kegiatan yang telah dilaksanakan

1)     Memfasilitasi berbagai program beasiswa luar negeri yang dibiayai oleh negara donor antara lain: ASEA-UNINET (Austria), DAAD (Jerman), Japan Society for The Promotion of Science (Jepang), Monbukagakusho (Jepang), dan ADS (Australia);

2)     Penyusunan Buku Pedoman Penyelenggaraan Program Beasiswa S-2/S-3 Luar Negeri;

3)     Penyempurnaan pengumuman penyediaan beasiswa di website Ditjen Pendidikan Tinggi;

4)     Pengalokasian beasiswa Program Beasiswa Pascasarjana Luar Negeri (PBPLN) Ditjen Dikti untuk Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta (Kopertis);

5)     Penentuan komponen biaya yang akan diberikan kepada penerima beasiswa luar negeri;

6)     Penjaringan penerima beasiswa luar negeri melalui tata cara dan persyaratan yang ditetapkan.

Rencana kegiatan tahun 2008

1)     Melanjutkan kegiatan untuk memfasilitasi berbagai program beasiswa luar negeri yang dibiayai oleh negera donor;

2)     Menyempurnakan penyusunan Pedoman Penyelenggaraan Program Beasiswa S-2/S-3 Luar Negeri, terutama dalam proses dan kriteria seleksi;

3)     Melanjutkan pengalokasian dana beasiswa  bagi dosen-dosen perguruan tinggi negeri dan swasta melalui skema pendanaan APBN-Depdiknas;

4)     Menyeleksi calon-calon penerima beasiswa batch-II melalui skema pendanaan APBN-Depdiknas;

5)     Menyiapkan pemberangkatan studi ke luar negeri bagi dosen yang sudah dinyatakan sebagai penerima beasiswa batch-I.

  1. d. Jadwal Kegiatan

Jadwal kegiatan untuk program Beasiswa S-2/S-3 Luar Negeri  tahun 2008, disusun seperti pada Tabel-1.

Tabel-1. Program Beasiswa Tahun 2008

No.

Waktu

Kegiatan

1.

Akhir Maret

Batas waktu terakhir pengiriman berkas lengkap

2.

Awal April

Pemeriksaan dokumen

3.

Tengah April

Wawancara (dalam bahasa Inggris)

4.

Awal Mei

Pengumuman calon yang diterima

5.

Mei – Juli

Persiapan keberangkatan

6.

Agustus

Keberangkatan

2.  Program Detasering

  1. a. Latar belakang

Perguruan tinggi merupakan lembaga pendidikan yang sangat menentukan dalam upaya mengembangkan sumberdaya manusia, sehingga dapat memberikan sumbangan berarti bagi kepentingan pembangunan masyarakat yang berkualitas. Oleh karena peran perguruan tinggi yang sedemikian penting,  maka  harus  diimbangi  dengan kualitas tenaga pengajar (dosen) yang baik, yaitu dosen yang selalu dapat berinteraksi secara sinergis dengan mahasiswa, dapat dengan aktif mengantisipasi perkembangan pengetahuan secara substansional, mampu beradaptasi dengan masyarakat keilmuan, mempunyai keahlian dan kemampuan dalam mengakses ilmu dan melakukan penelitian serta kerjasama ilmiah.

Dari sejumlah perguruan tinggi yang ada di Indonesia, sebagian perguruan tinggi sudah sangat maju dengan jumlah dosen senior mencukupi, tetapi sebagian perguruan tinggi masih kekurangan dan membutuhkan tenaga dosen senior dengan kualifikasi Profesor atau Doktor, terutama perguruan tinggi yang ada di luar pulau Jawa. Selain itu, beberapa waktu terakhir banyak perguruan tinggi yang baru berdiri dan enam diantaranya berubah status menjadi PTN. Untuk itu perlu ada upaya untuk membantu perguruan tinggi yang memerlukan tenaga dosen senior sekaligus sebagai bentuk pembinaan dalam pengelolaan perguruan tinggi.

Salah satu langkah untuk mengatasi permasalahan di atas, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi kembali melaksanakan program yang pernah dilaksanakan sebelumnya, yaitu program Detasering bagi dosen senior dari perguruan tinggi yang dikategorikan memiliki jumlah melebihi keperluannya. Pada tahun 2008, Ditjen Pendidikan Tinggi membuka kesempatan kepada seluruh PTN dan PTS yang memerlukan. Program ini dimaksudkan untuk mendukung pilar peningkatan mutu, penguatan tata kelola, akuntabilitas dan pencitraan publik dari pembangunan pendidikan Depdiknas.

b. Tujuan

1)     Terciptanya peningkatan mutu perguruan tinggi sasaran;

2)     Terciptanya peningkatan fungsi dan kinerja penyelenggaraan Tridharma di perguruan tinggi sasaran, dengan memperhatikan prioritas bidang ilmu;

3)     Terciptanya peningkatan kompetensi dosen junior dalam penyelenggaraan tridharma di perguruan tinggi sasaran;

4)     Tercapainya kemampuan pengembangan institusi (institutional capacity building);

5)     Terciptanya suasana kehidupan kampus yang kondusif;

6)     Terjalinnya jaringan kerjasama dengan stakeholder.

c. Kegiatan

Kegiatan yang telah dilaksanakan

1)     Tahun 2004, sebanyak 25 Dosen senior menjadi tenaga Detasering di beberapa Universitas, yaitu UNIMAL (5), UNTIRTA (5), UNIJOYO (5), UNIPA (5), dan UNKHAIR (5);

2)     Tahun 2005, sebanyak 33 Dosen senior menjadi tenaga Detasering di beberapa Universitas, yaitu UNIMAL (5), UNSYAH (5), UNTIRTA (5), UNIJOYO (5), UNIPA (5), UNKHAIR (5), DAN POLIKAN TUAL (3);

3)     Tahun 2006, sebanyak 55 Dosen senior menjadi tenaga Detasering di beberapa Universitas, yaitu UNIMAL (7), UNSYAH (20), UNTIRTA (6), UNIJOYO (6), UNIPA (6), UNKHAIR (6), DAN POLIKAN TUAL (4);

4)     Tahun 2007, sebanyak 50 Dosen senior menjadi tenaga Detasering di beberapa Universitas, yaitu UNIMAL (7), UNSYAH (9), UNTIRTA (6), UNIJOYO (7), UNIPA (7), UNKHAIR (7), POLIKAN TUAL (3), DAN BORNEO (4).

Rencana kegiatan tahun 2008

1)     Menyempurnakan pelaksanaan program, terutama dalam mekanisme rekrutmen, penyusunan program kerja oleh tenaga Detasering, dan perguruan tinggi sasaran;

2)     Mengevaluasi perguruan tinggi sasaran yang sudah dibina sejak tahun 2005 untuk keperluan seleksi pelaksanaan program Detasering tahun 2008;

3)     Membuka kesempatan bagi perguruan tinggi lain yang dianggap memenuhi kriteria sebagai perguruan tinggi sasaran (Pertisas).

d. Jadwal Kegiatan

Jadwal kegiatan untuk program Detasering tahun 2008, disusun seperti  pada Tabel-2.

Tabel-2. Program Detasering Tahun 2008

No.

Waktu

Kegiatan

1.

Januari – Awal Maret

Persiapan (Dikti dengan Pertisas)

2.

Maret

Pengiriman pedoman dan pembukaan pendaftaran calon tenaga detaser ke Pertisum

3.

30 April

Batas akhir pengiriman usulan calon tenaga detaser oleh Pertisum ke Dikti

4.

Mei

Seleksi dan penentuan tenaga Detaser

5.

Mei

Pemberitahuan tenaga Detaser terpilih

6.

Mei

Pertemuan untuk pembekalan tenaga Detaser oleh Dikti

7.

Mei

Persiapan program kerja tenaga Detaser di Pertisum

8.

Mei – Juni

Pemberangkatan tenaga Detaser ke Pertisas

9.

Juni – November

Pelaksanaan Program Detasering ke Pertisas

3.  Program Magang

a. Latar belakang

Dosen adalah sumberdaya manusia di perguruan tinggi yang memiliki peran sangat sentral dalam semua aktivitas di perguruan tinggi.  Seorang dosen bukan hanya dituntut pakar dalam bidang ilmunya (mengajarkan, meneliti, dan mengabdikannya kepada masyarakat) tetapi juga dituntut untuk mampu berkomunikasi (verbal dan tulisan); mampu menguasai dan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (ICT); memiliki jejaring (networking) yang luas;  peka terhadap perubahan dan perkembangan yang terjadi di dunia luar, dan bersikap outward looking. Namun demikian, fakta di lapangan menunjukkan bahwa dosen dengan kualifikasi tersebut sangat jarang dan umumnya hanya terkonsentrasi di beberapa perguruan tinggi tertentu saja, terutama perguruan tinggi besar di Pulau Jawa.

Untuk mengurangi disparitas kualitas, baik antara dosen yunior-senior maupun antara perguruan tinggi maju dan sedang berkembang, diperlukan adanya upaya yang nyata. Salah satunya adalah dengan memagangkan dosen yunior di bawah bimbingan dosen-dosen senior di perguruan tinggi yang sudah dikategorikan sebagai perguruan tinggi maju. Berkaitan dengan perubahan status beberapa Perguruan Tinggi Swasta menjadi Perguruan Tinggi Negeri, Direktorat Jenderal Pendididkan Tinggi mengaktifkan kembali program magang sejak tahun 2005. Kepada para dosen muda PTN baru tersebut dimagangkan pada PTN besar dengan bimbingan langsung oleh dosen-dosen senior.

Berdasarkan hasil yang sangat posifit dari program magang tersebut, maka pada tahun 2008 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi akan memperluas kesempatan magang kepada semua dosen yunior perguruan tinggi yang merasa memerlukan, baik PTN maupun PTS. Program ini dimaksudkan untuk mendukung pilar peningkatan mutu, perluasan akses, dan penguatan tata kelola dalam pembangunan pendidikan Depdiknas.

b. Tujuan

Program Magang bagi dosen yunior bertujuan untuk:

1)     Memperluas wawasan dosen yunior mengenai pelaksanaan dan penyelenggaraan dunia kerja dosen (pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat) dengan cara memberi kesempatan untuk mengalami secara langsung pelaksanaan kegiatan Tridharma tersebut di PTN Pembina;

2)     Memberi kesempatan kepada dosen yunior untuk menjalin networking dengan dosen senior asal PTN besar, termasuk kerjasama penelitian;

3)     Memberikan pengalaman kepada dosen yunior untuk mengenal secara langsung manajemen perguruan tinggi di PTN besar, baik di PTN yang sudah maupun yang belum menjadi Badan Hukum Pendidikan.

c. Kegiatan

Kegiatan yang telah dilaksanakan

1)     Tahun 2005, sebanyak 72 orang dosen yunior dari enam perguruan tinggi (UNIMAL, UNTIRTA, UNIJOYO, UNIPA, UNKHAIR, dan POLIKAN TUAL) untuk mengikuti program masing-masing magang di IPB, ITB, UNPAD, UNIBRAW, dan UGM;

2)     Tahun 2006, sebanyak 56 orang dosen yunior dari enam perguruan tinggi (UNIMAL, UNTIRTA, UNIJOYO, UNIPA, UNKHAIR, dan POLIKAN TUAL) untuk mengikuti program masing-masing magang di IPB, ITB, UNPAD, UGM, dan UNS;

3)     Tahun 2007, sebanyak 64 orang dosen yunior dari lima perguruan tinggi (UNIMAL, UNTIRTA, UNIJOYO, UNIPA, dan UNKHAIR) mengikuti program masing-masing magang di IPB, ITB, UNPAD, UGM, dan UNAIR.

Rencana kegiatan tahun 2008

1)     Melanjutkan program magang dosen yunior dari perguruan tinggi sedang berkembang pada perguruan tinggi besar;

2)     Meluaskan peserta program magang untuk perguruan tinggi lain yang memerlukan.

d. Jadwal Kegiatan

Jadwal kegiatan untuk program Magang tahun 2008, disusun seperti  pada Tabel-3.

Tabel-3. Program Magang Tahun 2008

No.

Waktu

Kegiatan

1.

Maret

Persiapan

2.

Maret

Pengiriman pedoman ke Pertisas dan PT Pembina

3.

Akhir Maret

Batas akhir pengiriman usulan calon peserta ke Ditjen Dikti

4.

April

Penetapan peserta

5.

April

Pengumuman hasil seleksi

6.

Mei

Pembekalan di PT Pembina

7.

Mei – Oktober

Pelaksanaan

8.

November

Batas akhir penyerahan laporan

9.

Desember

Evaluasi di Ditjen Dikti

4.  Program Sertifikasi Dosen

a. Latar belakang

Dosen merupakan salah satu komponen esensial dalam sistem pendidikan di perguruan tinggi. Peran, tugas, dan tanggungjawab dosen sangat penting dan bermakna untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia. Untuk melaksanakan peran, tugas, dan fungsi dalam kedudukan yang strategis tersebut, diperlukan dosen yang profesional, sebagaimana dinyatakan dalam Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Disamping kualifikasi akademik dosen dan berbagai aspek unjuk kerja sebagaimana ditetapkan dalam Surat Keputusan Menkowasbangpan Nomor 38 Tahun 1999, penguasaan kompetensi dosen juga merupakan persyaratan penentu kewenangan mengajar. Kompetensi tersebut meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional. Tingkat penguasaan kompetensi dosen menentukan kualitas pelaksanaan Tridharma sebagaimana ditunjukkan dalam kegiatan profesional dosen.

Sebagai pelaksanaan amanat UU Nomor 14 Tahun 2005 dan berbagai peraturan terkait, Pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional menjalankan program sertifikasi bagi dosen. Sertifikasi dosen adalah proses pemberian sertifikat pendidik untuk dosen. Sertifikat Pendidik yang dimiliki dosen merupakan bukti formal pengakuan yang diberikan kepada dosen sebagai tenaga profesional kependidikan tingkat perguruan tinggi. Dengan dimilikinya sertifikat pendidik, secara sadar dan berkelanjutan dosen dapat meningkatkan mutu pelaksanaan Tridharma dalam rangka mencapai mutu pendidikan tinggi untuk meningkatkan daya saing bangsa.

b. Tujuan

Tujuan sertifikasi dosen adalah untuk menilai profesionalisme dosen, guna meningkatkan mutu pendidikan dalam sistem pendidikan tinggi. Pengakuan profesionalisme dinyatakan dalam bentuk pemberian sertifikat. Selain untuk pengakuan keprofesionalannya, sertifikasi dosen juga dimaksudkan untuk melindungi profesi dosen dan penjaminan kesejahteraannya.

c. Kegiatan

Kegiatan yang telah dilaksanakan

1)     Penyusunan Pedoman Naskah Akademik Program Sertifikasi Dosen Tahun 2008;

2)     Penyelenggaraan Training of Trainer (TOT) Sertifikasi Dosen (278 Profesor Doktor) yang telah dinyatakan bersertifikat pendidik;

3)     Penetapan Perguruan Tinggi Penyelenggara (PTP) Sertifikasi Dosen;

4)     Pemrosesan perolehan tunjangan profesi Dosen yang telah menduduki jabatan akademik GB/Prof (±3050 dosen) yang akan dibayar pada tahun anggaran 2008.

Rencana kegiatan tahun 2008

1)     Penyempurnaan Pedoman Naskah Akademik Program Sertifikasi Dosen Tahun 2008;

2)     Penetapan Perguruan Tinggi Penyelenggara (PTP) Sertifikasi Dosen;

d. Jadwal Kegiatan

Jadwal kegiatan untuk program Sertifikasi Dosen tahun 2008 disusun seperti  pada Tabel-4.

Tabel-4. Program Sertifikasi Dosen Tahun 2008

No.

Waktu

Kegiatan

1.

Penyelenggaraan ToT oleh Dikti

2.

Monitoring

3.

Evaluasi

4.

Pelatihan operator Serdos

5.

Pembentukan tim administrasi Serdos di Dit. Ketenagaan

6.

Perbaikan atas dasar hasil Monev

7.

Perbaikan instrumen

8.

Penempatan instrumen Serdos di Web Dikti

9.

Penyelenggaraan back-up research pasca Serdos

10.

Penandatanganan kontrak penyelenggaraan Serdos oleh PTP

5.  Program Sertifikasi Guru dalam Jabatan

a. Latar belakang

Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,  Undang-undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dan Peraturan Pemerintah RI No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menyatakan guru adalah pendidik profesional. Untuk itu, mereka dipersyaratkan memiliki kualifikasi akademik minimal Sarjana/Diploma IV (S1/D-IV) yang relevan dan menguasai kompetensi sebagai agen pembelajaran.

Sertifikasi guru sebagai upaya peningkatan mutu guru dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan guru, sehingga diharapkan dapat meningkatkan mutu pembelajaran dan mutu pendidikan di Indonesia secara berkelanjutan. Bentuk peningkatan kesejahteraan guru berupa tunjangan profesi bagi guru yang memiliki sertifikat pendidik. Tunjangan tersebut berlaku, baik bagi guru yang berstatus pegawai negeri sipil (PNS) maupun bagi guru yang berstatus non-pegawai negeri sipil (swasta). Sertifikasi bagi guru dalam jabatan dilakukan melalui dua cara yaitu (1) Penilaian Portofolio sesuai Permen No. 18 Tahun 2007 dan (2) Jalur pendidikan profesi sesuai Permen  No. 40 Tahun 2007.

b. Tujuan

1)     Menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran

2)     Meningkatkan profesionalisme guru

3)     Meningkatkan proses dan hasil pendidikan

4)     Mempercepat terwujudnya tujuan pendidikan nasional

c. Kegiatan

Kegiatan yang telah dilaksanakan

Kuota 2006 sebanyak 20.000 guru, dan 17.624 guru (88,1%) ikut sertifikasi. Lulus 8.819 guru (50,03%), dan 16 guru (0,10%) sedang verifikasi.Guru yang lulus (8.819 guru) dalam proses pembayaran tunjangan profesi pendidik, yakni 8.501 guru TMT Oktober 2007 dan sebanyak 318 guru TMT Nopember 2007. Sebanyak 8.789 guru (49,87%) direkomendasikan PLPG dan dinyatakan lulus dalam ujian utama 95% dan lulus 100% setelah ujian ulangan pertama. Hasil penilaian portofolio kuota tahun 2007 saat ini masih dalam proses finalisasi dan klarifikasi data peserta antara LPTK dengan sekretariat KSG.

Rencana kegiatan tahun 2008

Tahun 2008 jumlah kuota sebanyak 200.000  peserta dan diharapkan dokumen portifolio dapat diserahkan ke LPTK pada bulan April 2008, sehingga penilaian dokumen portofolio di LPTK dapat dilaksanakan pada bulan Mei – Juni 2008.

d. Jadwal Kegiatan

Jadwal kegiatan untuk program Sertifikasi Guru dalam Jabatan tahun 2008 disusun seperti  pada Tabel-5.

Tabel-5. Program Sertifikasi Guru dalam Jabatan Tahun 2008

No.

Waktu

Kegiatan

1.

Januari

Review dan revisi Pedoman Rekrutmen dan Penetapan Peserta Sertifikasi Guru

2.

Januari – Februari

Sosialisasi Pedoman Rekrutmen dan Penetapan Peserta Sertifikasi Guru ke Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota

3.

Februari

Rekrutmen dan penetapan peserta Sertifikasi Guru oleh Dinas Pendidikan

4.

Januari – Februari

Review dan revisi Pedoman Sertifikasi Guru (LPTK, Dinas Prov/Kab/Kota

5.

Januari – Februari

Review dan revisi Pedoman Sertifikasi untuk Guru

6.

Januari – Februari

Review dan revisi Panduan Penyusunan Portofolio

7.

Januari – Februari

Review dan revisi instrumen Portofolio

8.

Januari – Februari

Review dan revisi Rubrik Penilaian Portofolio

9.

Januari – Februari

Review dan revisi Rambu-rambu PLPG

10.

Februari

Sanctioning buku-buku (pedoman dan panduan) perangkat Sertifikasi Guru

11.

Februari

Finalisasi buku-buku (pedoman dan panduan) perangkat Sertifikasi Guru

12.

Februari

Penggandaan buku-buku (pedoman dan panduan) perangkat Sertifikasi Guru

13.

Akhir Februari

Tim Monevin dan Monvext presentasi hasil monve di depan Mendiknas

14.

Februari – Maret

Sosialisasi mekanisme Sertifikasi Guru tahun 2008 ke LPTK Induk dan Mitra. Dinas Pendidikan Prov/Kab/Kota dan LPMP

15.

Maret

Sosialisasi mekanisme Sertifikasi Guru tahun 2008 ke guru

16.

April

Penyusunan dokumen portofolio oleh guru

17.

April – Mei

Penyerahan dokumen portofolio dari guru ke Dinas Kab/Kota

18.

April

Verifikasi dan pemberkasan dokumen portofolio oleh Dinas Pendidikan Kab/Kota

19.

April – Mei

Pengririman dokumen portofolio dari Dinas Pendidikan Kab/Kota ke LPTK

20.

Mei – Juni

Penilaian portofolio di Rayon LPTK

21.

Juli – September

Pelaksanaan PLPG

6.  Program Pendidikan Jarak Jauh S-1 PGSD

a. Latar belakang

Dari sekitar 2,78 juta guru yang ada saat ini, 1,25 juta diantaranya adalah guru SD. Dari 1,25 juta guru SD tersebut baru sekitar 16 % (sekitar 208.239 guru) yang sudah memiliki kualifikasi S-1, sedangkan sisanya sekitar 84 % (1,04 juta) yang memiliki kualifikasi D-2 dan SLTA (SPG, SGO, dll).

Dengan terbitnya UU No. 14 tahun 2005, dimana kualifikasi minimal guru SD adalah S-1, Pemerintah perlu menyiapkan modus sistem pendidikan guru SD dalam jabatan yang legal, berkualitas dan sesuai dengan karakteristik guru SD  tersebut, yaitu  di samping  jumlahnya relatif besar, guru juga harus tetap menjalankan tugasnya sehari-hari sebagai guru. Dari beberapa alternatif yang ada, Pemerintah menganggap perluasan Sistem Pendidikan Jarak Jauh untuk Program S-1 PGSD ( yang selama ini hanya diselenggarakan oleh Universitas Terbuka ) ke sejumlah perguruan tinggi  adalah yang paling tepat  untuk pendidikan guru dalam jabatan, sebagai upaya untuk  mempercepat  jumlah guru SD yang berkualifikasi S-1. Program ini mendukung pilar pembangunan pendidikan nasional dalam rangka peningkatan akses terhadap pendidikan tinggi dan peningkatan mutu pendidikan.

b. Tujuan

Tujuan dari program ini adalah untuk mempercepat peningkatan jumlah guru SD yang  memiliki kualifikasi akademik S-1, sesuai dengan amanah UU No. 14 tahun 2005.

c. Kegiatan

Kegiatan yang telah dilaksanakan

Dalam kaitan dengan tujuan tersebut diatas, pada tahun 2007, Ditjen Dikti telah meluncurkan program Pendidikan Jarak Jauh S-1 PGSD (PJJ S-1 PGSD) berbasis ICT, yang dilaksanakan melalui suatu  konsorsium yang beranggotakan  23 LPTK, dan  didukung beberapa unit  seperti Information and Communication Technology Center (CT Center) di Kabupaten/Kota dan Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Open Learning Centre (Seamolec), Jakarta.

Program tersebut telah menerima mahasiswa sebanyak 2 (dua) angkatan, yaitu pada Januari 2007 dan Juli 2007 dengan total mahasiswa saat ini 4.744 orang. Menurut rencana pada tahun Juli 2008, akan menerima mahasiswa baru lagi.

Rencana kegiatan tahun 2008

Ditjen Dikti sedang mempersiapkan proses evaluasi terhadap program tersebut untuk melihat efektivitas program dan juga mengatasi berbagai kendala yang dihadapi untuk kemudian memperbaiki penyelenggaraan program.  Pada saatnya, jika sistem sudah teruji dan mantap, konsorsium akan berkembang dari aspek keanggotaan, ragam program, maupun jangkauan geografis.

d. Jadwal Kegiatan

Jadwal kegiatan untuk program Pendidikan Jarak Jauh S-1 PGSD tahun 2008 disusun seperti  pada Tabel-6.

Tabel-6. Program PJJ S-1 PGSD Tahun 2008

No.

Waktu

Kegiatan

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

About these ads

Komentar ditutup.