DAMPAK BEROPERASINYA JEMBATAN SURAMADU TERHADAP AGROBISNIS TANAMAN TEMBAKAU MADURA

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. SEJARAH TEMBAKAU MADURA

Ketika istilah tembakau disebut, nama Madura tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Seakan nama tembakau telah menyatu dan membatu dalam kehidupan Madura. Artinya, menyebut tembakau secara otomatis juga menyebut Madura, sehingga muncul istilah Tembakau Madura atau Madura sebagai basis daun tembakau yang selalu menjadi harapan orang-orang Madura.

Hal ini terjadi, karena bagi orang-orang Madura, tembakau telah menjadi bagian yang terpenting dalam kehidupan Madura, bahkan telah menjadi sesuatu yang selalu diharapkan oleh seluruh masyarakat Madura. Tidak heran kalau pada gilirannya, namun tembakau memiliki sinonim yang sangat luar biasa di kalangan masyarakat Madura sebagai daun emas. Daun emas berarti dengan tembakau yang dipanen, orang-orang Madura dapat membeli emas dan mendapat banyak uang. Sebab, dengan tembakau orang madura memiliki harapan sangat besar mendapatkan banyak uang dan bisa jadi juga mendapatkan emas. Terlalu muda bagi orang madura, apabila musim panen tembakau tiba, tidak jarang orang Madura menjadi kan momentum ini sebagai momentum penuh nikmat, akibat keuntungan yang dipetik dari daun e-mas bernama tembakau.

Akibatnya, sejak dahulu kala sampai kini bagi masyarakat Madura, tembakau tetap menjadi pilihan primadona yang tidak terkalahkan. Kesadaran akan makna penting tembakau bagi orang-orang Madura bahkan lebih dari hanya sekedar itu : tembakau telah dianggap sebagai musim penuh nikmat yang tidak boleh terlewatkan begitu saja. Hampir semua tanah, baik persawahan maupun pegunungan pada saat musim tembakau penuh dengan tanaman daun emas ini. Para petani bontang-banting tulang siang malam dan cari modal sana sini hanya untuk membuktikan bahwa tembakau merupakan satu-satunya yang selalu diharapkan.

Secara historis, usaha untuk mentembakaukan Madura pada awalnya tidak lepas dari rintangan dan penuh dengan liku-liku, sebelum masuk ke Madura proses uji coba penanaman tembakau di Madura tidak seperti yang terjadi saat ini. Pertim bangan-pertimbangan dari Pemerintah Belanda pada waktu itu benar-benar menjadi alasan betapa penanaman tembakau di Madura menghadapi rintangan. Stigma klasik tanah Madura yang tidak produktif menjadi catatan bagi pemerintahan ketika itu untuk mempertimbangkan penanaman tembakau di bumi Madura. Setidaknya sejak itulah, orang-orang Madura mulai dapat mengenal budidaya tembakau, yang pada gilirannya menjadi tanaman unik dan idaman masyarakat Madura. Tembakau dalam bahasa yang terlalu ideal bisa disebut telah menjadi pangkuan utama bagi masyarakat Madura sepanjang masa. Orang-orang Madura sampai kini mungkin masih menganggap tembakau sebagai dewa penolong yang selalu menaburkan berkah dan diidamkan dalam setiap tahun.

Hari ini Madura telah membuktikan sebagai daerah produktif untuk budidaya tembakau. Asumsi yang pernah ditakutkan oleh Pemerintah kolonial Belanda dulu, ternyata tidak bisa dijadikan sebagai kesimpulan untuk mengatakan Madura sebagai daerah kering yang tidak bisa menyimpan apa-apa. Madura memang meranggas, tetapi tidak sepenuhnya, karena budidaya tembakau yang setiap musim menjadi primadona masyarakat Madura menjadi bukti konkrit tentang tembakau madura yang masih tetap eksis dan bisa diandalkan.

1.2. KENDALA YANG DIHADAPI PETANI TEMBAKAU MADURA

  1. Petani Tembakau di Pamekasan Kesulitan Modal

Petani tembakau di Desa Tattango, wilayah Kecamatan Proppo, Pamekasan, Madura, mengaku kesulitan modal, biaya tanam tembakau menyusul hujan turun selama sebulan berturut-turut yang menyebabkan tanaman tembakaunya mati. Para petani mengaku, sudah tiga kali menanam tembakau akibat hujan yang terjadi selama ini.

Saat ini harga bibit tembakau sangat mahal. Yakni dalam kisaran antara Rp25.000 hingga Rp27.000/ seribu batang bibit tembakau. Harga tersebut jauh lebih mahal dibanding dengan harga yang berlaku pada Mei 2009, sebelum hujan mengguyur wilayah Kabupaten Pamekasan. Saat itu, harga bibit tembakau hanya Rp10.000 hingga Rp12.000/ seribu batang bibit tembakau.

Biaya tanam tembakau sangat mahal, untuk 1 hektar luas lahan tanaman tembakau membutuhkan biaya sekitar Rp12 juta dengan kebutuhan pupuk sekitar 9 kwintal. Jika pinjamannya Rp1 juta, petani harus mengembalikan sebesar Rp1,5 juta, setelah musim petani panen tembakau, hal itu terpaksa dilakukan karena para petani sudah tidak memiliki pilihan lain. Untuk pinjan ke bank, mereka tidak memiliki agunan, sedang pemerintah tidak menyediakan dana talangan.

  1. Petani di Pamekasan Kesulitan Bibit Tembakau

Para petani di Pamekasan kini kesulitan mendapatkan bibit tembakau, menyusul banyaknya warga yang melakukan tanam ulang akibat lahannya tergenang air dalam sebulan terakhir ini. Kondisi semacam ini menyebabkan harga bibit tembakau naik, sebelumnya harga bibit tembakau dalam kisaran antara Rp10.000 hingga Rp12.000/seribu batang, namun dalam tiga hari terakhir ini naik menjadi Rp25.000. Bahkan ada yang menjual hingga Rp27.000/ seribu batang.

Sebelum musim hujan petani sangat mudah membeli bibit tembakau dan harganya murah. Tapi setelah sering turun hujan dan petani tembakau banyak yang menanam ulang, harga bibit secara otomatis akan naik. Sebagian petani tembakau di Desa Murtajih, Kecamatan Pademawu, Pamekasan menyatakan akan melakukan tanam ulang tembakau, karena jenis tanaman tersebut merupakan harapan satu-satunya tanaman petani yang banyak mendatangkan rupiah. Akibat hujan yang turun secara terus menerus dalam sebulan ini, banyak tanaman tembakau mati, akibat tergenang air.

Hal ini bukan hanya terjadi di Kecamatan Pademawu saja, tapi juga di terjadi di wilayah kecamatan lain di Pamekasan. Seperti di wilayah Kecamatan Proppo, Tlanakan, Pakong, Pegantenan, Palengaan, Kadur, Larangan dan Kecamatan Galis sehingga perlu ada sosialisasi lebih intensif yang perlu dilakukan Pemkab Pamekasan dalam beberapa hal, seperti tanaman alternatif dan prediksi cuaca.

Terkait dengan tanaman alternatif, petani akan menemui kesulitan selain menanam tembakau, karena penjualannya sering menemui kendala setelah musim panen tiba, tidak semudah tanaman tembakau. Kondisi semacam itu jelas akan menjadi pertimbangan petani untuk beralih ke tanaman jenis lain.

  1. Petani Di Pameksan Kesulitan Mencari Pupuk

Puluhan petani tembakau kebingungan di Kabupaten Pamekasan, pasalnya, mereka kesulitan mendapatkan pupuk urea untuk tanaman tembakaunya sebab agen-agen pupuk yang biasa tersedia saat ini kosong. Saat ini stok pupuk urea kosong di Pamekasan.  kekosongan pupuk urea ini disebabkan keterlambatan pengiriman pupuk urea terhadap distributor di Pamekasan. sehingga pihak distributor menghentikan pendistribusian pupuk urea ke seluruh agen yang tersebar di 13 kecamatan yang ada di Pamekasan. dan distributor bisa menyalurkan kembali pupuk ureanya pada agen-agen jika ada tambahan stok tiba di gudang distributor.

Kasus kekosongan pupuk urea seharusnya tidak perlu terjadi. Sebab, pemkab Pamekasan dan kelompok tani sudah membuat rencana definitif tentang kebutuhan pupuk sejak awal. kekosongan pupuk urea terjadi di seluruh agen-agen pupuk urea. Baik di daerah perkotaan maupun di tingkat desa. Sehingga para petani tembakau kelimpungan semua untuk mendapatkan pupuk urea., petani tembakau selalu menggunakan pupuk urea untuk menyuburkan tanamannya. karena urea memang bukan satu-satunya pupuk untuk tanaman tembakau, tapi bagi petani tembakau pupuk jenis ini sudah dipercaya dan enggan beralih ke jenis lain.

BAB II

TINJAUN PUSTAKA

2.1. BUDIDAYA TEMBAKAU

Tembakau adalah komoditi yang cukup banyak dibudidayakan petani di Madura, selain merupakan tanaman yang khas, tanaman tembakau memiliki pertumbuhan yang baik dan harga jual yang tinggi sehingga diminati oleh para petani di Madura. Diakui ataupun tidak telah menjadi penyumbang tanaman yang tidak bisa disepelekan. Karena tembakau yang dilahirkan dari rahim tanah Madura telah membuktikan sebagai salah satu tembakau yang sangat bernilai.

Budidaya tanaman tembakau selama ini masih menggunakan cara lama dan Turun temurun serta Belum menggunakan teknis tang moderen, misalnya dengan program khusus budidaya tanaman yang terbaru serta tidak menggunakan teknik tembakau bawah naungan. Hal ini disadari memang masi membutuhkan banyak sosialisari dan modal yang cukup banyak bagi petani, Namur diharapkan dengan adanya penyuluhan dan sosialisasi program budidaya tanaman yang terbaru diharapkan dapat meningkatkan koalitas dan cuantiítas tembakau madura sehingga pendapatan petani semakin meningkat.

2.2. ANALISIS KOMPARASI USAHATANI TEMBAKAU MADURA

Berdasarkan isu pembangunan pertanian untuk mengantisipasi tantangan demokratisasi dan globalisasi, pemerintah telah menetapkan visi pembangunan pertanian yakni terwujudnya masyarakat petani yang sejahtera melalui pembangunan sitem agribisnis yang berdaya saing, berkerakyatan dan berkelanjutan (Jabal Tarik Ibrahim 2000). Usaha yang cukup potensial di Kabupaten Pamekasan adalah tembakau. Tembakau bagi petani di Madura merupakan tanaman bergengsi, tanaman primadona dan kesenangan yang dapat memberikan harapan keuntungan yang besar atau merupakan sumber pendapatan yang cukup potensial bagi petani. Isdijoso et al 1998, menerangkan bahwa hasil usahatani tembakau Madura dapat menyumbang sebesar 60 % – 80 % terhadap total pendapatan petani.

Demikian juga keberhasilan usahatani tembakau sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan perekonomian di Madura. Sebagai illustrasi pada musim tembakau tahun 2003 dengan produksi 18.391 ton rajangan kering dan harga rata – rata Rp. 20.370,- maka uang yang beredar dari perdagangan tembakau sebesar Rp. 374.624.670.000,-. Dampak lain terhadap perekonomian apabila panen tembakau yaitu banyak masyarakat membangun rumah, laku kerasnya penjualan kendaraan bermotor dan perhiasan emas, banyak petani menunaikan ibadah haji, memperlancar pembayaran PBB dan sebagainya. Dari segi sosial, jumlah petani yang menanam tembakau sebanyak 95.895 KK dan tenaga kerja yang terserap dalam budidaya tembakau sebanyak 287.685 orang(Anonymus, 2004).

Berlatar belakang kondisi sebagaimana dipaparkan diatas, penulis berkeinginan untuk melakukan Analisis komparasi usahatani tembakau Madura yang ditanam di lahan gunung (tembakau gunung), yang ditanam di lahan tegal (tembakau tegal) dan yang ditanam di lahan sawah (tembakau sawah) di kabupaten Pamekasan, mengenai perbedaan usaha tani tembakau Madura di lahan tegal, gunung dan sawah, serta perbandingan efisiensi usaha tani tembakau Madura di lahan gunung dibandingkan dengan di lahan tegal dan sawah. Penelitian dilaksanakan di desa Prekbun kecamatan Pademawu yang mewakili tembakau lahan sawah, desa Ponteh kecamatan Galis yang mewakili tembakau lahan tegal dan desa Palalang kematan Pakong yang mewakili tembakau lahan gunung. Penelitian menggunakan metode survei dengan penentuan lokasi secara purposive dan pengambilan sampel secara acak. Hssil penelitian disusun secara deskriptif dan tabulasi yang dilanjutkan analisis usahatani dan uji t untuk mengetahui tingkat perbedaan biaya produksi, penerimaan dan keuntungan masing masing jenis lahan. Lahan sawah digunakan untuk berusatani tembakau (100%), sedang pada lahan tegal hanya (60%) dan lahan gunung hanya mencapai (50%).

Usahatani tembakau pada karakteristik lahan yang berbeda memberikan perbedaan yang sangat nyata terhadap tingkat keuntungan yang diperoleh petani P<0.01. tembakau mempunyai keuntungan paling tinggi yaitu Rp 9.449.136 atau 2,8 kali keuntungan tembakau sawah dan 1,22 kali tembakau tegal. Sedang tingkat keuntungan tembakau tegal mencapai Rp 7.776.988 atau 2,31 kali tembakau sawah yang hanya mencapai tingkat keuntungan Rp 3.367.879. Ada perbedaan biaya produksi, penerimaan dan pendapatan usahatani tembakau di lahan gunung, tegal dan gunung. Perbedaan tingkat biaya produksi usahatani tembakau sawah (Rp. 13.776.310,-) paling tinggi diikuti tegal (Rp. 13.594.368,-) dan gunung (Rp. 7.821.089,-) sangat nyata pada tingkat kepercayaan 0,01 (P<0,01). Perbedaan tingkat penerimaan usahatani tembakau sawah dengan tegal, tegal dengan gunung sangat nyata pada tingkat kepercayaan 0,01 (P<0,01), sedang pada sawah dengan gunung tidak menunjukkan perbedaan yang nyata pada tingkat kepercayaan 0,05 (P<0,05) Tingkat penerimaan usahatani tembakau tegal paling tinggi yaitu (Rp. 21.469.343,-) diikuti tembakau gunung (Rp. 17.576.600,-) dan tembakau sawah (Rp. 17.151.000,-) Tingkat perbedaan keuntungan usahatani tembakau Gunung paling tinggi yaitu (Rp. 9.755.511,-) diikuti tembakau tegal (Rp. 7.874.976,-) dan tembakau sawah (Rp. 3.374.690,-) yang sangat nyata dengan tingkat kepercayaan 0,01 (P<0,01). Usahatani tembakau pada lahan gunung paling efisien (R/C ratio = 2,21) yang diikuti tembakau tegal (R/C ratio =1,59) dan tembakau sawah (R/C ratio = 1,25).

2.3. PELUANG, HARAPAN, DAN TANTANGAN PETANI TEMBAKAU

Bulan Agustus tak hanya menjadi bulan istimewa lantaran ada serangkaian kegiatan menuju peringatan hari kemerdekaan tiap tanggal 17. Di luar itu, Agustus menjadi bulan “emas” bagi petani tembakau. Sebab, pada Agustus panen raya tembakau dimulai. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini panen raya tembakau agak terlambat. Jika tahun sebelumnya panen raya dimulai awal Agustus, tahun ini diperkirakan baru dimulai pertengahan atau akhir Agustus.

Keterlambatan panen raya tembakau berkait erat dengan kemarau basah (La Nina) yang diperkirakan masih akan berlangsung hingga Oktober mendatang. Namun, keterlambatan panen dipastikan tidak akan berpengaruh pada kualitas tembakau. Sebab, meski diwarnai La Nina, pertumbuhan tembakau tidak terpengaruh. Tembakau Madura diyakini akan tetap memiliki aroma khas yang tidak akan dimiliki tembakau lain. Karena itu, dapat dipastikan juga pabrikan senantiasa memperhitungkan keberadaan tembakau Madura. Lalu, mengapa warga masyarakat Madura, utama Sumenep, Pamekasan, dan Sampang, begitu mengandalkan tembakau sebagai komoditas utama? Bukankah banyak komoditas lain yang juga menguntungkan?

Jawabannya mudah. Sebab, warga Madura cenderung mengandalkan tembakau sebagai komoditas utama karena menguntungkan. Jawaban yang demikian ini sudah jamak dan menjadi pendapat umum. Tentu jawaban itu bukan tanpa alasan. Sebab, menanam tembakau masih menjadi primadona masyarakat Madura. Petani tetap menanam tembakau untuk menyambung hidup. Tembakau telah menjadi sumber penghasilan nomor wahid di Pulau Garam ini. Walaupun ada sumber daya lain yang bisa digarap oleh petani, namun hasilnya tidak sebesar ketika menanam tembakau. Mungkin ada jagung, semangka, bawang, dan palawija yang bisa ditanam. Hanya, sekali lagi, semua itu tidak bisa memberikan penghasilan yang besar bagi masyarakat.

Kini sebagian petani telah memasuki masa panen raya tembakau. Namun, jumlahnya tidak banyak. Hanya ada di beberapa daerah yang menanam tembakau lebih awal. Seperti di Kecamatan Bluto, Sumenep. Di Pamekasan, di beberapa desa di wilayah Kecamatan Waru dan Pakong. Namun, masih sedikit tembakau yang digali. Mengenai kualitas tembakau, diyakini tidak akan jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Sebab, meski dalam suasana La Nina, pertumbuhan tembakau sangat baik. Karena itu, dapat dipastikan kualitasnya juga akan baik. Apalagi, saat ini, petani mulai mengikuti anjuran teknis pola penanaman tembakau yang baik sebagaimana disampaikan pihak terkait. Selain itu, cuaca pada saat pertumbuhan tembakau juga cukup mendukung. Kalau kualitas kita yakin akan tetap sama. Sebab, meski sempat ada La Nina, namun pertumbuhan tembakau tetap bagus. Meski demikian petani meperhatikan teknis budidaya tembakau sebagaimana anjuran pihak terkait. Meski cuaca bagus kalau teknis budidaya kurang bagus, kualitas bisa berpengaruh. Makanya, petani senantiasa memerhatikan teknis budidaya, termasuk perlakuan pra dan pasca panen.

BAB. III

PEMBAHASAN

3.1.  ADAYA JEMBATAN SURAMADU

Setelah rampungnya jembatan suramadu di madura yang menghubungkan pulau Jawa dengan pulau Madura, maka diharapkan berbagai permasalahan ekonomis warga khususnya petani tembakau dapat teratasi. Jembatan Suramadu yang dibangun Sejak tahun 1990 dan selesai tahun 2009 menjadi tonggak sejarah baru khususnya bagi petani tembakau madura karena beberapa hal yaitu:

  • Jembatan Suramadu merupakan bagian dari Pembangunan kawasan industri dan perumahan serta sektor lainnya dalam wilayah-wilayah di kedua sisi ujung jembatan.
  • Jembatan Suramadu merupakan penghubung jalar distribuís perekonomian yang potencial bagi warga Madura.
  • Jembatan Suramadu menghubungkan Gerbangkertosusilo yang merupakan pusat industri, pemerintahan, perdagangan, maritim dan pendidikan.
  • Jembatan Suramadu akan meningkatkan perkembangan wilayah khususnya perkembangan pembangunan di pulau Madura.
  1. Lokasi Pembangunan Jembatan Suramadu

Jarak terdekat tidak selalu menjadi titik terbaik. Dengan pertimbangan lalu-lintas, kondisi geologi, biaya, dan lingkungan sekitar, dipilih titik Kenjeran-Labang Pertumbuhan ekonomi menjadi kunci penting dalam perkembangan sebuah wilayah. Propinsi Jawa Timur dengan jumlah penduduk mencapai 33 juta jiwa, menjadi salah satu propinsi dengan kerapatan penduduk yang padat. Sebagai pintu gerbang Indonesia Timur, Jawa Timur juga memegang kunci penting laju industri dan perdagangan, maka tak dapat ditolak jika jalur transportasi menjadi bagian penting laju roda industri. Sementara di sisi lain, Pulau Madura yang menjadi bagian dari provinsi Jawa Timur, mengalami kondisi yang kurang menguntungkan. Laju pertumbuhan ekonomi lambat dan income perkapita tertinggal. Pergerakan jalur transportasi yang terhambat membuat pembangunan jembatan Suramadu dinilai penting sebagai pembuka awal. Dengan Jembatan Suramadu , yang akan menghubungkan Surabaya dengan Pulau Madura melalui jalan darat, diharapkan ketimpangan sosial dapat segera direduksi. Arus transportasi yang cepat dan efektif akan membuat perkembangan Madura segera melejit, bersaing dengan daerah-daerah lain. Tata wilayah dan tata guna lahan juga akan terbentuk secara proporsional.

  1. Terpilihnya Titik-titik Alternatif ke-3

Kita mungkin sering mendengar, mengapa Jembatan Suramadu dibangun di daerah Kenjeran Surabaya? Bukan di Perak, Sukolilo, atau Gresik? Dari hasil studi dan kajian yang dilakukan oleh BPPT pada saat studi awal, terdapat 4 pilihan lokasi Jembatan Suramadu, yaitu Dan akhirnya yang terpilih adalah alternatif 3, Kenjeran – Labang. Pertimbangannya antara lain: Lintasan kapal relatif kecil, lebih kecil dari 2000 GRT (Gross Registered Tonnase). Tidak mengganggu kebutuhan manuver kapal serta jauh dari lintasan feri. Kedalaman laut rata-rata 17 meter dan kondisi geologi memungkinkan biaya konstruksi yang lebih rendah.

Kedua ujung jembatan merupakan daerah yang relatif datar dan terbuka, tidak banyak perumahan, dan dapat terhubung langsung dengan rencana jaringan jalan tol. Hasil studi amdal menunjukkan bahwa dampak yang ditimbulkan masih dapat dikendalikan dengan mengikuti rekomendasi RPL (Rencana Pemantauan Lingkungan) dan RKL (Rencana Pengelolaan Lingkungan). Di sisi Surabaya, ujung Jembatan Suramadu berlokasi di Kelurahan Tambak Wedi, Kecamatan Kenjeran dan pada sisi Madura terletak di desa Sukolilo Barat, Kecamatan Labang, kabupaten Bangkalan. Di sisi Surabaya, ujung jembatan terletak pada daerah dataran rendah dengan ketinggian antara 0-3 meter di atas permukaan laut dan kemiringan 0-2%, dan kondisi lahan pasang surut.
Di sisi Madura, ujung jembatan berada pada daerah perbukitan dengan dengan ketinggian 2-17 meter di atas permukaan laut yang merupakan perbukitan dengan kemiringan 2-15%. Titik awal centerline jembatan di sisi Surabaya terletak pada koordinat 7° 12′ 28,72″ LS dan 112° 46′ 40,47″ BT dan titik awal di sisi Madura terletak pada koordinat 7° 09′ 31,82″ LS dan 112º 46’52,10″ BT. Azimuth Jembatan sebesar 3° 46′ 23″.

  1. Kondisi Penyeberangan yang Padat

Satu-satunya akses dari Surabaya ke Pulau Madura dan sebaliknya adalah menggunakan penyeberangan kapal feri Perak-Kamal. Kondisinya saat ini sudah sangat padat. Jumlah armada kapal feri yang digunakan sebanyak 18 buah, yang rata-rata usianya juga sudah uzur. Feri-feri tersebut dikelola enam perusahaan, melalui tiga dermaga di masing-masing pelabuhan. Dengan jumlah feri dan penyeberang yang tak berimbang, menyebabkan waktu tunggu panjang. Dari survei yang dilakukan didapat volume lalu lintas feri per arah per hari di tahun 2002 adalah 315 buah kendaraan ringan, 1036 buah truk Kecil, 324 buah truk besar, 260 buah Bus dan 8128 buah sepeda motor.

Kapasitas feri yang tersedia tersebut sudah jenuh yang diindikasikan dengan waktu tunggu rata-rata kendaraan yang terjadi di pelabuhan Ujung maupun Kamal adalah 30 menit. Kecuali untuk jenis sepeda motor yang lebih leluasa menembus antrean. Sedangkan waktu yang digunakan untuk menaikkan penumpang dari pelabuhan ke atas feri selama 15 menit. Waktu tempuh yang diperlukan untuk penyeberangan 30 menit, dan waktu untuk menurunkan.penumpang 15 menit. Total waktu dibutuhkan sekitar 60 menit atau satu jam. Waktu ini akan semakin panjang ketika akhir pekan atau musim liburan. Menjelang Lebaran dan Hari Besar Islam malah sering tak terkendali. Budaya “toron” (pulang kampung) bagi masyarakat Madura seakan menu wajib bagi mereka. Akibatnya, peningkatan mobilitas manusia dan barang tak dapat terhindarkan. Di lain segi kapasitas feri tidak bisa ditambah karena dapat mengganggu alur pelayaran yang ada. Keberadaan Jembatan Madura diperkirakan dapat mengurangi waktu tempuh sebesar 60 menit untuk kendaraan yang berasal dan menuju Kec. Kamal, Socah, dan Bangkalan, 110 menit untuk kendaraan yang tidak berasal dan menuju Kec. Kamal, Socah, dan Bangkalan.  Pembangunan Jembatan Suramadu tidak hanya sekedar membangun jembatannya saja tetapi yang lebih penting adalah meningkatkan perekonomian Madura yang tertinggal dibandingkan dengan daerah lain di Jawa Timur. Pembangunan Jembatan Suramadu tidak hanya sekedar membangun jembatannya saja tetapi yang lebih penting adalah meningkatkan perekonomian Madura yang tertinggal dibandingkan dengan daerah lain di Jawa Timur.

  1. Manfaat Jembatan Suramadu

Dalam review studi kelayakan Jembatan Surabaya-Madura tahun 2002, disebutkan ada beberapa pertimbangan mengenai dampak dan manfaat dari keberadaan Jembatan Suramadu. Di antaranya adalah:

  • Manfaat Langsung (Primary Benefit)

Manfaat langsung dari Jembatan Suramadu adalah meningkatnya kelancaran arus lalu lintas atau angkutan barang dan orang. Dengan semakin lancarnya arus lalu lintas berarti menghemat waktu dan biaya. Manfaat selanjutnya adalah merangsang tumbuhnya aktivitas perekonomian. Manfaat langsung lainnya yang dapat diperhitungkan adalah nilai penerimaan dari tarif tol yang diberlakukan. Transportasi barang dan orang yang semakin meningkat, akan meningkatkan penerimaan dari tarif tol.

  • Manfaat Tidak Langsung (Secondary Benefit)

Manfaat tidak langsung atau manfaat sekunder adalah multiplier effect dari Jembatan Suramadu. Ini merupakan dinamika yang timbul dan merupakan pengaruh sekunder (secondary effect), antara lain: Meningkatnya jumlah penduduk akan merangsang naiknya permintaan barang dan jasa. Selanjutnya akan merangsang meningkatnya kegiatan perekonomian, berkembangnya usaha di sektor pertanian, industri, perdagangan, jasa dan meningkatnya arus barang masuk ke Pulau Madura.

Meningkatnya kebutuhan untuk kawasan pemukiman dan infrastruktur Meningkatkan PDRB dan kesejahteraan masyarakat. Di Madura, umumnya kegiatan ekonomi masih bertumpu pada sektor pertanian primer (tanaman pangan, peternakan, perikanan, perkebunan dan kehutanan). Artinya pertanian atau sektor tradisional menjadi sektor andalan yang nampak dari perolehan PDRB terbesar dibandingkan sektor lain. Sektor lainnya adalah pertambangan dan penggalian, industri pengolahan, listrik, gas, air bersih, bangunan, perdagangan, hotel, restoran, angkutan, pos, komunikasi, keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan

3.2. DAMPAK JEMBATAN SURAMADU

  1. Jembatan Suramadu dan Pertumbuhan PDRB

Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto yang terjadi pada 4 (empat) kabupaten di wilayah Madura dapat dijelaskan: Dari data-data pada tabel Dampak Jembatan Suramadu terhadap Pertumbuhan PDRB di 4 Kabupaten di Madura, dapat dijelaskan bahwa Kabupaten Bangkalan nilai pertumbuhan PDRB-nya paling besar di antara kabupaten-kabupaten di Madura. Hal tersebut terjadi karena Bangkalan merupakan daerah yang paling menikmati keberadaan jembatan Suramadu. Apabila dilihat dari pertumbuhan PDRB dapat disimpulkan bahwa makin dekat dititik/ letak jembatan Suramadu akan semakin menunjukkan perubahan yang cepat akibat meningkatnya aktivitas ekonomi.

Peningkatan PDRB Kabupaten Bangkalan yang besar menunjukkan bahwa dampak jembatan Suramadu akan dapat mengembangkan sistem perekonomian yang ada, baik yang sudah berkembang maupun yang potensial untuk dikembangkan.

  1. Jembatan Suramadu dan Pertumbuhan Penduduk

Semakin lancarnya transportasi akan menimbulkan dampak pergerakan orang maupun barang. Sebelum dibangunnya Jembatan Suramadu, secara berturut-turut kabupaten yang terbanyak penduduknya adalah Sumenep, Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan. Ternyata Kabupaten Bangkalan merupakan kabupaten yang menerima kelimpahan penduduk paling tinggi dibanding 3 kabupaten lainnya. Pada tahun 2035 atau setelah 30 tahun dibangunnya Jembatan Suramadu, maka jumlah penduduk di Kabupaten Bangkalan berjumlah 2,79 juta jiwa atau hampir dua kali lipat (98,98%) dibanding pertumbuhannya tanpa jembatan (1,40 juta jiwa). Dalam keadaan tersebut, tingkat pertumbuhan rata-rata per tahun berkisar antara 2,02% – 3,16%.

Di Kabupaten Pamekasan, Sumenep, dan Sampang, tingkat pertumbuhan rata-rata per tahun secara berturut-turut masing-masing berkisar antara 0,71%-0,51% atau dengan pertumbuhan yang cenderung menurun, 0,66%-1,45% dan 0,44%-0,50%. Jika jumlah penduduk dibandingkan dengan dan tanpa Jembatan Suramadu maka jumlah penduduk rata-rata per tahun di Bangkalan akan bertambah sebanyak 59,30%, Pamekasan (23,42%), Sumenep (18,65%), dan Sampang (12,62%).

  1. Jembatan Suramadu dan Pertumbuhan Income per Kapita

Semakin lancarnya transportasi ternyata akan meningkatkan kegiatan ekonomi yang selanjutnya akan meningkatkan pertumbuhan. Income per kapita merupakan salah satu indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat. Sebelum dibangunnya Jembatan Suramadu, secara berturut-turut kabupaten yang tertinggi income per kapitanya adalah Kabupaten Bangkalan, Sumenep, Sampang, dan Pamekasan Jika income per kapita dibandingkan dalam keadaan dengan dan tanpa Jembatan Suramadu, maka income per kapita rata-rata per tahun di Bangkalan adalah akan bertambah sebanyak 93,63%, Pamekasan (48.68%). Sampang (42,57%) dan Sumenep (20,03%). Sesudah dibangunnya Jembatan Suramadu, secara berturut-turut kabupaten yang tertinggi income per kapitanya adalah Kabupaten Bangkalan, Sumenep, Pamekasan, dan Sampang. Tampaknya respon ekonomi Bangkalan tetap lebih kuat dibanding tiga kabupaten lainnya.

  1. Jembatan Suramadu dan Pertumbuhan Kawasan Permukiman

Semakin lancarnya transportasi juga menimbulkan dampak pada pertumbuhan kawasan pemukiman. Sebelum dibangunnya income per kapita. Jembatan Suramadu, secara berturut-turut kabupaten yang terluas kawasan pemukimannya adalah Kabupaten Sumenep, Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan. Setelah dibangunnya Jembatan Suramadu ternyata Kabupaten Sumenep merupakan kabupaten yang memiliki kawasan pemukiman terluas dibanding 3 kabupaten lainnya. Akan tetapi kalau melihat perbandingannya terhadap luas areal lahan yang tersedia, Kabupaten Bangkalan yang mengalami pertumbuhan kawasan pemukiman lebih pesat dibandingkan dengan 3 kabupaten lainnya.

  1. Jembatan Suramadu dan Petani Tembakau Madura

Mayoritas penduduk di Pulau Madura, berada di sektor pertanian. Lahan pertanian sawah beririgasi teknis tidak sampai 10 persen dari total lahan. Kalaulah ada sawah termasuk kategori sawah tadah hujan. Mencermati daerah di Kabupaten Sampang, misalnya, yang sekitar 80 persen penduduknya petani, sama sekali tidak ada lahan irigasi teknis. Pertanian di Madura adalah lahan kering atau tegalan dengan dominasi tanaman tembakau dan jagung yang dibudidayakan secara subsistem yaitu produksi dan konsumsi tidak dipisahkan oleh pasar. Ada sebuah pengakuan yang tulus dari seorang warga, Sampai sekarang makanan pokok mayoritas masyarakat Madura itu, ya, jagung. Kalau ada yang bilang tidak lagi makan jagung itu hanya pernyataan gengsi orang Madura modern di kota-kota saja.

Begitulah gambaran secara umum yang bisa jadi bahan pemikiran untuk ke depan. Ada harapan akan kemajuan-kemajuan pembangunan pertanian di masa depan. Di Jawa Timur secara umum, titik berat pembangunan kita diarahkan pada kemajuan pertanian agar menjadi tangguh.

Kini saatnya kita mempersiapkan masyarakat Madura menghadapi investor dan segala dampak baik dan buruk pasca-pembangunan Jembatan Suramadu (Surabaya-Madura) selesai dalam pengerjaannya. Pada tahun 2009 adalah pintu masuk dimulainya industrialisasi. Pulau Madura secara ekonomis menjadi bagian dari Pulau Jawa. Investasi di Madura sama (lebih) ekonomis dengan investasi di Surabaya. Harga tanah di Madura akan sama dengan di Surabaya. Pembangunan pabrik dan kantor akan lebih murah di Bangkalan dibandingkan dengan Gresik, Lamongan, Sidoarjo maupun Mojokerto.

Meski sangat tertinggal, masyarakat Madura sesungguhnya memiliki potensi luar biasa dalam masa mendatang. Dengan adanya Suramadu, Madura akan dengan mudah dijangkau dari Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia. Dengan demikian, semestinya kata kunci dari mengatasi ketertinggalan adalah kepedulian. Generasi muda di Madura saatnya dilatih dan diberikan pendidikan dan pengetahuan yang terfokus pada sektor pelayanan. Sebab, sektor inilah yang nantinya dibutuhkan lebih awal. Siapkan kekuatan mulai dari sekarang.

KESIMPULAN

Tahun 2009 adalah pintu masuk dimulainya industrialisasi antara madura dengan surabaya, dengan adanya Jembatan Suramadu yang suda di resmikan. Pulau Madura secara ekonomis menjadi bagian dari Pulau Jawa. Investasi di Madura sama (lebih) ekonomis dengan investasi di Surabaya. Harga tanah di Madura akan sama dengan di Surabaya. Pembangunan pabrik dan kantor akan lebih murah di Bangkalan dibandingkan dengan Gresik, Lamongan, Sidoarjo maupun Mojokerto. Dengan demikian, Pulau Madura akan menjadi sasaran investasi pengusaha besar dan investor asing. Dengan tenaga kerja yang masih relatif murah, lahan yang masih luas, sumberdaya alam yang menantang, infrastruktur yang sangat mendukung (pelabuhan peti kemas akan disiapkan di daerah Tanjung Bumi, Bangkalan), maka dalam waktu singkat tidak bisa dicegah adanya hotel bintang lima, cafe, diskotik, spa, atau tempat hiburan lain yang akan dibangun di Madura.

Kesempatan ekonomi lain yang terisolasi telah mengakibatkan pengangguran dan kemiskinan dan ketertinggalan. Dengan demikian, masyarakat Madura meski masih sangat tertinggal, tapi memiliki potensi luar biasa dalam masa mendatang. Dengan adanya Suramadu, Madura akan dengan mudah dijangkau dari Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia. Dengan demikian, semestinya kata kunci dari mengatasi ketertinggalan adalah kepedulian. Yang paling berperan dalam hal ini untuk tahap awal adalah pemerintah daerah, tokoh, dan politisi. Pemerintah harus segera bergerak untuk membuat sistem pelatihan yang berbasis pelayanan, balai latihan kerja segera kembali dioptimalkan. Siapkan segera putra putri Madura untuk dilatih dan diberikan pendidikan dan pengetahuan yang terfokus pada sektor pelayanan. Sebab, sektor inilah yang nantinya dibutuhkan lebih awal. Seluruh kabupaten harus bersatu padu. Pemberdayaan masyarakat dan fasilitas kepada rakyat jangan bicara untung-rugi. Rakyat adalah pemegang saham

Kelemahan yang masih belum ditangani adalah pendidikan kewirausahaan (entreprenuer), karena masyoritas rakyat Madura masih lemah dalam berbisnis. Petani tidak ditempatkan sebagai pengusaha, tapi ditempatkan sebagai buruh yang berbuat sesuatu untuk pengusaha. Pemikiran seperti ini harus segera diubah. Jadikan, petani itu sebagai pengusaha pertanian, sehingga dapat duduk sejajar dengan para tengkulak dan calon pembeli. Caranya? Lakukan bisnis dengan petani. Caranya, menyediakan kebutuhan pertanian dan membeli hasilnya dengan cara wajar. Itu saja sudah cukup. Sedangkan di tingkat pedagang, pengusaha kecil dan pengrajin harus disediakan informasi perdagangan dan kerangka penjaminan dengan pihak perbankan. Sehingga para pengusaha Madura dengan mudah dapat berhubungan dengan perbankan dalam hal akses permodalan maupun fasilitas transaksi perdagangan antarpulau serta informasi lintas kabupaten sebagai akses mendapatkan proyek dan bahan-baku untuk dibisniskan. Masyarakat Madura harus siap dengan di bukanya jembatan suramadu entah itu baik atupun buruk.

Daftar Pustaka

  1. Zaien, M.Muhri, 2007. Sejarah Tembakau Madura. Http://Www/Google/Sejarah tembakau madura. tanggal download. 18 Juni 2009.
  1. Azis, Abdul. 2009. Kesulitan Petani Madura. Http://Www/Google/Kesulitan petani madura. Tanggal download. 18 Juni 2009.
  1. Azis Abdul, 2009. Kesulitan Petani Madura. Http://Www/Google/Kesulitan Petani Madura. Tanggal download 18. Juni 2009.
  1. Fadiluddin Muh. 2009. Dampak Adanya Jembatan Suramadu Terhadap Petani Tembakau. Http://Www/Google Dampak Adanya Jembatan Suramadu Terhadap Petani Tembakau.. Tanggal download 18. Juni2009.
  1. Qosasi Achsanul 2009. Radarmaduranews. Http://radarmaduranews.com/ Posted by kabarmadura On Monday. Tanggal download 18. Juni 2009.
  1. MSc Ismail Ir A.G 2009. Nakhoda Suramadu. Http://Www/Google/ Nakhoda Suramadu. Tanggal download 18. Juni 2009.
  1. Myzavier 2009. Tataniaga Petani Tembakau madura. Http://Www/Google/ Tataniaga  Petani Tembakau madura.  Tanggal download. 18. Juni 2009.
  1. Sulistiyo Joko 2009. Http://Www/Google/ Tanggal download 18. Juni 2009.
  1. Suwarso/A.S. Murdiyati/Anik Herawati/Gembong Dalmadiyo/ Joko Hartono/ Slamet / K. Achmad Farid 2009. Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat.  Http://Www/Google/Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat. Tanggal download 18. Juni 2009.
  1. Fauzan Muhammad 2009. Jembatan Suramadu Membawa Masuknya Industrialisasi. Http://Www/Google/ Jembatan Suramadu Membawa Masuknya Industrialisasi. Jaka Permana Tanggal download 18. Juni 2009.
  1. Parawansa, Khofifah Indar 2009. Madura, Menuju Gerbang Kemajuan. Http://Www/Google/ Madura, Menuju Gerbang Kemajuan. Tanggal download 18. Juni 2009.
About these ads

Komentar ditutup.