ANALISIS TANAMAN (KDELAI)

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan Puji dan Syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, yang telah memberikan kemampuan kepada kita untuk merangkai makala tentang ” Analisis Tanaman Kedelai” yang berisi tentang sisitim budidaya kedelai, paska panen kedelai, pemasaran kedelai, dan analisis usaha kedelai.

Perhatian khusus telah diberikan pada tanaman kedelai sebagai tanggapan terhadap makin bergantungnya Indonesia pada impor kedelai yang meningkat secara mencolok dalam 5 tahun terakhir. Impor meningkat tajam dari 360.000 jt dalam tahun 1981 menjadi sekitar 500.000 jt pada tahun 1983. Ini disebabkan oleh adanya stagnasi produksi kedelai sementara konsumsi terus meningkat. Pertumbuhan produksi yang lamban itu sebagian mungkin disebabkan oleh lebih dicurahkannya perhatian pada produksi beras yang merupakan tanaman pangan pokok.

Kedelai mempunyai potensi yang amat besar sebagai sumber utama protein bagi masyarakat Indonesia. Sebagai sumber protein yang tidak mahal, kedelai telah lama dikenal dan dipakai dalam beragam produk makanan, seperti tahu, tempe, tauco, dan kecap. Konsumsi kedelai menyediakan sama banyak, kalau tidak lebih banyak, protein dan kalori dibandingkan dengan produk-produk hewani.

Neraca sumber pangan utama (1985)

Dalam tahun 1978, hasil tanaman sumber nabati telah memberikan pada tiap orang tiap hari 42,9 g protein dan 43,8 g lemak; di antaranya, kedelai telah menyumbangkan 4,66 g protein dan 1,35 g lemak. Di tahun 1985, kedelai memberikan 6,16 g protein dan 3,19 g lemak pada setiap orang per hari, yang merupakan suatu peningkatan nyata. Pada periode itu, tanaman masih dominan sebagai sumber nabati protein dan lemak.

PENDAHULUAN

Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki sumberdaya alam berupa lahan yang relatif cukup luas dan subur. Dengan iklim, suhu dan kelembaban yang cocok untuk kebutuhan pertumbuhan tanaman pangan pokok, maka hampir seluruh tanaman pangan pokok tersebut (biji-bijian, umbi-umbian dan kacang-kacangan asli Indonesia) dapat tumbuh dengan relatif baik. Salah satu jenis tanaman pangan yang sangat dibutuhkan oleh sebagian besar penduduk Indonesia adalah tanaman kedelai.

Kedelai merupakan salah satu mata dagangan yang pasokannya di Indonesia semakin cenderung tidak dapat dipenuhi dari hasil produksi dalam negeri sendiri. Sekalipun dapat ditanam dengan cara yang paling sederhana sekalipun, produktivitas dan produksinya dalam negeri hampir tidak mungkin dapat memenuhi permintaan yang semakin meningkat.

Oleh karena itu, dalam dekade terakhir, untuk dapat memenuhi permintaan nasional yang cenderung terus meningkat, untuk tahun 1989 impor kedelainya masih di bawah 400.000 ton. Sedangkan pada tahun 1996, impor melonjak menjadi mendekati 800.000 ton, suatu peningkatan sebesar 100%.

Besarnya angka impor tersebut merupakan salah satu indikator betapa besar kebutuhan kedelai untuk memenuhi kebutuhan penduduk. Kegunaan kedelai untuk memenuhi kebutuhan tersebut adalah untuk memasok kebutuhan pokok berbagai jenis produk olahan.

Dengan memahami betapa besarnya kebutuhan kedelai untuk pasokan industri yang menghasilkan bahan pangan bagi sebagian besar penduduk Indonesia tersebut di satu sisi, sedangkan disisi lain impor cenderung meningkat, maka dalam kondisi perekonomian seperti saat-saat ini, berbagai upaya yang dapat mengarah kepada memproduksikan kedelai dalam negeri secara optimal agar negara dapat memperkecil kedelai impor, merupakan momentum yang teapt untuk menggerakan masyarakat apakah dari kalangan perbankan, perusahaan besar selaku mitra, kalangan petani, instansi terkait, dan instansi lainnya, untuk menyatu dalam suatu pelaksanaan proyek dalam rangka meningkatkan produksi kedelai dalam negeri.

Dalam kehidupan masyarakat kita, kedelai telah dikenal sejak lama sebagai salah satu tanaman sumber protein nabati dengan kandungan 39% – 41% yang diolah menjadi bahan makanan, minuman serta penyedap cita rasa makanan, misalnya yang sudah sangat terkenal adalah tempe, kecap, tauco dan tauge. Bahkan diolah secara modern menjadi susu dan minuman sari kedelai yang dikemas dalam karton khusus atau botolan. Selain itu kedelai juga berperan penting dalam beberapa kegiatan industri hingga peternakan.

Sebagai bahan makanan kedelai sangat berkhasiat bagi pertumbuhan dan menjaga kondisi sel-sel tubuh. Kedelai banyak mengandung unsur dan zat-zat makanan penting seperti protein, lemak, karbohidrat dan sebagainya. Selain bijinya, dari tanaman kedelai ini beberapa bagian dari tanaman juga berguna untuk usaha peternakan, misalnya dari daun dan batangnya dapat digunakan untuk makanan ternak dan pupuk hijau.

Sedangkan dari kacang kedelainya, selain untuk bahan baku seperti telah disebutkan di atas, juga dapat dikembangkan beberapa cabang yang dapat diolah lebih lanjut. Untuk cabang “protein kedelai” dapat diolah menjadi bahan industri makanan (seperti susu, vetsin, kue, dll) dan industri non-makanan (seperti kertas, cat air, tinta cetak dll).

Selanjutnya dari cabang (minyak kedelai) dapat digunakan sebagai bahan Gliserida (seperti minyak goreng, margarin, tinta, pernis, dll) dan sebagai bahan Lecithin (seperti margarine, insektisida, plastik, industri farmasi dll).

Dengan demikian, tampak bahwa tanaman kedelai memiliki manfaat ekonomis yang luas dan strategis, sekaligus berkaitan erat bagi pengembangan industri hilir. Oleh karena itu, dapat dimengerti apabila kebutuhan kedelai di dalam negeri sangat besar, bahkan untuk memenuhi permintaan ini dati tahun ke tahun impor kedelai cenderung meningkat.

Selain impor meningkat karena meningkatnya permintaan di dalam negeri, ternyata produksi kedelai Indonesia juga masih relatif sangat rendah. Rendahnya produksi dalam negeri diakibatkan dari produktivitasnya yang ren-dah pula, yakni hanya berkisar 1-1,5 ton per Ha. Hal ini disadari merupakan suatu akibat dari cara budidayanya yang belum intensif, serta faktor internal petani yang belum menguasai peramalan produksi dan penguasaan informasi pasar.

BAB . I

SYSTEM BUDIDAYA KEDELAI

Secara teknis upaya peningkatan produksi dan produktivitas tanaman kedelai sudah tentu harus mengubah pola tanam yang belum intensif menjadi pola tanam intensif. Hal tersebut dilaksanakan dengan cara lebih memantapkan penataan yang meliputi perbaikan serta penyempurnaan dalam penerapan teknologi pada setiap siklus produksi, yang dimulai dari :

  1. Proses persiapan dan pembuatan serta penyediaan pembenihan kedelai yang unggul.
  2. Persiapan lahan budidaya.
  3. Penerapan teknologi penanaman.
  4. Pemeliharaan tanaman.
  5. Proses pemanenan.
  6. Proses penanganan hasil.
  7. Distribusi dan pemasaran hasil.

PEDOMAN TEKNIS

SYARAT TUMBUH

Tanaman dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah asal drainase (tata air) dan aerasi (tata udara) tanah cukup baik, curah hujan 100-400 mm/bulan, suhu udara 230C – 300C, kelembaban 60% – 70%, pH tanah 5,8 – 7 dan ketinggian kurang dari 600 m dpl.

  1. Tanah
    • Tanaman kedele dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah dengan drainase dan aerasi tanah yang cukup baik serta air yang cukup selama pertumbuhan tanaman.
    • Tanaman kedele dapat tumbuh baik pada tanah alluvial, regosol, grumosol, latosol atau andosol. Pada tanah yang kurang subur (miskin unsur hara) dan jenis tanah podsolik merah-kuning, perlu diberi pupuk organik dan pengapuran.
  2. Iklim
    Kedele dapat tumbuh subur pada :

    • curah hujan optimal 100-200 mm/bulan.
    • Temperatur 25-27 derajat Celcius dengan penyinaran penuh minimal 10 jam/hari.
    • Tinggi tempat dari permukaan laut 0-900 m, dengan ketinggian optimal sekitar 600 m.
  3. Air
    Curah hujan yang cukup selama pertumbuhan dan berkurang saat pembungaan dan menjelang pemasakan biji akan meningkatkan hasil kedele.

PENGOLAHAN TANAH

  • Tanah dibajak, digaru dan diratakan
  • Sisa-sisa gulma dibenamkan
  • Buat saluran air dengan jarak sekitar 3-4 m
  • Tanah dikeringanginkan tiga minggu baru ditanami
  • Siramkan pupuk POC NASA yang telah dicampur air secara merata di atas bedengan dengan dosis ± 1 botol (500 cc) POC NASA diencerkan dengan air secukupnya untuk setiap 1000 m² (10 botol/ha). Hasil akan lebih bagus jika menggunakan SUPER NASA, cara penggunaannya sebagai berikut:
  • Alternatif 1 : 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.
  • Ø Alternatif 2 : setiap 1 gembor vol 10 lt diberi 1 peres sendok makan SUPER NASA untuk menyiram 5-10 meter bedengan.

PENANAMAN

  • Rendam benih dalam POC NASA dosis 2 cc / liter selama 0,5 jam dan dicampur Legin (Rhizobium ) untuk tanah yang belum pernah ditanami kedelai
  • Buat jarak tanam antar tugalan berukuran 30 x 20 cm, 25 x 25 cm atau 20 x 20 cm
  • Buat lubang tugal sedalam 5 cm dan masukkan biji 2-3 per lubang
  • Tutup benih dengan tanah gembur dan tanpa dipadatkan
  • Waktu tanam yang baik akhir musim hujan

PENJARANGAN & PENYULAMAN

Kedelai mulai tumbuh kira-kira umur 5-6 hari, benih yang tidak tumbuh diganti atau disulam dengan benih baru yang akan lebih baik jika dicampur Legin. Penyulaman sebaiknya sore hari.

PENYIANGAN

Penyiangan pertama umur 2-3 minggu, ke-2 pada saat tanaman selesai berbunga (sekitar 6 minggu setelah tanam). Penyiangan ke-2 ini dilakukan bersamaan dengan pemupukan ke-2.

PEMBUBUNAN

Pembubunan dilakukan dengan hati-hati dan tidak terlalu dalam agar tidak merusak perakaran tanaman. Luka pada akar akan menjadi tempat penyakit yang berbahaya.

PEMUPUKAN

Waktu

Dosis Pupuk       Makro (per ha)

Urea (kg)

SP-36 (kg)

KCl (kg)

2 Minggu Setelah Tanam

50

40

20

6 Minggu Setelah Tanam

30

20

40

Total

80kg

60kg

60kg

Conoh jenis dan dosis pupuk sebagai berikut

POC NASA diberikan 2 minggu sekali semenjak tanaman berumur 2 minggu, dengan cara disemprotkan (4 – 8 tutup POC NASA/tangki).
Kebutuhan total POC NASA untuk pemeliharaan 1-2 botol per 1000 m2 (10 – 20 botol/ha). Akan lebih bagus jika penggunaan POC NASA ditambahkan HORMONIK (3 – 4 tutup POC NASA + 1 tutup HORMONIK/tangki). Pada saat tanaman berbunga tidak dilakukan penyemprotan, karena dapat mengganggu penyerbukan, akan lebih aman jika disiramkan.

PENGAIRAN DAN PENYIRAMAN

Kedelai menghendaki kondisi tanah yang lembab tetapi tidak becek. Kondisi seperti ini dibutuhkan sejak benih ditanam hingga pengisian polong. Saat menjelang panen, tanah sebaiknya dalam keadaan kering.

PENGELOLAAN HAMA DAN PENYAKIT

1. Aphis glycine

Kutu ini dapat dapat menularkan virus SMV (Soyabean Mosaik Virus). Menyerang pada awal pertumbuhan dan masa pertumbuhan bunga dan polong. Gejala: layu, pertumbuhannya terhambat. Pengendalian: (1) Jangan tanam tanaman inang seperti: terung-terungan, kapas-kapasan atau kacang-kacangan; (2) buang bagian tanaman terserang dan bakar, (3) gunakan musuh alami (predator maupun parasit); (4) semprot Natural BVR atau PESTONA dilakukan pada permukaan daun bagian bawah.

2. Kumbang daun tembukur (Phaedonia inclusa)

Bertubuh kecil, hitam bergaris kuning. Bertelur pada permukaan daun. Gejala: larva dan kumbang memakan daun, bunga, pucuk, polong muda, bahkan seluruh tanaman. Pengendalian: penyemprotan PESTONA

3. Ulat polong (Ettiela zinchenella)

Gejala: pada buah terdapat lubang kecil. Waktu buah masih hijau, polong bagian luar berubah warna, di dalam polong terdapat ulat gemuk hijau dan kotorannya. Pengendalian : (1) tanam tepat waktu.

4. Kepik polong (Riptortis lincearis)

Gejala: polong bercak-bercak hitam dan menjadi hampa.

5. Lalat kacang (Ophiomyia phaseoli)

Menyerang tanaman muda yang baru tumbuh. Pengendalian : Saat benih ditanam, tanah diberi POC NASA, kemudian setelah benih ditanam, tanah ditutup dengan jerami . Satu minggu setelah benih menjadi kecambah dilakukan penyemprotan dengan PESTONA. Penyemprotan diulangi pada waktu kedelai berumur 1 bulan.

6. Kepik hijau (Nezara viridula)

Pagi hari berada di atas daun, saat matahari bersinar turun ke polong, memakan polong dan bertelur. Umur kepik dari telur hingga dewasa antara 1 sampai 6 bulan. Gejala: polong dan biji mengempis serta kering. Biji bagian dalam atau kulit polong berbintik coklat.

7. Ulat grayak (Spodoptera litura)

Gejala : kerusakan pada daun, ulat hidup bergerombol, memakan daun, dan berpencar mencari rumpun lain. Pengendalian : (1) dengan cara sanitasi; (2) disemprotkan pada sore/malam hari (saat ulat menyerang tanaman) beberapa Natural VITURA.

8. Penyakit Layu Bakteri (Pseudomonas sp.)

Gejala : layu mendadak bila kelembaban terlalu tinggi dan jarak tanam rapat. Pengendalian : Varietas tahan layu, sanitasi kebun, dan pergiliran tanaman. Pengendalian : Pemberian Natural GLIO

9. Penyakit layu (Jamur tanah : Sclerotium Rolfsii)

Penyakit ini menyerang tanaman umur 2-3 minggu, saat udara lembab, dan tanaman berjarak tanam pendek. Gejala : daun sedikit demi sedikit layu, menguning. Penularan melalui tanah dan irigasi. Pengendalian; tanam varietas tahan dan tebarkan Natural GLIO di awal

10. Anthracnose (Colletotrichum glycine )

Gejala: daun dan polong bintik-bintik kecil berwarna hitam, daun yang paling rendah rontok, polong muda yang terserang hama menjadi kosong dan isi polong tua menjadi kerdil. Pengendalian : (1) perhatikan pola pergiliran tanam yang tepat; (2) Pencegahan di awal dengan Natural GLIO

11.Penyakit karat (Cendawan Phakospora phachyrizi)

Gejala: daun tampak bercak dan bintik coklat. Pengendalian: (1) cara menanam kedelai yang tahan terhadap penyakit; (2) semprotkan Natural GLIO + gula pasir

12. Busuk batang (Cendawan Phytium Sp)

Gejala : batang menguning kecoklat-coklatan dan basah, kemudian membusuk dan mati. Pengendalian : (1) memperbaiki drainase lahan; (2) Tebarkan Natural GLIO di awal

UPAYA PENINGKATAN HASIL PRODUKSI KEDELAI

Pertama

membantu pihak Usaha Kecil (UK) dalam bidang agribisnis tanaman kedelai agar mereka mampu memanfaatkan peluang dan sekaligus untuk memecahkan masalah yang dihadapi (kelemahan sistem, penerapan teknologi, distribusi/pemasaran) yang dilaksanakan melalui pengembangan kebijakan di sektor pemerintah, moneter dan sektor riil.

Kedua

mendorong Usaha Besar (UB) untuk turut aktif meningkatkan produksi kedelai dalam bentuk kemitraan dengan UK dalam Program Kemitraan Terpadu (PKT). Dengan pola hubungan kemitraan ini diharapkan ini diharapkan supaya kendala yang dihadapi UK dalam hal permodalan dan pemasaran serta teknologi dapat diatasi, sekaligus akan menjamin keberhasilan UK guna mendapatkan kredit perbankan.

Ketiga

mengarahkan pengambangan PKT tanaman kedelai ke kawasan-kawasan yang masih potensial di luar Jawa, khususnya daerah-daerah transmigrasi yang telah memiliki jaringan irigasi teknis, atau daerah transmigrasi yang memiliki lahan usaha II tetapi belum dimanfaatkan (lahan tidur). Dalam kaitan ini, pada daerah transmigrasi Kawasan Timur Indonesia (KTI) perlu didorong, dengan harapan agar dari lahan ini minimal mampu dipenuhi kebutuhan lokal di kawasan ini sehingga tidak lagi tergantung pada pasokan dari Jawa, bahkan diharpkan mampu berperan menyuplai kebutuhan nasional.

BAB. II

PASKA PANEN KEDELAI

Ada Lima Tahapan Penanganan Pasca Panen Kedele:

  1. Pengeringan Brangkasan :

Dapat dilakukan dengan dua cara : secara alami atau menggunakan para-para

  1. Pengeringan Secara Alami Brangkasan kedele dijemur langsung di bawah sinar matahari. Dapat dilakukan di atas lantai jemur atau menggunakan alas plastik, sebaiknya dipilih yang berwarna hitam/gelap untuk mempercepat pengeringan. Brangkasan kedele yang baru dipanen tidak boleh ditumpuk dalam timbunan besar, terutama pada musim hujan untuk mencegah kerusakan biji karena kelembaban yang tinggi.
  2. Pengeringan dengan para-para Cara ini dilakukan terutama bila panenan dilaksanakan waktu musim hujan:
      • Para-para dibuat bertingkat
      • Brangkasan kedele ditebar merata di atas para-para tersebut
      • Dari bawah dialirkan panas dari sekam, untuk menurunkan kadar air
      • Brangkasan dianggap cukup kering bila kadar airnya telah mencapai kurang lebih 18 %.
  1. Pembijian :

Dapat dilakukan dengan pemukul (digebug) atau dengan mesin (Threster)

    1. Digebug/Dipukul
      • Brangkasan yang cukup kering di atas lantai jemur/alas lain
      • Dipukul dengan karet ban dalam sepeda atau kain untuk menghindarkan terjadinya biji pecah
      • Biji yang terlepas dari polong ditampi
      • Biji dijemur sampai kadar air mencapai kurang lebih 14 %
      • Disimpan dalam wadah/karung yang bebas hama/penyakit
    2. Menggunakan alat mekanis (power thresher)
      • Power thresther yang biasa digunakan untuk padi dapat dimanfaatkan untuk kedele. Pada waktu perontokan dikurangi hingga mencapai kurang lebih 400 rpm.
      • Brangkasan kedele yang dirontokkan dengan alat ini hendaknya tidak terlalu basah
      • Kadar air yang tinggi dapat mengakibatkan biji rusak dan peralatan tidak dapat bekerja dengan baik
  1. Pembersihan :

Untuk membersihkan biji kedele yang telah dirontokkan dapat menggunakan alat sebagai berikut

    1. Ditampi Tampi terbuat dari anyaman bambu, berbentuk bulat dan diberi bingkai penguat.
    2. Menggunakan mesin pembersih (Winower) Mesin ini merupakan kombinasi antara ayakan dengan blowe
  1. Pengemasan dan Pengangkutan :
  1. Biji kedele yang telah bersih disimpan dalam wadah yang bebas hama dan penyakit seperti karung goni/plastik atau bakul
  2. Bila diangkut pada jarak jauh, hendaknya dipilih jenis wadah/kemasan yang kuat.
  1. Penyimpanan :
    1. Tempat penyimpanan harus teduh, kering dan bebas hama/penyakit
    2. Biji kedele yang akan disimpan sebaiknya mempunyai kadar air 9-14 %
    3. Khusus untuk biji yang akan dijadikan benih, kadar airnya harus 9-14%

BAB. III

PEMASARAN KEDELAI

Selama ini pemerintah banyak melakukan kebijakan proteksi di sektor komoditas pertanian, seperti beras, gula dan kedelai, yang bertujuan untuk mencapai swasembada. Akan tetapi, sebaiknya kebijakan tersebut juga perlu diikuti dengan program pemerintah yang jelas dan terukur. Peluang untuk meningkatkan produktivitas kedelai sulit untuk dapat dicapai, tanpa disertai penyediaan lahan khusus untuk upaya itu.

Apabila petani tetap melakukan pola tanam yang terus berganti, maka produktivitas sulit untuk bisa ditingkatkan. Dengan demikian, harus dilakukan program perluasan lahan tanaman kedelai untuk swasembada kedelai. Selain itu, juga perlu diadakan program budidaya bibit kedelai secara berkesinambungan yang langsung bisa dimanfaatkan oleh para petani. Rencana pengenaan tarif bea masuk (BM) kedelai sebesar 10-15 % akan meningkatkan harga jual kedelai yang gilirannya akan mengakibatkan kenaikan biaya produksi. Dengan demikian, pengusaha akan membagi adanya penambahan beban itu kepada konsumen dengan cara menaikkan harga jual produknya di tingkat eceran oleh karena itu pemerintah hendaknya mencari solusi terbaik sehingga harga kedelai impor bisa diproteksi tetapi juga tidak merugikan konsumen.

Aspek Permintaan

Di samping menimbulkan penurunan kinerja ekonomi, depresiasi nilai rupiah terhadap mata uang asing khususnya dollar AS memberikan berkah bagi produk-produk Indonesia berkandungan impor rendah untuk go internasional. Khususnya dalam memanfaatkan peningkatan daya saing atau paling tidak dalam rangka melakukan substitusi impor. Substitusi impor melalui peningkatan produksi dan produktivitas dalam negeri di segala subsektor pertanian, merupakan salah satu bentuk pemanfaatan ini, salah satu diantaranya untuk komoditi kacang kedelai.

Perkembangan Impor Kedelai

Untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya, Indonesia masih ha-rus terus melakukan impor yang rata-rata sebesar 40% dari kebutuhan kedelai nasional meningkat dari tahunke tahun, produksi dalam negeri masih relatif rendah dan memiliki kecenderungan terus menurun. Hal ini menyebabkan ketergantungan akan kedelai impor terus berlangsung dan memiliki kecenderungan terus meningkat. Seperti yang terlihat dalam Gambar 2, puncak impor tertinggi tercatat untuk tahun 1996 sebesar 743 ribu ton, suatu peningkatan impor sebesar 50% dari tahun sebelumnya (496 ribu ton). Sementara itu angka impor terendah selama kurun waktu tersebut terjadi pada tahun 1993 yaitu sebesar 700 ribu ton. Secara keseluruhan selama kurun waktu tersebut kecenderungan impor kedelai nasional menunjukkan peningkatan sebesar 8,59%.

Gambar 1. Total Impor Kedelai

Perkembangan Produksi Kedelai Nasional

Produksi kedelai nasional selama kurun waktu 6 tahun terakhir mengalami penurunan sebesar 5,2% (lihat Gambar 2.). Produksi kedelai tahun 1997 sebesar 1,3 juta ton, turun 11% dari tahun sebelumnya yang mencatat produksi sebesar 1,5 juta ton. Demikian pula pada tahun 1996 (1,5 juta ton) turun dari tahun 1995 (1,7 juta ton) sebesar 11%. Kondisi berbeda terjadi di tahun 1995 dengan peningkatan sebesar 7% dari periode sebelumnya.

Gambar 2.

Penurunan Produksi Kedelai Nasional

Laju penurunan produksi tersebut antara lain disebabkan oleh produktifitas lahan yang masih rendah, berkurangnya luas areal panen, gagalnya panen karena iklim yang tidak cocok untuk pertumbuhan, juga karena belum dikuasainya teknologi produksi yang maju oleh petani. Sebagai perbandingan produktifitas di negara-negara penghasil utama seperti Amerika Serikat dan Brazil berkisar 2 – 7 ton/ha.

Perkembangan Kebutuhan Kedelai Nasional

Kebutuhan nasional akan kacang kedelai dapat diturunkan dari penjum-lahan antara angka produksi nasional dan impor kedelai, yang secara tegas memperlihatkan peningkatan. Pendekatan lain dapat dilakukan dengan menggunakan angka konsumsi kedelai perkapita selama 5 repelita (Lihat Tabel 11.1). Tingkat konsumsi kedelai perkapita masyarakat Indonesia pada rata-rata tahun 1994 s/d 1996 telah menunjukkan angka 13,41 kg, mengalami peningkatan sebesar 9,98 kg bila dibandingkan pada rata-rata pelita 1. Secara keseluruhan peningkatan konsumsi perkapita kedelai dari pelita 1 hingga pelita 6 sebesar 25,51%. Peningkatan kebutuhan akan kedelai ini dapat dikaitkan dengan meningkatnya konsumsi masyarakat terhadap produk tahu dan tempe serta untuk pasokan industri kecap.

Tabel 1. Konsumsi Kedelai per Kapita

Rata-rata
Dalam Kurun Pelita
Jumlah
(Kg)
Perubahan
(%)
Pelita I

Pelita II

Pelita III

Pelita IV

Pelita V

Pelita VI

(1994 s/d 1995

3.43

3.94

4.37

7.74

11.55

13.41

-

15

11

11

49

16

Sumber ; Muhammad Amin, Statistik, BPS, 1995.

Peluang Pengembangan

Kondisi ekonomi nasional dewasa ini, dipastikan akan mempengaruhi pertumbuhan impor kedelai. Turunnya daya beli masyarakat sebagai akibat depresiasi rupiah sudah pasti akan menurunkan laju impor kedelai atau dengan kata lain harga kedelai impor akan semakin sulit terjangkau. Dilain pihak baiay produksi kedelai nasional juga akan meningkat dengan naiknya harga pupuk dan lain sebagainya, namun demikian kenaikan harga ini tidak akan setajam kenaikan harga kedelai impor. Ketergantungan Indonesia akan kacang kedelai impor terus meningkat dewasa ini, disebabkan antara lain oleh peningkatan konsumsi kedelai perkapita masyarakat Indonesia dan penurunan produktifitas kacang kedelai nasional. Bertolak dari kenyataan tersebut penggalakan budidaya kedelai tidak memiliki alasan untuk tidak dilaksanakan.

Dari data proyeksi kebutuhan dan produksi nasional (lihat Tabel 2) memperlihatkan kekurangan suplai sebesar 485.939 ton pada tahun 1998. Sedang untuk tahun 1999 kekurangan menurun menjadi 242.683 ton. Berdasarkan sumber yang sama terjadi kelebihan suplai sebesar 21.425 ton pada tahun 2000. Terhadap proyeksi tahun terkahir ini, kemungkinan yang akan terjadi dapat dipastikan adalah sebaliknya, dikarenakn berdasarkan data produksi kedelai nasional tahun 1997 yang hanya sebesar 1,35 juta ton, sementara impor kedelai setahun sebelumnya masih sebesar 743 ribu ton atau 54,78% dari produksi nasional. Tambahan lagi dengan kenyataan akan perkembangan tingkat konsumsi perkapita nasional yang meningkat 25,51% pertahun dan perkembangan harga kedelai nasional yang kini lebih murah dibandingkan kedelai impor.

Dari kajian data-data tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa prospek komoditi kedelai nasional sangat baik.

Tabel 2. Proyeksi Kebutuhan dan Produksi Kedelai Nasional Tahun 1998-2000

Tahun Kebutuhan A
(Ton)
Produksi B
(Ton)
Selisih
A – B
1998

1999

2000

2,361,497

2,463,398

2,570,923

1,875,558

2,221,303

2,592,348

485,939

242,683

(21,425)

Sumber: Repelita VI Ditjen TPH

Perkembangan Harga

Secara rata-rata harga kedelai nasional sejak tahun 1990 hingga tahun 1996 mengalami peningkatan yang tidak terlalu mencolok, yakni hanya meningkat sebesar 3,7%. Demikian pula halnya dengan harga kedelai impor pada kurun waktu yang sama hanya meningkat sebesar 7,33%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa harga komoditi kedelai ini termasuk sangat stabil.

Tidak lebih 4 bulan (Oktober 1997) sejak krisis moneter melanda Indonesia, harga seluruh barang dan jasa didalam negeri melambung jauh diatas flutuasi kewajarannya selama ini, tidak terkecuali untuk kacang kedelai. Data terakhir (Agustus 1998) di beberapa propinsi ama, harga kedelai lokal telah mencapai Rp. 2.300 /kg. Untuk kedelai impor dengan kurs Rp 10.000 saja, maka harganya telah menjadi paling sedikit Rp. 3.500/kg. Dengan demikian kedelai lokal kini memiliki keuntungan komparatif, walaupun harga pupuk dan pestisida naik, tapi kenaikan biaya produksi itu tidak sebesar kenaikan hasilnya.

Tabel 3. Perkembangan Harga Kedelai Domestik dan Import Tahun 1990 – 1996

Tahun Kedelai Domestik (Rp/kg) Kedelai Import (Rp/kg)
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
847
905
833
1.010
1.087
995
1.092
489.63
518.39
536.46
482.72
646.60
663.93
803.17

Sumber: Data Statistik Pertanian, DEPTANAnalisa keunggulan komparatif (DRCR) (lihat Tabel 4) yang dialkukan oleh para ahli memperkuat kenyataan ini. Penelitian dilakukan pada para petani koperator (budidaya sesuai anjuran teknologi produksi) dan petani non koperator (budidaya konvensional). Dengan kurs Rp. 2.500 / dollar AS, bagi petani non koperator memang lebih baik mengimpor kedelai, namun bagi petani koperator bertanam kedelai dengan kurs tersebutpun sudha menguntungkan. Kini dengan kurs Rupiah sebesar Rp. 5.000 terlebih dengan kurs Rp. 10.000 per dollar AS, bertanam kedelai baik oleh petani non koperator terlebih bagi petani koperator lebih menguntungkan dari pada melakuk impor.

Tabel. 4. Analisa Keunggulan Komparatif (DRCR) Usaha Tani Dengan Kurs Berbeda di Tiga Propinsi Pengembangan

Keterangan Nilai DRCR Kurs Rp. / US$
2.500 5.000 10.000
Jawa Barat
Non Koperator
Koperator

Jawa Tengah
Non Koperator
Koperator

Lampung
Non Koperator
Koperator

0.983
0.721

1.098
0.844

1.132
0.897

0.623
0.434

0.73
0.521

0.798
0.512

0.338
0.287

0.353
0.275

0.443
0.246

Sumber: Adnyana dan 1997 (diolah)

Keterangan :

DRCR : Domestic Resource Cost Ratio

DRCR < 1 : Memiliki keunggulan komparatif (mengimpor dalam Ratio negeri lebih menguntungkan dari pada impor)

DRCR > 1 : Tidak memiliki keunggulan komparatif (mengimpor lebih menguntungkan dari pada memproduksi dalam negeri)

TATA NIAGA DAN HARGA KESEPAKATAN

Dengan menggunakan pola kemitraan terpadu (PKT) antara bapak dan anak angkat, rantai tataniaga kedelai lokal dari mulai petani produsen sampai konsumen (industri pengguna) adalah sebagai berikut :

Gambar 3.

Tataniaga Kedelai Pola PKT PKT menjadikan jaringan distribusi kacang kedelai menjadi pendek disamping penyerapan hasil produksi terjamin kelangsungannya. Hasil panen anak angkat langsung diserap oleh bapak angkat untuk kemudian disalurkan kepada industri-industri pengguna. Manfaat lain dari pendeknya jaringan distribusi ini adalah pada pembentukan harga. Dengan sedikitnya pihak yang terlibat maka keuntungan yang diterima anak angkat menjadi semakin besar. Adapun penentuan harga itu sendiri merupakan kesepakatan antara anak dan bapak dengan memperhatikan kondisi pasar dan biaya produksi. Kesepakatan harga ini merupakan salah satu yang tertuang dalam nota kesepakatan.

BAB. IV

ANALISIS USAHA KEDELAI

Contoh Peluang Usaha Susu Kedelai

(Subkhan Fathoni, SE) Jujur saja awalnya saya merasa tidak doyan dengan susu kedelai yang saya beli pada pedagang keliling di pagi hari sebelum berangkat kerja. Rasanya memang asing dan mengejutkan. Agak Eneg dan langu. Tetapi semakin dirasakan semakin nikmat. Apalagi setelah meminumnya, badan saya terasa segar dan fit.

Bagi pembaca yang tertarik, silahkan mencoba untuk dijadikan sebagai usaha sampingan maupun usaha tambahan. Karena modalnya tidak besar. Susu Kedelai dapat ditambah rasa yang bervariasi, sehingga pembeli/konsumen akan lebih banyak warna pilihan dan tentunya akan menambah daya jual.

Resep1. Cara Membuat Susu Kedelai

  1. Kedelai dicuci sampai bersih, lalu direndam selama satu malam atau delapan jam dalam air panas. Air rendaman dibuang dan kedelai dicuci lalu tiriskan.
  2. Berikutnya kacang kedelai dihaluskan bersama air secukupnya menggunakan burr mill. Bubur encer disaring dengan kain kasa dan filtratnya merupakan susu kedelai mentah. Proses ini bias menggunakan mesin kami.
  3. Tambahkan air kira-kira 10 kali lipat dari susu kedelai mentah tadi dan aduk hingga campuran menjadi rata.
  4. Tambahkan gula pasir, daun pandan, garam pada air perasan tadi dan bubuhi sedikti perasan vanili atau moka atau sesuai selera.
  5. Masak sampai mendidih sambil diaduk-aduk menggunakan panci perebusan yang kami sediakan

Resep 2. Cara Membuat Susu Kedelai

Saya tidak suka susu sapi murni karena baunya amis. Kalaupun ada campuran rasa, yang saya suka cuman susu ultra rasa coklat. Itu saja. Merek lain kurang suka. Tapi beberapa tahun terakhir ini saya mulai menggemari susu kedelai. Karena suka dan bahan bakunya relatif murah, saya jadi tertarik mencoba membuat susu kedelai sendiri. Saya bertanyalah kesana-sini. Pada eksperimen-ekperimen sebelumnya kegagalan saya adalah ada endapan pada susu kedelai. Kadang susu masih terasa langu. Pernah juga waktu dimasak eh malah ada tahu di lapisan atas susu. Setelah beberapa kali gagal akhirnya saya memperoleh ramuan yang pas.

Bahan:

  • 1/2 gelas kedelaidua lembar daun pandan sebungkus vanili
  • 3 sendok makan gula pasir sedikit garam (kira-kira seujung sendok teh) sedikit maizena (kira-kira seujung sendok teh)
  • 4 gelas air (satu gelas untuk merendam kedelai dan sisanya untuk merebus kedelai)

Cara Membuat:

  • Rendam kedelai dengan segelas air selama semalam. Setelah itu tiriskan kedelai dan kupas kulit arinya.
  • Kedelai yang sudah dikupas kulit arinya tersebut dicampur dengan semua bahan.
  • Masak sehingga air mendidih.
  • Setelah mendidih adonan didinginkan. Blender semua bahan tersebut kecuali daun pandan.
  • Saring adonan dengan kain.
  • Susu kedelai siap disajikan.
  • Tambahkan es agar lebih nikmat.

Tips: Menyaring susu kedelai harus dengan kain. Kalau menyaringnya dengan saringan biasa maka serat kedelai masing bisa lolos melewati saringan.

Resep 3. Cara Membuat Susu Kedelai

Bahan-Bahan:

  1. Kacang Kedelai – 1 kg
  2. Gula pasir – sesuai selera
  3. Garam – secukupnya
  4. Daun Pandan – dua helai

Peralatan:

  1. Blender
  2. Kompor
  3. Panci
  4. Saringan kelapa (kain bersih)

Cara Pembuatan:

  1. Kedelai dicuci bersih lalu direndam di air bersih selama 6 – 9 jam, kira-kira sampai mengembang dan empuk. Gantilah airnya setiap 3 jam sekali.
  2. Setelah itu bilas dengan air bersih sampai bersih.
  3. Kemudian direbus sampai matang / agak empuk, tiriskan dan kemudian kupas kulitnya.
  4. Setelah agak dingin lalu diblender dengan perbandingan 8 liter air tiap 1 kg kedelai.
  5. Kemudian hasilnya disaring dengan saringan kelapa atau dengan kain yang bersih. Penyaringan dapat dilakukan beberapa kali agar susu yang dihasilkan lebih baik.
  6. Hasilnya berupa susu mentah kemudian direbus hingga mendidih sekali saja.
  7. Kecilkan api dan biarkan di atas api sampai kurang lebih 45 menit. Atau cukup sampai mengeluarkan asap tipis (tidak sampai mendidih).
  8. Sebelum mendidih tambahkan gula dan garam sesuai selera, juga masukkan daun pandan untuk penambah aroma.
  9. Setelah itu susu kedelai siap dihidangkan. Nikmat disantap hangat-hangat, segar bila sudah didinginkan.
  10. Susu kedelai bisa divariasikan rasa dan khasiatnya. Misalnya, bila untuk vitalitas dan stamina tubuh bisa ditambahkan madu dan serbuk ginseng saat memasaknya. Bila untuk ibu hamil dan menyusui bisa ditambahkah daun katuk. Begitulah, disesuaikan selera dan kebutuhan.

Bahan

  1. Kedelai 1 kg
  2. Air panas 8 liter
  3. Air dingin utk perendaman 3 liter
  4. Gula pasir 100-200 gram
  5. Panili 2 gram
  6. Coklat 15 gram
  7. Garam 15 gram

Alat

  1. Panci
  2. Penggiling batu
  3. Kain Saring atau kain blacu
  4. Tungku atau kompor

Cara Pembuatan:

  1. Bersihkan kedelai dari segala kotoran, kemudian cuci;
  2. Rebus kedelai yang telah bersih selama kira-kira 15 menit, lalu rendam dalam air bersih selama kira-kira 12 jam;
  3. Cuci sampai kulit arinya terkelupas. Hancurkan dengan penggiling dari batu;
  4. Campur kedelai yang sudah halus dengan air panas. Aduk-aduk campuran sampai rata;
  5. Saring campuran dengan kain saring, sehingga diperoleh larutan susu kedelai;
  6. Tambakan gula pasir, panili, coklat, dan garam ke dalam larutan susu, lalu aduk sampai rata dan panaskan hingga mendidih.

Diagram Alir Pembuatan Susu Kedelai :

Factor-Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Kedelai :

Fator konomi yang terutama menentukan permintaan adalah harga dan pendapatan, sedangkan faktor sosial diantaranya jumlah penduduk. Nicholson (1999) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan harga adalah harga barang itu sendiri dan harga barang lain yang merupakan barang substitusi atau barang komplementer dari komoditi itu sendiri, sedangkan pendapatan adalah besar kecilnya pendapatan rumah tangga. Perubahan dari harga dan pendapatan menyebabkan timbulnya kepekaan terhadap permintaan suatu komoditi. Derajat kepekaan atau elastisitas dari pendapatan akan menunjukkan status suatu barang antara barang mewah, barang normal atau barang inferior, sedangkan perubahan dari harga barang lain akan menunjukkan sifat kedua barang yang saling melengkapi (komplementer) atau saling menggantikan (substitusi).

Analisis Produksi Kedelai :

Produksi dan produktivitas komoditas kedelai yang mampu dihasilkan oleh masyarakat merupakan dasar acuan penting untuk mengambil keputusan apakah potensi yang tersedia mampu menopang usaha komoditas tersebut kedepan. Demikian juga bahwa situasi produksi dan tingkat kebutuhan secara nasional merupakan faktor determinan yang cukup kuat mempengaruhi keputusan untuk mendorong pengembangan dan peningkatan produksi di tingkat lokal. Puslitbang Sosek Pertanian tahun 2000 melakukan proyeksi penawaran dan permintaan kedelai nasional antara tahun 2002 sampai tahun 2010, di mana diperkirakan bahwa laju pertumbuhan penawaran mengalami pertumbuhan yang negatif sebesar – 0,8% per tahun, sementara permintaan mengalam pertumbuhan sebesar 2,3% per tahun (Tabel 2.4). Ini berarti bahwa terjadi kesenjangan yang cukup besar antara penawaran dan permintaan kedelai nasional, sehingga masih diperlukan kerja keras termasuk upaya mengembangkan jenis komoditas ini pada sentra produksi baru yang selama ini hanya terbatas di pulau Jawa.

Gambaran fenomena di atas pada hakekatnya merupakan tantangan yang perlu disikapi melalui upaya perluasan areal dan peningkatan produksi dan produktivitas terutama pada sentra-sentra produksi baik di Jawa maupun luar Jawa diharapkan dapat memberikan peran yang cukup signifikan dalam membantu pemenuhan produksi nasional. Akan tetapi fakta dan data memperlihatkan bahwa sampai tahun 2004, produksi kedelai hanya sebesar 1 ton yang dihasilkan dari areal yang sangat sempit yakni hanya 1 ha atau kurang lebih 0,04% dari total produksi kedelai, yang mana pada tahun yang sama telah mencapai 2.368 ton (Tabel 2.5). Fakta yang ada memberikan pemahaman bahwa kontribusi produksi komoditas ini sangatlah terbatas, di mana hal ini diduga karena animo masyarakat untuk mengembangkannya sangat rendah. Demikian juga bahwa untuk saat ini peluang pengembangan kedelai hanya sebagai satu jenis komoditas yang dapat diandalkan bagi peningkatan pendapatan masyarakat yang masih sulit dilaksanakan.

Analisis Pasar

Fenomena pasar komoditas kedelai nasional sangat ditentukan oleh kinerja produksi domestik dan kegiatan impor. Kinerja produksi yang dimaksud terutama ditunjukkan oleh kemampuan produksi pada sentra-sentra produksi nasional, sementara jumlah impor sangat ditentukan oleh tingkat permintaan domestik baik untuk berbagai kebutuhan baik konsumsi, benih dan industri. Data Departemen pertanian, Direktorat Jenderal Bina Bina Usahatani dan Pengolahan Hasil Pertanian bahwa sampai tahun 2001 secara nasional menunjukkan adanya disparitas neraca perdagangan kedelai dan hasil ikutan/olahannya. Tampak bahwa jumlah dan macam bentuk/produk ikutan/olahan kedelai yang diimpor lebih banyak dibanding ekspor yang hanya terbatas tepung kedelai. Antara tahun 1990 – 2001, laju impor masing-masing 6,8%/thn untuk kedelai kuning, 15,5% untuk kedelai hitam dan 25,1% untuk bungkil kedelai (Tabel 2.5). Tingginya impor merupakan penggambaran tentang ketidakcukupan produksi dalam negeri untuk mengimbangi permintaan yang terus meningkat. Permintaan dimaksud untuk pemenuhan kebutuhan konsumsi dan industri pengolahan bahan makanan dalam negeri (industri tahu/tempe), juga industri pakan ternak yang memanfaatkan kedelai sebagai bahan baku (bungkil kedelai).

Gambaran ketimpangan neraca perdagangan seperti yang ditampilkan pada Tabel 2.5 di atas, mengisyaratkan bahwa pemenuhan kebutuhan permintaan domestik masih terbuka apabila kita berharap untuk menghemat devisa akibat surplus impor yang terjadi. Untuk itu perluasan areal tanam dan areal panen yang disertai dengan peningkatan produktivitas hasil merupakan solusi yang dapat ditempuh kedepan. Akan tetapi bahwa peran kontribusi produksi kedelai di tingkat masyarakat diperkirakan akan menghadapi banyak kendala. Salah satu faktor yang diduga kuat mempengaruhi adalah faktor animo masyarakat untuk mengembangkan jenis komoditas ini, walaupun dari sisi penyerapan pasar regional dan nasional diperkirakan masih terbuka luas.

Aspek Lingkungan

Aspek lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan sosial dan ekonomi masyarakat yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi keputusan mengembangkan suatu jenis komoditas secara lebih baik. Mandasarkan pada gambaran dan situasi produksi kedelai di saat ini dapat dikatakan bahwa rancangan pengembangannya kedepan akan banyak menghadapi kendala. Hal ini disebabkan selain animo masyarakat juga terkait dengan ketersediaan areal yang saat ini tidak diprioritaskan untuk mengembangkan kedelai. Dengan demikian untuk mengaktualisasikan upaya mengembangkan kedelai masih diperlukan persiapan dan upaya penyuluhan yang lebih intensif dalam rangka pemasyarakatan pengembangan kedelai secara lebih menyeluruh.

Dari aspek ekonomi masyarakat, dapat dikatakan bahwa kendala yang masih dihadapi berhubungan dengan luas penguasaan dan pengusahaan lahan, serta penguasaan modal baik modal investasi maupun modal kerja. Fakta lapangan menunjukkan bahwa rataan penguasaan dan pengusahaan berbagai jenis komoditas hanya seluas 0,25 ha per RT petani. Situasi ini di tingkat lokal diatasi dengan menerapkan sistem bagi hasil antara pemilik lahan dengan petani yang miskin lahan. Mengacu pada aspek lingkungan sosial dan ekonomi masyarakat di atas, maka dapat dismpulkan bahwa upaya pengembangan komoditas kedelai dalam suatu system bisnis yang menguntungkan bagi masyarakat dan wilayah di kecamatan-kecamatan yang diperkirakan dapat dijadikan sebagai sentra produksi untuk pengembangkan secara lebih baik, misalnya melalui investasi, penyuluhan, dan perbaikan sistem budidaya yang ada.

Aspek Legalitas

Ditinjau dari aspek legal formal untuk pengurusan berbagai izin investasi dan pembukaan usaha budidaya atau pengembangan komoditas kedelai masyarakat bukan merupakan kendala yang berarti. Hal ini disebabkan telah tersedia berbagai perangkat aturan daerah berikut kemudahan pengurusan perizinannya. Secara ringkas berbagai bentuk perizinan yang menjadi acuan pengurusan terkait izin investasi masyarakat dapat diikuti pada Tabel 2.6. Dapat dijelaskan bahwa pada prinsipnya izin investasi yang menyertai keinginan untuk mengembangkan komoditas ini dalam suatu manajemen bisnis yang lebih menguntungkan, terkait langsung dengan berbagai peraturan yang bersifat nasional demikian juga berbagai peraturan daerah sebagai wujud desentralisasi termasuk di bidang investasi.

Peluang Usaha

Membahas mengenai peluang usaha suatu produk atau komoditas, pada hakekatnya dapat didekati dengan melakukan kajian terhadap prospek pengembangan dan peluang pemanfaatan produk jika ditinjau dalam konteks sebagai suatu usaha bisnis, maupun tingkat kepentingan komoditas tersebut baik kaitannya kedepan dan kebelakang. Syafaat, dkk (2005) melaporkan hasil analisisnya bahwa secara nasional diperkirakan permintaan akan meningkat sebesar 5,8% per tahun sebagai akibat meningkatnya pertumbuhan penduduk sebesar 1,8% per tahun, sementara pertumbuhan konsumsi sebesar 4,5% per kapita per tahun. Sementara itu secara aktual produksi kedelai nasional hanya meningkat sebesar 1,62% per tahun yang disumbang dari pertumbuhan produktivitas sebesar 1,77% sementara pertumbuhan luas areal tanam sebesar negative 0,14% per tahun. Dari gambaran situasi yang ada dapat disimpulkan bahwa masih tersedia peluang untung mengembangkan jenis komoditas ini terutama pada wilayah sentra produksi baru, dalam hal ini wilayah-wilayah di luar Jawa. Selanjutnya bahwa pengetahuan tentang peluang penggunaan produk merupakan cerminan untuk mengkaji peluang usaha jenis komoditas bersangkutan kedepan. Khusus komoditi kedelai, terlihat bahwa secara nasional memperlihatkan tingkat penggunaan yang negatif sebesar -0,8% per tahun untuk penggunaannya sebagai bahan pakan ternak, industri pangan/non pangan dan tercecer. Demikian juga bahwa ketersediaan untuk konsumsi penduduk mengalami pertumbuhan yang negatif sebesar – 2,18% (Tabel 3.2).

Rendahnya permintaan kedelai untuk digunakan sebagai bahan baku pakan, industri pangan/non-pangan demikian juga untuk konsumsi di satu sisi menyebabkan gairah berproduksi petani penghasil domestik semakin rendah, di sisi lain justru membuka peluang meningkatnya impor sebagai wujud subsitusi produksi yang terjadi. Kondisi ini jika secara terus menerus berlangsung justru akan semakin memperlemah keuangan negara sekaligus menciptakan ketergantungan yang terus menerus terhadap produk kedelai dari negara importir. Mensikapi situasi yang terjadi, seyogianya diperlukan berbagai upaya terobosan dengan mengalihkan ketergantungan impor kepada promosi ekspor melalui peningkatan luas areal tanam dan peningkatan produksi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kegiatan usaha dan atau pengembangan usaha kedelai dalam suatu manajemen bisnis masyarakat sebagai suatu sentra produksi alternatif bisa saja dipertimbangkan, asalkan dilakukan pengentasan terhadap berbagai faktor kendala baik yang bersifat teknis maupun sosial ekonomi. Kendala teknis dimaksud terkait erat dengan perluasan areal tanam, penyediaan sarana dan prasarana penunjang produksi secara lebih baik dan penerapan teknologi produksi yang menguntungkan. Sementara kendala sosial ekonomis seperti animo dan kesiapan masyarakat untuk bersedia mengembangkan jenis komoditasini, bisa saja dengan penerapan strategi penyuluhan yang kontinyu yang disertai dengan pengembangan demo plot secara nyata di lapangan.

BAB.V

KESIMPULAN

Berdasarkan pencarian data di internet tentang analisis tanaman kedelai dan pembahasan yang ada, kami tarik beberapa kesimpulan yaitu :

  1. Ketiadaan informasi yang spesifik mengenai sebaran areal dan jumlah produksi kedelai merupakan titik lemah dalam merencanakan usaha pengembangan di masa yang akan datang.
  1. Secara nasional masih tersedia peluang pengembangan komoditas kedelai yang ditandai dengan lebih tingginya volume dan nilai impor kedelai untuk pemenuhan berbagai kebutuhan dalam negeri. Hal ini disebabkan ketersediaan pasokan yang dihasilkan di dalam negeri (aspek suplai) belum mencukupi laju permintaan yang ada (aspek demand). Gambaran ini mengisyarakatkan bahwa pada hakekatnya upaya pengembangan sentra produksi kedelai yang baru di luar Jawa sebenarnya bisa saja dikembangkan.
  1. Kelemahan utama belum berkembangnya usaha budidaya dan pengembangan komoditas kedelai diduga terkait erat dengan rendahnya animo masyarakat untuk mengembangkan jenis komoditas ini akibat mahalnya biaya produksi, di samping penguasaan teknologi yang terbatas yang dapat merangsang mesyarakat untuk mengembangkannya.
  1. Gambaran fenomena dan rendahnya dukungan sarana dan prasarana penunjang produksi yang ada, menyebabkan untuk saat ini komoditi kedelai bukanlah salah satu komoditi yang unggul dan dapat dikembangkan secara masal dalam suatu sistim bisnis yang menguntungkan.
  1. Elastisitas permintaan kedelai untuk jangka pendek lebih besar (short run) dibanding dengan jangka panjang (long run), artinya dalam jangka pendek perubahan harga kedelai akan segera diikuti dengan perubahan permintaan akan tetapi untuk jangka penjang perubahan harga tidak segera diikuti oleh perubahan permintaan karena adanya proses penyesuaian.

Daftar Pustaka

Http://Www. Google. Sistim Budidaya Kedelai.Co.Id.

Http://Www. Google. Paska Panen Kedelai. Co. Id.

Http://Www. Google. Pemasaran Kedelai. Co. Id.

Http://Www. Google. Analisis Usaha Kedelai. Co. Id.

Http://Www. Google. Sipuk – Bank Sentral Republic Indonesia.

Http://Www. Google. Abroryudi Prabowo.

Http://Www. Google. Dipertan TPH, Jawa Tenga.

Http://Www. Google. Anekaplantasia Cyber Media Clip.

Http://Www. Google. Pudjiat Moko, Informasi Pertanian Dan Perikanan.

Http://Www. Google. Subkhan Fathoni, SE. Fansilitator Ekonomi PNPM, MP, Kabupaten Jepara.

Komentar ditutup.